You are on page 1of 26

Bab I

Pendahuluan
1.1.

Latar Belakang Penelitian


Tuberculosis (TB) adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh kuman
berbentuk batang, Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini paling sering menyerang paruparu (TB Pulmoner) tetapi juga dapat menyerang organ-organ lain (TB Ekstrapulmoner).
Sampai saat ini penyakit TB merupakan salah satu penyakit infeksi menular yang masih
menjadi masalah kesehatan global. World Health Organization (WHO) menyatakan, pada
tahun 2012, hampir 1/3 penduduk dunia telah terinfeksi oleh M. tuberculosis. Sebanyak
95% kasus TB dan 98% kematian akibat TB di dunia, terjadi pada negara-negara
berkembang. Menurut WHO, di dunia pada tahun 2012, sedikitnya terdapat 528 ribu kasus
TB baru pada anak dibawah 15 tahun. Jumlah ini sama dengan 6% dari 8,6 juta kasus baru
secara global dan 74 ribu diantaranya meninggal. Indonesia menduduki ranking keempat
penyumbang TB di dunia diantara 22 negara dengan angka penderita TB yang tinggi
setelah India, Cina, dan Afrika Selatan. Sebagian besar penderita TB adalah penduduk usia
produktif yaitu usia 15-55 tahun. Tingginya angka insiden TB paru pada usia tersebut
merupakan ancaman serius penularan TB pada anak. Di Indonesia proporsi pasien TB anak
diantara seluruh kasus TB pada tahun 2008-2010 sebesar 9,4%-11,2%, sedangkan di
daerah DKI Jakarta proporsi pasien TB anak diantara seluruh kasus TB pada tahun 20102011 sebesar 13,5%-14,9%.1,2
Dalam penanggulangan TB, selain dilakukan penemuan dan pengobatan kasus juga
dilakukan pencegahan melalui pemberian vaksin Bacille Calmette Guerin (BCG).
Pemberian vaksin BCG bertujuan untuk meningkatkan peranan sel terutama makrofag
untuk meningkatkan imunitas protektif. Berdasarkan jadwal imunisasi rekomendasi IDAI
(Ikatan Dokter Anak Indonesia) tahun 2011, imunisasi BCG pada bayi optimal diberikan
sampai usia 3 bulan dengan dosis 0,05 ml secara intradermal di daerah lengan kanan atas
pada insersio m. deltoideus sesuai anjuran WHO. Seiring dengan pemberian imunisasi,
seringkali terdapat reaksi simpang yang dikenal dengan istilah Kejadian Ikutan Pasca
Imunisasi (KIPI). KIPI merupakan kejadian medik yang berhubungan dengan imunisasi
baik berupa efek vaksin ataupun efek samping, toksisitas, reaksi sensitivitas, efek
farmakologis, kesalahan program, reaksi suntikan atau hubungan kausal yang tidak dapat
ditentukan. Penyuntikan vaksin BCG secara intradermal menimbulkan ulkus lokal yang
superfisial 3 minggu setelah penyuntikan, akan sembuh setelah 2-3 bulan dan
1

meninggalkan parut dengan diameter 4-8 mm. Apabila dosis terlalu tinggi maka ulkus
yang timbul lebih besar.3,4
Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan jaringan parut (scar)
setelah mendapatkan imunisasi BCG, diantaranya adalah : faktor genetik, usia saat
mendapatkan imunisasi, jenis kelamin, status gizi saat mendapatkan imunisasi, status imun
pada saat mendapatkan imunisasi, kualitas dan kuantitas vaksin, serta teknik pemberian
vaksin saat imunisasi.4 Menurut penelitian yang dilakukan oleh Dyah Isbagio, dkk di
Jakarta, menunjukkan bahwa kesalahan pemyimpanan vaksin di lemari es mempengaruhi
persentase colony count yang akan mempengaruhi keberhasilan imunisasi. Surekha Rani,
dkk di India juga meneliti bahwa faktor usia saat imunisasi menentukan keberhasilan
imunisasi itu sendiri. S. Floyd, dkk di Malawi Utara juga meneliti tentang gambaran
jaringan parut (scar) pada imunisasi BCG dan didapatkan bahwa anak perempuan lebih
jarang mendapatkan scar BCG daripada anak laki-laki. Eddy Perez, dkk di Republic
Dominica meneliti bahwa terdapat hubungan antara keadaan nutrisi yang buruk dengan
tingkat keberhasilan imunisasi BCG. Moster D, dkk di Norwegia juga melakukan
penelitian bahwa semakin rendahnya usia gestasional bayi saat dilahirkan berhubungan
dengan meningkatnya disabilitas sosial dan terpengaruhnya sistem imun. Sedangkan Hack
M, dkk, pada penelitiannya di Cleveland, mengatakan bahwa terdapat hubungan yang
signifikan antara berat badan lahir bayi yang sangat rendah dengan status imun dan
pertumbuhan anak.
Sampai saat ini, belum ada penelitian mengenai gambaran jaringan parut (scar)
hasil imunisasi BCG dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pembentukan scar BCG
di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Girian Weru, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta
Barat. Oleh karena itu, peneliti ingin menelusuri lebih lanjut gambaran jaringan parut
(scar) hasil imunisasi BCG pada Batita dengan faktor-faktor yang berhubungan di wilayah
kerja Puskesmas Girian Weru, Kecamatan Girian, Bitung, Sulawesi Utara periode 1-14
1.2.

Februari 2016.
Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas dapat dirumuskan masalah sebagai
berikut :
Masih tingginya angka morbiditas dan mortalitas akibat TB pada anak di dunia.
Menurut WHO, di dunia pada tahun 1998 sedikitnya 180 juta anak dibawah 15

tahun terinfeksi TB dan 170.000 anak diantaranya meninggal.


Masih tingginya angka morbiditas dan mortalitas akibat TB pada anak di Indonesia.
Di Indonesia proporsi pasien TB anak diantara seluruh kasus TB pada tahun 2008 2010 sebesar 9,4%-11,2%.
2

Belum diketahuinya sebaran gambaran jaringan parut (scar) hasil imunisasi BCG
pada Batita di wilayah kerja Puskesmas Girian Weru, Kecamatan Girian, Bitung,

Sulawesi Utara periode 1-14 Februari 2016.


Belum diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan pembentukan jaringan
parut (scar) hasil imunisasi BCG pada Batita di wilayah kerja Puskesmas Girian
Weru, Kecamatan Girian, Bitung, Sulawesi Utara periode 1-14 Februari 2016.

1.3.

Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan Umum Penelitian
Diketahuinya gambaran jaringan parut (scar) hasil imunisasi BCG pada Batita di
wilayah kerja Puskesmas Girian Weru, Kecamatan Girian, Bitung, Sulawesi Utara
periode 1-14 Februari 2016.
1.3.2. Tujuan Khusus Penelitian
Diketahuinya sebaran gambaran jaringan parut (scar) hasil imunisasi BCG
pada Batita di wilayah kerja Puskesmas Girian Weru, Kecamatan Girian,

Bitung, Sulawesi Utara periode 1-14 Februari 2016.


Diketahuinya sebaran usia saat mendapatkan imunisasi BCG pada Batita di
wilayah kerja Puskesmas Girian Weru, Kecamatan Girian, Bitung, Sulawesi

Utara periode 1-14 Februari 2016.


Diketahuinya sebaran jenis kelamin Batita di wilayah kerja Puskesmas Girian

Weru, Kecamatan Girian, Bitung, Sulawesi Utara periode 1-14 Februari 2016.
Diketahuinya sebaran status gizi saat mendapatkan imunisasi BCG pada Batita
di wilayah kerja Puskesmas Girian Weru, Kecamatan Girian, Bitung, Sulawesi

Utara periode 1-14 Februari 2016.


Diketahuinya sebaran tempat pelaksanaan imunisasi BCG pada Batita di
wilayah kerja Puskesmas Girian Weru, Kecamatan Girian, Bitung, Sulawesi

Utara periode 1-14 Februari 2016.


Diketahuinya hubungan antara usia saat mendapatkan imunisasi BCG dengan
gambaran jaringan parut (scar) hasil imunisasi BCG pada Batita di wilayah
kerja Puskesmas Girian Weru, Kecamatan Girian, Bitung, Sulawesi Utara

periode 1-14 Februari 2016.


Diketahuinya hubungan antara status gizi saat mendapatkan imunisasi BCG
dengan gambaran jaringan parut (scar) hasil imunisasi BCG pada Batita di
wilayah kerja Puskesmas Girian Weru, Kecamatan Girian, Bitung, Sulawesi

Utara periode 1-14 Februari 2016.


Diketahuinya hubungan antara tempat pelaksanaan vaksin BCG dengan
gambaran jaringan parut (scar) hasil imunisasi BCG pada Batita di wilayah
3

kerja Puskesmas Girian Weru, Kecamatan Girian, Bitung, Sulawesi Utara


periode 1-14 Februari 2016.
1.4.

Manfaat Penelitian
1.4.1. Manfaat bagi Peneliti
Menerapkan ilmu pengetahuan kedokteran yang telah diterima dan

membandingkannya dengan keadaan yang terjadi di lapangan.


Mengembangkan daya nalar, minat, dan semangat; serta pengalaman

penelitian.
Meningkatkan kemampuan berkomunikasi langsung dengan masyarakat.
1.4.2. Manfaat bagi Puskesmas
Untuk meningkatkan pengetahuan dan bahan masukan bagi para petugas
puskesmas yang akan mempengaruhi pelayanan puskesmas agar menjadi lebih baik
di masa mendatang.
1.4.3. Manfaat bagi Masyarakat
Meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam upaya peningkatan cakupan
keberhasilan imunisasi BCG.
1.5.

Sasaran Penelitian
1.5.1. Populasi
Semua Batita yang telah mendapatkan imunisasi BCG dan berada di wilayah kerja
Puskesmas Girian Weru, Kecamatan Girian, Bitung, Sulawesi Utara periode 1-14
Februari 2016.
1.5.2. Sampel
Semua Batita yang telah mendapatkan imunisasi BCG minimal 3 bulan sebelum
dilakukan penelitian (3 bulan sebelum tanggal 1 Februari 2016) dan memiliki KMS
serta berada di wilayah kerja Puskesmas Girian Weru, Kecamatan Girian, Bitung,
Sulawesi Utara periode 1-14 Februari 2016.
1.5.3. Responden
Ibu atau orang yang mengasuh Batita yang menjadi subjek penelitian.

Bab II
Tinjauan Pustaka
2.1.

Epidemiologi
Tuberculosis (TB) adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh kuman
berbentuk batang, Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini paling sering menyerang paruparu (TB Pulmoner) tetapi juga dapat menyerang organ-organ lain (TB Ekstrapulmoner).
Sampai saat ini penyakit TB merupakan salah satu penyakit infeksi menular yang masih
menjadi masalah kesehatan global. World Health Organization (WHO) menyatakan,
hampir 1/3 penduduk dunia telah terinfeksi oleh M. tuberculosis. Pada tahun 1993, tercatat
sebanyak 8 juta kasus baru TB dan sebanyak 1,6 juta penduduk dunia meninggal akibat TB
setiap tahunnya. Sedangkan pada tahun 2012, tercatat sebanyak 8,6 juta kasus baru TB dan
sebanyak 1,3 juta penduduk dunia meninggal akibat TB setiap tahunnya. Dari jumlah yang
meninggal tersebut, ada sekitar 170 ribu yang meninggal dikarenakan Multi Drug
5

Ressistance TB (MDR-TB), jumlah yang relative besar bila dibandingkan dengan jumlah
total 450 ribu kasus baru MDR-TB. Sebanyak 95% kasus TB dan 98% kematian akibat TB
di dunia, terjadi pada negara-negara berkembang. Indonesia menduduki ranking keempat
penyumbang TB di dunia diantara 22 negara dengan angka penderita TB yang tinggi
setelah India, Cina, dan Afrika Selatan. Pada tahun 2010, di Indonesia, angka insidensi
semua tipe TB adalah 450.000 kasus atau 189 per 100.000 penduduk, angka prevalensi
semua tipe TB sebesar 690.000 atau 289 per 100.000 penduduk dan angka kematian TB
sebesar 64.000 atau 27 per 100.000 penduduk. Sebagian besar penderita TB adalah
penduduk usia produktif yaitu usia 15-55 tahun. Tingginya angka insiden TB paru pada
usia tersebut merupakan ancaman serius penularan TB pada anak. Menurut WHO, di dunia
pada tahun 2012, sedikitnya terdapat 528 ribu kasus TB baru pada anak dibawah 15 tahun.
Jumlah ini sama dengan 6% dari 8,6 juta kasus baru secara global dan 74 ribu diantaranya
meninggal. Di Indonesia proporsi pasien TB anak diantara seluruh kasus TB pada tahun
2008-2010 sebesar 9,4%-11,2%, sedangkan di daerah DKI Jakarta proporsi pasien TB anak
diantara seluruh kasus TB pada tahun 2010-2011 sebesar 13,5%-14,9%. Proporsi pasien TB
anak adalah persentase pasien TB anak (<15 tahun) diantara seluruh pasien TB tercatat.
Angka ini sebagai salah satu indikator untuk menggambarkan ketepatan dalam
mendiagnosis TB pada anak. Angka ini berkisar 15%. Bila angka ini terlalu besar dari
15%, kemungkinan terjadi overdiagnosis.1,2
2.2.

Definisi
Tuberkulosis merupakan suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh basil
kuman Mycobacterium tuberculosis.1

2.3.

Pencegahan
Dalam penanggulangan TB, selain dilakukan penemuan dan pengobatan kasus juga
dilakukan pencegahan melalui pemberian imunisasi Bacille Calmette Guerin (BCG).
Imunisasi adalah pemberian vaksin (antigen) yang dapat merangsang pembentukan
imunitas (antibodi) dari sistem imun di dalam tubuh. Vaksin BCG adalah vaksin hidup
yang dibuat dari strain Mycobacterium bovis yang dilemahkan dengan cara dibiak berulang
selama 1-3 tahun dan digunakan pada manusia terhadap pencegahan tuberkulosis di hampir
seluruh penjuru dunia. Pemberian vaksin BCG bertujuan untuk meningkatkan peranan sel
terutama makrofag untuk meningkatkan imunitas protektif. Berdasarkan jadwal imunisasi
rekomendasi IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) tahun 2011, imunisasi BCG pada bayi
optimal diberikan sampai usia 3 bulan dengan dosis 0,05 ml secara intradermal di daerah
lengan atas kanan pada insersio m. deltoideus sesuai anjuran WHO. Bila imunisasi BCG
diberikan pada umur lebih dari 3 bulan, sebaiknya pada anak dengan uji Mantoux
6

(tuberkulin) negatif. Imunisasi BCG tidak mencegah infeksi tuberkulosis tetapi


mengurangi risiko terjadinya tuberkulosis berat seperti meningitis TB dan tuberkulosis
milier. Efek proteksi timbul 8 - 12 minggu setelah penyuntikkan dan hasilnya bervariasi
antara 0-80%.3,4
BCG tidak boleh diberikan secara subkutan karena berisiko terjadinya ulkus dan
abses yang serius. Vaksin BCG tidak boleh terkena sinar matahari, harus disimpan pada
suhu 2-80, tidak boleh beku. Vaksin yang telah diencerkan harus dipergunakan dalam
waktu 3 jam. Imunisasi hanya boleh dilakukan pada tubuh yang sehat. Berikut ini keadaan
yang merupakan kontraindikasi pemberian imunisasi BCG, yaitu : tidak diberikan pada
pasien dengan daya tahan tubuh yang rendah seperti pasien leukemia, dalam pengobatan
steroid jangka panjang, atau pada infeksi HIV; menderita gizi buruk; sedang menderita
demam tinggi; menderita infeksi kulit yang luas atau pernah sakit tuberculosis
sebelumnya.4
Setelah imunisasi BCG dapat terjadi reaksi Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi
(KIPI). KIPI adalah kejadian medik yang berhubungan dengan imunisasi baik berupa efek
vaksin ataupun efek samping, toksisitas, reaksi sensitifitas, efek farmakologis, reaksi
suntikan, atau hubungan kausal yang tidak dapat ditentukan. Pada keadaan tertentu lama
pengamatan KIPI dapat mencapai masa 42 hari atau bahkan sampai 6 bulan. Pada
penyuntikkan BCG secara intradermal akan menimbulkan ulkus lokal superfisial, 3
minggu setelah penyuntikkan. Ulkus akan sembuh dalam 2-3 bulan dan meninggalkan
parut dengan diameter 4-8 mm. Apabila dosis terlalu tinggi maka ulkus yang timbul lebih
besar.4
2.4.

Proses Pembentukan Jaringan Parut (Scar) BCG


Reaksi akibat imunisasi BCG sama dasarnya dengan reaksi jaringan terhadap
tuberkulin. Secara teori reaksi imun yang terjadi adalah : terjadi stimulasi limfosit T untuk
sekresi limfokin yang akan mengaktivasi makrofag untuk menghambat basil tuberkulosis.
Interferon gamma merupakan makrofag activating limfokin yang penting dalam
imunopatologi. Ketika makrofag diaktivasi oleh adanya pajanan dari interferon gamma
secara in vitro, akan terjadi peningkatan pengeluaran tumor necrosis factor (TNF). Sama
halnya, pajanan dari interferon gamma juga menghasilkan perubahan fungsi dan fenotif,
termasuk enzim (1-hydroxylase) yang membantu makrofag untuk merubah bentuk inaktif
dari vitamin D3 menjadi derivate yang aktif, kolekalsiferol. Secara histologi, pada lesi
terdapat deposit fibrin dan terjadi kerusakan pembuluh darah. Dari pengamatan yang
dilakukan, terlihat adanya migrasi dari limfosit dalam jumlah yang banyak sehingga terjadi
peningkatan metabolik lokal dan hipoksia. Adanya reaksi hiperemis dan menurunnya aliran
7

darah dapat menyebabkan statis mikrosirkulasi dan iskemia. Adanya predominan dari
aktivasi makrofag mengindikasikan bahwa sekresi sitokin yang terjadi dalam jumlah
banyak bertanggung jawab terhadap kerusakan jaringan yang terjadi.5
2.5.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Scar BCG


Pembentukan jaringan parut setelah imunisasi BCG, merupakan suatu indikator
keberhasilan imunisasi. Keberhasilan imunisasi tergantung pada beberapa faktor,
diantaranya adalah : faktor genetik, status imun saat mendapatkan imunisasi, kualitas dan
kuantitas vaksin, teknik pemberian vaksin, usia bayi saat mendapatkan imunisasi, jenis
kelamin, serta status gizi saat mendapatkan imunisasi.4
Faktor genetik mempengaruhi keberhasilan imunisasi. Interaksi antara sel-sel
sistem imun dipengaruhi oleh variabel genetik. Secara genetik, respon imun manusia dapat
dibagi atas responder baik, cukup, dan rendah terhadap antigen tertentu; tetapi terhadap
antigen lain dapat lebih tinggi. Karena itu, tidak heran bila menemukan keberhasilan
imunisasi yang tidak 100%. Status imun juga mempengaruhi hasil vaksinasi. Individu yang
mendapat obat imunosupresan, atau menderita penyakit yang menimbulkan defisiensi imun
sekunder seperti pada penyakit keganasan, juga akan mempengaruhi keberhasilan
imunisasi.4
Faktor kualitas dan kuantitas vaksin dapat mempengaruhi keberhasilan imunisasi,
begitu juga dengan teknik pemberian vaksin. Kualitas vaksin berhubungan dengan cara
penyimpanan dan transportasi vaksin, oleh karena itu harus diperhatikan syarat-syarat
penyimpanan dan transportasi vaksin untuk menjamin potensi vaksin tersebut. Untuk
vaksin hidup seperti vaksin BCG, sebaiknya vaksin disimpan dalam suhu +2 s/d +8 C
sedangkan wadah untuk media transportasi, sebaiknya menggunakan cold box atau termos
yang disertai dengan cold pack berisi air yang dibekukan dalam suhu -15 s/d -25 C.
Kualitas vaksin lainnya ditentukan dari viabilitas vaksin tersebut, vaksin yang baik adalah
vaksin yang dapat digunakan sebelum jangka waktu pemakaiannya (masa kadaluarsa)
habis. Apabila syarat-syarat tersebut tidak diperhatikan, maka vaksin sebagai material
biologis akan mudah rusak atau kehilangan potensinya untuk merangsang kekebalan tubuh.
Kuantitas vaksin berhubungan dengan jumlah dosis vaksin yang diberikan, dosis vaksin
yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akan mempengaruhi respon imun yang terjadi. Dosis
yang terlalu tinggi akan menghambat respon imun yang diharapkan, sedangkan dosis yang
terlalu rendah tidak akan merangsang sel imunokompeten.4
Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Dyah Isbagio, dkk di Jakarta pada
tahun 1990, menunjukkan bahwa terdapat perbedaan persentase colony count antara vaksin
yang disimpan dengan fasilitas yang memadai dengan vaksin yang mengalami kesalahan
dalam penyimpanan. Colony count merupakan suatu bilangan kuman vaksin BCG yang
8

digunakan sebagai indikator potensi vaksin. Teknik ini digunakan untuk mengontrol
kualitas vaksin sebelum dilepas ke pasaran. Untuk Indonesia, ditetapkan nilai colony count
minimal adalah sebesar 1,5 - 5,0 x 106 partikel kuman/mL. Hasil penelitian menunjukkan
vaksin yang mengalami kesalahan dalam penyimpanan, memiliki colony count di bawah
nilai standar. Kesalahan dalam penyimpanan tersebut antara lain : terlalu sering dibukatutupnya pintu lemari es sehingga terjadi ketidak-stabilan suhu penyimpanannya, atau
karena adanya kenaikan suhu penyimpanan akibat adanya gangguan aliran listrik dan
kurang terlindungnya vaksin terhadap pengaruh sinar matahari secara langsung. Menurut
bentuk pintunya, lemari es dibagi menjadi 2, yaitu : lemari es dengan pintu membuka ke
atas atau lemari es dengan pintu membuka ke depan. Terdapat perbedaan antara kedua
bentuk pintu lemari es ini dimana perbedaan tersebut akan mempengaruhi kualitas vaksin.
Lemari es dengan pintu membuka ke atas memiliki suhu yang lebih stabil dibandingkan
dengan lemari es dengan pintu yang membuka ke depan; selain itu, jika listrik padam,
lemari es dengan pintu membuka ke atas akan lebih lama menahan suhu di dalam lemari es
dibandingkan dengan lemari es dengan pintu yang membuka ke depan. Oleh karena itu
tempat pelaksanaan imunisasi pun berperan dalam menentukan kualitas vaksin dalam
bidang ketersediaan tempat penyimpanan vaksin yang memenuhi standar. Dalam hal ini
klinik anak di Rumah Sakit dan Puskesmas seharusnya sudah memiliki tempat
penyimpanan vaksin yang memenuhi standar dan dianjurkan yaitu lemari es dengan pintu
yang dibuka ke atas. Sedangkan praktek bidan dan posyandu masing-masing menggunakan
lemari es rumah tangga (pintu lemari es membuka ke depan) dan termos yang kurang
dianjurkan karena kurang stabil dalam mempertahankan suhu. Pemantauan vaksin sangat
diperlukan di berbagai tempat penyimpanan vaksin, demi suksesnya Pengembangan
Program Imunisasi di Indonesia.6-8
Teknik pemberian vaksin

juga

mempengaruhi

keberhasilan

imunisasi.

Penyuntikkan yang terlalu dalam, dapat menimbulkan abses lokal dan pembengkakan
kelenjar getah bening setempat yang menyebabkan scar BCG tidak terbentuk. Dari
penelitian di Brazil tahun 2003, didapatkan hasil bahwa suntikan BCG secara subkutan
(lebih profundal dari pada intradermal) lebih sedikit menimbulkan scar dibandingkan
suntikan BCG secara intradermal. Hal ini disebabkan karena suntikan subkutan
menimbulkan reaksi yang minimal dan efek untuk merangsang Th-1 limfosit minimal.9
Pada penelitian sebelumnya oleh Surekha Rani, dkk di India pada tahun 1998,
didapatkan ternyata faktor usia saat anak mendapatkan imunsasi BCG memiliki peranan
dalam pembentukan scar BCG. Peneliti menyimpulkan bahwa, terdapat hubungan antara
usia anak saat mendapatkan imunisasi BCG dengan pembentukan scar BCG. Hal ini sesuai
9

dengan teori yang menyatakan bahwa keberhasilan imunisasi berhubungan

dengan

maturitas imunologik. Pada bayi dan neonatus, fungsi makrofag masih kurang, terutama
fungsi mempresentasikan antigen karena ekspresi HLA (human leukocyte antigen) masih
kurang pada permukaannya. Respons imun seluler terhadap suatu antigen, jumlahnya
belum terdapat secara signifikan sampai usia 4-8 bulan setelah lahir. Jadi dengan
sendirinya, imunisasi pada neonatus akan memberikan hasil yang kurang baik bila
dibandingkan pada anak.10
Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan Floyd S, dkk di Malawi pada tahun
2000, didapatkan bahwa terdapat perbedaan ukuran jaringan parut antara pria dan wanita.
Dimana terdapat perbedaan yang signifikan pada ukuran jaringan parut bekas vaksinasi
pada pria dibandingkan wanita apabila divaksinasi di atas usian 15 tahun. Pola usia dan
jenis kelamin dari bentuk dan ukuran jaringan parut, dimana belum pernah dibahas
sebelumnya, berhubungan dengan factor factor determina biologi dari hipersensitivitas
tipe lambat yang ditunjukkan di tes tuberculin pada penetapan yang paling sering dan luas
digunakan, sudah belumnya dilaksanakan vaksinasi BCG, yaitu terbentuknya jaringan
parut.11,12
Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Eddy Perez, dkk di Republic
Dominica pada tahun 2002, didapatkan hasil bahwa anak dengan keadaan malnutrisi
cenderung lebih besar untuk tidak mendapatkan scar BCG dibandingkan dengan anak
dengan status nutrisi yang adekuat. Hal ini berhubungan dengan teori yang menyatakan
bahwa keadaan gizi yang buruk akan menurunkan fungsi sel sistem imun seperti makrofag
dan limfosit. Imunitas selular maupun humoral menurun fungsinya, sehingga tidak dapat
mengikat antigen dengan baik karena terdapat kekurangan asam amino yang dibutuhkan
untuk sintesis antibodi. Kadar komplemen juga berkurang dan mobilisasi makrofag
berkurang, akibatnya respon terhadap vaksin juga berkurang.13
Moster D, dkk pada tahun 2014 di Norwegia juga melakukan penelitian bahwa
semakin rendahnya usia gestasional bayi saat dilahirkan berhubungan dengan
meningkatnya disabilitas social dan terpengaruhnya sistem imun. 14 Sedangkan Hack M,
dkk, pada penelitiannya di Cleveland, mengatakan bahwa terdapat hubungan ang
signifikan antara berat badan lahir bayi yang sangat rendah dengan status imun, IQ,
perkembangan neurologi, dan pertumbuhan anak. 15

10

2.6.

Kerangka Teori
Jenis
kelamin

Usia saat
mendapatkan
imunisasi BCG
Status
Imun saat
mendapatk
an
imunisasi
Kualitas
vaksin
Tempat
penyimpan
an vaksin

2.7.

Faktor

Status gizi saat


mendapatkan
imunisasi BCG

Gambaran
jaringan
parut
(scar) hasil
imunisasi

Respon
imun
Teknik
pemberian
vaksin
Berat
Badan Lahir
rendah

Kuantitas
Bayi Lahir
Preterm

Kerangka Konsep
Usia saat
mendapatkan
Jenis Kelamin

Gambaran
jaringan
parut
(scar) hasil
vaksinasi

Status gizi saat


mendapatkan
imunisasi BCG
Tempat
Pelaksanaan
vaksin BCG

11

12

Bab III
Metodologi Penelitian
3.1.

Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan adalah studi cross sectional mengenai gambaran
jaringan parut (scar) hasil imunisasi BCG pada Batita dan faktor-faktor yang berhubungan
di wilayah kerja Puskesmas Girian Weru, Kecamatan Girian, Bitung, Sulawesi Utara
periode 1-14 Februari 2016.

3.2.

Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Girian Weru, Kecamatan
Girian, Bitung, Sulawesi Utara periode 1-14 Februari 2016.

3.3.

Populasi
Populasi target dari penelitian ini adalah semua Batita yang telah mendapatkan
imunisasi BCG pada wilayah kerja Puskesmas Girian Weru, Kecamatan Girian, Bitung,
Sulawesi Utara. Populasi terjangkau dalam penelitian ini adalah semua Batita yang telah
mendapatkan imunisasi BCG di wilayah kerja Puskesmas Girian Weru, Kecamatan Girian,
Bitung, Sulawesi Utara periode 1-14 Februari 2016.

3.4.

Kriteria Inklusi dan Eksklusi


3.4.1. Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi adalah seluruh Batita yang telah mendapatkan imunisasi BCG
minimal 3 bulan sebelum penelitian dilakukan (3 bulan sebelum tanggal 1 Februari 2016),
mempunyai KMS dan berada di wilayah kerja Puskesmas Puskesmas Girian Weru,
Kecamatan Girian, Bitung, Sulawesi Utara periode 1-14 Februari 2016, serta orang
tua/wali bersedia untuk berpartisipasi dalam penelitian.
3.4.2. Kriteria Eksklusi
Kriteria eksklusi adalah seluruh batita yang memenuhi kriteria inklusi tetapi lahir
dengan berat badan lahir rendah, lahir prematur, dan mengalami penurunan berat badan
terus menerus atau 2 kali berturut-turut ke pita kuning bawah atau bawah garis merah
dalam 2 bulan setelah imunisasi BCG pada Kartu Menuju Sehat (KMS).

3.5.

Sampel
3.5.1. Besar Sampel
Melalui rumus di bawah ini didapatkan besar sampel penelitian sebagai berikut :
( Z )2 . p. q
n1 =
L2
n2 = n1 + (10% . n1)
n1
: Jumlah sampel minimal
n2
: Jumlah sampel ditambah substitusi 10%
13

Z
p

(substitusi adalah persen sampel yang mungkin drop out)


: Tingkat batas kepercayaan, dengan = 5%
Didapat Z pada kurva normal = 1,96
: Proporsi variabel yang diteliti, dari penelitian sebelumnya didapatkan
proporsi sebesar 0,55
Peneliti
Surekha Rani

Variabel
Proporsi
Usia Saat Mendapatkan 0.929

Jumlah Sam
28 orang

Floyd S
Eddy Perez-Then

BCG
Jenis Kelamin
Status
Gizi

100 orang
105 orang

Surekha Rani

mendapatkan BCG
Tempat
Penyimpanan 0.003

0.57
saat 0.55

Vaksin
q
L

: 1 p = 1 0,5 = 0,5
: Derajat kesalahan yang masih dapat diterima adalah 10%

Berdasarkan rumus di atas didapatkan angka sebagai berikut :


(Z)2 . p. q
(1,96)2 . 0,55 . 0,45
n1 =
=
= 95.08
L2
(0,1)2
n2

= n1 + ( 10% . n1 )
= 95.08 + ( 10% . 95.08 )
= 95.08 + 9.508
= 104.588 -------------------------- Dibulatkan 105
Jadi jumlah sampel minimal yang dibutuhkan adalah 105 orang.
3.5.2. Teknik Pengambilan Sampel
Pada awal pelaksanaan, teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah
simple random sampling. Namun dalam pelaksanaannya, teknik sampel ini tidak
digunakan karena alamat pada data Batita di puskesmas tidak lengkap dan ibu
Batita yang datang mengunjungi posyandu biasanya membawa KMS sehingga
digunakan teknik pengambilan sampling non probability sampling yaitu
convenience sampling pada ibu yang membawa batita ke 3 Posyandu pada
Kelurahan Girian Atas, Girian Bawah dan Girian Permai di wilayah kerja
Puskesmas Girian Weru, Kecamatan Girian, Bitung, Sulawesi Utara.
3.6.

Identifikasi Variabel
Dalam penelitian ini digunakan variabel terikat (dependen) dan variabel bebas
(independen). Variabel terikat berupa gambaran jaringan parut (scar) hasil imunisasi BCG.

14

2 orang

Variabel bebas berupa usia, jenis kelamin, status gizi saat mendapatkan imunisasi BCG dan
tempat pelaksanaan imunisasi BCG.
3.7.

Cara Kerja
1. Menghubungi kepala Puskesmas Girian Weru, Kecamatan Girian, Bitung, Sulawesi
Utara yang menjadi daerah penelitian untuk mengetahui wilayah kerja puskesmas
tersebut serta melaporkan tujuan diadakannya penelitian di daerah tersebut.
2. Menghubungi kader Posyandu di wilayah kerja Puskesmas Girian Weru, Kecamatan
Girian, Bitung, Sulawesi Utara untuk mendapatkan data mengenai jumlah dan
identitas Batita yang berada di wilayah tersebut periode 1-14 Februari 2016.
3. Uji coba kuesioner pada responden di wilayah kerja Puskesmas Girian Weru.
4. Melakukan pengumpulan data-data dengan wawancara pada responden, pemeriksaan
fisik langsung dan melihat KMS yang menjadi sampel penelitian.
5. Melakukan pengolahan, analisis, dan interpretasi data.
6. Penulisan laporan penelitian.
7. Pelaporan penelitian.

3.8.

Manajemen Data
3.8.1. Pengumpulan Data
Data primer didapatkan melalui pemeriksaan fisik langsung terhadap lengan
atas dan bokong Batita yang telah mendapatkan imunisasi BCG untuk melihat adatidaknya scar BCG, serta wawancara langsung kepada responden. Data sekunder
didapatkan melalui data dari KMS Balita yang telah mendapatkan imunisasi BCG
di wilayah kerja Puskesmas Girian Weru, Kecamatan Girian, Bitung, Sulawesi
Utara periode 1-14 Februari 2016.
3.8.2. Pengolahan Data
Terhadap data-data yang telah dikumpulkan, dilakukan pengolahan berupa
proses editing, verifikasi, dan koding. Selanjutnya, dimasukkan dan diolah dengan
menggunakan program komputer, yaitu program SPSS 16.0 (Statistical Package
for Social Science 16.0).
3.8.3. Penyajian Data
Data yang didapat, disajikan secara tabular.
3.8.4. Analisis Data
Terhadap data yang telah diolah, dilakukan analisis sesuai dengan uji statistik
yang sesuai.
3.8.5. Interpretasi Data
Data diinterpretasi secara deskriptif-korelatif antar variabel-variabel yang
telah ditentukan.
3.8.6. Pelaporan Data
Data disusun dalam bentuk pelaporan penelitian yang selanjutnya akan
dipresentasikan di hadapan dokter pembimbing Progam Dokter Internship
Indonesia kota Bitung.
15

3.9.

Definisi Operasional
3.9.1. Data Umum
Subyek penelitian
Subyek penelitian adalah Batita yang telah mendapatkan imunisasi BCG
minimal 3 bulan sebelum penelitian dilakukan, memiliki KMS, dan berada di
wilayah kerja Puskesmas Girian Weru, Kecamatan Girian, Bitung, Sulawesi
Utara periode 1-14 Februari 2016.

Responden
Responden adalah ibu atau orang yang mengasuh Batita yang menjadi subyek
penelitian di wilayah kerja Puskesmas Girian Weru, Kecamatan Girian,
Bitung, Sulawesi Utara periode 1-14 Februari 2016.

Usia subyek penelitian saat dilakukan pemeriksaan


Usia subyek penelitian saat dilakukan pemeriksaan adalah lamanya hidup
seseorang sejak dilahirkan sampai saat penelitian dilakukan. Usia dihitung
dari selisih tanggal/bulan/tahun pada saat penelitian dilakukan dengan
tanggal/bulan/tahun

lahir

subyek

penelitian.

Data

mengenai

tanggal/bulan/tahun lahir subyek penelitian didapatkan dari Kartu Menuju


Sehat (KMS). Usia tersebut dinyatakan dalam satuan tahun dan bulan; untuk
usia yang melewati 15 hari, akan dibulatkan ke atas atau dihitung menjadi 1
bulan.
Alat ukur

: Kartu Menuju Sehat (KMS)

3.9.2. Data Khusus


Jaringan parut (scar) BCG
Jaringan parut (scar) BCG adalah jaringan parut yang terbentuk pada lengan
atas dan bokong subyek penelitian yang telah mendapatkan imunisasi BCG.
Jaringan parut dinilai secara langsung oleh peneliti melalui pemeriksaan fisik
pada lengan kanan atas subyek penelitian, yang dinilai adalah ada-tidaknya
scar BCG. Apabila scar < 4 mm, diklasifikasikan tidak terbentuk scar.
Alat ukur : Pemeriksaan fisik langsung (inspeksi) oleh peneliti pada
subyek penelitian menggunakan mistar dengan ketelitian 0,1 cm
Skala ukur : Nominal
Hasil ukur : Scar
(Koding 0)
Tidak ada scar (Koding 1)
Usia subyek penelitian saat mendapatkan imunisasi BCG
Usia subyek saat mendapatkan imunisasi BCG adalah

selisih

tanggal/bulan/tahun pada saat subyek mendapatkan imunisasi BCG dengan


tanggal/bulan/tahun lahir subyek penelitian. Data tersebut didapat dari Kartu
Menuju Sehat (KMS). Usia tersebut dinyatakan dalam satuan hari.
16

Alat ukur : Kartu Menuju Sehat (KMS)


Skala ukur : Ordinal
Hasil ukur : >28 hari
(Koding 0)
>2-28 hari (Koding 1)
0-2 hari
(Koding 2)
Jenis kelamin subyek penelitian
Jenis kelamin subyek penelitian adalah identitas biologis yang digunakan untuk
membedakan laki-laki dengan perempuan, dengan cara melihat Kartu Menuju
Sehat (KMS).
Alat ukur : Kartu Menuju Sehat (KMS)
Skala ukur : Nominal
Hasil ukur : Perempuan (Koding 0)
Laki-laki
(Koding 1)
Status gizi subyek penelitian saat mendapatkan imunisasi BCG
Status gizi subyek penelitian saat imunisasi BCG dilakukan adalah status
nutrisi subyek penelitian saat mendapatkan imunisasi BCG yang ditentukan
melalui perbandingan antara berat badan (BB) dan usia (U) subyek penelitian
saat mendapatkan imunisasi BCG. Hasil perbandingan ini kemudian
diaplikasikan dan dikategorikan pada Kartu Menuju Sehat (KMS) menurut
warna pita KMS.
Apabila hasil pengukuran tersebut terletak pada pita KMS berwarna hijau,
maka status gizi subyek penelitian dikategorikan gizi baik; apabila hasil
pengukuran tersebut berada di atas pita KMS berwarna hijau, maka status gizi
subyek penelitian dikategorikan gizi lebih; apabila hasil pengukuran tersebut
berada pada pita KMS berwarna kuning bawah, maka status gizi subyek
penelitian dikategorikan gizi kurang; sedangkan apabila hasil pengukuran
tersebut berada berada di bawah garis merah, maka status gizi subyek
penelitian dikategorikan gizi bawah merah;
Alat ukur : Kartu Menuju Sehat (KMS)
Skala ukur : Ordinal
Hasil Ukur : Gizi baik & Gizi lebih
Gizi kurang & Gizi bawah merah

(Koding 0)
(Koding 1)

Tempat pemberian vaksin BCG


Tempat pemberian vaksin BCG adalah lokasi pusat pelayanan kesehatan yang
melayani pemberikan vaksin BCG kepada bayi. Tempat pemberian vaksin
BCG terdiri atas 2 macam, yaitu : tempat pemberian dengan penyimpanan
vaksin di Posyandu atau praktek bidan pribadi dan di Puskesmas atau Rumah
Sakit.
17

Data didapatkan melalui wawancara kepada responden mengenai tempat


pelaksanaan imunisasi BCG pada Batita yang menjadi sampel penelitian.
Alat ukur : Wawancara dengan responden.
Skala ukur : Nominal
Hasil ukur : Posyandu / praktek bidan pribadi
(Koding 0)
Puskesmas / Rumah Sakit
(Koding 1)
3.10.

Etika Penelitian
Responden yang diwawancara pada penelitian ini telah mendapatkan informed
consent yang jelas sebelumnya mengenai persetujuan penelitian yang akan dilakukan dan
berhak menolak apabila tidak bersedia menjadi responden.

18

Bab IV
Hasil Penelitian
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Girian Weru,
Kecamatan Girian, Bitung, Sulawesi Utara periode 1-14 Februari 2016 tentang gambaran
jaringan parut (scar) hasil imunisasi BCG pada Batita dan faktor-faktor yang berhubungan, maka
diperoleh hasil pengumpulan data sebanyak 105 sampel dari jumlah populasi 519 orang Batita.
Tabel 1.

Sebaran sampel penelitian mengenai gambaran jaringan parut (scar) hasil imunisasi BCG pada
Batita di wilayah kerja Puskesmas Girian Weru, Kecamatan Girian, Bitung, Sulawesi Utara
periode 1-14 Februari 2016

Variabel

Frekuensi

Persentase

Ada scar

76

72,4%

Tidak ada scar

29

27,6%

Gambaran jaringan parut (scar) hasil imunisasi


BCG

19

Tabel 2.

Sebaran sampel penelitian berdasarkan usia, jenis kelamin, status gizi serta tempat pelaksanaan
imunisasi saat mendapatkan imunisasi BCG pada Batita di wilayah kerja Puskesmas Girian
Weru, Kecamatan Girian, Bitung, Sulawesi Utara periode 1-14 Februari 2016

Variabel
Usia saat mendapatkan imunisasi BCG
>28 hari
3-28 hari
0-2 hari
Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan
Status gizi saat mendapatkan imunisasi BCG
Gizi baik
Gizi lebih
Gizi kurang

Frekuensi

Persentase

74
25
6

70,5%
23,8%
5,7%

68
37

64,8%
35,2%

76

72,4%

7,6%

21

20%

Gizi bawah merah


Tempat pemberian vaksin BCG
Tempat pemberian dengan penyimpanan vaksin

0%

65

61,9%

BCG yang kurang baik


Tempat pemberian dengan penyimpanan vaksin

40

38,1%

BCG yang baik

Tabel 3.

Hubungan antara usia saat mendapatkan imunisasi BCG dengan gambaran jaringan parut (scar)
hasil imunisasi BCG pada Batita di wilayah kerja Puskesmas Girian Weru, Kecamatan Girian,
Bitung, Sulawesi Utara periode 1-14 Februari 2016

20

Variabel

Scar BCG

Total

Uji

p value

Ho

0.011

Ditolak

Ada Tidak ada


Usia saat
mendapatkan
imunisasi BCG
>28 hari

59

15

74

X2

0-28 hari

17

14

31

6,462

Tabel 4. Hubungan antara status gizi saat mendapatkan imunisasi BCG dengan gambaran jaringan parut
(scar) hasil imunisasi BCG pada Batita di wilayah kerja Puskesmas Puskesmas Girian Weru,
Kecamatan Girian, Bitung, Sulawesi Utara periode 1-14 Februari 2016

Variabel

Scar BCG

Total

df

Uji

p value

Ho

X2

0.000

Ditolak

Ada Tidak ada


Status gizi saat
mendapatkan
imunisasi BCG
Gizi baik & lebih

66

10

76

Gizi kurang & bawah

10

19

29

27.209

merah

Tabel 5.

Hubungan antara tempat pelaksanaan imunisasi BCG dengan gambaran jaringan parut (scar)
hasil imunisasi BCG pada Batita di wilayah kerja Puskesmas Girian Weru, Kecamatan Girian,
Bitung, Sulawesi Utara periode 1-14 Februari 2016

Variabel

Scar BCG

Total

df

Uji

p value

40

X2

0.001

Ho

Ada Tidak ada


Tempat pelaksanaan
imunisasi BCG
Klinik anak di RS atau
Puskesmas

Posyandu
Bidan

atau

Praktek

36
40

4
25

21

10.0339
65

Ditolak

Tabel 6.

Hubungan antara jenis kelamin dengan gambaran jaringan parut (scar) hasil imunisasi BCG
pada Batita di wilayah kerja Puskesmas Girian Weru, Kecamatan Girian, Bitung, Sulawesi Utara
periode 1-14 Februari 2016

Variabel

Scar BCG

Total

df

Uji

p value

37

X2

0.088

Ho

Ada Tidak ada


Jenis Kelamin
Perempuan

24

13

2.915
Laki Laki

53

68

15

22

Gagal
Ditolak

Bab V
Pembahasan
Pada sebaran gambaran jaringan parut (scar) hasil imunisasi BCG pada Batita di wilayah
kerja Puskesmas Girian Weru, Kecamatan Girian, Bitung, Sulawesi Utara periode 1-14 Februari
2016, didapatkan frekuensi tertinggi gambaran jaringan parut (scar) adalah Batita yang memiliki
scar BCG, dengan jumlah sebanyak 76 orang (72,4%).
Pada sebaran usia, jenis kelamin, status gizi, serta tempat pelaksanaan imunisasi pada
Batita saat mendapatkan imunisasi BCG, didapatkan frekuensi tertinggi usia Batita saat
mendapatkan imunisasi BCG adalah pada usia >28 hari dengan jumlah sebanyak 74 orang
(70,5%) dan frekuensi terendah usia Batita saat mendapatkan imunisasi BCG adalah pada usia 02 hari dengan jumlah sebanyak 6 (5,7%). Frekuensi tertinggi jenis kelamin Batita yang telah
mendapatkan imunisasi BCG adalah laki-laki, dengan jumlah sebanyak 68 orang (64,8%).
Frekuensi tertinggi status gizi Batita saat mendapatkan imunisasi BCG adalah status gizi baik,
dengan jumlah sebanyak 76 orang (72,4%) dan tidak ada yang berstatus gizi Bawah Garis Merah
(0%) . Frekuensi tertinggi tempat pelaksanaan imunisasi pada Batita saat mendapatkan imunisasi
BCG adalah di Bidan atau di Posyandu, dengan jumlah sebanyak 65 orang (61,9%%).
Dari hubungan antara usia dengan gambaran jaringan parut (scar) hasil imunisasi BCG
pada Batita, didapatkan hasil bahwa Batita yang mendapatkan imunisasi BCG pada usia >28 hari
dan memiliki scar BCG, lebih banyak daripada Batita yang mendapatkan imunisasi BCG pada
usia 28 hari dan memiliki scar BCG. Uji statistik memberikan hasil yang menunjukkan bahwa
terdapat hubungan antara usia saat mendapatkan imunisasi BCG dengan gambaran jaringan parut
(scar) hasil imunisasi BCG pada Batita (p = 0,011). Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil
penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Surekha Rani, dkk di India pada tahun 2000 (p
<0,05).10
Dari hubungan antara status gizi dengan gambaran jaringan parut (scar) hasil imunisasi
BCG pada Batita, didapatkan hasil bahwa Batita dengan status gizi baik dan gizi lebih yang
memiliki scar BCG lebih banyak daripada Batita dengan status gizi kurang dan gizi bawah garis
merah yang memiliki scar BCG. Uji statistik memberikan hasil yang menunjukkan bahwa
terdapat hubungan antara status gizi saat mendapatkan imunisasi BCG dengan gambaran
jaringan parut (scar) hasil imunisasi BCG pada Batita (p = 0,000). Hal ini sesuai dengan
penelitian yang dilakukan oleh Eddy Perez, dkk di Republik Dominica pada tahun 2002 (p
<0,05). Hal ini dikarenakan pada keadaan gizi yang buruk, fungsi sel sistem imun seperti
makrofag dan limfosit akan menurun. Imunitas selular maupun humoral menurun fungsinya,
sehingga tidak dapat mengikat antigen dengan baik karena terdapat kekurangan asam amino
yang dibutuhkan untuk sintesis antibodi.13
23

Dari hubungan antara tempat pelaksanaan imunisasi BCG dengan gambaran jaringan
parut (scar) hasil imunisasi BCG pada Batita, didapatkan hasil bahwa Batita yang mendapatkan
imunisasi BCG di Puskesmas atau Rumah Sakit dan memiliki scar BCG, lebih banyak
dibandingkan dengan Batita yang mendapatkan imunisasi BCG di Posyandu atau tempat praktek
bidan dan memiliki scar BCG. Uji statistik memberikan hasil yang menunjukkan bahwa terdapat
hubungan antara tempat pelaksanaan imunisasi saat mendapatkan imunisasi BCG dengan
gambaran jaringan parut (scar) hasil imunisasi BCG pada Batita (p = 0,001). Hal ini sesuai
dengan penelitian yang dilakukan oleh Dyah Isbagio, dkk di Jakarta pada tahun 1990 (p <0,05).68

24

Bab VI
Kesimpulan dan Saran
6.1.

Kesimpulan
Dari hasil penelitian mengenai gambaran jaringan parut (scar) hasil imunisasi BCG

pada Batita serta faktor-faktor yang berhubungan di wilayah kerja Puskesmas Girian Weru,
Kecamatan Girian, Bitung, Sulawesi Utara periode 1-14 Februari 2016 didapat kesimpulan :
Pada sebaran gambaran jaringan parut (scar) hasil imunisasi BCG pada Batita di wilayah
kerja Puskesmas Girian Weru, Kecamatan Girian, Bitung, Sulawesi Utara periode 1-14 Februari
2016, didapatkan frekuensi tertinggi gambaran jaringan parut (scar) adalah Batita yang memiliki
scar BCG, dengan jumlah sebanyak 76 orang (72,4%) dan frekuensi terendah adalah Batita yang
tidak memiliki scar BCG dengan jumlah sebanyak 29 orang (27,6%).
Pada sebaran usia, jenis kelamin, status gizi, serta tempat pelaksanaan imunisasi pada
Batita saat mendapatkan imunisasi BCG, didapatkan frekuensi tertinggi usia Batita saat
mendapatkan imunisasi BCG adalah pada usia >28 hari dengan jumlah sebanyak 74 orang
(70,5%) dan frekuensi terendah usia Batita saat mendapatkan imunisasi BCG adalah pada usia 02 hari dengan jumlah sebanyak 6 (5,7%). Frekuensi tertinggi jenis kelamin Batita yang telah
mendapatkan imunisasi BCG adalah laki-laki, dengan jumlah sebanyak 68 orang (64,8%).
Frekuensi tertinggi status gizi Batita saat mendapatkan imunisasi BCG adalah status gizi baik,
dengan jumlah sebanyak 76 orang (72,4%) dan tidak ada yang berstatus gizi Bawah Garis Merah
(0%) . Frekuensi tertinggi tempat pelaksanaan imunisasi pada Batita saat mendapatkan imunisasi
BCG adalah di Posyandu dan praktik Bidam, dengan jumlah sebanyak 65 orang (61,9%).
Dari hubungan antara usia dengan gambaran jaringan parut (scar) hasil imunisasi BCG
pada Batita, didapatkan hasil bahwa Batita yang mendapatkan imunisasi BCG pada usia >28 hari
dan memiliki scar BCG, lebih banyak daripada Batita yang mendapatkan imunisasi BCG pada
usia 28 hari dan memiliki scar BCG. Uji statistik memberikan hasil yang menunjukkan bahwa
terdapat hubungan antara usia saat mendapatkan imunisasi BCG dengan gambaran jaringan parut
(scar) hasil imunisasi BCG pada Batita (p = 0,011). Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil
penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Surekha Rani, dkk di India pada tahun 2000 (p
<0,05).10
Dari hubungan antara status gizi dengan gambaran jaringan parut (scar) hasil imunisasi
BCG pada Batita, didapatkan hasil bahwa Batita dengan status gizi baik dan gizi lebih yang
memiliki scar BCG lebih banyak daripada Batita dengan status gizi kurang dan gizi bawah garis
merah yang memiliki scar BCG. Uji statistik memberikan hasil yang menunjukkan bahwa
25

terdapat hubungan antara status gizi saat mendapatkan imunisasi BCG dengan gambaran
jaringan parut (scar) hasil imunisasi BCG pada Batita (p = 0,000). Hal ini sesuai dengan
penelitian yang dilakukan oleh Eddy Perez, dkk di Republik Dominica pada tahun 2002 (p
<0,05). Hal ini dikarenakan pada keadaan gizi yang buruk, fungsi sel sistem imun seperti
makrofag dan limfosit akan menurun. Imunitas selular maupun humoral menurun fungsinya,
sehingga tidak dapat mengikat antigen dengan baik karena terdapat kekurangan asam amino
yang dibutuhkan untuk sintesis antibodi.13
Dari hubungan antara tempat pelaksanaan imunisasi BCG dengan gambaran jaringan
parut (scar) hasil imunisasi BCG pada Batita, didapatkan hasil bahwa Batita yang mendapatkan
imunisasi BCG di Puskesmas atau Rumah Sakit dan memiliki scar BCG, lebih banyak
dibandingkan dengan Batita yang mendapatkan imunisasi BCG di Posyandu atau tempat praktek
bidan dan memiliki scar BCG. Uji statistik memberikan hasil yang menunjukkan bahwa terdapat
hubungan antara tempat pelaksanaan imunisasi saat mendapatkan imunisasi BCG dengan
gambaran jaringan parut (scar) hasil imunisasi BCG pada Batita (p = 0,001). Hal ini sesuai
dengan penelitian yang dilakukan oleh Dyah Isbagio, dkk di Jakarta pada tahun 1990 (p <0,05).68

6.2. Saran

Jadwal pelaksanaan imunisasi BCG lebih baik dilakukan saat bayi sudah melewati

masa neonatus yaitu lebih dari 28 hari


Melakukan edukasi kepada bidan mengenai jadwal imunisasi BCG berdasarkan

rekomendasi IDAI
Melakukan pendataan serta upaya perbaikan status gizi Batita yang ada diwilayah

kerjanya secara berkala dan berkelanjutan.


Melakukan penyuluhan bagi para ibu terutama ibu yang baru melahirkan tentang gizi

bayi dan faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi bayi.


Melakukan pemantauan kualitas vaksin dan meningkatkan kualitas penyimpanan
vaksin di pusat pusat pelayanan kesehatan.

26