You are on page 1of 3

LITERATUR REVIEW KAJIAN OPERASI PASAR BERAS

1. Pusat kebijakan perdagangan dalam negeri BP2KP Kemendag pada
Juni tahun 2015 melakukan kajian terkait analisis efektifitas operasi pasar
beras menggunakan pendekatan ekonometrika dan telaah literature untuk
mengukur volume dan waktu efektif dalam penyaluran beras OP. Metode
analisis yang digunakan menggunakan metode Importance Performance
Analysis (IPA) dan Ordinary Least Square (OLS).
Berdasarkan hasil estimasi Ordinary Least Square (OLS), pergerakan harga
rata-rata beras di tingkat eceran dipengaruhi oleh banyak faktor, yaitu
pergerakan beras yang masuk ke Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC),
pergerakan harga beras di PIBC, dan periode paceklik. Sedangkan
faktor pergerakan stok di PIBC, Operasi Pasar (OP) Beras dan
periode panen raya tidak signifikan mempengaruhi pergerakan
harga beras eceran.
Besaran (magnitude) pengaruh faktor pergerakan beras yang masuk ke PIBC,
pergerakan harga beras di PIBC dan OP Beras berbeda beda. Dari ketiga
faktor tersebut yang paling besar pengaruhnya adalah periode paceklik
dan pergerakan harga beras di PIBC. Dari hasil estimasi diperoleh bahwa
setiap memasuki periode paceklik, harga rata-rata beras di tingkat
eceran akan mengalami kenaikan sebesar 1,5%, ceteris paribus.
Sedangkan dari sisi faktor pergerakan harga beras di PIBC, setiap kenaikan
harga beras di PIBC sebesar 1% akan mendorong kenaikan harga
rata-rata beras di tingkat eceran sebesar 0,48%, ceteris paribus.
Untuk OP beras, efektifitas pelaksanaannya tidak dapat dilihat pada waktu
pelaksanaannya, tetapi membutuhkan waktu 1 satuan waktu berikutnya. Jika
dalam kerangka “bulanan”, maka efektifitas OP Beras akan terlihat
dampaknya pada bulan berikutnya. Ketika OP dilakukan pada waktu t, harga
rata-rata beras di tingkat eceran pada waktu t tidak terpengaruh secara
signifikan. Hal ini dimungkinkan karena dua hal yang saling terkait yaitu: OP
dilakukan ketika harga sudah mengalami kenaikan; dan ekspektasi pasar.
2. Hasil kajian Distribusi Perdagangan Komoditi Beras Indonesia oleh
BPS tahun 2015 menyajikan pendistribusian komoditas beras dari produsen
sampai ke konsumen akhir di tiap provinsi mempunyai kompleksitas yang
berbeda-beda.
Terdapat tujuh provinsi yang mempunyai pola distribusi perdagangan yang
cukup sederhana. Rantai distribusi perdagangan beras dari produsen ke
konsumen di tujuh provinsi tersebut hanya melewati tiga fungsi usaha
perdagangan saja.
Namun demikian, terdapat pula provinsi yang memiliki tingkat kompleksitas
yang tinggi, seperti yang terjadi di Provinsi Jawa Tengah. Rantai distribusi
perdagangan beras dari produsen ke konsumen di Provinsi Jawa Tengah
melewati delapan fungsi usaha perdagangan sebagai intermedier.

Metode yang digunakan untuk menganalisis volatilitas harga beras adalah ARCH-GARCH (Autoregressive Conditional Heteroscedasticity Generalized Autoregressive Conditional Heteroscedasticity). Busnita (2016) melakukan penelitian terkait volatilitas harga beras. 3.53 persen.50 persen dan rata-rata perolehan marjin setelah dikurangi biaya transportasi (rasio MP) adalah sebesar 9. Dengan demikian ratarata perolehan marjin pedagang beras di Indonesia adalah sebesar 10. sedangkan rata-rata perolehan marjin setelah dikurangi biaya transportasi (rasio MP) adalah sebesar 7.60 persen. time-varying (bervariasi antar waktu). Kategori pedagang besar beras rata-rata memperoleh marjin (rasio MPP) sebesar 10. . maupun dari Amerika Serikat. Akibatnya. seperti: distributor.99 persen. dan pedagang pengepul. Perolehan rata-rata marjin perdagangan dan pengangkutan (MPP) perdagangan besar dan perdagangan eceran komoditas beras di Indonesia masing-masing adalah 10. hampir semua provinsi yang menjadi sampel produsen beras memperoleh bahan baku berupa gabah padi kering yang siap giling dari dalam provinsi masing-masing.92 persen.43 persen dan rata-rata perolehan marjin setelah dikurangi biaya transportasi adalah sebesar 9. Adapun kategori pedagang eceran beras rata-rata memperoleh marjin (rasio MPP) sebesar 8. Sedangkan Nusa Tenggara Timur merupakan provinsi dengan perolehan MPP perdagangan besar terendah dan Jambi merupakan provinsi dengan perolehan MPP perdagangan eceran terendah.92 persen. dengan lonjakan harga tertinggi terjadi pada tahun 2010 dan 2011. Meskipun ada juga sebagian produsen yang langsung menjual hasil produksinya ke konsumen akhir.51 persen untuk perdagangan eceran.50 persen dan 8.26 persen untuk perdagangan besar dan 41. Vietnam. yaitu sebesar 27. masing-masing sebesar 1. berperannya importir dalam pendistribusian beras di Indonesia menunjukkan bahwa kebutuhan beras di Indonesia belum tercukupi hanya dengan pasokan dari dalam negeri saja. Beras sebagai hasil produksi dari perusahaan penggilingan padi dijual sebagian besar ke beberapa fungsi usaha yang termasuk pedagang besar. Sulawesi Tengah merupakan provinsi dengan rasio MPP tertinggi. maupun ke pedagang eceran. pedagang grosir.Selain itu. seperti dari Negara India.12 persen dan 1. Ditinjau dari sisi produksi. factor penyebab dan pengaruh perubahan iklim terhadap produksi padi dan volatilitas harga beras di Indonesia menggunakan data sekunder time-series bulanan dari tahun 2007 sampai 2014.53 persen. Hasil analisis volatilitas menunjukkan bahwa harga beras Indonesia merupakan variabel ekonomi yang bersifat volatile. pedagang perlu mengimpor langsung pasokan beras dari pasar internasional.

sehingga jika produksi padi meningkat 15 maka volatiltas harga akan menurun 0. jumlah konsumsi rumah tangga.0009%. perubahan suhu. variabel perubahan suhu ini akan memberi pengaruh positif pada harga beras serta fluktuasi harga beras di Indonesia.0009.0023%. Data Konsumsi Beras Nasioanl .Terjadi transfer pendapatan dari penduduk luar Jawa kepada penduduk Jawa . Sehingga apabila tingkat konsumsi rumah tangga meningkat 1 persen maka volatilitas harga beras juga akan meningkat 0. Konsumsi rumah tangga memiliki pengaruh yang positif terhadap fluktuasi harga beras dengan nilai koefisien 0.Terjadi transfer dari penduduk kota ke penduduk desa . 4. Variable lain yang secara signfikan berdampak pada volatilitas harga beras adalah stok beras domestik dengan koefisien -0. menunjukkan bahwa faktor-faktor yang signifikan mempengaruhi fluktuasi harga beras Indonesia dalam jangka panjang adalah produksi padi. 5. dan suku bunga. variabel perubahan iklim (perubahan suhu) akan berpengaruh negatif terhadap produksi padi di Indonesia dalam jangka pendek dan jangka panjang. nilai tukar.Tetapi transfer pendapatan tersebut berasal dari penduduk miskin pada penduduk propinsi kaya atau penduduk miskin ke kaya. menurut hasil analisis Impulse Response Function. harga beras dunia. Selain itu produksi padi juga memiliki peran signifikan terhadap volatilitas harga dengan koefisien -0. Sehingga peningkatan 1% stok beras nasional secara statistik akan menurunkan harga beras sebesar -0.0023. Muhammad Ikhsan (2003) dalam working papernya mengenai kemiskinan dan harga beras menyatakan bahwa secara agregat setiap kenaikan 10% harga beras akan ditranslasikan ke dalam sekita 1% proporsi penduduk miskin atau tambahan sekitar 2 juta penduduk miskin di Iebih lanjut disampaikan hasil disagregasi secara konsisten menunjukkan dampak kenaikan harga diukur dengan perubahan indeks kemiskinan akan dirasakan lebih besar oleh daerah miskin dibanding daerah kaya. Produksi Padi/Beras Indonesia 6. Sebaliknya. Sementara itu. cadangan beras domestik nasional.Sementara berdasarkan hasil estimasi VECM (Vector Error Correction Model). Kenaikan harga beras juga mengandung dimensi distribusi yang tidak diinginkan yaitu: .023.023%.