You are on page 1of 24

Hak Asasi Manusia ~ Sejak lahir, manusia telah mempunyai hak asasi yang

harus dijunjung tinggi dan diakui semua orang. Hak ini lebih penting dari hak seorang
penguasa atau raja. Hak asasi berasal dari Tuhan Yang Maha Esa, diberikan kepada
manusia. Akan tetapi, hak asasi sering kali dilanggar manusia untuk mempertahankan
hak pribadinya. Sebanarnya apa sih hak asasi manusia (HAM) itu? Nah, pada
kesempatan kali ini Zona Siswa akan membahas tuntas mengenai Pengertian Hak
Asasi Manusia (HAM). Semoga bermanfaat. Check this out!!!
Hak Asasi Manusia (HAM) mucul dari keyakinan manusia itu sendiri bahwasanya
semua manusia selaku makhluk ciptaan Tuhan adalah sama dan sederajat. Manusia
dilahirkan bebas dan memiliki martabat serta hak-hak yang sama. Atas dasar itulah
manusia harus diperlakukan secara sama adil dan beradab. HAM bersifat universal,
artinya berlaku untuk semua manusia tanpa mebeda-bedakannya berdasarkan atas ras,
agama, suku dan bangsa (etnis).
A. Pengertian Hak Asasi Manusia (HAM)
Ada berbagai versi definisi mengenai HAM. Setiap definisi menekankan pada segi-segi
tertentu dari HAM. Berikut beberapa definisi tersebut. Adapun beberapa definisi Hak
Asasi Manusia (HAM) adalah sebagai berikut:
1. UU No. 39 Tahun 1999
Menurut Undang-Undang Nomor 39 tahun 1999, HAM adalah seperangkat hak yang
melekat pada hakikat keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
Hak itu merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi
oleh Negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta
perlindungan harkat dan martabat manusia.
2. John Locke
Menurut John Locke, hak asasi adalah hak yang diberikan langsung oleh Tuhan
sebagai sesuatu yang bersifat kodrati. Artinya, hak yang dimiliki manusia menurut
kodratnya tidak dapat dipisahkan dari hakikatnya, sehingga sifatnya suci.
3. David Beetham dan Kevin Boyle
Menurut David Beetham dan Kevin Boyle, HAM dan kebebasan-kebebasan
fundamental adalah hak-hak individual yang berasal dari kebutuhan-kebutuhan serta
kapasitas-kapasitas manusia.

4. C. de Rover
HAM adalah hak hukum yang dimiliki setiap orang sebagai manusia. Hakhak tersebut
bersifat universal dan dimiliki setiap orang, kaya maupun miskin, laki-laki ataupun
perempuan. Hak-hak tersebut mungkin saja dilanggar, tetapi tidak pernah dapat
dihapuskan. Hak asasi merupakan hak hukum, ini berarti bahwa hak-hak tersebut
merupakan hukum. Hak asasi manusia dilindungi oleh konstitusi dan hukum nasional di
banyak negara di dunia. Hak asasi manusia adalah hak dasar atau hak pokok yang
dibawa manusia sejak lahir sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Hak asasi
manusia dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah, dan
setiap orang. Hak asasi manusia bersifat universal dan abadi.
5. Austin-Ranney
HAM adalah ruang kebebasan individu yang dirumuskan secara jelas dalam konstitusi
dan dijamin pelaksanaannya oleh pemerintah.
6. A.J.M. Milne
HAM adalah hak yang dimiliki oleh semua umat manusia di segala masa dan di segala
tempat karena keutamaan keberadaannya sebagai manusia.
7. Franz Magnis- Suseno
HAM adalah hak-hak yang dimiliki manusia bukan karena diberikan kepadanya oleh
masyarakat. Jadi bukan karena hukum positif yang berlaku, melainkan berdasarkan
martabatnya sebagai manusia. Manusia memilikinya karena ia manusia.
8. Miriam Budiardjo
Miriam Budiardjo membatasi pengertian hak-hak asasi manusia sebagai hak yang
dimiliki manusia yang telah diperoleh dan dibawanya bersamaan dengan kelahiran atau
kehadirannya di dalam masyarakat.
9. Oemar Seno Adji
Menurut Oemar Seno Adji yang dimaksud dengan hak-hak asasi manusia ialah hak
yang melekat pada martabat manusia sebagai insan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa
yang sifatnya tidak boleh dilanggar oleh siapapun, dan yang seolah-olah merupakan
suatu holy area.

2. Ada bermacam-macam hak asasi manusia. 1. Secara garis besar. artinya semua orang berhak mendapatkan semua hak. Tidak dapat dicabut. artinya hak asasi manusia adalah hak asasi semua umat manusia yang sudah ada sejak lahir. Ciri khusus hak asasi manusia sebagai berikut. 4.B. Hak Asasi Pribadi (Personal Rights) Hak asasi yang berhubungan dengan kehidupan pribadi manusia. Universal. gender. memeluk. Tidak dapat dibagi. C. apakah hak sipil dan politik atau hak ekonomi. Macam-macam Hak Asasi Manusia (HAM) Anda telah memahami bahwa hak asasi manusia adalah hak yang melekat pada diri setiap manusia sejak awal dilahirkan yang berlaku seumur hidup dan tidak dapat diganggu gugat oleh siapa pun. dan berpindah-pindah tempat. artinya hak asasi manusia tidak dapat dihilangkan atau diserahkan. artinya hak asasi manusia berlaku untuk semua orang tanpa memandang status. atau perbedaan lainnya.  Hak kebebasan untuk bergerak. Hakiki. Ciri Khusus Hak Asasi Manusia (HAM) Hak asasi manusia memiliki ciri-ciri khusus jika dibandingkan dengan hakhak yang lain.  Hak kebebasan memilih dan aktif dalam organisasi atau perkumpulan. menjalankan agama dan kepercayaan yang diyakini masing-masing. bepergian. Persamaan adalah salah satu dari ide-ide hak asasi manusia yang mendasar. suku bangsa. 3. 1.  Hak kebebasan mengeluarkan atau menyatakan pendapat. hak-hak asasi manusia dapat digolongkan menjadi enam macam sebagai berikut. . social.  Hak kebebasan untuk memilih. Contoh hak-hak asasi pribadi ini sebagai berikut. dan budaya.

 Hak untuk memilih dan dipilih dalam suatu pemilihan.  Hak memiliki dan mendapatkan pekerjaan yang layak. Hak Asasi Hukum (Legal Equality Rights) Hak kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan. yaitu hak yang berkaitan dengan kehidupan hukum dan pemerintahan. Contoh hak-hak asasi ekonomi ini sebagai berikut.  Hak kebebasan menyelenggarakan sewa-menyewa dan utang piutang.  Hak kebebasan untuk memiliki sesuatu.  Hak ikut serta dalam kegiatan pemerintahan.  Hak kebebasan melakukan kegiatan jual beli.  Hak membuat dan mendirikan partai politik serta organisasi politik lainnya.  Hak kebebasan mengadakan perjanjian kontrak. 3.2.  Hak mendapat layanan dan perlindungan hukum. Contoh hak-hak asasi hukum sebagai berikut.  Hak mendapatkan perlakuan yang sama dalam hukum dan pemerintahan. Hak Asasi Ekonomi (Property Rigths) Hak yang berhubungan dengan kegiatan perekonomian. . 4.  Hak untuk membuat dan mengajukan suatu usulan petisi. Contoh hak-hak asasi politik ini sebagai berikut.  Hak untuk menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Hak Asasi Politik (Political Rights) Hak asasi yang berhubungan dengan kehidupan politik.

Landasan Hukum Hak Asasi Manusia di Indonesia Bangsa Indonesia mempunyai pandangan dan sikap mengenai Hak Asasi Manusia yang bersumber dari ajaran agama. e) Mengemban sikap berani membela kebenaran dan keadilan serta sikap adil dan jujur. Hak Asasi Peradilan (Procedural Rights) Hak untuk diperlakukan sama dalam tata cara pengadilan. dan penyelidikan di muka hukum. kepercayaan. Dalam Pembukaan UUD 1945 .  Hak mendapatkan pengajaran. warna kulit. 6.  Hak untuk mengembangkan budaya yang sesuai dengan bakat dan minat. Hak Asasi Sosial Budaya (Social Culture Rights) Hak yang berhubungan dengan kehidupan bermasyarakat. dan mendapatkan pendidikan. Contoh hak-hak asasi peradilan ini sebagai berikut. Contoh hak-hak asasi sosial budaya ini sebagai berikut. jenis kelamin. nilai moral universal. B. hormat menghormati dan selalu berusaha menolong sesame. serta berdasarkan pada Pancasila dan Undang-undang dasar 1945. penangkapan. D. penahanan. kedudukan social. Pancasila a) Pengakuan harkat dan martabat manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa. dan sikap tida sewenang-wenang terhadap orang lain. dan nilai luhur budaya bangsa. suku dan bangsa. Pengakuan. d) Selalu bekerja sama. jaminan. memilih. agama. c) Mengemban sikap saling mencintai sesamam manusia. b) Pengakuan bahwa kita sederajat dalam mengemban kewajiban dan memiliki hak yang sama serta menghormati sesamam manusia tanpa membedakan keturunan. dan perlindungan Hak Asasi Manusia tersebut diatur dalam beberapa peraturan perundangan berikut: A.  Hak persamaan atas perlakuan penggeledahan.5. f) Menyadari bahwa manusia sama derajatnya sehingga manusia Indonesia merasa dirinya bagian dari seluruh umat manusia.  Hak mendapat pembelaan hukum di pengadilan.  Hak menentukan. sikap tenggang rasa.

c) Deklarasi sedunia tentang Hak Asasi Manusia Tahun 1948 (Declaration Universal of Human Rights). b) Undang-undang Nomor 8 tahun 1984 tentang pengesahan Konvensi Mengenai Penghapusan segala Bentuk Diskriminasi terhadap Wanita. dan oleh karena itu penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan pri kemanusiaan dan pri keadilan”. E. Hukum Internasional tentang HAM yang telah Diratifikasi Negara RI a) Undang. ridak manusiawi. kepastian. C.d 28 j tentang Hak Asasi Manusia D. juga ada rakyat yang ingin merdeka. perlu segera dibentuk suatu pengadilan HAM untuk menyelesaikan pelanggaran HAM yan berat. kelompok atau manusia lainnya. .undang republic Indonesia No 5 Tahun 1998 tentang pengesahan (Konvensi menentang penyiksaan dan perlakuan atau penghukuman lain yang kejam.Menyatakan bahwa “ kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa. setiap orangbwajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan oleh UU. F. Bahkan. yakni bebas dari penindasan oleh penguasa. dan perasaan aman kepada masyarakat. didalm bangsa yang merdeka. keadilan. b) Dalm menjalankan hak dan kebebasannya. atau merendahkan martabat orang lain. Dalam Batang Tubuh UUD 1945 a) Persamaan kedudukan warga Negara dalam hokum dan pemerintahan (pasal 27 ayat 1) b) Hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak (pasal 27 ayat 2) c) Kemerdekaan berserikat dan berkumpul (pasal 28) d) Hak mengeluarkan pikiran dengan lisan atau tulisan (pasal 28) e) Kebebasan memeluk agama dan beribadat sesuai dengan agama dan kepercayaanya itu (pasal 29 ayat 2) f) hak memperoleh pendidikan dan pengajaran (pasal 31 ayat 1) g) BAB XA pasal 28 a s. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia a) Bahwa setiap hak asasi seseorang menimbulkan kewajiban dasar dan tanggung jawab untuk menghormati HAM orang lain secara timbale balik. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia Untuk ikut serta memelihara perdamaian dunia dan menjamin pelaksanaan HAM serta member I perlindungan. Ini adalah suatu pernyataan universal karena semua bangsa ingin merdeka.

[5] Aristoteles merupakan orang yang pertama kali membedakan antara hukum alam dan hukum positif. Friedmann[2] dalam bukunya legal theory ”hukum alam. tidak lain daripada kekuasaan dan kekerasan. yang disebut hukum alam disini. menegaskan bahwa diatas hukum positif yang tidak sempurna. pembicaraan tentang keadilan menjadi bagian yang sering dipersoalkan dalam menemukan tatanan hukum yang lebih baik untuk mengatur perbuatan manusia. Hukum alam . yang sebetulnya tidak dapat disebut hukum. sehingga hukum positif harus sesuai dengan hukum alam ? Atau hukum positif dapat menyimpang dari hukum alam karena validitasnya berasal dari norma hukum (yang lebih tinggi) itu sendiri atas dasar perintah penguasa atau negara yang menciptakan norma hukum tersebut? Pertanyaanpertanyaan tersebut akan coba dijawab dengan menelusuri ajaran-ajaran hukum alam dan hukum positif dari beberapa ahli hukum pada zaman kuno sampai zaman modern. Hukum positif baru teruji kebenarannya bila bersesuaian dengan hukum alam (positive law is justified only insofar as it corresponds to the natural law). Sebagaimana dinyatakan W. yaitu: 1. dan sekaligus aturan hidup bersama melalui undang-undang. hukum alam adalah suatu hukum yang berlaku selalu dan di mana-mana karena hubungannya dengan aturan alam. menyatakan adanya dualisme antara hukum alam dan hukum positif. Menurutnya.[3] Perubahan kondisi-kondisi sosial dan politik menyebabkan gagasan tentang hukum alam pun berubah. sebagai satu ungkapan untuk mencari cita-cita yang lebih tinggi dari hukum positif. Ajaran Hukum Alam Pada Zaman Yunani dan Romawi Dalam filsafat sebelum Aristoteles hukum alam merupakan aturan semesta alam. Bagaimana perspektif tentang keadilan menurut hukum alam dan hukum positif? A.Latar Belakang Membicarakan hukum alam tidak bisa dilepaskan dari pembicaraan hukum positif. Dari uraian diatas ada dua persoalan yang akan ditelusuri dalam tulisan ini. di dalam bukunya general theory of law and state. Satu-satunya yang masih tetap adalah tuntutan pada suatu yang lebih tinggi dari hukum positif. Dalam filsafat kaum sofis hukum alam ditafsirkan sebagai ”hukum dari yang paling kuat”. Apa perbedaan mendasar antara hukum alam dan hukum positif ditinjau dari beberapa pendapat ahli hukum? 2. tidak pernah lenyap dan berlaku dengan sendirinya. Hukum ALam 1. Hukum ini tidak pernah berubah. terdapat hukum alam yang sempurna. Kelsen. dalam berbagai bentuknya.[4] Dalam membicarakan hukum alam dan hukum positif. Apakah hukum positif validitasnya tergantung pada hukum alam. Demikian juga Hans Kelsen.

membedakan antara cita-cita hukum alam yang nisbi dan absolut.[10] Sasaran tertinggi manusia ialah menjadi manusia yang adil. yakni jiwa dunia (logos). seluruh masyarakat dunia ini diatur oleh akal ketuhanan. maupun pemerintahan. Thomas Aquinas adalah filsuf terbesar dari aliran Scholastic di abad pertengahan. adanya undang-undang yang dituntun oleh akal.[7] Tesis Aristoteles ini menjadi dasar konsepsi hukum alam para filsuf Stoa. hak milik. Hukum universal itu terkandung dalam logos. selalu berlaku dan tidak dapat diubah. Manusia adalah bagian dari alam.[11] 2. dan sedekat mungkin pada hukum alam mutlak. yang seluruhnya tergantung dari ketentuan manusia. sesuatu yang berada diluar manusia. Ajaran Hukum Alam Pada Zaman Abad Pertengahan St. Sejauh hukum abadi itu menjadi nyata dalam semesta alam. lex divina dan lex humana. Hukum alam ”nisbi” menuntut dari pembentuk perundang-undangan.[6] Bagi kaum sofis. berkat suatu prinsip yang menjamin kesatuan itu. Oleh karena dunia ini diatur oleh tatanan Ketuhanan. yang menjiwai segala. diberkahi dengan akal yang aktif yang membedakannya dari semua bagian lain dari alam. Logos itu tidak lain dari Budi Ilahi.[9] Para filsuf Stoa. bahwa semuanya yang ada merupakan suatu kesatuan yang teratur (kosmos). Ide dasar Stoa ialah. Pada masa kegemilangan hukum alam. Tetapi lembaga-lembaga ini menjadi penting dengan merosotnya moral umat manusia. Thomas Aquinas membedakan empat macam hukum. Hukum alam ini tidak tergantung dari orang. Thomas Aquinas merumuskan hukum sebagai ”peraturan yang berasal dari akal untuk kebaikan umum yang dibuat oleh seorang yang mempunyai kewajiban untuk menjaga masyarakatnya dan mengundangkannya”. Sedangkan Aristoteles.[12] . Aliran filsafat yang paling mempengaruhi pandangan orang Romawi mengenai hukum adalah aliran Stoa. Hukum ketuhanan adalah yang tertinggi. Undang-undang negara ditaati karena sesuai dengan hukum alam. Hukum alam ini merupakan dasar segala hukum positif. perbudakan. Manusia hanya mampu membentuk kehendaknya sesuai dengan pengertian akalnya.ini dibedakan dari hukum positif. Bahkan pemikir-pemikir Stoa berpendapat bahwa masyarakat manusia dipertahankan dan dikembangkan karena ketaatan akan hukum alam. alam merupakan sesuatu yang bersifat eksternal. lex naturalis. dengan tunduk kepada hukum alam (nomos) sebagai pernyataan Budi Ilahi (logos). Ia menerima pengaruh dari Aristoteles tetapi menyatakannya dengan dogma agama Kristen sehingga merupakan suatu sistem pemikiran tersendiri. tidaklah terdapat keluarga. dan sebagai demikian disebut hukum abadi (lex aeterna). hukum itu disebut hukum alam (lex naturalis).[8] Aliran ini berpendapat bahwa hidup bersama manusia mempunyai hubungan dengan logos yakni melalui hukum universal (lex universalis) yang terdapat dalam segala-galanya. dalam bukunya ”logika”memandang bahwa dunia sebagai totalitas yang meliputi seluruh alam. yaitu: lex aeterna.

2. yaitu asas yang bersumber dari principia prima. Keempat. sebagaimana terungkap dalam hukum alam.Lex aeterna adalah akal keilahian yang menuntun semua gerakan dan tindakan dalam alam semesta. misalnya dalam bentuk undang-undang. bahwa yang baik harus dilakukan. adalah insting manusia yang alamiah untuk mempertahankan hidupnya. sedang yang buruk dihindari. Principia prima. Thomas Aquinas membagi konsep hukum alamnya atas dua jenis sebagai berikut: 1. Kedua. yang merupakan sumber dari semua hukum manusia. Penafsiran ini bervariasi. Petunjuk yang paling dasar adalah. manusia mempunyai hasrat alamiah untuk mengenal Tuhan dan kecendrungan untuk menolak ketidaktahuan.[13] Dengan demikian hukum alam menurut Thomas Aquinas tidak lain adalah bagian dari hukum Tuhan. sebaliknya tidak bersifat mutlak dan dapat berubah pada setiap waktu dan tempat. Hal tersebut berasal dari prinsip-prinsip hukum abadi. Oleh karena itu. yaitu asas-asas yang dimiliki oleh manusia sejak lahir dan tidak dapat diasingkan daripadanya. manusia ingin hidup dalam masyarakat dan oleh karena itu adalah suatu hal yang alamiah pada manusia untuk menghindari perbuatan yang merugikan orang-orang yang hidup bersamanya.[14] Lebih lanjut. Mengenai apa yang disebut baik. melainkan didasarkan pada rasio manusia. Suatu penafsiran dapat mengikat umum jika hukum positif memberikan pada asas-asas ini kekuasaan mengikat. principia prima tidak dapat berubah menurut tempat dan waktu. Sementara lex divina adalah apa yang tercantum dalam kitabkitab suci dan lex humana apa yang tercantum dalam perjanjian-perjanjian baru serta Lama. Bagian yang bisa ditangkap ini disebut sebagai lex naturalis. Ajaran Hukum Alam Pada Zaman Renaissance Pada zaman renaissance ajaran mengenai hukum alam tidak lagi didasarkan pada paham ketuhanan (scholastik). Pendasar daripada hukum alam yang rasional adalah Hugo de Groot atau Grotius. Principia secundaria. Thomas Aquinas mengaitkannya kepada apa yang merupakan kecendrungan alamiah pada manusia. dapat baik atau buruk. daya tarik antara kedua jenis kelamin dan hasrat untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Seringkali asas ini dikatakan sebagai penafsiran manusia dengan menggunakan rasionya terhadap principia prima.[15] 3. yang memberikan pengarahan kepada kegiatan manusia melalui petunjuk-petunjuk umum. Pertama. karenanya ia dapat membedakan yang baik dan yang buruk. Ketiga. Hanya sebagian kecil saja dari lex aeterna yang bisa ditangkap oleh manusia melalui akal pikiran yang dianugrahkan Tuhan kepadanya. menerapkan bagian dari hukum Tuhan ini terhadap kehidupan manusia. Manusia sebagai makluk yang berakal. Ia menulis dua . bagian yang diungkapkan dalam fikiran alam.

dan d) prinsip perlunya hukuman karena pelanggaran atas hukum alam dan hukumhukum lain. Dalam ”De Jure Belli ac Pacis”.[17] Dengan demikian Grotius juga mengakui bahwa disamping hukum alam yang bersumber pada rasio manusia. c) prinsip ganti rugi. misalnya yang terdapat dalam Kitab Suci.[19] Sehubungan dengan prinsip ini Grotius mengemukakan empat prinsip yang merupakan tiang dari seluruh sistem hukum alam yaitu: a) prinsip kupunya dan kaupunya.[20] Selanjutnya Grotius membagi hukum alam dalam arti sempit dan dalam arti luas. apakah tindakan manusia itu dapat diterima atau ditolak atas dasar kesusilaan alam. Dalam arti sempit adalah hukum yang sesungguhnya oleh karena menciptakan hak untuk menuntut. b) prinsip kesetiaan pada janji. Milik orang lain harus dijaga. Jika barang-barang yang dipinjam membawa untung. Menurut Grotius.buku yang terkenal yaitu De Jure Belli ac Pacis (tentang hukum damai dan perang) dan Mare Liberium (tentang hukum laut bebas). bahwa Allah adalah pencipta semesta alam. Jadi hukum alampun secara tidak langsung merupakan ciptaan Tuhan juga. Dilain fihak Grotius tetap mengaku. Namun ia menyimpang dari pandangan Skolastik dengan memastikan. untung itu harus diganjar. juga seandainya Allah tidak ada. . Kecendrungan ini ada pada manusia lepas dari kemauannya. Keempat prinsip ini ditemukan secara a priori sebagai prinsip segala hukum. Ius gentium ini menurut Grotius merupakan hukum alam yang dipraktekkan oleh segala bangsa. Akan tetapi prinsip itu dapat juga ditemukan secara aposteriori.[16] Hukum alam yang didapati manusia berkat kegiatan rasionalnya dipandang oleh Grotius sebagai hukum yang berlaku secara real sama seperti hukum positif. yaitu merupakan pencetusan dari pikiran manusia apakah sesuatu tingkah laku manusia itu dipandang baik atau buruk. Oleh karena itu secara tidak langsung Allah tetap merupakan pondamen hukum alam. hukum alam itu bersumber dari rasio manusia. yakni kalau kerugian itu disebabkan karena kesalahan orang lain. bahwa hukum alam tetap berlaku. Terhadap hal ini Apeldoorn melihat bahwa Grotius tidak konsekuen dengan pendapatnya. Oleh karena itu kecendrungan ini dapat menjadi dasar yang objektif seluruh hukum. yakni sebagai kenyataan pada semua bangsa yang beradab. Grotius mengatakan bahwa Tuhan adalah pencipta dari alam semesta.[18] Grotius mengemukakan prinsip rasional pertama dalam bidang hukum ialah setiap orang mempunyai kecendrungan untuk hidup bersama orang lain secara damai. Keadilan yang berlaku dalam bidang ini ialah keadilan yang melunasinya (penulis: keadilan komutatif). Sebab penilaian terhadap tingkah laku manusia itu satu dengan lainnya harus didasarkan atas kesusilaan alam tersebut. Dalam hal ini Grotius menurut tradisi Skolastik. Grotius dipandang sebagai peletak dasar hukum internasional dengan menyebutnya sebagai hukum bangsa-bangsa (ius gentium). ada hukum alam yang bersumber dari rasio Tuhan. supaya diberikan apa yang termasuk padanya (facultas). sebabnya ialah bahwa hukum alam itu termasuk akal budi manusia sebagai bagian dari hakekatnya.

Thomas Hobbes tidak menerima adanya kecendrungan untuk hidup bersama pada manusia. Hukum-hukum alam ini bukan hukum dalam arti yang sesungguhnya. melainkan hanya suatu hak berupa kepantasan (aptitudo).[21] Mengenai hubungan hukum alam dan hukum positif Grotius berpendapat bahwa hukum positif adalah hukum yang berlaku dalam negara sebab disetujui dan disahkan oleh yang berwibawa. manusia menjadi srigala bagi manusia lainnya (homo homini lupus). Keadilan yang berlaku dibidang ini ialah keadilan yang memberikan (penulis: keadilan distributif). Tetapi hukum alam sebagai batas hukum positif boleh dilewati. Namun Locke merupakan penentang teori absolutisme dari Hobbes. Dalam bidang kehidupan orang-orang memiliki hak untuk hidup. yaitu persetujuan orang-orang dalam suatu kelompok untuk membentuk suatu hidup bersama dan teratur. Pelanggaran hak-hak itu dapat dihukum oleh tiap-tiap individu.[26] . Oleh karena dalam situasi asli belum terdapat norma-norma hidup bersama. kebebasan. Untuk mencapai aturan semacam itu semua orang harus menyerahkan hak-hak asli mereka atas segala-galanya dan harus menuruti beberapa kecendrungan alamiah yang oleh Hobbes disebut hukum alam (leges naturales). serahkanlah hak aslimu.Sementara hukum alam dalam arti luas ialah hukum yang tidak menciptakan hak yuridis. Hukum ini (positif) tidak boleh melawan hukum alam. Maka timbullah apa yang disebut Hobbes bellum omnium contra omnes. milik. sebab pada zaman itu tiap-tiap orang mempunyai kekuasaan hukum alam yang eksekutif (the executive power of the law of nature). dan tepatilah janji-janjimu. yakni tidak boleh menyuruh sesuatu yang terlarang oleh hukum alam.[24] 4. dalam bidang-bidang lain mereka memiliki hak atas kesehatan. tetapi hanya merupakan petunjuk yang harus diikuti jika tujuan hendak dicapai. Persetujuan sosial yang asli inilah menjadi asal mula dari negara. hak milik dan hak untuk menjadi waris. seperti petunjuk carilah damai. jika dituntut oleh kepentingan umum negara.[22] Berlawanan dengan Grotius. Menurut Hobbes manusia sejak zaman purbakala seluruhnya dikuasai oleh nafsu-nafsu alamiah untuk memperjuangkan kepentingannya sendiri. yakni bidang kehidupan. berlakulah terhadap orang lain sebagaimana kau ingin orang lain berlaku terhadapmu. kesehatan. hak atas kebebasan. seperti halnya Hobbes juga menerangkan timbul negara dan hukum dengan melukiskan situasi pada zaman primitif.[23] Pentingnya prinsip bahwa janji harus ditepati paling menyolok dalam suatu persetujuan yang oleh Hobbes disebut kontrak asli. maka orang primitif mempunyai hak atas semuanya. Ajaran Hukum Alam Pada Zaman Pencerahan John Locke. Lama kelamaan orang mulai sadar akan keuntungan untuk mengamankan hidupnya dengan menciptakan suatu aturan hidup bersama bagi semua orang yang termasuk kelompok yang sama. Hukum-hukum alam meliputi macam-macam bidang. dengan mengemukakan teori tentang hak-hak individu yang tidak bisa dicabut.[25] Pada zaman primitif itu orang-orang hidup menurut hukum-hukum alam.

Namun supaya negara dapat berfungsi sebagai pengawal hukum. kalau pemerintah menyalahgunakan kekuasaannya dengan bertindak melawan tujuan negara. Dengan demikian teori hukum alam John Locke mengandung suatu tendensi revolusioner: bilamana syarat-syarat tertentu tidak dipenuhi oleh pemerintah. meskipun bukan yang pertama. Buktinya ialah bahwa semua kontrak hanya berlaku berdasarkan suatu prinsip hukum alam: janji harus ditepati (keeping of faith). maka dalam membentuk undang-undang pemerintah hanya harus tunduk pada hukum alam saja. Hukum alam ini berlaku sepenuhnya dalam keberadaan wujud kita sendiri. Oleh karena kekuasaan itu adalah yang tertinggi. Dengan beralihnya manusia kepada keadaan sipil hukum alam primitif tidak lenyap. sudah ada hukum alam.[28] Dalam bukunya De l ‘Esprit de Lois yang kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Inggris menjadi the spirit of laws. Manusia dalam keadaan alamiah memiliki kecakapan untuk mengetahui sebelum ia mendapatkan pengetahuan yang diperoleh dari belajar.[27] John Locke menyebutkan ada tiga kekuasaan negara yaitu kekuasaan legislatif. Hukum itu tetap berlaku. Tetapi undang-undang itu baru menjadi sah sebagai hukum karena kekuasaan legislatif negara. Untuk mendapatkan pengetahuan yang sempurna mengenai hukum ini. Sejak berdirinya negara bukan orang-orang yang bertugas untuk mengawal agar hak-hak pribadi dipertahankan. kita harus membayangkan manusia sebelum terbentuknya masyarakat: hukum-hukum yang berlangsung dalam keadaan itulah yang merupakan hukum alam. Namun dilaih fihak kekuasaan legislatif pemerintah negara dibatasi. ia berpikir untuk mempertahankan kelangsungan dirinya sebelum ia menyelidi asal mula dirinya. eksekutif dan federatif. pun pula dalam hubungan antara negara. Sehingga tujuan negara tidak lain daripada menjamin hak-hak pribadi orang-orang. yakni pelaksanaan hak untuk menghukum secara pribadi. Kekuasaan yang tertinggi adalah kekuasaan legislatif. melainkan negara dan tata hukum. Tentu saja ide-ide pertamanya sama sekali bukan ide-ide yang bersifat spekulatif.Pada suatu ketika orang-orang primitif itu beralih dari keadaan asli kepada keadaan sipil. Sekelompok orang dapat membuat undang-undang untuk hidup bersama mereka. Negara tidak mempunyai kekuasaan untuk mencabut hakhak alam dari pribadi manusia. revolusi diperbolehkan. oleh karena rakyat memiliki kekuasaan yang melebihi kekuasaan legislatif. yang tetap ada pada rakyat. kalau undangundang itu dilanggar. dari hukum alam adalah hukum yang membekas dalam pikiran kita yang telah dijadikan oleh Sang Pencipta agar kita condong kepadanya.[30] . Montesquieu menyatakan bahwa sebelum terdapat semua hukum ini. orang-orang perlu menyerahkan sebagian dari hak-hak primitif mereka kepada negara. Kekuasaan itu terikat pada hukum alam.[29] Yang paling penting. Kekuasaan legislatif tidak hanya ditemukan dalam negara. yang mampu menentukan sanksi. Rakyat berhak untuk merebut kembali kebebasan asli.

Maka undang-undang yang paling baik adalah undang-undang yang paling cocok dengan suatu bangsa tertentu.[32] Walaupun demikian Montesquieu tetap melihat adanya hubungan yang erat antara hukum alam dan situasi konkrit suatu bangsa. sebab berlakunya tidak sama bagi semua orang. Sementara hukum alam yang keempat muncul dari hasrat untuk hidup dalam masyarakat. Jean Jacques Rousseau sama sekali tidak bicara mengenai suatu hukum alam pada manusia primitif. dan kecendrungan alami yang mereka miliki satu sama lainnya ini merupakan hukum alam yang ketiga. Dalam keadaan alamiah manusia merasa tidak berdaya dan rasa lemah. Tetapi sesudah timbulnya masyarakat baru cita-cita individual itu diganti oleh cita-cita umum. rasa takut dan kekawatiran yang berlebihan. Disamping rasa takut membuat manusia menghindar satu sama lain. Tetapi bagaimana hukum alam dikonkretkan dalam bentuk negara dan hukum tergantung dari situasi historis.[33] Berbeda dengan Hobbes. kebiasaan-kebiasaan dan kesusilaannya. Melalui kontrak sosial manusia menerima pengesahan dari hak-haknya sebagai manusia. Kendatipun demikian ia lebih meletakkan tekanan pada evolusi historis beraneka ragam tatanan hukum nasional. maka undang-undang itu harus dianggap tidak adil. Locke dan Montesquieu. yang bertitik tolak pada keadaan alamiah manusia. Hukum alam adalah suatu hukum yang berlaku bagi manusia sebagai manusia. Dalam hidup berkelompok muncul ketertarikan diantara manusia dari jenis kelamin yang berbeda.setiap bangsa mempunyai hukumnya masing-masing. Kontrak sosial yang membangkitkan masyarakat sipil berasal dari kehendak semua orang yang semuanya ingin mewujudkan cita-cita individualnya. dengan menyatakan bahwa hukum semua bangsa terdiri dari sejumlah aturanaturan yang diilhami oleh Rasio dan oleh sebab itu berlaku universal dan tidak berubahubah yang ingin dijabarkan sesuai dengan “kodrat segala sesuatu” didunia ini.[34] . Dari sini satu hukum alam lainnya mendorong dirinya untuk mencari makanan. Disamping adanya perasaan lemah ini manusia segera mendapati bahwa dirinya memiliki kebutuhan-kebutuhan. Sehingga kalau dalam masyarakat tertentu dibentuk undang-undang yang tidak mencerminkan kepentingan umum. yang terbentuk dari keadaan masa silamnya.Montesquieu mengemukakan generasi-generasi hukum alam. baik secara moral maupun secara yuridis. yang berasal dari kehendak baru. Dalam soal ini ia menyimpang dari hukum alam.[31] Di dalam bukunya De l’Esprit des Lois (1748) Montesquieu seringkali menunjukkan dirinya sebagai seorang pembela hukum alam. iklim dan sebagainya). sehingga dalam kondisi itu mereka tidak mungkin menyerang satu sama lain. maupun oleh lingkungan alam sekitarnya (lingkungan geografis. yakni kehendak umum (volonte generale) yang kemudian melahirkan tujuan umum yaitu kepentingan umum. psikis dan kultural suatu bangsa. dengan demikian perdamaian jelas merupakan hukum alam yang pertama. Hukum alam itu baru terdapat pada orang-orang yang sudah masuk masyarakat sipil. namun rasa takut ini juga mendorong manusia untuk hidup berkelompok.

bahwa kekerasan dan ancaman boleh digunakan untuk menjaga aturan hukum. Ajaran Hukum Alam Neo-Kantian Beberapa penganut Kant yang dikenal dengan Neo-Kantian. Dengan ditegakkannya aturan hukum secara demikian. Tetapi aturan hukum sendiri termasuk bidang akal budi teoretis. Dalam menjelaskan peraturan hukum dan hukum alam. oleh karena dialami sebagai gejala alam. bidang akal budi teoretis dan bidang akal budi praktis. Prinsip-prinsip aturan hukum termasuk bidang akal budi praktis. hukum alampun menghubungkan dua fakta satu sama lain seperti kondisi dan konsekuensi. Seperti halnya peraturan hukum. Menurut filsafat Kant undang-undang harus dibentuk berdasarkan prinsip-prinsip umum hukum. Hans Kelsen menyatakan bahwa peraturan hukum merupakan bentuk logis dari hukum alam (the rule of law is the logical form of the law of nature). Stammler sampai kepada suatu pemikiran hukum alam yang bersifat tidak abadi. Namun demikian. Peraturan-peraturan negara adalah konkretisasi dari prinsip-prinsip umum itu. Prinsip yang digunakan ilmu (hukum) alam dalam mendeskripsikan objek-objeknya adalah kausalitas. Yang dimaksud dengan kondisi disini adalah “sebab”. perbuatan manusia. Disini hanya berlaku hukum-hukum alam. dan dengan ini berada di luar bidang moralitas. sebagaimana ditangkap oleh akal budi praktis. maka dengan tidak langsung aturan moral juga ditunjang. Bila hukum termasuk alam. maka dapat dimengerti pula. Stammler berpendapat bahwa adil tidaknya sesuatu hukum terletak pada dapat tidaknya hukum itu memenuhi kebutuhan manusia. Sehingga ia menegaskan bahwa hukum hanya menjadi hukum oleh karena berasal dari yang berhak untuk membentuk hukum. Karena kebutuhan manusia ini berubah-ubah sepanjang waktu dan tempat. juga bisa menjadi kajian hukum alam asalkan perbuatan manusia juga termasuk fenomena alam. dan karenanya mewajibkan secara otonom. yang menentukan alam secara deterministis. sementara prinsip yang digunakan ilmu hukum dalam mendeskripsikan objek-objeknya adalah norma-norma. konsekuesi adalah “akibat”.[35] 5.[36] Perbedaan antara peraturan hukum dengan hukum alam tampaknya adalah bahwa peraturan hukum menunjuk kepada manusia dan perbuatannya. [38] . Hal ini disebabkan karena dasar dari hukum alamnya adalah kebutuhan manusia. Dalam bidang teoretis ini tidak terdapat kewajiban. maka akibatnya hukum alam yang dihasilkannya juga berubah-ubah setiap waktu dan tempat. Latar belakang pandangan Kant ini ialah perpisahan antara bidang ‘ada’ dan bidang ‘harus’. yakni pemerintah. Menurutnya hukum alam tidak lain adalah hukum sebab akibat. seperti Hans Kelsen dan Rudolf Stammler memberikan pendapat mengenai hukum alam secara berbeda. sedangkan hukum alam menunjuk kepada kebendaan dan reaksireaksinya.Immanuel Kant mempunyai pandangan lain mengenai hukum alam.[37] Berbeda dengan Kelsen. Bentuk dasar dari hukum alam adalah hukum kausalitas (the fundamental form of the law of nature is the law of causality).

Dalam hukum positif. bukan hukum dalam arti ilmu pasti dan alam yang objeknya benda mati.6. hukum alam dapat dibedakan atas hukum alam sebagai metode dan hukum alam sebagai substansi. Dengan demikian ia tidak mengandung norma-norma sendiri. mempunyai konsekuensi tidak saja bagi metode keilmuannya tetapi juga bagi kausalitas. Satjipto Rahardjo[42] mengemukakan berbagai anggapan atas hukum alam. dan 5. Dari anggapan diatas. suatu dasar dalam hukum yang bersifat moral. Hukum positif yang menjadi objek ilmu hukum positif tidak sepasti hukum ilmu alam. objek yang diaturnya sekaligus merupakan subjek (pelaku). ia tidak diatur oleh metode ke-ilmuan ilmu pasti dan alam. Sementara hukum alam sebagai substansi justru berisi norma-norma. 4. Sebagai metoda hukum alam merumuskan dirinya pada usaha untuk menemukan metoda yang bisa dipakai untuk menciptakan peraturanperaturan yang mampu untuk menghadapi keadaan yang berlain-lainan. orang bisa menciptakan . yang menjaga jangan sampai terjadi suatu pemisahan secara total antara “yang ada sekarang” dan “yang seharusnya”. suatu kondisi yang harus ada bagi kehadiran hukum. Dalam anggapan ini. melainkan hanya memberi tahu tentang bagaimana membuat peraturan yang baik. Mengutip Dias. merupakan ideal-ideal yang menuntun perkembangan hukum dan pelaksanaannya.[41] Dari penjelasan Mochtar Kusumaatmadja tersebut jelas dapat dilihat bahwa ia membedakan antara hukum positif dan hukum alam itu secara tajam dan yang terpenting menurutnya bagi manusia adalah hukum positif. suatu metoda untuk menemukan hukum yang sempurna. melainkan oleh metode ke-ilmuan humanities (humaniora). 2. Ini mempunyai akibat yang penting bagi metode keilmuannya dan penjelasan tentang sebab-akibat (kausalitas). yaitu: 1. Hukum Alam Sebagai Metode dan Hukum Alam Sebagai Substansi. 7. yang dapat didedusikan melalui akal. Hukum Alam Menurut Mochtar Kusumaatmadja Mochtar Kusumaatmadja[39] mengemukakan bahwa hukum bertalian dengan kehidupan manusia dalam masyarakat. 3. isi dari hukum yang sempurna.[40] Hukum positif yang mengatur perilaku (tingkah laku) manusia yang bukan benda mati melainkan makluk hidup yang mempunyai pikiran dan kemampuan membedakan antara yang baik dan buruk (etika). Sebagai suatu ilmu yang mempelajari hukum positif sebagai suatu perangkat kaidah yang mengatur manusia dan masyarakat.

Paham legisme ini sudah berkembang semenjak abad pertengahan. yang dikenal dengan teori hukum murni (pure theory of law). positivisme yuridis merupakan suatu ajaran ilmiah tentang hukum. dan 2) aliran hukum positif yang murni. Menurut positivisme yuridis ini pertimbangan-pertimbangan teoretis dan metafisis tidak diperbolehkan. sudah dikenal adanya paham legisme yang mengidentikkan hukum dengan undang-undang. Hukum dianggap sebagai suatu sistem yang logis. didasarkan atas kekuasaan yang lebih tinggi.[48] Jadi hukum sepenuhnya dipisahkan dari keadilan dan. Aliran Hukum Positif yang Analitis Aliran hukum positif yang analitis mengartikan hukum sebagai a commond of the lawgiver (perintah dari pembentuk undang-undang atau penguasa). yang lazim dikenal sebagai hak-hak asasi manusia. yaitu: 1) aliran hukum positif yang analitis dari John Austin atau yang dikenal sebagai analytical jurisprudence. Namun Bentham lebih sering dimasukkan kedalam Aliran Utilitarinisme[44]. Pikiran-pikiran John Austin dan Hans Kelsen sangat mempengaruhi aliran positivisme hukum. yang dipelopori dan dikembangkan oleh Hans Kelsen. hukum hanya berlaku.[45] Dalam pandangan positivisme yuridis. Gerakan positivisme dalam ilmu hukum baru muncul pada abad ke-19.[47] Artinya peraturan dapat dideduksikan dari undang-undang yang berlaku tanpa perlu meminta bimbingan dari norma sosial. politik dan moral.[43] B. dikenal adanya dua subaliran.[49] Ajaran-ajaran Austin sama sekali tidak menyangkut kebaikan atau keburukan-keburukan hukum. Satu-satunya sumber hukum adalah undang-undang. oleh karena hukum itu mendapat bentuk positifnya dari suatu instansi yang berwenang. HUKUM POSITIF Sebelum lahirnya aliran hukum positif. Tidak ada hukum diluar undang-undang. Jeremmy Bentham sudah memperjuangkan adanya kodifikasi hukum Inggris yang memberikan kepastian hukum bagi hak-hak yang bersifat individual. 1. bersama-sama Rudolph von Jering. akan tetapi hal itu secara yuridis tidak penting bagi hukum. yaitu suatu perintah dari mereka yang memegang kekuasaan tertinggi atau yang memegang kedaulatan.sejumlah besar peraturan-peraturan yang dialirkan dari beberapa asas yang absolut. oleh karena penilaian tersebut dianggapnya sebagai persolan yang berbeda diluar bidang hukum. Sebenarnya sebelum Austin.[46] Dalam aliran positivisme hukum. Walaupun Austin mengakui adanya hukum moral atau hukum alam yang mempengaruhi warga-warga masyarakat. (didasarkan tidak atas gagasangagasan tentang yang baik dan buruk).[50] . tetap dan bersifat tertutup (closed logical system .

atau mengira dirinya berada dalam posisi untuk mengharuskan kepatuhan. kekuasaan tertentu atas individu lain. or a souvereign body of persons). secara pribadi. Hukum positif atau hukum yang disebut sebenarnya. mempunyai ciri empat unsur.Oleh John Austin. Undang-undang yang sebenarnya diadakan oleh suatu kekuasaan politk yang disebut sebagai hukum positif. …A command is a norm only if it is binding upon the individual to whom it is directed. hal mana terlaksana apabila yang memberi perintah adalah pihak yang memegang kedaulatan. Selanjutnya. [54] . atau tidak melakukan sesuatu. Hukum yang tidak sebenarnya ini oleh Austin disebut sebagai “moralitas positif” saja. Keterkaitan keempat unsur hukum positif tersebut dijelaskan oleh Soerjono Soekanto. dan jika individu ini harus melakukan apa yang diharuskan oleh perintah tersebut. suatu perintah diduga merupakan pembedaan kewajiban kepada pihak lain.[52] sebagai berikut: hukum merupakan hasil dari perintah-perintah yang artinya adalah bahwa ada satu pihak yang menghendaki supaya pihak lain melakukan sesuatu. yang masih ada. kewajiban dan kedaulatan. maka tidak dapat disebut sebagai hukum positif. Kemudian pihak yang diperintah akan mengalami penderitaan apabila perintah tersebut tidak dijalankan. Kemudian hukum manusia digolongkan dalam undang-undang yang disebut sebagai hukum yang sebenarnya (hukum positif) dan undang-undang yang disebut hukum yang tidak sebenarnya. yakni perintah. ketika dia berada. dan undang-undang yang diadakan oleh manusia untuk manusia (hukum manusia). mendukung pendapat Austin yang menyatakan setiap hukum atau peraturan merupakan suatu perintah. dalam bukunya general theory of law and state. Atau lebih tepatnya hukum atau peraturan merupakan suatu spesies perintah. Kedaulatan itu dapat dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang (a souvereign person. Lebih jauh Hans Kelsen menjelaskan pendapat Austin ini yaitu “perintah adalah suatu pernyataan kehendak seseorang dalam bentuk keharusan (imperatif) bahwa seseorang yang lain harus berbuat menurut suatu cara tertentu individu yang objeknya adalah perbuatan dari seorang individu lainnya. Perintah baru bisa disebut norma jika ia mengikat individu yang dituju oleh perintah itu. atau percaya diri memiliki. dimana fungsinya tidak lain adalah menjadi wadah-wadah kepercayaan.[53] Hans Kelsen.[51] Sehingga apabila hukum tidak memenuhi keempat unsur itu. sanksi. only if this individual ought to do what the command requires. Lebih lanjut Kelsen menjelaskan bahwa seseorang individu terutama mungkin memberi bentuk imperatif kepada kehendaknya ketika dia memiliki. dan penderitaan tersebut merupakan sanksi. hal itu hanya dapat disebut sebagai moral positif. hukum pertama-tama dibagi dalam hukum yang diadakan oleh Tuhan untuk manusia (hukum Tuhan). sementara hukum yang tidak sebenarnya diadakan oleh orang-orang. yang tidak memiliki arti yuridis.

yakni memberikan kompetensi untuk menerbitkan perintah-perintah yang mengikat. . confers on him this capacity. Hart yang tertuang dalam bukunya the concept of law. walaupun dalam kenyataannya bandit tersebut mampu untuk memaksakan kehendaknya. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Kelsen[55]. tetapi perintah itu mengikat oleh karena individu tersebut diberi wewenang atau diberi kekuasaan untuk mengeluarkan perintah-perintah yang bersifat mengikat. – Analisis terhadap konsepsi hukum dinilai penting untuk dilakukan dan harus dibedakan dari studi yang historis (mengenai sebab-musabab dan sumber-sumber hukum) maupun sosiologis (mengenai hubungan hukum dengan gejala sosial lainnya). the competence to issue binding commands. Pada abad ke-20 pikiran-pikiran Austin tentang hukum dikembangkan lebih lanjut oleh H. Suatu perintah mengikat. but because he is “authorized” or “empowered” to issue commands of a binding nature. Sistem yang tertutup secara mutlak akan menyulitkan dan menghalang-halangi penyesuaian kaidahkaidah hukum terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat. wich is presupposed to be binding. Hart menguraikan tentang ciri-ciri pengertian positivisme pada ilmu hukum dewasan ini sebagai berikut: – Hukum merupakan perintah dari manusia (commond of human being). memberikan kapasitas ini kepadanya. Soejono Soekanto[56] sebagai salah seorang penganut aliran hukum sosiologis. Penekanan pada perintah dan sanksi ditentang oleh teori-teori yang mempertahankan ketidaktergantungan hukum dari kekuasaan dan perintah. perubahan-perubahan mana disebabkan oleh timbulnya kebutuhan-kebutuhan baru (yang kemudian menghasilkan kepentingan-kepentingan baru). Individu hanya berwenang atau berkuasa jika suatu tatanan normatif. Kelsen mencontohkan perintah seorang bandit kepada seseorang untuk menyerahkan uangnya tidaklah mengikat. – Tidak ada hubungan mutlak/penting antara hukum disatu pihak dengan moral dipihak lain.A.L. And he is “authorized” or “empowered” only if a normative order. yang dianggap mengikat. terutama oleh mazhab sejarah dari Von Savigny dan sociological jurisprudence dari Eugen Ehrlich. …A command is binding. Lagi pula suatu sistem hukum tak akan mungkin hidup lama apabila tidak mendapat dukungan sosial yang luas.Namun Kelsen tidak sepakat dengan Austin dengan menyatakan bahwa tidak setiap perintah yang dikeluarkan oleh seseorang yang memiliki kekuasaan lebih tinggi mempunyai sifat mengikat. mengemukakan kelemahan dari ajaran analytical jurisprudence dari Austin dengan menyatakan bahwa suatu sistem hukum tidak mungkin untuk sepenuhnya bersifat tertutup. bukan disebabkan individu yang memerintah mempunyai kekuasaan nyata yang lebih tinggi. atau antara hukum yang berlaku dengan hukum yang seharusnya. not because the individual commanding has an actual superiority in power.

[59] Kelsen menyebutnya . maka norma hukum. seperti ilmu alam. Nyatalah dalam rumusan prinsip ini bahwa relasi antara hal ini dan hal itu bersifat normatif. tujuan sosial. pertama-pertama harus dipandang sebagai imperatif bagi negara. dan didalamnya keputusan-keputusan hukum yang benar/tepat biasanya dapat diperoleh dengan alat-alat logika dari peraturan-peraturan hukum yang telah ditentukan sebelumnya tanpa memperhatikan tujuan-tujuan sosial. sejarah dan lain sebagainya. dan 4) teori konretisasi hukum (Stufentheory). Bila hal ini terjadi. Untuk itu menurutnya hukum perlu diselidiki sebagai hukum terlepas dari pandangan-pandangan diluar hukum seperti psikologis. Bila dikaitkan dengan bidang hukum maka suatu kelakuan yang melawan hukum. Menurut Kelsen hukum berada dalam dunia sollen ”keharusan” bukan dalam dunia sein “kenyataan”. politik dan ukuran-ukuran moral. sekalipun pada kenyataannya tidak selalu begitu. politik. maka seharusnya hal itu terjadi pula. Oleh sebab sanksi yang dikenakan pada seseorang yang melanggar hukum tergantung dari penentuan oleh instansi-instansi negara. yang disusun untuk masyarakat umum. pembuktian atau percobaan (pengujian).[58] Tegasnya ilmu pengetahuan hukum adalah suatu hirarki mengenai hubungan normatif. tetap dan bersifat tertutup. Ilmu hukum adalah ilmu normatif Dari uraian Hans Kelsen dalam bukunya general theory of law and state terlihat bahwa ia menekankan segi normatif dari hukum dari berbagai pembahasannya.[57] 2. 2) teori hukum murni (pure theory of law). yaitu: 1) ilmu hukum adalah ilmu normatif. tetapi seharusnya hal itu terjadi.dan harus dibedakan pula dari penilaian yang bersifat kritis (baik yang didasarkan moral. etika. Artinya kalau hal ini terjadi belum tentu hal itu terjadi pula. Teori Hukum Murni (pure theory of law) dari Hans Kelsen Pikiran-pikiran Hans Kelsen mengenai hukum dapat dikelompokkan atas empat hal. fungsi hukum dan lain-lainnya). bukan suatu hubungan sebab akibat. – Bahwa pertimbangan-pertimbangan moral tidak dapat dibuat atau dipertahankan sebagai pernyataan kenyataan yang harus dibuktikan dengan argumentasi-argumentasi rasional. harusnya disusul dengan hukuman. Penjelasan mengenai keempat hal tersebut akan dijelaskan dibawah ini. 3) norma dasar (basic norm atau grundnorm). Dari norma hukum sebagai imperatif bagi negara semua kewajiban individual dapat diturunkan. -Pengertian bahwa sistem hukum merupakan sistem yang logis. Oleh karena itu objek tunggalnya adalah menentukan apa yang dapat diketahui secara teoritis tentang tiap jenis hukum pada tiap waktu dan dalam tiap keadaan. Kelsen berusaha mencari suatu pengertian hukum yang murni. sosiologis.

not a fact). Oleh karena itu. pernyataan-pernyataan yang digunakan oleh teori ini dalam mendeskripsikan objeknya bukanlah pernyataan tentang kenyataan melainkan tentang keharusan.”[65] . Tatanan hukum positif berusaha menghadirkan hukum yang nyata dan mungkin. Semua norma yang validitasnya dapat ditelusuri ke satu norma dasar yang sama membentuk suatu sistem norma.sebagai teori yuristik (juristic theory) yang bisa juga disebut sebagai teori normatif (normative theory). Hal ini sesuai dengan pendapat Kelsen yang menyatakan: “the statement that the behavior of an individual is “just” or “unjust” in the sense of “legal” or “illegal” means that the behavior corresponds or does not correspond to a legal norm which is presupposed as valid by the judging subject because this norm belongs to a positive legal order. bukan kecendrungan ilmiah. Dasar validitas suatu norma selalu berupa norma. tetapi menurut pertimbangan hukum. kita sebut sebagai “norma dasar” (penulis: basic norm atau grundnorm). karena pertanyaan tersebut sama sekali tidak dapat dijawab secara ilmiah. Teori hukum murni Teori hukum murni adalah teori tentang hukum positif. atau sebuah tatanan norma. Teori hukum murni sama sekali tidak dapat menjawab pertanyaan adil atau tidaknya hukum tertentu.[63] Oleh karena itu. sosiologis maupun politis.[64] Bagi Kelsen yang terpenting adalah apakah perbuatan seseorang berdasarkan atau tidak berdasarkan hukum positif. Kecendrungan untuk menyamakan hukum dan keadilan merupakan kecendrungan untuk membenarkan tatanan sosial tertentu.[60]. menurut Kelsen pembicaraan mengenai keadilan harus dikeluarkan dari ilmu hukum. Pencarian landasan validitas suatu norma menuntun kita bukan kepada realitas melainkan kepada norma lain yang menjadi sumber lahirnya norma tersebut. Ini suatu kecendrungan politik.[61] Sehingga dapat disimpulkan bahwa tatanan hukum adalah tidak lain merupakan suatu sistem norma. Objeknya adalah norma (norma umum maupun norma khusus). “apakah hukumnya?” dan bukan “bagaimanakah hukum yang seharusnya?”[62] Tatanan hukum positif merupakan hukum sebagaimana adanya. Norma yang validitasnya tidak dapat diperoleh dari norma lain yang lebih tinggi. tanpa mempertahankannya dengan menyebutnya adil. bukan hukum yang benar. Sehingga adil atau tidak adilnya suatu perbuatan tertentu semata-mata dilihat dari sudut hukum itu sendiri. atau menghujatnya dengan menyebutnya tidak adil. Teori yuristik menunjukkan hukum sebagai sistem norma yang valid. bukan berdasarkan pada pertimbangan etis. Teori yuristik hanya mempertimbangkan fakta-fakta yang ditentukan oleh norma-norma dengan satu cara atau cara lain. bukan fakta (the reason for the validity of a norm is always a norm. Ia berusaha untuk mempersoalkan dan menjawab pertanyaan. sebab hukum dan keadilan adalah dua konsep yang berbeda.

Hukum merupakan sollenskatagori dan bukan seinskatagori: orang menaati hukum karena ia merasa wajib untuk menaatinya sebagai suatu kehendak negara. Norma dasar (grundnorm/ basic norm) Sebagaimana telah disinggung dalam pembahasan sebelumya mengenai ilmu hukum sebagai ilmu normatif. itu soal yang menyangkut kenyataan dalam masyarakat dan hal itu bukan menjadi wewenang ilmu hukum[66]. Ajarah hukum Hans Kelsen hanya memandang hukum sebagai sollen yuridis semata-mata yang sama sekali terlepas dari das sein/kenyataan sosial. Apakah dalam kenyataanya sipembeli itu membayar atau tidak. dan menghindarkan diri dari penilaian baik dan buruk suatu norma hukum tertentu. Dalam sistem norma statis. Semua hukum yang berada dalam kawasan rejim grundnorm tersebut harus bisa mengait kepadanya. dapat dibedakan dua jenis tatanan hukum (norma) atau sistem norma yang berbeda yaitu sistem norma yang statis dan sistem norma yang dinamis. Menurut hakikat norma dasar. sejarah dan sebagainya. Dari unsur sosiologis berarti bahwa ajaran hukum Hans Kelsen tidak memberi tempat bagi hukum kebiasaan yang hidup dan berkembang di dalam masyarakat. Yang membeli barang seharusnya membayar. konsepsi hukum Hans Kelsen tidak memberi tempat bagi berlakunya suatu hukum alam. [70] grundnorm sebagai suatu dalil akbar tidak hanya berfungsi sebagai dasar. dimana isinya memiliki kualitas yang terbukti secara langsung menjamin validitasnya. norma dasar (grundnorm) merupakan pemberi keabsahan (dasar validitas) bagi setiap norma hukum yang berada dalam suatu tatanan hukum tertentu. politis. sosiologis. tetapi hal tersebut sudah memasuki wilayah sosiologi hukum.[68] Hans Kelsen menegaskan bahwa norma dasar dari suatu tatanan hukum positif tidak lain adalah peraturan fundamental tentang pembuatan berbagai norma dari tatanan hukum positif itu. oleh karena itu ia bisa juga dilihat sebagai induk yang melahirkan peraturan-peraturan hukum dalam suatu tatanan sistem . tetapi juga sebagai tujuan yang harus diperhatikan oleh setiap hukum atau peraturan yang ada. Dari unsur etis berarti. Hukum itu tidak lain merupakan suatu kaedah ketertiban yang menghendaki orang menaatinya sebagaimana seharusnya.[69] Menurut Satjipto Rahardjo. berdasarkan isinya. norma-norma itu “valid” (sah dan berlaku) jika para individu yang perbuatannya diatur oleh norma-norma itu “harus” berbuat sesuai dengan yang ditetapkan oleh norma-norma tersebut.[67] Sedangkan suatu norma merupakan bagian dari suatu sistem yang dinamis jika norma tersebut telah dibuat menurut suatu cara yang ditentukan oleh norma dasar. Norma dasar ini menetapkan suatu peristiwa tertentu sebagai peristiwa awal di dalam pembentukan berbagai norma hukum. Norma dasar ini merupakan titik awal dari proses pembentukan norma dan dengan demikian memiliki karakter yang sepenuhnya dinamis.Dengan alasan tersebut diatas Kelsen berpendapat hukum harus dibebaskan dari pertimbangan/penilaian non-yuridis seperti etis.

konstitusi menempati urutan tertinggi didalam hukum nasional. membentuk suatu tatanan hukum tertentu.[76] kemudian diganti dengan TAP MPR No. yang paling abstrak.[73] Teori konkretisasi hukum (stufentheory) melahirkan tata urutan norma-norma (hierarchy of norm). terutama tatanan hukum yang dipersonifikasikan dalam bentuk negara. Hukum membentang dalam proses yang bertahap. Dialah yang menjadi dasar mengapa hukum itu harus dipatuhi dan dia pula yang memberikan pertanggungjawaban.[71] Teori konkretisasi hukum (stufentheory) Teori konkretisasi hukum memandang sistem hukum sebagai bentuk piramid. mengapa hukum disitu harus dilaksanakan.tertentu. 10/2004[78] tentang Tata Cara Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.[72] Dengan kata lain teori ini melihat tata hukum sebagai suatu proses menciptakan sendiri norma-norma. Grundnorm ini merupakan semacam bensin yang menggerakkan seluruh sistem hukum. maka keseluruhan bangunan hukumnya pun akan runtuh. Oleh karena itu ia lebih merupakan dalil daripada peraturan biasa. sampai kepada yang paling konkret. sampai kepada norma yang paling rendah. melainkan suatu tatanan urutan norma-norma dari tingkatan-tingkatan yang berbeda. ditentukan oleh norma lain yang lebih tinggi lagi. Namun menurutnya dengan mempostulasikan norma dasar. selanjutnya diatur dalam UU No. III/MPR/2000[77]. Grundnorm ini tidak perlu sama untuk setiap tata hukum. dari norma yang paling tinggi. sanksi hukum.[74] tatanan hukum. tetapi ia selalu akan ada di situ. Tetapi apabila orang sudah mulai menggugat kebenaran dari dalil akbar tersebut. lalu berupa izin yang diberikan kepada seseorang untuk melakukan suatu tindakan atau memaksakan suatu tindakan. atau susunan norma-norma dari norma yang paling tinggi sampai norma yang paling rendah. dari norma-norma yang umum sampai kepada yang lebih konkret.[75] Indonesia adalah salah negara yang menganut teori konkretisasi hukum ini. Dalil itu akan tetap menjadi dasar dari tata hukum manakala orang mempercayai. Mengenai tata urutan norma-norma ini menurut Kelsen berbeda-beda dari setiap negara. . bukanlah sistem norma yang satu sama lain hanya dikoordinasikan. yang secara lengkap diindividualisasikan. yang berdiri sejajar atau sederajat. Penegasan sumber hukum dan tata urutan peraturan perundang-undangan di dalam negara hukum Republik Indonesia pertama kali tertuang dalam TAP MPRS No. konkret dan eksekutif. Menurut Hans Kelsen. Kesatuan norma-norma ini ditunjukkan oleh fakta bahwa pembentukkan norma yang satu (norma yang lebih rendah). kini telah menjadi sesuatu yang “boleh” dan dapat dilakukan. Dalam hal ini apa yang semula berupa sesuatu yang “seharusnya”. Pada ujung terakhir proses ini. XX/MPRS/1966. mengakui dan mematuhinya. ataukah sebagai suatu pernyataan yang tidak dituliskan. apakah dalam bentuk tertulis.

. dilindungi dan dipenuhi oleh semua negara terhadap warga negaranya. Dengan demikian hukum positif dapat dirumuskan sebagai hukum yang berlaku pada suatu tempat dan waktu tertentu dimana pembentukan dan pemberlakuannya sangat tergantung dengan kehendak penguasa atau negara. Pada zaman modern hukum alam kurang dianut orang. namun memiliki daya berlaku yang tidak dibatasi oleh waktu dan tempat. tetapi disebutnya sebagai asas-asas hukum umum[79] atau prinsip-prinsip hukum umum[80]. Asas-asas hukum umum ini walaupun bukan hukum alam. PENUTUP Sebagai penutup makalah ini. yang menjadi sumber dari segala sumber hukum positif Indonesia. misalnya datang dari Duguit dengan Solidarete Social-nya. serta adanya sanksi dari masyarakat bila hukum itu tidak ditaati. Kulturentwicklung dari Kohler serta Regle Morale dari Ripert. institusi negara menjadi pemegang otoritas tertinggi dalam pembentukan dan penegakkan aturan hukum melalui sanksi yang mempunyai daya paksa. Dengan kata lain adanya perintah dan adanya keinginan untuk mengikuti perintah itu. mereka lebih suka tidak mengatakan sebagai hukum alam. Konsep tata urutan (hierarkhie) peraturan perundang-undangan mengandung asas lex superior derogat legi inferiori yang berarti bahwa undang-undang yang mempunyai derajat lebih rendah dalam hierarkhie perundang-undangan. wajib dihormati. yaitu: 1. Hal ini yang membedakan hukum alam dengan hukum positif dimana eksistensi hukum positif tergantung dari kehendak kemauan manusia. ada beberapa point penting yang dapat dikemukakan. Social Engineering dari Roscoe pound. sebagai prinsip-prinsip hukum umum. tidak boleh bertentangan dengan undang-undang yang lebih tinggi. demokratis atau tidak demokratis. Hukum alam ini ada yang bersumber dari Tuhan dan ada yang bersumber dari rasio manusia. Perlindungan dan pemenuhan hak asasi manusia juga dijadikan sebagai suatu ukuran untuk menentukan apakah suatu produk hukum itu baik atau tidak. Kalupun ada. Beberapa asas hukum yang terkenal.. sanksi dsb) baik sebagai individu maupun sebagai badan (hukum).[81] Pada saat ini hak asasi manusia. Hukum alam adalah hukum yang berlaku universal dan abadi.Sementara posisi Pancasila diakui dan dijadikan sebagai hukum dasar nasional. Sehingga Pancasila merupakan grundnorm yang mengilhami. Sebagai norma penutup dari urutan peraturan perundang-undangan di Indonesia dikenal adanya Keputusan Tata Usaha Negara (beschikking) baik yang memberi manfaat (izin) maupun yang memberikan beban kepada masyarakat (misal pembebanan pajak. dan memberi dasar validitas pembentukan dan pemberlakuan semua hukum positif di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. 2. C. Groundnormnya Hans Kelsen. Ketika masyarakat sudah hidup bernegara.

Hukum positif baru teruji keabsahannya bila sesuai dengan hukum alam. dasar validitas hukum positif bersumber dari hukum alam. Dasar validitas norma hukum yang satu berasal dari norma hukum lain yang lebih tinggi. sebaliknya perbuatan yang tidak sesuai dengan hukum dianggap tidak adil. . Bagi aliran hukum positif suatu perbuatan yang menurut hukum dianggap adil. bukan atas pertimbagan etis.3. Hukum alam lebih menekankan pada usaha untuk menemukan hukum yang adil. Bagi aliran hukum alam. sosiologis ataupun politik. 4. Sementara hukum positif berupaya untuk mencapai suatu kepastian hukum. Sementara menurut positivisme hukum. dasar validitas hukum positif bersumber dari norma hukum itu sendiri. Hukum positif menempatkan grundnorm sebagai dasar validitas tertinggi dari semua norma hukum. Jadi disini yang ditekankan adalah keadilan menurut sudut pandang hukum.