You are on page 1of 47

BAB III

PRINSIP-PRINSIP MEKANIKA GELOMBANG
RANGKUMAN
Dalam bab ini dikemukakan prinsip2 utama dari Mekanika Gelombang. Kita telaah
makna dari yang kita namakan “keadaan“ suatu sistem, cara bagaimana kita
mempresentasikan keadaan itu, dan bagaimana menarik informasi2 dari representasi tadi. Kita
pelajari juga perihal berubahnya keadaan dengan waktu, dan masalah2 lain yang berkaitan.
Kesemuanya ini kita rangkumkan dalam bentuk postulat2, yang menjadi landasan bagi
mekanika gelombang tersebut. Sebagai model yang ditinjau kita hampir selalu memilih yang
paling sederhana, yakni partikel yang bergerak dalam garis lurus di bawah pengarauh gaya
konservatif.
Dengan berakhirnya bab II kita sampai pada tahap seperti pada saat menjelang
lahirnya Mekanikan Kuantum terdahulu. Maka, kini kita akan mulai merumuskan pada
mekanika Kuantum itu sendiri. Teori baru ini kita perlukan, mengingat mekanika Klasik
dalam banyak hal terbukti tidak lagi memadai, sebagaimana telah kita lihat dalam bab
lalu. Namun ada baiknya jika kita lebih dulu mengingat kembali saat kita mempelajari
mekanika relativistik dalam perkuliahan Fisika Modern. Mekanika relativistik merupakan
perbaikan terhadap mekanika klasik, dan sebab itu lebih “benar” dari mekanika klasik.
Namun, dalam kecepatan2 rendah mekanika relativistik tak perlu kita terapkan, karena untuk
hal itu mekanika klasik (yang lebih sederhana) sudah memadai. Begitu pula halnya Mekanika
Kuantum yang kita hadapi sekarang.
Pertanyaan yang pertama-tama harus dikemukakan ialah: kapan kita perlu
menerapkan mekanika kuantum? Secara konseptual, teori baru ini mestilah lebih “benar” dari
yang digantikannya, tapi lagi, mekanika kuantum hanya perlu diterapkan dalam kawasan
dimana Mekanika Klasik tidak lagi mampu menjelaskan fakta2 yang dijumpai. Kalau bagi
teori relativitas daerah yang “non-klasik” itu umumnya dikaitkan dengan kecepatan, yakni
pada kecepatan2 dalam orde cahaya. Gejala2 kuantum itu muncul jika sistem tersebut
misalnya elektron, seperti telah kita lihat di bab I dan II. Sebab itu, secara umum dapatlah kita
ambil sebagai pedoman: kita baru memerlukan mekanika kuantum kalau sistem yang kita
hadapi itu ukuran besarnya dalam orde atomik, atau lebih kecil lagi (subatomik). Maka
sifat2 atom kita kenal, banyak yang hanya dapat diterangkan dengan mekanika kuantum. Dan
sudah barang tentu demikianlah pula “fisika” dari inti2, karena ukurannya memang jauh lebih
kecil lagi. Untuk sistem yang sehari-hari kita hadapi, sifat2 kuantum itu bukan tidak ada,
tapi tak teramati, sehubungan dengan ketelitian2 pengukuran yang kita punyai (dan kita
butuhkan). Kalau sistem atomik dan subatomik demikian secara singkat kita nyatakan
sebagai sistem “mikro”, untuk membedakannya dari sistem2 “makro” yang tak memerlukan
mekanika kuantum, maka dapatlah kita tuliskan sebagai rangkuman, berikut ini: Dalam
kuliah ini kita akan membatasi diri pada mekanika kuantum yang non-relativistik. Sebab
itu, “mekanika” dari foton2, karena kecepatan foton yang = c, berada di luar jangkauan kuliah
ini. Sistem utama yang kita hadapi adalah partikel2 yang bermassa. Sedangkan kalau kita
selanjutnya berbicara tentang foton, itu hanyalah dalam rangka analogi, atau perbandingan,
ataupun untuk melengkapi subjek pokok kita saja.

O K
ecepatan Kecepatan rendah
S
istem
O

Makroskopik
Mikroskopik

Mekanika klasik
Mekanika Kuantum
(non relativistik)

Kecepatan tinggi
Mekanika relativistik
Mekanika kuantum
relativistik

Kiranya berguna untuk mampu memeriksa secara agak lebih kuantitatif apakah
suatu sisitem adalah suatu “sistem kuantum” atau bukan. Prinsip ketidakpastian
Heisenberg sering dapat membantu kita dalam hal ini. Suatu ciri penanganan secara klasik
adalah dimana kita memaparkan posisi dan momentum secara bersamaan. Ini diperbolehkan,
sekiranya terpaut pengertian, bahwa ketidaktelitian eksperimental  x dan  px yang terdapat
disana memenuhi  x  px ? h.
Soal: dalam melukiskan gerakan suatu kelerang (massa 20 g) misalkan ketaktelitian
posisi  x (untuk titik beratnya) adalah 1 mm. sedangkan ketaktelitian kecepatan  vx adalah
1 cms-1, dalam orde kecepatan 10 ms-1. Apakah disini kita perlukan mekanika kuantum?
Jawab: Disini  x  Px = x m v x = (10-3) (20x10-3)(10-2)
= 2 x 10-7 ? h = 6,6x10-34Js.
Maka jelas untuk sistem ini kita tak memerlukan mekanika kuantum.Suatu sistem tentunya
harus kita perlakukan sebagai sistem kuantum kalau (  px)min nya, yaitu  px yang memenuhi
hubungan  Px  x ; h, adalah lebih besar atau dalam area px menurut perhitungan klasiknya.
Suatu ciri dari mekanika kuantum adalah adanya besaran2 dengan nilai2 yang
diskrit, misalnya energi. Tapi kalau ketidaktelitian pengukuran2 energi sistem itu jauh
melampaui selang energi sistem itu, maka sifat “kuantum” sistem ini tentu saja tak dapat
diamati. Dengan kata lain, energi tersebut tampak kontinu, dan sistem berlaku sebagai sistem
klasik saja.
3.1 Gerak dan Fungsi Gelombang
Dalam upaya perumusan gelombang ada tonggak2 yang menuntun kita, misalnya
apapun bentuk perumusan itu, mestilah ia:
a. ada sangkut pautnya dengan gelombang2 de Broglie (memenuhi
kaitan de Broglie)
b. mencakup keberlakuan prinsip ketidakpastian Heisenberg
c. menghasilkan adanya besaran dengan harga2 yang diskrit
d. memenuhi prinsip korespondensi.
Yang pertama-tama harus kita tangani adalah bagaimana caranya melaporkan
keadaan dinamis suatu sistem. Ambil sistem itu sistem sederhana, misalnya satu partikel,
elektron misalnya. Dalam teori klasik, melaporkan keadaan
gerak sistem itu setiap saat cukup
ur
r
dengan memberikan kedudukan r dan momentum p nya pada saat itu. Hal itu karena
r ur
spesifikasi ( r , p ) itu sekaligus telah menentukan nilai dari setiap besaran dinamis A sistem,
r
karena menurut klasik semua besaran dinamis itu kompatibel, dan nilainya ditentukan oleh r
ur
r ur
dan p itu, yakni A = A ( r , p ). Hal demikian tentulah tidak mungkin lagi dalam mekanika
kuantum, karena kedudukan dan momentum, menurut
Heisenberg, bukanlah merupakan
r
besaran2 kompatibel. Kalau kedudukannya pasti, di r misalnya, momentumnya sama sekali
tidak pasti, hingga sesungguhnya tak dapat menyatakan apa2 mengenainya. Perihal yang
paling umum tentunya adalah dimana posisi kita ketahui dalam batas2 suatu ketidakpastian 
2

x tertentu, begitu pula momentumnya dalam p x , dan antara  x dan p x itu selalu dipenuhi
 x  px > h. Perbedaan pandangan itu dijelaskan dengan diagram 2seperti berikut ini.

(a). Gambar klasik

(b) gambar kuantum
Gambar 3.1

Dalam pandangan klasik kita dapat berbicara, misalnya, tentang kedudukan yang tertentu bagi
suatu partikel pada suatu saat. Dalam fisika kuantum sebaliknya kita berbicara mengenai
berapa besarnya kebolehjadian partikel itu berada dalam suatu selang tertentu pada saat itu,
ataupun lebih umum, bagaimana bentuk fungsi distribusinya untuk posisi: P(x).
Pertanyaannya kemudian: bagaimana caranya kita melukiskan, atau melaporkan,
keadaan sistem pada suatu saat? Dengan jalan melukiskan fungsi distribusi dari semua
besaran sistem tentulah tidak praktis. Kalau bisa, lebih baik dengan pertolongan suatu fungsi
saja, dari mana kemudian fungsi2 distribusi tadi dapat kita peroleh melalui suatu prosedur
tertentu. Dan untunglah fungsi seperti ini ternyata memang ada, ia disebut fungsi gelombang
dari sistem itu. Dengan demikian:
Keadaan suatu sistem pada suatu saat dilukiskan oleh fungsi gelombangnya, yakni
 , pada saat itu. Fungsi gelombang ini mengandung informasi maksimum mengenai
sistem tadi pada saat itu.
Tentulah pernyataan seperti ini mengundang pertanyaan lebih lanjut, misalnya;
bagaimana caranya menarik informasi mengenai distribusi2 kebolehjadian dari fungsi
gelombang  itu? Pertanyaan2 ini harus, dan memang akan, dijawab dalam perumusan
mekanika gelombang yang akan kita pelajari ini. Namun kita akan bekerja secara bertahap,
dan saat ini kita akan memusatkan diri dulu pada gejala adanya fungsi gelombang itu, dan
bgaimana kaitannya dengan distribusi kebolehjadian bagi posisi.
3.2 Distribusi Kebolehjadian Posisi
Mari kita tinjau kembali percobaan difraksi Young memakai dua celah. Berkas cahaya
monokromatis dengan panjang gelombang  yang dijatuhkan pada dua celah sempit sejajar
akan membentuk suatu pola difraksi pada suatu layar yang dipasang di balik celah itu. Pola
difraksi yang berbentuk pola terang – gelap silih berganti itu dinyatakan dengan grafik
intensitas I (x) pada gambar di bawah, dengan puncak2 menunjukkan yang paling terang, dan
lembah menunjukkan tempat2 yang paling gelap.

3

Gambar 3.3
I (x) ini misalnya kita dapatkan sebagai derajat penghitaman pada suatu pelat film yang
diekspos pada kedudukan layar tersebut. Kita ingat, dari optika fisis kita secara teoritis dapat
pula memperoleh I (x) tersebut, melalui anggapan2 seperti berikut ini.
Pertama, pada layar tersebut jatuh gelombang2 elektromagnetik yang merupakan
superposisi dari gelombang2 yang datang dari masing2 celah itu, yakni:  =  1 +  2 (ini tak
lain adalah prinsip Huygens yang terkenal). Gelombang2  1 dan  2 ini mempunyai panjang
gelombang yang sama, yakni  tadi, dan bertolak dari celah dengan fase dan amplitudo yang
sama pula. Pada suatu kedudukan x terbentuk “fungsi gelombang”  yang berubah harmonis
dengan waktu dan yang amplitudonya dipengaruhi oleh perbedaan fase dari  1 dan 2 yang
sampai di titik itu. Kita ingat superposisi itu bersifat saling menguatkan – jadi menghasilkan
intesitas maksimum- pada arah sudut  dimana n sin  = n  , dan bersifat saling meniadakan
– dengan akibat I(x) minimum – pada sudut2 arah  dimana dipenuhi a sin  = ( n + 12 )  .
Jika kedudukan maksimum dan minimum itu sudah dapat diperoleh dari anggapan di atas,
tidak demikian halnya dengan fungsi I(x) sendiri. Untuk itu kita memerlukan anggapan
2
tambahan, yakni bahwa: I ( x )   (x) .
Hubungan ini kita kenal datang dari teori EM, yang menyatakan bahwa intensitas
sesaat pada suatu titik adalah sebanding dengan kuadrat dari besarnya gelombang EM pada
tempat itu. Untuk itu umumnya diambilkan vektor E nya dari gelombang EM tersebut. I(x)
yang kita tinjau tentulah berupa rata2 terhadap waktu dari intensitas sesaat, untuk mana  (x)
pada ruas kanan hubungan di atas hendaknya dibaca sebagai amplitudo dari gelombang pada
tempat yang bersangkutan.
Kemudian, tak ada yang berubah pada pola difraksi yang terjadi, dan sebab itu juga
penjelasan teoretisnya seperti di atas, jikalau kemudian berkas cahaya itu kita gantikan dengan
berkas elektron dengan panjang gelombang  yang sama. Ini sesuai dengan prinsip de
Broglie, prinsip mana kebenarannya tak kita ragukan lagi. Maka hasil difraksi yang serupa
dengan difraksi cahaya ini, jadi merupakan suatu bukti bahwa terkait dengan elektron2 itu ada
suatu fungsi gelombang  . Gelombang ini yang sering disebut sebagai gelombang materi,
dapatlah kita bayangkan dengan suatu cara memandu elektron2 itu sehingga jatuh pada layar
dalam suatu distribusi kerapatan yang diberikan oleh I(x).
Suatu hal kiranya memerlukan penekanan, yakni fungsi distribusi I(x) untuk elektron2
tadi berlaku dalam hal intesitas elektron datang itu cukup tinggi. Kita tidak akan mendapatkan
distribusi seperti itu lagi (juga dalam pengertian relatif) kalau elektron yang ditembakkan itu,
4

maka kita perolehlah pula bahwa Fungsi gelombang  dan  (  = konstanta) menyatakan keadaan yang identik. tapi ia harus kita interprestasikan sebagai ukuran rapat kebolehjadian elektron itu untuk mencapai layar pada kedudukan x. atau probabilitas. Situasinya adalah serupa dengan perihal melempar dadu. Dan karena sifat informasi ini tidak berubah kalau fungsi gelombang itu kita kalikan dengan suatu konstanta. dengan 5 .katakanlah 10. dalam setiap lemparan. Namun kalau kita ulangi melempar dadu tunggal itu berkali-kali dalam jumlah yang sangat banyak. Namun lagi. Sekarang baik kita lihat bagaimana bentuk ungkapan fungsi gelombang bagi keadaan yang paling sederhana. baik sekaligus maupun satu persatu. Lebih jauh lagi. Kaitan ini disebut interpretasi Born. atau 20. bahwa P( r1 )/P( r2 ) =  ( r1 )/ ( r2 ) . Khusus untuk hal ini kiranya sudah jelas. Hasil yang rata begini tak akan tampak kalau kita melempar 5 atau 10 dadu. atau 100 biji saja. katakanlah berjuta kali. Yakni. dalam lemparan banyak. Khususnya bagi satu elektron saja yang ditembakkan. Namun. atau Fungsi gelombang  mengandung informasi distribusi kebolehjadian posisi P(x) r 2 r melalui kaitan P( r )   ( r ) . namun pola I (x) itu tetap saja ada kaitannya dengan masing2 percobaan itu. peluang untuk keluarnya setiap mata dadu adalah sama besar. bahwa fungsi gelombang  itu menentukan rapat kebolehjadian P(x) ini sama seperti gelombang EM menentukan intesitas cahaya. karena P(x) itu terkait dengan suatu fungsi gelombang  (x). sebab hasil yang sama kita peroleh juga dalam lemparan satu-satu. Gelombang untuk hal ini mestilah harmonis. Jadi pula. sekiranya percobaan dengan menggunakan elektron satu demi satu itu kita ulang2 banyak kali. distribusi yang sebenarnya keluar akan mendekati pola distribusi peluang tersebut. maka untuk keseluruhan kita akan kembali memperoleh distribusi yang merata seperti semula. dan pula. kita sungguh2 tidak bisa menyatakan terlebih dahulu dimana dia akan jatuh pada layar tersebut. Jika kita melempar banyak sekali dadu sekaligus (sesudah dikocok rata) maka kita akan memperoleh hasil: setiap mata dadu keluar dalam jumlah yang kira2 sama banyak (yakni 100/6 %). maka fungsi gelombang yang sama mestilah juga ada tidak hanya dalam hal arus banyak elektron – tapi juga bahkan untuk hal elektron tunggal. Sebab ia menunjukkan bahwa. mengikuti nama orang yang pertama kali mengemukakannya. yang rata-rata itu adalah besarnya peluang. maka distribusi sampainya semua elektron itu pada layar akan kembali menjadi sama seperti pada percobaan semula yang memakai arus elektron dengan intensitas tinggi. r Makna fisik yang penting adalah besarnya probabilitas P( r ) itu secara relatif pada tempat2 u r ur 2 u r ur yang berbeda. Hasil ini adalah penting sekali. Analogi dengan melempar dadu ini dengan jelas membawa kita pada kesimpulan untuk peristiwa difraksi elektron tadi. walaupun pada setiap percobaan tadi elektron yang ditembakkan itu dapat terdifraksi kemana saja. dengan setiap kali kita catat dimana elektron itu mencapai layar. yakni perihal suatu partikel yang sedang bergerak sepanjang sumbu x dengan momentum yang pasti sebesar p. bagi setiap mata dadu itu. Jadi misalnya. seperti berikut: Bahkan dalam peristiwa dengan elektron tunggal distribusi I(x) itu tetap ada. jangankan pula kalau 1 dadu saja. pola “merata” itu mesti juga ada dalam peristiwa lemparan yang satu demi satu. Kita tidak bisa menyatakan hasil merata dalam lemparan sekaligus yang mula2 itu adalah akibat berinteraksinya dadu2 itu waktu dilempar. tapi mata dadu mana yang sebenarnya akan keluar tidak dapat kita tentukan terlebih dulu.

Melihat contoh ini dapatlah kita simpulkan bahwa pada umumnya fungsi2 gelombang adalah fungsi2 kompleks. fungsi gelombang untuk momentum sebesar p tapi dalam arah kebalikannya dinyatakan i dengan C e  h px ). dalam banyak hal kita toh akan menggambarkannya juga. yang grafiknya menunjukkan struktur puncak – lembah seperti di bawah ini. Dengan demikian. P (x)  A2 cos 2 ( px   h h ). jadi  (x) = A cos ( px   ) dengan A. atau kompleks? Misalkan ia real. (dengan mana. mestinya ruangan bersifat homogen terhadap kemungkinan menemukan partikel di dalamnya. misalnya  (x) = C hi px e 2 2 Disini P(x) =  (x) = C . Jadi ia haruslah berupa kombinasi linear dari cos dan sin 2 px dari x. yang memberikan grafik yang rata terhadap x.  real. akan kita gambarkan sebagai fungsi harmonis seperti pada gambar (a). dengan pengertian bahwa gambar yang dibuat itu secara figuratif saja mewakilkan  kompleks. Namun.4 Distribusi peluang seperti ini tidak bertentangan dengan syarat Heisenberg x =  ( sebab  p = 0). Namun kita toh merasa bahwa seharusnya ketidaktahuan kita tentang posisi dalam hal ini adalah total. Lain halnya kalau fungsi gelombang itu kompleks. sebab hanya fungsi2 real yang dapat dilukiskan. Dengan kata lain. maka Ce i px h misalnya. Tentu saja kita menghadapi kesukaran kalau kita ingin menggambarkan grafik fungsi gelombang yang kompleks tersebut. atau dari . (a) gel harmonis  (x) = C e h px (b) paket gelombang i 6 .panjang gelombang sebesar  = h/p. yakni fungsi2 dengan sifat   o. h  Pertanyaan seterusnya: apakah fungsi gelombang ini real. Sebab itu pada fungsi yang kompleks inilah pilihan kita jatuh untuk mempresentasikan perihal adanya momentum yang pasti sebesar p tersebut. Gambar 3. hal mana tidaklah diberikan oleh P(x) yang berbentuk gelombang itu. sebagaimana dikehendaki. Gambar (b) adalah gambar grafis dari apa yang kita sebut sebagai “paket gelombang”.

untuk gerak partikel i dalam satu dimensi. Nilai besaran tadi dalam keadaan eigen itu disebut nilai eigen besaran itu dalam keadaan tadi (istilah2 ini. yaitu  p (x) = C e h px (dimana C = konstanta). sebesar p tadi. Keadaan eigen momentum tersebut bukanlah merupakan contoh keadaan gerak partikel yang bisa kita jumpai.  p (x) = C e h px adalah fungsi eigen dari momentum yang berkaitan dengan nilai eigen sebesar p . Keadaan ini disebut sebagai suatu keadaan eigen bagi besaran momentum. kita akan memperoleh nilai p itu. syarat di atas mensyaratkan pula bahwa    ( x) 2 dx = berhingga (atau = <  ). kecuali bahwa  itu adalah selang dalam mana partikel itu mempunyai kemungkinan besar untuk ditemukan. setidaknya. Kita sebenarnya belum menentukan secara pasti definisi dari  . Tentu saja terdapat banyak keadaan eigen bagi momentum.Gambar 3. umumnya kita mempunyai taraf pengetahuan tertentu – walaupun mungkin kasar saja – tentang dimana partikel itu sedang berada. Tapi ini sudah cukup menunjukkan bahwa fungsi gelombang dalam keadaan itu mestilah = 0.3 Distribusi Kebolehjadian Momentum Dalam bagian sebelumnya diperlihatkan bagaimana kaitan de Broglie telah membantu kita merumuskan fungsi gelombang untuk keadaan partikel dengan momentum pasti sebesar i p. Nilai2  p dan  x begini. tidak menyalahi prinsip ketakpastian Heisenberg.. Maksudnya. ditempat2 jauh. dengan keadaan tersebut terkait suatu ketidakpastian  yang berhingga besarnya. Ini berarti. yang bearti. Kalau kita berbicara tentang suatu partikel. apabila dilakukan pengukuran momentum pada sistem dalam keadaan ini. atau  0. untuk harga2 yang berbeda dari momentum tersebut.6 Kemudian bahwa partikel itu ada (disekitar  itu) menunjukkan kerapatan kebolehjadian posisi P (x) mempunyai sifat   P( x)dx  1  2 karena P(x)   ( x ) .5 3. dalam keadaan ini besaran momentum mempunyai nilai yang pasti. yang baru kelak kita bicarakan).  7 . sebenarnya berkaitan dengan “permasalahan nilai eigen” besaran yang bersangkutan. Gambar 3. Suatu keadaan eigen momentum mempunyai p = 0 (karena harganya yang pasti tersebut) dan  =  (karena distribusi kebolehjadian posisinya yang uniform itu). Fungsi gelombang dari suatu keadaan eigen disebut fungsi eigen dari besaran yang bersangkutan. Jadi misalnya.

. lebih tegas lagi: kita dari postulatkan! Namun. akan segera pula terlihat bagaimana hubungan de Broglie dan sifat2 matematis tertentu dari paket2 gelombang menghadapkan kita hanya pada satu macam pilihan postulat saja. untuk suatu keadaan tertentu. sebagai berikut:    (x) = 1  ikx  1  ( x ')e  ikx 'dx ' dk 2 k  2 x '  dan menukar urutan integrasinya. Haruslah kita ingat bagaimana memproleh fungsi distribusi kebolehjadian momentum  ( x) itu – kalaupun itu mungkin – masih harus kita tetapkan. Sebaliknya ia akan kita jadikan titik tolak (karena ia mudah diingat) untuk memperoleh berbagai sifat2 lainnya. Dalam hal ini maka interprestasi Born menjadi P (x) =  ( x ) . kita namakan paket gelombang. merepresentasikan keadaan yang sama. Fungsi gelombang dari keadaan yang “fisikal” selalu berupa paket gelombang. yakni integral Fourier: 1   (x) =  ( k )eikx dk…………………………………. Sifat matematis yang dimaksud adalah yang menyatakan bahwa fungsi2 dalam bentuk paket gelombang selalu dapat dituliskan dalam bentuk integral. yakni = p).  = konstanta. Pertama. kecuali bila dinyatakan 2 lain.. dengan mensubstitusi  (k) dari (**) ke dalam (*). yakni bahwa  x  0 dan   2 dx <  .……………(**)  2  Kita tidak akan membuktikan dalil Fourier tersebut. menghasilkan  1  '  ( x )   ( x ')  eik ( x  x )dk dx’  x'  2 k  Selanjutnya mengingat pula bahwa 8 . jelas tidak mewakilkan suatu keadaan eigen momentum. dengan lebih dulu mengganti variabel integrasi dalam (**) menjadi x’. Suatu paket gelombang karena bukan fungsi harmonis. Kita ulangi :  (x) dan  (x). Sifat ini  selanjutnya selalu kita anggap berlaku bagi keadaan2 yang “fisikal”. yakni transformasi Fourier dari  (x) itu adalah 1   (x) =  ( x ')e  ikx 'dx ' …………………………. Maka tak ada salahnya jika kita memilih. Namun kita harapkan ia sudah mengandung informasi yang pasti mengenai distribusi kebolehjadian bagi besaran momentum itu. tapi dimana distribusi kebolehjadian itu berupa kepastian suatu harga. fungsi gelombangnya yang memenuhi sifat :    ( x) 2 dx = 1   Fungsi gelombang yang memenuhi   ( x) 2 dx  1 ini disebut ternomalisasi.Fungsi2 gelombang yang mempunyai sifat ini. (Fungsi eigen  p (x) sebenarnya juga mengandung informasi distribusi itu.(*)  2   dimana (k).

Tapi ungkapan tersebut dapat dituliskan dalam bentuk  i (  )( x  x' )  e d (  )  2  ( x  x ' )    sehingga kita peroleh hubungan:  1   2 Seringkali kita menghendaki bentuk koefisien yang simetris.   '  ( x )    ei x    ( x ')e i  x dx ' d   x'    '  i  ( x  x ' )  d dx ' dx1 =  ( x )    e  x'   Ini menunjukkan bahwa ungkapan dalam { } di atas adalah  (x – x1 ). yakni  1 eik ( x  x ') dk   ( x  x ') ……………………………………….  k dan  x' menyatakan integrasi terhadap k dan x’ dari  ke   . Konskuensinya adalah  ( ) kemudian mengambil bentuk   ( )     ( x )e  i  x dx  dimana  . Ini membawa kita pada     .(***)  2  Dalam integral2 di atas.…(i)  2 h  yang dalam hal ini. lagi subtitusikan persamaan terakhir ke dalam yang terdahulu. integral Fourier itu dapat dikemukakan dalam versi yang sedikit berbeda. Dengan perkataan 2 h h lain: Setiap  (x) tersebut dapat ditulis sebagai:  i px 1 h  ( x)   ( p ) e dp ……………………………. menghasilkan. yakni bahwa  (x). 1 1 adalah dimana  = p. dalam mana kemudian kita peroleh:     2 yang akan banyak kita pergunakan sehubungan dengan interpretasi yang akan kita berikan. dan   . yakni    . dan  adalah konstanta positif yang bebas kita pilih. Kedua. ditulis dalam bentuk :   ( x )     ( )ei  x d  dimana  .  dan  terkait dalam suatu hubungan tertentu. ( x )   ( x ' ) ( x  x ' ) dx’ x' maka kita peroleh suatu ungkapan bagi fungsi  (x – x’ ). Untuk menetapkan bentuk hubungan itu. 9 .

Koefisien ekspansi itu sendiri. Ekspansi tersebut berbentuk 2 h 2 h integral. yang dalam hal ini i px 1 1 h  e dengan koefisien C = . sehingga integral itu ' ' ' =  1 * (p)   2 ( p ) ( p  p )dp dp   1 * ( p ) 2 ( p )dp. (Terbukti). yakni: p (x) = .i  px 1 h  ( x ) e dx ……………………………. 2 h yakni: i ( p  p ') x 1 * h  ( x )  ( x ) dx  e dx   ( p  p ')  p' p  2 h  (p) = seperti dikemukakan persamaan (iii). dapat kita peroleh dari suatu integral menyangkut  p(x) dan  (x). sebagai berikut: i ( p ' p) x  1 h  *( x )  ( x ) dx   *( p )  ( p ) e dx dp ' dp  1 2 1 2  p '    2 h x  p ’ Tapi ungkapan dalam { } =  (p – p). yang tak lain adalah persamaan (ii). maka berlaku:    1 *( x) 2 ( x )dx     1 *( p ) 2 ( p )dp  Buktinya mudah saja. 1 Pilihan C = itu membuat himpunan memenuhi “ortonormalisasi Dirac”. apabila fungsi-fungsi gelombang  1 (x) dan  2 (x) mempunyai sebagai transformasi2 Fouriernya 1 (p) dan  2 (p). Ada suatu dalil penting yang mengatakan..   10 . yakni  ( p ) . maka integral Fourier versi ini tak lain adalah ekspansi dari fungsi gelombang  (x) kepada himpunan fungsi-fungsi eigen momentum. yakni  (p) =  *p (x)  (x) dx = 1 1 (2 h) 2 e i  px h  (x) dx. Transformasi Fouriernya  (p) kemudian dibaca sebagai koefisien dari ekspansi itu.(ii)  2 h  Ungkapan fungsi  (x –x’) bagi pemakaian bentuk ini kemudian adalah: i p ( x x ) 1 h dp =  (x –x)’ e  2 h Tentu saja berlaku pula i ( p  p ') x 1 h e dx =  (p –p’)………………………….…(iii)  2 h Jika kita perhatikan (i).. sehubungan dengan p yang berubah kontinu.

sebab i px 1 i 1 h p' x  ( p  p ') e dp = h 2 h e 2 h  Grafik fungsi gelombang (x) dan  (p)nya adalah sebagai berikut: 11 . maka   2 h i Karena (konst) e h px berkaitan dengan suatu momentum sebesar p. kalau  1 (x) dan  2 (x) adalah ortogonal. Seperti telah dijanjikan kita pilih  ( x) yang ternormalisasi. dimana   ( p ) dp  1 .  maka demikian pula transformasi Fouriernya:   ( x ) 2 ( x )dx  0 . maka teorema itu mengatakan bahwa:   dx     dp * atau  * 2 2 dx    dp (Hubungan ini dikenal sebagai hubungan Parceval) Sekarang kita berpaling kepada tugas utama kita dalam fasal ini. yakni:   1 ( x) 2 ( x) dx = 0. maka bentuk standarnya adalah  p' = . pemeriksaan kita berikut ini adalah secara kualitatif saja. Karena kita belum ingin mendefinisikan  x dan  p.  dx  1 . Selanjutnya kita periksa konsistensi interpretasi ini terhadap prinsip Heisenberg. Pertama-tama kita tinjau fungsi gelombang dengan momentum pasti p. yaitu menetapkan distribusi kebolehjadian momentum bagi suatu keadaan yang fungsi gelombangnya berupa paket gelombang. maka bahwa  ( x) = superposisi dari gelombang2 harmonis dengan p yang berbeda-beda itu mestilah dikaitkan dengan interpretasi bahwa keadaan sistem itu adalah berupa campuran dari keadaan2 dengan momentum yang berbeda-beda. Transformasi Fouriernya adalah h e 2 h  (p-p’). 1 i p' x misalnya.  ( p ) yang berupa koefisien penguraian itu -lebih tegas lagi:  ( p )dp adalah amplitudo penguraian terhadap gelombang dengan momentum antara p  1 i px p+dp (yang di sini diwakilkan oleh h ) – mestilah ada kaitannya dengan kerapatan e 2 k kebolehjadian momentum P(p). Satu lagi yang sangat * 1 berguna adalah jika kita ambil  1   2   ( x ) . yaitu: i px 2 2 h  (x)= 1  ( p ) e dp . Kemudian bahwa   ( p) 2 dp = 1 kiranya tidak mungkin 2 menyebabkan kita mengambil interpretasi yang lain daripada bahwa P(p) =  ( p ) . Khususnya.

 nya kemudian akan berubah “sedikit” saja dari yang di atas. Kemudian misalkan kita tinjau bentuk paket gelombang. adalah secara figuratif saja. hingga kita peroleh gambar2  dan  nya sebagai berikut. kecuali bahwa sekarang  x   0 . Jadi grafiknya adalah sebagai berikut: e 2 h 2 h  Gambar 3.8 Seterusnya. Ini membuat suatu  x yang berhingga. katakanlah pada kedudukan x’. dan yang selanjutnya. tapi tentu saja yang besar nilainya.9 Peranan  dan  yang simetris itu akhirnya membawa kita pada terkaan bahwa dalam x =0 yakni dalam hal keadaannya = keadaan eigen dari posisi. yang berupa superposisi dari momentum2 dalam selang  p yang kecil sekitar p’.7 Gambar2 di atas. sekiranya spektrum p dalam  itu menjadi lebih lebar. karena sesungguhnya fungsi2  dan  itu umumnya adalah fungsi kompleks. kita harapkan kecendrungan tadi diteruskan.Gambar 3. 12 . Dalam hal ini  ( p ) nya adalah i 1 1 i  p ( x  x ') h e h px ' mengingat  (x –x’) = dp. Gambar 3. Dan memang demikian pulalah sebenarnya. Gambar 3.10 Kesemua grafik itu menunjukkan bahwa dengan interpretasi distribusi kebolehjadian momentum seperti tadi terkait x dan p dengan sifat: jika yang satu besar. mestilah fungsi gelombangnya itu  ( x )   ( x  x ') .

Tentulah pula kebolehjadian mengikuti kebolehjadian x. sifatnya langsung saja. Kita definisikan nilai harap suatu besaran dalam suatu keadaan sebagai rata-rata dari nilai-nilai besaran itu dengan bobot peluangnya. ia sama pula dengan nilai rata-rata hasil pengukuran terhadap banyak sistem identik. Namun. Atau. Lebih tepat lagi. dengan setiap kalinya sistem berada dalam keadaan yang sama. yakni nilai harap dari suatu besaran. semuanya dalam keadaan  yang sama. dan sebaliknya. maka kebolehjadian untuk nilai 9 cm 2 bagi x 2 mestilah 10% juga. Tapi sifat seperti itu sesungguhnya merupakan intisari dari prinsip Heisenberg. dimana  (p) adalah transformasi Fourier dari  (x).4 Konsep Nilai Harap dan Operator-operator Besaran Dinamik Kita ulangi hasil uraian pada bagian sebelumnya. misalnya. nilai harap kordinat vertikal bagi elektron pada kedudukan layar adalah pada tengah-tengah difraksi (yang simetris) itu.maka yang lainnya kecil. nilai harap itu adalah: < x> =  xP( x) dx sedangkan untuk momentum <p> =  pP ( p )dp Secara eksperimental nilai harap adalah sama dengan harga rata-rata hasil banyak sekali pengukuran besaran bersangkutan. Definisi besaran-besaran ini adalah sama seperti dalam pengertian klasik. dalam percobaan difraksi berkas elektron dengan celah ganda. Misalnya. tapi 2 juga mengandung informasi distribusi kebolehjadian momentum: P(p) =  ( p ) . yaitu nilainya bergantung pada nilai pengukuran posisi. disini tentu dalam bentuk distribusi kebolehjadian. yakni besaran-besaran yang merupakan fungsi dari besaran posisi x. maka kini tentulah kita pun mengharapkan bahwa fungsi gelombang keadaan sistem juga mengandung informasi tentang setiap besaran lain dari sistem tersebut. Perluasan hal di atas kepada. atau dari besaran momentum p. perumusan kita memang memenuhi prinsip Heisenberg. bagi besaran posisi. walaupun baru dapat ditunjukkan secara kualitatif.umpama saja “besaran” x 2 . Mengingat dalam fisika klasik nilai posisi dan momentum telah menentukan nilai setiap besaran lainnya. yakni:  (p) = (2  h) 1 2  ( x )e  i px h dx. Ini berarti besaran f(x) itu berlaku P (f) df = P (x) dx 13 . harapan ini barulah akan memperoleh landasan apabila ternyata kita memang mampu merumuskan cara menarik informasi itu. r r r r 2 r 2 yakni P ( r ) =  ( r ) . gerakan dalam ruang. atau momentum. Berarti. dimana  ( p ) adalah transformasi Fourier dimensi 3 r dari  ( r ) . itu. dalam keadaan dengan kerapatan peluangnya P(x). yang konsisten dengan maknanya sebagai suatu distribusi peluang. 3. ini adalah besaran yang nilainya otomatis 25 cm 2 apabila pengukuran posisi menghasilkan 5 cm. untuk suatu besaran f(x) besarnya peluang menemukannya antara f dan f +df tentulah sama dengan besarnya peluang menemukan x antara x dan x+dx tentulah sama dengan besarnya peluang menemukan x antara x dan x+dx. Kita mulai dengan yang mudah dulu. apabila untuk x = 3 cm terdapat kebolehjadian sebesar 10% misalnya. yakni bahwa fungsi gelombang  2 (x) tidak hanya mengandung informasi distribusi kebolehjadian posisi: P(x) =  ( x ) . P ( p ) =  ( p ) . Sebagai contoh. sekiranya selang df itu bertautan dengan selang dx. Langkah ke arah itu kita mulai dengan membahas suatu pengertian yang perlu.

ini selanjutnya membawa h  i dx  i dx dx 2 konsekuensi pula. karena berupa konstanta. dalam hal inipun berlaku <x> = * * ˆ  xˆ dx. hitung dulu  ( p ) dari  (x). yang 2 akan sangat berguna nantinya. kita selipkan diantara  * (x) dan  ( x) . baru <p>. dalam bentuk 2 * <x> =  (x) x (x) dx. Hal ini menjadi lebih bermakna. sebelah menggambarkan situasi yang dimaksud. Begitu pula tentu. dapatlah kita simpulkan bahwa. berlaku <V> =  v( x)dx dan <K> = 2m  1 2m pada intergral terakhir. atau f(x). misalnya bagi nilai harap energi kinetik <K> = < p 2 /2m> berlaku <K> = pˆ 2 h2 d 2 * 2 * ˆ ˆ  ( p / 2 m )  dx   K  dx ˆ . Apabila kita perhatikan <p>. telah kita keluarkan dari bawah tanda integrasi. di samping kesukaran yang umumnya kita alami dalam usaha mengevaluasi transformasi Fourier dari suatu fungsi yang diberikan. adalah yang dinamai operator   K   2m 2m dx 2 energi kinetik dari sistem itu. Selanjutnya kita perkenalkan suatu cara tertentu untuk menulis nilai-nilai harap. Dengan demikian. Memperluas halnya kepada besaran x atau fungsi-fungsinya.dengan konsekuensi. Ini merupakan prosedur yang panjang. Misalnya bagi x 2 : < x 2 > =  x 2 P (x) dx. Pertanyaannya kemudian adakah suatu cara memperoleh <p> itu yang langsung dari  ( x ) . Contoh dari besaran-besaran begini adalah energi potensial V(x) dan energi kinetik 1 p 2 P(p)dp. Operator pˆ ini disebut sebagai operator momentum. h d  h d d2 = . dan sebagainya. Dituliskan dengan cara sedikit lain menjadi:  h d *  ( x)dx <p> =  ( x)   i dx * <p>=  ( x ) pˆ ( x )dx hd i dx Menangguhkan dulu pembuktiannya. karena dengan pˆ sebagai notasi singkatan dari operator selanjutnya ternyata pula bagi nilai harap dari p 2 berlaku pula <p2> =  * ( x ) pˆ 2 ( x )dx . tanpa perlu melalui  (p) lebih dulu? Jawabnya: ada yaitu <p>= h d *  ( x) i dx dx . Karena P(x) =  ( x ) =  * (x)  (x) maka kita dapat menuliskan ungkapan nilai harap x. dimana = . untuk  2 apabila kita interpretasikan pˆ  pˆ pˆ   14 . cara evaluasinya tentulah. yang dari setiap fungsinya. <f (x)> =  ( x ) f ( x ) ( x )dx yaitu dimana x. untuk besaran F(p) berlaku  F   F ( p ) P ( p )dp . Faktor K=p 2 2m . Alasan penulisan demikian adalah sebagai berikut. dari bentuk di atas kita lihat bahwa nilai harap dari momentum juga dapat dievaluasi langsung memakai fungsi gelombang  .  f ( x )   f  dx . dari sana P(p). bagi nilai kiranya harapnya berlaku <f> =  fp( f )df   f ( x ) P( x) dx . sekarang dengan jalan menyelipkan operator pˆ diantara  * dan  dalam integral tersebut.

p). yang karena kondisi klasik tadi. yakni x kl mempunyai ketaktelitian x cukup besar. setidak-tidaknya bagi penghitungan nilai harapdari besaran-besaran sistem: Pada setiap besaran sistem terkait suatu operator tertentu. Selanjutnya karena Ekl  K kl + Vkl . nilainya cukup berarti hanyalah dalam selang x itu. sehingga dapat saja kita tuliskan xkl  <x>. Melihat hasil-hasil di atas dapatlah kita simpulkan berlakunya suatu aturan. pˆ ) – artinya kaitan antara operator-operator tersebut sama dengan kaitan antara besaran-besarannya dalam fisika klasik Setidaknya dalam makna bahwa Besarnya nilai harap <A> dalam suatu keadaan yang dilukiskan Oleh fungsi gelombang  . Sesungguhnyalah keterkaitan setiap besaran dengan suatu operator. Grafik P(x) menggambarkan distribusi peluang untuk posisi. sama seperti untuk besaran-besaran yang dibahas terdahulu. adalah sangat sentral dalam mekanika kuantum. 15 . Ini berarti. Akan kita lihat dalam pembahasan selanjutnya. Langkah penentunya kemudian adalah pada pengambilan anggapan. Operator Hˆ ini disebut sebagai operator Hamilton sistem. dan bagi setiap besaran A lainnya yang dalam fisika klasik i dx ungkapannya terhadap x dan p adalah A = A (x. Kedudukan yang dilaporkan. Konsekkuensinya kemudian adalah seperti berikut: *ˆ  dx   *Vˆ dx <E> =   * =  ( Kˆ  Vˆ ) dx' atau * <E> =  Hˆ dx h2 d 2 ˆ ˆ ˆ dimana 2  V ( x) H = K+ V = 2m dx Kita lihat. kedudukan yang terkait dengan x . yakni <E> = <K> + <V> Hubungan ini dianggap selalu berlaku juga dimana kondisi klasik tidak dipenuhi. dapat dihitung dengan * <A> =  Aˆ  dx Aturan ini. maupun energi total: K kl  <K>.besaran posisi x. sebagaimana setiap keadaan dengan suatu fungsi gelombang. yang tak lain adalah operator dari besaran energi total E sistem. sedangkan besaran-besaran dalam bentuk operator-operatornya. setelah menjadi kelaziman untuk pada akhirnya memikirkan keadaan-keadaan dalam fungsi-fungsi gelombang. Sehingga. Vkl  <V>. bagi posisi operator itu adalah xˆ hd = x’ bagi momentum pˆ = . atas alasan yang sebentar lagi menjadi jelas. maka Aˆ  A( xˆ . juga bagi penghitungan nilai harap energi <E> berlaku aturan menyelipkan suatu operator – disini operator Hˆ – di antara  * dan  . hingga apabila mau lebih teliti kedudukan itu dapat mengambil nilai berapa saja dalam selang x itu. makna dari operator-operator itu tidak hanya terbatas sampai penghitungan nilai-nilai harap saja. bahwa sesungguhnya antara ketiga nilai harap itu berlaku hubungan seperti hubungan ketiga besaran bersangkutan dalam fisika klasik. maka dalam kondisi klasik mestilah dipenuhi  E  <K> + <V> . energi potensial. E kl  <E> . dinamai postulat kuantisasi. Situasi seperti ini tentu juga berlaku bagi energi kinetik.

permasalahan spektrum besaran dinamis kita sadari betapa pentingnya operator dari besaran-besaran sistem. Ini karena. dapat mengambil nilai berapa saja yang tak negatif. setidak-tidaknya struktur dasar dari perumusan mekanika itu benar adanya. yaitu partikel yang bergerak sepanjang garis lurus di bawah pengaruh gaya konservatif. juga spektrum momentum. Apabila penelahaan lebih jauh pada ungkapan nilai harap energi sistem itu. masalah tentang bagaimana memperoleh spektrum suatu besaran dari bentuk operatornya tentulah merupakan salah satu masalah utama dalam mekanika kuantum. menarik informasi distribusi kebolehjadian bagi setiap besaran sistem pada suatu keadaan yang diberikan? Jika jawabnya dirasa trivial untuk besaran posisi dan fungsinya (seperti energi potensial) ataupun momentumdan fungsinya (seperti halnya energi kinetik) halnya belumlah jelas untuk besaran-besaran yang merupakan fungs dari posisi dan momentum. bagaimana caranya. Berbicara mengenai besaran ini. hasil pembandingan itu telah memberikan kepercayaan. jika memang ada. berati bentuk operator itu telah mengandung informasi. dapatlah kemudian kita katakan. Contoh dari kasus ini adalah misalnya osilator harmonis (sebagaimana juga halnya bagi semua sistem terikat). Tinggalah lagi kemudian. Dan. secara diam-diam kita sudah menganggap bahwa spektrum posisi. 3. karena dalam mekanika klasik suatu besaran dapat mengambil nilai berapa saja dalam suatu selang yang umumnya mudah pula dilihat. sedangkan (P) adalah distribusi kebolehjadian energi sistem (PE) (artinya . dimana energi total adalah suatu contoh. memang demikian pulalah halnya yang kita temukan .maka bolehlah kita simpulkan bahwa. Pada gilirannya. untuk setiap keadaan  nya selalu menghasilkan benturan  * Hˆ dx   P  . kita toh mengharap – agar segala 16 . Mengenai yang terakhir ini dapatlah disebut secara umum. sedangkan kumpulan bilangan-bilangan {P} bergantung pada keadaan  nya. Dengan demikian. Masalah begini tidak kita jumpai dalam mekanika klasik. adalah kontinu dari  sampai + . Energi kinetik misalnya. (  ) adalah kumpulan nilai-nilai (diskrit) energi sistem. di samping bahwa  {} P =1. Misalkan saja kita tahu lebih dulu energi dari sistem yang sedang kita tinjau seluruhnya diskrit.Kembali pada pertanyaan utama. PE adalah kebolehjadian menemukan energi sistem sebesar E). minimal informasi tentang nilai-nilai (atau spektrum) besaran bersangkutan. Walaupun spektrum posisi maupun momentum tidak merupakan masalah lagi. membandingkannya dengan hasil-hasil eksperimen. nilainya boleh berapa saja di atas harga minimum energi potensial! Untuk model sistem yang (hampir selalu) kita ambil. misalnya apakah memang (E) dari perhitungan itu sesuai dengan yang didapat dari eksperimen . kita telah memperoleh suatu rumusan mekanika kuatum – setidaknya sejauh menyangkut menarik informasi fisik dari keadaan  sistem –memenuhi prinsip korespondensi. Dengan mana.5 Aljabar Operator dan Masalah Nilai Eigen Berdasarkan pada pembahasan sebelumnya. Jika dugaan ini benar. dimana kumpulan nilai-nilai {  } hanya {} bergantung dari bentuk operator Hˆ -dengan kata lain hanya bergantung pada sistem dan interaksinya. ini berakibat pula pada kontinunya spektrum setiap besaran lain yang merupakan fungsi dari salah satu dari kedua besaran itu. kita juga diingatkan pada fakta eksperimental. Sedangkan energi total. (E). sebenarnya tinggal energi total yang spektrumnya masih harus ditetapkan. fakta mana hendaknya juga muncul dari perumusan kita. adanya nilai-nilainya yang diskrit dalam kondisi –kondisi tertentu.

Aˆ dengan Aˆ n ˆ ˆ  BA ˆˆ. menghasilkan suatu fungsi lainnya. Yang terakhir menunjukkan bahwa operator-operator berkomutasi. yakni dimana 2   dx   Operator Linier Contoh-contoh dari operasi operator linier tersebut. Bagi partikel yang bergerak sepanjang garis lurus . jika Aˆ  x dan Bˆ = d/dx. Perhatikan definisi Perkalian dua operator didefinisikan melalui ( AB urutannya: Bˆ dulu bekerja pada . diferensiasi: . yaitu yang memenuhi ˆ ˆ Aˆ (  1 1  2 2 )  1 A 1  2 A 2 Contoh yang tak linear. baru kemudian pada fungsi hasilnya dioperasikan ˆ ˆ  Aˆ 2 .  =  (r ). misalnya-. misalnya. Operator bekerja pada fungsi gelombang Operator yang kita maksudkan di sini adalah misalnya operator Aˆ yang bekerja pada fungsi gelombang yang dituliskan langsung di belakangnya. Fungsi-fungsi gelombang itu sendiri bergantung pada sistemnya. singkatnya komut pada operasi penjumlahan.    ( x ) . Dua operator disebut sama: Aˆ  Bˆ . maka AB 17 . AA Pada perkalian juga berlaku ˆ ˆ ˆ  Aˆ ( BC ˆ ˆ )Cˆ . yakni ( Aˆ  Bˆ )  = A Aˆ  Bˆ  Cˆ  Aˆ  ( Bˆ  Cˆ )  ( Aˆ  Bˆ )  Cˆ begitu pula Aˆ  Bˆ  Bˆ  Aˆ . Namun selanjutnya kita hanya membahas operator yang linier saja. yakni: AB ˆ ˆ  x (d / dx ) . sehingga AAA ˆ ˆ )  ( AB ˆ ˆ ˆ  Aˆ 2 Aˆ  AA ˆ ˆ 2 dan sebagainya. yang selanjutnya masih dapat dituliskan dalam koordinat kartesian. Aˆ . tapi umumnya perkalian operator tak komutatif sifatnya. Definisi ini mengakibatkan. jika hasil operasinya terhadap fungsi  yang mana saja adalah identik. perkalian dengan suatu d konstanta: C  . dan sebagainya. Yang kita tinjau sekarang adalah keadaan sistem pada suatu saat tertentu. Perangkat matematika yang diperlukan untuk itu kita perkenalkan terlebih dulu dalam bagian ini. misalnya operator. Ketiganya adalah dx contoh dari operasi yang linear. bola. pada umumnya fungsi ini berbentuk paket gelombang. sedangkan BA ˆ ˆ = (d/dx) x Misalnya.sesuatunya lengkap dan taat azas – sifat spektrum yang kontinu tadi juga dapat kita turunkan dari ungkapan operator masing-masingnya! Jadi singkatnya: Spektrum suatu besaran sudah ditentukan oleh operator besaran itu. ABC Sifat tak komutatif perkalian operator Walaupun pada perkalian dua operator ada yang berkomutasi . sebab itu pergantungannya terhadap t kita abaikan dulu. dan perkalian. AAA ˆ ˆ ˆ  Aˆ 3 . yakni: Aˆ = . misalnya. ˆ ˆ )  AB ˆ ˆ  Aˆ ( Bˆ ) . penjumlahan dengan suatu fungsi tertentu. Lagi pula. Jumlah dari dua ˆ  Bˆ . atau lainnya. perkalian dengan suatu fungsi: V(x)  . Dalam uraian yang akan datang kita akan pelajari bagaimana memperoleh spektrum dari bentuk operatur besarannya. Penjumlahan dan perkalian operator Antara dua operator dapat kita lakukan penjumlahan. bagi yang bergerak dalam ruang.

dapat didefinisikan komutator dari dua operator Aˆ dan Bˆ sebagai operator ˆ ˆ  BA ˆˆ  Aˆ . yang tidak sama dengan AB d d x  ( x  1) dx dx Karena berlaku untuk setiap. Bˆ ]  [ Aˆ . V(x)] =0  pˆ . Beberapa sifat terpenting dari komutator adalah [ Aˆ . diberi notasi singkatan khusus seperti di atas. Bˆ ]  [ Bˆ . sehubungan dengan banyaknya sifat yang sama dalam kedua hal.  =0 (  konstanta).       Contoh paling utama dari operator yang tak komut adalah  xˆ .  )   ( r ) ( r ) d r untuk seluruh ruang. Dalam hal ini dapat dituliskan   . Bˆ  Cˆ ]  [ Aˆ .b  a x bx  a y by  a z bz . seperti akan berulangkali kita lihat nanti. Namun ada juga 18 . yakni a. maka kita Apabila persamaan ini kita kalikan dengan . BC Produk skalar dua fungsi gelombang Kita definisikan produk skalar dan fungsi gelombang  ( x ) dan  ( x ) sebagai  ( . sifat-sifatnya Berkaitan dengan sifat-sifatnya terhadap komutasi. sehingga [x . untuk Aˆ dan Bˆ yang berkomutasi. Cˆ ]  [ Aˆ . pˆ  =ih. Bˆ  AB   Oleh karena itu.  Aˆ . )    * ( x ) ( x )dx  Integral seperti ini. Notasi yang sama juga kita pakai untuk fungsi-fungsi gelombang yang lebih umum. [ Aˆ . dan mengingat bahwa i i dx peroleh kesamaan operator ˆˆ  px ˆ ˆ  ih xp yang memperlihatkan bahwa operator-operator xˆ dan pˆ tidak komut. Kˆ =0. untuk fungsi-fungsi gelombang dari partikel r 3 * r yang bergerak dalam ruang: ( . f ( Aˆ ) =0. karena seringnya muncul dalam mekanika kuantum. dapatlah kita tuliskan sebagai kesamaan operator: d d x  x 1 dx dx d x  1) .ˆ ˆ . Contoh-contohnya adalah:  Aˆ . Aˆ ] [ Aˆ . Bˆ ]Cˆ [ Aˆ . Nama ’produk skalar’ sengaja dipilih untuk mengingatkan orang kepada konsep rr produk skalar dua vektor biasa. Bˆ ]  0 . atau (perhatikan bahwa operator dx d d x  x  1 dx dx h h d  pˆ . Cˆ ] ˆ ˆ ]  Bˆ [ Aˆ . Jadi misalnya. Komutator dari dua operator.

Aˆ ) /( . )    ( x ) dx disebut norm dari  . 2 ) ( 1   2 . Baginya berlaku hubungan ( i . Di bawah ini adalah beberapa sifat terpenting dari produk skalar: ( .  ) ( . misalnya jika a. jadi ( . nilainya  0. disebut ternormalisasi. dan = ( .rr rr perbedaanya.  )*  ( . Aˆ ) . Suatu fungsi dengan norm = 1. dalam keadaan  . tidak demikian halnya dengan ( .  ) = 0. 1   2 )  ( .  ) untuk   konstanta ( . 19 . misalnya: * ( i  i i .  )  ( 1 .a . dengan  p ( x )  1 e 2 (2 h) i 1 e h( p  p ') x dx   ( p  p ') karena ( p . bahwa juga ( Aˆ  . operator hermit Terkait dengan suatu operator Aˆ adalah suatu operator yang kita namakan setangkup hermitnya. di mana yang muncul adalah fungsi  Dirac. ) 2 ( .1 )  ( . )untuk setiap  dan  Dituliskan dalam bentuk integral.  j  j j )  i  j i  j ( i   j ) Ortogonal. Ini untuk membedakannya terhadap ortonormalisasi Dirac. p ' )   2 h Setangkup hermit. )  0 . ortonormal Jika ( .  ) . ( . nilainya = 0 hanya jika   0.b = b . kedua fungsi  dan  itu disebut ortogonal sesamanya. Fungsi-fungsi gelombang yang memiliki keadaan yang nyata umumnya kita ambil dari tipe ini.  ) Kombinasi dari sifat-sifat di atas mengakibatkan.  )   ( . Aˆ  )  ( Aˆ . Aˆ ) jika  ternormalisasi. j )   ij Simbol  Kronecker di sana membuat hal ini dinamai ortonormalisasi Kronecker. adalah  A  ( . ) =   dx  1 .  )  ( . Jadi misalnya. ternormalisasi. ini adalah *  *  A  dx   ( Aˆ )  dx Mudah pula menunjukkan. Tentu saja 2 dalam hal ini juga ( .  )  ( 2 . masing-masing ternormalisasi disebut set fungsi gelombang yang ortonormal. dengan notasi Aˆ  dan definisi: ( . nilai harap dari besaran A. Contoh yang terakhir ini adalah misalnya i px 1 h ( p ). walaupun hal itu bukan keharusan. ) jika  tak ternormalisasi Suatu himpunan fungsi gelombang [ i ] yang ortogonal sesamanya.  )   * ( .

Dengan demikian. Aˆ ) karena selalu real (ia merupakan perataan dari banyak bilangan nyata. )  ( .Melihat kedua hubungan di atas. Hermitnya operator besaran-besaran dinamis Di atas telah kita lihat bahwa operator besaran–besaran dinamis posisi dan momentum bersifat hermit. sebab    h d d  h h hd     d  pˆ           pˆ       i i dx  i dx   dx  i   dx Untuk semua operator hermit berlaku ( . Aˆ  ) untuk semua  . yakni hasil-hasil pengukuran). dapatlah kita simpulkan bahwa. Seterusnya operator Hamiltonian sistem juga hermit.( d / dx   )  ( . hanya yang terakhir yang tidak trivial. namun dalam pemindahan itu ia harus kita gantikan dengan setangkup hermitnya. ) yang berarti operator hermit itu bisa segera kita pindahkan ke ruang lainnya. p juga hermit. karena merupakan jumlah dua operator hermit). Dengan demikian: Operator dari setiap besaran dinamis bersifat hermit Ini dapat ditunjukkan seperti berikut: Nilai harap <A>= ( . Sebab itu ia kita buktikan berikut ini. adalah sama dengan ( Aˆ . x. Demikian pula ternyata halnya dengan operator dari energi potensial (karena merupakan fungsi real dari x) dan energi kinetik (karena berupa (1/2m) pˆ 2 . energi potensial V(x). karena merupakan paket gelombang. sedangkan pˆ sendiri hermit). Aˆ )  ( Aˆ . suatu operator dalam produk skalar boleh kita pindah dari suatu ruang ke ruang lainnya. Contoh-contohnya:  yang real.  d d * d * d  d ( . tanpa mengalami perubahan apapun. Mudah pula menunjukkan kebenaran sifat-sifat berikut ini: ( Aˆ  )   Aˆ ( Aˆ  Bˆ )   Aˆ   Bˆ  ˆ ˆ )   Bˆ  Aˆ  (Perhatikan urutannya yang dibalik!) ( AB Operator-operator yang sama dengan setangkup-hermitnya disebut operator hermit. Aˆ  Aˆ  20 . Berikut adalah beberapa contoh operator dengan setangkup –hermitnya: ( )    * (  = konstanta) x  x  d  d  dx   dx Dari keseluruhan.  dan  menjadi hilang di tempat jauh. )     dx    dx    dx   *    *   dx dx dx dx  dx  * d d  d 0      )    =    dx  dx  dx * di mana telah kita pergunakan sifat.

 Jadi. Dengan demikian. bagi fungsi  khusus ini berlaku ˆ   a (a= konstanta)  Kalau ini berlaku. Beberapa sifat utama yang punya invers. misalnya: ˆ 1 ˆ   ˆ ˆ 1  1  ˆ 1 ) 1   ˆ ( ˆ ˆ ) 1  ˆ 1 ˆ 1 (  Operator uniter Suatu operator U yang biasa disebut uniter jika setangkup hermitnya identik dengan inversnya. linear terhadap  . Guna menegaskan kaitan fungsi eigen dengan nilai eigennya. fungsi-fungsi eigen ˆ  . Tetapi kebalikannya Perlu difahami uniknya  belum pasti. ˆ   . bagi operator uniter berlaku ˆ ˆ  1 Uˆ Uˆ  UU Suatu sifat penting operator uniter adalah. Namun bagi fungsi-fungsi tertentu. . yakni  ˆ 1 . ia tak mengubah nilai produk-produk skalar. dinamai permasalahan nilai eigen dari operator bersangkutan. dalam hal mana  operasi suatu operator Bˆ terhadap  . operator Bˆ itu ˆ 1. Dengan demikian. dan dinotasikan dengan  disebut sebagai invers dari  tidak setiap Aˆ adalah biasa.  disebut suatu fungsi eigen dari Aˆ dan a itu disebut nilai eigennya. Maka masalah menetapkan kumpulan nilai eigen dari suatu operator. yakni  Biasanya hasil operasi  ˆ  adalah sebanding dengan  . 21 . bersama dengan fungsi-fungsi eigennya yang berkaitan. misalnya jika  operator invers.Operator invers ˆ  untuk setiap  yang diberikan. misalnya jika    1 2 apabila jawab pertanyaan tadi adalah ya – ini berarti adanya korespondensi satu-satu antara  ˆ disebut bersifat biasa – maka  dapat dianggap sebagai hasil dan  . Perlu diingat ˆ  ˆ . Masalah nilai eigen. Contoh trivial ˆ   (  0) . misalnya jika  fungsi eigennya dengan nilai eigen tunggal bilangan  itu tadi – sering nilai-nilai eigen itu tersebut pada harga-harga tertentu saja. atau : Uˆ   Uˆ 1 . sebab itu pula: tak semua operator punya invers. indeks nilai eigen pada fungsi eigen itu dikenal juga sebagai bilangan kuantum. dapat saja terjadi jawabnya tidak. merupakan fungsi yang bebas ˆ terhadap  . yang memenuhi hubungan itu. dan sebagainya. karena mungkin ada lebih dari satu  dimana  ˆ   ˆ   …. sehingga hubungan tadi menjadi ˆ   a  a a Dalam hal Aˆ adalah operator besaran dinamis. yang berkaitan dengan fungsi eigen  tadi. Namun. yakni jika diberikan suatu fungsi  dan ditanyakan: adakah suatu  unik ˆ    . seringkali fungsi eigen itu dibubuhi tanda nilai eigennya:  a . maka  ˆ 1  1/  . yakni   Bˆ .dalam hal mana semua fungsi adalah Kecuali dalam hal-hal tertentu.

Apabila Aˆ yang hermit itu adalah operator dari suatu besaran dinamis. dua fungsi yang bebas linear merupakan fungsi-fungsi eigen dari operator Aˆ dengan nilai eigen yang sama. ˆ Teorema ini jadi menyatakan. Dapat pula terjadi. ortogonal sesamanya. kita selalu pula akan menambahkan anggapan bahwa set itu lengkap. ˆ  )  a ( . maka c1 a1  c2 a 2 adalah lagi fungsi eigen dengan nilai eigen yang sama. perluasan dari teorema di atas adalah: Setiap fungsi yang bergantung linear terhadap fungsi-fungsi eigen dengan nilai eigen yang sama adalah juga fungsi eigen dengan nilai eigen itu lagi. perihal berdegenerasi Fungsi eigen dari suatu operator linear tidak unik. Dengan  ˆ yang hermit. dari nilai eigen yang berbeda. Yakni. bagi setiap nilai eigen itu. Degenerasi ini disebut lipat n. Buktinya. satu fungsi yang ˆ tersebut yang ternormalisasi. Dalam arti kata. Selanjutnya.Fungsi-fungsi eigennya. kita akan memperoleh suatu set fungsi eigen ( a ) dari  ortonormal.Nilai eigennya semua real b. Untuk contoh  adalah nilai eigen berdegenerasi lipat  . Buktinya sebagai berikut: ˆ    kita peroleh ( . yang sangat mudah. Tapi ruas kiri adalah sama dengan (  ˆ  . hubungan terakhir hanya dipenuhi oleh ( a ' . apabila  a1 dan  a 2 adalah fungsi-fungsi eigen  dengan nilai eigen a. Masalah nilai eigen operator hermit Khusus bagi operator hermit berlaku teorema penting berikut ini: a. telah kita Dari  a a a a a a tunjukkan bahwa ruas kirinya real.  ( x )   a a (a ) 22 . ) . c a juga merupakan fungsi eigen dengan nilai eigen a yang sama. mengingat faktornya. Untuk nilai eigen yang berdegenerasi. yang memenuhi ( a . Jika kemudian kita pilih. Jika demikian nilai eigen a itu disebut berdegenerasi. jika a’ juga nilai eigen. ) . jelas  linear sesamanya dengan nilai eigen a yang sama itu. Sebab ˆ c  c ˆ   ca  ac  a a a a Memakai bahasa matematika ini diungkapkan sebagai Setiap fungsi yang bergantung linear terhadap suatu fungsi eigen adalah juga eigen dengan nilai eigen yang sama. setiap fungsi gelombang  ( x) sistem dapat kita ekspansikan terhadap set tersebut. Maka nilai eigen a di ruas kanan juga real.Tak uniknya fungsi eigen. Jika a  a' Ortonormalisasi dan kelengkapan fungsi-fungsi eigen operator besaran dinamis ˆ seluruhnya diskrit dan tak ada Misalkan set nilai eigen (a) dari operator hermit  yang berdegenerasi. jika ada n (maksimum) fungsi eigen bebas ˆ   tadi. a ' )   aa ' .  a' a a' a a' a (a ' a ' . Sehingga kita peroleh: a ( a ' . dikemukakan sebagai soal saja. segera terlihat. ) yang memberikan ( . a )  a '( a ' . a ) . a )  0 . berupa norm dari  a .  ˆ  )  a( . a ) . selalu real. a )  a '( a ' .

1. Perbedaannya hanyalah terletak pada nilainilai eigennya. dan memang kita pilih bagi fungsi-fungsi eigen dari nilai eigen yang sama. masih tetap berlaku apabila ada nilai eigennya yang kontinu. Buktikan x (t) = cos wt berosilasi dengan frekuensi 23 . kita lihat dari i 1 ( p . menggantikan ortonormalitas Kronecker bagi nilai-nilai eigen diskrit. 1 Ini tak lain adalah ekspansi dari  ( x) terhadap set ( p ( x) di mana  p ( x )  (2 h) 2 hd adalah fungsi eigen dari operator momentum pˆ  . selalu ada set fungsi eigen dari suatu operator uniter yang ortonormal. Bahwa set fungsi eigen itu lengkap kita lihat dari teorema integral Fourier. Sifat tersebut yang telah kita kemukakan untuk perihal nilai eigen yang seluruhnya diskrit dan tak berdegenerasi. Ortogonalitas tadi berlaku otomatis untuk fungsi-fungsi eigen dari nilai eigen yang berbeda. yaitu  ( x )   ( p ) p ( x )dp Masalah nilai eigen operator uniter Untuk melengkapi. yang tak lain adalah ekspansi  ( x) terhadap ( p ( x )). p ' )   p * ( x ) p . Bahwa set itu ortonormal. berlaku integral Fourier. mengenai permasalahan nilaieigen bagi bagi operator uniter. sesuai dengan set nilai eigen (p) yang kontinu. Maka ternyata selalu mungkin untuk memilih di antara fungsi-fungsi eigen dari nilai eigen itu n buah yang ortonormal. yang menyatakan bahwa untuk setiap fungsi yang bersifat paket gelombang. dapat kita kemukakan. tapi selalu berharga mutlak 1. Sifat terakhir menunjukkan. Maka keseluruhan fungsi-fungsi eigen yang dipilih seperti itu akan membentuk set ortonormal yang lengkap. Kemudian pula.Semua nilai eigennya bermodulus 1 b. juga apabila ada degenerasi. yang sekarang dapat kompleks. namun sekarang dalam bentuk ortonormalitas Dirac.Fungsi-fungsi eigennya dari nilai eigen yang berbeda ortogonal sesamanya.Perihal adanya set fungsi eigen yang ortonormal dan lengkap dari operator besaran dinamis merupakan salah satu landasan utama mekanika kuantum.( x )dx  e h( p '  p ) x dx   ( p  p ')  2 h Ortonormalisasi di sini adalah tipe Dirac. a. SOAL-SOAL DAN SOLUSINYA SOAL-SOAL: Soal 3. sama seperti pada operator hermit. untuk nilai-nilai eigen kontinu ortonormalitas itu masih bisa tetap bertahan. Bahwa ia memang fungsi eigen i dx dengan mudah kita lihat dari berlakunya pˆ p ( x )  p p ( x ) yang sekaligus menunjukkan nilai eigennya= p. Sebagai contoh kita tinjau integral Fourier dari suatu fungsi gelombang  ( x) : i 1  ( x)   ( p )e h px dp 1  (2 h) 2 i 1 e h px . Misalkan dulu suatu nilai eigennya berdegenerasi lipat n.

Tunjukan pula bahwa ketiga bentuk untuk x (t) tersebut berosilasi dengan frekuensi  2 Soal 3. 24 . Soal 3. Soal 3. Soal 3. 1.5 Pakai identitas trigonometri Sin  sin   1 2 cos( x   )  1 2 cos(   ) untuk menunjukkan bahwa fungsi gelombang partikel dalam kotak memenuhi hubungan a  0 n ( x) m ( x)dx  0 mn Catatan: Jika himpunan fungsi memenuhi kondisi integral di atas.2 Cari Solusi persamaan differensial berikut : d 2x (a) 2   2 x(t )  0 x (0) = 0. x’ (0) = V0 dt d 2x (b) 2   2 x(t )  0 x (0) = A.. Buktikan pula x (t) = A cos t + B sin t berosilasi dengan frekuensi yang sama.6 Buktikan himpunan fungsi x 1  n ( x)  a  2 ei 2 na a n  0. 2. X’ (0) =V0 dt Buktikan bahwa dalam kedua kasus ini x(t) berosilasi dengan frekuensi  2 Soal 3. kita katakan himpunan tersebut orthonormal. Turunkan persamaanpersamaan untuk A dan  dalam suku-suku C1 dan C2. kita katakan himpunan (set) tersebut orthogonal dan dalam hal khusus  m ( x) adalah orthogonal terhadap  n ( x) . t )   sin  ( x  vt )    adalah gelombang dengan panjang gelombang  dan frekuensi y  v  menjalar ke kanan dengan kecepatan v. Jika sebagai tambahan fungsi ternormalisasi.4 Buktikan  2  y ( x.v    2 .3 Solusi umum pada persamaan differensial d2x   2 x(t )  0 adalah x (t) = e1 cos  t + e2 sin  t 2 dt Sering Solusi ini ditulis dalam bentuk ekuivalen seperti berikut: x(t )   sin(t   ) atau x(t )   cos(t   ) Tunjukkan ketiga ekspressi tersebut untuk x(t) adalah ekuivalen...

a). Tunjukan a a nax max nax ma x a 0 sin a sin a dx  0 cos a cos a dx  z  nm yang dalam hal ini  nm adalah delta Kroenecker.a).adalah orthonormal terhadap interval (0... 2. Suatu cara yang kompak untuk mengekpresikan orthonormal dalam  n ( x) adalah menuliskannya sebagai sebagai : q  0 k m ( x) n ( x)dx   mn Simbol  mn disebut delta Kronecker yang didefinisikan sebagai  mn  1 jika m = n =0 jika m  n Soal 3. 0  y  b (lihat gambar) 25 . ei  eiE ei  e i cos  dan sin   2 2i dan kemudian realisasi yang menunjukkan himpunan fungsi x 1  h (k )  a  2 eina a n=0. yang orthonormal dalam interval (0. Soal 3. 1.9 Hitunglah  E2   2      2 untuk partikel dalam Kotak dalam keadaan yang dijelaskan oleh 1 2  630  ( x )   9  x 2 ( a  x) 2 0  x  a  a  Soal 3.8 Tunjukkan bahwa himpunan fungsi 1 n ( )  (2 ) 2 ein 0    2 2 adalah orthonormal: yakni    d  1 m=n * m n 0 = 0 m n Soal 3.10 Perhatikan sebuah partikel bebas yang terkendala bergerak hanya pada daerah empat persegi panjang 0  x  a.7 Dalam Soal-Soal yang berhubungan dengan partikel dalam kotak kita sering memerlukan Solusi integral dengan tipe a a n x m x nax max 0 sin a sin a dx dan 0 cos a cos a dy Integral-integral seperti ini mudah dihitung jika kita konversi fungsi trigonometri ke eksponensial kompleks dengancara memakai identitas..

14 ˆ Hermitian.12 Misalkan sebuah partikel dalam kotak dua dimensi berada dalam keadaan 30  ( x .xd dx dx dx dan x?. untuk untuk menghitug <p> dan kemudian tentukan  2p  p 2    p  2 . maka  E2  E 2    E  2  0 Soal 3. y )  5 5 1 2 x ( a  x ) y (b  y ) (a b ) Tunjukan bahwa  ( x. Soal 3. 3. Anggap bahwa fungsi-fungsi terhadap mana dx 2 dx 2 operator ini bekerja merupakan fungsi yang berkarakter baik tak terhingga.2. Soal 3.13 Manakah diantara operator-operator berikut yang Hermitian: 2 2 d . Fungsi eigen sistim ini adalah: ny 4 n x  nx . d .11 Operator momentum dalam dua dimensi adalah   pˆ  ih(i  j ) x y Pakai fungsi gelombang dalam soal 2. Bandingkan hasil yang diperoleh terhadap  2p dalam kasus satu dimensi. y ) ternormalisasi. 2. dan kemudian hitung <E> yang berhubungan dengan keadaan yang dijelaskan oleh  ( x. Soal 3.1.y b a x Kita sebut sistem seperti ini sebagai sebuah partikel dalam kotak dua dimensi.n y ( x. Tunjukkan juga bahwa Tunjukan bahwa jika  jumlah dua operator Hermitian juga operator Hermitian. 3.i d . 2. 26 . y )  ( )1/ 2 sin x sin y nx =1.i d . y ) . maka  ˆ -<a> adalah Hermitian.… Operator Hamilton untuk sistem ini adalah h2  2 2 Hˆ   ( 2  2) 2m x y Tunjukkan bahwa jika sistem berada dalam satu keadaan eigen. … ab a b ny = 1.

0  x  a.18 Pakai keortogonalan himpunan  sin(n x a) pada interval 0  x  a . untuk menunjukkan bahwa jika nax maka a a n x 2 bn  f ( x) sin dx a a 0 n = 1.17 Diketahui tiga polinominal f 0 ( x)  a0 .2.1.20 27 . dimana  ˆ dan  ˆ dinyatakan sebagai berikut.… adalah ortonormal pada interval 0  x  a.16   1 Tunjukkan bahwa himpunan fungsi ( 2 a ) 2 cos( n  x a ) . Soal 3. Soal 3.… Pakai ini untuk menunjukkan 2a  (1) n 1 n x x sin   n 1 n a f ( x )   n 1 bn sin bahwa ekspressi Fourier f ( x )  x. adalah Soal 3. ˆ .15 ˆ Hermitian. f1 ( x)  a1  b1 xdan f 2 ( x)  a2  b2 x  c2 x 2 Tentukan konstanta-konstanta sedemikian sehingga bentuk fungsi (f) merupakan suatu himpunan ortogonal pada interval 0  x  1 .n=0.19 ˆ . maka Tunjukkan bahwa jika  ˆ ˆ  dx  ˆ ˆ  dx   Soal 3. Evaluasi komutator    ˆ  ˆ x 2 d (a) 2 dy d x dx (b ) d  x dx x (c )  dx d 0 dx 2 (d ) d x dx 2 d dx  x2 Soal 3.2.Soal 3.

Persamaan terakhir disebut teorema Ehrenfest. dt m Tunjukkan bahwa Soal 3. t )dx Diketahui bahwa 2 2 ˆ   h d  U( x)  2m dx 2 2 2 ˆ . Jelaskan implikasi ˆ ˆ    . kondisi apakah yang perlu untuk kesamaan berikut ˆ ˆ ˆ ˆ e  ? e  e Soal 3. dt dx Soal 3. Pakai persamaan tersebut untuk menunjukkan bahwa   k i ( HF h dt d  Px  dU    . Interpretasikan hasil ini. Sebagai contoh.24 ˆ f dimana  ˆ dan f diberikan berikut ini Evaluasi g   ˆ  (a) Akar kuadrat (b) d3  x3 dx 3 1 (c)  dx x e  x (d) x3y2z4 f 4 x3 –2x + 3 0 2 2 2   x 2 y 2 z 2 28 . maka dF ˆ ˆ  FH ˆ ˆ ) dx . x   ˆ x  x ˆ  2 h d  h i ˆ x   ih ˆ x     2m dx mh m Akhirnya subtitusi hasil ini ke persamaan d <x>/dt untuk menunjukkan bahwa d  x   x   Interpretasikan hasil ini.   0 pada pengukuran A. Soal 3.Kita dapat mendefinisikan fungsi operator melalui deret Taylor. maka  ˆ bersama-sama Jika suatu operator  akan merupakan himpunan yang saling merupakan fungsi eigen.1.23 Generalisasi hasil Soal 2.21 ˆ komut dengan suatu Hamiltonian  ˆ dan  ˆ . kita definisikan exp ( sˆ) sebagai  ( sˆ) n e sˆ   n 0 n ! Memakai aturan tersebut.22 x Mulai dengan  x   ( x.14 dan tunjukkan bawa jika F adalah suatu besaran dinamis. t ) x ( x.

tunjukkan bahwa f(x) adalah fungsi eigen operator yang diberikan.28 Tunjukkan bahwa e x adalah fungsi eigen operator Dˆ n (didifferensiasi (diturunkan) n kali terhadap x). x Soal 3.25 Tentukan apakah operator-operator berikut linear dan non-linear ˆ f ( x)  kuadrat f (x)={f(x)}1/2 (a)  ˆ f ( x)  f x ( x) [bentuk konjugat kompleks f(x)] (b)  ˆ f (x) = 0 [kalikan f(x) dengan nol ]  ˆ f ( x)  [ f ( x )]1 [ambil kebalikan (resiprok) f (x) ]  ˆ f ( x)  f (0) [evaluasi f (x) pada x = 0 ] (e)  ˆ f ( x)  hf ( x) [ambil logaritma f (x)] (f)  (c) (d) Soal 3.Soal 3. Berapa nilai eigennya?.27 Tentukan apakah pasangan operator berikut komut atau tidak ˆ  ˆ d dx (b ) x (c )kuadrat  (d ) x d2  2d dx dx 2 d dx akar kuadrat (a)  y Soal 3.30 Dalam setiap kasus di bawah ini. ˆ  f(x) 29 . Berapa nilai eigennya. Soal 3.26 d2 d2 d2 2 ˆ ˆ Tuliskan operator  untuk   (a ) 2 (b)  x (c ) 2  2 x d  1 dx dx dx dx Soal 3.29 Tunjukkan bahwa eiKx adalah suatu fungsi eigen operator momentum ˆ x  ih  . Tentukan nilai eigennya.

34 Distribusi probabilitas kontinu yang paling biasa adalah Distribusi Ganss.… fn  e n! Buktikan bahwa fn ternormalisasi.2. Ingat kembali  xn ex   n 0 n ! Soal 3.  n  n= 0.31 2 2 2 Tunjukkan bahwa (cos dx) (cos cz) adalah fungsi eigen operator   2  2  2 yang x y z kita kenal sebagai operator Laplacian. 2 Soal 3. yang distribusinya sbb. x f ( x )dx  ce Tentukan c .36 Suatu distribusi kontinu penting adalah distribusi eksponensial 30 .35 Suatu distribusi probabilitas diskrit yang biasa dipakai dalam Statistik adalah distribusi Poisson. Soal 3. dimana a xb F(x) constan =A = 0 di yang lainnya. atau normal. <x>. Soal 3. <x2 >.cos  x d2 dx 2 d (b ) dt d2 d (c ) 2  2  3 dx dx  (d ) y (a) eit e x x 2 e6 y Soal 3. 2 Tunjukkan bahwa A mesti sama dengan 1/(b-a).1.  x Dan  x untuk distribusi ini. Evaluasi (x).33 Barangkali distribusi kontinu yang paling sederhana adalah yang dikenal sebagai distribusi uniform.  2 dan 2 2 a2 dx    x   Soal 3. Evaluasi <n> dan <n2 > dan tunjukkan bahwa  2  0 .32 Hitung probabilitas sebuah partikel dalam kotak satu dimensi yang panjangnya a berada antara 0 dan a/2.

X (t) = B cos ( t  ) = B cos  cos t . ganti dengan t + n  . C1 = A sin  C2 = A cos  Dengan cara sama. C1 = B cos  C2 = . diperoleh X (0) = A X’ (0) = v0 = B  Jadi v X (t) = A cos t + 0 sin t  Solusi 3.<x>.   2 /  merupakan periode osilasi dan  / 22 adalah frekuensi 31 .B sin  sin t  t  t Bandingkan hasil ini dengan x (t) = c1 cos + c2 sin Menunjukkan bahwa.  2 dan probabilitas untuk x  a . Subtitusi ini akan menghasilkan A sin( t   )  A sin[ (t  2 n /  )   ]  A sin[(t   )  2 n]  A sin(t   ) cos 2 n  A cos(t   ) sin 2 n  A sin(t   ) Jadi. SOLUSI: Solusi 3.2 a) d2x  2x  0 2 dt Solusi umum persamaan ini adalah X(t) = Acos t  B sin t Kedua kondisi diterapkan.B sin  Untuk menunjukkan A sin ( t   ) berisolasi dengan frekuensi  / 2 . Solusi umum adalah x(t) = A cos t + B sin t Kedua kondisi diterapkan.3 Mari kita mulai dengan X(t) =A sin (t   )   cos  sin t  A sin  cos t Bandingkan dengan x(t )  C1 cos t  C2 sin t Kita lihat bahwa. dimana  = 2  /  yang merupakan perioda osilasi. diperoleh X(0) = 0 = A X(0) = v0 = B  A = 0 dan B = v0 /  b).P(x) dx = ce   x dx0  x   Evaluasi Ec.

4 Untuk membuktikan Y(x.Solusi 3. t )  A sin   ( x   )  vt     2   A sin  ( x  vt )  2     2   A sin  ( x  vt )  y ( x. ganti x dengan x +   2 y ( x   .5 Kita ingin menunjukkan 2 n x m x I nm   n( x) m( x)dx   sin sin dx   nm a0 a a 0 pakai identitas trigonometri n x m x 1 (n  m) x 1 (m  n) x sin sin  cos  cos a a 2 a 2 a untuk menuliskan a a 1 (n  m) x 1 I nm   cos dx   cos ( m an ) x a0 a a0 a a = 1 a sin  (n  m) x / a  a (n  m) 1 a sin  (n  m) x / a  nm a (n  m) 1 1 nm = (0)  (0)  0 a a Dalam hal ini. a a 1 1 2 nx I  dx  cos dx  1 . jika n = m.t) adalah gelombang yang mempunyai panjang gelombang  . Dalam kasus seperti ini 2  ( x  vt )   2 atau x  vt   / 4 Ingat. Solusi 3. kita peroleh nn   a0 a0 a Solusi 3. kita pakai kenyataan sin N   0 untuk nilai bilangan integer N. t )    Untuk menunjukkan y (x. x bertambah secara linear dengan t untuk suatu kecepatan v. lihat pada harga maksimum y (x. katakanlah misalnya ketika argumen sinus sama dengan  / 2 . Ingat.t).t) menjalar kekanan dengan kecepatan V.6 - 32 .

kita peroleh 2 *( ) ( )   m  n d  0 1 2 2 e i ( n  m ) 2  d  1 0 d  0 0 Solusi 3. kita peroleh 0 a a 1  in x / a in x / a 1 e e   dx  1 untuk a 0 a0 n  m. kita peroleh 2 2 0 0 *( ) n ( ) d   n   (2 ) 1/ 2 e  in  (2 ) 1/ 2 e in d  1 2 Untuk kasus m  n . 1 i ( mn ) x / a 1   (m  n) x  ( m  n ) x e dx    cos  i sin   dx  0 .8 Untuk kasus m = n.a Kondisi ortonormalitas adalah  n( x ) m ( x)dx   nm . Untuk n = m. a0 a 0 a a a a Solusi 3. biasanya dipakai hubungan berikut 1 m !n ! x m n 0 x (1  x) dx  (m  n  1)! jadi 315h2 ma 9  E ?     2 315h ma 2  2  2a  2!2! a 5 3!2! a 6 4!2! a 7  12a  12 5! 6! 7!   2    7 x15 6h2 ma 2 33 .9 a  E   ( x ) A ( x )dx 0  h2 d 2  =  (x)   ( x)dx 2  2m dx  0 a a =- 630h2 2 x (a  x) 2 (2a 2  12ax  12 x 2 )dx 9  2ma 0 untuk menentukan harga integral..

y) b n n n  n n x  i x cos x y  j y sin x x cos y y b b a a   a =0 a b   2 2   p 2   dx  dy nx n y ( x.11 a b 0 0   <p>= dx dy n x n y      ( x.a  E 2   ( x ) A2 ( x)dx 0  h4 d 4 =  (x)   ( x)dx 2 4  4m dx  0 a a = 630h4 2 126h4 2 x ( a  x ) (4. maka H nx n y  Enx n y nx n y dan A2 nx ny  E 2 nx ny nx ny Karena itu  E   n*x n y A nx n y dxdy  Enx n y dan  E 2   nx*n y A2 nx n y dx  E 2 nx n y  E 2  E 2    E  2  0 Solusi 3. y ) x nx ny = a b n y y 4h2 n x x dx dy sin sin ab 0 0 a b n  nx 2 2 ny 2 2 n  sin x x sin y y 2 2  b  a b  a x 34 . keadaan nilai diri).2) d 4m 2 a 9 0 m2 a 4 dan 90h4 m2a 4  E  E 2    E  2  Solusi 3. y )  h2  2  2   x y   0 0  ( x. y )  i h i  j    nxn y  x  y    nx y 4ih  dx dy sin ab 0 0 b a = ( x.3.10 Jika sebuah sistem berada pada salah satu keadaan eigennya (eigenstate.

 nx 2 ny 2  2 h 2 nx 2 ny    2 b 2  4 a 2 b 2  a Hasil ini merupakan pengembangan persamaan yang menunjukkan harga <p2 >  2p  p 2    p  2  p 2  2 2 = h  Solusi 3. y ) ternormalisasi. y )  dx x ( a  x ) dy y 2 (b  y ) 2 5  0 0  ab 0 0 900  2.2a 5  a 5b5  5!   = 2.2 b5 1 5! Kita telah memakai hubungan 1 n !m ! (n  m  1)! 0 <E> diperoleh sebagai berikut a a 900 dx dyx(a  x ) y (b  y ) a 5b5 0 0 <E> =  h2  x   2 y(b  y)  2 x(a  x)   2m  2 5 5 900h 1x1a 2 x 2b = 5 5 [[ ][ ] abm 3! 5! 2 x 2a 5 1x1b3 [ ][ ]] 5! 3! 5h2  1 1  = m  a 2 b 2 Solusi 3. b) Operator Hermitian c) Operator Hermitian   2 d * d * d  * d  i  dx   i  i dx d)   2  dx dx dx dx   35 .  d *  dx dx tidak Hermitian. proses sebagai berikut a b a b 900 2 2 2 dx dy  ( x .12 Untuk menunjukkan  ( x.13 Kita harus menentukan apakah operator memenuhi persamaan berikut x n (1  x) m dx     Aˆ dx  *     ( Aˆ  * ) dx  d a)    dx  dx  * *     *    d * dx dx   = .

perhatikan hubungan berikut * * ˆ * * * * ˆ ˆ * g *dx ˆ = (A   g * Bfdx  g ( Aˆ  Bˆ ) fdx   g Afdx  ˆ g ) fdx   ( Bˆ g ) fdx =  f(A+B) Solusi 3.   i 2  *dx  dx      d * * d  * *  x dx   x      dx   x dx   dx    x - d * dx dx tidak Hermitian f). Solusi 3. Untuk membuktikan jumlah dua buah operator Hermitian adalah real.14 Operator tersebut Hermitian. e).15 * * * Jika A Hermitian. Misalkan f = Bˆ dan g =  . dan Soal terpecahkan. karena itu * ˆ   fAˆ * g *dx  g Afdx Kemudian ˆ   a  g fdx  g ( Aˆ   a  fdx   g Afdx  ˆ g dx   a  m fg dx =  fA  ˆ =  f(A-<a> g dx * * * * * * * * * karena <a> real (A Hermitian).16 1/ 2 Kita peroleh  n ( x)  (2 / a) cos( n x / a) Maka a a 2 n x m x * 0  n ( x) m ( x)dx  a 0 cos a cos a dx Pakai identitas trigonometri 1 1 cos  cos   cos(   )  cos(   ) 2 2 untuk memperoleh 36 .  d d 2 * i  dx dx dx 2     = -I *  d 2 = .     * *   x dx    ( x ) dx tidak Hermitian Solusi 3. maka  g Aˆ fdx   ( Aˆ g ) fdx .

integral ini sama dengan nol karena a a N x dx  0 N = 1. maka a 2 n x n x cos cos dx   nm  a0 a a a  cos Solusi 3.1 (n  m) x 1 (n  m) x cos dx   cos dx  a0 a a0 a kecuali n = m. maka a  2 m x 2  a2 bm   x sin dx    cos m a0 a a  m  a bm  =Jadi 2a 2a (1) m  (1)m 1 m m 2a  (1) m 1 m x x sin   m 1 m a Solusi 3.… a 0 Jika m = n.18 Mulai dengan hubungan  n x f ( x )   bn sin a n 1 Kalikan kedua ruas dengan sin ( m x / a ) dan integralkan dari 0 ke a a a  m x n x m x bn  sin sin dx 0 f ( x)sin a dx   a a n 1 0 =  b n-1 n a a  nm  bm 2 2 atau 2 m x f ( x) sin dx  a0 a Jika f (x) = x.19 Kita mesti mengevaluasi hubungan ˆ ˆ ˆˆ ˆˆ    .      a).2. 2 ˆ ˆ f  d xf  d  f  x df  dx 2 dx  dx =2 df d2 f  d d 2  x 2   2  x 2 f dx dx dx   dx 37 .

perhatikan 38 . 2 d3 f df 2 d f =  x  3x  (2  x 3 ) f 3 2 dx dx dx 2 ˆ ˆ f   d  x 2  d f  xf    dx   dx 2   2 d3 f df 2 d f  x  x  (1  x 3 ) f 3 2 dx dx dx d ˆ ˆ  ˆˆ ˆˆ    .  ˆ ˆ f  d dx ' f ( x ')  f ( x) dx 0 ˆ ˆ   ˆ ˆ f ( x)   f (0)      d 2   df  ˆ ˆ f   2  x   x 2 f   dx   dx d).       4 x dx  3 = Solusi 3..) 3! Kita perhatikan suku-suku kuadrat ˆ ˆ  BA ˆ ˆ  Bˆ 2 ( Aˆ  Bˆ ) 2  ( Aˆ  Bˆ )  ( Aˆ  Bˆ )  A2  AB Sekarang...20 Perhatikan deret Taylor dari 1 ˆ ˆ e A B  I  ( Aˆ  Bˆ )  ( Aˆ  Bˆ ) 2 2! 1 + ( Aˆ  Bˆ )3  .2 ˆ ˆ f  x d xf  dx 2 ˆ ˆ   ˆ ˆ 2 d  dx d df   f ˆ ˆf   b).   dx  x  dx   x  d2  d2 f 2  f  x f   1  x 2 f =  2 2 dx  dx  ˆ ˆ f   d  x  df   xf   dx   dx   d2  d2 f 2 =  f  x f   2  1  x 2 f 2 dx  dx  ˆ ˆ ˆ ˆ     2 x ˆ ˆ f  dx df  f ( x )  f (0)  0 dx ' x c).

. =I+A+B+ 2 ˆ komut.)( I  Bˆ  Bˆ 2  . Kedua ekspansi sama hanya jika Aˆ dan B Solusi 3.. * HX ih ih  1 ˆ ˆ  XH ˆ ˆ ) dx  * ( XH  ih = i ˆ ˆ  XH ˆ ˆ ) dx   * ( HX h 2 2 ˆ ˆ  XH ˆ ˆ ) f    h d  U ( x) x ( HX  2m dx 2     h2 d 2 f  -x   U ( x ) f 2  2m dx  2 h df 2 2m dx = h2 i ˆ ih  Px   Pˆx mh m 39 . Pada kasus ini    m ( x) n( x)dx   * mn  dan Cm (t )  Cm exp(iEnt / h) dan 2 * Pm (t )  Cm (t )  Cm Cm yang dalam hal ini tidak gayut waktu.. A]  0.) 2 2 ˆ ˆ ˆ ˆ 1 Bˆ 2  ...1 1 ˆ ˆ e Ae B  ( I  Aˆ  Aˆ 2  . t )dx Untuk memperoleh hubungan dx  *   xˆ dx   * xˆ dx dt t t 1 1 =. Jadi A adalah besaran konservasi Solusi 3.22 * Turunkan  x   ( x.. t ) xˆ ( x... maka  n ( x) dan   m ( x) akan sama. =I+A+B+AB+ 2 ˆ ˆ 1 ( Aˆ 2  2 AB ˆ ˆ  Bˆ 2 )  .21 Jika [ Aˆ . ( Hˆ  )* xˆ dx   * xˆ ( Hˆ  ) dx ih ih 1 ˆ ˆ dx  1  * Xˆ ( Hˆ ) dx = .

24 3 ˆ  ( x 4 )   x 2 . t ) Fˆ ( x. Xˆ ] dx dt h 1  Px  =  * Pˆx dx   m m Solusi 3. t ) dx maka dF  * ˆ   F ( x. b).Akhirnya dx i   *[ Hˆ . 2 4 3 4 = 6xy z  2 x z  12 x3 y 2 z 2 Solusi 3. a ) Af  dx 3    1 ˆ  dx ( x 3  2 x  3)  1  2  3  9 c ). t ) Fˆ dx dt t t 1 1 ˆ ˆ  dx   ( Hˆ * * ) Fˆ dx   * FH ih ih 1 ˆ ˆ dx  1  * FH ˆ ˆ  dx =    * HF ih ih i ˆˆ ˆˆ   * ( HF  FH ) dx h Fˆ  Pˆ x ˆˆ ˆ ˆ ˆ ( x) x Misalkan HPx  Px H  U ( x) Px  PU dU = ih dx Jadi.23 Jika  F   * ( x.25 40 . d  Px  dU dU    *  dx   dt dx dx Solusi 3. Af 0 4 2 4 2 2 2 ˆ         x3 y 2 z 4 Af  x 2 y 2 z 2   d). t )dx   * ( x. Af ˆ   d  x 3 e  x  ( x 3   3 )e  x .

Aˆ  c1 f1 ( x)  c2 f ( x) 2  =  c1 f1 ( x )  c2 f 2 ( x)  = 1 1 c1 f1 ( x )  c2 f 2 ( x)  c1  f1 ( x)   c2  f 2 ( x)  1 1 Karena itu. A tidak linear Aˆ  c1 f1 ( x)  c2 f 2 ( x)    c1 f1 ( x)  c2 f 2 ( x)  * b).a ). Aˆ  c1 f1 ( x)  c2 f 2 ( x)   c1 f1 (0)  c2 f 2 (0) ˆ ( x )  c Af ˆ ( x) = c1 Af 1 2 2 Karena itu A linear f ).26 41 . Aˆ  c1 f1 ( x )  c2 f 2 ( x ) = (0)  c1 f1 ( x)  c2 f 2 ( x)  = c1 (0) f1 ( x)  c2 (0) f 2 ( x) =0 Karena A itu linear d ). Aˆ  C1 f1 ( x)  C2 f 2 ( x)  = SQR  c1 f1 ( x)  c2 f 2 ( x )  =  c1 f ( x)1  c2 f 2 ( x)  2 2 2 2 2 = c1 f1 ( x)  c2 f 2 ( x)  2c1c2 f1 ( x) f 2 ( x ) = 2 2  c1  f1 ( x )  c2  f 2 ( x)  Karena itu. Aˆ  c1 f1 ( x )  c2 f ( x )2  = 1n  c1 f1 ( x)  c2 f 2 ( x)   c11nf1 ( x)  c21nf 2 ( x) Solusi 3. A non linear e).  c1* f1* ( x)  c2* f 2* ( x) * ˆ * ˆ  c Af ( x)  c Af ( x) 1 1 2 2 ˆ ( x)  c Af ˆ ( x)  c1 Af 1 2 2 Karena itu A tidak linear c ).

Aˆ 2 f    2 x  1   2 x  f 2 2 dx   dx dx   dx d4 f d3 f d2 2 =  4 x 3  (4 x  2) 2  1 dx 4 dx dx Karena itu d4 d3 d2 Aˆ 2  4  4 x 3  (4 x 2  2) 2  1 dx dx dx Solusi 3.27 2 ˆ ˆ ( f ( x)  Aˆ ( Bf ˆ ( x))  d  d  2 d f ( x) a ).2 2 4 ˆ )  d  d f  d f a ). Aˆ 2 f   x  dx   karena itu df  d2 f df   xf  2  2 x  f  x 2 f dx  dx dx 2 ˆ 2  d  2 x d  ( x 2  1) A dx 2 dx 2  d d   d2 f df  c ). operator-operator tersebut komut 42 . Aˆ 2 f  Aˆ ( Af dx 2  dx 2 dx 4 dan juga 4 ˆ2  d A dx 4  d  b). AB dx  dx 2 dx  d3 d 2 =   2 f ( x) 3 dx 2  dx dan juga 3 2 ˆ ˆ  d 2 d AB dx 3 dx 2  d2 d  d  ˆ ˆ ˆ ˆ BAf ( x)  B ( Af ( x))   2   f ( x) 2 dx  dx   dx  d3 d 2 =  3  2 2 f ( x) dx   dx dan juga d3 d2 ˆ ˆ BA  3  2 2 dx dx ˆ ˆ ˆ ˆ Karena    .

AB  [  f ( x )     = f (x) dan juga ˆ ˆ 1 AB   ˆ ˆ ( x)  [( f ( x) 21 ]  [ f ( x)]2 BAf =  f(x) dan juga ˆ ˆ  1 BA karena itu ˆ ˆ  BA ˆˆ AB dan jelaslahkuadart dan akar kuadrat tidak komut 2 ˆ ˆ     f   f AB  x y xy      2 f f   yx  y x Untuk fungsi yang berkelakuan baik f (x. ˆˆx d AB dx dan ˆ ˆ  1 x d BA dx Karena A dan B tidak komut 2 1/ 2 2 ˆ ˆ ( x )   f ( x ) c ).29 Operator komponen momentum pada sumbu x adalah 43 .ˆ ˆ  x df b) ABf dx ˆ ˆ  d ( xf )  x df  f BAf dx dx Karena itu.y) ˆ ˆ  BA ˆˆ AB dan   and commute. dx Solusi 3. x y BA   Solusi 3. dan kita peroleh d n x n x De  e   n e x sehingga nilai eigen =  n .28 Kita turunkan e x n kali.

kita peroleh  Pˆx eikx  ih eikx  hkeikx x Dapat dilihat bahwa eikx adalah fungsi eigen dan hk adalah nilai eigen operator momentum. Pˆx  ih x Kemudian operator ini kita terapkan pada fungsi eikx . serta 1 f ( x)  axb ba 44 .31  2 (cos ax) (cosby) (coscz)  2 2  2   (cosax) (cosby) (coscz) 2 2 2  x y z  =(.b 2 .32 Probabilitas menemukan partikel berada antara 0 dan a/2 adalah a/2 2 a/2 n x Pr ob    * ( x) ( x)dx   sin 2 dx 0 0 a a Misalkan n x / a adalah z. maka  b a b f ( x)dx  1  A dx a =A(b-a) dan juga A= 1/ (b – a). Solusi 3. maka kita peroleh n / 2 2 n / 2 2 2 x sin 2 x Pr ob  sin zdz   n 0 n 2 4 0 2  n sin n 1     n  4 4  2 Jadi.c 2 ) (cosax) (cosby) (coscz) = Solusi 3.33 Karena f(x) mesti ternormalisasi.a 2 .30 a) 2 ˆ  d cos  x   2 cos  x Af dx 2 d Af  eit  i eit b) dt 2 ˆ   d  2 d  3 e x  ( 2  2  3)e x Af c)  dt 2 dx   ˆ   2e 6 y  6 x 2 e 6 y Af d) y x Solusi 3. probabilitas menemukan partikel berada pada interval (0. = Solusi 3.a) adalah ½.

y (x)= x 2 e  x / 2 a  y (  x) Grafik suatu fungsi genap simetri terhadap sumbu y (lihat gambar (a)) dan juga 45 .34 (b  a ) 2 12 dan  x  Gambar (a) fungsi genap y (x) = y (-x). varians dapat ditentukan sebagai berikut  x2  x 2    x  2  (b  a ) 12 Solusi 3. (b) fungsi ganjil y (x)= -y (-x) Konstanta c ditentukan berdasarkan normalisasi berikut     f ( x) dx  1  c  e  x  atau c = 1/(2 a 2 )1/ 2 2 / 2 a2 dx  c(2 a 2 )1/ 2 Mean x adalah      x   xf ( x) dx  (2 a 2 ) 1/ 2  xe  x 2 / 2 a2 dx Integral ini dapat ditentukan dengan memeriksa jika kita menekankan sifat genap ganjil integrand.  x   2 b a 1 b 2 b3  a 3 x f ( x)dx  x dx  b  a a 3(b  a ) 2 b 2  ab  a 2 = 12 Akhirnya. b 1 b  x   xf ( x)dx  xdx a b  a a b 2  a 2 b3  a 3 =  2(b  a) 2 Seterusnya. jadi <x>=0 varians x ditentukan seperti berikut ini. Grafik fungsi genap kelihatan seperti pada gambar (a) integral fungsi ganjil antara limit simetri. Limit – A dan +A adalah nol karena daerah pada satu sisi sumbu y untuk x adalah  x2 / 2 a 2 x=0 xe Ini merupakan fungsi ganjil.= 0 yang lainnya Mean x diperoleh berdasarkan hubungan berikut. Ingat bahwa fungsi y(x) adalah ganjil jika y(x)=-y(-x).   2  x 2    x  2  (2 a 2 ) 1/ 2  x 2 e  x  2 / 2 a2 dx 2 2 Integrand dalam kasus ini adalah fungsi genap.

  2  2(2 a 2 ) 1/ 2  x 2e  x 2 / 2 a2 0 dx Integral ini dapat dihitung memakai tabel integral. dan hasilnya adalah 2 (2 a 2 )1/ 2 a 2 2  a2 (2 a 2 )1/ 2 2 dan  a Varians distribusi normal adalah parameter yang muncul eksponensial. )e     n 2 2   n2 n2 e   2e    n! n0 n 0 n ! n 0 Untuk memakai ungkapan turunan ke dua di atas. Fungsi distribusi 2 2 Gauss ditulis sebagai f ( x) dx  (2 2 ) 1/ 2 e  x / 2 dx Solusi 3. diproses sebagai berikut     n  n  f  e  e  e e  1    n n 0 n 0 n ! n 0 n ! Untuk memperoleh <n> dan <n2> paling baik jika dipakai relasi berikut  d  d  n n n 1 e  e     d d  2 n  0 n ! n 0 n dan e  d2  d2 e  d 2 d2  n  n(n  1) n2   n! n 0 n ! n0  jadi.36 p ( x)dx  ce   x dx 46 .35 Untuk menunjukkan fn ternormalisasi. kurangkan dan jumlahkan sebagai berikut  n n  2 1  n n 1 e     n!  n 0 n!  n 0 untuk memperoleh   ( n 2  n) n 2  n n 2  n 2   2e      n! n !  n 0  n0    n 2   n 2 f n    e = 2 e    e      2      2  n 2    n  2  ( 2   )   2    0 Solusi 3.   n n   n n 1 e   e  n! n 0 n ! n n 0   n   nf   n 0 =( e.

. c=  dan 0 0     0 0  memperoleh  47 .Untuk harga c. pakai kenyataan bahwa p (x) ternormalisasi   c 1  x p ( x ) dx  1  c e dx   x  xp ( x ) dx   xe   x dx  . Karena itu.