You are on page 1of 8

BAKTERI INFEKSI PADA SALURAN UROGENITAL

BAKTERIOLOGI TEORI III

Disusun Oleh :
Kelompok 3
AK – 2A
NAMA KELOMPOK:
-

Dhika Rizki

-

Nirvana Satriani

-

Sefta Ariansyah

-

Siti Muharomah Saparudin
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BANTEN
JURUSAN ANALIS KESEHATAN
2016

Infeksi pada Saluran Urogenital
SIFILIS
A. Sifilis didapat
Infeksi pada manusia biasanya ditularkan melalui kontak seksual dan lesi infeksius pada
kulit atau membran mukosa genitalia.
B. Sifilis kongenital
Seorang wanita hamil dengan sifilis dapat menularkan T pallidum ke fetusnya melalui
plasenta dimulai pada minggu ke 10 sampai minggu ke 15 usia kehamilan. Beberapa
fetus yang terinfeksi meninggal dunia dan menimbulkan keguguran yang lainnya masih
dapat lahir aterm. Pada infeksi kongenital, anak akan membuat antibodi IgM
antitreponema.
Agen Infektif : Treponema pallidum
Morfologi dan identifikasi
A. Ciri khas organisme
- Organisme ini berbentuk spiral yang ramping dengan lebar kira-kira 0,2 µm dan
-

panjang 5-15µm
Organisme ini aktif bergerak, berotasi dengan cepat disekitar endoflagelnya bahkan

setelah menempel pada sel melalui ujungnya yang lancip.
B. Biakan
Organisme patogen T pallidum belum pernah dibiakkan secara langsung pada medium
artifisial, dalam telur fertil, atau dalam biakan jaringan
Treponema non patogen dapat dibiakkan secara anaerob in vitro.
C. Sifat pertumbuhan
T pallidum adalah organisme mikroaerofilik : organisme ini paling baik hidup dalam
lingkungan dengan kadar oksigen 1-4%
D. Reaksi terhadap bahan fisik dan kimiawi
Proses pengeringan dan peningkatan temperatur sampai 40°C dapat membunuh spiroketa
dengan cepat. Treponema dapat dihambat dan dibunuh dengan cepat menggunakan
arsenik trivalen, merkuri dan bismut (terdapat dalam obat untuk pengobatan sifilis).
Uji Laboratorium Diagnostik
a. Spesimen
Cairan jaringan dikeluarkan dari lesi permukaan dini untuk menunjukkan spiroketa;
serum darah untuk uji serologi.

b. Pemeriksaan lapang gelap
Setetes cairan jaringan atau eksudat diletakkan diatas slide dan penutup kaca ditekan
diatasnya untuk membuat lapisan yang tipis. Preparat tersebut kemudian diperiksa
dengan minyak imersi menggunakan iluminasi lapangan gelap untuk spiroketa khas yang
dapat bergerak. Treponema hilang dari lesi dalam waktu beberapa jam setelah dimulainya
pengobatan antibiotik.
c. Imunofluoresensi
Cairan jaringan atau eksudat diusapkan diatas slide kaca, dikeringkan dan dikirim ke
laboratorium. Sediaan ini difiksasi, diwarnai dengan serum antitreponema yang dilabel
dengan fluoresein dan diperiksa dengan mikroskop imunofluoresensi untuk spiroketa
yang khas berfluoresensi.
d. Uji serologi untuk sifilis (STS)
- Uji antigen nontreponema
- Uji antibodi treponema
- Uji aglutinasi partikel Treponema pallidum

PIELONEFRITIS
Pielonefritis adalah infeksi parenkim ginjal dan biasanya merupakan lanjutan dari sistitis akut
(penyebaran asenden). Pada neonatus, pielonefritis akut muncul dengan sepsis dengan gejala
letargi, kejang, syok, suhu yang tidak stabil, ikterik fisiologis yang persisten.Gejala non spesifik
termasuk gagal tumbuh, muntah, diare. Infeksi saluran kemih pada bayi usia dibawah 1 tahun
mengindikasikan pielonefritis akut.
Agen infektif
Proteus mirabilis
Diagnosa penyakit
Gejala letargi, kejang, syok, suhu yang tidak stabil, ikterik fisiologis yang persisten. 8,9,10
Gejala non spesifik termasuk gagal tumbuh, muntah, diare. Infeksi saluran kemih pada bayi usia
dibawah 1 tahun mengindikasikan pielonefritis akut.
Pemeriksaan Laboratorium
A. Morfologi bakteri
Morfologi.

Bentuk batang

Gram negatif

Tidak berspora

Tidak berkapsul

Flagel peritrik

Anaerobik fakultatif

Koloni pada agar:
 Tidak berwarna/colourless dengan adanya lingkaran hitam ditengah (SSA)
B. Identifikasi Bakteri

Bahan pemeriksaan :
Sampel urin
1. Aspirasi suprapubis
2. Kateterisasi urin
3. Urin porsi tengah (mid stream)
4. Infant urin bag collector

Media yang digunakan
Kultur bakteri dilakukan dengan menggunakan medium Salmonella Shigella Agar (SSA).
Menurut Zimro MJ et al. (2009), bentuk koloni Proteus mirabilis dan Salmonella sangat
mirip yaitu tidak berwarna/colourless dengan adanya lingkaran hitam ditengah. Hal ini
yang menjadi alasan untuk melakukan uji konfirmasi dengan menggunakan uji biokimia.
Data hasil kultur pada media SSA (Gambar 3), dikultur lebih lanjut pada medium
MacConkey Agar (MCA) dan diperoleh pertumbuhan koloni bakteri Proteus mirabilis
yang tidak berwarna/colourless (Gambar 4) karena bakteri tersebut tidak memfermantasi
laktosa.

Gambar 3. Koloni terpisah pada media SSA (yang
dilingkari spidol merah diuji selanjutnya dengan
pewarnaan gram dan uji biokimia)

Gambar 4. Pertumbuhan koloni yang menghasilkan
koloni yang tidak berwarna (colourless) pada
MacConkey Agar (MCA)
Identifikasi bakteri tidak hanya sampai pada pertumbuhan koloni pada media agar.
Pewarnaan gram dan uji biokimia merupakan uji konfirmasi yang mutlak untuk
identifikasi bakteri. Koloni yang tumbuh terpisah di media SSA (Gambar 3) digores ke
media MCA (Gambar 4) kemudian dilakukan pewarnaan Gram, hasil pewarnaan gram
(Gambar 5)

Gambar 5. Sel bakteri gram negatif diliat dengan pembesaran
100x
Pada pewarnaan bakteri yang dapat ditentukan hanyalah bentuk bakteri yakni coccus/bulat
ataukah basil/batang dan jenis gram suatu bakteri. Pada pewarnaan gram, warna merah
menunjukkan bakteri gram negatif dan warna ungu menunjukkan bakteri gram positif
(David B. Fankhauser 1983). Bakteri yang diwarnai (Gambar 5) merupakan bakteri gram
negatif dengan bentuk batang pendek. Uji biokimia antara lain Triple Sugar Iron Agar
(TSIA), Sulfur Indol Motility (SIM), metil merah (MM), Voges Proskauer (VP), sitrat,
urea, glukosa, laktosa, sukrosa, dan mannitol. Hasil pengujian dapat dilihat (Gambar 6),
sedangkan uji katalase (Gambar 7) dan uji oksidase (Gambar 8). Seluruh hasil uji biokimia
sampel dapat dilihat pada lampiran.

Gambar 6. Pengujian Biokimia (urutan dari bagian kiri) :
TSIA, SIM, MR, VP, Citrat/Sitrat, Urea, Glukosa, Laktosa,
Sukrosa, dan Mannitol

Ket : Katalase positif bila menghasilkan buih seperti
pada Gambar, dan oksidasi negatif bila tidak berwarna
ungu Dari kultur pada media agar SSA dan MCA,
pewarnaan gram, dan uji biokimia peneliti dapat
menyimpulkan bahwa koloni terpisah itu adalah bakteri
Proteus mirabilis dengan ciri bentuk koloni yang kecil
dengan adanya H2S pada media SSA dan colourless/tidak berwarna pada media MCA,
pada pewarnaan gram diperoleh gram negatif dengan bentuk batang/basil pendek, dan
pada uji biokimia sebagai berikut TSIA basa/basa dengan adanya H2S, SIM (indol negatif
dan motiliti positif, dan ada H2S), MR positif, VP negatif, sitrat positif, urea positif,
katalase positif, oksidase negatif, glukosa positif, laktosa negatif, sukrosa negatif, dan
mannitol negatif
Pengobatan

Infeksi Proteus mirabilis dapat diobati dengan jenis penisilin atau sefalosporin.
Tidak cocok bila digunakan nitrofurantoin atau tetrasiklin karena dapat meningkatkan

resistensi terhadap ampisilin, trimetoprim, dan siprofloksin.
Jika terbentuk batu/kristal, dokter bedah harus menghilangkan blokade ini dahulu.

URETRITIS
Uretritis merupakan kondisi urologis dimana terjadi inflamasi pada uretra yang dapat
disebabkan oleh proses infeksi atau noninfeksi dengan manifestasi keluarnya sekret, disuria,
atau pruritus pada ujung uretra. Uretritis dapat disebabkan oleh bakteri, virus, maupun
parasit.
Uretritis gonokokkus didiagnosis bila pada pemeriksaan laboratorium ditemukan
Neisseria gonorrhoeae, sebaliknya jika tidak ditemukan N. gonorrhoeae disebut sebagai
uretritis non gonokokkus atau uretritis non gonore

Gejala, beberapa diantaranya mengalami urgensi (desakan) berkemih yang lebih
sering, dysuria ringan, nyeri di daerah pelvis, disparenia dan keluarnya duh tubuh dari vagina.
Pengobatan
Tergantung pada tingkat keparahan infeksi diobati hingga 28 hari dengan antibiotik. Jika
pasangan seksual terinfeksi, pengobatan mitra harus dilakukan untuk mencegah infeksi ulang
melalui hubungan seksual. Kebanyakan doxycycline dari kelompok tetrasiklin atau antibiotik
dari kelompok makrolid digunakan. Kemungkinan pemulihan umumnya dianggap baik

Daftar pustaka
Jawetz, Melnick, & Adelberg.Mikrobiologi Kedokteran Edisi 23. Penerbit Buku Kedokteran
EGC. Jakarta : 2004
Sears, W Benjamin, Lisa spears.Intisari Mikrobiologi dan Imunologi. Penerbit Buku
Kedokteran.EGC.Jakarta:2006
Ditjen PPM dan PLP, Buku Pedoman Pemberantasan Penyakit Kusta, Jakarta, 1996.

Nanang fitria. Pola kuman aerob dan sensitifitas pada gangrene diabetic.2008.USU
espository2008