You are on page 1of 34

Laporan Pelaksanaan dan Hasil STUDI EHRA

Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Toraja Utara

RINGKASAN EKSEKUTIF
Untuk mendapatkan target area survey EHRA, digunakan metode Klustering.
Dimana penetapan kluster dilakukan berdasarkan 4 (empat) kriteria utama yaitu kepadatan
penduduk, angka kemiskinan, kawasan rawan genangan/banjir dan terlewati sungai. Dari
proses ini didapatkan kluster awal, yang nantinya akan dipilih desa/kelurahan dari tiap
klusternya dengan proporsional.
Hasil kajian EHRA menunjukkan, perilaku menggunakan air bersih dari sumber air
yang terlindungi untuk berbagai aktivitas rumah tangga di Kabupaten Toraja Utara masih
dalam kategori rendah yaitu 32%, penggunaan air bersih dari sumber air yang terlindungi
mayoritas dari air sumur gali terlidungi untuk berbagai aktifitas sebesar 8,5%. Selanjutnya
menggunakan air ledeng dari PDAM sebesar 4%.
Dari data survey EHRA untuk pengelolaan sampah rumah tangga di Kabupaten
Toraja Utara, sebesar 57% sampah dibakar dan masih ada 29% dibuang ke lahan
kosong/kebun/hutan dan dibiarkan membusuk serta sebesar 5,5% Dibuang ke
sungai/kali/laut/danau. Sedangkan untuk praktik pemilahan sampah rumah tangga hanya
sebesar 8,7%.
Kebiasaan masyarakat dalam melakukan buang air besar adalah dengan jamban
pribadi sebesar 80,7%, ke kebun/perkarangan sebesar 4,2%, dan sisanya masih buang air
besar di sungai sebesar 4,2%. Untuk responden yang menjawab lainnya sebesar 8,3% pada
umumnya adalah menumpang wc tetangga/keluarga sebagai tempat buang air besar. Untuk
Pembuangan akhir limbah tinja, masyarakat lebih banyak menggunakan cubluk yaitu
sebesar 39,5%, yang mennggunakan tangki septik sebesar 37,3%. Dari yang menggunakan
tangki septik yang dinilai aman sebesar 76,7%.
Pada skala kabupaten dapat dilihat bahwa persentase rumah tangga yang
mengalami banjir di Kabupaten Toraja Utara, tergolong sangat kecil yaitu berkisar 1,2% dan
lamanyan genangan hanya berkisar 1 s.d. 3 jam.
Di kabupaten toraja utara, untuk perilaku buang air besar sembarangan masih cukup
tinggi yaitu sebesar 54,7% dan sekitar 97,3% tidak melakukan cuci tangan pakai sabun di
lima waktu penting.

1

Laporan Pelaksanaan dan Hasil STUDI EHRA
Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Toraja Utara

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Sanitasi merupakan salah satu usaha yang memberikan kontribusi positif terhadap

penanganan tingkat kemiskinan dalam jangka waktu menengah dan panjang melalui
tersedianya lingkungan yang sehat. dengan tersedianya lingkungan yang sehat maka
derajat kesehatan masyarakat juga akan meningkat sehingga kesejahteraan masyarakat
akan bisa dicapai. Sanitasi menjadi tantangan, tugas dan kewajiban yang harus dihadapi
pemerintah dan masyarakat. Masalah ini menjadi persoalan pembangunan Nasional dan
Daerah, termasuk Kabupaten Toraja Utarai.
Dalam rangka mengejar ketertinggalan pembangunan sanitasi di daerah, khususnya
di Kabupaten Toraja Utarai diperlukan sebuah terobosan di dalam pembangunan sanitasi,
yaitu melalui Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP). Program ini
mempunyai target hingga 2014 sebagai berikut :
1. Stop BAB Sembarangan (Stop BABS) di wilayah perkotaan dan pedesaan pada 2014;
2. Perbaikan pengelolaan persampahan, melalui implementasi 3R (reduce, reuse, recycle)
dan TPA berwawasan lingkungan (sanitary landfill dan controlled landfill) ;

3. Pengurangan genangan di kawasan perkotaan seluas.
Dalam rangka penjabaran PPSP di Kabupaten Toraja Utara, diperlukan penyusunan Studi
EHRA sebagai bagian dari penyusunan Buku Putih Sanitasi Kabupaten Toraja Utara.
Studi Environmental Health Risk Assessment (EHRA) atau Studi Penilaian Resiko
Kesehatan Lingkungan adalah sebuah survey partisipatif di tingkat kota/kabupaten yang
bertujuan untuk memahami kondisi fasilitas sanitasi dan higinitas serta perilaku-perilaku
masyarakat yang dimanfaatkan untuk pengembangan program sanitasi termasuk advokasi
di tingkat kabupaten sampai ke kelurahan/desa.

1.2.

Maksud dan Tujuan

Kota/kabupaten dipandang perlu melakukan Studi EHRA, dengan maksud:
1. Pembangunan sanitasi membutuhkan pemahaman kondisi wilayah yang akurat;

2

Laporan Pelaksanaan dan Hasil STUDI EHRA
Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Toraja Utara

2. Data terkait dengan sanitasi terbatas di mana data umumnya tidak bisa dipecah
sampai tingkat kelurahan/desa dan data tidak terpusat melainkan berada di berbagai
kantor yang berbeda;
3. EHRA adalah studi yang menghasilkan data yang representatif di tingkat kabupaten
dan kecamatan dan dapat dijadikan panduan dasar di tingkat kelurahan/desa;
4. EHRA menggabungkan informasi yang selama ini menjadi indikator sektor-sektor
pemerintahan secara eksklusif;
5. EHRA secara tidak langsung memberi ”amunisi” bagi stakeholders dan warga di
tingkat kelurahan/desa untuk melakukan kegiatan advokasi ke tingkat yang lebih
tinggi maupun advokasi secara horizontal ke sesama warga atau stakeholders
kelurahan/desa;
Adapun tujuan dan manfaat dari studi EHRA adalah:
1. Untuk mendapatkan gambaran kondisi fasilitas sanitasi dan perilaku yang beresiko
terhadap kesehatan lingkungan.
2. Memberikan advokasi kepada masyarakat akan pentingnya layanan sanitasi.
3. Memberikan pemahaman yang sama dalam menyiapkan anggota tim survey yang
handal.
4. menyediakan salah satu bahan utama penyusunan Buku Putih Sanitasi dan Strategi
Sanitasi Kabupaten Toraja Utara.
1.3.

Wilayah Cakupan Studi EHRA

Wilayah cakupan studi EHRA di Kabupaten Toraja Utara sebanyak 151
Desa/Kelurahan dari 21 Kecamatan. Dimana 15 desa/kelurahan dijadikan sampel dalam
kajian studi EHRA ini.
Adapun ruang lingkup penyusunan studi EHRA meliputi :
1. Diskusi dengan POKJA
2. Memperbaiki instrumen sesuai hasil diskusi
3. Mengkoordinasikan kerja lapangan
4. Melaksanakan Entry Data.
5. Melaksanakan Cleaning Data.
6. Melaksanakan Processing Data, analisa dan laporan awal
7. Umpan balik untuk POKJA, Enumerator, kelurahan/desa dan kecamatan.
8. Laporan Studi EHRA.
3

Klustering kecamatan. Dalam hal ini luas area terbangun merujuk ke luas area permukiman berdasarkan data RTRW Kab. Daerah terkena banjir dan dinilai mengangggu ketentraman masyarakat dengan parameter sebagai berikut : - Ketinggian - Lama Genangan = > 2 jam = > 30 cm Penentuan Kluster studi EHRA dilakukan dalam 2 tahap yaitu : a. Kepadatan Penduduk. Desa/Kelurahan. yaitu jumlah penduduk perluas wilayah tertentu (terbangun). Dilakukan oleh POKJA berdasarkan keempat kriteria di atas. untuk menunjukkan indikasi awal lingkungan beresiko tingkat kecamatan. Dimana penetapan kluster dilakukan berdasarkan 4 (empat) kriteria utama yang telah ditetapkan didalam petunjuk praktis EHRA tahun 2013 PPSP. b. dengan parameter Angka kemiskinan = persentase kemiskinan > 30 % c. digunakan metode Klustering.Laporan Pelaksanaan dan Hasil STUDI EHRA Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Toraja Utara 1 BAB II METODOLOGI DAN LANGKAH STUDI EHRA 2. Penetapan Kluster Target Area Survey EHRA Kabupaten Toraja Utara berdasarkan kriteria sebagai berikut : a. Daerah/wilayah yang dialiri sungai//saluran drainase/ saluran irigasi yang berpotensi digunakan atau telah digunakan sebagai sarana MCK dan pembuangan sampah oleh masyarakat setempat d. Klustering Kecamatan. Angka kemiskinan.1. Penentuan Target Area Survey Untuk mendapatkan target area survey EHRA. angka kemiskinan bisa dihitung berdasarkan proporsi jumlah Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera 1 dengan formula sebagai berikut: (∑ Pra-KS + ∑ KS1) ---------------------------------.X 100% ∑ KK Adapun data Pra-KS dan KS 1 didapatkan dari BKKBN. b. untuk Dilakukan menunjukkan POKJA indikasi awal bersama petugas lingkungan puskesmas beresiko tingkat desa/kelurahan. dengan mengutamakan desa/kelurahan dengan kepadatan penduduk lebih dari 25 jiwa per Ha. Toraja Utara. 4 .

Sampel representatif adalah sampel yang memiliki ciri karakteristik yang sama atau relatif sama dengan ciri karakteristik populasinya.1. Teknik sampling sampel dibagi menjadi dua kelompok. maka data yang diperoleh adalah ciri-ciri sampel bukan ciri-ciri populasi. yaitu: 1. ukuran sampel bukan menjadi nomor satu. 5 . maka dalam mengambil sampel dari populasi tertentu kita harus benar-benar bisa mengambil sampel yang dapat mewakili populasinya atau disebut sampel representatif. Penentuan Jumlah Desa/Kelurahan Area Survei Sebagian unsur populasi yang dijadikan objek penelitian disebut sampel. karena yang dipentingkan adalah kekayaan informasi. Cara atau prosedur yang digunakan untuk mengambil sampel dari populasi tertentu disebut teknik sampling. ukuran sampel yang diambil. Non Probability Sampling (Non Random Sample) Teknik Sampling yang digunakan dalam studi EHRA adalah Random Sample dengan menggabungkan antara teknik random multistage (bertingkat) dan random systematic. Penelitian yang menggunakan analisis kualitatif.Laporan Pelaksanaan dan Hasil STUDI EHRA Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Toraja Utara 2. Berdasarkan 4 (empat) kriteria klustering desa/kelurahan. Tingkat kerepresentatifan sampel yang diambil dari populasi tertentu sangat tergantung pada jenis sampel yang digunakan. Data yang diperoleh dari sampel harus dapat digunakan untuk menaksir populasi. tetapi ciri-ciri sampel itu harus dapat digunakan untuk menaksir populasi. Walau jumlahnya sedikit tetapi jika kaya akan informasi. Sampel atau contoh adalah wakil dari populasi yang ciri-cirinya akan diungkapkan dan akan digunakan untuk menaksir ciri-ciri populasi. daftar Desa/Kelurahan terlampir. Oleh karena itu. Sampel studi EHRA diambil dari 15 Desa/Kelurahan dari 13 Kecamatan di Kabupaten Toraja Utarai. Probability Sampling (Random Sample) 2. jika kita menggunakan sampel sebagai sumber data. Pemilihan teknik pengambilan sampel merupakan upaya penelitian untuk mengambil.2. maka sampelnya lebih bermanfaat. diperoleh hasil pengklusteran yang tertuang dalam tabel 2. Ukuran sampel atau jumlah sampel yang diambil menjadi persoalan yang penting jika jenis penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian yang menggunakan analisis kuantitatif. dan cara pengambilannya.

Desa/Kelurahan Area Survey 6 .2.Laporan Pelaksanaan dan Hasil STUDI EHRA Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Toraja Utara Tabel 2.1. kemudian menentukan ruang lingkup studi dengan pertimbangan survey akan dilakukan tidak hanya di daerah IKK dan peri-urban. Hasil Kluster Desa/Kelurahan Kabupaten Toraja Utara Setelah melakukan klustering Kecamatan dan klustering Desa/Kelurahan. maka kecamatan dan desa/kelurahan akan dipilih secara acak dan proporsional untuk mewakili klusternya. Tabel 2. tapi juga di daerah perdesaan. maka POKJA bersama Tim EHRA. Daftar Desa/kelurahan yang terpilih sebanyak 15 desa/kelurahan.

Penentuan Jumlah/ Besar Responden Jumlah Besar Responden ditentukan dengan menggunakan “Rumus Slovin” . dan asumsi kepercayaan sekitar 95% (toleransi ketidaktelitian d = 0. Jumlah Responden Studi EHRA Kluster Jumlah Desa/Kel Sampling (10%) Jumlah Responden (KK) Kluster 4 0 0 x 10% = 0 0 0 Kluster 3 32 32 x 10% = 3.d² + 1 Dimana : .2 0 0 151 70 x 10% = 28 28 600 Jumlah 7 .Laporan Pelaksanaan dan Hasil STUDI EHRA Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Toraja Utara 2. jumlah KK sampel adalah minimal 397 KK.n adalah jumlah sampel (kk) . Jadi. yang digambarkan melalui tabel 2.512 .512 -----------------------------------.7 2 80 Kluster 0 0 0 x 10%= 5.= 397 KK 48. dibawah ini: Tabel. Jumlah desa/kelurahan yang disepakati untuk disurvei adalah 15 desa/kelurahan (10% dari jumlah desa/kelurahan Kabupaten Toraja Utara).512 KK (sumber data BPS tahun 2012).2 3 120 Kluster 2 102 102 x 10%= 10.N adalah jumlah populasi (kk) .05² + 1 Berdasarkan rumus tersebut.2 10 400 Kluster 1 17 17 x 10%= 1.d adalh persentasi toleransi ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang masih dapat ditolerir Dengan jumlah populasi rumah tangga (N) Kabupaten Toraja Utara sebanyak 48.3. 0. maka 48. jumlah responden sebanyak 600 KK.05) . maka jumlah desa/kelurahan yang akan menjadi target area survey minimal adalah 397/40 = 10 desa/ kelurahan. Dengan mengambil jumlah sampel per desa/kelurahan adalah minimal 40 responden. 2.3. n = Sedangkan jumlah desa/kelurahan serta jumlah sampel target perklusternya ditentukan dengan mempertimbangkan keterwakilan tiap kluster dengan proporsional. n = N -----------------------N.3.

4. Sedangkan pemilihan Rumah Tangga/Kepala Keluarga ditetapkan berdasarkan preferensi enumerator/supervisor berdasarkan hasil pengamatan keliling dan wawancara dengan penduduk. 8 . dengan rata-rata jumlah responden perdusun dalam satu desa/ kelurahan sekitar 10 responden.Laporan Pelaksanaan dan Hasil STUDI EHRA Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Toraja Utara 2. Penentuan Dusun/Lingkungan dan Responden Lokasi Survey Rumah tangga responden dipilih menggunakan cara acak (random sampling) berdasarkan dusun/lingkungan.

Usia anak termuda menggambarkan besaran populasi yang memiliki resiko paling tinggi atau yang kerap dikenal dengan istilah population at risk. jumlah anggota rumah tangga. Semakin banyak jumlah anggota rumah tangga. khususnya batas-atas diperlakukan secara fleksibel.66 tahun. kebersihan diri dan lingkungan. rumah tangga yang memiliki balita akan memiliki resiko yang lebih tinggi terhadap masalah sanitasi dibandingkan rumah tangga yang tidak memiliki balita. status rumah. Variabel-variabel yang dimaksud mencakup status responden. Mereka yang menempati rumah atau lahan yang tidak dimilikinya diduga kuat memiliki rasa memiliki (sense of ownership) yang rendah. Mereka cenderung tidak peduli dengan lingkungan sekitar termasuk pemeliharaan fasilitas sanitasi ataupun kebersihan lingkungan.1. maka calon responden itu dipertimbangkan masuk dalam daftar prioritas responden. responden dalam studi EHRA adalah ibu atau perempuan yang telah menikah atau cerai atau janda yang berusia 18 . Secara umum diketahui bahwa balita merupakan segmen populasi yang paling rentan terhadap penyakit-penyakit yang berhubungan dengan air (water borne diseases).Laporan Pelaksanaan dan Hasil STUDI EHRA Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Toraja Utara BAB III HASIL STUDI EHRA 3. namun bila performa komunikasinya kurang memadai. Jumlah anggota rumah tangga berhubungan dengan kebutuhan kapasitas fasilitas sanitasi. usia anak termuda. Informasi Responden Bagian ini memaparkan sejumlah variabel sosio-demografi dan hal-hal yang terkait dengan status rumah di Kabupaten Toraja Utara. Batas usia. Seperti dipaparkan dalam bagian metodologi. meskipun usia responden belum mencapai 55 tahun. maka semakin besar pula kapasitas yang dibutuhkan. Sementara. Penilaian kader sebagai enumerator banyak menentukan. Sebaliknya. maka ibu itu dapat dikeluarkan dari daftar calon responden. Dengan demikian. Sebaliknya. seperti kepemilikan dan juga ketersediaan kamar yang disewakan diperlukan untuk memperkirakan potensi partisipasi warga dalam pengembangan program sanitasi. mereka yang menempati rumah atau lahan yang dimilikinya sendiri akan cenderung memiliki rasa memiliki yang lebih tinggi. namun responden terlihat dan terdengar masih cakap untuk merespon pertanyaanpertanyaan dari pewawancara. Bila usia calon responden sedikit melebihi batas-atas (66 tahun). variabel yang terkait dengan status rumah. dan sisanya 7% (42 responden) adalah anak perempuan yang sudah 9 . Sebagian besar hubungan responden dengan kepala keluarga adalah istri sebesar 93% (558 responden).

1.Laporan Pelaksanaan dan Hasil STUDI EHRA Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Toraja Utara berumah tangga. kemudian diikuti tamat SMP sebesar 22.5% responden ibu-ibu yang berumur lebih dari 45 Tahun.1. Tingkat pendidikan responden sebagian besar adalah tamatan SD (30%). Untuk lebih jelasnya mengenai informasi responden tercantum dalam tabel 3.3% selebihnya 26. Tabel 3. usia 41-45 tahun sebanyak 14. Informasi Responden 10 .8% adalah responden dengan jenjang pendidikan SMA dan perguruan tinggi.2%.30% dan usia dibawah 40 tahun sebesar 54. Dapat diketahui kelompok umur responden yaitu 31.8% dan tidak sekolah formal sebesar 20.

Dengan latar belakang semacam ini. seberapa Sementara. Di antara empat kelompok itu. Namun. merupakan cara yang aman pula. misalnya sebagai bahan untuk kompos. penanganan sampah merupakan masalah yang memprihatinkan. resiko kesehatan tetap tinggi bila frekuensi pengangkutan sampah terjadi lama dari satu minggu menggambarkan sekali. Beberapa literatur menyebutkan bahwa cara pembuangan sampah di lubang sampah khusus. beban sampah yang diproduksi rumah tangga ternyata tidak bisa ditangani oleh sistem persampahan yang ada. Untuk mengurangi beban di tingkat kota. yakni dengan pemilahan sampah dan pemanfaatan atau penggunaan ulang sampah.2. 3) Praktik pemilahan/pemisahan sampah. yakni : 1) Kondisi sampah disekitar lingkungan rumah tangga. Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Studi EHRA mempelajari sejumlah aspek terkait dengan masalah penanganan sampah. studi EHRA kemudian memasukan pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan kegiatan pemilahan 11 . baik di halaman atau di luar rumah. dan 4) Pengangkutan sampah bagi rumah tangga yang menerima layanan pengangkutan sampah. 2) Cara pembuangan sampah yang utama. yang berada di bawah kategori 1 dan 2 atau yang mendapat layanan pengangkutan merupakan cara-cara yang memiliki resiko kesehatan paling rendah. banyak pihak mulai melihat pentingnya pengelolaan di tingkat rumah tangga. penerapan cara-cara itu dinilai dapat mendatangkan resiko kesehatan yang cukup besar. Meskipun sebuah rumah tangga menerima pelayanan.Laporan Pelaksanaan dan Hasil STUDI EHRA Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Toraja Utara 3. konsisten ketepatan pengangkutan ketetapan/kesepakatan digunakan tentang untuk frekuensi pengangkutan sampah yang berlaku. dalam konteks wilayah perkotaan. Di banyak kota di lndonesia. Dalam banyak kasus. Dari sisi layanan pengangkutan. EHRA melihat aspek frekuensi atau kekerapan ketepatan waktu dalam pengangkutan. di mana kebanyakan rumah tangga memiliki keterbatasan dalam hal lahan. Cara utama pembuangan sampah di tingkat rumah tangga diidentifikasi melalui jawaban yang sudah ada di kuesioner yang disampaikan enumerator.

Laporan Pelaksanaan dan Hasil STUDI EHRA Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Toraja Utara sampah di tingkat rumah tangga serta melakukan pengamatan yang tertuju pada kegiatankegiatan pengomposan.2. digambarkan dalam gambar 3. Untuk lebih jelasnya tertuang dalam gambar 3. Sedangkan untuk praktik pemilahan sampah rumah tangga hanya sebesar 8. kader EHRA mengamati wadah penyimpanan sampah di rumah tangga. Untuk pengelolaan sampah berdasarkan hasil survey EHRA pada skala kabupaten. 12 .1.5% Dibuang ke sungai/kali/laut/danau. Wadah yang rnengandung resiko kecil adalah wadah yang permanen atau setidaknya terlindungi dari capaian binatang seperti ayam atau anjing.1. Disamping itu. Grafik Pengelolaan Sampah Sebagian besar Rumah Tangga (RT) masih mengelola sampah rumah tangganya dengan membakar yaitu sebesar 57% dan masih ada 29% dibuang ke lahan kosong/kebun/hutan dan dibiarkan membusuk serta sebesar 5. Gambar 3.7% yang melakukan pemilihan sampah. Bak permanen atau keranjang yang tertutup dapat dikategorikan sebagai wadah yang relatif terlindungi dibandingkan dengan kantong plastik yang mudah sobek.

Tabel 3.2.2.Laporan Pelaksanaan dan Hasil STUDI EHRA Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Toraja Utara Gambar 3.3%.2. Untuk lebih jelasnya tertuang dalam tabel 3. Grafik Perilaku Praktik Pemilahan Sampah oleh Rumah Tangga Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan untuk komponen persampahan studi EHRA diperoleh pengelolaan sampah sangat tidak memadai yang menunjukkan angka 99. area beresiko persampahan berdasarkan hasil studi EHRA. Area Beresiko Persampahan Berdasarkan Hasil Studi EHRA 13 .

Gambar 3.3%. kebun.Laporan Pelaksanaan dan Hasil STUDI EHRA Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Toraja Utara 3.3. tapi dapat juga karena kondisi jamban yang tidak sehat serta tempat penampungan/pembuangan limbah tinja yang tidak septik (kedap air) serta tidak pernah dilakukan pengurasan/pengosongan/penyedotan limbah tinja sehingga resiko pencemaran terhadap lingkungannya tinggi. Grafik Persentase Tempat Buang Air Besar Tempat Buang air besar (BAB) yang tidak memadai bukan saja jika praktik BAB dilakukan di sembarang tempat (sungai. Di kabupaten Toraja Utara yang menggunakan jamban pribadi sebesar 80. dibawah ini menunjukkan persentase tempat buang air besar di Kabupaten Toraja Utara.3.7%.2% serta masih ada yang numpang di jamban tetangga sebesar 8. Gambar 3. Pembuangan Air Kotor/Limbah Tinja Manusia dan Lumpur Tinja Praktek buang air besar sembarangan dapat menjadi salah satu faktor resiko tercemarnya lingkungan termasuk sumber air. danau. khususnya jika BAB dilakukan dengan sarana dan tempat yang tidak memadai. halaman dan selokan).3. selebihnya dibuang kesungai dan kebun masing-masing sebesar 4. Disamping itu tidak adanya Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) limbah non tinja (grey water) juga memiliki resiko pencemaran terhdap lingkungan sekitar. 14 .

tangki septik. Bagian ini memaparkan fasilitas sanitasi rumah tangga beserta beberapa perilaku yang terkait dengannya. pilihannya mencakup sungai. Grafik Tempat Penyaluran Akhir Tinja Gambar 3. dimana yang menggunakan tangki septik sebesar 37. kali.3% dan persentase tertinggi masih menggunakan cubluk sebesar 39.Laporan Pelaksanaan dan Hasil STUDI EHRA Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Toraja Utara Gambar 3. khususnya bila 15 . cubluk. Karena informasi jenis jamban rumah tangga didapatkan melalui wawancara.2% masih membuang ke sungai. maka terbuka kemungkinan munculnya salah persepsi tentang jenis yang dimiliki. parit atau got. lobang galian. jamban/non-siram/ tanpa leher angsa.5% dan masih ada berkisar 3. penggunaan. dan tak ada fasilitas. kategori ketiga ruang terbuka. studi EHRA membaginya ke dalam 3 (tiga) kategori besar. menunjukkan tempat penyaluran akhir tinja. yakni jamban siram/leher angsa. dan kondisinya.4.4. Pilihan-pilihan pada dua kategori pertama kemudian dispesifikasikan lebih lanjut dengan melihat tempat penyaluran tinja yang mencakup ke pipa pembuangan khusus (sewerage). Untuk jenis jamban. Sementara. pemeliharaan. Fasilitas sanitasi difokuskan pada fasilitas buang air besar (BAB) yang mencakup jenis jamban yang tersedia.

7. dan handuk.5.5. Kapan tangki septik dikosongkan?. Warga seringkali mengklaim bahwa yang dimiliki adalah tangki septik. Lebih jauh tentang kondisi jamban. Studi EHRA melakukan sejumlah pengamatan pada bangunan jamban/WC/latrin yang ada di rumah tangga. alat pengguyur atau Gayung. gambar 3. kader juga mengamati apakah ada lalat beterbangan di jamban atau sekitarnya dan hal lain. Padahal yang dimaksud adalah tangki yang tidak kedap air atau cubluk. Gambar 3. Kader-kader yang berpartisipasi dalam EHRA juga mengamati aspekaspek yang terkait dengan kebersihan jamban dengan melihat apakah ada tinja menempel atau tidak? Selain itu. sabun. seperti apakah ada pembalut perempuan? Dalam studi EHRA juga mengajukan sejumlah pertanyaan konfirmasi yang dapat dapat mengindikasikan status keamanan tangki septik yang dimiliki rumah tangga. dan Sudah berapa lama tangki septik itu dibangun? Hasil survey digambarkan dalam gambar 3.6.Laporan Pelaksanaan dan Hasil STUDI EHRA Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Toraja Utara dikaitkan dengan sarana penyimpanan/pengolahan. misalnya ketersediaan air. dibawah ini. yang isinya dapat merembes ke tanah. dan gambar 3. Ada sejumlah aspek/fasilitas yang diamati oleh kader-kader. Grafik Waktu Terakhir Pengurasan Tangki Septik 16 . Apakah tangki septik itu pernah dikosongkan?. pertanyaan-pertanyaan yang dimaksud antara lain.

Laporan Pelaksanaan dan Hasil STUDI EHRA Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Toraja Utara Gambar 3. Grafik Persentase Tangki Septik Suspek Aman dan Tidak Aman 17 . Grafik Praktik Pengurasan Tangki Septik Gambar 3.7.6.

Dua hal yang diukur mencakup yaitu saluran pembuangan air limbah dan genangan air di dekat rumah. nyaman. bersih. sub-bab ini pun memaparkan informasi tentang besarnya resiko air limbah domestik dari segi keamanan dan pencemaran yang ditimbulkan. Drainase Lingkungan/Selokan Sekitar Rumah dan Banjir Bagian ini menyajikan drainase lingkungan/selokan sekitar rumah dan banjir. Mengeringkan daerah becek dan genangan air sehingga tidak ada akumulasi air tanah. Tabel 3. Drainase merupakan salah satu fasilitas dasar yang dirancang sebagai sistem guna memenuhi kebutuhan masyarakat dan merupakan komponen penting dalam perencanaan kota (perencanaan infrastruktur khususnya). Selain itu juga berfungsi sebagai pengendali kebutuhan air permukaan dengan tindakan untuk memperbaiki daerah becek. Dari sudut pandang yang lain. Secara umum. genangan air dan banjir.3. drainase didefinisikan sebagai serangkaian bangunan air yang berfungsi untuk mengurangi dan/atau membuang kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan. Area Beresiko Air Limbah Domestik Berdasarkan Hasil Studi EHRA 3. Prasarana drainase disini berfungsi untuk mengalirkan air permukaan ke badan air (sumber air permukaan dan bawah permukaan tanah) dan atau bangunan resapan. 18 . drainase adalah salah satu unsur dari prasarana umum yang dibutuhkan masyarakat kota dalam rangka menuju kehidupan kota yang aman.4. Kegunaan saluran drainase antara lain : 1. dan sehat. sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal.Laporan Pelaksanaan dan Hasil STUDI EHRA Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Toraja Utara Terakhir.

Penyakit-penyakit seperti TBC. Grafik Persentase Rumah Tangga Yang Pernah Mengalami Banjir 19 . Saluran air merupakan salah satu objek yang diperhatikan EHRA karena saluran yang tidak memadai beresiko memunculkan berbagai penyakit dan resiko genangan/banjir.10. 3. Mengendalikan erosi tanah. Mengendalikan air hujan yang berlebihan sehingga tidak terjadi bencana banjir. diare dan influenza adalah contoh penyakitpenyakit yang mudah menyebar di antara warga yang tinggal di rumah-rumah padat dan berdempetan. akan memiliki resiko kesehatan lingkungan yang lebih besar ketimbang mereka yang tinggal di lingkungan yang kurang padat.9. Terkait dengan resiko kesehatan lingkungan. Menurunkan permukaan air tanah pada tingkat yang ideal. Bagian ini menyediakan informasi mengenai kondisi saluran air rumah tangga di Kabupaten Toraja Utara. dan gambar 3.8. lebar jalan diukur dengan menggunakan langkah kaki kader di mana satu langkah kaki dikonversikan menjadi setengah (1/2) meter. 4. telah diketahui luas bahwa mereka yang tinggal di perumahan padat.Laporan Pelaksanaan dan Hasil STUDI EHRA Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Toraja Utara 2. Gambar 3. misalnya di gang-gang sempit. gambar 3. Dalam studi EHRA. kerusakan jalan dan bangunan yang ada. Sebagian besar di Kabupaten Toraja Utara resiko genangan/banjir sangat kecil.8. Berdasarkan data studi EHRA terkait genangan air disajikan dalam gambar 3.

9. Grafik Persentase Rumah Tangga Yang Mengalami Banjir Rutin Gambar 3.10.Laporan Pelaksanaan dan Hasil STUDI EHRA Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Toraja Utara Gambar 3. Grafik Lama Air Menggenang Jika Terjadi Banjir 20 .

Laporan Pelaksanaan dan Hasil STUDI EHRA Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Toraja Utara Kader EHRA juga mengamati keberadaan saluran air di sekitar rumah terpilih. air cuci pakaian maupun air bekas mandi. saluran grey water dapat pula berfungsi menjadi saluran bagi pengaliran air hujan (drainage). seperti air dapur (bekas cuci piring/ bahan makanan).11. Gambar 3. Grafik Lokasi Genangan Di Sekitar Rumah Gambar 3. Saluran yang dimaksud adalah saluran yang digunakan untuk membuang air bekas penggunaan rumah tangga (grey water). Grafik Persentase Kepemilikan SPAL 21 .12. Seperti kebanyakan terjadi di kota-kota di lndonesia.

dan tidak adanya tumpukan sampah di dalamnya. Grafik Persentase SPAL Yang Berfungsi 22 . Hasilnya tersaji dalam gambar 3. kader akan mengamati lebih dekat apakah air di saluran itu mengalir. Gambar 3. Grafik Akibat Tidak Memiliki SPAL Rumah Tangga Apabila suatu rumah didapati memiliki saluran. warna airnya.15. dan melihat apakah terdapat tumpukan sampah di dalam saluran air itu.Laporan Pelaksanaan dan Hasil STUDI EHRA Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Toraja Utara Gambar 3.14 dan gambar 3.13. Saluran yang memadai ditandai dengan aliran airnya yang lancar atau tidak ada air warna airnya yang cenderung bening atau bersih.14.

Laporan Pelaksanaan dan Hasil STUDI EHRA Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Toraja Utara Gambar 3.4.15. Area Beresiko Genangan Air Berdasarkan Hasil Studi EHRA Kabupaten Toraja Utara dengan kondisi topografi pegunungan sehingga data menunjukkan tidak ada genangan sebesar 76%. Grafik Pencemaran SPAL Tabel 3.9%. resiko yang ditimbulkan akibat genangan air berdasarkan hasil EHRA menunjukkan angka 24% dikarenakan kondisi saluran pembuangan air limbah (SPAL) yang tidak memadai sehingga terjadi genangan di halaman rumah sebesar 72. 23 .

Gambar 3. air ledeng/PDAM. terdapat sumber-sumber yang memiiiki resiko yang lebih tinggi sebagai media transmisi patogen ke dalam tubuh manusia. di antaranya adalah. seperti air botol kemasan. sumur bor. sumur atau mata air yang tidak terlindungi dan air permukaan.Laporan Pelaksanaan dan Hasil STUDI EHRA Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Toraja Utara 3. mata air terlindungi dan air hujan (yang ditangkap. Dari sisi jenis sumber diketahui bahwa sumber-sumber air memiliki tingkat keamanannya tersendiri. Di lain pihak. Gambar 3. yakni 1) Sumber Air dan 2) Pengolahan. sungai.5.16. Grafik Akses Terhadap Air Bersih 24 .17 menunjukkan sumber air minum dan masak dari sumber air yang relatif aman. penyimpanan dan penanganan air yang baik dan aman. Hal yang diteliti dalam EHRA terdiri dari 2 (dua) hal utama.16 menunjukkan penggunaan sumber air di Kabupaten Toraja Utara dan gambar 3. dialirkan dan disimpan secara bersih dan terlindungi). waduk ataupun danau. Ada jenis-jenis sumber air minum yang secara global dinilai sebagai sumber yang relatif aman. seperti air kolam. Pengelolaan Air Minum Rumah Tangga Sub-bab ini menyajikan informasi mengenai pengelolaan air bagi rumah tangga di Kabupaten Toraja Utara. Kedua aspek ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan tingkat resiko kesehatan bagi anggota di suatu rumah tangga. sumur gali terlindungi.

Laporan Pelaksanaan dan Hasil STUDI EHRA Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Toraja Utara Gambar 3. Tabel 3. Grafik Sumber Air Minum dan Masak Suplai atau kuantitas air pun memegang peranan. Sejumlah studi mengonfirmasi bahwa mereka yang memiliki suplai air yang memadai cenderung memiliki resiko terkena diare yang lebih rendah.17. Area Beresiko Sumber Air Berdasarkan Hasil Studi EHRA 25 . Para pakar higinitas global melihat suplai air yang memadai merupakan salah satu faktor yang mengurangi resiko terkena penyakit-penyakit yang berhubungan dengan diare. Karenanya. kelangkaan air dapat dimasukkan sebagai salah satu faktor resiko (tidak langsung) bagi terjadinya kesakitan-kesakitan seperti gejala diare.5.

Laporan Pelaksanaan dan Hasil STUDI EHRA Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Toraja Utara Pada suplai air. 4) sebelum menyuapi anak. Gambar 3. termasuk balita. Grafik CTPS di Lima Waktu penting 26 . dan terakhir adalah 5) sebelum menyiapkan makanan bagi keluarga. dan patogen lain penyebab diare. 1958) yakni fluids (air). 2) sesudah menceboki pantat anak. 1) sesudah buang air besar (BAB). Pencemaran tinja/kotoran manusia (feces) adalah sumber utama dari virus. 3. Waktu-waktu cuci tangan pakai sabun yang perlu dilakukan seorang ibu/pengasuh untuk mengurangi resiko balita terkena penyakit-penyakit yang berhubungan dengan diare mencakup 5 (lima) waktu penting yakni. Data ini diperoleh dari pengakuan verbal responden dan hasilnya tertuang dalam tabel 3.18. adalah melalui 4F (Wagner & Lanoix. dan fingers (jari/tangan).5. bakteri. Cuci tangan pakai sabun adalah prevensi cemaran yang sangat efektif dan efisien khususnya untuk memblok transmisi melalui jalur fingers. Perilaku Higiene dan Sanitasi Perilaku Higiene/Sehat seperti mencuci tangan pakai sabun di waktu yang tepat dapat memblok transmisi patogen penyebab diare. 3) sebelum menyantap makanan.6. studi EHRA mempelajari kesulitan yang dialami rumah tangga dalam mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari. Jalur pencemaran yang diketahui sehingga cemaran dapat sampai ke mulut manusia. fields (tanah). flies (lalat). Kesulitan mendapatkan air diukur dari tidak tersedianya air dari sumber air minum utama rumah tangga atau tidak bisa digunakannya air yang keluar dari sumber air minum utama.

EHRA terlebih dahulu memastikan penggunaan sabun di rumah tangga dengan pertanyaan apakah si lbu menggunakan sabun hari ini atau kemarin.18 dan gambar 3.19. Grafik BABS 27 .Laporan Pelaksanaan dan Hasil STUDI EHRA Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Toraja Utara Untuk menelusuri perilaku cuci tangan yang dilakukan ibu sehari-harinya.20.19 Gambar 3. Hasil dari studi EHRA tergambarkan dalam gambar 3. Grafik Waktu Melakukan CTPS Gambar 3.

Area Beresiko Perilaku Higiene dan Sanitasi Berdasarkan Hasil Studi EHRA 3.Laporan Pelaksanaan dan Hasil STUDI EHRA Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Toraja Utara Untuk praktik buang air besar sembarangan (BABs) di Kabupaten Toraja Utara masih cukup tinggi. Tabel 3. balita yang terkena diare malah dipandang positif. Di beberapa daerah. diare adalah tanda akan berkembangnya anak. Kluster 1 memiliki angka BABS paling tinggi sebesar 60%.7. Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa masih ada anggota keluarga yang masih melakukan praktek BABS sebesar 54.20). terlihat yang digambarkan dalam grafik persentase praktik BABs (gambar 3.7%. Katanya. Hal ini disebabkan kluster 1 merupakan daerah yang dilalui DAS (Daerah aliran sungai) sehingga praktek BABS di sungai/selokan masih tinggi. Disamping itu masih banyaknya RT yang maih menumpang pada WC tetangga .6. Kejadian Penyakit Diare Gejala diare seringkali dipandang sepele. 28 . sehingga kecenderungan anggota RT tersebut untuk BABS masih besar.

Sejumlah kelompok masyarakat di Jawa menamakannya dengap istilah ngenteng-ngentengi.Laporan Pelaksanaan dan Hasil STUDI EHRA Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Toraja Utara seperti akan segera bisa berjalan.2007). Tabel 3.7. atau tumbuhnya gigi baru di rahangnya. sejumlah kelompok masyarakat di Sumatera pun mempercayai hal-hal semacam itu (Laporan ESP Formative Research.7. bertambah tinggi badan. Hasil studi EHRA menunjukkan kejadian penyakit diare dalam tabel 3. dibawah ini. Meski tidak dijumpai istilah khusus. Kejadian Diare pada Penduduk Berdasarkan Hasil Studi EHRA 29 .

Manfaat penghitungan Indeks Resiko Sanitasi (IRS) adalah sebagai salah satu komponen dalam menentukan area beresiko sanitasi. Genangan Air 5. Adapun Komponen Indeks Resiko Sanitasi. total 600 responden yang mewakili hasil Indeks Resiko Sanitasi untuk kabupaten Toraja Utara Resiko Sanitasi diartikan sebagai terjadinya penurunan kualitas hidup. Indeks Resiko Sanitasi (IRS) diartikan sebagai ukuran atau tingkatan resiko sanitasi. diare juga ikut menyumbang pada angka kematian balita yang disebabkan faktor gizi buruk. 2003). 2004). 3. Perilaku Higiene dan Sanitasi 30 . Bukan hanya itu. angka kemiskinan. digunakan metode Klustering. sekitar 23% ternyata disebabkan oleh diare (Fishman.Laporan Pelaksanaan dan Hasil STUDI EHRA Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Toraja Utara Sekitar 40. kawasan rawan genangan/banjir dan terlewati sungai. Bila dikonversikan. Diare sebetulnya dapat dicegah dengan cara yang mudah. Desa/kelurahan yang terpilih sebanyak 15 desa/kelurahan dengan 40 Responden untuk tiap desa/kelurahan. Indeks Resiko Sanitasi (IRS) Untuk mendapatkan target area survey EHRA. Persampahan 4. khususnya pengasuh anak mencuci tangan pakai sabun pada waktu-waktu yang tepat. Air Limbah Domestik 3. Sumber Air 2.8. Dalam studi global disimpulkan bahwa dari 3. tapi juga di daerah perdesaan. maka kecamatan dan desa/kelurahan akan dipilih secara acak dan proporsional untuk mewakili klusternya. Yaitu: 1. 2006). bangunan dan atau lingkungan akibat rendahnya akses terhadap layanan sektor sanitasi dan perilaku higiene dan sanitasi. dalam hal ini adalah hasil dari analisis Studi EHRA. dikutip dari facts sheet ISSDP. Sekitar 42-47% resiko terkena diare dapat dicegah bila orang dewasa.6 juta kematian akibat gizi buruk. POKJA bersama Tim EHRA menentukan ruang lingkup studi dengan pertimbangan survey akan dilakukan tidak hanya di daerah IKK dan perl-urban. Dimana penetapan kluster dilakukan berdasarkan 4 (empat) kriteria utama yaitu kepadatan penduduk. kesehatan.000 anak lndonesia meninggal setiap tahun akibat diare (Unicef 2002. dkk. Jadi. sekitar 1 juta anak dapat diselamatkan hanya dengan mencuci tangan pakai sabun (Curtis & Cairncross..

21) Tabel 3. 3.8. diperoleh Indeks Resiko Sanitasi (IRS) (tabel 3. tabel. Indeks Resiko Sanitasi 31 .9 dan gambar 3.8.Laporan Pelaksanaan dan Hasil STUDI EHRA Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Toraja Utara Setelah dianalisa berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan untuk 600 responden.

Laporan Pelaksanaan dan Hasil STUDI EHRA Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Toraja Utara Tabel 3.9.21. Komponen Indeks Resiko Sanitasi Gambar 3. Grafik Indeks Resiko Sanitasi (IRS) 32 .

Indeks Resiko Sanitasi Kabupaten Toraja Utara tahun 2013. Desa/kelurahan dalam Kluster 2 yang menyebabkan rawan sanitasi adalah perilaku higiene dan sanitasi 56%.Laporan Pelaksanaan dan Hasil STUDI EHRA Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Toraja Utara Berdasarkan gambar 3. sumber air 46%. dan persampahan 45%. 33 . air limbah domestik 55%. dan persampahan 48%. dan persampahan 49%. Penyebab rawan sanitasi kluster 3 adalah air limbah domestik 61%.21. perilaku higiene dan sanitasi 52%. penyebab rawan sanitasi untuk desa/kelurahan pada kluster 1 adalah perilaku higiene dan sanitasi 52%.

Secara rutin akan diadakan pemutakhiran data dan penambahan target sampel studi. 34 . skoring yang didapatkan dari hasil kajian ini akan menjadi salah satu indikator penting. Hasil IRS EHRA nantinya akan disandingkan dengan persepsi SKPD dan data sekunder sanitasi. adalah sebagai berikut : 1. Penambahan area sampel studi EHRA 2. Kemudian outputnya berupa klustering area beresiko. Pelatihan tenaga entry data dilakukan lebih intensif.Laporan Pelaksanaan dan Hasil STUDI EHRA Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Toraja Utara BAB IV PENUTUP Salah satu tujuan dari studi EHRA ini selain mendapatkan data faktual mengenai informasi kondisi sanitasi masyarakat saat ini. yang nantinya menjadi bahan pertimbangan prioritas pengembangan sanitasi di Kabupaten Toraja Utara. Studi EHRA ini idealnya dilakukan secara berkala dan berlanjut. Pesan-pesan kesehatan dan Prohisan juga disisipkan dalam proses pengambilan data walaupun penyampaian informasi kesehatan tersebut sebatas kepada responden yang menjadi sampel. Pemberian simulasi pengisisan kuisioner yang lebih akurat. juga menjadi media promosi kesehatan oleh kader/petugas kesehatan yang ditugaskan untuk menjadi enumerator. Pada penentuan area beresiko. Sebagai masukan dan saran untuk studi EHRA selanjutnya. Studi EHRA saat ini akan menjadi baseline yang nantinya akan selalu dilakukan updating secara rutin/berkala. penetapan kesamaan indikator khususnya pada jenis sarana sanitasi. 3. Hail studi/kajian EHRA ini nantinya akan menjadi salah satu acuan utama dan masukan dalam penyusunan Buku Putih Sanitasi (BPS) dan Strategi Sanitasi Kota (SSK). Peningkatan kemampuan tenaga enumerator melalui pelatihan-pelatihan. Pemetaan masalah sanitasi yang didapatkan melalui proses EHRA diharapkan akan menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan program pembangunan sanitasi dan penyehatan lingkungan di Kabupaten Toraja Utara.