You are on page 1of 2

PASAS LAIN HUKUM PIDANA

1.

2.

3.

4.

ASAS TERITORIAL ( DAERAH )
Bahwa UU hukum pidana berlaku untuk setiap orang ( baik WNI/WNA ) yang melakukan tindak
pidana / delik didalam wilayah kedaulatan NKRI (pasal 2 KUHP)
Asas ini mendasarkan TEMPAT berlangsungnya tindak pidana / delik itu terjadi. Yang termasuk
wilayah kekuasaan KUHP itu selain daratan (teritorial) juga lautan dan udara teritorial juga
kapal-kapal berbendera Indonesia yang berada di luar perairan Indonesia (pasal 3 KUHP).
Pasal 3 adalah perluasan dari pasal 2 KUHP.
Ada beberapa perkecualian atas asas teritorial yaitu terhadap :
a. Hak exterritorial orang – orang asing tidak berlaku hukum Negara dimana mereka
tinggal. Yaitu : Dubes, konsuler, sekjen PBB, anggota PBB, yang singgah di Indonesia
tentara yang punya ijin berkunjung, ABK perang asing pasal 9 KUHP
b. Hak Immuniteit / Parlementair ( Hak kekebalan ) = bahwa para anggota DPR / MPR dan
DPRD dan menteri tidak dipidana untuk segala yang dikatakan dan ditulis dalam gedung
parlemen. Diatur dalam TAP MPR I / MPR / 1978 dan 83 UU no.13/70 (tidak diatur dalam
KUHP).
ASAS NASIONAL AKTIF (PERSONALITEIT)
Bahwa UU hukum pidana berlaku juga untuk WNI yang berada di luar negeri. Asas ini
mendasarkan pada ORANG yang melakukan kejahatan. (pasal 5 ayat 1 sub 1) KUHP. Untuk
dapat menuntut WNI di luar negeri harus diperluka dulu penyerahan (extradisi) oleh Negara
ybs kepada kita.harus melalui saluran diplomatic (dengan didahului dg perjanjian penyerahan /
extradisi dulu.
EKSTRADISI adalah sebuah proses formal dimana seorang tersangka criminal ditahan oleh
suatu pemerintah diserahkan kepada pemerintah lain untuk menjalani persidangan atau
tersangka tersebut sudah disidang dan ditemukan bersalah.
MLAT (Mutual Legal Assistance Treaty) : istilahnya merengek2 untuk mendapatkan keringanan
hukuman jika sebelumnya tidak ada perjanjian ekstradisi.
ASAS NASIONAL PASIF (Perlindungan).
Bahwa UU Pidana Indonesia berkuasa untuk mengadakan penuntutan terhadap siapapun diluar
Negara RI dan terhadap orang asing diluar RI.
Asas ini mendasarkan pada kepentingan / keselamatan hukum suatu Negara yang dilanggar
seseorang.
Yang termasuk perbuatan yang merugikan Negara adalah memalsukan uang Indonesia,
materai, lambang Negara, cap Negara, surat hutang pemerintah Indonesia dll.
Hal ini diatur dalam KUHP pasal 4 ayat 1,2,3 pasal 7 dan pasal 8.
ASAS UNIVERSIL
Bahwa UU hukum pidana dapat diberlakukan terhadap kejahatan yang merugikan keselamatan
Internasional yang terjadi dalam daerah tidak bertuan. Maksudnya adalah daerah yang tidak
termasuk dalam kedaulatan Negara manapun seperti lautan terbuka / kutub. Yang termasuk
didalamnya adalah : pembajakan di laut (piracy), pemalsuan mata uang Negara-negara. Diatur
dalam pasal 4 (4) KUHP.

CARA MERUMUSKAN NORMA DAN SANKSI DALAM HUKUM PIDANA
Hukum Pidana terdiri dari 2 unsur yaitu norma dan sanksi yang harus ditaati oleh setiap orang
yang dapat menimbulkan hubungan hukum dalam kepentingan umum guna pengaturan individu dan
masyarakat. Karena manusia adalah ZOON POLITICON atau makhluk sosial sehingga perlu adanya
norma (HOMO HOMINI LUPUS)  karena pada dasarnya manusia ingin selalu menguasai manusia lain.
1.

2.

CARA MERUMUSKAN NORMA
a. Menentukan unsur-unsur dari perbuatan yang dilarang / diharuskan. Contoh pasal
224,281,136,182,408,112
b. Menyebutkan norma/kualifikasi dari tindakannya saja. Contoh : pasal 351 hanya
menyebutkan norma penganiayaan saja,170
c. Unsur dan kualifikasi disebutkan semua. Contoh pasal 362 (pencurian), pemerasan (368),
penggelapan (372), penipuan (378).
CARA MERUMUSKAN SANKSI
a. Menuliskan pasal dan ayatnya berisi norma berikut sanksinya. Misalnya : KUHP

b.

Menuliskan norma pada bagian awal dan sanksi pada bagian-bagian berikutnya. Misalnya :
pada UU no 3 / 1997 UU Pengadilan Anak.==== sanksi da norma terpisah.

PERBUATAN PIDANA disebut juga delik/tindak pidana/perbuatan pidana (STRAFBAARFEIT/DELICT)
/JARIMAH.
Adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum disertai sanksi (ancaman) berupa pidana
bagi pelanggar larangan. Jadi larangan ditujukan pada perbuatannya (kejadian yang ditimbulkan) ;
ancaman pidana ditujukan pada orang ( yang menimbulkan kejahatan tersebut)
Perbuatan pidana (CRIMINAL ACT  bhs. Inggris dan ACTUS REUS  bahasa Latin.
UNSUR – UNSUR TINDAK PIDANA
1.
2.
3.
4.
5.

6.

Sikap tindak / perilaku manusia.
Termasuk perumusan kaidah hukum pidana (tertulis)
Melanggar hukum (kecuali ada pembenaran)
Didasarkan pada kesalahan.
Unsur Obyektif = berasal dari luar diri pelaku
Berupa perbuatan ( pasal 362 no.1 KUHP/kejahatan pencurian)
Berupa akibat (pasal 338 KUHP / pembunuhan)
Berupa keadaan-keadaan tertentu (pasal 282 / pornografi )  tergantung ruang
dan waktu
Unsur Subyektif = berasal dari diri pelaku
Toerekening Varbaarheid (pertanggung jawaban secara pidana)
Schuld (kesalahan) GEEN STRAF ZONDER SCHULD tidak ada pidana kalau tidak
ada kesalahan.
 DOLUS : sengaja
 CULPA : tidak sengaja

SISTEMATIKA KUHP
1.
2.
3.

BUKU I : Aturan Umum (pasal 1-103)
BUKU II : Kejahatan ( pasal 104 - 488 )
BUKU III: Pelanggaran ( pasal 489 – 569)

Kejahatan (MINDRIJVEN)
Adalah Rechtsdelicten / dalam KUHP buku II
Pelanggaran (OVERTREDINGEN)
Adalah Wetdelicten / dalam KUHP buku III

PERBEDAAN KEJAHATAN DAN PELANGGARAN
KEJAHATAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Hukuman lebih berat
Dibedakan antara sengaja dan
alpa
Acara lebih teliti dan sulit
Percobaan
dan
pembantu
melakukan dijatuhi hukuman
Pidana tidak dapat diganti
dengan denda
Ada delik aduan
Kadaluarsa penuntutan dan
gugurnya waktu menjalani
hukuman lebih lama.

PELANGGARAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Hukuman ringan
Tidak dibedakan sengaja alpa
Acara lebih mudah dan cepat
Tidak dijatuhi
Pidana dapat digantikan dengan
denda setinggi2nya.
Tidak ada delik aduan
Kadaluarsanya lebih pendek.