You are on page 1of 14

1.

Sebutkan berbagai penyebab terjadinya abortus kehamilan pada


trisemester pertama

Kelainan embryo
Faktor ibu, penyakit kronis : diabetes, hipertensi, kelainan ginjal
Penyakit atau abnormalitas alat reproduksi
Faktor psikososial (life style) : merokok, alkohol, caffeine

2. Sebutkan batasan abortus spontan


Abortus/aborsi adalah pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat
hidup di luar kandungan dengan berat badan janin <500 gram dan usia
kandungan < 20 minggu. Usia kehamilan yang cukup bulan/aterm adalah 3740 minggu.
Tanda-tanda terjadinya abortus pada umumnya adalah:

Terjadi kontraksi uterus/rahim


Terjadi perdarahan uterus/rahim
Dilatasi serviks (pelebaran mulut rahim)
Ditemukan sebagian atau seluruh hasil konsepsi/pembuahan

3. Sebut dan jelaskan berbagai jenis abortus serta diagnose bandingnya!


Abortus Spontan
Berakhirnya peristiwa kehamilan sebelum kehamilan usia 20 minggu (definisi
WHO) Keluarnya sebagian atau seluruh hasil konsepsi dengan atau tanpa disertai
janin dengan berat kurang dari 500 gram.

Abortus Provokatus
Abortus provokatus adalah abortus yang disengaja. Abortus provokatus dapat
dibagi menjadi:
- Abortus medisinalis (abortus therapeutica), yaitu abortus yang dilakukan karena
indikasimedis misal, penyakit jantung, hipertensi, Ca servik.
- Abortus kriminalis, yaitu abortus yang dilakukan karena tindakan legal tanpa
indikasi medis.

Abortus Imminens
Pada sebagian besar kasus hal tersebut disebabkan oleh perdarahan akibat adanya
implantasi. Servik tertutup , perdarahan minimal dan dapat atau tanpa disertai rasa nyeri.

Abortus Insipiens
Ditandai dengan nyeri abdomen atau nyeri punggung, perdarahan pervaginam
dengan dilatasi servik. Abortus sudah tak mungkin dipertahankan bila terjadi
pendataran dan dilatasi servik dan atau terjadi pecahnya selaput ketuban.

Abortus inkompletus
Sebagian hasil konsepsi telah keluar dari cavum uteri. Pada kehamilan> 10
minggu, keluarnya janin dan plasenta tidak terjadi secara bersamaan dan sebagian
masih tertahan didalam uterus. Biasanya disertai rasa nyeri akibat kontraksi uterus
dalam usaha untuk mengeluarkan hasil konsespsi. Perdarahan umumnya persisten dan
seringkali sangat banyak.

Pada kanan gambar terlihat gambaran produk konsepsi yang keluar pada abortus
inkompletus

Abortus Komplit
Ditandai dengan keluarnya seluruh hasil konsepsi. Perdarahan pervaginam
ringan terus berlanjut sampai beberapa waktu lamanya. Umumnya pasien datang
dengan rasa nyeri abdomen yang sudah hilang.

Pada kanan gambar terlihat gambaran hasil konsepsi yang keluar pada abortus
kompletus.

Missed Abortion
Setelah kematian janin, janin tidak segera dikeluarkan. Keadaan ini dapat
menyebabkan terjadinya gangguan faal pembekuan darah bila janin mati tidak
dikeluarkan dalam waktu lebih dari 8 minggu.
Septic Abortion
Abortus yang disertai dengan infeksi uterus dan kadang-kadang pada struktur
adneksa serta disertai dengan gejala-gejala septisemia.

Hubungan dengan skenario


Abortus pada skenario termasuk pada jenis abortus spontan. Pengertian
abortus spontan adalah berakhirnya peristiwa kehamilan sebelum kehamilan usia 20
minggu dan keluarnya sebagian atau seluruh hasil konsepsi dengan atau tanpa disertai
janin. Pada skenario disebutkan janin berusia 7 minggu, terabanya hasil konsepsi
pada kanalis servikalis tanpa disertai janin.

DIAGNOSIS BANDING
-

Kehamilan ektopik

Perdarahan servik akibat epitel servik yang mengalami eversi atau erosi

Polip endoservik

Mola hidatidosa

(jarang) Karsinoma servik uteri

Pedunculated submucous myoma

4. Penggunaan ultrasonografi untuk menegakkan diagnose abortus.


Pemeriksaan USG sangat bermanfaat pada kejadian abortus, untuk menilai
keadaan mudigah/janin, serta luasnya daerah perdarahan intrauterin. Hal ini penting untuk
penentuan

prognosis

kehamilan

selanjutnya.

Ultrasonografi

penting

dalam

mengidentifikasi status kehamilan dan memastikan bahwa suatu kehamilan adalah


intrauterin. Apabila ultrasonografi transvaginal menunjukkan sebuah rahim kosong dan
tingkat serum hCG kuantitatif lebih besar dari 1.800 mIU per mL (1.800 IU per L),
kehamilan ektopik harus dipikirkan. Ketika ultrasonografi transabdominal dilakukan,
sebuah rahim kosong harus menimbulkan kecurigaan kehamilan ektopik jika kadar hCG
kuantitatif lebih besar dari 3.500 mIU per mL (3.500 IU per L). Rahim yang ditemukan
kosong pada pemeriksaan USG dapat mengindikasikan suatu abortus kompletus, tetapi
diagnosis tidak definitif sehingga kehamilan ektopik disingkirkan. Kehamilan ektopik
dapat menunjukkan gejala yang menyerupai abortus, gangguan haid biasa, nyeri abdomen
atau nyeri panggul. Kadang ditemukan masa adneksa. Pemeriksaan USG dapat
menyingkirkan kemungkinan kehamilan ektopik bila ditemukan adanya kantung
kehamilan dalam uterus, namun perlu diingat (meski sangat jarang) adanya peristiwa
kehamilan heterotopik (kehamilan ektopik dan kehamilan intrauterine yang terjadi secara
bersamaan). USG transvaginal dapat digunakan untuk deteksi kehamilan 4 5 minggu.
Detak jantung janin terlihat pada kehamilan dengan CRL > 5 mm (usia kehamilan 5 6
minggu). Dengan melakukan dan menginterpretasi secara cermat, pemeriksaan USG
dapat digunakan untuk menentukan apakah kehamilan viabel atau non-viabel.

Mola Hidatidosa, umumnya mengalami abortus sebelum kehamilan 20


minggu. Pemeriksaan USG kadang dapat memperlihatkan adanya kista theca lutein
yang dapat menyebabkan pembesaran ovarium bilateral. Perdarahan pervaginam yang
terjadi sering memperlihatkan adanya gelembung mola (gelembung mola adalah villi
chorialis yang mengalami degenerasi hidropik) dan tanda ini merupakan diagnosa
pasti dari MH.

a.

Abortus iminen (threatened abortion)


Terdapat 20% wanita hamil mengalami perdarahan pervaginam pada trimester

I. Pada sebagian besar kasus hal tersebut disebabkan oleh perdarahan akibat adanya
implantasi.
Servik tertutup , perdarahan minimal dan dapat atau tanpa disertai rasa nyeri. Pada
abortus imimnen, mungkin terlihat adanya kantung kehamilan (gestational sac GS)
dan embrio yang normal, dan dengan ultrasonografi / USG dapat diketahui masih ada

atau tidaknya kantong gestasi. Dengan USG transabdominal dapat diidentifikasi


kantong gestasi jika -Hcg kuantitatif mencapai 5000-6000 IU/ml, sementara dengan
transvaginal kehamilan sudah dapat diditeksi lebih awal, yaitu pada kadar Hcg 1500
IU/ml. Biasanya terlihat kantong ketuban masih baik dan dapat dilihat tanda-tanda
kehidupan janin. Prognosis buruk bila dijumpai adanya :
Kantung kehamilan yang besar dengan dinding tidak beraturan dan tidak adanya
kutub janin.
Perdarahan retrochorionic yang luas ( > 25% ukuran kantung kehamilan).
Frekuensi DJJ yang perlahan ( < 85 dpm ).
Bila dalam pemeriksaan USG ditemukan buah kehamilan masih utuh dan masih ada
tanda kehidupan, maka kehamilan masih bisa dipertahankan dengan rawat jalan dan
istirahat rebah (tirah baring) yang tidak lebih dari 48 jam. Pasien sebaiknya tidak
melakukan aktivitas berlebihan maupun hubungan seksual. Bila perdarahan yang
dialami sudah berhenti, maka pemeriksaan dilanjutkan seperti biasa. Namun, bila
perdarahan masih terus berlangsung setelah 48 jam, maka pasien sebaiknya melakukan
pemeriksaan USG satu minggu kemudian.

a.

Abortus insipien (inevitable abortion)


Ditandai dengan nyeri abdomen atau nyeri punggung, perdarahan pervaginam

dengan dilatasi servik. Abortus sudah tak mungkin dipertahankan bila terjadi
pendataran dan dilatasi servik dan atau terjadi pecahnya selaput ketuban.

b. Abortus inkompletus
Sebagian hasil konsepsi telah keluar dari cavum uteri. Pada kehamilan > 10
minggu, keluarnya janin dan plasenta tidak terjadi secara bersamaan dan sebagian
masih tertahan didalam uterus, biasanya disertai rasa nyeri akibat kontraksi uterus
dalam usaha untuk mengeluarkan hasil konsespsi. Perdarahan umumnya persisten dan
seringkali sangat banyak. Pada abortus inkompletus, kantung kehamilan umumnya
pipih dan iregular serta terlihat adanya jaringan plasenta sebagai masa yang echogenik
dalam cavum uteri. Pada abortus inkompletus gambaran USG tidak spesifik,
tergantung dari usia gestasi dan banyaknya sisa jaringan konsepsi.
c. Abortus kompletus
Ditandai dengan keluarnya seluruh hasil konsepsi. Perdarahan pervaginam
ringan terus berlanjut sampai beberapa waktu lamanya. Umumnya pasien datang
dengan rasa nyeri abdomen yang sudah hilang. Pada abortus kompletus, endometrium
nampak saling mendekat tanpa visualisasi adanya hasil konsepsi. Pada abortus
kompletus kavum uteri sudah tidak berisi hasil konsepsi, pemeriksaan USG terlihat
sebagai garis endometrial yang tipis. Pada blighted ovum, terlihat adanya kantung
kehamilan abnormal tanpa yolk sac atau embrio.
d. Abortus tertunda (Missed abortion)
Embrio atau janin mati dalam uterus dan tetap dalam uterus. Setelah kematian
janin, janin tidak segera dikeluarkan retensi kehamilan diperkirakan terjadi oleh
karena masih adanya produksi progesteron plasenta yang terus berlanjut dan produksi
estrogen yang turun sehingga kontraktilitas uterus menurun. Keadaan ini dapat
menyebabkan terjadinya gangguan faal pembekuan darah bila janin mati tidak
dikeluarkan dalam waktu lebih dari 8 minggu. Pada missed abortion, terlihat adanya
embrio atau janin tanpa ada detik jantung janin.

e. Abortus septik (septic abortion)


Keguguran disertai infeksi berat dengan penyebaran kuman ke dalam
peredaran darah atau peritoneum.

f. Blighted Ovum
Disebut juga anembryonic pregnancy adalah perkembangan embrio yang gagal
sehingga yang ditemukan hanya kantung kehamilan dengan atau tanpa disertai yolk
sac. Pada saat awal kehamilan, produksi hormon HCG tetap meningkat, ibu hamil
ketika di tes positif, juga mengalami gejala seperti kehamilan normal lainnya, mual
muntah, pusing-pusing, sembelit dan tanda-tanda awal kehamilan lainnya. Namun
ketika menginjak usia kehamilan 6-8 minggu, ketika ibu hamil penderita blighted
ovum memeriksakan kehamilan ke dokter dan melakukan pemeriksaan USG, maka
akan terdeteksi bahwa terdapat kondisi kantung kehamilan berisi embrio yang tidak
berkembang. Jadi, gejala blighted ovum dapat terdeteksi melalui pemeriksaan USG
atau hingga adanya perdarahan layaknya mengalami gejala keguguran mengancam
(abortus iminens) karena tubuh berusaha mengeluarkan konsepsi yang tidak normal.

5. Sebut dan jelaskan berbagai etiologi abortus

Faktor ovofetal Faktor maternal Abortus yang terjadi pada mingguminggu pertama kehamilan umumnya disebabkan oleh faktor ovofetal ; pada
minggu-minggu berikutnya (11 12 minggu), abortus yang terjadi disebabkan
oleh faktor maternal.

Faktor OVOFETAL :
Pemeriksaan USG janin dan histopatologis selanjutnya menunjukkan
bahwa pada 70% kasus, ovum yang telah dibuahi gagal untuk berkembang
atau terjadi malformasi pada tubuh janin.
Pada 40% kasus, diketahui bahwa latar belakang kejadian abortus
adalah kelainan chromosomal. Pada 20% kasus, terbukti adanya kegagalan
trofoblast untuk melakukan implantasi dengan adekwat.

Faktor MATERNAL :
2% peristiwa abortus disebabkan oleh adanya penyakit sistemik maternal
(systemic lupus erythematosis) dan infeksi sistemik maternal tertentu
lainnya.
8% peristiwa abortus berkaitan dengan abnormalitas uterus ( kelainan uterus
kongenital, mioma uteri submukosa, inkompetensia servik).
Terdapat dugaan bahwa masalah psikologis memiliki peranan pula dengan
kejadian abortus meskipun sulit untuk dibuktikan atau dilakukan penilaian
lanjutan.

6. Apa yang dimaksud dengan sindroma antibody antifosfolipid


Sindroma Antibodi Fosfolipid adalah gangguan imunologi yang ditandai
dengan adanya antibodi dalam sirkulasi yang melawan fosfolipd membran
dan setidaknya memperlihatkan satu sindroma klinik spesifik (abortus
berulang, trombosis yang penyebabnya tak jelas dan kematian janin).
Penegakkan diagnosa setidaknya memerlukan satu pemeriksaan serologis
untuk konfirmasi diagnosis (antikoagulansia lupus, antibodi kardiolipin).
pengobatan pilihan adalah aspirin + heparin (atau prednison dalam beberapa
kasus ternetu)
Anti Phospholipid Syndrome (APS), merupakan penyakit autoimun yang
ditandai dengan adanya antibodi antiphospholipid dan mengalami gejala
trombosis (darah di pembuluh darah vena/arteri mudah membeku) atau
mengalami keguguran berulang. Sindrom antibodi antifosfolipid merupakan
gangguan autoimun yang ditandai dengan antibodi dalam sirkulasi yang
melawan fosfolipid membran dan setidaknya memperlihatkan satu sindrom
klinis spesifik (keguguran berulang, thrombosis yang tidak dapat dijelaskan,
kematian janin).

7. Sebutkan dan jelaskan faktor resiko terjadinya abortus spontan

Abortus yang terjadi pada minggu-minggu pertama kehamilan


umumnya disebabkan oleh faktor ovofetal, pada minggu-minggu
berikutnya (11 12 minggu), abortus yang terjadi disebabkan oleh
faktor maternal (Sayidun, 2001).

Faktor ovofetal :
Pemeriksaan USG janin dan histopatologis selanjutnya menunjukkan
bahwa pada 70% kasus, ovum yang telah dibuahi gagal untuk
berkembang atau terjadi malformasi pada tubuh janin. Pada 40%
kasus, diketahui bahwa latar belakang kejadian abortus adalah
kelainan chromosomal. Pada 20% kasus, terbukti adanya kegagalan
trofoblast untuk melakukan implantasi dengan adekuat.
Faktor maternal :
Sebanyak 2% peristiwa abortus disebabkan oleh adanya penyakit
sistemik maternal (systemic lupus erythematosis) dan infeksi sistemik
maternal tertentu lainnya. 8% peristiwa abortus berkaitan dengan
abnormalitas uterus ( kelainan uterus kongenital, mioma uteri
submukosa, inkompetensia servik). Terdapat dugaan bahwa masalah
psikologis memiliki peranan pula dengan kejadian abortus meskipun
sulit untuk dibuktikan atau dilakukan peni5laian lanjutan.
Faktor Resiko

Usia

Berdasarkan teori S.Prawirahardjo (2002) pada kehamilan usia muda


keadaan ibu masih labil dan belum siap mental untuk menerima
kehamilannya. Akibatnya, selain tidak ada persiapan,kehamilan tidak
dipelihara dengan baik. Kondisi ini menyebabkan ibu menjadi stress
dan akan menimbulkan resiko terjadinya abortus. Kejadian abortus
berdasarkan 42,9% terjadi pada kelompok usia diatas 35
tahun,kemudian diikuti kelompok usia 30 sampai dengan 34 tahun dan
antara 25 sampai dengan 29 tahun. Hal ini disebabkan usia diatas 35
tahun secara medic merupakan usia yang rawan untuk kehamilan.
Selain itu, ibu cenderung memberi perhatian yang kurang terhadap
kehamilannya dikarenakan sudah mengalami kehamilan lebih dari
sekali dan tidak bermasalah pada kehamilan sebelumnya.
Menurut Kenneth J.Leveno et al (2009) pada usia 35 tahun atau lebih
kesehatan ibu sudah menurun. Akibatnya,ibu hamil pada usia itu
mempunyai kemungkinan lebih besar untuk mempunyai anak
premature,persalian lama,perdarahan,dan abortus. Abortus spontan
yang secara klinis terdeteksi meningkat dari 12% pada wanita berusia
kurang dari 20 tahun dan menjadi 26% pada wanita berusia lebih dari
40 tahun.

Paritas

Pada kehamilan Rahim ibu teregang oleh adanya janin. Bila terlalu
sering melahirkan,Rahim akan semakin lemah. Bila ibu telah

melahirkan 4 anak atau lebih,maka perlu diwaspadai adanya gangguan


pada waktu kehamilan,persalinan dan nifas. Risiko abortus spontan
meningkat seiring dengan paritas ibu.

Riwayat Abortus Sebelumnya

Menurut Prawirohardjo (2009) riwayat abprtus pada penderita abortus


merupaka predisposisi terjadinya abortus berulang. Kejadiannya sekitar
3-5%. Data dari beberapa studi menunjukkan bahwa setelah 1 kali
abortus pasangan punya risiko 15% untuk mengalami keguguran
lagi,sedangkan bila pernah 2 kali,risikonya akan meningkat 25%.

Jarak Kehamilan

Bila jarak kelahiran dengan anak sebelumnya kurang dari 2


tahun,rahim dan kesehatan ibu belum pulih dengan baik. Kehamilan
dalam keadaa ini perlu diwaspadai karena ada kemungkinan
pertumbuhsn janin kurang baik,mengalami persalinan yang lama,atau
perdarahan (abortus). Insidensi abortus meningkat pada wanita yang
hamil dalam 3 bulan setelah melahirkan aterm.

Penyakit Infeksi

Riwayat penyakit ibu seperti pneumoni,typhus


abdominalis,pielonefritis,malaria dapat menyebabkan abortus. Selain
itu kemungkinan penyebab terjadinya abortus adalah infeksi pada alat
genitalia. Tetapi bisa juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Infeksi
vagina pada kehamilan sangat berhubungan dengan terjadinya abortus
atau partus sebelum waktunya.

Alkohol

Alkohol dinyatakan meningkatkan resiko abortus spontan,meskipun


hanya digunakan dalam jumlah yang sedang.

Merokok

Wanita yang merokok diketahui lebih sering mengalami abortus


spontan daripada wanita yag tidak merokok. Kemungkinan bahwa
risiko abortus spontan pada perokok,disebabkan wanita tersebut juga
minum alkohol saat hamil.
Baba et al (2010) menyatakan bahwa kebiasaan gaya hidup termasuk
status merokok pada ibu dan suaminya berpengaruh terhadap kejadian
abortus. Merokok 1-19 batang perhari dan 20 batang perhari memiliki
efek pada ibu mengalami abortus spontan yang lebih awal.

8. Sebutkan berbagai macam komplikasi yang dapat terjadi pada


proses abortus (termasuk yang terkait dengan tindakan
pembedahan yang dilakukan)
Komplikasi Abortus Spontan
Komplikasi yang mungkin timbul (Budiyanto dkk, 1997) adalah:
a. Perdarahan akibat luka pada jalan lahir, atonia uteri, sisa jaringan
tertinggal, diatesa hemoragik dan lain-lain. Perdarahan dapat timbul
segera pasca tindakan, dapat pula timbul lama setelah tindakan.
b. Syok akibat refleks vasovagal atau nerogenik.
Komplikasi ini dapat mengakibatkan kematian yang mendadak.
Diagnosis ini ditegakkan bila setelah seluruh pemeriksaan dilakukan
tanpa membawa hasil. Harus diingat kemungkinan adanya emboli
cairan amnion, sehingga pemeriksaan histologik harus dilakukan
dengan teliti.
c. Emboli udara dapat terjadi pada teknik penyemprotan cairan ke
dalam uterus. Hal ini terjadi karena pada waktu penyemprotan,
selain cairan juga gelembung udara masuk ke dalam uterus,
sedangkan pada saat yang sama sistem vena di endometrium
dalam keadaan terbuka. Udara dalam jumlah kecil biasanya tidak
menyebabkan kematian, sedangkan dalam jumlah 70-100 ml
dilaporkan sudah dapat memastikan dengan segera.
d. Inhibisi vagus, hampir selalu terjadi pada tindakan abortus yang
dilakukan tanpa anestesi pada ibu dalam keadaan stress, gelisah,
dan panik. Hal ini dapat terjadi akibat alat yang digunakan atau
suntikan secara mendadak dengan cairan yang terlalu panas atau
terlalu dingin.
e. Keracunan obat/ zat abortivum, termasuk karena anestesia.
Antiseptik lokal seperti KmnO4 pekat, AgNO3, K-Klorat, Jodium dan
Sublimat dapat mengakibatkan cedera yang hebat atau kematian.
Demikian pula obat-obatan seperti kina atau logam berat.
Pemeriksaan adanya Met-Hb, pemeriksaan histologik dan toksikolgik
sangat diperlukan untuk menegakkan diagnosis.
f. Infeksi dan sepsis.
Komplikasi ini tidak segera timbul pasca tindakan tetapi
memerlukan waktu.

KOMPLIKASI PASCA TINDAKAN


1. Perdarahan

2. Perforasi dinding rahim


3. Gangguan haid.
4. Infeksi
Kanker trofobalst akibat sisa plasenta yang ada didinding rahim