You are on page 1of 12

A.

METODOLOGI PENELITIAN : DEFINISI DAN RUANG LINGKUPNYA
Metodologi penelitian diberi definisi yang berbeda-beda oleh banyak penulis
buku teks.perbedaan tersebut tergantung dari sudut pandang dan tekanan dalam
pengungkapak buku masing-masing.
Kata 'penelitian' itu sendiri berarti suatu proses pencarian kebenaran atau
pembuktian terhadap penomena yang dihadapi dengan melalui prosedur kerja tertentu.
sedangkan penelitian sebagai suatu metodologi, tentunya akan mempunyai pengertian
yang berbeda. sebagai suatu metodologi, maka usaha pembuktian kebeneran tersebut
harus menggunakan pendekatan keilmuan sehingga sebagai ilmu dapat diprtanggung
jawabkan.
Soerjono soekanto mengutip pendapat H. L. Manheim, menyatakan bahwa
penelitian adalah "the carefull, dilligent, and axhaustive investigation of scientific subject
matter, having as its aim the advancement of mankind knowledge".
Sesuai dengan tujuan masing-masing peneliti, setiap penelitian yang dilakukanya
mempunyai tujuan yang berbeda-beda. Penelitian untuk pengambilan keputusan tentunya
akan berbeda dengan penelitian dasar. Penelitian terapan tentunya juga akan berbeda
dengan penelitian dasar. Namun diantara berbagai tujuan yang berbeda tersebut, tujuan
penelitian dapat dibagi menjadi tiga kategori : (a) memperkaya ilmu pengertahuan yang
ada, (b) mencari dan menunjukan masalah beserta pemecahan masalah, serta (c)
menyelesaikan masalah yang telah diketahui. Ketiga macam bentuk penelitian tersebut
mempunyai dimensi yang berbeda-beda, yang antara lain :
a. Disciplinary Research, penelitian untuk memperkaya ilmu pengetahuan. Di Indonesia
jenis penelitian ini disebut penelitian dasar ( basic research). Penelitian dasar pada
umumnya dilakukan oleh universitas dan disebut dengan penelitian institusi. Selain
itu penelitian dasar juga dilakukan oleh Badan Penelitian dibawah kooerdinasi
Menristek, seperti Batan, UPI, dan lain-lain. Disamping lembaga-lembaga diatas,
jenis penelitian ini juga dipersyaratkan bagi para peraih doctor pada disiplin ilmu
masing-masing. Para peraih gerlar tertinggi diwajibkan menemukan dan membangun
teori baru atau mengembangkan metode baru guna memperluas kandungan suatu
ilmu pengetahuan.
b. Subject-Matter Research , penelitian untuk mencari dan menunjukan masalah beserta
pemecahanya. Penelitian ini dilakukan oleh lembaga riset terapan yang sering
dikenal sebagai Research House ( misalnya : Balai Penelitian Gula, LIPI, Microsoft

Inc., dan lain-lain) terutama untuk melaksanakan penelitian yang diarahkan untuk
pengembangan produk atau penciptaan produk baru. Disamping lembaga semacam
itu, jenis penelitian ini juga diperuntukan bagi mahasisaw program S2 baik didalam
negeri maupun di luar negeri.
c. Problem-Solving Research, penelitian ini dimaksudkan untuk menyelesaikan
masalah yang telah diketahui. Jenis penelitian ini sering pula disebut penelitian
Kebijaksanaan. Penelitian ini dilakukan oleh bagian riset dan pengembangan
(Research

and

Development)

suatu

perusahaan

guna

mendeteksi

apakah

kebijaksanaan yang telah ditempuhnya memang sudah tepat atau untuk menilai
apakah kebijaksanaan dimasa depan yang akan perlu direvisi ataukah tidak.
Ketiga macam klasifikasi diatas menunjukan bahwa tujuan penggunaan penelitian dapat
mengakibatkan teknik atau pendekatan penelitian yang berbeda pula. Kesemuanya itu
menunjukan bahwa penelitian mempunyai dimensi yang rumit yang membutuhkan keahlian
untuk mendekati tiap-tiap masalah yang akan dihadapi oleh peneliti.
Metodologi penelitian dapat pula dilihat dari sudut pandang yang lain. Dengan sudut
pandang yang berbeda tentu akan megakibatkan klasifikasi yang berbeda pula. Apabila penelitian
ditinjau dari sudut pandang peneliti dalam hubungnya dengan obyek yang diteliti, maka tujuan
penelitian dapat digolongkan menjadi 3 macam, yaitu :
a. Eksploratoris, penelitian ini dilakukan dengan cara menggali permasalahan yang
mungkin ada. Peneliti mencari dan mengidentifikasi objek penelitian seluas mungkin,
dengan harapan memperoleh pengetahuan baru, atau hal-hal baru sebagai informasi
kebijakan. Contoh: penelitian ruang angkasa, penelitian bahan-bahan makanan subtitusi,
dan lain-lain.
b. Deskriptif, penelitian ini dilakukan dengan cara membuat diskripsi permasalahan yang
sudah diidentifikasi. Peneliti berusaha menjelaskan objek yang diteliti dengan sudut
pandang peneliti (meskipun bersifat subyektif). Contoh: penelitian Sejarah, Antropologi,
dan ilmu sosial lainya.
c. Eksplanatoris, penelitian ini dilakukan dengan cara menjelaskan gejala yang ditimbulkan
oleh suatu obyek penelitian. Peneliti berusaha mencari jawaban terhadap fenomena suatu
permasalahan yang diajukan. Penelitian ini banyak dilakukan untuk penelitian ekonomi.

Ditinjau dari sudut pandang peneliti, obyek peneliti akan selalu bervariasi dengan
memperhatikan tujuan dan kondisi yang melingkupinya. Pemiihan saah satu dari ketiga jenis
pendekatan diatas sangat tergantung dari sasaran yang akan dicapai oleh peneliti.
B. PERUMUSAN STRATEGI PENELITIAN
Dalam suatu penelitian, peneliti harus mencari strategi yang tepat agara tujuan yang akan
dicapainya dapat berhasil dengan baik. Dalam memilih strategi yang dianggapnya tepat, peneliti
tidak boleh menggunakan pendekatan berdasarkan selera yang disukainya. Sebab dia akan
menghadapi kemungkinan hasil penelitiannya bersifat subyektif dan bias karena kesalahan dalam
pemilihan pendekatan yang digunakanya. Sebagai contoh, peneliti ingin memperoleh jawaban
mengenai selera masyarakat terhadap suatu produk rokok tertentu. Dia memilih menggunakan
kasus perokok dikalangan mahasiswa disuatu perguruan tinggi saja. Pendekatan semacam ini
bersifat kasus ( yang berlaku untuk situasi dan kondisi tertentu saja) yang tentunya akan sulit
digeneralisasi guna memmperoleh informasi mengenai selera konsumen rokok tertentu. Tentu
saja pendekatan semacam ini tidak akan dapat digunakan dalam penelitian yang berskala penuh
dalam suatu populasi yang sangat heterogen.
Memperhatikan contoh diatas, penetiti harus memilih berberapa alternatif strategi yang
bisa dijalankannya. Namun tentunya dia tidak boleh memilih strategi secara sembarang saja.
Dalam menentukan pilihanya tersebut, dia harus hati-hati agar desain penelitian, pendekatan
yang digunakan, serta teknik penelitian yang dipilih dapat ditetapkan dengan tepat sesuai dengan
tujuan penelitian yang telah ditetapkan.

Peraga 1.1 Perumusan Strategi Penelitian
Goal

Pendekatan

Desain

Teknik
Peraga 1.1 diatas menunjukan bagaimana seorang peneliti memilih alternatif strategi
yang akan digunakanya dalam penelitian. Contoh Peraga 1.1 menunjukan upaya peneliti dalam
mencapai tujuan penelitian untuk guna memecahkan sesuatu permasalahan (subject mater
research). Pendekatan yang digunakanya adalah penelitian eksplanatoris, yaitu menjelaskan
gejala yang ditimbulkan oleh suatu obyek permasalahan. Mengingat ruang lingkup permasalahan
yang akan dirangkum oleh tujuan penelitian yang ditetapkan, peneliti menggunakan desain
penelitian survei. Dari Peraga 1.1 tersebut, sebetulnya peneliti dapat memilih alternatif yang lain,
misalnya menggunakan perndekatan deskriptif serta desain eksperimental. Namun penggunaan
strategi alternatif ini belum tentu menjawab fenomena yang ada dalam tujuan penelitian yang
telah ditetapkan sebelumnya. Dengan demikian alternatif strategi penelitian tersebut justru tidak
layak digunakan dalam menjawab persoalan yang diajukan dalam penelitian tersebut. Demikian
pula denganpilihan alternatif strategi yang lain.
Dalam rangka menentukan strategi, perlu dipertimbangkan karakteristik suatu penelitian
ilmiah, yang antara lain:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Kejelasan tujuan (purposiveness)
Teguh pendirian (rigor)
Bersifat pengujian (testability)
Berulang kembali (replicability)
Ketepatan dan kepercayaan (precision and confidence)
Bersifat objektif (objectivity)
Dipandang berlaku umum (generalizability)
Bersifat penyederhanaan (parsimony)

1. Kejelasan Tujuan. Penelitian harus dimulai dengan perumusan tujuan yang jelas
(purposiveness). Tujuan merupakan arah yang akan dicapai dalam setiap langkah yang
direncanakan, sehingga harus dirumuskan dengan jelas. Sebagai contoh dalam rangka
penelitian bisnis, perumusan tujuan penelitian berfokus pada peningkatan komitmen para
karyawan terhadap perusahaan. Perumusan tujuan dalam penelitian ini adalah bermaksud
mengurangi turnover karyawan, mengurangi ketidakhadiran, meningkatkan kinerja
karyawan, yang kesemuanya dimaksudkan untuk meningkatkan keuntungan dan
kemanfaatan organisasi. Kejelasan rumusan penelitian akan memudahkan dalam
melakukan pengukuran dan penetapan alat-alat analisis yang akan digunakan kelak.
2. Teguh Pendiran. Penelitian dilaksanakan dengan penuh kehati-hatian, bersikap
seksamadan cermat, seta mempunyai derajat ketetapan yang tinggi terhadap setiap
penyelidikanyang sedag dilakukanya. Sikap tersebut menjadikan seseorang mempunyai
keteguhan pendirian yang seyogyanya menjadi sikap dasar bagi peneliti professional.
Suatu penelitian yang mempunyai dasar teori yang baik dan desain metodologi yang
memadai akan menambah keteguhan hati terhadap studi yang bertujuan jelas. Tanpa
adanya sikap dasar semacam ini, seringkali penelitian tidakmenghasilkan kesimpulan
yang memuaskan. Beberapa kejadian berikut ini menunjukan diperlukanya sikap dasar
tersebut.
a. Kemungkinan kesimpulan yang diambil tidak tepat sasaran, karena didasarkan
pada sejumlah sampel yang tidak dapat mewakili dan tidak memadai.
b. Adanya unsur bias dalam penyampaian pertanyaan kepada responden yang akan
mengakibatkan tanggapan yang menyimpang.
c. Ada beberapa situasi ataupun keadaan yang secara nyata dapat mempengaruhi
atau mewakili keseluruhan anggota terhadap komitmen pada organisasi, tetapi
tidak dapat diinterview karena alasan kecilnya sampel.
3. Bersifat Pengujian. Penelitian dimaksudkan untuk menguji suatu hipotesa yang telah
dirumuskan (testability). Banyak kejadian yang sebenarnya bersifat hipotesis yang
memerlukan jawaban untuk memastikan hal-hal mana (apa saja) yang harus
dipertimbangkan untuk pengambilan keputusan pada suatu perusahaan. Penggunaan
pendekatan ilmiah akan memberi petunjuk terhadap pengambilan keputusan yang masuk
akal dan diharapkan berdaya guna. Sebagai contoh, suatu divisi pemasaran melaporkan
adanya pergeseran permitaan produk susu balita. Informasi yang diperoleh dari para
salesmen menyatakan, kemasan produk tersebut terlalu besar ukuranya, dibandingkan

kemasan produk pesaing yang jauh lebih kecil tetapi mampu dijangkau oleh konsumen
kecil. Problem yang dihadapi, kebijakan apa yang harus ditetapkan perusahaan untuk
mengungkapkan perkiraan bagian pemasaran tersebut. Manajemen harus melakukan
penelitian yang seksama, agar dapat memutuskan kebijakan yang tepat.
4. Berulang kembali. Hasil-hasil penelitian mengandung pengertian akan diuji kembali
dimasa-masa yang akan datang (replicability) pengulangan penelitian

semacam ini

dibutuhkan untuk mengetahui apakah kesimpulan yang diperoleh dimasa lalu masih dapat
berlaku dengan adanya situasi dan kondisi yang berbeda. Sebagai contoh, dalam suatu
organisasi dianggap bahwa partisipasi dalam proses pengambilan keputusan merupakan
faktor yang sangat peting dalam membentuk komitmen para karyawan perusahaan.
Penelitian mengenai hal tersebut dimasa lalu akan menghasilkan suatu kesimpulan
tentang bagaimana komitmen terhadap organisasi telah dibentuk. Data yang diperoleh
dari para karyawan sendiri dalam rangka penelitian kembali kesimpulan yang telah
dicapai dimasa lalu tersebut akan meningkatkan komitmen mereka dan diharapkan akan
diperoleh penemuan yang lebih jujur. Dengan kata lain, hasil-hasil pengujian hipotesis
akan didukung apabila dilakukan pengulangan yang sama dalam situasi yang berbeda.
Replikasi semacam ini sangat bermanfaat dalam membentuk kebijakan yang kuat dan
didukung oleh seluruh komponen organisasi.
5. Presisi dan kepercayaan. Proses penelitian menghendaki presisi (precision) dan
kepercayaan (confidence) dalam setiap langkah. Peneliti bisnis harus berhati-hati dan
tidak boleh sembarangan untuk memberikan penyimpulan yang definitive terghadap
hasil-hasil analisis data yang diperoleh. Alasanya, mereka tidak akan dapat memperoleh
sampel yang dapat mewakili secara keseluruhan, sehingga dapat memperoleh kesimpulan
yang pasti (exact) terhadap fenomena yang dihadapi. Bagaimanapun upaya yang telah
dilakukan, unsur bias ataupun kesalahan terhadap temuan-temuan dalam penelitian tidak
dapat dihindarkan. Sehingga hasil yang akan dipeoleh paling jauh akan mendekati
kebenaran. Dengan demikian yang lebih dipentingkan dalam penelitian adalah unsur
presisi (precision) dan unsur kepercayan (confidence)
 Unsur presisi, menunjukan keeratan/kesesuaian dengan temuan-temuan berdasarkan
sampel yang ada sebagai suatu realitas. Dengan kata lain, presisi mencerminkan
derajat kepastian hasil-hasil berdasarkan sampel untuk segala fenomena yang
dipelajari dari suatu populasi.

Untuk kepercayaanmenunjukan kemungkinan ketetapan suatu estimasi, meskipun
bukan berarti sesuatu yang mengandung presisi. Bagaimanapun juga sangat
bermakna apabila kita menyatakan 95% hasil yang dikerjakan adalah benar
dibanding kesalahan yang hanya sebesar 5%. Kisaran terhadap gap yang timbul
antara estimasi dengan besaran kepercayaan hasil-hasil penelitian akan sangat
berguna dan mungkin akan menjadi temuan-temuan ilmiah. Dalam penelitian ilmu
sosial, 95% derajat kepercayaan(confidence level) memberikan implikasi hanya 5%
kemungkinan temuan-temuan akan salah. Secara konvensi hal ini dapat diterima
(dengan symbol p < 0,5). Jadi, hasil suatu kepercayan maupun presisi merupakan
aspek yang sangat penting dalam penelitian, yang pada dasarnya akan diperoleh

melalui desain penelitian yang memadai.
6. Bersifat Objektif. Proses penelitian dilakukan dengan sikap mental yang objektif dan
tidak memihak (objectivity). Kesimpulan yang diperoleh dalam menafsirkan hasil
penelitian tergantung pada objektivitas peneliti. Objektifitas menunjukan sikap seorang
peneliti yang benar-benar mendasarkan fakta yang ditemukan dalam menyusun
kesimpulan terhadap analisis yang dibuatnya. Kesimpulan yang diambil berdasarkan pada
fakta yang diperoleh dari data yang aktual dan tidak berdasarkan subjektiktifitas individu
yang mengandung nilai-nilai emosional belaka. Namun demikian, obyektifitas tidak
hanya berkaitan dengan proses penyimpulan saja, tetapi harus dimulai sejak awal proses
penelitian sampai dengan pelaporan hasil-hasil penelitian. Misalnya, data yang
dikumpulkan berasal dari sampel yang secara jelas tidak independen akan menghasilkan
sesuatu kesimpulan yang bias pada kepentingan kelompok sampel tersebut. Oleh karena
itu, ojektivitas harus menjadi pegangan sejak proposal penelitian disusul.
7. Dipandang berlaku umum, Generalizability menunjukan bahwa kesimpulankesimpulan dalam penelitian mengandung pengertian yang bersifat umum. Artinya suatu
kesimpulan yang diambil dalam suatu kasus penelitian dianggap dapat diberlakukan
untuk keadaan yang lainya. Ini berarti ruang lingkup penerapan temuan-temuan
penelitian dalam satu unit organisasi dapat berlaku dalam unit organisasi lainya. Namun
demikian, para pengambil keputusan juga harus memperhatikan bahwa suatu kesimpulan
dibangun berdasarkan suatu asumsi tertentu yang tidak dapat berlaku umum. Jadi,
penerapan suatu kesimpulan untuk kepentingan yang lain harus memperhatikan latar
belakang yang mendasari kesimpulan tersebut.

8. Bersifat penyederhanaan. Proses penelitian merupakan penyederhanaan terhadap suatu
kasus berskala luas (parsimony). Penjelasan yang simple dan sederhana terhadap suatu
fenomena ataupun masalahyang terjadi, serta bagaimana bentuk penyelesaianya
merupakan tantangan dalam penelitian bisnis. Akan lebih baik dapat menjelaskan sesuatu
yang sederhana dan dapat menyelesaikan masalah dari pada mengambil satu set
penelitian yang kompleks dengan melibatkan berbagai variabel yang tidak dapat dikelola.
Misalnya, suatu penelitian yang berusaha mengidentifikasi 2 atau 3 variabel spesifik
dalam suatu kondisi tertentu yang ternyata hanya mampu mengubah komitmen karyawan
terhadap organisasi sebesar 40 persen, akan lebih baik dibandingkan identifikasi 10
variabel spesifik yang ternyata hanya akan menaikan komitmen karyawan dalam
organisasi sebesar 48 persen. Sikap hemat dalam penelitian dapat mengenalkan
pemahaman

masalah

dengan

lebih

baik

terhadap

fakta-fakta

penting

yang

mempengaruhinya. Sikap hemat dan hati-hati menyarankan agar dilakukan telaah pustaka
atau penelitian sebelumnya guna mengidentifikasi lingkup masalah yang secara umum
terjadi. Ini berarti dalam suatu penelitian akan megggunakan pendekatan untuk
memperkecil ruang lingkup dari keadaan sesungguhnya guna memperoleh kesimpulan
terhadap fenomena yang diteliti. Dengan demikian model konsepsi teoritikal yang baik
dapat direalisasi melalui interview yang terstruktur maupun tak terstruktur.
C. DESAIN PENELITIAN
Desain menurut kamus besar Bahasa Indonesia adalah rancangan bentuk atau model. Jadi,
pengertian desain penelitian adalah suatu rancangan bentuk atau model suatu penelitian. Desain
Penelian mempunyai peranan yang sangat penting, karena keberhasilan suatu penelitian sangat
dipengaruhi oleh pilihan desain atau model penelitian. Dalam menyusun strategi penelitian,
seorang peneliti harus memperhatikan tiga tipologi desain penelitian berikut ini, yaitu :
a. Desain survei (survei design),
b. Desain studi kasus (case-study design)
c. Desain eksperimen (experimental design)
Ketiga tipologi tersebut dilakukan dengan mengambil sampel diantara populasi yang ada.
Tentunya akan berbeda, kalau seluruh populasi diambil sebagai responden. Apabila seluruh
populasi diambil, maka hal tersebut disebut sensus. Sensus adalah pendataan terhadap seluruh

populasi mengenai informasi tertentu. Misalnya; sensus nasional yang diselenggarakan oleh
Biro Pusat Statistik.
1. Desain Survei
Desain Survei dikenal dalam penelitian ilmu-ilmu sosial yang dilakukan dengan mengambil
sampel dari suatu populasi. Pengambilan sampel dilakukan dengan wawancara terstruktur
(dengan kuesioner) oleh juru cacah dengan mendatangani responden ditempatnya masingmasing. Menurut Webstre’rs Dictionary survey berarti:
“ to examine carefully with reference to condition, situation, or the like, with a vieew to
ascertaining the preceise state or value of; to inspect or consider carefully”
Dengan memperhatikan pengertian ini, maka desain penelitian survei berarti suatu
perancangan penelitian dengan tujuan melakukan pengujian yang cermat dan teliti terhadap
suatu objek penelitian berdasarkan suatu situasi ataupun kondisi tertentu dengan melihat
kesesuainnya dengan pernyataan ataupun nilai tertentu yang diikuti dan diamati dengan
cermat dan teliti. Dengan desain penelitian ini diharapkan diperoleh informasi yang cukup
memadai dengan mutu yang tinggi. Kebaikan pendekatan ini antara lain:
a. Pengumpulan data dilakukan dengan biaya yang lebih murah;
b. Penyimpulan mempunyai basis yang sangat kuat, karena didasarkan pada suatu
populasi yang cukup besar dengan contoh yang memadai;
c. Alat-alat pengumpul data dapat digunakan secara maksimal
d. Pengungkapan masalah-masalah baru yang belum terpikirkan pada saat penyusunan
rancangan penelitian; dan
e. Penyediaan sarana yang digunakan untuk menilai suatu teori
Disamping kebaikan-kebaikan tersebut di atas, ada pula kelemahan-kelemahannya, antara lain:
a. Waktu yang tersedia dalam survei sangat terbatas, sehingga sulit memperoleh keterangan
yang mendalam dari pada responden;
b. Juru cacah sangat bervariasi kualitasnya, mengakibatkan sulit mengawasi pekerjaan
mereka dan sulit memperoleh keterangan yang mutunya sepadan;
c. Merupakan suatu “moment opname”, sehingga sulit memperoleh gambaran mengenai
perilaku responden secara keseluruhan; dan
d. Keutuhan sebagai manusia tidak terekam dalam jawaban responden.
Sebagai contoh: seorang akuntan pendidik ingin mengadakan survei pada para mahasiswa
jurusan akuntansi untuk mengetahui alasan kenapa mereka memilih jurusan tersebut. Survei
semacam ini dilakukan dengan mengambil sampel dari presentase tertentu mahasiswa jurusan
akuntansi diseluruh Indonesia (baik negeri maupun swasta). Penelitian semacam ini

membutuhkan desain dengan menggunakan metode survei, mengingat presepsi seorang
mahasiswa tidak bisa diketahui dengan eksperimen dan juga studi kasus. Apabila penelitian
dengan latar belakang seperti itu diteliti dengan desain eksperimen maupun desain studi kasus,
justru akan diperoleh kesimpulannya yang bias dan tidak dapat mewakili opini mahasiswa secara
keseluruhan. Dengan demikian penggunaan desain justru tidak dapat dihindarkan.
2. Desain Studi Kasus
Penelitian dengan desain studi kasus dilakukan dengan melakukan penelitian secara mendalam
terhadap suatu objek penelitian yang dipilih dari berbagai keeadaan yang dianggapnya sama.
Meskipun beberapa keadaan dianggap sama, tetapi kesimpulan yang diambilnya tidak boleh
digenerelisasi sebagai kesimpulan secara menyeluruh terhadap kasus-kasus yang dianggapnya
sama. Penelitian dengan pendekatan ini berusaha memotret situasi sebagaimana adanya, sedetail
mungkin, dan lengkap, selanjutnya dianalis dan disimpulkan sebagai penggambaran suatu situasi
yang dianggap sama tersebut. Sebagai contoh dalam penelitian masalah kehidupan seks para
penghuni penjara laki-laki dengan mengambil contoh kasus kehidupan salah satu penjara
(misalnya: di Wirogunan, Yogyakarta). Peneliti mengadakan pengamatan secara mendalam
kehidupan mereka sehari-hari, dianalis, dan dilaporkan berdasarkan pendekatan tersebut.
Kesimpulan dari studi tersebut memberikan gambaran secara menyeluruh mengenai suatu kasus
yang mungkin akan sama dengan kehidupan penjara lain di Indonesia. Biasanya pemilihan
contoh kasus tersebut telah mempertimbangkan sampai sejauh mana situasi tersebut dapat
diwakili oleh situasi yang digunakan sebagai contoh kasus.
Dalam penelitian akuntansi dan manajemen, pendekatan ini sering digunakan dengan
pertimbangan keadaan yang berlaku pada suatu perusahaan sangat mungkin berlaku pula bagi
kondisi yang sama pada perusahaan lainnya. Hanya saja harus diperhatikan, suatu kasus akan
dianggap berlaku sama bila beberapa keadaan dianggap sama yang antara lain;
a)
b)
c)
d)
e)

Sifat-sifat perusahaan
Jenis usaha
Bentuk usaha
Ruang lingkup usaha
Dan persyaratan lain yang dipertimbangkan

Keadaan ini harus selalu menjadi penelitian si peneliti, agar jangan sampai terjebak bahwa
kondisi dari contoh kasus yang dipilihnya seolah-olah berlaku pada semua perusahaan yang
dianggapnya sama. Tentu saja dapat ditemukan perbedaan-perbedaan antara perusahaan yang
satu dengan lainnya, karena memang perilaku manusia yang mempengaruhi perusahaan tersebut
tidak akan selalu sama.
3. Desain Eksperimen
Pengertian eksperimen adalah pengujian apakah suatu obyek penelitian sesuai (cocok)
dengan kondisi tertentu yang telah terjadi atau sesuai dengan syarat-syarat tertentu. Dalam
penelitian semacam ini, objek yang diteliti biasanya belum diketahui dengan pasti
bagaimana pengaruhnya apabila diterapkan pada suatu keadaan ataupun pesyaratan tertentu.
Sebagai contoh, suatu obat dengan dosis orang-orang barat (yang secara fisik lebih besar)
mungkin akan berbeda dengan orang Indonesia yang relatif kecil ukuran badannya. Dengan
demikian penelitian yang berdasarkan desain eksperimen, dilakukan dengan cara pengujian
terhadap sesuatu kondisi atau persyaratan tertentu.
Sebagai contoh kasus, dalam industri pakan ternak ingin diuji bagaimana pengaruh suatu
obat (misal X) terhadap pertumbuhan ayam buras. Pengujian akan dilakukan terhadap 3
kelompok sampel yang terdiri dari:
Kelompok A, diberi ransum obat X
Kelompok B, sama sekali tidak diberi ransum obat X
Kelompok C, diberi ransum obat X dengan dosis separuhnya
Dengan memberikan perlakuan yang berbeda tersebut, akan terlihat perbedaan
pertumbuhan ayam buras dari ketiga kelompok beserta akibatnya. Dengan demikian
diperoleh suatu kesimpulan bahwa sebaiknya peternak menggunakan dosis obat X tersebut.
Disiplin ilmu akuntansi juga mengenal penelitian dengan pendekatan desain eksperimen.
Sebagai contoh kasus, Ikatan Akuntan Indonesia sering mengeluarkan Eksposure Draft,
Suplemen, atau Pernyataan sebagai pedoman pabrik akuntansi di Indonesia. Berbagai
norma yang disusun tersebut mengadopsi dari standar yang berlaku di Amerika Serikat.
Meskipun disadari bahwa berbagai konsepsi tersebut telah diteliti oleh badan otoritatif
disana, namun kondisi yang berbeda akan menyebabkan implementasi yang berbeda pula.
Hal ini terutama disebabkan oleh kondisi bisnis dan masyarakat yang ada di Indonesia
belum tentu sama dengan kondisi di Amerika Serikat. Keaadan semacam ini memerlukan
pengujian (verifikasi) apakah konsep yang terkandung dalam exposure draft tersebut dapat

diterapkan dalam kondisi dan situasi Indonesia. Oleh karena itu perlu adanya eksperimen
terlebih dahulu, apakah mungkin diterapkan dalam kondisi/situasi tersebut.