You are on page 1of 14

akhlis nurse

dunia kesehatan mu

Rabu, 22 Agustus 2012

makalah TRAUMA PANGGUL


TRAUMA PANGGUL
1. Fracture pelvic ring (808)
Batasan : pelvic girdle dibentuk oleh 2 tulang innominate (os coxae) yang berartikulasi di
bagian anterior yang disebut symphisis pubis dan di bagian posterior dengan os. Sacrum
(sacro illiac joint)
Pelvic ring dibentuk oleh 2 arcus yang penting dalam menahan weight bearing
forces yaitu femoro sacral arch dan ischio sacral arch.
Klasifikasi :
Menurut Marvin Tile disruption of pelvic ring dibagi :
1. Stable
2. Unstable
3. Miscellaneous
- Complex
- Associated Acetabular disruption
- Bilateral sacrao illiac dislocation with intact anterior arch
Menurut Marvin Tile symphiasialis dibagi 3 grade :
I. Symphisis open < 2,5 cm
II. Symphisis open > 2,5 cm
III. Symphisis open > 2,5 cm with peroneal wound
Diagnose :
1. Klinis
2. Radiographic
- Pelvic AP
- Inlet & outlet view
- Internal & eksternal oblique view
b. CT scan

Management fracture pelvic :

Prosedur tetap :
Indikasi pemasangan eksternal fiksasi pelvic :
1. Stable pelvic fracture dengan severe pelvic hemorrhage
2. Stable pelvic fracture yang memerlukan early mobilization
3. Poly trauma
4. Unstable pelvic (vertical shear injuries)
Indikasi pemasangan C-clamp
- Unstable pelvic (vertical shear injuries)/rupture posterior sacro illiac lig.
Indikasi pemasangan internal fiksasi :
1. Rupture post sacro illiac lig. 1-2 hari setelah pemasangan C-clamp dan keadaan stabil
2. Symphiasialis Gr. II & III
Komplikasi
Awal :
1. Loss of reduction
2. Sepsis
3. Thrombo phletis
Lanjut :
1. Leg length discreparancy
2. Low back pain
3. Pelvic oblique
4. Lumbo sacral plexus palsy

5. Sacro illiac arthritis

MANAGEMENET HEMORHAGIC SHOCK PADA UNSTABLE PELVIC FRACTURE

2. Fracture pelvic wing


- Tidak mempengaruhi stabilitas pelvis
- Terapi konservatif, kecuali pada :
* open fractur
* multiple fraktur dengan terapi operatif
3. Fracture acetabulum :
Biomekanik : fraktur yang disebabkan gerakan cepat femur ke pelvis, misal pada
dashboard injury
Evaluasi cedera :

- caput femur
- patella, posterior cruciatum ligament
- fracture pelvis dan acetabulum
Posisi caput femur sangat penting :
- Flexi : fracture posterior wall dan atau dislokasi past hip
- External rotasi : fraktur anteroir wall
- Internal rotasi : fraktur posterior wall
- Abduksi : fraktur infero medial wall
- Adduksi : fraktur superolateral
a. Klasifikasi (Letourel) :
1. Tipe posterior dengan/tanpa dislokasi posterior
- Fraktur posterior column
* Tampak pada alar dan obturator view
* ORIF plating
- Fraktur posterior wall
* fraktur permukaan sendi posterior
* jika fragmen besar ORIF plating
- Fraktur posterior wall dan posterior collumn
* ORIF plating
- Posterior wall dengan fraktur transverse
* sering : 20 % khusus
* ORIF plating
* identifikasi cedera posterior, n. ischiadicus dan avascular necrosis
2. Tipe anterior dengan/tanpa dislokasi anterior
- Fraktur collumn anterior
* melalui rumus pubis uperior
* prognose baik karena buka weight bearing
* jika sampai Dome superior, harus ORIF
- Fraktur anterior wall : jarang
- Fraktur anterior collumn, anterior wall dan fraktur transverse
3. Tipe transverse dengan / tanpa dislokasi central
- Fraktur transverse
* membelah kedua collumn
* displacement dapat ringan sampai komlit dislokasi central caput femur ke pelvis
- T. frakture
* bersama fraktur transverse, biasanya membelah acetabulum secara vertikal
* komponen vertikal dapat ke anterior / posterior ke foramen abturator
* trauma yang lebih kuat dibanding tipe transverse
* komponen T sangat bermakna, karena reduksi 1 collumn tak akan mereduksi yang
lain seperti pada tipe transverse

- Fraktur transverse dan acetabular wall


- Fraktur double collumn
* floating acetabulum tidak melekat dengan rangka tubuh
* fraktur membelah kedua collumn diatas level acetabulum
* spur sign sangat karakteristik
* reduksi ilium merupakan kunci keberhasilan
b. X-ray
- Pelvis - AP
- Alar dan abturator
- CT scan :
* bila terdapat : - fraktur dinding acetabulum
- fragmen dalam sendi
* mengetahui derajat kominutif
Indikasi operasi :
- Inkongruitas sendi
- Fraktur Dome Superior
- Instabilitas hip
- Lesi n. ischiadicus post reposisi
- Disertai fraktur femur ipsilateral
- Politrauma
Kontra Indikasi :
- Keadaan umum tidak stabil
- Communicatif fraktur
Non operatif :
Fraktur undisplaced dan stable
4. Fraktur collumn femur
a. Klasifikasi : yang sering dipakai adalah berdasarkan :
1. Lokasi anatomi fraktur :
- intrakapsular : * subcapital type
* transcervical type
- extrakapsular : * basecervical type
2. Sudut fraktur (Pauwell)
- Tipe I adalah fraktur 300 dari horisontal (stabil)
- Tipe II adalah fraktur 500 dari horisontal (tidak stabil)
- Tipe III adalah fraktur 700 dari horisontal (sangat tidak stabil)
3. Displacement fragmen fraktur :
- Garden I : adalah fraktur inkomplit atau impacted
- Garden II : adalah fraktur komplit tanpa displacement
- Garden III : adalah fraktur komplit dengan partial displacement

- Garden IV : adalah fraktur komplit dengan total dispalecement


b. Standard diagnosis :
Pemeriksaan fisik :
- tidak memberikan deformitas yang jelas
- perkusi pada trokhanter major, nyeri

X-Ray :
- rutin dengan AP & lateral view
- bila tidak jelas diulang 10-14 hari
c. Terapi :
Garden I :
- Internal fiksasi dengan multiple pins atau screwing
Garden II :
- Internal fiksasi dengan pinning/ screwing
- konservatif dapat mengakibatkan displacement
Garden III dan IV (displaced)
- non operatif :
* traksi dilanjutkan spica cepat
* pinning perkutan dengan lokal anesthesi
* closed reduction dan spica cast dalam abduksi
- Operatif :
* dilakukan operasi urgent namun penderita statusnya seoptimal mungkin
Pada orang muda OMPG (osteomuscular pedicle graft)
Pada orang tua hemiarthroplasty dengan Austin Moore Prosthesis (AMP) atau
bipolar prostesis
d. Rehabilitasi :
Muda : non weight bearing 8 12 minggu
Tua : full weight bearing
e. Komplikasi
Trombo embolic disease : sebagai penyebab utama kematian post operatif. Insiden
venous thrombosis adalah 40% mungkin memerlukan terapi pencegahan dengan
heparin, dettuan, aspikin atau anti koagulan yang lain. Infeksi :
1. Infeksi dapat lebih kuat dengan adanya deep sepsis, terapi antibiotika peroperatif
selama signifikan memerlukan insidens
2. non union
- sekarang terjadi hanya kurang dari 5 %
- jika caput femur viabel, maka :
* bila collumn femur adekuat osteotomi + bone graft (Ditonss osteotomy)
* bila collumn femur tak adekuat brachett atau colona procedure
3. jika caput femur non viabel arthroplasty

Aseptic necuosin insiden sangat bervariasi :


- Menurut Massic, bila operasi dilakukan dalam 12 jam trauma, insiden adalah 25 %.
Bila ditunda 13-24 jam insiden naik menjadi 30%. Antara 24-48 jam insiden 40% dan
menjadi 100 % setelah 1 minggu. Terapi alternatif antara lain simptomatis, osteotomi,
bone grafting, endo prosthesis dan total hip arthroplasty
5. Fraktur intertrochanter
a. Definisi :
adalah fraktur yang terjadi dalam sepanjang garis antara trochanter major dan minor
b. Klasifikasi :
Menurut Boyd dan Grivin (berdasarkan mudahnya dalam memperoleh dan
mempertahakan reduksi)
Tipe 1 : fraktur di sepanjang garis intertrochanter non displaced
Tipe 2 : fraktur komunitif dengan multiple fraktur pada korteks
Tipe 3 : pada dasarnya fraktur subtrochanter, dengan paling sedikit satu fraktur
Tipe 4 : fraktur trochanter dan shaft proksimal dengan paling sedikit dua bidang
c. Standar diagnosis
Pemeriksaan klinis :
- shortening
- deformitas eksternal rotasi
- nyeri
Radiologis
- AP view dalam internal rotasi
- lateral view
d. Terapi
Non operatif :
- dianjurkan bila tidak dapat distabilisasi dengan adekuat dengan open reduction
- cara yang sering dipakai adalah skeletal traksi, untuk mempertahankan alignment
dan menghindari varus, shortening dan eksternal rotasi. Setelah 6 8 minggu,
pasang hemispica dan lepas hemispica setelah 10 12 minggu kemudian partial
weight bearing
Operatif :
Adalah merupakan terapi pilihan untuk tercapainya stabilitas dan mobilisasi dini.
Stabilisasi ditentukan oleh :
1. kualitas tulang
2. geometri fragmen
3. reduksi
4. design implant
5. penempatan implant
Macam-macam pilihan operasi antara lain :
- nail plate (dynamic hip screws), jewett
- osteotomy (Dimon & Hunghston, Sarmiento valgus osteotomy)

- hemiarthroplasty pada orang tua, penderita debil


e. Rehabilitasi :
- Full weight bearing segera (pada penderita tua) kecuali pada type IV dan usia muda
f. Komplikasi :
- Mortalitas : angka mortalitas 10% di rumah sakit menurut Sherk, mortalitas adalah
52% pada penderita operasi dan 55 % pada penderita non operasi
- Infeksi : insiden infeksi luka post operasi 1,7 16,9 %
Faktor-faktor yang mempengaruhi :
1. Penderita tua
2. Operasi lama
3. Penderita disorientasi
4. Dekat perineus
- Varus deformity: relatif sering terjadi menyebabkan nyeri, lemah, shortening
- Rotational deformity
- Penetrasi nail : terjadi pada sepertiga dari kegagalan terapi, hanya 1,3 % yang
memerlukan pengambilan nail
- Non union : jarang terjadi dan insiden kurang dari 2%
- Aseptic necrosis jarang, insiden 0,8 %
- Fraktur colum femur
6. Fraktur subtrochater
a. Definisi : adalah fraktur yang terjadi diantara trochanter minor sampai 5 cm ke distal
b. Klasifikasi : menurut Seinsheimer
Tipe I : non displaced (displacement < 2 mm)
Tipe II : two-part fractures :
Tipe II A : fr. transfersal
Tipe II B : fr. spinal, trochanter minor di fragmen proksimal
Tipe II C : fr. spinal, trochanter minor di fragmen distal
Tipe III : three-part fractures
Tipe III A : fr. spinal, trochanter minor merupakan fragmen sendiri
Tipe III B : fr. spinal, fragmen ketiga adalah butterfly
Tipe IV : fr. komunitif dengan empat atau lebih fragmen
Tipe V : fr. subtrochanter-intertrochanter
c. Standard diagnosis :
Pemeriksaan klinis :
- Shortening
- deformitas eksternal rotasi
- nyeri
Radiologis :
- AP view dalam internal rotasi
- lateral view
d. Terapi :

Non operatif :
- dilakukan pada fraktur yang sangat komunitif, dimana internal fiksasi sabil tak dapat
dicapai
- traksi dan hemispica atau cast brace
- sering berakibat deformitas varus dan rotasi

Operatif :
- pilihan tercapai asalkan dapat dicapai osteosintesis yang stabil
- macam implant :
* fixed-angle nail plate (Jewett type)
* angled blade plate (ABP)
* DHS
* intramedulary nail
e. Rehabilitasi :
- Mobilisasi segera dengan kruk 1 hari post op
- Type A dan B : PWB 10 15 kg segera
- Type C : PWB setelah 8 10 minggu atau setelah adanya bridging callus di sisi
medial
f. Komplikasi
- yang sering adalah :
* non union
* mal union
* kegagalan implant
7. Dislokasi panggul
a. Dislokasi psoterior
- Merupakan jenis tersering
- Tungkai memendek, endrotasi dan adduksi
- 10 % komplikasi n.ischiadicus dan < 15 % avascular necrosis caput femur
Klasifikasi :
- Type I : tanpa atau hanya fraktur minimal
- Type II : fraktur tepi posterior acetabulum yang besar
- Type III : fraktur communicative tepi posterior dengan atau tanpa fragmen besar
- Type IV : fraktur tepi acetabulum dan dasar
- Type V : fraktur caput femur atau tanpa fragmen lain
Terapi :
- Reposisi segera, adduksi, flexi, fiksasi lalu adduksi, dan external rotasi dengan
sedatif atau anestesi umum, diikuti dengan ambulasi 10 hari dan weight bearing
bertahap
- Reduksi terbuka jika reduksi tertutup tidak mungkin atau dislokasi setelah 3 mingu,
kapsul atau m.pyriformis menghalangi reposisi
- Arthrotomy jika terdapat fragmen yang lepas di dalam sendi

Reposisi :
1. Aliis :
- Posisi supinasi, pelvis distabilkan pada kedua SIAS oleh asisten
- Traksi sesuai arah deformitas
- Flexi hip 900, gerakan internal dan eksternal rotasi dengan traksi longitudinal
sampai tercapai reposisi
2. Bigelow :
- Flexi panggul
- Abduksi
- External rotasi
- Extensi
- Posisi netral
3. Stomson :
- Posisi telungkup
- Panggul di tepi meja operasi
- Tungkai yang sehat extensi
- Flexi panggul yang sakit, tekan dari posterior
- Lutut flexi, pegang pergelangan kaku dalam posisi netral
- Bila femur distal, tekan ke bawah pada betis
b. Dislokasi anterior :
- 10 % insiden dislokasi panggul
- 4 % mengalami avascular necrosis
- Identasi fraktur caput femur : identasi 4 masing-masing atau lebih dengan prognosis
buruk
- Tipe :
* superior (pubis atau illiac) : panggul abduksi, external rotasi, flexi
* inferior (obturator) : panggul abduksi, external rotasi dan extensi
- Terapi :
* reduksi tertutup : traksi, extensi dan internal rotasi (tambahan adduksi untuk tipe
obturator)
* reduksi terbuka : jika fragmen lepas atau nonconcentric reduksi
Kepustakaan
1. Buchol, ZRW, et.all : orthopaedic pacision Making, p. 28-29, BC. Dekker Inc. Toronto,
Philadelphia, 1984
2. Scatzker J ; Tile Mirza : The Rationale of Operative Fracture Care, p. 133 172, SpringerVerlag, Berlag Heidelberg, 1987

AKHLIS HIDAYATUL AKBAR di 01.48


Berbagi

4 komentar:
Ahmad Saadillah 9 September 2012 07.02
Artikel nya kurang ku mengerti,
tentang apa yea gan?
Balas

Widodo 9 September 2012 07.36


nyimak aja sob
Balas

AKHLIS HIDAYATUL AKBAR

9 September 2012 18.23

tentang trauma panggul gan tugas kuliah


Balas

AKHLIS HIDAYATUL AKBAR


moga bermanfaat
Balas

9 September 2012 18.27

Masukkan komentar Anda...

Beri komentar sebagai:

Unknown (Google)
Keluar

Publikasikan

Beri tahu saya

Pratinjau

beri kami saran maupun komentar anda untuk


menjadikan kami lebih baik

Beranda

Lihat versi web


Diberdayakan oleh Blogger.