You are on page 1of 16

MAKALAH

Asuhan Keperawatan dan Dokumentasi


Gangguang Pemenuhan Oksigenasi

DI SUSUN OLEH :
KELOMPOK II
1. Yulinar Syam (323)
2. Anesia Anggun Kinanti (036)
3. Dwi Utami Abd. Latif (306)
4. A. Umi Hani Zahra (010)
5. Aisyah Girindra ()
6. Nurayuana Andini (045)
7. Arfianti Novita (018)
8. Pirda Alpionita ()
9. Venna Melinda ()
10. Ernik (C12114)
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS HASANUDDINKATA PENGANTAR

Alhamdulillah atas rahmat Allah SWT kita ucapkan puji sukur kepada
Allah SWT yang telah memperkenankan kami menyusun makalah ini. Shalawat
serta salam kita curahkan kepada junjungan kami Baginda tercinta Rasululah
SAW.
Melalui makalah ini kami ingin menjelaskan tentang Asuhan
Keperawatan dan Dokumentasi Gangguan Pemenuhan Oksigenasi. Terima
kasih kepada semua pihak yang membantu, hingga selesainya makalah ini dan
khusus kepada tim dosen mata kuliah blok Keperawatan Dasar II.
Seperti pepatah mengatakan bahwa, Tak ada gading yang tak retak
demikian pula dengan makalah ini tentu masih mempunyai banyak kekurangan
dan kesalahan, karena itu kepada para pembaca khususnya dosen mata kuliah
dimohon kritik dan saran yang bersifat membangun demi bertambahnya
wawasan kami di bidang ini.

Makassar, 9 Maret 2015

Kelompok II

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Oksigenasi merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling mendasar
yang digunakan untuk kelangsungan metabolisme sel tubuh, mempertahankan
hidup dan aktifitas berbagai organ sel tubuh.
Dalam kaitannya pemenuhan kebutuhan oksigenasi tidak terlepas dari
peranan fungsi sisitem pernafasan dan kardiovaskuler yang menyuplai
kebutuhan oksigen tubuh. Dan dalam implementasinya mahasiswa keperawatan
diharapkan lebih memahami tentang apa oksigenasi, bagaimana asuhan
keperawatan pada klien dengan gangguan oksigenasi dan bagaimana
dokumentasi keperawatan yang mengalami masalah atau gangguan oksigenasi.
Maka disini kami akan membahas asuhan keperawatan dan dokumentasinya.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana melakukan pengkajian dan pemeriksaan fisik pada pasien
gangguan pemenuhan oksigenasi.
2. Bagaimana melakukan intervensi dan pemeriksaan diagnostik pada pasien
gangguan pemenuhan oksigenasi.
3. Bagaimana mendokumentasikan gangguan pada pemenuhan oksigenasi pada
pasien gangguan pemenuhan oksigenasi.
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk megetahui cara melakukan pengkajian dan pemeriksaan fisik pada
pasien gangguan pemenuhan oksigenasi.
2. Untuk mengetahui cara melakukan intervensi dan pemeriksaan diagnostik
pada pasien gangguan pemenuhan oksigenasi
3. Untuk mengetahui cara mendokumentasikan gangguan pada pemenuhan
oksigenasi.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Asuhan Keperawatan
1.

Pengkajian Keperawatan
Secara umum pengkajian dimulai dengan mengumpulkan data tentang :

a. Biodata pasien (umur, sex, pekerjaan, pendidikan)


Umur pasien bisa menunjukkan tahap perkembangan pasien baik secara
fisik maupun psikologis, jenis kelamin dan pekerjaan perlu dikaji untuk
mengetahui hubungan dan pengaruhnya terhadap terjadinya masalah/penyakit,
dan tingkat pendidikan dapat berpengaruh terhadap pengetahuan klien tentang
masalahnya/penyakitnya.
b. Keluhan utama dan riwayat keluhan utama (PQRST)
Keluhan utama adalah keluhan yang paling dirasakan mengganggu oleh
klien pada saat perawat mengkaji, dan pengkajian tentang riwayat keluhan
utama seharusnya mengandung unsur PQRST (Paliatif/Provokatif, Quality,
Regio, Skala, dan Time)
c. Riwayat perkembangan
a. Neonatus : 30 - 60 x/mnt
b. Bayi : 44 x/mnt
c. Anak : 20 - 25 x/mnt
d. Dewasa : 15 - 20 x/mnt
e. Dewasa tua : volume residu meningkat, kapasitas vital menurun

d. Riwayat kesehatan keluarga


Dalam hal ini perlu dikaji apakah ada anggota keluarga yang mengalami
masalah / penyakit yang sama.

e. Riwayat sosial
Perlu dikaji kebiasaan-kebiasaan klien dan keluarganya, misalnya :
merokok, pekerjaan, rekreasi, keadaan lingkungan, faktor-faktor alergen dll.
f. Riwayat psikologis
a.
b.
c.
d.

Disini perawat perlu mengetahui tentang :


Perilaku / tanggapan klien terhadap masalahnya/penyakitnya
Pengaruh sakit terhadap cara hidup
Perasaan klien terhadap sakit dan therapi
Perilaku / tanggapan keluarga terhadap masalah/penyakit dan therapi
2. Pemeriksaan Fisik
a. Hidung dan sinus
Inspeksi : cuping hidung, deviasi septum, perforasi, mukosa (warna,
bengkak, eksudat, darah), kesimetrisan hidung.
Palpasi : sinus frontalis, sinus maksilaris
b. Faring
Inspeksi : warna, simetris, eksudat ulserasi, bengkak
c. Trakhea
Palpasi : dengan cara berdiri disamping kanan pasien, letakkan jari tengah
pada bagian bawah trakhea dan raba trakhea ke atas, ke bawah dan ke
samping sehingga kedudukan trakhea dapat diketahui.

e.

Thoraks
Inspeksi :
1) Postur, bervariasi misalnya pasien dengan masalah pernapasan kronis
klavikulanya menjadi elevasi ke atas.

2) Bentuk dada, pada bayi berbeda dengan orang dewasa. Dada bayi
berbentuk bulat/melingkar dengan diameter antero-posterior sama
dengan diameter tranversal (1:1). Pada orang dewasa perbandingan
diameter antero-posterior dan tranversal adalah (1 : 2)
Beberapa kelainan bentuk dada diantaranya :
a) Pigeon chest yaitu bentuk dada yang ditandai dengan diameter
tranversal sempit, diameter antero-posterior membesar dan
sternum sangat menonjol ke depan.
b) Funnel chest merupakan kelainan bawaan dengan ciri-ciri
berlawanan dengan pigeon chest, yaitu sternum menyempit ke
dalam dan diameter antero-posterior mengecil. Barrel chest
ditandai dengan diameter antero-posterior dan tranversal sama atau
perbandingannya 1 : 1.
Kelainan tulang belakang diantaranya :
a) Kiposis atau bungkuk dimana punggung melengkung/cembung ke
belakang.
b) Lordosis yaitu dada membusung ke depan atau punggung berbentuk
cekung.
c) Skoliosis yaitu tergeliatnya tulang belakang ke salah satu sisi.

3) Pola napas
a) Eupnea yaitu pernapasan normal dimana kecepatan 16 - 24 x/mnt,
klien tenang, diam dan tidak butuh tenaga untuk melakukannya,
b) Tachipnea yaitu pernapasan yang cepat, frekuensinya lebih dari 24
x/mnt, atau bradipnea yaitu pernapasan yang lambat, frekuensinya
kurang dari 16 x/mnt
c) Apnea yaitu keadaan terhentinya pernapasan.

4) Kaji volume pernapasan


b) Hiperventilasi yaitu bertambahnya jumlah udara dalam paru-paru
yang ditandai dengan pernapasan yang dalam dan panjang
c) Hipoventilasi yaitu berkurangnya udara dalam paru-paru yang
ditandai dengan pernapasan yang lambat.
5) Kaji sifat pernapasan apakah klien menggunakan pernapasan dada yaitu
pernapasan yang ditandai dengan pengembangan dada, ataukah
pernapasan

perut

yaitu

pernapasan

yang

ditandai

dengan

pengembangan perut.
6) Kaji ritme/irama pernapasan yang secara normal adalah reguler atau
irreguler,
a. Cheyne stokes yaitu pernapasan yang cepat kemudian menjadi
lambat dan kadang diselingi apnea.
b. Kusmaul yaitu pernapasan yang cepat dan dalam, atau pernapasan
biot yaitu pernapasan yang ritme maupun amplitodunya tidak teratur
dan diselingi periode apnea.
7) Perlu juga dikaji kesulitan bernapas klien, apakah dispnea yaitu sesak
napas yang dan kebutuhan oksigen tidak terpenuhi, ataukah ortopnea
8)

yaitu kemampuan bernapas hanya bila dalam posisi duduk atau berdiri
Perlu juga dikaji bunyi napas
a. Stertor/mendengkur yang terjadi karena adanya obstruksi jalan
napas bagian atas
b. Stidor yaitu bunyi yang kering dan nyaring dan didengar saat
inspirasi
c. Wheezing yaitu bunyi napas seperti orang bersiul,
d. Rales yaitu bunyi yang mendesak atau bergelembung dan didengar
saat inspirasi
e. Ronchi yaitu bunyi napas yang kasar dan kering serta di dengar saat
ekspirasi.
9) Perlu juga dikaji batuk dan sekresinya, apakah klien mengalamiaatuk
a. Produktif yaitu batuk yang diikuti oleh sekresi,
b. Non produktif yaitu batuk kering dan keras tanpa sekresi
c. Hemoptue yaitu batuk yang mengeluarkan darah

10) Status sirkulasi, dalam hal ini perlu dikaji heart rate/denyut nadi
a. Takhikardi yaitu denyut nadi lebih dari 100 x/mnt, ataukah
b. Bradikhardi yaitu denyut nadi kurang dari 60 x/mnt.
Juga perlu dikaji tekanan darah
c. Hipertensi yaitu tekanan darah arteri yang tinggi
d. Hipotensi yaitu tekanan darah arteri yang rendah.
11) Juga perlu dikaji tentang oksigenasi pasien apakah
a. Anoxia yaitu suatu keadaan dengan jumlah oksigen dalam jaringan
kurang
b. Hipoxemia yaitu suatu keadaan dengan jumlah oksigen dalam darah
kurang
c. Hipoxia yaitu berkurangnya persediaan oksigen dalam jaringan
akibat kelainan internal atau eksternal
d. Cianosis yaitu warna kebiru-biruan pada mukosa membran, kuku
atau kulit akibat deoksigenasi yang berlebihan dari Hb
e. Clubbing finger yaitu membesarnya jari-jari tangan akibat
kekurangan oksigen dalam waktu yang lama.
Palpasi :
Untuk mengkaji keadaan kulit pada dinding dada, nyeri tekan,
massa, peradangan, kesimetrisan ekspansi dan taktil vremitus. Taktil
vremitus adalah vibrasi yang dapat dihantarkan melalui sistem
bronkhopulmonal selama seseorang berbicara. Normalnya getaran
lebih terasa pada apeks paru dan dinding dada kanan karena bronkhus
kanan lebih besar. Pada pria lebih mudah terasa karena suara pria besar.
3. Intervensi Keperawatan
Berdasarkan dari Arief Muttaqin yang berjudul Buku Ajar Asuhan
Keperawatan dengan Gangguan Sistem Pernapasan tahun 2008, beberapa

rencana keperawatan yang dilakukan pada pasien dengan gangguan pemenuhan


oksigenasi yaitu :
a. Bersihan jalan napas tidak efektif
1) Auskultasi dada bagian anterior dan posterior
Rasional : untuk mengetahui adanya penurunan atau tidaknya ventilasi
dan bunyi tambahan.
2) Lakukan pengisapan jalan napas bila diperlukan
Rasional : merangsang terjadinya batuk atau pembersihan jalan napas
secara mekanik pada pasien yang tak mampu batuk secara efektif dan
penurunan kesadaran
3) Pertahankan kaedekuatan hidrasi untuk menurunkan viskositas sekresi.
Rasional : memobilisasi keluarnya sputum
4) Instruksikan

untuk

batuk

efektif

&

teknis

napas

dalam

untuk memudahkan keluarnya sekresi.


Rasional : memudahkan ekspansi maksimal paru atau jalan napas lebih
kecil dan membantu silia untuk mempermudah jalan napas
5) Kolaborasi

dengan

berikan

obat

sesuai

indikasi:

mukolitik,

ekspektoran, bronkodilator, analgesik


Rasional : Untuk menurunkan spasme bronkus dengan mobilisasi
sekret.
6) Kolaborasi

dengan

berikan

obat

sesuai

indikasi

:mukolitik,

ekspektoran, bronkodilator.
Rasional : untuk menurunkan spasme bronkus dengan mobilisasi sekret
7) Kolaborasi dengan bantu mengawasi efek pengobatan nebulizer dan
fisioterapi lain mis : spiromerti iasentif, perkusi, drainase postural.
Rasional : memudahkan pengenceran dan pembuangan secret.
b. Pola napas tidak efektif
1)
Tinggikan kepala tempat tidur, letakkan pada posisi semi fowler
Rasional : Merangsang fungsi pernapasan atau ekspansi paru

2)
Bantu klien untuk melakukan batuk efektif & napas dalam.
Rasional : Meningkatkan gerakan sekret ke jalan napas, sehingga
mudah untuk dikeluarkan
3)
Berikan tambahan oksigen masker/ oksigen nasal sesuai indikasi
Rasional : Meningkatkan pengiriman oksigen ke paru untuk kebutuhan
sirkulasi.
4)
Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian ekspektoran
Rasional : Membantu mengencerkan secret, sehingga mudah untuk
dikeluarkan
c. Gangguan pertukaran gas
1)
Berikan O2 sesuai indikasi
Rasional : Meningkatkan konsentrasi oksigen alveolar dan dapat
memperbaiki hipoksemia jaringan
2)
Pantau GDA Pasien
Rasi.onal : Nilai GDA yang normal menandakan pertukaran gas
semakin membaik
3)
Pantau pernapasan
Rasional : Untuk evaluasi distress pernapasan
4. Pemeriksaan Diagnostik
Dokter dapat memprogramkan berbagai pemeriksaan diagnostik untuk
mengkaji status pernapasan, fungsi dan oksigenasi. Program ini terdiri atas
spesimen spektum. Biakan tenggorok, dan prosedur fisualisasi, spesimen darah
vena dan arteri, dan pemeriksaan / uji fungsi paru.
Pengukuran gas darah arteri merupakan sebuah prosedur diagnostik yang
sangat penting. Spesimen darah arteri biasanya diambil oleh perawat spesialis,
terapi pernapasan, atau teknisis medis. Darah untuk pemeriksaan ini diambil secara
langsung dari arteri radialis, brakialis, atau arteri femoralis atau dari kateter sentral
yang terpasang diarteri besar. Karena tekanan darah diarteri ini relatif besar,
penting untuk mencegah perdarahan dengan memberi tekanan pada tempat fungsi
selama 5 menit setelah mencabut jarum (kozier, dkk. 2010).

B. Dokumentasi Gangguan Pemenuhan Oksigen


Resume
Tn. A berusia 55 tahun di rawat di ruang garuda dengan diagnose
Pneumonia.hasil observasi klien mengeluh batuk berdahak terutama
pada saat cuaca dingin di pagi hari dan sore hari, klien mengeluh sesak napas,
klien mengatakan batuknya ada sekret, klien mengeluh dadanya sakit jika
batuk, sputum (+), klien tampak lemas dan lemah, napas klien tampak
terlihat cepat, klien tampak pucat, pengisian kapiler < 3 detik, Td: 140/90
mmHg, N: 90x/menit, Rr: 30 x/menit, S: 37C, BB: 70 kg. Hasil LAB Hb: 13,3
gr/dt, Ht: 40%, trombosit: 250.000

m3 , Leokosit: 12.000/ul Rontgen: hasil

pneumonia, Infus Rl:20 tetes/menit (makro), Ronchi (+).A.


1. Pengkajian
a. Data Subjektif:
1) Klien mengeluh batuk berdahak pada saat cuaca dingin di pagi hari
dansore hari
2) Klien mengeluh sesak napas
3) Klien mengatakan batuknya ada sekret
4) Klien mengeluh dadanya sakit jika batuk
b. Data Objektif
1) Klien tampak lemas dan lemah
2) Klien tampak pucat
3) Napas klien terlihat cepat
4) Sputum (+)
5) Ronchi (+)
6) TTV > Td: 140/90 mmHg, N: 90 x/menit, Rr:30 x/menit, S: 37C,
BB: 70kg.
7) LAB > Hb: 13,3 gr/dt, Ht: 40%, trombosit: 250.000 m
8) 3, Leokosit:12.000/ul Rontgen: hasil pneumonia

9) Infus RL 20 tetes/menit
10) Pengisian kapiler <3 detik
2. Diagnosa Keperawatan
Gangguan kebersihan jalan napas berhubungan dengan infeksi
parenkim paru,akumulasi secret.
3. Intervensi
Setelah dilakukan tindakan selama 2 X 24 jam diharapkan
pola napas menjadi efektif kembali dengan kriteria hasil:
a. Sesak berkurang
b. Dada tidak sakit
c. Sputum (-)
d. Ronchi (-)
e. Jalan napas normal
f. Pengisian kapiler <1 detik
g. TTV > Td: 130/80 mmHg, Rr: 20 x/menit
4. Tindakan Keperawatan
a. Mandiri:
1) Kaji TTV
2) Berikan posisi yang nyaman / semi fowler
3) Posisikan untuk ventilasi yang maksimum
4) Gunakan bantal / auskultasi area paru
b. Kolaborasi
Pemberian
pemberian
5. Evaluasi

O2

terapi
.

broncodiator

(nabulazer,

suction)

a. Jalan napas paten dengan bunyi napas bersih, tak ada dispnea, sianosis.
b. Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan dengan GDA
dalam rentang normal dan tak ada gejala distres pernapasan.
c. Melaporkan/menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktivitas yang
dapat diukur dengan tak adanya dispnea, kelemahan berlebihan, dan tanda
vital dalam rentang normal.
d. Menunjukkan rileks, istirahat/tidur, dan peningkatan aktivitas yang tepat.
e. Menunjukkan peningkatan masukan makanan, mempertahankan/
meningkatkan berat badan, menyatakan perasaan sejahtera.
f. Menunjukkan keseimbangan cairan dibuktikan dengan parameter
individual yang tepat, mis: membran mukosa lembab, turgor kulit baik,
pengisian kapiler cepat, tanda vital stabil.
6.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Oksigenasi merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling
mendasar yang digunakan untuk kelangsungan metabolisme sel tubuh,
mempertahankan hidup dan aktifitas berbagai organ sel tubuh. Dalam
melakukan

asuhan keperawatan yang dilakukan pertama kali adalah

pengkajian keperawatan yaitu biodata pasien, keluhan utama dan riwayat


keluhan utama, riwayat perkembangan, riwayat kesehatan keluarga, riwayat
social, dan riwayat psikologis.
Melakukan pemeriksaan fisik seperti inspeksi, palpasi, perkusi dan
auskultasi pada organ yang berhubungan dengan pemenuhan oksigenasi.
Setelah itu, melakukan intervensi keperawatan untuk mengatasi gangguan
seperti pertukaran gas, pola napas tidak efektif, dan memersihkan jalan
napas tidak efektif dan juga melakukan pemeriksaan diagnostic untuk
mengkaji status pernapasan, fungsi dan oksigenasi. Program ini terdiri atas
spesimen spektum.
Pendokumentasian pada proses keperawatan pada gangguan pemenuhan
okesigenasi dimulai dari pengajian, diagnosa, intervensi, implementasi, dan
evaluasi selama melakukan proses keperawatan.

DAFTAR PUSTAKA
Kozier, B., Erb, G., Berman, A., Snyder, S. J. 2010. Buku Ajar Fundamental
Keperawatan : konsep, proses, dan praktik (7th ed.). Jakarta: EGC.
Muttaqin, Arief. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Dengan
Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta : Salemba Medika.
Subekti, Imam, dkk. 2012. Dokumentasi Proses Keperawatan. Jakarta :
Salemba Medika