You are on page 1of 16

SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM

(Disusun oleh : Sunardi. Jurusan Kimia FMIPA-UI)

1. Pendahuluan
Spektrofotometri Serapan Atom didasarkan pada adanya absorbsi radiasi gelombang
elektromagnetig

oleh atom-atom. Atom mempunyai dua keadaan tingkat energi, yaitu

energi keadaan dasar (ground state) dan energi keadaan tereksitasi (excited state).
Atom-atom dalam keadaan energi dasar dapat menjadi ke keadaan tereksitasi dengan
cara mengabsorbsi energi dari suatu sumber energi. Sebagai contoh ialah atom Natrium
yang mempunyai dua tingkat energi yaitu 2,2 eV dan 3,6 eV dari keadaan dasarnya (lihat
Gambar 1). Atom-atom Na jika mengabsorbsi energi cahaya akan tereksitasi ke tingkat
energi yang lebih tinggi yaitu tingkat energi I (2,2 eV) atau ketingkat energi II (3,6 eV).
Tingkat energi I (2,2 eV) didasarkan pada pancaran lampu Na yang panjang gelombangnya
5890 oA dan tingkat energi II (3,6 eV) pada panjang gelombang 3303 oA. Atom-atom Na ini
hanya mengabsorbsi energi cahaya yang panjang gelombangnya tertentu, sedangkan panjang
gelombang lain yang tidak sesuai tidak diabsorbsi.

Gambar : 1. Tingkat energi atom Natrium
Perbedaan tingkat energi dari keadaan dasar ke keadaan tereksitasi ini untuk setiap
unsur adalah khas , sehingga panjang gelombang cahaya yang diabsorbsi oleh setiap
unsurpun juga tertentu. Dalam Spektrofotometri Serapan Atom sebagai sumber cahaya
digunakan lampu katoda berongga (Hollow cathode lamp) yang mempunyai emisi cahaya
1

Spektroskopi atom digunakan untuk mengidentifikasi dan menentukan (kualitatif dan kuantitatif) logam-logam dalam tingkat 'trace" dalam semua jenis materi dan larutan. maka sebagian cahaya ini akan diabsorbsi. 2 . Konsentrasi suatu atom dapat dihitung dengan cara menghitung besarnya absorsi cahaya oleh atom-atom tersebut. Spektroskopi Emisi Nyala (SEN) adalah suatu spektroskopi emisi dari daerah khusus yang mana atom dieksitasi dengan menggunakan nyala. Banyaknya cahaya yang diabsorbsi sebanding dengan banyaknya atom-atom dalam keadaan dasar. Pengukuran dalam spektroskopi serapan atom (SSA) berdasarkan radiasi yang diserap oleh atom yang tidak tereksitasi dalam bentuk uap. pengukuran berdasarkan energi yang diemisikan ketika atom atom dalam keadaan tereksitasi untuk kembali ke keadaan dasar. Pada Gambar : 2 di bawah ini menggambarkan proses serapan dan emisi. Dalam spektroskopi emisi. Hubungan antara serapan atom dengan konsentrasi. Gambar 2. Jika seberkas cahaya tepat mengenai suatu medium yang mengandung atom-atom dalam keadaan dasar dari suatu unsur.dengan panjang gelombang yang tertentu untuk setiap unsur. 2. Hubungan antara spektroskopi emisi dan serapan atom.

Hubungan antara Io dengan I dirumuskan dengan : I  I o . l. proses pelarutan dikenal dengan istilah destruksi. Destruksi basah : sampel ditambahkan asam asam oksidator. Jika suatu larutan standar dengan konsentrasi misalkan 1. l. Jika suatu cahaya dengan intesitas Io melewati suatu medium dengan panjang l yang mengandung atom-atom dengan konsentrasi C. HCl pekat HClO4 pekat atau H2O2 jika perlu dibantu dengan pemanasan. Terdapat dua cara destruksi yaitu : 1. Gambar grafik ini disebut “kurva kalibrasi”. konsentrasi suatu sampel yang tidak diketahui dapat dicari dengan cara mengukur absorbansinya kemudian diplotkan pada kurva tersebut. HNO3 pekat. absorbansi ini berbanding lurus dengan konsentrasi atom-atom. misalnya H2SO4 pekat. e  KlC atau  log I  K . Suatu sampel pertama-tama harus dilarutkan. Peristiwa absorbsi cahaya. Gambar : 4. nilai  log I  K . Pelarutan sampel.Gambar : 3. 3 . C Io K = konstanta pembanding Persamaan ini disebut Hukum Lambert-Beer’s . C disebut Io sebagai absorbansi. maka intensitas cahaya tersebut akan berkurang menjadi I. 2 dan 3 ppm diukur absorbansinya kemudian diplotkan dalam suatu kurva maka akan didapat gambar seperti dibawah ini (lihat Gambar : 4). Kurva kalibrasi 3. yang bertujuan untuk membuat unsur logam menjadi ion logam yang bebas.

proses ini disebut “Atomisasi”. Demikian pula untuk mengatasi gangguan spektral yaitu dengan cara memisahkan unsur-unsur yang mengganggu.2. gangguan kimia 3). yang dimaksud atom bebas disini adalah atom yang tidak bergabung dengan atom lain menjadi suatu molekul. sedangkan gangguan spektral akan mempengaruhi pengukuran yang sebenarnya dari serapan atom. Agar atom Na yang terikat dalam molekul ini dapat menjadi atom Na yang bebas maka molekul NaCl harus diputuskan ikatannya. Destruksi kering: sampel langsung dipanaskan untuk diabukan. panas pada temperatur yang tinggi dapat memutuskan ikatan antar atom sehingga terbentuk 4 . Serapan akan terjadi dari radiasi suatu sumber sinar yang sesuai dengan atom yang akan ditentukan. sensitif dan mempunyai akurasi yang tinggi serta dapat digunakan secara rutin. Sebagai sumber emisi sinar adalah lampu katoda berongga yang mempunyai garis spektra yang tajam. Cara yang paling umum digunakan untuk mengatomisasi ialah dengan energi panas. selektif. didalam Furnace atau menggunakan api bunsen. Hasil destruksi baik cara basah maupun kering kemudian dilarutkan. yaitu : 1). Larutan sampel dimasukkan ke dalam nyala dalam bentuk aerosol yang selanjutnya akan membentuk atom atomnya. Pengaruh gangguan ini dapat dikurangi atau dihilangkan dengan cara menseleksi kondisi percobaan atau dengan memberi perlakuan kimiawi pada sampel yang sesuai dengan permasalahannya. Pada dasarnya terdapat 3 tipe gangguan. Metode analisis ini bersifat cepat. gangguan spektral Gangguan fisika dan kimia dalam nyala akan mengubah populasi atom. 4. Atomisasi Sampel Atom yang dapat mengabsorbsi cahaya adalah atom-atom yang dalam keadaan bebas. Sebagai contoh misalnya atom Natrium dalam air laut bergabung dengan atom Klor menjadi molekul Natrium klorida (NaCl). gangguan fisika 2). Di dalam spektroskopi serapan atom dijumpai adanya beberapa gangguan yang dapat mempengaruhi keakuratan atau kesalahan pengukuran.

Atomisasi dengan nyala. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk atomisasi yaitu.atom yang bebas. maka akan terjadi penyerapan oleh atom-atom tersebut. misalnya adanya 5 . Ketika larutan sampel tersebut sampai didaerah “Nebulizer”. partikel ini selama bergerak di dalam nyala akan mengalami dekomposisi menjadi atom Calsium bebas dan atom klor bebas. a) Atomisasi dengan nyala. Di dalam nyala terjadi penguapan sehingga terbentuk partikel-partikel Calsium Klorida . Jika suatu cahaya dengan panjang gelombang 4227 oA (panjang gelombang dari atom Ca) dilewatkan pada nyala. tanpa nyala (Flameless) yaitu dengan cara mereduksi dan panas dari pijarnya batang Grafit oleh energi listrik (Grafite Furnace). Sebagai contoh ialah pada analisis Calsium yang didalam larutan sampel berbentuk Calsium klorida (CaCl2). hanya sebagian kecil larutan sampel yang masuk kedalam nyala karena terbawa oleh aliran gas pembakar dan udara. Cara ini sangat banyak digunakan pada hampir seluruh instrumen AAS. sebagian besar larutan sampel jatuh dan mengalir melalui pipa pembuangan “Drain”. Adanya reaksi-reaksi samping. Gambar : 5. Molekul-molekul akan teratomisasikan jika dibakar didalam nyala yang dihasilkan oleh pembakar (burner). Secara prinsip pembakar dibuat seperti pada gambar dibawah ini (lihat Gambar : 4). dengan nyala (Flame) dari pembakaran gas.

Acetilena Temperatur maksimum 1577 o C 2045 o C 2300 o C 2955 o C 1) Nyala dari campuran Udara . Cd dan Sn. 2) Nyala dari campuran N2O . Vanadium.Acetilena mendapat gangguang yang besar.H2 Udara .Acetilena N2O .Hidrogen atau Udara . 3) Nyala dari campuran Argon . hal ini sangat bergantung pada sensitivitas yang dibutuhkan. mudahnya dioperasikan serta biaya operational yang diperlukan.H2 Udara . Titanium dan lain-lain.Hidrogen. sehingga sangat baik untuk menganalisis unsurunsur yang panjang gelombang absorbsinya sangat pendek misalnya : Ar. Nyala dari campuran gas ini menghasilkan temperatur yang paling tinggi. Suhu maksimum yang dihasilkan oleh berbagai jenis nyala dapat dilihat pada Tabel : 1. keamanannya. Se. Pb. Nyala pembakar jenis ini paling banyak digunakan.Acetilena. Berbagai jenis nyala dapat digunakan dalam teknik ini. Tabel : 1.reaksi penggabungan atom Ca dengan Oksigen dapat mengurangi besarnya nilai absorbans sebab adanya pembentukan Kalsium Oksida akan mengurangi jumlah atom Kalsium bebas. Nyala jenis ini menghasilkan gangguang lebih rendah jika dibandingkan dengan nyala Udara . sehingga kadang-kadang nyala ini digunakan untuk menganalisis beberapa jenis unsur dimana jika digunakan nyala Udara . sebab mampu mengatomisasikan lebih dari 30 macam unsur. Zn. dan paling efektif untuk mengatomisasikan unsur-unsur “refraktory” misalkan Aluminium. Unsur jenis ini oksidanya sangat stabil sehingga sulit diatomisasikan jika temperatur nyalanya rendah. Jenis nyala : Ar .Acetilena.Acetilena. Temperatur maksimum. 6 . Pada temperatur yang tinggi ternyata interferensi dari unsur-unsur yang lain juga rendah.

Hidrogen. Pembakar sistem “premix” Tabel : 2. Nyala yang dihasilkan dari gas Hidrogen menghasilkan temperatur yang rendah dan interferensi dari unsur-unsur lain cukup besar. Gambar : 6 . 7 .Unsur-unsur yang panjang gelombang absorbsinya lebih rendah dari 2000 oA misalkan Arsen ( 1937 oA) dan Selenium (1960 oA) hasilnya akan lebih baik jika digunakan nyala dari gas Argon . Unsur dan jenis nyala pembakar.

Dari sejumlah larutan yang masuk kedalam Nebulizer. hanya 10 % saja yang dibakar. Tahap kedua yaitu pengabuan. Tahap ketiga yaitu atomisasi.b) Atomisasi tanpa nyala. Temperatur grafit dapat diubah-ubah dengan cara mengatur arus listrik yang dilewatkan padanya. Setelah 8 . pada tahap ini zat-zat organik akan terdegradasi dan unsur-unsur logam akan menjadi oksidanya. suhu grafit diatur sekitar 100 oC sehingga pelarut sampel (air) dapat menguap. dimana pada atomisasi cara ini digunakan batang Grafit yang dialiri arus listrik sebesar 300 Ampere. tetapi cara ini sangat boros terhadap larutan standar maupun sampel. sedangkan yang 90 % terbuang percuma. suhu grafit diatur sekitar 1300 oC. pada saat inilah pembacaan absorbansi dilakukan. Tahap pertama yaitu pengeringan (penguapan pelarut). Batang grafit tersebut akan berpijar sehingga menghasilkan temperatur tinggi sekitar 3000 oC yang dapat mengatomisasikan unsur-unsur dalam sampel. pada tahap ini suhu grafit diatur sekitar 2600 oC sehingga seluruh unsur yang ada didalam rongga grafit akan teratomisasi. Cara atomisasi tanpa nyala merupakan metode yang dikembangkan oleh Dr. Untuk analisis suatu sampel biasanya perlu dilakukan beberapa tahapan pengaturan suhu grafit. L’vov dari USSR. Cara atomisasi dengan nyala merupakan cara yang standar sebab keboleh ulangannya tinggi dan caranya relatif mudah.

Gangguan (interverensi) dari molekul-molekul sangat besar sehingga menghasilkan sinyal latar belakang (background) yang tinggi. Jumlah larutan sampel yang diinjeksikan hanya berkisar antara 5 . Gambar : 7. terutama untuk sampel yang kadarnya sangat rendah dan jumlah larutannya sangat sedikit.20 L. sehingga perlu cara khusus untuk menanggulanginya.Karena jumlah sampel yang diinjeksikan sangat sedikit. . 9 . Bagaimanapun juga cara atomisasi tanpa nyala ini mempunyai beberapa kekurangan diantaranya ialah : .selesai ketiga tahap ini lalu dialirkan gas yang inert (biasanya Argon atau Nitrogen) untuk membersihkan rongga grafit dari abu dan kotoran. bahkan sampel yang berbentuk padatpun dapat dianalisis secara langsung tanpa perlu dilakukan pelarutan sampel. maka agar dihasilkan pengukuran yang keboleh ulangannya tinggi (repeatability) diperlukan operator yang keterampilannya sangat tinggi. Grafite furnace Cara atomisasi tanpa nyala ini mempunyai sensitivitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan atomisasi dengan nyala.

Cara yang biasa digunakan ialah dengan pereaksipereaksi kimia sehingga terbentuk atom. untuk unsur Arsen. kemudian atom ini diuapkan. 2) Mercuri Dalam larutan. Arsen hidrida merupakan senyawa yang mudah menguap dan dapat dibakar didalam nyala ArgonHidrogen sehingga menghasilkan atom-atom Arsen. merupakan unsur yang khusus sehingga untuk atomisasinyapun berbeda engan cara yang telah lazim. Pereduksi yang biasa digunakan ialah Stanno Klorida (SnCl2) dalam suasana asam. Matrik efek Kecil besar c) Atomisasi jenis lain. Atomisasi sangat bergantung dari jenis unsur yang kita analisis. Batas deteksi Panas dari pembakaran gas 2955 oC (nyala N2O-C2H2)  10 %  1 mL Rendah 0. Sensitifitas 6. Kemudian ke dalam larutan ini ditambahkan Asam dan serbuk Zn. Reaksi dari campuran asam dan Seng menghasilkan gas H 2 yang selanjutnya bereaksi dengan Arsen menjadi Arsen hidrida (AsH3). Atomisasi Arsen dilakukan dengan cara mereduksi larutannya menggunakan KI dan SnCl2 sehingga terbentuk As3+. Cara yang sama dapat dilakukan untuk mengatomisasikan Selenium.002 ppb untuk Cd 7. agar dapat menjadi Mercuri yang netral maka harus direduksi. Perbandingan antara Atomisasi dengan nyala dan Atomisasi tanpa nyala. Repeatability pada 20 ppb untuk Al 0. Atomisasi dengan nyala Atomisasi tanpa nyala 1. Volume sampel 5. Selenium dan Mercuri.0 % 1. ion Mercuri bermuatan positif. 1) Arsen dan Selenium. Efisiensi atomisasi 4.5  5 % kondisi optimum 8. Temperatur maksimum 3. Uap Merkuri yang terbentuk selanjutnya 10 . dimana Se diubah menjadi Selenium Hidrida (SeH3) yang selanjutnya dibakar dalam nyala Argon-Hidrogen dan menghasilkan atom-atom Se.Tabel : 3.5  1. 5 ppb untuk Cd Panas dari arus listrik  3000 oC (suhu grafit)  90 % 5  50 L tinggi 0.0 ppb untuk Al 1. Prinsip atomisasi 2.

sehingga panjang gelombang yang dipancarkan olehnya juga tertentu. Artinya setiap melakukan analisis untuk logam tertentu. maka lampu yang digunakan juga harus lampu Natrium. 5. Peralatan pada AAS secara prinsip sama seperti pada peralatan spektrofotometer yang lain ( misalnya pada spektrometer UV-Vis). misalkan pada analisis logam Natrium. Lampu jenis ini katodanya dilapisi dengan unsur tertentu yang diinginkan.). tetapi ada beberapa hal khusus yang menyebabkan sisitem pada AAS ini berbeda dari spektrofotometer lain (lihat Gambar : 7. Gambar : 8. Prisip peralatan AAS. 11 . a) Sumber sinar. Lampu katoda berongga.dilewatkan pada “Sel” dari bahan Kwarsa yang diletakkan tepat diatas “Burner” sehingga atom-atom Mercuri dapat mengabsorbsi cahaya. jika akan menganalisis logam Calsium maka lamunya harus diganti pula dengan lampu Calsium. Sebagai contoh. Pada AAS sebagai sumber cahaya digunakan lampu katoda berongga(Hollow Cathode Lamp). Gambar : 9. maka lampu yang digunakan harus disesuaikan. Peralatan.

sehingga keselektifan dan sensitifitasnya sangat tinggi. tetapi untuk cahaya dari nyala pembakarnya. Untuk menghilangkan gangguan ini maka monokromator dipasang diantara sistem atomisasi dan detektor. pancaran cahaya dari sistem atomisasi ini dapat mengganggu detektor. Tetapi hal yang paling menguntungkan dari lampu jenis ini ialah disamping intensitas yang tinggi. sebab fungsi monokromator di dalam alat ini bukan untuk memonokromatiskan cahaya dari sumber sinar.  12 . pancaran cahaya yang dihasilkan monokromatis.Cara ini memang terlihat kurang praktis disamping itu berarti kita harus memiliki bermacam jenis lampu agar dapat menganalisis berbagai jenis unsur. b) Monokromator. Letak monokromator agak berbeda. Pada atomisasi dengan nyala maupun atomisasi tanpa nyala menghasilkan pancaran cahaya yang spektrumnya sangat lebar.

diperlukan perlakuan yang sama antara larutan standar logam Fe dengan sampel. Beberapa percobaan ini merupakan usaha untuk memahami hal-hal sebagai berikut : 1.kecepatan gas oksidan . Untuk menentukan kandungan Fe dalam air minum atau air buangan. 13 . Mencari dan menentukan batas deteksi 3. Nyala udara-asetilen memberikan suhu yang sesuai dengan suhu yang diperlukan untuk atomisasi logam Fe. Cara kerja : Preparasi larutan standar - Buatlah larutan standar baku Fe 1000 ppm.tinggi burner head 5. dari larutan standar baku tersebut buatlah seri larutan standar 0. Mencari kondisi optimum seperti : . 1. Pembuatan Kurva Kalibrasi Fe dan penentuan Fe dalam air buangan/air minum Ferrum dapat ditentukan dalam nyala udara-asetilen. Menentukan kadar sesuatu unsur. yang sesuai dengan energi yang diperlukan untuk mengubah tingkat energi elektronik dari tingkat dasar ke tingkat eksitasi suatu unsur.1 hingga 5 ppm.PERCOBAAN Prinsip operasi metode ini yaitu diperlukan sumber cahaya dari luar yang memancarkan sinar dengan panjang gelombang tertentu. Mempelajari beberapa sifat gangguan dan cara mengatasinya 4. Perbedaan antara intensitas sinar mula-mula dengan intensitas sinar yang diteruskan diukur dan perbedaan ini sebagai nilai absorban dan besarnya berbanding lurus dengan konsentrasi unsur yang mengabsorpsi sinar tersebut.kecepatan gas pembakar . Pada pembuatan larutan standar tambahkan asam HNO3 pekat beberapa tetes atau HCl pekat beberapa tetes. Pembuatan kurva kalibrasi 2. selanjutnya encerkan sesuai dengan volume labu ukur (gunakan labu ukur 100 ml). Sinar dengan panjang gelombang yang diperlukan ini dilewatkan nyala yang mengandung unsur yang akan diukur.

Penyiapan sampel : - Ambil sejumlah volume air buangan/minum. beri beberapa tetes HNO3 pekat. saring dengan kertas saring Whatman nomor 42. Pertanyaan : Dapatkah untuk analisis logam Fe dipakai nyala N2O-asetilen ? Terangkan jawaban saudara! 2. Cara Pengukuran : - Perhatikan prosedur pengoperasian alat spektrometer serapan atom (ikuti petunjuk instruktur) - Tentukan dan ukur larutan standar beserta larutan sampel. Cu. 14 .Kertas saring Whatman nomor 42 . untuk unsur Ca. - Buatlah kurva kalibrasi. Alat : . 100 ml (4 buah) dan 50 ml (10 buah) .Pipet ukur dan pipet tetes.Labu ukur 100 ml (10 buah). Bahan Kimia : . tentukan harga koefisien korelasi. 250 ml (2 buah).pipet ukur. - Buatlah batas deteksi alat terhadap unsur Fe. catatlah kondisi operasi alat. . Alat : . K dan Zn. - Hitung besarnya kandungan Fe dalam air buangan atau air minum. Fe.Spektrometer serapan atom . secara grafik dan dengan metode "least-square" persamaan linier. Mn.Spektrometer Serapan Atom . Mg. tempatkan dalam labu ukur 100 ml.corong pendek .Asam HNO3 dan HCl pekat. Analisis Tanaman (Sayuran).Labu ukur 250 (2 buah). dll.

Abukan selama 2 jam pada suhu 500 oC. Untuk konstituen mineral : Pisahkan dengan hati-hati semua materi asing. HClO4 pekat. keringkan dan haluskan. gunakan atau masukkan ke dalam krusibel porselin. khususnya tanah dan pasir yang melekat.Alat neraca elektronik. tambahkan 3 ml HClO4 60% dan panaskan pada hot plate (dalam lemari asam) perlahan-lahan.HNO3 pekat. tambahkan 10 tetes H2O dan secara hati-hati tambah 3-4 ml HNO3 (1:1). catat berat sampel sebelum dan sesudah pengeringan. 3. Cara Pengerjaan : Preparasi Sampel dan larutan standar 1. Bahan Kimia : . tetapi cegah adanya "leaching". . kocok dengan hati-hati. 2. H2O2 30%. hingga busa berhenti. keringkan dan haluskan kemudian masukkan ke dalam labu Erlenmeyer 50 ml. Teknik Pengabuan (dry ashing) : Timbang 1 g sampel.Alat pemanas (hot plate) . Panaskan lebih 15 . haluskan dan simpan dalam botol tertutup. Teknik destruksi basah (wet ashing) : Timbang dengan baik sekitar 1 g sampel.. HCl pekat.Botol timbang .Labu erlenmeyer 100 ml (5 buah) berserta corong pendek kecil. hindari pencucian yang terus menerus. Dinginkan. tambahkan H2O hingga batas. larutan siap diukur. larutkan abu dalam 10 ml HCl (1:1) dan pindahkan ke dalam labu ukur 50 ml. Kembali krusibel dipanaskan dalam tungku pemanas (furnace) selama 1 jam pada suhu 500°C. Gunakan udara atau oven pengering secepat mungkin untuk mencegah dekomposisi atau hilangnya berat oleh respirasi. Jika hasil diharapkan yang berasal dari berat segar. uapkan kelebihan HNO3 pada pemanas pada suhu 100-120oC. Dinginkan. tambahkan 10 ml HNO 3 pekat.

Chem. Cu.5.". of Anal. Larutan siap dianalisis. A. "Anal. Buku Panduan Praktikum Instrumen Dep. Siapkan larutan standar sesuai dengan jenis unsur yang akan ditentukan..A.lanjut hingga HNO3 hampir menguap semua. Daftar Pustaka : 1. Persiapkan pengoperasian alat (petunjuk instruktur) 2. 1979. John Wiley Sons. 1984.0 ppm.C.10. Jika terjadi arang dinginkan dan tambahkan 10 ml HNO3 pekat lagi dan lanjutkan pemanasan.O. Plant Analysis : 3. 1979. 2. Willert. Marritt dan Dean. Hitunglah kandungan unsur dalam sampel. dan K dari 0.008 dan 2. 5. koefisien korelasi. Untuk seri bagi unsur : Fe. Ukur serapan larutan standar dan larutan sampel dalam satu kondisi. Mn dan Zn dari 1.. 4. 4.0 ppm Untuk seri bagi unsur : Ca. 3.110.007. Tentukan batas deteksi alat terhadap unsur melalui larutan standar. Chemistry Experiments : AA and AE Spectroscopy. Chem.1 . 3. Cara Pengukuran : 1. 3. 3. Dinginkan dan tambah 10 ml HCl (1:1) dan pindahkan ke dalam labu ukur 50 ml. 4.0 . 16 . Mg.002(a). 3. 3. NSW.109-2. Panaskan hingga terbentuk asap putih dari HClO4. Buatlah kurva kalibrasi dengan metode "least squarre".006.007.