You are on page 1of 19

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Definisi Hepatitis B
Menurut Ling dan Lam (2007) hepatitis B adalah infeksi yang terjadi
pada hati yang disebabkan oleh Virus Hepatitis B (VHB). Penyakit ini bisa
menjadi kronis atau akut dan dapat pula menyebabkan radang hati, gagal
hati, sirosis hati, kanker hati, dan kematian.

2.2

Epidemiologi Hepatitis B
2.2.1 Etiologi Hepatitis B
Menurut National Institutes of Health (2006) etiologi hepatitis
B adalah virus dan disebut dengan Hepatitis B Virus. Misnadiarly
(2007) menguraikan VHB terbungkus serta mengandung genoma
DNA melingkar. Virus ini merusak fungsi lever dan sambil merusak
terus berkembang biak dalam sel-sel hati (hepatocytes).
Akibat serangan itu sistem kekebalan tubuh kemudian
memberi reaksi dan melawan. Kalau tubuh berhasil melawan maka
virus akan terbasmi habis, tetapi jika gagal virus akan tetap tinggal
dan menyebabkan hepatitis B kronis dimana pasien sendiri menjadi
kanker atau pembawa virus seumur hidupnya (Misnadiarly, 2007).

riwayat penyakit . Faktor-faktor heteroseksual yang mempengaruhi untuk meningkatnya infeksi hepatitis B adalah lamanya aktivitas seksual. jumlah pasangan seksual. dan parental (WHO. 2003).2 Transmisi Hepatitis B VHB menular kontak dengan cairan tubuh. horiontal. Transmisi ini paling penting dalam prevalensi daerah endemis tinggi khususnya di Cina dan Asia Tenggara (Yamada. Transmisi atau perjalanan alamiah VHB hingga terinfeksi pada manusia terjadi melalui 4 cara penularan yaitu perinatal. Daerah dan cairan tubuh yang lain merupakan faktor penting untuk media penularan. Transmisi ini terjadi pada anak-anak yang berusia 4 – 6 tahun yang menyebar melalui kontak fisik yang dekat atau dalam keluarga (Yamada. Perilaku homoseksual dalam jangka 5 tahun akan beresiko tinggi untuk terinfeksi hepatitis B. Manusia merupakan satu-satunya host (pejamu) dari virus ini. Transmisi kontak seksual merupakan sumber penularan utama di dunia khususnya pada daerah-daerah endemis rendah seperti Amerika. 2002). kontak seksual. 2003). Transmisi horizontal yaitu transmisi dari orang ke orang yang dikenal terjadi pada daerah yang endemik tinggi yakni di Afrika SubSahara. Transmisi perinatal merupakan transmisi virus hepatitis B dari ibu ke bayi selama periode perinatal.2.2.

dan masyarakat Inuit Canada. Taiwan.3 Prevalensi Infeksi Virus Hepatitis B Yatim (2007) menguraikan prevalensi infeksi virus hepatitis B kedalam 3 tingkatan. Asia Tenggara (walaupun Singapura. 2006).2. Islands Pasific (tidak termasuk Jepang). negara dengan prevalensi rendah (HbsAg 2 – 7%). negara-negara yang termasuk kedalam prevalensi VHB tinggi adalah: Afrika sub-Sahara. 2. pekerja kesehatan. 2002). dan serologi sifilis yang positif (WHO. dialisis (cuci darah). dan negara dengan prevalensi VHB rendah (HbsAg <2%). Jumlah persentase populasi VHB yang tergolong prevalensi tinggi mencapai 45% penduduk. Resiko terinfeksi hepatitis B melalui transfusi darah sekarang sudah mulai berkurang karena sudah ada skrining untuk hepatitis B walaupun kemungkinan untuk terinfeksi masih ada (Zain. Menurut Andre (2004). dan tatoo. Transmisi parenteral dapat berupa penggunaan jarum suntik secara bersama. dimana 8% dari populasi itu dengan Hepatitis B Surface Antigen (HbsAg) positif. transfusi darah. penduduk asli Mediterania Timur. . Amerika Selatan. akupunktur. Resiko infeksi VHB seumur hidup mencapai lebih dari 60%. yaitu negara dengan prevalensi VHB Tinggi (HbsAg lebih dari 8%).menular seksual sebelumnya. dan Malaysia dengan cepat menjadi daerah prevalensi kategori rendah/sedang sebagai hasil vaksinasi).

4 Kelompok Resiko Tinggi Tertular Hepatitis B Misnadiarly (20070 dalam bukunya menyebutkan kelompok resiko tinggi mudah tertularnya virus hepatitis B. dan keluarga yang kontak dengan pembawa karier VHB. Prevalensi sedangini diperkirakan sekitar 43%. Kebanyakan infeksi VHB dalam daerah ini terjadi pada orang dewasa mencakup para pemakai obat jarum suntik. 2. meliputi: 1. dan New Zealand (Populasi Maori). Mexico. Asia Barat-Daya. Canada. 2. Anak kecil di tempat perawatan anak yang tinggal di lingkungan epidemis. dimana 2 – 7% dari populasi itu dengan Hepatitis B surface Antigen (HbsAg) positif. Israel.Untuk negara-negara prevalensi sedang seperti: Eropa Timur. sedangkan resiko yang mengalami infeksi seumur hidup sebesar 20 – 60% pada semua kelompok umur. Australia. kaum homoseks. Amerika Selatan Amazon. Eropa Barat. Jepang. Untuk prevalensi rendah yaitu hanya sebesar 12% dari populasi dunia yang berasa pada daerah prevalensi rendah VHB dan kurang dari 20% dari populasi dunia yang berada pada daerah prevalensi rendah VHB dan kurang dari 2% dari populasi itu dengan HbsAg positif. dan yang mengalami resiko infeksi seumur hidup hanya kurang dari 20%. Negara-negara yang ke dalam prevalensi rendah tersebut seperti Amerika Utara. Seseorang yang tinggal serumah atau berhubungan seksual dengan penderita resiko tertular penyakit hepatitis B. .2.

Namun. oleh karena ketidaktahuan kondisi kesehatan pasangan. Dari infeksi akut berubah menjadi kronis. Pengguna narkoba dengan jarum suntik. 10. makin besar kemungkinan menjadi kronis kemudian berlanjut menjadi pengkerutan jaringan hati yang disebut dengan sirosis. 5. 6. sesuai dengan umur penderita. 8. Orang yang ikut akupunktur atau tatoo yang menggunaka jarum tidak steril. 2. Pengaruh infeksi hepatitis B banyak kasus yang tidak menunjukkan gejala klinis yang khas. Bila umur masih berlanjut keadaan itu akan berubah menjadi karsinoma hepatoseluler (Yatim.2. Makin tua umur. 2.3 Manifestasi Klinik Hepatitis B Infeksi hepatitis B yang akut akan terjadi dalam waktu 30 sampai 180 hari setelah virus memasuki tubuh. 2007). 7. HbsAg dalam darah penderita sudah mulai dapat diditeksi.5 Masa Inkubasi Hepatitis B Masa inkubasi VHB ini biasanya 45 – 180 hari dengan batasan 60 – 90 hari. Merekayang tinggal atau sering bepergian ke daerah endemis hepatitis B. Pekerja kesehatan. Mereka yang berganti pasangan.3. 4. Perubahan dalam tubuh penderita akibat infeksi virus hepatitis B terus berkurang. Kaum homoseksual. Pasien cuci darah. 9. dimana setelah 2 minggu infeksi virus hepatitis B terjangkit. pada . Mereka yang menggunaka peralatan kesehatan bersama seperti pasien dokter gigi dan lain-lain.

sakit menelan. Bila fungsi hati ini tiak mencapai . Hepatitis B akut tidak ada komplikasi. dimana 1 sampai 2 minggu kemudian barulah timbul kuning pada seluruh badan penderita. rasa tidak selera makan. biasanya diikuti pula dengan oleh pembesaran hati dan diikuti oleh rasa sakit bila ditekan di bagian perut kanan atas. batuk. Pada fase ini. Setelah gejala tersebut akan timbul fase resolusi yang biasanya berada dalam rentang waktu 2 – 12 minggu. Pada saat badan kuning. Gejala lain juga akan terjadi rasa lemas. akan mengalami resolusi lengkap berkisar 3 sampai dengan 4 bulan. dan pilek. dan kadang-kadang muntah. mual. Fungsi hati biasanya digambarkan oleh kenaikan SGOT dan SGPT. Gejala hepatitis B sangat mirip dengan flu. Warna kuning itu diikuti oleh perubahan fungsi hati (biasanya meningkat) pada pemeriksaan laboratorium. rasa takut cahaya. badan kuning dan ukuran hati dari hasil pemeriksaan laboratorium akan beragsur-angsur mencapai normal kembali. Satu samapai lima hari sebelum badan kuning. keluhan kencing seperti teh pekat dan warna buang air besar yang pucat seperti diliputi lemak juga dirasakan oleh penderita. sakit kepala. Saat ini biasanya penderita sudah pergi berobat karena merasa ada kelainan pada tubuhnya yang berwarna kuning.sebagian orang akan menunjukkan gejala klinis yang klasik seperti dimulai dengan gejala prodromal atau gejala pertama yang dirasakan oleh pasien adalah demam tidak terlalu tinggi.

Selain itu. idealnya skrining ibu hamil (trisemester ke-1 dan ke-3. bayi dari ibu VHB. 2. teresiko tinggi) dan skrining populasi resiko tinggi (lahir di daerah hiperendemis dan belum pernah imunisasi. Mencakup juga penyuluhan perihal sek yang aman. dan pemakaian sarung tangan oleh petugas medis. . Sebaiknya HBlg diberikan bersama vaksin VHB sehingga proteksinya berlangsung lama. maka inilah yang dikatakan dengan hepatitis B kronis (Zain. membuang jarum disposible ke tempat khusus. Imunisasi pasif adalah dengan memberikan Hepatitis B immune globulins (HBlg) dalam waktu sangat singkat segera memberikan proteksi meskipun hanya jangka pendek (3 – 6 bulan). HBlg hanya diberikan pada kondisi pasca paparan (needle stick injury. alat dialisis individual. pasien dialisis. 2006). terciprat darah ke mukosa atau mata). tenaga medis. keluarga pasien yang terinfeksi dengan VHB. kontak seksual dengan pasien VHB). penggunaan jarum suntik disposible. upaya pencegahan umum mencakup sterilisasi instrumen kesehatan. homo-heteroseksual. mencegah kontak mikrolesi (pemakaian sikat gigi.4 Pencegahan Hepatitis B Menurut Ranuh (2005). selain uji tapis donor darah. sisir). Pencegahan secara khusus meliputi imunisasi VHB secara pasif dan aktif. Secara umum. menutup luka. kontak seksual. pasangan seks ganda. secara garis besar upaya pencegahannya terdiri dari pencegahan umum dan pencegahan secara khusus.normal dalam waktu 6 bulan atau lebih.

2. .5.5. Tindakan yang dengan sengaja memberikan paparan pada suatu antigen berasal dari suatu patogen disebut dengan vaksinasi (Ranuh. Vaksin ini terdiri dari tiga seri dan bila diberikan sesuai anjuran akan menyebabkan terbentuknya respons protektif yang akhirnya akan berhasil menurunkan prevalensi infeksi VHB.5 Konsep Imunisasi 2. Vaksin adalah suatu produk biologik yang terbuat dari kuman (bakteri maupun virus). 2.2 Tujuan Pemberian Imunisasi Menurut Depkes (2005) menyebutkan tujuan imuniasi itu adalah untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I).1 Pengertian-Pengertian Terkait dengan Imunisasi Imunisasi adalah suatu cara untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit. atau tiruan kuman dan berguna untuk merangsang pembentukan kekebalan tubuh seseorang (Achmadi.Imunisasi aktif adalah dengan melaksanakan program imunisasi universal bagi bayi baru lahir yakni dengan memberikan vaksin VHB rekombinan yang tersedia. 2006). komponen kuman atau racun kuman yang telah dilemahkan atau dimatikan. 2005). 2005). sehingga bila kelak ia terpapar dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau sakit ringan (Depkes.

5. HIV/AIDS.4 Penyakit-Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi Menurut Depkes (2005). penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi adalah difteri. rotavirus.2. perotitus epidemica. varicella. termasuk imuniasi hepatitis B pada semua bayi di 100% . dan hepatitis B. yellow fever (demam kuning). Masalah dalam Pengembangan Program Imunisasi Dalam Pedoman Pekan Imunisasi Nasional (2005) menguraikan bahwa masalah pengambangan Program Imunisasi Nasional saat ini adalah belum meratanya angka cakupan imunisasi sampai 80%. pneumokokus. Avian Influenzae. demam berdarah. sasaran pemberian imuniasi adalah semua jenis penyakit-penyakit yang dapat dicegah melalui imuniasi yang meliputi penyakit-penyakit menular tertentu yaitu: 1.3 Sasaran Pemberian Imuniasi Menurut Depkes (2005). polio. tuberkulosis. 2. campak. pertusis. kolera. tetanus. influenzae. japanese encephalitis. Jenis-jenis penyakit lainnya yang dengan perkembangan ilmu pengetahuan akan menjadi penyakit yang dapat dicegah melalui pemberian imunisasi antara lain malaria. pneumoni. Jenis-jenis penyakit menular tertentu yang meliputi penyakit tuberkulosis. hepatitis B. shigellosis. tifus abdominalis. campak. difteri. 2. 2. meningitis meningokukos. haemophilus influenzae tipe B. hepatitis A.5. rabies.5 poliomielitis.5. rubella. pertusis.

Antigen yang diberikan telah dibuat demikian rupa sehingga tidak menimbulkan sakit namun memproduksi limfosit yang peka. dalam sel ragi (Hansenula Polymorophal) menggunakan teknologi DNA rekombinan (Depkes. dan mempunyai imunitas yang cukup. 2005). Imunisasi Hepatitis B 1. Suatu persyaratan sehingga vaksin dapat dinyatakan efektif bila. antibodi dan sel memori. 2005).5. Fenomena seperti ini memerlukan kajian untuk menentukan strategi yang tepat sebagai 2. Imuniasasi pasif dilakukan dengan memindahkan antibodi seperti pemberian immune globulins (HBlg). stabil dalam penyimpanan. dapat merangsang timbulnya imunitas yang tepat. namun cukup memberikan kekebalan (Bellamy. Cara ini menimbulkan infeksi alamiah yang tidak menimbulkan sakit.6 upaya pemecahan masalah. Efektivitas dan lama proteksi vaksin hepatitis B Vaksin yang akan digunakn harus betul-betul efektif dan harus ditinjau secara terus menerus. Deskripsi Vaksin Hepatitis B Vaksin hepatitis B adalah vaksin virus rekombina yang telah dinonaktifkan dan bersifat noninfeksius.desa/kelurahan yang ada di Indonesia. berasal dari HbsAg dihasilkan 2. 3. Strategi imunitas tubuh memproteksi infeksi virus hepatitis B Menurut Bellamy (2005). Imunisasi aktif adalah dengan memberikan paparan suatu antigen yang berasal dari suatu patogen. menjelaskan agar imunitas tubuh muncul untuk memproteksi agent spesifik dapat dilakukan melalui strategi pemberian imuniasasi secara pasif dan aktif. Efektivitas vaksin untuk mencegah infeksi .

karyawan di lembaga perawatan cacat mental. Vaksin ini beindikasi untuk pemberian kekebalan aktif terhadap infeksi yang disebabkan oleh virus hepatitis B (Depkes. yang berasal dari HbsAg yang dihasilkan dalam sel ragi (Hansanule polymorpha) menggunakan teknologi DNA rekombinan. Vaksin DPT/HB Kombo merupakn vaksin DPT dan hepatitis B yang dikombinasikan dalam suatu preparat tunggal dan merupakan sub unit virus yang mengandung HbsAg murni dan bersifat non infectious. sasaran pemberian vaksin hepatitis B adalah semua bayi baru lahir tanpa memandang status VHB ibu. dan heteroseksuals. pemilihan vaksin hepatitis B saat ini memiliki 2 pilihan yaitu vaksin hepatitis B dan DPT/HB Kombo. pasien koagulopati yang membutuhkan transfusi berulang. dimana memori sistem imun menetap minimal sampai dengan 12 tahun pasca imunisasi (Wahab. Vaksin VHB merupakan vaksin virus recombinan yang telah dinonaktifasikan dan bersifat noninfectious. 2005). pasien hemodialisis. 4. Sasaran pemberian imuniasi hepatitis B Menurut Ranuh (2005). homoseksual. 2002).VHB adalah lebih dari 95%. individu yang serumah pengidap VHB atau kontak akibat hungan seksual. individu yang karena pekerjaannya beresiko tertular VHB. Sehingga dengan adanya vaksin ini . drug users. 5. Vaksin pilihan untuk memproteksi infeksi virus hepatitis B Dalam pelaksanaan pemberian imuniasi hepatitis B.

sikap dan tindakan (Sarwono.6 Konsep Perilaku Kesehatan Perilaku manusia merupakn hasil dari pada ssegala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan. 2005). 8. 2004). dan 6 bulan karena respn antibodi pada usia itu sangat optimal (Ranuh. Kontra indikasi pemberian vaksin hepatitis B Kontra indikasi vaksin ini adalah pada bayi yang hipersensitif terhadap komponen vaksin hepatitis B. 2004). kemerahan dan pembengkakan di sekitar tempat penyuntikan. 2. maka yang . Jadwal pemberian imunisasi hepatitis B Jadwal pemberian imuniasi hepatitis B pada dasarnya sangat fleksibel sehingga tersedia beberapa pilihan untuk menyatukan dalam program imunisasi terpadu. 7. 6. Namun reaksi ini merupakan suatu proses yang normalkarena bersifat ringan dan hilang setelah 2 hari (Depkes. Semua makhluk hidup mempunyai perilaku. Sama halnya seperi vaksin-vaksin lain. Reaksi Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) hepatitis B Efek samping yang akan muncul setelah pemberian vaksin hepatitis B adalah akan munculnya reaksi lokal seperti rasa sakit. 2005).pemberian imuniasi menjadi lebih sederhana. dimana vaksin hepatitis B juga tidak boleh diberikan pada penderita infeksi berat yang disertai kejang (Depkes. 1. Jadwal yang dianjurkan adalah usia 0. 2005). Perilaku adalah aksi dari individu terhadap reaksi hubungan dengan lingkungannya. dan menghasilkan tingkat cakupan yang setara antara HB dan DPT (Depkes. Imuniasasi hepatitis B diberikan minimal 3 kali dan pertama diberikan segera setelah lahir.

dimaksud dengan perilaku manusia adalah tindakan atau aktivitas manusia seperti berbicara. apabila seseorang dalam keadaan sehat. bekerja dan lain sebagainya (Machfoedz dan Suryani. Perilaku gizi (makanan) dan minuman .6. 2. c. 2006). dimana orang yang sehatpun perlu diupayakan supaya mencapai tingkat kesehatan yang seoptimal mungkin. menjelaskan bahw aperilaku kesehatan itu merupakan respons seseorang (organisme) terhadap rangsangan stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit. 2004). tertawa. Perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok. Perilaku kesehatan adalah segala bentuk pengalaman dan interaksi individu dengan lingkungannya. b. Perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintenance) Perilaku atau upaya individu untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bilamana sakit. Perilaku pemeliharaan kesehatan terdiri dari 3 aspek meliputi: a. khususnya yang menyangkut pengetahuan. makanan dan minuman serta lingkungan. sistem pelayanan kesehatan. Kesehatan itu sangat dinamis dan relatif. Perilaku pencegahan penyakit dan penyembuhan bila sakit serta pemulihan kesehatan bilamana telah sembuh dari penyakit.1 Klasifikasi Perilaku Kesehatan Notoatmodjo (2003). dan sikap tentang kesehatan. Perilaku peningkatan kesehatan. menangis. serta tindakannya yang berhubungan dengan kesehatan (Sarwono. sebagai berikut: 1.

namun dalam memberikan respons sangat tergantung pada karakteristik atau faktorfaktor lain dari orang yang bersangkutan. Perilaku pencarian dan penggunaan sistem atau fasilitas pelayanan kesehatan atau sering disebut perilaku pencarian pengobatan (health seeking behaviour). Perilaku kesehatan lingkungan Bagaimana seseorang merespons lingkungan baik lingkungan fisik. Faktor-faktor yang membedakan respons terhadap stimulus yang berbeda disebut determinan perilaku (Notoatmodjo. Perilaku ini adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit dan atau kecelakaan dalam mencari pengobatan. keluarga dan masyarakat. namun respons tiap-tiap orang berbeda. tetapi sebaliknya makanan akan dapat menjadi penyebab menurunnya kesehatan seseorang. sehingga lingkungan tersebut tidak mempengaruhi kesehatannya. 2007). atau masyarakatnya. Dengan perkataan lain bagaimana seseorang mengelola lingkungannya sehingga tidak mengganggu kesehatannya sendiri. 2.Makanan dan minuman dapat memelihara kesehatan seseorang. Hal ini tergantung pada perilaku orang terhadap makanan dan minuman tersebut. 3.6. .2 Domain Perilaku Perilaku merupakan bentuk respons atau reaksi terhadap stimulus atau rangsangan dari luar organisme (orang). sosial budaya dan sebagainya. Hal ini berarti meskipun stimulusnya sama beberapa orang. 2. keluarga.

Akhirnya rangsangan itu. yakni objek yang akan telah diketahui dan disadari sepenuhnya tersebut akan menimbulkan respon . misalnya: tingkat kecerdasan. atau masyarakat) itu sendiri. jenis kelamin dan sebagainya. Berdasarkan pembagian domain Bloom dan untuk kepentingan pendidikan praktis. budaya. Faktor lingkungan ini sering merupakan faktor yang dominan yang mewarnai perilaku seseorang. Untuk membedakan determinan perilaku. ekonomi. tingkat emosional. Notoatmodjo (2007) membaginya menjadi 2 bagian yaitu: 1. 2. Notoatmodjo (2005) mengembangkan domain. keluarga. (2) sikap atau tanggapan peserta didik terhadap materi pendidikan yang diberikan (attitude).Faktor determinan perilaku ini ditentukan atau dipengaruhi oleh perilaku (individu. Terbentuknya suatu perilaku baru. politik dan lain sebagainya. ranah atau kawasan perilaku itu menjadi 3 tingkat yang terdiri dari: (1) pengetahuan peserta didik terhadap materi pendidikan yang diberikan (knowledge). sosial. yakni karakteristik orang yang bersangkutan. yang bersifat given atau bawaan. (3) praktek atau tindakan yang dilakukan oleh peserta didik sehubungan dengan materi pendidikan yang diberikan (practice). Determinan atau faktor internal. Determinan atau faktor eksternal. terutama pada orang dewasa dimulai pada domain kognitif. kelompok. dalam arti subjek tahu terlebih dahulu terhadap stimulus yang berupa materi atau objek di luarnya. yakni lingkungan fisik. sehingga menimbulkan pengetahuan baru pada subjek terhadap objek yang diketahui.

Hal ini disebabkan setiap orang mempunyai . sesuai dengan konsep pemahamannya yang terhadap digunakan perilaku. maka anggota-anggota masyarakat di dalamnya juga akan mengalami perubahan.lebih jauh lagi. Perubahan terencana (Planned Change) Perubahn ini terjadi karena direncanakan sendiri oleh subjek. Apabila dalam masyarakat sekitar terjadi suatu perubahan lingkungan fisik atau sosial budaya adan ekonomi. dan sebagian lagi sangat lambat untuk menerima inovasi atau perubahan tersebut. maka ia memutuskan untuk mengurangi rokok sedikit demi sedikit. Karena pada suatu saat ia terserang batuk sangat mengganggu. Kesediaan untuk berubah (Readiness to Change) Apabila terjadi suatu inovasi atau program-program pembangunan di dalam masyarakat. Misalnya. c.3 sehubungan dengan stimulus atau objek tadi. oleh para Menurut ahli dalam WHO dalam Notoatmodjo (2007). maka yang sering terjadi adalah sebagian orang sangat cepat untuk menerima inovasi atau perubahan tersebut (berubah perilakunya). b. dan akhirnya ia berhenti merokok sama sekali. Sebagian perubahan itu disebabkan karena kejadian alamiah.6. Pak Anwar adalah perokok berat. Bentuk perubahan perilaku Bentuk perubahana perilaku sangat bervariasi. yaitu berupa tindakan (action) terhadap atau 2. Perubahan alamiah (Natural Change) Perilaku manusia selalu berubah. perubahan perilaku itu dikelompokkan menjadi tiga: a. Perubahan Perilaku 1.

Cara ini akan menghasilkan perilaku yang cepat. Selanjutnya dengan pengetahuan-pengetahuan itu akan menimbulkan kesadaran mereka. cara menghindari penyakit. strategi untuk memperoleh perubahan perilaku dikelompokkan menjadi 3 kelompok yaitu: a. Pemberian informasi Dengan memberikan informasi-informasi tentang cara mencapai hidup sehat.kesediaan untuk berubah (readiness to change) yang berbedabeda. Meskipun kondisinya sama. dan akhirnya menyebabkan orang berperilaku sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya. Strategi perubahan perilaku Menurut WHO dalam Notoatmodjo (2007). Diskusi partisipasi Cara ini adalah sebagai peningkatan cara kedua yang dalam memberikan informasi tentang kesehatan tidak bersifat searah . cara pemeliharaan kesehatan. dan sebagainya akan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang hal tersebut. 2. b. akan tetapi perubahan tersebut belum tentu akan berlangsung lama karena perubahan perilaku yang terjadi tidak atau belum didasari oleh kesadaran sendiri. Cara ini dapat ditempuh misalnya dengan adanya peratran-peraturan/perundang-undangan yang harus dipatuhi oleh anggota masyarakat. Memberikan kekuatan/kekuasaan atau dorongan Dalam hal ini perubahan perilaku dipaksakan kepada sasaran atau masyarakat sehingga ia mau melakukan (berprilaku) seperti yang diharapkan. c.

Hal ini berarti bahwa masyarakat tidak hanya pasif menerima informasi. pelayanan kesehatan dan keturunan. tetapi juga harus aktif berpartisipasi melalui diskusi-diskusi tentang informasi yang diterimanya. faktor predisposisi (predisposing factors). Faktor . dan sebagainya. Faktor predisposisi (predisposing factors). yang dalam pengetahuan. tetapi dua arah. nilai-nilai.saja. perilaku. Untuk menganalisis determinan perilaku dari analisis faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku dan erat kaitannya dengan faktor internal dan eksternal dapat ditelusuri melalui salah satu konsep teori yang dikemukakan oleh Lawrence Green (1980) dalam Notoatmodjo (2005) yang menyebutkan bahwa perilaku ini ditentukan oleh tiga faktor utama yakni. perlu digali beberapa pendapat para ahli terdahulu yang ada kaitannya dengan faktor internal dan eksternal yang diperkirakan ada pengaruhnya terhadap perilaku ibu dalam pemberian imuniasasi hepatitis B. keyakinan.7 Landasan Teori Agar penelitian relevan dengan topiknya. Dengan demikian maka pengetahuan kesehatan sebagai dasar perilaku akan mereka peroleh dengan lebih mendalam. Blum dalam Notoatmodjo (2003) yang menyatakan bahwa ada 4 faktor yang mempengaruhi status kesehatan individu/masyarakat yaitu lingkaran. 2. Diskusi partisipasi adalah satu cara yang baik dalam rangka memberikan informasi-informasi dan pesan-pesan kesehatan. sikap. faktor pemungkin (enabling factors). di mana perilaku memberi pengaruh terbesar kedua setelah faktor lingkungan. kepercayaan. dan faktor penguat (reinforcing factors).

baik lingkungan fisik. dan sebagainya. politik. tingkat emosional. Dengan demikian Noatmodjo(2007) menyimpulkan bahwa faktor determinan perilaku itu dibedakan menjadi dua yaitu.8 Kerangka Konsep Kerangka konsep penelitian ini secara skematis dapat digambarkan pada bagan berikut ini: Bagan 2. ekonomi. tersedia atau tidaknya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana kesehatan.1 Kerangka Konsep Penelitian Variabel Independen Faktor Faktor Internal: Eksternal: o o Umur Peran petugas kesehatan o Pendidikan o Tingkat Dukungan tokoh masyarakat o Pengetahuan o Penghasilan o Jarak Sikap tempat tinggal dengan o o kepercayaan pelayanan kesehatan Variabel Dependen Perilaku ibu dalam pemberian imunisasi hepatitis B . Faktor lingkungan ini sering merupakan faktor yang dominan yang mewarnai perilaku seseorang. misalnya puskesmas. dan lain sebagainya. sosial. jamban. atau petugas yang lain. faktor internal dan faktor eksternal. Faktor penguat (reinforcing factors) yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan. yang terwujud dalam lingkungan fisik. misalnya: tingkat kecerdasan. budaya. Faktor eksternal yaitu lingkungan. yang bersifat given atau bawaan. obat-obatan. 2.pemungkin (enabling factors). Faktor internal adalah merupakan karakteristik orang yang bersangkutan. yang merupakan kelompok referensi dan perilaku masyarakat. alat-alat kontrasepsi. jenis kelamin dan sebagainya.