You are on page 1of 9

HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA DENGAN KEMAMPUAN

PERAWATAN DIRI PADA ANAK RETARDASI MENTAL DI SLB NEGERI
UNGARAN

Zemmy Arfandi *), Eko Susilo **), Gipta Galih Widodo ***).

*) Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan STIKES Ngudi Waluyo Ungaran
**) Dosen Pembimbing I Program Studi Ilmu Keperawatan STIKES Ngudi Waluyo Ungaran
***) Dosen Pembimbing II Program Studi Ilmu Keperawatan STIKES Ngudi Waluyo Ungaran

ABSTRAK
Retardasi mental merupakan suatu keadaan dengan intelegensi yang kurang. Anak
retardasi mental selain memiliki keterbatasan intelegensi juga memiliki keterbatasan dalam
kemampuan merawat diri sendiri sehingga membutuhkan dukungan dari keluarga untuk
mencapai kesesuaian yang akurat. Bentuk dukungan sosial keluarga dapat berupa dukungan
emosional, penghargaan, instrumental dan informatif. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui
hubungan antara dukungan sosial keluarga dengan kemampuan perawatan diri pada anak
retardasi mental di SLB Negeri Ungaran.
Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelatif dengan pendekatan cross secsional.
Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan februari 2014, dengan menggunakan angket yang
berisi pernyataan tentang dukungan sosial keluarga dan kemampuan perawatan diri anak
retardasi mental. Jumlah populasi dalam penelitian ini 109 orang tua yang mempunyai anak
retardasi mental di SLB negeri Ungaran dan tehnik samplingnya menggunakan sampling
purposive dengan jumlah sampel 51 responden. Kemudian data dianalisa secara stastitik dengan
menggunakan uji kendall tau.
Hasil penelitian menunjukkan dukungan sosial keluarga dalam kriteria cukup 30 (58,8%),
kemampuan perawatan diri pada anak retardasi mental dalam kriteria baik 18 (35,3%). Hasil
analisa data dengan menggunakan uji kendall tau didapatkan ρ-value 0,004 < α= 0,05 yang
berarti ada hubungan yang signifikan antara dukungan sosial keluarga dengan kemampuan
perawatan diri pada anak retardasi mental di SLB Negeri Ungaran.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka disarankan kepada keluarga untuk lebih
meningkatkan dukungan dan memberikan bimbingan kepada anak retardasi mental untuk
mencapai kemampuan perawatan diri yang baik.
Kata kunci
Pustaka

: Dukungan sosial keluarga, kemampuan perawatan diri, anak retardasi mental
: 26 (2002 - 2013)

004 <α = 0. children with mental retardation also have limitation in the ability in maintaining personal hygiene thus require the support of the family to achieve an accurate conformity.HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA DENGAN KEMAMPUAN PERAWATAN DIRI PADA ANAK RETARDASI MENTAL DI SLB NEGERI UNGARAN ABSTRACT Mental retardation is a condition in which children have lack of intelligence. 8%). The forms of social support by family can be the emotional support. the data were analyzed by using the Kendall tau test. the ability in maintaining personal hygiene in children with mental retardation in the criteria of good by 18 respondents (35. Keywords : Social support by family. This was a descriptive-correlative study with cross-sectional approach. instrumental and informative. Children with mental retardation Bibliographies : 26 (2002-2013) . which meant that there was a significant correlation between social support by family and the ability in maintaining personal hygiene in children with mental retardation at the Ungaran State School for children with special heeds. The data were collected in February 2014. The results of this study indicated that the social support by family in the criteria of sufficient by 30 respondents (58. Then. The population in this study was 109 parents who had children with mental retardation at the School and data sampling used purposive sampling technique with the samples of 51 respondents. ability in maintaining personal hygiene. besides having limited intelligence. The purpose of this study was to find the correlation between social support by family and the ability in maintaining personal hygiene in children with mental retardation at the Ungaran State School for children with special heeds. The results of the analysis by using the Kendall tau test obtained that ρ-value of 0. Based on these results it is recommended for the family to further enhance their support and provide guidance to children with mental retardation to achieve good ability in maintaining personal hygiene. by using questionnaires that consistes of statements about social support by family and the ability in maintaining personal hygiene in children with mental retardation.3%).05. appreciati.

budaya. yang diharapkan penyandang retardasi mental sedang memiliki kemampuan dalam merawat diri sendiri. William Schwartz 2004). baik dari pihak keluarga ataupun masyarakat. dan gangguan mental yang lain (APA. gangguan penyesuaian. Gangguan mental menurut DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental disorders 4th) antara lain: retardasi mental. penghargaan. makan dan berhias. memberikan motivasi ataupun dukungan. Menurut (American Association on Mental Retardation. pengahargaan. gangguan dissosiasif. Retardasi mental mengenai 1. Di Indonesia retardasi mental merupakan masalah yang cukup besar karena 1-3% dari jumlah penduduk Indonesia menderita retardasi mental. gangguan seksual dan identitas gender. santai. toileting. Kelainan ini ditandai dengan fungsi intelektual yang sangat di bawah rata – rata dan secara bersamaan disertai dengan (ditambah penekanan pada) keterbatasan yang berhubungan dengan dua atau lebih area penerapan kemampuan adaptasi seperti : komunikasi. Keluarga memiliki beberapa fungsi dukungan antara lain dukungan informasional. gangguan mental disebabkan oleh medis umum. gangguan yang berhubungan dengan penggunaan zat. Retardasi mental mengarah pada keterbatasan beberapa fungsi utama. 1992). Insiden tertinggi pada masa anak sekolah dengan puncak umur 10 sampai 14 tahun. gangguan skizofrenia.5 kali lebih banyak pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan (Muchayaroh. atau disability artinya ketidakmampuan (misalnya tidak berdaya pada satu atau beberapa bagian penting dari fungsi tertentu). gangguan kecemasan. saran. 2002). 2007).C. gangguan mood (perasaan). merawat diri sendiri. D. Washington.. pengetahuan. tindakan dan penerimaan keluarga terhadap penderita yang sakit. Prevalensi retardasi mental sekitar 1 % dalam satu populasi. dan bekerja (M. Hasilnya di dapatkan bahwa 4 dari 10 orang tua mengatakan anaknya sudah mampu melakukan aktivitas perawatan diri seperti mandi. Menurut Friedman (1998) dalam Setiadi (2008) mengatakan dukungan sosial keluarga adalah sikap. yang berarti dari 1000 penduduk diperkirakan 30 penduduk menderita retardasi mental dengan kriteria retardasi mental ringan 80 %. demensia. Peneliti juga menanyakan pada ke empat orang tua tersebut apakah mereka memberikan dukungan seperti informasi. Penyandang retardasi mental sedang yang belum mampu melakukan kegiatan sehari-hari atau kemandirian dalam merawat diri sendiri bukan semata-mata karena ketunaanya melainkan karena lingkungan yang kurang mendukung. maka diperlukan suatu bimbingan. . Peran serta keluarga untuk meningkatkan kemampuan perawatan diri pada anak retardasi mental dapat dengan memfasilitasi. apabila kemampuan tersebut betul-betul dikuasai maka akan memberikan keyakinan pada penyandang retardasi mental sedang tersebut. dalam Moeljono. retardasi mental sangat berat 1 %. Perawatan diri sangat dipengaruhi oleh pengalaman keluarga dalam megatasi masalah. 1994. retardasi mental sedang 12 %. emosional dan instrumental. atau kehilangan kebebasan. gangguan kepribadian.PENDAHULUAN Gangguan mental di anggap sebagai sindroma. pola perilaku atau psikologis yang menyimpang pada individu. amnestik. fungsi akademis. delirium. tumbuh kembang dan pola asuh (Meleis. 2007). kesehatan dan keamanan. pendidikan keluarga. Berdasarkan hasil wawancara dengan 10 orang tua siswa yang mengalami retardasi sedang di SLB Negeri Ungaran mengenai kemampuan keperawatan diri pada anaknya. Insidennya sulit diketahui karena retardasi metal kadang-kadang tidak dikenali sampai anak-anak usia pertengahan dimana retardasinya masih dalam taraf ringan. Perawatan diri adalah perilaku yang dilakukan atau dikerjakan individu atau walinya secara pribadi untuk mempertahankan hidup kesehatan dan kesejahteraan. dan sindroma itu dihubungkan dengan adanya: distress (misalnya simptom yang menyakitkan).

penghargaan. menjemput dan menunggui anaknya bersama dengan 2 asisten tetap berada di tempat penelitian. Sedangkan metode yang digunakan adalah metode pendekatan waktu Cross Sectional. peneliti mengumpulkan kembali semua kuesioner yang telah disebarkan dan mengecek kembali semua data untuk diolah. informasi. memfasilitasi. Dua diantaranya mengatakan telah berusaha untuk melatih dengan teratur. jawaban 4 dari 6 orang tua tersebut mengatakan memberikan dukungan. kadang – kadang = 2. Sedangkan analisa bivariat menggunakan uji uji korelasi kendall tau digunakan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial keluarga . makan dan toileting. Waktu dan tempat penelitian Penelitian dilakukan pada tanggal 17 . berhias. kadang – kadang = 3. toileting dan berhias.19 Februari dan bertempat di SLB Negeri Ungaran 4. Pertanyaan unfavorable. (selalu = 4. makan. Populasi dan sampel Populasi dalam penelitian ini adalah bapak atau ibu yang mempunyai anak retardasi mental sedang di SLB Negeri Ungaran sebanyak 109 responden. dan memberikan perhatian dengan anaknya agar dapat melakukan aktivitas perawatan diri secara mandiri. namun karena anaknya tidak mampu. Analisa Analisa univariat dalam penelitian melalui prosentase dan distribusi frekuensi. Enam orang tua diantara sepuluh orang tua yang di wawancarai mengatakan bahwa anaknya belum mampu melakukan aktivitas perawatan diri seperti mandi. 3. Tehnik pengumpulan data Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti dengan cara menemui orang tua secara langsung di SLB Negeri Ungaran saat mengantar. untuk mendampingi responden pada saat penelitian supaya dapat menjelaskan kepada responden yang mengalami kesulitan dalam memberikan jawaban atas pertanyaan kuesioner. menyuapi makan dan membantu saat aktivitas BAB dan BAK. Pada 1 dari keempat orang tua tersebut mengatakan hanya memberikan dukungan secara informasi saja karena ia bekerja sebagai buruh pabrik sehingga jarang berada di rumah. Berdasarkan uraian tersebut maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul: ”Hubungan Antara Dukungan sosial Keluarga Dengan Kemampuan Perawatan Diri Pada Anak Retardasi Mental di SLB Negeri Ungaran”. ( selalu = 1. memandikan. pertanyaan favorable.perhatian dan memfasilitasi anak dalam melakukan perawatan diri. Keempat orang tua tersebut mengatakan yang berbeda – beda. Sering = 3. 2. METODE PENELITIAN 1. perhatian dan memfasilitasi anak dalam melakukan perawatan diri. memberikan informasi dan mengajari bagaimana melakukan perawatan diri. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah sampling purposive dengan jumlah sampel 51 responden. tidak pernah = 4) dan kuesioner tentang kemampuan perawatan diri yang terdiri dari 18 item pernyataan) dengan jawaban Ya = 1. jawaban Tidak = 0 yang terbagi menjadi beberapa tingkat mandi.namun mereka sering lupa memberikan penghargaan seperti pujian saat anak dapat melakukan secara mandiri. Peneliti juga menanyakan pada ke enam orang tua tersebut apakah mereka memberikan dukungan seperti informasi. memperhatikan. Instrument penelitian Instrument dalam penelitian ini adalah koesioner. Setelah semua kuesioner diisi. 5. maka kedua orang tua tersebut selalu membantu keperluan perawatan diri anaknya seperti memakaikan baju. Koesioner langsung diberikan kepada orang tua yang didalamnya terdiri dari 18 item pertanyaan tentang dukungan sosial keluarga berbentuk skala likert. Tiga diantara mereka mengatakan memfasilitasi. 6. Desain penelitian Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif korelasi dengan variable independen dukungan keluarga dan variable dependen kemampuan perawatan diri anak retardasi mental. saran. tidak pernah = 1. sering = 2.

dengan kemampuan retardasi mental. menghargai dan mencintainya {Cohen & Syme.3%) dalam kategori baik dan sedangkan 3 (5. Oleh karena p-value 0. Dukungan sosial keluarga yang diterima anak retardasi mental di SLB Negeri Ungaran. Dukungan sosial keluarga Kemampuan perawatan diri Kurang Cukup Baik τ.8%).004 < α (0. p-value Kurang 1 1 1 τ 0. yaitu sejumlah 30 anak (58. dan dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara dukungan sosial keluarga dengan kemampuan perawatan diri pada anak retardasi mental di SLB Negeri Ungaran. Analisa bivariat Setelah dilakukan penelitian dengan mengunakan uji korelasi kendall tau pada dukungan sosial keluarga dengan kemampuan perawatan diri pada anak retardasi mental di SLB Negeri Ungaran didapatkan hasil bahwa sebagian besar keluarga memberikan dukungan sosial keluarga dalam kategori sedang dan kemampuan perawatan diri anak retardasi mental dalam kategori sedang.9%) dukungan keluarga dalam kategori kurang. 35. Adanya fakta dari hasil penelitian ini yang didapatkan bahwa terdapat 30 (58. Hal ini mungkin dipengaruhi . Dukungan sosial keluarga yang diterima anak retardasi mental di SLB Negeri Ungaran Setelah dilakukan penelitian tentang dukungan sosial keluarga yang diterima oleh anak retardasi mental di SLB Negeri Ungaran.9% (3resp) Kurang Cukup 58. dalam Setiadi (2008)}.004.3% (18 anak) 7.0409 Cukup 2 23 5 p-value 0.9%). Diantara 51 reponden sebagian besar dukungan sosial yang diterima anak retardasi mental di SLB Negeri Ungaran dalam kategori cukup yaitu sejumlah 30 anak (58.3% (18resp) 5.9% (29 anak) Baik Gambar 2. Analisa univariat a. Kemampuan perawatan diri anak retardasi mental di SLB Negeri Ungaran 2.8% (4 anak) Kurang Cukup 56. 18 (35. 35. yaitu sejumlah 29 anak (56. b. perawatan diri anak HASIL PENELITIAN 1. Didapatkan data bahwa seluruh reponden memberi dukungan sosial keluarga dengan kategori yang bervariasi.9% (30resp) Baik Gambar 1.409 dengan p-value sebesar 0. 18 (35.3%) dukungan sosial keluarga dalam kategori baik dan sedangkan 3 (5. sehingga seseorang akan tahu bahwa ada orang lain yang memperhatikan. Pengukuran skor kemampuan perawatan diri anak retardasi mental Berdasarkan gambar 2 dapat diketahui bahwa sebagian besar kemampuan perawatan diri pada anak retardasi mental di SLB Ungaran dalam kategori cukup.004 Baik 1 5 12 Sumber: Data primer yang diolah Berdasarkan uji Kendall Tau diperoleh nilai korelasi  = 0. PEMBAHASAN 1.8%) dari 51 responden mempunyai dukungan sosial keluarga dalam kategori cukup. Dukungan sosial keluarga adalah suatu keadaan yang bermanfaat bagi individu yang diperoleh dari orang lain yang dapat dipercaya.9%) dalam kategori kurang. dapat diketahui bahwa sebagian besar dukungan sosial keluarga yang diterima anak retardasi mental di SLB Ungaran dalam kategori cukup.05) maka Ho ditolak. Pengukuran skor dukungan sosial keluarga terhadap anak retardasi mental Berdasarkan gambar 1.8%).

2.1%) sebagai ibu rumah tangga sehingga orang tua mempunyai cukup waktu dalam mengasuh dan mendidik anak dengan retardasi mental. Menurut Supartini (2004) usia orang tua mempengaruhi peran dalam mengasuh anak. . Berdasarkan hasil penelitian oleh Widyartanty (2009) dengan judul “hubungan pemberian motivasi keluarga terhadap kemampuan merawat diri pada anak tunagrahita di SDLB Putra Jaya Malang” didapatkan hasil bahwa mayoritas anak tunagrahita pada usia sekolah mampu untuk melakukan perawatan diri. usia yang terlalu muda dan terlalu tua tidak dapat menjalankan peran secara optimal karena diperlukan kekuatan fisik dan psikososial. 2006). Sebaliknya semakin baik tingkat pengetahuan keluarga maka semakin baik dampaknya bagi perkembangan anak retardasi mental (Wahidin R. Dukungan sosial keluarga pada anak retardasi mental sangatlah mempengaruhi sikap dan perilaku dari anak tersebut. Oleh karena itu semakin rendah tingkat pengetahuan keluarga maka semakin buruk dampaknya bagi anak retardasi mental. Dilihat dari segi pekerjaan. keterlibatan ayah. Pada anak retardasi mental ringan mereka memiliki IQ 52-69 yang artinya mereka masih mampu untuk didik artinya selain dapat diajar baca tulis bahkan sampai kelas 4-6 SD. pendidikan orang tua.3%) kemampuan perawatan diri dalam kategori baik dan sedangkan 4 (7. Menurut Harlock (1997) yang menyatakan bahwa orang tua yang mempunyai banyak pekerjaan yang menyita waktu. Tingkat pendidikan yang rendah berdampak pada kurangnya pengetahuan tentang kebutuhan – kebutuhan anak dan cara didik anak retardasi mental sehingga rasa kasih sayang dan perhatian keluarga terhadap anak retardasi mental juga berkurang.9%).8%) kemampuan perawatan diri dalam kategori kurang. Dengan adanya dukungan oleh keluarga dan dijadikan sebagai keseharian sehingga anak tersebut dapat melakukan sesuatu untuk mewujudkan suatu tujuan yang setelah diberi dukungan oleh keluarga. terlebih pada anak retardasi mental yang memang membutuhkan perhatian khusus dari sekitarnya dan juga sebagai salah satu faktor yang paling penting bagi pertumbuhan dan juga perkembangan anak retardasi mental. Umur responden dalam penelitian ini berkisar antara 23 – 58 tahun.1%) bekerja swasta. Kategori retardasi mental sedang memiliki IQ 36-51 yang artinya mereka masih mampu dilatih untuk memiliki kemampuan perawatan diri. juga bisa dilatih ketrampilan tertentu sebagai bekal hidupnya kelak dan mampu mandiri seperti orang dewasa yang normal. orang tua 22 (43. sedangkan pada anak retardasi mental berat dan sangat berat mengalami kesulitan dalam merawat diri karena adanya gangguan motorik yang mencolok ataupun defisit lain yang menyertainya serta memiliki intelegensi yang terbatas sehingga sulit bagi anak untuk diajarkan cara merawat dirinya. dan 22(43. yaitu 29 (56. pengalaman sebelumnya dalam mengasuh anak dan stress orang tua. Menurut Supartini (2004) ada beberapa faktor yang mempengaruhi dukungan sosial orang tua yaitu usia orang tua. tentu menyita waktu orang tua bersama anak sehingga orang tua harus pandai – pandai membagi waktu bersama anak untuk bermain dan memberikan stimulasi perkembangan. Dalam hasil penelitian ini didapatkan sebagian besar pendidikan responden yaitu SMA 31 (60. Kemampuan perawatan diri pada anak retardasi mental di SLB Negeri Ungaran Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil bahwa sebagian besar kemampuan perawatan diri pada anak retardasi mental di SLB Negeri Ungaran dalam kategori cukup.oleh faktor-faktor yang mempengaruhi dukungan sosial keluarga diantaranya adalah pendidikan.7%). 18 (35. ini tergolong matang untuk mendidik anak dengan retardasi mental.

Perawatan diri merupakan salah satu kemampuan dasar manusia dalam memenuhi kebutuhannya guna mempertahankan kehidupannya. Sedangkan berdasarkan nilai korelasi (τ) = 0.7%). sehingga mereka perlu diajarkan dan memerlukan waktu yang lama. Hasil ini sama dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Eko Kurniawan (2011) dengan judul “ Hubungan Antara Dukungan Sosial Keluarga Dengan Kemampuan Sosialisasi Anak Retardasi Mental “yang didapatkan hasil bahwa ada hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan kemampuan sosialisasi anak retardasi mental kelas 1 di SDLB Negeri Sukoharjo Pati. sedangkan anak yang menerima dukungan sosial keluarga cukup yang memiliki kemampuan perawatan diri baik sejumlah 5 anak (16. Kemampuan merawat diri akan mengantarkan anak retardasi mental dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan mencapai kemandirian. yang artinya jika dukungan keluarga semakin baik maka kemampuan sosialisasi anak retardasi mental juga akan semakin baik dan juga penelitian yang dilakukan oleh Widyartanty (2009) dengan judul “hubungan pemberian motivasi keluarga terhadap kemampuan merawat diri pada anak tunagrahita di SDLB Putra Jaya Malang” yang didapatkan hasil bahwa semakin tinggi motivasi keluarga yang diberikan orang tua terhadap anak tunagrahita maka akan semakin baik anak tunagrahita dalam melakukan perawatan diri. Anak retardasi mental khususnya retardasi mental sedang membutuhkan pelatihan dan bimbingan agar dapat melakukan kegiatan secara mandiri. Hubungan antara dukungan sosial keluarga dengan kemampuan perawatan diri pada anak retrardasi mental di SLB Negeri Ungaran Berdasarkan hasil analisa data dapat diketahui bahwa anak yang menerima dukungan sosial keluarga kurang yang memiliki kemampuan perawatan diri baik sejumlah 1 anak (33. kesehatan dan kesejahteraan sesuai dengan kondisi kesehatannya. akan tetapi ada dukungan sosial keluarga kurang dengan kemampuan perawatan diri baik dan cukup masing-masing 1 . dengan nilai korelasi τ = 0.ulang.409 dapat diketahui hubungan kedua variable dalam kategori sedang. 3. Sesuai dengan hasil analisa diatas bahwa dukungan sosial keluarga baik maka kemampuan perawatan diri anak retardasi mental juga akan baik.409.3%). Hal tersebut dapat dikatakan bahwa antara dukungan sosial keluarga terhadap kemampuan perawatan diri pada anak retardasi mental di SLB Negeri Ungaran mempunyai hubungan yang positif yang berarti semakin baik dukungan sosial keluarga terhadap anak retardasi mental maka akan semakin baik anak retardasi mental dalam melakukan perawatan diri. keluarga merupakan sekumpulan orang yang memiliki hubungan darah dan akan saling mendukung satu sama lain. didapatkan hasil p-value 0. Berdasarkan hasil uji statistik untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial keluarga dengan kemampuan perawatan diri pada anak retardasi mental di SLB Negeri Ungaran digunakan uji Kendall Tau. Hubungan ini merupakan hubungan yang positif. namun juga pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga.7%) dan anak yang menerima dukungan sosial keluarga baik yang memiliki kemampuan perawatan diri baik sejumlah 12 anak (66.05) maka Ho ditolak. Dari perhitungan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa ada hubungan yang signifikan antara dukungan sosial keluarga dengan kemampuan perawatan diri pada anak retardasi mental di SLB Negeri Ungaran. Pelatihan dan bimbingan tersebut tidak hanya berasal dari pendidikan formal saja.004 < α (0. latihan dan bantuan yang lebih banyak serta pengajaran yang berulang. Keluarga merupakan orang – orang terdekat yang mampu memberikan dampak positif bagi anggota keluarga lainnya. klien dinyatakan terganggu keperwatannya jika tidak dapat melakukan perawatan diri. Dalam melakukan perawatan diri pada anak retardasi mental masih mengalami kesulitan.

ini dikarenakan karena faktor lain salah satunya faktor lingkungan seperti sekolah yang membantu dalam perkembangan kemampuan anak retardasi mental. Efendi.3%) begitu juga dengan dukungan sosial keluarga cukup dengan kemampuan perawatan diri baik 5 orang (16. Jakarta : Penebar Plus. Bagi Peneliti Lain  Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan penelitian lebih lanjut tentang faktor-faktor yang mempengaruhi dukungan sosial keluarga dan kemampuan perawatan diri anak retardasi mental agar mendapatkan hasil yang lebih baik.7%). Jakarta: Rineka Cipta. Bastiansyah. Hasil uji analisa kendal tau didapatkan ρ value 0. Dukungan sosial keluarga pada anak retardasi mental di SLB Negeri Ungaran dalam kategori cukup (58. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. dimana pengaruh tersebut positif yang makin baik dukungan sosial keluarga maka semakin baik juga kemampuan perawatan diri anak dengan retardasi mental. 4. Saran  Bagi Perawat  Bagi tenaga keperawatan diharapkan dapat memberikan asuhan keperawatan yang dapat membantu anak retardasi mental untuk membentuk kemampuan perawatan diri yang baik. S. Pengantar Psikopedagonik Anak Berkelainan. Jakarta : Salemba Medika . 2006. sarana prasarana yang memadai dan metode guru dalam mengajar anak retardasi mental dengan tepat. M.orang (33.004 < α 0. b. Pada dukungan sosial keluarga yang cukup dan kemampuan perawatan diri kurang 2 orang (6. Paula J.05 berarti ada hubungan yang signifikan antara dukungan sosial keluarga dengan kemampuan perawatan diri anak retardasi mental. Arikunto. DAFTAR PUSTAKA Arikunto. (2006). B. meskipun dukungan keluarga cukup akan tetapi jika anak tidak mampu menerima dikarenakan kemampuan otak yang terbatas. KETERBATASAN Disamping terbuktinya hasil penelitian tentang dukungan sosial keluarga dengan kemampuan perawatan diri pada anak retardasi mental di SLB Negeri Ungaran. Proses Keperawatan : Aplikasi Model Konseptual. S. (2008). (2006). (2009). c. Pembelajaran Anak Tuna Grahita.3%).7%) ini mungkin dikarenakan faktor dalam diri anak yaitu intelegensi. (2002). Eko. Keperawatan kesehatan komunitas : teori dan praktek dalam keperawatan. Jakarta : EGC. Bandung : Refika Aditama. Bagi Keluarga Bagi keluarga diharapkan meningkatkan bimbingan dan pendidikan pada anak retardasi mental untuk membentuk kemampuan perawatan diri yang lebih baik. 2. Kemampuan perawatan diri anak retardasi mental di SLB Negeri Ungaran dalam kategori baik (35. Efendi. Jakarta : Bumi Aksara. Panduan Lengkap : Membaca Hasil Tes Kesehatan. KESIMPULAN DAN SARAN 1. masih tetap ada keterbatasan dalam penelitian ini yang terjadi saat pengambilan data pada responden yaitu tidak adanya pengamatan dan observasi langsung pada responden tentang dukungan sosial keluarga yang diberikan kepada anak. Prosedur Penelitian. Kesimpulan a. F & Makhfudli. Bagi Institusi SDLB  Bagi SDLB diharapkan menjalin kerjasama dengan orang tua anak agar dapat meningkatkan perannya sebagai pendidik dan dapat mengarahkan orang tua dalam memberikan pendidikan pada saat anak di rumah. Jakarta : JKPKKR.8%). (2009). Christensen. Delphie.

Edisi 6. Kesehatan Mental : Konsep dan Penerangan.php/dxm/article/view. Setiadi.fromhttp://journal. Jakarta : EGC Rendy. Theoretical Nursing : Development & Progress. Buku Saku Keterampilan Dasar Keperawatan. (2009). Hubungan antara dukungan sosial keluarga dengan kemampuan sosialisasi anakretardasimental.juli2002. Buku Saku PPDGJ-III. diakses tanggal 27 januari 2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik.php Herlina.pdf. Malang: UMM Press. (2011). Konsep Dasar Keperawatan Anak. Surabaya : Airlangga University Press.Eko Kurniawan. (2009). M. Masalah Anak Retardasi mental.id /index. Jakarta : EGC Widyartanty. .go. Jakarta : Rineka Cipta.id/perpustakaan/opac/index. Sugiyono. C. Yogyakarta : Graha Ilmu Wong. Jakarta: EGC.fk. “Hubungan Pemberian Motivasi Keluarga Terhadap Kemampuan Merawat Diri Pada Anak Tunagrahita di SDLB Putra Jaya Malang”from:http://old. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.ub. (2005). 2003. Konsep & Proses Keperawatan Keluarga. Jakarta : Nuh Jaya. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Jakarta : Salemba Medika. (2009). Statistika Untuk Penelitian. Notosoedirdjo.htm diakses pada tanggal 10 Desember 2013 Maramis.unair. depdiknas. M. Retreived.id/artikel/id/filedownload/keper awatan/Kriesty. Bandung : Refika Aditama. (2007). A. 2004.id/jurnal/37/hub pola asuh orang tua. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. (2013). Malang : UMM press. & Latipun. Potter. Kesehatan mental.ac. (2006). (2007). Psikologi Anak Luar Biasa. Supartini. Perry. Maslim. William Schwartz.fromhttp://www. donna L. Jakarta : Salemba Medika Moeljono. (2004). Pedoman Klinis Pediatri.%20W. 2007. (2008). . (2002).ac. (2008). From : www. Yogyakarta : Nuha Medika Somantri.w eb. Hubungan pola asuh keluarga degan kemamdirian perawatan diri anak usia sekolah. (2007).lib. Muttaqin. Nursalam. (2002). (2013). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan.. Meleis.perpusnwu. Ilmu Kedikteran Jiwa. Jakarta : EGC Muchayaroh.