You are on page 1of 12

Pendinginan Pisang Kepok Rebus Derajat Kematangan III...

Pendinginan Pisang Kepok Rebus Derajat Kematangan III terhadap Kadar
Malondialdehid (MDA) Subjek Dewasa Sehat.
Refregerating of kepok third stage of ripeness to the level of malondialdehid in
health adult subject.
Vidia Meila Ningsih1, Noor Diah Erlinawati1, Sylvia Rianissa Putri1
1

Fakultas Kedokterran dan Ilmu Kesehatan Universitas Bengkulu
JL. W.R. Supratman Kandang Limun Bengkulu 38371
Telepon: (0736)349733 email: meilavidia@gmail.com

ABSTRAK
Latar Belakang: Seiring kemajuan zaman berbagai penyakit degeneratif ikut
bermunculan. Salah satu mekanisme kemunculannya diakibatkan pola makan
yang kurang sehat, sehingga menimbulkan stres oksidatif. Kandungan pati
resisten di dalam makanan dapat dipengaruhi oleh proses pengolahan seperti
pemanasan dan pendinginan yang dapat menurunkan stres oksidatif.
Metode: Desain penelitian ini adalah studi eksperimental dengan randomized
controlled trial (RCT) secara paralel. Sampel penelitian sebanyak 22 mahasiswa
FKIK UNIB semester I−VII diambil dengan metode consecutive sampling yang
selanjutnya dibagi menjadi dua kelompok perlakuan (konsumsi pisang kepok
rebus didinginkan dan konsumsi pisang kepok baru matang). Kriteria subjek
penelitian yaitu usia 18−25 tahun, indeks massa tubuh normal, aktivitas fisik
kurang, dan bersedia menjadi subjek. Data kadar malondialdehid diuji dengan
metode TBARS. Analisis sebaran diuji dengan menggunakan Shapiro Wilk (p >
0,05), analisis pada masing-masing kelompok dengan uji Wilcoxon dan analisis
antar kelompok dengan uji t tidak berpasangan.
Hasil Penelitian: Uji Wilcoxon untuk kelompok konsumsi pisang kepok
didinginkan berbeda bermakna (p 0,006) dan kelompok konsumsi pisang kepok
baru matang berbeda bermakna (p 0,022). Uji t tidak berpasangan untuk
menentukan penurunan kadar malondialdehid pada kelompok konsumsi pisang
kepok rebus didinginkan memberikan hasil -0,57 ± 0,56 µmol/L dan kelompok
konsumsi pisang kepok rebus baru matang memberikan hasil -0,29 ± 0,37 µmol/L
dengan nilai p 0,193 dan cohen’s d effect size d = 0,41 (low to moderate)
Kesimpulan: Walaupun tidak terdapat perbedaan bermakna, rerata tingkat
perubahan kadar malondialdehid pada kelompok pisang kepok rebus didinginkan
lebih tinggi dibandingkan kelompok konsumsi pisang kepok rebus baru matang.
Kata Kunci: Kadar MDA, pati resisten, pendinginan, perebusan, TBARS.
ABSTRACT
Background: As the worldevolves, generative disease continue to emerge. One of
the causal mechanism is unhealthy diet hich can lead to oxidative stress. Resistant
starch contained in food can influence by cooking process such as refrigerated
and boiled.

1

57 ± 0. Conclusion: The differences average of boiled-refrigerated banana group was higher than boiled banana group. analysis for dependent group were using Wilcoxon test and comparison of two independent numerical group were conducted using independent t test. Salah satu jenis buah yang mengandung antioksidan tinggi adalah buah pisang. Distribution of the result being analyzed using Shapiro Wilk test (p > 0.. Dampak stres oksidatif dapat dicegah dengan mengubah pola makan dengan meningkatkan konsumsi makanan tinggi antioksidan. penurunan konsentrasi antioksidan berat molekul rendah di jaringan. TBARS. Result: Wilcoxon test for boiled-refrigerated banana group significant different (p = 0. age between 18−25 years old.Pendinginan Pisang Kepok Rebus Derajat Kematangan III. normal body mass index. Rosida (2007) menyatakan bahwa pisang kepok dengan proses pengovenan (kombinasi 2 . dan gangguan aktivitas pertahanan antioksidan enzimatik yang menyebabkan peningkatan stres oksidatif (Setiawan. Sindroma metabolik merupakan suatu istilah untuk kelompok faktor risiko penyakit jantung dan diabetes melitus tipe 2 (Andarini. 2005). Malondialdehid (MDA) merupakan senyawa yang dapat menggambarkan aktivitas radikal bebas di dalam sel sehingga dijadikan sebagai salah satu petunjuk terjadinya stres oksidatif akibat radikal bebas (Asni et al. salah satunya adalah sindroma metabolik (Susatiningsih. Speciment being used were TBARS method to measure plasma MDA level.e.41 ( low to moderate).. i. .191 and Cohen’s d effect size was 0. 2009). PENDAHULUAN Seiring dengan kemajuan zaman berbagai jenis penyakit degeneratif bermunculan.. less physical activity and sign the informed consent sheet.05). Keyword: MDA level.56 µmol/L dan boiled group banana was 0. Subject has several criteria.29 ± 0. boiled.006) as well as boiled-nonrefrigerated banana group (p = 0.022).37 µmol/L with p = 0. Pada pasien yang menderita sindroma metabolik dan diabetes melitus terjadi peningkatan produksi radikal bebas akibat autooksidasi glukosa. Method: This study as conducted using randomized controlled trial (RCT) in paralel. refrigerated. resistant starch. Independent t test shown the decreasing of malondialdehid between boiledrefrigerated banana group was -0. 2015). The sampel was a student of FMHS University of Bengkulu which are in I−VII semesters taken by consecutive sampling method and it is devided in to two groups (boiled-refrigerated banana group and boiled banana group). Peningkatan stres oksidatif disebabkan ketidakseimbangan antara pembentukan radikal bebas dengan pembentukan antioksidan yang ada di dalam tubuh. 2011).

. memperlambat proses penuaan. pemanasan dan pendinginan) menghasilkan pati resisten yang lebih tinggi sehingga indeks glikemik akan menurun.Pendinginan Pisang Kepok Rebus Derajat Kematangan III. sehingga peneliti akan meneliti pengaruh pengolahan pisang derajat kematangan tiga yang telah dimasak dengan perebusan dan didinginkan pada suhu 4ᵒC selama 24 jam terhadap kadar stres oksidatif yang akan ditunjukkan melalui biomarker malondialdehid di dalam darah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar malondialdehid (MDA) pada konsumsi pisang kepok rebus (Musa acuminata balbisisana Colla) yang mengalami pendinginan pada suhu 4ᵒC selama 24 jam dibandingkan konsumsi pisang kepok rebus (Musa acuminata balbisisana Colla) baru matang pada subjek dewasa sehat METODE Design Penelitian Penelitian ini menggunakan studi eksperimental dengan Randomized Controlled Trial (RCT) pada mahasiswa FKIK UNIB semester I-VII. 2006). Hingga saat ini belum ada data yang menyatakan keterkaitan antara antioksidan di dalam buah pisang yang telah mengalami pemanasan dan pendinginan. dan mencegah kelayuan (Sajilata et al. Cara Pengambilan Subjek Sampel penelitian diambil dengan metode consecutive sampling. Pada penelitian ini tidak mengukur kandungan antioksidan yang terkandung di dalam buah pisang secara kuantitatif.Pada penelitian ini ditentukan masing-masing kelompok berjumlah 10 orang dengan tingkat drop out 10% sehingga diperlukan sebanyak 22 orang. mencegah kehilangan air.. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan di kampus FKIK UNIB selama bulan desember 2015.. Pada dasarnya proses pendinginan dapat mengurangi kegiatan respirasi dan metabolisme. Hal ini dikerenakan belum 3 . mencegah kerusakan akibat mikroba.

lemari pendingin (kulkas) dengan suhu 4oC. dan stroke) dan rerata asupan makanan diperoleh melalui pengisian lembar kuesioner penelitian. tabung darah dengan EDTA. lemari pendingin. mikropipet. larutan asam trikloroasetat (TCA) 10%. mikrotube dan mesin sentifugasi. masker. Data tinggi badan dan berat badan diperoleh melalui pemeriksaan fisik. iced gel pack. rak tabung reaksi. kapas. 6. larutan TBA 0. tabung reaksi. Stadiometer dengan ketelitian 0. Alat yang diperlukan untuk pemisahan plasma berupa. jenis kelamin. Spesimen berasal dari darah vena perifer di daerah ekstremitas atas subjek penelitian sebanyak 3 cc. didapatkannya data untuk dimasukan ke dalam rumus rerata dua populasi independen. alkohol 70%. 3. alkohol 70%. Pengukuran kadar malondialdehid MDA plasma yang terdiri dari pemisahan plasma darah dan uji TBARS. kompor. Bahan dan Alat 1. mesin sentrifugasi.67%. plester. piring. aktifitas fisik. umur. air.1 sentimeter. riwayat penyakit keluarga (diabetes melitus. darah plasma. Alat dan bahan yang diperlukan untuk pengambilan darah vena berupa. Alat dan bahan yang untuk persiapan pemberian makanan berupa. dan penangas (water bath). akuades. spuit 3 cc.Pendinginan Pisang Kepok Rebus Derajat Kematangan III. Darah vena perifer di daerah ekstremitas atas sebanyak 3 cc untuk masing-masing pengambilan darah. hipertensi. spektrofotometer. sarung tangan lateks. 4. pisang 219 gram untuk satu porsi makanan. Spesimen 4 . 7. 5. kuali. sarung tangan lateks.. TAHAPAN PENELITIAN Data karakteristik subjek penelitian meliputi nama. dan sarung tangan lateks. karet pembendung (torniquet). Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan di Laboratorium Riset FKIK UNIB. sendok. Alat dan bahan yang diperlukan untuk Uji TBARS berupa pegangan tabung reaksi. panci. kapas.. 2. Timbangan injak merk Camry® dengan ketelitian 1 kilogram. penyakit jantung koroner.

Larutan uji tersebut didinginkan dan dibaca dengan spektrofotometer dengan panjang gelombang 532 nm. 2008). ɛ= 1.Pada larutan blanko darah plasma diganti dengan penambahan akuades sebanyak 0. l = panjang/ jarak = 1 cm (Ahmad et al. 5 . Batas kemaknaan yang digunakan adalah 5% yang artinya ketentuan bermakna jika nilai p< 0.56 x 105 M-1 cm-1 C = konsentrasi (µmol/L plasma). Larutan uji dibuat dengan menambah 0. selanjutnya larutan disentrifugasi dengan menggunakan mesin sentrifugasi dengan kecepatan 3000 rpm selama 10 menit untuk mengambil supernatannya.05. kemudian disentrifugasi pada kecepatan 3000 rpm selama 10 menit. PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA Uji Wilcoxon digunakan untuk mengetahui perubahan kadar MDA plasma pada masing-masing kelompok.05.25 mL plasma darah dan 0.. dan tidak bermakna apabila nilai p ≥ 0. kemudian dibaca hasilnya.25 mL.75 mL larutan TBA 0.. Rumus perhitungan kadar MDA. Uji Mann-Whitney dan Uji T tidak berpasangan digunakan untuk mengetahui perbedaan kadar malondialdehid plasma pada kedua kelompok. Uji TBARS dilakukan dengan membuat larutan uji dan larutan blanko. l Dimana: ΔA = (nmol/m`L plasma).50 mL larutan TCA 10% yang didinginkan ke dalam tabung reaksi kemudian dihomogenkan. yaitu: Kadar MDA ΔA = C. ɛ.Pendinginan Pisang Kepok Rebus Derajat Kematangan III. Langkah pengerjaan larutan blanko sama dengan prosedur untuk larutan uji di atas.. selanjutnya larutan uji dihomogenkan kembali dan dimasukkan ke penangas mendidih selama 10 menit.67%. selanjutnya akan dimasukkan ke dalam tabung kedap udara yang sudah berisi EDTA. Supernatan dipindahkan ke dalam tabung reaksi baru untuk ditambahkan 0.

5−22. Data karakteristik Usia (n) 18 tahun 19 tahun 20 tahun 21 tahun 22 tahun Jenis Kelamin (n) Laki-laki Perempuan Riwayat Penyakit Keluarga Diabetes Melitus Hipertensi Kelompok Konsumsi Pisang Kepok Rebus Didinginkan n(%) Kelompok Konsumsi Pisang Kepok Rebus Baru Matang n(%) 6 (27.5 p 0.8%) subjek perempuan dan 4 orang (18.1%) 9 (40.1%) 2 (9.73 ± 1.Pendinginan Pisang Kepok Rebus Derajat Kematangan III. t:hasil uj t tidak berpasangan.1%) Ket: Nilai dalam n:jumlah.858t 0.. 6 . m: hasil uji Mann-Whitney.1%). Hal ini dikarenakan mahasiswa FKIK UNIB mayoritas berjenis kelamin perempuan. Sebaran Karakteristik Subjek Penelitian pada Dua Kelompok perlakuan (n= 22). Karakteristik Subjek Penelitian Tabel 1.1%) 2 (9. HASIL DAN PEMBAHASAN A.2 158 ± 7.9 kg/m2 20.54 ± 1. data ditampilkan dalam mean±standar deviasi atau median (minimum-maksimum).53 ± 1.272m 0..986 t Ket. Rerata Karakteristik Subjek Penelitian pada Dua Kelompok Pelakuan (n= 22) Data karakteristik Kelompok Konsumsi Kelompok Konsumsi Pisang Kepok Rebus Pisang Rebus Kepok Didinginkan Baru Matang Usia 18−25 tahun 18 (18−22) 19.54%) 2 (9.54%) 0 (0%) 2 (9.2%) 2 (9.9%) 2 (9.86 ± 5 51.41 ± 5.49 Berat Badan (kg) 51. Jumlah subjek perempuan lebih banyak dibandingkan jumlah subjek laki-laki. p: nilai signifikansi Tabel 1 menunjukkan usia subjek berkisar antara 18−22 tahun.1%) 2 (9.2%) subjek laki-laki pada kedua kelompok.55 Tinggi Badan (cm) 158.1%) 1 (4.1%) 9 (40.6%) 3 (13.787t 0.1%) 3 (13.03 20.12 IMT 18. Riwayat penyakit keluarga yang dimiliki subjek pada kedua kelompok yaitu diabetes melitus 4 orang (18.1%) 2 (9. Subjek penelitian berjumlah 22 orang yang terdiri dari 18 orang (81. %:persentase Tabel 2.9%) 2 (9.28 ± 5.2%) dan hipertensi 2 orang (9.6%) 1 (4.

8 221.5 101. p: nilai signifikansi Berdasarkan tabel 3 didapatkan rata-rata energi dan karbohidrat pada kedua kelompok terdapat hubungan yang bermakna (p < 0..22–2.05).17 6.52 ± 221.05).2) 89.331–1. Rerata Asupan Makanan Tabel 3 Rerata Asupan Makanan Rata-rata asupan makanan Energi (kkal) Karbohidrat (g) Protein (g) Lemak (g) Serat (g) Kelompok Konsumsi Pisang Rebus Kepok Didinginkan 2369..3 p 0.015t 0.014 t 0.41 98.24 85. Hasil pengukuran kadar MDA tersebut dapat dilihat pada Tabel 4 di bawah ini.006w -0.094 t Ket.65 ± 19.022w -0.41 ± 47.37 ± 0.12 (0.9 272.03 kg/m 2 dan 20.63 Kelompok Konsumsi Pisang Kepok Rebus Baru Matang 2011.61 (0.02) 0.05) dan rata-rata protein. lemak dan serat pada kedua kelompok tidak terdapat hubungan yang bermakna (p > 0.28 0.37 P 0. 2000) yaitu rata-rata IMT pada kelompok konsumsi pisang kepok rebus didinginkan dan kelompok konsumsi pisang kepok baru matang adalah 20. Tabel 2 menunjukkan rata-rata IMT pada kedua kelompok berada dalam rentang normal menurut klasifikasi IMT Asia Pasifik.43) 0. t:hasil uji t tidak berpasangan.986 (> 0.599m 0. No Kadar Malondialdehid 1 2 Sebelum Setelah 2 jam P Perubahan (∆) 3 Kelompok Konsumsi Pisang Kepok Rebus Didinginkan (µmol/L) 0. m: hasil uji Mann-Whitney. 2000 (WHO. data ditampilkan dalam mean±standar deviasi atau median (minimum-maksimum). yang berarti tidak ada hubungan IMT yang bermakna di antara kedua kelompok perlakuan.29 ± 0.21 ± 367.3−250.007m 0. B. C.51 ± 2.32 0. Tabel 4 Hasil Pengukuran Kadar MDA Sebelum dan setelah 120 menit pada masing-masing kelompok perlakuan.81 8.2 ± 29.5 kg/m2 dengan nilai p 0.256 t 0.7 (205.54 ± 1.62 ± 21.56 7 Kelompok Konsumsi Pisang Kepok Rebus Baru Matang (µmol/L) 1.191t .66 ± 2.Pendinginan Pisang Kepok Rebus Derajat Kematangan III.72 ± 0.4 ± 27.53 ± 1.221 t 0.57 ± 0. Hasil Pengukuran Kadar Malondialdehid (MDA) Hasil pengukuran kadar MDA pada sebelum dan 120 menit setelah perlakuan masih dalam batas normal.

006 yang berarti terdapat peningkatan yang bermakna antara sebelum dan setelah perlakuan pisang kepok rebus yang didinginkan 1. data ditampilkan dalam mean ± standar deviasi atau median (minimum-maksimum). t: hasil uji t tidak berpasangan p: nilai signifikansi. Ket.Pendinginan Pisang Kepok Rebus Derajat Kematangan III.5%/100 gram. Perubahan (∆): selisih kadar malondialdehid sebelum dan setelah perlakuan pada kelompok yang sama. dan flavonoid (kadar tidak diketahui).6 Kadar Malondialdehid (µmol/L) 0..4 Setelah 0. Dari data didapatkan bahwa rerata kadar MDA sebelum perlakuan lebih tinggi dibandingkan setelah perlakuan pisang kepok rebus yang didinginkan dengan nilai p = 0. Hal serupa juga terjadi pada kelompok pisang kepok rebus baru matang dengan nilai p = 0.. Indeks glikemik rendah akan menyebabkan autooksidasi glukosa menurun 8 .006.2 1 0. Gelatinisasi dan retrogradasi pada proses pengolahan pati memiliki pengaruh terhadap daya cerna pati di dalam proses pencernaan oleh enzim amilase di usus halus sehingga sehingga efek indeks glikemik akan lebih rendah. m: hasil uji Mann-Whitney.022 yang berarti terdapat penurunan kadar malondialdehid yang berbeda bermakna antara sebelum dan setelah perlakuan pada masing-masing kelompok. w: hasil uji Wilcoxon. Buah pisang derajat kematangan III mengandung pati sebesar 16%/100 gram.2 0 Kelompok konsumsi pisang kepok rebus didinginkan Dari gambar di atas terlihat bahwa rata-rata kadar malondiladehid sebelum konsumsi pisang kepok rebus didinginkan lebih tinggi dibandingkan setelah konsumsi pisang kepok rebus didinginkan dengan nilai p = 0. Penurunan kadar malondiladehid dipengaruhi oleh proses pengolahan makanan. gula 4. vitamin C 2%/100 gram.8 Sebelum 0. Proses pengolahan terutama kombinasi perebusan dan pendinginan akan menyebabkan kandungan pati di dalam buah tergelatinisasi dan teretrogradasi sehingga membentuk pati resisten tipe III yaitu pati dengan kristal yang tidak larut.

dan metabolisme serta akan membentuk pati resisten yang mempunyai efek hipolikemia. namun flavonoid mempunyai sifat dasar yaitu larut air (Fogliano et al. namun beberapa sumber menyebutkan bahwa kandungan flavonoid di dalam buah pisang sedikit sehingga efeknya dapat diabaikan (Wijaya. Menurut Hok et al.Pendinginan Pisang Kepok Rebus Derajat Kematangan III.047). sehingga diasumsikan hasil malondialdehid setelah 2 jam memang hanya 9 . Tabel 4 juga menjelaskan rata-rata perbedaan kadar malondialdehid sebelum konsumsi pisang kepok rebus didinginkan dan konsumsi pisang kepok rebus baru matang. Persentase vitamin C yang terkandung di dalam daging buah sangat kecil.1 vs 152 ± 48. Namun perbedaan ini tidak berbeda bermakna p 0.15%. 2013)..599 yang berarti data dasar untuk kadar malondialdehid kedua kelompok sebelum perlakuan setara.. (2007) menyatakan bahwa semakin tinggi suhu pemanasan maka semakin cepat proses degradasi vitamin C. Hal ini juga didukung sampai saat ini belum ada penelitian terkait mengenai kandungan flavonoid di dalam buah pisang dalam proses pengolahan pisang. Menurut Sajilata et al. Ridwan (2015) menyatakan bahwa nasi yang didinginkan pada suhu 4ᵒC selama 24 jam mempunyai respon glikemik yang lebih rendah dibandingkan dengan kelompok kontrol (125 ± 50. p 0. p < 0. selain itu vitamin C sangat rentan mengalami oksidasi terutama oleh proses pemanasan. Di dalam buah pisang hingga saat ini belum diketahui kadar pasti flavonoid.min/L. Flavonoid merupakan salah satu senyawa antioksidan.3 mmol.68% vs 5. sehingga diasumsikan kadarnya akan semakin sedikit. dan mengambat akumulasi lemak. sehingga diasumsikan hanya pati resisten yang meningkat dan menyebabkan penurunan kadar glukosa darah yang berakibat pada penurunan stres oksidatif. yang menyebabkan produksi radikal bebas sebagai produk akhirnya juga akan menurun (Abia. Pada proses perebusan. flavonoid dapat larut ke dalam air. 2013). respirasi. hipokolestronemia. (2006) proses pendinginan akan menghambat aktivitas bakteri.05). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rosida (2007) yang menyatakan bahwa kombinasi proses pemanasan dan pendinginan pada pisang kepok akan menghasilkan pati resisten yang lebih tinggi dibandingkan kontrol (6.. 1991).

Hal ini juga didukung oleh karakteristik dasar subjek yang sama pada kedua kelompok perlakuan. namun angka rujukan yang sering digunakan adalah > 10%. dipengaruhi oleh pemberian perlakuan..41 (low to moderate). Sampai saat ini belum ada angka pasti mengenai rujukan perbedaan klinis. KESIMPULAN Dari hasil penelitian diperoleh rerata tingkat perubahan kadar malondialdehid pada kelompok pisang kepok rebus didinginkan lebih tinggi dibandingkan kelompok konsumsi pisang kepok rebus baru matang. Setelah 2 jam konsumsi pisang kepok rebus didinginkan dan konsumsi pisang kepok rebus baru matang terjadi penurunan kadar malondialdehid yang berbeda bermakna p 0. Perbedaan klinis ini menyatakan bahwa hasil penelitian bisa diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari sebagai salah satu alternatif makanan olahan pisang yang dapat menurunkan kadar malondialdehid (David et al.Pendinginan Pisang Kepok Rebus Derajat Kematangan III.34% pada penurunan kadar malondialdehid kelompok konsumsi pisang kepok didinginkan dan perbedaan klinis sebesar 35. Pengendalian stres oksidatif lebih baik pada konsumsi pisang kepok rebus didinginkan dengan cohen’s d effect size sebesar 0. Dilakukan perhitungan effect size pada penurunan kadar malondialdehid yang bertujuan untuk melihat seberapa besar efek yang ditimbulkan oleh konsmsi pisang kepok didininkan terhadap kadar malondialdehid dan didapatkan nilai d = 0.191.015 namun perubahan kadar malondialdehid yang ditunjukkan oleh delta tidak berbeda bermakna secara statistik p 0. Perbedaan kadar malondialdehid kedua kelompok yang tidak bermakna secara statistik diduga karena jumlah subjek yang sedikit. Setelah dilakukan perhitungan klinis didapatkan perbedaan klinis sebesar 39. 2005).41..71% pada penurunan kadar malondialdehid kelompok konsumsi pisang kepok baru matang. Hasil mungkin akan berbeda apabila jumlah subjek yang digunakan lebih besar dan dilakukan kontrol yang lebih ketat pada kelompok perlakuan. Untuk penelitian di masa mendatang perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh pati resisten pisang kepok rebus serta kandungan 10 .

Geoffrey M. Palermo M. Setyo W. Essentials of Research Design and Methodology. 11 . Asni E et al. (2014). Sonia S. pp: 45−80. Lucknow. Widya Teknik. vitamin. 94: 1057−1070.M. Glutation Tereduksi dan Aktivitas Katalase Ginjal Tikus. Angka Kecukupan Energi. dan Serat Makanan. Lemak. David F. John Wiley Sons Inc Fogliano V. 42(3):239−42. Prosiding Kongres Nasional dan Temu Ilmiah VIII Persatuan Ahli Gizi Indonesia. Abia R. Ducan & Prasse’s Veterinary Laboratory Medicine: Clinical Pathology Fifth Edition. India. Jakarta: Departemen Gizi. kadar pati resisten. Pellegrini N. Calixto F. Tripathi P. Protein. Ahmad R.Pendinginan Pisang Kepok Rebus Derajat Kematangan III. Effect of colling of rice on glycemic response. 59(12):595−600. dan Singh R K. 22: 525−528. Pengaruh Suhu dan Waktu Pemanasan terhadap Kandungan Vitamin A dan C pada Proses Pembuatan Pasta Tomat. Rosida. The effect of cooking on the phytochemical content of vegetables. (2011). Ridwan R. David D. Serta perlu dilakukan penelitian uji laboratorium terhadap kandungan fitokimia. Jakarta Hok T K. Singh S. (2008). Pengaruh Cara Pengolahan Terhadap Daya Cerna Pati pada Pisang. Witjaksono F. Soetaredjo F E. Tripathi A K. Malondialdehyde and Protein Carbonyl as Biomarkers for Oxidative Stress and Disease Progression in Patients with Chronic Myeloid Leukemia. J Sci Food Agric Rev. dan flavonoid pada pisang derajat kematangan III.. Jawa Timur: Fakultas Teknologi Industri Universitas Pembangunan Negeri. (2015). Singh R. C. Departements of Biochemistry and Medicine. 6(2): 111−20 Latimer.S. (2005). Resistant Starch: An ingestible Fraction of Food. K S. (2007). Irawaty W. (2009). USA. (2007). Pengaruh Hipoksia Berkelanjutan terhadap Kadar Malondialdehid. Grasas aceites. antioksidan pisang terhadap kadar malondialdehid yang dilakukan dengan subjek yang beragam dan lebih besar serta metodologi yang berbeda. Hardinsyah. Maj Kedokt Indo. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. (2004). DAFTAR RUJUKAN. Medical University. (1991)..

Jakarta: PT Gramedia. 55(2): 86−90. p: 10..Pendinginan Pisang Kepok Rebus Derajat Kematangan III. Yogyakarta: Kanisius. Maj Kedok Indo. Manfaat Buah Asli Indonesia. Winarsih H (2011). Stres oksidatif dan peran antioksidan pada diabetes melitus. Wijaya. (2005). 12 .. Suhartono E. (2013). Setiawan B. Antiokdian Alami dan Radikal Bebas.