You are on page 1of 30

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Posyandu
Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber
Daya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh,
untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan
kesehatan, guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan
kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk
mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi. Pengintegrasian
layanan sosial dasar di Posyandu adalah suatu upaya mensinergikan berbagai
layanan yang dibutuhkan masyarakat meliputi perbaikan kesehatan dan gizi,
pendidikan dan perkembangan anak, peningkatan ekonomi keluarga,
ketahanan pangan keluarga dan kesejahteraan sosial. UKBM adalah wahana
pemberdayaan masyarakat, yang dibentuk atas dasar kebutuhan masyarakat,
dikelola oleh, dari, untuk dan bersama masyarakat, dengan bimbingan dari
petugas Puskesmas, lintas sektor dan lembaga terkait lainnya. Pemberdayaan
masyarakat di bidang kesehatan adalah proses pemberian informasi kepada
individu, keluarga atau kelompok (klien) secara terus menerus dan
berkesinambungan mengikuti perkembangan klien, serta proses membantu
klien, agar klien tersebut berubah dari tidak tahu menjadi tahu atau sadar
(aspek pengetahuan atau knowledge), dari tahu menjadi mau (aspek sikap atau
attitude), dan dari mau menjadi mampu melaksanakan perilaku yang
diperkenalkan (aspek tindakan atau practice). Pelayanan kesehatan dasar di
Posyandu adalah pelayanan kesehatan yang mencakup sekurang-kurangnya 5
11

12

(lima) kegiatan, yakni Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Keluarga Berencana
(KB), imunisasi, gizi, dan penanggulangan diare.1
II.2. Tujuan1
1. Tujuan Umum
Menunjang percepatan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI), Angka
Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Anak Balita (AKABA) di
Indonesia melalui upaya pemberdayaan masyarakat
2. Tujuan Khusus :

Meningkatnya peran masyarakat dalam penyelenggaraan upaya
kesehatan dasar, terutama yang berkaitan dengan penurunan AKI,
AKB dan AKABA.

Meningkatnya

peran

lintas

sektor

dalam

penyelenggaraan

Posyandu, terutama berkaitan dengan penurunan AKI, AKB dan
AKABA. Meningkatnya cakupan dan jangkauan pelayanan
kesehatan dasar, terutama yang berkaitan dengan penurunan AKI,
AKB dan AKABA.

II.3. Lokasi1
Posyandu berada di setiap desa/kelurahan atau sebutan lainnya yang
sesuai. Bila diperlukan dan memiliki kemampuan, dimungkinkan untuk didirikan
di RW, dusun, atau sebutan lainnya yang sesuai.

II.4. Kader Posyandu1

13

Kader Posyandu yang selanjutnya disebut kader adalah anggota
masyarakat yang bersedia, mampu dan memiliki waktu untuk menyelenggarakan
kegiatan Posyandu secara sukarela.

II.5. Pembentukan Posyandu1
Posyandu dibentuk oleh masyarakat desa/kelurahan dengan tujuan untuk
mendekatkan pelayanan kesehatan dasar, terutama KIA, KB, imunisasi, gizi, dan
penanggulangan diare kepada masyarakat setempat. Pendirian Posyandu
ditetapkan dengan keputusan Kepala Desa/Lurah. Pembentukan Posyandu bersifat
fleksibel, dikembangkan sesuai dengan kebutuhan, permasalahan dan kemampuan
sumber daya. Langkah-langkah pembentukan Posyandu dapat dilakukan dengan
tahapan sebagai berikut:
1. Pendekatan Internal
2. Pendekatan Eksternal
3. Survei Mawas Diri (SMD)
4. Musyawarah Masyarakat Desa (MMD)
5. Pembentukan dan Pemantauan Kegiatan Posyandu
Pembentukan dan pemantauan kegiatan Posyandu dilakukan dengan
kegiatan sebagai berikut:
a. Pemilihan Pengurus dan Kader Posyandu
Pemilihan pengurus dan kader Posyandu dilakukan melalui
pertemuan khusus dengan mengundang para tokoh dan anggota
masyarakat terpilih. Pemilihan dilakukan secara musyawarah mufakat
sesuai dengan tata cara dan kriteria yang berlaku.

dilanjutkan dengan pelaksanaan kegiatan Posyandu secara rutin. salah satu kios di pasar. berpedoman pada panduan yang berlaku. Penyelenggaraan Kegiatan Kegiatan rutin Posyandu diselenggarakan dan digerakkan oleh Kader Posyandu dengan bimbingan teknis dari Puskesmas dan sektor . yang hasilnya dipakai sebagai masukan untuk perencanaan dan pengembangan Posyandu selanjutnya secara lintas sektoral.6. halaman rumah. Orientasi Pengurus dan Pelatihan Kader Posyandu c. balai desa/kelurahan. salah satu ruangan perkantoran. II. Waktu Penyelenggaraan Posyandu buka satu kali dalam sebulan. Penyelenggaraan dan Pemantauan Kegiatan Posyandu Setelah Posyandu resmi dibentuk. Apabila diperlukan. Penyelenggaraan Posyandu1 A. balai RW/RT/dusun. Secara berkala kegiatan Posyandu dipantau oleh Puskesmas. atau tempat khusus yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat. C. Pembentukan dan Peresmian Posyandu d. hari buka Posyandu dapat lebih dari satu kali dalam sebulan. Tempat penyelenggaraan tersebut dapat di salah satu rumah warga. Tempat Penyelenggaraan Tempat penyelenggaraan kegiatan Posyandu sebaiknya berada pada lokasi yang mudah dijangkau oleh masyarakat. sesuai dengan hasil kesepakatan. B. Hari dan waktu yang dipilih.14 b.

Adapun tugas dan tanggungjawab masing-masing pihak dalam menyelenggarakan Posyandu adalah sebagai berikut. antara lain: a. Kader Sebelum hari buka Posyandu. Tabel 1. Mempersiapkan tempat pelaksanaan Posyandu. . Menyebarluaskan hari buka Posyandu melalui pertemuan warga setempat. antara lain: a. Pada saat penyelenggaraan Posyandu minimal jumlah kader adalah 5 (lima) orang. d. Mempersiapkan bahan PMT penyuluhan. Jumlah ini sesuai dengan jumlah langkah yang dilaksanakan oleh Posyandu. Tugas dan Tanggungjawab Para Pelaksana Terselenggaranya pelayanan Posyandu melibatkan banyak pihak. b. Melakukan pembagian tugas antar kader. e. f.15 terkait. Melaksanakan pendaftaran pengunjung Posyandu. Mempersiapkan sarana Posyandu. Berkoordinasi dengan petugas kesehatan dan petugas lainnya. D. 1. yakni yang mengacu pada sistem 5 langkah. c. Langkah 5 meja Langkah Pertama Kedua Ketiga Keempat Kelima Kegiatan Pendaftaran Penimbangan Pengisian KMS Penyuluhan Pelayanan Kesehatan Pelaksana Kader Kader Kader Kader Kader atau kader bersama petugas kesehatan Pada hari buka Posyandu.

Melaksanakan kegiatan penyuluhan dan konseling kesehatan dan gizi sesuai dengan hasil penimbangan serta memberikan PMT. Setelah pelayanan Posyandu selesai. Melakukan tindak lanjut terhadap 1. d. c. Membantu petugas kesehatan memberikan pelayanan kesehatan dan KB sesuai kewenangannya. 2. Di luar hari buka Posyandu. jumlah balita yang mempunyai Kartu Menuju Sehat (KMS) atau Buku KIA. antara lain: a. Membuat diagram batang (balok) SKDN tentang jumlah Semua balita yang bertempat tinggal di wilayah kerja Posyandu. f. g. . Sasaran yang tidak datang. jumlah balita yang Datang pada hari buka Posyandu dan jumlah balita yang timbangan berat badannya Naik. kader bersama petugas kesehatan melengkapi pencatatan dan membahas hasil kegiatan serta tindak lanjut. c. Melaksanakan penimbangan balita dan ibu hamil yang berkunjung ke Posyandu.16 b. Pengukuran LLA pada ibu hamil dan WUS. ibu nifas dan ibu menyusui serta bayi dan anak balita. e. Mengadakan pemutakhiran data sasaran Posyandu: ibu hamil. b. Mencatat hasil penimbangan di buku KIA atau KMS dan mengisi buku register Posyandu. Sasaran yang memerlukan penyuluhan lanjutan.

.17 d. pelayanan kesehatan dan KB oleh petugas Puskesmas hanya diselenggarakan satu kali sebulan. Dengan perkataan lain kehadiran tenaga kesehatan Puskesmas tidak pada setiap hari buka Posyandu (untuk Posyandu yang buka lebih dari 1 kali dalam sebulan). Peran petugas Puskesmas pada hari buka Posyandu antara lain sebagai berikut: a. dan menghadiri pertemuan rutin kelompok masyarakat atau organisasi keagamaan. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dan Keluarga Berencana di langkah 5 (lima). Memberitahukan kepada kelompok sasaran agar berkunjung ke Posyandu saat hari buka . KB dan gizi kepada pengunjung Posyandu dan masyarakat luas. Melakukan kunjungan tatap muka ke tokoh masyarakat. Petugas Puskesmas Kehadiran tenaga kesehatan Puskesmas yang diwajibkan di Posyandu satu kali dalam sebulan. e. b. Menyelenggarakan penyuluhan dan konseling kesehatan. c. pelayanan tersebut diselenggarakan hanya oleh kader Posyandu sesuai dengan kewenangannya. Sesuai dengan kehadiran wajib petugas Puskesmas. Membimbing kader dalam penyelenggaraan Posyandu. 2. Dengan perkataan lain jika hari buka Posyandu lebih dari satu kali dalam sebulan.

Melakukan deteksi dini tanda bahaya umum terhadap Ibu Hamil. bayi dan anak balita serta melakukan rujukan ke Puskesmas apabila dibutuhkan. Memberikan dukungan dalam upaya meningkatkan kinerja Posyandu. b. Lurah/Kepala Desa atau sebutan lain. e. Melakukan pembinaan untuk terselenggaranya kegiatan Posyandu secara teratur. Camat. 3. Memberikan dukungan kebijakan. 2. melaporkan hasilnya kepada Puskesmas serta menyusun rencana kerja dan melaksanakan upaya perbaikan sesuai dengan kebutuhan Posyandu. Stakeholder (Unsur Pembina dan Penggerak Terkait) a. Menganalisa hasil kegiatan Posyandu. 2. selaku penanggung jawab Pokja Posyandu desa/kelurahan: 1. selaku penanggung jawab kelompok kerja operasional (Pokjanal) Posyandu kecamatan: 1. Mengkoordinasikan hasil kegiatan dan tindak lanjut kegiatan Posyandu.18 d. Mengkoordinasikan penggerakan masyarakat untuk dapat hadir pada hari buka Posyandu . sarana dan dana untuk penyelenggaraan Posyandu. 3.

obat-obatan dan vitamin) serta dukungan bimbingan tenaga teknis kesehatan. Lembaga Kemasyarakatan atau sebutan lainnya. distribusi Buku KIA atau KMS. 4. 3. 5. pengembangan metode pendampingan masyarakat. dukungan program dan anggaran serta evaluasi. Mengkoordinasikan peran kader Posyandu. Instansi/Lembaga Terkait: 1. penggerakan peran serta masyarakat melalui BKB dan BKL.19 3. berperan dalam penyuluhan. Menindaklanjuti hasil kegiatan Posyandu bersama Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM). SKPD KB di Provinsi dan Kabupaten/Kota. teknis advokasi. 4. Berperan dalam fungsi koordinasi penyelenggaraan pembinaan. pengurus Posyandu dan tokoh masyarakat untuk berperan aktif dalam penyelenggaraan Posyandu. Dinas Kesehatan. penggerakan peran serta masyarakat. . Badan / Kantor / Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPMPD) 2. Melakukan pembinaan untuk terselenggaranya kegiatan Posyandu secara teratur. pengembangan jaringan kemitraan. fasilitasi. c. berperan dalam membantu pemenuhan pelayanan sarana dan prasarana kesehatan (pengadaan alat timbangan. pemantauan dan sebagainya. berperan dalam koordinasi perencanaan umum. 5. BAPPEDA.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Dinas Perdagangan. persiapan imunisasi bagi calon pengantin. dsb. e. berperan dalam mendukung teknis operasional Posyandu sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing. penyaluran berbagai bantuan sosial. koordinasi program P4K. khususnya penggunaan garam beryodium. mobilisasi dana-dana keagamaan. b. dsb. Dinas Pendidikan. Dinas Sosial. Lembaga Profesi. Kantor Kementerian Agama. Dinas Perindustrian dan UKM. misalkan melalui jalur program Upaya Kesehatan Sekolah (UKS). PAUD. dsb. Kantor Kementerian Agama. dsb. berperan dalam hal penyuluhan gizi. Dinas Pertanian. f. misalnya: a. penyuluhan di pondok-pondok pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan. c. berperan dalam hal penyuluhan dan pendayagunaan Karang Taruna. Dinas Perdagangan dan sebagainya. berperan dalam penyuluhan melalui jalur agama. Ikatan Bidan . Dinas Pertanian.20 6. misalkan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). berperan dalam penggerakan peran serta masyarakat sekolah dan pendidikan luar sekolah. d. Dinas Pendidikan. Dinas Perindustrian dan UKM. Taman Anak Sejahtera (TAS). dsb. berperan dalam hal pendayagunaan tenaga penyuluh lapangan.

maka perlu dipertimbangkan fungsi yang sesuai dalam organisasi Pokjanal Posyandu setempat. Selain dinas/institusi/lembaga tersebut diatas. karena struktur organisasi pada jajaran Pemerintah Daerah Provinsi.21 Indonesia (IBI). Menyusun rencana kegiatan tahunan dan mengupayakan adanya sumber-sumber pendanaan untuk mendukung kegiatan pembinaan Posyandu. 2. Kabupaten/Kota saat ini cukup bervariasi. Kelompok Kerja (Pokja) Posyandu: 1. Apabila dinas/instansi/lembaga sebagaimana tersebut di atas tidak terdapat di daerah. Mengelola berbagai data dan informasi yang berkaitan dengan kegiatan Posyandu. Melakukan analisis masalah pelaksanaan program berdasarkan alternatif pemecahan masalah sesuai dengan potensi dan kebutuhan desa/kelurahan. d. 3. . Persatuan Ahli Gizi (PERSAGI). Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI) dan tenaga layanan sosial terkait yang dapat berperan dalam pelayanan kesehatan dan sosial. kemungkinan masih terdapat beberapa unsur dinas/instansi/lembaga yang dapat melakukan peran dan fungsinya dalam Posyandu namun untuk daerah-daerah tertentu mungkin tidak terdapat unsur dinas / instansi / lembaga sebagaimana tersebut diatas.

baik di Posyandu maupun di luar Posyandu. Tokoh Masyarakat/Forum Peduli Kesehatan Kecamatan (apabila telah terbentuk): 1.22 4. Penggerakkan peran serta masyarakat dalam kegiatan Posyandu. 6. 7. pamantauan dan evaluasi terhadap pengelolaan kegiatan dan kinerja kader Posyandu secara berkesinambungan. Bersama petugas Puskesmas berperan aktif dalam kegiatan Posyandu. Melengkapi data sesuai dengan Sistim Informasi Posyandu (SIP) atau Sistim Informasi Manajemen (SIM). Berperan aktif dalam penyelenggaraan Posyandu. g. Melaporkan hasil pelaksanaan kegiatan Posyandu kepada Kepala Desa/Lurah dan Ketua Pokjanal Posyandu Kecamatan. 5. 2. dan swadaya masyarakat dalam mengembangkan Posyandu. fasilitasi. 4. Menggerakkan dan mengembangkan partisipasi. e. Menaungi dan membina kegiatan Posyandu. gotong royong. Penyuluhan. Menggerakkan masyarakat untuk dapat hadir dan berperan aktif dalam kegiatan Posyandu. Tim Penggerak PKK: 1. Melakukan bimbingan dan pembinaan. 2. f. 3. 3. Mengembangkan kegiatan lain sesuai dengan kebutuhan. antara lain: pelayanan kesehatan masyarakat. . Organisasi Kemasyarakatan/LSM: 1. Menggali sumber daya untuk kelangsungan penyelenggaraan Posyandu.

E. iii. 2. Pembiayaan 1. 2. sodaqoh (ZIS). zakat. Sumber Biaya Pembiayaan Posyandu berasal dari berbagai sumber. Swasta/Dunia Usaha: 1. Masyarakat: i. ii. Iuran pengguna/pengunjung Posyandu. Memberikan dukungan sarana dan dana untuk pelaksanaan kegiatan Posyandu. Swasta/Dunia Usaha c. Berperan aktif sebagai sukarelawan dalam pelaksanaan kegiatan Posyandu. penggerakan kader sesuai dengan minat dan misi organisasi. antara lain: a. Sumber dana sosial lainnya. dan sebagainya.23 penyuluhan. b. Hasil Usaha . infaq. Memberikan dukungan sarana dan dana untuk pelaksanaan kegiatan Posyandu. h. misal dana sosial keagamaan. punia paramitha. Sumbangan/donatur dari perorangan atau kelompok masyarakat. kolekte. Iuran masyarakat umum dalam bentuk dana sehat.

Hasil karya kader Posyandu. 4. digunakan untuk membiayai kegiatan Posyandu. Taman Obat Keluarga (TOGA) d. Kelompok Usaha Bersama (KUB) ii. Contoh kegiatan usaha yang dilakukan antara lain: i. yakni berupa dana stimulan atau bantuan lainnya dalam bentuk sarana dan prasarana Posyandu yang bersumber dari dana APBN. Pemerintah Bantuan dari pemerintah terutama diharapkan pada tahap awal pembentukan. 3. Pemanfaatan Dana Dana yang diperoleh Posyandu. APBDes dan sumber lain yang sah dan tidak mengikat. Biaya operasional Posyandu. APBD Kabupaten/Kota. misalnya kerajinan. Pemanfaatan dan Pengelolaan Dana a. . 5. antara lain dalam bentuk: 1. 2. Pengelolaan Dana Pengelolaan dana dilakukan oleh pengurus Posyandu. Biaya penyediaan PMT. APBD Provinsi. Pengganti biaya perjalanan kader. Modal usaha KUB. Bantuan biaya rujukan bagi yang membutuhkan b. 2.24 Pengurus dan kader Posyandu dapat melakukan usaha yang hasilnya disumbangkan untuk biaya pengelolaan Posyandu. Dana harus disimpan ditempat yang aman dan jika mungkin mendatangkan hasil.

d. ibu melahirkan.25 Untuk keperluan biaya rutin disediakan kas kecil yang dipegang oleh kader yang ditunjuk. Buku register bayi dan balita yang mencatat jumlah seluruh bayi dan balita di wilayah Posyandu. g. Pencatatan Pencatatan dilakukan oleh kader segera setelah kegiatan dilaksanakan. Buku pengelolaan keuangan. c. Pencatatan dan Pelaporan 1. Buku catatan kegiatan usaha apabila Posyandu menyelenggarakan kegiatan usaha. 2. Buku catatan kegiatan pertemuan yang diselenggarakan oleh Posyandu. dan ibu nifas. Buku register kelahiran dan kematian bayi. b. Setiap pemasukan dan pengeluaran harus dicatat dan dikelola secara bertanggungjawab. ibu hamil. F. e. Pelaporan . f. Sistim Informasi Posyandu (SIP) atau Sistim Informasi Manajemen (SIM) yakni: a. Pencatatan dilakukan dengan menggunakan format baku sesuai dengan program kesehatan. Buku register Wanita Usia Subur (WUS) dan Pasangan Usia Subur (PUS). Dan lain-lain sesuai kegiatan yang dilaksanakan dan kebutuhan Posyandu yang bersangkutan.

kabupaten/kota. 4. provinsi. a. Bila Puskesmas atau sektor terkait membutuhkan data tertulis yang terkait dengan pelbagai kegiatan Posyandu. kecamatan dan desa/kelurahan. Bentuk Pembinaan dan Pengawasan Bentuk pembinaan dan pengawasan dilakukan melalui: 1. Pembinaan dan pengawasan Posyandu Pembinaan dan pengawasan Posyandu dilakukan secara berjenjang dari pusat. Bupati/Walikota melakukan pembinaan dan pengawasan di tingkat kecamatan terhadap pelaksanaan layanan kesehatan dasar dan layanan sosial dasar lainnya di Posyandu. Gubernur melakukan pembinaan dan pengawasan di tingkat kabupaten/kota terhadap pelaksanaan layanan kesehatan dasar dan layanan sosial dasar lainnya di Posyandu.26 Pada dasarnya kader Posyandu tidak wajib melaporkan kegiatannya kepada Puskesmas ataupun kepada sektor terkait lainnya. Puskesmas atau sektor terkait tersebut harus mengambilnya langsung ke Posyandu. Dalam melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan layanan kesehatan dasar dan layanan kesehatan sosial . Menteri Dalam Negeri melakukan pembinaan dan pengawasan di tingkat Provinsi terhadap pelaksanaan layanan kesehatan dasar dan layanan sosial dasar lainnya di Posyandu. 3. Untuk itu setiap Puskesmas harus menunjuk petugas yang bertanggungjawab untuk pengambilan data hasil kegiatan Posyandu. G. 2.

Konsultasi. untuk dan bersama masyarakat. Rapat koordinasi. Kepala Desa melakukan pembinaan terhadap pelaksanaan layanan kesehatan dasar dan layanan sosial dasar lainnya di Posyandu. Orientasi dan Pelatihan. g. dapat berupa fasilitasi. Pembinaan dan pengawasan sebagaimana tersebut diatas dilakukan melalui: a. d. Dasar Pemikiran Pengorganisasian Posyandu merupakan salah satu bentuk upaya kesehatan bersumber daya masyarakat. Sosialisasi. Bantuan pemerintah. sarung timbangan. e. Lomba. yang dikelola dari. oleh. Workshop. Penghargaan. Pengorganisasian Pembinaan Posyandu 1. b. b. c. 5. dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. 6. dan sebagainya. guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi. obat-obatan. bimbingan teknis. pemenuhan sarana/prasarana dasar. dacin. seperti: bantuan vaksin. Dengan pengertian seperti ini. f. Bupati/Walikota dapat melimpahkan kepada Camat.27 dasar lainnya di Posyandu desa/kelurahan. maka fungsi .

Adapun kelembagaan yang mengkoordinasikan fungsi pembinaan dari pemerintah itu. diorganisasikan melalui wadah Kelompok Kerja Operasional Posyandu (Pokjanal Posyandu). fungsi pembinaan dari pemerintah tersebut perlu dikoordinasikan dan diorganisasikan. melalui mekanisme pembinaan secara berjenjang oleh Pokjanal Posyandu di daerah. yaitu aspek program. tetapi juga dapat melibatkan unsur-unsur lain seperti Lembaga Profesi. Unsur-unsur yang duduk dalam pengorganisasian Pokjanal Posyandu/Pokja Posyandu tidak terbatas pada komponen instansi pemerintah saja. Di desa/kelurahan dikoordinasikan melalui Pokja Posyandu. LSM.28 pembinaan dari pemerintah terhadap Posyandu pada hakekatnya tetap ada. Tujuan pengorganisasian Pokjanal/Pokja Posyandu adalah untuk mengkoordinasikan berbagai upaya pembinaan yang berkaitan dengan peningkatan fungsi dan kinerja posyandu. Secara organisasi. Oleh karena itu. yang secara operasional dilaksanakan oleh unit atau kelompok pengelola Posyandu di desa. Pokjanal Posyandu Pusat bertanggung jawab kepada . Kedudukan Pokjanal Posyandu Hubungan dan mekanisme kerja dalam fungsi koordinasi pembinaan dilakukan secara berjenjang antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Perguruan Tinggi. Fungsi pembinaan tersebut meliputi 3 (tiga) aspek manajemen. 2. aspek kelembagaan dan aspek personil atau sumber daya manusia pengelola Posyandu. Swasta/Dunia Usaha dan sebagainya.

Musyawarah mufakat. dan kaya fungsi. namun diharapkan tetap menganut prinsip-prinsip sebagai berikut: a. Pembentukan Pokjanal Posyandu Pokjanal Posyandu Pusat dibentuk dan ditetapkan dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri. Sedangkan Pokja Posyandu di desa/kelurahan bertangung jawab kepada Kepala Desa/Kepala Kelurahan. Sedangkan di daerah. Keanggotaannya fungsional berdasarkan kompetensi masing-masing unsur. Bupati/Walikota untuk Pokjanal Posyandu Kabupaten/Kota. Sedangkan di daerah Pokjanal Posyandu dibentuk dan ditetapkan dengan Surat Keputusan Gubernur untuk Pokjanal Posyandu Propinsi. 3. 4. b. Prinsip-prinsip Pengorganisasian Pokjanal Posyandu Pembentukan organisasi Pokjanal/Pokja Posyandu diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah daerah masing-masing. Struktur organisasi ramping. dan Pokja Posyandu di Desa/Kelurahan ditetapkan melalui Keputusan Kepala Desa/Lurah.29 Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Pemberdayaan Masyarakat dan Desa selaku Penanggung Jawab Harian Pokjanal Posyandu Pusat. Kesetaraan. kedudukan organisasi Pokjanal Posyandu secara fungsional bertanggung jawab kepada Gubernur di propinsi. c. Camat untuk Pokjanal Posyandu Kecamatan. kepada Bupati/Walikota di kabupaten/kota. dan kepada Camat di Kecamatan. d. sederhana. . sehingga ada kejelasan fungsi dan peran masing-masing dalam pengorganisasian Pokjanal/Pokja Posyandu.

Mengutamakan prinsip koordinasi dan konsultasi. 4. informasi dan masalah kepada instansi/lembaga terkait untuk penyelesaian tindak lanjut. Menganalisis masalah dan kebutuhan intervensi program berdasarkan pilihan alternatif pemecahan masalah sesuai dengan potensi dan kebutuhan lokal. pembinaan. Tugas Pokok dan Fungsi Pokjanal Posyandu Secara garis besar Pokjanal/Pokja Posyandu mempunyai tugas pokok dan fungsi sebagai berikut : 1. . 5.30 e. Menyusun rencana kegiatan tahunan dan mengupayakan adanya sumbersumber pendanaan untuk mendukung kegiatan pembinaan dan operasional Posyandu. 8. 2. pemantauan dan evaluasi pengelolaan program/kegiatan Posyandu secara rutin dan terjadwal. serta kesekretariatan Pokjanal/Pokja Posyandu. dan swadaya masyarakat dalam mengembangkan Posyandu. Mengupayakan sumber-sumber pendanaan dalam mendukung operasional Posyandu. f. 5. advokasi. 3. Melakukan bimbingan. Memfasilitasi penggerakan dan pengembangan partisipasi. Menyiapkan data dan informasi tentang keadaan maupun perkembangan kegiatan yang berkaitan dengan kualitas program. 7. 6. fasilitasi. gotong royong. Mengembangkan kegiatan lain sesuai dengan kebutuhan. kelembagaan dan SDM/pengelola program. Menyampaikan berbagai data. Memanfaatkan sumberdaya yang ada di masyarakat.

yang secara kelembagaan menerapkan prinsip dan ciri pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan Posyandu sebagaimana tersebut diatas. mekanisme hubungan kerja Pokjanal Posyandu di Pusat dan Daerah di dasarkan pada azas konsultasi dan distribusi informasi (bukan pelaporan). karena tidak ada kewajiban pertanggungjawaban kegiatan secara berjenjang. Mekanisme hubungan kerja secara horizontal Mekanisme hubungan kerja antar atau sesama Pokjanal Posyandu bersifat koordinasi dan kemitraan yang didasarkan pada kepentingan inter dan antar daerah dalam penanganan maupun kelangsungan pembinaan program.31 9. c. b. Oleh karena itu. 6. serta peran dari masing-masing unsur dalam Pokjanal Posyandu. Mekanisme hubungan kerja secara vertikal Pada dasarnya secara hierarki organisasi tidak ada hubungan kerja langsung antara Pokjanal Posyandu Pusat dan daerah. Pokja . Mekanisme Hubungan Kerja Berdasarkan pada uraian tugas pokok dan fungsi Pokjanal Posyandu. maka mekanisme hubungan kerja Pokjanal Posyandu. Tim Upaya Peningkatan Gizi Keluarga (UPGK). adalah sebagai berikut : a. seperti Badan Perbaikan Gizi Daerah (BPGD). Mekanisme hubungan kerja dengan organisasi/kelembagaan lain sejenis Tidak dapat dihindari keberadaan berbagai organisasi/kelembagaan yang membina sesuatu program yang sejenis. Melaporkan hasil pelaksanaan kegiatan kepada Kepala Desa / Camat / Bupati / Walikota / Gubernur/Menteri sesuai dengan kedudukan Pokjanal dari tingkat desa/kelurahan sampai tingkat pusat.

b. Dukungan biaya operasional kader. d. Forum PAUD. Cakupan Frekuensi pembinaan Posyandu Cakupan frekuensi pembinaan posyandu adalah cakupan posyandu yang memperoleh pembinaan kesehatan sesuai standar SPM yang ditetapkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang tahun 2011. Dengan demikian. c.32 BKB. mempunyai hubungan kerja dengan Pokjanal Posyandu secara koordinatif dan konsultatif. Tim Pangan dan Gizi. vaksin. CAKUPAN FREKUENSI PEMBINAAN POSYANDU = (JUMLAH PEMBINAAN KE POSYANDU / (10 X JUMLAH POSYANDU)) X 100% I. Pembiayaan Pokjanal Posyandu Adapun sumber-sumber pembiayaan tersebut dapat berasal dari APBN. pembinaan yang dilakukan untuk masing-masing Posyandu juga berbeda. telah dikembangkan metode dan . Dacin. yaitu setiap posyandu mendapatkan 10x pembinaan dalam kurun waktu 1 tahun. dan sumber-sumber dana lainnya yang sah dan tidak mengikat. bimbingan teknis. Biaya operasional penyelenggaraan Posyandu. Biaya operasional kesekretariatan/sekretariat tetap. Tingkat perkembangan posyandu Perkembangan masing-masing Posyandu tidak sama. dsb. Untuk mengetahui tingkat perkembangan Posyandu. H. APBD Propinsi dan APBD Kab/Kota. dsb. Badan Ketahanan Pangan. Biaya operasional pembinaan. dsb. seperti pengadaan KMS. obat-obatan. supervisi. Dana tersebut digunakan untuk: a. 7.

2. Penyebab tidak terlaksananya kegiatan rutin bulanan Posyandu. yaitu kurang dari 50%. Intervensi yang dapat dilakukan untuk perbaikan peringkat adalah memotivasi masyarakat serta menambah jumlah kader. yang dikenal dengan nama Telaah Kemandirian Posyandu. tetapi cakupan kelima kegiatan utamanya masih rendah. di samping karena jumlah kader yang terbatas. Tujuan telaahan adalah untuk mengetahui tingkat perkembangan Posyandu yang secara umum dibedakan atas 4 tingkat sebagai berikut: 1. dengan rata-rata jumlah kader sebanyak lima orang atau lebih. cakupan kelima kegiatan utamanya lebih dari 50%. dapat pula karena belum siapnya masyarakat. 3. Intervensi yang dapat dilakukan untuk perbaikan peringkat adalah meningkatkan cakupan dengan mengikutsertakan tokoh masyarakat sebagai motivator serta lebih menggiatkan kader dalam mengelola kegiatan Posyandu. yang ditandai oleh kegiatan bulanan Posyandu belum terlaksana secara rutin serta jumlah kader sangat terbatas yakni kurang dari 5 (lima) orang.33 alat telaahan perkembangan Posyandu. Posyandu Purnama Posyandu Purnama adalah Posyandu yang sudah dapat melaksanakan kegiatan lebih dari 8 kali per tahun. Posyandu Madya Posyandu Madya adalah Posyandu yang sudah dapat melaksanakan kegiatan lebih dari 8 kali per tahun. Posyandu Pratama Posyandu Pratama adalah Posyandu yang belum mantap. . dengan rata-rata jumlah kader sebanyak lima orang atau lebih.

dengan cakupan anggota lebih dari 50% KK. serta telah memperoleh sumber pembiayaan dari dana sehat yang dikelola oleh masyarakat yang pesertanya masih terbatas yakni kurang dari 50% KK di wilayah kerja Posyandu. Posyandu Mandiri Posyandu Mandiri adalah Posyandu yang sudah dapat melaksanakan kegiatan lebih dari 8 kali per tahun. serta telah memperoleh sumber pembiayaan dari dana sehat yang dikelola oleh masyarakat yang pesertanya lebih dari 50% KK yang bertempat tinggal di wilayah kerja Posyandu. dengan rata-rata jumlah kader sebanyak lima orang atau lebih. Intervensi yang dapat dilakukan untuk perbaikan peringkat antara lain: a. 4. Selain itu dapat dilakukan intervensi memperbanyak macam program tambahan sesuai dengan masalah dan kemampuan masingmasing. . sehingga terjamin kesinambungannya. Sosialisasi program dana sehat yang bertujuan untuk memantapkan pemahaman masyarakat tentang dana sehat. Peserta pelatihan adalah para tokoh masyarakat. terutama pengurus dana sehat desa/kelurahan.34 mampu menyelenggarakan program tambahan. b. serta untuk kepentingan Posyandu mengikutsertakan pula pengurus Posyandu. Intervensi yang dilakukan bersifat pembinaan termasuk pembinaan program dana sehat. cakupan kelima kegiatan utamanya lebih dari 50%. agar di desa tersebut dapat tumbuh dana sehat yang kuat. Pelatihan dana sehat. mampu menyelenggarakan program tambahan.

35 II. Perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. rasa dan raba. Penginderaan terjadi melalui pancaindera manusia. b. rumus. mengidentifikasikan dan mengatakan.7 Pengetahuan mempunyai enam tingkatan. Memahami (Comprehension) Kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. yakni penglihatan. pendengaran. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang. metode. dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang diterima. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Tahu (Know) Kemampuan untuk mengingat suatu materi yang telah dipelajari. prinsip-prinsip dan sebagainya. Aplikasi (Aplication) Kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi yang sebenarnya. d. menguraikan. Aplikasi disini dapat diartikan sebagai pengguna hukum-hukum. penciuman. Pengetahuan (Knowledge)3 Pengetahuan merupakan hasil dari tahu yang terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek. c.7. Analisis (Analysis) Kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek dalam suatu komponenkomponen. tetapi masih dalam struktur organisasi dan masih . Cara kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain : menyebutkan. antara lain: a.

Tingkat pengetahuan baik bila skor > 75%-100% b.36 ada kaitannya satu sama lain. dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi yang ada. 2003) a. Kedalamam pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan diatas (Notoadmojo. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang tentang isi materi yang akan diukur dari subjek penelitian atau responden. Kemampuan analisis dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti kata kerja mengelompokkan. Tingkat pengetahuan cukup bila skor 60%-75% c. yang ingin dicapai. Identifikasi masalah Menetapkan keadaan spesifik yang diharapkan. memisahkan. Tingkat pengetahuan kurang bila skor < 60% II. menggambarkan.8. Evaluasi (Evaluation) Kemampuan untuk melakukan penelitian terhadap suatu materi atau objek tersebut berdasarkan suatu cerita yang sudah ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang sudah ada (Notoatmodjo. e. f. Urutan Dalam Siklus Pemecahan Masalah3 a. Kemudian mempelajari keadaan yang terjadi dengan menghitung atau . 2003). Sintesis (Sinthesis) Kemampuan untuk menghubungkan bagian-bagian dalam bentuk keseluruhan yang baru. menetapkan indikator tertentu sebagai dasar pengukuran kinerja.

Menentukan alternatif pemecahan masalah Sering kali pemecahan masalah dapat dilakukan dengan mudah dari penyebab yang sudah diidentifikasi. Apabila ditemukan beberapa alternatif maka digunakan metode criteria Matriks untuk menentukan/ memilih pemecahan terbaik. dengan keadaan tertentu yang diinginkan atau indicator tertentu yang sudah ditetapkan. Jika penyebab sudah jelas maka dapat langsung pada alternatif pemecahan masalah. Yang terakhir membandingkan antara keadaan nyata yang terjadi. f. e. . Penyusunan rencana penerapan Rencana penerapan pemecahan masalah dibuat dalam bentuk POA (Plan Of Action atau Rencana Kegiatan).37 mengukur hasil pencapaian. maka dilakukan pemilihan pemecahan terpilih. b. c. Memilih penyebab yang paling mungkin Penyebab masalah yang paling mungkin harus dipilih dari sebab-sebab yang didukung oleh data atau konfirmasi dan survei lapangan. Penetapan pemecahan masalah terpilih Setelah alternatif pemecahan masalah ditentukan. d. apakah permasalahan sudah dapat dipecahkan. Monitoring dan evaluasi Ada dua segi pemantauan yaitu apakah kegiatan penerapan pemecahan masalah yang sedang dilaksanakan sudah diterapkan dengan baik dan menyangkut masalah itu sendiri.

Diagram Fish Bone .Kerangka Pemecahan Masalah INPUT MAN MONEY METHODE MACHINE MATERIAL MASALAH P1 P3 P2 LINGKUNGAN PROSES Gambar 2.38 Gambar 1.

IMPAC T .9. dari pendekatan sistem ini dapat ditelusuri hal-hal yang mungkin menyebabkan munculnya permasalahan. Adapun sistem yang diutarakan disini adalah sistem terbuka pelayanan kesehatan yang dijabarkan sebagai berikut: INPUT Man Money Method Material Machine PROSES Fungsi Manajemen (P1. P3 ) Dan Manajemen Mutu OUTPU T Cakupan Kegiatan dan Mutu OUTCO ME LINGKUNGAN Fisik Kependudukan Kebijakan Sosial budaya Sosial ekonomi Gambar 3. Hal yang penting pada upaya pemecahan masalah adalah kegiatan dalam rangka pemecahan masalah harus sesuai dengan penyebab masalah tersebut. P2. berdasarkan pendekatan sistem masalah dapat terjadi pada input maupun proses.39 II. Identifikasi masalah dan analisis penyebab masalah Dalam menganalisis masalah digunakan metode pendekatan sistem untuk mencari kemungkinan penyebab dan menyusun pendekatan-pendekatan masalah. Analisis Penyebab Masalah dengan Pendekatan Sistem Masalah yang timbul terdapat pada output dimana hasil kegiatan tidak sesuai standar minimal.

ini bertujuan untuk menentukan perencanaan kegiatan. Kriteria Matriks Magnitude 1 = Tidak Importancy Vulnerability 1 = Tidak penting 1 = Tidak sensitif magnitude 2=Kurang 2 = Kurang 2 = Kurang magnitude 3 = Cukup penting 3 = Cukup sensitif Cost 1 = Sangat murah 2 = Murah 3 = Cukup 3 = Cukup sensitif magnitude 4 = Magnitude 5= Sangat penting 4 = Penting 5 = Sangat 4 = Sensitif 5 = Sangat murah 4 = mahal 5 = sangat magnitude penting sensitif mahal II.40 II.11. Prioritas Pemecahan Masalah Setelah menemukan alternatif pemecahan masalah.10. Pembuatan Plan of Action dan Gantt Chart Setelah melakukan penentuan pemecahan masalah maka selanjutnya dilakukan pembuatan plan of action serta Gantt chart. . Tabel 2. maka selanjutnya dilakukan penentuan prioritas alternatif pemecahan masalah yang dapat dilakukan dengan menggunakan kriteria matriks M x I x V/ C.