You are on page 1of 5

BAB.

XI
KEKUATAN LENTUR
11.1.

Tujuan Percobaan :
Setelah akhir praktikum mahasiswa dapat :

Menentukan keteguhan lentur statik contoh kayu dengan ketelitian yang
cukup.

Menerangkan cara pengujian lentur statik kayu.

Mempergunakan alat uji dengan terampil.

11.2.Dasar Teori
 ASTM

D

143-52

(REAPPORVED

1978)

ASTM

(BOOK

OF

STANDARD 1982
Pedoman pengujian sifat fisik dan mekanika kayu publikasi khusus LPHH
Bogor 1974.
Mengambil contoh secara random sampling atau cara acak dari pupuk
pengergajian kayu yang banyak di daerah-daerah. Contoh dibawa

ke

laboratorium untuk dipotong dibuat benda uji seperti gambar dibawah ini,
yaitu panjang 76 cm, lebar 5 cm, dan tinggi 5 cm.
Kayu balok tersebut ditumpuk diatas dua tumpukan dengan jarak
tumpukan 70 cm kemudian dibebani secara teratur pada mesin tekan
dengan alat lenturan

70 cm
76 cm

Mp
τet
w
τet

= ¼ pl
= (M/W) kg/l2
= 1/6 b t2
= (M/W) kg/l2
= (¼ pl / 1/6 bt2) =
¼ pl x 6/ bt2
=3/2 pl/bt2

P
5 cm

yang dapat memberi Batang penumpu beban secara teratur. Retak miring (Cross Graintension) 3. Benda Uji Kayu 5 cm 1. Macam Retak yang terjadi dalam pengujian keteguhan lentur statik 11.2.Alat 1. Alat dan bahan  Alat No.76 cm Gambar 11. dilengkapi pelentur dan ujungnya .1. Retak bersrabut ( Splintering Tension) 4. Retak tekan (Compression) 6. Retak datar (Horizontal) Gambar 11. Nama Alat Keterangan Mesin lentur.3. Putus (Brash Tension) 5. Retak tarik (Simple Tension) 2.

atau sampai mencapai defleksi. 11. atau sampai benda uji tidak mampu menahan beban sebesar 90 kg. pelentur Alat untuk pengukur deformasi Ketelitian 0. Panjang. Pembacaan kurva beban defleksi perlu dibedakan antara sebelum dan sesudah batas proposional. Pemberian beban tekan dan deformasi Beban dan defleksi lentur diukur sampai mencapai atau melampaui maksimum. maka dapat dipergunakan angka kenaikan beban sebesar 60 gram/menit. dipotong dari suatu balok yang lurus dan tanpa cacat. beserta micrometernya Alat pengukur panjang Bahan Contoh uji berukuran 5 x 5 x 76 cm.5 cm 2. Bila kecepatan gerakan beban tidak dicatat. Defleksi dicatat (dalam Kurva) dengan ketelitian 0. Pengukur defleksial diletakkan pada tengah-tengah benda uji di bawah batang pelentur.4.5 mm per menit dengan simpangan ± 25%. lebar.02 mm.05 mm 3. Prosedur Pelaksanaan a. Peletakan contoh benda uji Benda uji diletakan di atas dua penumpu yang jaraknya 70 cm dan batang pelentur diletakkan ditengah-tengah antara dua beban akan mengenai benda uji pada bidang tangensial yang terdekat dengan empelur. Kecepatan pemberian beban Beban lentur diberikan dengan kecepatan gerakan 2. Sebelum batas . c.dengan  batang penumpu dan berbentuk bulat Ø 7. dan tingginya diukur dengan teliti dan beratnya ditimbang. b.

Retak-retak setelah pengujian lentur Retak yang timbul pada pengujian keteguhan lentur Kemungkinan terjadi retak berikut ini: - Retak tarik - Retak mendatar - Retak miring - Belah putus - Retak berserabut - Retak tekan 11.5. P kg. Kalau defleksi terlalu besar. sehingga titik deflasi pada kurva akan terbatas jumlahnya.Analisa perhitungan dengan: P = beban lentur pada batas proposional (kg) L = jarak tumpu (70 cm) l = lebar benda uji (cm) t = tinggi benda uji (cm) diamati. misalnya pl kg. maka cara pembacaan dibalikkan yaitu defleksi tidak lagi dibaca dari setiap kenaikan deflasi 2. Maka penbacaan deflasi sebaiknya untuk setiap kenaikkan beban 25 kg. Beban lentur maksimum dicatat. .proposional defleksi dibaca untuk setiap kenaikan beban 5 kg.2 mm.6. d. Sesudah melewati batas proposional.Hasil percobaan Hal-hal yang perlu ditampilkan sebagai data hasil percobaan Deformasi (mm) Beban (kg) 11. Beban lentur pada batas proporsional dicatat.5 mm dengan ketelitian 0. dan hubungan beban dan defleksi digambarkan dalam kurva.

Keteguhan lentur maksimum adalah: Dengan. P1 = beban lentur maksimum (kg) Dengan: P = beban lentur pada batas proposional (kg) f = defleksi pada batas proposional (cm) .