You are on page 1of 7

Meneladani Laku Panembahan Senopati

Di setiap bangsa pasti ada sosok dan tokoh yang menjadi panutan. Demikian pula
dalam Kejawen. Banyak tokoh-tokoh Kejawen yang bisa menjadi panutan. Dalam
Serat Wedhatama ini, tokoh yang menjadi panutan adalah Panembahan Senopati.

Panembahan Senopati memiliki nama asli Danang Sutawijaya. Beliau adalah pendiri
Kesultanan Mataram yang memerintah 1587-1601 dengan bergelar Panembahan
Senopati ing Alaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa. Mengapa tokoh
Panembahan Senopati dianggap sebagai tokoh panutan?

Panembahan Senopati yang juga pendiri kerajaan Mataram Islam itu memiliki
kegemaran melakukan tapa brata. Tiada hari tanpa lelaku. Karena kelebihan dan
kesaktian yang dianugerahkan GUSTI ALLAH, Panembahan Senopati bisa melakukan
semedi di tengah samudera. Nah, sekarang kita simak apa saja pesan dari
Mangkunegara IV bagi kita untuk meneladani Panembahan Senopati? Simak Pupuh
II (Sinom) dari Serat Wedhatama.

PUPUH II

SINOM

01
Nulada laku utama, tumrape wong Tanah Jawi, Wong Agung ing Ngeksiganda,
Panembahan Senopati, kepati amarsudi, sudane hawa lan nepsu, pinesu tapa brata,
tanapi ing siyang ratri, amamangun karenak tyasing sesama.

(Contohlah perbuatan yang sangat baik, bagi penduduk di tanah Jawa, dari seorang
tokoh besar Mataram, Panembahan Senopati, berusaha dengan kesungguhan
hatinya, mengendapkan hawa nafsu, dengan melakukan olah samadi, baik siang
dan malam, mewujudkan perasaan senang hatinya bagi sesama insan hidup)

02

sruning brata kataman wahyu dyatmika. Dalam mencapai cita-cita sesuai dengan kehendak kalbu. dengan memegang teguh pada satu pedoman) agar mencintai sesama insan. (Setelah mengetahui yang terkandung dalam samudra. lelana laladan sepi. kayungyun eninging tyas. Dengan tujuan meresapi setiap tingkatan ilmu. Dengan senantiasa berprihatin. sinambi ing saben mangsa. dan memegang teguh pendiriannya menahan tidak makan dan tidak tidur. Dalam semangat bertapanya. dan terlahir berkat keluhuran budi) 04 Wikan wengkoning samodra. untuk memperbincangkan sesuatu hal dengan kerendahan hati. lelana teki-teki. kederan wus den ideri. dan pada setiap kesempatan. kinemat kamot hing driya.Samangsane pesasmuan. di waktu yang luang mengembara untuk bertapa. ngisep sepuhing supana. merasakan kesungguhan yang terkandung di dalam hatinya. Untuk dapat digenggam. sehingga berhasil menjadi raja. dumadya angratoni. sanityasa pinrihatin. agar mengerti dengan sesungguhnya dan memahami akan maknanya. mrih pana pranaweng kapti. untuk mengembara di tempat yang sunyi. Selanjutnya memeras kemampuan (acara untuk mengendalikan pemerintahan. dengan berjalan mengelilingi sekitarnya. sor prabawa lan Wong Agung Ngeksiganda. titising tyas marsudi. (Setiap kali pergi meninggalkan rumah (istana). umara marak maripih. mamangun martana martani. Tersebutlah Kanjeng Ratu Kidul keluar menjulang mencapai angkasa. lawan nendra. (Pengerahan segenap daya olah semedi) dilakukannya di tepi samudra. yang sangat didambakan bagi ketentraman hatinya. mardawaning budya tulus. nggayuh geyonganing kayun. puguh panggah cegah dhahar. nenggih Kanjeng Ratu Kidul. neng tepining jala nidhi. karena kalah wibawa dengan tokoh besar dari Mataram) 05 . kala kalaning asepi. yang akhirnya mendapatkan anugerah Illahi. mendekati datang menghadap dan memohon dengan suara halus. ndedel nggayuh nggegana.) 03 Saben nendra saking wisma. Ketajaman hatinya dimanfaatkan guna menempa jiwa. rinegan segegem dadi. (Saat berada dalam pertemuan. mese reh kasudarman. untuk mendapatkan budi pikiran yang tulus.

saben saba mampir masjid. untuk dapat mempererat hubungan dalam kedudukannya di alam ghaib. trah tumerah darahe pada wibawa. nugrahane prapteng mangkin. ing karsa kang wus tinamtu. bahwa hingga keturunannya (Kanjeng Panembahan Senopati) kelak dikemudian hari. pan iku pantes ugi. saturun-turun wuri. Mereka tidak lain adalah keturunan Panembahan Senopati. meskipun harus bersusah payah membanting tulang. tan lyan trahing Senapati. sinupeket pangkat kanci. nora ketang teken janggut suku jaja. ia selalu bersedia dan tidak akan ingkar janji. wong agung Ngeksiganda. terhadap kehendak (Kanjeng Senopati) yang telah ditentukannya. iya ing sakarsanipun. apa saja yang dikehendakinya. tinelad labetanipun. Pada saat sedang mengembara di tempat yang sunyi. Mangkono trahing ngawirya. para ksatria yang melebihi daripada yang lain. Turun temurun keturunannya mulia dan berwibawa. yen amasah mesu budi. pra mudha kang den karemi. Tokoh besar Mataram.) 07 Ambawani tanah Jawa. satriya dibya sumbaga. Demikianlah keturunan bangsawan besar. ing sakuwasanira. jroning alam palimunan. supangate teki-teki.Dahat denira aminta. anugerahnya masih tampak hingga kini. enake lan jaman mangkin. anggung ginawe umbag. Nanging ta ing jaman mangkya. Tentu akan berhasil dan cepat terkabul. pada keadaan yang akan datang. Yang diharapkannya hanyalah memohon ridhoNYA berkat olah tapanya. pamrihe mung aminta. bila sedang menempa diri untuk mencapai kesempurnaan budi/batin. Disesuaikan dengan kemampuannya. nayakeng rad Gusti Rasul. manulad nelad Nabi. ngaurip tanpa prihatin. ngajap-ajap mukjijat tibaning drajat. ing pasaban saben sepi. kang padha jumeneng aji. Sesungguhnya memang tidak akan dapat menyamai keadaan pada masa lalu. sayektine tan bisa ngepleki kuna. dumadya glis dumugi. sumanggem anjanggemi. .) 08 Luwung kalamun tinimbang.) 06 Prajanjine abipraja. ((Kanjeng Ratu Kidul) memohon dengan sangat. ((Kanjeng Ratu Kidul) berjanji dan berikrar. (Yang memerintah di tanah Jawa menjadi raja. yang pantas untuk dijadikan panutan dalam perbuatan baiknya.

Lamun pungkuh pangangkah yekti karamat. lelagone dhandhanggendhis. selalu dijadikan sandaran menyombongkan diri. hanya sekedar meniru perbuatan Nabi. wateke tak betah kaki. padune wong dhahat cubluk. kalamun maca kutbah. sedikit saja sudah cukup. aja ngguru aleman. Serta suri tauladan dari masa lampau yang dapat dipergunakan untuk memperkuat suatu hukum. dari dasar kepribadianmu tidak akan tahan uji. Bila berkhotbah seperti sedang nembang Dhandhanggula. nelad kas ngepleki pekih. katungkul mungkul sami. Mangkono mungguh mami.) 09 Anggung anggubel sarengat. Rehne ta sira Jawi. (Terus menerus tiada hentinya mendalami masalah syari'at. bengkrakan neng masjid agung. . yang dilaksanakan Kanjeng Nabi. lalu meniru perbuatan layaknya orang fakih. swara arum ngumandhang cengkok palaran. O. Janganlah berkeinginan mendapat pujian. rehne ta tinitah langip. yang digemari para anak muda. Asalkan engkau tekun dalam mengejar cita-citamu pasti akan mendapatkan rahmat pula. Namun pada jaman yang akan datang. saringane tan den wruhi. nak! Karena engkau adalah orang Jawa. Oh anakku! Terlalu jauh jangkauan langkahmu. kiyase nora mikani. suaranya berkumandang mengalun dengan cengkok Palaran.) 10 Lamun sira paksa nulad. (Bila engkau memaksakan diri meniru ajaran. durung wruh cara Arab. Tuladhaning Kangjeng Nabi.) 11 Nanging enak ngupa boga. Jawaku bae tan ngenting. dengan bertingkah laku berlebihan di dalam masjid agung. apa ta suwiteng Nata. mengharapkan mukjizat dapat derajat (kedudukan tinggi). ngger kadohan panjangkah. tanpa mengetahui inti sarinya. satitik bae wus cukup. parandene pari peksa mulang putra. dengan yang hidupnya tanpa laku prihatin. Setiap singgah ke masjid. Rasulullah (yang ditetapkan oleh Tuhan) sebagai panutan dunia. tani tanapi agrami. Ketentuan yang dijadikan sandaran peraturan di dalam agama Islam.(Meskipun tidak memuaskan tapi masih lebih baik bila dibandingkan. dalil dalaning ijemak.

Sedangkan pengetahuan tentang bahasa Jawa saja tidak tamat. yen kasuwen den dukani. walaupun hanya sebentar pernah mengalami perasaan tertarik pada soal agama. Apakah berat kepada Tuhan atau rajanya. Lebih baik berpegang teguh.) 12 Saking duk maksih taruna. lama kelamaan terpikir di dalam hati. bot Allah apa gusti. walaupun demikian tetap memaksakan diri mengajar anak-anaknya. Tingkah perbuatannya menjadi ragu-ragu. pan ingsun nora winaris. Bahkan berguru juga tentang ibadah haji.(Alangkah baiknya mencari nafkah. Namun belajarnya belum sampai selesai telah terburu mengabdi. lawas-lawas graita. Kikisane tan lyan among ngupa boga. lebih baik mengabdi pada raja. bahkan acapkali tidak sempat bersembahyang karena sudah dipanggil majikan. dan menurut pendapat orang yang sangat bodoh.) 14 Tuwin ketib suragama. sawadine tyas mami. (Karena ketika masih muda dulu. bila terlalu lama datangnya pasti mendapat marah. lir kiyamat saben hari. untuk bertani atau berdagang. yen mamriha dadi kaum temah nista. serta belum mengerti bahasa Arab.) 13 Marang ingkang asung pangan. Tan tutug kaselak ngabdi. Sangatlah takut pada ketentuan. angur baya angantepana. juga tidak patut karena tidak punya wewenang jabatan tersebut. rahasianya yang menjadi pendorong utama terhadap maksud hati. sadhela wus anglakoni. kuna kumunanira. rehne ta suta priyayi. yang berlaku pada akhir jaman kelak. maguru anggering kaji. lampahan angluluri. Menjalankan adat istiadat leluhur. bila ingin menjadi penghulu tentulah tidak pantas. Karena terlahir sebagai anak seorang terhormat. ((Menghadap) kepada orang yang memberi nafkah. layaknya kiamat setiap hari. tambuh-tambuh solah ingsun. abubrah bawur tyas ingwang. Demikianlah menurut pendapatnya. sesuai dengan yang dijalankan . kongsi tumekeng semangkin. pranatan ngakir jaman. pada ketentuan kewajiban hidup. Sehingga membuat kacau balau perasaan hati. banget wedine ing besuk. aluraning pra luluhur. pranatan wajibing urip. karena telah ditakdirkan hidup miskin. nora kober sembahyang gya tininggalan. (Demikian pula untuk menjadi khotib atau juru agama. aberag marang agama.

hingga tampak jelas dari jauh seluruh peredaran jaman. ialah kekuasaan. tuman tumanem ing sepi. dan sikap lahiriyahnya tetap berpegang. lahire den tetepi. Demikianlah yang dapat dikatakan bertapa dengan cara berserah diri secara mutlak ke haribaan kebesaran Tuhan. wirya. aji godhong jati aking. yang kebiasaannya menyatu di tempat yang sunyi. mungguh ugering ngaurip. keksi saliring jaman. Serta tahu benar menyenangkan hati sesama insan. yeku aran wong barek berag agama.) 16 Kang wus waspada ing patrap. dan masih berharga daun jati yang sudah kering. wignya met tyasing sesame. serta senang sekali pada ajaran agama. dalam merangkum tanda-tanda kebesaran Tuhan yang terdapat di alam semesta. (Demikianlah insan yang telah mencapai tingkat utama.) 17 Mangkono janma utama. susila anor raga. Bila sampai terjadi sama sekali tidak memiliki. tri winasis. temah papa papariman ngulandara. dan kepandaian. melok tanpa aling-aling. ing saben rikala mangsa. pada ketentuan jiwa ksatrianya yang rendah hati. yang pergi tidak tentu arah tujuannya. dan sudah tentu dapat dikatakan insan yang serba baik. (Salahnya sendiri jika tidak memerlukan sesuatu. uripe tan tri prakara. Akhirnya hina papa menjadi pengemis. Kehidupan yang patut dilengkapi dengan tiga macam syarat. salah satu dari tiga syarat tersebut. yang patut menjadi pegangan hidup. wenganing rasa tumlawung. Serta setiap saat berulangkali mempertajam olah budinya. saka wilangan tetelu. Maka jiwa pun terbuka dengan jelas. sejak jaman dahulu kala hingga kini. kalamun kongsi sepi.oleh para leluhur. (Yang telah arif bijaksana melaksanakannya.masah amemasuh budi. Pada akhir inti jiwanya. telas tilasing janma. harta. yeku aran tapa tapaking Hyang Sukma. angelangut tanpa tepi. mangayut ayat winasis. Keputusannya tidak lain hanyalah mencari nafkah hidup) 15 Bonggan kang tan mrelokena. arta. Hingga seolah-olah tidak terbatas dan bertepi. akhirnya akan menjadi orang yang tidak berguna. ing reh kasatriyanipun. kang ngalingi kaliling. akan tampak jelas tanpa dihalangi tabir.) . wasana wosing Jiwangga.

bahkan kakeknya pun hendak digurui.) Diposkan oleh kejawen di 05. arahe para turami. sama sekali tidak mengindahkannya. tur wus manggon pamucunge mring makrifat. banjur njujurken kapti. kakekne arsa winuruk. yen antuk tuduh kang nyata. serta memahami benar tembang Pucung yang mengarah pada uraian ma'rifat. gejala yang timbul pada kawula mudanya. ngandelken gurunira.45 . Dengan mengandalkan gurunya. seorang pandita pejabat kerajaan yang arif bijaksana. nora pisan den lakoni. pandhitane praja sidik. Selalu menuruti kehendak hatinya sendiri.18 Ing jaman mengko pan ora. Bila mendapat petunjuk yang benar. (Pada masa mendatang tidaklah demikian adanya.