You are on page 1of 4

1.

Montoring dan Evaluasi
 Monitoring
Monitoring adalah proses kegiatan pengawasan terhadap Implementasi kebijakan yang
meliputi keterkaitan antara implementasi dan hasil-hasilnya (outcames) (hogwood and
gunn, 1989).
Monitoring bukan sekedar pengumpulan informasi, karena monitoring memerlukan
adanya keputusan-keputusan, tentang tindakan-tindakan apa yang dilakukan, apabila
terjadi penyimpangan-penyimpangan dari yang telah di tentukan (hogwood and gunn,
1989).
William N.Dunn (1994), menjelaskan bahwa monitoring mempunyai beberapa tujuan,
yaitu :
a. Compliance (kesesuaian/kepatuhan)
Menentukan apakah implementasi kebijakan tersebut sesuai dengan standar dan
prosedur yang telah di tentukan.
Misalnya : dalam INPRES Desa Tertinggal (IDT), setiap desa menerima dana IDT
sebesar Rp.20.000.000,00 (standar)
Monitoring adalah untuk mengetahui, apakah yang diserahkan benar-benar
Rp.20.000.000,00 per desa
b. Auditing (pemeriksaan)
Menentukan sumber-sumber pelayanan kepada kelompok sasaran (target groups)
memang benar-benar sampai kepada mereka.
Misalnya, untuk menentukan apakah dana IDT itu benar-benar sampai ke kelompok
sasaran, yaitu kelompok masyarakat miskin.
c. Accounting (pemeriksaan)
Menentukan perubahan sosial dan ekonomi apa saja yang terjadi setelah implementasi
sejumlah kebijkan publik dari waktu kewaktu.
Sebagai contoh: ketika dana IDT tersebut tersalur apakah ada perubahan kondisi
sosial dan ekonomi dari kelompok sasaran, ataau dengan kata lain mereka yang
miskin sekarang tidak miskin lagi.
d. Explanation (penjelasan)
Menjelaskan mengapa hasil-hasil kebijakan publik berbeda dengan tujuan kebijakan
publik.
Sebagai contoh: misalnya menjelaskan mengapa setelah menerima dana IDT,
masyarakat miskin tidak berkurang, atau mengapa dana IDT tersebut yang mestinya
digulirkan ke kolompok lainnya, ternyata tidak dapat di gulirkan.
 Evaluasi kebijakan publik
David Mackmias, seperti dikutip oleh Howlett and Ramesh (1995), mendefinisikan
evaluasi kebijakan sebagai: “suatu pengkasian secara sistematik dan empiris terhadap
akibat-akibat dari suatu kebijakan dan program pemerintah yang sedang berjalan dan
kesesuaianya dengan tujuan-tujuan yang hendak dicapai oleh kebijakan tersebut”.
Kesulitan dalam evaluasi kebijakan, antara lain adalah tujuantujuan dalam kebijakan publik jarang di.lakukan (ditulis) secara
cukup jelas, dalam arti seberapa jauh tujuan-tujuan kebijakan
publik itu harus dicapai. Pengembangan ukuran-ukuran yang tepat
dan dapat diterima semua pihak sangat sulit dilakukan (Howlett

dan Ramesh, 1995). Selain daripada itu, evaluasi kebijakan, seperti
pada tahap-tahap lainnya dalam proses kebijakan, merupakan
kegiatan politis. Evaluasi kebijakan selalu melibatkan para birokrat
(pejabat pemerintah), para politisi, dan juga seringkali melibatkan
pihak- pihak di luar pemerintah (Howlett and Ramesh, 1995).
Samodera Wibawa, et al (1994), mengemukakan bahwa evaluasi
kebijakan merupakan aktivitas ilmiah yang perlu dilakukan oleh para
pembuat kebijakan di dalam tubuh birokrasi pemerintah. Di tangan
para aktor kebijakan ini, evaluasi memiliki fungsi yang sangat
penting, yaitu memberikan masukan untuk penyempurnaan suatu
kebijakan.
Dengan melakukan evaluasi, pemerintah dapat meningkatkan
efektivitas program-program mereka, sehingga meningkatkan pula
kepuasan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah.
Seperti diuraikan di muka, evaluasi merupakan proses politik.
Evaluasi kebijakan pada dasarnya harus dapat menjelaskan
seberapa jauh kebijakan dan implementasinya telah dapat
mencapai tujuan. Hanya saja, hal ini bukan merupakan hal yang
mudah: Mengidentifikasi tujuan yang benar-benar ingin dicapai,
bukanlah tugas yang mudah. Banyak kebijakan/program yang
mempunyai tujuan yang sangat luas, dan oleh karenanya terasa
tak mungkin tercapai. Akibatnya evaluator tidak dapat membuat
indikator efektivitas kebijakan/program tersebut. Mengapa suatu
kebijakan/program mempunyai tujuan yang kabur? Hal ini terjadi
karena kebijakan adalah produk politik, yang mengakomodasikan
beraneka ragam kepentingan. Ada banyak tujuan formal dan
diumumkan kepada masyarakat, tetapi tujuan yang sesungguhnya
tidak dapat diketahui (Samodera Wibawa, et al, 1994).
Selain daripada itu, seringkali tidak disadari bahwa yang biasa disebut
evaluasi oleh birokrasi pemerintah, sebenarnya bukan evaluasi dalam
arti yang benar. Para pejabat evaluator sering tidak bersungguh-sungguh
dalam menilai apakah kebijakan yang mereka evaluasi itu efektif atau
tidak. Hal ini terjadi karena yang mengevaluasi adalah pejabat
pemerintah.
Mereka mempunyai kepentingan untuk menunjukkan bahwa kebijakan
program telah berjalan dengan, baik. (Samodera. Wibawa, et al, 1994).

Akibatnya, misalnya suatu instansi pemerintah melakukan evaluasi
kebijakan, tetapi dalam
kenyataannya hasilnya jarang dipublikasikan, sehingga masyarakat
sulit mengetahui hasil evaluasi kebijakan.
Howlett dan Ramesh (1995), mengemukakan tentang beberapa bentuk
evaluasi kebijakan, yaitu:

a . Administrative Evaluation (Evaluasi Administratif).

Evaluasi administratif pada umumnya dibatasi pada pengkajian
tentang efisiensi penyampaian pelayanan pemerintah dan
penentuan, apakah penggunaan dana oleh pemerintah sesuai
dengan tujuan yang telah dicapai.
Ada beberapa bentuk evaluasi administratif (Howlett and
Ramesh, 1995), yaitu:

1) Effort Evaluation.

Effort evaluation bertujuan untuk mengukur kuantitas inputs
(masukan) program, yaitu kegiatan yang dilakukan untuk
mencapai tujuan. Inputs itu adalah personil, ruang kantor,
komunikasi,
transportasi,
dan
lain-lain,
yang
dihitung
berdasarkan biaya yang digunakan.
2) Performance Evaluation.
Performance evaluation mengkaji outputs program. Contoh,
outputs rumah sakit : tempat tidur yang tersedia,
jumlah pasien.

3) Effectiveness Evaluation.

Effectiveness evaluation bertujuan untuk menilai apakah
program
telah
dilaksanakan,
kemudian
diadakan
perbandingan kesesuaian antara pelaksanaan program
dengan tujuan kebijakan.
4) Process Evaluation.

Process evaluation mengkaji peraturan-peraturan dan
prosedur-prosedur operasi organisasi yang digunakan dalam
penyampaian program.
b . Judicial Evaluation (Evaluasi Yudisial).

Evaluasi yudisial mengadakan pengkajian apakah kebijakan yang
dibuat pemerintah telah sesuai dengan peraturan perundangundangan, apakah tidak melanggar HAM dan hak- hak individu.
c. Political Evaluation (Evaluasi Politis).

Evaluasi politis masuk dalam proses kebijakan hanya pada
waktu-waktu tertentu. Misalnya, pemilihan umum.