You are on page 1of 3

Mungkin, Masa

Delusional?

Depan

itu

Saya percaya, masa depan selalu bisa diukur, dihitung dengan cermat dan
menghasilkan rencana yang sangat detil. Namun ketika melihat masa
depan bumi, hampir tidak ada indikator sumber daya alam yang bisa
dihitung, diproyeksi dan dikalkulasi ketersediaannya untuk menopang
kehidupan umat manusia di masa depan. Perhitungan dan analisis potensi
sumber daya alam dan kondisinya (apakah masih terjaga atau rusak) akan
menetukan seberapa besar harapan kita untuk keberlangsungan bumi
untuk generasi berikutnya. Masa depan itu mungkin saja tetap ada, tapi
dengan dua pilihan: akan lebih baik atau menuju kehancuran dan punah
bersama zaman.
Saya meyakini, jika perang sesungguhnya di masa sekarang adalah
persoalan lingkungan. Saat negara-negara adidaya tak lagi berperang,
saat ketersediaan minyak sudah mencukupi kebutuhan semua negara,
saat pesawat tempur dan sejata berhenti diproduksi, maka satu-satunya
yang dibutuhkan manusia adalah bagaimana bertahan hidup. Kita
bertahan hidup setelah beratus-ratus tahun berperang, menumpahkan
darah, menghabiskan setengah populasi manusia di muka bumi untuk
berbagai kepentingan.
Kini, tumpah darah telah selesai, minyak sudah dikuasai, dan peralatan
tempur telah kembali ke negara masing-masing. Tapi tanah dan alam
pelan-pelan mulai tak menghasilkan apa-apa, kita tidak menyadarinya
karena sibuk berperang. Tanah yang diklaim dan diperebutkan sejak
agama belum lahir di dunia ini kini justru tidak lagi menghasilkan apa-apa
selain debu.
Saat itu, semua tanaman di tanah tidak lagi menghasilkan apa-apa,
sumber mata air telah kering selama bertahun-tahun, dan untuk
mendapatkannya sungguh sangat tidak mudah. Tanah tak lagi memiliki
unsur hara yang membantu proses tumbuh tanaman, air tak lagi aman
untuk dikonsumsi karena tercemar limbah berat. Ikan tercemar merkuri
dan limbah sampah plastik di laut, hewan ternak terserang berbagai
macam virus mematikan, dan manusia ada pada titik paling abai di masa
itu. Manusia seakan-akan mati pada hari itu, sehingga yang terpikirkan
hanyalah ingin mengeruk sebanyak-banyaknya kekayaan di muka bumi,
yang lapar akan mati sekarat dan yang berkecukupan menimbun
makanan kebutuhannya sendiri.

Ilmuwan mededikasikan hidupnya tidur 2 jam sehari demi meminimalisir dampak lingkungan itu tidak datang lebih cepat dan mebinasakan umat manusia sekaligus. ada kaum maginal yang miskin-semiskinnya. disimpan dan dijadikan ivestasi di negara yang bisa menjamin keamanannya. Tambang dengan alasan apapun adalah kegiatan . lalu bagaimana dengan negara yang selama ini dikenal sangat kering? tidak memiliki sumber daya alam berlimpah. organisasi lingkungan seperti ini suaranya tidak bisa lantang. yang menguasai seluruh sendi-sendi penting di pemerintahan.Kilang minyak itu tidak mungkin disuling menjadi sumber air bersih. kenyataan tidak seideal itu. mereka ini kelompok pengusaha kaya yang jika bersatu memikirkan masa depan bangsa maka tidak ada lagi anak-anak putus sekolah. karena yang memegang kekuasaan tertinggi adalah para kapitalis. Rantai ekosisistem telah rusak dan tidak ada lagi cara memulihkan kondisi lingkungan yang rusak itu. Bagi kapitalis. tanah yang selalu menumbuhkan setiap biji apapun kini sudah tak lagi menghasilkan apa-apa. Mereka ini melakukan segala cara agar bisa bertahan hidup. Jika di negara yang tadinya kaya sumber daya alam. Harta dibawa ke luar negeri. Mereka yang kaya hanya untuk dirinya dan keluarganya. Sayangnya. sekelompok manusia yang masih berkomitmen pada perbaikan kualiatas lingkungan. Faktanya kita tidak pernah menang melawan perusahaan pengrusak lingkungan. masalah lingkungan hanyalah isu yang dibuat-buat dan tidak benar-benar terjadi. Tetapi. dan tidak berpendidikan. Pemikiran ini tidak sepenuhnya salah tapi kita mengesampingkan fakta jika di level bawah dalam sistem bermasyarakat. Harapan satu-satunya ada pada mereka. Mereka ini bergerak di berbagai jenis usaha yang merusak lingkungan. karena yang perlu dikejar saat ini adalah meningkatkan devisa negara. Lalu limbah beracun dari perusahaan emas terbesar yang mematikan beberapa penduduk desa namun tak pernah terdengar beritanya. tambang dan perkebunan sawit. atau lahan tambang yang mereka klaim telah direklamasi dan dihijaukan kembali ternyata tidak menghasilkan komoditi apapun. yang ada hanya peperangan memperebutkan setetes air bersih. Lalu di level atas ada kelompok kaya. punya sumber daya air berlimpah. tidak heran jika sumber devisa tertinggi adalah sektor migas. Aktivis dan organisisasi lingkungan hanya bisa menelan kekalahan di pengadilan ketika menuntut pengusaha-pengusaha sawit yang dianggap turut terlibat dalam pembakaran hutan di paru-paru Kalimantan. lapangan kerja tersedia dan tidak ada pengangguran.

Apa yang dikeruk dari tanah. tidak akan mungkin kembali seperti semula. jika kondisinya demikian apakah kita masih bisa berharap akan ada masa depan untuk generasi berikutnya atau harapan tersebut delusional ? *** . Tanah di negara ini dirusak. sama sekali tidak ada keuntungan yang disimpan untuk bangsa ini. negara hanya mendapat imbas kesenjangan sosial yang berujung pada maraknya masalah asusila.merusak lingkungan. kebobrokan mental dan hasil pangan yang tercemar limbah dan virus berbahaya. di pulau-pulau wisata kelas dunia. Kecenderungan individual kita telah menimbulkan bencana kemanusiaan dan lingkungan. hingga sumber daya tanahnya tidak lagi menghasilkan apa-apa lalu hasilnya dinikmati di atas kapal-kapal pesiar. bahkan dengan konsep reklamasi sekalipun. Negara hanya bisa menikmati kepulan asap yang turut dibagi-bagi ke negara tetangga.