You are on page 1of 2

OBESITAS DAN DISLIPIDEMIA

Dahulu diseluruh dunia, prevalensi obesitas terbanyak masih sering terjadi di negaranegara maju, namun saat ini prevalensi tersebut sudah menyebar merata dimana tidak hanya
negara maju saja yang prevalensi obesitasnya tinggi melainkan negara berkembang-pun kini
juga memiliki prevalensi obesitas yang tinggi, termasuk Negara Indonesia yang notabene
masih dikatakan negara berkembang.1
Obesitas adalah keadaan dimana dalam tubuh manusia terdapat jumlah lemak yang
tersimpan didalam jaringan adiposa berlebihan atau dengan kata lain jaringan lemak tersebut
memuat lemak yang jumlahnya berada pada batas diatas normal. Hal ini yang menyebabkan
mengapa berat badan seseorang yang mengalami obesitas akan menjadi jauh diatas normal. 1,6
Obesitas sendiri bisa terjadi antara lain karena asupan energi (yang diperoleh dari makanan)
yang masuk kedalam tubuh lebih banyak jika dibandingkan dengan energi yang digunakan
atau energi yang dikeluarkan oleh tubuh.1 Kita ketahui bahwa energi tidak hanya dihasilkan
dari lemak, melainkan dari protein dan karbohidrat, walaupun memang lemak adalah
penyumbang energi terbesar jika dibandingkan dengan karbohidrat maupun lemak. Sehingga
obesitas tidak hanya berasal dari konsumsi lemak yang berlebihan yang menyebabkan
penyimpanan lemak meningkat pada jaringan adiposa, tetapi obesitas juga bisa dikarenakan
konsumsi karbohidrat dan protein yang berlebihan.4,5 Konsumsi protein yang berlebihan akan
membuat protein tersebut melakukan serangkaian mekanisme untuk melepas ikatan
nitrogennya sehingga akan berubah menjadi trigliserida dan disimpan, sedangkan pada
karbohidrat jika berlebihan konsumsinya maka akan ada mekanisme perubahan karbohidrat
menjadi glikogen (disimpan di hati dan otot) dan lemak (disimpan disekitar kulit, ginjal, dan
dibawah perut).5
Saat ini banyak sekali timbul penyakit-penyakit degeneratif seperti penyakit jantung
koroner, diabetes melitus, dan hipertensi yang salah satu faktor resikonya adalah berasal dari
kejadian obesitas.1 Selain itu obesitas juga menjadi faktor resiko terjadinya dislipidemia yang
juga merupakan faktor resiko terjadinya berbagai penyakit degeneratif diatas. Dislipidemia
sendiri diartikan sebagai keadaan dimana profil lemak didalam darang tidak seimbang.
Ketidakseimbangan tersebut merupakan bentuk perubahan atau gangguan yang berupa
peningkatan kadar trigliserida (hipertrigliserida), peningkatan kadar kolesterol
(hiperkolesterolemia), peningkatan kadar LDL (Low Density Lipoprotein), dan penurunan
HDL (High Density Lipoprotein).2
Pada individu yang mengalami obesitas, ada pengaruh terjadinya dislipidemia sebagai
akibat dari terjadinya resistensi insulin.7 Sehingga obesitas, resistensi insulin, dan
dislipidemia adalah hal yang saling terkait satu sama lain dan saling mempengaruhi. Insulin
memiliki peran yang penting dalam berbagai mekanisme lemak termasuk penyimpanan,
pembentukan atau sintesis, maupun pembongkarannya. Pada saat resistensi insulin terjadi
akibat kejadian obesitas maka ketiga hal tersebut yaitu penyimpanan, sintesis, dan
pembongkaran akan ikut terganggu. Insulin akan merangsang terjadinya lipogenesis pada
jaringan lemak atau adiposa dengan terjadinya peningkatan produksi Acetyl Co-A, yang juga
akan meningkatkan asupan TG dan Glukosa. Dislipidemia sendiri ditandai dengan
meningkatnya trigliserida dan penurunan HDL seagai akibat dari pengaruh insulin terhadap
CETP atau Cholesterol Ester Transfer Protein yang terus memperlancar transfer Choesterol

D. PENGARUH PEMBERIAN DIET TINGGI KARBOHIDRAT DIBANDINGKAN DIET TINGGI LEMAK TERHADAP KADAR TRIGLISERIDA DAN HDL DARAH PADA Rattus novergicus galur wistar. Hantaran Sinyal Leptin dan Obesitas: Hubungannya dengan Penyakit Kardiovaskuler 1. L. A.. 4.Y. Prijanti. Kristiyawati.6 DAFTAR PUSTAKA 1. D. 2007. n. KARBOHIDRAT.. 2010. Sandjaja.. PENGARUH PEMBERIAN DIET TINGGI KARBOHIDRAT DIBANDINGKAN DIET TINGGI LEMAK TERHADAP KADAR TRIGLISERIDA DAN HDL DARAH PADA Rattus novergicus galur wistar XXII. J.. A. K.R. DAN SERAT DENGAN STATUS OBESITAS PADA SISWA SD.. 5. 2006. 2. I. Hermawanto.d. Dengan adanya kadar lipoprotein yang meningkat itu akan menunjukkan keadaan dislipidemia pada individu yang mengalam obesitas.. LEMAK. Masy. Solechan. 7. 6. 2005. Limanan. Tsalissavrina. Handayani... Kharismawati. Nas.. 2012. Setiono. S.7 Dengan adanya mekanisme tersebut maka individu yang tubuhnya mengalami obesitas akan mempunyai gambaran bahwa kadar lipoprotein didalam tubuhnya akan terus meningkat akibat adanya mekanisme dari resistensi insulin. PREVALENSI GIZI LEBIH DAN OBESITAS PENDUDUK DEWASA DI INDONESIA. PROTEIN. Dislipidemia dan Obesitas Sentral pada Lanjut Usia di Kota Padang. Kesehat. KARIADI DAN LABORATORIUM KLINIK SWASTA DI KOTA SEMARANG..Ester dari HDL ke VLDL. Sudikno. 2. HUBUNGAN TINGKAT ASUPAN ENERGI. sedangkan resistensi insulin sedniri diakbatkan dari obesitas itu sendiri. D. DISLIPIDEMIA PADA OBESITAS DAN TIDAK OBESITAS DI RSUP DR.. . R. Sudijanto.P. Hal tersebut menyebabkan terjadinya katabolisme Apo-A yang merupakan komponen dari protein HDL. S. 3. 2013. Wahono.