You are on page 1of 6

Analisis Perundang – Undangan

SURABAYA, SUARA PEKERJA.COM>>>Perlengkapan Keselamatan Keshatan
Kerja (K3) dilingkungan pelabuhan Tanjung Perak Surabaya belum seutuhnya
terlaksana. Kalangan buruh yang bekerja belum memiliki perlengkapan
keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang memadai sebagai unsur bagian
terdepan melakukan aktivitas bongkar muat barang. Buruh tenaga kerja bongkar
muat (TKBM) yang ada dipelabuhan masih kurang dihargai dan terkesan
mengabaikan unsur pelaksanaan K3 sebagai aset pekerja yang berada dibagian
terdepan dan rawan berbahaya saat melakukan pekerjaan.
Kurangnya

perhatian

dan

kepedulian

perusahaan-perusahaan

yang

mempekerjakan memberi fasilitas K3 berujung tidak sedikit diantara TKBM
menjadi korban kecelakaan kerja dan nyawa menghilang.
Salah satu kasus yang terjadi Selasa (19/03/2013) menimpa salah satu buruh
TKBM bernama Askan (53) tahun tinggal di desa sungai geneng Kecamatan
Sekaran

Kabupaten

Lamongan,

meninggal

karena

kecelakaan

kerja

pembongkaran kayu gelondongan di dermaga nilam Tanjung Perak.
Pemantauan dilokasi tempat kejadian perkara (TKP) korban dan TKBM yang
bekerja malam itu tidak dilengkapi dengan perlengkapan keselamatan kesehatan
kerja (K3) yang dicanangkan pemerintah. Sesuai informasi yang dihimpun Suara
Pekerja.com, didermaga nilam kurun waktu 1 tahun terahir telah terjadi
kecelakaan kerja, tiga (3) buruh TKBM meninggal dan dua (2) diantaranya
kecelakaan kerja bidang pekerjaan membongkar kayu gelondongan dan satu (1)
kecelakaan kerja bidang bongkar muat tiang pancang saat memuat barang
kekapal.
Beberapa bulan lalu salah satu TKBM juga menjadi korban kecelakaan kerja di
dermaga kalimas karena sling peralatan yang digunakan kapal putus, sehingga

bongkahan besi alat katrol mengenai korban dan akibatnya meninggal. Kamis (21/03/2013) seputar pelaksanaan K3 dilingkungan pelabuhan Tanjung Perak tidak banyak berkomentar. Kepala Otoritas Pelabuhan Utama Tanjung Perak Surabaya dikonfirmasi Suara Pekerja. Jika tidak tentu PBM yang bersangkutan harus bertanggungjawab . khususnya bagi kalangan buruh TKBM belum dilaksanakan sesuai dengan standart yang berlaku.com soal pelaksanaan keselamatan kesehatan kerja (K3) bagi buruh TKBM Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya mengatakan merupakan tanggungjawab masing-masing perusahaan bongkar muat (PBM) yang mempekerjakan buruh. Mereka yang harus mencukupi segala perlengkapan bukan PT Pelindo III. Tentu sangatlah disayangkan jika buruh TKBM di pelabuhan Tanjung Perak. yang sudah berstatus pelabuhan Internasional pelaksanaan K3 diabaikan. Menurut Husnul pelaksanaan K3 dikembalikan kepada perusahaan masing-masing. PT Pelindo III tidak memiliki wewenang mengawasi pelaksanaan K3 bagi buruh TKBM. yang memenuhi segala perlengkapan K3. Secara protap pelaksanaan K3 di pelabuhan Tanjung Perak sudah dan tidak mungkin harus kami awasi terus menerus kalau terjadi kecelakaan kerja harus dilihat apakah menggunakan peralatan keselamatan atau tidak. Kejadian kecelakaan kerja buruh TKBM di dermaga Nilam. I Nyoman Gde Saputra. Husnul juga menolak bila PT Pelindo III disebut sebagai pengawas pelaksanaan keselamatan kesehatan kerja di pelabuhan. Kejadian itu merupakan tanggungjawab perusahaan bongkar muat (PBM). Manajer SDM dan Umum Pelindo III Tanjung Perak dikonfirmasi. M. Padahal BUMN ini telah menamakan diri bahwa Pelabuhan Tanjung PeraK sebagai Zero accident jika dilihat dengan perkembangan dan permasalahan tentu belum dapat memangku slogan zero accident karena kurun waktu 1 tahun terahir ini kecelakaan rentan. Dari beberapa fakta yang ada tentu dapat dijadikan acuan bahwa perhatian keselamatan kesehatan kerja (K3) dilingkungan pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Khusnul Jakin. korban bekerja membongkar kayu log/gelongongan terjadi kecelakaan diatas kapal bukan di dermaga.

02/P. 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja bab III tentang syarat-syarat keselamatan kerja pasal 3 ayat 1 poin : f. perlakuan dan penyimpanan barang.mengkoordinasi dan melaporkan seluruh proses manajemen resiko baik pusat maupun cabang kepada direksi perusahaan) 4.02/P. UU No. Kalangan buruh yang bekerja belum memiliki perlengkapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang memadai sebagai unsur bagian terdepan melakukan aktivitas bongkar muat barang. mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar-muat.1/PM.15. (Martin)Suarapekerja Bagi perusahaan bongkar muat A.1/PM. UU No. Kurangnya perhatian dan kepedulian perusahaan-perusahaan yang mempekerjakan memberi fasilitas K3 berujung tidak sedikit diantara TKBM menjadi korban kecelakaan kerja dan nyawa menghilang.III-2010 Pasal 9 (Proses Pemantauan Risiko) ayat (1) SPI dan Subdit. Buruh tenaga kerja bongkar muat (TKBM) yang ada dipelabuhan masih kurang dihargai dan terkesan mengabaikan unsur pelaksanaan K3 sebagai aset pekerja yang berada dibagian terdepan dan rawan berbahaya saat melakukan pekerjaan.III-2010 Pasal 1 BAB 1 (Subdit Manajemen Resiko dan Mutu adalah unit kerja perusahaan yang memfasilitasi. Perlengkapan Keselamatan Keshatan Kerja (K3) dilingkungan pelabuhan Tanjung Perak Surabaya belum seutuhnya terlaksana.secara keseluruhan dan termasuk malah santunan urai I Nyoman. memberi alat-alat perlindungan diri pada para pekerja.15. PER. PER. dan p. Hal tersebut belum sesuai dengan : 1. 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja bab X tentang kewajiban pengurus pasal 14 yang di dalamnya berisikan tentang kewajiban bagi pengurus untuk pemenuhan fasilitas K3 bagi pekerja 2. 3.Manajemen Risiko dan Mutu harus senantiasa memantau penyelenggaraan manajemen risiko di seluruh unit kerja dalam lingkungan Perusahaan untuk memastikan bahwa semua risiko di dalam lingkungan Perusahaan telah dikelola dengan baik .

Hal tersebut belum sesuai dengan : 1. Beberapa bulan lalu salah satu TKBM juga menjadi korban kecelakaan kerja di dermaga kalimas karena sling peralatan yang digunakan kapal putus. Ship side-net d.5. Forklift b. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja) 6. Hak dan perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja (K3). moral dan kesusilaan c. Rope sling e. pelabuhan tersebut belum menerapkan K3 dengan baik sebagai unsur bagian terdepan melakukan aktivitas bongkar muat barang. Pada pernyataan di atas. Wire net Pelabuhan merupakan salah satu tempat kerja yang harus mempunyai dan menerapkan K3 dengan baik. perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai agama” B. keselamatan dan kesehatan kerja b. Pallet c. Pasal 86 ayat (1) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang berbunyi :“Setiap pekerja/buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas : a. Buruh tenaga kerja bongkar muat (TKBM) yang ada dipelabuhan masih kurang dihargai dan terkesan mengabaikan unsur pelaksanaan .Peralatan bongkar muat yang dimaksud ada pada pasal 7 ayat 1 : persyaratan teknis sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 6 ayat (3) paling sedikit memiliki peralatan bongkar muat berupa : a. perlindungan moral dan kesusilaan serta perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai agama (Pasal 86 ayat [1] UU Ketenagakerjaan jo Pasal 3 ayat [1] UU No. Rope net f. Permenhub PM 60 tahun 2014 tentang penyelenggaraan dan pengusahaan bongkar muat barang dari dan ke kapal pasal 3 ayat 2 : Peralatan bongkar muat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan laik operasi dan menjamin keselamatan kerja . sehingga bongkahan besi alat katrol mengenai korban dan akibatnya meninggal.

yang memenuhi segala perlengkapan K3. 2. Kejadian kecelakaan kerja buruh TKBM di dermaga Nilam. pengendalian. Seharusnya menurut peraturan yang ada bagi perusahaan harus memenuhi pelaksanaan K3 untuk melindungi pekerja dari bahaya yang ada di tempat kerja. 61 tahun 2009 tentang Kepelabuhan bab I pasal 1 ayat 18 disebutkan bahwa Daerah Lingkungan Kepentingan adalah perairan di sekeliling Daerah Lingkungan Kerja perairan pelabuhan yang dipergunakan untuk menjamin keselamatan pelayaran. Menurut pasal 1 ayat 28 Syahbandar adalah pejabat Pemerintah di pelabuhan yang diangkat oleh Menteri dan memiliki kewenangan tertinggi untuk menjalankan dan melakukan pengawasan terhadap dipenuhinya ketentuan . PP No. PT Pelindo III tidak memiliki wewenang mengawasi pelaksanaan K3 bagi buruh TKBM. korban bekerja membongkar kayu log/gelongongan terjadi kecelakaan diatas kapal bukan di dermaga.K3 sebagai aset pekerja yang berada dibagian terdepan dan rawan berbahaya saat melakukan pekerjaan. Permenhub PM 60 tahun 2014 tentang penyelenggaraan dan pengusahaan bongkar muat barang dari dan ke kapal pada pasal : Pasal 1 ayat 13 : Penyelenggara pelabuhan adalah otoritas pelabuhan atau unit penyelenggara pelabuhan Pasal 1 ayat 14 : Otoritas pelabuhan (Port authority) adalah lembaga pemerintahan di pelabuhan sebagai otoritas yang melaksanakan fungsi pengaturan. Kejadian itu merupakan tanggungjawab perusahaan bongkar muat (PBM). Mereka yang harus mencukupi segala perlengkapan bukan PT Pelindo III. Bagi otoritas pelabuhan Menurut Husnul pelaksanaan K3 dikembalikan kepada perusahaan masingmasing. dan pengawasan kegiatan kepelabuhan yang diusahakan secara komersial. 3. Hal tersebut belum sesuai dengan : 1. Husnul juga menolak bila PT Pelindo III disebut sebagai pengawas pelaksanaan keselamatan kesehatan kerja di pelabuhan.

kepelabuhanan. sekurang-kurangnya harus memuat : a. 4. pengawasan.” 5. Permenakertrans Nomor 19 Tahun 2012 tentang Syarat-Syarat Penyerahan Sebagian Pelaksanaan Pekerjaan kepada Perusahaan Lain Pasal 29 ayat (2) yang berbunyi : “Dalam hal hubungan kerja didasarkan atas perjanjian kerja waktu tertentu hak-hak yang objek kerjanya tetap ada sebagaimana dimaksud pada ayat (1). . jaminan kelangsungan bekerja b. dan penegakan hukum di bidang angkutan di perairan. jaminan perhitungan masa kerja apabila terjadi pergantian perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh untuk menetapkan upah. Permenakertrans Nomor 19 Tahun 2012 tentang Syarat-Syarat Penyerahan Sebagian Pelaksanaan Pekerjaan kepada Perusahaan Lain Pasal 28 yang berbunyi : “Setiap perjanjian kerja penyediaan jasa pekerja/buruh wajib memuat ketentuan yang menjamin terpenuhinya hak-hak pekerja/buruh dalam hubungan kerja sebagimana diatur dalam peraturan perundang-undangan.” Menurut peraturan-peraturan di atas. dan perlindungan lingkungan maritim di pelabuhan. pihak PT Pelindo III juga harus bertanggungjawab ikut mengawasi pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja di pelabuhan dan mencukupi segala peralatan K3. Dan menurut pasal 39 ayat 2 Syahbandar dalam melaksanakan fungsi keselamatan dan keamanan pelayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pelaksanaan.peraturan perundang-undangan untuk menjamin keselamatan dan keamanan pelayaran. jaminan terpenuhinya hak-hak pekerja/buruh sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan yang diperjanjikan c.