You are on page 1of 2

Kasus : pelaku terorisme bom kuta setelah ditangkap kenapa tidak disiksa, bahkan akibat

bomnya telah melukai banyak orang
Dalam kasus ini kita ambil sebuah cotoh artikel oleh Pemimpin Redaksi Situs Berita
Katakami.com, MEGA SIMARMATA.
Dikutip dari situs ini “MENJELANG pelaksanaan eksekusi Amrozi Cs, satu hal yang sangat
mendasar dari permasalahan terorisme di Indonesia ini adalah kewajiban bagi seluruh aparat
penegak hukum melaksanakan dan menegakkan hukum secara murni dan konsekuen.
Fakta yang ditutupi selama ini terkait penanganan terorisme (khususnya Bom Bali I) sudah
saatnya dibuka kembali dan diangkat ke permukaan.
Komisaris Jenderal Gories Mere saat ini ( 2008 ) menjabat rangkap yaitu sebagai Kalakhar BNN
dan masih saja terus memimpin Tim Anti Teror Polri. Sudah saatnya ia dicopot dari jabatan
apapun di Polri sebab tidak pantas menduduki jabatan strategis. Gories Mere harus
mempertanggung-jawabkan semua tindakannya, yaitu mengapa pelaku utama kasus Bom Bali I
justru “dilindungi”?
Kesalahan utama dari Gories Mere ialah, ia diduga telah dengan sengaja “membebaskan”
TERORIS keji bernama Ali Imron. Mengapa Amrozi & Muklas dihukum mati, sementara pelaku
utama dari peledakan Bom Bali I yaitu Ali Imron bisa bebas dari ancaman hukuman mati?
Tanggal 17 Oktober 2008 yang lalu, Fauzan Al Anshari, salah seorang kerabat dekat dari Ustadz
Abu Bakar Baasyir berkunjung ke LP Nusa Kambangan untuk membesuk ketiga terpidana mati
kasus Bom Bali I, yaitu Amrozi, Muklas dan Imam Samudra.
Salah satu topik yang dibicarakan adalah ketidak-mengertian Muklas dan Amrozi tentang
“bebasnya” Ali Imron (adik bungsu mereka) dari jerat hukum. Amrozi mempertanyakan
nasibnya, mengapa bobot kesalahan dirinya yang bertugas membawa 1 ton karbit yang menjadi
bahan baku bom yang diledakkan di Bali justru dijatuhi hukuman mati?

Kemudian yang kedua adalah bahwa setiap tindakan hukum memiliki prosedur yang sistematis sehingga penyiksaan yang dimaksudkan bukanlah penyiksaan fisik yang diterima melainkan hukuman-hukuman yang sistemik sesuai dengan kesalahan yang telah dibuat. pelaku perakit Bom Bali 1 yang hanya dijatuhi hukuman seumur hidup dimana tidak semenitpun seteah dijatuhi hukuman terdakwa mendekam dipenjara. Kelalaian hokum di Indonesialah yang patutnya di pertanyakan.Sementara Ali Imron yang bertugas merakit bom dengan daya ledak sangat tinggi (very high explosive) dan terjun langsung alias terlibat dalam peledakan di Sari Club tanggal 12 Oktober 2002 bisa mendapatkan hukuman “hanya” pidana kurungan penjara seumur hidup. Penyebab utama dari anggapan bahwa teroris terdakwa pembunuhan tidak mendapat siksaan akibat dari tindakannya dikarenakan kasus daripada Ali Imron. . Sementara semua teroris lain harus meringkuk didalam tahanan. sementara kedua kakak kandungnya yaitu Amrozi & Muklas yang bertugas untuk membawa bahan peledak mendapat hukuman mati karena perbuatannya. untuk mendapatkan penanganan yang optimal. tidak satupun pelaku kejahatan dapat terbebas dari hukuman yang harur diterimanya. Dimana letak kebenaran dan keadilan dalam upaya penegakan hukum di negara ini kalau pelaku utama dari semua kasus terorisme bisa “disulap” untuk seakan-akan menjadi pahlawan kesiangan yang bertobat? Dan walaupun sudah dijatuhi hukuman. apakah seseorang yang bersalah namun dikatakan mau bekerja sama mengungkapkan kejahatan dapat semena-mena bebas dari kesalahan sementara telah menyakiti bahkan membunuh banyak orang. tidak satu menitpun pernah dilewatkan oleh Ali Imron di penjara. bahkan kedua kakak kandungnya akan segera ditembak mati pada awal bulan November 2008 “ Dari kasus diatas dapat dianalisa bahwa. Dalam kasus ini. meskipun kasus ini merupakan kasus lampau namun. masih diperlukan koreksi sehingga dikemudian hari. Dapat ditarik anggapan bahwa salah satu kelalaian yang terjadi terletak pada para penegak hukum sehingga para pelaku dapat dimanipulasi dan bahkan bebas dari jeratan hukum.