You are on page 1of 19

MATERI

HUKUM PIDANA

JOICE SORAYA

BAGIAN I
ARTI DAN TUJUAN HUKUM
Unsur Hukum:
1. Serangkaian aturan mengenai tingkah laku
2. Serangkaian aturan yang dibuat oleh badan yang berwenang
3. Serangkaian aturan yang bersifat memaksa dan mengikat
4. Sanksi terhadap peraturan hukum tegas.
Macam-macam Norma :
1. Norma hukum : Sanksi nyata, tegas
2. Norma Agama
3. Norma Kesopanan
Sanksi tidak nyata, tidak tegas
4. Norma Kesusilaan
Sifat Hukum : MEMAKSA
Berisi : Perintah dan Larangan
(VERBOD)
(GEBOT)
Law : Inggris
Ius
: Latin
Ract : Belanda
Ciri-Ciri Hukum :
a. Adanya perintah dan / larangan
b.
Perintah dan / larangan itu harus patuh ditaati oleh setiap orang.
Menurut pasal 10 KUHP, jenis hukuman atau pidana antara lain:
1. Pidana Pokok
a. Pidana mati
b. Pidana penjara
- Seumur hidup
- Sementara (setinggi-tingginya 20 tahun dan sekurang-kurangnya satu tahun) atau pidana penjara
selama waktu tertentu
c. Pidana kurungan, sekurang-kurangnya satu hari dan setinggi-tingginya satu tahun
d. Pidana denda (sebagai pengganti hukuman kurungan)
e. Pidana tutupan
2. Pidana tambahan
a. Pencabutan hak-hak tertentu
b. Perampasan (penyitaan) barang-barang tertentu
c. Pengumuman keputusan hakim
Subyek Hukum (Pemegang Hukum)
1. Manusia
(Natuurlijke persoon)
Karena manusia secara alamiah menjadi subyek hukum otomatis
2. Badan Hukum
(Recht persoon)
Benda
(ZAAK)

Berwujud

Bergerak

Sendiri
Digerakkan

Tidak Bergerak
Bernilai

Tidak Berwujud

Mereka yang oleh hukum telah dinyatakan tidak cakap untuk melakukan sendiri perbuatan hukum
adalah:
1. Orang yang masih dibawah umur (< 21 th = belum dewasa)
2. Orang yang tidak sehat pikirannya (gila), pemabuk dan pemboros, yaitu mereka yang ditaruh dibawah
curatele (pengampuan)
3. Orang perempuan dalam pernikahan (wanita kawin)
Obyek Hukum = Benda
Perbuatan Hukum yaitu : segala perbuatan manusia yang secara sengaja dilakukan oleh seseorang untuk untuk
menimbulkan hak kewajiban-kewajuban.
Perbuatan hukum ada 2 :
1. Perbuatan hukum yang dilakukan dengan sendirinya
Contoh : kelahiran, kematian
2. Perbuatan yang dilakukan oleh subyek hukum
a. Perbuatan menurut hukum:
Pasal 1354
: ZAAKWARNEMING
Perbuatan mengurusi kepentingan orang lain tanpa dikehendaki orang yang
bersangkutan (kecelakaan)
Pasal 625
: SERVITUT
(mis:Pekarangan berdampingan). Buah yang ditanam di pekarangan A, apabila
buahnya ke pekarangan B maka akan menjadi pihak pekarangan B. Apabila sebagian
di jalan, maka menjadi hak umum.
b. Perbuatan melawan hukum
Pasal 1635
: ONRECHMATIGE DADD
(Contoh: Ingkar janji). Cenderung ke Perdata..
Peristiwa Hukum atau kejadian hukum (RECHTSFEIT) adalah : peristiwa-peristiwa kemasyarakatan yang
oleh hukum diberikan akibat-akibat.
Peristiwa hukum ada 2 :
1. Perstiwa Hukum Bersegi 1 (EENZIJDIG) :
Yang akibat hukumnya ditimbulkan oleh kehendak dari satu subyek hukum saja (satu pihak).
Contoh : Wasiat Pasal 875 KUHS
2. Perstiwa Hukum Bersegi 2 (TWEEZIJDIG)
Yang akibat hukumnya ditimbulkan oleh kehendak dari dua subyek hukum, dua pihak, atau lebih.
Contoh : Perjanjian Pasal 1313 KUHS (perjanjian itu ialah suatu perbuatan yang menyebabkan seorang
atau lebih mengikat dirinya pada seorang lain atau lebih).
Pembidangan Hukum :
1. Menurut Tempatnya :
a. Lokal / Regional
b. Nasional
c. Internasional
2. Menurut Bentuknya :
a. Hukum Tertulis (Statute Law = Written Law)
Hukum yang dicantumkan dalam pelbagai peraturan perundangan
b. Hukum Tak tertulis (Unstatutery Law = Unwritten Law)
Hukum yang masih hidup dalam keyakinan masyarakat, tetapi tidak tertulis namun berlakunya ditaati
seperti suatu peraturan perundangan. (hk. Kebiasaan)
Pada Hukum Tertulis ada yang telah dikodifikasikan ada yang belum terkodifikasi.
Kodifikasi adalah : Aturan hukum yang telah disusun secara lengkap dan sistematis.
Tujuan kodifikasi dari pada hukum tertulis:
- Kepastian hukum
- Penyederhanaan hukum
- Kesatuan hukum

Yang sudah dikodifikasi: KUHP, KUH Perdata, KUH Dagang.
Yang belum terkodifikasi : Merk, Kepailitan, PP, Hukum Waris, Hukum Adat.
3. Berdasarkan Waktunya :
a. Hukum yang telah berlaku (IUS CONSTITUTEM)
b. Hukum yang sedang berlaku (IUS POSITIVE) -> WVS/Weetbook Van Strafrecht.
Mis: KUH Pidana
c. Hukum yang diharapkan dapat berlaku di masa yang akan datang (IUS CONSTITUNDEM)
Mis: RUU KUHP Nas (1973-sekarang)
Pasal 284 (Overspell) -> Zinah
4. Berdasarkan Cara Mempertahankannya
a. Hukum Materiil / Hukum Materi
Hukum yang mengatur tentang materi
Mis: Hukum Pidana, Hukum Perdata, Hukum Dagang, dll
b. Hukum Formil / Hukum Formal
Hukum yang mengatur bagaimana cara mempertahankan hukum materiil.
Mis: Hukum Acara Pidana, hukum Acara Perdata
5. Berdasarkan Isinya:
a. Hukum Privat
Hukum yang mengatur hubungan perseorangan.
- Umum (Hk. Perdata)
- Khusus (Hk. Dagang)
b. Hukum Publik
LAW ENFORCEMENT / PENEGAKAN HUKUM
Menurut Lawrence M Friedmann “The Legal System”ada 3 hal yang harus dipenuhi dalam penegakan hukum
antara lain :
1. Substance : hukum akan bias ditegakkan apabila peraturan perundangannya baik.
2. Structure : aparat penegak hukum.
3. Culture : persepsi / sikap / reaksi masyarakat terhadap hukum.
Unsur yuridis
: substance, structure, culture
Unsur non yuridis
: politik
BAGIAN II
PENGERTIAN PENGANTAR HUKUM INDONESIA
Hubungan antara PIH dan PHI
PHI adalah bagian dari PIH
PIH  mempelajari hukum yang telah berlaku, sedang berlaku, dan dan akan berlaku di Indonesia dan
manapun
BAGIAN III
SUMBER HUKUM INDONESIA
Sumber-Sumber Hukum (SH)
1. SH Materiil
Tempat dari mana materi diambil. Dapat ditinjau dari berbagai sudut, mis; sudut ekonomi, sejarah,
sosiologi, dll.
2. SH Formil
Sumber Hukum Formil ada 5 :
a. Undang-Undang (STATUTE) ->Peraturan Perundang-Undangan
Asas Perundang-Undangan :
1. Asas Legalitas

b.

c.

d.
e.

NULLUM DELICTUM NULLA POENA SINE PRAEVIA LEGE POENALE
Yaitu : tidak ada suatu perbuatan yang dipidana kecuali telah diatur dalam satu aturan perundangundangan.
(Von Feverbach)
2. LEX POSTERIORI DEROGAT LEX PRIORI
UU yang baru mengesampingkan UU yang lama.
3. LEX SPECIALIST DEROGAT LEX GENERALIS
UU yang khusus mengesampingkan UU yang umum.
Contoh : UU Perlindungan anak. Pasal 187
4. LEX SUPERIOR DEROGAT LEGE INFERIOR
UU yang lebih tinggi mengesampingkan UU yang lebih rendah
5. Undang-Undang yang tidak bias diganggu gugat
Kebiasaan (CUSTOM)
Suatu peristiwa yang terjadi secara berulang-ulang, sehingga merupakan pola tingkah laku yang tetap,
ajeg, sehingga diikuti oleh orang lain.
Keputusan-Keputusan Hakim (YURISPRUDENSI)
Keputusan hakim terdahulu yang sudah berkekuatan hukum tetap (INKRACHT) yang keputusan itu
akan dipakai hakim-hakim selanjutnya dalam kasus yang sama.
Traktat (TREATY)
Perjanjian Internasional
Pendapat Sarjana Hukum (DOKTRIN)

BAGIAN IV
ASAS-ASAS HUKUM PERDATA
Hukum Perdata adalah hukum yang mengatur hubungan antara orang dengan orang.
Menurut isinya, hukum perdata termasuk hukum privat.
Menurut cara mempertahankan, hukum perdata termasuk hukum materiil.
Menurut bentuknya, hukum perdata termasuk hukum tertulis dan sudah terkodifikasi.
Sejarah Hukum Perdata

Corpus Iuris
Civilis
A
K
Code Civil
A
K
BW (Burgelijke Wet
Book)
A
K Perdata
KUH

Romaw
i

Prancis

Belanda

Indonesia

*

AK : AsasCode
Konkordansi
(Concordantie),
yaitu
ketentuan-ketetuan
Civil adalah
salah satu Code
Napoleon.
Dimana Code negara penjajah tetap berlaku terhadap negara
terdiri dari
:
jajahannya Napoleon
kecuali negara
tersebut
sudah mempunyai aturan sendiri.
Code Civil (Perdata)
Code Penal (Pidana)
KUH Perdata Code
terdiri
4 buku,
yaitu:
de dari
Commerse
(Dagang)

Buku I

: Tentang Orang (VAN PERSOON)
a. Persoon Recht
b. Family Recht (Membicarakan tentang kewajiban orang tua dan anak, pekawinan)

Buku II
: Tentang Benda (VAN ZAKEN)
a. Zakelijke Recht (Hukum Kekayaan)
b. Erf Recht (Hukum Waris)
Buku III
: Tentang Perikatan (VERBINTENISSEN RECHT)
Buku IV
: Tentang Pembuktian dan kadaluarsa (BEWIJS EN VERJARING)
BUKU I : TENTANG ORANG (VAN PERSOON)
Terdiri dari :
a. Person Recht (Hukum Orang)
b. Family Recht (Hukum Keluarga)
Persoon Rech :
Membicarakan tentang manusia sebagai subyek hukum.
Anak yang tidak cakap atau belum bertanggung jawab terhadap hukum adalah :
- Anak yang belum dewasa (Minderjaring)
- Dewasa, namun: a. idiot, imbisil (wajah mirip), b. sakit jiwa dan / penyakit jiwa.
Kurator adalah orang yang mengampu atau mewakili kurandus.
Kurandus adalah orang yang cacat mental atau orang yang dibawah pengampuan (obyeknya).
Wali adalah orang yang ditunjuk pengadilan untuk mewakili anak yang tidak mempuyai orang tua / orang
tuanya bercerai / kehilangan hak asuh anaknya.
Perwalian dibedakan dalam :
1. Methelijk Voogdij (perwalian menurut undang-undang), yaitu perwalian dari orang tua yang masih
hidup, setelah salah satu meninggal terlebih dahulu.
2. Testamenter Voogdij (perwalian secara wasiat), yaitu perwalian yang ditetapkan oleh seorang dari orang
tua , yang punya hak orang tua atau perwalian, kepada orang lain setelah orang tua meninggal dunia.
3. Datieve Voodgij, yaitu perwalian selain poin a dan b.
Wali pengawas pekerjaannya adalah mengawasi pekerjaan wali.
Wali pengawas di Indonesia pekerjaannya dijalankan oleh Pejabat Balai Harta Peninggalan (Wesskamer).
Sakit jiwa = gila
Penyakit jiwa = orang yang jiwanya terganggu (depresi)
Klepto adalah ada rasa yang tidak tahan untuk menganbil sesuatu yang menarik hatinya (sadar).
Pencuri adalah rasa mengambil karena bernilai.
Family Recht
Membicarakan tentang :
a. Kewajiban orang tua terhadap anaknya dan sebaliknya.
Kekuasaan orang tua berlaku selama ayah dan ibunya masih dalam ikatan perkawinan.
Kekuasaan orang tua berhenti apabila :
1. Anak telah dewasa atau telah kawin terlebih dahulu (sebelum usia dewasa)
2. Perkawinan orang tua putus.
3. Kekuasaan orang tua dipecat oleh hakim (misalnya karena pendidikannya buruk sekali).
4. Pembebasan dari kekuasaan orang tua(misalnya karena kelakuan si anak luar biasa nakalnya sehingga
orang tua tidak berdaya lagi).
b. Tentang perkawinan.
Asas perkawinan menurut hukum Perdata :
Yaitu Monogami (PP No 10 Tahun 1983) menyebutkan TNI, Pegawai, Polri tidk boleh menikah lebih dari
1.
Islam : Monogami tapi tergantung sikon istri yang dimadu (Monogami bersyarat).
Harta bersama adalah harta yang dimiliki setelah menikah, kecuali hibah atau warisan atau hadiah.
Peraturan-peraturan hubungan keluarga mencakup :
1. Perkawinan dan hak-hak suami istri
2. Kekayaan perkawinan

3. Kekuasaan orang tua
4. Perwalian dan penganpuan
Ketentuan seseorangmenjadi subyek hukum adalah mulai saat dia dilahirkan sampai meninggal dunia,
namun ada pengecualiannya yang diatur dalam Pasal 2 KUH Perdata ayat (1) yang berbunyi :
“Anak yang ada dalam kandungan ibunya dianggap sebagai telah dilahirkan, bilamana kepentingan si
anak dikehendaki”.
Hukum perkawinan adalah peraturan hukum yang mengatur perbuatan-perbuatan hukum serta akibatakibatnya antara 2 pihak, yaitu seorang laki-laki dan seorang perempuan dengan maksud hidup bersama.
Syarat-syarat yang pokok yang harus dipenuhi untuk sahnya suatu perkawinan antara lain :
1. Pihak-pihak calon mempelai dalam keadaan tidak terikat tali perkawinan.
2. Laki-laki berumur 18 th, wanita (paling sedikit) berumur 15 th. Dilakukan dimuka Pegawai Catatan
Sipil.
3. Dengan kemauan bebas.
4. Tidak ada pertalian darah yang terlarang.
Alasam putusnya perkawinan (Pasal 199) :
1. Kematian.
2. Kepergian suami atau istri selama 10 tahun.
3. Akibat perpisahan meja dan tempat tidur.
4. Perceraian.
Hak dan kewajiban suami istri dalam BW tercantum dalam Bab V Pasal 103 sampai dengan Pasal 118,
berisi :
1. Kekuasaan marital ada pada suami, yaitu bahwa suami menjadi kepala keluarga dan bertanggung
jawab atas istri dan anak-anaknya.
2. Kewajiban nafkah dari suami.
3. Istri mengikuti domisili suami.
4. Istri berhak membuat surat wasiat tanpa izin suami, dll.
BUKU II : TENTANG KEBENDAAN (VAN ZAKEN)
HUKUM KEKAYAAN
Dalam sistem hukum Barat, untuk benda dibagi menjadi 2 macam :
1. Pasal 503 KUH Perdata terdiri dari benda berwujud dan tidak berwujud.
2. Pasal 504 KUH Perdata terdiri atas benda bergerak dan benda tidak bergerak. Hal ini dapat dilihat dari :
a. Sifatnya
(Pasal 509), benda bergerak adalah benda yang dapat dipindah-pindahkan dari suatu tempat ketempat
lainnya. Misalnya, kursi, meja, dll.
Sedangkan benda tidak bergerak adalah benda yang tidak dapat dipindahkan. Misalnya : tanah, kebun,
sawah, pohon.
b. Tujuannya
Benda tak bergerak adalah segala benda / barang yang pada sifatnya adalah termasuk ke dalam
pengertian benda bergerak. Namun senantiasa digunakan oleh pemiliknya dan menjadi alat tetap pada
benda tidak bergerak.
Misalnya: di pabrik terdapat benda bergerak menurut sifatnya tapi menjadi benda tak bergerak, yaitu
penggilingan, apitan besi, tong, dll.
c. Undang-undang.
Benda tak bergerak adalah segala hak atas benda tak bergerak misalnya : hak pakai hasil atas benda
yang tak bergerak. Benda bergerak karena ketentuan undang-undang adalah hak atas benda bergerak.
Misanya, sero, hak pakai atas benda bergerak.
Jaminan Utang
Hipotik
: hak atas benda (jaminan tak bergerak) tanah
Yang digadaikan suratnya
Pan
: hak atas bendanya (bergerak) pegadaian

Yang digadaikan baragnya
Vidusia: hak sewa pakai
Lising / hak milik
Bila benda bergerak dijadikan jaminan utang, maka jaminan itu disebut gadai (panel), sedang kalau yang
dipakai sebagai jaminan adalah benda tak bergerak, maka namanya adalah hipotik.
Dalam hukum perdata barat, diatur hak-hak kebendaan, antara lain:
a. Hak Eigendom (dalam BW, dalam KUH Perdata disebut Hak milik), merupakan hak milik mutlak atas
suatu benda dan dapat dinikmati secara bebas asal dipergunakan tidak bertentangan dengan undang-undang
dan tidak mengganggu orang lain.
b. Hak postal merupakan hak untuk mempuyai atau mendirikan bangunan di atas tanah milik oang lain
dengan mendapatkan ijin dari pemiliknya.
c. Hak erfpacht adalah hak untuk mempergunakan benda tetap milik orang lain dengan membayar uang
canon (pacht) pada tiap-tiap tahun baik berupa uang atau benda lain, atau buah-buahan. (hanya benda
tetap).
d. Hak pakai hasil (vruchtgebruik) adalah hak atas benda tetap atau bergerak, untuk digunakan seluruhnya
serta memungut hasilnya, sedang sifat benda tersebut tidak boleh berubah ataupun berkurang nilaiya. (tetap
dan bergerak asal tidak merubah fungsi).
e. Hak Hipotik adalah hak tanggungan yang berupa benda tak bergerak.
f. Hak gadai adalah hak tanggungan yang berupa benda bergerak.
g. Hak servituut (hak pekarangan).
*Point b-c-d merupakan hak-hak atas tanah orang lain.
Dengan keluarnya Undang-Undang No. 5 Thun 1960 tentang Undang-Undang Pokok Agraria, maka berarti
mencabut Buku II Kitab Undang-Undang hukum Perdata sepanjang yang mengenai bumi, air, dan kekayaan
alam yang terkandung di dalamnya.
Undang-undang Pokok Agraria menciptakan hak-hak atas tanah, antara lain:
1. Hak milik
2. Hak guna usaha
3. Hak guna bangunan
4. Hak pakai
5. Hak sewa, dll
HUKUM WARIS
Hukum waris barat (Erfrecht) diatur pasal 830 dan seterusnya, adalah hukum yang mengatur kedudukan hukum
harta kekayaan seseorang setelah ia meninggal dunia, terutama berpindahnya harta kekayaan itu kepada orang
lain (ahli waris).
Perbedaan hukum waris BW dan Hukum waris islam :
Hukum waris BW :
- Harta tidak hanya kekayaan (hutang termasuk warisan)
- Ada sikap ahli waris (aktiva dan pasiva)
1. Menerima dengan sepenuhnya (ZUIVERE AANVARDING)
2. Menerima dengan syarat (BENEFICIARE)  pewaris menerima warisan dengan syarat tertentu
(tidak sepenuhnya).
3. Menolak warisan (VERWEPEN)
Hukum waris islam :
1. Warisan berupa aktiva saja. Hutang adalah seharusnya dibayarkan oleh ahli waris jika mampu.

Mewaris dalam hukum perdata barat dibagi dalam :
1. Pewarisan atas dasar ketentuan undang-undang (ab-intestaat).

2.

Pewarisan atas dasar surat wasiat (testamenter). Testamen adalah akte yang memuat pernyataan seseorang
tentang apa yang dikehendaki dan terjadi setelah ia meninggal dunia. Dan yang olehnya dapat dicabut
kembali
Ahli waris dapat dibagi menjadi 4 golongan, antara lain:
1. Turunan dan janda pewaris
2. Orang tua dan saudara dari pewaris
3. Leluhur pewaris baik dari pihak bapak atau ibu
4. Keluarga sedrah lainnya sampai derajat ke-6
Para ahli waris dalam garis lurus ke bawah (anak, cucu) dan ahli waris garis lurus ke atas (orang tua) berhak atas
“legitieme portie” yaitu suatu bagian tertentu dari harta peninggalan yang tidak dapat dihapuskan oleh orang
yang meninggalkan warisan. Ahli waris yang berhak legitieme portie disebut legitimaris.
Dalam pasal 838 KUH Perdata, ditentukan siapa-siapa yang tidak patut / dicoret namanya sebagai ahli waris dan
karenanya dikecualikan sebagai ahli waris (ONWARDIG orang yang tidak boleh mewaris). Mereka adalah :
1. Yang telah dihukum kaena dipersalahkan telah membunuh atau mencoba membunuh si pewaris.
2. Yang dengan putusan hakim pernah dipersalahkan karena secara fitnah telah mengajukan pengaduan
terhadap pewaris, yaitu suatu pengaduan dimana pewaris telah melakukan suatu kejahatan yang terancam
dengan hukuman penjara 5 tahun atau hukuman lebih berat.
3. Yang dengan kekerasan atau perbuatan telah mencegah si pewaris untuk membuat atau mencabut surat
wasiat si pewaris.
4. Yang menggelapkan, merusak, dan memalsukan, surat wasiat pewaris.
BUKU III : TENTANG PERIKATAN
Yang dimaksud dengan perikatan adalah suatu perhubungan hukum (mengenai kekayan harta-benda) antara 2
pihak yang memberi hak kepada yang satu untuk menuntut barang yang sesuatu dengan yang lainnya,
sedangkan pihak yang lainnya diwajibkan memenuhi tuntutan itu.
Apabila seorang berhutang tidak memenuhi kewajiban menurut bahasa hukum ia melakukan “wanprestasi”,
yang menyebabkan ia dapat digugat ke pengadilan. Sebelum ia dinyatakan melakukan wanprestasi, lebih dahulu
harus dilakukan “somasi”, yaitu suatu peringatan kepada si berhutang (debitur), agar memenuhi kewajibannya.
Sumber Perikatan :

UU

Undang-undang itu sendiri
Perb. Mnusia
Perb.Mnrut Hukum
Perb.Mlnggr Hku m
Perjanjian

Perjanjian adalah sumber dari perikatan.
Syarat Syah perjanjian (Psl 1320 BW)
1. Adanya kesepakatan
Adanya kemauan bebas dari kedua belah pihak berdasarkan persesuaianpendapat, artinya tidak ada paksaan
(dwang), penipuan (bedrog), dan kekeliruan (dwaling)
2. Cakap
Adanya kecakapan bertindak pada masing-masing pihak.
3. Obyek tentang yang diperjanjikan
Sesuatu hal tertentu (ada objek tertentu)yang diperjanjikan.
4. Adanya kausa halal
Ada suatu sebab yang halal, artinya tidak terlarang atau tidak boleh bertentangan dengan aturan hukum.
*point 1 dan 2 merupakan syarat objektif atau dapat dibatalkan.
*Point 3 dan 4 merupakan syarat subyektif artinya batal demi hukum.
Contoh perikatan yang lahir kaena perjanjian adalah :
a. Perjanjian jual beli.
b. Perjanjian sewa menyewa.
c. Pinjam pakai, dll.
Perikatan yang lahir dari undang-undang karena :
1. Perbuatan manusia menurut hukum.

(Pasal 1354) Zaakwarneming
Sukarela mengurus kepentingan orang lain.
Misal: mengurus kebun tetangga yang baru ditinggal pergi.
2. Perbuatan manusia melanggar hukum.
(pasal 1365)  Onrechtmatigdaad
Yaitu mewajibkan orang yang melakukan perbuatan karena kesalahannya telah menimbulkan kerugian,
untuk membayar kerugian.
Suatu perikatan dapat hapus dengan alas an-alasan seperti berikut :
1. Karena pembaharuan hutang (novasi) hutang lama diganti dengan hutang baru.
2. Karena kompensasi, jika seorang berhutang mempunyai suatu piutang terhadap si berpiutang sehingga
kedua orang sama-sama berhak untuk menagih piutang satu kepada yang lain.
3. Karena pembebasan hutang, yaitu bila kreditur membebaskan segala hutangnya.
4. Karena musnahnya barang yang dijanjikan, perjanjian batal.
5. Karena pembatalan, dalam perjanjian itu ternyata salah satu pihak tidak cakap.
6. Karena lewat waktu atau daluarsa.
BUKU IV : TENTANG KADALUARSA DAN PEMBUKTIAN
Pembuktian termasuk hukum acara materiil, sehingga dimasukkan kedalam hukum perdata materiil.
Menurut undang-undang, ada 5 macam pembuktian, yaitu :
1. Surat-surat
Surat-surat dapat dibagi menjadi:
a. Surat akte
Yaitu suatu tulisan yang dibuat untuk membuktikan suatu hal atau peristiwa dan harus ditanda tangani.
Akte dibagi menjadi
- Akte resmi
Dibuat dimuka pejabat umum yang diunjuk oleh undang-undang. Misalnya: notaris, hakim, jurusita
di pengadilan, pegawai catatan sipil.
- Akte dibawah tangan
Yaitu akte yang dibuat tidak dengan perantaraan seorang pejabat umum. Misalnya surat jual beli
atau sewa menyewa yang ditanda tangani sendiri oleh kedua belah pihak. Dan kekuatan hukumnya
sama dengan akte resmi.
b. Surat-surat lain
Yaitu tulisan yang bukan merupakan akte. Misalnya: surat faktur atau catatan yang dibuat oleh suatu
pihak. Kekuatan pembuktiannya diserahkan kepada hakim untuk mempercayainya
2. Kesaksian
Dalam undang-undang ditetapkan bahwa keterangan seorang saksi tiaklah cukup, harus ditambah dengan
alat bukti lain.
3. Persangkaan
Yaitu suatu kesimpulan yang diambil dari suatu peristiwa yang sudah terang dan nyata. Persangkaan ada 2
macam, antara lain:
a. Persangkaan menurut undang-undang
Merupakan pembebasan dari kewajiban membuktikan sesuatu hal untuk keuntungan salah satu pihak
yang berperkara. Misalnya; pembuktian kuitansi 3 bulan berturut-turut, akan terbebas membuktikan
kuitansi dari bulan-bulan sebelumnya.
b. Persangkaan menurut hakim
Dilakukan dalam pemeriksaan dimana untuk pembuktian suatu peristiwa tidak bisa didapatkan saksi
mata. Misalnya perkara perzinahan
4. Pengakuan
Pengakuan yang dilakukan dimuka hakim merupakan pembuktian yang sempurna.
5. Sumpah
Ada 2 macam sumpah, yaitu :
a. Sumpah yang menentukan (Decissoir)

Yaitu sumpah yang diperintahkan oleh salah satu pihak yang berperkara kepada pihak lain.
b. Sumpah tambahan (Suppletoir)
Yaitu sumpah yang diperintahkan oleh hakim kepada salah satu pihak yang berperkara bila hakim
berpendapat bahwa di dalam suatu perkara sudah terdapat suatu permulaan pembuktian yang perlu
ditambah dengan penyumpahan.
BAGIAN V
ASAS-ASAS HUKUM PIDANA
Sejarah KUH Pidana di Indonesia :
KUH Pidana berasal dari  Belanda (WVS atau Wetbook Van Strafrecht  Code Civil  Corpus Yuris Penal
(Hukum Romawi).
Hukum Pidana disebut juga Criminal Law
Asas legalitas
Asas legalitas dapat diabaikan apabila menyangkut keselamatan negara.
Asas ini tercantum dalam pasal 1 ayat (1) KUH Pidana yang berbunyi “Tiada suatu perbuatan yang dapat
dipidana kecuali atas kekuatan aturan pidana dalam perundang-undangan yang telah ada, sebelum perbuatan
dilakukan”. Nullum delictum nulla poena sine praevia lege poenali, asas ini oleh beberapa ahli disebut sebagai
asas legalitas.
Rumusan tersebut berasal dari sarjana Anselm Von Feuerbach. Maksud dari teori ini adalah membatasi
hasrat manusia untuk berbuat kejahatan, sehingga ancaman hukuman ini bersifat preventif.
Teori Von Feuerbach ini diberi nama Teori Paksaan Psikologis (Phychologische dwang).
Pembagian hukum pidana:
1. Hukum Pidana objektif (Jus Punale)
Yaitu: semua peraturan yang mengandung keharusan atau larangan, yang pelanggarannya diancam dengan
hukuman yang bersifat siksaan.
a. Hukum Pidana Formil (Hukum Acara pidana)
Memuat peraturan tentang bagaimana memelihara dan mempertahankan hukum pidana materiil.
b. Hukum Pidana Materiil
Mengatur apa, siapa, dan bagaimana orang dapat dihukum. Hukum pidana materiil dibagi dalam :
- Hukum pidana umum
Hukum pidana yang berlaku terhadap setiap orang.
- Hukum pidana khusus
Hukum pidana yang berlaku khusus untuk orang-orang tertentu. Misalnya hukum pidana
militeryang khususnya hanya berlaku bagi anggota militer.
2. Hukum Pidana Subjektif (Jus Puniendi)
Yaitu hak negara atau alat perlengkapannya untuk menghukum seseorang berdasarkan hukum pidana.
Tindak Pidana adalah : suatu perbuatan yang bertentangan dengan hukum yang apabila dilanggar akan
mendapat sanksi yang mengakibatkan penderitaan bagi yang melanggarnya.
Tindak Pidana / delik / Peristiwa Pidana / strafbaarfeit ada 2, yaitu:
1. Berupa kejahatan (MINDRIJVEN)
Merupakan delik hukum (recht delict), yaitu perbuatan yang bertentangan dengan keadilan. Misalnya,
pembunuhan.
2. Berupa pelanggaran (OVERTREDINGEN)
Merupakan delik undang-undang (wet delict) yaitu perbuatan yang oleh umum baru disadari bahwa dapat
dipidana karena undang-undang menyebutnya sebagai delik. Misalnya, membuang sampah di jalan.
Hubungan dari kedua tindak pidana diatas adalah :
Kejahatan pasti tindak pidana (karena kejahatan salah satu bentuk tindak pidana). Namun, tindak pidana belum
tentu kejahatan (karena kadang kala tindak pidana dapat berupa pelanggaran).
Unsur Tindak Pidana;
1. Unsur Obyektif

a. Berupa perbuatan (Pasal 362 KUH Pidana  tentang pencurian).
b. Berupa akibat (Pasal 338 KUH Pidana  tentang pembunuhan)
c. Berupa keadaan-keadaan tertentu (Pasal 282 KUH Pidana  tentang pornografi) tergantung tempo dan
waktu
2. Unsur Subyektif
a. Toerekeningvarbarhaid
b. Schuld (kesalahan)
Tidak ada pidana tanpa kesalahan (Geenstraf zonder schuld).
Ada 2, yaitu
- Dolus (sengaja)
- Culpa (tidak disengaja)
Dalam pasal 10 diatur 2 macam hukuman, yaitu :
1. Hukuman / Pidana Pokok
Yaitu hukuman yang dapat dijatuhkan terlepas dari hukuman yang lain. Yang terdiri dari :
a. Hukuman mati
b. Hukuman penjara
c. Hukuman kurungan
d. Hukuman denda uang
2. Hukuman / Pidana Tambahan
Harus dijatuhkan bersama dengan pidana/hukuman pokok, terdiri dari :
a. Pencabutan hak-hak tertentu
b. Perampasan barang-barang tertentu
c. Diumumkannya keputusan hakim
Mengenai dasar pembenaran penjatuhan pidana ada 3 teori, yaitu:
1. Teori absolut
Tujuan dari pemidanaan terletak pada hukum pidana itu sendiri. Barang siapa yang melakukan suatu
perbuatan pidana, harus dijatuhi hukuman / pidana.
2. Teori Relatif
Tujuan dari pemidanaan adalah untuk:
a. Mencegah terjadinya kejahatan
b. Menakut-nakuti sehingga orang lain tidak melakukan kejahatan
c. Untuk memperbaiki orang yang melakukan tindak pidana.
d. Memberikan perlindungan kepada masyarakat terhadap kejahatan
3. Teori gabungan
Merupakan kombinasi dari 2 teori sebelumnya, tujuan penjatuhan pidana karena orang tersebut melakukan
kejahatan dan agar ia jangan melakukan kejahatanya lagi.
Dalam KUH Pidana diatur dalam hal-hal apa seorang terdakwa tidak perlu menjalani hukuman/pidana,
yaitu karena :
a. Matinya terdakwa (pasal 83)
b. Daluarsa (pasal 85)
Sedangkan diluar KUH Pidana, ada aturan mengenai hal tersebut, yaitu:
a. Pemberian amnesti oleh presiden (dihapuskannya akibat hukum pidana terhadap orang yang melakukan
pidana)
b. Pemberian grasi oleh presiden (pengampunan yang diatur dalam undang-undang No. 22 tahun 2002)
Dalam KUHP itu juga diatur hapusnya kewenangan (jaksa) untuk menuntut, yaitu :
1. Nebis in idem (Pasal 76)
2. Daluarsa (Pasal 78)
3. Matinya terdakwa (Pasal 77)
4. Pembayaran denda maksimum kepada pejabat tertentu, maka pelanggarannya hanya diancam denda saja
(pasal 82)
5. Abolisi (penghapusan penuntutan)

6. Amnesty (diatur dalam undang-undang darurat Nomor 11 tahun 1954)
Dalam hukum pidana berlaku asas individualisme yaitu pidana hanya diberlakuakan pada orang yang
melakukan tindak pidana itu sendiri
BAGIAN VI
ASAS HUKUM TATA NEGARA
A. PENGERTIAN NEGARA DAN PROKLAMASI
Negara berasal dari bahasa latin, yaitu status atau statum yang berarti keadaan yang tegak dan tetap atau
sesuatu yang memiliki sifat-sifat yang tegak dan tetap.
Terdapat beberapa pendapat mengenai apa itu negara.
 Menurut Logemann
Sesuatu organisasi kemasyarakatan yang bertujuan dengan kekuasaannya mengatur serta
menyelenggarakan suatu masyarakat.
 George Wilhelm Friedrich Hegel
Negara = organisasi kesusilaan yang muncul sebagai sintesis dari kemerdekaan individual dan
kemerdekaan universal
 Krannenburg
Negara = suatu organisasi yang timbul karena kehendak dari suatu golongan atau bangsanya sendiri.
 Prof. Mr. Soenarko
Negara = organisasi manyarakat yang mempunyai daerah tertentu, dimana kekuasaan negara berlaku
sepenuhnya sebagai sebuah kedaulatan.
Jadi Negara adalah suatu wilayah di permukaan bumi yang kekuasaannya, baik militer, politik, ekonomi
maupun sosial budayanya diatur oleh pemerintahan yang berada di wilayah tersebut.
Pengertian Proklamasi dalam garis besarnya adalah:
a. Lahirnya Negara Republik Indonesia
b. Puncak perjuangan pergerakan kemerdekaan, setelah berjuang berpuluh-puluh tahun.
c. Titik tolak dari pelaksanaan Amanat Penderitaan Rakyat.
d. Sebagai titik tolak perubahan tata hukum kolonial menjadi tata hukum nasional.
Hukum Tata Negara di Belanda dikenal dengan istilah staatsrech. Di Perancis hukum tata negara disebut
dengan Droit Constitutionnel. Di Jerman disebut dengan Verfassungrecht dan di Inggris disebut dengan istilah
Constitutionnal law.
Beberapa pendapat mengenai pengertian hukum tata negara menurut para ahli :
1. Logemann
Merupakan hukum yang mengatur organisasi negara.
2. R. Kranenburg
Merupakan hukum mengenai susunan hukum dari negara yang terdapat dalam Undang-Undang Dasar
suatu negara.
3. Utrecht
Merupakan hukum yang mempelajari soal kewajiban sosial dan kekuasaan pejabat negara.
4. Kusumadi Pudjosewojo
Hukum yang mengatur bentuk negara dan bentuk pemerintahan serta menunjukkan masyarakat hukum
yang atasan dan yang bawahan serta tingkatannya dan yang selanjutnya mengesahkan wilayah dan
lingkungan rakyat dari masyarakat hukum itu dan akhirnya menunjukkan alat perlengkapan dari
masyarakat hukum tersebut beserta susunan dan wewenang serta tingkatan imbang dari dan antara alatalat perlengkapan tersebut.
Jadi hukum tata negara adalah hukum yang mengatur organisasi negara atau organisasi kekuasaan suatu negara
beserta segala aspek yang berkaitan dengan negara.
B.
1.

UNSUR-UNSUR NEGARA
Rakyat (Masyarakat)
Untuk mengetahui siapa warga negara Indonesia, dapat dilihat pada pasal 26 ayat (1) dan (2) UUD
1945.
Adapun asas kewaganegaraan yang multi-multi dipergunakan sebagai dasar untuk menentukan
seseorang masuk warga suatu negara, didasarkan kepada:

a.

Asas Keturunan (Ius Sanguinis)
Kewarganegaraan seseorang menurut pertalian atau keturunan dari orang yang bersangkutan.
b. Asas tempat Kelahiran (Ius Soli)
Kewarganegaraan seseorang menurut negara/tempat ia dilahirkan.
Di dalam menentukan kewarganegaraan diperlukan dua stelsel kewarganegaraan, yaitu:
a. Stelsel aktif
Seseorang harus melakukan tindakan hukum tertentu secara aktif untuk menjadi warga negara
b. Stelsel pasif
Seseorang dengan sendirinya dianggap menjadi WN tanpa melakukan suatu tindakan hukum tertentu.
Sehubungan dengan kedua stelsel itu harus dibedakan:
a. Hak Opsi (Hak memilih suatu kewarganegaraan)  aktif
b. Hak Repudiasi (Hak menolak kewarganegaraan)  pasif
Perumusan mengenai HAM yang diakui dunia Internasional yaitu tanggal 10 Desember 1948 (Declaration of
Human Rights) di Paris yang diproklamasikan oleh General Assembly dari united Nation Organization. Berbeda
dengan Konstitusi RIS maupun UUDS 1950 yang telah tencantumkan atau mengambil oper semua hak-hak
asasi yang diakui oleh dunia Internasional.
Meski demikian, dalam UUD 1945 masih ditemukan beberapa ketentuan yang mengatur hak, kedudukan, dan
kemerdekaan tertentu bagi warga negara. Masing-masing tertera dalam pasal 27 ayat (1) dan (2), pasal 28, pasal
29 ayat (2), pasal 31 ayat (1), pasal 33, serta pasal 34.
Kemudian dengan adanya amandemen UUD 1945, pada perubahan yang ke-2 maka pasal-pasal yang mengatur
hak-hak asasi manusia tercantum dalam pasa 28a sampai 28j.
2. Wilayah atau daerah
Antara wilayah satu negara dengan wilayah negara yang lain dibatasi oleh batas tertentu. Batas daerah suatu
negara dapat terjadi dengan dua cara, yaitu :

Terjadi secara alamiah (dibatasi oleh gunung, sungai dll).
 Ditentukan dengan mengadakan perjanjian dengan negara lain yang berbatasan langsung dengan negara
tersebut.
Wilayah suatu negara meliputi :
 Daratan
Seluruh daerah bekas Hindia Belanda, termasuk Irian Barat.

Lautan
Menurut “Pengumuman Pemerintah tanggal 13 Desember 1957” oleh Kabinet Karya (Perdana Menteri
Ir. Juanda), wilayah perairan Negara Indonesia adalah: “Segala perairan sekitar, diantara dan yang
menghubungkan pulau-pulau yang termasuk Negara Indonesia dengan tidak memandang daratan
Negara Indonesia dan dengan demikian bagian dari perairan luas atau lebarnya adalah bagian yang
wajar dari pada perairan pedalaman atau nasional yang berada di bawah kedaulatan mutlak Negara
Indonesia.

Udara
Di atas teritorium daratan dan lautan tersebut yaitu berdasarkan Traktat Paris tahun 1919, yaitu udara di
atas teritorial negara adalah termasuk teritorial negara yang besangkutan..
3. Pemerintah yang berdaulat atau penguasa tertinggi
Pembagian kekuasaan yang disebutkan dalam UUD 1945 adalah:
- Kekuasaan menetapkan UUD dan menetapkan GBHN (kekuasaan tertinggi dalam negara)
- Kekuasaan perundang-undangan (legislative power)
- Kekuasaan pelaksana (exekutive power)
- Kekuasaan kehakiman (judikativ power)
- Kekuasaan memeriksa keuangan negara (inspective power)
- Kekuasaan memberikan nasihat (konsultative power)
Kedaulatan adalah kekuasaan yang tertinggi, yaitu kekuasaan yang tidak berada di bawah kekuasaan
yang lain.

Pemerintah yang berdaulat berarti :
 Ke dalam, pemerintah tersebut ditaati oleh rakyatnya, dapat melaksanakan recthsorde (ketertiban
hukum) dalam negara sehingga kesejahteraan rakyat terjamin.
 Ke luar, pemerintah negara tersebut mampu mempertahankan kemerdekaannya terhadap serangan dari
pihak lain.
4. Pengakuan dari negara lain
Unsur ini bukan merupakan unsur atau syarat mutlak terjadinya negara karena unsur ini bukan
merupakan unsur pembentuk bagi negara tetapi hanya bersifat menerangkan saja tentang adanya negara.
Tanpa pengakuan dari negara lain, suatu negara dapat berdiri. Misal:
1. Amerika Serikat memproklamirkan kemerdekaannya pada tahun 1776, walaupun Inggris baru
mengakuinya pada tahun 1873.
2. Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada tahun 1945,Belanda baru mengumumkan
pengakuannya pada tahun 1949.
Berkaitan dengan pengakuan dari negara lain, dikalangan ahli hukum internasional terdapat 2 teori yang
bertentangan, yaitu:
 Declaratory Theory/Evidentiary Theory (Teori Deklaratif)
Menyatakan apabila semua unsure negara dimiliki oleh suatu masyarakat politik, maka otomatis ia
merupakan suatu negara dan harus diperlakukan sebagai negara oleh negara lain. Dengan kata lain,
hukum internasional secara ipso facto harus menganggap masyarakat politik yang bersangkutan
sebagai suatu negara dengan hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang dengan sendirinya melekat
padanya. Pengakuan hanya bersifat ‘pencatatan’ dari negara-negara lain bahwa negara baru tersebut
telah ada.
 Constitutive Theory (Teori Konstitutif)
Menyatakan bahwa walaupun unsur-unsur kenegaraan telah dimiliki oleh suatu masyarakat politik,
namun ia tidak secara otomatis diterima sebagai suatu negara di antara masyarakat internasional. Jika
ada pernyataan dari negara-negara lain yang mengakui masyarakat politik tersebut sebagai suatu negara
barulah masyrakat politik tersebut benar-benar telah memenuhi semua syarat sebagai suatu negara dan
dapat menikmati hak-haknya sebagai suatu negara baru.
C. SISTEM PEMERINTAHAN NEGARA
Sistem pemerintahan negara yang terdapat dalam penjelasan UUD 1945, ditgaskan sebagai berikut:
1. Indonesia adalah Negara yang berdasarkan hukum (rechtstaat)
Tidak berdasar kekuasaan belaka
2. Sistem konstitusional.
Pemeritah tidak bersifat absolutism (kekuasaan tak terbatas).
3. Kekuasaan Negara tertinggi di tangan MPR
4. Presiden ialah penyelenggara pemerintah negara yang tertinggi dibawah majelis
5. Presiden tidak bertanggung jawab kepada DPR
6. Menteri negara ialah pembantu Presiden, menteri negara tidak bertanggung jawab kepada DPR
7. Kekuasaan kepala negara tidak tak terbatas.
D. ASAS DESENTRALISASI, DEKONSENTRASI, DAN ASAS TUGAS PEMBANTUAN
Terdapat 3 asas yang berlaku antara lain:
1. Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintah oleh Pemerintah kepada Daerah Otonom
dalam rangka NKRI.
2. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang dari Pemeritah kepada Gubernur sebagai wakil
Pemerintah dan/atau perangkat pusat di daerah.
3. Tugas Pembantuan adalah penugasan dari pemerintah kepada daerah dan desa dan dari daerah ke desa
untuk melaksanakan tugas tertentu yang disertai pembiayaan, sarana dan prasarana serta SDM dengan
kewajiban melaporkan pelaksanaannya dan mempertanggungjawabkannya kepada yang menugaskan.
BAGIAN VII
ASAS-ASAS HUKUM ADMINISTRASI NEGARA

A. Istilah dan Pengertian
Sejarah hukum administrasi nrgara di Indonesia adalah :
Hukum tata Pemerintahan (adanya Surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tgl 30-12-1972 Nomor
198/U/1972 tentang Pedoman Kurikulum Kriminal) seteah itu diganti dengan Hukum Administrasi Negara
(menurut Surat Keputusan Direktur Jendral Perguruan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Nomor
30 Tahun 1983).
B. Freies Ermenssen dan Detourmement de Pouvoir
Freies Ermenssen adalah kemerdekaan yang diperlukan hukum administrasi negara untuk bertindak atas
inisiatif sendiri terutama dalam menyelesaikan masalah-masalah penting yang timbul secara tiba-tiba, dimana
peraturan penyelesaiannya belum ada serta belum dibuat oleh lembaga legislaif.
Detourmement de Pouvoir adalah hal yang dilakukan alat perlengkapan negara yang telah diberi kewenangan
namun tidak dipergunaakan sesuai tujuan yang telah diberikan oleh peraturan yang menjadi dasarnya.
Detourmement de Pouvoir sering terjadi karena akibat suatu Freies Ermenssen
C. Peraturan dan Ketetapan
Tugas dari administrasi negara adalah membuat peraturan serta membuat ketetapan.
BAGIAN IX
ASAS-ASAS HUKUM ACARA PERDATA
Pengertian Hukum Acara Perdata
Disebut juga hukum perdata formil yaitu aturan-aturan hukum yang mengatur cara bagaimana orang harus
bertindak terhadap dan di muka pengadilan dan cara bagaimana cara pengadilan itu harus bertindak, satu sama
lain harus melaksankan berjalannya peraturan-peraturan hukum perdata.
Hukum acara perdata prinsipnya mengejar kebenaran formil.
Pemeriksaan dalam acara perdata hanya dalam sidang.
Sumber hukum acara perdata masih terdapat dalam kodifikasi warisan zaman kolonial Belanda yang terdapat
dalam HIR (Herziene Islands Reglement)yang diterjemahkan menjadi RIB (Reglemen Indonesia yang
Diperbaharui)
Penggugat adalah pihak yang mulai membuat perkara.
Tergugat adalah pihak yang oleh pihak penggugat ditarik ke muka pengadilan.
Pengajuan gugatan pada prinsipnya harus tertulis, namun jika penggugat seorang yang buta huruf maan dapat
disampaikan secara lisan, kemudian Ketua memerintahkan untuk menuliskannya.
Pemeriksaan perkara dalam siding pengadilan adlah bersifat terbuka (Pasal 19 Undang-Undang Pokok
Kekuasaan Kehakiman).
Keputusan hakim juga harus diucapkan di siang terbuka (Pasal 20 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004).
Pemeriksaan dilakukan dengan siding terbuka artinya setiap orang dapat hadir mendengarkan jalannya sidang.
Tujuannya adalah :
1. Melindungi HAM
2. Menjamin adanya objektivitas peradilan.
Alat pembuktian dalam Hukum Acara Perdata antara lain:
a. Bukti tulisan
b. Bukti saksi
c. Persangkaan (dugaan)
d. Pengakuan
e. Sumpah
Asas-asas hukum acara perdata bersumber pada tiga kodifikasi hukum, yaitu:

a.

Reglemen hukum acara perdata, berlaku bagi golongan eropah di Jawa dan Madura (Reglement op de
burgelijke rechtscordering).
b. Reglemen Indonesia yang Diperbaharui (RIB), berlaku bagi golongan Indonesia di Jawa dan Madura
(Herziene Inlamhuh Reglement = HIR)
c. Reglemen hukum untuk Daerah seberang, berlaku bagi peradilan Eropah dan Indonesia di daerah luar Jawa
dan Madura (Recht-reglement Buitengewesten)
Semua sidang dilakukan dengan terbuka (hanya kasus tertentu yang dilakukan melalui sidang tertutup, misalnya
perceraian dan kasus-kasus yang berkenaan dengan tindak asusila)
Gugatan ada 2, yaitu
a. Bersifat tentang sengketa (hasilnya berupa keputusan)
b. Bersifat non sengketa (hasilnya berupa penetapan)
BAGIAN X
ASAS-ASAS HUKUM ACARA PIDANA
Hukum acara pidana atau hukum pidana formil adalah keseluruhan aturan hukum yang mengenai cara
melaksanakan ketentuan hukum pidana jika ad apelanggaran terhadap norma-norma yang dimaksud oleh
ketentuan ini.
Hukum acara pidana pronsipnya mengejar kebenaran materiil.
Pemeriksaan dalam hukum acara pidana dikenal dengan pemeriksaan di luar sidang.
Pemeriksaan dalam hukum acara pidana adalah sebagai berikut:
a. Pemeriksaan pendahuluan (Vooronderzoek).
b. Pemeriksaan terakhir (eindonderzoek), di dalam sidang Pengailan pada tingkat pertama.
c. Memajukan upaya hukum (rechtsmiddelen) yangdapat di jalankan terhadap putusan hakim, baik di tigkat
pertama maupun di tingkat banding.
d. Pelaksanaan putusan hakim
Penjelasan :
a. Pemeriksaan pendahuluan (Vooronderzoek).
Dalam tahap ini dipergunakan sebagai pedoman asas-asas sbb:
- Asas kebenaran materiil (kebenaran dan kenyataan)
- Asas Inquisitoir, yaitu bahan dalam pemeriksaan pendahuluan ini tertuduh/tersangka hanya merupakan
objek. (Khusus digunakan saat kita masih menggunakan hukum HIR)
b. Pemeriksaan terakhir (eindonderzoek), di dalam sidang Pengailan pada tingkat pertama.
Bertujuan apakah suatu tindak pidana betul-betul terjadi atau apakah bukt-bukti yang diajukan itu sah atau
tidak. Sifat pemeriksaan adaah accusatoir. Jaksa sebagai penuntut umum dalam melakukan penuntutan di
Indonesia menganut prinsip oportunita disamping kita masih mengenai prinsip yang lain yaitu prinsip
legalita. Prinsip oportunita yang menggantungkan hal akan melakukan suatu tindakan kepada keadaan yang
nyata dan yang ditinjau satu persatu. Alat bukti dalam yag dikenal dalam hukum acara pidana yang diatur
dalam KUHAP pasal 184 adalah :
1. Keterangan saksi
2. Keterangan ahli
3. Surat-Surat
4. Petunjuk
5. Keterangan terdakwa.
Tuntutan yang dibacakan oleh jaksa disebut requisitoir. Keputusan hakim (vonis) dapat berupa:
1. Putusan yang mengandung pembebasan terdakwa (vrijspraak), dalam hal ini perbuatan yang
dituduhkan jaksa tidak terbukti.

2. Putusan yang mengandung pelepasan terdakwa dari segala tuntutan (ontslag van rechtsvervolging),
dalam hal ini perbuatan yang dituduhkan jaksa terbukti tapi bukan merupakan kejahatan ataupun
pelanggaran.
3. Putusan yang mengandung penghukuman.
c. Memajukan upaya hukum (rechtsmiddelen) yangdapat di jalankan terhadap putusan hakim, baik di tigkat
pertama maupun di tingkat banding.
Dapat melanjutkan banding ke Pengadilan Tinggi. Apanila keputusan Pengadilan Tinggi belum
memuaskan, dapat meminta kasasi pada Mahkamah Agung.
d. Pelaksanaan putusan hakim.
Perbedaan Hukum Acara Perdata dan Hukum Acara Pidana :
a. Ada tidaknya suatu acara perdata adalah tergantung pada kemauan para pihak. Dalam hal in adalah
penggugat. Inisiatif hukum acara pidana datangnya dari pihak penguasa (jaksa), namun ada beberapa
kejahatan tertentu (delik aduan), dimana pihak penguasa baru bertindak sesudah ada pengaduan dari pihak
yang bersangkutan.
b. Di dalam hukum acara perdata semua pemeriksaan dilakukan didalam persidangan (di muka hakim), dalam
hukum acara pidana dikenal adanya pemeriksaan pendahuluan.
c. Di acara perdata para pihak tidak perlu dating menghadap sendiri ke pengadilan, dapat mewakilan atau
menguasakan. Pada acara pidana terdakwa harus menghadap sendiri sedangkan pembella hanya
mendampingi saja.
d. Dalam acara pidana, yang di kejar adalah kebenaran materiil, sedang pada acara perdata adalah kebenaran
formil.
Dengan diundangkannya UU No.8 Tahun 1981 tentang KUHAP, maka pelaksanaan Hukum Acara Pidana di
negara Indonesia di dasarkan kepada hukum nasional yang diciptakan sendiri. KUHAP yang lahir ini
dimaksudkan sebagai pelaksana dari UU No.14 tahu 1970 tentang ketentuan-ketentuan pokok kekuasan
kehakiman.
Hal-hal atau ketentuan-ketentuan baru yang merupakan perbedaan dengan ketentuan yang ada dalam
HIR antara lain :
a. Penyidikan
Penyidik (Pasal 6 ayat 1) adalah pejabat Polisi Negara RI dan pejabat pegawai sipil tertentu yang diber
wewenang khusus oleh undang-undang. Sedang mengenai kepangkatan pejabat masih akan diatur lenih
lanjut dengan peraturan pemerintah.
b. Pemisahan fungsi penuntut umum dan Polisi
Pemeriksaan pendahuluan untuk tindak pidana biasanya hanya dilakukan oleh pihk kepolisian.
c. Praperadilan
Lembaga ini dimaksukan untuk menentukan sah atau tidaknya penangkapan, penahanan, penghentikan
penyidikan, dan penghentian penuntutan (pasal 77).
d. Masa Penahanan
Dari pemeriksaan pendahuluan sampai dengan kasasi makimum 400 hari. Kalau waktunya habis dan
perkara belum selesai maka terdakwa harus dikeluarkan dari tahanan.
e. Setiap orang berhak mendapatkan bantuan hukum.
Wewenang mendampingi terakwa/tersangka telah dapat dinilai sejak saat pemeriksaan pendahuluan.
f. Ganti rugi dan rehabilitasi.
Dalam KUHAP diatur tentang ganti rugi dan rehabilitasi, sebagaimana diatur dalam pasal 77 dan 95.
g. Acara pemeriksaan
Meliputi: acara pemeriksaan biasa, acara pemeriksaan cepat (untuk pidana ringan yang ancaman pidananya
3 bulan atau denda Rp7.500,00), acara pemeriksaan singkat (pembuktian serta penerapan hukumnya mudah
dan sifatnya sederhana) dan acara pemeriksaan perkara pelanggaran lalu lintas.
h. Banding

Dalam pasal 67 disebutkan bahwa terdakwa atau penuntut umum tidak dapat banding dalam hal putusan
bebas lepas dari segala tuntutan hukum yang menyangkut masalah kurang tepatnya penerapan hukum dan
putusan pengadilan dalam acara cepat.
Pemeriksaan pendahuluan adalah suatu tindakan pengusutan dan penyelidikan apakah sesuatu sangkaan benarbenar beralasan atau mempunyai dasar-dsar yang dapat dibuktikan kebenarannya atau tidak.
Dalam kegiatan pemeriksaan pendahuluan terdapat 3 pekerjaan yang harus dilaksanakan, antara lain:
1. Pekerjaan pengusutan (opsporing), yaitu mencari dan menyelidiki kejahatan dan pelanggaran yang terjadi.
Tugas ini dibebankan kepada pejabat-pejabat kusus, misalnya kepala desa, camat, pejabat polisi umum,
penuntut umum pada pengadilan negeri, dll yang ditetapkan dalam perundang-undangan.
2. Penyelesaian pemeriksaan pendahuluan (nasporing), yaitu untuk meninjau secara yuridis, yakni
mengumpulkan bukti-bukti an menetapkan ketentuan pidana apa yang dilanggar.
3. Pekerjaan peuntutan (vervolging), yaitu pengajuan perkara ke sidang pengadilan oleh pegawai penuntut
umum atupun pembantu magistraat (kepala distrik, camat, mantra, polisi, atau yang ditunjuk oleh jaksa
agung).
Dalam tahap pemeriksaan pendahuluan, dipergunakan sebagai pedoman asas-asas berikut :
a. Asas kebenaran materiil
b. Asas inkwisitor, yaitu bahwa si tersangka hanyalah merupakan obyek dalam pemeriksaan, tidak
mempunyai hak apa-apa dan segala tindakan dilakukan dalam keadaan yang tidak terbuka untuk
umum.
Pemeriksaan di muka sidang pengadilan bersifat akusator yang berarti si terdakwa mempunyai kedudukan
sebagai pihak yang sederajat menghadapi pihak lawannya yaitu penuntut umum.
Setelah pemeriksaan selesai penuntut umum (jaksa), membacakan tuntutannya (requisitoir) dan menyerahkan
tuntutan itu kepada hakim. Setelah hakim memperoleh keyakinan dengan alat-alat bukti yang sah akan
kebenaran perkara-perkara tersebut, maka ia akan mempertimbangkan hukuman yang akan dijatuhkannya.
Menurut R.I.B keputusan hakim (vonnis) dapat berupa :
a. Pembebasan dari segala tuduhan apabila sidang pengadilan menganggap bahwa perkara tersebut kurang
cukup bukti-bukti.
b. Pembebasan dari segala tuntutan hukum apabila perkara yang diajukan itu dapat dibuktikan akan tetap tidak
merupakan kejahatan maupun pelanggaran.
c. Menjatuhkan pidana (hukuman) apabila tindak pidana itu dapat dibuktikan bahwa terdakwalah yang
melakukan dan hakim mempunyai keyakinan dan kebenarannya.
Keputusan hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum yang menikat harus dilaksanakan dengan segera oleh
atau atas perintah jaksa:
a. Oleh jaksa jika keputusan itu mengenai hukuman denda atau hukuman perampasan (penyitaan)barangbarang tertentu dari terhukum.
b. Atas perintah jaksa jika mengenai hukuman lainnya.
Apabila terdapat kasus sampai MA (kasasi) masih ada upaya hukum maka berlaku grasi (dari presiden)