You are on page 1of 9

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/279805576

Karakteristik Perpindahan Panas pada Double
Pipe Heat Exchanger, perbandingan aliran
parallel dan counter flow
Article · November 2013

CITATION

READS

1

317

1 author:
Mustaza Maa
Politeknik Caltex Riau
3 PUBLICATIONS 3 CITATIONS
SEE PROFILE

All in-text references underlined in blue are linked to publications on ResearchGate,
letting you access and read them immediately.

Available from: Mustaza Maa
Retrieved on: 06 October 2016

Vol. 16. Cold flow variation is 10.0. Oktober 2013. perbandingan aliran parallel dan counter flow Mustaza Ma’a Program Studi Teknik Mekatronika Politeknik Caltex Riau email : mustaza@pcr. 16.17 kg /s .2]. This research studied experimentally using a Double Pipe Heat Exchanger.I. Keywords: heat transfer characteristics.99% and 0.3. Double Pipe Heat Exchanger. Dipilihnya alat tipe ini dikarenakan konstruksi yang dimiliki oleh Double Pipe Heat Exchanger ini sederhana.NTU 31.7 dan 20 lpm dengan temperatur 60oC dan laju aliran 0. pengkondisian udara dan sebagainya telah banyak melakukan perpindahan energi panas dari suatu aliran fluida ke aliran fluida lainnya [1.5 kJ/sK produces effectiveness () .33 kg s.7 dan 20 lpm dengan temperatur 32oC dan laju aliran 0. 16.2. Nilai cr yang dihasilkan pada 0.33 kg/s. simple construction and does not require a large heat transfer surface. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini pada aliran parallel dengan nilai cr 0. Kata kunci: karakteristik perpindahan panas. Alat penukar kalor tipe pipa ganda merupakan peralatan perpindahan panas yang sesuai dalam aplikasi – aplikasi yang tidak membutuhkan permukaan perpindahan panas yang besar[3]. cukup murah untuk dibuat. because it is cheap.5 kJ/s. Meanwhile. karena murah. Using water flowing fluid. heat flow 6. counterflow 1 Pendahuluan Perkembangan industri pengolahan kimia.11 kg/s . konstruksi sederhana dan tidak membutuhkan permukaan perpindahan panas yang besar.7. 10.42% dan NTU 0.7 and 20 lpm with 32oC temperature and flow rate of 0.K menghasilkan effectiveness () 31.3. jumlah ruang yang ditempati umumnya lebih tinggi dibandingkan dengan tipe lainnya[2]. counterflow Abstract Research on the properties of the fluid flowing in the heating and cooling processes are very important in the food and beverage industry technology.43. baik secara kimiawi maupun farmasi.ac. Sedangkan untuk counterflow dengan nilai cr yang sama menghasilkan effectiveness () 31.42.NTU 31. 13.99% dan NTU 0.42.Jurnal Teknik Elektro dan Komputer. 16. No. 13. pembangkit listrik. dan dibandingkan dengan tipe lain. Penelitian dengan menggunakan Double Pipe Heat Exchanger ini telah banyak dilakukan.7. Penelitian ini dikaji secara eksperimen dengan menggunakan Double Pipe Heat Exchanger.0. set parallel and counterflow. diatur parallel dan counterflow.33 kg/s.33 kg/s. Sedangkan aliran panas 6. As for the counterflow with the same value of cr produce effectiveness () .3.3. baik secara eksperimental maupun secara numerik. either by chemical or pharmaceutical. Fluida yang mengalir menggunakan air. 13.43.7 and 20 lpm with a temperature of 60°C and flow rate of 0. 161-168 161 Karakteristik Perpindahan Panas pada Double Pipe Heat Exchanger. 13. Variasi debit aliran dingin adalah 10.id Abstrak Penelitian tentang propertis fluida yang mengalir pada proses pemanasan dan pendinginan sangat penting di teknologi industri makanan dan minuman. The results obtained from this study on the flow parallel to the value of cr 0. aliran parallel. parallel flow. Double Pipe Heat Exchanger. Alat yang digunakan untuk melakukan proses perpindahan energi panas tersebut salah satunya adalah Double Pipe Heat Exchanger.5 dan 1 memperlihatkan tren yang .17 kg/s s/d 0.11 kg/s s/d 0. Hasil dari penelitian memperlihatkan tren pada efektifnes – NTU menyerupai tren yang dihasilkan oleh berbagai referensi lainnya. 10.42% and 0.

Diameter tabung dalam yang digunakan adalah 0. Sedangkan nilai temperatur dapat dilihat pada layar LCD di control panel yang dihubungkan ke 9 unit thermocouple. Sedangkan fluida dingin didapatkan dari tangki reservoir dimana fluida dingin berkisar pada temperatur 32oC melalui katup K7. Sedangkan Rotameter 2 dipasang setelah Pompa 2 digunakan pada fluida dingin. Tabel 1 No 1 2 3 4 5 Dimensi Double Pipe Heat Exchanger Deskripsi Diameter inner tabung dalam Diameter outer tabung dalam Diameter inner tabung luar Diameter outer tabung luar Panjang Alat Penukar Kalor Dimensi (m) 0. Untuk menghasilkan panas pada fluida di bak panas digunakan heater yang temperaturnya diatur dengan menggunakan thermostat. Aliran yang dibangun menghasilkan koefisien perpindahan panas yang non uniform disepanjang tabung[4.5]. Hal ini dilakukan agar temperatur fluida dingin tetap terjaga. Pengaturan debit aliran yang mengalir pada sistem digunakan pipa bypass dengan katup K1 untuk fluida panas dan katup K2 untuk fluida dingin. yang dapat mengalirkan kembali fluida ke bak penampungan. Dan bak panas untuk menampung fluida panas.02 Peralatan pengujian yang dilakukan pada penelitian ini dapat dilihat pada gambar 1. Untuk mendapatkan nilai tekanan yang mengalir di dalam sistem digunakan 4 unit Pressure Gauge yang masing – masing diletakkan pada masukan dan keluaran Double Pipe Heat Exchanger. Keluaran fluida dingin langsung dibuang keluar dari sistem. dan nilai temperatur pada keluaran fluida panas digunakan thermocouple Tho. Hasilnya koefisien perpindahan panas overall 711 W/m2K dan LMTD sebesar 48oC[6]. Perhitungan untuk efektifnes berdasarkan koefisien perpindahan panas overall rata – rata dan terdapat deviasi dari prediksi secara teoritis[4. Sedangkan fluida dingin diatur agar tidak bersirkulasi di dalam sistem untuk menjaga temperatur fluida.5]. Fluida panas dijaga pada temperatur 60oC. Pada peralatan pengujian ini menggunakan dua bak penampung. Bak dingin untuk menampung fluida dingin. Penelitian dengan menggunakan metoda LMTD (Logarithmic Mean Temperature Difference) juga telah dilakukan. Untuk melihat debit aliran yang mengalir pada fluida panas dan dingin dipasang Rotameter.0127 0.0127 m sedangkan diameter tabung luar yang digunakan adalah 0.162 Mustaza Ma’a menyerupai teoritis[4].0107 0. Rotameter 1 dipasang setelah Pompa 1 digunakan pada fluida panas. Alat tersebut terbuat dari dua pipa stainless steel dengan panjang 1. Sedangkan nilai temperatur untuk fluida dingin baik masukan .0234 0. 2 Tujuan Penelitian Dilakukan penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan perbandingan karakteristik perpindahan panas yang terjadi pada Double Pipe Heat Exchanger dengan menggunakan aliran parallel dan counterflow.02 m.0254 1. Dimensi dari alat Double Pipe Heat Exchanger secara keseluruhan dapat dilihat dari Tabel 1.0254 m. Untuk mengetahui nilai temperatur pada masukan fluida panas digunakan thermocouple Thi. 3 Metoda Penelitian Sebuah alat Double Pipe Heat Exchanger diletakkan pada peralatan pengujian. Pada akhir penelitian ini didapatkan nilai efektifnes – NTU aliran parallel dan counterflow serta tren koefisien perpindahan panas konveksi h sepanjang tabung pipa. Fluida panas diatur untuk dapat bersirkulasi di dalam sistem.

Gambar 1 3. Pada kondisi ini aliran fluida panas mengalir sama seperti aliran parallel. Dan keluar dari alat kembali bersirkulasi masuk ke dalam bak panas. masuk ke alat Double Pipe Heat Exchanger melalui katup K3 dan dibuang keluar sistem melalui katup K6. dipasang 5 unit thermocouple pada bagian luar anulus. Untuk mengukur temperatur yang terjadi disepanjang permukaan tabung Double Pipe Heat Exchanger. Persamaan dan simbol Laju perpindahan panas dan koefisien perpindahan panas konveksi yang terjadi pada aliran yang mengalir di alat Double Pipe Heat Exchanger. maka katup K4 dan K5 dibuka. tergantung aliran yang mengalir pada sistem tersebut dalam kondisi parallel atau counterflow. . yang didapat dari thermocouple yang disusun dengan jarak tertentu. Sedangkan aliran fluida dingin dipompa mengalir dari bak dingin melalui Rotameter 2. Nilai Ts dalam persamaan ini adalah temperatur pada permukaan lokal. Keluar dari sistem melalui katup K4 ke pembuangan. Sedangkan katup K4 dan K5 ditutup. Pada kondisi tersebut aliran fluida panas dipompa mengalir dari bak panas masuk ke alat Double Pipe Heat Exchanger melalui Rotameter 1. pada dinding luar anulus. 163 maupun keluaran menggunakan thermocouple Tc1 dan TC2. maka temperatur rata – rata pada aliran yang mengalir dalam Double Pipe Heat Exchanger harus didapatkan.1 Eksperimen Aparatus.Karakteristik Perpindahan Panas pada Double Pipe Heat Exchanger.. maka katup K3 dan K6 dibuka. Agar aliran yang mengalir didalam sistem tersebut menjadi aliran parallel. Untuk mendapatkan aliran counterflow yang mengalir didalam sistem.. dapat dinyatakan sebagai berikut : (1) (2) Untuk mendapatkan nilai Tm. sedangkan katup K3 dan K6 ditutup. Namun aliran fluida dingin mengalir setelah dipompa melalui Rotameter 2 masuk ke alat Double Pipe Heat Exchanger melalui katup K5.

4]. Metoda Logarithmic Mean Temperature Difference (TLMTD) Metoda Logarithmic Mean Temperature Difference adalah metoda yang sering digunakan dalam perancangan dan perhitungan unjuk kerja dari alat Double Pipe Heat Exchanger. dan perbedaan temperatur rata – rata keluar.s) 3. seperti berikut : 1. diperlukan beberapa asumsi yang dibuat. Berikut adalah simbol – simbol yang digunakan dalam persamaan dan maksud dari simbol tersebut adalah sebagai berikut : Nomenclatur A : luas permukaan tabung (m2) D : diameter tabung (m) h : koefisien perpindahan panas (W/m2 K) k : konduktifitas termal (W/mK) L : panjang penukar kalor (m) TLMTD : Beda temperatur rata-rata log (K atau C) q : laju perpindahan panas (W) U : koefisien perpindahan panas overall (W/m2K) T1 : beda temperatur masuk (K) T2 : beda temperatur keluar (K)  : density (kg/m3 )  : viskositas dinamis (kg/m. 2. dapat dinyatakan dengan persamaan berikut : (6) Dalam menggunakan persamaan 5 dan 6 ini. . Kondisi tunak. Persamaannya dapat dinyatakan dengan persamaan berikut : (5) Sehingga nilai laju perpindahan panas yang terjadi pada aliran dari alat Double Pipe Heat Exchanger ini. Nilai TLMTD didapatkan dari perbedaan temperatur rata – rata masuk. dengan menggunakan perbedaan temperatur rata – rata secara logaritmik yang terjadi [2.1.164 Mustaza Ma’a Bilangan Nusselt dan bilangan Reynolds yang terjadi pada alat Double Pipe Heat Exchanger ini dapat dinyatakan sebagai berikut : (3) (4) Sehingga dari persamaan diatas maka didapatkan nilai bilangan Nusselt dan bilangan Reynolds yang terjadi pada aliran di dalam alat Double Pipe Heat Exchanger ini. yang dibandingkan dengan nilai logaritmik perbandingan dua nilai tersebut. T2. Konduksi yang terjadi hanya berlangsung satu dimensi ke arah radial pipa. T1.

Persamaan ini dapat dinyatakan sebagai berikut : (11) Unjuk kerja Double Pipe Heat Exchanger ini didefenisikan terlebih dahulu dengan mengetahui perpindahan panas maksimum (qmax) yang mungkin terjadi [7]. berlaku sebagai berikut : (9) Dan (10) 3.Karakteristik Perpindahan Panas pada Double Pipe Heat Exchanger. Perbedaan energi potensial dan kinetik diabaikan. Nilai effectiveness () merupakan bilangan tanpa dimensi yang nilainya berada pada batas 0 ≤  ≤ 1. 5. Hal ini dapat dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut: Jika Cc < Ch .. Nilai effectiveness () didapat dari rasio antara jumlah perpindahan panas secara aktual dengan perpindahan panas maksimum yang terjadi [7]. maka (12) (13) Secara keseluruhan. untuk semua Heat Exchanger. Perpindahan panas yang terjadi hanya diantara kedua pipa saja. berlaku kondisi berikut : (7) Dan (8) Sedangkan untuk kondisi counterflow. Harga U konstan untuk seluruh panjang pipa. 165 3..NTU) Metoda Effectiveness – NTU digunakan untuk mengetahui unjuk kerja dari alat Double Pipe Heat Exchanger. diperoleh untuk nilai yang terkecil dari : .2 Metoda Effectiveness – NTU ( . maka Jika Cc > Ch . nilai effectiveness () dapat dinyatakan sebagai berikut: (14) Nilai Number of Transfer Unit (NTU) sama seperti effectiveness () yakni merupakan bilangan tanpa dimensi yang dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut : (15) Nilai Cmin dalam persamaan 15 ini. Untuk aliran parallel yang terjadi di dalam Double Pipe Heat Exchanger ini. 4.

yang ditunjukkan melalui bilangan Nusselt pada gambar 2 dan 3.166 Mustaza Ma’a (16) Atau (17) 3. Pada gambar 2 dapat dilihat bahwa tren yang dihasilkan dari aliran parallel pada penelitian ini menyerupai tren yang telah dihasilkan pada penelitian yang dilakukan oleh Warakorm[1]. Dimana dari grafik ini dijelaskan bahwa adanya kenaikan pada bilangan Reynolds mempengaruhi kenaikan bilangan Nusselt. . Gambar 2 Pengaruh Re terhadap laju perpindahan panas pada aliran parallel Dengan kenaikan bilangan Nusselt maka mempengaruhi koefisien perpindahan panas konveksi h. Maka dapat disimpulkan dari diskusi ini bahwa pada grafik memperlihatkan pengaruh kenaikan bilangan Reynolds akan mempengaruhi kenaikan laju perpindahan panas yang terjadi. Melalui persamaan (2) dan (3) maka hal ini dapat dibuktikan. Kenaikan harga pada koefisien perpindahan panas konveksi h.3 Hasil dan Pembahasan Hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa karakteristik perpindahan panas pada Double Pipe Heat Exchanger. dapat dilihat dari laju perpindahan panas dan koefisien perpindahan panas konveksi yang terjadi. mempengaruhi kenaikan laju perpindahan panas q[2].

q. juga lebih besar. Gambar 3 167 Pengaruh Re terhadap laju perpindahan panas pada aliran counterflow Seperti yang terjadi pada aliran parallel. akan mempengaruhi dari nilai laju perpindahan panas q yang terjadi. Hasil ini juga diperlihatkan pada penelitian lain. Dari gambar 3 memperlihatkan tentang pengaruh dari kenaikan bilangan Reynolds terhadap laju perpindahan panas. dengan debit aliran yang lebih tinggi mempengaruhi perubahan kenaikan bilangan Reynolds. Seperti pada penelitian Warakorm[1]. yang terjadi. Namun seiring dengan kenaikan bilangan Reynolds yang besar. h. maka pengaruh terhadap kenaikan bilangan Nusselt. Melalui persamaan (3). maka kenaikan laju perpindahan panas pada aliran counterflow juga dipengaruhi oleh perubahan kenaikan bilangan Reynolds. Sedangkan melalui persamaan (2) dapat dinyatakan bahwa perubahan nilai yang terjadi pada koefisien perpindahan panas konveksi h. dan koefisien perpindahan panas konveksi. maka makin cepat mempengaruhi kenaikan laju perpindahan panas. maka akan dapat dinyatakan bahwa adanya kenaikan nilai pada bilangan Nusselt akan mempengaruhi kenaikan pada koefisien perpindahan panas konveksi h.. maka dapat dilihat pada gambar 3 tentang karakteristik perpindahan panas yang terjadi pada Double Pipe Heat Exchanger ini. Tren yang dihasilkan pada penelitian ini juga sama. Perbedaan kecil yang terjadi pada aliran counterflow dibandingkan aliran parallel adalah.. seperti pada aliran parallel. maka akan mempengaruhi kenaikan bilangan Nusselt yang rendah pula. Gambar 4 Pengaruh cr terhadap  – NTU aliran parallel dan counterflow .Karakteristik Perpindahan Panas pada Double Pipe Heat Exchanger. Atau bisa dapat disimpulkan bahwa. pada aliran counterflow. sehingga untuk penelitian ini. makin tinggi debit aliran yang mengalir pada aliran counterflow. Dari tren yang dihasilkan dapat dijelaskan bahwa adanya kenaikan bilangan Reynolds yang kecil.

menghasilkan kenaikan effectiveness () sebesar 0. namun nilai effectiveness () tidak mengalami kenaikan yang besar. maka akan didapatkan nilai effectiveness () dan NTU.S. 2006. Sedikit perubahan pada nilai NTU.K menghasilkan nilai effectiveness () sebesar 31. Folaranmi. 26. telah mempengaruhi karakteristik perpindahan panas dan unjuk kerja pada alat Double Pipe Heat Exchanger ini. Experimental Thermal and Fluid Science.5 dan NTU yang tidak mengalami perubahan yang besar. Sedangkan pada aliran counterflow. pada rasio kapasitas cr 0.5 kJ/s. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Rennie[4. Applied Thermal Engineering.5 memiliki tren kurva yang lebih tinggi pada nilai effectiveness () – NTU. untuk aliran counterflow jika dibandingkan dengan aliran parallel.42. 4 Kesimpulan Dari data eksperimen yang disajikan pada penelitian ini. maka bilangan Reynolds.43.42.57% untuk nilai cr yang sama yakni 0. IJE Transaction B : Applications. Dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa pengaruh kenaikan bilangan Reynolds akan mempengaruhi perubahan kenaikan laju perpindahan panas baik untuk aliran parallel maupun counterflow. bilangan Nusselt. Vol 15 No 4. mempengaruhi perubahan nilai pada effectiveness () yang dimiliki oleh heat exchanger. Dengan menggunakan persamaan (11) dan (15). untuk aliran parallel. 5 Daftar Pustaka [1] Warakorm et al. Proceding Applied Engineering Seminar 2012. Mehrabian. Pada cr 0. 395 – 406. memiliki pengaruh besar terhadap nilai effectiveness (). Joshua. Demikian juga tren yang dihasilkan oleh penelitian yang lain. 13(2): 128 – 133 (Oct 2009). M. Mustaza Ma’a.43. nilai cr 0. Vijaya G.42% dan NTU sebesar 0. makin tinggi debit aliran yang mengalir. [2] [3] [4] [5] [6] . pada nilai cr 0. Sedangkan untuk aliran counterflow.S.5 menghasilkan effectiveness () sebesar 31.99% dan NTU sebesar 0.99% dan NTU sebesar 0.42% dan NTU sebesar 0. Timothy J. Experimental studies of a double pipe helical heat exchanger.5]. penelitian yang dilakukan ini juga menghasilkan unjuk kerja dari Double Pipe Heat Exchanger ini.T. The overall heat transfer characteristics of a double pipe heat exchanger : comparison of experimental data with predictions of standard correlations. and Sheikhzadeh G A. “Karakteristik Perpindahan Panas dan Pressure Drop pada Alat Penukar Kalor tipe Pipa Ganda dengan aliran searah”. Pada aliran counterflow.A. mengalami kenaikan effectiveness () sebesar 0. Pada gambar 4 dapat dijelaskan bahwa terdapat tren yang sama yang dihasilkan. Dari hasil ini dapat dinyatakan bahwa pada penelitian ini.H. Raghava .57% menjadi 31. “Heat Transfer and Pressure Drop Characteristics in a Double-pipe Heat Exchanger Fitted with a Tubulator”.5 kJ/s. rasio kapasitas cr dan NTU. AU J. baik pada aliran parallel maupun counterflow. Timothy J Rennie. Design and Construction of a Concentric Tube Heat Exchanger.K. pada nilai cr yang sama. Namun untuk perbedaan hasil pengaruh nilai cr terhadap effectiveness () – NTU. maupun pada aliran counterflow. Vijaya G. Sehingga dapat dilihat bahwa tren grafik yang terjadi berbentuk hiperbolik. Ary Bachtiar Krishna Putra. Pada aliran parallel. hal 18-22. menghasilkan nilai effectiveness () sebesar 31. makin cepat mempengaruhi laju perpindahan panas yang terjadi pada Double Pipe Heat Exchanger ini. dibandingkan dengan nilai cr 1. Seiring dengan pertambahan nilai NTU. Dari grafik dapat dijelaskan bahwa perubahan pada nilai cr dan NTU. hal 1266-1273. December 2002.168 Mustaza Ma’a Selain karakteristik yang ditunjukkan pada gambar 2 dan 3. Mansouri S.0 baik pada aliran parallel. Rennie. 29 (2005) 919-924. Hal ini bisa dilihat dari gambar 4. Raghavan. “Numerical studies of a double-pipe helical heat exchanger”.