You are on page 1of 774

TIM PROSIDING

PENASEHAT DAN PENANGGUNGJAWAB
Prof. Dr. Mungin Eddy Wibowo, M.Pd. Kons. (Ketua Umum PB-ABKIN)
Prof. Dato Dr. Ismail Alias (Presiden PERKAMA)
Drs. I Gusti Bagus Arthanegara, SH., M.Pd. (Ketya YPLP PT IKIP PGRI Bali)
Dr. I Made Suarta, SH., M.Hum (Rektor IKIP PGRI Bali)
Nara Sumber:
Prof. Dr. Mungin Eddy Wibowo, M.Pd. Kons. (Ketua Umum PB-ABKIN)
Dato Dr. Ismail Alias (PERKAMA Internasional)
Prof. Madya Dr. Abd. Halim bin Mohd Hussin
Prof. Dr. Prayitno, M.Sc. Ed.
Prof. Dr. Rex. A. Stockon
Puan Hjh. Amni Yusoff.
Dr. Add. Jalil Hassan
Prof. Dr. Sunaryo Kartadinata, M.Pd.
PENYUNTING
Dr. Admoko, M.Si
Drs. Tri Laksono PH., S. Kom., M.Pd., Kons
ISBN : 978 602 72700 08

Alamat:
IKIP PGRI Bali
Jalan Seroja Tonja Denpasar Utara Telp/Fax. (0361) 431434

Web.site: www.ikippgribali.ac.id.
Email: ikippgribali@yahoo.com

KATA SAMBUTAN

Puji Syukur kami panjatkan kehadapan Ida Hyang Widi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa
atas Asung Wara Nugraha-Nya, sehingga kegiatan Seminar dan Workshop Internasional tahun
2015 dan dibukukan dalam prosiding dan dapat berjalan lancar sesuai harapan. Sudah sepatutnya
dalam kesempatan ini kami mengucapkan banyak terima kasih kepada segenap Tim Prosiding
yang telah bekerja keras untuk mewujudkan kegiatan ini.
Perguruan Tinggi sebagai institusi pendidikan menuntut civitas akademika terutama
SDM Asean dapat mendalami ilmu dengan baik serta dapat mengembangkan, sehingga nantinya
dapat berdampak pada peningkatan mutu SDM itu sendiri. Kegiatan Seminar dan Workshop
Internasional merupakan salah satu bentuk publikasi ilmiah yang dapat digunakan sebagai saling
tukar informasi sehingga dapat meningkatkan pemahaman pada suatu ilmu. Dengan demikian
mutu perguruan tinggi untuk kemaslahatan masyarakat. Adapun

Pelaksanaan Seminar dan

Workshop Internasional diharapkan dapat memperbaiki berbagai kekurangan dan menginovasi
serta ada kemauan untuk merubah menuju ke arah masa depan yang lebih baik
Akhirnya, kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu
terselenggaranya

Seminar dan Workshop

Internasional 2015 ini. Semoga dapat menjadi

berdampak positip dalam meningkatkan mutu SDM ASEAN.

Denpasar, 20 Mei 2015
Ketua Panitia,

Dr. I Made Suarta, S.H., M.Hum

DAFTAR ISI
Topik 1: Pendidikan meningkatkan SDM memasuki MEA………………………

1

1. Pemberdayaan Dan Pembudayaan Manusia Indonesia Melalui Konseling
Memasuki Masyarakat Ekonomi Asean (PROF.DR.MUNGIN EDDY
WIBOWO,M.Pd.,Kons.)………………………………………………………
2. Strategies to prepare net generation To welcome asean economic community
(Dra. M.j. Retno Priyani,M.si.)………………………………………………..
3. Pengembangan Kecakapan Pengarahan Diri Dan Pengelolaan Diri Untuk
Meningkatkan Efektivitas Belajar Siswa Sma (Yusi Riksa Yustiana, Suherman,
Aas Saomah)………………………………………………………
4. Entrepreneurship courses at educators institution or lptk (lembaga pendidikan
tenaga kependidikan) To improve the quality of human resources in entering
asean economic community (I Wayan Adnyana)……………………………..
5. Pendidikan Meningkatkan Sdm Memasuki Mea (Uda Geradus)……………...
6. Peran Pendidikan Kejuruan Dalam Upaya Meningkatkan Sumber Daya
Manusia Memasuki Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) (Mas Adi Putra
Anugrah Perdana, S.Pd.) (Ma’rifatin Indah Kholili, S.Pd.)…………………...
7. Pengaruh Motivasi Belajar, Disiplin Belajar, Dan Penyesuaian Diri Terhadap
Prestasi Akademik Para Mahasiswa Timor Leste Yang Kuliah Di Malang
(Augusto da Costa, M.Pd.)…………………………………………………….
8. Parents As Tutors First And Principal To Create High-Quality Human
Resources (Agus Ria Kumara, S. Pd., M. Pd)………………………………...
9. Utilization Of Natural Materials Of Pre School Learning Activities At Buton
North In Preparing The Next Generation Era Mea (Nani Restati Siregar, S.Psi,
M.Si.)…………………………………………………………………...............
10.Optimisme Siswa Dalam Penerapan Teknik Attributional Retraining Dan
Guided Imagery (Nur Fadhilah Umar, S.Pd ), (Dr. Andi Mappiare), (M.Pd Prof.
Dr. Fattah Hanurawan, M. Si., M. Ed)…………………………………..
11.Kegiatan Kelompok Belajar Dan Hubungannya Dengan Motivasi Berprestasi
Dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (Fitriyani Kamali, S.Pd,
M.Pd.,Kons).......................................................................................................
12.Pengaruh Faktor Dominan (Luaran) Terhadap Penagihan Semula Dadah
(Relaps). (Juliah Binti Subandi), (Wan Sanoni Binti Hj.Wan Ibrahim),
(Mohamad Firdaus Bin Ab. Rahman), (Nurul Hudani Binti Md. Nawi, PhD)..
13.Model Pencegahan Pengguna Narkoba Melalui Prinsip-Prinsip Manajemen
Kepemimpinan Kepala Sekolah Menengah Atas Kota Gorontalo (Dr. Novianty
djafri, M.Pd.I)……………………………………………….
14.Hubungan Antara Sokongan Sosial Dengan Kemurungan Dalam Kalangan
Penagih Dadah(Iezwan bin Iesnordin), (Muhamad Fadhli bin Ahmat), (Syed
Mohd Fadhullah bin Sied Esahak), (Zakaria bin Awang Hamat) dan (Dr Nurul
Hudani binti Md Nawi)............................................................................

1
18

24

29
35

41

47
58

61

65

72

78

84

90

15.Pengaruh Penyalahgunaan Narkoba Terhadap Motivasi Belajar Siswa Kelas Xii
Sma Muhammadiyah Jakarta Selatan (Dr. Titik Haryati, M. Pd)…………

96

16.Pengaruh Strategi Daya Tindak Terhadap Tahap Peubahan Pemulihan Dadah
Dalam Kalangan Penghuni Di Pusat Pemulihan Dadah (Rosmani Che
Draman), (Rizawani Andi Amir), (Nur Aida Jahari)& (Balan Rathakrishnan,
101
PhD)…………………………………………………………………………...
17.Peran Pendidikan Dalam Meningkatkan Sdm Memasuki Mea (Dr. Hera Heru
106
Sri Suryanti, MPd)…………………………………………………………….
18.Pendidikan Inklusif Sarana Belajar Anak Berkebutuhan Khusus (Dr. Weny
113
Hulukati, M.Pd)………………………………………………………………..
Topik 2: Konseling meningkatkan SDM memasuki MEA………………………...

117

1. Penguatan Peran Guru Bk Dalam Mengentaskan Pendidikan Karakter (Dr.
Gendon Barus, M.Si)………………………………………………………….
117
2. Peran konselor dalam mempersiapkan peserta didik menjadi pribadi mandiri
menuju
MEA
(Maria
Natalia
Loban)………………………………………………..
127
3. Pelaksanaan Layanan Bimbingan Dan Konselig Karir Di Smk Untuk
Menyiapkan Tenaga Kerja Trampil Dalam Menyambut Masyarakat Ekonomi
133
Asean (Mea) 2015 (Maria Theresia Srihartati)………………………………..
4. Bimbingan Karier Berorientasi Kebutuhan Di Perguruan Tinggi Dalam Rangka
Menghadapi
Masyarakat
Ekonomi
Asean
(MEA)
(Sinta
Saraswati)……………………………………………………………………...
141
5. Aplikasi Model Konseling Berfokus Solusi Untuk Meningkatkan Kecerdasan
Emosional Konseli Dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (M.
Ramli)………………………………………………………………………….
146
6. Measuring The Effectiveness Of Brief Counseling To Modify A Behavior Of
Group Student (R. Budi Sarwono)…………………………………………….
152
7. Model Konseling Berfokus Solusi Untuk Meningkatkan Efikasi Diri
Mahasiswa Yang Mengalami Keterlambatan Studi (Anne Hafina) (Yusi Riksa
Yustiana) (Esya Anesty Mashudi)...........................................................
153
8. Kesan Intervensi Kaunseling Kelompok Tingkah Laku Kognitif Terhadap
Pengetahuan Tentang Buli, Sebab Dibuli Dan Efikasi Kendiri Ke Atas Mangsa
Buli Di Sekolah (Amin Al Haadi Bin Shafie), (Zuria Mahmud), (Salleh
Amat), (Khairuneezam Nohd Noor), (Isa Amat)...................................
160
9. Effect Of Reality In Counseling Students Outside Java Self Adjustment In
Akper “Tujuhbelas” (Tatik Sutarti Suryo, Dr. MM.)………………………….
166
10. The Effectiveness Of Solution Focused Theory To Couple In Conflict: A Case
Study (Mohd Fahrizal Asmy, M. A.) (Nor Hamizah bt. Ab Razak)…….
170
11. Efektivitas Konseling Kelompok Realitas Untuk Meningkatkan Self-Discipline
Siswa Dalam Menyongsong Mea 2015 (Lutfi Fauzan)………………………… 177
12. Konseling Keterampilan Hidup( Life Skills Counselling) Berlandaskan Tri Hita
Karana Dalam Pemberdayaan Manusia Memasuki Mea (Dr. A. A. Ngurah
183
Adhiputra, MPd.)……………………………………………………..
13. Pengaruh Konseling Terhadap Peningkatan Kepercayaan Diri Dan Orientasi
Masa Depan Nara Pidana Di Lembaga Pemsyarakatan Anak Pekanbaru (Prof.
Dr. Zulfan Saam, MS) (Drs. Raja Arlizon, M.Pd)……………………...
194

14. The Development Of Psychological Well-Being Programme Based On Six
Factor Model Psychological Well-Being Ryff (1989) (Norsayyidatina Che
Rozubi*), (Lau Poh Li**)……………………………………………………..
15. Level Of Students` Self-Efficacy Based On Gender (Ifdil)(Rizka Apriani)
(Frischa Meivilona Yendi)…………………………………………………….
16. Aplikasi Instrumentasi Norma-Norma Perkembangan (Arlindasari) (Mariyatul
Qibtiyyah)
(Drs.
Tri
Leksono
Prihandoko
M.Pd,
S.Kom,
Kons)…………………………………………………………………………..
17. Aplikasi Ujian Psikologi Dalam Pengurusan Sumber Manusia (Azura
Hamdan).............................................................................................................
18. Lapan Indeks Kesejahteraan Kendiri (8-I2K) (Rusni A Ghani, Ph.D) & (Nordin
Yusoff)………………………………………………………………..
19. Konseling Eksestensial Humanistik untuk Meningkatkan Kecerdasan
Inetrpersonal Siswa ( I Gede Tresna, S.Pd.,M.Pd)……………………………
20. Bimbingan Psikologi dalam Keluarga sebagai Pendekatan Menghadapi MEA (
Putu Agus Semara Putra Giri, S.Pd.,M.Pd)…………………………………..
Topik 3: Karakter Bangsa yang Cerdas dalam MEA……………………………..
1. Moral Education Children With Habituation ValueStudents Through Life
Character Modeling (Dra Ninik Setyowani, M.Pd.)…………………………..
2. Profil Karakter Siswa Smp Dan Mts Yang Berprestasi Tinggi (High-Achiever)
(Sri Panca Setyawati)........................................................................
3. Generasi Y: Karakteristik, Masalah, Dan Peran Konselor (Bambang
Suryadi)………………………………………………………………………..
4. Membentuk insan berkarakter kuat dan cerdas dalam menghadapi masyarakat
ekonomi asean melalui bimbingan dan konseling islami (Siti.
S.Fadhilah)…………………….............................................................................
5. The academic self management profile of students guidance and counseling
sriwijaya
university
(Harlina,
Fitri
Wahyuni)
…………………………………………………………………………………..
6. Nilai-nilai pribadi ideal konseli dalam serat wulangreh (Anisah Prafitralia,
Fattah Hanurawan, Muslihati)……………………………………………………..
7. The concept of multicultural counselling toward the students’ achievement to
face
global
competition
(Taty
Fauzy,
Nurbaiti
Machmud)………………………………………………………………………
8. The role of counselor in character education based on emotional quotient for
indonesian
adolescent
to
facing
aec
(Dwi
Bhakti
Indri.M)
…………………………………………...............................................................
9. Pengaruh Kesehatan Siswa Terhadap Konsentrasi Belajar Dan Prestasi
Akademik Untuk Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean di SMAN 1 Kerjo,
Karanganyar
(Pujiyatmi)……………………………………………………………………….
10. Pengembangan
Tes
Bakat
Berpikir
Numerikal
2
Pl
(Jumailiyah)…………………………………………………………………….
11. Pengaruh Penghargaan Kendiri Dan Kecerdasan Emosi TerhadapTekanan
Pelajar Sekolah Menengah (Necholas Labo, Lai Yee Moi, Dulaip Rudin &
Puteri Hayati Megat Ahmad, PhD)........................................................................

202
208

211
215
218
223
229
236
236
243
252

258

266
273

284

288

297
300

309

12. Hubungan Strategi Daya Tindak dan Penghargaan Kendiri Dalam Kalangan
Pelajar Sekolah Menengah (Anipah Mohammada, Fazrin Rawaida Fauzib,
Syahriah Yatim Mustafa c , Zurina Omard & Puteri Hayati Megat Ahmad, PhD)
............................................................................................................................... 314
13. Keresahan Pelajar Di Sebuah Maktab Rendah Sains Mara: Kajian Kes (Siti
Roslina Mohammad Zain, Mazidah Mohd Dagang, Raja Zirwatul Aida Raja
Ibrahim, Sabri Ahmad)…………………………………………………………. 320
Tahap Kebijaksanaan Emosi (Ei) Penghuni Kolej Kediaman Aminuddin Baki
Dan Za’ba Universiti Pendidikan Sultan Idris (Syed Sofian Syed Salim,
Junaidi Abu Bakar, Muhammad Aziz Shah Mohamed Arip, Nor Haslin Mohd
Adnan ).................................................................................................................. 330

Topik 4: Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi Konseling dalam
337
MEA…………………………………………………………………………………..
1. Model Development Acceleration of Information Technology Competence to
Students Counselor Candidate of Guidance and Counseling Study Program in
Semarang State University towards ASEAN Economic Community (Dr.
Catharina Tri Anni, M.Pd.)…………………………………………………….
2. Pengembangan aplikasi penetapan peminatanuntuk satuan pendidikan sma
(appem SMA)( Putu Agus Indrawan, S.Pd.,Gr, Dr. Adi Atmoko, M.Si , Dr. IM
Hambali, M.Pd ) ………………………………………………………………..
3. Bimbingan kelompok dengan media permainan smart monopoli untuk
meningkatkan
kreativitas
siswa
sekolah
dasar
(Ahmad
Jawandi)…………………………………………………………………………
4. Cybercounseling : konseling online dalam layanan bimbingan konseling (Ali
Rachman, M.Pd) ………………………………………………………………..
5. The influence of group counseling service through video media towards self
confidence of the students in science class xi ofsma negeri 9 palembang (Romli
Menarus, Ni Nengah Silvina Kertyani)…………………………………………
6. Pengembangan model layanan informasi karier bagi guru bimbingan dan
konseling
pada
sekolah
menengah
pertama
(Bau
Ratu)…………………………………………………………………………….
7. The effect of group counseling services by using media power point on
understanding the value of friendship (Dra. Rahmi Sofah, M.Pd. Kons, Hartika
Utami Fitri)……………………………………………………………………..
8. Pemanfaatan Macromedia Flash dalam Layanan Bimbingan dan Konseling
dalam Meningkatkan Kreativitas Guru Bimbingan dan Konseling Menghadapi
MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) (Ariadi Nugraha, S.Pd, Abdan Syakuro
Sugandi, Rahmat Pamuji)......................................................................................
Topik 5: Adaptasi Multikultur dalam MEA …………………………………………

337

347

354
360

363

364

369

374

379

1. Pengembangan
kompetensi konseling multikultur berbasis experiential
learning dengan menggunakan media film populer bagi konselor (Heru
Mugiarso Banun Sri Haksasi )…………………………………………………
379

2. Multikulturalisme sebagai sebuah pendekatan konseling dalam menghadapimea
(Ahmad Jawandi , Linda Dwi Sholikhah)……………………………………..
3. Pembinaan Modul Latihan Kompetensi Kaunseling Pelbagai Budaya (KKPB)
Menggunakan Modifikasi Model Addie Dan Prosedur Pembinaan Modul Sidek
(2001) (Azad Athahiri Anuar, Rafidah Aga Mohd Jaladin)……………………
4. Pendidikan Multikulturalisme dalam Perspektif Modal Sosial Menuju
Masyarakat Ekonomi ASEAN
DR. I Made Suarta, SH., M.Hum………………………………………………...
5. Peranan Konselor Sebagai Filter dalam Beradaptasi pada Ragam Budaya MEA
(Affan Yusra, Ardhaneswari Habiba)………………………………………….
6. Pengembangan keterampilan sosial siswa melalui pemahaman multikultural
dalam bimbingan konseling (Dra. Sri Muji Wahyuti, M.Pd., Kons)…………
7. Rekonstruksi teori konseling sebaya komprehensif (Yuliati Hotifah)…………
8. Pengembangan inventori kesadaran multikultural pada siswa sma sebagai dasar
pembentukan komunikasi yang baik dalam pencapaian masyarakat ekonomi
asean: studi kasus siswa sma di daerah malang (Roro Dwi Umi Badriyah)
……………………..……………………..……………………………………..
9. Maladjusment behavior early childhood :assesment and kognitif intervention
(Muhammad Japar, Purwati )……………………………………………………
10. Mengabaikan Rasionalitas Studi Terhadap Terapi Gangguan Jiwa Berbasis
Recovery-Kognitifdi Padepokan Tirtojiwo Kalinongko Purworejo (Kholil Lur
Rochman
And
Alief
Budiyono)
……………………………………………………………………......................
11. Adaptasi konseling
multikultural berbasis“respectful framework” untuk
mempersiapkan individu berkompeten menghadapi masyarakat ekonomi asean
(mea) (Ma’rifatin Indah Kholili, S.Pd., Mas Adi Putra Anugrah Perdana,
S.Pd.)…………………………………………………………………………….
Topik 6 : Tantangan dan Upaya Peningkatan Profesionalisme Konselor dalam
MEA ……………………………………………………..
1.

2.

3.
4.
5.

6.
7.

Peran Profesi Bimbingan dan Konseling Indonesia Menghadapi Masyarakat
Ekonomi ASEAN (Nur Hidayah) ....................................................................

386

390

397
404
409
415

421
428

436

446

452

452

Multikulturalisme Sebagai Sebuah Pendekatan Konseling Dalam
Menghadapi MEA (Ahmad Jawandi, Linda Dwi Sholikhah)
...........................................................................................................................

460

Tantangan Dan Upaya Peningkatan Profesionalisme Konselor Dalam
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) (Dr. Hj. Sestuningsih MR, M.Pd) ….

464

Bimbingan dan Konseling Pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan
Menengah (Muh Farozin) ...............................................................................

469

Pengembangan Model Manajemen Pendidikan Dan Latihan Untuk
Pengembangan Kompetensi Berkelanjutan Bagi Guru BK (Dra. Dwi Asih
Kumala Handayani, M.Pd.) .............................................................................

481

Berpikir Kritis Sebagai Basis Pembelajaran Untuk Mencapai Kompetensi
Konselor Dalam Rangka Menghadapi MEA (Adi Atmoko) ……………….

487

Kerangka Konseptual Learning Partnership Model (LPM)
Pembelajaran Empati (Henny Indreswari) ........................................

495

Untuk

8.
9.
10.
11.

Factors That Affect Students Interest Consult To The Guidance Counseling
Teaching (Muhammad Japar) .......................................

502

Kajian Konsep Empati Dalam Proses Konseling (Tumewa Pangaribuan)

507

Pentingnya Kualitas Empati Budaya Konselor Dalam Asean Social Cultural
Community (ASCC) (Amelia Atika, M.Pd) …………………………………

512

Counselor For The Preparation Of Qualified Human Resources MEA
(Regina Suciani Purnamasari) ..........................................................................

517

Topik 7 : Profil Konselor Bermartarbat dalam MEA …………………………..

524

1. Profesi Konselor, Tantangan Dalam Menghadapi MEA 2015 (Caraka Putra
Bhakti dan Sitti Ummi Novirizka Hasan ) ………………………………..
524
2. Profesi Konselor Bermartabat Dalam MEA (Kusnarto Kurniawan) ……

530

3. Penguatan Kualitas Integritas Profesional Konselor Indonesia Sebagai
Strategi Kompetitif Dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN
(MEA) (Eko Nusantoro) ……………………………………………….
534
4. Tuntutan Pemenuhan Kompetensi Sebagai Wujud Profesionalistas Guru
BK/Konselor Dalam Menyongsong Persaingan Global (Naharus Surur)…...
539
5. Kualifikasi Konselor Ideal Dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (Dody
Hartanto, Iman Rohiman dan Isfi Iswari Nilakandi) ……………………
546
6. Pribadi Konselor Berbasis Budaya Pontianak Menyongsong Masyarakat
Ekonomi Asean (MEA) 2015 (Rustam dan Hastiani) ………………..
551
7. Performance Kompetensi Konselor Mengatasi Problematika Individu Sedini
Mungkin Dalam Menghadpi MEA (Rahma Wira Nita, M.Pd, Kons. dan
Zulfikar, S.Pd. I. M.Pd.) ………………………………… ………………
557
8. Keefektifan Supervisi Klinis terhadap Penguasaan Kompetensi Profesional
Konselor dalam Konseling (Dr. Sosthenes Malioy, M.Pd)………………
565
9. Profil Konselor Bermartabat dalam Masyarakat Ekonomi Asean Melalui
Praksis “Semangat Pagi” Universitas PGRI Adi Buana Surabaya (Drs. H.
Sutijono, MM, Ervin Nurul Affrida, S.Pd) ……….
573
Topik 8 : Agama, Budaya dan Konseling Bermartabat dalam MEA ………..

581

1. Agama, Budaya dan Konseling Bermartabat Dalam MEA (Dr. Hj. Elfi
Mu’awanah, S.Ag, M.Pd) …………………………………………….
581
2. The Creativity And Creative Industries From Spiritual Religious
Blaivogenic (I Made Darmada) …………………………………………
589
3. Peran Konselor Bimbingan Karier dan Konselor Spiritual Dalam
Meningkatkan Kapabilitas Dan Elektabilitas SDM Melalui Revisi
Kurikulum Dalam Menjawab Tantangan ASEAN Economic Community
(Maria Patricia Tjasmadi, M.Pd.K, Nuliana dan Nelei Oktavianti Sangkong)

…………………………………………………

4. Pengaruh Orientasi Keagamaan Terhadap Perubahan Kepulihan Dalam
Kalangan Penagih Dadah (Dayang Rafidah Binti Wang Osman, Caroline
Lantau Ak Rengga, Bernadette Thien Mui Ling, Nenny Diana Binti Saimi
dan Nurul Hudani Md. Nawi) …………………………………………….
5. Nilai-Nilai Kerja (Work Values) Budaya Minangkabau dan Kontribusinya
Pada Bimbingan dan Konseling Karir Dalam Konteks Masyarakat Ekonomi
ASEAN (MEA) (Muslihati dan Ella Faridati Zen)………………
6. Keterampilan Konseling Islami Dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi
ASEAN (Irvan Budhi Handaka, Astri Komaladewi dan Ulvi Windiardany)
………………………………………………………………….
7. Bahan Bimbingan Sosial Bersumber Ajaran Astabrata Untuk Meningkatkan
Kemampuan Kepemimpinan Pengurus OSIS Sekolah Menengah Atas
(Nanik Sariyani, S.Pd dan Dr. Sutarno, M.Pd.)………….

Topik 9 : Inovasi Konseling dalam Menghadapi MEA…………… . ………..
1. Internet Cognitive Behavioral Religious Spiritual Counseling (ICBRSC) To
Strengthen Self-Efficacy For Infected Person Of HIV/AIDS In Globalized
World (Najlatun Naqiyah) …………………………………………………..
2. Penerapan Grafologi Sebagai Inovasi Konseling Dalam Menghadapi
Masyarakat Ekonomi ASEAN (Drs. Syarifuddin Gani, M.Si, Kons dan
Alrefi,
M.Pd.)
………………………………………………………………………………..
3. Emotion Focussed Cognitive Behavioral Therappy : Pemerkuat Kemanjuran
Cognitive Behavioral Therapy (Arbin Janu Setiyowati) ………………….
4. Pengaruh Emotion Cognition Intervention Capsules Model (ECIC Model)
Terhadap Social Interest (IM Hambali) …………………………………..
5. Implementasi Bimbingan dan Konseling Berbasis Multiple Intellingences
(Telaah Psikologi Kognitif dan Etnografi di STKIP PGRI Pacitan) (Dr. Tatik
Sutarti Surya, M.M) ……………………………..
6. Kotak Perencanaan Karir (KPK) : A Strategy Planning To Asean Economic
Community 2015 (Anisa Mawarni dan Santi Widiasari) ……
7. Construction, Validity And Reliability Of Internet Surfing Frequency
Inventory (IKMI) (Dr. Fauziah Binti Mohd Saad, Prof. Madya Dr.
Mohammad Aziz Shah Bin Mohamed Arip , Devarajan A/L T. Maratha
Pillai,
Gopinath
A/L
Sandra,Nurhaniza
Binti
Abdul).............................................................................................
8. Muhasabah Councelling : As The Strategies Attempt To Improve Spiritual
Intelligience Dealing With MEA (Sugiyadi dan Subiyanto) ……………….
9. Gender Aware Therapy : Pendekatan Baru Dalam Konseling (Muwakhidah,
S.Pd, M.Pd, Cindy Asli Pravesti, S.Pd, M.Pd. dan Boy Soedarmadji)

615

624

631

642

649

657

657

661
666
672

679
688

695
705

………………………………………………………………………
10. Penerapan konseling behavioral dengan teknik modeling Untuk
meningkatkan kecerdasan emosional siswa ( I Made Mahaardhika, SH.,M.Si)
………………………………………………………………………………..
11. Implementasi Strategi Pengubahan Pola Berpikir Untuk Membantu
Menurunkan Prasangka Sosial di Lingkungan Sekolah Pada Siswa Kelas
VIIIC SMPN 2 Baron (Esty Rokhyani dan Sri Mulyono) ………………….
12. Manajemen Bimbingan Konseling di Sekolah Menengah ( Kadek Suhardita,
S.Pd.,M.Pd)…………………………………………………………………….
13. Aplikasi model Pembelajaran Kooperatif dengan Pendekatan Struktural Tipe
Numered-Head-Together (NHT) untuk Meningkatkan Hasil Belajar
Matematika Siswa Kelas VIII a Semester I SMP Negeri 2 Abiansemal ( Drs. I
Nyoman Purna, MM )………………………………………………………….

713

718

723
736

752

1

PEMBERDAYAAN DAN PEMBUDAYAAN MANUSIA INDONESIA MELALUI
KONSELING MEMASUKI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN
Oleh:
PROF.DR.MUNGIN EDDY WIBOWO,M.Pd.,Kons.
Guru Besar Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Semarang
ABSTRAK
Indonesia faces the challenge of global competition in the era of the nation and the ASEAN
Economic Community (AEC) demanding an increase in the quality and productivity of the
educated man. Competitiveness can only be realized by an independent nation, the nation that is
able to implement the policy and program development by relying on its own strength.
Development and information technology, global economic trends, and changes in the structure of
the workforce coupled with the growth of knowledge-based MEA (learning society) requires
improving the quality and productivity of the educated man to remain in existence and able to
compete in a variety of life. Future society and a dignified quality is needed in the face of
competitiveness in the global community and MEA. Competitiveness can only be realized by an
independent nation, the nation that is able to implement the policy and program development by
relying on its own strength. Counseling future in the face of global society (modern) and the MEA
is oriented counseling to people who live in an open world, a free trade area in the region of
Southeast Asia, but it does not mean that people live in a world without foundation in which a
person was born. The future of the ever-evolving demands of counseling services to always adapt
to the needs, desires, problems and also served the demands of the environment in a variety of life
both in the area of Indonesian society, modern society, and society MEA and become the
locomotive of the empowerment process and familiarization of Indonesia . Counseling is a process
of empowerment and developing human acculturation towards independent personality to be able
to establish themselves and society so as to be able to compete in the global community life and
MEA. Counseling is the empowerment of helping people (clients) get the power, strength and
ability to develop themselves, take decisions and actions to be taken and related to the individual
(client), including reducing personal constraints, social, learning, and careers in action. The aim
of empowerment is to form individuals and communities become self-reliant. Counseling is
acculturation, no human culture has no form and no sense of direction. Counseling helps
individuals (clients) build systems Indonesian cultural values in order to become a man of dignity
so that they can compete and biting in the era of modern society and the ASEAN economic
community.
Keywords: counseling, empowerment and human familiarization Indonesia, Asean economic
community
A. PENGANTAR
Dunia abad ke-21 milenium ketiga mengalami akselerasi perubahan yang sangat besar.
Perubahan global yang terjadi dimulai pada abad ke-20 silam begitu besar, begitu dahsyat, dan
begitu mengglobal. Indonesia adalah bagian dari perubahan global itu. Manusia yang hidup di
dalam abad ke-21 milenium ketiga berada di dalam dunia yang jauh berbeda dengan masa
sebelumnya, memasuki fase baru dalam kehidupan umat manusia,dimana kepesatan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam era globalisasi, telah terjadi perubahan
dalam berbagai kehidupan. Dunia berubah dengan sangat cepat dan sangat dahsyat sehingga
munculah suatu proses penyadaran diri dari setiap insan yang hidup di bumi ini, bahwa dia adalah
bagian dari kehidupan yang lebih besar yaitu kehidupan umat manusia yang mempunyai tujuan,
cita-cita, rasa kebersamaan dalam suatu kelompok ataupun dalam ikatan-ikatan suatu negarabangsa. Di dalam suatu masyarakat tradisional, kesadaran akan kehidupan sangat terbatas, dan
oleh sebab itu dunia kehidupannya bergerak dengan sangat lambat. Manusia modern dewasa ini
menembus kehidupan tanpa batas, tanpa waktu, dan tanpa batas-batas geografis. Namun kesadaran

2

manusia modern atas kehidupan yang berubah dengan cepat juga membawanya kepada rasa
keterasingan, dan mungkin kegelisahan, menghadapi perubahan-perubahan yang begitu cepat.
Keberadaan manusia modern ialah keberadaan di dalam suatu masyarakat yang penuh risiko,
demikian pendapat Ulrich Beck.
Negara-negara ASEAN mulai memberlakukan kawasan perdagangan bebas diwilayah Asia
Tenggara pada tahun 2015 yang disebut Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). MEA adalah
bentuk integrasi ekonomi ASEAN dalam artian adanya system perdagaangan bebas antara negaranegara ASEAN. Indonesia dan sembilan negara anggota ASEAN lainnya telah menyepakati
perjanjian Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN Economic Community (AEC).
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan membentuk ASEAN sebagai pasar dan basis produksi
tunggal membuat ASEAN lebih dinamis dan kompetitif dengan mekanisme dan langkah-langkah
untuk memperkuat pelaksanaan baru yang ada inisiatif ekonomi; mempercepat integrasi regional
di sektor-sektor prioritas; memfasilitasi pergerakan bisnis, tenaga kerja terampil dan bakat; dan
memperkuat kelembagaan mekanisme ASEAN. Dengan hadirnya ajang MEA ini, Indonesia
memiliki peluang untuk memanfaatkan keunggulan skala ekonomi dalam negeri sebagai basis
memperoleh keuntungan. Namun demikian, Indonesia masih memiliki banyak tantangan dan
risiko-risiko yang akan muncul bila MEA telah diimplementasikan. Oleh karena itu, masyarakat
Indonesia diharapkan dapat lebih peka terhadap fluktuasi yang akan terjadi agar dapat
mengantisipasi risiko-risiko yang muncul dengan tepat. Selain itu, kolaborasi yang baik antara
otoritas negara dan para pelaku usaha diperlukan, infrastrukur baik secara fisik dan sosial (hukum
dan kebijakan) perlu dibenahi, serta perlu adanya peningkatan kemampuan serta daya saing tenaga
kerja dan lembaga-lembaga di Indonesia. Jangan sampai Indonesia hanya menjadi penonton di
negara sendiri.
Dengan diberlakukannya MEA, akan terjadi sebuah wilayah kesatuan pasar bebas dan basis
produksi dengan kompetisi di semua sektor yang sangat tinggi. Konsekuensi lain adalah akan
terjadi kompetisi kualitas di bidang produksi barang dan jasa serta tingkat kompetisi di bidang skill
dan tenaga kerja profesional. Dunia pendidikan yang termasuk penyedia tenaga profesional akan
terkena imbas. Kualitas lulusan yang dihasilkan dituntut mampu kompetitif di bidangnya. Tidak
dipungkiri bidang industri dan jasa teknologi akan sangat terlibat dalam proses ini dalam pusaran
arus kegiatan ekonomi barang-barang perdagangan dari industri hulu,hilir penanganan rantai
suplai, dan penyimpanan barang,hingga bidang sarana dan prasarana yang menunjang arus
pergerakan perdagangan.
Indonesia menghadapi tantangan persaingan bangsa di era global dan MEA menuntut
peningkatan mutu dan produktivitas manusia terdidik. Daya saing hanya dapat diwujudkan oleh
sebuah bangsa yang mandiri, yaitu bangsa yang mampu melaksanakan kebijakan dan program
pembangunan dengan mengandalkan kekuatan sendiri. Perwujudan kemandirian bangsa hanya
dapat diwujudkan melalui pendidikan bermutu, relevan,dan berkeadilan. Pendidikan harus dapat
berfungsi sebagai katalisator pembangunan nasional di berbagai bidang. Sebagai bagian integral
dari suatu sistem perekonimian negara,pendidikan harus dapat menghasilkan tenaga terdidik yang
cakap,kreatif,dan profesional agar menjadi pelaku ekonomi yang produktif dan
berkelanjutan.Sebagai manusia produktif, tenaga terdidik harus memiliki bekal kemampuan yang
memadai baik untuk bekerja maupun berusaha sendiri.
Pembangunan sistem pendidikan nasional di Indonesia harus dapat menghasilkan lulusan
yang berkualitas, maju,mandiri,dan tanggap terhadap tuntutan zaman yang berubah. Tantangan ini
telah mendorong Indonesia untuk memperluas wawasan konsep mutu manusia Indonesia bukan
hanya dalam aspek material (penguasaan iptek), tetapi juga manusia dalam dimensi sosial-budaya,
nilai karakter, dan kreativitas agar menjadi sumber penggerak untuk mengembangkan
produktivitas dan kemakmuran masyarakat.
Kita sebagai bangsa, warga negara dan masyarakat Indonesia, sekarang hidup dalam dunia
yang kompleks, sibuk, terus berubah, dan penuh tantangan dalam upaya untuk mencapai

3

perkembangan diri yang optimal, kemandirian, dan kebahagiaan dalam kehidupan. Di dunia ini,
ada banyak pengalaman yang sulit dihadapi oleh seseorang dalam kehidupannya, namun terus
menjalani hidup ini, meskipun ada saatnya terhenti oleh sebuah peristiwa atau situasi yang tidak
dapat dipecahkan pada saat itu. Biasanya, dalam menghadapi masalah seperti ini, seseorang akan
membicarakannya dengan keluarga, teman, tetangga, atau dokter keluarga. Sayangnya, seringkali
saran mereka tidak cukup memuaskan, atau kita terlalu malu dan segan untuk memberitahukan
kepada mereka apa yang mengganggu, atau bisa saja kita memang tidak memiliki orang yang tepat
untuk membicarakannya. Pada saat itulah, profesi konselor merupakan pilihan yang tepat dan
sangat berguna dalam memenuhi kebutuhan individu dalam mencapai perkembangan optimal,
kemandirian, dan kebahagiaan dalam kehidupan, sehingga dapat diwujudkan kehidupan efektif
dan normatif dalam keseharian. Konselor berada di banyak tempat baik dalam setting pendidikan
formal, pendidikan nonformal, dan pendidikan informal yang murah biayanya, bahkan terkadang
gratis.
Konselor sebagai pendidik profesional melakukan pelayanan konseling sebagai salah satu
upaya pendidikan untuk membantu individu memperkembangkan diri secara optimal sesuai
dengan tahap-tahap perkembangan dan tuntutan lingkungan. Konseling sebagai profesi bantuan
diperuntukan bagi individu-individu normal yang sedang menjalani proses perkembangan sesuai
dengan tahap-tahap perkembangan agar mencapai perkembangan optimal, kemandirian dan
kebahagiaan dalam menjalani berbagai kehidupan. Konseling membantu individu
mengaktualisasikan dirinya secara optimal dalam aspek kecerdasan intelektual, kecerdasan
emosional, kecerdasan spiritual, kecerdasan sosial, dan kecerdasan kinestetik, sehingga akan dapat
diwujudkannya manusia yang berhasil sebagai pribadi mandiri (mahluk individu), sebagai elemen
dari sistem sosial yang saling berinteraksi dan mendukung satu sama lain (mahluk sosial), dan
sebagai pemimpin bagi terwujudnya kehidupan yang lebih baik di muka bumi (mahluk Tuhan).
Konseling sebagai profesi bantuan (helping profession) adalah konsep yang melandasi peran dan
fungsi konselor di masyarakat dewasa ini.
Pelayanan bimbingan dan konseling di satuan pendidikan akan dapat diwujudkan oleh
Kinerja Guru bimbingan dan konseling (Guru BK) atau konselor profesional, bermartabat dan
berwawasan masa depan sehingga akan mampu memberdayakan dan membudayakan manusia
memasuki sebuah wilayah kesatuan pasar bebas dan basis produksi dengan kompetisi di semua
sektor yang sangat tinggi yaitu MEA. Guru BK atau Konselor dalam kinerjanya harus dapat
menjamin tumbuh suburnya profesi dan menjadikan profesi konseling menjadi profesi yang
bermartabat, yaitu pelayanan yang diberikan benar-benar bermanfaat, pelaksana bermandat, dan
diakui secara sehat oleh pemerintah dan masyarakat. Guru BK atau konselor harus berusaha
memenuhi standar profesi guru BK atau konselor agar pelayanan bimbingan dan konseling yang
dilakukan oleh Guru BK atau konselor dapat merebut kepercayaan publik (public trust) melalui
peningkatan kinerja Guru BK atau konselor dalam pelayanan bimbingan dan konseling
bermartabat. Hasil yang diharapkan dari pelayanan konseling adalah kemandirian dan kemampuan
manusia Indonesia untuk mampu berkompetisi dalam masyarakat global dan MEA sehingga akan
tetap eksis dalam kehidupannya sepanjang masa. Masa depan yang selalu berkembang menuntut
pelayanan konseling untuk selalu menyesuaikan diri dengan kebutuhan, keinginan, permasalahan
pihak yang dilayani dan juga tuntutan lingkungan dalam berbagai kehidupan baik di kawasan
masyarakat Indonesia, masyarakat modern, dan masyarakat MEA serta menjadi lokomotif dari
proses pemberdayaan dan pembudayaan bangsa Indonesia.
B. MASYARAKAT MASA DEPAN
Perkembangan teknologi dan informasi, kecenderungan ekonomi global, dan perubahan
struktur dunia kerja dibarengi dengan tumbuhnya MEA yang berbasis pengetahuan (learning
society) menuntut peningkatan mutu dan produktivitas manusia terdidik agar tetap eksis dan
mampu berkompetisi dalam berbagai kehidupan. Masyarakat berbasis ilmu pengetahuan

4

merupakan wajah masyarakat dunia masa depan. Masyarakat seperti ini memiliki kebutuhan untuk
menciptakan pendidikan dan pelatihan dalam sistem belajar sepanjang hayat (lifelong learning)
yang menawarkan kepada setiap warga masyarakat fasilitas belajar untuk beradaptasi kepada
pengetahuan dan keterampilan mutakhir. Kemuktakhiran ini menjadi amat penting, karena dunia
kerja dan kehidupan menuntut semua orang, baik secara perseorangan maupun organisasi untuk
selalu memutakhirkan pengetahuan, wawasan, dan keterampilannya agar bisa tetap eksis dan
memiliki ketahanan di dalam dunia global ini. Masyarakat yang tidak menguasai ilmu pengetahuan
akan tercecer bahkan menjadi budak dari masyarakat yang menguasai ilmu pengetahuan dan
teknologi.
Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang berkembang, yaitu berada dalam masa transisi
dari masyarakat tradisional menuju ke masyarakat modern. Masyarakat Indonesia dipengaruhi
oleh arus globalisasi dan perkembangan teknologi dan informasi, serta arus pasar bebas di
kawasan Asia tenggara, sehingga kemungkinan bertemunya orang-orang dari berbagai belahan
dunia semakin besar pula. Pertemuan yang bukan hanya antar orang-perorang semata, melainkan
sesungguhnya juga antar budaya dengan berbagai keragamannya. Masyarakat Indonesia sebagai
masyarakat multikultural yang kesadaran akan kehidupan sangat terbatas dan oleh sebab itu pula
dunia kehidupannya bergerak dengan sangat lambat. Dengan pengaruh arus globalisasi masyarakat
Indonesia menjadi masyarakat modern yang dapat menembus kehidupan tanpa batas, tanpa waktu,
dan tanpa batas geografis. Namun, ketermelekan masyarakat modern atas kehidupan yang berubah
cepat juga membawanya pada rasa keterasingan, dan mungkin kegelisahan menghadapi
perubahan-perubahan yang begitu cepat. Keberadaan manusia modern ialah keberadaan di dalam
suatu masyarakat yang penuh risiko, masyarakat yang berubah dengan cepat meminta manusia
mengambil sikap, mengadakan pilihan yang tepat untuk hidupnya atau dia hanyut bersama-sama
dengan perubahan tersebut. Oleh karena itu diperlukan adanya konselor yang mampu memberikan
pelayanan konseling dalam menyiapan manusia Indonesia berkualitas untuk menghadapi masa
depan.
Masa depan ialah suatu masa atau kondisi yang berada di depan manusia, akan tetapi kondisi
tersebut biasanya digunakan untuk waktu yang panjang, mungkin juga tidak terbatas dan kadangkadang masih bersifat abstrak. Masa depan untuk jangka pendek biasanya digunakan istilah besok,
besok lusa, bulan depan atau tahun depan. Masa depan adalah masa yang penuh perubahan, penuh
risiko, sangat kompleks, penuh tantangan, dan penuh peluang yang harus kita hadapi dengan
kualitas dirinya dan mampu berkompetisi.
Masyarakat masa depan, adalah masyarakat yang menatap masa depan, masyarakat yang
mampu mengantisipasi masa depan, yaitu melihat jauh kedepan dan siap mengarungi kehidupan
masa depan sehingga akan tetap eksis di dalam menjalani penuh kompetisi dan megakompetisi.
Antisipasi jauh ke depan sangat penting mengingat bahwa dalam zaman modern ini perubahan
kehidupan ekonomi, sosial, dan politik terjadi dengan sangat cepat. Ini akibat dari cepatnya
perkembangan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Masa depan yang dibawa oleh proses globalisasi dan proses pasar bebas di kawasan ASEAN
adalah masyarakat yang berdasarkan ilmu pengetahuan (knowledge based society). Masyarakat
masa depan tersebut adalah masyarakat yang berubah dan didasarkan pada penemuan-penemuan
yang meningkatkan taraf hidup manusia. Sikap inovatif merupakan syarat yang perlu
dikembangkan dalam pendidikan termasuk juga dalam konseling. Sikap inovatif memerlukan
manajemen waktu (time management) dalam bekerja, kualitas terkontrol dalam pekerjaan, serta
sikap keterbukaan untuk mencari yang lebih baik. Suatu masyarakat berdasarkan ilmu
pengetahuan adalah suatu masyarakat komunikatif. Oleh karena itu penguasaan bahasa dunia serta
bahasa komputer merupakan syarat mutlak dalam kemajuan suatu masyarakat.
Menghadapi perubahan kehidupan abad 21 dan MEA di masa depan, manusia dituntut untuk
mampu melakukan kompetisi dan bahkan mega-kompetisi di dalam seluruh kehidupan manusia.
Mega-kompetisi tersebut adalah dorongan untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia,

5

dengan kualitas tersebut orang saling bersaing satu dengan yang lain. Manusia modern yang hidup
dalam masyarakat yang penuh risiko, harus cepat mengambil sikap, mengadakan pilihan yang
tepat untuk hidupnya atau dia hanyut bersama-sama dengan perubahan tersebut. Suatu masyarakat
yang berisiko adalah ciri utama masyarakat masa depan. Dalam menghadapi masyarakat yang
penuh risiko tersebut kita dapat mengambil sikap yang ragu-ragu atau pesimis atau sikap
optimisme untuk menghadapi perubahan.
Masyarakat masa depan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi belum cukup untuk
membangun masyarakat yang sejahtera dan damai. Masyarakat itu adalah masyarakat madani yang
berkembang berdasarkan kehidupan yang mengakui akan hak asasi manusia dan partisipasi setiap
anggotanya di dalam membangun masyarakatnya. Inilah masyarakat demokratis yang mengakui
akan hak-hak asasi manusia, hidup penuh toleransi dan saling menghargai. Dengan demikian
penguasaan ilmu pengetahuan dan penerapan teknologi tidak diarahkan kepada pemusnahan
peradaban manusia tetapi terarah kepada kehidupan dunia yang lebih baik, aman, saling
pengertian,dan saling menghargai.
Ilmu pengetahuan dan teknologi haruslah diarahkan kepada kehidupan bermoral manusia.
Oleh karena itu esensi nilai dalam masyarakat global dan MEA menjadi amat penting, dalam
kondisi manusia menghadapi ketidakpastian (uncertainty) dan bahkan kesemrawutan (chaos) yang
bisa membuat nilai-nilai rujukan yang ada menjadi amat rentan terhadap pengaruh nilai-nilai baru
yang dangkal dan instrumental. Di sinilah manusia perlu belajar memahami dan memaknai nilai
agar nilai rujukan yang diikutinya tidak semata-mata nilai transformasi kultural tetapi dimaknai
secara kontekstual. Dikatakan oleh Frankl (1985) bahwa pencarian makna pada diri manusia
merupakan motivasi primer di dalam kehidupannya dan bukan rasionalisasi sekunder dari
dorongan instinktif. Makna ini unik dan spesifik yang harus dan hanya bisa dipenuhi oleh dirinya
sendiri; dan terjadi dalam semua aspek kehidupan (Zohar & Marshall,2000).
Fenomena atau kebutuhan search for meaning ini akan menjadi warna lain dalam kehidupan
masyarakat global dan kehidupan masyarakat ekonomi ASEAN. Pergeseran makna terjadi dari
makna yang melekat secara kultural (culturally embedded) yang bersifat take for granted kepada
makna sebagai burning issue di dalam kehidupan. Ini terjadi karena manusia tidak pernah
memahami dan melihat secara jelas atau setidak-tidaknya mengalami kebimbangan akan given
meaning (Zohar&Marshall,2000) yang ada dalam kehidupannya. Kultur modern ini merupakan
kultur kebisuan spiritual.
Masyarakat masa depan yang bermutu dan bermartabat sangat dibutuhkan dalam menghadapi
daya saing dalam masyarakat global dan masyarakat ekonomi ASEAN. Daya saing hanya dapat
diwujudkan oleh sebuah bangsa yang mandiri, yaitu bangsa yang mampu melaksanakan kebijakan
dan program pembangunan dengan mengandalkan kekuatan sendiri. Kekuatan eksistensi
masyarakat Indonesia masa depan muncul sebagai akibat interaksi timbal balik antara kinerja
bermutu dan bermartabat dengan kepercayaan publik (public trust). Masyarakat dunia dan
ASEAN percaya bahwa masyarakat Indonesia memiliki kompetensi yang handal dan diperlukan
dapat diperoleh dari masyarakat Indonesia yang dipersepsikan sebagai masyarakat yang kompeten
dan bermartabat dalam menjalani kehidupan masa depan.
Indonesia membutuhkan peran manusia yang berkualitas yang akan berperan bukan hanya
sebagai pekerja, tetapi juga kekuatan penggerak pembangunan (driving force). Manusia Indonesia
yang berkualitas akan mendorong terbentuknya suasana saling memperkuat, saling membentuk,
saling memupuk, dan terjalin secara terpadu di dalam suatu kehidupan bangsa yang harmonis.
Manusia Indonesia berkualitas harus mempunyai kompetensi dalam dua dimensi sekaligus, yaitu
kompetensi teknis dan kecakapan nonteknis. Kompetensi dalam dimensi teknis meliputi
kemampuan,keahlian, dan profesionalitas yang menjadi prasyarat mutlak untuk mencapai
kemampuan daya saing bangsa di era masyarakat global dan era MEA. Kecakapan nonteknis
meliputi nilai dan perilaku modern serta kreativitas yang akan berdampak sangat besar terhadap
produktivitas.Kedua kompetensi mutlak diperlukan dalam ekonomi industrial. Pergeseran dari

6

masyarakat tradisional ke masyarakat modern selanjutnya ke masyarakat pembelajar akan
berimplikasi terhadap terjadinya transisi ketenagakerjaan atau kualitas tenaga kerja.
Kompleksitas masyarakat global dan MEA yang ditandai perubahan-perubahan tersebut
memberikan implikasi terhadap pelaksanaan pendidikan. Di satu sisi pendidikan tidak mungkin
memberikan segalanya, sedangkan di sisi lain pendidikan tidak hanya mengembangkan nilai-nilai
instrinsik tetapi juga nilai-nilai instrumental dan transcendental. Implikasi lebih lanjut bahwa
proses pembelajaran harus memberikan tempat kepada proses pemberdayaan diri sendiri, berawal
dari diri sendiri, atas dasar paradigma, karakter, dan motif sendiri. Implikasi lainnya adalah
keserasian pribadi-lingkungan menjadi dinamika sentral keberfungsian individu di dalam sistem
pendidikan. Terkandung makna bahwa dalam transaksi individu dengan lingkungan terjadi proses
perkembangan, perubahan, perbaikan, dan penyesuaian perilaku yang terarah kepada
pengembangan kemampuan mengendalikan proses sistem yang cukup kompleks. Kemampuan dan
kesiapan individu untuk melakukan pengarahan diri (self-direction), pengaturan diri (selfregulation), dan pembaharuan diri (self-renewal), adalah perilaku yang harus dikembangkan
melalui pelayanan konseling yang bermutu untuk memelihara keserasian pribadi-lingkungan
secara dinamis.
Dalam menghadapi tantangan perubahan ini, setiap manusia di Indonesia harus memiliki
kemampuan adaptasi yang tinggi, melalui penguasaan apa yang disebut perangkat ―meta
competencies‖ (McMahon,2008) yang terkait dengan proses pembelajaran, manajemen hidup, dan
komunikasi yang berlangsung dalam seluruh perjalanan hidup. Sebagai contoh Australian
Blueprint for Career Development (ABCD) (dalam McMahon,2008) mengidentifikasi ada sebelas
kompetensi manajemen karir dalam tiga bidang yaitu:
1. Bidang Manajemen Personal, meliputi:
a. membangun dan memelihara citra diri,
b. berinteraksi secara positif dan efektif dengan pihak lain,
c. berubah dan tumbuh dalam hidup;
2. Bidang Eksplorasi Pembelajaran dan Bekerja,meliputi:
a. berpartisipasi dalam belajar sepanjang hayat yang mendukung karir,
b. memanfaatkan informasi karir secara tepat,
c. memahami hubngan antara bekerja, masyarakat, dan ekonomi;
3. Bidang Membangun Karir, meliputi:
a. menjaga dan mengkreasikan pekerjaan,
b. membuat keputusan perkembangan karir,
c. menjaga keseimbangan antara peran hidup dan bekerja,
d. memahami peran hidup dan peran kerja,
e. memahami dan bertindak dalam mengelola proses membangun karir.
Visi masa depan sangat diperlukan untuk melihat dan menyusun langkah-langkah yang
relevan untuk mencapai manusia dan masyarakat Indonesia menghadapi transformasi masa depan
dengan mengubah bentuk-bentuk kehidupan manusia serta sumber daya yang diperlukan untuk
dapat mengikuti perubahan sosial-ekonomi-politik masa depan di dunia terbuka dengan tetap
menjunjung nilai-nilai budaya bangsa dan karakter bangsa. Masa depan yang ingin diciptakan
melalui pendidikan adalah mengembangkan kemampuan dan watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, serta berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak
mulai, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggungjawab (UU Nomor 20 Tahun 2005 tentang Sisdiknas). Dalam kaitannya ini
pengembangan sumber daya manusia (SDM) Indonesia merupakan kunci dari sukses tidaknya
potensi Indonesia untuk menempati dan memasuki dunia di abad 21 dan kawasan perdagangan
bebas di wilayah Asia Tenggara.

7

C. PERAN KONSELING DALAM PEMBERDAYAAN DAN PEMBUDAYAAN
MANUSIA MEMASUKI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN
Konseling masa depan dalam menghadapi masyarakat global (modern) dan masyarakat
ekonomi ASEAN (MEA) adalah konseling yang berorientasi kepada manusia yang hidup di dalam
dunia terbuka, kawasan perdagangan bebas diwilayah Asia Tenggara, tetapi bukan berarti manusia
hidup di dalam dunia tanpa fundasi di mana seseorang itu dilahirkan. Peran konseling adalah
membantu menyiapkan anak-anak bangsa untuk menghadapi masa depan dan menjadikan bangsa
ini bermartabat di antara bangsa-bangsa lain di dunia ini. Masa depan yang selalu berkembang
menuntut pelayanan konseling untuk selalu menyesuaikan diri dengan kebutuhan, keinginan,
permasalahan pihak yang dilayani dan juga tuntutan lingkungan dalam berbagai kehidupan baik di
kawasan masyarakat Indonesia, masyarakat modern, dan masyarakat MEA serta menjadi
lokomotif dari proses pemberdayaan dan pembudayaan bangsa Indonesia. Konseling harus bisa
membantu dalam membentuk masa depan bangsa melalui berbagai jenis layanan konseling
bermartabat yang dilakukan oleh konselor-konselor yang profesional yang kompeten dalam
menjalankan tugasnya.
Dalam konteks globalisasi dan kawasan pasar bebas di Asia Tenggara dengan
diberlakukannnya MEA, konseling perlu membantu individu-indiivdu yang dilayani (klien) untuk
memahami eksistensi bangsa dalam kaitannya dengan eksistensi bangsa-bangsa lain dan segala
persoalan dunia. Indonesia tidak bisa lagi menutup diri dan menghalangi masuknya pengaruh
masyarakat dunia dan masyarakat kawasan asia tenggara terkait dengan pasar bebas. Ini tidak
berarti, kita membiarkan diri hanyut dalam arus dunia dan menerima segala pengaruh asing.
Seperti yang dikatakan oleh Mahatma Gandhi, ―Saya tidak ingin rumah saya ditemboki pada
semua bagian dan jendela saya tutup. Saya ingin budaya-budaya dari semua tempat berembus di
seputar rumah saya sebebas mungkin. Tetapi saya menolak untuk terbawa dan terhempaskan‖
(seperti dikutip dalam Kachru,1983). Masyarakat Indonesia tidak dapat meninggalkan tradisi,
tetapi terbuka untuk transformasi dirinya dan kebudayaannya melalui proses akulturasi dan
enkulturasi dalam kebudayaannya sendiri.
Konseling adalah proses pemberdayaan dan pembudayaan manusia yang sedang berkembang
menuju kepribadian mandiri untuk dapat membangun dirinya sendiri dan masyarakat sehingga
akan mampu berkompetisi dalam kehidupan masyarakat global dan MEA. Konsekuensinya adalah
proses konseling itu harus mampu menyentuh dan mengendalikan berbagai aspek perkembangan
manusia untuk mencapai perkembangan optimal, kemandirian dalam kehidupan, serta kemampuan
untuk melakukan kompetisi dalam kehidupan masyarakat global dan MEA. Terkandung makna
disini bahwa melalui proses konseling diharapkan manusia berkembang ke arah bagaimana dia
harus menjadi dan berada. Jika konseling ini dipandang sebagai suatu upaya untuk membantu
manusia menjadi apa yang bisa diperbuat dan bagaimana dia harus menjadi dan berada, maka
konseling harus bertolak dari pemahaman tentang hakikat manusia. Konselor perlu memahami
manusia dalam segala hal aktualisasinya, kemungkinannya, dan pemikirannya, bahkan memahami
perubahan yang dapat diharapkan terjadi pada diri manusia.
Konseling identik dengan kehidupan. Konseling adalah kehidupan itu sendiri. Konseling
adalah proses kehidupan dan bukan proses untuk mempersiapkan hidup. Hidup yang sewajarnya
adalah hidup di mana manusia dapat mengembangkan diri dan mewujudkan diri sebagai mahluk
individu, sebagai mahluk sosial dan sebagai mahluk beragama. Pendidikan adalah perwujudan diri
(Wilds & Lottich,1961:246) ini berarti bahwa konseling sebagai bagian pendidikan juga berusaha
untuk membantu manusia untuk dapat memberdayakan dirinya dalam melakukan perwujudan diri
sehingga akan menjadi eksis dalam kehidupan. Konseling adalah upaya untuk membantu individuindividu yang sedang dalam proses perkembangan untuk mencapai tugas perkembangannya
sehingga akan menjadi manusia yang berdaya dan berbudaya bangsa Indonesia. Tugas
perkembangan adalah suatu tugas yang muncul pada atau kira-kira pada saat tertentu dalam jalan
hidup individu, yang apabila tugas itu dapat dilaksanakan dengan berhasil akan membawa

8

kebahagiaan dan keberhasilan dalam melaksanakan tugas selanjutnya; sedangkan kegagalan
melaksanakannya menyebabkan ketidakbahagiaan pada diri individu yang bersangkutan,
membawakan penolakan masyarakat pada dirinya, dan kesulitan-kesulitan dalam melaksanakan
tugas berikutnya (Havighurst,1961:2).
Konseling merupakan kegiatan yang esensial di dalam setiap kehidupan masyarakat modern
dan masyarakat ekonomi ASEAN yang penuh dengan risiko dalam kehidupannya. Konseling tidak
mungkin terjadi dan terlepas dari kehidupan bermasyarakat dimana individu-individu yang
dilayani hidup dalam lingkungan masyarakat yang berbudaya. Oleh karena itu setiap masyarakat
mempunyai kebudayaannya, maka konseling merupakan suatu kegiatan budaya, karena dalam
proses konseling akan terjadi perjumpaan budaya antara budaya konselor dan budaya klien.
Namun, konsep maupun praksis mengenai konseling dan kebudayaan belum semuanya melihat
keterkaitan yang organis antara konseling dan kebudayaan.
Konseling adalah proses pemberdayaan dan pembudayaan manusia yang sedang berkembang
menuju kepribadian mandiri untuk dapat membangun dirinya sendiri dan masyarakat.
Konsekuensinya adalah proses konseling itu harus mampu menyentuh dan mengendalikan
berbagai aspek perkembangan manusia. Terkandung makna disini bahwa melalui proses konseling
diharapkan manusia berkembang ke arah bagaimana dia harus menjadi dan berada. Jika konseling
ini dipandang sebagai suatu upaya untuk membantu manusia menjadi apa yang bisa diperbuat dan
bagaimana dia harus menjadi dan berada, maka konseling harus bertolak dari pemahaman tentang
hakikat manusia. Konselor perlu memahami manusia dalam segala hal aktualisasinya,
kemungkinannya, dan pemikirannya, bahkan memahami perubahan yang dapat diharapkan terjadi
pada diri manusia.
Istilah ―pemberdayaan‖ atau empowerment, yang akhir-akhir ini banyak digunakan, tepat
dikaitkan dengan tujuan konseling. Pemberdayaan berasal dari kata ―daya‖ yang mendapat awalan
ber- yang menjadi kata ―berdaya‖ artinya memiliki atau mempunyai daya. Daya artinya kekuatan,
berdaya artinya memiliki kekuatan. Pemberdayaan artinya membuat sesuatu menjadi berdaya atau
mempunyai daya atau mempunyai kekuatan. Istilah empowerment berhubungan dengan istilah
power. Power dapat berarti ―kekuasaan terhadap‖ atau dominasi terhadap (powerover). Dalam
pembahasan ini yang dimaksud power dalam pengertian power to, yaitu daya kekuatan untuk
berbuat; power-with, yaitu daya kekuatan untuk membangun kerja sama, dan power-within, yaitu
kekuatan dalam diri pribadi manusia. Konseling dapat dilihat sebagai empowerment atau
pemberdayaan, yaitu membantu pertumbuhan ketiga macam daya kekuatan yang ada pada diri
individu yang menjadi sasaran layanan (klien).
Pertama, konseling membantu individu membangun power-to, yaitu daya kekuatan yang
kreatif, yang membuat seseorang mampu melakukan sesuatu. Ini merupakan aspek individual dari
pemberdayaan, yaitu membantu seseorang agar memiliki kemampuan berpikir, menguasai ilmu
pengetahuan dan teknologi, untuk mengambil keputusan, memecahkan masalah dan membangun
berbagai keterampilan. Konseling sebagai pemberdayaan yaitu membantu individu (klien) agar
dapat mengambil tanggung jawab atas kehidupannya, memberi inspirasi agar individu (klien)
dapat mengembangkan perasaan harga diri dan kesediaan untuk mengambil sikap, berani bersikap
kritis terhadap dirinya, dan reflektif terhadap tindakannya.
Kedua, konseling sebagai
pemberdayaan adalah usaha untuk membantu membangun power-with, kekuatan bersama,
solidaritas atas dasar komitmen pada tujuan dan pengertian yang sama, untuk memecahkan
permasalahan yang dihadapi guna menciptakan kesejahteraan bersama. Dengan kata lain,
konseling juga membangun komunitas, memperkuat hubungan antarmanusia. Dapat dikatakan
konseling bertujuan menciptakan suatu caring society, suatu komunitas persaudaraan yang
memperhatikan kepentingan semua pihak. Ketiga, konseling sebagai pemberdayaan bertujuan
untuk membangun power-within, daya kekuatan batin dalam diri peserta didik, khususnya harga
diri, kepercayaan diri dan harapan akan masa depan. Ini merupakan kekuatan di atas mana
individu (klien) dapat membangun kepribadian. Tanpa adanya harga diri, tidak mungkin manusia

9

membangun kemampuan kreativitasnya dalam berbagai bidang. Perkembangan intelektual, moral,
dan emosional dalam diri manusia hanya mungkin atas dasar harga diri, kepercayaan, dan harapan
masa depan yang harus ditanamkan sejak dini.
Pengembangan ketiga kemampuan dalam pemberdayaan akan memungkinkan manusia
menghadapi berbagai perubahan yang terjadi, tanpa terseret ke dalam arus konformisme.
Perkembangan masyarakat Indonesia dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern dan MEA
membawa berbagai perubahan orientasi kehidupan manusia. Perubahan yang cepat di berbagai
bidang, karena pengaruh global dan pengaruh perdagangan bebas dikawasan Asia Tenggara yaitu
diberlakukannya masyarakat ekonomi asean, akan menghadapkan manusia kepada berbagai
pilihan baru, seperti sikap, gaya hidup, sistem nilai,keyakinan, dan lain-lain. Perubahan tidak
determinitis, karena manusia dapat mengambil sikap dari perubahan tersebut. Pemberdayaan akan
memampukan individu (klien) sebagai manusia yang sedang berkembang untuk berani mengambil
sikap kritis. Oleh karena itu intervensi melalui pelayanan konseling kepada individu-individu
(klien) yang sedang berkembang dalam menghadapi masyarakat global dan MEA diperlukan agar
mampu secara kreatif beradaptasi dengan perubahan. Konseling bertujuan membantu individuindividu (klien) untuk siap menghadapi perubahan dan beradaptasi dengan perubahan yang dibawa
oleh arus global dan MEA.
Konseling adalah pemberdayaan yaitu membantu individu (klien) mendapatkan daya,
kekuatan dan kemampuan untuk mengembangkan diri, mengambil keputusan dan tindakan yang
akan dilakukan dan berhubungan dengan diri individu (klien) tersebut, termasuk mengurangi
kendala pribadi, sosial, belajar, dan karir dalam melakukan tindakan. Tujuan yang ingin dicapai
dari pemberdayaan adalah untuk membentuk individu dan masyarakat menjadi mandiri.
Kemandirian tersebut meliputi kemandirian berpikir, bertindak dan mengendalikan apa yang
mereka lakukan. Kemandirian merupakan suatu kondisi yang dialami oleh individu (klien) yang
ditandai dengan kemampuan memikirkan, memutuskan serta melakukan sesuatu yang dipandang
tepat demi mencapai terpenuhinya kebutuhan dan/atau pemecahan masalah yang dihadapi dengan
mempergunakan daya/kemampuan yang dimiliki.
Konseling adalah pembudayaan, tanpa kebudayaan manusia tidak memiliki wujud dan tidak
memiliki arah. Seluruh spektrum kebudayaan—sistem kepercayaan, bahasa, seni, sejarah,dan ilmu
serta nilai-nilai yang terkandung didalamnya dialihkan dari satu generasi ke generasi lalin melalui
proses pendidikan dalam arti luas, dan proses konseling dalam arti sempit. Konseling sebagai
proses pengalihan pengetahuan dan keterampilan dengan nilai-nilai budaya. Orientasi nilai-nilai
budaya pada gilirannya menjelmakan perilaku manusia sebagai anggota masyarakat dengan
peradabannya yang khas. Konseling adalah pembudayaan, yaitu proses pemberian (transfer) nilainilai budaya dan agama kepada seseorang, sehingga yang bersangkutan memiliki perilaku yang
sopan, berbudaya, bermoral dan beretika. Konseling merupakan kegiatan yang esensial di dalam
setiap kehidupan klien yang sedang berkembang mencapai perkembangan optimal dan
kemandirian. Konselor dalam menjalankan konseling tidak mungkin terjadi dan terlepas dari
kehidupan masyarakat. Oleh karena itu setiap masyarakat mempunyai kebudayaannnya, maka
konselor dalam memberikan konseling merupakan suatu kegiatan budaya dan membantu individuindividu (klien) untuk berbudaya. Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki
bersama oleh sekelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari
banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas,
pakaian, bangunan, dan karya seni. Konselor yang berusaha berkomunikasi dengan individuindividu yang berbeda budaya akan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, dan membuktikan
bahwa budaya itu dipelajari untuk menjadikan dirinya berbudaya.
Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, keyakinan, kesenian, moral,
hukum, adat-istiadat, kemampuan serta kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota
masyarakat (Tylor,1924). Kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil
karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan cara

10

belajar. Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa kebudayaan sebagai buah budi manusia, yaitu
hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yaitu zaman dan alam yang merupakan
bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran dalam hidup dan
penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib
dan damai.
Kebudayaan bersifat insani, artinya bahwa kebudayaan adalah hasil karya manusia,
diciptakan oleh manusia, dan kebudayaan ikut membentuk manusia di dalam kehidupan serta
kekaryaannya. Tanpa arah kebudayaan perilaku manusia tak terkendali, suatu chaos tindakan tanpa
arah dan letupan emosi semata, pengalaman yang tidak terbentuk. Kebudayaan bukan hiasan
eksistensi manusia, tetapi kondisi esensial bagi eksistensi manusia yang terjadi melalui proses
pendidikan. Kebudayaan merupakan ciptaan manusia, hasil dari eksternalisasi manusia, yaitu
ekspresi diri manusia dalam interaksinya dengan lingkungan; kebudayaan menjadi realitas
obyektif, yaitu realitas yang terpisah dari diri manusia dan dapat memaksakan diri pada manusia;
kebudayaan juga merupakan kenyataan subyektif melalui proses internalisasi. Kebudayaan yang
diciptakan oleh manusia untuk kebahagiaan manusia.
Kebudayaan terus berubah oleh manusia yang mau mengubahnya. Disinilah terletak
keterpaduan antara hakikat konseling dan hakikat kebudayaan, yaitu perubahan. Proses konseling
menghasilkan manusia-manusia yang aktif-kreatif serta memerlukan visi dan kemampuan untuk
mengubah unsur-unsur kebudayaan melalui proses inkulturisasi dan akulturisasi tanpa membuang
begitu saja nilai-nilai tradisional yang relevan dengan tuntutan kehidupan yang berubah. Aktor
kebudayaan tidak hidup di dalam dunia yang kosong. Sartre mengatakan manusia lahir terlempar
di dunia ini, dia harus melihat kenyataan kehidupan yang dikuasai oleh tradisi, adat-istiadat, nilainilai kehidupan bersama yang berlaku, dan ketegangan sosial yang hidup di dalam masyarakat
dengan adanya berbagai jenis kekuasaan yang dominan. Bahkan para filsuf eksistensialis
berpendapat bahwa eksistensi manusia telah berakhir ketika dia hidup karena dia akan menghadapi
kematian, sedangkan nilai-nilai budaya akan bersifat langgeng. Namun, karena nilai-nilai itu
sendiri bukannya sesuatu yang mutlak menurut falsafah postmodernisme, tetapi terus berubah,
maka yang langgeng adalah perubahan itu sendiri.
Kebudayaan merupakan hasil dari kegiatan manusia, tetapi kebudayaan juga menstrukturisasi
tingkah laku manusia. Kebudayaan dari satu pihak memungkinkan pengembangan lebih lanjut,
tetapi dari lain pihak juga membatasi apa yang akan dicapai. Maka masalahnya ialah bagaimana
manusia tetap menjadi subyek dari kebudayaan, yang mampu mentransformasi kebudayaan yang
telah dicapai dan terus menerus mencipta kebudayaan yang baru. Ini semua akan dapat
diwujudkan melalui proses konseling yang mengunggulkan derajat dan martabat manusia.
Kesadaran ini harus senantiasa disegarkan, mengingat makin meningkatnya dominasi teknologi
dalam kehidupan sehari-hari. Konseling harus makin menyadari betapa pentingnya perkenalan
peserta didik pada nilai-nilai budaya yang menjadi acuan penting dalam eksistensi manusia serta
menjadikan masyarakat manusia sebagai pengemban aneka ragam budaya. Dengan
mengembangkan nilai-nilai dijunjung tinggi, seorang manusia terpanggil untuk mewujudkannya
dalam kata, perbuatan, dan kebiasaan selaras dengan konteks hidupnya. Di situ, sesuatu nilai
dalam diri di—―eksteriorisasi‖, sehingga orang lain dapat menyaksikan, memahami, ikut
menghayati, dan mungkin dapat mengamalkannya. Jadi, konseling adalah proses pembudayaan
secara menyeluruh yang berkesinambungan untuk meng-inkorporsikan orang ke dalam dunia,
memasuki suatu masyarakat dengan ragam budaya (multikultural).
Kebudayaan tidak dapat terlepas dari peradaban (civilization) karena kebudayaan merupakan
prasyarat bagi pengembangan peradaban, jika peradaban dimaknai sebagai budaya tinggi (high
culture). Peradaban meliputi tata cara yang memungkinkan berlangsungnya pergaulan sosial
masyarakat sebagai yang lancar dan sesuai dengan norma kesopanan yang berlaku dalam
masyarakat. Peradaban terkandung makna kemajuan sistem kenegaraaan yang jelas yang dapat
dikaitkan dengan pengertian civitas. Corak kehidupan yang beradab pada hakikatnya merupakan

11

tata cara pergaulan sosial yang sopan, halus, bermoral, dan beretika bangsa, negara, dunia, serta
mengikis dan menghilangkan segi-segi kehidupan yang biadab (tidak beradab).
Globalisasi dan MEA jelas berdampak terhadap manifestasi kebudayaan bangsa-bangsa
sebagai kelanjutan dari makin meningkatnya pertemuan antarbudaya. Pertemuan antarbudaya bisa
terjadi tidak berlangsung secara timbal balik dan berimbang, tetapi cenderung bersifat satu arah.
Keunggulan dalam penguasaan teknologi itu juga berarti meningkatnya kemampuan untuk
memperkenalkan berbagai gagasan serta meragakan beraneka gaya hidup secara massal dan
global yang disajikan media massa, sehingga menjangkau kalangan luas dalam masyarakat yang
diterpanya. Ini berarti, dalam pertemuan antarbudaya terjadi perkenalan dengan nilai budaya lain,
yang pada gilirannya memperkenalkan norma-norma perilaku dan gaya hidup baru atau lain, asing
pada masyarakat yang diterpanya. Proses ini terjadi serentak bersamaan sebagai aktualitas,
sehingga mudah berpengaruh sebagai penentu perkembangan kecenderungan pada masyarakat
yang diterpanya.
Dalam pertemuan antarbudaya global, jelas bahwa pihak yang didukung teknologi canggih
lebih berfungsi sebagai pengalih (transmitter) nilai-nilai kebudayaan dan norma-norma
kemasyarakatan,s edangkan pihak yang terbelakang dalam penguasaan teknologi cenderung
menjadi penerima (receiver). Dalam pengalihan nilai dan norma ini pihak penerima seringkali
kurang disertai sikap kritis, bahkan cenderung menerimanya sebagai model gaya hidup masyarakat
yang dianggap lebih maju dan modern. Ini berarti, dalam pertemuan antarbudaya itu mudah terjadi
hubungan yang berpola ―superior‖ versus ―inferior‖, disertai sikap pemujaan pihak yang ―inferior‖
terhadap pihak ―superior‖.Penyanjungan nilai dan norma asing sedemikian itu indikatif bagi
lemahnya ketahanan budaya masyarakat yang bersangkutan. Gejala demikian itu biasanya ditandai
oleh munculnya berbagai budaya sandingan (sub-culture) dan budaya tandingan (counter-culture).
Dalam masyarakat yang bersikap permisif terhadap kecenderungan ini bahkan mudah terjadi
keterasingan dari budaya sendiri (cultural alienation) pada sebagian warganya,khususnya kaum
muda yang cenderung bergerak ―maju‖ atau ―terseret‖ suasana dan kecenderungan zamannya.
Konseling membantu mengantisipasi secara cermat terhadap berbagai kemungkinan terjadinya
jebakan yang menjerat individu-individu (klien) sebagai anak bangsa yang sedang berkembang
sebagai akibat masyarakat global dan MEA yang bias pengaruhnya berlangsung secara terarah.
Konseling harus memberi wahana kepada individu sasaran layanan sebagai generasi muda
penerus bangsa untuk mengenali dan mengembangkan kebudayaan sebagai sistem nilai, sistem
pengetahuan, dan sistem perilaku bersama melalui olahpikir, olahrasa, olahkarsa, dan olahraga.
Kebudayaan sebagai sistem nilai, sistem pengetahuan, dan sistem perilaku ini secara keseluruhan
membentuk lingkungan sosial yang dapat menentukan apakah disposisi karakter seseorang
berkembang menjadi lebih baik atau lebih buruk. Konseling harus dirancang dengan tetap
mengunggulkan derajat dan martabat manusiawi generasi muda penerus bangsa agar menjadi
bangsa yang bermartabat dan mampu beradaptasi dalam perkembangan zaman yang penuh risiko.
Konseling membantu individu (klien) membangun sistem nilai budaya bangsa Indonesia
untuk dapat menjadi manusia yang bermartabat sehingga mampu bersaing dan bersanding dalam
era masyarakat modern dan masyarakat ekonomi ASEAN. Sistem nilai budaya terdiri dari
konsepsi-konsepsi, yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar warga masyarakat, mengenai
hal-hal yang harus mereka anggap amat bernilai dalam hidup. Karena itu, sistem nilai budaya
biasanya berfungsi sebagai pedoman bagi kelakukan manusia. (Koentjaraningrat,2002:27).
Meskipun masyarakat Indonesia memasuki masyarakat modern dan masyarakat ekonomi ASEAN,
harus berpegang teguh dengan sistem nilai budaya bangsa Indonesia yang telah berakar dalam
alam jiwa manusia yaitu watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.
Menurut Kluckhohn (dalam Koentjaraningrat,2002:30), bahwa semua sistem nilai budaya
dalam kebudayaan di dunia itu sebenarnya mengenai lima masalah pokok dalam kehidupan
manusia, yaitu masalah:

12

1.
2.
3.
4.
5.

Hakikat dari hidup manusia.
Hakikat dari karya manusia.
Hakikat dari kehidupan manusia dalam ruang waktu.
Hakikat dari hubungan manusia dengan alam sekitarnya.
Hakikat dari hubungan manusia dengan sesamanya.

Konselor melalui pelayanan konseling membantu individu (klien) untuk membangun sistem
nilai budaya yang berkaitan dengan permasalahan kehidupan manusia, karya manusia, kehidupan
manusia dalam ruang waktu, hubungan manusia dengan alam sekitar, hubungan manusia dengan
sesamanya, dan hubungan manusia dengan Maha Pencipta.Dengan lima masalah pokok yang
menentukan orientasi nilai budaya tersebut, dapat ditanamkan dan dikembangkan nilai-nilai
kebudayaan yang bersumber dari budaya, agama, dan Pancasila yang melekat pada kehidupan
bangsa menjadi basis dalam pelayanan konseling seperti pandangan hidup, kejujuran, kebaikan,
estetika, dan berbagai nilai lain yang dipandang berharga dalam kehidupan. Konselor membantu
individu (klien) untuk menanamkan dan mengembangkan sistem nilai dan norma yang menjadi
patokan untuk sikap mental dan perilaku yang benar, baik, dan pantas serta menjauhi hal-hal yang
salah, buruk, dan tidak pantas. Disinilah konseling dalam membudayakan individu(klien) yang
akan menjadikan mansuia Indonesia yang mampu berpikir, bersikap, dan bertindak sehari-hari
maupun dalam menghadapi permasalahan-permasalahan dalam kehidupannya. Sistem nilai ini
harus dibangun secara holistik sehingga menjadi keutuhan dalam kehidupan manusia dalam
masyarakat yang penuh risiko,yaitu masyarakat modern dan masyarakat ekonomi ASEAN
Sistem nilai budaya masyarakat Indonesia yang harus dibangun juga melalui konseling yaitu
sistem nilai gotong royong, ini mempunyai nilai tinggi apabila manusia suka bekerja sama dengan
sesamanya berdasarkan rasa solidaritas yang besar. Sistem nilai budaya gotong royong mempunyai
ruang lingkup yang amat luas karena hampir semua karya manusia itu biasanya dilakukannya
dalam rangka kerja sama dengan orang lain. Koentjaraningrat (2015:69) menyatakan bahwa sistem
nilai budaya orang Indonesia mengandung empat konsep, ialah: (1) manusia itu tidak hidup sendiri
di dunia ini, tetapi dikelilingi oleh komunitasnya, masyarakatnya dan alam sekitarnya; (2) dalam
segala aspek kehidupannya, manusia pada hakikatnya tergantung kepada sesamanya; (3) manusia
selalu berusaha untuk memelihara hubungan dengan sesamanya, terdorong oleh jiwa samarata,sama rasa,dan (4) selalu berusaha untuk bersifat konform, berbuat sama dan bersama dengan
sesamanya dalam komunitas, terdorong oleh jiwa sama-tinggi-sama-rendah.
Konseling berakar pada budaya bangsa untuk membangun kehidupan bangsa masa kini dan
masa mendatang. Peserta didik adalah pewaris budaya bangsa yang kreatif. Proses konseling
adalah proses yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi
dirinya menjadi kemampuan berpikir rasional dan kecemerlangan akademik dengan memberikan
makna terhadap apa yang dilihat, didengar, dibaca, dipelajari dari warisan budaya berdasarkan
makna yang ditentukan oleh lensa budayanya dan sesuai dengan tingkat kematangan psikologis
serta kematangan fisik peserta didik. Oleh karena itu konseling selain mengembangkan
kemampuan berpikir rasional dan cemerlang dalam akademik, mengembangkan dirinya secara
optimal, juga memposisikan keunggulan budaya tersebut dipelajari untuk menimbulkan rasa
bangga, diaplikasikan dan dimanifestasikan dalam kehidupan pribadi, dalam interaksi sosial di
masyarakat sekitarnya, dan dalam kehidupan berbangsa masa kini.
Konseling untuk membangun kehidupan masa kini dan masa depan yang lebih baik dari masa
lalu dengan berbagai kemampuan intelektual, kemampuan berkomunikasi, sikap sosial,
kepedulian, dan berpartisipasi untuk membangun kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih
baik. Oleh karena itu konseling harus mengembangkan kehidupan individu peserta didik dalam
beragama, seni, kreativitas, berkomunikasi, nilai dan berbagai dimensi inteligensi yang sesuai
dengan diri seorang peserta didik dan diperlukan masyarakat, bangsa dan ummat manusia.

13

Konseling bertugas untuk menyiapkan peserta didik agar dapat mencapai peradaban yang
maju melalui perwujudan suasana yang kondusif, aktivitas pembelajaran yang menarik dan
mencerahkan, serta proses perkembangan yang normatif. Konseling juga menciptakan
kemandirian baik pada individu maupun bangsa. Konseling yang menumbuhkan jiwa kemandirian
sangat penting untuk dapat bertahan dalam menghadapi pasar bebas. Oleh karena itu konseling
harus menjadi bagian dari proses perubahan bangsa menuju masyarakat madani, yakni masyarakat
demokratis, taat, hormat, dan tunduk pada hukum dan perundang-undangan, melestarikan
keseimbangan lingkungan, dan menjunjung tinggi hak asasi manusia.
Bangsa Indonesia dalam kebudayaan masyarakat modern dan masyarakat ekonomi
ASEAN,masyarakat yang penuh risiko dengan teknologi informasi yang berkembang sangat cepat,
konseling mempunyai peranan penting untuk membantu individu (klien) membangun budaya baru
yang didasarkan pada nilai-nilai budaya bangsa Indonesia, yaitu:
1. Budaya berpikir bebas. Bagi generasi tua terdapat banyak sekali rambu, apakah rambu
yang diberikan oleh tradisi, agama, adat istiadat, cara hidup yang feodal, yang keseluruhannnya
dapat merupakan penghalang bagi kemerdekaan berpikir. Dengan teknologi informasi, seseorang
mempunyai akses untuk mengembara (roaming) mencari sebaya atau ahli ilmu pengetahuan dalam
mendiskusikan sesuatu. Dengan teknologi informasi, seseorang dengan bebas dapat mengakses
berbagai jenis informasi sehingga kemungkinan untuk memperkaya, membandingkan, dan
menarik kesimpulan menjadi terbuka lebar. Konseling akan membantu individu (klien) untuk
berpikir bebas atau merdeka akan membawa pada terbentuknya pribadi-pribadi yang
independen,sehingga dapat mengembangkan kemampuan untuk kreatif dan produktif.
2. Budaya keterbukaan emosional dan intelektual. Dengan akses tanpa batas terhadap
jalan raya informasi dan teknologi, seseorang tidak dapat lagi menutup diri dari dunia luar tanpa
batas. Pintu informasi terbuka lebar, sehingga pandangan seseorang menjadi tidak terbatas. Hal ini
akan mendorong untuk membuka diri bagi sumber-sumber ilmu pengetahuan yang lain dan
seterusnya melatih emosinya untuk lebih berpandangan luas. Kebenaran yang selama ini dianggap
satu-satunya kini dipercaya dengan berbagai jenis pandangan dariu berbagai jenis dimensi
sehingga membuat seseorang menjadi matang secara emosional dan intelektual. Konselor
membantu individu (klien) membangun kedewasaan dengan cara meningkatkan kemampuan untuk
menganalisis serta menyintesikan berbagai jenis informasi, dan mengambil keputusan serta sikap
sendiri, baik secara intelektual maupun emosional.
3. Budaya inklusivisme. Dengan terbukanya dunia tanpa batas tidak mungkin seseorang
menutup diri dan beranggapan dirinya yang paling pintar. Konselor akan membantu dalam
memperoleh pengalaman bahwa apa yang diketahuinya hanya apabila dia bekerja sama dalam
membagikan informasi dengan yang lain dan mengembangkan apa yang disebut kerjasama.
Budaya eksklusivisme akan mendorong ke arah toleransi dan kerja sama yang lebih baik antara
manusia serta antarkebudayaan dan peradaban.
4. Budaya kebebasan untuk menyatakan sesuatu. Dengan teknologi informasi akan lahir
kesadaran yang dapat membentuk suatu pemikiran bersama yang lebih kuat karena didukung oleh
kemerdekaan berpendapat dan kases terhadap berbagai jenis informasi. Konseling akan membantu
individu (klien) untuk melakukan hubungan interaktif yang dimungkinkan oleh teknologi
informasi modern, akan terbuka kesempatan untuk kebebasan menyatakan sesuatu melalui
diskursus yang begitu kaya karena ditopang oleh sikap individu (klien) yang semakin matang, baik
secara emosional maupun intelektual.
5. Budaya Inovasi dan pengambilan risiko. Dengan kekebasan untuk mengakses berbagai
jenis informasi yang terus menerus terbuka karena adanya kebebasan berpikir dan menyatakan
pendapat, akan didorong oleh suatu sikap untuk terus menerus mencari sesuatu yang baru.
Konseling akan membantu individu (klien) mengembangkan budaya inovasi dan pengambilan
risiko dengan cara mendorong untuk kreatif dan membangkitkan gagasan baru serta berani
mengambil risiko dari hasil inovasinya.

14

6. Budaya kematangan. Kematangan seseorang, kemandirian seseorang baik secara
emosional maupun intelektual ditentukan oleh seberapa jauh konstribusinya terhadap
perkembangan ilmu pengetahuan dan kemampuan untuk bertindak. Konseling membantu individu
(klien) untuk menjadi matang dan mandiri dalam mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan
kemampuan untuk bertindak dalam menjalani suatu kehidupan sehingga akan mampu
berkompetisi dan eksis dalam masyarakat ekonomi ASEAN.
7. Budaya investigasi. Kebenaran dalam era informasi bukanlah kebenaran yang mutlak.
Ilmu pengetahuan akan terus menerus mencari sesuatu yang baru. Konseling akan membantu
invdu (klien) untuk membangun sikap investigasi dan mencari yang lebih baru sehingga tidak akan
ketinggalan dan akan tetap eksis dalam kehidupan masyarakat modern dan masyarakat ekonomi
ASEAN.
8. Budaya unggul. Membangun keunggulan dalam menghadapi masyarakat modern dan
masyarakat ekonomi ASEAN adalah penting bagi manusia yang ingin hidup eksis dan mampu
bersaing dengan bangsa lain. Setiap manusia harus mampu meningkatkan daya saingnya apabila
tidak ingin digilas oleh persaingan yang semakin ketat. Untuk dapat mempunyai daya saing,maka
setiap manusia harus memiliki kelebihan dibanding dengan pesaingnya. Atau dengan kata lain,
untuk dapat memenangkan persaingan, maka manusia harus mampu membangun keunggulan.
Konseling akan membantu individu (klien) untuk mengembangkan dirinya mencapai keunggulan
secara optimal, yaitu dengan berusaha keras secara berkelanjutan untuk menjadi yang terbaik (the
best), menjadi yang pertama (the first), dan menjadi berbeda (being different) di dalam
menghadapi masyarakat modern dan masyarakat ekonomi ASEAN.
9. Budaya Berprestasi. Membangun budaya berprestasi dalam menghadapi masyarakat
modern dan masyarakat ekonomi ASEAN adalah penting agar tetap eksis dan mampu bersaing
dengan bangsa lain. Konseling membantu individu (klien) untuk membangun budaya berprestasi
dengan memberdayakan individu terpercaya untuk cocok dengan apa yang sedang dipelajari atau
dikerjakan. Untuk membangun budaya berprestasi diperlukan adanya delapan core values atau
nilai inti yang kuat (Victor S.L,Tan,2002:31),yaitu (1) orientasi pada hasil (result oriented); (2)
pelayanan unggul (superior customer service); (3) inovasi (innovation); (4) kejujuran (fairness);
(5) rasa hormat (respect); (6) responsif terhadap perubahan(change responsive); (7) akuntabilitas
(accountability); dan (8) keinginan besar (passion).
10. Budaya entrepreneur. Membangun budaya entrepreneurship sangat penting untuk
melahirkan ide-ide, teori-teori yang baru untuk mengubah cara berpikir dan bertindak di dalam
masyarakat modern dan masyarakat ekonomi ASEAN. Manusia berbudaya entrepreneur, yaitu
manusia yang menginginkan perubahan, berpikir kritis yang tidak puas dengan keadaan yang
berlaku. Mereka menginginkan kehidupan yang lebih baik dan lebih maju. Konseling membantu
individu (klien) untuk membangun dirinya menjadi manusia entrepreneur yaitu menjadi pribadi
yang berpikir kritis, kreatif, inovatif, dan berani mengambil keputusan sehingga perbuatannya
melahirkan berbagai jenis kemungkinan yang apabila dilaksanakan akan menghasilkan suatu
perubahan, sikap berani mengambil risiko untuk suatu perubahan, serta gandrung akan perubahan.
Kreativitas dapat meningkatkan daya saing produk Indonesia karena kreativitas merupakan faktor
utama dalam proses pengembangan yang dapat menghasilkan inovasi. Kreativitas dan inovasi
berperan dalam memberdayakan dirinya menjadi manusia berbudaya mutu, budaya unggul dan
budaya berprestasi.
Menghadapi masyarakat modern dan masyarakat ekonomi ASEAN pelayanan konseling
mengisyaratkan aktualisasi keunggulan kemampuan manusia yang kini masih tersembunyi dalam
dirinya. Pelayanan konseling dengan mengacu kepada Pengembangan Kemampuan Manusia atau
Human Capacity Development (HCD) berkewajiban mendorong optimalisasi kemampuan individu
di setiap jenis dan jenjang pendidikan untuk menjadi bermutu dan berguna bagi sesama manusia.
Pengembangan kemampuan manusia menunjuk pada konstelasi keterampilan, sikap dan perilaku
dalam melangsungkan hidup mencapai kemandirian (Levinger, 1996), sekaligus memiliki daya

15

saing tinggi dan daya tahan terhadap gejolak ekonomi dunia. HCD bermutu adalah proses
kontekstual dan futuristik sehingga HCD melalui upaya konseling bukanlah sebatas menyiapkan
manusia yang menguasai pengetahuan dan keterampilan yang cocok dengan tuntutan dunia kerja
pada saat ini, melainkan manusia yang mampu, mau, dan siap belajar sepanjang hayat, serta
dilandasi oleh sikap, nilai, etik dan moral. Kebermutuan HCD tidak hanya terletak pada
kecerdasan intelektual, tetapi kecerdasan sosial, kecerdasan moral, dan kecerdasan spiritual.
Di dalam pengembangan pribadi, individu perlu memperoleh kesempatan berpikir dan
pengalaman berpikir tentang bagaimana dia hendak membangun dirinya, apa yang sudah
dibangun, dan memperhadapkan diri dengan kebermaknaan yang akan menjadi arah tujuan
pengembangan diri pada masa yang akan datang. Asumsi ini mengandung implikasi bahwa
pendidikan yang bersifat umum dan klasikal, yang dalam banyak hal lebih peduli terhadap belajar
intelektual, perlu dibarengi dengan strategi upaya yang secara sistematis melalui konseling untuk
membantu individu mengembangkan pribadi, memperhalus dan menginternalisasi nilai-nilai yang
diperoleh di dalam pendidikan umum, serta mengembangkan keterampilan hidup.
Menghadapi masyarakat modern dan masyarakat ekonimi ASEAN, konseling diarahkan
untuk membantu individu menjadi insan yang produktif baik dalam arti menghasilkan barang atau
jasa atau hasil karya lainnya, maupun menghasilkan suasana lingkungan atau suasana hati serta
alam pikiran yang positif dan menyenangkan. Individu produktif seperti ini perlu memiliki
kemampuan intelektual, keterampilan, bersikap dan menerapkan nilai-nilai berkenaan dengan
berbagai bidang kehidupan. Manusia produktif merupakan wujud dari Sumber Daya Manusia
(SDM) yang berkualitas merupakan manusia yang berkembang secara utuh yang
menyelenggarakan kehidupannya secara berguna bagi manusia lain dan lingkungannya.
Pelayanan konseling bertugas melayani individu-individu normal yang sedang dalam proses
memperkembangkan dirinya secara optimal sesuai dengan tahap perkembangan yang dijalaninya.
Pelayanan konseling mengupayakan pengembangan segenap potensi individu secara optimal pada
setiap tahap perkembangan, dan berperan aktif dalam pembentukan manusia produktif.
Pengembangan ini akan dilengkapi dan meningkatkan pengembangan kemampuan intelektual dan
keterampilan dengan pengembangan nilai dan sikap (Mungin Eddy Wibowo,2000).
Suatu usaha national healing perlu dilakukan dengan melakukan gerakan revolusi mental,
yang wahana utamanya melalui proses persemaian dan pembudayaan dalam dunia pendidikan
termasuk di dalamnya melalui proses konseling. Proses konseling sejak dini, baik secara formal,
nonformal, maupun informal, menjadi tumpuan untuk melahirkan manusia baru Indonesia dengan
mental-karakter yang sehat dan kuat. Untuk itu perlu adanya reorientasi dalam dunia konseling
dengan menempatkan proses kebudayaan (olahpikir, olahrasa, olahkarsa, dan olahraga) di jantung
program konseling. Konseling dan kebudayaan harus dipandang sebagai proses kreatif yang tak
dapat dipisahkan ibarat dua sisi dari keping uang yang sama. Isi dalam konseling adalah
kebudayaan, sedangkan konseling itu sendiri adalah proses pembudayaan.
Konseling sebagai proses belajar menjadi manusia berkebudayaan berorientasi ganda
:memahami diri sendiri dan memahami lingkungannya. Ke dalam konseling harus memberi
wahana kepada peserta didik untuk mengenali siapa dirinya sebagai ―perwujudan khusus‖
(―diferensial‖) dari alam. Sebagai perwujudan khusus dari alam, setiap orang memiliki
keistimewaan kecerdasan masing-masing. Proses konseling harus membantu peserta didik
menemukenali kekhasan potensi diri tersebut, sekaligus kemampuan untuk menempatkan
keistimewaan diri itu dalam konteks keseimbangan dari keberlangsungan jagat besar.
Aktualisasi dari kesadaran ini adalah pemupukan keandalan khusus seseorang yang
memungkinkan memiliki kepercayaan diri, daya tahan, dan daya saing dalam perjuangan hidup,
dengan tetap memiliki sensitivitasnya terhadap nilai-nilai kebudayaan yang baik, benar, dan
indah. Pengenalan terhadap kekhasan potensi diri dan komitmennya terhadap kebersamaan nilainilai kebudayaan itulah yang menjadi dasar pembentukan karakter. ―Karakter‖ dalam arti ini
adalah kecenderungan psikologis yang membentuk kepribadian moral. Menurut

16

Kemendikbud(2010:3) bahwa ―karakter‖ adalah watak,tabiat,akhlak atau kepribadian seseorang
yang terbentuk dari internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai
landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Pengembangan budaya dan
karakter bangsa hanya akan dapat dilakukan dalam suatu proses pendidikan yang tidak
melepaskan peserta didik dari lingkungan, sosial, budaya masyarakat, dan budaya bangsa.
Berdasarkan fungsinya,Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2013 tentang Sistem Pendidikan
Nasional secara implisit telah mengelompokkan sistem pendidikan nasional menjadi tiga
komponen, yaitu: (1) mencerdaskan kehidupan bangsa yang berlandaskan pada nilai-nilai moral,
karakter, dan kepribadian masyarakat Indonesia; (2) menyiapkan lulusan pendidikan sebagai
tenaga terdidik yang produktif baik sebagai pekerja maupun sebagai pengusaha mandiri yang
kreatif untuk memenuhi kebutuhan hidupnya; dan (3) membentuk manusia Indonesia yang mampu
menguasai, mengembangkan, dan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam rangka
memperkuat daya saing perekon omian bangsa dalam era persaingan dunia, khususnya masyarakat
ekonomi ASEAN.
PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
Alexander,A. & kempe,R. (1984). The role of the lay therapist in long term treatment. Child
Abuse and Neglect, 6: 329-334.
Belkin, G.S. (1975). Practical Counseling in The School. Dubuque, Iowa:W.C.Brown Company
Publishers.
Blocher,Donald H. (1974). Developmental Counseling. New York: John Wiley & Sons, Inc.
Blocher,Donald H
Company.

(1987) The Profession Counselor. New York: Macmillan Publishing

Bradley T.Erford. (2004). Professional School Counseling A Handbook of Theories, Programs
& Practices. Texas: PRO-ED An International Publisher.
Brown,Steven D. & Lent,Robert W. (1984). Handbook of Counseling Psychology. New York:
John Wiley & Sons
Chris Jenks (2013). Culture: Studi Kebudayaan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Coffone,R.Rocco & Tarvydas, Vilia M. (1998). Ethical and Professional Issues in Counseling.
New Jersey: Prentice-Hall,Inc.
Corey, Gerald & Corey, M. Schneider. (1984) Issues & Ethics in the Helping Profession.
Menterey. California: Brooks/Cole Publishing Co.
Ed Neukrug (2007). The Word of The Counselor,An Introduction to the Counseling
Professional.USA: Thomson Brooks/Cole
Gibson R.L & Mitchell M.H. (2008). Introduction to Counceling and Guidance. New Jersey:
Pearson Prentice Hall.
H.A.R. Tilaar (2012). Pengembangan Kreativitas dan Entrepreneurship dalam Pendidikan
Nasional. Jakarta: Kompas Gramedia.
John McLeod.(2009). An Introduction to Counselling.England: McGraw-Hill Education.
Kachru, B. (1983). Instroduction : The Other Side of English. Dalam Braj Kachru (Ed). The
Other Tongue: English Across Cultures. Oxford: Pergamon Press.

17

Koentjaraningrat (2015). Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Kompas
Gramedia.
Lewis,Michael D. et.al (1986). An Introduction to the Counseling Profession. Illinois: F.E.
Peacock Publisher,Inc.
Mungin Eddy Wibowo (2002). Konseling Perkembangan :Paradigma Baru dan Relevansinya di
Indonesia. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap dalam Bidang Bimbingan dan
Konseling pada FIP-UNNES tanggal 13 Juli 2002. Semarang: Depdiknas UNNES
Nelson R. & Jones. (2010). Practical Counseling and Helping Skills.London: SAGE
Publications.Ltd.
Parker, Clyde A. et.al eds. (1978). New Direcitiona for Student Service. San Francisco: JoseeyBass.
Ron Kraus,George Stricker,and Cedric Speyer (2011). Online Counseling: A handbook for
Mental Health Professionals. London: Elsevier Inc.
Samuel.T.Glading.(2012) Konseling:Profesi yang Menyeluruh. Jakarta: INDEKS.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.Jakarta: Depdiknas.
Whiteley, John M. & Fretz, Bruce R. (1980). The Present and Future of Counseling Psychology.
Monterey,California: Brooks/Cole Publishing Co.

18

STRATEGIES TO PREPARE NET GENERATION
TO WELCOME ASEAN ECONOMIC COMMUNITY
Dra. M.J. Retno Priyani,M.Si.
Sanata Dharma University
priyaniretno@gmail.com.
In 2015, Indonesia will enter ASEAN Economic Community.
One of the implications is the geographical mobility of skilled labors
between countries. In order for the Indonesian labors to survive this
situation, skilled labors who can compete with foreign labors need to
be prepared.
The educational process will only be effective when educators
can understand their learners as they are. Technological advance,
which is currently taking place, has changed human personality and
behaviors. Today‘s young people are digital natives who are living in
the era of the internet, so-called the net generation. Educators need to
understand the characteristics of the net generation so they may apply
the suitable teaching strategies in teaching them.
Net Generation are usually playful, personalized, multitasking,
networked, self-sentered, and impatient. Involving learners in fun
activities, providing them with ample opportunities to express their
unique personalities, educating them in the contexts which are relevant
to their lives, motivating them to share their experiences and
presenting the materials in short, succinct and condensed way will be
more suitable to the need of today‘s generation. By using the suitable
strategies to match the characteristics of learners, a transformative
communication will take place. Eventually, through education which
adopts new strategies, it is expected that competitive and highly
skilled generation are ready to welcome the ASEAN economic
community

Kata kunci : generasi net, strategi, pendidikan.

A. Pengantar
Masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) sebentar lagi akan terwujud. Indonesia sebagai
salah satu Negara ASEAN sudah menyatakan kesediaannya memenuhi ketentuan yang berlaku di
MEA. Banyak pengamat yang pesimis dan berpendapat bahwa sesungguhnya Indonesia belum
siap; namun ada pengamat lain yang optimis dan menyatakan bahwa dengan adanya MEA
Indonesia akan menjadi lebih baik.
Pihak yang mendukung keterlibatan Indonesia dalam MEA berpendapat bahwa mulainya
MEA adalah momentum untuk berbenah ke arah Indonesia yang lebih baik. Mulainya masyarakat
ekonomi Asean merupakan tantangan yang harus dihadapi untuk membangun Indonesia yang lebih
baik. Pihak yang menganggap terbentuk masyarakat ekonomi Asean merupakan momentum bagi
Indonesia untuk bebenah. .
Akibat dari adanya masyarakat ekonomi Asian, mulai tahun 2015 akan terjadi mobilitas
geografis dalam berbagai bidang. Antara lain bidang perdagangan, tenaga kerja dan pendidikan.
Dalam dunia perdagangan, Indonesia akan dimasuki berbagai barang dari negara Asean, tetapi
Indonesia juga dapat mengirim barang ke luar negeri. Di dunia tenaga kerja, Indonesia akan
membiarkan tenaga kerja asing untuk bekerja di Indonesia, akan tetapi tenaga kerja Indonesia juga
bebas bekerja di luar negeri. Di bidang pendidikan, negara lain boleh mendirikan sekolah di
Indonesia dan sebaliknya Indonesia boleh mendirikan sekolah di negara lain. Arus mobilisasi
geografis seperti di atas akan terjadi juga di berbagai bidang lainnya.
Akibat dari tiadanya sekat/batas antar negara anggota ASEAN, akan tercipta suatu
komunitas masyarakat Asean, dimana masyarakat Indonesia maupun masyarakat di negara
anggota Asean memiliki beragam pilihan. Masyarakat dapat memilih yang terbaik dari yang ada.

19

Apabila produk barang dan jasa memenangkan persaingan karena kualitasnya, maka akan
mengalami peningkatan dalam jumlah pelanggan atau penjualan. Sebaliknya, apabila kalah dalam
persaingan, maka akan ditinggalkan pelanggan dan ada kemungkinan usahanya akan tutup/mati.
Apabila ingin tetap bertahan atau ingin meningkatkan persaingan, maka perlu meningkatkan
kualitas barang secara terus menerus.
Skema MEA 2015 tentang ketenagakerjaan, memberlakukan liberalisasi tenaga kerja
profesional papan atas, seperti dokter, insinyur, akuntan dan sebagainya. Sebagai konsekuensi
skema tersebut, diperlukan perhatian yang serius di bidang penyiapan tenaga professional. Apabila
pemerintah Indonesia dapat menciptakan professional yang betul-betul dapat diandalkan, maka
tidak perlu khawatir dengan diperbolehkannya tenaga kerja asing masuk ke Indonesia. Bahkan,
ada kemungkinan profesioanl Indonesia dapat bekerja di negara anggota Asean lain, tentunya
dengan penghasilan yang lebih baik. Dalam bidang pendidikan, apabila lembaga pendidikan di
Indonesia berhasil menciptakan manusia yang utuh dan optimal sebagai pribadi, maka akan dilirik
oleh negara lain. Sebaliknya, apabila lembaga pendidikan di Indonesia gagal mendewasakan
manusia muda, maka tidak mustahil orang Indonesia lebih memilih sekolah di negara lain.
Hilangnya batas atau sekat antar negara Asean itulah yang dapat dianggap sebagai tantangan atau
peluang untuk memperbaiki situasi di Indonesia.
B. Masalah
Mulainya MEA tahun 2015, merupakan tantangan bagi lembaga pendidikan di Indonesia.
Agar tenaga kerja professional Indonesia tidak kalah dengan professional dari negara lain; dan
agar tenaga kerja professional Indonesia dapat diterima di negera lain, pendidikan di Indonesia
dipaksa untuk meningkatkan kualitas pendidikannya. Ada 2 (dua) permasalahan yang dihadapi
dunia pendidikan pada saat ini. Pertama, keharusan dunia pendidikan untuk memperhatikan
karakteristik pribadi anak didik sebagai anak jaman. Kedua, perlunya strategi baru dalam mendidik
anak jaman sekarang. Kedua permasalahan tersebut akan dibahas satu persatu.
1. Anak Jaman.
Situasi dimana manusia dibesarkan, ikut membentuk kepribadian manusianya.
Anak yang lahir di jaman perang, karena situasi serba terbatas/darurat menyebabkan anak
pada jaman itu tidak banyak menuntut. Setelah jaman perang berakhir, mulailah jaman
pembangunan. Di jaman pembangunan, dimana semua orang ingin segera mewujudkan
dunia yang lebih baik; mereka giat berusaha sekuat tenaga; dan orang yang dibesarkan
dalam jaman itu menjadi orang-orang yang gigih dan pantang menyerah. Peserta didik
yang hidup di jaman sekarang, dibesarkan dalam situasi yang telah maju. Kemajuan
teknologi berlangsung cepat, dan merambah berbagai bidang. Manusia dihadapkan
berbagai pilihan. Fasilitas, sarana dan prasarana berkembang pesat. Jaman ini membuat
orang dimanjakan keadaan dan cenderung menjadi malas dan memiliki daya juang yang
rendah.
Pendidikan adalah interaksi dan komunikasi antara guru/pendidik dan
murid/peserta didik. Untuk dapat menjadi guru yang efektif, disyaratkan adanya
penerimaan terhadap pribadi peserta didik tanpa syarat. Kenyataannya, adanya
kesenjangan generasi antara pendidik dan peserta didik, membuat sementara pendidik
mengalami kesulitan memahami dan menerima perilaku anak jaman sekarang. Pendidik
banyak yang mengeluhkan perilaku anak didik. Sebaliknya, peserta didik juga
mengeluhkan perilaku para pendidik yang terlalu menuntut untuk memenuhi keinginan
pendidik. Apabila peserta didik dan pendidik tidak saling memahami, tidak dapat terjadi
berkomunikasi antara kedua belah pihak. Pendidikan tidak dapat berjalan efektif.
Kepribadian anak jaman menjadi masalah pendidikan yang tak terhindarkan.
2.

Strategi mendidik anak jaman
―Tidak ada murid yang bodoh. Yang ada adalah guru yang tidak dapat mengajar
dengan efektif‖. Ungkapan di atas kiranya cocok untuk menggambarkan pentingnya
seorang guru memiliki strategi dalam menghadapi murid. Strategi pembelajaran tentu saja
disusun berdasarkan berbagai pertimbangan, salah satunya adalah mempertimbangkan
karakteristik peserta didik.
Mendidik anak jaman sekarang, tidak akan efektif apabila menggunakan
metode/cara yang lama. Walaupun metode/cara tersebut terbukti efektif untuk generasi
yang sebelumnya, tetapi perlu disesuaikan dengan peserta didik yang hidup di jaman yang

20

berbeda. Tanpa strategi yang sesuai dengan peserta didik, bukan saja tujuan pembelajaran
tidak tercapai, tetapi juga perasaan gagal dan frustrasi pada para pendidik dan
kekecewaan pada peserta didik. Maka, dibutuhkan strategi yang efektif untuk mendidik
anak sekarang.
C. Pembahasan
Pada bagian ini akan dibahas karakteristik anak jaman yang sering disebut generasi net
dan bagaimana strategi untuk mendidik generasi net.
1.

Generasi Net.
Situasi jaman di mana seseorang hidup dan berkembang, ternyata ikut
membentuk kepribadian manusia yang hidup di jamannya. Manusia yang hidup di jaman
peperangan, memiliki pribadi yang tidak menuntut, karena memang situasi tidak akan
dapat memenuhi tuntutan mereka. Pada jaman setelah perang, keinginan untuk
membangun membuat manusia yang hidup di dalamnya memiliki semangat dan daya
juang yang tinggi. Namun sebaliknya, setelah pembangunan berjalan, apalagi setelah
adanya kemajuan teknologi (termasuk adanya internet), generasi yang hidup di jaman
internet ini menjadi generasi yang ingin cepat, ingin mudah, dan di sisi lain ternyata
membentuk generasi yang kurang memiliki daya juang. Generasi yang hidup dan
berkembang di jaman internet disebut Generasi Net.
Tapscot (2008) mengatakan: ―If you understand this generation, you will
understand the future”. Pendidik perlu memahami karakteristik anak jaman sekarang,
yang sering disebut generasi net. Ciri-ciri generasi net adalah sebagai berikut.
a. Kebebasan
Internet menyajikan berbagai informasi, dalam berbagai bidang. Internet telah
memberikan kepada generasi ini berbagai kemungkinan pilihan. Masing-masing
pilihan dapat diperoleh dengan mudah dan cepat. Pilihan mengenai apa yang ingin
dibeli, di mana dan kapan bekerja, kapan berdiskusi dengan teman. Internet bahkan
memungkinkan mereka memilih cara hidup yang mereka inginkan. Apapun yang
dipilih, tidak ada yang membatasi. Apalagi melalui internet seseorang tidak perlu
bertatap muka dengan siapapun. Komunikasi yang terjadi adalah komunikasi yang
maya. Akibatnya keinginan untuk bebas semakin besar karena identitas yang
sesungguhnya, tidak diketahui/dikenal. Generasi net adalah generasi yang hidup
dalam kebebasan dan menikmati kebebasan.
b.

Personalisasi
Anak jaman ini terbiasa menjadikan apa yang mereka miliki lebih personal.
Komputer, laptop,cell phone, ipod dimodifikasi tampilan dan isinya sehingga lebih
mencerminkan kepribadian mereka. Jutaan orang tidak hanya mengakses website,
tetapi mereka juga menciptakan isi website. Ada ungkapan: ―Cell phone sebagai
perangkat komunikasi adalah perpanjangan hidupku dan cermin siapakah diriku.
Seperti model baju yang kukenakan, ia mengungkapkan kepribadianku‖. Anak jaman
sekarang terbiasa untuk menampilkan keunikan dirinya, dan berharap ada ruang
untuk menampilkan keunikan dirinya.

c.

Mempertanyakan dan membandingkan.
Generasi net adalah kelompok generasi yang memiliki kesempatan untuk
mempertanyakan berbagai informasi dan membandingkan berbagai informasi
dengan sangat mudah. Mereka diizinkan untuk mempertanyakan kebenaran suatu
berita. Dengan informasi yang berjibun dari berbagai sumber di web mereka
memiliki kesempatan untuk membedakan fakta dari kabar angin. Mereka dapat
menjadi sadar akan dunia sekitar, dan dapat mencari tahu tentang apa yang
sebenarnya terjadi. Mempertanyakan dan membandingkan dapat dilakukan
menggunakan internet dengan mudah, cepat.
Tapscott mengusulkan, jika orang ingin merangkul generasi ini, cara yang terbaik
adalah melakukan secara jujur dan terbuka, transparan. Orang musti menyediakan
sebanyak mungkin informasi yang dengan mudah bisa diakses oleh Generasi Net.

21

Semakin generasi internet mampu mempertimbangkan pro-kontra dari hal-hal yang
mereka temukan, semakin mereka yakin akan pilihan yang dibuat.

2.

d.

Integritas
Teknologi informasi dan komunikasi telah menghapus batas institusi dan
budaya. Generasi Net menuntut integritas dan keterbukaan dari suatu institusi atau
sekat budaya. Melalui internet, Generasi Net mencari berbagai informasi (medis,
sains, hiburan, mode, politik dll.) yang sebelumnya tidak tersedia bagi generasi orang
tua mereka. Dunia sekitar mereka berubah. Tidak mengherankan jika generasi ini
menghargai transparansi, kejujuran dan integrasi. Dengan cepat mereka menemukan
informasi yang mereka butuhkan atau bahkan informasi yang jauh lebih banyak serta
detil. Melalui jejaring sosial yang mereka miliki, mereka mampu membuka
kebobrokan tatanan sosial yang sebelumnya mungkin tertutup rapat.

e.

Kerjasama
Generasi Net adalah orang-orang yang menghargai jejaring dan kerjasama.
Mereka berkomunikasi lewat Facebook, twitter, Line, instagram, bermain video
game bersama, terus berkomunikasi lewat chatting BBM atau SMS. Mereka saling
berbagi berita, bahan pelajaran, pekerjaan rumah, bahkan masalah-masalah pribadi
yang mereka alami. Mereka saling mempengaruhi melalui N-influence Networkjejaring untuk berdiskusi mengenai barang, masalah pekerjaan, masalah sekolah, atau
juga masalah-masalah pribadi. Di jaman ini begitu mudah menggalang pendapat,
mencari dukungan dari berbagai belahan dunia. Generasi Net adalah generasi yang
selalu terhubung dan bekerjasama. Kasus Pritta dengan gerakan Coin untuk Pritta
adalah salah satu contoh kongkrit kerjasama di dunia maya, dengan pribadi-pribadi
yang tidak dikenal identitas senyatanya.

f.

Entertainment,
Generasi Net menginginkan play and fun dalam sekolah, pekerjaan dan
kehidupan sosial. Pekerjaan dan sekolah sudah semestinya menyenangkan.
Disinyalir, generasi ini adalah generasi yang mudah bosan. Oleh karena itu, hal-hal
yng mereka lakukan dengan berkutat dengan teknologi jaman ini membuat hidup
mereka jauh lebih menyenangkan dan lebih menarik. Orang jaman ini dapat dengan
mudah mendapatkan berbagai macam hiburan melalui internet.

g.

Kecepatan
Generasi ini menuntut kecepatan dan jawaban yang instant. Video game
memberi tanggapan cepat. Goggle memberi informasi yang mereka cari dalam
waktu sekejap. Dalam dunia dimana kecepatan menjadi tolok ukur tanggapan,
generasi ini mengharapkan orang untuk menjawab persoalan dan pertanyaan dalam
waktu yang sangat singkat. Jaringan sosial melalui media sosial juga membantu
mereka untuk menyebarkan pesan atau informasi secepat kilat. Sebuah pesan dapat
dengan cepat tersebar ke seluruh dunia dan menjadi konsumsi ratusan orang dalam
waktu singkat. Kebiasaan untuk mendapatkan sesuatu dengan mudah dan cepat inilah
yang diduga membuat mereka cenderung kurang sabar.

h.

Inovasi
Orang muda sekarang menuntut inovasi terus menerus. Mereka memilih produk
yang baru bukan karena yang lama sudah rusak atau aus, tetapi karena yang baru
memiliki kemampuan lebih. Merekapun selalu mencari inovasi dalam hal kerjasama,
belajar dan bekerja. Internet menyajikan petunjuk dan cara yang mendorong orang
untuk berinovasi terus menerus.

Strategi Mendidik Generasi Net
Generasi yang hidup di era internet sering disebut generasi net (net generation).
Mereka tidak dapat lepas dari penggunaan internet. Internet adalah udara yang mereka
hirup sehari-hari. Kehidupan mereka dalam jaman internet perlu dipahami dan diterima,
sekaligus dimanfaatkan untuk pengembangan pribadi peserta didik.

22

Dalam bidang pendidikan, adalah tidak pada tempatnya apabila pendidik
mengeluhkan peserta didik sebagai penyebab kegagalannya dalam pendidikan. Pendidik
yang professional harus dapat merancang strategi yang sesuai dengan peserta didik yang
dihadapi. Karakteristik anak jaman sekarang, harus dipahami betul; kemudian digunakan
sebagai dasar dalam merancang strategi pendampingannya.
Berdasarkan karakteristik anak jaman sekarang, direkomendasikan strategi
sebagai berikut:
a. Pendampingan yang Menyenangkan .
Anak jaman sekarang, dibesarkan dalam jaman yang serba mudah dan cepat.
Mereka cenderung mengejar kesenangan dan ingin mendapatkan sesuatu dengan
mudah, cepat. Akibatnya, mereka tidak dapat mengikuti pendidikan yang dilakukan
dengan serius, kering, monoton dan sebagainya. Mereka ingin belajar dan
berkegiatan dalam suasana yang menyenangkan, menimbulkan humor, kelucuan dan
sebagainya. Penggunaan video, film, lagu, puisi sebagai media belajar kiranya akan
menghidupkan suasana belajar anak sekarang.
b. Kesempatan menunjukkan keunikan pribadi.
Karakteristik generasi net yang personalize menuntut ruang/kesempatan setiap
pribadi untuk menunjukkan keunikannya; menjadi diri mereka sendiri. Teori
kecerdasan majemuk dari Gardner yang mengakui bahwa setiap pribadi adalah
cerdas, dan memberikan kesempatan setiap pribadi untuk belajar sesuai dengan
kecerdasannya, akan membuat setiap orang berkembang secara optimal. Kesempatan
untuk mengungkapkan hasil belajar dengan tari /puisi / gambar dan sebagainya
kiranya menjadi cara yang sangat menyenangkan peserta didik jaman sekarang.
Menuntut anak untuk menjadi pribadi yang sama dengan temannya akan ditolak
mentah-mentah karena mereka sudah terbiasa menjadi dirinya sendiri.
c. Kesempatan sharing (berbagi)
Generasi Net selalu terhubung dengan orang lain. Berinteraksi di dunia maya
adalah keseharian mereka. Memberi kesempatan mereka untuk membagikan hasil
belajar mereka menggunakan internet akan sangat menantang mereka. Dorong
peserta didik untuk menggunakan jejaring sosial untuk mengungkapkan hasil belajar
mereka. Dorong mereka untuk mengunggah proses dan hasil mereka dalam belajar di
Youtube dsb. Melalui kesempatan berbagi, mereka juga akan menjadi manusia yang
produktif, bukan manusia yang konsumtif.
d. Penyajian yang singkat, ringan.
Generasi Net adalah generasi yang kurang sabaran. Mereka hidup dalam jaman
yang serba instant, cepat, mudah. Pendidikan dengan cara ceramah yang panjang
bertele-tele kurang cocok untuk mereka. Mereka tidak suka mencatat dan membaca
tulisan yang panjang. Mereka kurang terbiasa untuk berpikir mendalam. Agar
mampu melibatkan mereka dalam proses pembelajaran, materi dan proses perlu
dikemas dengan singkat, ringan dan mudah dipahami, sehingga membuat mereka
tidak cepat bosan. Kuliah dengan membagikan handouts sehingga tidak perlu
mencatat; menyediakan materi yang dapat diundhuh setiap saat, memberi peluang
untuk berkomunikasi dengan mudah melalui jejaring sosial atau web, melaporkan
tugas melalui internet dan lain-lain cara yang membuat mereka lebih mudah, lebih
cepat kiranya cocok dengan generasi Net.
e. Menggunakan sudut pandang peserta didik
Generasi Net cenderung self oriented, segala sesuatu berpusat pada diri mereka
sendiri. Dalam mendampingi generasi net, pendidik perlu menggunakan
persepsi/sudut pandang mereka. Memberikan kasus yang terjadi di kalangan mereka,
memberi contoh yang sesuai dengan pengalaman mereka dan sebagainya. Tidak ada
salahnya pendidik menggunakan media sosial sebagai sarana untuk mendekati dunia
anak muda sekarang.
f. Mendorong peserta didik untuk melakukan inovasi.
Generasi sekarang dapat memperoleh informasi dari berbagai sumber dengan
cepat. Mereka dapat membanding-bandingkan, mendalami, mengkritisi berbagai
informasi/penemuan. Akibatnya, mereka akan tertarik untuk melakukan kegiatan
kreatif, melakukan eksperimen/percobaan yang menghasilkan karya pribadi yang

23

membanggakan. Apabila hasil inovasi dicatat, didokumentasikan, diunggah dan
disosialisasikan, maka akan semakin menyenangkan mereka.
D. Penutup
Kehadiran masyarakat ekonomi Asean tidak mungkin ditolak atau dihindari. Hilangnya
sekat-sekat antar negara Asean, dan terbentuknya komunitas yang menyatu perlu dijadikan
momentum untuk bebenah memperbaiki diri. Tantangan yang dihadapi adalah meningkatkan
kualitas sumber daya manusia sehingga Indonesia memiliki sumber daya manusia yang unggul.
Keunggulan kualitas manusia Indonesia akan menghindarnya professional dari negara lain masuk
ke Indonesia . Keunggulan sumber daya manusia Indonesia juga memungkinkan tenaga kerja
professional Indonesia dapat berkarya di luar negeri.
Untuk menciptakan generasi muda yang unggul, dunia pendidikan perlu bebenah.
Memahami dan menerima karakteristik pribadi anak muda sebagai anak jaman, perlu dilakukan
oleh semua pendidik dan tenaga kependidikan. Pendidik dan tenaga kependidikan perlu menerima
pribadi anak jaman apa adanya agar memiliki pintu masuk untuk mendidik mereka.
Sebagai pengajar dan pendidik, perlu pula mengembangkan strategi baru yang berpihak
pada generasi muda sekarang. Mereka perlu didampingi dengan cara baru yang lebih
menyenangkan, lebih memberi kesempatan untuk menunjukkan keunikan pribadi mereka,
mendorong untuk mensharingkan pendapatnya menggunakan teknologi yang ada, menggunakan
sudut pandang remaja, dan mendorong mereka untuk melakukan inovasi. Dengan memperhatikan
karakteristik mereka sebagai anak jaman, kita telah ―masuk melalui pintu mereka, keluar melalui
pintu kita‖.
Pembaharuan di bidang pendidikan, khususnya perubahan dalam strategi mengajar dan
mendidik anak jaman sekarang, kiranya tidak dapat ditawar lagi, demi tercapainya sumber daya
manusia yang unggul.
Daftar Pustaka
Adi, C. Kuntoro. 2009. Net Generation, dalam Jam‘s: www.god.co.id. Yogyakarta:
Kanisius.
Gardner, Howard. 1983. Multiple Intelligence. McGraw-Hill.
Gordon, Thomas. 1983. Menjadi Guru yang Efektif. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Tapscott, Don. Grown Up Digital: Fun, Collaboration, Innovation.Diakses pada
www.smartpeoplemagazine.com.
Tapscott, Don. 2008. Grown Up Digital. How the net generation is changing you world.
McGraw-Hill.

24

PENGEMBANGAN KECAKAPAN PENGARAHAN DIRI DAN PENGELOLAAN DIRI
UNTUK MENINGKATKAN EFEKTIVITAS BELAJAR SISWA SMA
Yusi Riksa Yustiana, Suherman, Aas Saomah
DepartemenPsikologiPendidikandanBimbingan
UniversitasPendidikan Indonesia
Email: suhermanbkupi@yahoo.co.id

Abstract
In the 21st century‘s life packed with challenges and the search for identity in adolescent
developmental phase, high school students are faced with the demands of a constantly changing
environment, open and diverse opportunities and choices, and increasingly fierce competition.
Therefore, students need to have self-direction skills, so that they can live their life effectively and
can face their future in a more directed manner. Students with inadequate self-direction skills will
encounter many problems, and developmentally will experience confusion, indecision, and
immaturity. This study aims to discover guidance and counseling strategies to help young students
develop self-direction skills, so that they can undergo the learning process more effectively and
independently. Research and development method was used. The respondents were 18 guidance
and counseling teachers and 516 high school students in the West Java Province of Indonesia.
Research producesSelf-Direction Skills Development Guidelinesfor High School students. These
guidelines are proven effective to foster students‘ self-direction skills, which include: initiative,
autonomy, self-regulation, and responsibility.
Keywords:adolescence, a time of crisis, self-direction skills, effective learning process
Pengantar
Proses pembelajaran di SMA, menuntut siswa untuk memiliki kepribadian efektif,
kreatif,dan produktif, serta mampu berinteraksi, menyesuaikan diri, mengelola, dan
mendayagunakan lingkungan sebagai fasilitas perkembangan yang kondusif. Siswa SMA
seyogianya memiliki kemandirian dan tanggung jawab dalam mengembangkan inisiatif dan
kemampuan memilih tindakan efektif dalam mencapai tujuan.
Dewasa ini, kemandirian dan tanggung jawab dalam menentukan pilihan dirasakan
semakin penting untuk menghadapi kondisi kehidupan yang senantiasa berubah dan bertambah
kompleks. Dalam berbagai dimensi, kompleksitas tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan
dari setiap proses kehidupan. Selain itu, perubahan dalam kehidupan yang semakin cepat dan
meluas, menuntut individu untuk melakukan penyesuaian diri, pengarahan diri, dan pengelolaan
diri di sepanjang rentang perjalanan hidupnya.
Siswa yang memiliki kecakapan pengarahan diri dan pengelolaan diri (KPPD) akan
memiliki kepekaan dalam melihat peluang, kekuatan untuk menghindari hambatan, kejelian dalam
menghadapi tantangan, dan ketepatan serta konsistensi dalam melakukan tindakan. Dalam
melakukan aktivitasnya, siswa akan memiliki selektivitas dan motivasi yang tumbuh dari dalam
dirinya. Dengan demikian, KPPDakan sangat menunjang siswa dalam mencapai proses dan hasil
belajar yang efektif.
Di sisi lain, dalam menjalani kehidupan dan proses perkembangannya, siswa akan terus
menerus dihadapkan pada perubahan, keragaman pilihan, dan persaingan. Apabila tidak memiliki
KPPD yang memadai, mereka akan menemui kebingungan, kebimbangan, dan ketidakmatangan.
Dengan
demikian,
proses
pendidikan
di
sekolah
perludiupayakan
untuk
dapatmengembangkanpotensi siswa agar mampu membimbing, mengatur, dan mengarahkan
dirinya dalam mencapai tujuan. Upaya tersebut dapat dilakukan, di antaranya melalui layanan
bimbingan dan konseling yang terencana dan terpgrogram dengan baik.
Layanan bimbingan dan konseling dalam upaya pengembangan KPPD siswa memerlukan
strategi yang teruji secara rasional dan empirik dalam praktik di lapangan. Selain itu, penerimaan
siswa terhadap perlakuan guru bimbingan dan konseling akan menentukan keberhasilan
pengembangan KPPD. Tindakan pemberian bantuan guru BK yang tidak diterima oleh siswa kerap
menjadi penyebab utama kegagalan layanan bimbingan dan konseling.
Penelitian difokuskan untuk menemukan strategi bimbingan dan konseling yang efektif
guna mengembangkan KPPD siswa. Dengan melibatkan siswa dan guru bimbingan dan konseling,
dalam implementasi diidentifikasi kompetensi guru BK yang perlu dimiliki dalampengembangan
KPPD.

25

Masalah Penelitian
Dalam proses perkembangannya, siswa SMA diharapkan memiliki ketangguhan dan
kemampuan antisipatif dalam menghadapi berbagai kendala kehidupan, responsif dalam
menghadapi peluang, serta dapat mengarahkan dan mengelola diri dalammengaktualisasikan
potensi-potensi yang dimiliki.Dalam era kesejagatan ini, individu dituntut untuk selalu
memperbaiki kemampuan dan kecakapannya dalam mengeksplorasi informasi sehingga dapat
menentukan pilihan dan mengambil keputusan dengan tepat.
Hasil survey tahun 2014terhadap 68 orang siswa kelas 12 SMA Negeri 15 Kota Bandung,
menunjukkan bahwa intensitas masalah siswa dalam pengarahan diri dan pengelolaan diri sangat
tinggi. Hal ini tampak dari: (a) kekurangmampuan dalam mengatur waktu untuk menyelesaikan
tugas-tugas sekolah (85%), (b) ketergantungan pada pihak lain dalam menemukan jati diri (82%),
(c) mengabaikan tugas-tugas yang diberikan guru (79%), (d) suka melakukan kegiatan yang
mengganggu tugas-tugassekolah (76%), (e) memiliki kesulitan dalam memanfaatkan waktu secara
efektif (74%), (f) kurang memiliki keberanian untuk mengemukakan pendapat (73%), (g) merasa
kesulitan dalam memilih kegiatan yang menunjang cita-cita (72%), (h) melakukan kegiatan tanpa
rencana (70%), (i) ketidakpercayaan terhadap upaya sendiri (68%); (j) kesulitan dalam
menggunakan waktu luang (67%), (k) ketergantungan pada guru (64%), (l) suka menunda tugastugas sekolah (64%), (m) kesulitan dalam mengatur kegiatan di luar sekolah (61%), serta (n)
apabila mengalami kegagalan suka menyalahkan pihak di luar dirinya (52%).
Berbagai masalah di atas, menuntut sekolah untuk menyediakan program dalam
mengembangkan KPPD. Program tersebut dirancang untuk dapat memfasilitasi siswa agar
memiliki kemampuan memilih berbagai alternatif dalam mengambil keputusan, serta mampu
merespon positif tantangan-tantangan dan peluang-peluang yang terdapat pada diri dan
lingkungannya. Diharapkan program ini dapat membantu siswa untuk menjalani kehidupannya
secara terfokus, bertujuan, fungsional, serta dapat mengoptimalkan perkembangan mereka secara
efisien.
Selain itu, program ini perlu diselenggarakan sebagai upaya untuk meningkatkan proses
belajar efektif siswa, sehingga mereka mampu menghadapi berbagai tantangan, serta dapat
memanfaatkan setiap peluang dan fasilitas yang tersedia dalam mengoptimalkanpembelajarannya.
Dengan demikian, siswa diharapkan dapat menjalani proses pembelajaran secara efektif, kreatif,
dan produktif.
Pengarahan diri dan pengelolaan diri merupakan pemusatan kekuatan psikologis dengan
mengkonsentrasikan potensi-potensi yang dimiliki individu dalam proses meraih tujuan-tujuan
hidupnya (Lihat Logue, 1995; Merriam & Caffarella, 1991;Shelton, 1979; Sukartini, 2003).Sejalan
dengan pendapat para ahli tersebutKnowles (2003) menyatakan bahwa pengarahan diri
mendorong individu untuk memiliki kepekaan, inisiatif, dan responsivitas dalam melihat dan
memanfaatkan peluang-peluang yang tersedia, serta memiliki kemandirian dan tanggung jawab
dalam menetapkan pilihan-pilihan tindakan guna memfasilitasi pencapaian tujuan yang ingin
diraih.
Pembahasan
Bimbingan dan konseling pada hakikatnya merupakan layanan untuk memfasilitasi
perkembangan individu, yang berorientasi tidak hanya pada pemecahan masalah saat ini, tetapi
juga pada pengembangan perilaku jangka panjang sehingga berperan signifikan dalam proses
pendidikan (lihat Blocher, 1981; Covey, 1999; Depdiknas, 2003; Kartadinata, 2014; Muro &
Kotmann, 1995; Schmidt, 1999).Dengan demikian layanan bimbingan dan konseling hendaknya
menunjang perkembangan siswasecara simultan. Sejalan dengan pendapat tersebut, penelitian ini
bertujuan untuk menemukan strategi efektif dalam mengembangkan KPPD siswa SMA. Secara
khusus, tujuan penelitian adalah: (a) mengidentifikasi dimensi-dimensi KPPD yang perlu
dikembangkan dalam layanan bimbingan dan konseling di sekolah, (b) menemukan strategi
pengembangan KPPD agar siswa dapat menjalani proses belajar secara efektif, serta (c)
mengidentifikasi kompetensi yang perlu dimiliki oleh guru bimbingan dan konseling
untukmengembangkan KPPD siswa secara efektif.
Layanan bimbingan dan konseling hendaknya menyediakan program pengembangan
KPPDuntuk menciptakan kondisi agar siswa mampu membimbing, mengatur, mengarahkan, dan
mengelola dirinya dalam mencapai tujuan. Program tersebut dirancang untuk memberikan arahan
dan bimbingankepada siswa agar memiliki kemampuan memilih berbagai alternatif dan

26

mengambil keputusan, dapat meresponstantangan secara positif, serta dapat mengoptimalkan
peluang-peluang yang ada pada diri dan lingkungannya.
KPPD perlu dikembangkan untuk membantu siswa guna mengantisipasi peranannya
dalam kehidupan di masa yang akan datang. Pengarahan diri dan pengelolaan diri berkaitan
dengan upaya mengoptimalkan pemanfaatan sumber-sumber dan fasilitas yang tersedia dalam diri
dan lingkungan agar berkontribusi secara maksimal bagi pencapaian tujuan dan perkembangan
dirinya. Upaya membantu siswa menghadapi masa depan yang penuh dengan peluang dan
tantangan, memerlukan layanan bimbingan dan konseling yang efektif untuk menumbuhkan
kemampuan serta mengembangkan kekuatan dan potensi diri.
Pengkajian struktur lingkungan sebagai sistem peluang, sistem pendukung, dan sistem
penghargaan bagi perkembangan siswa seyogianya lebih diintensifkan. Demikian pula pengkajian
karakteristik dan kebutuhan perkembangan siswa sebagai dimensi yang esensial dan signifikan
perlu dilibatkan secara mendalam dan meluas dalam fokus-fokus kajian bimbingan dan konseling.
Dalam konteks pembelajaran, KPPD diperlukan untuk menumbuhkembangkan tanggung
jawab dalam belajar, kemampuan mengelola diri dalam belajar, dan mengembangkan kreativitas
dalam belajar. Dalam konteks pengembangan kepribadian, KPPD diperlukan untuk
menumbuhkembangkan kemampuan berinteraksi dengan guru, teman, dan anggota keluarga;
mengontrol dorongan-dorongan dan respons-respons emosi; menerima hal-hal yang tidak dapat
diubah dan dielakkan; serta dapat mengendalikan frustrasi, ambiguitas, dan permusuhan.
Dengan demikian, KPPDpenting dimiliki siswa untuk menumbuhkan kekuatan psikologis
agar dapat bertanggung jawab terhadap konsekuensi atas pilihan dan keputusan yang diambilnya.
Semakin mampu individu siswa mengarahkan diri dan mengelola diri, maka semakin terbuka
peluang untuk menjalani kehidupan secara efektif,serta terhindar dari situasi yang mengganggu
dalam mencapai tujuan.
Keefektifan perilaku belajar siswa dipengaruhi oleh : (1) motivasi, (2) perhatian dan
pengetahuan mengenai sasaran, (3) usaha yang dilakukan (response), serta (4) evaluasi dan
pemantapan hasil (reinforcement) belajar. Oleh karena itu, lingkungan sekolah semestinya dapat
memfasilitasi berkembangnya motivasi, perhatian dan pengetahuan mengenai pembelajar, usaha,
serta evaluasi dan pemantapan hasil belajar siswa. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah
dengan mengembangkan pembelajaran yang berpusat pada siswa (learner centered) yang sejalan
dengan tarap perkembangan mereka.
Dalam menjalani proses pembelajaran di sekolah, siswa dituntut untuk: (a) memiliki
kemampuan mengembangkan diri secara optimal dengan memanfaatkan kelebihan diri serta
memperbaiki kekurangannya, (b) menunjukkan sikap percaya diri dan bertanggung jawab atas
perilaku dan tindakannya, (c) memiliki kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif
dalam pengambilan keputusan, (d) menunjukkan sikap kompetitif dan sportif untuk mendapatkan
hasil yang terbaik, (e) memiliki kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah yang
kompleks, (f) menghasilkan karya kreatif, baik individual maupun kelompok, serta (g) menguasai
pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk melaksanakan proses belajar efektif
(Blocher, 2005:72).
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian dan pengembangan (research and
development). Target penelitian adalah menghasilkan strategibimbingan dan konseling untuk
memfasilitasi siswa mengembangkan KPPD. Kerangka isi dan komponen strategi disusun
berdasarkan kajian konsep pengarahan diri dan pengelolaan diri, kajian konsep bimbingan
perkembangan, kajian hasil penelitian terdahulu yang relevan, sertaanalisis kajian lapangan
tentang kebutuhan pengembangan KPPD.
Adapun tahap-tahap penelitian, meliputi: (1) survey lapangan dan need assessment untuk
memperoleh informasi kondisi objektif siswa tentang kepemilikan dan kebutuhan pengembangan
KPPD, (2) merumuskan Panduan Pengembangan Kecakapan Pengarahan Diri dan Pengelolaan
Diri Bagi Siswa SMA, serta(3) mengidentifikasi kompetensi guru bimbingan dan konseling yang
diperlukan dalam mengembangkan KPPD.
Subjek utama penelitian adalah siswaSMA kelas 11 IPA dan kelas 11 IPS. Alasan
pengambilan subjek penelitian tersebut karena siswakelas 11 memerlukan informasi untuk
pengembangan pribadi, orientasi masa depan, pematangan rencana akademik, dan pilihan karir.
Siswakelas 11 sedang dihadapkan pada berbagai pilihan dan pengambilan keputusan yang
memerlukan KPPD. Selain itu, untuk merumuskan kompetensi guru BK dalam pengembangan
KPPD diidentifikasi melalui harapan siswa serta pendapat guru bimbingan dan konseling.
Responden yang terlibat dalam penelitian ini adalah 516 orang siswa dan 18 orang guru BK.

27

Setelah melalui kajian teoretis dan analisisdata hasil studi lapangan,tersusun Panduan
Pengembangan Kecakapan Pengarahan Diri dan Pengelolaan Diri Bagi Siswa SMAuntuk
diterapkan sebagai strategi layanan bimbingan dan konseling dalam mengembangkan KPPD.
Melalui proses uji coba (try out),diperoleh gambaran Panduan Pengembangan
Kecakapan Pengarahan Diri dan Pengelolaan DiriBagi Siswa SMAefektif dalam mengembangkan
dimensi-dimensi KPPD berikut:
a. kecakapan inisiatif, mencakup (1) membuat rencana; (2) menjalin kerjasama; dan (3)
mengendalikan kegiatan,
b. kecakapan otonomi, mencakup (1) memiliki tujuan; (2) memiliki misi pribadi; dan (3) menilai
diri secara positif,
c. kecakapan regulasi diri, mencakup (1) kesadaran diri, (2) imajinasi, dan (3) kata hati,
d. tanggung jawab, mencakup (1) mengambil keputusan; (2) keberanian mengambil resiko; (3)
orientasi nilai; dan (4) komitmen.
Strategi bimbingan dan konseling perkembangan yang efektif untuk menumbuhkan
KPPD siswa adalah menggunakan strategi bimbingan dan konseling kelompok, meliputi empat
tahap kegiatan, yaitu tahap permulaan, tahap transisi, tahap inti kegiatan, dan tahap akhir.
Fungsiguru bimbingan dan konseling dalam penerapan Panduan Pengembangan
Kecakapan Pengarahan Diri dan Pengelolaan Diri Bagi Siswa SMAadalah sebagai berikut.
Pertama, pada tahap permulaan, guru bimbingan dan konseling (BK) mempersiapkan
terbentuknya kelompok, menumbuhkan minat siswa, dan menjelaskan tujuan dan manfaat
pengembangan KPPD. Kedua, pada tahap transisi, guru BK berupaya membangun minat dan
komitmen kerjasama antara siswa dengan guru BK. Ketiga, pada tahap inti kegiatan, guru BK
menyampaikan materi pengembangan KPPD(inisiatif, otonomi, regulasi diri, dan tanggung jawab),
memandu diskusi, merespons pertanyaan siswa, serta menumbuhkan dan mengembangkan
dinamika dalam kelompok. Keempat, pada tahap akhir, guru BK memberikan orientasi masa
depan, merefleksi proses bimbingan, dan melakukan evaluasi serta menindaklanjuti proses dan
hasil bimbingan pengembangan KPPD.
Selain itu, melalui analisis konseptual-teoretis dan analisis data lapangan yang diperoleh
dari siswa dan guru BK,penelitian ini berhasil mengidentifikasi kompetensi guru BK yang perlu
dimiliki untuk memfasilitasi pengembangan KPPDsiswa, yaitumampu (1) mengembangkan
substansi pengembangan KPPD, (2) menumbuhkan kepercayaan siswa, (3) memberikan dorongan,
(4) berkomunikasi empatik dengan siswa, serta (5) mengembangkan sikap positif dan terbuka.
Penutup
Dewasa ini,kemampuan menjalani kehidupan secara efektif dan kemampuan mengambil
keputusan secara tepat merupakan kebutuhan yang sangat mendasar. Untuk itu, perlu ditumbuhkan
kekuatan psikologis (psychological strength) siswa dalam berinteraksi dengan beragam lingkungan
guna memberikan kesempatan, peluang, dan pilihan dalam menghadapi kondisi dan tantangan
yang dialami siswa SMA.
Guru BK hendaknya memiliki sumber-sumber informasi yang dapat diakses dalam
pengembangan KPPD siswa. Informasi tersebut hendaknya dieksplorasi dan diidentifikasi dari
berbagai media dan sumber yang tersedia di sekolah.
Untuk memfasilitasi pengembangan KPPD, program bimbingan dan konseling hendaknya
memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat membuat pilihan secara tepat, mampu
mengendalikan diri, dan dapat mengeksplorasi setiap kesempatan yang diberikan dalam kegiatan
pembelajaran. Dalam mengembangkan keterampilan belajar sebagai penerapan KPPD, diperlukan
penetapan tujuan belajar yang berorientasi pada upaya pengembangan kekuatan diri (self
empowering) dengan cara mengubah kebiasaan pasif menjadi pengendali aktif dalam
mengeksplorasi berbagai infomasi dan sumber belajar. Dalam hal ini, guru BK berperan sebagai
fasilitator yang menggerakkan kekuatan siswa untuk belajar mandiri, membantu mengembangkan
keterampilan belajar sepanjang hayat, serta membantu siswa mengembangkan tanggung jawab
pribadi dalam belajar.
Dalam mengembangkan program layanan bimbingan dan konseling yang berkualitas, dari
hasil penelitian direkomendasikan hal-hal berikut ini.
(a) Layanan bimbingan dan konseling seyogianya dapat menata dan menstimulasi lingkungan
belajar sebagai lingkungan perkembangan yang kondusif bagi siswa. Untuk itu, layanan
pengembangan KPPDhendaknya memperhatikan dan merancang layanannya melalui
program dengan pilihan beragam, yang dapat dilaksanakan dalam bimbingan dan konseling
secara individual dan kelompok.

28

(b) Guru bimbingan dan konseling seyogianya membantu pengembangan kecakapan pengarahan
diri dan pengelolaan diri siswa dengan memberikan tantangan belajar, berpikir, dan
pengalaman baru yang bermakna.
Daftar Pustaka
Blocher, DH. (1981), Developmental Counseling, New York: John Willey & Son.
______(2005), Counseling Psychology in Community Setting, New York: Springer Publishing
Company.
Kemenhdikbud. (2014). Kemendikbud Nomror 111/2014 tentang Pedoman Bimbingan dan
Konseling,Jakarta: Kemendikbud.
Kartadinata, Sunaryo (2009), Bimbingan dan Konseling Perkembangan: Pendekatan Alternatif
bagi Perbaikan Mutu dan Sistem Manajemen Layanan Bimbingan dan Konseling, Laporan
Penelitian : tidak diterbitkan.
__________(2014), Telaah Filosofis dan Praksis Pendidikan bagi Penguatan Jati Diri Bangsa,
Bandung: UPI Press.
Knowles, Malcom. (2012a) Informal Adult Education: Self Direction and Andragogi (On Line)
tersedia di http.www.infed.org diakses 28 Nopember 2012.
_____________ (2012b) Self Direction in Learning (On Line) tersedia di http.www.ncel.org
diakses 28 Nopember 2012.
_____________ (2012c) Process and Rational for Self Directed Learning.(On Line) tersedia di
http.www.ncel.org diakses 28 Nopember 2012.
Lee, J. dan Gibson, C.C (2012) Developing Self-Direction in an Online Course Though ComputerMediated Interaction.The American Joural of Distance Education.17 (3) 173-187. (On
Line).Tersedia di http.www.ncel.org diakses 28 Nopember 2012.
Muro, J. James dan Kottman, Terry. (2005) Guidance and Counseling in the Elementary and
Midde Schools. Agoura CA: Brown & Benchmark.
Schmidt, John J. (2004) Counseling in School Essential Service and Comprehensive Programs.
Bosto: Aliyah Bacon.

29

ENTREPRENEURSHIP COURSES AT EDUCATORS INSTITUTION OR LPTK
(LEMBAGA PENDIDIKAN TENAGA KEPENDIDIKAN)
TO IMPROVE THE QUALITY OF HUMAN RESOURCES IN ENTERING ASEAN
ECONOMIC COMMUNITY
I Wayan Adnyana
Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan PGRI Bali
Jln. Seroja, Tonja, Denpasar Tel. 431434
email : pak.wayan@yahoo.com

Abstract
The purpose of this study is to offer a solution for the quality improvement problem of human
resources, especially in entering Asean economic community. Entrepreneurship Education in
LPTK is expected to be one of the alternatives in increasing the competitiveness of human
resources in Indonesia, which are considered less than any other country in Southeast Asia. By
including entrepreneurship education courses on working skill courses, it is expected to be better
in preparing students as creators of employment not just as job seekers. Through the development
of entrepreneurship education, it is expected to increase students' skills so that they have life skills.
Both life skills that are generic (generic life skill/GLK) which includes skills, personal, social,
understand yourself, thinking skills, cooperating skills, as well as the specific life skills (special life
skill/SLS).
Keywords : Asean economic community, entrepreneurship, life skill
I. INTRODUCTION
Every country wants a better process of economy change and this will be an indicator of the
successfulness of the economic development of a country. The acceleration, from revamping the
internal economic conditions conducted in one country even conducting international cooperation
in all fields to be able to contribute positively to the acceleration of economic growth. There are
several affecting factors; they are human resource factor, the factor of natural resources, scientific
and technological factors, cultural factors and factors of capital power. To manage these factors
Indonesia and nine other Southeast Asian countries form ASEAN economic community.
The purpose of establishing the 2015 ASEAN Economic is i.e. to enhance the stability of
the economy within the ASEAN, through the establishment of the 2015 ASEAN economic area it
is expected to able to cope with problems in the field of economics between ASEAN countries,
and in Indonesia is expected to be no such crisis in 1997 happen anymore. In some ways,
Indonesia is considered not to be ready to face the 2015 ASEAN Economic Community. However,
there are a lot of opportunities we can see from this 2015 ASEAN Economic. Many parties feel
hesitate with the readiness of Indonesia in facing the 2015 ASEAN Economic Community. In
concerning about the struck business sectors in our country, we remember how the bilateral
relations between Indonesia and China. Now China is able to dominate our domestic market that
may ultimately disrupt the stability of Indonesia.
What are the advantages of ASEAN Economic Communityfor countries in Southeast Asia?
The latest research from the world of Labour Organization or ILO mentions the opening of the
labour market to bring great benefits. Besides, it can create millions of new jobs, this scheme can
also improve the welfare of the 600 million people living in Southeast Asia. In 2015, ILO details
that the demand of professional workforce will rise 41% or approximately 14 million. While the
demand for middle-class workers will rise 22% or 38 million, while the low level of employment
will increase by 24% or 12 million. However, the report predicts that many companies will find
less skilled employees or even wrong placement of work due to lack of training and education of
the profession (BBC Indonesia, 2014).
Based on the fact of competitiveness rank of Indonesia in the period of 2012-2013 it reached
the position of 50th of 144 countries, still below the second-placed Singapore, Malaysia is at the
twenty-fifth, Brunei at twenty-eighth, and Thailand earns the thirty-eighth. By seeing conditions
like this, some things have been the factor of low competitiveness of Indonesia according to the
study of the Ministry of industry of Indonesia, namely the performance of logistics, tax rates, bank
rates, as well as the productivity of the workforce (Koesoemo, 2015).

30

The implementation of the ASEAN Economic Community agreement or ASEAN Economic
Communityis already in sight. Indonesia has to start to prepare itself if we do not want to be
targeted by the entry of products of ASEAN member countries. There is no other choice but to
face with confidence that the people of Indonesia can afford and have a better economic in this
ASEAN economic community participation. One of the strategic steps that need to be
implemented by the government is to foster a spirit of entrepreneurship.
II. PROBLEMS
ASEAN Economic Community (AEC) should be faced by deciding the step as well as a
thorough preparation both in the fields of political, social, cultural, defence and security, and not
less important is in the field of education. The challenge of education in Indonesia today and in the
future is the ability to produce human resource that are productive, efficient and have a strong selfconfidence so that they are ready to compete in the global life. Globalization has also resulted in
more strong capitalist/owners of capital so that it is seen to be marginalizing the role of people's
economy such as Micro, Small, and Medium Enterprises (MSME).
Nowadays, micro enterprise sector is a key player of the national economy. Therefore, the
minor view to the micro sector is incorrect. So far, the micro enterprises have provided jobs for
99.86 million people in Indonesia. Characteristics of microenterprise sector revenue is less than
300 million rupiahs per year, the capital is below 50 million rupiah, and its workforce is (on
average) could be 1.7 people per entrepreneur. The micro sector actor is the main character
himself, and generally assisted by his wife, son, or neighbours. Unfortunately, even though it has a
very big role in the economy of Indonesia, this MSMEsector has not received great supports.
Whereas the sector of MSME is the sector which is already become a good survival. Since the
economic crisis occurred in 1998, the MSMEsector proved to be able to survive (Sukmana, 2015).
Adnyana (2012) tells the need for empowerrment as an integral part of community
economy which has the role and strategic potential in supporting the national economy. The
empowerment of this enterprise is made by the government, local governments, the business
community and society as a synergistic so that it is expected to grow and develop into a formidable
and independent enterprise.
The Central Bureau of statistics released the unemployment figures per February 2014, the
open unemployment rate recorded at 5.7% or 7, 15 million people. The figure compared with
February 2013 of 5.82% or 7.2 million, as well as August 2013 which at 6,17% or 7,41 million. In
February 2014 BPS recorded 181 million of Indonesian people who are in working age, from the
figure, 125 million people are the work force and the rest non-labour force such as students,
college students, and others who are not actively looking for work. According to the data of
August 2010, the number of open unemployed university/LPTK graduates were 710.128 people,
and according to the Labour Minister Muhaimin on September 29, 2013, while attending the
National Scholars Day says that 360,000 people in Indonesia were unemployed scholars.
Vice Chairman of the General Chamber of Commerce and industry (Chairman of) Banking and
Financial Department Rosan P. Roeslani states that the number of entrepreneurs in Indonesia is
still far behind if it is compared to other ASEAN countries such as Malaysia, Singapore or
Thailand. He mentions that the number of entrepreneurs in Indonesia is only 1.6% of the total
population in Indonesia. When compared with countries in ASEAN they are still left behind,
moreover if they are compared to Korea, it can be ensured that Indonesia is left far behind,
whereas Korea has less population compared to Indonesia. It is noted that there are 4%
entrepreneurs in Korea, and 2.1% in Malaysia. Hence, Indonesia is left by those countries
Minister of Cooperatives and Small & Medium Enterprises Anak Agung Gede Ngurah
Puspayoga said that the National Movement of Entrepreneurship (NME) plays an important role in
increasing the number of entrepreneurs in Indonesia. Through NME, he expects that the percentage
of entrepreneurs in Indonesia can reach two percent by 2015 and helps even distribution of
welfare. The purpose of self-employment is how to transform garbage into gold, while enhancing
the competitiveness and the quality of (commodity) abroad. Indonesia is still not ready to face
AEC, the quality of human resources, quality of product, and the capital are still left behind.
However, he stresses that Indonesia should not have low self-esteem. The government will
consistently endeavour to keep the number of self-employment increasing. He posits that various
policies have been carried out to facilitate the creation of new entrepreneurs, for instance the
liberation of the notary fees for the management of the license of micro business, ease the granting
of permission for the micro and small business only through taking care of the one-day permits,

31

later ease of access to banks. Every small and micro enterprise will receive a card to simplify
access to the bank (Harian Ekonomi Neraca, 2015).
One form of creating new entrepreneurs is through providing education in
entrepreneurship. The entrepreneurial education is better developed to start earlier. A college
student has already qualified to start a small business in the college. Within the scope of the
campus, the college party can cooperate with various parties both small, medium industries, even
the big industry in developing courses in entrepreneurship. The goal is to demonstrate to students
that there are many kinds of entrepreneur as well as there are many opportunity (Rahayu, 2015).
The teaching model that is a greater emphasized on knowledge than skills and attitude
development, put in unpreparedness of college graduates to take the world of work, moreover the
existence of gaps in the reality of the world of education to the world of work, the lack of soft skill
of adaptability, initiative, analytical and conceptual thinking, and conduct cooperation.
Through the development of entrepreneurship education, it is expected to increase students'
skills so that they have life skills. Both life skills which are generic (generic life skill/GLK) which
includes skills, personal, social, self understanding, thinking skills, cooperating skills, as well as
the specific life skills (special life skill/SLS). These skills include skills for dealing with particular
job that includes academic skills, or intellectual skills, vocational skills requiring more motor
skills.
Here the problem lies, that higher education, including LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga
Kependidikan) has not been able to create educational climate that is able to respond to current
challenges. Based on the decree of the Minister of National Education no. 232/U/2000 the
guidelines for drafting the curriculum of LPTK that are more responsive to the needs of the work
are set out. According to this decree, the LPTK curriculum containing a core curriculum and
institutional curriculum which consists of a group of Personality Development Courses, Academic
and Skills Courses, Working Skills Courses (MPB), and Courses of Community Life. Later,
Decree of the National Education Minister No. 045/U/2002, the Minister does not establish the
core curriculum of each study program. Thus, there is the possibility of variations of the
curriculum in every study program.
To improve the quality of LPTK graduates, rules that must be met in every level need
to be able to distinguish; 1. Learning out-comes, 2. The number of credits, 3. The minimum study
period, 4. Obligatory courses, 5. The process of student-centred learning, 6. Accountability and 7.
Need a diploma supplement. In PP No. 19/2005 about National Education standards of article 17,
paragraph 4 States that "Education unit level Curriculum for each study program at the LPTK is
developed and determined by each LPTK with reference to National Education Standards
Based on the above statement, there are openings for adding courses to the study
program, according the author, it is better to include the "Entrepreneurship Education" course as
part of courses on the group of Working Skill Courses. The expectation is that the college also
takes a part in facing the social challenges that are urgently increasing, therefore education in
LPTK need to be directed at entrepreneurship education without eliminating other identities, as the
research and discovery-oriented high institution. A higher education is required to direct an
entrepreneurial education program required (Adnyana, 2014)
The importance of entrepreneurship education given to students is also related to the
narrowness of job opportunities. This is the challenge for LPTK graduates to answer with
competence and professionalism; hence, it will not be a threat in fighting over market share/crack
of the job market.
III. DISCUSSION
Knowledge of entrepreneurship is a discipline that studies about the value, the ability, and
the person's behaviour in facing life challenges to earn opportunities and share the risks that may
be encountered. Entrepreneurship is not just innate talent since the birth or of field experience but
can also be studied and taught through education.
The development of entrepreneurial attitudes should be done as early as possible, ranging
from the embedded elementary school since its inception, students need to be taught self-reliance,
courage to give opinions, learn to resolve conflict with themes, learn to be a leader in classrooms,
no cheating attitude and are able to develop innovative and creative ideas. According to Drucker
cited by Alma (2006) the core of entrepreneurship is the ability to create something new and
different through creative thinking and innovative actions for the achievement of business
opportunities. Entrepreneurial character traits can be seen in table 1.

32

Table 1. Entrepreneurial Character Traits
No Traits

Characters

1

Self Confident

Convinced, Independent, Individuality, and Optimist.

2

Task and result oriented Need for achievement, profit oriented, diligent, determined

3

Risk-taking and like
challenges

Determined and working hard, having strong power, energetic and initiative

4

Leadership

Attitude of leader, associating with others, responding critiques and
suggestions

5

Authenticity

Innovative, creative, and flexible

6

Future oriented

Learning from the experience and always have views for advances and goal
achievement

Source: Ivanyi, Attila Szilard and Ilona Hoffer, 1999.
The American Association of Colleges for Teacher Education (AACTE, 1994) posits
"Globalization said a necessitate changes in teaching, such as more attention to diverse and
universal human values, the global system, global issues, involvement of different kinds of world
actors and global history". This statement suggests that the era of globalization requires that there
are any changes of the strategies and methods of teaching, among others are by giving more
attention to diversity and universal human values, the system and global issues as well as related
to the people of the world and global history.
The shift on the fulfilment of the needs of the community, which is originally aimed at a
more focused on basic needs into the community who do not only see the function of an object, but
also how by using these items they get views form the society (Adnyana, 2012). Globalization
demands the increasing human resources to face the competition, because at this time, only those,
the qualified human who can survive and still exist. Therefore, the entrepreneurial development is
considered a very important role as a provision for college graduates. Entrepreneurship is defined
as the capacity and willingness to develop, organize, and manage a business venture is a long with
any of its risks in order to make a profit, the most obvious example of entrepreneurship is the
starting of a new business.
Students are expected to have a reliable competence of the pursued field of study; they are also
given the provision of entrepreneurial competencies. Competence is defined as the knowledge,
skills, and abilities of individuals (personality) that directly affect performance for selfemployment. The objective be achieve are;
a. Intellectual capital = competency x commitment
That means even though a person has a high level of knowledge, if it is not accompanied by high
commitment, then he/she will not be able to use his /her intellectual capital.
b. Competence = capability x authority
It means that the competent entrepreneur is an entrepreneur who has the ability and authority
his/her own in the management business (independence), entrepreneur is always free to
determine the entrepreneurial, does not only depend on other people.
c. Capability = skill x knowledge
It means that the entrepreneurial capabilities are determined by knowledge or skills (Hisrich,
e.al, 2009)
The next question is how this entrepreneurship curriculum can be put in the study
program at the LPTK. This can be done by conducting a review of the applicable curriculum,
through some alternatives;
1. Through the LPTK's policies, for example by establishing entrepreneurial subjects
become compulsory subjects which should be taken by students with 2 credits.

33

2.
3.

Or as an optional course
Through hidden curriculum, i.e. by inserting material of entrepreneurship to subjects that
are relevant to entrepreneurship
4. Through extracurricular activities
5. Through public lectures, given by professors or guest speakers at the freshman
admissions activities
Main subject of entrepreneurship education that needs to be taught is that students are
invited earlier to think and develop creative ideas, design, create and develop business in
accordance with the course materials. Developing business skills and entrepreneurial spirit,
customer needs, development of the 4Ps (Product, Price, Promotion, and Place). Business models,
marketing strategy of product or service, and the drafting of proposals of business feasibility study.
Through this course, students are expected to have spirit and certain abilities in creating and
innovating. Through the preparation of business proposals LPTK students are expected to be able
to create something new and different (ability to create the new and the different).
Entrepreneurship education can also encourage students to participate in the Directorate General of
higher education of the Ministry of education and culture (2009) namely the Entrepreneurial
Student Program (Adnyana, 2014)
The suggested learning step consists of three stages. First, the learning process is done in
the classroom, Two, the learning process is carried out through observations in the field through
surveys, direct observations to the business units that we want, Three, making business plans and
if it is possible by having a mentoring. Through these activities, students are invited to start early
to think critically, analyze various possibilities, and see market opportunities around them.
Method of entrepreneurship education that is recommended is a method that essentially
has to give problem-based learning aspect to students, even bring in problem solving of every
problem that is discussed. The education methods are; First, in class discussion with the aim of
fostering sensitivity (awareness) and build a frame (framework of thinking). Second through the
Case Study method, with the aim to improve students' sensitivity to the entrepreneurship as well as
being able to analyse based on the given concepts. It can be inserted into courses of every
discussion. Students‘ activities to discuss problems of business management, problems may come
from students or from the lecturer. Three, through public lectures (General lecture), its purpose is
to learn from the practitioner or the real people in the field who are capable of inspiring and can be
role models for students.
Through the setting up of entrepreneurial education as the subject, a capacity
improvement of managers and teachers/lecturers should be conducted so that it is able to change
the students‘ mindset to develop entrepreneur character. Next, for the institutions it needs to
develop level of cooperation in the framework of preparing graduates to become entrepreneurs, the
provision of supporting facilities and infrastructure. The entrepreneurial mindset that needs to be
developed is to convince the rest of the staff about things as follows: Majors/study programs are
the place where we are together, therefore the increasing and decreasing is of a shared
responsibility. If the department improve, the progress belongs together, it means all parties
benefit in a variety of forms. Department/Faculty should implement an open management and will
give the task/trust in accordance with the capabilities of staff, and is able to put the people who
have the capacity, commitment and loyalty to the institution.

IV. CLOSING
1. Conclusion
Entrepreneurship education is closely associated in the formation of human resources in
entering ASEAN Economic Community. The LPTK is expected to give the life skills-oriented
education, not merely dwell on knowledge which graduates prepare students more as job seekers
not as creators of employment. College can play an active role in supporting entrepreneurship
program; hence, it can push the rate of unemployment of higher education graduates.
2. Recommendation
Entrepreneurship education is very relevant to be included in the curriculum of study
program in LPTK in response to the challenges faced by graduates, where their opportunity are
getting narrower, hence entrepreneurship education needs to be provided as the education that
leads to life skills. It also needs to be done to prepare a reliable resource and be able to compete in

34

the ASEAN e EconomicCommunity. Through the development of entrepreneurship education, it is
expected to increase students' skills so that they have life skills. Both life skills that are generic
(generic life skill/GLK) which includes skills, personal, social, self understanding, thinking skills,
working skills, as well as the specific life skills (special life skill/SLS). These skills include skills
for dealing with particular job that includes academic skill, or intellectual skill, vocational skills
requiring more motor skills.
BIBLIOGRAPHY
Adnyana, I Wayan. 2012. “Minimarket and Consumer Cultural in Denpasar Society”, Prosiding
Konferensi Internasional Budaya Daerah ke 2 (KIBD-II), 22 – 23.
……………………… 2013. “Marginalization of Small Retailers As a Consequence of the
Growth of Minimarket in Denpasar City”. E – Journal of Cultural Studies. ISSN 2338
– 2449. Volume 6. 25 – 29.
……………………….
2014. Pengembangan Pendidikan Kewirausahaan pada Lembaga
Pendidikan Tenaga Kependidikan (Orasi Ilmiah). Disampaikan di Hotel Grand Bali
Beach SanurTanggal 25 Agustus 2014 dalam rangka Dies Natalis ke 31 dan Wisuda
Sarjana ke 33. Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) PGRI Bali
Alfenry Jane, ed. 1991. Creative Management, London, Publication.
Alma, H. Buchari. 2006, Kewirausahaan. Bandung :Alfabeta.
BBC Indonesia. 2014. Apa yang harus Anda ketahui tentang Masyarakat Ekonomi Asean.
Diunduh dari : http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2014/08/140826_
pasar_tenaga_kerja_aec
Boone and Curtz. 2007. Contemporary Business. New York: Thomson Learning.
Cargill Margaret, Patrick O‖Connor. 2013. Writing Scientific Research Articles. South Australia:
Wiley-Blackwell.
Harian Ekonomi Neraca. 2015. Jumlah Wirausaha RI Ketinggalan Dibanding Negara di ASEAN.
Diunduh
dari
:
http://www.neraca.co.id/article/53112/Jumlah-Wirausaha-RIKetinggalan-Dibanding-Negara-di-ASEAN
Hisrich e.al. 2009. Entrepreneurship. New York : Mc Graw Hill Inc.
Ivanyi, Attila. Szilard and Ilona Hafter. 1999. The Role of Creativity in Innovation.
Kepmendiknas No. 232/U/2000. Tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Perguruan Tinggi.
Jakarta : Dikti.
Kepmendiknas No. 45/U/2002. Tentang Kurikulum Inti. Jakarta: Dikti
Koesoemo, Gatot Soeryo. 2015. Pengaruh Era MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) 2015
Terhadap Tenaga Kesehatan Profesional Di Indonesia. Diunduh dari :
http://www.kemangmedicalcare.com/kmc-tips/tips-dewasa/2883-pengaruh-era-meamasyarakat-ekonomi-asean-2015-terhadap-tenaga-kesehatan-profesional-diindonesia.html
Lee, Chang, and Lim. 2005. Impact of Entrepreneurship Education A Comparative Study of the
U.S. and Korea.
Liauw, Hindra. 2015. Wapres: Masyarakat Ekonomi ASEAN 2016 Untungkan Indonesia. Diunduh
dari : http://nasional.kompas.com/read/2015/04/28/02562181/
Wapres.Masyarakat.Ekonomi.ASEAN.2016.Untungkan.Indonesia
Morris. 2008. Entrepreneurship And Management. Journal Vol.I. 27 – 43.
Permendikbud 87/2013, Tentang Pendidikan Profesi Guru Prajabatan (PPG). Jakarta.
Rahayu, Tri. 2015. Menumbuhkan Motivasi Entrepreneurship Masyarakat Menjelang Masyarakat
Ekonomi Asean (MEA 2015). Diunduh dari :
http://ekonomi.kompasiana.com/wirausaha/2014/11/29/menumbuhkan-motivasientrepreneurship-masyarakat-menjelang-masyarakat-ekonomi-asean-mea-2015706992.html
Sukmana, Yoga. 2015. Jangan Anggap Enteng Wirausahawan Kelas "Gerobak". Diunduh dari :
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/04/17/123900826/Jangan.Anggap.Enten
g.Wirausahawan.Kelas.Gerobak.

35

PENDIDIKAN MENINGKATKAN SDM MEMASUKI MEA
Oleh Uda Geradus
FKIP Undana Kupang, NTT, Indonesia
Abstract
The problem in the paper is how the education to prepare of manpower for coming to MEA? MEA
be begin on January 1 2016. How the government and education to prepare of manpower for
coming to MEA/AEC? The government must be identificate of economic potency or product
which is comed by manpower. Education by curriculum, ounseling and man
power practice institution to prepare manpower competency, and to share of career information to
manpower.
Pengantar
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) mulai berlaku tanggal 1 Januari 2016. MEA
merupakan kesepakatan di antara 10 negara Asia Tenggara (Brunei, Filipina, Indonesia, Kamboja,
Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand, dan Vietnam)untuk membentuk masyarakat
ekonomi bersama.Masyarakat ekonomi bersama artinya 10 negara di ASEAN secara bersama
mendorong kegiatan ekonomi masyarakat, termasuk mendorong perdagangan barang dan jasa
antarnegara ASEAN, dan antara ASEAN dengan negara- negara lain; mendorong pergerakan
tenaga-tenaga terampil yang lebih muda dalam mencari kerja di antara negara ASEAN;
meningkatkan kemudahan pembiayaan antarpelaku usaha di antara negara ASEAN; saling
mendukung pengembangan infrastruktur, saling melindungi kepentingan konsumen, saling
melindungi hak kekayaan intelektual; saling memudahkan urusan perpajakan; serta saling
mendorong dan mendukung perkembangan Usaha kecil Menengah (Adar, 2015).
Dengan berlakunya MEA, akan terjadi mobilitas tenaga kerja. Tenaga-tenaga kerja
dimungkinkan mencari kerja di antara negara ASEAN. Persaingan tenaga kerja dalam
mendapatkan pekerjaan akan makin ketat. Indonesia akan penuh diisi oleh tenaga kerja dari luar
Indonesia, meskipun besar pula peluang tenaga kerja mengisi pasar tenaga kerja di negera-negara
lain di ASEAN.
Dalam konteks mobilitas tenaga kerja di atas, MEA perlu dilihat sebagai momen bagi
tenaga kerja Indonesia untuk bersaing mengisi lowongan kerja di negara-negara ASEAN.
Pemberlakuan MEA perlu dilihat sebagai (1) peluang untuk mendapatkan lowongan kerja, (2)
tantangan untuk bersaing mendapatkan pekerjaan, atau sebaliknya sebagai (3) ancaman lahirnya
pengangguran yang harus dicegah. MEA dapat menjadi tantangan untuk memperkuat semangat
masyarakat dalam bersaing di negara sendiri dan negara lain di wilayah ASEAN.
Masyarakat ekonomi ASEAN merupakan tantangan bagi masyarakat untuk bersaing di
negara ASEAN. Ini akan mendorong peran penting bagi tenaga kerja agar menjadi lebih
mendominasi. Generasi muda harus berani mengambil risiko dalam berusaha. Genersi muda perlu
dididik untuk menjadi tenaga kerja yang bermartabat, beretiket, serta membangun bangsa ke
depannya. Pembentukan watak seseorang menjadi tenaga kerja yang handal merupakan salah satu
peran pendidikan, yaitu sejauh mana pendidikan formal menumbuhkan motivasi bagi calon tenaga
untuk menyiapkan diri memasuki dunia kerja.
Masalah
Uraian di atas menyinggung tentang tenaga kerja dalam era MEA. Ada bebarapa
pertanyaan tentang peran berbagai pihak, yang sekaligus menjadi rumusan masalah dalam tulisan
ini, yaitu:
1. Bagaimana peran pemerintah menyiapkan tenaga kerja memasuki era MEA?
2. Bagaimana peran pendidikan menyiapkan tenaga kerja memasuki era MEA?
3. Bagimana upaya tenaga kerja sendiri menyiapkan diri memasuki era MEA?
Pembahasan
1. MEA
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) / ASEAN Economic Community (AEC) adalah
kesepakatan di antara 10 negara di Asia Tenggara, (Brunei, Filipina, Indonesia, Kamboja,

36

Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand, dan Vietnam) untuk membentuk masyarakat
ekonomi bersama.
Masyarakat ekonomi bersama artinya 10 negara ASEAN itu secara bersamamendorong
kegiatan ekonomi masyarakat, termasuk mendorong perdagangan barang dan jasa antarnegara
ASEAN, dan antara ASEAN dengan negara-negara lain; mendorong mobilitas tenaga-tenaga
terampil dalam mencari kerja di negara-negarawilayah ASEAN; meningkatkan kemudahan
pembiayaan antar pelaku usaha di antara negara ASEAN; saling mendukung pengembangan
infrastruktur, saling melindungi kepentingan konsumen, saling melindungi hak kekayaan
intelektual; saling memudahkan urusan perpajakan; serta saling mendorong dan mendukung
perkembangan Usaha kecil Menengah (UKM).
MEA sebenarnya telah digagas sejak 1997, dan disepakati untuk dibentuk tahun 2003 di
Bali dan disepakati mulai berlaku 31 Desember 2015. Jadi sebenarnya bukan baru. Sejak 2003
itu prosesnya dimulai, terutama untuk bisa saling menyesuaikan dan menyepakati hal yang
memungkinkan tebentuknya masyarakat ekonomi bersama tersebut. Rencana pemberlakuan
MEA tersebut sudah dicanangkan 12 tahun yang lalu dan telah dicantumkan dalam Piagam
ASEAN yang disahkan pada tahun 2007. Pada tahun tersebut pula disepakati pencapaian MEA
dipercepat dari tahun 2020 menjadi tahun 2015.
Pengesahan MEA sendiri dicantumkan pada pasal 1 ayat 5 Piagam ASEAN dan diperkuat
dengan pembentukan Dewan Area Perdagangan Bebas ASEAN (ASEAN Free Trade Council)
yang tercantum pada Lampiran 1 Piagam ASEAN. Itulah dasar hukum yang mengesahkan
terbentuknya MEA.
Sudah Siapkan Kita?
JIKA diamati dengan cermat, ada di antara bangsa Indonesia yang cemas dan takut,
namun ada yang menantang dan semangat menunggu berlakunya Masyarakat Ekenomi
ASEAN (MEA). Kita takut menghadapi MEA karena pada saat MEA diberlakukan, bukan
hanya produk barang,jasa, dan modal yang bisa keluar-masuk Indonesia, tapi juga tenaga kerja
(Adar, 2015). Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar di antara
negaraASEAN lain (sekitar 40% dari seluruh penduduk Asia Tenggara), tentu menjadi pasar
potensial. Sebaliknya, Indonesia dapat mengambil peluang untuk menguasai pasar di Asia
Tenggara. Pertanyaannyaialah bagaimana kesiapan kita menghadapi persaingan dengan
negara-negara tentangga kita?
Keadaan Indonesia saat ini masih belum siap untuk memasuki era MEA atau era pasar
bebas ASEAN yang akan datang itu. Dibanding negara-negara ASEAN lain, Indonesia masih
tertinggal dalam kuantitas dan kualitas produksi barang, jasa dan modal. Hasil survei Global
Competitiveness Index tahun 2012-2013 menunjukkan daya saing Indonesia masih lemah.
Indonesia hanya menempati peringkat kelima dalam ASEAN, di bawah Thailand dan setingkat
di atas Filipina. Sementara di posisi puncak ada Singapura, disusul Malaysia dan Brunei.
Selain itu, kualitas infrastruktur Indonesia masih kalah jauh dari negara ASEAN lain. Kualitas
infrastruktur kita menempati peringkat 99 dari 144 negara (survei The World Economic Forum
2012-2013). Posisi tersebut berada di bawah Singapura, Malaysia dan Vietnam. Hal ini telah
melemahkan daya saing Indonesia dan menyebabkan meingkatnya biaya produksi per unit
produk yang diperdagangkan.
Walau masih tertinggal dalam kualitas dan kuantitas barang, jasa dan modal serta
infrastruktur, pemerintah kita menyatakan telah siap dan optimis menyongsong pemberlakuan
MEA tahun 2016. Beberapa persiapan telah dilakukan antara lain membentuk dan
melaksanakan ASEAN Single Window untuk perizinan ekspor dan impor. Dengan sistem ini,
maka kegiatan ekspor dan impor dapat dilakukan secara online. Juga telah disiapkan dan
disepakati hampir seluruh standar kompetensi delapan keahlian: perekayasa (engineer),
perawat, arsitek, surveyor, guide dan jasa turisme, akuntan, dokter dari Surabaya atau dokter
gigi dari Medan diakui keahlian dari komprofesiannya di kesembilan negara ASEAN lainnya
dan bisa mengajukan izin praktik di negara-negara itu. Per Agustus 2014, Indonesia telah
menyelesaikan 85,5% dari total persiapan tersebut, dan seluruh ASEAN telah mencapai 82,1%
persiapannya; beberapa negara lebih tinggi tingkat persiapannya, beberapa lainnya masih lebih
rendah (Adar, 2015).
Mau atau tidak, kita akan memasuki era perang ekonomi. Benarkah MEA akhir tahun
2015 ini ancaman bagi ekonomi Indonesia? Pada pengalaman kerjasama sebelumnya, tahun

37

2004, Indonesia bersama ASEAN telah menyepakati perjanjian dengan Cina yang dikenal
dengan ASEAN-China free Trade Agreement (ACFTA).
Kesepakatan kerjasama ini telah menghasilkan banjir produk-produk Cina masuk ke
pasar Indonesia. Hal ini bagaikan pukulan telak dan bencana karena produk-produk lokal kita
kalah dalam persaingan dengan produk-produk Cina. Pengalaman ini telah menyebabkan
sebagian besar pelaku bisnis kita pesimis jika ada model kerjasama antar negara, termasuk
MEA.
Apakah produk yang di impor menciptakan nilai tambah dan kesempatan kerja di
Indonesia? Apakah memang efisien menggunakan kemampuan produksi kita pada produkproduk yang kita unggul dari pada memaksakan melakukan produksi dengan tidak efisien?
singkatnya, kita memang harus berhitung dengan cermat atas impor untuk dapat menciptakan
neraca perdagangan (balance of trade) yang surplus.
Di sisi lain, MEA akan menciptakan suatu peluang bagi ekonomi kita. Saat ini ekspor
Indonesia ke ASEAN mencapai sekitar USD 45 miliar, atau sekitar Rp. 500 triliun, dan sejak
2003 sampai 2013 selalu bertumbuh positif sekitar 7% pertahun. Saat ini terdapat sekitar 250
perusahan Indonesia yang bukan hanya menjual produk tetapi juga telah membuka cabang atau
berbisnis di negara-negara ASEAN, baik berupa makanan olahan, kosmetik maupun merek
lain. Angka itu belum mencatat banyak tenaga-tenaga ahli dan terampil di Indonesia yang telah
bekerja di negara-negara ASEAN. Ratusan dokter, dosen, akuntan, periset, programer
komputer, dan profesi lain orang Indonesia dan hasil didikan Indonesia bekerja di negaranegara ASEAN.
Data tersebut menunjukkan banyak kegiatan usaha besar dan kecil yang telah mengambil
peluang dipasar ASEAN dan mewujudkannya menjadi bisnis yang menguntungkan. Tetangga
kita Filipina misalnya, kini memiliki pertumbuhan ekonomi yang tinggi-hingga 6-7% per tahun
dan dengan jumlah penduduk yang relatif besar, mencapai 100 juta orang,merupakan pasar
yang sangat menarik. Vietnam yang berpenduduk 90 juta dengan ekonomi yang sedang
tumbuh, atau Myanmar negara berpenduduk 60 juta yang baru memasuki demokrasi dan
sedang bersemangat untuk membangun ekonomi; juga merupakan pasar-pasar potensial baru
yang sangat menjanjikan.
Bagaimana Kita Menyikapinya?
Bagaimana kita dapat memanfaatkan peluang-peluang itu? MEA kini telah datang, dan
memang kita menyambutnya karena mendatangkan manfaat yang besar. Namun ada beberapa
sikap yang harus diambil agar manfaat besar itu memang dapat dirasakan oleh seluruh lapisan
masyarakat di negeri ini. Pertama, harus lebih banyak melihat peluang daripada hanya
ketakutan dengan ancaman atau bencananya. Harus percaya diri dan berani menyerang
memanfaatkan peluang, bukan hanya bertahan. Sangat jelas dan sudah terbukti pelaku usaha
Indonesia dapat bersaing di pasar ASEAN. Karena itu, daya saing kita perlu ditingkatkan.
Kedua, bersikap sebagai konsumen cerdas karena keterbukaan membawa pilihan.
Konsumenlah yang memilih produk mana yang mau dibeli dan dikomsumsi. Jatuhkan pilihan
prioritas pada produk terbaik dan sedapat mungkin pilih produksi domestik. Kekuatan kita ada
pada konsumen, dan lakukan komsumsi serta pembelian dengan cerdas. Indonesia dengan
potensi konsumen sekitar 250-an juta orang merupakan sumberdaya yang luar biasa untuk
bersaing di era pasar bebas ASEAN ini.
Ketiga, sikap kooperatif: mengorganisasi pelaku bisnis membangun daya saing global
melalui kelompok/koperasi. Karena secara individual kita tidak mungkin membangun strategi
bersaing global. Kebersamaan meningkatkan kekuatan pasar (marketpower), skala ekonomi
(scale of economy) dan efisiensi. Masih banyak lagi sikap kita yang perlu dibangun terus dari
waktu ke waktu agar kita mampu mencapai kemakmuran pada sistem perdagangan modern ini.
Bagi kita, MEA ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, kondisi ini bisa menjadi peluang
yang membawa manfaat dan berkah. Namun, di sisi lain kita dihadapkan dengan pilihan,
apakah menjadi negara yang banyak mengekspor, atau hanya akan menjadi negara yang tidak
mampu bersaing dan menjadi sasaran importir dari negara-negara ASEAN lainnya. Apabila
sikap-sikap itu diterapkan, maka MEA benar-benar akan memberi peluang jauh lebih besar
dibandingkan dengan ancamannya.

38

2. Persiapan Tenaga kerja
Salah satu komponen penting yang perlu dipersiapkan menghadapi era MEA/AEC adalah
tenaga kerja. Masyarakat ekonomi bersama juga mendorong pergerakan tenaga-tenaga terampil
dalam mencari kerja di antara negara ASEAN.
Pertanyaan penting adalah bagaimana
menyiapkan tenaga kerja memasuki MEA/AEC?
Pertanyaan di atas, dijawab di dalam tulisan ini dengan mendeskripsikan peran pihak
terkait dalam menyiapkan tenaga kerja:
a. Peran pemerintah menyiapkan tenaga kerja memasuki MEA
Pemerintah memiliki peran strategis dalam menyiapkan tenaga kerja memasuki
era MEA. Pemerintah menguasai informasi yang lengkap dan akurat tentang potensi
ekononi Indonesia dan Negara-negara lain di wilayah ASEAN; menguasai potensi,
mobilitas, dan kualitas tenaga kerja di Negara-negara wilayah ASEAN.
Dalam kaitan dengan hal ini, peran pemerintah adalah pertama, Sebagai sumber
informasi tentang potensi ekonomi dan tenaga kerja ini, pemerintah membuka atau
membagikan informasi tersebut kepada (calon) tenaga kerja Indonesia. Informasi ini
penting bagi (calon) tenaga kerja sebagai salah satu pertimbangan dalam menyeleksi
pekerjaan dan usaha yang prospektif pada era MEA. Kedua, sebagai policymaker,
pemenerintah dapat menciptakan policy yang memfasilitasi tenaga kerja dalam memilih
perkerjaan atau membuka usaha yang dapat menyerap tenaga kerja. Ketiga, dalam jangka
pendek perlu digalakkan pelatihan kerja atau wirausaha bagi tenaga kerja, terutama yang
menganggur. Pelatihan diselenggarakan kaum professional yang kompeten dalam
bidangnya.
b. Peran pendidikan menyiapkan tenaga kerja memasuki MEA
Peran pendidikan pada dasarnya merupakan bagian dari peran pemerintah.
Namun dalam tulisan dikaji tersendiri karena cakupannya cukup luas. Pendidikan
memiliki peran strategis dalam menyiapkan tenaga kerja memasuki era MEA. Melalui
pendidikan (calon) tenaga kerja dididik atau digembleng menjadi tenaga siap pakai.
Dalam hal ini Peran pendidikan adalah: pertama, pemerintah perlu memperbanyak
pendirian SMK/MAK. Meskipun terlambat dalam menjemput MEA, namun
mempertimbangkan rata-rata jenjang pendidikan tertinggi pedunduk Indonesia (SLTA),
pembukaan SMK/MAK merupakan upaya jangka pendek yang pantas dilakukan. Sesuai
kurikulumnya, SMK/MAK diandalkan menghasilkan tenaga terampil dan ahli madya
yang dapat bersaing dalam mobilitas tenaga kerja era MEA.
kedua, Pendidikan lebih menekankan pengembangan softskills dan kreativtas
peserta didik. Era MEA dengan ciri persaingan membutuhkan kemampuan kreatif dan
softskills dalam mengelola dan memanfaatkan informasi yang sangat beragama. Ketiga,
para pendidik perlu memfasilitasi peserta didik dalam mengelola informasi dan menuntun
peserta didik dalam memanfaatkan informasi karier secara cerdas.
c. Peran bimbingan konseling menyiapkan tenaga kerja memasuki MEA
Bimbingan konseling di Indonesia merupakan bagian integral dari pendidikan
sebagai suatu system. Dalam tulisan dikaji tersendiri karena salah satu bidang bimbingan
konseling adalah bimbingan karier. Bimbingn konseling memiliki peran dalam
menyiapkan tenaga kerja memasuki era MEA. Peran bimbingan karier adalah: pertama,
mengklasifikasi jenis atau rumpun pekerjaan sebagaimana pernah disajikan dalam
klasifikasi jabatan Indonesia (Depnakertrans, 1981). Jabatan dapat juga diklasifikasi
menurut Holland (1985) dalam DOT (Dictionary of Occupational Tittle) atau klasifikasi
menuut Anne Roe (Brown, 2003).
Kedua, melalui bimbingan konseling peserta didik difasilitasi memilih dan
membuat keputusan karier yang tepat dan selanjutnya dibuat roadmap yang fleksible.
Roadmap menuntun peserta didik merencanakan karier dengan arah yang jelas. Roadmap
yang fleksible memudahkan tenaga kerja menyesuaikan karier dengan perkembangan
yang terjadi. Ketiga, konselor perlu memfasilitasi peserta didik dalam menguasai dan
mengelola informasi karier agar mudah menuntun peserta didik dalam memanfaatkan
informasi karier secara cerdas.
d. Peran tenaga kerja menyiapkan diri memasuki MEA
Tenaga kerja adalah pemain pada era MEA/AEC. Peran tenaga kerja adalah:
pertama, menguasai informasi karier. Menurut Norris, dkk. (1972) informasi karier
memiliki cakupan yaitu iinformasi tentang karakteristik pribadi, informasi tentang dunia

39

kerja, dan informasi tentang pendidikan atau komptensi/keahlian.
Kedua,
menata
informasi karier secara ermat dan rapi agar mudah ditemukan dan digunkan pada saat
dibutuhkan meskipun pemilihan pekerjaan pada era MEA cenderung mengikuti teori
karier menurut pandangan sosioekonomi, namun penataan informasi karier akan
membantu tenaga kerja dalam menghadapi mobilitas dunia kerja yang cepat. ketiga,
tenaga kerja perlu memilih pekerjaan dengan pertimbangan yang matang dan bijaksana
sesuai dengan informasi karier yang lengkap dan akurat, keempat, tenga kerja dapat
membuat roadmap yang fleksible. Roadmap menuntun peserta didik memiliki arah karier.
Roadmap yang fleksible memudahkan tenaga kerja menyesuaikan karier dengan
perkembangan yang terjadi. tenaga kerja konselor perlu memfasilitasi peserta didik dalam
menguasai dan mengelola informasi karier agar mudah menuntun peserta didik dalam
memanfaatkan informasi karier secara cerdas.
Penutup
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) /ASEAN Economic Community (AEC)mulai
diberakukan tanggal 1 Januari 2015. MEA adalah kesepakatan di antara 10 negara Asia Tenggara,
(Brunei, Filipina, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand, dan
Vietnam) membentuk masyarakat ekonomi bersama. Sepuluh negara ASEAN secara
bersamamendorong kegiatan ekonomi masyarakat termasuk mendorong pergerakan tenaga-tenaga
terampil dalam mencari kerja di antara negara ASEAN
Bagaimana kita memanfaatkan peluang-peluang itu? MEA telah datang dan
mendatangkan manfaat yang besar. Ada beberapa sikap yang harus diambil agar manfaat besar itu
memang dirasakan oleh masyarakat. Pertama, lebih banyak melihat peluang daripada hanya
ketakutan dengan ancaman atau bencananya.Harus percaya diri dan berani menyerang
memanfaatkan peluang, bukan hanya bertahan. Sangat jelas dan sudah terbukti pelaku usaha
Indonesia dapat bersaing di pasar ASEAN. Karena itu, daya saing kita perlu ditingkatkan.Kedua,
bersikap sebagai konsumen cerdas karena keterbukaan membawa pilihan.Kekuatan kita ada pada
konsumen, dan lakukan komsumsi serta pembelian dengan cerdas. Ketiga, sikap kooperatif.
Karena secara individual kita tak mungkin membangun strategi bersaing global. Kebersamaan
meningkatkan kekuatan pasar (marketpower), skala ekonomi (scale of economy) dan
efisiensi.Bagi kita, MEA ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, kondisi ini bisa menjadi peluang
yang membawa manfaat dan berkah. Namun, di sisi lain kita dihadapkan dengan pilihan, menjadi
negara yang banyak mengekspor, atau hanya akan menjadi negara yang tidak mampu bersaing dan
menjadi sasaran importir. Apabila sikap-sikap itu diterapkan,
Salah satu komponen penting yang perlu dipersiapkan menghadapi era MEA/AEC adalah
tenaga kerja. Dalam kaitan dengan hal ini, peran pemerintah adalah pertama, membuka atau
membagikan informasi potensi ekooomii dan usaha kepada masyarakat atau (calon) tenaga kerja
Indonesia sebagai salah satu pertimbangan dalam menyeleksi pekerjaan dan usaha yang prospektif
pada era MEA. Kedua, sebagai policymaker, pemenerintah dapat menciptakan policy yang
memfasilitasi tenaga kerja dalam memilih perkerjaan atau membuka usaha yang dapat menyerap
tenaga kerja. Ketiga, dalam jangka pendek perlu digalakkan pelatihan kerja atau wirausaha bagi
tenaga kerja, terutama yang menganggur. Pelatihan diselenggarakan kaum professional yang
kompeten dalam bidangnya.
Pendidikan memiliki peran dalam menyiapkan tenaga kerja memasuki era MEA. Peran
pendidikan ialah: pertama, memperbanyak pendirian SMK/MAK., Pembukaan SMK/MAK
merupakan upaya jangka pendek yang pantas dilakukan. Sesuai kurikulumnya, SMK/MAK
diandalkan menghasilkan tenaga terampil dan ahli madya yang dapat bersaing dalam mobilitas
tenaga kerja era MEA. kedua, pendidika perlu menekankan pengembangan softskills dan
kreativtas peserta didik karena era MEA bercirikan persaingan sehingga membutuhkan
kemampuan kreatif dan softskills dalam mengelola informasi yang beragam. Ketiga, pendidik
perlu memfasilitasi peserta didik dalam mengelola informasi karier secara cerdas. Secara khusus
dalam menyiapkan tenaga kerja memasuki era MEA adalah: pertama, mengklasifikasi jenis atau
rumpun pekerjaan. Kedua, memfasilitasi peserta didik memilih dan membuat keputusan karier
yang tepat dan selanjutnya dibuat roadmap yang fleksible. Ketiga, konselor perlu memfasilitasi
peserta didik dalam menguasai dan mengelola informasi karier agar mudah menuntun peserta
didik dalam memanfaatkan informasi karier secara cerdas.
Tenaga kerja adalah pemain pada era MEA/AEC. Peran tenaga kerja adalah: pertama,
menguasai informasi karier. Kedua, menata informasi karier secara ermat dan rapi. ketiga, memilih

40

pekerjaan dengan pertimbangan yang matang dan bijaksana. Keempat, membuat roadmap yang
fleksible.

Daftar Pustaka
Adar, Daianus. 2015. Menyongsong MEA 2015:Mengapa Kita Harus Takut Menghadapinya?
Bagian pertama. Pos Kupang. Sabtu, 21 Februari 2015
Adar, Damianus. 2015. Menyongsong MEA 2015: Ancaman Atau Peluang? Bagaimana Kita
Menyikapinya?bagian dua (habis). Pos Kupang Senin, 23 Februari 2015
Brown, D. Brooks, L. & Associates. 2003. Career Choice and Development. San Fransisco:
Jossey Bass Publishers
Depnakertrans. 1981. Klasifikasi Jabatan Indonesia. Jakarta:Departemen Tenaga Kerja dan
Transmigrasi.
Depnakertrans. 1996. Kamus Jabatan Indonesia. Jakarta:Departemen Tenaga Kerja dan
Transmigrasi.
Holland, J. L. 1985. Making Vocational Cjoice.
Norris, W., Zeran, F. R., Hatch, R. N, Engelkes, J. R. 1972. The Information Service: For Career
Development and Planning. Chicago: Rand MccNally and ompany.

41

PERAN PENDIDIKAN KEJURUAN DALAM UPAYA
MENINGKATKAN SUMBER DAYA MANUSIA
MEMASUKI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA)
Mas Adi Putra Anugrah Perdana, S.Pd.
Mahasiswa S2 Pascasarjana Prodi BK Unnes/Guru SMK Negeri 2 Lamongan
Email: Adiputra.smkn_2LA@yahoo.co.id
Hp. 081331773992 / 085732028606
Ma‘rifatin Indah Kholili, S.Pd.
Mahasiswa S2 Pascasarjana Prodi BK Unnes
Email : mikro.chips2013@gmail.com / 085645359323

Abstrak
Education has the task of preparing human resources for development. Vocational school is
an institution that prepares participants their students to enter the workforce directly and
independently. While the Indonesian education, especially vocational education, printing is not
maximized in the human resources that are reliable. The Ministry of National Education (MONE)
states that 50 percent of the total 900 thousand graduates Vocational Middle School (SMK) per
year absorbed the industrial world. The approximately 100 thousand students who continue to
pursue the course and the remaining 40 percent still have not got a job. This year Indonesia began
to implement the ASEAN economic community.
Expected vocational education as one enters the AEC 2015 to develop human resources
capable of printing human resources that are reliable, ready to work, and competitive so that it
takes the following ways: (1) the application of vocational curriculum, (2) standardization of
vocational school graduates, (3) improve the quality of vocational school graduates, (4) the
relevance of vocational DUDI needs, (5) to coordinate with the local government, (6) cooperating
with DUDI, (7) the optimization of career guidance, (8) the optimization of BKK, (9) linearity
Areas of expertise and (10) the optimization of BLK.
Keywords: Vocational roles, Human ResourcesDevelop, MEA
Pengantar
Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan.
Derap langkah pembangunan selalu diupayakan seirama dengan tuntutan zaman. Perkembangan
zaman selalu memunculkan persoalan-persoalan baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
Pendidikan dipandang bermutu diukur dari kedudukannya untuk ikut mencerdaskan kehidupan
bangsa dan memajukan kebudayaan nasional, pendidikan yang berhasil membentuk generasi muda
yang cerdas, berkarakter, bermoral dan berkepribadian. Untuk itu perlu dirancang suatu sistem
pendidikan yang mampu menciptakan suasana dan proses pembelajaran yang menyenangkan,
merangsang dan menantang peserta didik untuk mengembangkan diri secara optimal sesuai dengan
bakat, minat dan kemampuannya.
Pendidikan Kejuruan merupakan salah satu bagian dari sistem pendidikan yang
mempersiapkan siswa atau individu agar siap bersaing dan mampu berkerja pada suatu bidang
pekerjaan dari bidang-bidang perkerjaan lainnya. Menurut Undang–Undang No.2 tentang Sistim
Pendidikan Nasional: ―Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan yang mempersiapkan perserta
didik untuk dapat berkerja dalam bidang tertentu‖. Lebih spesifik dalam Peraturan Pemerintah
No.29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah yaitu: ―Pendidikan Menengah yang
mengutamakan pengembangan kemampuan siswa untuk pelaksanaan jenis pekerjaan tertentu‖.
Berdasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa sekolah Kejuruan adalah lembaga yang
mempersiapkan peserta didiknya untuk memasuki lapangan kerja secara langsung dan mandiri.
Dalam hal siap atau tidak siap Indonesia wajib memberlakukan masyarakat ekonomi
ASEAN (MEA) tahun 2015. Sedangkan pendidikan di Indonesia terutama pendidikan kejuruan
belum maksimal dalam mencetak sumber daya manusia yang andal. Kementerian Pendidikan
Nasional (Kemendiknas) menyatakan bahwa 50 persen dari total 900 ribu lulusan Sekolah
Menegah Kejuruan (SMK) per tahun diserap dunia industri. Adapun sekitar 100 ribu siswa yang

42

melanjutkan ke jenjang perkuliahan, dan 40 persen sisanya masih belum mendapat pekerjaan
(replubika.co.id).
Data badan pusat statistik (BPS) menyebutkan kontribusi lulusan SMK dalam total jumlah
penganggur terus meningkat setahun terakhir. Pada Agustus 2013, lulusan SMK yang
menganggur mencapai 11,21 persen terhadap tingkat pengangguran terbuka.Setelah SMK, lulusan
Sekolah Menengah Atas adalah yang tertinggi kedua sebagai pengangguran, yakni 9,55 persen.
Berturut-turut Sekolah Menengah Pertama sebesar 7,15 persen, Diploma I/II/III sebesar 6,14
persen.Adapun pengangguran dari lulusan universitas sebanyak 5,65 persen, dan terakhir lulusan
SD ke bawah sebanyak 3,04 persen (kompas.com). Berkaitan dengan permasalahan sekolah
menengah kejuruan (SMK) masih tinggi tingkat penganggurannya hal itu menjadi PR pemerintah,
akademisi dan praktisi serta masyarakat Indonesia dalam menghadapi MEA 2015.
Kualitas SDM yang tinggi sangat dibutuhkan agar dapat bersaing dengan banyak negara
dunia. Oleh karena itu, pendidikan kejuruan di Indonesia harus melakukan revolusi agar dapat
mencetak generasi yang siap dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Dalam
tataran yang lebih spesifik, peran bimbingan konseling dalam lingkungan pendidikan juga
mempunyai tugas yang menyokong upaya ini untuk membantu mempersiapkan masyarakat
Indonesia menjadi pribadi yang berkualitas dan memiliki daya saing tinggi di tingkat Internasional.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis merumuskan masalah yang ingin dikaji
yaitu bagaimana seharusnya konsep pendidikan di sekolah kejuruan agar dapat mencetak SDM
yang berkualitas dan memiliki daya saing tinggi dalam memasuki Masyarakat Ekonomi Asean ?
Pembahasan
A. Elemen-elemen Utama dalam MEA 2015
Masyarakat Ekonomi Asean merupakan integrasi ekonomi regional Asia Tenggara
yang menggambarkan karakteristik utama dalam bentuk pasar tunggal dan basis produksi,
kawasan ekonomi yang sangat kompetitif, kawasan pengembangan ekonomi yang merata atau
seimbang, dan kawasan yang terintegrasi sepenuhnya menjadi ekonomi global.Sebagai pasar
tunggal kawasan terpadu Asean dengan luas sekitar 4,47 juta km persegi yang didiami oleh
lebih dari 600 juta jiwa dari 10 negara anggota ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan
memacu daya saing ekonomi kawasan Asean yang diindikasikan melalui terjadinya arus
bebas (free flow) : barang, jasa, investasi, tenaga kerja, dan modal. Hal tersebut akan
mengakibatkan bangsa Indonesia tertinggal jauh dari negara serumpun jika tanpa
memperdulikan peningkatan SDM guna memasuki MEA 2015.
Terdapat empat hal yang akan menjadi fokus MEA pada tahun 2015 yang dapat
dijadikan suatu momentum yang baik untuk Indonesia.
1) Pertama, negara-negara di kawasan Asia Tenggara ini akan dijadikan sebuah wilayah
kesatuan pasar dan basis produksi. Dengan terciptanya kesatuan pasar dan basis produksi
maka akan membuat arus barang, jasa, investasi, modal dalam jumlah yang besar, dan
skilled labour menjadi tidak ada hambatan dari satu negara ke negara lainnya di kawasan
Asia Tenggara.
2) Kedua, MEA akan dibentuk sebagai kawasan ekonomi dengan tingkat kompetisi yang
tinggi, yang memerlukan suatu kebijakan yang meliputi competition policy, consumer
protection, Intellectual Property Rights (IPR), taxation, dan E-Commerce.
3) Ketiga, MEA pun akan dijadikan sebagai kawasan yang memiliki perkembangan ekonomi
yang merata, dengan memprioritaskan pada Usaha Kecil Menengah (UKM). Kemampuan
daya saing dan dinamisme UKM akan ditingkatkan dengan memfasilitasi akses mereka
terhadap informasi terkini, kondisi pasar, pengembangan sumber daya manusia dalam hal
peningkatan kemampuan, keuangan, serta teknologi.
4) Keempat, MEA akan diintegrasikan secara penuh terhadap perekonomian global. Dengan
dengan membangun sebuah sistem untuk meningkatkan koordinasi terhadap negara-negara
anggota.
B. Dampak MEA 2015 bagi Indonesia
Bagi Indonesia, MEA akan menjadi kesempatan yang baik karena hambatan
perdagangan akan cenderung berkurang bahkan menjadi tidak ada. Hal tersebut akan
berdampak pada peningkatan eskpor yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan
Indonesia. Di sisi lain, muncul tantangan baru bagi Indonesia berupa permasalahan
homogenitas masalah ketenagakerjaan yang jauh dari harapan serta komoditas yang

43

diperjualbelikan, contohnya untuk komoditas pertanian, karet, produk kayu, tekstil, dan barang
elektronik (Santoso, 2008). Pada sisi investasi, kondisi ini dapat menciptakan iklim yang
mendukung masuknya Foreign Direct Investment (FDI) yang dapat menstimulus pertumbuhan
ekonomi melalui perkembangan teknologi, penciptaan lapangan kerja, pengembangan sumber
daya manusia (human capital) dan akses yang lebih mudah kepada pasar dunia. Meskipun
begitu, kondisi tersebut dapat memunculkan exploitation risk. Indonesia masih memiliki
tingkat regulasi yang kurang mengikat sehingga dapat menimbulkan tindakan eksploitasi dalam
skala besar terhadap ketersediaan sumber daya alam oleh perusahaan asing yang masuk ke
Indonesia sebagai negara yang memiliki jumlah sumber daya alam melimpah dibandingkan
negara-negara lainnya. Tidak tertutup kemungkinan juga eksploitasi yang dilakukan
perusahaan asing dapat merusak ekosistem di Indonesia.
Dari aspek ketenagakerjaan, terdapat kesempatan yang sangat besar bagi para pencari
kerja karena dapat banyak tersedia lapangan kerja dengan berbagai kebutuhan akan keahlian
yang beraneka ragam. Selain itu, akses untuk pergi keluar negeri dalam rangka mencari
pekerjaan menjadi lebih mudah bahkan bisa jadi tanpa ada hambatan tertentu. MEA juga
menjadi kesempatan yang bagus bagi para wirausahawan untuk mencari pekerja terbaik sesuai
dengan kriteria yang diinginkan. Dalam hal ini dapat memunculkan risiko
ketenagakerjaan bagi Indonesia. Dilihat dari sisi pendidikan dan produktivitas Indonesia
masih kalah bersaing dengan tenaga kerja yang berasal dari Malaysia, Singapura, dan Thailand
serta fondasi industri yang bagi Indonesia sendiri membuat Indonesia berada pada peringkat
keempat di ASEAN (Republika Online, 2013).
C. Hakikat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) No. 20 tahun 2003 pasal
15 menyatakan bahwa pendidikan kejuruan adalah pendidikan menengah yang mempersiapkan
peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu.
Pendidikan kejuruan adalah pendidikan yang menghubungkan, menjodohkan, melatih
manusia agar memiliki kebiasaan bekerja untuk dapat memasuki dan berkembang pada dunia
kerja (industri), sehingga dapat dipergunakan untuk memperbaiki kehidupannya. Selanjutnya
Calhoun (1982:22) mengemukakan bahwa SMK atau Sekolah Menengah Kejuruan dalam
dunia pendidikan di tanah air ―merupakan satu bentuk pendidikan formal dengan menekankan
kemampuan sesuai dengan kejuruan tertentu‖. Sebagai jenjang pendidikan menengah, Sekolah
Menengah Kejuruan merupakan jenjang Kelanjutan lulusan Sekolah Menengah Pertama dan
Madrasah Tsanawiyah.
Sekolah Menengah Kejuruan atau SMK yang dipersiapkan untuk memasuki dunia kerja
sebagai tenaga teknis menengah, telah tersedia dalam berbagai jenis program keahlian seperti
teknik, pertanian, perhotelan, akuntansi, pemasaran, sekretaris dan musik serta masih banyak
jurusan lainnya. Secara konsep yang diwujudkan dalam kurikulum, lulusan SMK memang
telah dirancang sejak awal untuk menjadi bagian integral dari perkembangan industri tanah air.
Hal-hal yang menjadikan SMK Belum Optimal mencetak SDM yang andal
Beberapa penyebab mengapa lembaga pendidikan SMK belum optimal mencetak
sumber daya manusia yang andal, siap kerja dan kompetitif, antara lain :
1. Tidak adanya lulusan SMK yang mampu menduduki posisi yang strategis dalam
masyarakat, rata-rata para alumni dari SMK tidak banyak yang mampu menduduki atau
bekerja pada posisi yang dianggap tinggi dalam masyarakat. Misalnya saja menjadi
manajer, camat, bupati, gubernur. Bila ada yang mampu menduduki jabatan yang
berpengaruh dalam masyarakat itupun hanya sebagian kecil saja. Hal ini terjadi karena
seolah-olah SMK hanya dirancang untuk menguasai program yang dipilih atau diminati
saja.
2. Tidak adanya kerjasama antara SMK dengan Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI)
Dengan tidak adanya kerjasama yang dijalin antara SMK dan DUDI tentunya semakin
membuat siswa yang akan masuk ke SMK menjadi berfikir lebih jauh mengenai nasib
atau prospek karir mereka setelah lulus nanti. MOU dengan DUDI sangatlah penting
untuk penyerapan tenaga keja, maupun pemetaan tenaga kerja.
3. Kurangnya peminat SMK
Kurangnya minat untuk bersekolah di SMK disebabkan karena SMA di anggap masih
lebih mempunyai keluwesan dalam bidang penentuan jenjang pendidikan yang lebih

44

4.

5.

tinggi dan bidang karir yang dapat dijalani nantinya setelah lulus, hal ini dipandang oleh
sebagian besar masyarakat dikarenakan dalam smk hanya dikhususkan saja program
pembelajarannya sehingga mengakibatkan peminat untuk masuk SMK hanya sedikit dan
masih lebih banyak peminat untuk masuk ke SMA. Padahal pemerintah menargetkan
perbandingan siswa SMK dengan SMA yakni 60:40.
Kerja sama BLK dengan SMK belum optimal
Setiap daerah kabupaten diharapkan memiliki Balai Latihan Kerja (BLK) sehingga
alumni SMK semakin profesional ketika mendalami keahliannya di BLK. Namun yang
terjadi di lapangan masih banyak daerah kabupaten yang belum memiliki BLK.
Kondisi SMK yang masih jauh dari harapan
SMK di daerah berbeda dengan di kota, masih banyak SMK yang motivasi belajar
siswanya rendah, fasilitas penunjang praktiknya sangat kurang dan minim wawasan akan
perkembangan dunia industri teknologi.

D. Konsep Pendidikan Kejuruan dalam Upaya Mempersiapkan SDM Berkualitas
Memperhatikan permasalah di kejuruan khususnya kualitas lulusannya yang masih
belum memiliki kualitas di skala internasional, maka inovasi pendidikan di kejuruan sangat
diperlukan untuk mengatasi permasalahan yang terjadi. Konsep ini diharapkan dapat
menjadikan SMK sebagai salah satu lingkup pendidikan yang mampu meningkatkan SDM
Indonesia memasuki MEA 2015. Adapun solusinya adalah dengan cara-cara sebagai berikut :
1. Penerapan kurikulum SMK
Penerapan kurikulum SMK diharapkan mengacu pada kurikulum sekolah kejuruan di
ASEAN sehingga SMK di Indonesia dengan SMK di Negara lain memiliki kesamaan
bahan ajar. Hal itu akan membuat siswa siap bekerja dimana saja, bahkan di negara
tetangga ketika lulus dari SMK.
2. Standarisasi lulusan SMK
Pemerintah hendaknya memfasilitasi Standardrisasi lulusan SMK, sehingga seluruh
lulusan SMK bakal mendapatkan sertifikat sebagai bukti menguasai keahlian tertentu
selain sertifikat dari DUDI dan sekolahnya masing-masing. Sertifikat dari pemerintah
(Kemendiknas) merupakan bahan atau dokumen untuk melamar pekerjaan, sehingga
memiliki daya saing lebih dibanding lulusan lainnya (Mariyana, 2014).
3. Meningkatkan mutu lulusan SMK
Peningkatan mutu ini dilakukan melalui perbaikan infrastruktur dan peralatan
pendukung seiring perkembangan teknologi otomotif dan informasi yang digunakan
oleh DUDI. Selain itu diperlukan peningkatan kemampuan dan jumlah pengajar SMK
itu sendiri, pemerataan pendidik bidang produktif dan pemerataan SMK di wilayah
daerah pelosok dan pesisir.
4. Melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah
Koordinasi dengan pemerintah daerah dilakukan untuk mengakomodasi pengembangan
SMK di daerah masing-masing. Advokasi kepada Pemda untuk mengalokasikan
sebagian dananya sebesar 20% APBD untuk sektor pendidikan kepada pengembangan
SMK.
5. Relevansi SMK dengan kebutuhan DUDI
Pengembangan SMK dengan perspektif nasional bagi SMK yang memenuhi kompetensi
untuk mendukung dunia usaha dan industri. Misalnya adalah kebutuhan tenaga ahli
bidang komputer dan farmasi yang kedepan masih akan terus berkembang, maka SMK
dengan bidang keahlian seperti inilah yang menjadi prioritas untuk dikembangkan di
daerah tersebut. Pengembangan SMK dengan perspektif lokal, dimana SMK yang
dikembangkan dan dibangun adalah sesuai dengan permintaan terhadap bidang keahlian
di wilayah yang bersangkutan. Sesuai dengan pemetaan potensi industri, maka
pengembangan SMK sebaiknya untuk mengakomodasi kebutuhan industri masa
mendatang di masing-masing daerah. Bentuk kerjasama dengan industri untuk
menampung lulusan SMK sebagai tempat praktikum (magang) bagi siswa SMK.
6. Menjalin kerjasama dengan DUDI
Sekolah berusaha untuk menjalin kerjasama denjgan DUDI baik dalam hal menampung
lulusan SMK maupun untuk dijadikan sebagai mitra Prakteik Kerja Industri (Prakerin).
Kerjasama ini dibutuhkan untuk menjual SMK, baik lulusan maupun produk-produk

45

buatan SMK. Contohnya, tiap-tiap pameran produk SMK sebaiknya mengundang
peminat dari DUDI, tidak hanya berasal dari kalangan Depdiknas maupun departemen
pemerintah lainnya.
7. Optimalisasi Bimbingan Karir
Layanan bimbingan karier adalah layanan bimbingan yang berupaya memfasilitasi
terjadinya perkembangan kematangan karier siswa. Kematangan karier yang dimaksud
adalah kesiapan siswa untuk membuat keputusan-keputusan karier dengan tepat. Ada
dua dimensi yang perlu dikembangkan untuk membangun kematangan karier siswa,
yakni dimensi kematangan karier yang bersifat kognitif dan non-kognitif. Dimensi
kognitif kematangan karier siswa terdiri atas aspek (1) pengetahuan tentang informasi
dunia kerja (world-of-work information), (2) pengetahuan tentang kelompok pekerjaan
yang lebih disukai (knowledge of preferred occupational group), dan (3) pengetahuan
tentang membuat keputusan (decission making). Dimensi non kognitif kematangan
karier siswa terdiri atas (1) perencanaan karier (career planning), (2) eksplorasi karier
(career exploration), dan (3) realisme keputusan karier (realism). Dengan demikian,
layanan pengembangan kematangan karier berarti memfasilitasi berkembangnya
keenam aspek tersebut pada diri siswa. Memfasilitasi artinya memberi kemudahan
kepada siswa untuk mengembangkan keenam aspek tersebut, baik melalui bantuan fisik
maupun psikologis.
Selain pada pengembangan aspek tersebut, sebagai seorang konselor hendaknya mulai
menanamkan jiwa kewirausahaan (enterpreneur) pada diri siswanya. Hal ini untuk
mempersiapkan rencana karier masa depan yang menuntut individu memiliki jiwa
berbisnis dan bersaing dengan cara sehat. Dengan peningkatan kualitas siswa SMK
diharapkan kedepannya minat siswa dan juga masyarakat pada SMK akan semakin
meningkat,
8. Optimalisasi BKK
Di harapkan setiap SMK memiliki bursa kerja khusus (BKK) guna mempromosikan
peserta didik kepada DUDI dan menjalin MOU dengan DUDI yang sesuai dengan
program keahlian di sekolahnya masing-masing. Perlu juga dilakukan kerja sama yang
intens antara tim BKK SMK dengan Disnaker daerah setempat sehingga minimalisir
siswa yang menganggur dengan sangat tepat guna. Konselor mempunyai peran yang
cukup penting dalam upaya ini.
9. Linieritas Bidang keahlian
Peserta didik SMK memilih pekerjaan diharapkan sesuai dengan bidang keahlian,
sehingga mampu menerapkan dan mengembangkan keterampilannya yang ia dapat di
SMK. Begitu juga ketika ia melanjutkan ke perguruan tinggi, diwajibkan memilih
jurusan yang serumpun atau linier dengan program studi ketika di SMK, sehingga
memudahkan keprofesionalitas dalam bidang pekerjaan.
10. Optimalisasi BLK
Setiap daerah diharapkan memiliki dan mengoptimalkan balai latihan kerja (BLK),
guna memberikan pendalaman keterampilan alumni SMK sebelum terjun ke dunia
kerja. Dengan begitu BLK memiliki andil yang sangat penting dalam pemberian
sertifikat keahlian dan diharapkan mampu mendistribusikan ke DUDI. Hal yang paling
penting yakni BLK mampu menyiapkan pekerja yang kompetitif, kreatif dan aktif juga
siap menanggulangi pengangguran menghadapi MEA.

Kesimpulan
Berdasarkan uraian tersebut, maka penulis menyimpulkan bahwa :
Perlu banyak perbaikan dan peningkatan kinerja praktisi dan akademisi dalam upaya
meningkatkan kualitas pendidikan kejuruan. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam
mengatur pendidikan kejuruan. Diharapkan kedepannya SMK memilki penilaian yang cukup
positif baik bagi siswa maupun masyarakat, karena lulusan SMK dinilai cukup andal dan sesuai
dengan tuntutan dan kebutuhan MEA.
Konselor memiliki peran yang cukup krusial secara intern dalam upaya meningkatkan
kualitas pribadi siswa agar menjadi individu yang memiliki jiwa kewirausahaan, memiliki daya
saing dan kompetitif yang tinggi untuk memasuki persaingan sehat secara internasional. Peran ini
bisa diimplementasikan dalam pengembangan program BK khususnya bidang karier. Konselor

46

hendaknya memiliki kreativitas dan integritas tinggi untuk mampu mengarahkan siswanya
bersaing secara global dalam upaya memasui dunia kerja yang lebih luas.

Daftar Pustaka
Adioetomo, et. All. 2008. A Study on Labor Market Information Based on Human Resources
Potential in Indonesia. Lembaga Demografi FEUI dan GTZ.
Balitbang dan Dikdasmen, 1999. Kebijakan Teknis Pengembangan dan Implementasi Kurikulum
Menengah Kejuruan. Jakarta : Balitbang dan Dikdasmen, Depdikbud.
Butler, F.C. 1979. lnstructional Systems Development for Vocational and Technical Training.
Englewood Cliffs, N.J.: Educational Technology Publication.
Calhoun. 1982. Pendidikan Kejuruan di Indonesia. Jakarta: PT Gramedia.
Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 323/U/1997
Kurikulum Menengah Kejuruan. Jakarta: Balitbang dan Dikdasmen, Depdikbud.
Nazara dan Wicaksono 2008. Prinsip Teknik Pengukuran dan Penilaian di dalam Dunia
Pendidikan. Jakarta: Mutiara.
Nolker, H., dan Schoenfeldt, E. 1983. Pendidikan Kejuruan: Pengajaran, Kurikulum, dan
Perencanaan. Terjemahan Agus Setiadi. Jakarta: PT Gramedia.
Perdana, M Adi Putra A. 2014. Laporan pendampingan Kurikulum 2013 Kab. Lamongan.
Disampaikan dalam Laporan pendampingan K 13 tingkat Kabupaten Dinas pendidikan
Prov. Jatim di Batu Malang, 15 Oktober 2014.
Perdana, M Adi Putra A. 2015. Peran Pendidik dalam upaya pemerataan pendidikan di sekolah
kota dengan kabupaten. Disampaikan dalam Seminar Nasional Unnes Semarang 11
April 2015.
Pokok-pokok Pikiran: Ketrampilan Menjelang 2020 dan Perkembangannya 2001. Proyek
Pengembangan Sistem dan Standard Pengelolaan SMK. Jakarta: Direktorat.
PP No 29 tahun 1990 tentang Standar Pendidikan Nasional.
Mariyana, Ricky. 2014. Hadapi MEA, lulusan SMK dibekali sertifikat untuk menghadapai MEA.
(Online), (tersedia : www.solopos.com/201411/ 06/kualitas-pendidikan-hadapi-mealulusan-dibekali-sertifikat-keahlian., diakses tanggal 9 Mei 2015).
SK Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan
Nasional Nomor 251/C/KEP/MN/2008 tentang Spektrum Keahlian Pendidikan
Menengah Kejuruan.
Undang–Undang No.2 tentang Sistim Pendidikan Nasional.
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional UUSPN No. 20 tahun 2003 pasal 15.

47

PENGARUH MOTIVASI BELAJAR, DISIPLIN BELAJAR, DAN PENYESUAIAN DIRI
TERHADAP PRESTASI AKADEMIK PARA MAHASISWA TIMOR LESTE YANG
KULIAH DI MALANG
Augusto da Costa, M.Pd.
adacosta@pacific.net.au
Mahasiswa Pascasarjana S3 Bimbingan dan Konseling
Universitas Negeri Malang (UM)
Abstract
Correlational research in regard to impact of learning motivation, learning discipline and
self-adjustment on academic achievement of East Timorese Students who are studying various,
University in Malang. The Purpose of the research are discovering impact of three independent
variables on academic achievement of East Timorese Students who are studying in Malang. East
Timorese student who are studying in Malang at the moment of research are 460, from that there
are 427 bachelor student been determined 40% or 171 become samples of this research by
proportionate area random sampling.
Researcher used motivation scale, discipline scale and adjustment scale to collect data.
Analysis data is using multi regressions model to discover the existence of impacting of these three
independent variables on academic achievement of East Timorese students who are studying in
Malang.
Based on multi regression model analysis, researcher discovered that academic
achievement been impacted of learning motivation are 17,6%, Learning discipline are 31,9% and
Self-adjustment are 32,7%, means hypothesis and assumption confirmed that three independent
variables impacted to academic achievement Accumulated of three independent variables are
82,2% means 17,8% of the academic achievement been impacted by others variables which
exclude of this research.
A. Pengantar
Timor Leste dijajah Portugis sejak awal abad ke 16 sampai pada pertengahan kedua abad
ke 20 (Schwarz, 1994: 9). Pada rentang waktu tersebut orang Timor Leste ditekan dan ditindas,
rakyat tidak mempunyai kesempatan mengekspresikan hidupnya secara utuh sebagai manusia
termasuk belajar menulis dan membaca. Rakyat dianggap rendah dan tidak bermartabat, tidak
diberi kesempatan untuk belajar menulis dan membaca (www.news.bbc.co.uk. 1999), dan tidak
mendapatkan pendidikan yang semestinya sebagai manusia (Schwarz, 1994: 17) rakyat ditindas
sehingga tidak termotivasi, tidak berdisiplin dan tidak mempunyai semangat penyesuaian diri
dalam bekerja; semuanya tergantung dan mengikuti perintah dari penjajah.
Penjajaran Portugis diambil alih oleh pemerintah Indonesia. Pada masa itu sekolah
dibangun hampir di setiap kampung walaupun tenaga guru tidak tersedia. Meskipun demikian
tidak semua anak berusia sekolah menggunakan kesempatan dan fasilitas pendidikan tersebut
untuk belajar. Jumlah siswa yang aktif bersekolah terbatas (Aditjondro, 2000: 26), karena situasi
politik tidak kondusif bagi setiap siswa. Mereka yang anggota keluarga terkait dengan gerakan
perjuangan kemerdekaan, merasa tidak nyaman untuk sekolah (Taylor, 1998: 29). Namun fakta
menunjukkan bahwa program tersebut berhasil. Keberhasilan tersebut tampak dalam tingkat buta
aksara yang semula 98% dari jumlah penduduk, pada tahun 1990 menyusut menjadi 44% karena
dibangun sejumlah gedung SD. Kenyataan ini merupakan satu keberhasilan dalam aspek
pendidikan (Kedaulatan Rakyat, 1999: 3).
Pada masa sesudah kemerdekaan pemerintah dan rakyat Timor Leste menghadapi
tantangan besar dalam proses pembangunan seluruh seindi kehidupan bangsa, termasuk
pendidikan. Kenyataan tersebut tampak dalam program rencana pembangunan bangsa yang
dicanangkan pemerintah Timor Leste. . Keberadaan sekolah dan jumlah guru tidak seimbang
(PEDN, 2010:19) berikut.

48

Table 1.1 Perkembangan Prestasi Dalam Pendidikan Dasar Dari 2000 - 2010
Year
Students
Primary students
Pre-secondary students
Teachers
Primary school teachers
Pre-secondary teachers
Source: Ministry of Education

2000

2010

190,000
21,810

229,974
60,481

3,860
65

7,583
2,412

Tenaga pengajar atau guru di SMA dan SMK tidak seimbang, jumlah guru sangat sedikit
dibandingkan dengan jumlah siswa dan jumlah sekolah sebagai-mana tertera dalam tabel (PEDN
2010:22) berikut:
Tabel 1. 2 Secondary Education in Timor-Leste, 2010
Secondary general
Secondary technical
Total
Students
35,062
5,719
40,781
Schools
74
17
91
Teachers
1,696
377
2,073
Source: Ministry of Education
Proses pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas hanya akan terwujud apabila
prasarana dan sarana pendidikan tersedia dan para pendidik juga berkualitas secara akademik
dalam bidangnya masing-masing. Program peningkatan sumber daya manusia dari para siswa,
guru dan para dosen terus dilakukan oleh pemerintah melalui Departement Pendidikan
sebagaimana tersaji dalam program pendidikan (PEDN, 2010: 17). Untuk mewujudkan program
tersebut pemerintah Timor Leste bekerja sama dengan Negara tetangga melalui program
pendidikan, termasuk dengan pemerintah Indonesia. Konsekuensi logisnya adalah para mahasiswa
Timor Leste banyak yang kuliah di Indonesia termasuk Malang.
Mahasiswa Timor Leste yang mengikuti kuliah kesebelas Perguruan Tinggi di Malang
diharapkan memperoleh prestasi akademik optimal. Espektasi tersebut akan terwujud apabila
mahasiswa mempunyai motivasi belajar yang kuat, disiplin belajar yang tinggi dan penyesuaian
diri yang baik. Motivasi belajar meliputi motivasi intrinsik dan ekstrinsik (McClelland, 1987: 4).
Disiplin belajar merupakan sikap kedisiplinan dalam menggunakan waktu belajar secara efekti dan
perilaku ketaatan pada tata tertib dan aturan yang mengatur proses belajar di kampus, serta setia
mengikut jadwa belajar pribadi yang dibuat sendiri (Elias, 2010: 95).). Penyesuaian diri
merupakan upaya setiap mahasiswa dalam menyesaikan diri dengan situasi dan lingkungan di
kampus dan masyarakat tanpa kehilangan jati dirinya (Schneiders, 1964:7).
Berdasarkan observasi awal dan berdasarkan data (daftar mahasiswa Timor Leste dari
setiap kampus 14.5.2014) menunjukkan bahwa sebagian mahasiswa Timor Leste terlambat
menyelesaikan studi sarjana lebih lama dua atau tiga tahun bahkan lebih dari waktu normal yang
ditentukan kurikulum untuk menyelesaikan sarjana (4 - 5 tahun). Misalnya mahasiswa angkatan
2005/2006 belum menyelesaikan studi strata satu sampai penelitian ini dilakukan (Februari 2015).
Persentasi mahasiswa yang terlambat menyelesaikan studi sarjana sebesar 18,97% (semester 13
keatas). Di sisi lain prestasi akademik yang diraih oleh sebagaian besar para mahasiswa dari Timor
Leste berstandar minimal kelulusan (lulus dengan IPK 2,00- 2,50) namun tidak dapat dipungkiri
bahwa ada sebagian kecil mahasiswa mempunyai IPK lebih besar dari 2,50 bahkan di atas 3.00
(hasil angket penelitian Februari 2015).
Variabel lain yang menyebabkan adalah kemampunan pemakaian bahasa Indonesia yang
baik dan benar belum memadai. Fakta tersebut diperparah oleh kecenderungan para mahasiswa
Timor Leste untuk meraih prestasi akademik tergolong lemah. Kelemahan ini tampak dalam
kurang bersemangat atau kurang terdorong untuk belajar, kurang disiplin dalam menggunakan
waktu untuk belajar dan pergaulannya masih terbatas pada lingkungan sesama mahasiswa dari
Timor Leste, belum membaur dengan mahasiswa dari daerah lain.
Berbasis para fakta di atas maka penelitian ini perlu dilakukan untuk mengungkapakan
apakah ada pengaruh antara motivasi belajar, disiplin belajar dan penyesuaian diri terhadap
prestasi akademik yang diraih oleh para mahasiswa Timor Leste yang kuliah di Malang. Hasil
penelitian tersebut akan dipakai sebagai informasi akurat dalam mengadakan empat layanan

49

bimbingan dan konseling di kalangan mahasiswa Timor Leste. Selanjutnya hasil penelitian ini
akan menjadi informasi akurat bagi depertemen pendidikan Timor Leste dalam mengambil
keputasan memberika biaya kepada mahasiswa Timor Leste yang hendak kuliah ke luar negeri.
Berkaitan dengan pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi akademik, terdapat
beberapa hasil penelitian terdahulu yang membuktikan bahwa ada pengaruh positif motivasi
belajar terhadap prestasi akademik meskipun presentasi kontribusinya berbeda. Hasil penelitian
mengenai Pengaruh Motivasi Orang Tua, Kondisi Lingkungan Dan Disiplin Belajar Terhadap
Prestasi Akademik Mahasiswa Pendidikan Matematika Universitas Widya Dharma Klaten
Semester Gasal Tahun Akademik 2010/2011 menunjukkan terdapat hubungan positif yang
signifikan antara disiplin belajar dengan prestasi akademik, dengan rx3y=0,401 pada p=0,023
(signifikansi 5 %). Sehingga semakin tinggi tingkat disiplin belajar maka akan semakin tinggi pula
tingkat prestasi akademik (Udiyono, 2011: 98).
Kekajian yang sama dirumuskan (McClelland 1987: 569) mengenai Effects of
Achievement Motivation Training on Grades Relative to What Is Expected Based on Past
Performance for English Grades di Smith Elementary Shool, Ohio menunjukkan bahwa pelatihan
motivasi sekolah Smith untuk meningkatkan prestasi akademik siswa berkemampuan akademik
tinggi, sedang dan rendah, lebih dari 67% siswa yang mengikuti pelatihan motivasi prestasi
akademik-nya meningkatkan di kelas VII dibandingkan dengan 44% siswa Fairwood yang tidak
mendapat latihan motivasi.
Penelitian yang dilakukan oleh (Eymur, 2011: 250) mengenai An Investigation Of The
Relationship Between Motivation And Academic Achievement Of Pre-Service Chemistry Teacher
di Meddle East Technical University menunjukkan bahwa ―r = .362 berarti terdapat korelasi
positif antara prestasi akademik dan motivasi intrinsik. Di samping itu Pearson correlation
Coefficient antara ―prestasi akademik dan motivasi intrinsik terhadap simulasi pengalaman adalah
r = .367 sebagai tambahan semua sub skala saling berhubungan positif kecuali intrinsic motivation
dan external regulation dan amotivation dengan sebaran Pearson Correlantion Coefficient antara
0,24 sampai 0,72. Anova satu arah menunjukkan bahwa ada perbedaan signifikasi motivasi (p <
0.01) dalam satu sub-skala motivation exstrinsic introjected bahwa uji homogenitas dari varian
adalah tidak signifikan, p = 0.662. Penelitian yang dilakukan oleh (Sukiniarti 2006: 12-16)
ditemukan bahwa motivasi belajar berkontribusi sebesar 67.87% terhadap hasil belajar.
Penelitian yang dilakukan oleh (Rohman, 2010: 68) menunjukkan juga bahwa motivasi
belajar memberikan sumbangan efektif terhadap prestasi belajar sebesar 32,49% dan sisa sebesar
67,52% kemungkinan ditentukan oleh faktor lain. Hal senada juga ditegaskan (Candra, 2011: 4)
bahwa motivasi belajar berpengaruh terhadap prestasi belajar sebanyak 40%, sedangkan
selebihnya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini.
Berkaitan dengan pengaruh disiplin belajar terhadap prestasi akademik, apabila
didasarkan hasil penelitian sebelumnya bahwa terdapat kontribusi positif disiplin belajar terhadap
prestasi akademik meskipun dalam persentasi yang beragam pula. Ketidakdisiplinian juga dapat
mempengaruhi prestasi akademik mahasiswa. Dalam penelitian (Njoroge, 2014: 303) di Mount
Kenya University, School of Education mengenai Discipline as a Factor in Academic Performance
in Kenya ditemukan bahwa ―51% menyetujui bahwa ketidakdisplinan dalam belajar
mempengaruhi prestasi akademik mahasiswa, hanya 8% yang tidak menyetuji, lebih lanjut
dikatakannya bahwa 70,7% yang tidak menyetujui pernyataan bahwa mahasiswa yang tidak
disiplin dalam belajar akan menjawab soal-soal dengan baik dalam ujian, sedangkan 4%
menyetujui bahwa mahasiswa yang tidak disiplin dalam belajar menjawab soal-soal dalam ujian
dengan baik.
Dijelaskan pula (Vakalisa dan Jacobbs dalam Njoroge, 2014: 303) mengatakan bahwa
jika sebuah sekolah memiliki disiplin yang rendah, maka prestasi akademiknya akan rendah pula.
Akibatnya mahasiswa yang rendah disiplin belajarnya akan berakhir dengan prestasi akademik
yang rendah. Hasil penelitian menunjukkan sebesar 62,7% secara tegas menolak bahwa para
mahasiswa yang tidak disiplin akan belajar baik dalam kelas, sehingga mempengaruhi prestasi
akademik menjadi kurang optimal (Njoroge, 2014:303) terdapat 72% secara tegas menyetujui
pendapat ini.
Pengaruh penyesuaian diri terhadap prestasi akademik, hasil penelitian terdahulu
menunjukkan bahwa, terdapat korelasi yang signifikasi antara penyesuaian diri terhadap prestasi
akademik meskipun dalam persentasi yang beragam pula. Hasil penelitian (Nasir, 2010: 99)
mengenai Effects of Cultural Adjustment on Academic Achievement of International Students.
Menunjukkan bahwa cultural adjustment and academic achievement (r = .37, p< .01). Academic

50

achievement was also significantly correlated with the three sub-scales: General adjustment (r =
.28, p< .05), Sociocultural adjustment (r = .25, p< .05) and Work adjustment (r = .30, p< .01).
Hasil penelitian ini secara siginifikan penyesuaian sosial berpengaruh terhadap prestasi akademik.
Penelitian di Asia yang membahas mengenai pengaruh antara prestasi akademik dan
motivasi belajar, disiplin belajar dan penyesuaian diri sangat sedikit (Li & Amstrong, 2009) oleh
karena itu peneliti tertarik untuk mengkaji mengenai motivasi belajar, disiplin belajar dan
penyesuaian diri terhadap prestasi akademik untuk melengkapi hasil penelitian terdahulu. Hasil
penelitian terdahulu dilakukan dalam aspek situasi, lingkup budaya, sosial, ekonomi, situasi politik
dan sistem pendidikan yang berbeda dengan pengalaman yang dimiliki oleh mahasiswa Timor
Leste yang kuliah di Malang. Penelitian ini menjadi penelitian pertama di kalangan mahasiswa
Timor Leste yang kulaih di Malang mengenai peranan aspek non kognitif dalam meraih prestasi
akademik.
Persoalannya adalah apakah motivasi belajar, disiplin belajar dan penyesuaian diri secara
sendiri-sendiri maupun bersama-sama berpengaruh terhadap prestasi akademik para mahasiswa
Timor Leste yang kuliah di Malang? Bagaimana motivasi belajar, disiplin belajar dan penyesuaian
diri secara sendiri-sendiri maupun bersama memberi sumbangan yang berarti terhadap prestasi
akademik para mahasiswa Timor Leste yang kuliah di Malang?
B. Masalah
Berdasarkan paparan latar belakang masalah tersebut di atas perlu dirumuskan beberapa
perumusan masalah dalam pembahasan ini.
1. Apakah motivasi belajar mempengaruhi prestasi akademik para mahasiswa Timor Leste
yang kuliah di Malang?
2. Apakah disiplin belajar mempengaruhi prestasi akademik para mahasiswa Timor Leste
yang kuliah di Malang?
3. Apakah penyesuaian diri mempengaruhi prestasi akademik para mahasiswa Timor Leste
yang kuliah di Malang?
4. Apakah motivasi belajar, disiplin belajar dan penyesuaian diri secara sendiri-sendiri
maupun bersama-sama berpengaruh terhadap prestasi akademik para mahasiswa Timor
Leste yang kuliah di Malang?
5. Bagaimana motivasi belajar, disiplin belajar dan penyesuaian diri secara sendiri-sendiri
maupun bersama memberi sumbangan yang berarti terhadap prestasi akademik para
mahasiswa Timor Leste yang kuliah di Malang?
C. Pembahasan
1. Motivasi Belajar
Istilah motivasi belajar terdiri dari dua kata yaitu motivasi dan belajar. Pertama, Motivasi
berasal dari kata latin ―movere‖ yang berarti dorongan atau mendorong. Motif diartikan sebagai
daya atau kekuatan terdapat dalam diri individu yang menyemangati dan mendorong individu
mencapai suatu tujuan secara optimal (Hasibuan, 2005: 141). Motivasi adalah sesuatu yang
mendorong manusia untuk mencapai suatu tujuan (Suryabrata, 2006:70). Motivasi sebagai
keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang
menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar,
sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai (Sardiman, 2012: 75).
Tindakan bermotivasi adalah tindakan yang penuh energi, terarah, dan bertahan lama,
dalam kegiatan belajar. Motivasi diterima sebagai keseluruhan daya peng-gerak di dalam diri
mahasiswa yang mendorong individu belajar. Motivasi menjamin konsistensi belajar dan
mengarahkan kegiatan belajar sehingga mahasiswa mampu mencapai tujuannya. Motivasi
dikatagori sebagai daya upaya menyiapkan tujuan dan harapan serta mendayagunakan setiap
momen demi mencapai tujuan (Bambacas dan Patrickson, 2008: 51-72).
Pengertian motivasi menurut pendapat para ahli tersebut di atas, peneliti menggunakan
dua tipe motivasi yang dipakai secara luas yakni motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik
(McClelland, 1987: 4 dan Prayitno, 1999: 10). Kedua tipe motivasi ini akan dikaji dalam
pembahasan selanjutnya karena ketertarikan pada berbagai aspek motivasi intrinsik dan motivasi
ekstrinsik telah berkembang pesat pada saat ini (Dev, 1997:12). Motivasi intrinsik dan ekstrinsik
dianggap menjadi faktor penting dalam menentukan prestasi akademik para pelajar secara umum.
Berdasarkan paparan di atas, maka pengertian motivasi belajar dapat disimpulkan sebagai
kekuatan atau dorongan yang berasal dari dalam diri (motivasi intrinsik) dan di luar diri (motivasi

51

ekstrinsik) mahasiswa Timor Leste untuk belajar dalam rangka mencapai prestasi akademik
optimal. Motivasi intrinsik merupakan kekuatan dari dalam diri yang diduga mendorong
mahasiswa untuk belajar dalam meraih prestasi akademik secara optimal. Motivasi ekstrinsik
dorongan dari luar diri berupa pujian dan hukuman dari orang lain yang mendorong mahasiswa
belajar dalam rangka mencapai prestasi akademik optimal
Motivasi belajar intrinsik (Dev, 1997: 13) diukur dengan (a) kemampuan untuk menekuni
tugas yang telah diserahkan. (b) Sejumlah waktu yang dipakai oleh siswa atau mahasiswa dalam
mengerjakan tugas-tugas. (c) ketekunan kehendak dari dalam diri untuk belajar. (d) perasaan
efekasi dalam kaitan dengan ketindakan. (e) kehendak untuk memilih kegiatan.
Motivasi ekstrinsik merupakan suatu konstruksi yang berhubungan dengan tindakan yang
telah dilakukan dan hasilnya dapat dipisahkan dari individu (Ryan dan Deci, 2000: 59). Suatu
orientasi ekstrinsik berhubungan dengan belajar ditandai oleh perhatian pada alasan dari luar
berkaitan dengan kerja misalnya penilaian orang lain terhadap performen individu, harkat atau
mengantisipasi penghargaan tertentu (Goldberg, 1994). Dikatakan juga bahwa motivasi ekstrinsik
mendorong individu untuk menghindari hukuman dan mengapai penghargaan (Froiland, 2012:
91).
Berkaitan dengan pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi akademik para mahasiswa
Timor Leste yang kuliah di Malang perlu diadakan penelitian lebih lanjut. Penelitian lebih lanjut
diperlukan karena hasil penelitian terdahulu belum tentu dapat diterapkan pada mahasiswa Timor
Leste, dengan beberapa alasan antara lain terdapat perbedaan dalam aspek sosial, budaya,
lingkungan, kualitas pendidikan sebelumnya, kondisi ekonomi keluarga di negara asal penelitian
terdahulu dilakukan dengan Kondisi faktual mahasiswa Timor Leste.

2. Disiplin Belajar
Belajar diarti sebagai usaha untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto,
2003: 2). Belajar menjadi suatu suatu usaha atau perbuatan yang dilakukan secara sungguhsungguh dengan sistematis mendayagunakan semua potensi yang dimiliki baik secara fisik, mental
serta daya panca indra otak dan anggota tubuh lainnya, demikian pula sepek-aspek kejiwaan,
seperti inteligensi, bakat minat dsb (Dalyono, 2005:49).
Disiplin mendorong mahasiswa menggunakan waktu belajar secara konkrit dalam praksis
hidup di kampus maupun di rumah (Elias, 2010: 95). Disiplin belajar merupakan suatu sikap
konsisten, konsekuen, tindakan yang berdedikasi tinggi dari dalam diri mahasiswa. Tindakan
mahasiswa dalam peng-konstruksian pengetahuan atau belajar yang sesuai dengan ketentuan yang
tertulis dan tidak tertulis yang eksis dan menjadi panduan bagi mahasiswa dan di Perguruan Tinggi
dan jadwal belajar pribadi di rumah. Ketaatan pada tata tertib dan peraturan menjadi ciri khas
disiplin belajar. Agar siswa belajar lebih maju siswa harus disiplin di dalam belajar baik di
sekolah, di rumah dan di perpustakaan (Slameto, 2010: 2 & 67).
Perilaku disiplin merupakan hal penting dalam belajar demi tercapai prestasi akademik
optimal. Semakin mahsiswa berperilaku disiplin dalam belajar prestasi akademik yang diraihnya
semakin optimal; sebaliknya ketidak-disiplinan mempengaruhi prestasi akademik menjadi kurang
optimal. Tidak adanya disiplin, proses belajar dan mengajar akan terhalang apabila waktu dan
energy dihabiskan untuk suatu urusan yang tidak berguna (Njoroge, 2014: 293).
Banyak penelitian yang telah dilakukan untuk mengungkapkan pengaruh disiplin belajar
terhadap prestasi akademik. Tetapi penelitian tersebut bermacam-macam dengan variabel dan
tingkat yang berbeda. Penelitian (Satmawati, 2010:76). Pengaruh Disiplin Belajar dan Lingkungan
Belajar terhadap Prestasi Belajar Akuntansi Siswa Kelas X Program Keahlian Akuntansi SMK
Negeri 1 Bantul Tahun Ajaran 2009/2010 menunjukkan pengaruh positif dan signifikan disiplin
belajar dan lingkungan belajar terhadap prestasi belajar. Terbukti dengan 20,20%, terhitung 45,6%
lebih besar dari r tabel pada taraf signifikansi 5% dengan jumlah sampel 92.
Penelitian lain mengenai (Candra (2011: 80) Hubungan Antara Motivasi Belajar,
Kemandirian Belajar Dan Disiplin Belajar Dengan Prestasi Belajar Akuntansi Siswa Kelas XII IPS
SMA Islam 1 Sleman Tahun Ajaran 2010/2011 ditemukan terdapat hubungan positif dan
signifikan antara Disiplin Belajar dengan Prestasi Belajar Ekonomi Siswa SMA Negeri 1
Wonogiri Tahun Ajaran 2008/2009 yang ditunjukkan dengan harga r sebesar 27,%9 yang lebih
besar dari pada r tabel, artinya variabel disiplin belajar mempengaruhi prestasi akademik. aspek
kedisiplinan mempengaruhi prestasi akademik siswa.

52

Mahasiswa yang berdisiplin tinggi dalam belajar akan memperoleh prestasi akademik
yang optimal dan sebaliknya prestasi akademik akan rendah, apabila mahasiswa kurang disiplin
dalam belajar. Penelitian yang dilakukan oleh (Njoroge, 2014: 303) di Mount Kenya University,
School of Education mengenai Discipline as a Factor in Academic Performance in Kenya,
menunjukkan bahwa 51% menyetujui ketidakdisplinan dalam belajar mempengaruhi prestasi
akademik, hanya 8% yang tidak menyetujui. Selanjutnya 70,7% yang tidak menyetujui pernyataan
bahwa mahasiswa yang tidak disiplin dalam belajar akan menjawab soal-soal dengan baik dalam
ujian, sedangkan 4% menyetujuinya. Konsekuenasinya mahasiswa yang disiplin belajarnya rendah
akan mendapat prestasi akademik yang rendah (Vakalisa dan Jacobbs dalam Njoroge, 2014: 303).
Ditemuakan bahwa 62,7% secara tegas menolak bahwa para mahasiswa yang tidak disiplin akan
belajar baik dalam kelas (Njoroge, 2014: 303) berbukti bahwa 72% secara tegas menyetujui bahwa
disiplin belajar berpengaruh positif terhadap prestasi akademik.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa semakin
mahasiswa mempunyai tinggi disiplindalam belajar semakin meningkat pula prestasi
akademiknya. Sebaliknya mahasiswa yang kurang disiplin dalam belajar kurang optimal prestasi
akademik yang diraihnya. Namun demikian pengaruh disiplin belajar terhadap prestasi akademik
para mahasiswa Timor Leste yang kuliah di Malang perlu diteliti karena beberapa alasan pertama,
situasi sosiol budaya, ekonomi, politik dan tingkat pendidikan di tempat penelitian terdahulu dilaksanakan berbeda dengan pengalaman mahasiswa Timor Leste yang kuliah di Malang. Kedua, hasil
penelitian terdahulu belum tentu dapat diterapkan pada mahasiswa Timor Leste yang kuliah di
Malang maupun di Timor Leste karena latar belakang sosial budaya, ekonomi, politik populasi
terdahulu tentu saja berbeda dengan pengalamana yang dimiliki oleh populasi dan sampel
penelitian ini. Ketiga, penguasaan bahasa yang dipakai dalam penelitian akan mempengaruhi hasil
penelitian, peneliti terdahulu menggunakna bahasanya sendiri sedangkan penelitian ini
menggunakan bahasa Indonesia, bukan bahasa Tetum atau bahasa ibu populasi dan sampel
penelitian ini.
3. Penyesuaian Diri
Pembahasan pengenai penyesuaian diri dalam psikologi disebut dengan istilah adjusment.
Adjustment merupakan suatu hubungan yang harmonis antara individu dengan lingkungan fisik
dan sosial (Chaplin, 2000: 14). Proses penyesuaian diri, individu dituntut menyesuaikan diri
dengan lingkungan sosial, psikologis dan lingkungan alam sekitarnya. Hal itu berarti bahwa
individu berusaha mengatasi tekanan, frustrasi dan kemampuan untuk mengembangkan
mekanisme psikologi yang tepat (Schneiders, 1964:7) dengan kondisi lingkungan setempat.
Penyesuaian diri dengan lingkungan tersebut melibatkan sistem behavioral, kognisi, dan
emosional (Baker, 2011: 27). Interaksi individu dan lingkungan menjadi agen perubahan, sehingga
penyesuaian diri dapat juga didefenisikan sebagai interaksi yang berkelanjutan dengan diri sendiri,
dengan orang lain dan dengan dunia. Ketiga faktor ini secara konsisten mempengaruhi individu
sehingga menjadi nyaman. Proses penyamaan dirinya atau menganggap dirinya menjadi bagian
utuh dari orang lain (Saguni, 2012: 6-7) dalam kehidupan sosial atau proses penyesuaian diri
merupakan suatu pendidikan sosial.
Tujuan dari pendidikan sosial adalah mendidik anak agar dapat mnyesuaikan diri dalam
kehidupan bersama dan ikut ambil bagian secara aktif dalam kehidupan bersama. Penyesuaian diri
sebagai proses respon mental dan perilaku yang merupakan usaha individu untuk mengatasi dan
menguasai tuntutan dalam dirinya, ketegangan, frustasi, dan konflik agar terdapat keselarasan
antara tuntutan dari dalam dirinya dengan harapan dari lingkungan di tempat tinggalnya
(Schneiders, 1964: 51) secara singkat dikatakan shock budaya
Hasil penelitian (Nasir, 2012: 99-101) mengenai Effects of Cultural Adjustment on
Academic Achievement of International Students. Menunjukkan bahwa suatu korelasi signifikan
ditemukan di antara seluruh penyesuaian budaya dan prestasi akademik (r = 0,37, p lebih kecil dari
0.01) Prestasi akademik juga secara siginifikan berhubungan dengan ketiga sub skala yakni:
penyesuaian secara umum (r = 0.028, p lebih kecil dari 0,05), penyesuaian Sosio budaya (r =
0,025, p lebih kecil dari 0,05) dan penyesuaian kerja (r = 0.30, p lebih kecil dari 0.01).
Hasil penelitian (Osa-Edeh, 2012: 165) di Psychological and Curriculum Studies, Faculty
of Education, University of Benin mengenai Social Life Adjustment And Academic Achievement
Of Adolescents In Edo State: Implication For Counselling menunjukkan bahwa Pearson‘s r Value
of .390 and a P value of .001. Testing at an alpha level of 0.5, the P value of .001 is greater than
the alpha level, sehingga hipotesis yang mengatakan bahwa tidak relasi signifikan antara

53

penyesuaian hidup sosial dan prestasi akademik. Berarti tidak ada signifikan relasi antara
penyesuaian hidup sosial dengan prestasi akademik, nilai r adalah signifikan artinya prestasi
akademik tinggi berhubungan dengan penyesuaian hidup sosial dan sebaliknya.
Berdasarkan kajian hasil penelitian terdahulu di atas dapat disimpulkan bahwa proses
penyesuaian diri mahasiswa berpengaruh terhadap prestasi akademik yang diraihnya, karena
penyesuaian diri yang positif akan memfasilitasi mahasiswa dalam belajar secara efektif dan
efisien sehingga memperoleh prestasi akademik yang optimal. Akan tetapi penelitian-penelitian
terdahulu dilakukan di tempat yang berbeda dan dalam waktu yang berbeda sehingga hasil
penelitian belum tentu dapat diterapkan pada mahasiswa Timor Leste yang kuliah di Malang atau
mahasiswa yang kuliah di Timor Leste, karena alasan yang telah disajikan dalam kajian di atas.
Berdasarkan alasan tersebut maka perlu dilakukan penelitian mengenai mengenai topik yang
dipaparkan di atas di kalangan mahasiswa Timor Leste yang kuliah di Malang, supaya hasil
penelitian dapat dipakai dalam layanan bimbingan dan konseling kepada mahasiswa Timor Leste
yang kulaih di Malang, dan penelitian selanjutnya.
4. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kuantitatif non-experimetal research,
artinya dalam penelitian ini, peneliti tidak melakukan treat-ment terhadap variabe-variabel yang
diteliti. Peneliti mengukur dan menjelaskan pengaruh variabel-variabel independen terhadap
variabel dependen (Gall, 2003: 289). Pengukuran dan penjelasan dalam penelitian ini
menggunakan Causal and effects Relationship Study (CERS) (Gall, 2003: 295) bahwa presumed
cause variabel independen dan presumed effect atau variabel dependen. Dalam hal ini, dijelaskan
tingkat pengaruh antara variabel independen terhadap variabel dependen dengan menggunakan
metode analisis regresi berganda. Pertimbangan dan tujuan peneliti menggunakan desain penelitian
ini untuk mendapat mengungkapkan dan pemahaman intensitas pengaruh ketiga variabel
independen (motivasi belajar, disiplin belajar dan penyesuian diri) terhadap variabel dependen
(prestasi akademik) para mahasiswa Timor Leste yang kuliah di Malang.
Populasi penelitian ini adalah para mahasiswa Timor Leste yang kuliah di Malang
(terdaftar di 11 Institut, Sekolah Tinggi dan Universitas), berjumlah 460 mahasiswa pascasarjana
dan sarjana, namun peneliti memilih mahasiswa sarjana sebanyak 427 sebagai sampel peneliti.
Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 40% (171) dari mahasiswa sarjana. Apabila peneliti
memiliki 1000 populasi, maka peneliti dapat menentukan kurang lebih 25% – 30% dari jumlah
populasi tersebut. Jika populasi berjumlah antara 100 – 150 orang, dan dalam pengumpulan
datanya peneliti menggunakan angket, maka sebaiknya subjek diambil seluruhnya. Apabila
peneliti menggunakan teknik wawancara dan pengamatan, jumlah tersebut dapat dikurangi
menurut teknik sampel dan sesuai dengan kemampuan peneliti (Arikunto 2005: 37). Berbasis pada
teori tersebut maka peneliti mengambil 40% dari sampel karena jumlah populasi lebih kecil dari
1000 mahasiswa dan lebih banyak dari 150 mahasiswa. Alasan lain yang mendasari keputusan ini
adalah keterbatasan waktu dan biaya dalam penelitian ini.
Penentuan sampel penelitian digunakan teknik sampling proportionate area random
sampling. Teknik sampling merupakan teknik pengambilan sampel (Sugiyono, 2011: 81) dalam
penelitian kuantitatif. Alasan menggunakan teknik proportionate area random sampling; karena
terdapat keragaman populasi penelitian apabila dilihat dari daerah asal sampel.
Metode pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan skala motivasi belajar (65 item), skala
disiplin belajar (50 item) dan skala penyesuaian diri (69 item) yang disusun sendiri oleh peneliti
dan dilakuakan uji coba lapangan dengan mahasiswa di Universitas Negeri Malang. Hasil uji coba
lapangan diuji validitas dan reliabilitasnya dengan nilai valid ≥ 0,50. Kemudian item yang valid
dan reliabel yang mewakili setiap indikator dan setelah direvisi seperlunya, dipakai sebagai
intrumen sah dalam proses pengumpulan data. Skala motivasi belajar terdiri atas 20 item, skalam
disiplin belajr terdiri atas 20 item dan skala penyesuaian diri terdir atas 20 item keseluruhan item
berjumlah 60 item. Sedangkan prestasi akademik disediakan kolom khusus di setiap lembar untuk
isi oleh responden mengenai IPK terarkhir yang diraih Analisis data digunakan teknik regresi
berganda (multiple regression).

54

5. Hasil Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara motivasi
belajar terhadap prestasi akademik, disiplin belajr terhadap prestasi akademik dan penyesuaian diri
terhadap prestasi akademik para mahasiswa Timor Leste yang kuliah di Malang dapat dilihat dari
nilai koefisien regresi.
Hasil regresi dari masing-masing variabel independen menunjukkan bahwa variabel
motivasi belajar, disiplin belajar dan penyesuaian diri berpengaruh secara signifikan terhadap
prestasi akademik para mahasiswa Timor Leste yang kuliah di Malang. Koefisien regresi masingmasing dimensi variabel independen dapat dilihat dalam tabel berikut ini:

No
1
2
3

4.1 Tabel Koefisien Regresi Variabel Independen
Variabel
Koefisien Regresi
Motivasi Belajar
0.007 ( P < 0,05, signifikan)
Disiplin Belajar
0.000 ( P < 0,05, signifikan)
Penyesusian Diri
0.000 ( P < 0,05, signifikan)

Berdasarkan tabel tersebut dapat diformulasikan bahwa motivasi belajar, disiplin belajar
dan penyesuaian diri secara signifikan berpengaruh terhadap prestasi akademik para mahasiswa
Timor Leste yang kuliah di Malang. Motivasi belajar (X1) berpengaruh terhadap prestasi
akademik sebesar 17,6%. Disiplin belajar (X2) berpengaruh terhadap prestasi akademik sebesar
31,9%. Penyesuaian diri (X3) berpengaruh sebesar 32,7% terhadap prestasi akademik para
mahasiswa dari Timor Leste yang kuliah di Malang. Akumulasi nilai dari ketiga variabel
independen tersebut berjumlah 82,2% terhadap prestasi akademik sedangkan 17,8% dipengaruhi
oleh variabel-variabel lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini. Dengan demikian hipotesis dan
asumsi penelitian ini berbukti benar bahwa motivasi belajar, disiplin belajar dan penyesuaian diri
secara signifikan dan berpengaruh positif terhadap prestasi akademik para mahasiswa Timor Leste
yang kuliah di Malang.
Hasil penelitian terdahulu menampilkan bahwa motivasi belajar berpengaruh terhadap
prestasi akademik yakni penelitian yang dilakukan oleh Berkaitan dengan pengaruh motivasi
belajar terhadap prestasi akademik, terdapat beberapa hasil penelitian terdahulu yang
membuktikan bahwa ada pengaruh positif motivasi belajar terhadap prestasi akademik meskipun
presentasi kontribusinya berbeda. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Udiyono mengenai
Pengaruh Motivasi Orang Tua, Kondisi Lingkungan Dan Disiplin Belajar Terhadap Prestasi
Akademik Mahasiswa Pendidikan Matematika Universitas Widya Dharma Klaten Semester Gasal
Tahun Akademik 2010/2011 menunjukkan terdapat hubungan positif yang signifikan antara
disiplin belajar dengan prestasi akademik, dengan rx3y=0,401 pada p=0,023 (signifikansi 5 %).
Sehingga semakin tinggi tingkat disiplin belajar maka akan semakin tinggi pula tingkat prestasi
akademik (Udiyono, 2011: 98).
Kekajian yang sama dikemukakan oleh McClelland mengenai Effects of Achievement Motivation
Training on Grades Relative to What Is Expected Based on Past Performance for English Grades
di Smith Elementary Shool, Ohio menunjukkan bahwa pelatihan motivasi sekolah Smith untuk
meningkatkan prestasi akademik siswa berkemampuan akademik tinggi, sedang dan rendah, lebih
dari 67% siswa yang mengikuti pelatihan motivasi prestasi akademik-nya meningkatkan di kelas
VII dibandingkan dengan 44% siswa Fairwood yang tidak mendapat latihan motivasi (McClelland
1987:569).
Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa disiplin belajar berpengaruh positif
terhadap prestasi akademik yakni penelitian yang dilakukan oleh (Njoroge, 2014: 303) di Mount
Kenya University, School of Education mengenai Discipline as a Factor in Academic Performance
in Kenya, menunjukkan bahwa terdapat 51% menyetujui ketidakdisplinan dalam belajar
mempengaruhi prestasi akademik mahasiswa, hanya 8% yang tidak menyetujui, lebih lanjut
dikatakan bahwa 70,7% yang tidak menyetujui pernyataan bahwa mahasiswa yang tidak disiplin
dalam belajar akan menjawab soal-soal dengan baik dalam ujian, sedangkan 4% menyetujui bahwa
mahasiswa yang tidak disiplin dalam belajar akan menjawab soal-soal dalam ujian dengan baik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyesuaian diri berpengaruh terhadap prestasi
akademik diafirmasi oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh (Nasir, 2012: 99-101) mengenai
Effects of Cultural Adjustment on Academic Achievement of International Students. Menunjukkan
bahwa suatu korelasi signifikan ditemukan di antara seluruh penyesuaian budaya dan prestasi
akademik (r = 0,37, p lebih kecil dari 0.01) Prestasi akademik juga secara siginifikan berhubungan

55

dengan ketiga sub skala yakni: penyesuaian secara umum (r = 0.028, p lebih kecil dari 0,05),
penyesuaian Sosio budaya (r = 0,025, p lebih kecil dari 0,05) dan penyesuaian kerja (r = 0.30, p
lebih kecil dari 0.01).
6. Diskusi
Prestasi akademik yang diperoleh para mahasiswa Timor Leste sampai saat ini
dipengaruhi oleh motivasi belajar sebesar 17,6%. Berarti bahwa 82,4% prestasi akademik para
mahasiswa Timor Leste yang kuliah di Malang dipengaruhi oleh variabel lain yang termasuk
kedua variabel independen (disiplin belajar dan penyesuaian diri) dalam penelitian ini. Jadi nilai
82,4% tersebut termasuk nilai dari kedua variabel independen dalam penelitian ini sebesar (31,9%
dan 32,7%) sehingga akumulasi dari nilai ketiga variabel independen dari penelitian ini menjadi
82,2% sedangkan 17,8% adalah variabel lain yang tidak termasuk dalam variabel penelitian ini.
Prestasi akademik yang diperoleh para mahasiswa Timor Leste sampai saat ini
dipengaruhi oleh disiplin belajar sebesar 31,9% berarti 68,1% prestasi akademik dipengaruhi oleh
variabel lain termasuk kedua variabel independen (motivasi belajar dan penyesuaian diri) dalam
penelitian ini. Jadi nilai 68,1% tersebut termasuk nilai dari kedua variabel independen dalam
penelitian ini sebesar (17,6% dan 32,7%) sehingga akumulasi dari nilai ketiga variabel independen
dari penelitian ini menjadi 82,2% sedangkan 17,8% adalah variabel lain yang tidak termasuk
dalam variabel penelitian ini.
Prestasi akademik yang diperoleh para mahasiswa Timor Leste sampai saat ini
dipengaruhi oleh penyesuaian diri sebesar 32,7% berarti 67,3% prestasi akademik dipengaruhi
oleh variabel lain kedua variabel independen (motivasi belajar dan disiplin belajar) dalam
penelitian ini. Jadi nilai 67,3% tersebut termasuk nilai dari kedua variabel independen dalam
penelitian ini sebesar (17,6% dan 31,9%) sehingga akumulasi dari nilai ketiga variabel independen
dari penelitian ini menjadi 82,2% sedangkan 17,8% adalah variabel lain yang tidak termasuk
dalam variabel penelitian ini.
D. Penutup
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas dapat disimpulkan beberapa poin:
Pertama, motivasi belajar berpengaruh terhadap prestasi akademik sebesar 17,6%. Berarti bahwa
82,4% prestasi akademik para mahasiswa Timor Leste yang kuliah di Malang dipengaruhi oleh
bariabel lain termasuk kedua variabel independen (disiplin belajar dan penyesuaian diri) penelitian
ini. Kedua, pengaruh disiplin belajar terhadap prestasi akademik para mahasiswa Timor Leste
yang kuliah di Malang sebesar 31,9% sedangkan 68,1% dipengaruhi oleh variabel lain termasuk
kedua variabel independen (motivsi belajar dan penyesuaian diri) penelitian ini. Ketiga,
penyesuaian diri para mahasiswa Timor Leste yang kuliah di Malang terhadap prestasi akademik
yang telah mereka sebesar 32,7% berarti 67,3% prestasi akademik dipengaruhi oleh variabel lain,
termasuk kedua variabel independen (motivasi belajar dan disiplin belajar) penelitian ini.
Keempat, akumulasi dari ketiga variabel independen nonkognitif (motivasi belajar, disiplin belajar
dan penyesuaian diri) tersebut terhadap variabel dependen (prestasi akademik) sebesar 82,2%
sedangkan 17,8% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
Jadi dapat disimpulkan bahwa hipotesis dan asumsi penelitian ini berbukti benar bahwa
motivasi belajar, disiplin belajar dan penyesuaian diri secara signifikan dan berpengaruh positif
terhadap prestasi akademik para mahasiswa Timor Leste yang kuliah di Malang. Persentase
pengaruh ketiga variabel independen terhadap prestasi akademik perlu dipertahankan atau bahkan
ditingkatkan. Peningkatan motivasi belajar, disiplin belajar dan penyesuaian diri perlu dilakukan
oleh para konselor dan guru BK supaya prestasi akademik para mahasiswa ikut terelevasi dari
level yang telah dicapai saat ini.
Oleh karena ini disarankan kepada beberapa pihak:
1) Perguruan Tinggi (PT) di Malang yang mempunyai mahasiswa dari Timor Leste, temua ini
sebagai informasi aktul dan akurat bagi konselor PT dalam merancang program layanan
bimbingan dan konseling (BK) kelompok dan pribadi.
2) Konselor PT bahwa faktor nonkognitif juga berpengaruh bersar terhadap pencapaian prestasi
akademik mahasiswa.
3) Peneliti selanjutnya (peneliti dari Timor Leste dan/atau peneliti lain) bahwa penelitian serupa
atau mirip (dengan penambahan beberapa variabel independen) perlu dan penting dilakukan

56

terhadap seluruh tingkat pendidikan (TK – Pascasarjana). Tujuannya unutk memperoleh teori
layanan BK mengenai pengaruh faktor nonkognitif terhadap prestasi akademik.
4) Pemerintah Timor Leste sebagai informasi relevan, actual dan akurat dalam mengambil
berbagai kebijaksanaan terutama dalam penyusunan kurikulum pendidikan Nasional supaya
layanan BK diberikan tempat yang proporsional, karena layanan BK merupakan bagian
integral dari sistem pendidikan, namun sampai saat ini eksistensi dan fungsi BK belum
mempunyai wadah dalam kazanah pendidikan dan pengkonstruksian pengetahun dan
keterampilan.
5) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan bahwa upaya memberikan beasiswa kepada
mahasiswa Timor Leste baik mahasiswa yang kuliah di luar negeri maupun yang kuliah di
dalam negeri. Hendaknya diberi peluang beasiswa kepada para calon konselor.
6) Segenap Civitas academika dan penanggung pendidikan supaya dalam penetapan sistem dan
proses pendidikan perlu memperhatikan motivasi belajar, disiplin belajar dan penyesuaian diri
disamping faktor non kognitif lainnya, karena ketiga faktor ini berpengaruh terhadap proses
pencapaian prestasi akademik secara optimal.
Daftar Pustaka
Arikunto, S. 2005. Manajemen Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta
Baker, D. S. & Carson, K.D. 2011. The Two Faces of Uncertainty Avoidance: Attachment and
Adaptaion, Institute of Behavioral and Applied Management, USA: University of
Louisiana at Lafayette.
Bambacas M. & Patrickson, M. 2008. Interpersonal communication skills that enhance
organisational commitment, Journal of Communication Management, Vol. 12 Iss: 1.
pp.51-72.
Candra, A. M. (2011), Hubungan Antara Motivasi Belajar, Kemandirian Belajar Dan Disiplin
Belajar Dengan Prestasi Belajar Akuntansi Siswa Kelas XII IPS SMA Islam 1 Sleman
Tahun Ajaran 2010/2011. Yogyakarta : UNY.
Chaplin, J.P. 2000. (Kartini Kartono. 2001). Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: Rajawali Pers
Dalyono. 2005. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Dev, P.C. 1997. Intrinsic Motivation and Academic Achievement, what Does Their Relationship
Imply for the Classroom Teacher, Remedial and Specific Education, Vol.18 Number 1.
January/February.
Elias, H., Noordin, N., Wahyuddin, R. 2010. Achievement Motivation And Self-Efficacy In
Relation To Adjustment Among University Student. Department of Education Funcation,
Faculty of Education Studies, University Putra Malaysia, Serdang, Selangor Malaysia,
Journal of Social Sciences 6 (3): 333-339: Malaysia.
Eymur, G. & Gaben,O. 2011. An Investigation Of The Relationship Between Motivation And
Academic Achievement Of Pre-Service Chemistry Teache, Meddle East Technical
University, Education and Science. Vo..36. No.161, 2011.
Froiland, J.M., Oros, E., Smith, L., & Hirchert, T. 2012. Intrinsic Motivation to Learn: The
Nexus between Psychological Health and Academic Success. Department of School
Psychology, McKee Hall 298, Box 131, Greeley, CO, 80639. Contemporary School
Psychology, 2012, Vol. 16.
Gall, M.D., Gall, J.P., Borg, W.R. 2003. Educational Research, an Introduction, 7th Ed., New
York: Pearson Education inc.
Goldberg, M. D. (1994). A developmental investigation of intrinsic motivation: Correlates, causes,
and consequences in high ability students (Doctoral dissertation, University of Virginia,
1994). Dissertation Abstracts International, 55-04B, 1688.
Hasibuan, M. (2005). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara.
http://www.news.bbc.co.uk,1999. diakses 21 Februari 2014.

57

Http:p//www.wikipedia.org, 2008.Timor Portugis . diakses 19 Juni 2014.
Kedaulatan Rakyat. 1999. Menunggu Reaksi Opsi Baru atas Timor -Timur, (Tajuk Rencana, 29
Januari 1999.
Li, H. & Armastrong, D. 2009, Is There a Correlation Between Academic achievement, and
Behavor in Minland Chinese Student? Asian Social Acience, (5), (4).
McClelland, D.C. 1987. Human Motivation, New Year: Cambridge University Press
Nazir, A. 2010. Effect Of Intrinsic And Extrinsic Motivation On Academic Performance,
Department of Social Sciences, Karachi: Pakistan Business Review July 2010
Nazir, M. 2012. Effects of Cultural Adjustment on Academic Achievement of International
Students. Journal of Elementary Education Vol.22, No. 2 pp. 95-103.
Njoroge, P. M. 2014. Discipline as a Factor in Academic Performance in Kenya, Journal of
Educational and Social Research. MCSER: Publishing, Rome-Italy, Vol. 4 No.1 January
2014
OSA-EDOH G.I and IYAMU F.I. 2012. Social Life Adjustment And Academic Achievement Of
Adolescents In Edo State: Implication For Counselling, Department of Educational
Psychological and Curriculum Studies, Faculty of Education, University of Benin, Ozean
Journal of Applied Sciences 5(2), 2012.166.
Prayitno & Erman A.1999. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta
Rohman

H.
2010.
Pengertian/definisi
metode
pembelajaran,
http://hipni.blogspot.com/2011/09/pengertiandefinisi-metode-pembelajaran.
Diakses 24 Setember 2014).

(online),
html,

Ryan, R. M., & Deci, E. L. 2000. Intrinsic and extrinsic motivations: Classic definitions and new
directions. Contemporary Educational Psychology, 25, 54–67.
Saguni, F. 2012. Pengaruh Metode Pembelajaran terhadap Mata kuliah Perencanaan Pembelajaran
pada Mahasiswa UIN Makassar. Disertasi 2012) hal 86
Sardiman, A.M. 2012. Interaksi dan Motivasi Belajar. Yogyakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Satmawati, N.S. 2010. Pengaruh Disiplin Belajar dan Lingkungan Belajar Terhadap Prestasi
Belajar Akuntansi Pada Siswa Kelas X program Keahlian Akuntansi SMK N 1 Bantul
Tahun Ajaran 2009?2010. skripsi. Yogyakarta: FISE UNY
Schneiders, A. 1964. Personal Adjustment and Mental Health. New York: Rinehart & Winston
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: PT.Rineka Cipta
Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Bandung: Pustaka Quraisy
Sugiono.2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta CV
Sukiniarti. Jumal Pendidikan, Voume. 7, Nomor 1, Maret 2006,12 -18
Suryabrata, S. 2006. Psikologi Pendidikan. (Ed.5), Yogyakarta: PT. Raja GrapindoPersada.
Udiyono. 2011. Pengaruh Motivasi Orang Tua, Kondisi Lingkungan Dan Disiplin Belajar
Terhadap Prestasi Akademik Mahasiswa Pendidikan Matematika Universitas Widya
Dharma Klaten Semester Gasal Tahun Akademik 2010/2011, Magistra No. 75 Th. XXIII
Maret 2011 ISSN 0215-9511: UNWIDHA Klaten.

58

PARENTS AS TUTORS FIRST AND PRINCIPAL TO CREATE HIGH-QUALITY
HUMAN RESOURCES
Agus Ria Kumara, S. Pd., M. Pd
agus.kumara@bk.uad.ac.id
Universitas Ahmad Dahlan
ABSTRACT
The change of new era means that each individual always evolves. Developments marked
with the demands of improving the quality of human resources in its different aspects. Nation
character very much dependent on the quality of human resources are. The character of quality
need to fostered since an early age. There are two factors that influence character, which is innate
from within yourselves sons of and views the children of the world it does possess, such as
knowledge, experience, moral principles accepted, guidance, parent-child interaction and briefing.
A positive environment will form the positive character also on child. The process begins with the
conditions develop the character of the private tua as an influential figure to be a bust children.
Key Word : character, parent, high-quality human resources
PENDAHULUAN
Perubahan zaman menuntut setiap individu selalu berkembang. Perkembangan
tersebut ditandai dengan tuntutan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dalam
berbagai aspek. Masyarakat Ekonomi Asean atau lebih dikenal dengan MEA, merupakan salah
satu upaya yang dilakukan oleh negara-negara di Asean untuk dapat menstandarkan kualitas SDM
yang merupakan ujung tombak dari perubahan dan perkembangan negara.
Karakter bangsa sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusianya (SDM).
Dalam menyiapkan SDM yang berkualitas, pemerintah Indonesia mengeluarkan beberapa regulasi
dan perubahan dalam proses pendidikan. Munculnya Kurikulum 2013 (K-13) dan Kurikum
Perguruan Tinggi (KPT) serta adanya standar kualitas lulusan yang diatur dalam Kerangka
Kualifikasi Nasional Indonesia. Namun proses pembentukan kompetensi individu yang paling
pertama dan utama adalah pendidikan yang diperoleh dari keluarga.
Oleh karena itu, karakter yang berkualitas perlu dibina sejak usia dini agar anak
terbiasa berperilaku positif. Kegagalan penanaman kepribadian yang baik di usia dini akan
membentuk pribadi yang bermasalah di masa dewasanya kelak. Menurut Davis and Carter, social
skill delays have been identified as one of the most consistent predictors of parenting stress for
both mothers and fathers of children with ASD while mothers are typically more affected by
eating, sleeping and emotional dysregulation than fathers, and fathers are typically more affected
by a child’s externalizing behaviors than mothers (2008). Hal tersebut membuktikan bahwa
pengaruh orang tua dan pendidikan usia dini sangat penting bagi perkembangan individu.
Ada dua faktor yang memengaruhi pembantukan karakter, yaitu bawaan dari dalam
diri anak dan pandangan anak terhadap dunia yang dimilikinya, seperti pengetahuan, pengalaman,
prinsip-prinsip moral yang diterima, bimbingan, pengarahan dan interaksi (hubungan) orangtuaanak. Lingkungan yang positif akan membentuk karakter yang positif pula pada anak.
Menurut Rania Al Abdullah, “educating our children is not just about imposing a
body of knowledge on them. Rather, it involves preparing children from the early years for the
world in which they will come of age. It means instilling a love for lifelong learning, creativity,
self-expression and an appreciation for diversity.” Ditambahkan menurutJames Baldwin ―A child
cannot be taught by anyone who despises him, and a child cannot afford to be fooled.” Proses
pendidikan merupakan proses berarti mengajarkan kepada anak-anak kita sejak usia dini,
kemampuan untuk siap dan mampu menghadapi tantangan dunia masa depan yang akan menjadi
ajang hidup mereka nantinya, dimana dalam proses pendidikan dibutuhkan ketulusan. seseorang
yang tidak dengan tulus peduli pada si anak tidak akan mungkin bisa mendidiknya meskipun di
luarnya dia pura-pura peduli. Ketulusan mendidik dengan baik datang dari hati.
Kisah nyata sebuah keluarga muslim di Indonesia yang mampu menjadikan 10 orang
buah hati mereka sebagai anak-anak yang shalih, hafal Al-Qur‘an dan berprestasi. Putra pertama,
hafal Al-Qur‘an pada usia 13 tahun. Putra kedua, hafal Al-Qur‘an pada usia 10 tahun dengan
predikat mumtaz. Putri ketiga, hafal Al-Qur‘an sejak usia 16 tahun. Putri keempat, hafal 29 juz
sejak SMA. Putra kelima, hafal 15 juz Al-Qur‘an ketika duduk di MA. Putra keenam, hafal 13 juz
Al-Qur‘an, ketika duduk di SMA. Putra ketujuh, hafal 9 juz Al-Qur‘an ketika duduk di SMP. Putra

59

kedelapan, hafal Al-Qur‘an 30 juz pada saat kelas 6 SD. Putra kesembilan dan putri kesepuluh,
bersekolah di SD hafal 2 juz Al-Qur‘an.
Kesuksesan orang tua dalam meningkatkan kualitas SDM di Indonesia juga terlihat
dari kesuksesan seorang ibu lulusan SD yang berjuang mendidik anaknya sebagai single parent
yang menghantarkan 15 anaknya menggapai gelar sarjana, ada yang profesor, doktor, master,
insinyur, dan letnan. Namun tidak semua orang tua berhasil mendidik putra dan putri mereka
seperti kisah dua keluarga diatas.
KOMPETENSI YANG DIMILIKI OLEH ORANG TUA SEBAGAI PEMBIMBING
PERTAMA DAN UTAMA
Proses pembentukan karakter diawali dengan kondisi pribadi orang tua sebagai figur yang
berpengaruh untuk menjadi panutan, keteladanan, dan diidolakan atau ditiru anak-anak. Anak
lebih mudah meniru perilaku daripada menuruti nasihat yang diberikan orang tua.
Mereka belajar melalui mengamati apa yang ada dan terjadi di sekitarnya, bukan lewat
nasihat semata-mata. Nilai yang diajarkan melalui kata-kata, hanya sedikit yang akan mereka
lakukan, sedangkan nilai yang diajarkan melalui perbuatan, akan banyak mereka lakukan. Sikap
dan perilaku orang tua sehari-hari merupakan pendidikan watak yang terjadi secara berkelanjutan,
terus-menerus dalam perjalanan umur anak.
Kompetensi yang harus dimiliki oleh orang tua meliputi:
1. Religius
Orang tua harus bisa menjadi teladan dan imam yang baik bagi keluarganya. Keimanan dan
ketakwaan sebagi pondasi utama dalam mendidik anak.
2. Pendidikan
Orang tua tidak harus mempunyai pendidikan yang tinggi, namun kompetensi pendidikan
yaitu paham dan bisa mengaplikasikan bentuk pola pendidikan anak yang benar tanpa
memunculkan tekanan pada anak.
3. Pribadi dan Sosial
Orang tua harus memiliki kepribadian dan komunikasi yang baik, sehingga dapat
menciptakan situasi komunikasi dan teladan yang baik bagi anak.
PERAN ORANG TUA SEBAGAI PEMBIMBING PERTAMA DAN UTAMA
Peran orang tua dalam menumbuhkan karakter anak antara lain:
1. Mengajarkan
Kemandirian
dan
Tanggung
Jawab
Sejak
Usia
Dini
Umumnya orang tua memiliki rasa khawatir yang berlebihan pada anak sehingga
memunculkan sikap over protektif. Belajarlah untuk mempercayai buah hati anda namun
tetap memantau dari jauh tanpa pengekangan maupun melindungi kesalahan yang dilakukan.
Ajarkan pada buah hati anda mengetahui benda-benda miliknya serta merapikanya setelah
bermain. Ketika sudah masuk masa sekolah ajarkan mereka untuk mempersiapkan
keperluanya, beri uang saku dengan diarahkan untuk disisihkan sebagai tabungan.
2. Mengajarkan dan Tumbuhkan Rasa Ingin Tahu Anak
Pada usia anak-anak mereka memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Ketika melihal bendabenda atau sesuatu yang belum pernah dilihat dan pahami maka biasanya mereka akan
bertanya. Sebagai orang tua anda harus menjawab dengan menjelasan yang mudah dipahami.
Jika anda tidak tau akan hal itu jangan berbohong, berusahalah menjelaskan selogis mungkin.
3. Mengajarkan Kemampuan Berpendapat Anak
Sebagai orang tua sebaiknya belajar mendengarkan pendapat anak, jika memang pendapatnya
tidak benar bisa dikoreksi.
4. Mengajarkan Rasa Sosial, Bersimpati, Emapti, dll
Sebagai manusia rasa sosial, simpati, empati, dan sikap itu sangat penting. Agar anak tumbuh
menjadi manusia yang menghargai orang lain maka sedini mungkin ajarkanlah pada mereka
untuk memahami lingkungan sekitar. Ajarkan pada anak anda untuk memberi pada mereka
yang membutuhkan, dan tidak bersifat sombong.
5. Memberi Tauladan Yang Baik, Jadilah Contoh
Sebagai orang tua maka sikap dan prilaku kita adalah contoh utama yang akan di ikuti oleh
buah hati kita. Jika ingin anak-anak kita bersikap sopan, bertuturkata yang baik, maka kita
harus senantiasa bersikap seperti itu sebagai contoh. Jika ingin anak kita religius, maka kita
harus memberi contoh seperti apa orang yang religius itu. Maka dari itu sikap orang tua
adalah contoh dan teladan utama bagi anak-anaknya.

60

PERAN BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM PROSES PENGEMBANGAN
KOMPETENSI ORANG TUA
Dalam perkembangan, layanan bimbingan dan konseling mengalami perubahan.
Paradigma yang dulu lebih pada menangani masalah yang muncul atau biasa disebut dengan
pendekatan krisis, sekarang sudah bergeser pada mengembangkan potensi siswa dengan melihat
tugas perkembangan dan melibatkan setiap unsur. Dalam perkembangan karakter anak yang
dimulai sejak dini, peran orang tua menjadi hal vital, maka dibutuhkan kolaborasi antara guru dan
orang tua di rumah, sehingga keinginan orang tua terhadap pendidikan anak akan tercapai.
Bentuk layanan Bimbingan dan Konseling yang digunakan untuk mengembangkan
kompetensi yang ada pada orang tua dan sebagai bentuk kolaborasi yaitu dengan diadakan
parenting workshop. Parenting workshop merupakan salah satu kegiatan, dimana orang tua dan
guru duduk bersama membahas perkembangan anak didiknya dengan waktu yang terjadwal.
PENUTUP
Pembentukan karakter dimulai sejak usia dini dan berlangsung sepanjang hidup
manusia. Karakter anak akan terbentuk dengan baik jika dalam proses tumbuh kembangnya anak
mendapatkan cukup ruang untuk mengungkapkan diri secara leluasa. Anak-anak adalah generasi
yang akan menentukan nasib bangsa ini dikemudian hari. Orang tua harus menyadari sepenuhnya
bahwa buah hari mereka akan menyerap setiap hal dan kejadian disekitarnya maka dari itu contoh
terbaik adalah lingkungan keluarga anda. Jangan berlebihan memproteksi anak dan jangan
berlebihan mengabaikanya. Kasih sayang keluarga adalah kunci kesuksesan dalam mendidik anak.

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah Munir. 2010. Pendidikan Karakter. Penerbit: Pedagogia, tahun 2010
Maril Olson. 2007. Strengthening Families Community Strategies That Work. Beyond the
Journal Young Children on the Web
Davis, N. O., & Carter, A. S. 2008. Parenting stress in mothers and fathers of toddlers with autism
spectrum disorders: Associations with child characteristics. Journal of Autism and
Developmental Disorders.
Rachel A. Ozretich, M.S., 2000. Best Practices in Parenting Education. Corvallis: Oregon State
University Extension Service.

61

UTILIZATION OF NATURAL MATERIALS OF PRE SCHOOL LEARNING
ACTIVITIES AT BUTON NORTH IN PREPARING
THE NEXT GENERATION ERA MEA
Nani Restati Siregar, S.Psi, M.Si.
naniresilham@yahoo.com
082196116353
FKIP Universitas Halu Oleo,
Kampus Hijau Bumi Tridharma, Anduonohu Kendari,
Sulawesi Tenggara, 93232.
ABSTRACT
In order to enter the era of the MEA is expected every student especially starting from an early
age in order to recognize the potential of natural resources owned by learning activities, so that
they can know the benefit of natural resources available for human life. Therefore, early childhood
creativity needs to be grown through relevant learning approaches, such as the approach of the
BCCT and approach of the project.
Through both approaches kids are invited to play using natural materials media strives to plant
cassava, as one of the potential natural resources belonging to Buton on the North. As for these
activities are: the collage (latching) Activities, activities and role playing, group activities based
on the shape and size of beams.
Key words: natural materials, learning, the MEA
I. PENGANTAR MASALAH
Kabupaten Buton Utara adalah salah satu dari 16 Kabupaten yang terdapat di Propinsi
Sulawesi Tenggara. Seperti halnya dengan kabupaten lain bahkan propinsi lainnya bahwa
kabupaten buton utara dalam menyelenggarakan proses pembelajaran di PAUD adalah mengikuti
kurikulum nasional yang sama digunakan oleh sekolah PAUD lainnya. Perbedaannya adalah di
Kabupaten Buton Utara memiliki ciri khas khususnya dalam sumber alam, antara lain umbiumbian (ubi) dan mente yang dapat ditemukan hampir di setiap lahan yang ada di Kabupaten
Buton Utara. Selain itu adalah kekayaan laut seperti ikan, kepiting dan lain-lain. Sumber alam
yang sangat mudah ditemukan dan aman diterapkan pada anak-anak usia dini adalah tanaman ubi.
Tanaman ubi kayu digunakan pada kegiatan pembelajaran untuk meningkatkan aspek
kemampuan motorik halus melalui kegiatan kolase (menempel), selanjutnya ubi kayu juga dapat
meningkatkan kemampuan kognitif melalui perolehan informasi tentang tanaman ubi kayu serta
dapat meningkatkan kreativitas melalui pengetahuan tentang pengolahan ubi kayu menjadi
makanan (Koswara,2000). Tujuan dari diperkenalkannya anak sejak usia dini secara khusus
melalui lembaga pendidikan formal (PAUD) adalah agar anak-anak tidak hanya mengetahui
tumbuhan ubi sebagai sekedar makanan yang telah tersedia dan siap untuk dimakan, melainkan
juga bertujuan agar anak-anak mengetahui proses pertumbuhan ubi, pengelolaan ubi yang
beraneka ragam tidak hanya menjadi ubi goreng, ubi rebus dan kasoami yang selama ini sering
dikonsumsi masyarakat Buton Utara. Namun, ubi kayu dapat pula diolah menjadi makanan lainnya
yang dikombinasi dengan bahan makanan lainnya yang masih berciri khas daerah yang masih
jarang ditemukan di luar Sulawesi, misalnya : sanggara bandang ( bahan dasar ubi, pisang dan
kelapa parut), doko-doko cangkuli ubi (bahan dasar ubi, dan kelapa) dan lain sebagainya. Selain
itu kulit ubi kayu dapat dijadikan bahan untuk kegiatan kolase (menempel) pola pada kegiatan
belajar di PAUD yang mana selama ini menggunakan bahan-bahan yang umum digunakan oleh
hampir semua sekolah PAUD.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan, pasal 19 ayat 1 menyatakan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan
diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik
untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan
kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik (PP
tentang Standar Nasional Pendidikan, 2005). Proses pembelajaran akan optimal jika didukung
dengan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan dan minat anak.
Semua tujuan penggunaan ubi kayu dalam pembelajaran PAUD adalah di sisi lain
mempersiapkan anak-anak usia dini generasi penerus bangsa agar dapat bersaing dalam

62

Masyarakat Ekonomi ASEAN, artinya bahwa anak-anak dibiasakan mempelajari dan memahami
sumber daya alam yang merupakan ciri khas daerah tempat tinggal, sebelum bangsa lain
mempelajari sumber daya alam khas daerah tersebut. Oleh karena itu, dampak positif dari
mempelajari dan memahami sumber daya alam ciri khas daerah adalah agar dapat menumbuhkan
kecintaan terhadap potensi khas sumber daya daerah sehingga akan memunculkan sikap merawat
dan mengembangkannya dalam bentuk pengolahan potensi sumber alam tersebut secara kreatif.
Sehubungan dengan hal di atas, Suliswanto (2013) mengemukakan berdasarkan laporan
perekonomian Bank Indonesia (2012), bahwa dalam penerapannya MEA akan menerapkan 12
sektor prioritas, yaitu perikanan, e-travel, e-ASEAN, automotif, logistik, industri berbasis kayu,
industri berbasis karet, furnitur, makanan dan minuman, alas kaki, tekstil dan produk tekstil, serta
kesehatan. Berkaitan dengan hal tersebut, sumber daya alam di daerah Buton Utara yang sangat
banyak dijumpai adalah tanaman ubi kayu. Ubi kayu tersebut merupakan salah satu kekayaan alam
Kabupaten Buton utara dijadikan media pada kegiatan pembelajaran di PAUD. Hal tersebut
dilakukan agar sejak awal anak-anak dibiasakan mengenal, memahami dan akhirnya mencintai
sumber daya alam yang terdapat di daerahnya. Melalui kegiatan pembelajaran yang
menyenangkan maka tanaman ubi kayu dapat melatih anak mencintai dan pada akhirnya mampu
berkreasi melalui tanaman tersebut, sehingga kelak pada 15 atau 20 tahun mendatang mampu
berkarya secara kreatif dan bersaing menghadapi MEA.
II. PEMBAHASAN
A. Pendekatan Pembelajaran PAUD/TK
Beberapa pendekatan dalam pembelajaran anak Taman Kanak-kanak antara lain:
Pendekatan Montessori, Pendekatan Bank Street, pendidikan High/Scope, Pendekatan Kurikulum
Kreatif, Pendekatan Regio Emilia, Pendekatan Project Based, dan Pendekatan BCCT. Pada
kesempatan kali ini, akan dijelaskan salah satu Pendekatan yang sesuai dengan minat anak, yaitu
pendekatan BCCT.
1. Pendekatan BCCT
Pendekatan ini dikembangkan oleh CCCRT (Creative Center for Childhood Research and
Training) Florida, USA. Dilaksanakan di Creative Preschool asuhan Pamela. Pada
perkembangannya di Indonesia bernama BCCT (Beyond Center and Cyrcle Time) yang kemudian
akan diganti dengan nama SELING (Sentra & Lingkaran).
Konsep Pendekatan BCCT Melalui 3
jenis main, antara lain:
a. Main Sensorimotor
1) Anak belajar melalui panca indera dan hubungan fisik dengan lingkungan
2) Dengan menyediakan kesempatan untuk berhubungan dengan bermacam-macam bahan dan
alat permainan di dalam dan di luar ruangan.
b. Main Peran, atau simbolik, main pura-pura, fantasi, imajinasi atau main drama 
Untuk
perkembangan kognisi, sosial dan emosi anak. Main Peran dibagi atas 2 jenis :
1) Main Peran Makro, Anak berperan sesungguhnya dan menjadi seseorang 
atau sesuatu.
2) Main Peran Mikro, Anak memegang atau menggerak-gerakkan benda-benda 
berukuran
kecil untuk menyusun adegan.
c. Main Pembangunan
1) Main pembangunan bahan sifat cair/bahan alam
Bermain dengan menggunakan bahan
bahan cair seperti air, krayon, spidol cat dengan kuas, pensil, pulpen, playdough, ublegh,
pasir, lumpur, biji-bijian seperti beras, kacang kedelai, kacang hijau dll.
2) Main Pembangunan Terstruktur
Bermain dengan mempergunakan balok unit,balok
berongga, balok berwarna, lego, puzzle dan lain lain.
2. Pendekatan Proyek
Pendekatan Proyek dikembangkan pertama kali oleh Lilian Katz. Kegiatan pembelajaran
melalui pendekatan proyek melibatkan proses kesatuan hati (heart) dan pikiran (minds) di antara
anggota kelompok. Dengan demikian, hasil pengamatan yang bervariasi dapat disatukan dalam
proses penyelidikan yang akhirnya menghasilkan suatu karya yang berarti. Prinsip Pendekatan
Proyekantara lain:
a. Pengetahuan (knowledge) 
Fakta-fakta, informasi, cerita, konsep, dan banyak unsur dari pikiran
b. Ketrampilan (skills) 
Ketrampilan berbeda dengan pengetahuan. Pengetahuan harus dapat

63

menjadi suatu ketrampilan
c. 
Disposisi (disposition)
Kemampuan prososial, motivasi, peduli, dan empati kepada anak lain berkembang dengan baik
melalui mengamati (observing) dan meniru (modelling)
– Bawaan dari lahir untuk memaknai pengalaman, bertanya, mencari jawaban, dll
– Tidak bisa diajarkan melalui instruksi
– harus diwujudkan dalam tingkah laku, diekspresikan dan digunakan
– disposisi yang hilang, tidak akan bisa kembali lagi 
d. Perasaan (feelings)
– Dipelajari melalui pengalaman
– Tidak dapat dipelajari melalui instruksi, paksaan, atau doktrinasi
– Memberi kesempatan untuk terlibat aktif, menentukan pilihan, dan 
mengambil keputusan.
Pelaksanaan pendekatan Proyek disesuaikan dengan tujuan akademik 
di mana guru
mengajarkan pengetahuan, konsep, informasi dan ketrampilan dan sesuai dengan tujuan intelektual
yang disesuaikan dengan tahapan perkembangan anak dalam mengeksperikan ide serta
pemikirannya mencakup kegiatan menganalisa, mensintesa, menghipotesa, hubungan sebab akibat,
meramalkan serta menginvestigasi. Dengan demikian melalui pembelajaran ini diharapkan anak
usia dini dapat memahami potensi sumber daya asli yang ada di daerahnya serta kemanfaatannya,
sehingga dapat mendorong kreatifitas mereka di masa yang akan datang.
B. Kegiatan Bermain sambil Belajar dengan media bahan alam Ubi
Bermain dengan menggunakan media bahan alam merupakan suatu fenomena yang
sangat menarik perhatian para pakar seperti pendidik, psikolog, ahli filsafat dan sebagainya (Ulfa,
2014). Selain itu bermain dengan media bahan alam tidak berbahaya bagi anak karena bahannya
dari alam, tidak mengandung bahan kimia apapun. Selain itu untuk mengenalkan anak pada alam
mereka serta melatih anak memahami bahwa bahan atau sumber alam yang dimiliki adalah harta
yang tidak mungkin sama dimiliki oleh daerah lain.
Anak usia pra sekolah sering disebut masa bermain, karena sebagian besar kehidupannya
sepanjang hari diisi dengan kegiatan bermain dan tampaknya permainan tidak dapat dipisahkan
dari kehidupan anak. Karena itu menurut teori ilmu jiwa anak, anak usia pra sekolah disebut masa
bermain. Berdasarkan teori tersebut, maka prinsip pendidikan yang dilaksanakan di PAUD
menganut prinsip belajar sambil bermain. Suasana bermain masih ditonjolkan, anak PAUD
dipersiapkan dan bermain secara berangsur-angsur beralih ke belajar. Kegiatan bermain di PAUD
memiliki nilai pendidikan tersendiri. Dengan bermain anak memperoleh kesempatan untuk
mengembangkan aspek-aspek pribadinya sendiri menurut pola pengembangannya secara wajar.
C. Kegiatan Pembelajaran di PAUD/TK yang Melibatkan Bahan Alam Ubi di Kabupaten
Buton Utara
Adapun kegiatan pembelajaran tersebut antara lain :
1. Kegiatan Kolase (menempel)
Pada kegiatan menempel pola yang dilakukan oleh siswa, oleh guru-guru PAUD/TK di
Kabupaten Buton Utara mulai menggunakan ubi yang telah dipotong berbentuk kotak
dengan ukuran sangat kecil.
2. Kegiatan bermain peran
Pada kegiatan ini terdapat sekelompok anak yang berperan sebagai penjual kasoami,
penjual ubi goreng, penjual kripik, penjual sanggara bandang. Namun semua jenis makanan
dari bahan ubi tersebut telah diolah sebelumnya di rumah.
3. Kegiatan mengelompokan balok berdasarkan bentuk dan ukuran
Pada kegiatan ini guru telah menyiapkan potongan ubi masing-masing berdasarkan bentuk
dan ukuran. Siswa-siswa berdasarkan petunjuk guru mengelompokkan bentuk balok dari
bahan ubi berdasarkan masing-masing bentuk dan ukuran.
III. PENUTUP
Memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN) adalah bukan hanya mempersiapkan
diri sebagai orang dewasa yang mampu bersaing, tetapi mempersiapkan generasi berikutnya untuk
menghadapi MEA adalah sama pentingnya. Pendidikan pada anak usia dini (PAUD/TK) adalah
dasar bagi pembentukan karakter dan kepribadian yang positif, salah satunya adalah dengan

64

memasukkan unsur bahan sumber alam seperti tumbuh-tumbuhan yang menjadi ciri khas daerah
menjadi bagian dalam kegatan pembelajaran di PAUD/TK. Oleh karena itu, melatih, membiasakan
anak sejak dini mengenal, memahami dan mencintai sumber daya alam yang merupakan ciri khas
kedaerahan adalah sebagai wujud mempersiapkan anak-anak sebagai generasi penerus perjuangan
bangsa dan sekaligus mampu bersaing dalam era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).
DAFTAR PUSTAKA
Essa, Eva L. 2003. Introduction to Early Childhood Education. Canada: Thomson Learning, Inc .

----. (2007). Kerangka Dasar Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta : Puskur.

----. (2006). Pedoman Penerapan Pendekatan “Beyond Centers and Circle Time” (BCCT) Dalam
Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta : Direktorat PAUD, Ditjen Pendidikan Luar
Sekolah, Depdiknas
Koeswara, Sutrisno (2000). Teknologi Pengolahan Umbi-Umbian (Modul). Bogor Agricultural
University.Bogor.
Suliswanto, Wahyudi (2013). Kesiapan Indonesia Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN
(MEA) 2015 (Makalah). Universitas Muhammadiyah Malang.

65

OPTIMISME SISWA DALAM PENERAPAN TEKNIK ATTRIBUTIONAL RETRAINING
DAN GUIDED IMAGERY
Oleh:
Nur Fadhilah Umar, S.Pd (fadhila_aulina@yahoo.co.id)
Dr. Andi Mappiare, M.Pd
Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang
Prof. Dr. Fattah Hanurawan, M. Si., M. Ed
Fakultas Psikologi, Universitas Negeri Malang
ABSTRACT
Asian Economic community (AEC) offer new challenges completion opportunity for the Indonesian
new generation, even though this opportunity become a new treatment if Indonesian new
generation there are no skills for competition and good adaptation. The ability for competition
and adaptation is non-cognitive aspect which needs to be developed by student and school
counsellor. The non-cognitive aspect need to be developed by student is learning optimism. The
learning optimism is affective aspect is directly impact to achievement motivation, academic
achievement, initiative, resilience, well-being, ability to solve the problem affectively. The purpose
of research is discovering the learning optimism the based on gender in implementation
attributional retraining and guided imagery technique. This research use quasi experiment design.
Measured design used pretest-posttest non-equivalent group design which is using 2x2 factorial
designs. The instrument of this research divided in two parts: 1) Manual for implementation
attributional retraining and guided imagery technique, 2) Collecting data instrument uses learning
optimism scale by using Likert model. Finding of this research shown there are increasing student
learning optimism after using attributional retraining and guided imagery technique. Result of the
hypothesis test has been done however not finished yet, at this stage test comparison before and
after implementation of attributional retraining and guided imagery technique. Both technique
need to be tested which one more effective than the other, and interaction effect between technique
and gender is analyzing.
Keywords: Student learning optimism, attributional retraining technique, guided imagery
technique, gender
Masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) diakhir tahun 2015 dapat menjadi tantangan bagi generasi
muda Indonesia untuk berkompetisi pada wilayah yang lebih luas dan juga menjadi ancaman jika
generasi muda tidak mampu menghadapi perubahan dan kemampuan berkompetisi secara luas.
Sehingga sangat penting untuk mempersiapkan para generasi muda memiliki kemampuan pada
aspek kognitif dan non-kognitif. Konselor dalam sistem pendidikan nasional dinyatakan sebagai
kualifikasi pendidik sejajar dengan kualifikasi guru, dosen, pamong belajar, tutor, widyaswara,
fasilitator dan instruktur (UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat 6). Konteks tugas konselor berada
pada kawasan pelayanan yang bertujuan mengembangkan potensi dan memandirikan konseli
dalam pengambilan keputusan. Peran tugas konselor mengembangkan potensi peserta didik
melibatkan faktor kognitif dan non kognitif. Falch (2012: 20) melaporkan bahwa faktor kognitif
dan non kognitif berinterkasi terhadap hasil belajar siswa dan memprediksi hasil belajar siswa.
Hasil penelitian Lindqvist & Roine (2011: 122) menunjukkan bahwa faktor kognitif
penting untuk mencapai kesuksesan belajar, sedangkan faktor non-kognitif jauh lebih penting
untuk menghindari kegagalan. Konselor sekolah pada konteks tugas mengembangkan potensi
peserta didik berfokus dalam mengembangkan faktor non-kognitif. Adapun faktor non-kognitif
mengacu pada sikap, perilaku, strategi, nilai, kepercayaan dan soft-skill. Salah satu faktor sikap
yang penting dimiliki siswa adalah optimisme belajar. Optimisme belajar merupakan faktor yang
mempengaruhi motivasi berprestasi, dan pencapaian akademik. Siswa yang memiliki optimisme
rendah cenderung depresi, tidak memiliki hubungan yang baik dengan guru, rendahnya prestasi
belajar, sering melakukan pelanggaran sekolah, dan memiliki harga diri yang lebih rendah
dibandingkan siswa yang memiliki optimisme tinggi (Schumacher, 2006: 13).
Optimisme berhubungan dengan suasana hati positif, moral yang baik, ketekunan dan
pemecahan masalah yang efektif pada bidang akademik (Patterson, 2000: 44). Optimisme dalam
bidang akademik mengacu pada penekanan akademik yang juga memengaruhi efikasi diri dan
kepercayaan terhadap hasil belajar yang diharapkan (Bavel, 2010: 12). Explanatory style optimism
dijelaskan dalam teori ―attributional reformulation of the learned helplessness model” sebagai

66

cara seseorang menjelaskan masalah dan kemunduran dirinya secara positif serta memilih cara
yang positif untuk menyelesaikannya (Abramson dkk, 1978).
Hasil penelitian tentang optimisme yang dikaitkan dengan prestasi akademik Carr (2004:
87) yang diukur dengan Scholastic Aptitude Test, menunjukkan seseorang yang optimis mencapai
keberhasilan yang lebih baik sebesar 88% dibandingkan dengan orang-orang yang memiliki
pandangan yang pesimis. Rand (2009: 231); Wong & Lim (2009: 468); Galagher & Lopez (2009:
548) menunjukkan bahwa harapan dan optimisme memiliki pengaruh secara langsung terhadap
kinerja akademik, lebih rendah terhadap depresi, berkotribusi positif terhadap harapan masa depan,
well being dan kesehatan mental seseorang.
Adapun penelitian di Indonesia tentang optimisme belajar oleh Retno, Mardiyana &
Kusmayadi (2014: 478) pada siswa di SMA/SMU Cilacap menunjukkan bahwa siswa yang
memiliki nilai mata pelajaran matematika yang rendah disebabkan karena pesimis terhadap
kemampuannya, kemudian mendorong siswa untuk tidak mengerjakan tugas dan cenderung
menyontek. Sebaliknya, siswa yang optimis, membayangkan keberhasilannya menunjukkan sikap
pantang menyerah dan memperoleh nilai yang baik. Rendahnya optimisme atau pesimisme
merupakan masalah sebagian besar yang menimpa siswa di lingkungan sekolah, pertemanan, karir,
dan hubungan keluarga (Adilia, 2010: 80).
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan konselor SMAN 8 Malang,
bahwa sebagian siswa terindikasi mengalami optimisme yang rendah, hal tersebut ditunjukkan
dengan perilaku prokraktinasi akademik, tidak percaya diri, kebiasaaan menyontek, tidak antusias
dalam belajar, nilai prestasi akademik yang rendah dan motivasi berpestasi dalam bidang
akademik yang kurang. Adapun hasil wawancara dengan beberapa siswa di kelas Bahasa dan IPS
juga menjelaskan penyebab mereka tidak antusias dalam belajar serta motivasi berprestasi dalam
belajar rendah disebabkan karena merasa kurang dengan kemampuannya, perasaan yang tidak
mampu berakibat pada usaha dalam belajar menjadi menurun.
Menumbuhkan optimisme siswa dapat dikembangkan melalui pengubahan gaya atribusi
yang lebih adaptif (Abramson dkk, 1978). Atribusi merupakan suatu konstruksi psikologis yang
digunakan untuk menjelaskan hubungan kausalitas antara keberhasilan dan kegagalan seseorang
dalam faktor tertentu (Weiner, 1986: 25). Sehingga, untuk mengubah gaya berfikir seseorang dari
pesimis menjadi optimis dilakukan dengan mengubah gaya atribusi seseorang dari tidak adaptif
menjadi adaptif.
Model intervensi dalam mengubah gaya atribusi negatif menjadi positif melalui teknik
atributional retraining dengan dasar teori atribusi dan pendekatan kognitif (Carr, 2004: 88).
Program attributional retraining peserta belajar untuk memonitor dan menganalisa situasi suasana
hati mengubah dan kemudian memodifikasi gaya atribusi siswa yang tidak adaptif menjadi lebih
adaptif (Carr, 2004: 88). Pembelajaran utama atributional retraining terletak dalam pembentukan
kepercayaan (B) dengan kata lain, bagaimana seseorang mendapatkan kejadian buruk (kesulitanA) benar-benar akan menentukan konsekuensi (C) yang akan dihadapi seseorang (Maltby dkk,
2007: 433). Adapun proses pengubahan gaya atribusi yang tidak adaptif menjadi adaptif dilakukan
dengan distraction (gangguan) disputation (perdebatan) dan distancing (menjauhkan). Sehingga,
tujuan dari Atributional Retraining adalah mengubahatirbusi yang tidak adaptif menjadi adaptif.
Beberapa penelitian telah dilakukan untuk menguji keefektifan Attributional Retraining
(AR) untuk meningkatkan optimisme. Haynes dkk (2006) menyimpulkan Attributional Retraining
berpengaruh positif terhadap peningkatan optimisme siswa dari peningkatan atribusi, hasil
intervensi AR pada siswa menunjukkan peningkatan pada hasil belajar, motivasi berprestasi siswa.
Hall dkk (2007: 281) menyimpulkan bahwa intervensi AR ideal diberikan bagi siswa, AR kognitif
berpengaruh terhadap peningkatan prestasi akademik, motivasi, atribusi, emosi, dan optimisme.
Penelitian tentang intervensi AR padasiswa yang pesimis menjadi lebihoptimis dan meningkat
secara signifikandalam penggunaanpenjelasanatribusi kausaldanpersepsikontrol (Haynes dkk,
2006: 755). Banyak hasil penelitian yang mengungkap bahwa attributional retraining (AR)
memberikan kontribusi positif terhadap prestasi siswa, motivasi berprestasi, dimana AR
merupakan metode intervensi yang efektif, murah dan relatif mudah (Tara dkk, 2010: 75)
Di Indonesia penelitian-penelitian pendidikan tentang atributional retraining belum banyak
dimanfaatkan khususnya untuk meningkatkan optimisme siswa. Adapun penelitian AR yang masih
sejalan dengan peningkatan optimisme yaitu penelitian Pratiwi (2011) mengenai intervensi AR
untuk meningkatkan motivasi berprestasi siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi
perubahan gaya atribusi siswa antara sebelum dan sesudah penerapan AR, dan mempunyai
hubungan positif terhadap motivasi berprestasi. Berbagai teknik telah digunakan dalam AR dan

67

memberikan bukti empiris tentang keefektifan AR pada berbagai masalah seperti optimisme
(Abramson dkk, 1978), motivasi berprestasi (Weiner, 1986), dan karir (Luzzo, 1998). Hasil
penelitian Manec & Perrry (1995) menunjukkan perbedaan atribusi kausal pada siswa dipengaruhi
oleh gender, latarbelakang budaya, self-esteem.
Berdasarkan fakta empiris dan wacana teoritis tersebut, penelitian penggunaan attributional
retraining efektif untuk meningkatkan optmisme siswa dari pessimistic explanatory style menuju
optimistic explanatory style. Namunhasil penelitian Hall dkk (2007: 281) menyimpulkan bahwa
terapi kognitif lebih efektif dibandingkan dengan AR emotif dalam meningkatkan nilai, motivasi,
atribusi, optimisme dan emosi pada siswa melalui perubahan struktur berfikir. Gaya atribusi yang
tidak adaptif berupa ketidaberdayaan tidak konsisten disebabkan oleh kejadian yang tidak
terkontrol tetapi dari persepsi negatif individu dan struktur berfikirnya. sebaliknya penelitian
Patterson & Steen (2002) menunjukkan bahwa kejadian yang tidak terkontrol berupa kejadian
buruk mempengaruhi bagaimana cara seseorang merespon, cara merespon bersifat spontan berupa
kepercayaan terhadap usaha yang diakukan, dimana seseorang lebih cenderung mempelajari
ketidakberdayaan dibandingkan dengan optimis, sebelum mengubah struktur berfikirnya.
Teori Learned of helplesness sebagai dasar teori dari optimisme oleh Abramson, dkk (1978)
dikritik dasar teoritisnya oleh Beck (dalam Mikaeili, dkk, 2010) yang menyimpulkan bahwa
ketidakberdayaan bukan otomatis sebagai hasil dari pengalaman tak terkendali, namun bergantung
pada persepsi negatif individu dari subjek mengapa pengalaman tak terkendali itu terjadi. Sehingga
perlu konsep yang lebih jelas untuk menjelaskan bagaimana mengubah ketidakberdayaan
seseorang (pesimis) menjadi optimis. Terapi kognitif mengklaim bahwa persepsi individu dan
struktur kognitif jauh lebih memberikan kontribusi terhadap pegubahan ketidakberdayaan
seseorang dibandingkan dengan mengubah gaya atribusinya (Mikaeili dkk, 2010).
Salah satu teknik dari terapi kognitif yang mengubah persepsi negatif dan struktur kognitif
seseorang yaitu guided imagery. GuidedImagery merupakan teknik dari terapi kognitif dari Aroon
T. Beck. Imagery digunakan pada konseli yang mengalami depresididorong untukmembentukcitra
positifdi masa depan, yang berdampak padamotivasidan perilakunya (Lazarus dalam Hackmann,
Levy & Holmes, 2011: 5).
Intervensiimagery denganmemodifikasikognisi lisan danvisual dari negatif menjadi lebih
positifmenyebabkanpergeserankognitifdan emosionalyang signifikan (Beck, dkk, 2010 : 298).
Teknik imagery dalam kognitif terapi memberikan dampakyang lebih kuatpada pengubahan emosi
negatif menjadi lebihpositif. Sehingga, jika ingin mengubah sikap, emosi dan tingkah laku
seseorang maka perlu mengubah kognisi lisan dan visualnya menjadi lebih positif, termasuk
pengubahan pessimism explanatory style menjadi optimism explanatory style.
Penelitian keefektifan kognitif terapi untuk meningkatkan optimisme menunjukkan adanya
perbedaan antara laki-laki dan perempuan yang dilakukan oleh Amirsoleyman, Hasanzadeh &
Ebrahimi yang dimuat dalam jurnal yang berbeda yaitu kognitif terapi untuk meningkatkan
optimisme mahasiswa perempuan menunjukkan perubahan skor rata-rata sebelum intervensi
sebesar 79,13 meningkat 106,9 (2013a). Sedangkan pada siswa laki-laki menunjukkan perubahan
skor rata-rata sebelum intervensi 71,9 meningkat 105,4 (2013b). Penelitian selanjutnya oleh
Hoffart & Sexton (2002) melaporkan bahwa terjadi penurunan distress, peningkatan optimisme,
empati, dan wawasan pasien penderita panic disorder dan agrophobia setelah diberikan terapi
kognitif selama 12 sesi pertemuan.
Berdasarkan paparan diatas tentang hasil-hasil penelitian penerapan teknik attributional
retraining dan guided imagery diyakini efektif meningkatkan optimisme belajar siswa. Adapun
persamaan kedua teknik ini, keduanya bekerja pada proses kognitif. Adapun perbedaan kedua
teknik yaitu teknik attributional retraining dalam meningkatkan optimisme siswa bekerja pada
pengubahan gaya atribusinya. Sedangkan guided imagery dalam meningkatkan optimisme siswa
bekerja pada proses pengubahan citra negatifnya atau keyakinan disfungsional. Penelitian ini
menguji perbedaan optimisme belajar siswa pada penerapan teknik attributional retraining
dibandingkan teknik guided imagery, dan menguji perbedaan optimisme belajar siswa SMA
berdasarkan jenis kelamin pada penerapan teknik attributional retraining dan guided imagery.

68

METODOLOGI
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen semu (quasi eksperimental).
Penelitian ini menggunakan teknik pengukuran pretes-postest non-equivalent group design dengan
menggunakan rancangan faktorial 2 x 2. Lebih jelasnya rancangan penelitian dapat dilihat pada
tabel 3.1
Jenis Kelamin (A)
Teknik Konseling
Attributional Retraining (B1)
Guided Imagery (B2)
A1B1
A1B2
Perempuan (A1)
A2B1
A2B2
Laki-laki (A2)
(Sumber: Adaptasi dan dikembangkan dari Sugiono, 2010)
Keterangan :
 A1B1 = Optimisme siswa perempuan dengan teknik AR
 A1B2 = Optimisme siswa laki-laki dengan teknik AR
 A2B1 = Optimisme siswa perempuan dengan teknik GI
 A2B2 = Optimisme siswa laki-laki dengan teknik GI
Prosedur pelaksanaan eksperimen menggunakan teknik pengukuran pretest-postest nonequivalent group design (Sugiono: 2010) dapat dilihat sebagai berikut:
Pretest
Kelompok Perlakuan
Posttest
A1B1
O2
O1
A1B2
O4
O3
A2B1
O6
O5
A2B2
O8
O7
(Sumber : Adaptasi dari Sugiono, 2010)
Keterangan :
 O1, O3, O5, O7, adalah tes awal (pretest)
 O2, O4, O6, O8, adalah tes akhir (posttest)
 A1B1 = Optimisme siswa perempuan dengan teknik AR
 A1B2 = Optimisme siswa laki-laki dengan teknik AR
 A2B1 = Optimisme siswa perempuan dengan teknik GI
 A2B2 = Optimisme siswa laki-laki dengan teknik GI
Adapun populasi pada penelitian ini adalah kelas X SMAN 8 Malang dan penentuan
jumlah sampel penelitian eksperimen kurang lebih 15 siswa pada satu kelompok eksperimen
(Cresswell, 2012: 146) dimana sampel yang dipilih adaah siswa yang memiliki optimisme belajar
rendah dan sedang. Adapun distribusi sampel pada penelitian yaitu:
Kelompok Perlakuan
Jenis Kelamin
N
Total
Attributional Retraining
Perempuan
6
12
Laki-laki
6
Guided Imagery
Perempuan
6
12
Laki-Laki
6
Total Sampel
24
Instrumen pada penelitian ini berupa panduan pelaksanaan teknik attributional retraining
dan guided imagery melalui tahap pengembangan panduan menurut Borg & Gall (2003).
Keberterimaan panduan pelaksanaan teknik attributional retraining dan guided imagery
menggunakan intereter agreement pada 2 ahli bimbingan dan konseling. Adapun instrumen
pengumpul data menggunakan skala optimisme belajar.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian menunjukkan setelah dilakukan analisis covariance (ANCOVA) dengan
menggunakan bantuan SPSS 20.00 menunjukkan bahwa peningkatan optimisme belajar siswa
dipengaruhi oleh teknik attributional retraining dan teknik guided imagery dengan mengontrol
nilai pretest atau optimisme awal siswa sebagai kovarian. Hasil analisis dengan menggunakan
SPSS 20.00 menunjukkan nilai signifikansi 0.00 dibawah nilai probabilitas sebesar 0.05 sehingga
dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak. Hal ini berarti bahwa pada tingkat kepercayaan 95% dapat
dikatakan ada hubungan linier antara teknik attributional retraining dan teknik guided imagery
dengan peningkatan optimisme belajar siswa.

69

Adapun perbandingan optimisme belajar siswa sebelum dan sesudah intervensi dengan
menggunakan teknik attributional retraining dan guided imagery sebagai berikut:
Teknik
Jenis
N
Mean Pre-test
Mean Post test
Kelamin
Attributional Retraining
Perempuan
6
115,58
155,44
Laki-laki
6
116,79
153,22
Guided Imagery
Perempuan
6
114,14
165,43
Laki-laki
6
118,44
167,18
Tabel di atas menunjukkan bahwa terdapat perbedaaan optimisme belajar siswa pada
penerapan teknik attributional retraining dan teknik guided imagery dimana nilai mean pre-test
pada teknik attributional retraining (AR) sebesar 115,58 pada siswa perempuan meningkat dengan
nilai post test sebesar 155,44, dan pada siswa laki laki sebesar 116, 79 meningkat dengan nilai
post-test sebesar 153,22 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan peningkatan
optimisme belajar siswa berdasarkan jenis kelamin pada penerapan teknik AR.
Adapun hasil skor mean pre-test pada teknik guided imagery (GI) sebesar 114,44 pada
siswa perempuan meningkat dengan nilai post test sebesar 165,43 dan pada siswa laki laki sebesar
118,44 meningkat dengan nilai post-test sebesar 167,18 sehingga dapat disimpulkan bahwa
terdapat perbedaan peningkatan optimisme belajar siswa berdasarkan jenis kelamin pada
penerapan teknik GI.
Hasil penelitian menunjukkan mean pre-test pada teknik attributional retraining (AR)
sebesar 115,58 pada siswa perempuan meningkat dengan nilai post test sebesar 155,44, dan pada
siswa laki laki sebesar 116, 79 meningkat dengan nilai post-test sebesar 153,22. Hasil ini
mendukung teori Seligman (1990: 149) bawa terjadi perbedaan optimisme siswa berdasarkan jenis
kelamin, anak perempuan pada masa kanak-kanak lebih tertekan dibanding anak-laki-laki dan
memiliki gaya jelas yang pesimis banding laki-laki. Namun, pada masa puberitas anak laki-laki
35% lebih tertekan dan mengalami gejala depresi (ketidakberdayaan) berupakesedihan dan selfesteem yang rendah. Sedangkan pada masa pubertas anak perempuan hanya mengalami 21%
gejala depresi.Perbedaanmenunjukkan bahwa anak perempuan lebih optimis daripadaanak lakilaki, pada setiappengukuran. Anak perempuan lebihoptimis tentang kejadianyang baikdan
kurangpesimis tentangyang buruk. Faktor yang menyebabkan seseorang optimis atau pesimis
disebabkan oleh gaya atribusi seseorang. Seseorang dengan optimism explanatory style memiliki
gaya atribusi yang adaptif, sedangkan pada pessimism explanatory style memiliki gaya atribusi
yang tidak adaptif. Optimisme siswa dapat dikembangkan melalui pengubahan gaya atribusi yang
lebih adaptif Abramson dkk (1978) melalui teknik AR.
Sedangkan hasil penelitian menunjukkan skor mean pre-test pada teknik guided imagery
(GI) sebesar 114,44 pada siswa perempuan meningkat dengan nilai post test sebesar 165,43 dan
pada siswa laki laki sebesar 118,44 meningkat dengan nilai post-test sebesar 167,18 mendukung
teori bahwa intervensi kognitif terapi untuk meningkatkan optimisme dipengaruhi oleh faktor jenis
kelamin dimana terdapat perbedaan antara laki-laki dan perempuan pada peneltiian Amirsoleyman
dkk yang dimuat dalam jurnal yang berbeda yaitu kognitif terapi untuk meningkatkan optimisme
mahasiswa perempuan menunjukkan perubahan skor rata-rata sebelum intervensi sebesar 79,13
meningkat 106,9 (2013a). Sedangkan pada siswa laki-laki menunjukkan perubahan skor rata-rata
sebelum intervensi 71,9 meningkat 105,4 (2013b). Hasil penelitian Seligman (1990: 75) bahwa
intervensi terapi kognitif untuk mengembangkan optimism explanatory style siswa menunjukkan
perempuan dua kali lebih mungkin menderita depresi dibanding laki-laki. Perempuan cenderung
berfikir tentang masalah dalam cara-cara yang memperkuat depresi sedangkan laki-laki cenderung
bertindak dan mencoba menganalisis dan menentukan sumber masalah.
PENUTUP
Berdasarkan deskripsi dan hasil analisa data serta pembahasan hasil penelitian maka dapat
dikemukakan kesimpulan dan saran sebagai berikut:
1. Optimisme belajar merupakan faktor afeksi yang penting untuk dimiliki siswa dan dapat
dikembangkan melalui teknik attributional retraining melalu pengubhan gaya atribusi siswa.
2. Optimisme belajar dapat pula dikembangkan melalui melaui teknik guided imagery dari terapi
kognitif dengan mengubah fikiran disfungsional siswa.
3. Terjadi perbedaan optimisme belajar siswa berdasarkan jenis kelamin.

70

4.

Penelitian ini masih pada tahap proses analisis data, sehingga data yang dituliskan masih
sangat terbatas. Pengujian hipotesis tetang teknik yang lebih efektif meningkatkan optimisme
belajar siswa masih dalam proses analisis data. Selanjutnya pengujian tentang efek interaksi
dari faktor berupa teknik AR dan GI dengan faktor jenis kelamin juga sedang dalam proses
analisis data, sehingga akan disempurnakan setelah analisis data ini secara keseluruhan
dirampungkan.

Berdasarkan kesimpulan yang dikemukakan diatas maka penulis memberikan saran sebagai
berikut:
1. Panduan pelaksanan teknik attributional retraining dan teknik guided imagery dapat
digunakan oleh konselor dalam melaksanakan konseling kelompok khususnya untuk
meningkatkan optimisme belajar siswa.
2. Penelitan ini belum mengontrol tentang gaya atribusi, tingkat depresi dan gaya berfikir
disfungsional siswa. Sehingga dirasankan bagi peneliti selanjutnya dapat mengembangkan
penelitian ini dengan menambah variabel kontrol dan variabel moderator.
3. Penelitian ini belum mengukur intervensi teknik AR dan GI melalui intensitas, waktu, dan
frekuensi pemberian treatmen. Sehingga belum mampu menjelaskan sumbangsi efektif yang
diberikan terhadap peningkatan optimisme belajar siswa. Sehingga dirasankan bagi peneliti
selanjutnya dapat mengembangkan penelitian ini dengan mengukur intervensi kedua teknik
tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Abramson, L.Y., Seligman, M.E.P & Teasdale, J.D. 1978. Learned Helplessness in Humans:
Critique and Reformulation : Journal of Journal of Abnormal Psychology Vol. 87,
No. 1 (hlm 49-74). New York : the American Psychological Association, Inc.
Adilia, Dewi M. 2010. Hubungan Self-Esteem dengan Optimisme Meraih Kesuksesan Karir pada
Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Jakarta : UIN
Syarif Hidayatullah (Skripsi Tidak diterbitkan)
Amirsoleyman, Z., Hasanzadeh, R., & Ebrahimi, S. 2013a. Optimism in female students:
effectiveness of cognitive behavioural therapy. Journal of Novel Applied Sciences 212 (hlm 655-660). www.jnasci.org
Amirsoleyman, Z., Hasanzadeh, R., & Ebrahimi, S. 2013b. The effectiveness of cognitive
behavioural therapy on optimism in male students. International Research Journal
of Applied and Basic Sciences Vol, 6 (5) (hlm 624-627). Science Explorer
Publications
Bavel, R.K. 2010. The Effect Of Academic Optimism On Student Academic Achievement In
Alabamma. Disertasi Tidak Diterbitkan. Tuscaloosa : Universitiy Of Alabamma
Carr, A. 2004. Positive Psychology : The science of happiness and human strengths. New York :
Brunner-Routledge
Falch, T, dkk.2012. Performance of young adults: The importance of cognitive and non-cognitive
skills. Departement of economics, Norwegian University of Science and Technology
Gallagher, M.W. & Lopez, S.J. 2009. Positive expectancies and mental health: Identifying the
unique contributions of hope and optimism : The Journal of Positive Psychology
Vol. 4 (hlm 548–556). London : Rotledge Taylor & Prancis Group
Hall, N.C., Perry, R.P., Goetz, T., Ruthig, J.C., Stupnisky, R.H & Newall, N.E. 2007. Attributional
retraining and elaborative learning Improving academic development through
writing-based interventions : Journal of Learning and Individual Differences 17
(hlm 280–290). www.elsevier.com/locate/paid
Hall, E., Hall, C., Stradling, P & Young., D. 2006. Guided Imagery :Creative Interventions in
Counseling. London : SAGE Publication
Haynes,T.L., Ruthig, J.C., Perry, R.P., Stupnisky, R.H., & Hall, N.C. 2006. Reducing The
Academic Risks Of Over-Optimism: The Longitudinal Effects of Attributional
Retraining on Cognition and Achievement. Research in Higher Education, Vol. 47,
No. 7 (hlm 755-779). Springer Science-Business Media, Inc
Hoffart, A & Sexton, H. 2002. The role of optimism in the process of schema-focused cognitive
therapy of personality problems. Behaviour Research and Therapy 40 (hlm 611–
623). www.elsevier.com/locate/brat

71

Luzzo, DA., James T.j., & Luna, M 1996. effect of attributional retraining on the career belief and
career exploration behavior of college student. Journal of counseling psychology,
Vol 43, 425-422
Luzzo, D.A. 1998. Lessons from Assisting College Students To Correct Faulty Career
Attributions. San-diego : American Educational Research Association
Maltby, J., Day, L & Macaskill, A. 2007. Personalitiy, Individual Differences and Intelegence.
Endiburgh : Pearson Educational Ltd.
Mikaeili, N., Zare, H., & Alhashem, A. 2010. Study of the efficacy of cognitive restructuring
teaching at student's attribution style and academic performance.Iranian
Rehabilitation Journal, Vol. 8, No. 12.
Peterson, C., & Park, C. 1998. Learned helplessness and explanatory style. In D. F. Barone, M.
Hersen, & V. B. Van Hasselt (Eds.), Advanced personality (hlm. 287–310). New
York: Plenum
Patterson, C. 2000. The Future of Optimism. Dalam Seligman, M. E. P & Csikszentmihalyi, M
(Ed), Poositif Psychology : Journal Of American Psychologist Vol 55 (hlm. 44).
New York : VAGA
Patterson, C & Steen, T.A. 2002. Optimism Explanatory Style. Dalam Snyder, C.R & Lopez, S.J
(Ed). Handbook of Positive Psychology. New York : Oxford University Press
Pratiwi, I.T. 2011. Keefektifan Penggunaan Attributional retraining untuk meningkatkan motivasi
berprestasi siswa. Malang ; PPS UM (tesis tidak diterbitkan)
Rand, K.L. 2009. Hope and Optimism: Latent Structures and Influences on Grade Expectancy and
Academic Performance : Journal of Personality 77:1. New York : Wiley Periodicals,
Inc
Retno, E.W., Mardiyana & Kusmayadi, T.A. 2014.Pengembangan Model Pembelajaran Group
Investigation Berbantu Video Camtasi Pada Materi Peluang Untuk Siswa SMA/SMU
dikabupaten cilapan Tahun 2013/2014 : Jurnal Elektronik Pembelajaran Matematika
Vol.2, No.5, hal 478- 490. Solo : Universitas Negeri Surakarta
Schumacher, B. 2006. Assessing The Relationship Between Optimism and Academic Success
(Integrated Studies Project). Alberta : Athabascha Universitiy
Seligman, M. E. P. 1975. Helplessness: On depression,development, and death. San Francisco:
Freeman.
Seligman, M.E.P.1991. Learned Optimism : How To Change Your Mind And Your Life. New York
: Vintage Books
Seligman, M. E. P. 1998. Positive social science. APA Monitor, 29 (4), 2, 5.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: CV Alfabeta
Tucker, R.P., Wingate, L.R.,O‘Keefe, Victoria M., Mills, A.C., Rasmussen, K., Davidson, C.L., &
Grant, D.M.2013. Rumination and suicidal ideation: The moderating roles of hope
and optimism : Journal of Personality and Individual Differences 55 (hlm 609).
www.elsevier.com/locate/paid
Vanden, B.A., & Peterson, C. (1991). Parental explanatory style and its relationship to the
classroom performance of disabled and nondisabled children. Cognitive Therapy
and Research,15, 331–341.
Weiner, B. 1986. An attribution theory of motivation and emotion. New york : springer- Verlag
Weiner, B. 1979. A theory of motivation for some class room experience. journal of educational
psychology 71, 3-25
Weiner, B. (Ed.). 1974. Achievement motivation and attribution theory. Morristown. New York .:
General LearningPress
Wong, S.S & Lim, T. 2009. Hope versus optimism in Singaporean adolescents: Contributions to
depression and life satisfaction Journal Personality and Individual Differences (hlm
648–652).
Yates, S.M. 2002. The Influence of Optimism and Pessimism on Student Achievement in
Mathematics : Mathematics Education Research Vol. 14, No. 1, 4 15. Flinders
University

72

KEGIATAN KELOMPOK BELAJAR DAN HUBUNGANNYA DENGAN MOTIVASI
BERPRESTASI DALAM MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN
Fitriyani Kamali, S.Pd, M.Pd.,Kons
fitrifitrah65@yahoo.com
Guru SMA Negeri 1 Telaga Gorontalo
DLB Universitas Muhammadiyah Gorontalo
ABSTRACT
Student is the main and important factor in learning process. They study individually, in
group, and in whole class. This cannot be separated from the role of counselor as a
teacher.This paper is aimed at describing the concept of group-learning and its
relationship with student achievement motivation in encountering ASEAN Economic
Society.Well-managed group-learning activity can build a good and positive character of
students, especially in motivating him/herself. Having good and positive achievement
motivation is an appropriate manner in encountering ASEAN economic society.
Key words: group-learning activity, achievement motivation, ASEAN Economic Society.
PENGANTAR
Tujuan Pendidikan Nasional berdasarkan Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional, menyatakan ―Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
negara‖. Pendidikan merupakan aset sosial yang paling strategis dan realistis dalam rangka usaha
untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia.
Pendidikan juga merupakan sebuah proses yang mulia. Hal ini sejalan dengan pendapat
Prayitno dan Erman Amti, (2004:9) yang mengatakan manusia adalah:
Ciptaan Tuhan yang paling indah dan paling tinggi derajatnya. Manusia
diciptakan untuk menjadi khalifah atau pemimpin di muka bumi, atau bahkan
kiranya di seluruh semesta ciptaan Tuhan. Apakah artinya predikat ‖paling
indah‖ dan ‖paling tinggi‖ itu? Hakekat keindahan artinya rasa senang dan
bahagia. Dengan demikian, predikat paling indah untuk manusia dapat diartikan
bahwa tiada sesuatupun ciptaan Tuhan yang menyamai keberadaan manusia
yang mampu mendatangkan kesenangan dan kebahagiaan di manapun dan pada
saat apapun, baik bagi dirinya sendiri, maupun bagi mahkluk lain.
Manusia yang utuh, baik menurut pandangan agama, psikologi, maupun sosial budaya,
pada dasarnya adalah mereka yang telah berhasil mewujudkan dimensi kemanusiaan secara
selaras, serasi, dan seimbang, sehingga ketinggian dan keindahan diri mereka benar-benar
dirasakan adanya dan manfaatnya oleh diri sendiri, orang lain, dan lingkungannya. Dalam proses
pencapaian ketinggian derajat dan keindahan diri seorang tidaklah didapatkan begitu saja. Kondisi
itu banyak dipengaruhi oleh lingkungan baik itu lingkungan pendidikan, sosial dan lingkungan
keluarga. Di lingkungan pendidikan ada unsur yang sangat berpengaruh bagi perkembangan
peserta didik, salah satunya yaitu peran konselor.
Menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN ( MEA) jelas merupakan tantangan bagi
bangsa Indonesia, terutama bagi kaum pendidik sebagai pencetak generasi muda yang berprestasi,
produktif dan bermartabat. Masyarakat Ekonomi ASEAN jelas akan membuka peluang, tantangan,
dan resiko bagi bangsa kita. Arya Baskoro menyatakan bahwa terdapat empat hal yang akan
menjadi fokus MEA pada tahun 2015 yang dapat dijadikan suatu momentum yang baik untuk
Indonesia. Pertama, negara-negara di kawasan Asia Tenggara ini akan dijadikan sebuah wilayah
kesatuan pasar dan basis produksi. Kedua, MEA akan dibentuk sebagai kawasan ekonomi dengan
tingkat kompetisi yang tinggi, yang memerlukan suatu kebijakan yang meliputi competition
policy, consumer protection, intellectual property rights, taxation, ecommere. Dengan demikian
dapat tercipta iklim persaingan yang adil, terdapat perlindungan berupa sistem jaringan dari agenagen perlindungan konsumen, mencegah terjadinya pelanggaran hak cipta, menciptakan jaringan
transportasi yang efisien, aman, dan terintegrasi, menghilangkan sistem doble taxation, dan
meningkatkan perdagangan dengan media elektronik berbasis online. Ketiga, MEA pun akan
dijadikan sebagai kawasan yang memiliki perkembangan ekonomi yang merata, dengan
memprioritaskan pada usaha kecil menengah. Kemampuan daya saing dan dinamisme akan

73

ditingkatkan dengan memfasilitasi akses mereka terhadap informasi terkini, kondisi pasar,
pengembangan sumber daya manusia dalam hal peningkatan kemampuan, keuangan, serta
teknologi. Keempat, MEA akan diintegrasikan secara penuh terhadap perekonomian
global.(http://crmsindonsia.org)
Hal ini jelas butuh komitmen dan kerjasama semua unsur dalam membentuk karakter dan
jiwa anak bangsa melalui ilmu yang bermartabat dan memiliki nilai manfaat yang kuat.
Keberadaan konselor dalam upaya peningkatan sumber daya manusia melalui lembaga pendidikan
sangatlah memegang peranan penting, karena pelayanan yang diutamakan adalah mengembangkan
dan memandirikan klien sesuai dengan keadaan diri klien itu sendiri. Konseling menjadikan KEST menjadi KES. Apabila konselor menggunakan fungsi-fungsinya dengan baik maka peserta didik
juga akan berkembang sesuai dengan kemampuannya dan akan mempunyai rasa percaya diri
positif yang akan mendukung peserta didik memiliki motivasi berprestasi.
Kenyataan yang terjadi bahwa untuk memperoleh prestasi yang baik belum cukup dengan
peningkatan kualitas keprofesionalan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana pendidikan, dan
biaya pendidikan. Keberhasilan belajar harus ditunjang dengan semangat belajar dan motivasi
berprestasi karena peserta didik merupakan salah satu unsur pokok yang terlibat langsung dalam
suatu proses pembelajaran.
Undang-undang no.20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional bahwa tenaga
kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara,
tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya bertugas dan
berperan penting mengarahkan siswa pada suasana belajar yang diamanatkan undang-undang
tersebut.
Profesi bimbingan dan konseling sangat berperan dalam memberikan pelayanan kepada
peserta didik oleh Konselor maupun pelayanan terhadap masyarakat dalam lembaga pemerintahan
dengan tujuan memandirikan klien dengan wujud mengembangkan kehidupan efektif sehari-hari
(KES) dan mengentaskan (KES-T) atau kehidupan efektif sehari-hari yang terganggu atau
terhambat.
Ditinjau dari sudut pengembangan potensi diri, siswa yang berhasil mengikuti program
pendidikan adalah siswa yang di dalam dirinya telah terjadi pengembangan aspek kognitif, afektif
dan psikomotorik secara baik. Misalnya siswa memiliki perhatian belajar penuh, ingatan yang
setia, motivasi belajar yang tinggi, minat yang tinggi serta sikap positif dalam kehidupannya
berupa faktor penyesuaian hubungan sosial dalam kehidupannya sehari-hari.
Selain permasalahan dalam proses belajar, permasalahan lain yang biasa ditemukan
adalah rendahnya keterlibatan pesrta didik dalam proses pembelajaran baik secara klasikal maupun
kelompok. Dalam pelaksanaan kegiatan kelompok belajar ini, peserta didik berusaha
mengembangkan kegiatan belajar dan memecahkan berbagai permasalahan belajar yang mereka
alami baik di sekolah maupun di luar sekolah dengan bantuan konselor, guru mata pelajaran, dan
bantuan teman sebaya atau tutor sebaya.
Berdasarkan penjelasan diatas maka pembahasana makalah ini adalah: ‖Bagaimana
Kegiatan Kelompok Belajar dan Hubungannya dengan Motivasi Berprestasi dalam Menghadapi
Masyarakat Ekonomi ASEAN?‖.

PEMBAHASAN
1. Strategi Kegiatan Kelompok Belajar (KKB)
Strategi adalah serangkaian kegiatan yang direncanakan serta di desain untuk mencapai
tujuan pendidikan tertentu. Strategi dalam pembelajaran
a. Pengertian Kegiatan Kelompok Belajar (KKB)
Bimbingan Kegiatan Kelompok Belajar (KKB) adalah pelayanan
bimbingan belajar melalui kegiatan kelompok yang diarahkan kepada satu atau
sejumlah kelompok peserta didik yang menyelenggarakan kegiatan belajar
bersama di luar jam pelajaran. Bimbingan Kegiatan Kelompok Belajar ini
dipimpin oleh konselor dan bekerjasama dengan Wali Kelas, Guru Mata Pelajaran,
Guru Praktik dan/atau pihak-pihak lain yang terkait.
Kelompok belajar adalah sejumlah (sekelompok) peserta didik yang
melakukan aktifitas bersama dan saling membantu belajar. Kelompok peserta didik
tersebut menyelenggarakan kegiatan di luar jadwal belajar resmi, misalnya pada
sore hari di sekolah atau di luar sekolah sesuai dengan kesepakatan para

74

anggotanya. Dalam menjalankan kegiatannya, kelompok belajar berusaha
mengembangkan kegiatan belajar dan memecahkan berbagai permasalahan belajar
yang mereka alami baik di sekolah, maupun di luar sekolah.
b. Tujuan Kegiatan Kelompok Belajar
- Tujuan Umum : secara umum tujuan Kegiatan Kelompok Belajar (KKB) adalah
membantu para peserta didik mengembangkan berbagai potensi belajarnya secara
optimal. Hasil pengembangan potensi tersebut akan terwujud dalam bentuk
kesuksesan akademik, yang akan menunjang tercapainya kesuksesan yang lebih
luas, yaitu kesuksesan hubungan sosial-kemasyarakatan, dan kesuksesan dalam
perencanaan pendidikan lanjutan dan/atau karir.
- Tujuan khusus : secara khusus tujuan Kegiatan Kelompok Belajar (KKB) diarahkan
kepada hal-hal berikut:
1. Isi dan keberhasilan belajar
Melalui kegiatan kelompok belajar, peserta didik dapat :
a. mendalami materi pelajaran
b. menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan
c. menanggulangi kesulitan belajar yang dirasakan oleh para anggota
d. mempersiapkan diri untuk ujian
e. memperoleh nilai tinggi untuk mata perlajaran yang diikuti
2. Kegiatan Belajar
Melaui kegiatan kelompok belajar, peserta didik dapat:
a. mengembangkan keterampilan belajar, baik di sekolah, di dalam kelas,
maupun di luar sekolah
b. mengoptimalisasikan penggunaan sarana belajar yang ada di sekolah dan
yang dimiliki oleh siswa-siswa anggota kelompok
c. mengembangkan motivasi dan disiplin belajar
d. meningkatkan hubungan sosial untuk saling menunjang dalam belajar
e. merencanakan kegiatan bersama secara efektif dan efisien
3. Materi yang lebih luas
Melalui kegiatan kelompok belajar, peserta didik dapat mengembangkan dan
menguasai:
a. berbagai informasi dan sumber-sumber yang lebih luas terhadap belajar
b. informasi tentang pendidikan atau sekolah yang lebih tinggi
c. informasi karir
d. informasi sosial-budaya yang bermanfaat bagi pengembangan diri dan
kesuksesan belajar
e. lingkungan dan hubungan sosial yang lebih luas yang menunjang
pengembangan diri dan kesuksesan belajar.
c. Pembentukan Kelompok Belajar
Beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam pembentukan kelompok ini
adalah :
1. Jumlah anggota setiap kelompok berkisar 5-8 orang
2. Keanggotaan kelompok bersifat heterogen; yaitu dimungkinkan berhimpunnya
ke dalam suatu kelompok peserta didik yang memiliki keragaman dalam
kemampuan, jenis kelamin, dan status sosial-ekonomi.
3. Memperhatikan hasil data dan informasi lainnya dalam hal ini para (calon)
anggota diarahkan untuk saling menyenangi dan menyokong satu sama lain.
4. Jika kelompok telah terbentuk para anggota dapat berkumpul setiap saat dengan
mudah; dalam hal ini mobilitas dan aktifitas para (calon) anggota dalam suatu
kelompok amat perlu diperhatikan.
5. Perlu dipertimbangkan kelompok yang dibentuk itu bukanlah kelompok tetap
sepanjang tahun; jika dimungkinkan pengelompokkan baru dapat
diselenggarakan setiap semester.
e. Kegiatan Kelompok Belajar
Terdiri dari :
1. Pengawalan Kegiatan Kelompok

75

2.

Kegiatan Pokok Kegiatan Kelompok Belajar (KKB): jadwal, frekuensi, lamanya,
isi, fasilitator, nara sumber, jenis kegiatan, kegiatan kelompok gabungan, tempat,
penilaian kemajuan dan pelaporan.

f.Monitoring dan Evaluasi KKB
1.Umum
Kelompok belajar perlu dimonitor dan dievaluasi kegiatan, kemajuan, dan
keberhasilannya. Di samping itu monitoring dan evaluasi juga dapat bermanfaat
untuk menemukan dan mengatasi berbagai hambatan yang dialami kelompok dan
mendorongnya untuk mewujudkan program kerjanya masing-masing.
2. Penyelenggaraan
Kegiatan monitoring dan evaluasi diselenggarakan oleh Konselor dengan jalan:
a. Mengundang para ketua kelompok secara berkala untuk membahas kegaiatan
dan kemajuan kegiatan kelompok mereka masing-masing.
b. Mendatangi setiap kelompok belajar, mengamati dan berpartisipasi serta
memberikan berbagai masukan untuk kelancaran dan kemajuan kegiatan
kelompok.
c. Menerima laporan dan bahan-bahan tertulis (melalui berbagai format/daftar
isian) dari masing-masing kelompok tentang kegiatan, kemajuan, rencana, dan
hambatan yang dialami oleh kelompok.
d. Menerima laporan dan masukan dari guru-guru lain, orang tua dan peserta didik
yang memberikan bantuan dalam kegiatan Bimbingan Teman Sebaya tentang
kegiatan kelompok belajar.
e. Memperhatikan hasil belajar peserta didik anggota kelompok belajar.
3. Waktu
Monitoring dan evaluasi kegiatan dilaksanakan secara berkala untuk setiap
kelompok belajar. Dalam setiap semester setiap kelompok menerima paling sedikit
enam kali kegiatan monitoring dan evaluasi, yaitu pada awal, pertengahan, dan
menjelang akhir semester.
g. Tenaga Pelaksana Kegiatan Kelompok Belajar
Tenaga penggerak kegiatan kelompok belajar adalah Konselor, bekerja sama
dengan guru-guru lain, tutor sebaya, orang tua, dan pihak-pihak lain yang terkait.
h. Keterlaksanaan KKB
1. Kegiatan Kelompok Belajar dapat diselenggarakan di PT, SLTP, SMU, dan
SMK dengan penanggung jawab utama Konselor.
2. Di SD, KKB dapat diselenggarakan untuk siswa-siswa kelas IV, V, dan VI
dengan penanggung jawab utama Guru Kelas masing-masing.
3. Baik di SLTP, SMU, SMK maupun di SD, kegiatan kelompok belajar
termasuk ke dalam program BK secara keseluruhan di sekolah yang
bersangkutan baik program mingguan, bulanan, semester, maupun tahunan.
4. Kegiatan Konselor dalam membentuk, mengendalikan/mengelola, memonitor
dan menilai kelompok belajar siswa pada umumnya termasuk layanan
konseling.
5. Kelompok-kelompok siswa dapat dijadikan ―medan‖ bagi diselenggarakannya
layanan bimbingan kelompok dan konseling kelompok. Layanan bimbingan
kelompok dan konseling kelompok itu diselenggarakan terhadap kelompok
yang dimaksudkan dengan Konselor, sebagai pemimpin kelompok. Dengan
demikian Konselor langsung membimbing kelompok tersebut dalam
membahas topik-topik tertentu dalam bimbingan kelompok, atau membahas
masalah-masalah pribadi yang dialami oleh masing-masing anggota kelompok
dalam konseling kelompok.
6. Dalam
penyelenggaraan
kegiatan
kelompok
belajar,
Konselor
mengoptimalkan peranan guru-guru, pimpinan dan personil sekolah lainnya,
serta orang tua peserta didik demi kelancaran, kemajuan dan keberhasilan
kelompok.
Jelaslah kegiatan belajar kelompok mampu menjadikan peserta didik untuk saling
mematangkan kepribadiannya, memperluas gaya berfikirnya. Belajar dalam kelompok
akan membuat peserta didik mandiri dalam mengambil keputusan tentang sesuatu hal

76

yang dia hadapi. Hal ini merupakan salah satu cara yang tepat untuk membangkitkan
semangat, dan motivasi berprestasi bagi peserta didik.
Strategi KKB dapat dilakukan melalui aktivitas bersama dan saling membantu
yang berorientasi tujuan hasil serta direncanakan secara khusus melalui monitoring
tenaga pelaksana secara optimal.
MOTIVASI BERPRESTASI
Motivasi berprestasi merupakan sebuah proses internal, dorongan, penggerak
seseorang yang berpengaruh besar dan berpotensi untuk melakukan suatu perbuatan dan
mempertahankan perilakunya dari waktu ke waktu yang dapat dipicu oleh rangsangan
dari
dalam
ataupun
dari
luar
untuk
mencapai
tujuan
tertentu.
(https://ekspediaweb.wordpress.com/2013)
Menurut Mc Clelland, seseorang dianggap memiliki motivasi untuk berprestasi
jika ia mempunya keinginan untuk melakukan suatu karya berprestasi lebih baik dari
prestasi karya orang lain. Ada tiga jenis kebutuhan manusia menurut Mc Clelland, yaitu
kebutuhan untuk berprestasi, kebutuhan untuk kekuasaan, dan kebutuhan untuk
berafiliasi.
MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN
Bangsa Indonesia seharusnya siap menghadapi ketatnya persaingan di tahun 2015.
Indonesia dan negara-negara di wilayah Asia Tenggara akan membentuk sebuah kawasan
yang terintegrasi yang dikenal sebagai Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). MEA
merupakan bentuk realisasi dari tujuan akhir integrasi ekonomi di kawasan Asia
Tenggara.(http://crmsindonesia.org/node).
Menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) jelas membutuhkan kesiapan
bagi bangsa kita, baik kesiapan ilmu, cara pandang atau konsep berfikir positif, mental
yang kuat, keterampilan yang baik, penguasaan teknologi atau high tech, yang
kesemuanya itu mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotorik agar bangsa kita bisa
mampu bersaing dengan negara lainnya. Negara Indonesia memiliki masyarakat majemuk
dari semua dimensi kehidupan hal ini jelas merupakan aset terbesar bahkan peluang yang
baik jika itu diisi oleh sumber daya manusia yang memiliki daya saing yang tinggi dan
memiliki konsep pendidikan yang bermartabat.
Peserta didik hendaknya memiliki kemampuan yang baik tentang bagaimana dia
berfikir logis, merasa, bersikap, bertindak dan bertanggung jawab dengan kehidupannya.
Tuntutan kehidupan berkarakter cerdas di dalam kesempurnaan dan kepaling tinggian
derajat sebagai makhluk Tuhan, manusia diberi oleh Sang Maha Pencipta ciri dasar
keberadaan dan kehidupan di dunia, yaitu sebagai makhluk sosial dan sebagai penguasa
alama tau khalifah di muka bumi. (Prayitno, dalam Konseling Integritas).
Tuntutan berkarakter dan tuntutan berkecerdasan, serta memiliki motivasi
berprestasi bagi generasi penerus bangsa ini jelas membutuhkan peran Konselor sebagai
pendidik.
Kegiatan kelompok belajar yang dibentuk dengan manajemen yang baik oleh
konselor akan mampu memberikan wadah yang positif bagi peserta didik untuk saling
belajar, bertanya, berdiskusi, melatih diri, memperkaya pengalaman, bahkan akan mampu
memberikan stimulus atau rangsangan dalam dirinya untuk berprestasi. Dengan memiliki
motivasi berprestasi yang baik bagi peserta didik jelas merupakan modal dasar untuk
kemampuannya berada dalam dunia persaingan menghadapi masyarakat ekonomi
ASEAN. Motivasi untuk selalu berprestasi akan membawa dirinya untuk mampu
memiliki ketrampilan teknologi yang baik, pendidikan dan ilmu yang bermanfaat, jiwa
dengan mental yang kuat, sikap dan perilaku yang bermoral serta berkehidupan yang
bermartabat.

77

PENUTUP
Kesimpulan
Kegiatan kelompok belajar yang dibentuk dan dikelola oleh konselor dengan mengikuti
aturan kelompok akan mampu menjadikan peserta didik untuk memenuhi tuntutan berkarakter dan
tuntutan cerdas bagi peserta didik. Peserta didikpun akan memiliki semangat berprestasi yang baik
karena belajar bersama teman dalam kelompok akan membuka wahana untuk saling berdiskusi,
bertanya, berbagi, dan bersosialisasi.
Memiliki semangat berprestasi yang baik akan menumbuhkan semangat kerja, karakter
yang kuat serta perilaku bermoral dan bertmartabat. Hal ini jelas merupakan modal untuk
menghadapi persaingan masyarakat ekonomi ASEAN.
Saran
Mengaktifkan kembali kegiatan kelompok belajar bagi peserta didik
Konselor lebih pro aktif dalam mengelola kegiatan kelompok belajar
Melakukan kajian menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN melalui kegiatan kelompok
belajar
DAFTAR RUJUKAN
Pengurus Besar IPBI. 1998. ”Pedoman Umum Bimbingan Kegiatan Kelompok Belajar(KKB)”.
Padang
Prayitno dan Erman Amti. 2004. Dasar-dasar Bimbingan Konseling. Cetakan kedua. Jakarta:
Rineke cipta.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1995. Pelayanan Bimbingan dan Konseling di
Sekolah Menengah Umum. Jakarta.
Prayitno.2015. ”Konseling Integritas (Pola Konseling Indonesia)”
Prayitno dkk. 2015 ”Pembelajaran Melalui Pelayanan BK di Satuan Pendidikan. Pengembangan
Manusia Seutuhnya”
Purwanto,N. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung. PT Remaja Rosdakarya.
Nurkancana, W dan Sumartana,P.P.N. 1983. Evaluasi Pendidikan. Surabaya. Usaha Nasional.
Prayitno, dan Anti. M. 1999. Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta. Proyek
Pembinaan dan Peningkatan Mutu Tenaga Kependidikan.
Slavin, Robert.E. 1998. Cooperative Learning. Second Edition. Allyn and Bacon.
Sears, David O. dkk. 1999. Psikologi Sosial. Jakarta. Erlangga.
.(http://crmsindonesia.org/node).
(https://ekspediaweb.wordpress.com/2013)

78

Pengaruh Faktor Dominan (Luaran) Terhadap Penagihan Semula Dadah
(Relaps) :
Juliah Binti Subandia, Wan Sanoni Binti Hj.Wan Ibrahimb, Mohamad Firdaus Bin Ab. Rahmanc ,
Nurul Hudani Binti Md. Nawi, PhDd
a,b,c

Sarjana Psikologi Kaunseling (Penyalahgunaan Dadah), Universiti Malaysia Sabah, Kota
Kinabalu
d
Pensyarah, Fakulti Psikologi dan Pendidikan, Universiti Malaysia Sabah, Jalan UMS, 88400,
Kota Kinabalu, Sabah
Fakulti Psikologi dan Pendidikan, University Malaysia, Sabah
Email:
nurul@ums.edu.my

Abstract
This study aimed to investigate the influence of the dominant factors ( external factors) against
drug addiction relapse among women addicts around Kota Kinabalu, Sabah. This studyinvolved a
total of 63 respondents and used a questionnaire developed by Mr Isa bin Mohamed (2011) to
measure the dominant factor and also drug addiction relapse. The result showed that the dominant
factor for the spiritual sub scale explained 46.2% of variance, ( Beta = .680, t = 7.234, k < 0.05
>, while the dimension of peer influence also explains 31.3% of the variance, ( Beta = .560, t =
5.277, k < 0.05 >. Finally predictor variables for family dimension, contributing 8.5% of the
variance, ( Beta = .292, t = 2.386, k < 0.05 >. This finding shows the three dimensions are the
significant predictor of drug addiction relapse. It also shows that the provision of religious –
oriented appreciation module must be reinforced and strengthened by holistic at all levels by
holding and their religious beliefs.
Keywords : Dominant factors ( external factors) , relaps
Pengenalan
Relaps adalah penggunaan semula dadah selepas seseorang penagih dadah berhenti mengambilnya
untuk sesuatu jangka masa tertentu. Ia merupakan fenomena yang normal dan universal dialami
oleh kebanyakan penagih yang telah menjalani proses rawatan dan pemulihan.Oleh kerana
penagihan dadah merupakan penyakit kronik yang mudah berulang, pencegahan relaps merupakan
satu elemen penting dalam menyediakan program rawatan dan pemulihan yang efektif. Proses
pengkajian untuk mengenalpasti faktor-faktor dominan dalam masalah relaps juga sangat penting
untuk diberi perhatian penuh oleh semua pihak.
Di Malaysia, masalah penagihan relaps merupakan suatu cabaran besar kepada negara.
Mengikut perangkaan yang dikeluarkan oleh AADK (2009), jumlah penagih dadah yang dikesan
sepanjang tempoh bulan Januari hingga Disember 2008 adalah seramai 12,352 orang penagih
dadah. Statistik ini menunjukkan terdapat penurunan sebanyak 14.75% berbanding tempoh masa
yang sama tahun 2007 (14,489 orang). Di kalangan penagih yang dikesan, 5,939 orang (48.08%)
terdiri daripada penagih baru. Jumlah ini menurun sebanyak 11.08% berbanding 6,679 orang bagi
tempoh yang sama tahun 2007. Manakala penagih relaps yang dikesan adalah seramai 6,413 orang
(51.92%), juga telah menurun sebanyak 17.89% berbanding tahun 2007 (7,810 orang).
Walaupun trend penagihan ini dilihat berkurangan, namun hakikatnya kadar penagih
relaps yang direkodkan melebihi daripada kadar penagih baru yang didaftarkan. Mengapakah
keadaan ini berlaku? Apakah faktor utama yang menyumbang kepada kecenderungan penagihan
relaps di kalangan penagih? Secara teorinya, apabila lebih ramai penagih diberikan khidmat
rawatan dan pemulihan maka semakin kuranglah bilangan yang kembali menagih, tetapi hakikat
yang berlaku adalah sebaliknya. Walaupun penagih telah menjalani program rawatan pemulihan
dan hukuman, namun kebanyakannya didapati masih lagi gagal untuk mengekalkan gaya hidup
bebas dadah setelah keluar dari pusat pemulihan. Faktor ini yang perlu dilakukan kajian secara
menyeluruh supaya kadar penagih relaps berkurangan dari semasa ke semasa. Di manakah punca
yang dominan menyebabkan perkara tersebut terus berulang? Kajian yang dijalankan adalah untuk
mencari faktor dominan yang mempengaruhi penagihan relaps dalam kalangan banduan wanita di
Penjara Wanita Sabah.

79

Objektif Kajian
Objektif secara umum bagi mengenal pasti faktor penagihan semula dadah (relaps) dalam
kalangan penagih wanita di sekitar Kota kinabalu secara khusus dan mutlak iaitu :
i.
Mengenal pasti faktor-faktor dominan yang menyebabkan penagihan semula dadah
(relaps) berdasarkan faktor yang dikaji.
ii.
Melihat pengaruh yang signifikan di antara faktor keluarga, rakan sebaya dan
kerohanian yang menyebabkan penagihan semula dadah (relaps).
Skop dan Batasan Kajian
Batasan kajian adalah sebagaimana berikut:
i.
Kajian lepas berkaitan permasalahan dadah memberi fokus kepada faktor-faktor yang
dikaji dan penagihan semula dadah (relaps).
ii.
Tinjauan dalam kajian penagih wanita antara 15 tahun dan keatas.
iii.
Kes kajian hanya melibatkan penagih wanita di sekitar Kota Kinabalu.
iv.
Kajian menggunakan kaedah soal selidik bagi mengetahui faktor dominan yang
menyebabkan penagihan semula (relaps) yang telah dibangunkan oleh (Tuan Isa Bin
Mohamed,2011).

Definisi dan Konsep Operasional Kajian
Pengkaji menerangkan beberapa istilah yang digunakan untuk menjelaskan kajian bagi menepati
tujuan sebenar kajian dijalankan. Definisi tersebut sebagaimana yang berikut:
i.
Menurut Kamus Dewan penagihan bermakna perihal menagih sesuatu. Penagih
dadah bermaksud orang yang menggunakan dadah. Individu yang mengambil dadah
dengan tujuan salah guna dan mempunyai kebergantungan terhadap dadah.
ii.
Istilah penagihan semula (relaps) masalah relaps dilihat sebagai kegagalan klien
dalam cubaan untuk mengubah perlakuannya terhadap pengambilan semula dadah.
Penagihan semula dalam kajian ini melihat faktor yang paling dominan yang
mempengaruhi kegagalan responden telah melalui pemulihan untuk terus bebas
daripada mengambil dadah. Di dalam kajian ini, pengkaji mengkhususkan bahawa
penagihan semula adalah merujuk kepada kegagalan penagih yang telah melalui
proses pemulihan untuk bebas daripada dadah (Marlatt dan Gordon,1985).
iii.
Definisi faktor dalam kajian yang dijalankan sebagaimana berikut:
a. Keluarga : Pengkaji melihat perkembangan penagih semula dadah dengan
pendidikan dan sokongan awal keluarga.
b. Rakan Sebaya: Pengkaji melihat pergaulan penagih semula dadah dengan
persekitaran iaitu rakan sebaya yang mempunyai sikap dan identiti penagih
dadah.
c. Kerohanian: Pengkaji melihat penagihan semula dadah dengan merujuk kepada
pendidikan agama dan moral. Ini bermakna semakin rendah pendidikan agama
semakin mendorong seseorang itu untuk menagih semula.
Metodologi Kajian
Rekabentuk Kajian
Kajian ini adalah kajian berbentuk kuantitatif di mana instrumen yang dibina diagihkan kepada
penagih wanita yang menagih semula secara tinjauan menggunakan soal selidik. Menurut Mohd.
Najib (1993), soal selidik lebih praktikal dan berkesan digunakan kerana penggunaannya dapat
meningkatkan ketepatan dan kebenaran gerakbalas yang diberikan oleh sampel. Ini kerana
jawapan responden tidak dipengaruhi oleh gerak laku penyelidik. Mereka bebas menyatakan
pendapat sendiri untuk menjawab setiap item yang dikemukakan.
Di dalam kajian ini terdapat tiga pembolehubah bebas iaitu keluarga, rakan sebaya dan
kerohanian dimanipulasi untuk melihat tahap penagih semula dadah (relaps). Menurut Tuckmen
(1985) menyatakan kajian tinjauan terhadap perkara yang sedang berlaku. Kajian ini melibatkan
pengumpulan data-data, membuat intepretasi ( penafsiran ), perbandingan dan merumus
generalisasi (kesimpulan secara umum).Selain itu, satu bentuk soal selidik telah digunakan untuk
mendapatkan maklumat berkenaan faktor keluarga, rakan sebaya dan kerohanian.Beberapa soalan

80

juga dibentuk untuk mendapatkan demografi berkenaan latar belakang responden seperti umur dan
status diri responden.

Hasil Kajian
Faktor Keluarga Terhadap Penagihan Semula Dadah ( Relaps )
Jadual 1 Rumusan pengaruh keluarga
R
.292ª

R Square
.085

Ujian F
5.694

Kecerunan
.961

Nilai Malar
55.623

Beta
.292

Ujian T
2.386

Durbin-Watson
2.549

Berdasarkan Jadual 1, Hasil kajian menunjukkan faktor dominan bagi sub skala pengaruh keluarga
menjelaskan sebanyak 8.5% varians, ( Beta=.292, t=2.386, k < 0.05 ) mempengaruhi penagihan
semula (relaps). Dapatan kajian ini sebagaimana kajian lepas menurut faktor-faktor keluarga telah
dihubungkan dengan tingkah laku penyalahgunaan dadah di kalangan anak-anak. Antara faktorfaktor tersebut ialah struktur keluarga, hubungan kasih sayang ibu bapa-anak, tahap komunikasi
ibu bapa-anak,cara gaya keibubapaan, dan penglibatan ahli keluarga dalam penyalahgunaan dadah.
Manakala Mahmood et.al (2004) menyatakan bahawa kegagalan bekas penagih untuk
mengubahkan cara hidup belum lagi dapat difahami kerana wujudnya begitu banyak faktor yang
mendorong kepada penagihan semula (relaps) ataupun ada yang membantu mereka untuk
mengekalkan kehidupan yang bebas dari dadah. Ada penagih yang mempunyai latar psikososial
yang sama ada pada umumnya, seperti ketagih heroin, sama dari segi persekolahan, sturuktur
keluarga serta keperibadian.
Faktor Rakan Sebaya Terhadap Penagihan Semula Dadah ( Relaps )
Jadual 2 Rumusan pengaruh rakan sebaya
R
.560ª

R Square
.313

Ujian F
27.848

Kecerunan
2.069

Nilai Malar
41.798

Nilai Beta
.560

Ujian T
5.277

Durbin-Watson
2.190

Dapatan menunjukkan bahawa terdapat pengaruh faktor peramal iaitu faktor rakan sebaya
terhadap penagihan semula dadah (relaps). Faktor ini menyumbang sebanyak 31.3 peratus varians
( Beta=.560, t=5.277, k < 0.05 ) mempengaruhi penagihan semula (relaps).kepada
Dapatan kajian ini sebagaimana kajian lepas Mahmood, Shuaib dan Lasimon (1999) mengenal
pasti faktor saperti pengaruh rakan sebaya (39.7 %), Perasan rindu pada dadah (11.3 %), masalah
keluarga (7.5 %) Tidak mahu pulih (6.4 %), Masalah peribadi (4.1 %), dan mudah mendapat
bekalan (3.0 %), Sebagai antara pendorong kepada penagihan semula. Pertama, faktor ini boleh
dikelompokkan sebagai dorongan dalaman (perasaan rindu, tidak mahu berubah, tidak dapat
sokongan moral) yang berlaku akibat kurang mantap diri atau sahsiah seseorang penagih itu untuk
‗menolak‘ pengaruhi pengaruh dadah . Faktor luaran yang mendorong penggunaan semula dadah
selepas seseorang itu dipulihkan. Kadang kala dorongan luar sangat kuat seperti adanya pengaruh
rakan sebaya dan adakalanya ianya tidak begitu jelas (rangsangan penggunaan dadah). Walaupun
apa bentuk rangsangan yang dialami, ia tertakluk kepada daya tahan individu untuk berkata ‗tidak‘
kepada dadah.

Faktor Kerohanian Terhadap Penagihan Semula Dadah ( Relaps )
Jadual 3 Rumusan Faktor Kerohanian
R
.680ª

R Square
.462

Ujian F
52.333

Kecerunan
2.449

Nilai Malar
29.540

Nilai Beta
.680

Ujian T
7.234

Durbin-Watson
2.462

Berdasarkan jadual 3, dapatan ini menjelaskan bahawa faktor kerohanian menyumbang sebanyak
46.2 peratus varians ( Beta=.680, t=7.234, k < 0.05 ) mempengaruhi penagihan semula dadah
(relaps).Berdasarkan Tuan Isa Mohamed (2011), Kepentingan usaha rawatan dan pendekatan yang

81

boleh digunakan. Ia juga memfokuskan faktor agama yang berkaitan dengan kualiti penghayatan
dan pengamalan agama sebagai salah satu aspek penting dalam rawatan pemulihan dadah.
Perbincangan
Dapatan secara khusus yang telah diperoleh oleh pengkaji mendapati ketiga-tiga faktor yang dikaji
iaitu faktor keluarga, faktor rakan sebaya dan kerohanian mempunyai pengaruh yang signifikan
keatas penagihan semula dadah (relaps). Pertama, faktor kerohanian. Pengkaji melihat penagihan
semula dadah dengan merujuk kepada pendidikan agama dan moral. Ini bermakna semakin rendah
pendidikan agama semakin mendorong seseorang itu menagih semula. Faktor ini disokong oleh
Mohamad Adam (2006), menurut dapatan kajian penyelidikannya mendapati sokongan moral
melalui penghayatan kerohanian yang konsisten daripada anggota keluarga dan masyarakat
setempat serta rakan-rakan senasib membantu menghindari relaps. Walaubagaimanapun,
responden akan mudah relaps seandainya tidak memiliki jati diri dan ketahanan mental yang
tinggi. Dapatan kajian juga menunjukkan sebahagian besar yang terlibat dalam program agama
telah berjaya menghindari diri daripada penagihan semula.
Sebagaimana Asmah Bee dan Iran Herman (1995) telah membuat satu kajian berkaitan
pola kehidupan Barat yang banyak diikuti oleh orang Islam mendapati bahawa lunturnya
kefahaman dan penghayatan agama di kalangan masyarakat termasuklah remaja telah
mengakibatkan situasi buruk dalam kehidupan mereka. Keadaan ini mengakibatkan individu tidak
tenteram, kurang amanah, peningkatan statistik terhadap juvana, penagih dadah dan ketagihan
arak, kegiatan seks tanpa nikah, bersekedudukan, pertambahan perceraian, penyakit kelamin dan
berbagai tingkah laku tidak bermoral di rumah dan sekolah. Hirschi dan Stark (1969), dalam
kajiannya telah menemu ramah ke atas 25 orang responden pelajar baru dan pelajar lama di
sekolah tinggi di Barat Costa Country, Califonia untuk mengenal pasti peranan agama dalam
menghindari aktiviti negatif mendapati bahawa terdapat hubungan yang kuat diantara aktiviti yang
mengandungi unsur-unsur kepercayaan agama untuk menghindarkan remaja dari tingkah laku
negatif. Ini bermakna bahawa agama dapat memupuk nilai yang baik dan membina dalam diri
individu. Walaubagaimanapun dua faktor lain rakan sebaya dan keluarga turut memainkan peranan
dalam menyumbang kepada faktor dominan sebagai faktor peramal dalam kajian yang kami
jalankan.
Kedua, faktor rakan sebaya pengkaji melihat pergaulan penagih semula dadah dengan
persekitaran iaitu rakan sebaya yang mempunyai sikap dan identiti penagih dadah. Menurut Hirshi
(1969)yang menyatakan bahawa kawalan akan menjadi lemah apabila empat faktor yang
mempengaruhi ikatan sosial dan individu menjadi lemah atau tiada, iaitu faktor keakraban
(attachment), penyertaan (involvement), penglibatan (commitment), dan kepercayaan (belief).
Keakraban menunjukkan kepada hubungan seseorang individu dengan orang-orang penting dan
rapat dengannya seperti ibu bapa, kawan-kawan dan orang yang disanjungi atau seperti institusi
seperti sekolah, kelab, masjid dan sebagainya. Penyertaan pula memastikan penyertaannya
(kegiatan, masa dan tenaga) hanya dalam kegiatan yang tidak menyeleweng.
Ketiga, Pengkaji melihat perkembangan penagih semula dadah dengan pendidikan dan
sokongan awal keluarga. Sokongan yang lemah di kalangan ahli keluarga dan masyarakat terhadap
bekas penagih juga memberi pengaruh yang tinggi terhadap kecenderungan penagihan relaps
(Daley, 1987; Hawkins & Fraser, 1987; Miller, 1992; Zackon, McAuliffe & Chien, 1985). Kajian
yang dijalankan oleh Mohd Taib, Rusli & Mohd Khairi (2000) terhadap pola komunikasi
kekeluargaan di kalangan keluarga penagih dadah dan bukan penagih dadah mendapati pola
komunikasi yang longgar dan interaksi yang kurang berkesan di kalangan keluarga bekas penagih
merupakan salah satu kebarangkalian tinggi terhadap aktiviti penagihan dadah. Sesungguhnya,
sokongan keluarga amat diperlukan bagi memastikan proses rawatan berjaya dan perkara-perkara
seperti tidak mengambil peduli dan memulaukan bekas penagih hanya akan menggagalkan proses
rawatan yang seterusnya menyebabkan bekas penagih kembali semula ke alam penagihan (Daley
& Marlatt, 1992; Vicary & Lerner, 1986). Dapatan ini menjawab kepada hipotesis dan persoalan
kajian iaitu hasil keputusan kajian mendapati terdapat faktor dominan yang menyebabkan
penagihan semula (relaps) iaitu faktor kerohanian. Ini menyokong definisi operasional kajian
dijalankan iaitu semakin rendah pendidikan dan pengetahuan agama semakin mendorong
seseorang itu menagih semula dadah (relaps).

82

Rumusan
Kajian yang telah dijalankan di sekitar Kota Kinabalu melibatkan seramai 63 orang banduan telah
membincangkan berkaitan pengaruh faktor keluarga, rakan sebaya dan kerohanian terhadap
penagihan semula dadah (relaps). Penemuan kajian menunjukkan bahawa faktor kerohanian
merupakan faktor luaran yang dominan. Faktor kerohanian yang menjadi asas kepada faktor
masalah penagihan semula dadah (relaps). Dimana faktor ini menunjukkan bahawa benteng
pegangan jati diri seseorang terletak pada dalaman diri sendiri. Fitrah kehidupan manusia adalah
pegangan agama yang dianutinya dari kecil sebagai satu garis panduan dalam kehidupan
seseorang. Semakin kuat pengangan agama seseorang semakin kukuh jati diri seseorang untuk
menghindari diri daripada terlibat dengan perbuatan jenayah. Implikasi kajian menunjukkan
bahawa penyediaan modul penghayatan berorientasikan keagamaan perlu diperkasa dan
diperkukuhkan secara holistik di semua peringkat berdasarkan pegangan dan kepercayaan agama
masing-masing. Walaubagaimanapun ketiga-tiga faktor yang telah dikaji di dapati mempunyai
pengaruh keatas penagihan semula dadah (relaps) dan hipotesis kajian diterima.

Bibliografi
Bahaman Abu Samah, Rahim Sail, Sidek Mohd Noad, Jamilah, Tuan Suria Idris, Kamsiah
Kamin, Tuan Kamarul Alam Taib (2003). The Influence Of Rehabilitation Programmes,
Self Concept, Peers And Family In Addressing
Recidivism. Penyelidikan IRPA. Serdang:
Universiti Putra Malaysia
Brownell, K.D., Marlatt, G.A., Linchtenstein, E., Wilson, G.T. (1980). Understanding And
Preventing Relapse. American Psychologist, 41:765-782.
Calaghan, M. Benton, S.& Bradley, F. (1995) ―Implementing A Drug Prevention Program : A
Comparative Case Study Of Two Rural Kansas School‖. Journal Af Youth And Adolescent,
41(1), 149-158.
Dzulkifli Abd. Majid ( 2004) ―Dadah : Senario Sejagat Yang Membimbangkan‖ Dalam
Mohd
Izam Mohd. Ibrahim (editor) : Mengenali Bahaya Dadah Dan
Bahayanya
Terhadap
Masyrakat. DBP. Kuala Lumpur.
Fred Leavit ( 1990 ).‖ Dadah Dan Tingkahlaku‖. DBP. Kuala Lumpur Gravetter, F.J, & Forzano,
L. B. (2009). Research Methods: For The Behavioral Sciences (3rd ed.). Belmont, CA:
Wadsworth Thomson Learning.
Gravetter, F.J, & Forzano, L. B. (2003). Research Methods: For The Behavioral
Belmont, CA: Wadsworth Thomson Learning.

Sciences.

H. M Abdullah Al-Hadi (1993). ― Faktor-faktor Keluarga Dan Tingkah Laku Penyalahgunnan
Dadah : Satu Kajian Perbandingan Antara Penyalahgunaan Dadah Dengan Bukan
Penyalahgunaan Dadah‖. UPM Serdang Selangor Darul Ehsan.
Hussain Habil & Mustafa Ali Mohd. ( 2003 ). ―Penyalahgunaan Dadah‖. PSB K.L.
Hassan Langgulung (1983) ― Teori Teori Kesihatan Mental ― (Perbandingan Psikologi Moden
Dan Pendekatan Pakar Pakar Pendidikan Islam) Penerbit Pustaka Huda Kajang, Selangor.
Kamus Dewan (2005), Dewan Bahasa Dan Pustaka, Kuala Lumpur.
Kementerian Pelajaran Malaysia (1983) ― Mencegah Dadah Melalui Kaunseling‘ Dewan Balai
Pustaka. Kuala Lumpur.

83

Mahmood, Shuaib, Lasimon, Rusli & Md. Zahir, (1999 ) ― Penagihan Dadah Dan Residivisme :
Aspek-Aspek Psikososial Dan Persekitaran. Sintok‖ : Pusat Penyelidikan dan Perundingan,
UUM.
Mahmod , N.M, Shuaib Che din & Ismail Ishak , (1998) ― Keberkesanan Rawatan Dan Pemulihan
Dadah‖: Modaliti Kerohanian Dan Tradisional Malaysia. Laporan Akhir Penyelidikan UUM.
M. Subramaniam (1979) ― The Ill Effect Of Drug Abuse,‖Kursus Mengenai
Pencegahan
Kegunaan Dadah Untuk Pegawai-Pegawai Media Masa, Bukit Fraser, 26-27 Feb, 1979.
Monty & Rohsenow, ( 1997), ― Brief Coping Skills Treatment For Cocaine Abuse: Substance Use
Outcomes At Three Months.‖ Journal off Addictions, 92(12), 1717- 1729.
Mc Coy. C. B & Lai. S. (1997). No Pain, No Gain, Establishing The Kunming, China, Drug
Rehabilitation Center. Journal of Drug Issues. 27 (1):73-85.
Mohd Taib, Rusli & Mohd Khairi (2000). ―Pola-Pola Komunikasi Kekeluargaan: Kajian
Dikalangan Keluarga Penagih dan Bukan Penagih‖ di Negeri Kedah. Penyelidikan Sekolah
Pembangunan Sosial.
Sidek Mohd Noah (2003). ― Pengujian & Penilaian Dalam Kaunseling Teori & Aplikasi. Serdang:
Universiti Putra Malaysia.
Sidek Mohd Noah (2003). ― Reka Bentuk Penyelidikan: Falsafah, teori danpraktis‖ Serdang:
Universiti Putra Malaysia.
Tuckmen, W.B (1985).
Jovanovick.

―Conducting

Education

Reasearch.‖

New

York:

Harcout

Fauziah Ibrahim, Bahaman Abu Samah, Mansor Abu Talib & Mohamad Shatar Sabran ( 2005 ).
Faktor Penyumbang Kepada Penagihan Relaps Dalam Kalangan Penagihan Dadah PUSPEN
di Semanjung Malaysia. Universiti Putra Malaysia.
Chuah Mooi Kim (1990). Keyakinan Diri Penagih Dadah: Hubungannya Dengan Sokongan Sosial dan
Faktor Demografi. Latihan Ilmiah. Bangi: Universiti Kebangsaan Malaysia.
Fauziah Ibrahim (2008). Pengaruh Faktor-Faktor Individu, Persekitaran Sosial dan Keberkesanan Prgram
Pemulihan Dalam Kalangan Penagihan Relaps. Tesis Doktor Falsafah Tidak Diterbitkan. Serdang:
Universiti Putra Malaysia.
Mahmood Nazar Mohamed (1996). Peranan & Penglibatan Keluarga dan Masyarakat DalamPencegahan
Penagihan Berulang. Jurnal PERKAMA. Bil.6.ISSN 0127/6301. Terbitan Persatuan Kaunseling
Malaysia.
Mahmood Nazar Mohamed, Mohd Shuib Che Din, Lasimon Matokrem, Muhamad Dzahir Kasa & Rusli
Ahmad (1999). Penagihan Dadah dan Residivisme: Aspek-Aspek
Psikososial dan Persekitaran.
Kedah: Pusat Penyelidikan dan Perundingan, Universiti Utara Malaysia.
Mokhtar Mohamad (1997). Faktor-Faktor Kegagalan Membebaskan Diri Daripada Dadah. Tesis Ijazah
Sarjana: Universiti Putra Malaysia.
Nazruel Ekram Abu Saare (2000). Penagihan Semula: Suatu Kajian ke Atas Faktor-Faktor Penyebab. Bangi:
Universiti Kebangsaan Malaysia.
Ruslina Saad (2004). Hubungan Di antara Keadaan Berisiko Tinggi Dengan Penagihan Semula Dadah: Satu
Kajian di Kalangan Pelatih PERSADA, Sungai Besi. Tesis Ijazah Sarjana. Bangi: Universiti
Kebangsaan Malaysia.
Mohamad, Adam ( 2006 ). Tingkahlaku Penagihan Semula Punca-punca Penagihan dan Pemulihan
Kerohanian Menurut Perspektif Islam. Tesis Ijazah Sarjana. Universiti Teknologi Malaysia, Fakulti
Pendidikan.

84

MODEL PENCEGAHAN PENGGUNA NARKOBA MELALUI PRINSIP-PRINSIP
MANAJEMEN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH MENENGAH ATAS KOTA
GORONTALO
Dr. Novianty Djafri, M.Pd.I
ABSTRACT
kasus penyalahgunaan narkoba meningkat dengan cepat, terutama menimpa pelajar dan
generasi muda. Hal ini dikarenakan rendahnya pengetahuan mengenai bahaya narkoba dikalangan
pelajar serta masih adanya pandangan yang salah bahwa narkoba dapat menimbulkan rasa nikmat.
Oleh karena itu para orang tua, masyarakat dan pendidik khususnya kepala sekolah dapat
berfungsi sebagai controlling dalam mengetahui bahaya narkoba, mengetahui cara menanggulangi
penyalahgunaan narkoba dan akibat penyalahgunaan narkoba.
Penyalahgunaan narkoba berkaitan erat dengan kualitas sumber daya manusia dan masa
depan bangsa, sebab korbanya terutama generasi muda. Hal ini berdampak buruk pada kesehatan,
pendidikan, kehidupan sosial ekonomi, dan ketahanan bangsa. Penyalahgunaan narkoba
merupakan masalah perilaku manusia, bukan semata-mata masalah zat atau narkoba. Sebagai
masalah perilaku, banyak variabel yang mempengaruhinya, oleh karena itu informasi mengenai
bahaya narkoba kepada anak dan remaja, usaha mengubah perilaku dengan memberikan
keterampilan yang diperlukan serta pendidikan perbaikan perilaku sangat bermanfaat untuk
menanggulangi penyalahgunaan narkoba.
Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan jenis penelitian Survei, serta
analisis Data Penelitian Pendidikan. Data yang akan digunakan berupa data sekunder dan primer
yang dapat diperoleh dilapangan dan studi literatur hasil penelitian sebelumnnya. Hasil penelitian
ini menemukan Pola Model Pencegahan Pengguna Narkoba Melalui Prinsip-Prinsip Manajemen
Kepemimpinan Kepala Sekolah Lanjutan Tingkat Atas Kota Gorontalo.
KATA KUNCI: Pencegah Pengguna Narkoba, Prinsip Manajemen Kepemimpinan.
PENGANTAR
Kepala sekolah merupakan salah satu komponen pendidikan yang paling berperan dalam
meningkatkan kualitas pendidikan. Sebagaimana dikemukakan dalam Pasal 12 ayat 1 PP 28 tahun
1990 bahwa kepala sekolah bertanggungjawab atas penyelenggaraan kegiatan pendidikan,
administrasi sekolah, pembinaan tenaga kependidikan lainnya, dan pendayagunaan serta
pemeliharaan sarana dan prasarana. Kepala sekolah diangkat melalui prosedur serta persyaratan
tertentu yang bertanggung jawab atas tercapainya tujuan pendidikan melalui upaya peningkatan
profesionalisme tenaga kependidikan yang mengimplikasikan meningkatkanya prestasi belajar
peserta didik. Kepala sekolah yang professional akan berfikir untuk membuat perubahan tidak lagi
berfikir bagaimana suatu perubahan sebagaimana adanya sehingga tidak terlindas oleh perubahan
tersebut. Untuk mewujudkan kepala sekolah yang professional tidak semudah membalikkan
telapak tangan, semua itu butuh proses yang panjang.
Kepala sekolah disamping seorang yang profesional dalam bidang akademik sebagai
tupoksi kerjanya juga sebagai pimpinan dalam tugas tambahan sebagai orang yang dianggap
mampu menangani problema dalam lingkungan sekolahnya. Adapun masalah didalam lingkungan
sekolah beraneka ragam dan harus di selesaikan tuk win-win solution oleh seorang pimpinan.
Demikian halnya dengan provinsi gorontalo banyak kasus yang dihadapi oleh kepala
sekolah dalam menanggulangi permasalahan yang terjadi di sekolahnya baik dari masalah
akademik siswa sampai dengan masalah pribadi siswanya, disamping masalah akademik: nilai
siswa yang rendah dan antar kelompok: tawuran, perkelahian, asusila juga masalah pribadi: dari
kelurga; Broken Home, Narkoba dan lainnya.
Narkoba dalam sisi positif dapat digunakan pada bidang kesehatan dan kedokteran
sebagai bahan yang di jadikan untuk obat membantu dalam mengatasi kesukaran tidur sehingga di
jadikan resep sebagai penenang kepada pasien yang mengalami gangguan tidur atau untuk obat
lainnya.
Narkoba dari sisi negatif dianggap sebagai obat yang dapat membuat pengaruh pada
tingkat berpikir sesorang yang dapat mengganggu syaraf organ tubuh seseorang, sehingga ini
merasa ada kekuatan lain dalam dirinya, misalnya tingkat keberaniannya bertambah, kepercayaan
dirinya meningkat, maka hal inilah yang menyebabkan bahwa dengan menggunakan obat ini
dnegan dosis yang leboh dan tanpa resep dokter dapat membahayakan karena telah beredar bebas
keluar, yang dapat membuat orang merasakan bahwa menemukan obat ini sesorang dapat teratasi
kondisi psikologisnya. (Anonim: 2008).

85

Untuk Masalah Narkoba di kota gorontalo menurut data BNN Gorontalo tercatat dari
tahun 2012 telah mengalami peningkatan sebesar 20% yakni: 49 kasus yang teridentifikasi
penyalahgunaan narkotik, 41 orang belum direhabilitasi dan 8 orang sudah direhabilitasi. Untuk
penyalahgunaan jenis psikotropik dan zat adiktif sulit untuk teridentifikasi. Sedangkan pada siswa
SMA hanya pada jenis psikotropika yaitu triheksilphenidil dan obat yang bekerja disistem saraf
pusat seperti dextrometorphan serta zat aditktif seperti tembakau (rokok) dan minuman keras
banyak diatasi oleh kepala sekolah.
Kasus penyalahgunaan narkoba tidak dapat dipungkiri semakin mengkhawatirkan bangsa
Indonesia/ masyarakat/generasi muda khususnya pelajar. Jaringan pengedarnya pun seakan terus
meluas dan sulit untuk diberantas. Berbagai upaya pun telah dilakukan untuk memberantas
permasalahan tersebut. Harus dipahami bahwa untuk mengatasi masalah ini diperlukan kerja sama
dari berbagai pihak, baik dari lembaga pemerintah, LSM atau masyarakat sekalipun bahkan
lembaga pendidikan. Seperti yang terjadi sekarang ini banyak lembaga penanganan masalah
penyalahgunaan narkoba berupa panti rehabilitasi baik milik pemerintah ataupun swasta, ada juga
banyak LSM yang gencar menyuarakan betapa berbahayanya penggunaan narkoba, kemudian
muncul juga perkumpulan-perkumpulan dalam masyarakat yang menentang narkoba. Namun
semua itu seakan terus berlomba dengan semakin banyaknya pula kasus pengedaran dan
penyalahgunaan narkoba. Biasanya untuk lembaga-lembaga rehabilitasi formal, ia mempunya satu
atau beberapa model dalam upaya penanggulangan masalah penyalahgunaan narkoba, lalu
bagaimana dengan peran Lembaga Pendidikan khususnya Kepala Sekolah dalam menyikapi
siswanya dalam menggunakan narkoba, seperti apa mereka memandang permasalahan ini?
Menyikapi banyaknya generasi muda khususnya pelajar yang menjadi korban
penyalahgunaan Narkoba, maka dibutuhkan suatu pembenahan sistem melalui manajemen
pemimpin kepala sekolah berdasarkan pembinaan dan strategi yang paling baik dan komprehensif
untuk mengatasinya. Hal inilah yang dirasakan oleh peneliti sangat penting diadakannya penelitian
agar dapat membantu para korban/pecandu Narkoba menjadi sehat secara utuh dan mendapatkan
pelayanan yang terbaik dari pihak pemasyarakatan (BNN) dan Lembaga Pendidikan. Berdasarkan
pengantar dengan beberapa permasalahan diatas maka saya tuliska hasil penelitian: ―Model
Pencegahan Pengguna Narkoba Melalui Prinsip-Prinsip Manajemen Kepemimpinan Kepala
Sekolah Menengah Atas Kota Gorontalo‖
PEMBAHASAN
A. Narkoba
Narkoba adalah obat, bahan dan zat bukan makanan yang jika diminum, dihisap, dihirup,
ditelan atau disuntik berpengaruh pada kerja otak dan sering menyebabkan
ketergantungan.Akibatnya, kerja otak berubah. Demikian pula fungsi vital organ lain seperti
jantung, peredaran darah, pernapasan, dan lain-lain.
Narkoba ( narkotika, psikotropika, dan obat terlarang ) adalah istilah yang digunakan
penegak hukum dan masyarakat. Narkoba disebut berbahaya, karena tidak aman digunakan atau
membahayakan dan penggunaanya bertentangan dengan hukum. Dahulu beberapa jenis narkoba
digunakan sebagai obatseperti opium ( getah tanaman candu ), morfin (yang berasal dari opium
mentah ), petidin ( opioda sintetik ), untuk menghilangkan rasa sakit pada penyakit kanker,
amfetamin untuk mengurangi nafsu makan, serta berbagai pil tidur dan obat penenang. Menurut
Bimantoro: 2001. Kodein yang merupakan bahan alami yang terdapat pada candu, secara luas
digunakan pada pengobatan sebagai obat batuk. Akan tetapi, sekarang tidak digunakan lagi dalam
pengobatan karena berpotensi menyebabkan ketergantungan yang tinggi.
B. PRINSIP-PRINSIP MANAJEMEN KEPEMIMPINAN
Kepemimpinan adalah proses memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada
pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi melalui proses fungsi manajemen (planning,
Organizing, Actuiting dan Controlling). (Nurkolis: 2003)
Prinsip kepemimpinan Pasolong ini bersifat praktis dan lebih mengarah pada hubungan atasan
dengan bawahan. Bagaimana seorang pimpinan bisa mempengaruhi, memotivasi, dan
mengarahkan bawahannya dengan efektif dan efisien.
Hal ini senada Hoy dan Miskel memberi batasan empat komponen kepemimpinan, yaitu
melibatkan orang lain, mendistribusikan kekuasaan, kemampuan menggunakan berbagai bentuk
kekuasaan untuk mempengaruhi organisasi lain atau pengikut, dan nilai yaitu menyakup semua
sistem yang dapat menciptakan prilaku yang dipimpin (Mulyadi, 2010: 9).

86

3 Prinsip Dasar Kepemimpinan Ki Hajar Dewantara adalah: (1). Ing ngarsa sung
tulada. Artinya, di depan memberi teladan. Pemimpin harus menjadi contoh bagi anak buahnya.
(2). Ing madya mangun karsa. Artinya di tengah membangun kehendak atau niat. Pemimpin
harus berjuang bersama anak buah. (3). Tut wuri handayani. Artinya, dari belakang memberikan
dorongan. Ada saatnya pemimpin membiarkan anak buah melakukan sendiri.
Ketiga prinsip tersebut, ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani, perlu
dilakukan sesuai dengan tingkat kepentingan. Begitu pula kepada siswa/siswi kepala sekolah harus
dapat mengimplementasikan fungsi manajemen dalam sekolah yang di pimpinnya.
Hasil Lapangan:
Hasil 1:
Sesuai data di lapangan yang saya dapatkan bahwa Penyalahgunaan narkoba sangat kompleks,
tetapi selalu merupakan interaksi dari tiga faktor penyebab yaitu narkoba, individu, dan
lingkungan. Sesuai hasil penelitian Universitas Indonesia (UI) dan BNN. Bahwa Gorontalo pada
posisi ke 5 besar nasional dengan angka prevalansi 2,55 persen diatas rata-rata nasional yang
prevalansinya pada posisi 1,99. Adapun Upaya keras dan berbagai bantuan yang diberikan oleh
pemerintah Gorontalo, maka menurunkan angka penyalahgunaan narkoba dari angka prevalansi
2,55 menjadi tinggal 1,4 dengan jumlah korban tinggal 9.500 orang. Kepala Bidang
Pemberantasan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Gorontalo AKBP Haddra Dotulong
mengatakan, bahwa jumlah 16 ribu orang penyalahguna narkoba tersebut terjadi sejak 2008 lalu.
Sehingga saat ini Gorontalo masuk dalam peringkat kelima penyalahgunaan narkoba. Namun,
sejak 2013 hingga 2014 tingkat penyalahguna narkoba di Gorontalo mengalami penurunan drastis
yakni tinggal 9.500 orang. Ini artinya Provinsi tinggal masuk dalam peringkat ke 27 nasional.
Adapun Faktor Akibat penyalahgunaan narkoba bagi pelajar:
A. Diri Sendiri (a). Terganggunya fungsi otak dan perkembangan normal remaja : 1)
Daya
ingat sehinnga mudah lupa. 2) Perhatian sehingga sulit berkonsentrasi. 3) Persepsi sehingga
memberi perasaan semu. B). Keracunan, yaitu timbul akibat pemakaian narkoba dalam jumlah
yang cukup, berpengaruh pada tubuh dan perilakunya. (c). Overdosis, terjadi karena sudah lama
berhenti pakai, lalu memakai lagi dengan dosis yang dahulu digunakan. Overdosis dapat
menyebabkan kematian karena terhentinya pernapasan atau peredaran otak. (d). Gejala putus zat,
yaitu gejala ketika dosis yang dipakai berkurang atau dihentikan pemakaianya. (e). Berulang kali
kambuh, yaitu ketergantungan menyebabkan craving (rasa rindu pada narkoba) walaupun telah
berhenti pakai. Itulah sebabnya pecandu akan berulang kali kambuh. (f). Gangguan perilaku, yaitu
sulit mengendalikan diri, mudah tersinggung, menarik diri dari pergaulan, serta hubungan dengan
keluarga terganggu. Terjadi perubahan mental, gangguan pemusatan perhatian, motivasi belajar
lemah. (g). Gangguan kesehatan, yaitu kerusakan atau gangguan fungsi organ tubuh seperti, hati,
jantung, paru-paru, ginjal, dan lai-lain, (h). Kendornya nilai-nilai, yaitu mengendornya nilai-nilai
kehidupan agama, sosial-budaya, seperti seks bebas dengan akibat(penyakit kelamin, kehamilan
tak diinginkan). Sopan santun hilang. Ia menjadi asocial, mementingkan diri sendiri, dan tidak
mempedulikan kepentingan orang lain. (i). Masalah ekonomi dan hukum, yaitu pecandu terlibat
hutang, karena berusaha memenuhi kebutuhannya akan narkoba. Ia mencuri uang atau menjual
barang-barang milik pribadi atau keluarga. Jika masih sekolah, uang sekolah digunakan untuk
membeli narkoba, sehingga terancam putus sekolah, dan di tahan polisi atau bahkan di penjara.
B. Keluarga
Suasana nyaman dan tentram terganggu.Keluarga resah karena barang-barang berharga
dirumah hilang.Anak berbohong, mencuri, menipu, tak bertanggung jawab, hidup semaunya dan
asocial.Orang tua malu karena memiliki anak pecandu, merasa bersalah, dan berusaha menutupi
perbuatan anak.
Masa depan anak tidak jelas. Ia putus sekolah karena dikeluarkan dari sekolah, stres
meningkat. Orang tua putus asa, sebab pengeluaran uang meningkat karena pemakaian narkoba
atau Karena anak harus berulang kali dirawat, bahkan mungkin mendekam di penjara.Keluarga
harus menanggung beban sosial-ekonomi.
C. Sekolah
Narkoba merusak disiplin dan motivasi yang sangat penting bagi proses belajar. Siswa
penyalahguna narkoba mengganggu terciptanya suasana belajar- mengajar.Prestasi belajar turun

87

drastis, tidak saja bagi siswa berprestasi, melainkan juga mereka yang kurang
berprestasi.Penyalahgunaan narkoba berkaitan dengan kenakalan dan putus sekolah. Kemungkinan
siswa penyalahguna membolos lebih besar dari pada siswa lain.
Penyalahgunaan narkoba berkaitan dengan kejahatan dan perilaku asosial lain yang
mengganggu suasana tertib dan aman, perusakan barang-barang milik sekolahan, dan
meningkatnya perkelahian.
D. masyarakat, Bangsa, dan Negara
Mafia perdagangan gelap,selalu berusaha memasok narkoba.terjalin hubungan pengedar
atau bandar dengan korban dan tercipta pasar gelap. Oleh karena itu, sekali pasar terbuka, sulit
memutuskan mata rantai peredaranya.Masyarakat yang rawan narkoba tidak memiliki daya tahan
dan kesinambungan pembangunan terencana.Negara menderita kerugian karena masyarakat tidak
produktif dan kejahatan meningkat, belum lagi sarana atau prasarana yang harus disediakan.
Hasil 2:
Metode dan Teknik Prinsip Manajemen Pemimpin Menanggulangi Narkoba
Untuk dapat keluar dari permasalahan narkoba ini diperlukan model penanggulagan yang sangat
mendasar dan berdasar pada prinsip dasar yang mengandalkan kekuatan-kekuatan serta inisiatif
warga masyarakat. Pendekatan ini dibangun atas asumsi bahwa pada dasarnya setiap komunitas
memiliki berbagai mekanisme pemecahan masalah (Probelem Solving) yang seringkali lebih
handal dibandingkan dengan mekanisme artificial yang didesain orang luar secara instant.
Untuk meningkatan efektifitas dan efisiensi mekanisme pemecahan masalah (Probelem Solving)
yang telah dimiliki masyarakat tersebut, maka metode Pengorganisasian dan Pengembangan
Masyarakat menjadi metode kunci untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa
permasalahan narkoba dan kekuatan-kekuatan yang telah mereka miliki, serta untuk
menanggulangi partisipasi masyarakat dalam mengatasi masalah. Metode tersebut juga perlu
dikombinasikan dengan Metode Pekerjaan Sosial dengan Kelompok yang mengedepankan
berbagai teknik terapi kelompok, dan manajemen akses setiap warga Negara terhadap berbagai
pelayanan yang tersedia. Pengguna metode-metode tersebut di atas perlu didasarkan pada hasil
penerapan teknik-teknik asemen partisipatif yang berbasis masyarakat. Teknik-Teknik seperti
Community Involvement (CI), Participatory Learning Action (PLA), Methods of Participatory
Assessment (MPA) dan lain-lain memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan
keberhasilan upaya yang dilakukan. Juga di kombain dengan Fungsi Manajemen:
Pengorganisasian oleh kepala sSekolah terhadap seluruh warga sekolahnya: Menajemen
pencegahan kenakalan remaja dan penyalahgunaan narkotika yang berbasis kepemimpinan dan
masyarakat/Pembinaan Akhlak hanya mungkin dilakukan kalau kegiatannya terorganisir dengan
baik. Untuk itu maka perlu dilakukan :(a) Mengidentifikasi, memetakan dan menjalin hubungan
antar kelompok-kelompok/organisasi-organisasi sosial yang ada di masyarakat yang telah
menunjukkan kemampuannya dan atau potensinya untuk melaksanakan upaya pelayanan
kesejahteraan sosial. (b) Memperkuat suatu wadah yang dapat menjaring kepedulian warga
masyarakat khususnya pelajar.
Upaya Kepala sekolah adalah:
Membentuk Program Aksi: (a). Program pencegahan bagi remaja: Beberapa program
pelayanan sosial yang dapat dilakukan antara lain: Model Kepemimpinan Teman Sebaya (Peer
Leadership), pemberian informasi tentang masalah narkoba, penggunaan dan akibat-akibatnya
melalui kegiatan rekreatif, yang dikemas dalam permainan-permainan inovatif dan disesuaikan
dengan kebutuhan kelompok sasaran, program pengembangan kegitan-kegiatan alternatif. (b).
Program Kelompok Anonim: Program ini ditujukan untuk memberikan fasilitas bagi para
pengguna narkoba yang membutuhkan pertolongan untuk mengatasi masalah-masalahnya yang
berkaitan dengan penggunaan narkoba, baik untuk menurunkan resiko penggunaan substansi,
untuk mengatasi permasalahan psikososial yang mereka hadapi, atau untuk mengurangi
ketergantungan dan meningalkan perilaku penyalahgunaan obat tersebut. Teknik-teknik terapi
kelompok dapat diterapkan sesuai dengan kebutuhan klien dan dilakukan secara bertahap. c.
Program Aksi untuk Orang Tua: Tujuan program aksi bagi orang tua adalah memberikan
pemahaman tentang narkoba, faktor-faktor penyebab, pendorong dan peluang bagi terjadinya
penyalahgunaan narkoba terutama dikalangan anak-anak dan remaja. Menyadari akan peranan

88

orangtua yang begitu penting dalam menentukan masa depan anak, mereka diharapkan untuk
berjuang membantu pemulihan generasi ini.
Dampak fisik, psikologis dan sosial ekonomi dari penyalahgunaan narkoba serta tempat
penanggulangannya. Di samping itu pendekatan terhadap pendidikan orang tua diarahkan pada
pemberian daya tilik kepada orang tua mengenai tingkah laku anak dan mengembangkan
keterampilan-keterampilan untuk mengasuh anak agar terbebas dan terhindar dari penyalagunaan
narkoba. (d). Penyuluhan dan Pendidikan Afektif Bagi Anak dan Remaja: Penyuluhan dan
pendidikan afektif bagi anak dan remaja bisa dilakukan di sekolah-sekolah khususnya SMA
bahkan harus mulai dari tingkat SD, SLTP, sampai ke Perguruan Tinggi, serta pada kelompokkelompok pertemanan di lingkungan ketetanggaan. Penyuluhan dan pendidikan afektif ini berupa
penyampaian informasi yang tepat terpercaya, objektif, jelas dan mudah dimengerti tentang
narkoba dan pengaruhnya bagi tubuh dan perilaku manusia, dan mengkaitkannya dengan
pendidikan kesehatan secara luas dan pendidikan tentang menghadapi masalah hidup. Melalui
pemahaman tentang nilai-nilai kehidupan, anak dan remaja akan dirangsang untuk memikirkan
nilai-nilai kehidupannya sendiri dan membuat kesimpulan tentang manfaat tidaknya
penyalahgunaan narkoba dalam kehidupan. Aspek pendidikan afektif bertujuan mengembangkan.
Kepribadian, pendewasaan diri, peningkatan kemampuan, membuat keputusan, mengetahui cara
mengatasi tekanan mental secara efektif, peningkatan kepercayaan diri, dan meningkatkan
kemampuan komunikasi. (e). Pembentukan dan Pengembangan Kelompok anti Narkoba: Yaitu
membentuk kelompok-kelompok baru atau mengembangkan fungsi kelompok yang sudah ada
sebagai gerakan anti narkoba dengan upaya-upaya seperti mempengaruhi secara aktif terhadap
remaja lainnya baik secara individual mapun kelompok untuk melembagakan budaya anti narkoba.
Dengan begitu peluang untuk menciptakan generasi yang anti narkoba semakin hari akan semakin
nyata dan terwujud.
HASIL 3:
Hasil-3 Analisis Manajemen Strategi Manajemen Pemimpin Kepala Sekolah SMA dalam dalam
Menanngulangi Siswa/siswi Pengguna Narkoba di Kota Gorontalo.

Kepala Sekolah

Siswa/Siswi

Sekolah dan Masyarakat

Diri Sendiri dan Orang Tua

Pusat Kajian : LSM,
IIIbadaTeIbaIbadaBIbadah
Badan Nasional Narkotika

PENUTUP
A. KESIMPULAN
Lembaga Pendidikan khususnya kepala sekolah dapat menjadi bagian penting dalam pencegahan
penyalahgunaan narkoba merupakan bagian dari pendidikan umum, sebagai upaya jangka panjang,
untuk membina generasi muda.Pendidikan pencegahan merupakan pendidikan yang ditujukan
terutama kepada individu atau sekelompok masyarakat, umumnya anak dan remaja yang
mempunyai resiko tinggi, untuk mencegah dan mengurangi atau menghentikan pemakaian
narkoba.

89

B. SARAN
Hendaklah kepada semua pihak (stakeholder) dapat menjadi controlling terhadap generasi bangsa
kita (anak-anak kita) khususnya kepala sekolah, orang tua dan masyarakat bilkhusus diri sendiri
dapat menjadi tonggak penjaga diri kita.

DAFTAR PUSTAKA
Arief furchan, 2010. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Anonim, 2008, Penyalahgunaan Narkotika, Blog Arsip Skripsi, http://penyalahgunaannarkotika.kumpulBlogger.com. Tanggal, 30 April 2015
Anonim, 2005, Laporan Penelitian Masalah Napi Narkoba di Lembaga Pemasyarakatan dan
Rumah Tahanan Negara Tahun 2005, Laporan Penelitian. Jakarta. www.bnn.go.id.
Tanggal, 30 April 2015
Harbani Pasalong, 2010. Kepemimpinan Birokrasi, Alpabet. Bandung.
Badan Narkotik Nasional, 2012, Data Penyalahgunaan Narkotik, BNN Gorontalo
Bimantoro, dalam kata sambutan penerbitan buku, Penanggulangan Penyalahgunaan Bahaya
Narkoba, Jakarta: Dit Bimmas Polri. 2001.
Nurkolis, "Manajeman Berbasis Sekolah: Teori, Model dan Aplikasi", Grasindo, 2003,
9797322084, 9789797322083

90

HUBUNGAN ANTARA SOKONGAN SOSIAL DENGAN KEMURUNGAN
DALAM KALANGAN PENAGIH DADAH
Iezwan bin Iesnordina, Muhamad Fadhli bin Ahmatb, Syed Mohd Fadhullah bin Sied Esahakc,
Zakaria bin Awang Hamatd dan Dr Nurul Hudani binti Md Nawie
a,b,c,d,e

Sarjana Psikologi Kaunseling (Penyalahgunaan Dadah), Universiti Malaysia Sabah, Kota
Kinabalu
e
Pensyarah, Fakulti Psikologi dan Pendidikan, Universiti Malaysia Sabah, Jalan UMS, 88400,
Kota Kinabalu, Sabah
Email: nurul@ums.edu.my

Abstract
The main objective of this cross-sectional study is to determine inter Social Support With
Depression Among Drug Addicts. Two sets of questionnaires such as in this study; the
questionnaire Inventory of Socially Supportive Behaviors (ISSB) by Herrera, 1984 to measure
social support and questionnaires Reynolds Adolescence Depression Scale (RADS) by William
Reynolds, 1985 to measure the performance of the depression was carried out on 100 respondents
in drug addicts in Sabah. Pearson correlation analysis showed that there was a significant
negative relationship between Social Support as emotional dimension (r = -.249, p <.05) then
information dimension (r = -.244, p <.05), then adjacent dimensions (r = -.201 p <.05) and finally
dimensions because (r = .-136, p <.05) with depression. Studies have also shown by placing the
emotional dimension as the most powerful domain associated with depression compared to
another dimension. The implications of this study indicate that is a need to produce a moduleoriented emotions among drug addicts in a holistic and integrated approach to support the
emotional dimension that affects the strength of depression among drug addicts .

Keywords: Social support, depression, drug addict

PENGENALAN
Kajian ini dijalankan untuk mengkaji hubungan antara antara sokongan sosial dengan kemurungan
dalam kalangan penagih dadah di mana sokongan sosial adalah pemboleh ubah bebas manakala
kemurungan adalah pemboleh ubah terikat.
Model dan perspektif yang digunakan oleh pihak-pihak tertentu seperti masyarakat atau
institusi kerajaan dalam mendefinisikan isu penagihan dadah mempunyai kesan langsung ke atas
sokongan sosial terhadap penagih dadah semasa dan selepas mereka menjalani program
pemulihan. Misalnya, dari perspektif budaya, kebanyakan kelompok masyarakat melabelkan
penagihan dadah sebagai tingkah laku yang dianggap sebagai melanggari nilai-nilai budaya arus
perdana. Serius atau tidak pelanggaran tersebut mungkin bergantung kepada nilai sesebuah
masyakarat dalam hal penagihan itu sendiri. Semakin serius penilaian tingkah laku penagihan
dadah maka semakin tinggi pula penolakan dan hukuman yang disediakan oleh pihak yang
bertanggungjawab, samada kepada pengguna, penagih atau pengedar.
Sokongan sosial didefinisikan sebagai wujudnya orang-orang yang memberi tahu
individu lain bahawa mereka mengambil berat, menghargai dan menyayanginya (Sarason, Levine
& Basham, 1983). Realitinya sokongan sosial membantu individu menghadapi masalah kesihatan
dengan lebih baik, meningkatkan semangat kekitaan, matlamat dan harga diri dan merangsang
kesihatan mental yang positif. Malah sokongan sosial juga boleh membantu mengatasi masalahmasalah asas yang mendorong kepada kemurungan. Hal ini selaras dengan kenyataan oleh Cohen
& Willin(1985): Turner, (1981) bahawa sokongan sosial juga dikaitkan dengan pengurangan
masalah kesihatan mental.
Oleh yang demikian, aspek sokongan sosial memainkan peranan penting terhadap
seseorang individu terutama bagi mereka yang berada di pusat pemulihan. Keperluan sokongan

91

sosial ini membolehkan individu mencapai matlamat dan memenuhi kehendak serta memperolehi
kesejahteraan hidup. Menurut Burke dan Weie (1979) dalam Wong Mee Tuan (2002), individu
yang gagal memperolehi sokongan sosial menyebabkan beliau mengalami perasaan rendah diri
dan merasa tidak dihargai serta membawa kepada berlakunya kemurungan.
Sokongan sosial akan menjadikan invidu lebih berani meneruskan kehidupan mereka. Ini
kerana dengan sokongan sosial yang diperolehi akan merasakan bahawa ada insan lain yang akan
menyokong dan mengambil berat serta menyayangi mereka. Keperluan kasih sayang ini
membuatkan mereka yakin untuk berdiri atas kaki mereka sendiri apabila mereka berada di luar
kelak.
Manakala kemurungan pula ialah salah satu daripada masalah kesihatan mental.
Kemurungan didefinisikan sebagai kehilangan minat dan juga kegembiraan dalam hampir
kesemua aktiviti harian sekurang-kurangnya dalam masa dua minggu. Menurut Kauffman (2001)
kemurungan dalam kalangan kanak- kanak dan remaja merupakan satu isu yang kontroversi sejak
sedekad yang lalu. Selain itu,kemurungan juga merujuk kepada perasaan sedih yang dialami oleh
seseorang individu (Wicks-Nelson dan Israel 2003).
Menurut Mohd. Sufian (2004), kemurungan adalah suatu masalah yang tidak seimbang
emosi di mana biasanya dialami manusia yang berdepan dengan kekecewaan atau tekanan dalam
kehidupan harian mereka. Menurut dapatan kajian Loke Kwok Hien dan Mohd. Hussain (1997)
dalam Mohd. Hussain dan Ahmad Hatim (2006), mendapati bahawa kemurungan berlaku apabila
terdapat gangguan dalam proses pemikiran. Pesakit sering ketawa atau senyum tanpa sebab.
Di dalam kajian ini, pengkaji mengklasifikasikan sokongan sosial kepada empat dimensi
iaitu Dimensi Emosi, Dimensi Maklumat, Dimensi Pendampingan dan Dimensi Alatan. Keempatempat dimensi ini mempunyai kekuatan yang tersendiri bagi mempengaruhi tahap kemurungan
seseorang.
Emosi menurut dewan bahasa dan pustaka (kamus pelajar edisi kedua) ialah satu perasaan
yang kuat seperti gembira, sedih, takut dan lain-lain. Keadaan emosi yang terangsang dan
melibatkan perubahan psikologi dan fisiologi seseorang. Emosi yang terganggu juga boleh
menyebabkan gangguan dalam kehidupan sesorang, mereka yang tidak berjaya mengawal emosi
mereka boleh mneyebabkan mutu kehidupan mereka tidak berkualiti, contoh sekiranya mereka
tidak dapat mengawal emosi marah, mereka akan dijauhi oleh ramai orang di sekeliling mereka.
Dimensi emosi yang merujuk kepada sokongan sosial di dalam kajian ini ialah untuk
melihat apabila penagih dadah mendapat sokongan sosial dari sudut dimensi emosi ini akan dapat
mengurangkan kemurungan dikalangan penagih. Sokongan emosi ini termasuklah penghargaan,
penghormatan, memahami perasaan, memberi perhatian, memahami perasaan dan lain-lain.
Sokongan dari sudut dimensi emosi ini lebih berkesan sekiranya ianya datang dari kalangan orangorang yang terdekat terutamanya seperti keluarga dan rakan-rakan.
Dimensi maklumat pula, bermaksud keterangan atau butir-butir mengenai sesuatu, data
yang mempunyai pelbagai bentuk dan makna yang tertentu (Kamus Pelajar Edisi Kedua).
Maklumat juga boleh dikategorikan kepada dua jenis maklumat iaitu yang baik, benar dan
sebaliknya. Sekiranya mendapat maklumat yang baik ianya boleh membantu individu untuk
menguruskan kehidupan dengan lebih teratur dan jika mendapat maklumat yang salah ini
menyebabkan individu akan membuat tafsiran yang tidak benar mengenai sesuatu perkara. Untuk
itu, dimensi maklumat dalam kajian ini merujuk kepada sokongan sosial iaitu sekiranya penagih
dadah mendapat maklumat mengenai sesuatu perkara.
Damping atau berdampingan bermaksud bersama-sama, iaitu hubungan yang rapat
sesama manusia, menyertai sesuatu dan lain-lain (Kamus Pelajar Edisi Kedua) Secara umumnya
manusia memerlukan sesorang yang rapat dengannya dalam menguruskan kehidupan, boleh
berkongsi masalah dan kejayaan. Mereka yang rapat ini tediri dikalangan ahli keluarga dan rakanrakan yang rapat. Konteks perdampingan untuk sokongan sosial di dalam kajian ini ialah mereka
yang rapat dan ada bersama-sama penagih semasa mereka memerlukannya. Sering menemani
penagih jika mengalami tekanan, sering bersembang bersama penagih dan sering mengambil tahu
tentang perkembangan diri penagih dadah.
Alatan di dalam konteks sokongan sosial dalam kajian ini bermaksud sekiranya ada yang
menawarkan sesuatu kepada penagih seperti meminjamkan wang, menawarkan tempat tinggal,
memberikan keizinan kepada barang-barang mereka untuk digunakan penagih atau dengan
ringkasnya memberi bantuan-bantuan tertentu kepada penagih yang dapat mengurangkan beban
mereka. Dengan bantuan-bantuan dari sudut dimensi alatan sebegini dapat mengurangkan
kemurungan dalam kalangan penagih dadah.

92

Menyedari akan keperluan sokongan sosial ini, pengkaji berpendapat bahawa kajian
tentang hubungan sokongan sosial dengan kemurungan perlu dijalankan. Ini kerana dengan kajian
yang dilakukan, terdapat pihak-pihak yang akan tampil memberikan lebih banyak lagi sokongan
sosial bagi menceriakan lagi kehidupan seseorang walaupun bergelar penagih dadah.
METOD
Kajian ini dijalankan dengan menggunakan reka bentuk kajian, iaitu melalui pengeadaran borang
soal selidik. Seramai 100 responden yang dijalankan di Sekitar Sabah. Instrumen yang digunakan
adalah Reynolds Adolescent Depression Scale (RADS) danInventory of Socially Supportive
Behaviors (ISSB). Nilai kebolehpercayaan Cronbach’s Alpha secara keseluruhan bagi instrumen
sokongan sosial adalah Cronbach’s Alpha 0.855. Manakala nilai kebolehpercayaan Cronbach’s
Alpha bagi instrumen kemurungan adalah Cronbach’s Alpha 0.852. Nilai ini menunjukkan bahawa
alat kajian ini merupakan alat kajian yang mempunyai tahap keesahan yang sangat baik dan boleh
digunakan.
Keputusan
Analisis deskriptif telah digunakan bagi menghuraikan demografi responden yang terdiri dari
umur, bangsa dan agam yang ditunjukkan dalan Jadual 1.

Demografi

Jadual 1 Demografi Subjek
Kekerapan

Peratus

Umur
15 tahun – 40 tahun

96

96

41 tahun – 45 tahun

4

4

Bangsa
Melayu
Cina
Lain-lain

50
9
41

50
9
41

Agama
Islam
Kristian
Buddha

81
15
4

81
15
4

Berdasarkan Jadual 2, dapatan menunjukkan skor min sokongan sosial tidak
menunjukkan taburan menyeluruh yang dapat dibahagikan kepada dua kategori (rendah,
sederhana, tinggi). Misalnya kekerapan yang paling sedikit untuk tahap rendah iaitu 1 (1 peratus),
manakala tahap tinggi pula menunjukkan kekerapan paling banyak iaitu 99 (99 peratus).
Jadual 2 Tahap Sokongan Sosial
Tahap Sokongan Sosial

Kekerapan

Peratus

Rendah

1

1.0

Tinggi

99

99.0

Jumlah

100

100

93

Berdasarkan Jadual 3, dapatan menunjukkan skor min bagi kemurungan tidak menunjukkan
taburan menyeluruh yang dapat dibahagikan kepada tiga kategori (rendah, sederhana, tinggi).
Misalnya kekerapan yang paling sedikit untuk tahap tinggi iaitu 4 (4 peratus), manakala tahap
rendah dengan peratusan sebanyak 14 (14 peratus) dan tahap sederhana pula menunjukkan
kekerapan paling banyak iaitu 82 (82 peratus).
Jadual 3 Tahap Kemurungan

Tahap Kemurungan

Kekerapan

Peratus

Rendah
Sederhana

14
82

14.0
82.0

Tinggi

4

4.0

Jumlah

100

100

Analisis Inferensi
Hubungan Sokongan Sosial Dimensi Emosi, Maklumat, Pendampingan dan
Alatan dengan Kemurungan.
Dapatan menunjukkan hubungan negatif yang signifikan antara kesemua sokongan sosial dimensi
emosi (r=-.249;p<0.01), dimensi maklumat (r=-.244;p<0.0), dimensi alatan (r=-.136;p<0.01) dan
dimensi pendampingan (r=-.201;p<0.01). Hasil kajian ini seiring dengan kajian-kajian lepas yang
mendapati sokongan sosial mempunyai hubungan dengan kemurungan.
Jadual 6 Analisis Korelasi Hubungan Sokongan Sosial Emosi, Maklumat, Alatan
dan Pendampingan dengan Kemurungan
Dimensi
Sokongan Sosial
Emosi
Maklumat
Pendampingan
Alatan
N = 100
*signifikan pada aras k<.05

Korelasi
-.249(**)
-.244(**)
-.201 (**)
-.136 (**)

PERBINCANGAN
Hubungan Dimensi Emosi Dengan Kemurungan
Dapatan secara khususnya telah menunjukkan kepentingan dimensi emosi sebagai domain yang
paling kuat berhubungan dengan kemurungan dalam kalangan penagih dadah. Hal ini mendapati
dimensi emosi meningkatkan kemampuan individu dalam menangani perasaan dengan tepat
sehingga mencapai keseimbangan dalam diri individu. Mengawal emosi yang tidak stabil
merupakan kunci menuju kesejahteraan emosi. Emosi berlebihan akan menghilangkan kestabilan
kita. Keupayaan ini termasuk keupayaan untuk berhibur, kemurungan atau akibat-akibat yang
ditimbulkannya serta kemampuan untuk membangkitkan perasaan yang tertekan.
Dapatan ini juga konsisten melalui kajian oleh Mahadir Ahmad, Normah Che Din dan
Fauziah Shaari (2004) yang telah membuktikan bahawa reaksi emosi mempunyai pengaruh yang
signifikan dalam menyumbang kepada ciri kebimbangan dan dalam status kesihatan mental
subjek. Ini bermakna tindak balas emosi terhadap tekanan lazimnya akan disalurkan ke dalam

94

bentuk kebimbangan di kalangan juvana seperti mengalami perubahan dari segi corak tidur, rasa
resah, cemas, gementar dan tegang. Begitu juga juvana yang mempunyai ciri kebimbangan atau
berada dalam situasi bimbang dan resah akan cenderung menunjukkan tindak balas emosi apabila
berdepan dengan situasi tertekan.
Dimensi emosi ini juga disokong oleh Teori Keperluan yang diasaskan oleh Abraham
Maslow. Maslow melihat manusia dengan pandangan optimis iaitu memfokuskan terhadap
kesihatan psikologi berbanding penyakit. Perkembangan manusia dengan melihat kepada potensi
dan juga kebaikan manusia berbanding kelemahan yang timbul (Maddi,1996). Maslow telah
membina satu piramid yang lebih dikenali sebagai hirarki keperluan Maslow. Terdapat lima
keperluan tingkah laku yang mempengaruhi dan mengarah tingkah laku manusia iaitu keperluan
fisilogi, keperluan keselamatan, keperluan kasih sayang, keperluan penghargaan kendiri dan juga
keperluan kesempurnaan kendiri. Menurut Maslow lagi, manusia memerlukan keperluankeperluan ini bermula dari dasar piramid iaitu keperluan fisiologi. Keperluan fisiologi ialah
keperluan asas seperti makanan dan minuman serta tempat tinggal. Segala keperluan ini adalah
semulajadi, timbul dari aspek dalaman manusia dan ia diperturunkan secara biologi yang mana ia
akan turut mempengaruhi tingkah laku seseorang manusia itu. Keperluan ini diwarisi sejak lahir,
tetapi tingkah laku untuk memenuhi segala keinginan ini adalah dipelajari dan ia menyebabkan
tingkah laku ini berbeza dari seorang dengan seorang yang lain. Setelah keperluan ini dapat
dipenuhi, barulah ia bergerak ke peringkat yang seterusnya iaitu keperluan keselamatan sehingalah
kepada keperluan yang paling atas iaitu keperluan kesempurnaan kendiri. Sekiranya manusia tidak
dapat memenuhi keperluan yang paling asas, ia tidak akan berpindah kepada keperluan yang
seterusnya.
Hubungan Dimensi Maklumat Dengan Kemurungan
Dapatan kajian menunjukkan hubungan dimensi maklumat memperlihatkan aspek sokongan sosial
kedua tertinggi berhubungan dengan kemurungan. Definisi maklumat ialah saluran atau informasi
yang disampaikan kepada penagih dadah samada maklumat yang benar atau sebaliknya. Maklumat
ini disampaikan dalam pelbagai metod seperti lisan, media cetak, perbuatan dan sebagainya. Ini
menunjukkan bahawa maklumat mempunyai hubungan yang signifikan dengan kemurungan
penagih dadah. Apabila maklumat yang disampaikan kepada penagih adalah maklumat yang betul
dan tepat, maka kemurungan akan rendah dan kurang.
Dapatan ini disokong oleh Fauziah Ibrahim & Bahaman Abu Samah (2011), yang
membuat kajian berkaitan persepsi penghuni PUSPEN (Pusat Pemulihan Penagihan Narkotik)
terhadap program pemulihan penagihan narkotik di Malaysia dan perkaitannya dengan
kecenderungan penghuni untuk menagih semula. Hasil kajian beliau mendapati terdapat
sebilangan besar iaitu hampir 65% penghuni yang ditahan menunjukkan rasa tidak puas hati
terhadap perkhidmatan program rawatan dan pemulihan yang disediakan. Antara maklumat yang
diperolehi sepanjang pemulihan dadah meliputi dari aspek fizikal, psikologikal, vokasional,
disiplin, keagamaan, sivik dan tatanegara, kekeluargaan, kemasyarakatan dan riadah.
Hubungan Dimensi Pendampingan Dengan Kemurungan
Dapatan kajian menunjukkan hubungan dimensi pendampingan memperlihatkan domain sokongan
sosial ketiga tertinggi berhubungan dengan kemurungan. Ini menunjukkan bahawa pendampingan
juga mempunyai hubungan yang signifikan dengan kemurungan penagih dadah. Maksud
pendampingan ialah individu yang berhampiran dengan penagih dadah seperti keluarga, saudara
mara, jiran tetangga, rakan taulan dan sebagainya.
Dapatan ini disokong oleh Teori kemurungan kognitif Beck adalah teori bagi mengatasi
kemurungan dikalangan pelajar, Kebanyakan tanda-tanda kemurungan adalah berpunca dari sikap
dan pemikiran individu yang negatif iaitu gejala dan tanda-tanda menujukkan kemurungan adalah
akibat daripada pemikiran yang tidak tenteram yang boleh menyebabkan konflik dan tekanan
psikologikal. Contohnya mereka gagal melihat keluarga adalah satu persekitaran yang sihat dan
boleh memberikan kebahagiaan kepada mereka. Punca konflik antara pelajar tersebut dengan ibu
bapa berkaitan dengan dengan isu interpersonal. Kekurangan dan gangguan interaksi yang
berkesan akan menyebabkan jiwa remaja memberontak dan boleh mendorong mereka
bertingkahlaku devian.

95

Hubungan Dimensi Alatan Dengan Kemurungan
Dapatan kajian menunjukkan hubungan dimensi alatan memperlihatkan domain sokongan sosial
paling rendah berhubungan dengan kemurungan. Ini menunjukkan bahawa alatan mempunyai
hubungan yang signifikan yang rendah dengan kemurungan penagih dadah.
Definisi alatan di sini ialah suatu bentuk fizikal yang memberikan kemudahan dan
kesenangan kepada seseorang. Contoh kemudahan tempat tinggal, kenderaan, harta benda dan
sebagainya. Berdasarkan dapatan, dimensi alatan memperlihatkan dimensi yang paling rendah
berbanding dimensi-dimensi yang lain. Ini menunjukkan dimensi alatan memberikan sumbangan
yang sangat rendah bagi mempengaruhi tahap kemurungan penagih dadah.
KESIMPULAN
Sokongan sosial mempunyai hubungan dengan kemurungan yang menyebabkan dimensi-dimensi
sokongan sosial menjadi asas penting bagi tingkah laku penagih dadah. Ini kerana melalui dimensi
yang telah dijalankan dapat mengenalpasti dimensi yang manakah yang paling memberi pengaruh
yang signifikan terhadap kemurungan. Dalam hal ini, keempat-empat dimensi iaitu emosi,
maklumat, pendampingan dan alatan berperanan untuk memenuhi keperluan dan menangani tahap
kemurungan dalam kalangan penagih dadah.
Melalui dimensi-dimensi ini juga, pihak-pihak yang bertanggungjawab dan yang terlibat
secara langsung atau tidak langsung dalam mendepani isu penagihan dadah dapat menyediakan
bekalan secukupnya kepada penagih dadah bagi mengatasi dan mengelakkan penagih dadah
terlibat dalam kemurungan seterusnya dapat meninggalkan najis dadah secara keseluruhannya.

RUJUKAN
Cohen & Willis, (1985): Turner, (1981). A Quasi-experiment on the Effects Of Superordinate
Categorisation on Liking of People from Other Nations. Psychology & Developing
Societies, Vol. 20, No. 2, 183-208 (2008)
Fauziah Ibrahim, Bahaman Abu Samah, Mansor Abu Talib dan Mohd Shatar Sabran (2011).
Faktor Menyumbang Kepada Penagihan Relaps Dalam Kalangan Penagih Dadah
PUSPEN di Semenanjong Malaysia, Jurnal AADK, Jld 5.
Kamus Dewan Edisi Ketiga. (2002). Kuala Lumpur : Dewan Bahasa Dan Pustaka
Kauffman (2001) Are child, adolescent, and adult-onset depression one and the same disorder ?
US National Library of MedicineNational Institutes of Health
Maddi, S.R. (1996). Personality theories: a comparative analysis (6th ed.).
America: Brooks/Cole Publishing Company

United State of

Mahadir Ahmad, Normah Che Din dan Fauziah Shaari (2004) Reaksi Tekanan Terhadap
Kesihatan Mental Juvana. Jurnal Sains Kesihatan Malaysia 2(2) 2004:53-62
Mohd Hussain Habil dan Ahmad Hatim Sulaiman (2006). Kemurungan: Punca Dan Rawatan.
Kuala Lumpur: UM.
Sarason, Levine & Basham (1983) Assessing social support: The Social Support Questionnaire.
Journal of Personality and Social Psychology, Vol 44(1), Jan 1983, 127-139.
Wicks-Nelson, R., & Israel, A.C (2003). Behavior disorders of childhood (ed.ke-5). Englewood
Cliffs, NJ: Prentice Hall.
Wong Mee Tuan. (2002). Hubungan di antara sokongan sosial dengan kemurungan di kalangan
remaja. Tesis tidak diterbitkan. UKM

96

PENGARUH PENYALAHGUNAAN NARKOBA TERHADAP MOTIVASI BELAJAR
SISWA KELAS XII SMA MUHAMMADIYAH JAKARTA SELATAN
Dr. Titik Haryati, M. Pd
Dosen Bimbingan Konseling
titikharyati50@gmail.com

Abstract
Research conducted at SMA Muhammadiyah 2 3 SMA Muhammadiyah Jakarta and Jakarta, on
odd semester of academic year 2014/2015. The study population was a class XII student at SMA
Muhammadiyah 2 3 SMA Muhammadiyah Jakarta and Jakarta. The sample used as many as 46
students of 295 students drawn randomly, while the use of quantitative methods are quasiexperimental. Instruments used for the variable X (drug abuse) and Y (motivation to learn) is a
questionnaire, before being used for the study of drug abuse instruments and motivation to learn
tested. Calculation obtained value t = 22.439 while the value ttabel (0.05) (46) is 1.88 since
thitung> ttable (22.439> 1.684) it can be concluded Ho received H1 rejected. Conclusion of the
study is that there is the effect of drug abuse on students' motivation.
Keywords: Independence, social interaction.
PENDAHULUAN
Siswa kelas XII adalah siswa yang berusia sekitar 16-17 tahun termasuk remaja awal
yang mengalami fase perkembangan pada peralihan dari masa anak menuju ke masa remaja.
Peralihan, transisi, krisis kebimbangan, keraguan dalam menentukan jati diri akan mudah
dipengaruhi oleh lingkungan. Teman sebaya merupakan salah satu pengaruh kuat dalam perilaku
siswa sehingga dengan mudah akan meniru perilaku orang lain. Narkoba merupakan salah satu
faktor yang terjadi pada siswa ketika siswa merasa mampu meniru orang lain, namun tidak
mengerti bahaya bagi kesehatan dan hukum yang dapat menjerat apabila sudah terjerumus dengan
penyalahgunaan narkoba.
Penyalahgunaan narkoba merupakan penyimpangan perilaku yang terjadi pada generasi
muda dan sangat membahayakan kesehatan yang disebabkan zat-zat adiktif penghancur syaraf,
sehingga tidak dapat berpikir jernih dan sehat. Pengaruh narkoba yang menimbulkan rasa nikmat
dan nyaman berdampak pada perilaku siswa karena penyalahgunaan yang menyebabkan
kecanduan dan menagih terus menerus untuk menkonsumsi obat terlarang. Fungsi syaraf otak yang
terganggu dan perkembangan normal karena keracunan Intoksikasi, Overdosis, dapat
menyebabkan kematian karena terhenti pernafasan (heroin) atau perdarahan otak (amfetamin,
sabu), gejala putus zat, yaitu ketika dosis yang digunakan berkurang atau dihentikan pemakaian.
Siswa sebagai generasi penerus harus disiapkan dengan baik dalam upaya menyiapkan
generasi emas sehngga sehat jasmani dan rochani merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi
agar menjadi generasi yang berkualitas bukan generasi yang rusak mental, fisik karena
penyalahgunaan narkoba.
PERMASALAHAN
Permasalahan yang menjadi fokus penelitian adalah penyebab siswa menyalahgunakan narkoba
sehingga motivasi belajar menurun.
1. Kondisi siswa yang menggunakan narkoba.
2. Sumber Obat terlarang adaptif yang digunakan siswa.
3. Perhatian orang tua pada siswa yang salah dalam menyalahgunakan narkoba.
4. Motivasi siswa yang menyalahgunakan narkoba.
5. Pengaruh penyalahgunaan narkoba terhadap motivasi belajar.
PENGERTIAN NARKOBA
Narkoba merupakan singkatan dari narkotika, psikotropika dan bahan adiktif, Narkoba
merupakan obat, bahan, zat dan bukan tergolong makanan jika diminum, dihisap, ditelan, atau
disuntikan dan dapat menyebabkan ketergantungan juga berpengaruh terhadap kerja otak,
demikian pula fungsi vital organ tubuh lain seperti jantung, peredaran darah, pernapasan. Narkoba
berguna dalam dunia pengobatan, tetapi karena menimbulkan ketergantungan, dan dalam
menggunakan harus mengikuti petunjuk dokter sehingga penggunaan narkoba harus mendapat ijin

97

dari ahli. Napza (Narkotika, Alkohol, Psikotropika, dan Zat Adiktif) merupakan zat makin
memprihatinkan, sejumlah kasus menunjukkan angka yang terus meningkat.Tersangka setiap
kasus bervariasi, ada yang lebih dari satu setiap kasus.
Sejak dikeluarkan Undang-Undang Republik Indonesia nomor: 35 tahun 2009 tentang
narkotika, khususnya Pasal 54 yang menyatakan: ―Pecandu Narkotika dan korban penyalahgunaan
Narkotika wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial, didukung oleh Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor: 25 Tahun 2011. Pelaksanaan Wajib Lapor Pecandu
Narkotika dan Keputusan Menteri Kesehatan No:1305 tahun 2011; tentang penetapan Institusi
Penerima Wajib Lapor (IPWL), serta No. 2171 tahun 2011 tentang; Tata Cara Wajib Lapor
Pecandu Narkotika. Jumlah kasus warga binaan kasus Narkotika Pengguna di Lapas menurun,
akan tetapi secara nyata menurut data dari Sistem Database Pemasyarakatan pada bulan Mei 2012,
warga binaan kasus Narkotika Pengguna masih berada di angka 24,237 orang dari total penghuni
Lapas Pidana Khusus sebesar 55,305 orang, masih menjadi penyumbang angka tertinggi kedua
setelah warga binaan kasus Narkotika Bandar yang sebanyak 27,282 orang. Angka ini memang
mengalami penurunan dari data bulan April 2012 yakni sebesar 24,579 orang warga binaan kasus
Narkotika Pengguna tetapi masih lebih tinggi dari dari data bulan Februari 2012 yaitu sebesar
22,532 orang warga binaan kasus Narkotika Pengguna. Pelaksanaan vonis rehabilitasi untuk
korban penyalahgunaan napza belum dilaksanakan dengan maksimal. Narapidana yang pernah
menggunakan Narkoba suntik sebesar 6,4%, tertinggi di kota Jakarta (13,28%) dan Denpasar
(8,1%), sedangkan yang terendah di Kota Semarang (2,8%). Satu dari lima (17,2%) Narapidana
yang menggunakan Narkoba suntik pertama kali menggunakan di dalam penjara dan sepertiga
dari para pengguna menyatakan masih terus menyuntik di dalam penjara. Mayoritas narapidana
masih menggunakan Narkoba suntik (92,5%), yang menyuntik dengan menggunakan jarum
bekas digunakan orang lain semula (66,7 %). Data yang ada menggambarkan terjadi kerentangan
akan terjadi penularan penyakit akibat penggunaan alat suntik bergantian yang tidak steril dan
terbukti mengkriminalisasi penyalahgunan narkoba dan berdampak pada peningkatan kasus
penyakit HIV/AIDS.
MOTIVASI BELAJAR
Motivasi belajar adalah proses internal yang merupakan salah satu faktor utama yang
menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. Djamarah S.B, (1997:223) menjelaskan bahwa:
―Motivasi ada dua macam yaitu motivasi yang datang dari dalam diri anak, disebut motivasi
intrinsik, dan motivasi yang diakibatkan dari luar, disebut motivasi ekstrinsik ‖. Peran motivasi
dalam proses pembelajaran penting untuk dipahami oleh pendidik agar dapat melakukan berbagai
bentuk tindakan atau bantuan kepada siswa. Motivasi dirumuskan sebagai dorongan, pada faktor
intern maupun ekstern sebagai upaya untuk mencapai tujuan tertentu guna memenuhi atau
memuaskan suatu kebutuhan, yang berhubungan dengan kebutuhan proses pembelajaran.
Motivasi belajar siswa dapat dianalogikan sebagai bahan bakar untuk menggerakkan mesin,
motivasi belajar yang memadai akan mendorong siswa berperilaku aktif untuk berprestasi di kelas,
tetapi motivasi yang terlalu kuat justru dapat berpengaruh negatif terhadap keefektifan usaha
belajar siswa.
METODOLOGI PENELITIAN
1.Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan SMA Muhammadiyah Jakarta Selatan, namun karena SMA
Muhammadiyah yang aktif hanya ada dua sekolah sehingga dilaksnakan penelitian di SMA
Muhammadiyah 2 Jakarta di Jl. Garuda No. 33 Jakarta Pusat dan SMA Muhammadiyah 3 Jakarta
di Jl. Limau I/2 Blok B Jakarta Selatan.
2.Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada semester ganjil Tahun Pelajaran 2013-2014, dimulai
Agustus–Oktober 2014, sebab pada semester ganjil siswa akan masuk ke jenjang tingkat yang
lebih tinggi yaitu pendidikan di Universitas atau dalam upaya untuk mempersiapkan diri bekerja di
masyarakat sehingga diperlukan siswa yang memiliki kesehatan mental bukan karena
menyalahgunakan narkoba, sehingga tidak berprestasi, dan terbelenggu hidup keseharian hanyak
mengkonsumsi narkoba dan terus ketagihan dan sakau.

98

3. Metode Penelitian
Sesuai dengan permasalahan dan uraian pada latar belakang, penelitian dilakukan dengan
menggunakan pendekatan kuantitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah quasi experimental.
Ridwan (2012:50) menjelaskan bahwa: ― Jenis penelitian quasi experimental ―yaitu penelitian
yang dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh antara dua atau beberapa variable‖.,
sehingga teknik experiment peneliti mencari pembuktian atau alasan agar dapat mengetahui
pengaruh variasi dalam sebuah variabel dengan variasi yang lain.
4. Populasi dan Sampel Penelitian
Menurut Sugiyono (2013:14) ―populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas
obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan‖. Populasi dalam penelitian adalah siswa SMA
Muhammadiyah 2 Jakarta dan SMA Muhammadiyah 3 Jakarta berjumlah 295. Sampel adalah
sebagian atau wakil populasi yang diteliti, siswa yang menjadi sampel dalam penelitian adalah
siswa SMA Muhammadiyah 2 dan SMA Muhammadiyah 3 berjumlah 46 sampel
5. Teknik Pengumpulan Data
. Penelitian mengumpulkan data, fakta dan keterangan melalui sebuah penelitian dengan
menggunakan alat pengumpul data menurut Ridwan (2012:76) sebagai berikut :
Observasi adalah suatu cara pengumpulan data dengan mengadakan pengamatan langsung
terhadap suatu obyek dalam suatu periode tertentu dan mengadakan pencatatan secara sistematis
tentang hal-hal tertentu yang diamati. Pengamatan langsung yang dimaksudkan disini dapat berupa
kegiatan melihat, mendengar atau kegiatan dengan alat indra lainnya. Kuesioner adalah suatu
metode pengumpulan data dengan jalan mengajukan suatu daftar pertanyaan tertulis kepada
sejumlah responden, dan responden-responden yang diberikan daftar pertanyaan tersebut diminta
untuk memberikan jawaban secara tertulis pula.
6. Instrumen Penelitian
Angket mengenai Penyalahgunaan Narkoba
Instrumen berupa angket yang dibuat oleh peneliti untuk mengukur pemahaman siswa
tentang penyalahgunaan narkoba siswa sebanyak 50 pernyataan dengan 5 alternatif jawaban yang
berupa sangat setuju, setuju, kadang-kadang, tidak setuju, dan sangat tidak setuju.
Angket Mengenai Motivasi Belajar
Instrumen berupa angket yang dibuat oleh peneliti untuk mengukur motivasi siswa sebanyak
60 pernyataan dengan 5 alternatif jawaban yang berupa sangat setuju, setuju, kadang-kadang,
tidak setuju, dan sangat tidak setuju.
Uji Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan
suatu instrumen. Suatu instrumen yang valid atau sahih mempunyai validitas tinggi. Sebaliknya,
instrumen yang kurang valid berarti memiliki validitas rendah (Arikunto, 2006:168). Uji validitas
instrumen dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh instrumen penelitian mampu mencerminkan
isi sesuai dengan hal dan sifat yang diukur. Artinya, setiap butir instrumen telah benar-benar
menggambarkan keseluruhan isi atau sifat bangun konsep yang menjadi dasar penyusunan
instrumen.
Uji validitas adalah uji tentang kemampuan suatu angket, sehingga benar-benar dapat
mengukur apa yang ingin diukur. Sebuah instrumen valid jika mampu mengukur apa yang
diinginkan dan dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat. Tinggi rendah
validitas menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang
validitas yang dimaksud.
Jika r ( korelasi ), dengan item tersebut valid. Besarnya r tiap butir pertanyaan dapat dilihat
dari SPSS pada kolom Corrected Items Correlation. Kriteria uji validitas secara singkat ( rule of
tumb ) adalah 0,3. Jika Korelasi sudah lebih besar dari 0,3, pertanyaan yang dibuat dikatagorikan
valid/shahih (Setiaji,2004:61).
Uji Reliabilitas
Suatu kuesioner disebut reliable atau handal jika jawaban-jawaban seseorang konsisten
(Setiaji, 2004: 60). Untuk uji reliabilitas instrumen, digunakan rumus Alpha dari Cronbach dalam
Umar (2003: 106). sebagai

99

7. Teknik Analisis Data
Deskripsi Data
Analisis deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara
mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul tanpa bermaksud membuat
kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi. Sistematikanya adalah penyajian data
melalui table, grafik, perhitungan mean, median, modus dan standar deviasi.
Uji Prasyarat Analisis Data
Sebelum analisis statistik dilakukan, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas.
Uji normalitas menggunakan uji Lilliefors dan uji homogenitas menggunakan uji Fisher.
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui sampel berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas
yang digunakan yaitu uji liliefors pada taraf signifikansi α = 0,05 dengan kriteria pengujian, galat
taksiran regresi Y atas X dikatakan berdistribusi normal jika
.
Uji Homogenitas
Teknik yang digunakan untuk uji homogenitas yaitu uji Fisher.
HASIL PENELITIAN
Penelitian dilaksanakan di SMA Muhammadiyah 2 Jakarta di Jl. Garuda No. 33 Jakarta Pusat
dan SMA Muhammadiyah 3 Jakarta di Jl. Limau I/2 Blok B Jakarta Selatan. Kedua sekolah
tersebut termasuk sekolah swasta favorit di Jakarta, kedua sekolah tersebut juga mempunyai
akreditasi yang baik dan selain itu banyak prestasi yang telah di raih di bidang akademik maupun
non akademik.
Fasilitas yang dimiliki SMA Muhammadiyah 2 Jakarta dan SMA Muhammadiyah 3 Jakarta
sudah cukup lengkap dan memadai, seperti lab kimia, lab fisika, lab biologi, lab bahasa, lab
komputer, perpustakaan, kantin, ruang kelas serta sarana dan prasarana lain seperti perlengkapan
di dalam kelas yang cukup lengkap. Tenaga pengajar di sekolah juga harus berkompeten dalam
bidang masing-masing.
1. Data Penyalahgunaan Narkoba
Hasil perhitungan diperoleh data penelitian mengenai penyalahgunaan narkoba dengan
skor tinggi sebesar 99 dan skor terendah 61, banyak kelas 7, panjang kelas 5, nilai mean 79,5 ,
nilai modus 54,39, nilai median 88,85, dan simpangan baku 7,59.
Berdasarkan daftar distribusi frekuensi penyalahgunaan narkoba maka dapat dibuat grafik
histogram
dan poligon penyalahgunaan narkoba.
20
15

histogram

10

poligon

5
0
63,5 69,5 75,5 81,5 87,5 93,5 99,5

Grafik dan tabel terlihat sebagian besar siswa memperoleh skor angket 72,5-78,5
sebanyak 17 siswa atau sebesar 36,95%, skor tertinggi antara 96,5-102,5 sebanyak 1 siswa atau
sebesar 2,17, dan skor terendah 60,5-66,5 sebanyak 2 siswa atau sebesar 4,34%.
Motivasi Belajar
Hasil perhitungan diperoleh data penelitian mengenai motivasi belajar dengan
skor tinggi sebesar 133 dan skor terendah 97, banyak kelas 7, panjang kelas 6, nilai mean
113,97, nilai modus 80,85, nilai median 101,06, dan simpangan baku 7,10.
Berdasarkan daftar distribusi frekuensi penyalahgunaan narkoba maka dapat
dibuat grafik histogram dan poligon sebagai berikut:

100

20
15

histogram

10

poligon

5
0
63.5 69.5 75.5 81.5 87.5 93.5 99.5

Grafik dan tabel terlihat sebagian besar siswa memperoleh skor angket 108,5114,5 sebanyak 16 siswa atau sebesar 34,78%, skor tertinggi antara 132,5-138,5
sebanyak 1 siswa atau sebesar 2,17, dan skor terendah 96,5-102,5 sebanyak 1 siswa atau
sebesar 2,17%.

Uji Hipotesis Penelitian
Perhitungan didapat nilai thitung = 22,439 sedangkan nilai ttabel (0,05)(44) adalah 1,88 karena thitung> ttabel
(22,439 > 1,684) maka dapat disimpulkan Ho ditolak H1 diterima. Kesimpulan hasil penelitian
adalah terdapat pengaruh penyalahgunaan narkoba terhadap motivasi belajar siswa.

PENUTUP
Kesimpulan hasil penelitian terbukti bahwa terdapat pengaruh penyalahgunaan narkoba terhadap
motivasi belajar, dengan demikian penelitian mengandung implikasi bahwa penyalahgunaan
narkoba sangat mempengaruhi motivasi belajar siswa. Penyalahgunaan narkoba terhadap motivasi
belajar sangat mempengaruhi, karena kesuksesan yang akan siswa raih harus dengan mental yang
sehat.
DAFTAR PUSTAKA
B. Hurlock, Elizabeth. 1998. Psikologi Perkembangan. Jakarta : PT. Gelora Aksara Pratama
Dimyati dan Mudjiono. 2006, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta : Rineka Cipta
M. Al-Mighwar. 2006. Psikologi Remaja Petunjuk bagi Guru dan Orang tua. Bandung: Pustaka
Setia
M. Ali, M. Asrori. 2009. Psikologi Remaja. Jakarta : PT. BumiAksara
Nisfiannoor, Muhammad. 2009. Pendekatan Statistik Modern. Jakarta: Salemba Umanika
Riduwan. 2012. Belajar Mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula. Bandung:
Alfabeta
Sardiman, A. M. 2011. Interaksi dan motivasi belajar-mengajar. Jakarta. PT. Raja Grafindo
Persada
Slameto, 2010. Belajar dan Faktor-Faktor yang mempengaruhi. Jakarta: Rineka Cipta
S. Nasution. 2008. Metode Research (Penelitian Ilmiah). Jakarta : Bumi Aksara
Spatz, Chris. 2001. Basic Statistik Tales of Distributions. Wadsworth
Suharsimi Arikunto. Ed. Revisi VI Cetakan ke-13. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta : PT. Rineka Cipta
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung: Alfabeta
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Winardi, J.2011. Motivasi dan Pemotivasian dalam Manajemen. Jakarta : PT. Raja Grafindo
Persada
Yusuf LN, Syamsu, H., Dr., M.pd. 2006. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung :
PT Remaja Rosdakarya

101

PENGARUH STRATEGI DAYA TINDAK TERHADAP TAHAP PEUBAHAN
PEMULIHAN DADAH DALAM KALANGAN PENGHUNI
DI PUSAT PEMULIHAN DADAH
Rosmani Che Dramana, Rizawani Andi Amirb, Nur Aida Jahari c &
Balan Rathakrishnan, PhDd
a,b,c,d

Sarjana Psikologi Kaunseling (Penyalahgunaan Dadah), Universiti Malaysia Sabah, Kota
Kinabalu
e
Pensyarah, Fakulti Psikologi dan Pendidikan, Universiti Malaysia Sabah, Jalan UMS, 88400,
Kota Kinabalu, Sabah

Abstract
This research study the influence of coping styles towards stage of change during rehabilitation
phase on residences in drug rehabilitation centre, Cure and Care Rehabilitation Centre’ (CCRC)
Papar, Sabah. Researcher uses two instrument sets in this research including COPE
inventory(Carver, Scheir & Weintraub, 1989) to measure the coping styles in dealing with
situation and problem and Stage of Change Scale (URICA) to measure the stage of change for
rehabilitation phase with the sample of 50 residences was chosen. Multiple regression analysis
indicates that there are several coping styles influencing the stage of changing during
rehabilitation phase. The subscale of coping styles including positive interpretation and
acceptance, influencing residence’s stage of change for rehabilitation with regression value
R²=0.358 (Beta=0.324, t=2.688, k<0.05). Suggestion and action for future research were
discussed.
Keywords: COPE, URICA, Drug Rehabilitation,Coping Styles, Stage of Change
PENGENALAN
Tahun 2015 merupakan tahun yang dijangkakan untuk negara Malaysia bebas daripada
penyalahgunaan bahan. Sejauh mana perubahan statistik pada tahun 2014 adalah tidak pasti ekoran
daripada ketiadaan laporan statistik daripada pihak Agensi Anti-Dadah Kebangsaan (AADK) bagi
tahun 2014. Namun begitu, Laporan Dadah daripada AADK bagi Disember 2013 menunjukkan
penurunan kes penagihan dadah sepanjang tahun 2013 sebanyak 12.77% berbanding tahun 2012
(9015 orang). Secara puratanya, seramai 655 orang penagih yang dikesan dengan 357 orang
daripadanya penagih baru dan 258 penagih berulang.
Pelbagai intervensi dan rawatan yang telah dijalankan namun masih lagi terdapat kes
penagihan yang dikesan. Antara rawatan-rawatan yang dijalankan termasuklah Program
Pendidikan Pencegahan Dadah, rawatan perubatan dan pemulihan, sesi kaunseling, sokongan
sosial daripada badan badan bukan kerajaan dan lain lain lagi. Meskipun telah banyak langkah
yang diambil, kes penagihan tetap di kesan terutamanya penagih berulang juga dikenali sebagai
relaps.
Strategi Daya Tindak
Pelissier & Jones (2005) mengatakan bahawa Teori Pencegahan Relaps menegaskan agar
seseorang individu itu harus mempunyai strategi dan kemahiran daya tindak dalam menghadapi
situasi yang berisiko untuk relaps selepas keluar daripada pusat pemulihan. Strategi dan kemahiran
inilah yang diterapkan di dalam program rawatan dan pemulihan. Ini kerana sejurus sahaja
menjejakkan kaki ke luar pusat pemulihan, risiko untuk terjebak semula dan relaps adalah tinggi
dan ini adalah penting untuk para penagih menghadapinya.
Daya tindak pula ditakrifkan sebagai salah satu usaha seseorang individu dari segi
pemikiran mahupun tingkahlaku yang berubah secara konstan dalam berhadapan dengan sesebuah
keperluan (internal/external) yang melebihi keupayaan normal individu (Folkman & Lazarus,
1980). Folkman & Lazarus (1986) menyatakan bahawa situasi yang memberikan tekanan atau
genting akan mempengaruhi seseorang individu itu memilih untuk berdaya tindak.
Di samping itu, Marlatt (1985) juga bersetuju bahawa daya tindak tingkah laku yang
terdapat dalam Model Pemikiran-Tingkahlaku menjadi satu mediator antara keberkesanan kendiri
dan kemungkinan untuk relaps dalam situasi genting. Marlatt (1985) mendefinisikan situasi

102

genting sebagai sebarang bentuk ancaman terhadap kawalan diri individu dan keupayaan untuk
menangani masalah tersebut tanpa terjerumus didalam kancah dadah semula.
Terdapat 15 skala dalam inventori COPE(Carver, Scheir & Weintraub, 1989)
termasuklah aktif, perancangan, pemendaman, penahan, sokongan instrumental, sokongan emosi,
interpretasi positif, penerimaan, agama, penafian dan penggunaan bahan. Aktif dalam konteks ini
bermaksud proses dalam mengambil sesuatu tindakan atau langkah untuk membuang penyebab
masalah tersebut atau mengurangkan kesan daripada masalah itu. Perancangan membawa maksud
bagaimana seseorang individu itu berfikir untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan pelan
tindakan dan strategi. Pemendaman dari sudut aktiviti yang melibatkan persainganpula ialah di
mana individu tersebut membiarkan sahaja sesuatu masalah itu berlaku tanpa menghiraukannya
untuk mengelakkan daripada terganggu dengan masalah itu.
Daya tindak menahan pula ialah apabila seseorang individu itu menahan dirinya daripada
berkelakuan tidak matang untuk mengelakkan daripada kesan yang lebih buruk daripada masalah
tersebut. Seterusnya sokongan instrumental iaitu mendapatkan sokongan berbentuk nasihat,
pertolongan mahupun maklumat manakala sokongan emosi pula ialah mendapatkan sokongan dari
sudut sokongan moral, simpati dan memahami perasaannya. Interpretasi positif pula memahami
dan menilai secara positif mengenai sesuatu masalah atau situasi yang memberi tekanan.
Penerimaan berlaku apabila individu tersebut dapat menerima realiti stress yang dihadapi. Apabila
mengalami stress, terdapat juga individu yang kembali kepada agama agar lebih tenang. Penafian
adalah apabila individu itu enggan menerima hakikat bahawa apa yang dilaluinya itu memberi
tekanan terhadapnya. Dan yang terakhir adalah penggunaan bahan seperti dadah dan alkohol
dalam menangani sesebuah situasi atau masalah.
University of Rhodes Island Change Assessment (URICA)
University of Rhodes Island Change Assessment (URICA) salah satu instrumen yang digunakan
untuk mengukur tahap kebersediaan seseorang pengguna bahan untuk berubah tingkahlaku
mengikut Trantheoritical Model Stage of Change. Teori ini terdiri daripada beberapa tahap iaitu
Pre-contemplation, Contemplation, Preparation, Action, Maintenance. Pre-contemplation adalah
fasa di mana individu tersebut masih tidak mempunyai niat atau tidak peka dengan perubahan
yang perlu dilakukannya. Manakala contemplation pula ialah individu telah mula menyedari
tentang masalah yang dihadapi. Action adalah dimana individu sudah mula mengambil tindakan
untuk mengatasi masalah itu. Seterusnya ialah maintenance tahap di mana individu tersebut
berusaha untuk kekal dalam perubahan itu dan untuk mengelakkan daripada berlakunya relaps
dalam konteks penagihan dadah. Item yang terdapat dalam URICA ini adalah berkisar tentang
sikap, niat dan tingkahlaku berkait dengan target tingkahlaku yang mahu diubah (Callaghan et. al,
2005). Daripada dirumuskan bahawa, hipotesis pengkaji ialah terdapat pengaruh subskala COPE
yang mempengaruhi tahap perubahan seseorang individu itu untuk berubah dalam pemulihan
dadah.
Metodologi
Kajian ini merupakan satu bentuk kajian tinjauan (survey) yang menggunakan kaedah
kuantitatif. Pengumpulan data dilaksanakanmelalui kaedah soal selidik. Analisis data dijalankan
dengan menggunakan rekabentuk regresi pelbagai iaitu Multiple Regression kaedah Stepwise.
Kajian ini melibatkan 50 orang responden yang dipilih secara rawak dalam kalangan penghuni
Cure & Care Rehabilitation Centre (CCRC), Papar. Sample kajian ini mewakili populasi CCRC,
Papar seramai 322 orang resident yang sedang menjalani rawatan kepulihan dadah. Instrumen
yang digunakan meliputi tiga bahagian yang mana bahagian A mengandungi data demografi
responden, bahagian B pula mengandungi soal selidik Daya Tindak (COPE Inventory) yang terdiri
daripada 40 item manakala Bahagian C melihat tahap perubahan menggunakan soal selidik
URICA ( University of Rhode Island Change Assessment Scale) yang terdiri daripada 32 item.
Pengkaji mendapati bahawa nilai kebolehpercayaan bagi soal selidik COPE adalah tinggi iaitu
dengan nilai koefisien alfa 0.832. Nilai kebolehpercayaan Cronbach’s Alphabagi inventori URICA
pula adalah 0.881.
Keputusan
Dalam kajian ini, pengkaji hanya mengambil data diskriptif jantina , umur dan tahap perubahan
mengikut Transteoritikal Model Tahap Perubahan responden. Responden yang terlibat merupakan

103

adalah 100% berjantina lelaki. Berikut merupakan jadual kekerapan dan peratusan bagiumue,
tahap pendidikan, kekerapan relaps dan tahap perubahan untuk kepulihan responden.
Jadual 4 Kekerapan dan Peratus Umur
Pembolehubah
Kekerapan
Umur
1 (18 – 27)
23
2 (28 – 37)
3 (38 – 47)
4 (≤48)
Tahap Pendidikan
UPSR/PMR
SPM
STPM/Diploma
Ijazah

Peratus (%)
46

17
9
1

34
18
2

6
20
24
0

12
40
48
0

25
21
4

50
42
8

15
25
10
0

30
50
20
0

Relaps
1
2
3
Tahap Perubahan
Pre-Contemplation (0 – 8)
Contemplation (8.1 – 11)
Action (11.1 – 13.9)
Maintenance (≤14)

Tahap perubahan 1 mewakili tahap Pre-contemplation dengan julat hasil tambah item 0 – 8,
Contemplation bagi tahap 2, tahap perubahan 3 bagi Action manakala 4 mewakili Maintenance.
Hasil analisis diskriptif menunjukkan tiada seorang responden yang berada pada tahap 4 iaitu
maintenance kerana kebanyakan daripada penghuni merupakan penagih berulang.
Analisis Inferensi
Sehubungan dengan objektif pengkaji untuk melihat pengaruh daya tindak terhadap tahap
perubahan seseorang penagih dalam pemulihan dadah dengan menggunakan analisis regresi
pelbagai. Didapati bahawa hasil kajian menunjukkan di antara 10 subskala COPE yang digunakan,
hanya 2 subskala iaitu interpretasi positif dan penerimaan yang menunjukkan bahawa daya tindak
seseorang penagih mempengaruhi tahap perubahan seseorang penagih dalam pemulihan dadah
dengan nilai regresi keseluruhan R²=0.358 (Beta=0.324, t=2.688, k<0.05). Berikut merupakan
dapatan analisis regresi bagi dua subskala daya tindak yang terlibat.
Jadual 8 Analisis Regresi mengenai Tahap Perubahan
Subskala Daya Tindak
Beta
t
Sig.
Interpretasi Positif
0.510
4.150
0.000
Penerimaan
0.324
2.688
0.010

Perbincangan
Hasil dapatan kajian menunjukkan bahawa subskala daya tindak interpretasi positif dan
penerimaan sememangnya mempengaruhi tahap perubahan kepulihan penagih dadah. Hal ini
menunjukkan bahawa perubahan tahap kepulihan dadah dipengaruhi oleh elemen daya tindak
individu.
Dapatan kajian daripada Humphreys et al (1999) daripada 2867 dalam sampel kajiannya
yang merupakan penagih dadah di California menunjukkan bahawa respons aktif daya tindak
(penyelesaian masalah tingkah laku dan interpretasi positif) oleh responden menunjukkan
peningkatan sebelum (min= 10.3, 10.0) dan selepas (min= 12.2, 11.2). Namun begitu kajian ini

104

dikaji bersama dengan pengaruh rangkaian persahabatan dalam kalangan penagih yang menyertai
kajian ini.
Walau bagaimanapun, hasil kajian yang dijalankan oleh Mahmood Nazar (2003)
menunjukkan bahawa penagih berulang lebih menggunakan daya tindak penafian terhadap
penggunaan dadah manakala penagih pertama kali lebih terjurus kepada agama, melepaskan emosi
dan perancangan.
Selain daripada itu, kajian Schmitz et al (1995) terhadap sampel pengguna bahan daripada
pusat rawatan psikiatrik Houston, Texas (n=24) melalui temu bual dan rakaman suara mengenai
daya tindak apabila berhadapan dengan situasi genting. Hasil kajian menunjukkan daya tindak
pemikiran aktif, tingkah laku aktif, pengelakkan dan mendapatkan bantuan adalah lebih menonjol
dalam berhadapan dengan situasi genting.
Salah satu keputusan berkaitan pengelakkan menunjukkan bahawa penagih dadah
bertindak untuk mengelakkan diri daripada bertemu semula dengan rakan lama yang terlibat
dengan dadah. Setelah mengetahui strategi daya tindak seseorang penagih dalam berhadapan
dengan pemulihan dadah, pengkaji mencadangkan agar penerapan kemahiran daya tindak dalam
menghadapi situasi genting selepas melangkah keluar dari pusat pemulihan adalah sangat penting
diterapkan ke dalam proses rawatan pemulihan.
Walau bagaimanapun, tidak semua skala di dalam instumen daya tindak memberikan
hubungan yang positif terhadap penggunaan bahan. Willis (1986) dalam kajiannya ‗Tekanan dan
Daya Tindak pada Awal Kedewasaan‘ menunjukkan bahawa dalam kalangan pelajar gred tujuh
dan lapan sekolah di bahagian bandar (n=901), empat jenis daya tindak (daya tindak tingkah laku,
daya tindak pemikiran, sokongan sosial dewasa dan relaksasi) secara songsangnya berhubung
dengan penggunaan bahan. Pengukuran indeks sokongan daripada rakan, gangguan daya tindak,
dan agresif pula menunjukkan hubungan yang positif dengan penggunaan bahan.
Setelah mengetahui strategi daya tindak seseorang penagih dalam berhadapan dengan
pemulihan dadah, pengkaji mencadangkan agar penerapan kemahiran daya tindak dalam
menghadapi situasi genting selepas melangkah keluar dari pusat pemulihan adalah sangat penting
diterapkan ke dalam proses rawatan pemulihan.
Kesimpulan
Kajian ini memberi impak positif terhadap penggunaan soal selidik COPE untuk melihat pengaruh
dimensi daya tindak terhadap proses kepulihan dadah. Justeru, dalam usaha membantu merawat
dan memulihkan penagih dadah. Ternyata penerapan dan pelaksanaan ujianstrategi daya tindak
agar ia dapat membantu dalam proses pemulihan sekaligus dapat mengelakkan daripada masalah
penagihan berulang (relaps).

Rujukan
Callaghan, R. C., Taylor, L., Moore, B. A., Jungerman, F. S., De Biaze Vilela, F. A., & Budney,
A. J. (2008). Recovery and URICA stage-of-change scores in three marijuana treatment studies.
Journal of Substance Abuse Treatment 35 (2008) 419–426
Carver, C. S., Scheier, M. F., & Weintraub, J. K. (1989). Assessing coping strategies: A
theoretically based approach. Journal of Personality and Social Psychology, 56, 267–
283
Greenstein, D. K., Martin E. F & McGuffin, P. (1999). Measuring motivation to change: An
examination of the University of Rhode Island Change Assessment Questionnaire
(URICA) in an adolescent sample. Psychotherapy: Theory, Research, Practice, Training,
Vol 36(1), 1999, 47-55
Hapsah Md. Yusof (2007). Personaliti Sebagai Peramal Daya Tindak Dalam Kalangan Pelajar Di
Sekolah Menengah Di Daerah Batang Padang, Perak. Penyelidikan Tidak Diterbitkan,
Universiti Pendidikan Sultan Idris
Humphreys, K., Mankowski, E. S., Moos, R. H., & Finney, J. W. (1999) Do Enhanced
Friendship Networks And Active Coping Mediate The Effect Of Self-Help Groups
On Substance
Abuse?. Annals Behaviour Medicine, 21(1):54-60)

105

Laporan Dadah Disember 2013, (AADK 2013)
Lazarus, R. S., & Folkman, S. (1986). Stress, appraisal and coping. New York: Springer
Ledgerwood, D. M., & Petry, N. M. (2006). Does contingency management affect motivation to
change substance use? Journal of Drug and Alcohol Dependence, 83 (1), 65-72
Marlatt, A. (1985). Relapse prevention: Theoretical rationale and overview of the model: Relapse
prevention. Cordon (Eds.). NewYork: Cuilford
McConnaughy, E. A., Prochaska, J.O., Velicer, W.F. (1983). Stages of change in psychotherapy:
measurement and sample profiles. Psychotherapy: Theory Res. Pract. 20, 368–375
Monti, P. M., Rohsenow, D. J., Michalec, E., Martin, R. A. and Abrams, D. B. (1997), Brief
coping skills treatment for cocaine abuse: substance use outcomes at three months.
Addiction, 92: 1717–1728
Pelissier, B. Jones, N. (2006). Gender differences in substance use treatment entry and retention
among prisoners with substance use histories. Journal of Substance Abuse Treatment 30,
113–120
Rohsenow, D. J., Monti, P. M., Martin, R. A., Colby, S. M., Myers, M. G., Gulliver, S. B.,
Brown, R. A.,
Mueller, T. I., Gordon, A. and Abrams, D. B. (2004), Motivational
enhancement
and coping skills training for cocaine abusers: effects on substance
use outcomes. Addiction, 99: 862–874
Schmitz J.M., Oswald L.M., Damin, P. and MattiS, P. (1995). Situational Analysis of Coping in
Substance-Abusing Patients. Journal of Substance Abuse, 7f2), 189-204
Wills, T. A. (1986). Stress and coping in early adolescence: Relationships to substance use in
urban school samples. Health Psychology, 5, 503-529

106

PERAN PENDIDIKAN DALAM MENINGKATKAN SDM
MEMASUKI MEA
Dr. Hera Heru Sri Suryanti, MPd*
Email: heraheruyanti@yahoo.com
Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling
FKIP UNISRI SOLO
Abstract
The purpose of the paper is to know how is the role of education in the Human Resource
Development Improvement entering ASEAN Economic Society. The method of the paper is survey
documentation which is collected by the results of the previous research and supported by books.
This paper concluded that life skill education and character education is one of the solutions of
HRD improvement to be able to compete in the ASEAN economic Society. It is suggested for the
educators to improve the quality of teaching and learning process which is cover life skill and the
students’ character.
Keywords: HRD, MEA, Life Skills Education, Character education.

PENGANTAR
Pada tahun lalu, para pemimpin Asean sepakat membentuk sebuah pasar tunggal di
kawasan Asia Tenggara pada akhir 2015 mendatang.
Ini dilakukan agar daya saing Asean meningkat serta bisa menyaingi Cina dan India untuk menarik
investasi asing. Penanaman modal asing di wilayah ini sangat dibutuhkan untuk meningkatkan
lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan.
Pembentukan pasar tunggal yang diistilahkan dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)
ini nantinya memungkinkan satu negara menjual barang dan jasa dengan mudah ke negaranegara lain di seluruh Asia Tenggara sehingga kompetisi akan semakin ketat. Hal tersebut
menuntut masyarakat Indonesia untuk mempersiapkan diri memiliki kompetensi di bidang bahasa
asing, ekonomi macro, social budaya yang mengglobal, mental keimanan yang kuat dan
karakteristik yang handal. Untuk mewujudkan hal tersebut dibutuhkan peran pendidikan secara
integral. Pendidikan akan berupaya memfasilitasi manusia agar mampu merealisasai
kemanusiaannya dengan segenap kemampuan yang dimiliki.
Manusia adalah mahluk yang paling sempurna dan mulia diantara mahluk lain ciptaan
Allah SWT. Kesempurnaan dan kemuliaan tersebut hanya dapat diraih melalui pendidikan, baik
secara formal maupun non formal. Secara formal ditempuh melalui sekolah dan kuliah secara non
formal ditempuh melalui interaksi komunikasi dalam suatu lembaga maupun organisasi yang ada
di masyarakat. Orang
akan berhasil mencapai taraf kemanusiaannya apabila mampu
menginternalisasi nilai-nilai yang ada di pendidikan. Begitu pentingnya pendidikan bagi manusia,
maka perlu ada upaya pendesainan pendidikan yang dapat mendidikan manusia berani
menghadapi dan memecahkan masalah yang dihadapi. Untuk itu pendidikan harus mampu
memberikan dan mengembangkan pengetahuan , keterampilan, dan sikap peserta didik sehingga
handal dalam menghadapi dan memecahkan masalah hidupnya.
Dalam Masyarakat Ekonomi Asean yang semuanya serba digital menantang manusia
untuk mampu bersaing di arena Negara Asean, baik di bidang ekonomi, pendidikan,sosial budaya,
hukum, dan politik.
Idealnya suatu pendidikan bagi anak-anak, remaja, dan orang dewasa untuk
menyongsong Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) adalah proses pendidikan yang dapat
mengembangkan keterampilan berbahasa asing, keterampilan di bidang teknik, seni budaya, dan
memperkuat akhlak/ karakter peserta didik.
MASALAH
Kenyataan yang ada di masyarakat sekarang ini masih banyak lembaga pendidikan yang
belum mampu melahirkan lulusan yang berkualitas sesuai dengan yang diharapkan (memiliki
modal keterampilan yang dapat untuk menghadapi MEA). Para lulusan masih banyak yang belum
siap pakai di masyarakat. Hal tersebut terjadi karena disebabkan oleh banyak faktor diantaranya
adalah kurikulum, pengajar/pendidik yang kurang berkualitas, sarana prasarana dan system yang
belum pas. Hal –hal tersebut akan berpengaruh negatif terhadap proses pembelajaran sebagai
media dan arena menyiapkan SDM yang berkualitas.

107

Berdasarkan uraian di atas maka perlu dibahas tentang ―bagaimana peran pendidikan
dalam meningkatkan kualitas SDM memasuki MEA?‖
PEMBAHASAN
Pendidikan
Upaya untuk memperoleh pemahaman tentang konsep pendidikan secara komprehensip,
penting sekiranya mencermati beberapa pandangan para ahli pendidikan. Konsep Pendidikan
menurut beberapa ahli: (Anwar Hafid dkk, 2013: 28) yaitu John Dewey Pendidikan adalah proses
pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual, emosional ke arah alam dan
sesama manusia. M.J. Langeveled Pendidikan adalah suatu usaha, pengaruh, perlindungan dan
bantuan yg diberikan kpd anak agar tertuju kpd kedewasannya, atau mambantu anak agar cukup
cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri. Thompson Pendidikan adalah proses pengaruh
lingkungan terhadap individu untuk menghasilkan perubahan-perubahan yang tetap dalam
kebiasaan perilaku, pikiran dan sifatnya.Frederick J.Mc Donald ,Pendidikan adalah suatu kegiatan
yg diarahkan untuk mengubah tabiat manusia H. Horne ,Pendidikan adalah proses yg terusmenerus dari penyesuaian yg berkembang secara fisik dan mental yg sadar dan bebas kepada
Tuhan. J.J. Rousseau Pendidikan adalah pembekalan yg tidak ada pada saat anak-anak, akan tetapi
dibutuhkan pada saat dewasa. Ki Hajar Dewantara (1977: 14) Pendidikan adalah daya upaya untuk
memajukan tumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran, serta jasmani anak, agar
dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghisupkan anak yg selaras dengan
alam dan masyarakatnya. Ivan Illic, Pendidikan adalah pengalaman belajar yang berlangsung
dalam segala lingkungan sepanjang hidup. Edgar Dalle, Pendidikan adalah usaha sadar yang
dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah melalui kegiatan bimbingan, pembelajaran,
dan latihan, yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah sepanjang hayat untuk
mempersiapkan peserta didik agar dapat mempermainkan peranannya dalam berbagai lingkungan
hidup secara tetap untuk masa yang akan dating.
Menurut UU No.2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan adalah
usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pembelajaran, dan
pelatihan bagi peranannya di masa yang akan datang. Menurut UU No. 20 tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan adalah usaha sadar terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan
adalah usaha untuk mendampingi anak untuk mencapai kedewasaannya baik secara jasmani
maupun rohani sehingga mampu berperan positif bagi dirinya, keluarganya, masyarakat, dan
negaranya.. Dewasa jasmani apabila anak bisa tumbuh sehat dan wajar sesuai dengan usianya,
dewasa secara rohani apabila anak bisa mengikuti dan mematuhi norma-norma yang ada di
lingkungannya yaitu norma agama/religious, norma susila, norma sosial dan hokum.. Anak sudah
bisa membedakan mana yang baik dan tidak baik, anak sudah bisa mengambil keputusan
berdasarkan pikiran yang positif, berani bertanggungjawab terhadap perbuatannya, dan berperan
positif dan produkti demi kemajuan masyarakatnya..
Analisis Filosofi Peran Pendidikan.
Beberapa konsep pendidikan menurut para ahli di atas memberikan konsekuensi bahwa
pendidikan memiliki tugas utama diantaranya adalah: (Anwar Hafid dkk, 2013: 30)
1. Pendidikan sebagai proses transformasi budaya. Peran proses transformasi budaya
diterjemahkan sebagai kegiatan pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi. Nilai-nilai
budaya tersebut mengalami proses transformasi pengetahuan, sikap dan keterampilan dari
generasi senior ke generasi yunior.
2. Pendidikan sebagai proses pembentukan pribadi. Peran proses pembentukan pribadi
diterjemahkan sebagai suatu kegiatan yang sistematik dan sistemik terarah kepada
terbentuknya kepribadian peserta didik. Proses pembentukan pribadi melalui dua sasaran yaitu
pembentukan pribadi bagi mereka yang belum dewasa oleh mereka yang sudah dewasa.
pematangan bagi mereka yang sudah dewasa atas usaha sendiri.

108

3. Pendidikan sebagai proses penyiapan warganegara. Peran tersebut diterjemahkan sebagai suatu
kegiatan yang terencana untuk membekali peserta didik agar menjadi wrga Negara yang baik
dan produktif.
4. Pendidikan sebagai penyiapan tenaga kerja. Peran tersebut diartikan sebagai kegiatan
membimbing peserta didik sehingga memili bekal dasar untuk bekerja.
Selain peran-peran di atas pendidikan bertugas untuk mengembangkan kesadaran atas tanggung
setiap warga Negara terhadap kelanjutan hidupnya, bukan saja terhadap lingkungan masyarakat
dan Negara, juga terhadap umat manusia (H.A.R. Tilar, 1999: 4)
Peran-peran di atas akan dilakukan oleh pendidikan dengan baik apabila segenap unsur
yang ada dalam pendidikan dapat berfungsi maksimal, unsur-unsur tersebut antara lain pendidik,
peserta didik, materi/pesan, lingkungan, dan tujuan pendidikan yang mulia.
MEA (Karakteristik, Peluang, Tantangan, dan Resiko Bagi Masyarakat Indonesia)
MEA adalah bentuk integrasi ekonomi ASEAN dalam artian adanya system
perdagaangan bebas antara Negara-negara asean. Indonesia dan sembilan negara anggota ASEAN
lainnya telah menyepakati perjanjian Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN
Economic
Community
(AEC).
Pada KTT ASEAN ke-12 pada bulan Januari 2007, para Pemimpin menegaskan komitmen mereka
yang kuat untuk mempercepat pembentukan Komunitas ASEAN pada tahun 2015 yang diusulkan
di ASEAN Visi 2020 dan ASEAN Concord II, dan menandatangani Deklarasi Cebu tentang
Percepatan Pembentukan Komunitas ASEAN pada tahun 2015 Secara khusus, para pemimpin
sepakat untuk mempercepat pembentukan Komunitas Ekonomi ASEAN pada tahun 2015 dan
untuk mengubah ASEAN menjadi daerah dengan perdagangan bebas barang, jasa, investasi,
tenaga kerja terampil, dan aliran modal yang lebih bebas (Srikandi Rahayu, www.asean.org)
Bagi Indonesia sendiri, MEA akan menjadi kesempatan yang baik karena hambatan
perdagangan akan cenderung berkurang bahkan menjadi tidak ada. Hal tersebut akan berdampak
pada peningkatan eskpor yang pada akhirnya akan meningkatkan GDP Indonesia. Di sisi lain,
muncul tantangan baru bagi Indonesia berupa permasalahan homogenitas komoditas yang
diperjualbelikan, contohnya untuk komoditas pertanian, karet, produk kayu, tekstil, dan barang
elektronik (Santoso, 2008). Dalam hal ini competition risk akan muncul dengan banyaknya barang
impor yang akan mengalir dalam jumlah banyak ke Indonesia yang akan mengancam industri lokal
dalam bersaing dengan produk-produk luar negri yang jauh lebih berkualitas. Hal ini pada
akhirnya akan meningkatkan defisit neraca perdagangan bagi Negara Indonesia sendiri.
Pada sisi investasi, kondisi ini dapat menciptakan iklim yang mendukung masuknya
Foreign Direct Investment (FDI) yang dapat menstimulus pertumbuhan ekonomi melalui
perkembangan teknologi, penciptaan lapangan kerja, pengembangan sumber daya manusia (human
capital) dan akses yang lebih mudah kepada pasar dunia. Meskipun begitu, kondisi tersebut dapat
memunculkan exploitation risk. Indonesia masih memiliki tingkat regulasi yang kurang mengikat
sehingga dapat menimbulkan tindakan eksploitasi dalam skala besar terhadap ketersediaan sumber
daya alam oleh perusahaan asing yang masuk ke Indonesia sebagai negara yang memiliki jumlah
sumber daya alam melimpah dibandingkan negara-negara lainnya. Tidak tertutup kemungkinan
juga eksploitasi yang dilakukan perusahaan asing dapat merusak ekosistem di Indonesia,
sedangkan regulasi investasi yang ada di Indonesia belum cukup kuat untuk menjaga kondisi alam
termasuk ketersediaan sumber daya alam yang terkandung.
Dari aspek ketenagakerjaan, terdapat kesempatan yang sangat besar bagi para pencari
kerja karena dapat banyak tersedia lapangan kerja dengan berbagai kebutuhan akan keahlian yang
beraneka ragam. Selain itu, akses untuk pergi keluar negeri dalam rangka mencari pekerjaan
menjadi lebih mudah bahkan bisa jadi tanpa ada hambatan tertentu. MEA juga menjadi
kesempatan yang bagus bagi para wirausahawan untuk mencari pekerja terbaik sesuai dengan
kriteria yang diinginkan. Dalam hal ini dapat memunculkan risiko ketenagakarejaan bagi
Indonesia (Arya Baskoro, Associate Researcher).
Dilihat dari sisi pendidikan dan produktivitas Indonesia masih kalah bersaing dengan
tenaga kerja yang berasal dari Malaysia, Singapura, dan Thailand serta fondasi industri yang bagi
Indonesia sendiri membuat Indonesia berada pada peringkat keempat di ASEAN (Republika
Online, 2013). Dengan hadirnya ajang MEA ini, Indonesia memiliki peluang untuk memanfaatkan
keunggulan skala ekonomi dalam negeri sebagai basis memperoleh keuntungan. Namun demikian,
Indonesia masih memiliki banyak tantangan dan risiko-risiko yang akan muncul bila MEA telah
diimplementasikan. Oleh karena itu, para risk professional diharapkan dapat lebih peka terhadap

109

fluktuasi yang akan terjadi agar dapat mengantisipasi risiko-risiko yang muncul dengan tepat.
Selain itu, kolaborasi yang apik antara otoritas negara dan para pelaku usaha diperlukan,
infrastrukur baik secara fisik dan sosial(hukum dan kebijakan) perlu dibenahi, serta perlu adanya
peningkatan kemampuan serta daya saing tenaga kerja dan perusahaan di Indonesia. Jangan
sampai Indonesia hanya menjadi penonton di negara sendiri di tahun 2015 mendatang ( Arya
Baskoro, Associate Researcher).
Pendidikan untuk mempersiapkan SDM di MEA
Otonomidaerah bidang public, termasuk pendidikan, sudah selayaknya diberlakukan
terutamabagi Negara yang memiliki cakupan wilayah yang luas seperti Indonesia(Baedhowi, 2009:
). Hal tersebut memberikan peluang luas bagi daerah untuk mendirikan pendidikan sesuai dengan
kebutuhannya yang akan datang termasuk menyongsong MEA. Pendidikan yang dianggap tepat
adalah yang mampu meningkatkan Life Skills dan Karakter Sumber Daya Manusia.

1. Pendidikan Life SkillMempersiapkan SDM Untuk Memasuki MEA
SDM (Sumber Daya Insani Unggul ) yang diinginkan adalah sumberdaya insani yang
memiliki kompetensi tinggi. Indicator dimilikinya kompetensi tinggi dicerminkan oleh life
skills yang dimiliki (Soetarno Joyoatmojo, 2011: 2). ICAP.org (2007: 1) mendefinisikan life
skills “as abilities for adaptive and positive behavior that anable individuals to deal effectively
with the demans and challenges of everyday life”. (Life skills diartikan sebagai kemampuan
untuk beradaptasi dan perilaku positif yang memungkinkan seseorang mampu menghadapi
segala tuntutan dan tantangan dalam hidupnya).
Lebih jauh Corp (2001: 9) mengemukakan bahwa “The life skills program is a
comprehensive behavior change approach that concentrates on the development of the skills
needed for life such as communication, decision making, thinking, managing emotions,
assertiveness, self esteem building, resisting peer pressure, and relationship skills”.
(Kecakapan hidup memiliki cakupan yang sangat luas karena meliputi berbagai
kecakapan, seperti kecakapan komunikasi, pengambilan keputusan berpikir, mengelola emosi,
bersikap asertif, membangun kepercayaan diri, dan kecakapan membangun relasi).
Menurut O‘Brien (2010: 196) soft skill dapat dikategorikan ke tujuh area yang disebut
Winning Characteristies,communication skills, organizational skills, leardership, logic, group
skills, and ethics.Sementara untuk pengertian hard skill atau orang menyebutnya hard
competence adalah sebagai berikut: The hard competence referring to job-specific abilities,
and relevance will be about specific knowled gerelating to “up to date” systems. Hard skill
merujukke kemampuan pekerjaankhusus, dan akan menjadi relevansi dengan generalisasi
pengetahuan spesifik untuksistem baru. Pemahaman dari istilah hard skill adalah skill yang
dapat menghasilkan sesuatu sifatnya visible dan immediate. Tidak seperti hard skill,soft skill
bersifat invisible dan tidak segera. Contoh soft skill antara lain: kemampuan beradaptasi,
komunikasi, kepemimpinan, pengambilan keputusan, pemecahan masalah, conflict resolution,
dan lain sebagainya. Hard skill dapat dinilai dari technical test atau practical test . Dari
pengertian antara soft skill dan hard skill dapat disimpulkan bahwa: setiap profesi dituntut
untuk memiliki hard skill yang khusus, tetapi soft skill bisa merupakan kemampuan yang harus
dimiliki setiap profesi. Keseimbangan dari pertumbuhan hard skill dan soft skill akan membuat
mahasiswa mengalami sukses lebih cepat dan lebih jauh dari kesuksesan yang hanya ditunjang
oleh salah satu faktor tersebut. Perpaduan antara hard skill dan soft skill sangat diperlukan
untuk meraih prestasi atau jenjang karir yang lebih tinggi.
Butir-Butir Kecakapan Hidup/Life Skill Menurut Depdiknas
Kecakapan
Kecakapan
Kecakapan
Kecakapan Akademik
Pribadi
Sosial
Vokasional
 Iman dan takwa
 Bekerja dalam
 Memiliki ilmu
 Keterampil
kepada Tuhan YME
kelompok
pengetahuan
an yang
terkait
 Memiliki moral yang
 Memiliki
 Keterampilan berfikir
dengan
luhur
tanggung jawab
ilmiah
profesi
sosial
 Memahami diri
 Bersikap ilmiah
tertentu.
sendiri (latar
 Bertanggung
 Berpikir panjang
 Memiliki
belakang keluarga,
jawab
strategis
keterampila
kesuksesan, dll)
 Berinteraksi

110

 Percaya diri
 Belajar mandiri
 Berpikir rasional
 Menghormati diri
sendiri
 Mencapai hasil
maksimal dengan
mengolah potensi
diri
 Mengelola emosi
 Mengembangkan
potensi fisik

dalam
masyarakat
 Berinteraksi
dalam
perkembangan
dan budaya
local dan global
 Sportivitas
 Disiplin
 Kooperatif
 Hidup sehat
 Keterampilan
berkomunikasi

 Keterampilan belajar
sepanjang hayat
 Keterampilan memakai
teknologi
 Berpikir kritis dan
mandiri
 Pengambilan keputusan
 Ketrampilan
mengidentifikasi dan
mengatasi masalah
 Keterampilan
melakukan kajian dan
penelitia

n yang
menunjang
profesi atau
memiliki
etos kerja
yang baik,
disiplin,
kreatif, dll.

DBE3, 2007: 35
Hakikat Pendidikan Kecakapan Hidup,Kebijakan tentang pendidikan kecakapan hidup
sebagai orientasi dari diberlakukannya kebijakan Broad Based Education (BBE) tahun 2002,
dipandang sebagai salah satu alternatif jawaban terhadap permasalahan relevansi pendidikan.
Kebijakan ini muncul dilatarbelakangi oleh adanya kesenjangan antara teori yang diperoleh
dalam pendidikan dan praktik di lapangan.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama teknologi informasi, menyebabkan
arus informasi menjadi cepat dan tanpa batas. Adanya pasar bebas, kemampuan bersaing,
penguasaan pengetahuan dan teknologi menjadi semakin penting untuk kemajuan suatu
bangsa. Ukuran kesejahteraan suatu bangsa telah bergeser dari yang bersifat modal fisik atau
sumber daya alam ke modal intelektual, pengetahuan, social dan kepercayaan. Pada kondisi
seperti ini pendidikan yang memberikan kecakapan hidup sangat diperlukan.
Sedangkan Undang-Undang No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
pasal 21 ayat (3) menyebutkan Pendidikan kecakapan hidup adalah pendidikan yang
memberikan kecakapan personal, kecakapan sosial, kecakapan intelektual, dan kecakapan
vokasional untuk bekerja atau usaha mandiri. Hal tersebut dipertegas oleh Latifah dan Rita
Milyartini (2010:1) melalui penelitian tentang Model pendidikan life skill belajar mandiri
untuk meningkatkan penguasaan teknik vokal mahasiswa peserta mata kuliah vokal 3 di prodi
musik UPI hasilnya menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran memberikan
implikasi positif terhadap kemampuan melakukan evaluasi diri yang dianggap sebagai bagian
dari kemampuan belajar mandiri.
Pengenalan life skills terhadap peserta didik bukanlah untuk mengganti kurikulum yang
ada, akan tetapi untuk melakukan reorientasi kurikulum yang ada sekarang agar benar-benar
merefleksikan nilai-nilai kehidupan nyata. Pendidikan life skills merupakan upaya untuk
menjembatani kesenjangan antara kurikulum/program pembelajaran dengan kebutuhan
masyarakat, dan bukan untuk mengubah total kurikulum yang telah ada (Anwar, 2004: 32).
Dian Sukmara menekankan hal essensial penyelenggaraan pembelajaran berorientasi life skills
memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar sepenuh hati dengan
berorientasikan pada: learning to know, learning to do, learning to be, learning to live together
dan learning to cooperative (Dian Sukmara, 2005: 28).
Berdasar uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan kecakapan hidup
merupakan upaya pembelajaran kecakapan hidup kepada peserta didik dengan mereorientasi
kurikulum yang sudah ada agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dilakukan dengan
sepenuh hati dan berorientasi pada belajar untuk mengerti, belajar untuk melakukan, belajar
untuk menerima, belajar untuk kehidupan yang akan datang, dan belajar untuk bekerja sama.
2. Pendidikan Karakter Untuk Mempersiapkan SDM Memasuki MEA
Karakter berasal dari nilai tentang sesuatu. Suatu nilai yang diwujudkan dalam bentuk
perilaku anak itulah yang disebut karakter (Dharma Kesuma dkk, 2012: 11). Karakter
menggambarkan sifat khas atau unik yang menjadi kekuatan moral tingkah laku individu.
Karakter dimanifestasikan dalam kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari: pikiran baik,
hati baik,dan tingkah laku baik.Karakter memancar dari dalam ke luar,artinya,kebiasaan baik
tersebut dilakukan:bukan atas permintaan atau tekanan dari orang lain, melainkan atas

111

kesadaran dan kemauan sendiri. Karakter : apa yang Anda lakukan ketika tak seorangpun
melihat atau memperhatikan Anda.
Karakter mahasiswa mencakup hal-hal:
a. Religius
j. Semangat kebangsaan
b. Jujur
k. Cinta tanah air
c. Toleransi
l. Menghargai prestasi
d. Disiplin
m. Bersahabat/komunikatif
e. Kerja
n. Cinta damai
f.
Kreatif
o. Gemar membaca
g. Mandiri
p. Peduli lingkungan
h. Demokratis
q. Peduli Sosial
i.
Rasa ingin tahu r. Tanggung jawab
( DYP. Sugiharto, 2014)
Pendidikan karakter adalah tidak kalah penting dibanding pendidikan berbasis skill atau
pengetahuan. Bila mengikuti skema klasifikasi quotient, ia adalah cenderung masuk ke dalam
EQ (Emotional quotient) dan SQ (spiritual quotient). Nilai-nilai dasar ESQ itu adalah jujur,
tanggung jawab, visioner, disiplin, kerja sama, adil, dan peduli ( Ary Ginanjar Agusti, 2004:
51)
Menurut David Elkind & Freddy Sweet Ph.D. (2004), pendidikan karakter adalah: “the
deliberate effort to help people understand, care about, and act upon core ethical values. When
we think about the kind of character we want for our children, it is clear that we want them to
be able to judge what is right, care deeply about what is right, and then do what they believe to
be right, even in the face of pressure from without and temptation from within”.
Pendidikan karakter menjadi semakin mendesak untuk diterapkan dalam lembaga pendidikan
kita mengingat berbagai macam perilaku yang tidak mendidik kini telah merambah dunia
pendidikan, seperti fenomena kekerasan, pelecehan seksual, dan korupsi. Tanpa pendidikan
karakter, kita membiarkan ampur aduknya kejernihan pemahaman akan nilai-nilai moral dan
sifat ambigu yang yang menyertainya, yang pada gilirannya menghambat para siswa untuk
dapat mengambil keputusan yang memiliki landasan moral yang kuat (Doni Koesoema,2010:
116).
Pendidikan karakter yang diterapkan dalam lembaga pendidikan bisa menjadi salah satu
sarana pembudayaan dan pemanusiaan. Pendidikan karakter yang secara ssistematis diterapkan
dalam pendidikan dasar, menengah , dan pendidikan tinggi merupakan sebuah daya tawar
berharga bagi seluruh komunitas. Para siswa, mahasiswa mendapat keuntungan dengan
memperoleh dan kebiasaan positif yang mampu meningkatkan rasa percaya diri, membuat
hidup lebih bahagia dan lebih produktif.
PENUTUP
Uraian di atas dapat disimpilkan bahwa untuk menghadapi MEA butuh SDM yang handal
dan berkarakter kuat. Sumber daya manusia tersebut merupakan hasil dari proses pendidikan,
untuk itu maka perlu ditinjau kembali apakah pendidikan sudah cukup mampu menghasilkan
sumber daya manusia yang siap terjun di Masyarakat Ekonomi Asean.
Solusi yang dianggap tepat adalah dengan mengintensifkan pendidikan Life Skill dan
pendidikan Karakter mulai dari pendidikan dasar sampai pada pendidikan tinggi. Saran yang dapat
disampaikan kepada para pelaku pendidikan untuk mau meningkatkan kualitas proses
pembelajaran yang memuat life skill dan karakter peserta didik.
DAFTAR PUSTAKA
Agusti Ary Ginanjar, 2004, Rahasia Sukses Membengkitkan ESQ Power, Jakarta: Arga
Anwar. (2004). Pendidikan
Bandung: AlFabeta.

Kecakapan

Hidup (Life Skills

Education).

Anwar Hafid, dkk.(2013).Konsep Dasar Ilmu Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Arya Baskoro, Associate Researcher
Baedhowi.(2009).Kebijakan Otonomi Daerah Bidang Pendidikan. Semarang: Pelita Insani.

112

Corps, P. (2001). Life Skills Manual. Washington: Information Collection and Exchange.
DYP. Sugiharto, 2014, Peran Konselor dalam Membentuk Karakter Siswa, Makalah Seminar
Nasional, Prodi BK- FKIP UNISRI Surakarta.
David Elkind & Freddy Sweet Ph.D. 2004
DBE3. (2007). Modul Pelatihan Pengelolaan Lembaga Pendidikan Nonformal. Jakarta:
Depdiknas dan USAID.
Dharma Kesuma, dkk.(2012). Pendidikan Karakter.Bandung: Rosdakarya
Dian Sukmara. (2005). Implementasi Program Life Skills. Bandung: Mughni Sejahtera.
Doni koesoema A.(2007) Pendidikan Karakter.Jakarta: Kompas Gramedia
H.A.R. Tilaar.(1999).Managemen Pendidikan Nasional. Bandung: Rosdakarya
Hera Heru Sri Suryanti.(2013). Pengembangan Model pembelajaran Kewirausahaan Berbasis
PBL untuk Meningkat Lie Skills mahasiswa FKIP Swasta se Solo Raya, Disertasi: S3 IP
UNS Solo
ICAP.

(2007). Life Skills.
(On Line )
Tersedia pada: http//: www.
icap.org
(portals/o/download/all.pdf/bluebook/modularoz. Life skills. Pdf (18 Maret 2007).

Latifah, dkk. (2010). Model pendidikan life skill belajar mandiri untuk meningkatkan penguasaan
teknik vokal mahasiswa peserta mata kuliah vokal 3 di prodi musik UPI. Jurnal Penelitian
Pendidikan".Vol. VI, No. 17 Agustus 2010.
O‘Brien, P. S. (2010). Making College Count: A Real World Look at How to SucceedIn and
After College. New Jersey: Graphic Management Corp.
Soetarno Joyoatmojo. (2011). Pembelajaran Efektif. Solo: UPT Penerbitan dan pencetakan UNS
(UNS Press)
Srikandi Rahayu, www.asean.org.
Undang - Undang RI Nomor. 20 Tahun 2003.
Yogya: Pustaka Widyatama.

Sitem

Pendidikan Nasional (Sisdiknas).

113

PENDIDIKAN INKLUSIF SARANA BELAJAR ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
Oleh:
Dr. Weny Hulukati, M.Pd
Abstrak
Kualitas Manusia dapat dikembangkan melalui pendidikan. Pendidik bertujuan untuk
mengembangkan potensi yang dimiliki oleh setiap peserta didik. Setiap anak lahir dengan karakter
dan keunikannya. Oleh karena itu layanan pendidikan haruslah disesuaikan dengan kemampuan
dan minat setiap siswa, termasuk layanan pendidikan untuk siswa yang berkebutuhan khusus,
setiap pendidik hendaknya dapat memotivasi setiap peserta didik dengan kebutuhan yang terbatas
agar tercapai target pendidikan untuk semua (Edication For All). Tuntutan dalam kreativitas
mengajar di perlukan pada seorang Pendidik yang professional. Pendidik yang penuh kreativitas
tinggi dapat terlihat pada jiwa inovasi yang dimilikinya. Yakni dapat di eksplor melalui: Proses
Pembelajaran, metode, model maupun media pembelajaran. Efektivitas Pendidik dapat dilihat pada
unjuk kerja kreatif, dapat memotivasi peserta didik dalam meningkatkan proses belajarnya. Untuk
peserta didik dengan kategori Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dapat diselenggarakan oleh
pendidik melalui efektivitas proses belajar melalui system sosialisasi dengan mencampur anak
yang berkebutuhan khusus (ABK) dengan anak normal, yakni melalui program Sekolah inklusif.
Kata Kunci: Pendidikan Inklusif. Motivasi Belajar. Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).
PENGANTAR
Isu Pendidikan untuk semua (Education For All) menjadikan pendidikan inklusif sebagai
salah satu model pendidikan yang disarankan untuk berbagai tipe anak berkebutuhan khusus.
Pendidikan inklusif bersifat terbuka terhadap perbedaan karakter peserta didik dan berupaya
mengakomodasi setiap perbedaan tersebut tersebut dengan cara-cara yang tidak merugikan peserta
didik lain. Bahkan dalam pendidikan inkusif diharapkan perbedaan karakteristik siswa menjadi
pembelajaran tersendiri dan bernilai manfaat bagi setiap peserta didik. Usaha saling memahami
perbedaan antar peserta didik dan upaya untuk memperlakukan perbedaan antar peserta didik yang
semestinya memberi nilai plus bagi pendidikan inklusif.
Di Indonesia gagasan pendidikan inklusif telah dipayungi melalui Peraturan Pemerintah
yakni Peraturan Menteri Pendidikan nasional RI Nomor 70 Tahun 2009 tentang pendidikan
inklusif bagi peserta didik yang memiliki kelainan dan memilki potensi kecerdasan dan bakat
istimewa. Peraturan menteri memuat lengkap rambu-rambu mengenai pendidikan inklusif mulai
dari perencanaan hingga pelaksanaan. Salah satu hal signifikan yang tercatat dalam Peraturan
Menteri tersebut adalah kewajiban pemerintah daerah Kabupaten dan Kota untuk menunjuk
minimal satu sekolah yang harus menyelenggarakan pendidikan inklusif. Dalam praktiknya
pendidikan inklusif bukan lagi menjadi trend yang berkiblat pada kebijakan pemerintah, melainkan
secara otomatis berlangsung pada banyak sekolah yang di dalamnya terdapat siswa berkebutuhan
khusus. Hal ini senada dengan Surat Edaran Dirjen Dikdasmen Depdiknas No.
380/C.C6/MN/2003 tanggal 20 Januari 2003 Perihal Pendidikan Inklusif: menyeelenggarakan dan
mengembangkannya di setiap Kabupaten/Kota sekurang-kurangnya 4 (empat) sekolah yang terdiri
dari: SD, SMP, SMA, dan SMK. Sesuai dengan Landasan empiris oleh Komitmen Dakar
mengenai Pendidikan untuk Semua, 2000 (The Dakar Commitment on Education for All).
Pendidikan inklusif dapat di maknai sebagai model proses Pendidikan yang dirancang
secara khusus, dan merupakan terobosan baru dalam dunia pendidikan khususnya bagi mereka
Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) untuk menghindari adanya segregrasi. Demikian juga proses
pembelajaran dikelas inklusif, walaupun siswanya heterogen, tidak ada perbedaan yang begitu
berarti dengan proses pembelajaran di kelas reguler.
Berdasarkan penjelasan diatas makalah ini membahas tentang bagaimana pentingnya
Pendidikan Inklusif sebagai Sarana Belajar untuk Anak Berkebutuhan Khusus.
PEMBAHASAN
A. Pendidikan Inklusif
Pendidikan dapat dimaknai sebagai proses mengubah tingkah laku anak agar menjadi
dewasa dan mampu hidup mandiri sebagai anggota masyarakat dalam lingkungan dimana individu
berada. Pendidikan tidak hanya mencakup pengembangan intelektualitas saja, tetapi lebih
ditekankan pada proses pembinaan kepribadian siswa secara menyeluruh. Selanjutnya, sekolah
sebagai lembaga pendidikan formal dalam proses kegiatannya menuntut adanya kesiapan

114

kemampuan tersendiri bagi tenaga pendidik. Pendidikan sekolah diupayakan agar dalam
pelaksanaan proses belajar mengajar menggunakan program yang telah terencana dan sistematis.
Demikian halnya dengan pendidikan inklusif, perencanaan proses belajar relevan dengan
tujuan pendidikan nasional Secara umum yakni melalalui usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi pribadinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian
diri, kepribadian, kecerdasan, akhlaq mulia dan keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat,
bangsa dan Negara ( UU No 20 tahun 2003, Pasal 1 ayat 1). Oleh sebab itu inti dari pendidikan
inklusi adalah hak azasi manusia atas pendidikan. Suatu konsekuensi logis dari hak ini adalah
semua anak mempunyai hak untuk menerima pendidikan yang tidak mendiskriminasikan dengan
kecacatan, etnis, agama, bahasa, jenis kelamin, kemampuan dan lain-lain. Tujuan praktis yang
ingin dicapai dalam pendidikan inklusi meliputi tujuan langsung oleh anak, oleh guru, oleh orang
tua dan oleh masyarakat.
Tujuan yang ingin dicapai oleh anak dalam mengikuti kegiatan belajar dalam program
Pendidikan Inklusif antara lain adalah: 1) berkembangnya kepercayaan pada diri anak, merasa
bangga pada diri sendiri atas prestasi yang diperolehnya. 2) anak dapat belajar secara mandiri,
dengan mencoba memahami dan menerapkan pelajaran yang diperolehnya di sekolah ke dalam
kehidupan sehari-hari. 3) anak mampu berinteraksi secara aktif bersama teman-temannya, guru,
sekolah dan masyarakat. 4) anak dapat belajar untuk menerima adanya perbedaan, dan mampu
beradaptasi dalam mengatasi perbedaan tersebut.
Tujuan yang ingin dicapai oleh guru-guru dalam pelaksanakan pendidikan inklusif antara
lain adalah: 1) guru akan memperoleh kesempatan belajar dari cara mengajar dengan setting
inklusi. 2) terampil dalam melakukan pembelajaran kepada peserta didik yang memiliki latar
belakang beragam. 3) mampu mengatasi berbagai tantangan dalam memberikan layanan kepada
semua anak. 4) bersikap positif terhadap orang tua, masyarakat, dan anak dalam situasi beragam.
5) mempunyai peluang untuk menggali dan mengembangkan serta mengaplikasikan berbagai
gagasan baru melalui komunikasi dengan anak di lingkungan sekolah dan masyarakat.
Tujuan yang akan dicapai bagi orang tua antara lain adalah: 1) para orang tua dapat
belajar lebih banyak tentang bagaimana cara mendidik dan membimbing anaknya lebih baik di
rumah, dengan menggunakan teknik yang digunakan guru di sekolah. 2) mereka secara pribadi
terlibat, dan akan merasakan keberadaanya menjadi lebih penting dalam membantu anak untuk
belajar. 3) orang tua akan merasa dihargai, merasa dirinya sebagai mitra sejajar dalam memberikan
kesempatan belajar yang berkualitas kepada anaknya 4) orang tua mengetahui bahwa anaknya dan
semua anak yang di sekolah, menerima pendidikan yang berkualitas sesuai dengan kempuan
masingmasing individu anak.
Tujuan yang diharapkan dapat dicapai oleh masyarakat dalam pelaksanaan pendidikan
inklusif antara lain adalah: 1) masyarakat akan merasakan suatu kebanggaan karena lebih banyak
anak mengikuti pendidikan di sekolah yang ada di lingkungannya. 2) semua anak yang ada di
masyarakat akan terangkat dan menjadi sumber daya yang potensial, yang akan lebih penting
adalah bahwa masyarakat akan lebih terlibat di sekolah dalam rangka menciptakan hubungan yang
lebih baik antara sekolah dan masyarakat (Tarmansyah, 2007:112-113).
Dengan demikian Pendidikan inklusif Menurut Hildegun Olsen (Tarmansyah, 2007;82)
adalah bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menyatukan anak-anak berkebutuhan khusus
dengan anak-anak normal pada umumnya untuk belajar.
B. Karakteristik Pendidikan Inklusif
Karakteristik dalam pendidikan inklusi tergabung dalam beberapa hal seperti hubungan,
kemampuan, pengaturan tempat duduk, materi belajar, sumber dan evaluasi yang dijelaskan
sebagai berikut: a. Hubungan Ramah dan hangat, contoh untuk anak tuna rungu: guru selalu
berada di dekatnya dengan wajah terarah pada anak dan tersenyum. Pendamping kelas (orang tua )
memuji anak tuna rungu dan membantu lainnya. b. Kemampuan Guru, peserta didik dengan latar
belakang dan kemampuan yang berbeda serta orang tua sebagai pendamping. c. Pengaturan tempat
duduk Pengaturan tempat duduk yang bervariasi seperti, duduk berkelompok di lantai membentuk
lingkaran atau duduk di bangku bersama-sama sehingga mereka dapat melihat satu sama lain. d.
Materi belajar Berbagai bahan yang bervariasi untuk semua mata pelajaran, contoh pembelajarn
matematika disampaikan melalui kegiatan yang lebih menarik, menantang dan menyenangkan
melalui bermain peran menggunakan poster dan wayang untuk pelajaran bahasa. e. Sumber Guru
menyusun rencana harian dengan melibatkan anak, contoh meminta anak membawa media belajar

115

yang murah dan mudah didapat ke dalam kelas untuk dimanfaatkan dalam pelajaran tertentu. f.
Evaluasi Penilaian, observasi, portofolio yakni karya anak dalam kurun waktu tertentu
dikumpulkan dan dinilai (Lay Kekeh Marthan, 2007:152).
Dalam Proses pendidikan inklusif terdapat campuran siswa normal dan siswa yang
berkebutuhan khusus, dalam rangka untuk menciptakan manusia yang berkembang seutuhnya
diperlukan adanya pembinaan peserta didik, yang diharapkan agar peserta didik mampu
berkembang dan memiliki keterampilan secara optimal.
C. Kurikulum Pendidikan Inklusif
Kurikulum pendidikan inklusif hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan anak, yang
selama ini anak dipaksakan mengikuti kurikulum nasional maupun kurikulum yang di buat
sekolah. Oleh sebab itu hendaknya buatlah kurikulum yang memberikan kesempatan untuk
menyesuaikan kurikulum dengan anak. Menurut Tarmansyah (2007:154) untuk modifikasi
kurikulum merupakan model kurikulum dalam sekolah inklusif. Modifikasi pertama adalah
mengenai pemahaman bahwa teori model itu selalu merupakan representasi yang disederhanakan
dari realitas yang kompleks. Modifikasi kedua adalah mengenai aspek kurikulum yang secara
khusus difokuskan dalam pembelajaran yang akan dibahas lebih banyak dalam praktek
pembelajaran. Kurikulum yang digunakan di sekolah inklusi adalah kurikulum anak normal
(regular) yang disesuaikan (dimodifikasi sesuai) dengan kemampuan awal dan karakteristik siswa.
Lebih lanjut, menurut Direktorat PLB (Tarmansyah,2007:168) modifikasi dapat dilakukan dengan
cara modifikasi alokasi waktu, modifikasi isi/materi, modifikasi proses belajar mengajar,
modifikasi sarana dan prasarana, modifikasi lingkungan untuk belajar, dan modifikasi pengelolaan
kelas. Dengan kurikulum akan memberikan peluang terhadap tiap-tiap anak untuk
mengaktualisasikan potensinya sesuai dengan bakat, kemampuannya dan perbedaan yang ada pada
setiap anak.
D. Strategi Pendidikan Inklusif
Adapun strategi pembelajaran Inklusif dapat di lakukan melalui proses kegiatan
Manajemen pembelajaran. Kegiatan Manajemen Pembelajaran dapat dilaksanakan dengan
melibatkan guru dan siswa. Menurut Alben Ambarita (2006:72) manajemen pembelajaran adalah
kemampuan guru (manajer) dalam mendayagunakan sumberdaya yang ada, melalui kegiatan
menciptakan dan mengembangkan kerjasama, sehingga di antara pendidik dan peserta didik
tercipta pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan di kelas secara efektif dan efisien. Lebih
lanjut menurut Asrori Ardiansyah (2011), konsep manajemen pembelajaran dalam arti luas dan
dalam arti sempit. Manajemen pembelajaran dalam arti luas berisi proses kegiatan mengelola
bagaimana membelajarkan si pembelajar dengan kegiatan yang dimulai dari perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan atau pengendalian dan penilaian. Sedang manajemen pembelajaran
dalam arti sempit diartikan sebagai kegiatan yang perlu dikelola oleh guru selama terjadinya
proses interaksinya dengan siswa dalam pelaksanaan pembelajaran. Dari dua pendapat diatas dapat
disimpulkan bahwa manajemen pembelajaran adalah kegiatan yang dimulai dari perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan dan penilaian pelaksanaan pembelajaran agar mencapai hasil belajar
yang efektif.
E. Assesmen pada Pendidikan Inklusif
Pentingnya Assesmen pada pendidikan inklusif untuk dapat memudahkan proses kegiatan
pembelajaran yang di lakukan oleh pendidik, sebab fungsi assesmen adalah salah satu alat untuk
mengukur tingkat pencapaian keberhasilan proses kegiatan pembelajaran.
Sebelum mulai dengan penyusunan program pembelajaran, guru harus mengetahui level
keberfungsian anak. Menurut Tarmansyah (2007:183), assesmen adalah suatu proses upaya
mendapatkan informasi mengenai hambatan-hambatan dan kemampuan yang sudah dimiliki serta
kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi, agar dapat dijadikan dasar membuat program
pembelajaran sesuai dengan kemampuan individu anak. Ada beberapa gejala yang dapat dijadikan
petunjuk dalam mengenal anak secara dini, yang diantaranya adalah sebagai berikut: a.
Berdasarkan tingkah laku: tingkah laku mencerminkan kemampuan, pemahaman, pengetahuan dan
keterampilan seseorang. Melalui tingkah laku kita dapat mengamati kemampuan seseorang. b.
Berdasarkan kondisi fisik: kondisi fisik juga mencerminkan keadaan umum dari anak, apakah anak
dalam keadaaan sakit, cacat, atau kondisi fisik lainnya lemah baik disebabkan faktor psikologis
maupun neorologis. c. Berdasarkan keluhan: biasanya anak yang bermasalah sering mengeluh,

116

susah mengerjakan soal, malas belajar, marah-marah, pusing, sakit perut, atau pasif dalam
rangsangan. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa assesmen dalam sekolah
penyelenggara pendidikan inklusi sangat diperlukan, karena di dalam sekolah tersebut di dalamnya
terdapat siswa yang memilki karakteristik dan kemampuan yang berbeda-beda, dengan melakukan
observasi dengan pengamatan
PENUTUP
Pendidikan inklusi harus dipersiapkan dengan lebih matang dengan tahapan antara;
sosialisasi, persiapan sumber daya (preparing resources), dan uji coba (try out) metode
pembelajaran. Sosialisasi pendidikan inklusi dimaksudkan untuk memberikan gambaran secara
umum tentang maksud dan tujuan pendidikan inklusi kepada tenaga pengajar, siswa, dan orang
tua. Fungsi sosialisasi sangat penting untuk membangun pra kondisi lingkungan sekolah dan juga
kesiapan mental baik bagi siswa maupun para guru. Tahap selanjutnya adalah mempersiapkan
sumber daya yang menyangkut kesiapan Kurikulum, alat peraga untuk simulasi dan kesiapan
ketrampilan tenaga pelaksana pendidikan. Kelengkapan peraga untuk pendidikan inklusi memang
lebih kompleks dibanding dengan alat peraga ajar yang umum digunakan. Sehingga dituntut
kreatifitas dari guru untuk melakukan simulasi proses belajar mengajar. Sementara persiapan
tenaga pelaksana pendidikan adalah dengan melakukan pelatihan (training) tentang beberapa
metode pelaksanaan pendidikan inklusi kepada para guru.
Pada tataran implementasi untuk pendidikan inklusif haruslah memiliki fleksibilitas
sehingga dapat diterapkan bagi siapapun yang memiliki kebutuhan dan kemampuan yang unik.
Dengan demikian Individualized Educational Programs (IEP) merupakan pendekatan yang
memiliki relevansi dan efektivitas yang sangat di perlukan. Selain itu untuk program akademiknya,
haruslah mencapai tujuan institusional yang komprehensif sebab sangat dibutuhkan layanan
bimbingan dan konseling yang memadai yang di modifikasi untuk siswa yang berkebutuhan
khusus, sehingga dapat menjadikan peserta didik dapat mencapai kematangan personal, sosial, dan
karir yang dapat setara dengan siswa yang normal.

DAFTAR PUSTAKA
Alben Ambarita (2006:72) Alben Ambarita. (2006). Manajemen Pembelajaran. Departemen
pendidikan nasional Dirjen Dikti
Asrori

Ardiansyah (2011 Ardiansyah, Asrori.
pendidikan.blogspot.com. (8 Mey 2015)

Kebiasaan

Belajar.

http://kabar-

Depdiknas No. 380/C.C6/MN/2003 tanggal 8 Mey 2015
Lay Kekeh Marthan, 2007. Manajemen Pendidikan Inklusif. Jakarta: DIRJEN DIKTI
Mahabbati, Aini. 2010. Pendidikan Inklusif Untuk Anak Dengan Gangguan Emosi dan Perilaku
(Tunalaras). Jurnal Pendidikan Khusus (JPK).
P. Tiara eprints.uny.ac.id/9516/2/bab%202%20-NIM%2008101241028.pdf. (Diakses Tanggal 8
Mey 2015
UU No 20 tahun 2003, Pasal 1 ayat 1
Tarmansyah, 2007. Penyiapan Tenaga Kependidikan dalam Kerangka Pendidikan Inklusif.
Surabaya. Makalah Temu Ilmiah Nasional.

117

PENGUATAN PERAN GURU BK
DALAM MENGENTASKAN PENDIDIKAN KARAKTER
Dr. Gendon Barus, M.Si
Dosen Prodi BK Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
Abstract
This article is expected to be inspiring the managerial of school, especially at the Junior High
School level to optimize the involvement of the role of Guidance and Counseling teacher/School
Counselor in actualizing their function-role as designers, developers, and implementers selfdevelopment nuanced character education. The results of the writer's research in 5 Junior High
School in 5 cities in Java showed that the implementation of character education in the Junior High
School with integration system to the subjects which have not shown encouraging results. Besides
only stopping at the level of cognitive, the charge of character values that are integrated into a
variety of subjects it is only "patch", a wonderful writing in the Lesson Plan (RPP) but poor in the
action of implementation. In fact, almost all of the 155 subject teachers were interviewed, claimed to
have limited capabilities, constrained lot of obstacles, and find many difficulties in describing,
actualizing, and grounding the charge in an integrated character education into subjects. The
Guidelines of Character Education Implementation by the Directorate of Junior High School in
2010 was felt less operational. On the other hand, the presence and role of the School Counselor
(Guidance and Counseling teacher) which is specially equipped for the role of character education
transmitter has not been involved in an optimal. It is necessary concrete steps in establishing a
professional collaborative partnership between the School Counselor with subject teachers in the
instructional role synergize with transmitter function values (character) is more professional, to
improve the quality of education in the Indonesian people fully development corridors and the
competitiveness of nations. To call this task, Guidance and Counseling teacher need to increase
their knowledge and skills in the use of experiential learning approach strategy in classical
guidance services.
Keywords: character education, classical guidance, experiential learning
Pengantar
Kolaborasi guru mata pelajaran dengan konselor/guru BK dalam mengoptimalkan
keterlaksanaan dan hasil pendidikan karakter di SMP di seluruh tanah air semakin mendesak dilakukan.
Melalui layanan dasar bimbingan (guidance curriculum)—satu dari empat komponen program BK
Komprehensif—diharapkan sekolah dapat memadukan pendidikan intelektual dan pendidikan
nilai/karakter secara lebih seimbang (Raybum, 2004), sehingga kebutuhan-kebutuhan psikososial peserta
didik untuk menjamin kelancaran tugas-tugas perkembangan dirinya secara lebih komprehensif,
harmonis, dan utuh dapat lebih terlayani.
Khusus dalam konteks pendidikan karakter terintegrasi di SMP yang penyelenggaraannya
dibebankan kepada guru mata pelajaran, di mana-mana ditemukan masalah yang umum adalah, bahwa
para guru dalam mengeksplisitasikan muatan karakter ke dalam pembelajaran mengalami kesulitan.
Gagasan ini menawarkan suatu model pendidikan karakter di SMP, terutama dengan mengoptimalkan
keterlibatan konselor (guru BK) sebagai tenaga kependidikan yang berbekal khusus keilmuan profesional
di bidang helping profession yang kompeten dalam mendisain dan melaksanakan program pengembangan
diri bidang-bidang pribadi, sosial, belajar, dan karier, termasuk di dalamnya kemahiran dalam mendisain
dan melaksanakan pendidikan nilai-nilai atau pendidikan karakter melalui layanan bimbingan klasikal
yang penyajiannya dilakukan secara kolaboratif (antara konselor/guru BK dengan guru mata pelajaran)
dengan mengaplikasikan pendekatan experiential learning.
Masalah
Apa yang Salah dengan Pendidikan Karakter Terintegrasi di SMP?
Pada jenjang pendidikan SMP, pengembangan pendidikan karakter ditangani oleh Direktorat
Pembinaan SMP Kemdiknas (Panduan Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah Pertama, Direktorat
Pembinaan SMP, 2010). Implementasi pendidikan karakter di SMP diharapkan agar siswa mampu
meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi, serta
mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.
Permasalahannya adalah, pendidikan karakter di sekolah, khususnya di SMP di seluruh tanah air
selama ini baru menyentuh pada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai, dan belum pada tingkatan
internalisasi dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari (Suyanto, 2011). Benih-benih kegagalan

118

implementasi pendidikan karakter di SMP dapat ditunjukkan antara lain, meningkatnya kenakalan, tindak
kriminalitas, maupun kemerosotan nilai dan moral yang terjadi di kalangan remaja. Data BNN (Badan
Narkotika Nasional) menyatakan bahwa 50-60% pengguna narkoba di Indonesia adalah kalangan remaja
yakni kalangan pelajar dan mahasiswa. Total seluruh pengguna narkoba berdasarkan penelitian yang
dilakukan BNN dan UI sebanyak 3,8-4,2 juta. Tak hanya kasus penyalahgunaan narkoba, tawuran pelajar
pun seolah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perilaku kenakalan pelajar usia belasan tahun ini.
Pada data KOMNAS Perlindungan Anak, jumlah tawuran pelajar sudah memperlihatkan kenaikan pada
enam bulan pertama tahun 2012 hingga bulan Juni. Pada data tersebut tercatat 139 kasus tawuran di
wilayah Jakarta, di mana 12 kasus di antaranya telah menyebabkan kematian. Data setahun sebelumnya,
yakni tahun 2011, mengungkapkan bahwa telah terjadi 339 kasus tawuran yang menyebabkan 82 anak
meninggal dunia (www.syababindonesia.com).
Kasus kenakalan dan kemerosotan moral/nilai dalam diri remaja tak hanya berhenti pada kasus
penyalahgunaan narkoba dan tawuran pelajar semata. Zoy Amirin, seorang pakar psikologi seksual dari
Universitas Indonesia (UI), mengutip sexual behavior survey 2011. Data survei tersebut menunjukkan
bahwa 64% anak muda di kota-kota besar Indonesia ―belajar‖ seks melalui film porno atau DVD bajakan.
Dari hasil survey yang sama diperoleh data bahwa 39% responden ABG usia 15-19 tahun mengaku sudah
pernah berhubungan seksual. Pada tahun 2007 tercatat 500 jenis video porno asli produksi dalam negeri.
Tiga tahun berselang, yakni pada tahun 2010 jumlah tersebut melonjak menjadi 800 jenis. Fakta paling
memprihatinkan dari fenomena di atas adalah kenyataan bahwa sekitar 90% dari video tersebut,
pemerannya berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Base line survey yang dilakukan oleh BKKBN
LDFE UI (2000) berkenaan dengan kasus aborsi, dikatakan bahwa di Indonesia terjadi 2,4 juta kasus
aborsi/tahun dan sekitar 20% (700-800 ribu) dilakukan oleh remaja. Sebuah penelitian juga
mengungkapkan fakta, dimana semakin meningkatnya jumlah anak dan remaja yang terjebak di dunia
prostitusi di Indonesia empat tahun terakhir ini. Data penelitian tersebut menyebutkan sekitar 150.000
anak di bawah usia 18 tahun menjadi pekerja seks (www.syababindonesia.com/2012).
Dalam pada itu, Mochtar Buchori (2007) menegaskan,
Masalah character building masih merupakan suatu isu besar, bahkan amat besar. Semua
kebobrokan yang kita rasakan kini lahir dari tidak adanya watak yang cukup kokoh pada diri kita
bersama. Watak bangsa rapuh dan watak manusia Indonesia mudah goyah. Saya kira jumlah
orang yang jujur masih cukup banyak di Indonesia, tetapi mereka tidak berdaya menghadapi
kelompok kecil manusia Indonesia yang korup, yang mempunyai kekuasaan atau membonceng
pada kekuasaan. Ungkapan character building kini sudah klise kosong, nyaris tidak bermakna.
Diucapkan para politisi, birokrat pendidikan, pemimpin organisasi pendidikan, ungkapan ini
tidak meninggalkan bekas apa-apa. (http://www.kompas.co.id/)
Jadi apa yang salah dengan pendidikan karakter kita? Banyak sekali!, lanjut Mochtar Buchori
(2007),
―Pendidikan watak‖ diformulasikan menjadi pelajaran agama, pelajaran kewarganegaraan, atau
pelajaran budi pekerti, yang program utamanya ialah pengenalan nilai-nilai secara kognitif
semata. Paling-paling mendalam sedikit sampai ke penghayatan nilai secara afektif. Padahal
pendidikan karakter seharusnya membawa peserta didik ke pengenalan nilai secara kognitif,
penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata.
Berangkat dari fenomena di atas, mendesak perlu dilakukan evaluasi komprehensif tentang
keterlaksanaan, hambatan-hambatan, dan efektivitas pendidikan karakter yang telah berlangsung dengan
sistem terintegrasi di SMP sejak 2010 itu. Permasalahan pendidikan karakter yang selama ini ada di SMP
perlu segera dikaji, dan dicari altenatif-alternatif solusinya, serta perlu dikembangkan suatu model
pelaksanaannya secara lebih operasional dan efektif sehingga mudah diimplementasikan di sekolah.
Sekolah-sekolah yang selama ini telah berhasil melaksanakan pendidikan karakter dengan baik dapat
dijadikan sebagai best practices, yang menjadi contoh untuk disebarluaskan ke sekolah-sekolah lainnya.
Pemerintah perlu mengambil kebijakan untuk mengoptimalkan keterlibatan konselor (guru BK) sebagai
tenaga kependidikan yang berbekal khusus keilmuan profesional di bidang helping profession yang
kompeten dalam mendisain dan melaksanakan program pengembangan diri bidang-bidang pribadi, sosial,
belajar, dan karier, termasuk di dalamnya kemahiran dalam mendisain dan melaksanakan pendidikan
nilai-nilai atau pendidikan karakter melalui layanan bimbingan klasikal yang penyajiannya dilakukan
secara kolaboratif (antara konselor/guru BK dengan guru mata pelajaran) dengan mengaplikasikan
pendekatan experiential learning. Dengan kolaborasi kemitraan ini, para guru mata pelajaran yang
mengalami kesulitan dalam mendisain strategi yang tepat dalam mentransmitter pendidikan karakter

119

kepada para siswa dalam pembelajaran di kelas dapat terbantu oleh keahlian guru BK dalam mendesain
strategi dan metode penanaman karakter yang lebih efektif dan menarik di depan kelas.
Pembahasan
Potret Keterlaksanaan dan Hasil Pendidikan Karakter Terintegrasi di SMP
Hasil penelitian penulis bersama tim dosen prodi BK USD yang didanai Stranas tahun 2014 pada
5 SMP di 5 kota (Tangerang, Wates/Kulon Progo, Jogjakarta, Solo, dan Malang) menemukan bahwa,
keterlaksanaan pendidikan karakter berlangsung dalam ragam variasi kegiatan yang berbeda-beda pada
sekolah satu dengan sekolah lainnya. Sekolah-sekolah negeri (SMP Negeri) cenderung mempedomani
rambu-rambu pelaksanaan pendidikan karakter terintegrasi yang dikeluarkan oleh pemerintah (Buku
Pedoman Pendidikan Karakter di SMP, Direktorat Pembinaan SMP, 2010) dengan berorientasi pada
pengintegrasian pendidikan karakter ke dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Dalam perencanaan, setiap
guru harus mencantumkan nilai-nilai karakter (dipilih dari daftar 20 nilai karakter yang diprioritaskan)
yang relevan dengan pokok bahasan dalam RPP pada setiap mata pelajaran. Strategi ini, menurut
pengakuan hampir semua guru mata pelajaran menjadikan implementasi pendidikan karakter terhenti
pada tataran angan-angan. Tertulis indah dan rapi dalam RPP, tetapi miskin dalam aksinya. Cara inilah
yang disindir banyak kalangan sebagai sistem pendidikan karakter ―tempelan‖. Kenyataan ini
memperkuat selorohan Mochtar Buchori (2007), ―Ungkapan character building kini sudah klise kosong,
nyaris tidak bermakna. Diucapkan para politisi, birokrat pendidikan, pemimpin organisasi pendidikan,
ungkapan ini tidak meninggalkan bekas apa-apa‖ (http://www.kompas.co.id/).
Pada kasus penelitian ini, sekolah-sekolah swasta nasional (secara kebetulan 2 SMP Katholik)
tampak lebih kaya dan variatif dalam ragam aksi implementasi pendidikan karakter di sekolah.
Manajemen sekolah dan para guru di sana lebih kreatif dalam mengeksplorasi bentuk-bentuk dan wahana
implementasi pendidikan karakter di sekolah mereka selain mengintegrasikan penanaman nilai-nilai
karakter dalam pembelajaran mata pelajaran di latar kelas. Bentuk-bentuk dan saluran kegiatan
penanaman nilai karakter yang dipilih juga bersifat embided dalam aktivitas pesta sekolah yang secara
tradisional dilestarikan. Untuk menjadi seseorang yang berkarakter, para peserta didik tidak harus dibawa
ke suasana asing dengan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan dadakan yang mengada-ada. Mereka
membudayakan keberlangsungan retreet, rekoleksi, latihan kepemimpinan, perayaan ulang tahun sekolah,
misa (ibadah) rutin bulanan, renungan pagi setiap mengawali kegiatan kelas, pendidikan seksualitas, dll
sebagai sarana pembiasaan. Sekolah-sekolah ini secara konsisten menegakkan semboyan, ―all for
character and then character for all‖.
Kenyataan bahwa pada sekolah-sekolah swasta Katholik pelaksanaan pendidikan karakter
berlangsung secara lebih bertanggung jawab dapat dipahami dalam konteks budaya moral komunitas.
Bagaimana kita selanjutnya memikirkan sekolah sebagai lingkungan moral dan apa karakteristik
lingkungan sekolah yang kondusif bagi perkembangan nilai dan moral, itulah pertanyaan yang selalu
berkecamuk dalam benak para manajerial dan para guru di sekolah-sekolah Katholik. Mereka menerima
dan memberi tempat yang penuh bagi setiap peserta didik sebagai anggota komunitas. Power dan
D‘Alessandro (2014:348) menuliskan:
Meskipun umumnya sekolah hanya dapat memenuhi tuntutan minimal keadilan, sekolah tetap
didedikasikan pada upaya terus-menerus untuk menjadi lebih adil dan komunal. … Pendekatan
khas pendidikan karakter pada membangun kepedulian dan komunitas menyediakan kegiatan bagi
siswa untuk mengenal satu sama lain dengan lebih baik, merasa aman dan nyaman di dalam kelas,
menemukan minat bersama, dan belajar keterampilan kooperatif. Metode ini mendorong
perkembangan komunitas dengan membangun ikatan perhatian dan kasih sayang bersama. …
Guru, tentu saja, sering menyajikan tujuan komunitas kelas pada siswa dan menetapkan aturanaturan tertentu yang diperlukan bagi pemeliharaan komunitas semacam ini. Bahkan guru yang
menggunakan pertemuan kelas untuk menangani masalah bersama tidak secara sadar menjadikan
pertemuan kelas sebagai cara untuk mengembangkan budaya yang lebih bermoral di dalam kelas.
Kekayaan bentuk-bentuk dan variasi ragam saluran pendidikan karakter yang diimplementasikan
pada sekolah-sekolah swasta Katholik dibandingkan dengan minimnya pilihan cara penanaman nilai-nilai
karakter di sekolah-sekolah negeri juga dapat ditelusuri sebagai dampak positif pelibatan secara optimal
peran guru BK atau konselor sekolah dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan implementasi
pendidikan karakter di sekolah. Peran guru BK pada sekolah-sekolah negeri tidak dilibatkan secara penuh
dalam perencanaan dan implementasi pendidikan karakter di sekolah. Bahkan di banyak sekolah negeri,
guru BK tidak diberi jam layanan bimbingan masuk kelas. Hal ini bermula dari ketaatan membabi buta
para manajerial dan staf sekolah negeri terhadap Pedoman Pendidikan Karakter di SMP yang
diperintahkan oleh Direktorat Pembinaan SMP (2010) sebagai standar minimal ketentuan pelaksanaan

120

pendidikan karakter di sekolah yang di dalamnya sama sekali tidak menuliskan sepenggal katapun tentang
keterlibatan guru BK atau Konselor dalam pendidikan karakter terintegrasi di sekolah. Maka tidak
mengherankan, jika dalam kasus penelitian ini, pada ke 3 SMP Negeri plaksanaan pendidikan karakter
sangat miskin dalam gagasan dan kering dalam aksinya. Lantas, para guru berkilah bahwa implementasi
pendidikan karakter terintegrasi dalam pembelajaran sulit dalam penerapannya karena panduan yang
diberikan pemerintah untuk mengatur hal itu sangat tidak operasional. Dalam hal ini tak dapat disangkal
sinyalemen Suyanto (2011) yang berkomentar bahwa pendidikan karakter di sekolah, khususnya di SMP
di seluruh tanah air selama ini baru menyentuh pada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai, dan
belum pada tingkatan internalisasi dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Para gurupun ramairamai membenarkan bahwa nilai karakter yang dicantumkan dalam RPP itu masih berhenti di tataran
ceramah dan memberi nasihat saja.
Dilihat dari hasilnya, implementasi pendidikan karaketr terintegrasi di SMP, efektivitasnya
belum menggembirakan. Temuan evaluatif secara empirik menunjukkan bahwa 36,4% dari 653 siswa
SMP di 5 kota yang diteliti masih berada pada kategori kurang baik dan beberapa di antaranya buruk
dalam capaian skor karakternya. Hanya 12,3% dari 653 siswa tersebut yang masuk pada kategori baik
dengan capaian skor ≥ 7 pada skala stannine. Apa yang menyebabkan hasil rendah ini? Selain pedoman
yang tidak operasional dalam implementasi pendidikan karakter terintegrasi dengan pembelajaran, para
guru berhenti sekedar ―menempelkan‖ nilai karakter pada RPP tanpa aksi nyata, penanaman nilai karakter
masih berhenti pada tataran pengenalan kognitif dengan cara-cara ceramah. Implementasi pendidikan
karakter belum menyentuh dimensi penghayatan afektif dan masih jauh dari tataran pengamalan nilai
secara nyata dalam tindak perilaku hidup terpelajar sehari-hari. Konsep dasar yang dipergunakan sebagai
orientasi pendidikan karakter di Indonesia juga tidak jelas ujung pangkalnya. Dari mana berangkatnya
dan mau ke mana pendidikan karakter dibawa, landasan filosofisnya tidak mudah ditemukan. McLaughlin
dan Halstead (dalam Arthur, 2014) mengamati bahwa gerakan pendidikan karakter ini: ‗tidak memiliki
perspektif teoritis dan dasar praktek bersama‘.
Penerapan sistem poin yang berasumsi bahwa pelanggaran-pelanggaran ‗kejahatan‘ siswa harus
dihitung, dicatat, dan ditakar sangat tidak berakar dan tidak memanusiakan. Mengambil pandangan yang
sepenuhnya negatif pada anak dengan menganggap bahwa anak dilahirkan berdosa dan jahat dan bahwa
adalah tugas pendidikan untuk memperbaiki ini melalui hukuman dan melatih ketaatan, merupakan
langkah awal kekeliruan dalam penerapan sistem poin. Pendekatan ini sering abstrak dan tidak banyak
menjelaskan pada guru tentang paktek pedagogis pembentukan karakter.
Kekurangberhasilan pendidikan karakter melalui sistem pengajaran langsung (terintegrasi) juga
dapat disebabkan karena semakin kuatnya ‗relativisme moral masyarakat‘. Praktek-praktek mafia
peradilan adalah salah satu contoh gamblang fenomena relativisme moral. Televisi dan media massa
mempertontonkan dengan telanjang bagaimana pengacara membela seorang pembunuh agar dibebaskan
dari tuduhan kejahatan. Pada sisi lain, penyimpangan remaja dari ‗karakter baik‘ harus dilihat dalam
konteks latar belakang perpecahan keluarga, kekerasan dalam rumah tangga, kemiskinan, dan gempuran
terus-menerus tayangan kekerasan dan kenikmatan seks di media dan internet. Sebagai akibat dari hal ini,
semakin banyak siswa yang berangkat ke sekolah dengan menunjukkan gejala kecemasan, kelabilan
emosi, dan perilaku agresif. Mereka tampaknya tidak memiliki banyak keterampilan sosial dan
mengalami rendah diri. Semuanya ini memiliki efek umum mengurangi secara signifikan kemampuan
sekolah untuk mengembangkan watak karakter yang positif.
Sementara itu, teridentifikasi 25 dari 50 butir pernyataan nilai karakter (dalam skala pengukuran
hasil pendidikan karakter) yang capaian skornya kurang baik dan 5 butir diantaranya bahkan dalam
kategori buruk. Jiwa kewirausahaan, kemandirian, rasa ingin tahu, patuh pada peraturan sosial, dan
menghargai karya/prestasi orang lain teridentifikasi sebagai 5 nilai karakter yang capaiannya masih
buruk. Agak mencengangkan, terdapat nilai karakter tertentu yang belum berhasil dicapai oleh siswa
kelas VIII yang banyaknya hampir dua kali lipat dibandingkan pada siswa kelas VII. Artinya, dengan
meningkatnya kelas, usia kognitif, dan penalaran moral tidak serta merta semakin meningkat kematangan
karakter siswa, bahkan dalam kasus ini, capaian nilai karakter siswa kelas VII lebih baik.
Berangkat dari ketidakefektivan pelaksanaan dan hasil pendidikan karakter terintegrasi di SMP
seperti itu, di mana guru BK? Peran apa yang dapat dimainkan guru BK/konselor di sekolah? Kompetensi
apa yang perlu diperkuat agar Guru BK dapat ikut memainkan perannya dalam pengentasan pendidikan
karakter di sekolah?
Pelayanan Bimbingan dan Konseling Sebagai Sarana Pendidikan Karakter di SMP
Jika dicermati secara jeli, terdapat tautan yang saling mutual antara tujuan-tujuan pendidikan
karakter dengan tujuan-tujuan pelayanan bimbingan (dan konseling) di sekolah. Mengingat bimbingan
merupakan bagian integral dalam pendidikan, maka tujuan pelaksanaan bimbingan merupakan bagian tak

121

terpisahkan dari tujuan pendidikan tingkat nasional maupun tujuan pendidikan dasar (SD dan SMP).
Tujuan pelayanan bimbingan dan konseling berfokus pada pengembangan nilai-nilai kehidupan (karakter)
peserta didik sebagai pribadi, sekurang-kurangnya mencakup upaya untuk: (1) memperkuat dasar
keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (2) membiasakan diri untuk berperilaku yang
baik, (3) memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar, (4) memelihara kesehatan jasmani dan rohani,
(5) menanamkan kesadaran berbudaya belajar dan melatih kemampuan untuk terampil belajar, dan (6)
membentuk kepribadian yang mantap dan mandiri. Pengembangan sebagai anggota masyarakat
mencakup upaya untuk: (1) memperkuat kesadaran hidup beragama dan toleransi keberagamaan dalam
masyarakat, (2) menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam lingkungan hidup, dan (3) memberikan
pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk berperan serta dalam kehidupan
bermasyarakat. Pengembangan sebagai warga negara mencakup upaya untuk: (1) mengembangkan
perhatian dan pengetahuan menyangkut hak dan kewajiban sebagai warga negara RI, (2) menanamkan
rasa ikut bertanggung jawab terhadap kemajuan bangsa dan negara, (3) memberikan pengetahuan dan
keterampilan dasar yang diperlukan untuk berperan serta dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pengembangan sebagai umat manusia mencakup upaya untuk: (1) meningkatkan harga diri sebagai
bangsa yang merdeka dan berdaulat, (2) meningkatkan kesadaran tentang HAM, (3) memberi pengertian
tentang ketertiban dunia, (4) meningkatkan kesadaran tentang pentingnya persahabatan antarbangsa, dan
(5) mempersiapkan peserta didik untuk menguasai isi kurikulum (Ahman, 1998).
a. Peran Konselor dalam Pendidikan Karakter
Peran dan keterlibatan konselor/guru BK dalam pendidikan karakter di sekolah sangat tegas
disebutkan dalam kutipan berikut:
Professional school counselors need to take an active role in initiating, facilitating and
promoting character education programs in the school curriculum. The professional school
counselor, as a part of the school community and as a highly resourceful person, takes an
active role by working cooperatively with the teachers and administration in providing
character education in the schools as an integral part of the school curriculum and
activities” (ASCA dalam Nur Wangid, 2010).
b. Materi Pendidikan Karakter dalam Layanan Bimbingan dan Konseling
Materi Pendidikan Karakter dalam Layanan Bimbingan, antara lain dapat mencakup: (1) Perilaku
seksual sehat; (2) Pengetahuan tentang karakter; (3) Pemahaman tentang moral sosial; (4) Keterampilan
pemecahan masalah; (5) Kompetensi emosional; (6) Hubungan dengan orang lain; (7) Perasaan
keterikatan dengan sekolah; (8) Prestasi akademis; (9) Kompetensi berkomunikasi; dan (10) Sikap
kepada guru (Berkowitz, Battistich, dan Bier dalam Muhammad Nur Wangid, 2010).
c. Strategi Pendidikan Karakter Melalui Layanan Bimbingan dan Konseling
Strategi pendidikan karakter melalui pelayanan bimbingan dan konseling dapat dilakukan melalui: (1)
Layanan Dasar; (2) Layanan Responsif; (3) Perencanaan Individual; dan (4) Dukungan Sistem. Strategi
layanan dasar bimbingan merupakan pintu masuk bagi penyaluran pendidikan karakter melalui proses dan
aktivitas bimbingan klasikal untuk membantu pemenuhan kebutuhan semua siswa terhadap penanaman
nilai-nilai karakter. Perjumpaan interaktif di kelas antara konselor/guru BK dengan peserta didik secara
rutin/terjadual sangat dibutuhkan dalam mana kesempatan itu sangat berguna untuk memberikan layanan
preventif dan pengembangan diri. Kehadiran konselor tidak dapat direduksi hanya sekedar untuk
melaksanakan layanan konseling bagi peserta didik bermasalah (Gysbers, 2004; Gysbers dan Henderson,
2000; Sink dan Stroh, 2003; Lapan, 2001; Rowley, 2005).
Layanan Bimbingan Klasikal Sebagai Saluran Pendidikan Karakter di SMP
Ada empat pendekatan dalam bimbingan, yaitu pendekatan (a) krisis, (b) remidial, (c) preventif,
(d) perkembangan (Muro & Kottman, 1995). Pendekatan perkembangan merupakan pendekatan yang
lebih mutakhir dan lebih proaktif dibandingkan dengan ketiga pendekatan lainnya. Pembimbing yang
menggunakan pendekatan ini beranjak dari pemahaman tentang kebutuhan peserta didik berupa
kompetensi-kompetensi atau kemampuan, keterampilan, dan pengalaman khusus yang dibutuhkan peserta
didik untuk mencapai keberhasilan di sekolah, melaksanakan tugas-tugas perkembangannya, dan
memperoleh kecakapan dalam mengelola kehidupan life skill dan soft skills (Myrick, 1989). Berbagai
teknik dapat digunakan dalam pendekatan ini, seperti pendidikan nilai-nilai hidup, klarifikasi nilai,
experiential learning, tukar informasi, bermain peran, pelatihan, tutorial, dinamika kelompok, dan
konseling kelompok (Barus & Sri Hastuti, 2011). Dalam pendekatan perkembangan, keterampilan dan
pengalaman belajar yang menjadi kebutuhan peserta didik akan dirumuskan ke dalam suatu kurikulum
bimbingan yang penyampaiannya disalurkan melalui layanan/kegiatan bimbingan klasikal (classroom
guidance activities).

122

Layanan bimbingan klasikal/kelompok pada hakekatnya memiliki fokus perhatian pada
terjadinya perubahan pengetahuan, sikap, perilaku, dan nilai-nilai pada peserta yang dilayani. Kegiatan
out-bound dan kegiatan pelatihan pengembangan diri sangat kental berisi kurikulum bimbingan karakter.
Semua kegiatan tersebut memuat aspek-aspek dan pelaksanaannya mengikuti prinsip-prinsip prosedur
pelatihan pengembangan diri (Barus, 2011a).
Layanan bimbingan klasikal (classroom guidance activities) yang dilaksanakan di dalam atau di
luar kelas pada umumnya dilaksanakan dalam satu rangkaian kegiatan experiential learning dengan
prosedur: pengantar/instruksidinamika kelompok/group processrefleksi pengalamansharing
pengalamanperumusan niat (I statement) untuk berubah/perbaikan diri. Prosedur ini bertujuan untuk
mengembangkan dimensi sosial-psikologis, keterampilan hidup, klarifikasi nilai, dan perubahan sikapperilaku individu dalam kelompok (Barus, 2008; Barus, 2010).
Proses layanan bimbingan klasikal atau bimbingan kelompok memiliki ciri-ciri kekhususan
tertentu dalam pendekatan, metoda, dan strategi penyampaiannya. Dalam layanan bimbingan klasikal,
pendekatan experiential learning lebih ditekankan, mengingat layanan bimbingan lebih menonjol muatan
aspek afeksi (nilai, sikap), perilaku, dan nilai-nilai karakter. Pada layanan bimbingan klasikal, peserta
kegiatan diharapkan lebih banyak berproses, aktif, reflektif, dan dinamis—group process or group
dynamic principles (Barus, 2011a). Dalam layanan bimbingan klasikal bagi siswa SMP penekanan hasil
lebih pada aspek perubahan sikap, perilaku mandiri, nilai-nilai karakter, dan keterampilan hidup (life
skills) yang mendukung pada sukses studi dan sukses bergaul (penyesuaian diri).
Pendekatan Experiential Learning: Efektif untuk Penanaman Nilai-nilai Karakter
Berbeda dengan kegiatan instruksional (pembelajaran) mata pelajaran yang pada umumnya
menekankan prosedur didaktis yang menghasilkan perkembangan kognitif, implementasi pendidikan
karakter melalui layanan bimbingan kelompok/klasikal lebih menekankan penggunaan pendekatan
experiential learning, semisal teknik dinamika kelompok (group dynamic) atau cara-cara kegiatan
kelompok lainnya. Penanaman nilai-nilai karakter melalui kegiatan bimbingan klasikal dengan teknik
dinamika kelompok dapat menumbuhkan kekuatan yang berpengaruh positif bagi para peserta kegiatan
kelompok tersebut, seperti: perasaan aman, harapan memperoleh sesuatu yang berguna, keterbukaan,
saling menaruh perhatian, saling pengertian, saling menerima, kejujuran, empati, dan terarah pada tujuan.
Daya terapeutik yang dikandung dalam kekuatan-kekuatan dinamika kelompok tersebut dapat
menghasilkan perubahan-perubahan dalam diri sendiri, dalam sikap, dan perilaku.
Salah satu strategi pelaksanaan program bimbingan adalah experiential learning. Konsep
experiential learning pertama kali dicetuskan oleh David Kolb (1984). Kolb mengatakan: “experiential
learning: experience as the source of learning and development”. Dalam pernyataan tersebut terkandung
makna bahwa pendekatan experiential learning adalah pembelajaran yang memberikan pengalaman
nyata kepada peserta didik. Peserta didik berperan secara aktif mengeksplorasi, dan membuat catatan
tentang peristiwa yang terjadi. Hal yang dipentingkan dalam belajar adalah proses belajar yang
berkualitas. Kata kunci yang terdapat dalam strategi experiential learning adalah pengalaman
(experience).
Lewat experiential learning ini para siswa melakukan sendiri penemuan-penemuan dan
percobaan ―kepengetahuanan,‖ bukan mendapatkan pengetahuan lewat mendengar atau membaca
pengalaman orang lain. Melalui experiential learning para siswa dapat pula melakukan refleksi
(perenungan-pengkajian) akan pengalamannya, sehingga terkembangkanlah kecakapan barunya, sikap
barunya, dan teori-teori atau pola pikirnya (Kraft & Sakofs, 1988, dalam www.Psychology.wiki.com).
Teori ini mendefinisikan belajar sebagai proses tempat pengetahuan diciptakan melalui transformasi
pengalaman.
Konsep experiential learning yang dikemukakan David Kolb sejalan dengan konsep structured
experiences Pfeiffer dan Jones (Supratiknya, 2011: 75). Structured experiences atau pengalaman
terstruktur dipahami sebagai berikut: “learning situations...based on experiential model...inductive rather
than deductive, providing direct rather than vicarious learnings...participants discover meaning for
themselves and validate their own experience”. Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa pengalaman
terstruktur merupakan situasi pembelajaran yang didasarkan pada model pembelajaran eksperiensial,
yang lebih bersifat induktif daripada deduktif, memberikan pengalaman belajar langsung daripada lewat
pengalaman orang lain, dan para partisipan diberi kesempatan menemukan sendiri makna hasil belajarnya
serta menguji sendiri kesahihan pengalamannya tersebut.
Experiential learning menekankan pada keinginan kuat dari dalam diri siswa untuk berhasil
dalam belajarnya. Motivasi didasarkan pula pada tujuan yang ingin dicapai dan model belajar yang
dipilih. Keinginan untuk berhasil tersebut dapat meningkatkan tanggung jawab siswa terhadap perilaku
belajarnya dan mereka akan merasa dapat mengontrol perilaku tersebut. Experiential learning menunjuk

123

pada pemenuhan kebutuhan dan keinginan siswa. Kualitas belajar experiential learning mencakup:
keterlibatan siswa secara personal, berinisiatif, evaluasi oleh siswa sendiri dan adanya efek yang
membekas pada siswa.
Pembelajaran experiential learning menggunakan pengalaman sebagai katalisator untuk
menolong pembelajar mengembangkan kapasitas dan kemampuannya dalam proses pembelajaran. Polapola yang digunakan dalam model tersebut yaitu let experience speak by their self, tell story, and
reflection. Proses belajar dalam experiential learning merupakan kegiatan merumuskan sebuah tindakan,
mengujinya, menilai hasil dan memperoleh feedback, merefleksikan, mengubah dan mendefinisikan
kembali sebuah tindakan berdasarkan prinsip-prinsip yang harus dipahami dan diikuti. Proses belajar
semacam inilah yang paling sesuai untuk pembelajaran domain afeksi dan perilaku berkarakter yang
menjadi misi utama layanan bimbingan dan konseling di sekolah.
Berdasarkan tahapan di atas, proses belajar dimulai dari pengalaman konkrit yang dialami
seseorang. Pengalaman tersebut kemudian direfleksikan secara individu. Dalam proses refleksi tersebut,
seseorang akan berusaha memahami yang terjadi atau yang dialami. Refleksi menjadi dasar proses
konseptualisasi atau proses pemahaman prinsip-prinsip yang mendasari pengalaman yang dialami serta
prakiraan kemungkinan aplikasinya dalam situasi atau dalam konteks yang lain. Proses implementasi
merupakan situasi dan konteks yang memungkinkan penerapan konsep yang sudah dikuasai.
Kemungkinan belajar melalui pengalaman-pengalaman nyata kemudian direfleksikan dengan mengkaji
ulang yang telah dialaminya tersebut. Pengalaman yang telah direfleksikan kemudian diatur kembali
sehingga membentuk pengertian-pengertian baru atau konsep-konsep abstrak yang akan menjadi petunjuk
bagi terciptanya pengalaman atau perilaku-perilaku baru. Proses pengalaman dan refleksi dikategorikan
sebagai proses penemuan (finding out), sedangkan proses konseptualisasi dan implementasi dikategorikan
dalam proses penerapan (taking action).
Experiential learning adalah suatu proses saat siswa mengkonstuksi atau menyusun pengetahuan
keterampilan dan nilai dari pengalaman langsung. Adapun prinsip dasar eksperiential learning adalah
sebagai berikut: (a) tahapan pengalaman nyata, (b) tahap observasi refleksi, (c)) tahap konseptualisasi,
dan (d) tahap implementasi. Keempat tahap tersebut oleh David Kolb (1984) dan oleh ahli-ahli yang
mengembangkan model belajar experiential learning divisualisasikan melalui gambar seperti tampak
pada Gambar 1.
Dalam tahapan pada Gambar 1 terlihat, proses belajar dimulai dari pengalaman konkret yang
dialami seseorang. Pengalaman tersebut kemudian direfleksikan secara individu. Dalam proses refleksi,
seseorang akan berusaha memahami apa yang terjadi atau apa yang dialaminya. Refleksi menjadi dasar
konseptualisasi atau proses pemahaman prinsip-prinsip yang mendasari pengalaman yang dialami serta
prakiraan kemungkinan aplikasinya dalam situasi atau konteks yang lain. Proses implementasi merupakan
situasi atau konteks yang memungkinkan penerapan konsep yang sudah dikuasai.
Concrete Experience
Feeling

Gambar

Processing
Continuum
1. Lingkaran
how we

Converging
(think and do)
AC/AE

how we think about things

Active
Experimentation
Doing

Diverging
(feel and watch)
CE/RO

Perception Continuum

Accommodating
(feel and do)
CE/AE

Experiential
Learning Kolb
do things

Abstract
Conceptualisation
Thinking

Assimilating
(think and watch)
AC/RO

Reflective
Observation
Watching

124

Kemungkinan belajar melalui pengalaman-pengalaman nyata kemudian direfleksikan dengan mengkaji
ulang apa yang telah dilakukannya tersebut. Pengalaman yang telah direfleksikan kemudian diatur
kembali sehingga membentuk pengertian-pengertian baru atau konsep-konsep abstrak yang akan menjadi
petunjuk bagi terciptanya pengalaman atau perilaku-perilaku baru. Proses pengalaman dan refleksi
dikategorikan sebagai proses penemuan (finding out), sedangkan proses konseptualisasi dan implementasi
dikategorikan dalam proses penerapan (taking action).
Menurut experiential learning theory (Nasution dalam Baharudin dan Esa, 2007:167), agar
proses belajar mengajar efektif, seorang siswa harus memiliki empat kemampuan, seperti tampak pada
Tabel 1 berikut:
Tabel 1.
Kemampuan Siswa dalam Proses Belajar Experiential Learning
Kemampuan
Uraian
Pengutamaan
Concrete Experience (CE)
Siswa melibatkan diri sepenuhnya dalam Feeling (perasaan)
pengalaman baru
Reflection Observation
Siswa mengobservasi dan merefleksikan
Watcing
(RO)
atau memikirkan pengalaman dari
(mengamati)
berbagai segi
Abstract Conceptualization
Siswa menciptakan konsep-konsep yang
Thinking (berpikir)
(AC)
mengintegrasikan observasinya menjadi
teori yang sehat
Active Experimentation
Siswa menggunakan teori untuk
Doing (berbuat)
(AE)
memecahkan masalah-masalah dan
mengambil keputusan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa model pembelajaran experiential learning
merupakan model pembelajaran yang memperhatikan atau menitikberatkan pada pengalaman yang akan
dialami siswa. Siswa terlibat langsung dalam proses belajar dan siswa mengkonstruksi sendiri
pengalaman-pengalaman yang didapat sehingga menjadi suatu pengatahuan. Siswa akan mendapatkan
pengalaman-pengalaman yang berbeda dari apa yang mereka telah pelajari, hal ini karena perbedaan dan
keunikan dari masing-masing gaya belajar masing-masing siswa.
Experiential learning atau pembelajaran berbasis pengalaman pada dasarnya merupakan
pembelajaran berpusat pada siswa (student centered learning). Pendekatan belajar experiential learning
menuntut taraf keterlibatan pribadi yang tinggi dari pihak pembelajar. Siswalah yang harus aktif
melakukan atau mengalami aktivitas atau peristiwa tertentu, mengelolah, memaknai dan menafsirkan
pengalaman belajar dengan bantuan orang lain khususnya sesama pembelajar, dan berusaha menerapkan
hasil pembelajaran tersebut dalam menghadapai berbagai tugas dalam kehidupan nyata sehari-hari.
Menurut Supratiknya (2011:77) kegiatan inti yang lazim dipraktekkan pada berbagai tahap
proses belajar dalam siklus experiential learning ada dua, yaitu: (a) refleksi. Refleksi merupakan aktivitas
memantulkan atau menghadirkan kembali dalam batin aneka pengalaman yang sudah terjadi untuk
menemukan makna dan nilai yang lebih dalam. Refleksi yang benar akan membantu individu mencapai
insight atau pencerahan, yaitu menangkap pengertian dan nilai-nilai hidup yang semakin mendalam, serta
mendorong munculnya ketetapan hati untuk bertindak mewujudkan pengertian dan nilai hidup yang
semakin mendalam dalam kehidupan sehari-hari; (b) sharing. Sharing merupakan aktivitas membagikan
pikiran dan atau perasaan yang muncul sebagai hasil refleksi, kepada orang lain dalam kegiatan bersama.
Dalam sharing bersama atau saling berbagi hasil refleksi, masing-masing peserta saling mendengar,
saling membantu menangkap makna dan nilai yang semakin mendalam dari berbagai pengalaman hidup,
serta saling meneguhkan.
Prayitno, dkk (1998:90) menegaskan bahwa penyelenggaraan layanan bimbingan atau konseling
kelompok yang berkualitas melalui penerapan kegiatan dinamika kelompok yang efektif ditandai dengan
hadirnya suasana kejiwaan yang sehat di antara peserta layanan, meningkatnya spontanitas, lahirnya
perasaan positif (seperti senang, gembira, rileks, nikmat, puas, bangga), meningkatkan minat atau gairah
untuk lebih terlibat dalam proses kegiatan, memungkinkan terjadinya katarsis, serta meningkatnya
pengetahuan dan keterampilan sosial.

125

PENUTUP
1. Kesimpulan
Beberapa poin kesimpulan yang dapat ditarik berdasarkan paparan sederhana ini adalah sebagai
berikut:
a. Beberapa hambatan yang teridentifikasi dalam implementasi pendidikan karakter di SMP (kasus
pada 5 (lima) SMP di Jawa adalah (1) Pedoman Pendidikan Karakter dari Pemerintah c.q.
Direktorat Pembinaan SMP (2010) tidak operasional; (2) Penanaman nilai karakter yang
diintegrasikan melalui pembelajaran masih bersifat sekedar tempelan di RPP, indah dalam
perencanaan tetapi miskin dalam aksi, para guru mengaku sulit menerapkannya, tidak tahu
cara/strategi yang tepat dalam penyampaian nilai karakter yang dicantumkan dalam RPP kecuali
sekedar memberi nasehat-nasehat dan diceramahkan sambil memberi pesan-pesan moral
(berhenti pada tataran pengenalan kognitif); (3) Tidak tersedia alat dan cara evaluasi untuk
mengukur ketercapaian karakter; dan (4) Komitmen dan konsistensi para guru dalam menjaga
gawang karakter tidak selalu sama, cenderung rapuh; dan belum tercipta kolaborasi yang baik
antara para guru dan konselor/guru BK dalam implementasi pendidikan karakter.
b. Dilihat dari hasilnya, implementasi pendidikan karaketr terintegrasi di SMP, efektivitasnya
belum menggembirakan. Temuan evaluatif secara empirik menunjukkan bahwa 36,4% dari 653
siswa SMP di 5 kota yang diteliti masih berada pada kategori kurang baik dan beberapa di
antaranya buruk dalam capaian skor karakternya. Hanya 12,3% dari 653 siswa tersebut yang
masuk pada kategori baik dengan capaian skor ≥ 7 pada skala stannine.
c. Pendekatan experiential learning yang digunakan dalam layanan bimbingan klasikal memiliki
banyak keunggulan sebagai strategi yang lebih efektif dan sesuai untuk penanaman nilai-nilai
karakter. Oleh sebab itu, para guru BK diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan dalam penerapannya.
2. Saran/Rekomendasi
a. Kebijakan implementasi pendidikan karakter terintegrasi di SMP yang diatur dalam Pedoman
Pendidikan Karakter di SMP (Direktorat Pembinaan SMP, 2010) sudah waktunya perlu ditinjau
ulang oleh pemerintah (Depdikbud). Perlu ditegaskan cara-cara atau strategi implementasi
pendidikan karakter yang lebih operasional, praktis, dan mudah diterapkan oleh para guru di
sekolah.
b. Pendidikan karakter terintegrasi di SMP seyogianya dikaji ulang substansi dan sistem
penyelenggaraannya, terutama disesuaikan dengan konteks implementasi kurikulum 2013 dan
konteks gerakan revolusi mental yang digagas pemerintah baru
c. Keberadaan guru BK atau Konselor sekolah perlu dioptimalkan keterlibatannya sebagai
perancang, pengembang, pelaksana, dan evaluator pendidikan karakter di sekolah. Kompetensi
keilmuan psikologis dan keahlian manajemen pengembangan pendidikan karakter yang
diperoleh pada masa pendidikan calon guru BK dipandang cukup memadai untuk menjalankan
peran transmitter pendidikan nilai/karakter di sekolah.
d. Capaian hasil pendidikan karakter di SMP belum menggembirakan. Seyogianya semua pihak
perlu berbenah untuk menemukan cara-cara/strategi dan variasi saluran penanaman nilai karakter
yang lebih efektif, inovatif, kreatif, memanusiakan, dan lebih sesuai dengan perkembangan
pengetahuan, informasi, dan teknologi.
DAFTAR PUSTAKA
Adriansah, A. (2012). Kenakalan Remaja di Negeri ini Kian Merajalela. Diunduh pada tanggal 2
November 2014, dari http://www.syababindonesia.com/2012/11/ kenakalan-remaja-di-negeriini-kian.html.
Ahman. (1998). Bimbingan Perkembangan: Model Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar.
Disertasi (tidak diterbitkan). Bandung: Program Pascasarjana Institut Keguruan dan Ilmu
Pendidikan.
Arthur, J. dalam Larry P. Nucci & Darcia Narvaez. (2014). Handbook Pendidikan Moral dan Karakter.
Bandung: Nusa Media
Baharuddin dan Esa Nur Wahyu. (2007). Teori Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media
Grup.
Barus, G. (2008). Model Prosedur Pengembangan dan Implementasi Program Bimbingan dan Konseling
di Sekolah Dasar. Widya Dharma, Majalah Ilmiah Kependidikan. 19 (1), 37-61, Okt. 2008
Barus, G. (2010). Pengembangan model evaluasi pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah dasar.
Jurnal Penelitian, 14 (1), 135-160, Nov 2010

126

Barus, G. (2011). Pengukuran Kualitas Implementasi Layanan Bimbingan Klasikal di Sekolah. Jurnal
Penelitian, 15 (1), 35-55, Nov 2011
Barus, G. (2011a). Pengembangan Instrumen Asesmen Kebutuhan Perkembangan Peserta Didik sebagai
Sarana Penyusunan Kurikulum BK di Sekolah. Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan PPs
UNY. 15 (1). 75-90, Juni 2011
Barus & Sri Hastuti. (2011). Kumpulan Modul Pengembangan Diri. Yogyakarta: Penerbit Universitas
Sanata Dharma
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama Ditjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Kementerian Pendidikan Nasional. (2010). Panduan Pendidikan Karakter di Sekolah
Menengah Pertama. Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional.
Erford, B.T. (2007). Transforming the School Counseling Profession (Second Edition). New Jersey:
Pearson Merrill Prentice Hall.
Gysbers, N.C. & Henderson, P. (2000). Developing and Managing Your School Guidance Program (3rd
ed.). Alexandria, VA: American Counseling Association.
Gysbers, N.C. (2004). Comprehensive Guidance and Counseling Programs: The Evolution of
Accountability. Professional School Counseling, 8 (1), 1-14, Oct, 2004.
Kolb, D. (1984). Experiential Learning: Experience as the Source of Learning and Development. New
Jersey: Prentice Hall.
Lapan, R.T. (2001). Results-Based Comprehensive Guidance and Counseling Programs: A Framework
for Planning and Evaluation. Professional School Counseling, 4 (4), 289-298, Apr, 2001.
Mochtar Buchori. (2007). ―Character Building‖ dan Pendidikan Kita. http://paramadina. Wordpress.com/2007/03/04/character-building-dan-pendidikan-kita/ diunduh 20 Mei 2012
Muchlas. S & Hariyanto. (2013). Konsep dan Model Pendidikan Karakter. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Muro, J.J. & Kottman, T. (1995). Guidance and Counseling in the Elementary and Middle School, A
Practical Approach. Madison: Brown & Benchmark.
Myrick, R.D. (1989). Developmental Guidance: Practical Consideration. Elementary School Guidance
& Counseling, 24 (1), 14-20, Oct 1989.
Nur Wangid. (2010). Peran Konselor dalam Pendidikan Karakter. http://www.academia.edu/7117302/
Power, F.C. & D‘Alessandro, A.H. dalam Larry P. Nucci & Darcia Narvaez. (2014). Handbook
Pendidikan Moral dan Karakter. Bandung: Nusa Media
Pupuh, F., Suryana, & Fatriany, F. (2013). Pengembangan Pendidikan Karakter. Bandung: Refika
Aditama.
Raybum, C. (2004). Assessing Students for Morality Education: A New Role for School Counselors.
Professional School Counseling, 7 (5) 356-362, Jun 2004
Rowley, W.J. (2005). Comprehensive Guidance and Counseling Programs‘ Use of Guidance Curricula
Materials: A Survey of National Trends. Professional School Counseling, 8 (3), 256-263, Apr,
2005.
Sink, C.A. & Stroh, H.R. (2003). Raising Achievement Test Scores of Early Elementary School
Students Through Comprehensive School Counseling Programs. Professional School
Counseling, 6 (6), 350-357, Jun, 2003
Supraktiknya, A. (2011). Merancang Program dan Modul Psikoedukasi. Yogyakarta: Penerbit
Universitas Sanata Dharma.
Suyanto. (2010). Panduan Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah Pertama. Jakarta: Direktorat
Pembinaan SMP, Ditjenmandikdasmen

127

PERAN KONSELOR DALAM MEMPERSIAPKAN PESERTA DIDIK
MENJADI PRIBADI MANDIRI MENUJU MEA
Maria Natalia Loban
marianatalia.loban@yahoo.com
Mahasiswa S2 Program Pascasarjana, Bimbingan dan Konseling, Universitas Negeri Semarang
ABSTRACT
The more the era develops the more the new demands reveal. It is strongly related to all aspects in life,
include education. Counselors as educators also have a role in education. It can be seen through the
implementation
of
duties
which
aims
to
independent
learners.
The role of counselor to establish students' self-controlled in order that the students are able to know
their own selves, optimize their potential, making decisions, believe in themselves and not rely on others.
So that the students become persons who are able to compete and to take every opportunity in AEC
Keywords: Counselor Role, Learners, Independent, AEC.
PENDAHULUAN
Dalam UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003 pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Tujuan Pendidikan Nasional dalam UU No. 20 tahun 2003 Bab II pasal 3 menegaskan bahwa:
―Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab‖.
Dalam pelaksanaannya, guru mempunyai peranan yang penting dalam ruang lingkup pendidikan.
Sama halnya dengan konselor yang juga mempunyai peranan yang tidak kalah penting dengan guru mata
pelajaran. Konselor berperan penting dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Untuk dapat
mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Seorang konselor diharuskan untuk memiliki keterampilan dan
kemampuan yang dapat menunjang pelaksanaan tugasnya tersebut.
Profesi konselor berkaitan langsung dengan manusia, secara khusus berkaitan langsung dengan
peserta didik. Sudah sepatutnya seorang konselor memiliki wawasan yang luas dalam menjalankan
tugasnya. Tugas ini tidak hanya berkaitan dengan hal-hal atau masalah-masalah siswa yang dihadapkan
padanya saat ini, tetapi lebih dari itu seorang konselor juga harus memiliki kemampuan khusus didalam
mempersiapkan siswa-siswanya menjadi pribadi yang unggul, yang mampu bersaing di kancah
internasional. Konselor dapat memberikan pelayanan yang bermutu bagi peserta didik sehingga peserta
didik dapat bertumbuh menjadi pribadi mandiri dan mampu mempersiapkan diri dalam menghadapi era
baru yang semakin kompleks dan penuh persaingan.
PEMBAHASAN
A. Konselor
Menurut UU tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, konselor adalah tenaga
pendidik. Hal ini ditegaskan dalam definisi pendidik yaitu ―Pendidik adalah tenaga kependidikan
yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur,
fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam
menyelenggarakan pendidikan‖
Guru sebagai pendidik, yang menjadi tokoh, panutan dan identifikasi bagi para peserta didik
dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus memiliki standar kualitas pribadi tertentu, yang
mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri dan disiplin.
Konselor sebagai pendidik tentunya membutujan pendidikan yang menunjang pelaksanaan
tugasnya.Hal ini ditandai dengan adanya pendidikan yang harus ditempuh agar menjadi seorang
konselor. Tingkat pendidikan yang dibutuhkan berkaitan langsung dengan intensitas, keahlian, dan
pekerjaan yang menjadi fokus yang dipegang seseorang. Konselor profesional mendapatkan gelar
master atau doktor pada bidang konseling dari program pendidikan konselor dan menyelesaikan
masa praktik di beberapa area khusus seperti konseling sekolah, konseling komunitas, konseling
karir, konseling untuk masalah kecanduan dan konseling perkawinan atau keluarga.

128

Kompetensi profesional konselor terdiri dari dua komponen yang berbeda namun terintegrasi
dalam praksis sehingga tidak bisa dipisahkan yaitu kompetensi akademik dan kompetensi
profesional.
a) Kompetensi akademik yang merupakan landasan ilmiah dari kiat (arts) bagi pelaksanaan
pelayanan bimbingan dan konseling, baik yang berkembang dari hasil-hasil penelitian serta
pendapat para pakar maupun dari pencermatan terhadap praksis di bidang bimbingan dan
konseling yang berkembang selama ini, khususnya praksis di bidang bimbingan dan konseling di
Indonesia, yang memiliki karakteristik yang tidak persis sama dengan praksis bimbigan dan
konseling di negara lain karena berbeda dari negara lain, calon konselor di Indonesia dididik
pada jenjang S1 sehingga tidak memiliki pengalaman sebagai guru. Kompetensi akademik
seorang konselor profesional terdiri atas kemampuan:
1. Mengenal secara mendalam konseli yang hendak dilayani. Sosok kepribadian dan dunia
konseli yang perlu didalami oleh konselor meliputi bukan saja kemampuan akademik yang
selama ini dikenal sebagai intelegensi yang hanya mencakup kemampuan kebahasan dan
kemampuan numerikal matematik yang lazim dinyatakan sebagai IQ yang mengedepankan
kemampuan berpikir analitik, melainkan juga seyogyanya melebar ke segenap spektrum
kemampuan intelektual manusia sebagaimana dipaparkan dalam gagasan intelegensi
multiple (Garder, 1993) selain juga menghormati keberadaan kemampuan berpikir sintetik
dan kemampuan berpikir praktikal disamping kemampuan berpikir analitik yang telah
dikenal luas selama ini (Stenberg, 2003) serta kepemimpinan yang dibingkai dengan
kerangka berpikir yang menghadapkan karakteristik konseli yang telah bertumbuh dalam
latar belakang keluarga dan lingkungan budaya tertentu sebagai rujukan normatif beserta
berbagai permasalahan serta solusi yang harus dipilihnya dalam rangka memetakan lintasan
perkembangan kepribadian (developmental trajectory) konseli dari keadaannya sekarang ke
arah yang dikehendaki. Selain itu, sesuai dengan panggilan hidupnya sebagai pekerja
dibidang profesi perbantuan atau pemfasilitasian (helping professions), dalam upayanya
mengenal secara mendalam konseli yang dilayaninya itu, konselor selalu menggunakan
penyikapan yang empatik, menghormati keragaman serta mengedepankan kemaslahatan
konseli dalam pelaksanaan layanan ahlinya.
2. Mengusai khasanah teoretik dan prosedural termaksud teknologi dalam bimbingan dan
konseling. Penguasaan khasanah teoritik dan prosedural serta teknologik dalam bimbingan
dan konseling (Van Zandt, Z dan J.Hayslip, 2001 mencakup kemampuan:
a. Menguasai secara akademik teori, prinsip, teknik dan prosedur dan sarana yang
digunakan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling.
b. Mengemas teori, prinsip dan prosedur serta sarana bimbingan dan konseling sebagai
pendekatan, prinsip, teknik dan prosedur dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan
dan konseling yang memandirikan.
3. Menyelenggarakan layanan ahli bimbingan dan konseling yang memandirikan.
4. Mengembangkan profesionalitas sebagai konselor secara berkelanjutan.
Sebagai pekerja profesional yang mengedepankan kemaslahatan konseli dalam pelaksanaan
layanannya, konselor perlu membiasakan diri menggunakan setiap peluang untuk belajar
dalam rangka peningkatan profesionalitas termaksud dengan memetik pembelajaran dengan
keranga berpikir belajar eksperiensial yang berlangsung secara (Cyclical Experiental
Learning Model, Kolb, 1984) sebagai bagian dari keseharian pelaksanaan tugasnya, dengan
merekam serta merefleksikan hasil serta dampak kinerjanya dalam menyelenggarakan
pelayanan bimbingan dan konseling. selain itu upaya peningkatan diri juga dapat dilakukan
secara sistematis dengan melakukan penelitian tindakan (Action Research), dengan
mengakses berbagai sumber informasi termaksud yang tersedia di dunia maya, selain
melalui interaksi kesejawatan baik yang terjadi secara spontan-informal maupun yang
diacarakan secara formal, sampai dengan mengikuti pelatihan serta pendidikan lanjut.
Kompetensi akademik sebagaimana dipaaprkan diatas dapat dikuasai melalui pendidikan
akademik dengan menu kurikuler yang mencakup kejian tentang Pedagogi, Psikologi
Perkembangan, Psikologi Belajar, Bimbingan dan Konseling, serta beberapa bidang
penunjang seperti Filsafat Pendidikan, Sosiologi, Antropologi Budaya, Dinamika
Kelompok, Budaya Organisasi Kelas dan Sekolah, Disamping Kajian Tentang Program
Pendidikan Serta Sistem Pendidikan Formal, Strategi Bimbingan dan Konseling Serta
Strategi Pembelajaran, Assesmen Bakat dan Minat Konseli Disamping Assesmen Proses
dan Hasil Pembelajaran, Dinamika Kelompok, Pengelolaan Kelas dan sebagainya, dengan
beban studi minimum 144 SKS.

129

b) Kompetensi profesional konselor
Penguasaan kompetensi profesional konselor terbentuk melalui latihan dalam bidang bimbingan
dan konseling yang telah dikuasai itu dalam konteks otentik di sekolah atau arena terapan
layanan lain yang relevan melalui Program Pendidikan Profesi Konselor berupa Program
Pengalaman Lapangan (PPL) yang sistematis dan sungguh-sungguh (rigorous), yang terentang
mulai dari observasi dalam rangka pengenalan lapangan, latihan keterampilan dasar
penyelenggaraan konseling, latihan terbimbinga (supervised practice) yang kemudian terus
meningkat menjadi latihan melalui penugasan terstruktur (self-managed practice) sampai dengan
latihan mandiri (self-initiated practice) dalam program pemagangan, kesemuanya dibawah
pengawasan Dosen Pembimbing dan Konselor Pamong (Faiver, Elbengart dan Colonna, 2004).
Sesuai dengan misinya untuk menumbukan kemampuan profesional konselor, maka kriteria
utama keberhasilan dalam keterlibatan mahasiswa dalam Program Pendidikan Profesi Konselor
berupa Program Pengalaman Lapangan itu adalah pertumbuhan kemampuan calon konselor
dalam menggunakan rentetan panjang keputusan-keputusan kecil (minute if-then decisions atau
tacit knowledge) yang dibingkai kearifan dalam mengorkestrasikan optimasi pemanfaatan
dampak layanan demi ketercapaian kemandirian konseli dalam konteks tujuan utuh pendidikan.
Oleh karena itu, pertumbuhan kemampuan mahasiswa calon konselor sebagaimana digambarkan
diatas, mencerminkan litasan dalam pertumbuhan penguasaan kiat profesional dalam
menyelenggarakan pelayanan Bimbingan dan Konseling yang berdampak menumbuhkan sosok
utuh profesional sebagai praktisi yang aman buat konseli
B. Peserta Didik
Peserta didik merupakan sumber daya utama dan terpenting dalam proses pendidikan formal.
Didalam UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional (Sisdiknas), peserta didik
didefinisikan sebagai setiap manusia yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses
pembelajaran pada jalur pendidikan baik pendidikan formal maupun pendidikan nonformal, pada
jenjang pendidikan dan jenis pendidikan tertentu.
Definisi peserta didik di atas esensinya adalah setiap peserta didik diatas esensinya adalah setiap
peserta didik yang berusaha mengembangkan potensi pada jalur pendidikan formal dan nonformal
menurut jenjang dan jenisnya.
Berikut ini adalah hal-hal yang esensial mengenai hakikat peserta didik.
1. Peserta didik merupakan manusia yang memiliki diferensiasi potensi dasar kognitif atau
intelektual, afektif dan psikolotorik.
2. Peserta didik merupakan manusia yang memiliki diferensiasi priodisasi perkembangan dan
pertumbuhan, meski memiliki pola yang relatif sama.
3. Peserta didik memiliki imajinasi, persepsi dan dunianya sendiri, bukan sekedar miniatur
orang dewasa.
4. Peserta didik merupakan manusia yang memiliki diferensiasi kebutuhan yang harus dipenuhi,
baik jasmani maupun rohani, meski dalam hal tertentu banyak kesamaannya.
5. Peserta didik merupakan manusia bertanggungjawab bagi proses belajar pribadi dan menjadi
pembelajar sejati, sesuai dengan wawasan pendidikan sepanjang hayat.
6. Peserta didik memiliki daya adaptabilitas di dalam kelompok sekaligus mengembangkan
dimensi individualitasnya sebagai insan yang unik.
7. Peserta didik memerlukan pembinaan dan pengembangan secara individual dan kelompok,
serta mengharapkan perlakuan yang manusiawi dari orang dewasa, termaksud gurunya.
8. Peserta didik merupakan insan yang visioner dan proaktif dalam menghadapi lingkungannya.
9. Peserta didik sejatinya berperilaku baik dan lingkunganlah yang lebih dominan untuk
membuatnya lebih baik lagi atau menjadi lebih buruk.
10. Peserta didik merupakan makhluk Tuhan yang meski memiliki aneka keunggulan, namun
tidak mungkin bisa berbuat atau dipaksa melakukan sesuatu melebihi kapasitasnya.
Tugas konselor sekolah berkaitan langsung dengan peserta didik. Peserta didik yang dalam
masa pertumbuhan dan peralihan tentu membutuhkan bimbingan dan perhatian dari konselor
sekolah. Oleh karena itu, konselor harus mampu mengenal peserta didik dan membantu/mendorong
peserta didik agar dapat mengembangkan potensi diri masing-masing sehingga mampu bertumbuh
menjadi pribadi mandiri yang mampu bersaing diera globalisasi yang penuh persaingan.

130

C. Mandiri
Istilah ―kemandirian‖ berasal dari kata dasar ―diri‖ yang mendapat awalan ―ke‖ dan akhiran
―an‖, kemudian membentuk satu kata keadaan atau kata benda. Karena kemandirian berasal dari
kata dasar ―diri‖, maka pembahasan mengenai kemandirian tidak bisa lepas dari pembahasan
tentang perkembangan diri itu sendiri.
Sebagai suatu dimensi psikologi yang kompleks, kemandirian dalam perkembangannya
memiliki tingkatan-tingkatan. Perkembangan kemandirian seseorang berlangsung secara bertahap
sesuai dengan tingkat perkembangan kemandirian tersebut. Menurut Lovinger (dalam Sunaryo
Kartadinata,1988) mengemukakan tingkatan kemandirian dan karakteristiknya, yaitu:
1. Tingkat pertama, adalah tingkatan implusif dan melindungi diri. Tingkatan ini
mempunyai ciri ciri sebagai berikut :
a. Peduli terhadap control dan keuntungan yang dapat diperoleh dari interaksinya dengan orang
lain.
b. Mengikuti aturan secara spontanistik dan hedonistic.
c. Berfikir tidak logis dan tertegun pada cara berfikir tertentu ( stereotype).
d. Cenderung melihat kehidupan sebagai zero-sum games.
e. Cenderung menyalahkan dan mencela orang lain serta lingkunganya.
2. Tingkat kedua, adalah konformistik. Ciri-cirinya adalah :
a. Peduli terhadap penampilan diri dan penerimaan social.
b. Cenderung berfikir stereotype dan klise.
c. Peduli akan konformitas terhadap aturan eksternal.
d. Bertindak dengan motif yang dangkal untuk memperoleh pujian.
e. Menyamakan diri dalam ekspresi emosi dan kurangnya intropeksi.
f. Perbedaan kelompok didasarkan atas ciri-ciri eksternal.
g. Takut tidak diterima kelompok.
h. Tidak sensitif terhadap keindividualan.
i. Merasa berdosa jika melanggar aturan.
3. Tingkatan ketiga, adalah tingkat sadar diri .
a. Mampu berfikir alternative.
b. Melihat harapan dan berbagai kemungkinan dalam situasi.
c. Memikirkan cara hidup.
d. Penyesuaian terhadap situasi dan peranan.
e. Menekankan pada pentingnya memecahkan masalah.
4. Tingkat keempat, adalah tingkat saksama (conscientious). Ciri-ciri nya adalah :
a. Bertindak atas dasar nilai-nilai internal.
b. Sadar akan tanggung jawab.
c. Mampu melakukan kritik dan penilaian diri.
d. Memiliki tujuan jangka panjang.
e. Berfikir lebih kompleks dan atas dasar pola analisis.
Suyoto dkk. (Zakiyah, 2000) mengungkapkan bahwa anak dikatakan mandiri apabila memiliki ciriciri sebagai berikut:
a. Menemukan dirinya atau identitas dirinya.
b. Memiliki inisiatif.
c. Bertanggung jawab atas tindakannya.
d. Mencukupi kebutuhan dirinya.
e. Mampu membebaskan diri dari keterikatan yang tidak perlu.
f. Membuat pertimbangan-pertimbangan sendiri dalam bertindak.
g. Mampu mengambil keputusan sendiri dalam bentuk kemampuan memilih.
Kemandirian ini oleh Zakiyah (2000) dicirikan sebagai pribadi yang mempunyai beberapa ciri, yaitu
:
a. Memiliki kebebasan untuk berinisiatif.
Mempunyai kebebasan untuk berpendapat dan menuangkan ide-ide baru serta mencoba sesuatu
hal baru yang mungkin belum dilakukan orang lain.
b. Memiliki rasa percaya diri.

131

Memiliki kepercayaan diri bahwa segala masalah yang dihadapi mampu untuk diatasi dan tidak
mempunyai perasaan ragu-ragu dalam mempertimbangkan sesuatu.
c. Mampu mengambil keputusan.
Berusaha mengambil keputusan sendiri dalam mengatasi masalah yang dihadapi tanpa
bergantung orang lain.
d. Mampu bertanggung jawab.
Segala hal yang dikeijakan dapat dipertanggungjawabkan pada diri sendiri dan orang lain.
e. Mampu mengendalikan diri.
Mampu untuk mengendalikan diri dalam melakukan suatu tindakan dan apabila melakukan
suatu kesalahan akan cepat menyadarinya.
D. Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)
MEA adalah MEA adalah bentuk integrasi ekonomi ASEAN dalam artian adanya system
perdagangan bebas antara Negara-negara ASEAN, dengan karakteristik: (a) pasar tunggal dan basis
produksi; (b) kawasan ekonomi yang berdaya saing tinggi; (c) kawasan pengembangan ekonomi
yang merata; dan (d) kawasan yang secara penuh terintegrasi ke dalam perekonomian global.
Dalam konsep masyarakat ekonomi asean, telah disepakati disepakati ASEAN Vision 2020
yang berisi antara lain: kondisi yang ingin diwujudkan di beberapa bidang, seperti orientasi ke
luar, hidup berdampingan secara damai dan menciptakan perdamaian internasional.
Beberapa agenda kegiatan yang akan dilaksanakan untuk merealisasikan Visi 2020
adalah dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia, ekonomi, lingkungan hidup, sosial,
teknologi, hak cipta intelektual, keamanan dan perdamaian, serta turisme melalui serangkaian
aksi bersama dalam bentuk hubungan kerjasama yang baik dan saling menguntungkan diantara
negara-negara anggota ASEAN.
Jika dikaitkan dengan dunia pendidikan, sudah tentu ada tantangan-tantangan yang dihadapi,
diantaranya bagaimana mempersiapkan peserta didik agar mampu beradaptasi dan bersaing dalam
MEA.
Berdasarkan pembahasan diatas, dapat dilihat bahwa akan ada banyak peluang dalam MEA,
namun ada juga tantangan-tantangan yang dihadapi dalam MEA. Tantangan terbesar adalah
sehubungan dengan sumber daya manusia yang diharapkan mempunyai keterampilan, pengetahuan
yang luas, kreatif, menguasai bahasa asing, sehingga mampu menghadapi tantang-tantangan MEA.
Hal ini juga menjadi perhatian bagi kemajuan sumber daya manusia, diantaranya peserta
didik sebagai pribadi yang bertumbuh dan berkembang tentunya harus mampu mempersiapkan diri
agar mampu mendapatkan peluang-peluang yang ada dan bersaing dengan negara-negara lainnya.
Hal ini juga menjadi salah satyu tugas konselor dalam memandirikan peserta didik dalam
menghadapi dan bersaing di MEA.
E. Peranan Konselor dalam Memandirikan Peserta Didik
Peranan konselor berkaitan erat dengan pelaksanaan tugasnya. Tugas dan ekspektasi kinerja
konselor secara profesional dapat ditinjau dari sosok utuh konselor yang dimilikinya. Sosok utuh
kompetensi konselor terdiri dari dua komponen yang berbeda namun terintegrasi dalam praksis
sehingga tidak dapat dipisahkan yaitu kompetensi akademik dan kompetensi profesional. Salah satu
kompetensi akademik seorang konselor profesional yaitu memilik kemampuan untuk
menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling yang memandirikan.
Dalam upaya untuk menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling yang
memandirikan (Gysbers & Henderson, 2006 dalam Depdiknas 2008) seorang konselor harus
memiliki kemampuan:
a. Merancang kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling
b.Mengimplementasi kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling
c.Menilai proses dan hasil kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling serta melakukan
penyesuaian-penyesuaian sambil jalan (mid-course adjusments) berdasarkan keputusan
transaksional selama rentang proses bimbingan dan konseling dalam rangka memandirikan
konseli (mind competence).
Konselor sebagai bagian integral dari pendidikan, dalam pelaksanaan tugasnya konselor
harus mampu memberikan layanan yang bertujuan agar memandirikan siswa. Dalam hal ini konselor
berperan penting dalam memandirikan peserta didik. Peran konselor diantaranya:
1. Membuat program bimbingan konseling yang dapat menjawab kebutuhan siswa.
2. Melaksanakan atau menjalankan program sesuai perencanaan.

132

3.
4.
5.
6.
7.

Mengevaluasi hasil pelaksanaan program tersebut.
Memberikan pemahaman kepada peserta didik agar mampu mengenal dan memahami dirinya
sendiri.
Mengarahkan peserta didik agar mampu mengambil keputusan yang tepat bagi dirinya.
Memberikan pemahaman kepada peserta didik agar mampu hidup sesuai keputusan yang
diambilnya sehingga keputusan tersebut tetap dilaksanakan.
Melalui layanan yang diberikan, konselor dapat memberikan pemahaman baru kepada
peserta didik agar mampu membuat perencanaan kedepan. Hal ini bertujuan agar peserta
didik dapat memahami peluang dan tuntutan-tuntutan kedepannya sehingga dapat
menjadikan peserta didik dapat mempersiapkan diri dalam menghadapi tuntutan tersebut.

PENUTUP
Konselor sebagai pendidik tentunya mempunyai peranan penting dalam pendidikan. Peserta didik
juga yang menjadi bagian penting dalam pendidikan tentunya mendapat perhatian besar dari tenaga
pendidik lainnya, khususnya konselor. Seorang konselor perlu memperhatikan setiap tugasnya agar
mampu diberikan dan dirasakan manfaatnya oleh siswa.
Pelayanan yang diberikan konselor bertujuan agar menjadikan peserta didik sebagai pribadi
mandiri. Menjadi pribadi yang mandiri artinya peserta didik dapat bertumbuh menjadi pribadi yang
mampu mengenal dan memahami dirinya, bertanggung jawab, mampu mengambil keputusan, percaya
kepada kemampuan yang dimiliki dan tidak bergantung pada orang lain. Hal ini dimaksudkan agar
peserta didik dapat mempersiapkan diri dan mengoptimalkan potensi dirinya agar mampu bersaing baik
dikancah nasional maupun internasional, serta mampu menghadapi tantangan-tantangan dan
memanfaatkan peluang-peluang yang ada pada Masyarakat Ekonomi ASEAN.

DAFTAR PUSTAKA
Danim, Sudarwan. (2013). Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Alfabeta.
Depdiknas. (2008). Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan dan Konselor
dalam Jalur Pendidikan Formal. Bandung: Jurusan BK UPI
Gibson R.L & Mitchell M.H. (2008). Introduction to Counseling and Guidance. New Jersey: Pearson
Prentice Hall.
Gladding, Samuel. (2012). Konseling: Profesi yang Menyeluruh. Jakarta: PT Indeks.
Mulyasa. (2009). Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan.
Bandung: Remaja Rosdakarya..
Prayitno, & Erman Amti. (2004). Dasar-Dasar Bimbingan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta..
Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi. (2014). Peluang Indonesia Dalam Masyarakat
Ekonomi ASEAN 2015. Vol. VI, No. 10.
Vita Hafyan. (2011). Pengembangan kemandirian peserta didik. Diakses 10 Mei 2015 dari
http://vitahafyan.blogspot.com/2011/12/pengembangan-kemandirian-peserta-didik.html

133

PELAKSANAAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELIG KARIR DI SMK UNTUK
MENYIAPKAN TENAGA KERJA TRAMPIL DALAM MENYAMBUT MASYARAKAT
EKONOMI ASEAN (MEA) 2015
Maria Theresia Srihartati
hartati_mth@yahoo.com
ABSTRACT
This paper focuses on the implementation of career guidance and counseling in vocational and preprofessional senior secondary school students in order to prepare skilled labor for welcoming ASEAN
Economic Community (AEC). Like other ASEAN member countries, Indonesia is also preparing to
welcome AEC 2015 and it is known that one of the effects of AEC is a free market in many aspects such
as capital, services, goods, and labor as well. One of the obstacles in welcoming AEC at the end of 2015
is the low quality of labor‘s education. Until February 2014, there are still 76.4 millions of people or
about 64% of the total 118 millions labor who are junior high school or lower educated people. Another
fact is there is an increasing number of unemployed educated labor due to a mismatch between college
graduates and labor market needs so most of Indonesian labor do not ready to face AEC. To overcome
this kind of situations, Indonesian Government should increase the number of vocational and preprofessional senior secondary school students which are considered to be the skilled and professional
labor in the working field. Career guidance and counseling service is one of the guidance and counseling
service at school which is helping students so they can understand themselves, know some things about
working field, and plan their future as well, in order to make them become a good decision maker. The
decisions they make hopefully appropriate to the situation themselves that fit the requirements and
demands of the job or career choices. To sum up, with the help of this guidance and counseling service,
the vocational and pre-professional senior secondary school graduates become more professional, skilled,
and reliable so that Indonesia can provide good skilled and professional labors in welcoming AEC 2015.
A.

Pengantar
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) menjadi isu yang ramai dibicarakan saat ini. Bagaimana
tidak, kesepakatan yang dibangun oleh sepuluh negara ASEAN ini telah membuka banyak peluang dan
tantangan bagi Indonesia. Tanggapan mengenai MEA cukup menarik. Dibalik tujuan MEA yang salah
satunya adalah untuk mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial ekonomi, ternyata banyak
kekhawatiran yang muncul dari berbagai pihak dikarenakan sumber daya manusia di Indonesia dinilai
belum mampu untuk bersaing dengan sumber daya manusia dari negara ASEAN lainnya.
Sebuah kekhawatiran tentang keadaan sumber daya manusia di Indonesia perlu kita ketahui
penyebabnya. Indonesia memang memiliki fakta seputar kependudukan yang banyak dan unik. Catatan
terakhir jumlah penduduk di Indonesia di Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2014 menyatakan
bahwa jumlah penduduk Indonesia saat ini adalah 237.641.326 jiwa. Sementara jumlah angkatan kerja
nya adalah 125,32 juta jiwa, angka ini telah meningkat dibandingkan dengan tahun 2013 lalu. Maka dapat
disimpulkan bahwa presentasi jumlah angkatan kerja dibanding populasi penduduk di indonesia adalah
52,7 %, atau lebih dari setengahnya.
Fakta lainnya adalah, jumlah pengangguran dari populasi angkatan kerja di Indonesia adalah 7,15
juta jiwa, angka ini juga menurun dibandingkan tahun 2013 lalu. Data dari BPS menunjukan, bahwa
setiap tahunnya angka pengangguran di Indonesia menurun rata-rata 50.000 jiwa setiap tahunnya.
Mendengar fakta ini, kita bisa bersenang hati, namun ironinya, jumlah pengangguran terdidik di
Indonesia semakin banyak, hal itu menggambarkan kondisi dan kualitas tenaga kerja di Indonesia.
Padahal, kesepakatan MEA ini akan menempatkan antara tenaga kerja yang terampil dan tidak terampil
dalam mendukung perekonomian negara, dan yang akan banyak berpengaruh dan sangat ditekankan
dalam MEA adalah tenaga kerja yang terampil.
Oleh karena itu untuk menghadapi era MEA yang penuh dengan persaingan, SDM yang berkualitas
harus disiapkan, lebih-lebih di Indonesia masih banyak industri padat karya yang kekurangan tenaga
kompeten sehingga berpengaruh kepada produktivitasnya,lebih-lebih pada industri yang menggunakan
teknologi tinggi. Kualitas SDM Indonesia dalam MEA, yang diukur dari Indeks Pembangunan Manusia
(IPM) berada pada urutan keenam di bawah Singapore, Brunai Darussalam, Malaysia, Thailand, dan
Philipina. IPM Indonesia hanya unggul dari Vietnam, Laos, Kamboja, dan Myanmar berdasarkan data
Human Development Index (HDI) tahun 2012. Kondisi kualitas SDM Indonesia yang rendah tersebut
akan berhubungan langsung dengan rendahnya produktivitas tenaga kerja Indonesia.
Seperti negara-negara anggota ASEAN lainnya, Indonesia juga tengah bersiap menyambut
berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 , dan diketahui bahwa salah satu dampak dari
terciptanya MEA adalah pasar bebas di bidang permodalan, barang dan jasa, serta tenaga kerja. Salah
satu hambatan yang dialami Indonesia dalam menyambut berlakunya MEA pada akhir tahun 2015 ini

134

adalah mutu pendidikan tenaga kerja masih rendah, di mana hingga Febuari 2014 jumlah pekerja
berpendidikan SMP atau dibawahnya tercatat sebanyak 76,4 juta orang atau sekitar 64 persen dari total
118 juta pekerja di Indonesia. Fakta lain adalah meningkatnya jumlah pengangguran tenaga kerja terdidik,
akibat ketidaksesuaian antara lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan pasar tenaga kerja. Keadaan ini
semakin menambah fakta adanya ketidaksiapan tenaga kerja terampil dalam menghadapi MEA 2015.
Sebagai bagian dari sistem Pendidikan Nasional, pendidikan menengah kejuruan merupakan
pendidikan pada jenjang pendidikan menengah yang mengutamakan pengembangan kemampuan peserta
didik untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu, memiliki kemampuan beradaptasi di lingkungan kerja,
melihat peluang kerja dan mengembangkan diri di kemuadian hari. Untuk mewujudkan tujuan pendidikan
nasional, kurikulum SMK disusun memperhatikan tahap perkembangan siswa dan kesesuaian dengan
jenis pekerjaan, lingkungan sosial, kebutuhan pembangunan nasional, perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi, serta kesenian. Karena itu, penyusunannya bertumpu pada landasan filosofis, ekonomis
dan yuridis tertentu.
Badan Standar Nasional Pusat (BSNP:2006) menegaskan bahwa tujuan pendidikan menengah
kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan
untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya. Sekolah
Menengah Kejuruan merupakan sekolah yang akan menciptakan siswanya bukan hanya untuk siap
melanjutkan ke perguruan tinggi melainkan lebih kepada kesiapan mereka untuk terjun ke dunia kerja dan
industri. Oleh karenanya di SMK selalu dibekali dengan keterampilan dan pengalaman lapangan yang
lebih dibandingkan Sekolah Menengah Atas (SMA). Kurikulum SMK terbagi menjadi 3 program mata
pelajaran yaitu untuk mata pelajaran normatif, adaptif, dan produktif. Mata pelajaran produktif masih
dibagi lagi menjadi dua yaitu dasar kompetensi kejuruan dan kompetensi kejuruan yang akan
disesuaikan dengan bidang keahlian masing-masing jurusan. Oleh karena itu pendidikan menengah
kejuruan sebagai sub sistem dari pendidikan nasional berperan penting dalam menyiapkan sumber daya
manusia Indonesia yang berkualitas, professional dan handal.
Untuk dapat mewujudkan tercapainya tujuan umum dan tujuan khusus pendidikan kejuruan tersebut
dibutuhkan kemampuan setiap peserta didik di sekolah kejuruan untuk : (a) memahami dan menilai
dirinya, terutama potensi dasar (bakat, minat, sikap,kecakapan, dan cita-cita) yang terkait dengan dunia
kerja yang akan dimasukinya kelak, karena keberhasilan atau kenyamanan dalam suatu karier amat
dipengaruhi oleh kemampuan individu memahami dan menilai potensi dasar yang dimilikinya, (b)
menyadari dan memahami nilai-nilai yang ada pada diri dan masyarakatnya, sehingga menumbuhkan
sikap positif terhadap dunia kerja. Sikap positif berarti bahwa individu mau bekerja dalam bidang
pekerjaan apa pun tanpa merasa rendah diri, yang penting bermakna bagi diri dan lingkungannya, serta
sesuai dengan norma agama yang dianutnya.
Beberapa kemampuan tersebut dapat dimiliki oleh setiap peserta didik dengan bantuan Guru
pembimbing melalui layanan Bimbingan Karir. Bimbingan Karir adalah Proses pemberian bantuan
konselor atau guru bimbingan dan konseling kepada peserta didik/ konseli untuk mengalami
pertumbuhan, perkembangan, eksplorasi, aspirasi dan pengambilan keputusan karir sepanjang rentang
hidupnya secara rasional dan realistis berdasar informasi potensi diri dan kesempatan yang tersedia di
lingkungan hidupnya sehingga mencapai kesuksesan dalam kehidupannya.
Secara spesifik, tujuan khusus dari layanan Bimbingan dan Konseling Karir di SMK adalah
menfasilitasi perkembangan, eksplorasi, aspirasi dan pengambilan keputusan karir sepanjang rentang
hidup peserta didik/konseli. Dengan demikian, peserta didik akan (1) memiliki pemahaman diri
(kemampuan, minat dan kepribadian) yang terkait dengan pekerjaan; (2) memiliki pengetahuan mengenai
dunia kerja dan informasi karir yang menunjang kematangan kompetensi karir; (3) memiliki sikap positif
terhadap dunia kerja; (4) memahami relevansi kemampuan menguasai pelajaran dengan persyaratan
keahlian atau keterampilan bidang pekerjaan yang menjadi cita-cita karirnya masa depan; (5) memiliki
kemampuan untuk membentuk identitas karir, dengan cara mengenali ciri-ciri pekerjaan, persyaratan
kemampuan yang dituntut, lingkungan sosiopsikologis pekerjaan, prospek kerja, dan kesejahteraan kerja;
memiliki kemampuan merencanakan masa depan, yaitu merancang kehidupan secara rasional untuk
memperoleh peran-peran yang sesuai dengan minat, kemampuan, dan kondisi kehidupan sosial ekonomi;
membentuk pola-pola karir; mengenal keterampilan, kemampuan dan minat siswa.
B.

Konsep Dasar Sekolah Menengah Kejuruan
Penyelenggaraan sekolah menengah kejuruan didasarkan atas ketentuan yang ada pada UndangUndang Republik Indonesia No.2 Tahun 1989 tentang sistem pendidikan Nasional Bab IV pasal 11 ayat
(1) dan (3) yang berbunyi sebagai berikut: ―Jenis pendidikan umum, pendidikan kejuruan, pendidikan
luar biasa, pendidikan kedinasan, pendidikan keagamaan, pendidikan akademik, dan pendidikan
professional‖. Sekolah menengah kejuruan berdasarkan tingkatan pendidikan setara dengan sekolah

135

menengah atas, akan tetapi keduanya mempunyai tujuan yang berbeda. Dalam Peraturan Pemerintah No.
74 tahun 2008 pasal 1 ayat 21 dinyatakan bahwa ―Sekolah Menengah Kejuruan yang selanjutnya
disingkat SMK adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan
kejuruan pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang
sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama atau setara SMP atau MTs‖. Dalam PP tahun
1990 NO 29 dikemukakan bahwa: ―Pendidikan menengah kejuruan adalah pendidikan pada jenjang
pendidikan menengah yang mengutamakan pengembangan kemampuan siswa untuk melaksanakan jenis
pekerjaan tertentu‖.
Sedangkan Byram & Wenrich (195650-51) merumuskan pengertian pendidikan kejuruan adalah
sebagai berikut ―Vocational education is teaching people how to work effectively. Vocational education
takes place when an individual or group of individuals acquires information, an understanding, an
ability, a skill, an appreciation, an interest and/or an attitude, any or all of which enable him to begin or
to continue in activity of a productive or service nature” Dari konsep teori ini terlihat bahwa tujuan akhir
dari pelaksanaan pendidikan kejuruan adalah agar para lulusannya dapat melaksanakan kegiatan atau
pekerjaan yang bersifat produktif secara efektif. Sekolah menengah kejuruan melakukan proses belajar
mengajar baik teori maupun praktik yang berlangsung di sekolah maupun di industri diharapkan dapat
menghasilkan lulusan yang berkualitas
Pendidikan kejuruan diarahkan untuk membentuk lulusan yang memiliki wawasan profesional, yaitu
sesuatu yang tertanam di dalam diri seseorang yang mempengaruhi perilakunya, yang peduli kepada
mutu (tidak asal jadi), bekerja cepat, tepat dan efisien tanpa atau dengan pengawasan orag lain,
menghargai waktu, dan menjaga reputasi. Karakter seperti ini adalah karakter tenaga kerja yang disukai
dan diperlukan oleh dunia kerja. Diperlukan suatu usaha pembentukan sikap profesional yang sistematis
dan waktu yang lama di SMK untuk mencapai tujuan tersebut. Dibutuhkan juga perlakuan khusus
(special treatment) bagi siswa tertentu, kelompok siswa tertentu, atau sekolah tertentu untuk membentuk
keunggulan sesuai kondisi siswa, sekolah tempat belajarnya, dan potensi daerah tempat SMK berada.
(Dedi Supriadi, et al, 2002: 236).
Berdasar atas beberapa pendapat tantang SMK tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa SMK
merupakan pendidikan pada jejang menengah yang mengutamakan pengembangan kemampuan peserta
didik untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu, kemampuan beradaptasi di lingkungan kerja,
kemampuan melihat peluang kerja, dan mengembangkan diri di masa-masa mendatang.
Secara spesifik, tujuan pendidikan di SMK yang dinyatakan dalam pedoman kurikulum SMK tahun
2004 adalah sebagai berikut:
a. Menyiapkan peserta didik agar menjadi manusia yang produktif, mampu bekerja mandiri, dan
mengisi lowongan pekerjaan sesuai dengan kopentansi progrm keahlian yang dipilihnya.
b. Menyiapkan peserta didik agar mampu memilih karir, ulet dan gigih dalam berkompetisi dan
mengembangkan sikap profesional dalam bidang keahlian yang diminatinya.
c. Membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, agar mampu mengembangkan
diri di kemudian hari baik secara mandiri maupun melalui jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
d. Membekali peserta didik dengan kompetensi-kompetensi yang sesuai dengan program keahlian yang
dipilih.
Lebih jauh, tujuan SMK juga dirumuskan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23
Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL), untuk satuan pendidikan SMK diantaranya
ebagai berikut:
a. Berperilaku sesuai dengan ajaran agama yang dianut sesuai dengan perkembangan remaja.
b. Mengembangakan diri secara optimal dengan memanfaatkan kelebihan diri serta memperbaiki
kekuarangannya.
c. Mennujukkan sikap percaya diri dan bertanggung jawab atas perilaku, perbuatan dan pekerjaannya.
d. Berpartisipasi dalam menegakkan aturan-aturan sosial.
e. Menghargai kebergaman agama, bangsa, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup
global.
f. Membangun dan menerapkan informasi dan pengetahuan secara logis, kritis, kreatif, dan inovatif.
g. Menunjukkan kemampuan berpikir kritis, logis, kreatif, dan inovatif dalam pengambilan keputusan.
h. Menunjukkan kemampuan mengembangkan budaya belajar untuk pemberdayaan diri.
i. Menunjukkan sikap kompetitif dan sportif untuk mendapatkan hasil terbaik.
j. Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah kompleks.
k. Menunjukkan kemampuan menganalisis gejala alam dan sosial
l. Memanfaatkan lingkungan secara produktif dan bertsnggung jawab.
m. Berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbagngsa dan bertanah air.

136

Sasaran kompetensi yang ingin dicapai bagi lulusan SMK sudah cukup jelas, dan memiliki
perbedaan dengan siswa SMA. Karenanya implikasi terhadap layanan BK karir yang diterima juga akan
berbeda. Kompetensi kunci SMK dalam menghadapi era global dijabarkan oleh Djojonegoro (1998:2830) sebagai berikut: 1) memiliki ketrampilan dasar yang kuat dan luas, yang memungkinkan
pengembangan dan penyesuaian diri sesuai sesuai dengan perkembangan IPTEKS, 2) mampu
mengumpulkan, menganalisa, dan menggunakan data dan informasi, 3) mampu mengkomunikasikan ide
dan informasi, 4) mampu merencanakan dan mengorganisasikan kegiatan, 5) mampu bekerja sama dalam
kelompok, 6) mampu memecahkan masalah, 7) berpikir logis dan mampu menggunakan teknik-teknik
matematika, dan 8) menguasai bahasa komunikasi global yaitu Bahasa Inggris.
Berdasar atas tujuan kompetensi yang ingin dicapai bagi lulusan satuan pendidikan SMK tersebut
di atas maka jelaslah bahwa SMK mempunyai tujuan utuk menyiapkan peserta didik mencetak tenaga
kerja terampil dalam menghadapi dunia kerja.
Dinas kependidikan menengah kejuruan (Dikmenjur ) dalam Suherman (2013:199)
menggambarkan profil lulusan SMK yang merupakan cerminan dari visi, misi dan tujuan SMK bahwa
adalah siswa yang : Pertama, siap kerja. Tamatan SMK telah dibekali ketrampilan dan kemampuan untuk
bekerja di bidangnya sehingga mereka memiliki kepercayaan diri yang lebih untuk bekerja tanpa perlu
diberi pelatihan tambahan lagi setelah lulus sekolah. Mereka juga dibekali untuk berwirausaha sehingga
dapat membuka usaha sendiri jika tidak mendapakan pekerjaan di suatu perusahaan industri. Kedua,
Cerdas. Kecerdasan yang dimiliki siswa SMK tidak hanya terbatas pada kecerdasan intelektual saja tetapi
juga harus cerdas secara spiritual, cerdas secara emosional dan sosial, dan cerdas secara kinestik. Ketiga,
Kompetetif. Jiwa kompetetip yang dimiliki oleh lulusan SMK adalah jiwa yang memiliki keinginan untuk
menjadi agen perubahan dan pantang menyerah, Hal ini seyogyanya sudah ditanamkan sejak tahun
pertama di SMK. Kemandirian serta kepribadi siswa SMK yang unggul memicu kesiapan mental mereka
untuk siap bekerja atau membuka lapangan usaha sendiri.
Dalam hubungan antara tujuan penyelenggaraan SMK dan penyiapan tenaga kerja terampil yang
dibutuhkan dalam menyambut berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), maka harus
dipertimbangkan adanya konsep pendidikan karier melalui layanan bimbingan dan konseling karier yang
terintegrasi di dalamnya.
C.

Bimbingan dan Konseling Karir di SMK
Pada sub bab ini akan dibahas tentang pengetian bimbingan dan konseling karir, tujuan bimbingan
dan konseling karier serta materi apa saja yang dibahas dalam pelaksanaan bimbingan karier di SMK
Pengertian Bimbingan dan Konseling Karier di SMK
Ditinjau dari sisi sejarah, istilah bimbingan dan konseling karir berakar pada istilah vocational
guidance yang pertama kali dipopulerkan oleh Frank Parson dalam buku Choosing a Vocation (1909) dan
dikutip oleh Wikipedia (2012). Pada awalnya penggunaan istilah ini lebih merujuk pada usaha membantu
individu dalam memilih dan mempersiapkan suatu pekerjaan, termasuk di dalamnya berupaya
mempersiapkan kemampuan yang diperlukan untuk memasuki suatu pekerjaan. Namun selanjutnya
terjadi perubahan pendekatan dari model okupasional (occupational) ke model karir (career). Kedua
model ini memiliki perbedaan, dimana pada model okupasional lebih menekankan pada kesesuaian antara
bakat dengan tuntutan dan persyaratan pekerjaan, sedang pada model karir, tidak hanya sekedar
memberikan penekanan tentang pilihan pekerjaan, namun mencoba pula menghubungkannya dengan
konsep perkembangan dan tujuan-tujuan yang lebih jauh sehingga nilai-nilai pribadi, konsep diri,
rencana-rencana pribadi dan semacamnya mulai turut dipertimbangkan.
Winkel (2005:114) mengemukakan bahwa bimbingan karir adalah bimbingan dalam
mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja, dalam memilih lapangan kerja atau jabatan /profesi tertentu
serta membekali diri supaya siap memangku jabatan itu, dan dalam menyesuaikan diri dengan berbagai
tuntutan dari lapanan pekerjaan yang dimasuki. Bimbingan karir juga dapat dipakai sebagai sarana
pemenuhan kebutuhan perkembangan peserta didik yang harus dilihat sebagai bagian integral dari
program pendidikan yang diintegrasikan dalam setiap pengalaman belajar bidang studi.
Pearson yang dikutip Nathan &Hill (2012:2) mengemukakan bahwa dalam pemilihan pekerjaan
yang arif, ada tiga faktor, yaitu: 1) Pemahaman yang jelas tentang diri sendiri. 2) Pengetahuan tentang
syarat-syarat dan prospek di berbagai macam jalur pekerjaan. 3) Penalaran yang benar tentang hubungan
antara kedua kelmpok fakta ini. Sedangkan Gibsson and Mitchel (2011:446) mengemukakan bahwa
bimbingan karier adalah sebuah aktivitas yang dilakukan oleh konselor diberbagai lingkup dengan tujuan
menstimulasi dan memfasilitasi perkembangan karier seseorang di sepajang usia kerjanya. Dimana
aktivitas ini meliputi bantuan dalam perencaanaan karier, pengambilan keputusan dan penyesuaian diri.
National Vocational Guidance Association (NVGA) pada tahun 1973 menjelaskan bahwa bimbingan

137

karier diartikan sebagai proses membantu dalam memilih pekerjaan, mempersiapkan, memasuki dan
memperoleh kemajuan di dalamnya.
International Labour Office (2010) merumuskan bahwa kegiatan layanan bimbingan dan konseling
karier terkait erat dengan empat kompetensi utama bagi para siswa agar dapat menghadapi masa depan
karir mereka yaitu: 1) kesadaran diri atau pengenalan diri sendiri, 2) kesadaran akan kesempatan bekerja,
3) pembuatan keputusan pendidikan dan karir, dan 4) pembelajaran transisional dan pengetahuan akan
persyaratan kerja.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bimbingan dan konseling karier adalah suatu proses
bantuan layanan dan pendekatan terhadap individu (siswa/remaja), agar individu yang bersangkutan dapat
mengenal dirinya, memahami dirinya, dan mengenal dunia kerja, merencanakan masa depan dengan
bentuk kehidupan yang diharapkan untuk menentukan pilihan, dan mengambil suatu keputusan bahwa
keputusannya tersebut adalah paling tepat sesuai dengan keadaan dirinya dihubungkan dengan
persyaratan-persyaratan dan tuntutan pekerjaan / karir yang dipilihnya.
Tujuan Bimbingan dan Konseling Karier di SMK
Terdapat berbagi pendapat tentang tujuan diselenggarakannya layanan bimbingan dan konseling
karier di SMK. Menurut Sukardi (1989), tujuan pelaksanaan Bimbingan Karir di Sekolah adalah agar
siswa dapat:
a. meningkatkan pengetahuannya tentang dirinya sendiri (self concept),
b. meningkatkan pengetahuannya tentang dunia kerja,
c. mengembangkan sikap dan nilai diri sendiri dalam menghadapi pilihan lapangan kerja dalam
persiapan memasukinya,
d. meningkatkan ketrampilan berpikir agar mampu mengambil keputusan tenntang jabatan yang sesuai
dengan dirinya dan tersedia dalam dunia kerja,
e. menguasai ketrampilan dasar yang penting dalam pekerjaan terutama kemampuan berkomunikasi,
bekerja sama, berprakarsa dan lain sebagainya.
Senada dengan dua pendapat sebelumnya, Carneyn dan Reihant (1987) merumuskan tujuan
bimbingan karier di adalah agar siswa memilik kemampuan untuk:
a. mengenal (mendeskripsikan) karakteristik diri (minat, nilai, kemampuan, dan ciri-ciri kepribadian)
yang darinya peserta didik dapat mengidentifikasi bidang studi dan karir yang sesuai dengan dirinya,
b. memperoleh pemahaman tentang berbagai hal terkait dengan dunia (karir-studi) yang akan
dimasukinya seperti tingkat keluasan karir yang ditawarkan, deskripsi tugas dalam berbagai bidang
pekerjaan, pengaruh perkembangan teknologi terhadap bidang kerja tertentu, kontribusi yang dapat
diberikan dalam bidang pekerjaan tertentu pada masyarakat, dan tuntutan kemampuan kerja dalam
bidang-bidang pekerjaan tertentu di masa depan,
c. mengidentifikasi berbagai bidang pendidikan yag tersedia yang relevan dengan berbagai bidang
pekerjaan,
d. Mampu mengambil keputusan karir bagi dirinya sendiri, merencanakan langkah-langkah konkrit
untuk mewujudkan perencanaan karir yang realistik bagi dirinya,
e. menyesuaikan diri dalam mengimplementasikan pilihannya dan berfungsi optimal dalam karir.
Secara sederhana, Munro & Kottman dalam Suherman (2013: 201) mengemukakan bahwa tujuan
pengembangan karier untuk siswa di sekolah (SMA/SMK) adalah mengembangkan kesadaran diri dan
untuk eksplorasi dan orientasi karier yang lebih formal.
Adapun secara khusus, tujuan bimbingan karier di SMK menurut Supriatna dan Budiman (2013)
adalah untuk membantu atau memfasilitasi perkembangan individu (siswa) agar memiliki kemampuankemampuan untuk:
a. memahami dan menilai dirinya, terutama potensi dasar (bakat, minat, sikap,kecakapan, dan cita-cita)
yang terkait dengan dunia kerja yang akan dimasukinya kelak,
b. menyadari dan memahami nilai-nilai yang ada pada diri dan masyarakatnya, sehingga menumbuhkan
sikap positif terhadap dunia kerja,
c. mengetahui lingkungan pekerjaan yang berhubungan dengan potensi dirinya serta memahami jenisjenis pendidikan dan/atau pelatihan yang diperlukan untuk mengembangkan karier dalam bidang
pekerjaan tertentu,
d. menemukan dan dapat mengatasi hambatan-hambatan yang disebabkan oleh faktor diri dan
lingkungannya,
e. merencanakan masa depan, yaitu merancang kehidupan secara rasional untuk memperoleh peran-peran
yang sesuai dengan minat, kemampuan, dan kondisi kehidupan sosial ekonomi,

138

f. membentuk pola-pola karier, yaitu kecenderungan arah karier.
Dalam Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling untuk Jalur Pendidikan Formal
yang disusun oleh Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) pada Tahun 2007 dijelaskan
bahwa tujuan bimbingan dan konseling karier adalah agar supaya siswa:
a. memiliki pemahaman diri (kemampuan, minat, dan kepribadian) yang terkait dengan pekerjaan,
b. memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karier yang menunjang kematangan
kompetensi karier,
c. memiliki sikap positif terhadap dunia kerja, dalam arti mau bekerja dalam bidang pekerjaan apapun,
tanpa merasa rendah diri, asal bermakna bagi dirinya, dan sesuai dengan norma agama,
d. memahami relevansi kompetensi belajar (kemampuan menguasai pekerjaan) dengan ersyaratan
keahlian atau ketrampilan bidang pekerjaan yang menjadi cita-cita kariernya di masa depan,
e. memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karier, dengan cara mengenali ciri-ciri pekerjaan,
kemampuan (persyaratan) yang dituntut, lingkungan sosiopsikologis pekerjaan, prospek kerja, dan
kesejahteraan kerja,
f. memiliki kemampuan merencanakan masa depan, yaitu merancang kehidupan secara rasional untuk
memperoleh peran-peran yang sesuai dengan minat, kemampuan, dan kondisi kehidupan sosial
ekonomi,
g. dapat membentuk pola-pola karier, yaitu kecenderungan arah karier.Apabila seorang siswa bercita-cita
ingin menjadi seorang guru, maka dia senantiasa harus mengarahkan dirinya kepada kegiatankegiatan yang relevan dengan karir keguruan tersebut,
h. mengenal keterampilan, kemampuan dan minat. Keberhasilan atau kenyamana dalam suatu karier
amat dipengaruhi oleh kemampuan dan minat yang dimiliki,
i. memiliki kemampuan atau kematangan untuk mengambil keputusan karier.
Untuk bisa terwujudnya tujuan tersebut di atas, layanan bimbingan dan konseling karir ini
diharapkan dapat diberikan sebagai bagian dari proses yang partisipatif dan berpusat pada peserta didik.
Peran dari pembimbing (Guru BK/Konselor) adalah tidak mendikte pilihan peserta didik, namun
memandu dan memfasilitasi mereka melalui proses pengambilan keputusan dan memberikan ruang bagi
mereka dalam melihat secara kritis apa saja potensi, kesempatan pekerjaan , dan jalur pendidikan yang
bisa mereka ambil.
Materi Layanan Bimbingan dan Konseling Karier
Materi program atau layanan bimbingan karier dikembangkan dari tugas-tugas
perkembangan sebagai kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa SMK yang tengah memasuki masa
remaja. Dalam penerapannya, konselor dan guru diharapkan berangkat dari pengkajian secara seksama
terhadap setiap rumusan aspek perkembangan, tahap internalisasi, dan tujuan yang akan dicapai dari
setiap kompetensi.
Langkah selanjutnya, konselor dan guru hendaknya mempertimbangkan kesesuaian objek kajian
tersebut dengan mata pelajaran masing-masing dan/atau bidang pengembangan bakat, minat, dan
kreativitas siswa. Pada giliran berikutnya, konselor dan guru dapat menuangkan hasil pengkajian itu ke
dalam rancangan program bimbingan karier yang terpadu dalam keseluruhan program pendidikan di
sekolah. Melalui langkah-langkah seperti itu, konselor dan guru diharapkan memperoleh kemudahan
dalam merancang, melaksanakan, dan menilai program bimbingan karier secara komprehensif.
Materi layanan bimbingan karier bukan seperti materi pembelajaran yang harus disampaikan
oleh guru kepada siswa, melainkan berupa deskripsi tentang ruang lingkup kegiatan yang diturunkan dari
rumusan kompetensi, dan harus dikelola oleh konselor dan/atau guru dalam bentuk berbagai kegiatan
bimbingan karier yang dilandasi aturan kebijakan dan prinsip keilmuan. Dalam arti lain, materi
merupakan satuan-satuan layanan yang bertitik-tolak dari dasar pemikiran yang dapat
dipertanggungjawabkan secara profesional.
Materi-materi layanan bimbingan karier yang dapat dikembangkan dan sejalan
dengan tugas perkembangan siswa SMK, antara lain, sebagai berikut.
a. Pengembangan karier yang sesuai dengan ajaran agama; praktik kegiatan bekerja yang mengarah
pengembangan karier menurut ajaran agama.
b. Pengaruh perubahan fisik dan psikis terhadap pengembangan persiapan karier;
cara-cara mengembangkan kondisi fisik dan psikis yang sehat untuk pengembangan karier; praktik
cara-cara mengembangkan kondisi fisik dan psikis yang sehat untuk pengembangan karier.

139

c. Kemanfaatan hubungan teman sebaya dalam upaya pengembangan persiapan karier; praktik
memanfaatan hubungan teman sebaya dalam upaya pengembangan persiapan karier; konsep
persamaan gender dalam pilihan dan pengembangan karier.
d. Keterkaitan antara nilai dan cara-cara bertingkah laku dalam kehidupan sosial yang lebih luas
terhadap kondisi bekerja dan pengembangan karier; praktik mewujudkan hubungan yang baik antara
nilai dan cara bertingkah laku pribadi dan sosial terhadap pengembangan karier.
e. Pengaruh kemampuan, bakat, dan minat terhadap karier; identifikasi pengaruh
kemampuan, bakat, dan minat sendiri terhadap pilihan karier; identifikasi arah
kecenderungan karier sendiri sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minat;
identifikasi apresiasi berbagai jenis karier termasuk karier dalam bidang seni tanpa terlalu terikat pada
kemampuan, bakat, dan minat sendiri.
f. Keterkaitan pengetahuan dan keterampilan program SMK dengan karier-karier
tertentu; praktik peningkatan keterkaitan pengetahuan dan keterampilan program SMK dengan karierkarier tertentu; keterkaitan pengetahuan dan keterampilan program SMK dengan arah pengembangan
karier yang diinginkan; identifikasi pilihan pengembangan persiapan karier yang diinginkan;
identifikasi peranan kehidupan masyarakat untuk pengembangan persiapan karier yang diinginkan;
praktik peranan kehidupan masyarakat untuk pengembangan persiapan karier yang diinginkan.
g. Kehidupan karier sesuai dengan gambaran tentang kehidupan mandiri secara emosional, sosial, dan
ekonomi; cara-cara mewujudkan sikap dasar dalam pengembangan karier untuk kehidupan mandiri
secara emosional, sosial, dan ekonomi, serta penerapannya.
h. Penerapan sistem etika dan nilai dalam pekerjaan dan pengembangan karier.
D.

Simpulan
Seperti negara-negara anggota ASEAN lainnya, Indonesia juga tengah bersiap menyambut
berlakunya MEA 2015, dan diketahui bahwa salah satu dampak dari terciptanya MEA adalah pasar bebas
di bidang permodalan, barang dan jasa, serta tenaga kerja. Salah satu hambatan yang dialami Indonesia
dalam menyambut berlakunya MEA pada akhir tahun 2015 ini adalah mutu pendidikan tenaga kerja
masih rendah. Hingga Februari 2014 jumlah pekerja berpendidikan SMP atau dibawahnya tercatat
sebanyak 76,4 juta orang atau sekitar 64 persen dari total 118 juta pekerja di Indonesia. Fakta lain adalah
meningkatnya jumlah pengangguran tenaga kerja terdidik, akibat ketidaksesuaian antara lulusan
perguruan tinggi dengan kebutuhan pasar tenaga kerja. Keadaan ini semakin menambah fakta adanya
ketidaksiapan tenaga kerja terampil dalam menghadapi MEA 2015.
Untuk mengatasi keadaan tersebut, salah satu jalan yang ditempuh oleh pemerintah Indonesia
adalah memperbanyak jumlah sekolah menengah kejuruan yang dianggap mampu mencetak tenagatenaga kerja terampil dan profesional dalam menghadapi dunia kerja. Layanan bimbingan dan konseling
karir merupakan yang salah satu jenis layanan bimbingan dan konseling di sekolah adalah merupakan
suatu proses bantuan layanan dan pendekatan terhadap individu (siswa/remaja), agar individu yang
bersangkutan dapat mengenal dirinya, memahami dirinya, dan mengenal dunia kerja, merencanakan masa
depan dengan bentuk kehidupan yang diharapkan untuk menentukan pilihan, dan mengambil suatu
keputusan bahwa keputusannya tersebut adalah paling tepat sesuai dengan keadaan dirinya dihubungkan
dengan persyaratan-persyaratan dan tuntutan pekerjaan / karir yang dipilihnya. Maka dapat disimpulkan
bahwa dengan layanan bimbingan dan konseling karier ini lulusan SMK semakin menjadi lebih
profesional, terampil, dan handal. Dan pada akhirnya Indonesia mampu menyediakan tenaga-tenaga
terampil dan profesional yang dibutuhkan dalam menyambut MEA 2015 ini.

DAFTAR PUSTAKA

Crites, John O. (1981). Career Counseling; Models, Methods and Materials.New York: McGraw-Hill
Book Com.
Depdiknas. (2003). Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Puskur Balitbang, Depdiknas.
Dillard, John Milton. (1987). Long Life Career Planning. New York: Mc.Milan Publishing.
Gibson R.L & Mitchell M.H (2011) Bimbingan dan Konseling (alih bahasaYudi Santosa). Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.

140

Hurlock, Elizabeth. (1992). Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga.
Karneli, Yeni. 1998. Bimbingan Karir Sebagai Upaya Membantu Kesiapan Siswa Dalam
Memasuki Dunia Kerja. Tersedia di http//id. Shavoong.com// Diakses pada pukul 13.35 WIB
tanggal 1 Oktober 2011
Mamat Supriatna. (2005). Konteks Budaya dalam Bimbingan dan Konseling.(Materi Workshop BK
Berbasis Kompetensi). Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama, Ditjen Dikdasmen,
Depdiknas.
Mamat Supriatna. (2006). Strategi Bimbingan dan Konseling Pengembangan Aspek Kepribadian Siswa.
(Materi Workshop Bridging Course Bimbingan dan Konseling). Jakarta: Direktorat Pembinaan
Sekolah Menengah Pertama, Ditjen Mandikdasmen, Depdiknas.
Mamat Supriatna, & Ilfiandra. (2006). Apa dan Bagaimana Bimbingan Karier.(Materi Workshop
Bimbingan dan Konseling Politeknik Kesehatan,Tasikmalaya). Bandung: Universitas Pendidikan
Indonesia, Fakultas
Munandir. (1996). Program Bimbingan Karier di Sekolah. Jakarta:Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.
Natan, N & Hill L.(2012) Konseling Karier.(alih bahasa Soetjipto P. dan Soetjipto M.). Yogyakarta:
Pustaka Pelajar
Suherman. (2013).Bimbingan dan Konseling Karir Sepanjang Rentang Kehidupan. Bandung: Rizqi Press
.
Sukardi, Dewa Ketut. 1987. Bimbingan Karir di Sekolah-Sekolah. Jakarta: Balai Pustaka
Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Winkel, W.S. 1997. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jkarta: PT Gramedia

.

141

BIMBINGAN KARIER BERORIENTASI KEBUTUHAN DI PERGURUAN TINGGI DALAM
RANGKA MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA)
Sinta Saraswati
Bimbingan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, UNNES
Email: sinta.fip@gmail.com
Abstract
Asean Economic Community (AEC) brought an impact beyond ordinary for forming labor in Indonesia
through higher education, one of them is in the process of determining the understanding of the student
for a career.The main purpose of this article is for such a strategy can be implemented in a career
guidance oriented to college in the face of hammeah. Career guidance needs to be undertaken in the
market and the understanding of the student, and training programs which are manifested in being
unified. It is hoped with the presence of a career guidance need to be able to help the students to find a
suitable with competence.
Keyword: Carier, Needs
Abstrak
Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) telah membawa dampak luar biasa bag penyiapan tenaga kerja di
Indoensia melalui pendidikan tinggi, salah satunya adalah dalam proses pemahaman diri mahasiswa
dalam menentukan perencanaan karir. Tujuan utama penulisan artikel ini adalah untuk mengatahui
strategi yang dapat dilakukan dalam melaksanakan bimbingan karir berorientasi kebutuhan di perguruan
tinggi dalam menghadapi MEA. Bimbingan karir berorientasi kebutuhan dilaksankan dengan
memperhatikan kebutuhan pasar dan pemahaman diri mahasiswa, yang diwujudkan dalam program dan
pelatihan yang terpadu. Harapannya dengan adanya bimbingan karir berorientasi kebutuhan akan dapat
membantu mahasiswa dalam menemukan perencanaan karir yang sesuai dengan kompetensinya.
Keyword: Karir, Kebutuhan
Pengantar
Perkembangan ilmu pengetahuan khususnya teknologi informasi dan komunikasi yang cepat,
telah menimbulkan gejala globalisasi. Globalisasi telah memungkinkan integrasi yang lebih baik antara
negara-negara di dunia sebagai akibat turunnya biaya komunikasi dan transportasi, serta berkurangnya
hambatan terhadap arus orang, barang, pelayanan, kapital, ide-ide, dan pengetahuan. Sayang hanya
negara maju dan kaya yang dapat memanfaatkan dan diuntungkan oleh globalisasi tersebut. Sekarang
mulai disadari bahwa globalisasi seharusnya tidak hanya menguntungkan negara industri maju dan kaya,
tetapi juga harus dapat bermanfaat bagi negara yang kurang maju dan miskin (Stiglitz, 2003:252-258).
Globalisasi di kawasan Asean telah nampak dari kesepakatan bersama, yang disebut dengan Masyarakat
Ekonomi Asean (MEA). Dengan adanya MEA menuntut masyarakat khusunya d Indoensia untuk
memiliki kompetensi dan daya saing yang lebih tinggi, pasalnya masyarakat akan bersaing dalam
memperoleh pekerjaan dengan masyarakat global khususnya di Asean.
Terkait dengan itu, pendidikan mesti dapat menjawab tantangan tersebut. Dengan kata lain,
pendidikan harus menyediakan kesempatan bagi setiap peserta didik untuk memperoleh bekal
pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai sebagai bekal mereka memasuki persaingan dunia yang kian
hari semakin ketat dengan adanya MEA. Di samping kesempatan yang seluas-luasnya disediakan, yang
penting juga adalah memberikan pendidikan yang bermutu. Karena, hanya dengan pendidikan yang
bermutu peserta didik dapat dibekali keterampilan hidup, sedangkan pendidikan yang tidak bermutu
hanya akan mebuang efisiensi biaya pendidikan. Oleh karena itu setiap institusi pendidikan harus
senantiasa meningkatkan mutunya.
Peningkatan mutu pada hakikatnya merupakan upaya perubahan, oleh karena itu, proses
perubahan dalam peningkatan mutu pendidikan adalah suatu keharusan dan keniscayaan. Tanpa ada
proses perubahan tidak ada mutu pendidikan. Mutu pendidikan adalah hasil proses perubahan. Dengan
demikian, proses prubahan menjadi sangat penting dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan.
Peningkatan mutu pendidikan harus dimalaui dari pendidikan dasar hingga pendidikan tingi.
Perguruan tinggi sebagai penghasil SDM terdidik dituntut untuk senantiasa mampu menyiapkan
lulusan yang profesional dan siap menghadapi persaingan yang ketat dalam dunia kerja dan usaha.
Lulusan tersebut diharapkan mampu menjawab dan mengisi kebutuhan-kebutuhan yang disyaratkan oleh
dunia kerja dan dunia usaha. Dengan begitu, lulusan yang dihasilkan oleh perguruan tinggi tersebut
benar-benar well educated dan applicable.
Keberhasilan pendidikan tinggi adalah aspek relevansi. Aspek relevansi ini, perguruan tinggi
dituntut mampu menghasilkan lulusan yang memiliki daya saing dan siap berkiprah dalam pembangunan.

142

Daya saing lulusan yang ditunjukkan melalui masa tunggu mendapatkan pekerjaan pertama, keberhasilan
lulusan berkompetisi dalam seleksi, dan gaji yang diperoleh. Relevansi (kesesuaian) pendidikan lulusan
ini ditunjukkan melalui profil pekerjaan (macam dan tempat pekerjaan), relevansi pekerjaan dengan latar
belakang pendidikan, manfaat mata kuliah yang diprogram dalam pekerjaan, saran lulusan untuk
perbaikan kompetensi lulusan. Selain itu, relevansi pendidikan juga ditunjukkan melalui pendapat
pengguna lulusan tentang kepuasan pengguna lulusan, kompetensi lulusan dan saran lulusan untuk
perbaikan kompetensi lulusan (Soemantri:2010).
Berbeda dengan yang terjadi di negara maju seperti di Amerika Utara, Eropa Barat, Jepang
maupun Singapura, di Indonesia upaya-upaya akademik berhubungan dengan keterkaitan pendidikan
tinggi dengan dunia kerja belum begitu banyak mendapatkan perhatian. Sampai saat ini strategi integrasi
antara sistem pendidikan nasional dengan sistem tenaga kerja nasional masih baru dirintis sehingga masih
sulit ditemukan adanya hubungan yang harmonis antara produk dunia pendidikan dan kebutuhan tenaga
kerja (Kemdikbud,2012:33).
Kramer (dalam Herr, 1996:292) melakukan penelitian terhadap mahasiswa Universitas
Cornell, ditemukan 48 % mahasiswa laki-laki dan 61 % mahasiswa perempuan mengalami masalah
dalam pilihan dan perencanaan karir. Penelitian lain menemukan bahwa sebagian mahasiswa yang
memasuki perguruan tinggi di Amerika menginginkan adanya pendampingan dalam perencanaan karir
atau pilihan karir. Dari penelitian tersebut ditemukan betapa butuhnya mahasiswa terhadap
pembimbingan (Assistance) terhadap karir yang akan ia tuju. Agus Rianto (2006) mengemukakan
banyak tantangan yang akan dihadapi mahasiswa dalam menentukan karir, diantaranya adalah ketidak
pastian karir, pengaksesan informasi dan program pengembangan karir, dan tantangan-tantangan
ekonomi dan teknologi. Untuk mengantisipasi tantangan-tangan ini perlu bagi perguruan tinggi untuk
memberikan pelayanan yang optimal terhadap perkembangan karir mahasiswa.
Mahasiswa dalam psikologi perkembangan dikategorikan berada rentang usia remaja atau
adolensia awal. Mereka berada pada fase transisi dari dunia anak ke dunia dewasa. Mereka harus
menggunakan masa remajanya untuk bersiap melakukan berbagai peran yang harus dilaksanakan pada
masa dewasanya nanti. Salah tugas perkembangan penting yang harus diwujudkan pada individu usia
kuliah adalah memiliki wawasan dan pemahaman tentang langkah-langkah yang harus ditempuh dalam
rangka memasuki dunia dewasa termasuk dunia kerja.
Salah satu elemen pendidikan di perguruan tinggi yang dipandang strategis dalam
memfasilitasi pengembangan berbagai kemampuan prevokasional dan soft-skill mahasiswa adalah
program bimbingan karir bagi mahasiswa. Pelayanan bimbingan karir merupakan salah satu dari empat
bidang pelayanan bimbingan konseling di sekolah. Keempat bidang yang dimaksud, adalah bimbingan
pribadi, bimbingan sosial, bim bingan pembelajaran, dan bimbingan karir (Prayitno & Anti, 1999;
Prayitno, 2002).
Masalah
Perguruan Tinggi sebagai wahana penyiapan mahasiswa menuju dunia kerja dituntut untuk
mewujudkan mahasiswa yang cerdas, terampil, dan professional di bidangnya. Dalam rangka membantu
mahasiswa untuk dapat memasuki dunia kerja. Sebenarnya banyak cara dan strategi yang telah dilakukan
oleh berbagai perguruan tinggi salah satunya adalah dengan melaksanakan pembekalan bagi calon
wisudawan secara kontinyu. Evaluasi pelaksanaan pembekalan yang telah dilaksanakan di Universitas
Negeri Semarang menunjukan 87% peserta sangat membutuhkan pembekalan calon wisudawan untuk
membantu mereka dalam memasuki dunia kerja. Hal tersebut menunjukan bahwa persiapan atau
bimbingan memasuki dunia kerja sangat dibutuhkan bagi calon wisudawan (pusbang Layanan Konseling
dan Bursa Kerja UNNES,2011).
Kondisi nyata yang ada dengan adnaya MEA, adalah bagaimana kesiapan mahasiswa dalam
menghadapinya, oleh karena itu dalam pembahasan ini permasalahan utama yang akan dibahas adalah
sejauhmanakah pengetahuan mahasiswa terhadap MEA dan bagaimanakah strategi bimbingan karir yang
dapat dikembangkan untuk meningkatkan kesiapan mahasiswa dala menghadapi MEA.
Pembahasan
Akhir-akhir ini kita sangat intensif dihadapkan tantangan menghadapi Masyarakat Ekonomi
Asean (MEA). Yang pada intinya, MEA memiliki empat komponen pokok, yaitu (1) a single market and
production base, (2) a competitive economic region, (3) equitable economic development, dan (4)
integration with the global economy. Sebagai warga Indonesia, mahasiswa tidak boleh hanya menjadi
objek proyek-proyek MEA, tetapi harus dapat memainkan diri sebagai subyek dalam dinamika MEA,
yang tidak hanya dapat menjaga survival negara dan bangsa Indonesia, namun kita dapat berkontribusi
untuk membesarkan Indonesia dan membesarkan negara-negara di wilayah ASEAN.

143

Terkait dengan itu, penyiapan mahasiswa sebagai calon pekerja diera MEA, perlu menjadi
perhatian serius, yakni dengan membangun citra diri mahasiswa yang siap, sigap, dan berkompetensi
dalam menghadapi MEA. Menurut Sumarna (Kompas, 30 April 2015), kedepan semua tenaga kerja harus
bersertifikat dan yang kedua pemerintah akan melakukan sistem insentif dari pemerintah. Artinya
kedepan tuntutan akan sertifikasi profesi menjadi dominan, untuk itu penyiapan tenaga kerja juga harus
disiapkan dengan sebaik mungkin, dari aspek kompetensi, sikap, dan mental.
Terkait dengan penyiapan tenaga kerja, maka mahsiswa hendaknya memiliki perencanaan karir
yang baik, dan disinilah posisi bimbingan konseling diharapkan agar mahasiswa dapat memahami dirinya
untuk dapat menentukan perencanaan karir yang baik dan tepat. Menurut Rosari (2002) perencanaan
karir adalah proses yang sengaja dibuat agar individu menjadi sadar akan atribut-atribut yang berkenaan
dengan karir personal (personal career related) dan serangkaian panjang tahap-tahap yang menyumbang
pada pemenuhan karirnya. Dapat dikatakan juga perencanaan karir adalah proses seseorang memilih
sasaran karir dan jalur ke sasaran itu. Sedangkan menurut Corey & Corey (2006), perencanaan karir
adalah suatu proses yang mencakup penjelajahan pilihan dan persiapan diri untuk sebuah karir.
Selanjutnya menurut Kleineckht & Hefferin (dalam Gail, Janice, Linda & Mary,2004), perencanaan karir
adalah proses penilaian diri dan penetapan tujuan karir yang selalu berkesinambungan. Dari beberapa
pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa perencanaan karir adalah proses berkelanjutan dimana
individu melakukan penilaian diri dan penilaian dunia kerja, merencanakan langkah-langkah yang harus
dilakukan untuk mencapai pilihan karir tersebut, dan membuat penalaran yang rasional sebelum
mengambil keputusan mengenai karir yang diinginkan.
Menurut Parsons (dalam Winkel & Hastuti, 2006), ada tiga aspek yang harus terpenuhi dalam
membuat suatu perencanaan karir, yaitu:
1) Pengetahuan dan pemahaman diri sendiri, yaitu pengetahuan dan pemamahan akan bakat,
minat, kepribadian, potensi, prestasi akademik, ambisi, keterbatasan-keterbatasan, dan sumbersumber yang dimiliki.
2) Pengetahuan dan pemahaman dunia kerja, yaitu pengetahuan akan syaratsyarat dan kondisikondisi yang dibutuhkan untuk sukses dalam suatu pekerjaan, keuntungan dan kerugian,
kompensasi, kesempatan, dan prospek kerja di berbagai bidang dalam dunia kerja.
3) Penalaran yang realistis akan hubungan pengetahuan dan pemahaman diri sendiri dengan
pengetahuan dan pemahaman dunia kerja, yaitu kemampuan untuk membuat suatu penalaran
realistis dalam merencanakan atau memilih bidang kerja dan/atau pendidikan lanjutan yang
mempertimbangkan pengetahuan dan pemahaman diri yang dimiliki dengan pengetahuan dan
pemahaman dunia kerja yang tersedia.
Bimbingan karir sebagi sebuah langkah dalam membantu mahasiswa menemukan identitas diri
dan merencanakan karis dapat dilakukan melalui beberapa strategi, diantaranya adalah dengan bimbingan
karir berorientasi pada kebutuhan sebagaimana digambarkan dalam gambar 1.

MEA

Persaingan Dunia Kerja

Kebutuhan Pasar

1. Kompetensi
2. Bahasa
3. Keterampilan

Pemahaman Diri
Bimbingan Karir
Berorientasi Kebutuhan

1. Pengetahuan (MEA)
2. Kompetensi
3. Sikap
4. Mental

Program & Materi
Sesuai dengan Tuntutan MEA
Gambar 1. Bimbingan Karir Berorientasi Kebutuhan MEA
Sumber: Analisis 2015

144

Gambar 1 diatas menunjukan bahwa Masyarakat Ekonomi Asean merupakan tantangan global
yang harus dihadapi dan disikapi dengan baik oleh semua masyarakat, khususnya mahasiswa. Dimana,
tuntutan pasar terhadap tenaga kerja memiliki karakteristik yang beragam tetapi pada intinya adalah
tenaga kerja yang memiliki kompetensi yang dibuktikan dengan sertifikat kompetensi, kemampuan
komunikasi global yang dibuktikan dengan kemampuan bahasa asing yang baik. Serta keterampilan
penunjang lain yang mampu untuk meningkatkan kompetensi orang tersebut.
Disisi lain, mahasiswa hendaknya memiliki pemahaman diri yang baik dalam menghadapi MEA,
pemahaman diri yang dimaksut adalah 1) memiliki pengetahuan dan wawasan akan MEA itu sendiri 2)
Kompetensi, kebutuhan akan kemampuan profesional sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, 3) sikap
pribadi yang berkarakter dan memiliki etos kerja yang baik, dan 4) Mental untuk melakukan persaingan
terbuka dengan masyarakat global Asean.
Posisi bimbingan karir dalam menghadapi MEA adalah sebagai jembatan untuk mewujudkan
mahasiswa yang memiliki pemahaman diri yang baik, sehingga akan dapat memiliki perencanaan karia
yang baik dalam menghadapi persaingan global. Winkel & Hastuti (2006) mengemukakan bahwa tugastugas perkembangan yang dihadapi oleh siswa remaja antara lain adalah mengembangkan rasa tanggung
jawab, sehingga dapat melepaskan diri dari ikatan emosional yang kekanak-kanakan dan membuktikan
diri pantas diberi kebebasan yang sesuai dengan umurnya; mempersiapkan diri untuk memasuki corak
kehidupan orang dewasa; memantapkan diri dalam memainkan peranan sebagai pria dan wanita (sexual
role); merencanakan masa depannya di bidang studi dan pekerjaan sesuai dengan nilai-nilai kehidupan
yang dianut dan keadaan masyarakat yang nyata. Tantangan pokok bagi siswa remaja terletak dalam hal
membentuk diri sendiri dan menginternalisasi seperangkat nilai dasar kehidupan (value) yang patut
diperjuangkan.
Selanjutnya Super (dalam Winkel & Hastuti, 2006) menyatakan bahwa ketika berada di usia
remaja individu mulai merumuskan ide mengenai pekerjaan yang sesuai dan mulai mengembangkan
konsepsi diri mengenai pekerjaan yang berimplikasi terhadap keputusan tentang pilihan studi lanjutan.
Remaja mulai mengenal dan menerima hal-hal yang diperlukan untuk membuat keputusan karir dan
memperoleh keputusan lain yang relevan. Remaja mulai menyadari minat dan bakatnya dan bagaimana
bakat dan minat itu nantinya berhubungan dengan kesempatan kerja. Remaja juga mulai mampu
mengidentifikasi kemungkinankemungkinan yang ada sehubungan dengan bakat dan minat ini serta
mengikuti pelatihan untuk mengembangkan dan meningkatkan bakat dan minat mereka agar lebih
optimal saat bekerja nanti. Menurut Super (dalam Winkel & Hastuti, 2006) perencanaan garis besar masa
depan (crystallizaion) terjadi antara umur 14 sampai 18 tahun, yang terutama bersifat kognitif dengan
meninjau diri sendiri dan situasi hidupnya. Perencanaan karir merupakan tugas perkembangan karir pada
fase eksplorasi (exploration), dari umur 15 sampai 24 tahun, dimana orang muda memikirkan berbagai
alternatif jabatan, tetapi belum mengambil keputusan yang mengikat. Fase ini merupakan fase paling
penting sesudah fase paling awal yang harus dilalui pertama kali, yaitu fase pengembangan (growth), dari
saat lahir sampai umur lebih kurang 15 tahun, dimana anak mengembangkan berbagai potensi, pandangan
khas, sikap, minat, dan kebutuhan-kebutuhan yang dipadukan dalam struktur gambaran diri (self-concept
structure).
Mappiare (2001) menyatakan bahwa salah satu tugas perkembangan remaja adalah memilih
dan mempersiapkan diri ke arah suatu pekerjaan atau jabatan. Menurut Witko et.al. (2005), perencanaan
karir menjadi suatu hal yang penting karena dengan adanya perencanaan karir maka akan mengurangi
ketegangan dan kekalutan siswa dalam mencari informasi karir untuk pengambilan keputusan akan karir
yang diinginkan. Penelitian yang dilakukan oleh Witko et.al (2005) menemukan bahwa perencanaan karir
ternyata penting bagi siswa SMU. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Triana
(dalam Wati, 2005) bahwa perencanaan karir merupakan salah satu komponen yang penting dalam
mempersiapkan diri untuk memilih pendidikan lanjutan atau pekerjaan yang diinginkan.
Menurut Corey & Corey (2006), perencanaan karir adalah suatu proses yang mencakup
penjelajahan pilihan karir dan persiapan diri untuk sebuah karir. Selanjutnya Triana (2004, dalam Wati,
2005) menyatakan bahwa perencanaan karir terdiri dari persiapan diri dan menyusun daftar pilihan karir
dengan lebih baik, yang dapat dilakukan dengan cara memperbanyak informasi tentang persyaratan dalam
dunia kerja yang dibutuhkan, menambah keterampilan, dan lain sebagainya.
Dalam perencanaan karir, remaja membutuhkan bimbingan dari guru, konselor, orangtua, atau
orang dewasa lainnya dalam merencanakan masa depan yang sesuai dengan bakat, minat, atau
kemampuan yang dimilikinya. Kosteck-Bunch (dalam Turner & Lapan, 2002) menyatakan bahwa dasar
program bimbingan karir di sekolah bertujuan untuk memberi bantuan kepada siswa mengenai informasi
pendidikan dan perencanan karir serta memberikan bantuan materiil dan sumber-sumber yang diperlukan.
Menurut Rahman (2003), inti dari pemberian layanan bimbingan adalah pengembangan diri.
Dengan demikian seluruh peserta didik berhak mendapatkan layanan guna optimalisasi potensi.

145

Sependapat dengan pernyataan diatas, Wati (2005) menyatakan bahwa pemahaman diri menjadi hal yang
penting bagi individu supaya dapat berperilaku secara realistis, baik dalam pemilihan pendidikan maupun
pemilihan karir.
Bimbingan karir di perguruan tinggi diarahkan untuk membantu mahasiswa dalam memahami
dirinya dalam perencanaan dan pengarahan kegiatan serta dalam pengambilan keputusan yang
membentuk pola karir tertentu dan pola hidup yang memberikan kepuasan bagi dirinya dan
lingkungannya. Agar mahasiswa dapat mengambil keputusan yang tepat, maka layanan dalam bimbingan
karir membantu mahasiswa memahami diri, tidak hanya bakat tetapi juga minat, nilai-nilai, dan
kepribadiannya. Pemahaman diri menjadi hal yang penting dalam perencanaan karir supaya individu
dapat berpikir realistis, baik dalam pemilihan maupun pemilihan karir. Walaupun pemahaman diri tidak
menjadi jaminan bagi pengambilan keputusan yang baik, tetapi keputusan yang baik tidak mungkin dapat
dicapai tanpa adanya gambaran yang realistis tentang kemampuan, bakat, dan minat yang dimiliki (Wati,
2005).
Akan tetapi, belum dimanfaatkannya layanan bimbingan karir yang diberikan konselor atau
unit lain di kampus oleh mahasiswa mengakibatkan tidak jarang dijumpai mahasiswa yang mengalami
kesulitan di dalam bekerja karena bidang yang dipilih ternyata kurang sesuai dengan minat, bakat, dan
kemampuannya. Apabila layanan bimbingan karir dimanfaatkan sebaik mungkin, hal ini dapat
mengurangi kecemasan peserta didik dalam merencanakan masa depannya, karena dengan bimbingan
karir peserta didik dibantu untuk memahami dirinya dan potensinya serta memahami dunia kerja yang
berguna dalam perencanaan sebelum mengambil keputusan penting mengenai karir masa depan atau
pendidikan lanjutan yang diinginkan (Wati, 2005).
Dari uraian diatas dapat dilihat bahwa melalui pemanfaatan layanan bimbingan karir maka
mahasiswa akan terbantu untuk memahami dan mengenal potensi dirinya dan hal ini akan memudahkan
mereka dalam perencanaan karir. Semakin dini perencanaan karir dilakukan maka akan mengurangi
kekalutan dan kesalahan pengambilan keputusan di masa depan mengenai pilihan karir dan pendidikan
lanjutan yang diinginkan
Penutup
Bimbingan karir berorientasi kebutuhan di perguruan tinggi dalam rangka menghadapi
Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dapat dilakukan dengan melakukan kegiatan mengidentifikasi
pemahaman diri dan memahami kebutuhan tenaga kerja yang dilakukan melalui penyusunan program dan
materi yang sesuai dari hasil analisis hasil kebutuhan tersebut.
Penyusunan program dan materi dikembangkan berdasarkan kebutuhan tenaga kerja di era
MEA. Dimana dalam perkembangannya mahasiswa sekuran-kurangnya harus memahami keunggulan
pribadinya dan kemampuan dirinya agar dapat memenuhi kebutuhan kopetensi yang dibutuhkan oleh
pasar. Selain itu mahasiswa juga harus memiliki kemampuan komunikasi global melalui bahasa asing dan
juga keterampilan penunjang yang dapat meningkatkan nilai diri sebagai calon tenaga kerja.
Daftar Pustaka
Corey, G., Corey, M. S. (2006). I Never Knew I Had A Choice : Exploration In Personal Growth (8th ed).
United States of America : Thomson Brooks-Cole Corp.
Kemendikbud. 2012. Buku Panduan Pusat Karir Edisi II. Jakarta: Direktorat Pembelajaran dan
Kemahasiswaan
Mappiare, A. (2001). Psikologi Remaja. Surabaya : Usaha Nasional.
Pusbang Layanan Konseling dan Bursa Kerja. 2012. Laporan Kegiatan Pembelakan Calon Wisudawan
UNNES Periode II Tahun 2012.Semarang:UNNES
Soemantri. Mukminan. 2010. Artikel Hasil Penelitian : Kajian Relevansi Lulusan Jurusan Pendidikan
Geografi UNY Tahun 2005 – 2009. Universitas Yogyakarta
Stiglitz, Joseph E. Globalization and Its Discontents. New York: W.W, Norton & Company.2003
Wati, C. L. (2005). Sikap siswa terhadap layanan bimbingan karir di SMA Tarsius
Winkel, W. S. (1991). Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah (Cetakan VII). Jakarta : Grasindo.
Winkel, W. S., Hastuti, S. (2006). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan (Edisi Revisi,
Cetakan Kelima). Jogjakarta : Universitas

146

APLIKASI MODEL KONSELING BERFOKUS SOLUSI
UNTUK MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSIONAL KONSELI
DALAM MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN
M. Ramli
e-mail: m.ramli25@yahoo.com
Jurusan Bimbingan dan Konseling
Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang

Abstract: ASEAN Economic Community (AEC) is the ASEAN free market. The situation
causes the flow of goods, services, money, labor, values, and culture is so easy to get in and out
of an ASEAN country to other ASEAN countries. This situation makes a globalization in all
spheres of life in the ASEAN region. In the globalization, there is a very tight competition
between countries of ASEAN to compete for opportunities in various fields of life. At that time,
the quality of human resources is crucial. Countries that have an excellent quality of human
resources will win in the competition. One of the fundamental characteristics of excellent human
resources is excellent in emotional intelligence. Therefore, it is very strategic to increase the
counselees‘ emotional intelligence to win the competition. To increase emotional intelligence
effectively and efficiently potentially face a complex problem caused by rapid changes in
various aspects of life, a limited number of counselors, change of the problem so quickly, and
the amount of the counselees who helped so much. Therefore, counselors are required to help the
counselees improve their emotional intelligences through an effective and efficient counseling
model. One of these models is a solution-focused counseling. The counseling model emphasizes
the process of partnership between the counselor and counselee in finding solutions to improve
excellent emotional intelligence. In the process, the counseling model uses a variety of
techniques asked to reveal the advantages, the sources of strength, and the exception of problems
experienced by the cunselees in a relatively short time. In general, the counseling stages consist
of fostering good relationship, the identification of complaints that can be solved, goal setting,
intervention implementation, and termination. The paper focuses on the foundation, processes,
and techniques of solution focused counseling model to help improve the counselees‘ emotional
intelligence in the face of the AEC.
Kata kunci: konseling berfokus solusi, kecerdasan emosional, MEA

Masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) adalah bentuk globalisasi ekonomi di kawasan ASEAN,
yaitu pasar bebas ASEAN. Pada masyarakat tersebut, segala macam informasi dari belahan kawasan
ASEAN manapun dapat dijangkau dan dimanfaatkan oleh siapapun tanpa dibatasi oleh batas-batas fisik
negara. Hal ini menciptakan suatu kesempatan bagi semua orang dari semua negara ASEAN bagi
pemahaman global dan dunia global. Keadaan tersebut menyiratkan adanya keberadaan yang ditandai
oleh adanya saling kebergantungan dan saling hubungan yang semakin kuat antaraspek kehidupan
manusia di kawasan ASEAN.
Kondisi tersebut terjadi karena kemajuan teknologi informatika, komputasi, dan telekomunikasi.
Dengan keadaan ini seolah-olah kawasan ASEAN menjadi semacam sebuah desa dunia—a global
village. Apa saja yang terjadi di suatu belahan kawasan ASEAN dapat segera diketahui oleh semua orang
dari belahan ASEAN mana pun. Hal ini terjadi karena kawasan ASEAN ini tidak lagi dibatasi oleh batasbatas fisik negara. Keadaan tersebut menyebabkan arus barang, jasa, uang, tenaga kerja, nilai-nilai, dan
budaya begitu mudah masuk dan keluar dari suatu negara ASEAN ke negara ASEAN lainnya. Keadaan
ini menjadikan globalisasi dalam segala bidang kehidupan di kawasan ASEAN.
Dalam kondisi globalisasi tersebut, terjadi persaingan yang sangat ketat antarnegara ASEAN untuk
memperebutkan kesempatan pada berbagai bidang kehidupan. Pada saat itu, kualitas sumber daya
manusia sangat menentukan. Negara yang memiliki kualitas sumber daya manusia unggul akan menang
dalam persaingan tersebut. Sumberdaya manusia unggul adalah sumberdaya yang salah satu karakteristik
pokoknya ialah unggul dari segi kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional merupakan kemampuan
individu untuk mengenali emosi diri sendiri dan emosi orang lain, memotivasi diri sendiri, dan mengelola
emosi dengan baik pada diri sendiri maupun dalam hubungan dengan orang lain (Goleman, 1998). Oleh
karena itu maka strategis sekali peningkatan kecerdasan emosional konseli oleh konselor sebagai

147

persemaian sumberdaya manusia unggul bagi kejayaan dan masa depan bangsa untuk memenangkan
kompetisi pada MEA.
Penyemaian manusia unggul yang dicirikan kecerdasan emosional yang unggul pada MEA
dipengaruhi perubahan cepat berbagai aspek kehidupan dewasa ini sehingga potensial menimbulkan
permasalahan yang kompleks dan cepat berubah bagi kehidupan unggul konseli. Disamping itu, jumlah
konselor terbatas, perubahan masalah begitu cepat, dan jumlah konseli yang dibantu begitu banyak.
Untuk itu, konselor dituntut membantu konseli tersebut mengimbangi perubahan cepat kehidupan yang
mempengaruhi keunggulan hidup tersebut dengan meningkatkan kecerdasan emosional unggul melalui
penggunaan model konseling yang efektif dan efisien.
Salah satu model konseling tersebut adalah konseling berfokus solusi. Model konseling tersebut penting
diaplikasikan dan dikembangkan bagi peningkatan kecerdasan emosional konseli menghadapi MEA
karena dari beberapa penelitian, model konseling tersebut efisien dan efektif dalam mengembangkan
aspek-apek kepribadian individu yang rata-rata berlangsung tiga sampai lima kali pertemuan (Seligman,
2006; DeJong & Hopwood, 1996 dalam Prochaska & Norcross, 2007).
Model konseling berfokus solusi berasal dari Solution-focused brief counseling (SFBC) yang
merupakan salah satu model konseling postmodern yang paling penting (Corey, 2009). Model ini
didirikan dan dikembangkan terutama oleh Steve de Shazer dan Insoo Kim Berg sejak dekade 1980-an di
Brief Family Therapy Center di Milwaukee Wisconsin Amerika Serikat (Capuzzi & Gross, 2009; de
Shazer & Dolan, 2007; Sharf, 2012). Dalam perkembangannya, SFBC dipengaruhi model-model
pemberian bantuan yang telah berkembang saat itu, diantaranya brief therapy yang dikembangkan Milton
Erickson (Gladding, 2009), model perilaku, model kognitif-perilaku, dan sistem family therapy
(Seligman, 2006).
Model konseling berfokus solusi tersebut banyak dibutuhkan pada era para konseli dan lembagalembaga pemberian bantuan psikologis menuntut layanan konseling yang singkat dan efektif. Demikian
pula, keterampilan konseling singkat diperlukan konselor yang bekerja dalam latar pemberian bantuan
yang diharapkan memberikan layanan yang lebih banyak dengan waktu yang lebih singkat (Gladding,
2009).
Model konseling ini menjadi semakin populer dalam pelayanan konseling karena kepraktisan,
efisiensi, dan kefektifan dalam pembantuan terhadap konseli (Sciarra, 2004). Disamping itu, sekarang,
SFBC merupakan model konseling yang paling banyak digunakan oleh praktisi profesi pemberian
bantuan (Sperry, 2010). SFBC efektif dalam pembantuan terhadap keluarga, pasangan, para individu,
anak-anak, dan remaja dengan beragam masalah kehidupan (Prochaska & Norcross, 2007; Kelly, Kim, &
Franklin, 2008; Gingerich & Eisengart, 2000; Mulawarman, 2010).
Landasan Penyelenggaraan Konseling Berfokus Solusi
Pada dasarnya, SFBC didasarkan pada pandangan yang positif dan optimistik tentang hakikat
manusia (Corey, 2009; Gladding, 2009). Manusia adalah makhluk yang sehat dan kompeten. SFBC
merupakan model konseling yang nonpatologis yang menekankan pentingnya kompetensi manusia
daripada kekurangmampuan, dan kekuatan daripada kelemahannya. Disamping itu, Manusia mampu
membangun solusi yang dapat meningkatkan kehidupannya. Manusia memiliki kemampuan
menyelesaikan tantangan dalam hidupnya. Bagaimanapun pengaruh lingkungan terhadap manusia,
konselor meyakini bahwa saat dalam layanan konseling, konseli mampu mengonstruksi solusi terhadap
masalah yang dihadapinya. Karena itu, konseli juga mampu mengonstruksi solusi terhadap peningkatan
kecerdasan emosional yang diharapkan.
Dalam pelaksanaan bantuan terhadap konseli, SFBC tidak menggunakan teori kepribadian dan
psikopatologi yang berkembang saat ini. Konselor SFBC berkeyakinan bahwa konselor tidak bisa
memahami secara pasti tentang penyebab masalah individu. Konselor perlu tahu apa yang membuat orang
memasuki masa depan yang lebih baik dan lebih sehat, yaitu tujuan yang lebih baik dan lebih sehat.
Individu tidak bisa mengubah masa lalu tetapi ia dapat mengubah tujuannya. Tujuan yang lebih baik
dapat mengatasi masalah dan mengantarkan ke masa depan yang lebih produktif. Konselor perlu
mengetahui karakteristik tujuan konseling yang baik dan produktif: positif, proses, saat sekarang, praktis,
spesifik, kendali konseli, dan bahasa konseli. Sebagai ganti teori kepribadian dan psikopatologi, masalah
dan masa lalu, SFBC berpokus pada saat sekarang yang dipandu oleh tujuan positif yang spesifik yang
dibangun berdasarkan bahasa konseli yang berada di bawah kendalinya ( Prochaska & Norcross, 2007).
Pelayanan SFBC didasari oleh asumsi dan aturan dasar sebagai berikut. Ada empat asumsi yang
penting diperhatikan konselor, yaitu (a) konseling hendaknya memusatkan pada solusi daripada masalah
bagi terjadinya perubahan yang bermanfaat, (b) suatu strategi konseling yang efektif ialah menemukan
dan mengubah eksepsi/pengecualian (saat-saat individu bebas dari belitan masalah) menjadi solusi, (c)
perubahan kecil mengarahkan pada perubahan yang lebih besar, (d) konseli memiliki sumber-sumber

148

yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah, (e) konselor hendaknya memusatkan pada pengembangan
tujuan bermakna yang dibangun konselor dan konseli dengan tekanan pada apa yang diharapkan konseli
daripada ide/pendapat konselor (Charlesworth, J.R. & Jackson, 2004).
Adapun aturan dasar sebagai pengarah konselor dalam melaksanakan konseling, yaitu konselor
hendaknya (a) menghindari penjelajahan/ekplorasi masalah, (b) efisien dalam pelayanan konseling, yaitu
konselor hendaknya mencapai tujuan secara optimal dengan jumlah pertemuan intervensi yang paling
sedikit, (c) menyadari bahwa tilikan/pemahaman masalah dan penyebabnya tidak memberikan solusi
karena itu konselor hendaknya memusatkan pada tindakan daripada pembahasan masalah yang dialami
konseli, dan (d) memusatkan pada saat sekarang dan mendatang. Jika konseli menyadari bahwa saat ini
solusi itu sudah ada pada dirinya maka dapat meningkatkan rasa percaya dirinya. Jika konseli berpikir
tentang apa yang akan terjadi di masa depan dan sadar bahwa solusi tersedia maka dapat membangun
keyakinan bahwa segala sesuatu akan lebih baik (Charlesworth & Jackson, 2004).
Dalam prosesnya, konseling berfokus pada solution talk daripada problem talk. Proses konseling
diorientasikan bagi peningkatan kesadaran eksepsi terhadap pola masalah yang dialami dan pemilihan
proses perubahan secara sadar terhadap peningkatan kecerdasan emosional. Peningkatan kesadaran
eksepsi terhadap pola masalahnya dapat menciptakan solusi terhadap peningkatan kecerdasan emosional.
Pemilihan proses perubahan dapat menentukan masa depan kehidupan konseli. Beberapa petunjuk pilihan
yang memandirikan: ―(1) if it works, don‟t fix it. Choose to do more of it, (2) if it works as a little, choose
to build on it, (3) if nothing seems to be working, choose to experiment, including imagining miracles,
dan (4) choose to approach each session as if it were the last. Change starts now, not next week ―(de
Shazer & Dolan, 2007; Prochaska & Norcross, 2007).
Hubungan Konseling memiliki peran penting dalam konseling berfokus solusi. Hubungan
konseling merupakan kemitraan antara konselor dan konseli dalam membangun solusi bersama.
Kemitraan menekankan solusi masalah konseli dan teknik konseling yang digunakan konselor. Konselor
sebagai ahli tentang proses dan struktur konseling yang membantu konseli membangun tujuannya menuju
solusi yang berhasil dalam peningkatan setiap aspek kedercadasan emosional. Konseli sebagai ahli
mengenai diri dan tujuan yang ingin dibangun. Konselor aktif dalam memindahkan fokus secepat
mungkin dari masalah pada solusi peningkatan kecerdasan emosional. Konselor mengarahkan konseli
mengeksplorasi kelebihan dan membangun solusi. Konselor mendorong inisiatif konseli dan membantu
melihat dan menggunakan tanggung jawabnya dengan lebih baik (Prochaska & Norcross, 2007).
Proses Konseling Berfokus Solusi
Secara umum, konseling berfokus solusi berlangsung berdasarkan tahapan sebagai berikut
(Charlesworth, J.R. & Jackson, 2004; Seligman, 2006; Corey, 2009).
1. Pembinaan Hubungan (Establishing relationship)
Pembinaan hubungan diperlukan untuk menjalin hubungan baik dan kemitraan antara konselor
dan konseli bagi pencapaian perubahan yang diharapkan. Dalam pembinaan hubungan baik tersebut,
konselor menunjukkan perhatian, penerimaan, penghargaan, dan pemahaman terhadap konseli sebagai
individu yang khas. Salah satu cara untuk segera berinteraksi pada awal pertemuan konseling ialah
melakukan percakapan topik netral yang dapat membangun kesadaran konseli atas kelebihan dan sumbersumber kekuatan dirinya bagi pengembangan solusi masalah yang dihadapinya. Perubahan merupakan
proses interaksi karena itu hubungan kemitraan konselor dan konseli sangat penting. Melalui kemitraan
tersebut konselor dapat memahami dunia konseli sehingga dapat bersama-sama mengonstruksi keluhan
berkaitan dengan kecerdasan emosional yang dapat diselesaikan sedari awal hubungan konseling.
2. Identifikasi Keluhan Yang Dapat Dipecahkan (Identifying a solvable complaint)
Identifikasi masalah merupakan salah satu langkah yang sangat esesnsial dalam konseling karena
dapat memfasilitasi pengembangan tujuan dan intervensi serta meningkatkan kecerdasan emosional.
Konselor dan konseli mengonstruksi citra masalah yang menempatkan solusinya dalam kendali konseli.
Misalnya, konstruksi masalah klien berkaitan dengan ―Menjadikan tetangga sebelah rumah menghentikan
penghinaan kepada dirinya.‖ Konstruksi ini berada di luar kendali konseli dan sulit diubah dengan
segara. Namun konstruksi masalah ―Saya akan tenang dan membela diri saat tetangga sebelah rumah
menghina saya.‖ berada dalam kendali konseli.
Konselor menggunakan pertanyaan sedemikan rupa sehingga mengomunikasikan optimisme dan
harapan untuk berubah dan memberdayakan konseli dalam meingkatkan kecerdasan emosional. Masalah
yang dialami konseli sebagai sesuatu yang normal dan dapat diubah. Misalnya, konselor bertanya kepada
konseli ‖Setelah kita berbincang tentang hobimu, ―Apa yang membuatmu menjumpai Bapak/Ibu di ruang
konseling ini?‖ daripada ‖Masalah apa yang mengganggumu?‖ atau konselor bertanya ‖Apa yang akan

149

kamu selesaikan/ubah?‖ daripada pertanyaan ‖Apa yang dapat saya bantu bagimu sehingga kamu dapat
bergaul dengan tenang di perumahan ini?‖
Konselor menggunakan teknik accepatance, summarization, klarifikasi, pertanyaan terbuka, dan
teknik-teknik dasar komunikasi konseling yang lain untuk memahami kondisi konseli secara jelas dan
spesifik. Misalnya, konselor bertanya, ‖Bagaimana kamu dapat membuat dirimu sedih seperti sekarang
ini?‖ dan ‖Bagaimana cara bergaulmu sehingga kamu mendapatkan teman yang kurang memuaskanmu?‖
Konselor SFBC acapkali menggunakan scaling questions untuk menetapkan data dasar kondisi konseli
dan memfasilitasi identifikasi kemungkinan-kemungkinan dan kemajuan konseli dalam pelayanan
konseling peningkatan kecerdasan emosional.

3. Penetepan Tujuan (Establishing goals)
Konselor dan konseli bermitra menentukan tujuan yang spesifik, dapat diamati, terukur, dan
konkret. Tujuan pada dasarnya dapat berbentuk salah satu dari bentuk tujuan berkut: (a) mengubah apa
yang dilakukan dalam situasi problematik, (b) mengubah pandangan atau kerangka pikir tentang situasi
masalah yang dihadapi, dan (c) mengases sumber-sumber, solusi, dan kelebihan-kelebihan yang dimiliki
konseli.
Pertanyaan yang menyiratkan kesuksesan sangat penting seperti dalam penetapan tujuan
konseling. Misalnya ―Apa yang akan menjadi penanda pertama bahwa Anda telah membuat rencana masa
depanmu?‖ ―Bagaimana cara Anda tahu bahwa konseling bermanfaat bagi rencana masa depan Anda?‖
―Bagaimana Anda dapat menceritakan bahwa Anda telah mempunyai teman akrab baru?‖
Pembahasan rinci tentang perubahan positif dapat mendorong untuk memperoleh pandangan
yang jelas tentang solusi yang tepat bagi konseli untuk peningkatan kecerdasan emosional. Konselor
SFBC sering menggunakan miracle questions untuk menetapkan tujuan konseling. Pertanyaan-pertanyaan
yang menyertai miracle questions memungkinkan konseli berimajinasi bahwa masalah hubungan
sosialnya terpecahkan, menimbulkan harapan, memfasilitasi pembahasan bagaimana cara agar keajaiban
tersebut terjadi dalam kenyataan. Respons individu terhadap miracle questions biasanya memberikan
masukan bagi konselor dengan berbagai solusi yang dapat digunakan untuk membantu konseli
meningkatkan kecerdasan emosional mereka.
4. Merancang dan Melaksanakan Intervensi (Designing and implementing
intervention)
Intervensi dirancang untuk menghambat pola-pola perilaku bermasalah dengan menunjukkan
alternatif cara mereaksi masalah tersebut. Konselor memadukan pemahaman dan kreativitasnya dalam
menggunakan strategi konseling untuk mendorong terjadinya peningkatan kecerdasan emosional
meskipun sedikit. Konselor berfokus solusi sering menggunakan exception questions untuk merancang
dan melaksanakan intervensi konseling. Pertanyaan yang sering digunakan selama tahap ini adalah
―Perubahan apa yang telah terjadi? ―Apa yang telah berhasil di masa lalu ketika Anda menyelesaikan
masalah yang mirip dengan masalah ini? ―Bagaimana Anda membuat hal tersebut menjadi kenyataan?‖
―Apa yang ingin Anda lakukan agar solusi tersebut terjadi lagi?‖
Alternatif intervensi yang telah dirancang melalui pertanyaan-pertanyataan tersebut kemudian
dilaksanakan dalam kehidupan keseharian konseli sebagai bagian hidup mereka. Konseli diberi
kesempatan mengaplikasikan alternatif intervensi dalam mencapai tujuan yang ingin dicapai antarsesi
pertemuan konseling. Penyesuaian dilakukan jika diperlukan pada setiap awal permulaan sesi konseling
untuk memastikan bahwa konseli dapat secara efektif membuat kemajuan terhadap peningkatan
kecerdasan emsosional yang diharapkan.
5. Terminasi, Evaluasi, dan Tindak Lanjut
Konselor menggunakan teknik scaling questions untuk mengetahui perkembangan dan kemajuan
konseli dalam proses konseling. Setelah tujuan konseli tercapai dengan memuaskan maka mereka dapat
mengakhiri konseling. Sebelum mengakhiri pertemuan, konselor menggunakan teknik compliments untuk
memberikan balikan terhadap kemajuan konseli dan pemberian tugas untuk meningkatkan ketercapaian
tujuan konseling. Konselor mendorong konseli untuk menjadi konselor bagi dirinya sendiri dan
mengaplikasikan keterampilan mengonstruksi solusi masalahnya terhadap masalah-masalah baru yang
dihadapinya. Konselor melakukan tindak lanjut pelayanan konseling dengan mengikuti perkembangan
konseli.

150

Teknik-Teknik Konseling Berfokus Solusi
Terdapat berbagai teknik yang digunakan konselor berfokus solusi. Beberapa teknik yang pada
umumnya digunakan adalah sebagai berikut (Prochaska & Norcross, 2007; Gladding, 2009; Corey, 2009;
Corey, 2012).
1. Exception-finding questions (Pertanyaan penemuan pengecualian): pertanyaan tentang saat-saat dimana
konseli bebas dari masalah. Penemuan eksepsi membantu konseli memperjelas kondisi perubahan,
memiliki kekuatan dan kemampuan menyelesiakan masalah, memberikan bukti nyata peneyelesaian
dan membantu konseli menemukan kekuatan dirinya yang terlupakan yang dapat digunakan untuk
mencapai tujuan yang diharapkan. Misalnya, ‖Kapan Anda dapat mengelola masalah ini dengan
tenang?‘ ‖Kapan Anda berbuat yang berbeda dari yang sekarang?‖ ‖Coba kemukakan kepada saya
saat-saat Anda bebas dari masalah yang Anda alami ini!‖
2. Miracle questions (Pertanyaan keajaiban): pertanyaan yang mengarahkan konseli
berimajinasi apa yang akan terjadi jika suatu masalah yang dialami secara ajaib terselesaikan. Teknik
ini membantu memperjelas tujuan dan menyoroti eksespsi masalah peningkatan kecerdasan emosional
dengan merangsang konseli untuk mengimajinasikan suatu solusi dan memberantas hambatan dalam
penyelesaian masalah serta membangun harapan terhadap terjadinya perubahan yang diharapkan.
Misalnya, konseli ditanya,‖Bayangkan pada suatu malam, ketika Anda sedang tidur, terjadi suatu
keajaiban dan semua masalah yang Anda kemukakan saat ini terselesaikan. Kemudian bagaimana
Anda tahu bahwa masalah Anda terpecahkan? Apa yang Anda lakukan saat itu yang menujukkan
bahwa masalah Anda terselesaikan dengan tuntas?‖
3. Scaling questions (Pertanyaan berskala): pertanyaan yang meminta konseli membuat yang abstrak
menjadi konkret, yang samar menjadi jelas dengan menguantifikasi kekuatan, masalah, keadaan, atau
perubahan konseli. Pertanyaan ini sering digunakan untuk mengukur ketercapaian tujuan atau beratringannya beban masalah yang dihadapi konseling. Misalnya pernyataan konselor, ‖Pada suatu skala
dengan rentang 1 sampai 10, dimana 1 berarti Anda tidak memiliki kendali sama sekali terhadap
masalahn Anda dan 10 berarti Anda memiliki kendali penuh terhadap masalah Anda, lalu pada rentang
angka yang mana Anda menempatkan diri Anda dalam skala tersebut? dan ‖Apa yang Anda perlukan
agar Anda dapat naik satu angka dalam skala tersebut?‖
4. Compliments (Penghargaan/Pujian): pesan tertulis atau lisan yang dirancang untuk memberikan
penghargaan dan pujian atas kelebihan, kemajuan, dan karakteristik positif bagi pencapaian tujuan
konseli. Teknik ini biasanya digunakan bersamaan dengan pemberian tugas antarsesi menjelang akhir
suatu pertemuan konseling.
5.
Presession change question (Pertanyaan perubahan prapertemuan) ialah pertanyaan yang
dimaksudkan untuk menemukan eksepsi atau mengeksplorasi solusi yang diupayakan konseli.
Tujuannya ialah menciptakan harapan terhadap perubahan, menekankan peran aktif dan tanggung
jawab konseli dan menunjukkan bahwa perubahan bisa terjadi di luar ruang konseling. Misalnya,
konselor bertanya, ‖Sejak pertemuan yang lalu, apakah Anda melihat adanya perubahan pada diri
Anda?‖ atau ‖ Sejak pertemuan yang lalu apakah Anda menemukan cara baru dalam melihat masalah
yang Anda alami?‖ atau ‖Sejak percakapan kita yang lalu di telepon, apa perubahan yang Anda alami
sejauh ini?‖
6. Formula first session task (Formula tugas pertemuan pertama): Format tugas rumah yang diberikan
konselor kepada konseli untuk dikerjakan antara pertemuan pertama dan pertemuan kedua. Misalnya,
Konselor mengatakan,‖Antara sekarang dan pertemuan yang akan datang, saya harap Anda dapat
mengamati apa yang terjadi pada hubungan Anda dengan teman-teman Anda yang ingin Anda terus
pelihara sehingga Anda dapat menjelaskannya kepada saya pada pertemuan yang akan datang.‖ Pada
awal pertemuan konseling kedua, konselor menanyakan apa yang telah diamati konseli berkaitan
dengan hubungan antara dirinya dan teman-temannya sekaligus menanyakan apa yang ingin terus
dipelihara dalam hubungan dengan teman-temannya.
Kesimpulan
MEA adalah bentuk globalisasi ekonomi pada kawasan ASEAN, yaitu pasar bebas ASEAN.
Keadaan tersebut menyebabkan arus barang, jasa, uang, tenaga kerja, nilai-nilai, dan budaya begitu
mudah masuk dan keluar dari suatu negara ASEAN ke negara ASEAN lainnya. Keadaan ini menjadikan
globalisasi dalam segala bidang kehidupan di kawasan ASEAN. Hal tersebut terjadi karena kemajuan
teknologi informatika, komputasi, dan telekomunikasi. Dengan keadaan ini seolah-olah kawasan ASEAN
menjadi semacam sebuah desa dunia—a global village. Apa saja yang terjadi di suatu belahan kawasan
ASEAN dapat segera diketahui oleh semua orang dari belahan ASEAN mana pun. Hal ini terjadi karena
kawasan ASEAN ini tidak lagi dibatasi oleh batas-batas fisik Negara.

151

Dalam kondisi globalisasi tersebut, terjadi persaingan yang sangat ketat antarnegara ASEAN
untuk memperebutkan kesempatan pada berbagai bidang kehidupan. Pada saat itu, kualitas sumber daya
manusia sangat menentukan. Negara yang memiliki kualitas sumberdaya manusia unggul akan menang
dalam persaingan tersebut. Sumberdaya manusia unggul adalah sumberdaya yang salah satu karakteristik
pokoknya ialah unggul dari segi kecerdasan emosional. Oleh karena itu maka strategis sekali peningkatan
kecerdasan emosional konseli oleh konselor sebagai persemaian sumberdaya manusia unggul bagi
kejayaan dan masa depan bangsa untuk memenangkan kompetisi pada MEA.
Penyemaian manusia unggul yang dicirikan kecerdasan emosional yang unggul pada MEA
dipengaruhi perubahan cepat berbagai aspek kehidupan dewasa ini sehingga potensial menimbulkan
permasalahan yang kompleks dan cepat berubah bagi kehidupan unggul konseli. Disamping itu, jumlah
konselor terbatas, perubahan masalah begitu cepat, dan jumlah konseli yang dibantu begitu banyak.
Untuk itu, konselor dituntut membantu konseli tersebut mengimbangi perubahan cepat kehidupan yang
mempengaruhi keunggulan hidup tersebut dengan meningkatkan kecerdasan emosional melalui
penggunaan model konseling yang efektif dan efisien.
Salah satu model konseling tersebut ialah konseling berfokus solusi. Model konseling tersebut
berdasarkan perspektif pascamodern yang menekankan kemitraan konselor dan konseli dalam proses
konstruksi solusi dalam peningkatan kecerdasan emsoional yang diharapkan konseli dengan waktu yang
relatif singkat. Model konseling tersebut memberdayakan konseli sebagai individu yang ahli tentang diri
mereka sendiri dan tujuan yang ingin dicapainya, sedangkan konselor sebagai ahli tentang prosedur
konseling tetapi tidak mengetahui banyak tentang karakteristik dan tujuan konseli.
Proses konseling berfokus solusi, secara umum, melalui tahapan pembinaan hubungan baik,
identifikasi keluhan yang dapat dipecahkan, penetapan tujuan, perancangan dan pelaksanaan intervensi,
dan terminasi, evaluasi, dan tindak-lanjut. Dalam pelaksanaannya, model konseling tersebut
menggunakan bebagai teknik antara lain yang umum adalah exception-finding questions, miracle
questions, scaling questions, compliments, presession change question, formula first session task.
Melalui tahapan dan teknik konseling di atas, konselor berfokus solusi memfasilitasi konseli
untuk menemukan sumber-sumber kekuatan dan kelebihan dalam menemukan eksepsi terhadap masalahmasalah yang dialaminya sehingga mereka mampu mengonstruksi solusi untuk meningkatkan kecerdasan
emosional yang unggul dalam menghadapi persaingan ketat pada MEA.
Daftar Pustaka
Capuzzi, D. & Gross, D.R. (2009). Introduction to the Counseling Profession. Columbus,
Ohio: Pearson.
Charlesworth, J.R. & Jackson, C.M. (2004). Solution-Focused Brief Counseling: An
Approach for Professional School Counselors. Dalam Erford, B.T. (ed.).
Professional School Counseling: A Handbook of Theories, Programs and
Practices. Austin, TX: Caps Press.
Corey, G. (2009). Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy. Belmont,
California: Brooks/Cole.
Corey, G.( 2012). Theory and Practice of Group Counseling. Belmont, CA:
Brooks/Cole.
de Shazer, S. & Dolan, Y. (2007). More Than Miracles: The State ofthe Art of Solution Focused Brief Therapy.
London: Routledge.
Gladding, S.L. (2009). Counseling: A Comprehensive Profession. New Jersey: Pearson
Education, Inc.
Gingerich, W.J. & Eisengart, S. 2000. Solution-Focused Brief Therapy: A Review of
Outcome Research. Family Process, 34 (4), 447 – 498.
Kelly, M.S., Kim, J.S., & Franklin, C. (2008). Solution-Focused Brief Therapy in Schools.
New York: Oxford University Press.
Sperry, L. (2010). Highly Effective Therapy. New York: Roudledge.
Mulawarman. (2010). Penerapan Solution-Focused Brief Therapy untuk Meningkatkan Harga Diri (Self-Esteem)
Siswa SMA: Suatu Embedded Experimental Design. Tesis Magister pada PPs Universitas Negri Malang:
tidak diterbitkan.
Nystul, M.S. (2006). Introduction to Counseling: An Art and Science Perspective. Boston: Pearson.
Prochaska, J.O. & Norcross, J.C. (2007). Systems of Psychotherapy. Belmont, California: Brooks/Cole.
Sciarre, D. (2004). School Counseling. Belmont, CA: Brooks/Cole-Thomson Learning.
Seligman, L. (2006). Theories of Counseling and Psychotherapy. Columbus, Ohio: Pearson Merril Prentice Hall.
Sharf, R.S. (2012). Theories of Psychotherapies and Counseling: Concepts and Cases. Belmont, CA: Brooks/Cole.

152

MEASURING THE EFFECTIVENESS OF BRIEF COUNSELING
TO MODIFY A BEHAVIOR OF GROUP STUDENT
Abstrak
R. Budi Sarwono
Sanata Dharma University
Yogyakarta

The aims of the study is to determine the effectiveness of Brief Counseling approach (brief counseling
focus on solutions) to change the behavior of students in the three setting groups. The first setting is a
group of high school students who have a bad habit of being late to school. The second group is student of
junior high school who experience demotivation on learning. The third group is a view blind students who
are experiencing demotivation in various aspects of life.
This research used a qualitative approach with action research methods. Each group received twice
treatments of Brief Counseling . The datas collected from this research are data of pre-test, post-test,
observations data, note of the researchers , which analized by the mix method to reach a conclusion.
The results showed that brief counseling approach is effective used to change the behavior of a group of
students who have a habit of late to school. Thus even brief counseling is also effective to increase the
motivation of a group of students were normal or a group of blind person
Key words : Brief counseling, Group counseling, increase motivation

153

MODEL KONSELING BERFOKUS SOLUSI UNTUK MENINGKATKAN EFIKASI DIRI
MAHASISWA YANG MENGALAMI KETERLAMBATAN STUDI
Anne Hafina
annehafina@upi.edu
Universitas Pendidikan Indonesia
Yusi Riksa Yustiana
yusiriksa@yahoo.com
Universitas Pendidikan Indonesia
Esya Anesty Mashudi
esya_anesty@yahoo.com
Universitas Pendidikan Indonesia

ABSTRACT
Human resource with high quality is the absolute requirement in facing globalization forces.
College students are the main resource who should be well prepared for the workforce in the global
world. Unfortunately, tardiness among the college student has became a quite disturbing problem
nowadays. Student tardiness in the college can be prevented if every college student have a quality that
called self-efficacy, which can affect the task performing skill, perseverance, and high achievement of
student. This study aimed to test the effectiveness of solutions focused counseling to improve self-efficacy
of students whose study was delayed. Single subject research with A-B-A design was used in this study.
Research population are students of Universitas Pendidikan Indonesia who are still active and whose
study was delayed. Samples are four students with low self-efficacy. Data were analyzed using visual
analysis, percentage, and statistical analysis. The results showed that there are significant differences in
scores between baseline and intervention phase, indicated by the increasing in student self-efficacy
scores. Recommendations was made to be considered by counselors in higher education, UPT LBK UPI, and further researcher.
Keyword : self efficacy, solution focused counseling, college student, tardiness.
© 2015 Published by Panitia Seminar dan Workshop Internasional MALINDO 4 BK

PENDAHULUAN
Perguruan tinggi merupakan lembaga penyelenggara pendidikan formal pada jenjang yang
paling tinggi. Jenis-jenis perguruan tinggi diantaranya adalah universitas, institut, sekolah tinggi,
akademi dan politeknik. Berdasarkan data Biro Pusat Statistik Pendidikan Badan Penelitian dan
Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia diketahui bahwa jumlah lembaga
penyelenggara perguruan tinggi mengalami peningkatan setiap tahunnya. Sampai dengan tahun
2010, tercatat sebanyak 3011 perguruan tinggi diselenggarakan di Indonesia (Hastuti, 2012). Salah
satu faktor yang menentukan kualitas perguruan tinggi adalah persentase kemampuan mahasiswa
untuk menyelesaikan studi tepat waktu.
Berdasarkan matriks penilaian instrumen akreditasi program studi Badan Akreditasi
Nasional Perguruan Tinggi , diketahui bahwa persentase mahasiswa yang lulus tepat waktu
merupakan salah satu elemen penilaian akreditasi universitas. Data dari Pusat Statistik Pendidikan
Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia pada
tahun akademik 2001/2002 sampai dengan 2009/2010 menunjukkan bahwa perguruan tinggi menerima
rata-rata sebanyak 868.050 mahasiswa baru dan meluluskan rata-rata 451.168 mahasiswa setiap tahunnya.
Jumlah lulusan perguruan tinggi ternyata hanya mencapai 51,97% dari jumlah mahasiswa baru
setiap tahun. Artinya, terdapat 48,03% mahasiswa yang tidak diketahui statusnya. Ketidakjelasan
status tersebut bisa jadi karena mahasiswa menempuh studi tidak tepat waktu, memiliki status nonaktif (mangkir) atau bahkan drop out (Hastuti, 2012).
Menurut perkiraan Biro Perencanaan Depdiknas, angka putus kuliah mencapai sekitar 9,1%
sementara angka kelulusan baru mencapai 11,1% per tahun. Dengan demikian, setiap tahun terjadi
pemborosan dalam pendidikan tinggi akibat keterlambatan penyelesaian studi. Dengan jumlah mahasiswa
sekarang yang mencapai 2,27 juta, maka berarti tiap tahun sebanyak 207 ribu mahasiswa mengalami
putus kuliah (Supriadi, 2003).

154

Universitas Negeri Makassar mencatat sampai dengan tahun 2007 tercatat ratusan mahasiswa
yang terancam drop out, dan sekitar 50% diantaranya terpaksa harus dikeluarkan (drop out) karena tidak
dapat menyelesaikan studinya sampai dengan batas waktu yang telah ditetapkan untuk setiap
jenjang/program (kompasiana.com, 2013).
Fakta-fakta tersebut mengimplikasikan perlunya upaya yang sifatnya segera untuk mengatasi
permasalahan keterlambatan studi, terutama yang mengarah pada drop out. Pihak perguruan tinggi
memiliki kebijakan yang berbeda-beda dalam mengatasi masalah keterlambatan studi mahasiswa, ada
yang menerapkan kebijakan sumbangan pembinaan pendidikan progresif (SPP progresif),
menyelenggarakan semester pendek, bahkan meniadakan jalur kelulusan melalui penyusunan skripsi
(kompasiana.com, 2013). Namun, kebijakan-kebijakan tersebut belum sepenuhnya efektif dalam menekan
angka keterlambatan studi dan angka drop out mahasiswa.
Keterlambatan studi membawa akibat negative tidak hanya bagi mahasiswa tetapi juga bagi
pihak perguruan tinggi dan orang tua mahasiswa. Keterlambatan studi mengakibatkan mahasiswa
kehilangan peluang untuk mendapatkan pekerjaan lebih cepat. Perguruan tinggi menjadi menurun
kredibilitasnya seiring dengan tingginya angka mahasiswa terlambat studi atau drop out. Begitu juga
orang tua mahasiswa akan rugi karena harus menanggung biaya tambahan untuk kuliah anaknya
sementara waktu untuk menuai hasilnya menjadi terlambat.
Beberapa hasil penelitian terbaru, baik di dalam dan di luar negeri, melaporkan bahwa penyebab
utama keterlambatan studi bukan semata-mata karena kelemahan mahasiswa dari segi kecakapan
intelektual, melainkan karena ada hambatan-hambatan yang bersumber dari factor-faktor non intelektual
seperti penyesuaian diri, gangguan emosional, dan lemahnya motivasi. Di samping itu, faktor-faktor
kelembagaan yang bersumber dari perguruan tinggi sendiri ikut menentukan keberhasilan atau kegagalan
studi mahasiswa, misalnya proses belajar mengajar, sarana, kesungguhan dosen, kurikulum, sistem ujian,
dan lain-lain (Ilfiandra, 2008).
Hastuti (2012) mengidentifikasi faktor-faktor dalam diri mahasiswa yang mempengaruhi
keterlambatan studi di perguruan tinggi di antaranya merasa beban tugas akhir terlalu berat (12%), belum
siap memasuki dunia kerja setelah lulus kuliah (20%), meragukan kemampuan diri dalam menyelesaikan
tugas akhir (29%), merasa diri tidak sebaik orang lain (5%), merasa berada dalam zona nyaman (8%), dan
tidak memiliki motivasi untuk menyelesaikan studi (18%). Faktor-faktor tersebut merupakan dampak dari
rendahnya efikasi diri mahasiswa terkait penyelesaian studi tepat waktu.
Rendahnya efikasi diri individu akan memicu kecenderungan untuk meragukan kemampuan diri,
menurunkan motivasi, merasa kurang percaya diri dan lebih siap menerima kegagalan dibanding
keberhasilan. Sebaliknya, efikasi diri yang tinggi dapat mempengaruhi individu dalam melakukan tugas,
memberikan usaha terbaik, menunjukkan ketekunan, dan pencapaian prestasi yang lebih gemilang.
Individu yang merasa mampu menguasai suatu keahlian atau melaksanakan suatu tugas akan lebih
siap untuk berpartisipasi, bekerja keras, lebih ulet dalam menghadapi kesulitan dan mampu
mencapai level keberhasilan yang lebih tinggi (Norman, 2000). Hal ini sejalan dengan hasil penelitian
Lestyanto (2011; dalam Masruroh, 2012) yang mengemukakan bahwa efikasi diri berkorelasi positif
dengan peningkatan motivasi, kepercayaan diri dan ketekunan.
Fakta empiris tentang fenomena keterlambatan studi dengan segenap implikasi psikologisnya
mengisyaratkan perlunya penanganan yang sifatnya segera dan responsive bagi mahasiwa. Salah satu
bentuk penanganan adalah melalui layanan bimbingan dan konseling. Salah satu alasan yang
mendasarinya dapat ditinjau dari paradigma baru bimbingan dan konseling bahwa target populasi
layanan konseling menjadi lebih terbuka dan berada dalam berbagai adegan dan tataran kehidupan
(Kartadinata, 2001).
Di perguruan tinggi sendiri, kecenderungan tersebut direspon dengan dibentuknya Unit
Pelaksana Teknis Layanan Bimbingan dan Konseling (UPT-LBK) sebagai salah satu unsur penunjang di
perguruan tinggi. Keberadaan UPT-LBK di UPI yang begitu strategis belum dimanfaatkan secara
maksimal oleh mahasiswa. Indikator nya adalah rendahnya jumlah dan frekuensi kunjungan mahasiswa
untuk berkonsultasi dengan staf UPI-LBK. Selain itu, pembimbing akademik sebagai ujung tombak
layanan bimbingan dan konseling baru terasa berfungsi ketika mahasiswa konsultasi untuk resigtrasi
kuliah. Sebenanrya keberadaan layanan konseling memberikan nilai tambah bagi produktivitas perguruan
tinggi. Penelitian di beberapa universitas di AS menunjukkan bahwa tingkat kelulusan mahasiswa yang
pernah mendapat layanan konseling 25% lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah
mendapat layanan konseling. Jadi layanan konseling terbukti efektif untuk meningkatkan produktivitas
perguruan tinggi dan menekan angka kongesti.
Konseling berfokus solusi merupakan salah satu pendekatan yang diturunkan dari psikologi
positif, yang menganut filosofi humanistic di era Postmodernisme. Konseling berfokus solusi berdasarkan
pada pandangan positif dan optimistic terhadap manusia (Corey, 2009; Gladding, 2008; dalam Ramli,

155

2013). Dengan demikian konseling berfokus solusi diharapkan dapat menjadi alternative yang efektif dan
efisien untuk membantu mahasiwa yang mengalami keterlambatan studi agar mampu mengkonstruksi
solusi atas penyelesaian masalah studinya, memotivasi untuk lebih tekun dalam mengerjakan tugas akhir
serta menggunakan segenap kemampuan untuk mengatasi tantangan terkait penyelesaian tugas akhir.
Oleh karena itu penelitian ini bermaksud mengkaji dan menemukan model konseling berfokus solusi yang
efektif untuk meningkatkan efikasi diri mahasiswa yang mengalami keterlambatan studi.
Permasalahan utama dalam penelitian ini yakni, ―bagaimana model konseling berfokus solusi
yang efektif untuk meningkatkan efikasi diri mahasiswa yang mengalami keterlambatan studi di
Universitas Pendidikan Indonesia?‖. Permasalahan utama tersebut kemudian dijabarkan dalam beberapa
rumusan masalah yang lebih khusus sebagai berikut.
a. Seperti apa profil efikasi diri mahasiswa yang mengalami keterlambatan studi di Universitas
Pendidikan Indonesia?
b. Bagaimana rumusan model konseling berfokus solusi untuk meningkatkan efikasi diri
mahasiswa yang mengalami keterlambatan studi di Universitas Pendidikan Indonesia?
c. Bagaimana efektivitas model konseling berfokus solusi untuk meningkatkan efikasi diri
mahasiswa yang mengalami keterlambatan studi di Universitas Pendidikan Indonesia?

METODOLOGI
A. Metode dan Pendekatan Penelitian
Dalam penelitian ini digunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Mixed methodology design
(penelitian campuran) dipilih sebagai metode penelitian karena di dalamnya pendekatan kuantitatif dan
pendekatan kualitatif dilakukan secara terpadu dan saling mendukung.
Teknik sampling yang digunakan adalah teknik non-probabilitas dimana setiap sampel tidak
memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih, yakni dengan menggunakan pengambilan sampel secara
purposif (purposive sampling).
Setelah diperoleh sampel yang memenuhi kriteria maka sampel tersebut kemudian dibagi
kedalam dua kelompok penelitian yakni kelompok kontrol dan eksperimen. Untuk mengurangi variabel
rambang, maka pembagian sampel ke dalam kelompok dilakukan secara acak atau dengan menggunakan
teknik random assignment.
Metode eksperimen kuasi dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai efektivitas model
konseling berfokus solusi untuk meningkatkan efikasi diri mahasiswa yang mengalami keterlambatan
studi. Penelitian eksperimen kuasi dapat diartikan sebagai penelitian yang mendekati eksperimen atau
eksperimen semu dan merupakan penelitian yang dilakukan melalui uji coba untuk mengontrol atau
memanipulasi variabel yang relevan. Bentuk penelitian ini banyak digunakan dibidang ilmu pendidikan
atau penelitian lain dengan subjek yang diteliti adalah manusia.
Desain penelitian eksperimen yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain single subject
research. Desain ini biasanya hanya melibatkan satu peserta saja, tetapi bisa juga melibatkan beberapa
peserta atau subjek penelitian yakni 3 sampai 8 subjek. Setiap subjek berfungsi sebagai kontrol bagi
dirinya sendiri. Hal ini dapat dilihat dari kinerja subjek sebelum, selama, dan setelah diberi perlakuan (
Horner, 2005). Desain single subject research digambarkan dalam skema sebagai berikut :
A–B–A

Keterangan :
A : Baseline 1 (Sebelum intervensi atau perlakuan )
B : Intervensi
A : Baseline 2 (Setelah intervensi atau perlakuan)
B. Instrumen Penelitian
Instrumen skala efikasi diri mahasiswa dikembangkan dari teori self efficacy yang dicetuskan
oleh Albert Bandura. Instrumen ini terdiri dari tiga aspek yaitu level, strength, dan generality. Aspekaspek tersebut kemudian diturunkan kedalam sembilan indikator.
Kisi-kisi instrumen dikembangkan dari definisi operasional variabel penelitian, kisi-kisi
selanjutnya dijadikan bahan penyusunan item instrumen berupa butir-butir pernyataan. Instrumen yang
digunakan dalam penelitian ini adalah skala efikasi diri mahasiswa. Instrumen ini berbentuk angket

156

berskala dengan kategori pilihan jawaban, Tidak Sesuai (TS), Agak Sesuai (AS), Sesuai (S), dan Sangat
Sesuai (SS), yang masing-masing diberi skor 0 (TS), 1 (AS), 2 (TS) dan 3 (SS).
C. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data penelitian menggunakan statistic deskriptif yakni ukuran gejala pusat
meliputi pengukuran terhadap rata-rata dan standar deviasi untuk memberikan makna diagnostic pada
skor. Selain itu untuk mengetahui efektivitas konseling berfokus solusi untuk meningkatkan efikasi diri
mahasiswa yang mengalami keterlambatan studi digunakan uji statistic the two standar deviation rule.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil pengadministrasian instrument penelitian terhadap 25 orang mahasiswa dari
berbagai jurusan dan program studi di Universitas Pendidikan Indonesia yang terdaftar sebagai konseli di
UPT LBK UPI, diperoleh profil efikasi diri sebagai berikut :
Tabel 1
Profil Efikasi Diri Mahasiswa yang Mengalami Keterlambatan Studi
No.
Kategori
Persentase
1
Tinggi
1%
2

Sedang

80%

3

Rendah

16%

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa sebanyak 16 % mahasiswa yang mengalami
keterlambatan studi memiliki efikasi diri pada kategori rendah, sebanyak 80 % menunjukkan efikasi diri
pada kategori sedang dan hanya 1 % yang menunjukkan efikasi diri pada kategori tinggi. Hasil tersebut
berarti sebagian besar mahasiswa yang mengalami keterlambatan studi menunjukkan efikasi diri pada
kategori sedang. Meskipun sebagian besar mahasiswa telah memiliki efikasi diri pada kategori sedang,
namun bukan berarti mahasiswa tidak memerlukan penanganan khusus yang lebih terkoordinasi, untuk
dapat menyelesaikan studi sesegera mungkin mahasiswa dituntut untuk memiliki efikasi diri pada
kategori tinggi. Dengan demikian, profil efikasi diri mahasiswa mengindikasikan perlunya upaya yang
sifatnya segera untuk meningkatkan efikasi diri pada mahasiswa UPI yang mengalami keterlambatan
studi.
Selain profil umum efikasi diri mahasiswa yang mengalami keterlambatan studi, dipaparkan pula
profil efikasi diri pada tiap aspek (level, strength, dan generality), pemaparannya yakni pada tabel 2
sebagai berikut :
Tabel 2
Profil Efikasi Diri Mahasiswa yang Mengalami Keterlambatan Studi
Pada Masing-Masing Aspek
Kategori
Persentase per Aspek
Aspek 1
Aspek 2
Aspek 3
Tinggi
Sedang
Rendah

36%
36%
28%

32%
36%
32%

28%
40%
32%

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa terkait aspek pertama yakni level, sebanyak 36%
mahasiswa menunjukkan kategori tinggi, 36% menunjukkan kategori sedang dan 28% menunjukkan
kategori rendah. Pada aspek kedua yakni strength, sebanyak 32% mahasiswa menunjukkan kategori
tinggi, 36% kategori sedang dan 32% kategori rendah. Akhirnya, pada aspek ketiga yakni generality,
sebanyak 28% mahasiswa menunjukkan kategori tinggi, 40% menunjukkan kategori sedang dan 32%
menunjukkan kategori rendah.
Sementara itu, dari hasil penentuan sampel secara purposive terdapat sebanyak 16 % atau 4
orang mahasiswa yang memiliki self efikasi pada kategori rendah. Kemudian keempat orang tersebut
ditentukan sebagai subjek intervensi untuk menerima perlakuan berupa konseling berfokus solusi.
Keempat orang mahasiswa yang menjadi subjek intervensi adalah BN, DA, FIK dan EK. Berikut ini
dipaparkan gambaran kategori efikasi diri mahasiswa subjek intervensi.

157

Tabel 3
Kategori Efikasi Diri Mahasiswa yang Menjadi Subjek Intervensi
Nama

Jenis Kelamin

Usia

Aspek Paling Rendah

BN
DA
FIK

Laki-laki
Perempuan
Laki-laki

23 Tahun
21 Tahun
23 Tahun

Aspek 2
Aspek 1
Aspek 2

EK

Perempuan

20 Tahun

Aspek 2

Berdasarkan hasil pengukuran pada kondisi baseline dan kondisi pasca intervensi (intervention),
konseling berfokus solusi teruji efektif untuk meningkatkan efikasi diri mahasiswa yang mengalami
keterlambatan studi. Terdapat perbedaan peningkatan skor efikasi diri pada empat orang konseli sebelum
dan setelah menerima intervensi. Konseli yang mengalami peningkatan skor efikasi diri paling besar
adalah DA, diikuti oleh BN, EK dan FIK. Pada konseli DA, aspek efikasi diri yang mengalami
peningkatan paling besar adalah aspek level, dan peningkatan paling kecil pada aspek strength. Konseli
yang mengalami peningkatan skor efikasi diri paling kecil adalah FIK. Pada konseli FIK, aspek level
sama sekali tidak mengalami peningkatan, sementara yang mengalami peningkatan paling besar adalah
aspek generality.

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. Kesimpulan
Merujuk pada tujuan, hasil dan pembahasan penelitian, dapat ditarik beberapa kesimpulan
sebagai berikut.
Sebagian besar mahasiswa yang menjadi sampel penelitian menunjukkan efikasi diri pada
kategori sedang, terdapat empat orang yang menunjukkan kategori efikasi diri rendah yang kemudian
ditetapkan sebagai subjek intervensi dan hanya satu orang yang menunjukkan efikasi diri pada kategori
tinggi.
Konseling berfokus solusi secara empiris teruji efektif untuk meningkatkan efikasi diri
mahasiswa yang mengalami keterlambatan studi. Terdapat perbedaan peningkatan skor efikasi diri pada
empat orang konseli sebelum dan setelah menerima intervensi. Konseli yang mengalami peningkatan skor
efikasi diri paling besar adalah DA, diikuti oleh BN, EK dan FIK. Pada konseli DA, aspek efikasi diri
yang mengalami peningkatan paling besar adalah aspek level, dan peningkatan paling kecil pada aspek
strength. Konseli yang mengalami peningkatan skor efikasi diri paling kecil adalah FIK. Pada konseli
FIK, aspek level sama sekali tidak mengalami peningkatan, sementara yang mengalami peningkatan
paling besar adalah aspek generality.
B. Rekomendasi
Berdasarkan kesimpulan penelitian, dikemukakan beberapa rekomendasi untuk berbagai pihak
terkait. Rekomendasi dikhususkan bagi konselor di perguruan tinggi, UPT LBK UPI serta peneliti di
selanjutnya.
1. Bagi konselor di perguruan tinggi
Konselor, khusunya di jenjang perguruan tinggi, dapat menggunakan model konseling berfokus
solusi untuk meningkatkan efikasi diri mahasiswa yang mengalami keterlambatan studi sebagai salah satu
upaya preventif maupun interventif terhadap fenomena keterlambatan studi. Upaya ini diharapkan akan
berimplikasi terhadap kebijakan yang dibuat oleh lembaga perguruan tinggi dalam rangka pencapaian
academic excellence dan peningkatan mutu manajemen perguruan tinggi (melalui akreditasi dan ISO),
karena tingginya persentase mahasiswa yang menyelesaikan studi tepat waktu akan sangat berpengaruh
terhadap akreditasi perguruan tinggi selaku lembaga penghasil lulusan yang siap memasuki dunia profesi.
2.

Bagi pengembangan ilmu bimbingan dan konseling
Para sivitas akademika yang mendalami bidang ilmu bimbingan dan konseling diharapkan dapat
membekali diri tidak hanya dengan pengetahuan secara teoretis tapi juga keterampilan praktis. Oleh
karena itu, topik mengenai efikai diri perlu dikaji kembali secara lebih mendalam, berbagai pendekatan
konseling dan bentuk rumusan intervensinya perlu ditelaah dan diaplikasikan dalam menangani
permasalahan seputar upaya peningkatan efikasi diri. Penelitian ini dapat dijadikan informasi awal
mengenai kecenderungan dan dinamika tingkat efikasi diri mahasiswa. Selanjutnya, peneliti
mengharapkan berbagai studi yang dilakukan di bawah payung kajian efikasi diri dan konseling berfokus

158

solusi dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan di bidang bimbingan dan konseling serta praksis
pendidikan di perguruan tinggi.

3.

Bagi Peneliti Selanjutnya
Peneliti selanjutnya diharapkan dapat menggunakan desain penelitian single subject A-B-A atau AB-A-B sehingga konsistensi perubahan setelah diberikan intervensi lebih kuat dibandingkan design A-B.
Peneliti selanjutnya tidak hanya menggunakan pengukuran melalui angket dan wawancara saja, tetapi
perlu dilengkapi dengan menggunakan lembar observasi sehingga data yang dikumpulkan lebih lengkap
dan detail dalam melakukan analisis data.

DAFTAR PUSTAKA
Ali,
Z.
(2008).
Berita
mahasiswa.
(Online).
Tersedia
:
http://news.detik.com/read/2008/12/16/153847/1054554/10/60-persen-mahasiswa-indonesia-dial-azhar-drop-out (Diakses : 23-02-2014).
Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta.
Bandura, A. (2008). Self Efficacy in Changing Societies. New York : WH.
Cade, B. (2007). Springs, streams, and tributaries: A history of the brief solution focused approach. In T.
Nelson & F. Thomas (Eds.), Handbook of solution focused brief therapy: Clinical applications.
Haworth : New York.
Charlesworth, J.R., dan Jackson, C.M. (2004). Solution-Focused Brief Counseling: An Approach for
Professional School Counselor. Dalam Erford, B.T. (ed.). Professional School Counseling: A
Handbook of Theories, Programs and Practices. Austin, TX: Caps Press.
Corcoran, J. (2006). ―A comparison group study of solution-focused therapy versus treatment-as-usual for
behavior problems in children.‖ Journal of Social Service Research, 33, 69−81.
Corey, G. (2009). Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy. Belmont, California:
Brooks/Cole.
Creswell, J.W. (2012). Educational Research: Planning, Conducting and Evaluating Quantitative and
Qualitative Research (fourth edition). New Jersey: Pearson Prentice Hall.
Dahlan, T. H. (2011). Model Konseling Singkat Berfokus Solusi (Solution Focused Brief Counseling)
dalam Setting Kelompok untuk Meningkatkan Daya Psikologis Mahasiswa (Penelitian dan
Pengembangan Model Konseling Singkat Berfokus Solusi pada Mahasiswa Universitas
Pendidikan Indonesia Angkatan 2009). Disertasi pada Program Studi Bimbingan dan Konseling
Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia: tidak diterbitkan.
De Shazer, S., & Dolan, Y. (2007). More than miracles: The state of the art of solution focused brief
therapy. Haworth : New York.
De Shazer, S., Berg, I. K., Lipchik, E., Nunnally, E., Molnar, A., Gingerich, W., & Weiner- Davis, M.
(1986). Brief therapy: Focused solution development. Family Process, 25(2), 207–221.
Fernando, D. (2007). ―Existential theory and solution-focused strategies: Integration and application.‖
Journal of Mental Health Counseling, 29, (3), 226-241.
Franklin, C. (2001). The effectiveness of Solution–Focused Therapy with children in a school setting.
Texas and Lake Universities.
Hoy, D. E. (2004). What Do Teacher Need To Know About Self-Efficacy. Journal of American
Educational Research Session 52.070. The Ohio State University.
Horner, R. H. et al. (2005). ―The Use of Single-Subject Research to Identify Evidence-Based Practice in
Special Education‖. Council for Exceptional Children, 71, (2), 165-179.
Hurlock, E. (1992). Psikologi Perkembangan : Edisi Kelima (alih bahasa oleh Istiwidayanti &
Soedjarwo). Jakarta: Erlangga.
Ilfiandra. (2008). Model Konseling Kelompok Berbasis Pendekatan Kognitif Perilaku untuk Mengurangi
Gejala Prokrastinasi Akademik. Disertasi. Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan
Indonesia – Bandung : Tidak diterbitkan.
Kelly, M.S., Kim, J.S., and Franklin, C. (2008). Solution-Focused Brief Therapy in Schools: A 360Degree View of Research and Practice. New York: Oxford University Press.

159

Latifatul, Masruroh. (2012). Efektivitas Bimbingan Kelompok Teknik Modeling Untuk Meningkatkan Self
Efficacy Akademik Siswa (Studi Eksperimen Kuasi di Kelas X Sekolah Menengah Atas
Laboratorium Universitas Pendidikan Indonesia Bandung). Tesis di Program Studi BK SPS
UPI. Bandung : tidak diterbitkan.
Miller, J. H. (2004). ―Extending The Use of Constructivist Approachhes in Career Guidance and
Counseling: Solution-Focused Strategies.‖ Australian Journal of Career Development.13, (1),
50-59.
Mulawarman. (2010). Penerapan Solution-Focused Brief Therapy (SFBT) untuk Meningkatkan Harga
Diri
(Self
Esteem).
(Online).
Tersedia:
http://karyailmiah.um.ac.id/index.php/disertasi/article/view/7852/0 [24 Agustus 2010]
Metcalf, Linda. (1998). Solution Focussed Group Therapy. Free Press : USA.
Newsome, W.S. (2005). ―The Impact of Solution-Focused Brief Therapy with At-Risk Junior High
School Students.‖ Journal of Children & Schools. 27, (2), 83.
Saadatzaade, R and Khalili, S. (2012). ―Effects of Solution-Focused Group Counseling on Student‘s SelfRegulation and academic achievement‖. International Journal for Cross-Disciplinary Subjects
in Education. 3, (3), 27-50.
Springer, D. W., Lynch, C., & Rubin, A. (2000). ―Effects of a solution-focused mutual aid group for
Hispanic children of incarcerated parents.‖ Child & Adolescent Social Work Journal, 17,
431−432.
Seligman, Martin. (1991). Learned Optimism. Random House : New York.
Seligman, Martin. (2003). Authentic Happiness. Nicholas Brealey Publishing : USA.
Norman, Elaine. (2000). Resiliency Enhancement : Putting Strengths Perspective into Social Work
Practice. USA : Columbia University Press.
Nurlina, Yuliana (2012). Profil Self Efficacy Karir Peserta Didik. Skripsi di Jurusan PPB FIP UPI : tidak
diterbitkan.
O‘Connell, B.I. (2004). Solution-Focused Stress Counseling. London: Sage Publications, Ltd.
Ramli, M. (2013). Penerapan konseling berfokus solusi dalam masyarakat modern dan multikultur.
Prosiding Seminar Internasional Bimbingan dan Konseling : Universitas Negeri Yogyakarta,
Jawa Tengah.
Tanpa nama. (2013). Semester pendek dan beberapa permasalahannya. (Online). Tersedia :
http://edukasi.kompasiana.com/2013/10/02/semester-pendek-dan-beberapa-permasalahannyastudi-terhadap-opini-dosen-dan-mahasiswa-jurusan-seni-rupa-fakultas-seni-dan-desainuniversitas-negeri-makassar-594705.html. Diakses : 23-02-2014.
Yosef. (2008). Model Konseling berfokus solusi Untuk Pemecahan Masalah Disiplin Diri Siswa di
Sekolah (Studi Kasus Pelayanan Konseling untuk Siswa dengan Melibatkan Orang Tua di SMP
Negeri 6 Palembang). Disertasi pada Program Studi Bimbingan dan Konseling Sekolah
Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia: tidak diterbitkan.
Yusuf, S dan Nurihsan, A.,J. (2008), Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT.
Rosdakarya.

160

KESAN INTERVENSI KAUNSELING KELOMPOK TINGKAH LAKU KOGNITIF
TERHADAP PENGETAHUAN TENTANG BULI, SEBAB DIBULI DAN EFIKASI KENDIRI KE
ATAS MANGSA BULI DI SEKOLAH
Amin Al Haadi Bin Shafie, Zuria Mahmud, Salleh Amat, Khairuneezam Nohd Noor, Isa Amat

Kesedaran mangsa buli memahami maksud buli, mengapa diri mereka dibuli, dan
kepentinganpeningkatan efikasi kendiri didapati membantu mangsa buli menghadapi fenomena buli.
Kajian eksperimen yang mengaplikasikan kaunseling kelompok terapi tingkah laku kognitif terhadap
pelajar mangsa buli yang telah dijalankan ini telah menunjukan kesan positif.Data kualitatif dari hasil
temu bual pra dan pasca, yang menggunakan soal selidik semi struktur, telah memperlihatkan
peningkatan tahap pengetahuan mengenai buli dan sebab dirimangsadibuli.Bagi mengukur efikasi kendiri,
skala The Peer Aggression Coping Self Efficacy Scale (PACSES) telah diterjemah dandigunakan pada
peringkat pra dan pasca. Kajian mendapati peningkatan efikasi kendiri dalam kalangan responden yang
telah mengikuti kaunseling kelompok tingkahlaku kognitif. Kajian ini telah menunjukan penggunaan
terapi tingkah laku kognitif yang memfokuskan kepada bidang pengetahuan tentang buli, memahami
sebab diri dibuli dan efikasi kendiri oleh kaunselor sekolah untuk membantu mangsa buli,dapat
memperkasakan diri mangsa buli dalam menghadapi situasi buli.
Kata Kunci:Mangsa Buli, Terapi Tingkah Laku Kognitif, Kaunseling Kelompok, Efikasi kendiri, Sekolah
Menengah, Buli

Pengantar
Gejala buli di sekolah merupakan masalah sejagat yang dihadapi oleh seluruh dunia dan membawa kesan
negatif kepada suasana pengajaran dan pembelajaran di sekolah. Buli menimbulkan rasa keresahan dan
ketakutan yang mengganggu dari wujudnya suasana sihat untuk membolehkan pertumbuhan diri serta
proses pengajaran dan pembelajaran yang berkesan. Buli juga memberikan pengalaman yang pahit dan
negatif pada keseluruhan kehidupan seseorang pelajar (Ron 2003).
Rigby (1996), mendefinisikan buli sebagai satu tingkah laku dominasi yang berulang secara
psikologi atau fizikal daripada seorang atau kumpulan yang lebih berkuasa kepada seseorang yang kurang
kuasa. Buli tidak boleh didefinisikan sebagai konflik di antara dua orang yang mempunyai kuasa yang
setanding dan seimbang. Keseimbangan yang dimaksudkan ini ialah dari segi kekuatan fizikal, kebolehan
mendominasi dari segi percakapan atau dari segi menyisihkan seseorang dari kumpulan.
Noran Fauziah, Rajendran dan Ahamad Jazimin (2005) dalam kajian mereka telah membuat
kesimpulan bahawa pelajar yang menjadi mangsa buli ialah pelajar yang tidak disukai dan mereka juga
agak berlainan daripada pelajar majoriti. Pelajar yang dibuli juga dikatakan selalunya pelajar baru di
sesebuah sekolah dan ada juga pelajar yang disayangi oleh guru.
Reber dan Christin (2012) menjelaskan bahawa kaunseling kelompok ialah kaedah paling
berkesan untuk mendekati dan membantu mangsa buli oleh kaunselor sekolah. Perkara ini mungkin
disebabkan remaja banyak menghabiskan masa di sekolah, berinteraksi dengan guru, kaunselor dan
pelajar sekolah yang lain.
Di sekolah, para kaunselor perlu memandang berat perkara ini dan cuba untuk mencari kaedah
yang perlu dan sesuai digunakan. Sebagai pegawai yang bertanggungjawab dalam memastikan
kesejahteraan pelajar di sekolah, kaunselor tidak boleh melihat perkara ini sebagai sesuatu yang di luar
kepakaran mereka. Kaunselor harus berusaha mencari kaedah yang terbaik dan berkesan dalam
menangani krisis ini.
Penyataan Masalah
Kementerian Pendidikan pada tahun 2012 telah mengeluarkan data jumlah murid sekolah yang terlibat
dengan tingkah laku buli. Seramai 4159 orang iaitu 3.88 % daripada seluruh pelajar-pelajar sekolah di
Malaysia terlibat dengan tingkah laku buli. Kes-kes buli yang terkini menggemparkan masyarakat negara
kita apabila antara pembuli-pembuli ini merakam dan memuat naikkan tingkah laku buli ini ke Facebook.
Perkara ini baru berlaku pada bulan Mac tahun ini (2015) dilaporkan oleh ibu pejabat polis kontijen
Johor. Kejadian berlaku di sebuah sekolah di Johor Baharu yang melibatkan 2 pelajar lelaki yang berumur
13 dan 14 tahun.
Surat perkeliling ikhtisas bilangan 8 tahun 2010 (KP(BPSH-SPDK) 201/005/01/Jid.2 (19)) dari
Pengarah Pelajaran Malaysia menjelaskan pendirian kerajaan terhadap perbuatan buli di sekolah. Surat ini

161

menjelaskan perbuatan buli di sekolah perlu ditangani secara serius. Pentadbir dan pendidik diingatkan
supaya mengambil tindakan yang tegas terhadap perbuatan buli danbertindak secara proaktif agar
kejadian buli tidak berlaku. Guru-guru disiplin bimbingan dan kaunseling, guru warden di asrama serta
guru-guru lain disarankan mencari kaedah yang berkesan bagi mengesan dan mencegah kewujudan gejala
buli dan salah laku.
Kajian Noran Fauziah & Goh Chee Leong ( 2007) telah dapat mengenalpasti dengan jelas
beberapa punca yang menyebabkan berlakunya tingkah laku buli dalam kalangan pembuli dan mangsa
buli. Namun begitu, masih kurang kajian yang menyentuh tentang kaedah pengurusan dan rawatan
kepada mereka yang dibuli dan yang membuli. Kajian Noran dan Goh juga turut mencadangkan :
‗‗Kaunselor sekolah juga bolehlah mengadakan sesi kaunseling yang menunjukkan tingkah laku
empati (gaya menyelami dan memahami perasaan serta emosi orang lain atau tidak agresif dengan
pembuli). Latihan pemulihan pula perlu diadakan pada mangsa buli‟‟.
( UNICEF, 2007 )
Ini bererti kedua-dua pengkaji melihat perlunya kaedah merawat dibina dan dilaksanakan kepada mangsa
buli.

Metodologi
Reka bentuk Dan Peserta Kajian
Kajian ini menggunakan rekabentuk eksperimen satu kumpulan. kumpulan eksperimen (8 orang pelajar)
dari tingkatan 1 dan 2 dari latar belakang sosioekonomi yang sama. Kumpulan eksperimen diberi
Intervensi Kaunseling Kelompok Tingkah Laku Kognitif. Kumpulan eksperimen diberikan ujian skala
‘The Peer Aggression Coping Self Efficacy Scale‟ pada peringkat pra dan pasca. Manakala soalan selidik
semi struktur digunakan bagi mendapatkan maklumat tentang pengetahuan mengenai buli dan sebab diri
responden dibuli untuk melihat kesan intervensi kepada pengetahuan buli, sebab diri dibuli dan
kemahiran menangani buli. Smith, Pepler dan Rigby (2004) menyatakan bahawa kajian mengenai
intervensi buli, selalunya dijalankan dalam bentuk eksperimen (ujian pra dan pasca) untuk melihat dan
menguji keberkesanan intervensi. Campbell dan Stanley (1963), juga menyatakan reka bentuk eksperimen
satu kumpulan ujian pra pasca ialah satu reka bentuk yang biasa dilakukan dalam bidang sains sosial
terutamanya dalam pendidikan.
Kutipan Data Dan Analisis
Kajian experimen ini menggunakan 2 kaedah untuk mengutip data, iaitu kaedah kuantitatif (efikasi
kendiri) dan kaulitatif (pengetahuan dan sebab diri dibuli). Menurut Creswell (2008), seorang pengkaji
yang menggunakan kaedah ‗mix method‟ akan mengutip data berbentuk kuantitatif dan kualitatif.
Connelly (2009) yang menyatakan bahawa kaedah ‗mix method‟ memperkasakan sesuatu kajian dan
mengurangkan kelemahan kaedah kajian kualitatif dan kuantitatif.
Kaedah Kualitatif :
Data telah dikumpul melalui (1) Temubual dari soal selidik semi struktur dari pra dan pasca kumpulan
eksperiman dan kawalan, temubual oleh pengkaji ini dirakam menggunakan perakam Mp3, ditaip balik ke
Microsoft Words dan disusun mengikut tema di perisian Nvivo8. (2) Pemerhatian semasa sesi kaunseling
kelompok dijalankan kepada kumpulan eksperimen dicatat dalam bentuk refleksi kaunselor.
Kaedah Kuantitatif :
Data kuantitatif efikasi kendiri telah dikumpul melalui ujian pra dan pasca menggunakan skala‘‘The Peer
Aggression Coping Self Efficacy Scale‟ yang telah diadaptasi kepada Bahasa Melayu dengan
menggunakan kaedah ‘Back Translation‘ (Brislin, 1970). The Peer Aggression Coping Self-Efficacy Scale
(PACSES) yang dibina oleh Singh dan Bussey (2009), telah diadaptasi untuk digunakan bagi tujuan
pengukuran tersebut.Penggunaan alat PACSES iniadalah sesuai memandangkan mangsa buli juga
menghadapi pelbagai kesan tekanan yang perluditangani dengan baik. Mangsa kepada keganasan rakan
sebaya kebanyakannya hilang minat belajar sama ada disekolah atau dirumah.

162

Aktiviti Kaunseling Kelompok Terapi Kognitif Tingkah Laku
Kumpulan eksperimen telah menjalani 7 sesi Intervensi Kaunseling Kelompok Terapi Tingkah Laku
Kognitif seperti Jadual 1 dibawah

Jadual 1:Aktiviti Intervensi Kaunseling Kelompok Terapi Tingkah Laku Kognitif
Bil
1
2

Sesi
1

Tempoh
2 jam
2 jam

3

2

2 jam

4

3

2 jam

5

4

2 jam

6

5

2 jam

7

6

2 jam

6
7

7

2 jam
2 jam

Aktiviti
Ujian Pra Kumpulan Eksperimen
Sesi Ice Breaking & Penerangan tentang Buli, kesan
buli, lokasi tempat kejadian buli, ciri-ciri mangsa buli
dan pembuli
Sesi membincangkan pengalaman dibuli dan
intervensi mengenali pemikiran herot berot dan
membentulkannya (Teori CBT)
Sambungan sesi Membincangkan Pengalaman Dibuli
dan intervensi membetulkan pemikiran herot berot
(Teori CBT)
Membincangkan tindakan dan alternatif dalam
menghadapi dan menangani buli
Membuat Role-Playdaripada perbincangan tindakan
dan alternatif pada sesi sebelum ini.
Membincang balik tindakan dan alternatif dalam
menghadapi dan menangani buli selepas Role -Play
Penutup – memantapkan pemikiran
Ujian pasca untuk kumpulan eksperimen

Keputusan dan Perbincangan
Dapatan kajian pengetahuan tentang buli dan sebab diri dibuli berdasarkan petikan-petikan daripada
interaksi antara pengkaji dengan mangsa buli dan juga semasa ahli kelompok. Responden bagi kumpulan
ekperimen diwakili oleh huruf ‘E‘ (cth: R1E). Dapatan kajian untuk efikasi kendiri pula, ujian Wilcoxon
T dijalankan membandingkan keputusan responden kajian yang mengikuti proses kaunseling kelompok
kognitif tingkah laku.

Keputusan Dapatan Data Kualitatif
Pengetahuan Tentang Buli
Hasil kajian mendapati bahawa kumpulan eksperiman tahu maksud buli. Ini dapat dilihat dari contohcontoh maklumbalas kumpulan ekperimen dan kawalan yang menyatakan bahawa buli pada peringkat
temubual pra ialah seperti “Buli itu ejek, kacau orang”(R2E). Hasil temubual ini menunjukkan
responden-responden tahu maksud buli, mengikut pengalaman cara mereka dibuli .
Namun bagi kumpulan eksperimen yang diberikan peluang untuk berbincang lebih lanjut
mengenai buli, kelihatan mereka lebih memahami maksud buli hasil dari interaksi kelompok tersebut,
sebagai contoh . Sebagai contoh responden R4E menyatakan bahawa, “Buli macam buat benda jahat kat
orang macam pukul ejek dibuat banyak kali, kepada yang lemah sahaja, saya tak kena pukul, tapi kena
ejek dan kacau selalulah, saya ada jugak gurau-gurau dalam kelas ejek-ejek orang lain, lepas tu diorang
ejek saya balik tapi tak henti-henti”.
Kajian ini menunjukkan ejekan adalah merupakanjenis buli yang paling kerap berlaku di
sekolah. Penemuan ini adalah sama dengan kajian yang dilaksanakan oleh Sharp, Thompson & Arora
(2000), yang mendapati bahawa ejekan merupakan jenis buli yang paling sering digunakan. Jenis buli
lisan ini telah mendatangkan kesan psikologi sebagaimana yang dinyatakan oleh Kshirsagar, Agrawai &
Bavdekar (2007). Kajian ini menunjukkan buli berbentuk lisan ini juga adalah sukar bagi pihak sekolah
sama ada kaunselor atau guru disiplin untuk mengenal pasti dan mengambil tindakan. Oleh itu perbuatan

163

ini berleluasa dan terus menganggu pelajar yang dibuli. Gangguan ini memberi kesan kepada suasana
pelajaran dan pembelajaran mangsa buli.
Sebab Diri Dibuli
Kajian ini mendapati juga, kumpulan ekperiman tahu mengapa diri mereka dibuli, mengikut apa
yang dikatakan atau diejek oleh pembuli kepada mereka, sebagai contoh responden kumpulan ekperimen
R6E menyatakan dirinya dibuli disebabkan olehwajahnya, ‘Ya, dia ejek saya muka macam betik”.
Responden percaya wajah tidak menarik dan ini menyakitkan. Hasil maklumbalas pengetahuan mengapa
diri dibuli kumpulan ekperimen menunjukkan bahawa responden tahu sebab diri mereka dibuli mengikut
apa yang dikatakan atau dilabel oleh pembuli mereka. Mereka mempercayainya dan terganggu dengan
apa yang dilemparkan kepada mereka.
Terdapat beberapa sebab yang dinyatakan mengapa berlakunya buli, sebab penampilan,
perhubungan dengan pelajar lain, dan tak pasti mengapa dibuli. Semasa mengikuti sesi kaunseling
kelompok tingkah laku kognitif, pemikiran mereka telah dicabar atau diperbetulkan, kumpulan
eksperimen memperlihatkan perubahan dalam gaya berfikir sebab mengapa diri mereka dibuli. Kalau
pada peringkat pra kumpulan eksperimen melihat mereka dibuli kerana faktor yang tidak dapat mereka
kawal seperti wajah yang tidak menarik, gagap, datang dari keluarga miskin, suka menangis, tidak pandai
berhubung dengan pelajar lain. Setelah mengikuti proses kaunseling kelompok, terdapat perubahan dari
segi fokus sebab buli ini. Kumpulan eksperimen kini memahami bahawa faktor yang difikirkan oleh
mereka yang menyebabakan mereka dibuli, sebenarnya boleh di ubah dan di kawal oleh mereka sendiri.
Hasil maklum balas kelompok contohnya responden R4E menyatakan ‖sebab ejek orang, lepas tu
diorang balas, (tingkah laku menyakitkan hati)kira awal-awal tu saya nak gurau-gurau tapi lama-lama
hampir semua orang mula ejek saya pada masa itu. Diorang ejek sebab saya ejek seorang itu, lepas tu
yang lain pun seronok-seronok ejek saya”. atau responden R2E ”saya tahu saya kuat menangis jadi
kalau saya tak kuat menagis mesti saya tidak akan dibuli lagi”. Intervensi kaunseling kelompok tingkah
laku kognitif ini telah menunjukkan kesan yang baik kepada kumpulan eksperimen. Kumpulan
eksperiman telah dilihat lebih perkasa dan yakin dengan kebolehan mereka untuk menangani masalah buli
hasil dari pertambahan pengetahuan dan pemahaman sebab dibuli. Hasil penemuan ini sama seperti yang
dikatakan oleh Corey (2009) dimana kaunseling kelompok akan memberi peluang ahlinya
membincangkan, menganalisa dan mendapat maklum balas dari ahli yang lain. Keadaan ini akan
mendatangkan kesan positif kepada ahli. Kumpulan ekperimen merasa diri lebih positif, yakin dan
mempunyai rakan yang boleh memberikan sokongan dalam usaha mereka membuat perubahan tingkah
laku agar lebih berkesan.
Keputusan Dapatan Ujian Kuantitatif
Ujian Wilcoxon T dijalankan untuk melihat perkembangan efikasi kendiri responden kajian yang
mengikuti proses kaunseling kelompok kognitif tingkah laku. Keputusan menunjukkan perbezaan
signifikan, skor z = - 2.3, p ‹ 0.5. di mana nilai min pangkat ujian pasca (min pangkat = 4.93) yang lebih
tinggi berbanding dengan min pangkat ujian pra (min pangkat = 1.50). Ini menunjukkan terdapat
peningkatan tahap efikasi kendiri responden kajian setelah menjalani intervensi kaunseling kelompok
kognitif tingkah laku. Jadual 2 adalah dirujuk
Jadula 2: Skor Min Efikasi Kendiri Kumpulan Kajian (PACSES) N = 8

UJIAN PRA (PANGKAT)
UJIAN PASCA (PANGKAT)

SKOR MIN (PANGKAT)
4.93
1.50

Z
Asymp.Sig.(2-tailed)

UJIAN PRA – UJIAN PASCA
-2.313
.021

Jadual 3 pula menunjukkan skor min setiap satu domain yangjuga menunjukkan terdapat peningkatan skor min
kesemua domain iaitu (1) efikasi kendiri terhadap tingkah laku provokatif (2) efikasi kendiri untuk mengelakkan
tingkah laku agresif, (3) efikasi kendiri untuk mengelakkan rasa bersalah terhadap diri sendiri dan (4) efikasi kendiri
kepada mangsa buli yang menidakkan perasaan mereka. Domain yang paling tinggi meningkat skor min nya ialah
domain Efikasi kendiri terhadap tingkah laku provokatif iaitu dari skor min 43.0 (pra) kepada 48.3 (pasca).
Peningkatan nilai min domain yang paling rendah ialah domain Efikasi kendiri untuk mengelakkan rasa bersalah
terhadap diri sendiri iaitu dari nilai min 28.4 (pra) kepada 29.9 (pasca).

Jadual 3 : Skor Min Setiap Domain Efikasi Kendiri Kumpulan kajianukuran PACSES . N =8

164

1.
2.
3.
4.

Domain
Efikasi kendiri terhadap Tingkah laku Provokatif
Efikasi kendiri untuk mengelakkan tingkah laku
yang agresif
Efikasi kendiri untuk mengelakkan rasa bersalah
terhadap diri sendiri
Efikasi kendiri kepada mangsa yang menidakkan
perasaan mereka

Keputusan Pra
43.0
36.0

Keputusan Pasca
48.3
40.0

28.4

29.9

22.9

27.2

Dengan itu dapatlah dikatakan terdapat peningkatan dalam efikasi kendiri mangsa buli kumpulan
kajiansetelah menjalani Intervensi Kaunseling Kelompok Tingkah Laku Kognitif sebagaimana yang
dilihat dari skor min pra dan pasca melalui alat ukuran PACSES. Oleh itu kajian ini telah menunjukkan
bahawa, hasil daripada kutipan data kuantitatif alat ukur PACSES yang mengukurefikasikendiri
responden kajian telah menunjukkan peningkatan. Keputusan analisis wilcoxon T menunjukkan nilai min
pangkat ujian pasca (min pangkat = 4.93) yang lebih tinggi berbanding dengan min pangkat ujian pra
(min pangkat = 1.50). Ini jelas menunjukkan peningkatan tahap efikasi kendiri responden kajian setelah
menjalani intervensi kaunseling kelompok tingkah laku kognitif.
Kemahiran Menangani Buli
Dalam sesi kaunseling kumpulan eksperimen telah membincangkan sebab mereka dibuli.Pengkaji
menggunakan terapi tingkah laku kognitif membantu ahli kumpulan membetulkan tangapan ahli
menggunakan persoalan sokratissemasa membuat celahan (intervin) pada pemikiran ahli. Dryden &
Branch (2012), menyatakan persoalan sokratis membantu menstimulasi pemikiran dan meningkatkan
kepekaan klien. Ahli kumpulan yang lain juga membantu memberi pengukuh dan juga mencadangkan
alternatif dalam kelompok, Corey (2009), membincangkan bahawa ahli kumpulan yang lain boleh
memberi cadangan mereka dalam membantu ahli yang lain untuk mendapatkan alternatif dan idea yang
baru .Alternatif dan idea dalam menangai buli ini dibicangkan, diteliti dan kemahiran baru (teknik) untuk
dilatih dalam kelompok (seperti ”role play”) sebelum dilaksanakan apabila berada di luar sesi kaunseling
kelompok. Beck (2011) menjelaskan bahawa teknik ‟role-play‟ ialah teknik yang boleh digunakan untuk
pelbagai tujuan terutamanya dalam pembelajaran dan mempraktikan kemahiran sosial.
Hasil daripada intervensi terapi ini membantu menangani buli kepada responden eksperimen,
R1E memberi maklumbalas ‖Saya buat teknik yang cikgu ajar supaya diaorang kurang kacau. Sekarang
diorang dah tak kacau saya sangat dan takut nak buat masalah lagi”. Maklumbalas ahli kumpulan
eksperimen (R1E) menunjukkan peningkatan dalam kemahiran menangani buli.

Penutup
Kumpulan eksperimen menunjukkan perkembangan dalam pengetahuan buli, sebab diri dibuli dan efikasi
kendiri mengahadapi buli. Peningkatan ini membuktikan bahawa intervensi kaunseling kelompok tingkah
laku kognitif,berjaya memberi kesedaran kepada kumpulan eksperimen tentang buli, sebab diri mereka
dibuli dan kemahiran menangani buli. Peningkatan dalam makulmat dan kesedaran membolehkan
responden mengambil langkah sewajarnya.Intervensi ini juga telah memperkasakan kumpulan
eksperimen dengan menukar begaya fikiran bahawa mereka berupaya mengawal situasi buli. Dengan itu
mereka tidak lagi menjadi mangsa buli selamanya.
Walaupun kaedah intervensi ini tidak melibatkan seluruh warga sekolah, tetapi penumpuan
intervensi kepada individu mangsa dan usaha memperkasakannya adalah diharapkan akan menjadi satu
kaedah pemulihan dan juga pencegahan fenomina buli yang berkesan

Rujukan
Beck, J. S. (2011). Cognitive behavior therapy: Basics and beyond. 2nd ed. New York: Guilford.
Brislin, R. W. (1970). Back-translation for cross-culture research. Journal of Cross-Cultural Psychology,
1: 185–216.
Campbell, D. T., & Stanley, J.C.(1963)."Experimental and Quasi-Experimental Designs for Research on
Teaching." In N. L. Gage (ed.), Handbook of Research on Teaching. Chicago: Rand McNally.
Connelly, L.M. (2009). Mixed Methods Studies. MEDSURG Nursing.18 (1).

165

Corey, G. (2009). Theory and Practice of Group Counseling, International Student Edition, (7ed.).
Belmont CA: Thomas, Brooks/Cole.
Creswell, J.W. (2008). Education Research : Planning, Conducting and Evaluating Quantitative and
Qualitative Research, (3rd.). Upper Saddle River NJ: Pearson Education Inc.
Dryden, W. & Branch, R. (2012). The CBT Handbook. London: Sage Publication Limited
Ibu Pejabat Polis Kontijen Johor (2015, Mac 18) Kes buli: Polis Johor tahan dua pelajar bantu siasatan,
Retrieved from ::http://www.astroawani.com/berita-malaysia/kes-buli-polis-johor-tahan-duapelajar-bantu-siasatan-55911?cp
Kshirsagar, V.Y. Agarwal, R & Bavdekar, S.B.(2007). Bullying In School : Prevalence and Short Term
Impact. Indian Pediatric 2007;44: 25-28.
Noran
Fauziah
&
Goh.
(2007).
Keganasan
di
Sekolah:
Mara
Ke
Hadapan.
http://www.unicef.org/malaysia/msl/reallives_6948.html [15 July 2009]
Noran Fauziah; Rajendran Nagappan & Ahamad Jazimin. (2005). Bullying Among Malaysian Elementary
School Children. http://mahdzan.com/papers/bully/bully.asp [26 July, 2009]
Ron. B. (2003). ―Bullying in Schools.‖ ERIC Digest. Champaign, IL: ERIC Clearinghouse on
Elementary and Early Childhood Education,. Http://www.ericdigests.org/1997/bullying.htm> [19
September 2009]
Rigby, K. (1996). Bullying in schools and what to do about it. Melbourne: Australian Council for
Educational Research.
Reber, Christine D., (2012)."The Impact of Group Counseling on the Self-Esteem Levels of Students
Who Have Been Identified as the Targets of Bullying Aggressors". Counselor Education
Master's Theses. Paper 130.
Sharp, S. Thompson, D. & Arora. T. (2000). „How long before it hurts? An investigation into long-term
bullying‘. School Psychology International, 21(1), 37–46.
Sing, P. & K. Bussey. (2009). The Development of Peer Aggression Self Efficacy Scale for Adolescents.
British J. Development Psychology, 27(4): 971-992.
Smith, P.K., Pepler, D. & Rigby, K. (2004). Bullying in schools: How successful can interventions be
? Cambridge: Cambridge University Press.

MAKLUAMAT PENULIS
Nama

Dr Amin Al Haadi Bin Shafie

Jawatan

Pensyarah Kanan

Alamat

Fakulti Kepimpinan dan Pengurusan
Universiti Sains Islam Malaysia
Bandar Baru Nilai
71800, Nilai,
Negeri Sembilan,
Malaysia

Email

amin@usim.edu.my

No. Talifon

0133991788

166

EFFECT OF REALITY IN COUNSELING STUDENTS OUTSIDE JAVA SELF ADJUSTMENT
IN AKPER “TUJUHBELAS”
Tatik Sutarti Suryo, Dr. MM.
Dosen_STKIP-PGRI Pacitan
PB_ABKIN
YP-17 SKA_AKPER ―TUJUHBELAS‖
tatisuryo@gmail.com

Abstract: The aim of this study was to determine differences in adjustment outside Java way students
interact with classmates in the neighborhood AKPER ―TUJUHBELAS‖ before and after given the reality
of counseling services. This type of research is action research. The subjects were students outside Java
with the number of 30 people. Data collection techniques used are questionnaires and interviews. The
instrument was given to 30 students from outside Java and netted 25 research subjects. The questionnaire
was given at the pre-action and after being given the action in the second meeting to four. Data analysis
techniques in this study in the form of narrative text that describes developments in the person's based on
the person's statement. The results showed that there was effect of counseling services the student reality
in the Outer adjustment in AKPER ―Tujuhbelas‖. It is proven from the assessment results of counseling
services (laiseg, laijapen, laijapan) and a questionnaire completed counselee. From 15 counselee who
initially had low self adjustment (not show emotional strain, has a rational judgment and self-direction,
capable of learning, and be realistic and objective), after receiving counseling actions reality became high
category. Maka Then the hypothesis that reality affects adjustment counseling, especially students how to
interact outside Java in AKPER ―Tujuhbelas‖ is acceptable.
Keywords: Reality Counselling, Adjustment

Preliminary
Education is capital for the future in formal education ie college, students are expected to
actively interact with the environment such as college professors and other students. Adjustment is
important in terms of support the student's learning. Adjustment, according to Chouhan and Shalini
(2006), a very widely used and assumed to be the desired behavior, as well as a popular term used in a
variety of contexts means of behavior management in relation to the environment. Adjustment is a
process that includes mental and behavioral responses, where individuals seek to be able to successfully
address the needs within her, tensions, conflicts, and frustration they experienced, (Schneiders in
Desmita, 2009). This adjustment refers to the ability of individuals to socialize with the environment and
the extent to which the individual is able to function efficiently in society. In other words, the adjustment
refers to the extent to which people feel psychologically comfortable with some aspects of the new
environment.
Based on student data AKPER ―Tujuhbelas‖ teaching year 2014-2015 levels I through III level,
there were 30 students who come from outside Java (Jambi, Padang, Bengkulu, Lampung, Sumatra, NTT,
NTB, etc.) even from Timor Leste (Overseas) (Data Induk Siswa AKPER ―Tujuhbelas‖, 2015). This
diversity is not an obstacle to keep working and interdependent on each other in realizing the unity of
social life. Embedded in each tribe, race, and religion and at the same attitude that recognizes respect,
honor, maintain harmony when interacting.
Fact current students come from outside of Java a few obstacles in the adjustment, then he would
feel awkward in dealing with the area of origin is not one, not too familiar with the lecturer explanation
because there are some berbedaan use of language thus affecting the activities of students attend classes
on campus. This is because students will find it difficult to adjust awkward because he very rarely
communicates with friends before. And not infrequently encountered several students outside Java
personal conflicts with friends. So indirectly it will affect the study results. In connection with the change
of the conditions necessary adjustment to the individual concerned, because every human being
constantly make adjustments in their social environment, both internally and externally. Someone who is
able to adjust to not have to experience the cultural commotion or suffered psychological shock.
Individuals who have a low self-acceptance will be easily discouraged, always blaming himself, shame,
low self-esteem will be the situation, feeling worthless, feeling jealous of the circumstances of others, it
will be hard to build positive relationships with others, and unhappy.

167

Based on the above phenomenon, this study specifically done to help individuals in the
community and the adjustment to the new environment in the campus and community with counseling
realities. Glesser (in Corey, 2005) suggests that counseling is the reality of a system that is focused on the
behavior now, this therapy works to help clients face reality and meet the basic needs without harming
himself or others. The provision of counseling services is expected to help the student reality outside
Java, especially increasing the adjustment to changing environmental conditions in the campus and
community.
Method
This study uses research design Measures Guidance and Counseling (PTBK) or Gudidance and
Conceling Action Research (GCAR). Shaped the research process cycle refers to the model Kemmis and
Mc Taggart (Ismail, 2011: 141-142). This model consists of four steps:
1. Plan
Is the action to be taken to improve, improve, or change the behavior and attitudes as a solution?
2. Action
Researchers to make improvements to the process of counseling reality, the desired improvement or
change.
3. Observasi
Is observed on the results or the impact of actions taken or imposed against the counselee.
4. Refleksi
n this reflection researchers examined, to see and consider the results or the impact of actions and
plan further actions if needed.
In the design of this study design is useful to develop a treatment. The model of action research
design Guidance and Counseling (PTBK) or Gudidance and Conceling Action Research (GCAR) can be
seen in figure 1.

Gambar 1
Cyclical AR Model Based on Kemmis and McTaggart (1988)

168

The subjects were students outside Java with the number of 30 people. Data collection
techniques used is questionnaires and interviews. The instrument was given to 30 students from outside
Java and netted 25 research subjects. The questionnaire was given at the pre-action and after being given
the action in the second meeting to four.
Qualitative research should reveal the objective truth. Therefore the validity of the data in a
qualitative research is very important. Through the validity of data credibility (trust) qualitative research
can be achieved. In this study to obtain the validity of the data is done by triangulation. The triangulation
is a technique that utilizes data validity checking something else outside of the data, for the purpose of
checking or as a comparison to data (Moleong, 2007).
In fulfilling the validity of this research data with source triangulation. According to Patton,
triangulation with the means to compare and check the source behind the degree of confidence that the
information obtained through the time and different tools in qualitative research (Moleong, 2007).
Triangulation with sources conducted in this study is to compare the results of interviews with the
contents of documents related.
Results and Discussion
Self-acceptance has an important role in social interaction because of the self-acceptance can
help a person in socializing with others. Without self-acceptance, individuals tend to be difficult to accept
someone else that will affect the development of self-actualization. With good self-acceptance,
individuals become more aware of who he was, what he lacked, what is the advantage that it can be used
to deal with what is at hand, and the demands in carrying out its role in campus and community.
Counseling services are expected to help the individual to be able to determine the direction of
his own choosing life, able to solve his problems and the most important is being able to adapt positively.
Glasser (in Corey, 2007) mentions that teaches responsibility is central to reality counseling. This is so
that the person's can be an independent individual with understanding his situation and try to develop all
its potential in the face of all the problems of life.
Overview of self-acceptance to students AKPER ―Tujuhbelas‖ from outside Java before
counseling the reality shows that there are 15 students from 25 respondents who have low self-acceptance
(show emotional strain, has no rational considerations and self-direction, are not capable of learning, and
not be realistic and objective). Overview of self-acceptance is obtained from the results of the assessment
counseling services (laiseg, laijapen, laijapan) and a questionnaire completed counselee. Then, 15
students were given treatment through counseling reality. After getting counseling action reality becomes
high category. Then the hypothesis that reality affects adjustment counseling, especially students how to
interact outside Java in AKPER ―Tujuhbelas‖ acceptable.
The ability to build interpersonal relationships counselor in the counseling process
communication is a key element of success counseling process. Komalasari, et al. (2011) revealed the
counselor should be able to address attitudes in harmony and authenticity, unconditional acceptance,
empathy and understanding of the right. If the counseling process, conditions and the role of the
counselor could be raised, then the client will feel more secure and comfortable, and the client will be
more open during the counseling process.
Counselling carried out in accordance with the procedures that have been planned. Although the
implementation of the treatment, there are several obstacles, but the overall implementation of the
treatment can run well. Obstacles encountered during the implementation of the activity are to determine
the time of the meeting because the client has plenty to do with activities on campus. Results counseling
to students who have low self-acceptance does not have a considerable influence on the overall
settlement, but were able to increase the acceptance of students, especially the students AKPER
―Tujuhbelas‖ from outside Java, the sample in this study.
Conclusion
Differences in student self-acceptance AKPER ―Tujuhbelas‖ from outside Java before and after
being given the reality of counseling services. This is evidenced by an increase in the percentage before
and after treatment. Before treatment showed low criteria. After being given the treatment showed
criteria. The alterations shown with some aspects, namely the emotional tension, thinking rationally,
directing themselves, the attitude towards the experience and objective and realistic in looking at things.
As well as the adjustment in interacting with classmates can be resolved through counseling realities.

169

Bibliography
AKPER Tujuhbelas. 2015. Data Induk Siswa AKPER “Tujuhbelas”. Karanganyar-Surakarta.
Chouhan V. L. & Shalini, V. 2006. Coping strategies for stress and adjustment among diabetics. Journal
of the Indian Academy of Applied Psychology, 32(2), 106-111.
Corey, Gerald. 2007. Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi. Bandung: Rafika Aditama.
Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Ismail. 2011. Penelitian Pendidikan (Suatu Pengantar). Sukoharjo: Univet Bantara Press.
Kemmis, S. and R McTaggart, 1988. Action Research-some ideas from The Action Research Planner.
Third edition, ed. Deakin University.
Komalasari, G, dkk. 2011. Teori dan Teknik Konseling. Jakarta: Indeks.
Moleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Offset. PT Remaja Rosdakarya.

170

The Effectiveness Of Solution Focused Theory To Couple
In Conflict: A Case Study
Mohd Fahrizal Asmy, M. A.
Faculty of Islamic Studies, Kolej Universiti Islam Sultan Azlan Shah
Bukit Chandan, 33000 Kuala Kangsar, Perak, Malaysia
E-mail: fahrizalasmy@kuisas.edu.my
Nor Hamizah bt. Ab Razak
Faculty of Leadership & Management, Universiti Sains Islam Malaysia,
Bandar Baru Nilai, 71800 Nilai, Negeri Sembilan, Malaysia
E-mail: norhamizahabrazak@yahoo.com
Abstract
This study uses experimental and quasi experimental design and mix method to determine if a Solution
Focused Therapy (SFT) approach to couples counseling can be effective in improving an individual‘s
marital adjustment, and if a SFT approach to couples therapy can be reduced the level of anger among
couple. A couple participated in the research. For quantitative analysis, the pre- test was given few days
before the treatment. The treatment consists of five sessions in marital and treatment take place once a
week. For few days later, the subject was given post- test. While, for qualitative, the data analyzed from
couple progress report in marital therapy from session to session in term of emotion, thought and
behavior. Two questions were asked when analyzing data: 1. Is there any difference of couple marital
adjustment before and after counseling session? 2. What is the level of anger before and after the
counseling sessions? The result shows the difference in means of marital adjustment and anger between
pre- test and post test. The large difference in means can be attributed to the treatment. For qualitative
result, there is improvement in marital adjustment and reduce in anger through conversation and
affirmation in marital therapy.
Keywords: Solution Focused Theory, couple in conflict
Introduction
In 2007- 2009 the warning rates, issued from the Malaysia Department of Islamic Development (JAKIM),
showed there were 27,116 divorces in 2009, up from 17,749 in 2005. Though Muslim Malays
compromise only 60 per cent of the population, they made up about 82 per cent of total divorces in
Malaysia. According to a study by Malaysia Department of Islamic Development (JAKIM), in 2007, 32.2
percent of first five years of marriages end with divorce while another 27.7 percent goes to marriages of
first six to ten years. This means that the first ten years term of marriage is the most critical stage since
59.9 percent of couples end up with divorce. This very alarming rate may caused by conflict in life.
Conflict is a normal part in marriage life. When two people come together in marriage, conflict is bound
to happen. No matter how satisfied a marriage seems to be, conflict is inevitable in marriage and no
matter how sweet and loving the husbands and wives are, they do have disagreements in certain things.
Each person has had different life experience, and undoubtedly, has different expectations of marriage
from his/her spouse. Therefore, each one is going to react differently to life‗s challenges.
The sources of conflict may differ among couple. The most frequent topics of conflict in marital
relationships include communication, finances, children, sex, housework, jealousy, and in-laws (Gottman,
Coan, Carrère, & Swanson, 1998). However, the severity of the sources also may differ among couple.
Hence, there are many effect of couple conflict especially on psychological effect to the couple
itself. Mental health is the well-being of a person's mind. A marital conflict happens between married
couples who are disagreeing, fighting and exhibiting increasingly negative interactions towards each
other. When signs of hostilities appear, especially aggression, mental health can begin to plummet. This
typically frustrating behavior causes extreme emotional turmoil and builds discord in both people's
psychological states. Besides affecting the psychological condition of the couple, conflict also give
psychological effect to children. Research on the impact of couple or inter-parental conflict on children
has a long and established history (Gottman & Krokoff, 1989). From as far back as the 1930s it has been
recognized that discord between parents has a potentially debilitating effect on children‗s psychological
development (Coyne & Downey 1991; O‗Leary & Smit, 1991).
This kind of conflict can have an effect on children of all ages. Babies as young as six months,
for example, exhibit higher physiological symptoms of distress such as elevated heart rate in response to
overt, hostile exchanges between their parents when compared to exchanges between non-parental adults.

171

Infants and children up to the age of five years show signs of distress by crying, acting out, freezing, as
well as withdrawing from or attempting to intervene in the actual conflict itself. Children between the
ages of 6 and 17 years show signs of emotional and behavioural distress when exposed to ongoing,
acrimonious exchanges between parents (Harold, Pryor & Reynolds, 2001). Additional research indicates
that exposure to this form of discord can manifest itself in a number of ways including increased anxiety,
depression, aggression, hostility, anti-social behaviour and criminality as well as deficits in academic
attainment (Harold, Aitken & Shelton, 2007).
Children are affected by marital conflict through both direct and indirect pathways. In terms of
children‗s psychological functioning, exposure to repeated instances of destructive marital conflict has
been linked with internalizing problems such as depression and low self-esteem, externalizing problems
such as delinquency and aggression, and declines in academic performance, social and interpersonal
adjustment, and general mental health (Cummings & Davies, 1994). Additional research indicated that
children from divorced families scored significantly lower on a variety of outcomes: (a) academic
achievement, (b) conduct, (c) psychological adjustment, and (d) well-being (Connolly & Green, 2009).
Due to the conflict among couples, the number of divorce is increasing from time to time.
Therefore, the couple need to seek help to manage their marital conflict. However, couple in conflict does
not have proper assistance due to lack of practitioner qualified in family counseling. Mostly, general
practitioner apply the general approaches that are not so helpful in marital issue. In addition, most of
couple seeks for help from Islamic practitioner that only focusing on Islamic approach. So, the couple
cannot manage their conflict well due to lack of proper and effective approach. This is the reason of the
number of divorce increasing from time to time.
The purpose of this research is to see the effectiveness of one of the Family Therapy approach
which is Solution Focused Therapy.
Solution-focused therapy unites family members in finding a solution to a family problem
(D'Aniello, C. 2013). Therefore, solution-focused therapists do not invest a great deal of energy in
conceptualizing difficulties; rather, they are much more concerned with moving to solution talk. The
solution-focused model has come to be known for its innovative in session technique rather than its
foundational theory. While the literature does not overtly address how solution-focused therapists
conceptualize difficulties in a relational way, many of the solution-focused principles are easily
applicable to relational treatment units. For example, asking, ‗‗What does your family do when you are
all having fun?‘‘ is a way to shift the focus to the relational strength. What is more, upon review of the
solution-focused literature, it is striking that many case studies presented involve individual clients,
struggling with individual problems, without mention of a significant person in the client‘s life anywhere
in the transcript. Alternatively, there are illustrations of solution-focused couple and family therapy that
demonstrate how solution-focused principles are easily implemented relationally, though it is not
apparent that this relational conceptualization is integral or essential to the practice of the model.
Solution-focused therapy relies on behaviours as the primary mechanism for change; therefore,
an integral part of the model is the assignment of tasks at the end of each session. The manner in which
tasks are presented by D'Aniello, C. (2013) seemed strikingly similar to strategic therapy interventions.
Solution-focused therapist aim to disrupt relational patterns outside of the therapy room through the
assignment of tasks that alter the context of the way the problem is carried out. Alternatively, case
examples do not include a relational component.
Further, solution focused therapists initiate a shift in attention from problems to solutions. This
shift is a powerful force, supporting and highlighting the role of hope and strengths inclients‘ lives.
Solution-focused therapists intervene in behavior patterns from the position that the client has the
resources to solve his or her problem. This position fosters initiative and a sense of self-efficacy in
clients. Through the process of treatment, solution-focused therapists facilitate a cognitive shift in client
focus to areas of competence (D'Aniello, C. 2013).
There are a lot of researches prove on the effectiveness of Solution Focused Therapy in marital
conflict. In 1991, DeShazer conducted a research on family. The outcome has shown that SFT is an
effective method for treating a variety of issues. He presented the results of research completed at the
Brief Family Therapy Center in Milwaukee, WI. Results of this research indicate that 18 months after the
conclusion of an average of 4.6 therapy sessions 86% of families reported positive outcomes (DeShazer,
1991). Clients who came to more sessions reported better outcomes. These results are concurrent with
other studies completed on SFT (Ivenson, 1991; MacDonald, 1997; DeJong & Berg, 1998).
The effectiveness of Solution Focused Therapy on Adjustment in Marital
Marital adjustment is a big aspect in marriage which the couple adjust their marriage aspect from bad to
good. This research found the use of Solution Focused Therapy able to help client adjust their marital

172

aspect. Zimmerman, Prest and Wetzel (1997), had conducted an empirical study of the use of SFBT in a
group setting with couples. Twenty-three couples participated in a six week Solution Focused Couples
Therapy group. They were recruited by responding to newspaper advertisements offering couples therapy.
Thirteen couples participated in a comparison group. They were recruited through flyers requesting
voluntary participation in a research study. The thirteen couples in the comparison group completed the
pre and post-test measures, however did not receive treatment. Both groups completed the Marital Status
Inventory prior to treatment, which indicated no significant differences between the two groups. Both
groups also completed the Dyadic Adjustment Scale (DAS) prior to and after the completion of treatment.
The DAS scores for the couples in the treatment group showed statistically significant improvement. The
authors also noted that the post-test DAS scores of the treatment group approached the pre-test scores of
the comparison group. During treatment, the treatment group couples also reported positive changes in
their relationship, such as a decreased intensity in their arguments, more frequent physical affection and
more effective problem solving.
How Solution Focused Therapy is able to help client to adjust and improve marital aspect due to
the practicable techniques. Solution focused couples therapy focuses on the exceptions to issues rather
than what is going wrong in the relationship. For example, a solution focused therapist will ask the couple
about times when the problem did not exist and how that looked/worked rather than focusing in on all the
details of the current issue. By helping a couple determine what works, the therapist can help the couple
determine what and where they have currently gone wrong without ignoring the problem or assigning
blame. In doing this, the therapist can assist clients in accomplishing meaningful and visible change.
The effectiveness of Solution Focused Therapy on Anger
Outcome research in Solution Focused Therapy has shown that Solution Focused Therapy is an effective
method for treating a variety of issues and including effective to manage anger. It is congruent with the
study by DeShazer in which in 1991, he presented the results of research completed at the Brief Family
Therapy Center in Milwaukee, WI. Results of this research indicate that 18 months after the conclusion of
an average of 4.6 therapy sessions 86% of families reported positive outcomes (DeShazer, 1991). Clients
who came to more sessions reported better outcomes. These results are concurrent with other studies
completed on SFT (Ivenson, 1991; MacDonald, 1997; DeJong & Berg, 1998).
The feeling of anger is a part of emotion. The strength of Solution Focused Therapy is having
techniques that able to recovery the couple emotion. In a pilot study conducted by Triantafillou (1997)
designed to assess the effectiveness of a solution-focused approach to mental health supervision, the
researcher concluded that ―treatment effects indicate that solution-focused supervision can lead to
reduction in the frequency of client episodes of aggressive and anti-social behavior, as well as to
reductions in the use of psychotropic medication to control these episodes.
Walter and Peller (1992) noted that solution-focused counseling is concerned with client
problems ―at face value‖ (p. 62), distancing counselors from client emotional turmoil and jeopardizing the
depth and breadth of human suffering (Crockett, S. A., & Prosek, E.A, 2013). While, Nylund and
Corsiglia (1994) further argued that solution-focused counseling‘s focus on solutions does not grant
clients the opportunity to share their stories, which often include complex emotions and
spiritual/existential issues. In turn, solution-focused counselors not only fail to fully understand the
client‘s experience, but stunt the development of the therapeutic relationship, minimize client cathartic
experiences, and neglect to address the deeper emotional and spiritual issues that are at the core of client
difficulties (Crockett, S. A., & Prosek, E. A,2013).
Methodology
This study use experimental and quasi experimental design. This design is one group pre- test and posttest designed by Campbell & Stanley (1972). This study used one subject that is a couple in the process of
marital counseling. The researcher will use mix method which is by combining data collected in
quantitative method by using Locke-Wallace Marital Adjustment Test (LWMAT) and Novaco Anger
Inventory (NAI) and also qualitative with interview, counseling session and observation.
For quantitative, researcher conducted the study by administering two inventory which are
Locke-Wallace Marital Adjustment Test (LWMAT) and Novaco Anger Inventory (NAI). The researcher
asked for permission from the couple to conduct the inventories. Furthermore, the inventory of LockeWallace Marital Adjustment Test (LWMAT) was given to couple at the second session of couple
counseling session for pre test and at the fourth session of couple session for post test. While, for the
Novaco Anger Inventory (NAI), the inventory was given to the couple at the third session for pre test and
at the fifth session for post test. The researcher administered the questionnaire personally to the couple. In

173

addition, each part of the questionnaire was accompanied by a detailed explanation regarding the nature
and purpose of the survey. There is no limited time given to complete the questionnaire.
For qualitative method, the data collected first through interview based report. To capture the
voice of the couple conflict, face-to-face interview were conducted. The interview conducted to gather the
general information of the couple background and information of couple issue. Interviews are particularly
useful for getting the story behind participant‗s experiences. Then it followed by giving treatment of
couple counseling session. The couple counseling session was conducted for five sessions within 6
weeks.

Result and Discussion
Quantitative data
The purpose of this study was to investigate the effectiveness of Solution Focused Therapy to couple in
conflict. A couple seeking for help were provided five sessions of couple therapy.
Research Question 1: Is there any difference of couple marital adjustment before and after counseling
session?
Table 1: Mean of Pre- test and Post- test for Marital Adjustment
Marital
adjustment
(Mean)

Wife

Husband

Pre- test

Post-test

Pre- test

Post- test

28.0

128.0

27.0.0

132.0

For quantitative analysis, the result shows mean for pre- test and post- test of Marital
Adjustment. The wife scored means for marital adjustment at 28.0 for pre- test and 128.0 for post- test.
While, the husband scored means for marital adjustment is at 27.0 for pre- test and 132.0 for post- test.
The difference of mean between post- test and pre- test for wife is 100.0. While, for husband the different
of means between pre- test and post- test is 105.0.
The result explain both of husband and wife have low level of marital adjustment at pre- test
which is the means was 28.0 for wife and 27.0 for husband where both of them experience low level of
acuity. For the post test, both husband and wife experience high level of marital adjustment. The wife
scored means at 128.0 and the husband scored 132.0 which mean the high level of acuity. The difference
of mean between pre-test and post- test can be attribute to the treatment to them.
For qualitative analysis, the result is from client progress report from 1 to 5 sessions.
Session 1:
Wife: saya tertekan dengan suami saya…saya rasakan perkahwinan saya yang paling malang di dunia
ini…
Husband: orang lain kahwin ada keluarga hidup bahagia…tapi saya bila kahwin menambahkan
masalah…
Wife: awak ada perempuan simpanan kan…sebab tu selalu keluar malam
Husband: awak memang tidak sayangkan keluarga kita…
Wife: asal bergaduh je awak nak tinggi kan suara dan pergi macam tu je…
Husband: saya sudah tidak tahan lagi dengan sikap awak yang selalu pukul saya…saya rasa sangat
tercabar
Session 4:
Wife: saya sedar kesilapan saya yang hot tempered…saya cuba kawal..dan saya tak akan cepat merajuk
lagi..
Husband: saya akan cuba kawal perasaan saya dan lebih peka dengan perasaan awak…
Wife: Saya yakin dengan kasih sayang dan kejujuran awak,,,
Husband: awak adalah ibu yang terbaik untuk anak- anak kita..

174

Wife: terima kasih sebab bersabar dengan saya..saya akan ubah sikap saya..
Husband: saya akui dalam perkahwinan kene ada kerjasama antara satu dengan lain..saya kan cuba
yang terbaik untuk membahagiakan keluarga saya.
Both quantitative and qualitative analysis shows there is difference in marital adjustment in
couple before and after having treatment. The difference can be attributed to the treatment which is the
use of Solution Focused Therapy.
This result supported by Christiansen (1998), he completed a study of 24 couples indicated that
the therapeutic experience of Solution Focused Therapy had caused shifts in affect, communication and
cognitions in the couple relationship.
In addition, this result also supported by Zimmerman, Prest and Wetzel (1997). They had
conducted an empirical study of the use of Solution Focused Therapy in a group setting with couples.
Twenty-three couples participated in a six week Solution Focused Couples Therapy group. They were
recruited by responding to newspaper advertisements offering couples therapy. Thirteen couples
participated in a comparison group. They were recruited through flyers requesting voluntary participation
in a research study. The thirteen couples in the comparison group completed the pre and post-test
measures, however did not receive treatment. Both groups completed the Marital Status Inventory prior to
treatment, which indicated no significant differences between the two groups. Both groups also
completed the Dyadic Adjustment Scale (DAS) prior to and after the completion of treatment. The DAS
scores for the couples in the treatment group showed statistically significant improvement. The authors
also noted that the post-test DAS scores of the treatment group approached the pre-test scores of the
comparison group. During treatment, the treatment group couples also reported positive changes in their
relationship, such as a decreased intensity in their arguments, more frequent physical affection and more
effective problem solving.
Thus, couples therapists often use a solution focused approach in helping couples resolve issues.
New strategic and innovative therapies are constantly being sought by couples and family therapists that
help individuals achieve greater life satisfaction and cohesiveness in their family groups. It is showed that
the use of Solution Focused Therapy is practical to use when dealing with couple is marriage issue.
The different of means between post- test and pre- test of marital adjustment for wife and
husband quite same which are 100.0 for wife and 105.0 for husband. The difference in means shows the
husband and wife achieved same level of adjusting their marriage. However, other research has
substantiated that marriage disproportionately benefits men, with husbands reporting higher levels of
marital satisfaction and well-being than their wives (Baslow, 1992; Bernard, 1975; Bird & Fremont,
1991; Heyn, 1997; McRae & Brody, 1989; Schumm, Webb, & Bollman, 1998). This study contrast to the
previous research finding where this study found there is a same level of marital satisfaction among
couple.
On the other hand, this study contradicts to the Lewis and Spanier. According to Lewis and
Spanier (1979), the more social and personal resources a husband and wife have, the better adjusted their
marriage is. Material and nonmaterial properties of the spouses enhance their marital adjustment. From
this study, the demographic background for both of couple is contradicted to the Lewis and Spanier
statement. Both husband and wife are not so really social where the wife is fulltime housewife and spent
most of time at home with their child, while the husband spent most of time working at Domino pizza.
Both of couple also comes from medium socioeconomic class.
Quantitative Data
Research Question 2: What is the level of anger before and after the counseling sessions?
Table 2: Means of Pre- test and Post- test for Anger
Anger
(Means)

Wife

Husband

Pre- test

Post-test

Pre- test

Post- test

86.0

35.0

56.0

35.0

For quantitative analysis, the result shows means for pre- test and post- test of anger. The wife
scored mean of anger at 86.0 for pre- test and 35.0 for post- test. While, the husband scored mean of
anger at 56.0 for pre- test and 35.0 for post- test.

175

The different of means between pre- test and post- test of anger for wife is 51.0. While, for
husband the different of means between pre- test and post- test is 21. That means the different of means
between pre- test and post- test can be attributed to the treatment.
The result explain both of husband and wife have high degree of anger at pre test which is means
86.0 for wife where the wife experience anger that may often get out of control and lead to impulsive
hostile outburst which at time get into trouble. While, the husband scored means at 56.0 for pre test where
he is experience annoyances with an average amount of anger.
For the post test, both husband and wife experience low degree of anger. Both of them score
means 35.0 which mean the amount of anger and annoyances they generally experience is remarkably
low.
Qualitative Data
For qualitative analysis, the result is from client progress report from session to session.
Session 1:
Wife: saya geram bila suami saya meminjam kereta adiknya sedangkan saya dah bagitua supaya
meminjam kereta ayah saya..
Husband: isteri saya sangat kurang ajar…dia tidak hormati saya
Wife: saya benci apabila anak saya terganggu untuk tidur
Husband: awak tau tak tindakan awak yang ingin melompat keluar daripada kereta adalah tindakan yang
bodoh
Session 4:
Wife: tiada gunanya bertegang leher..apa yang penting dalam hubungan adalah persefahaman…
Husband: sekiranya awak ada masalah…bagitau saya dan kita sama- sama cuba selesaikan..
Wife: saya cuba berfikiran positive..
Husband: saya rasa tenang bila awak melayan saya dan menerima saya seadanya…
Both quantitative and qualitative analysis shows there is decrease in anger between couple
before and after having treatment. The differences can be attributed to the treatment which is the use of
Solution Focused Therapy.
This result supported by Gingerich and Eisengart (2000) reviewed 15 Solution Focused Therapy
outcome studies, five of which were determined to have met established standards for empirically
supported psychological treatment, namely quantitative research with control groups. Two of the 15
studies reviewed reported significant positive outcomes for patients‗receiving Solution Focused Therapy
versus other therapies. The other 13 showed that Solution Focused Therapy was comparable to other
treatments in terms of effectiveness. Solution Focused Therapy appears to be as effective as other forms
of therapy (Christiansen, 1998; Gingerich & Eisengart, 2000).
Anger is an extremely powerful emotion that at times can be life changing, either through single
massive instances of anger or the smaller inconveniences and conflicts of day to day life. Anger is closely
related to the personality. According to Martin, Watson, and Wan, 2000, personality traits have been
shown to be linked fairly well with some actual anger responses, or more specific behaviors. From this
research, one of the characteristic of the wife is hot tempered person. the wife score mean of anger for pre
test is 86.0 as compare to the husband just only 56.0. This result shows there is a link between anger and
personality trait.
The result of this research shows both of the couple has high level of anger before marital
therapy and the level of anger reduce after the marital therapy. General System Theory explains family is
a system that connected to each other. The family system will not functioning if one part of the system
not working. In this research, both spouses are related to each other where both of them are anger when
their partner is anger. Then, after have treatment, both of them reducing their anger. The couple work
together for their relationship.
From the researcher understanding and opinion, the element in Solution Focused Therapy to
reduce anger is focusing in positive change. The emphasis of solution-focused counseling is on mental
health, and the belief that positive change is possible. Solution-focused counsellors do not seek the cause
of problems. Instead, they believe that it is more important to focus on understanding the seeds of
solutions that are usually in the client‗s story.

176

Conclusion
This study found the Solution Focused Therapy is an effective approach to deal with couple conflict. The
result shows the Solution Focused Therapy increase the couple marital adjustment and decrease the level
of anger.
In general, through this research, it is hoped that the result can be a guidance or reference for
those involved in the area of family and marital development which lead to the benefits for marriage
institution.
From the result of this research, individuals, family and organization can take further action to
give support to reduce the number of divorce among couple by meeting the therapist that have
qualification in Family Therapy.
Practitioners in the area of marriage and family therapy play a major role in helping couples
through transitions that occur overtime. There is a large number of therapists who provide marital
education that focuses on various subject areas (i.e., communication, conflict resolution, conflict
management, and compromise). Based on the findings of the current research, practitioners should focus
more on the process of couple interaction.
References
Christiansen, L.L. (1998). Process of change in couples therapy: A qualitative investigation.
Journal of Marital and Family Therapy
Connolly, M. E., & Green, E. J. (2009). Evidence-Based Counseling Interventions with Children of
Divorce: Implications for Elementary School Counselors. Journal of School Counseling, 7(26),
1–37
Coyne JC, Downey G. 1991. Social factors and psychopathology: stress, social sup , and coping
processes. Annu. Rev. Psychol. 42:401—25
Cummings, E. M., & Davies, P. T. (1994). Effects of marital conflict on children: Recent advances and
emerging themes in process-oriented research. Journal of Child Psychology and Psychiatry, 43,
31–63.
Crockett, S. A., & Prosek, E. A. (2013). Promoting Cognitive, Emotional, and Spiritual Client Change:
The Infusion of Solution-Focused Counseling and Ritual Therapy. Counseling & Values, 58(2),
237-253.
D'Aniello, C. (2013). Contemporary MFT Models' Alignment with Relational Common
Factors. Contemporary Family Therapy: An International Journal, 35(4), 673-683.
Gingerich, W. & Eisengart, S. (2000). Solution focused brief therapy: A review of outcome research.
Family Process, 39(4), 477496.
Gottman JM, Krokoff LJ. 1989. Marital inter- action and satisfaction: a longitudinal view. J.
Consult. Clin. Psychol. 57:47–52.
Harold, G. T., Aitken, J. J., & Shelton, K. H. (2007). Interparental conflict and children‗s academic
attainment: Alongitudinal analysis. Journal of Child Psychology and Psychiatry, 48, 1223–1232.
Harold, G. T., Pryor, J., & Reynolds, J. (2001). Not in front of the children? How conflict between
parents affects children. One-Plus-One Marriage and Partnership Research:
London.
Triantafillou, N. (1997. A Solution-Focused Approach to Mental Health Supervision. Journal of Systemic
Therapies, 16(4), 305-328.
Zimmerman, T.S., Prest, L.A., & Wetzel, B.E. (1997). Solution focused couples therapy groups: An
empirical study. Journal of Family Therapy, 19(2), 125144.

177

EFEKTIVITAS KONSELING KELOMPOK REALITAS UNTUK MENINGKATKAN SELFDISCIPLINE SISWA
DALAM MENYONGSONG MEA 2015
Lutfi Fauzan
(email: lutfialfauzan@gmail.com)
Universitas Negeri Malang
Abstract
Self-discipline is a personal character that is expected to develop well for any individual. School also
concerned to develope self-discipline of students, especially to face Asean Economic Community. For the
porpuse, school counselor requires specific strategies to help students in improving their self-discipline.
One promising strategy is the reality of group counseling. Manual to execute the Reality Counseling has
also been developed in WDEP model, but it has not been tested empirically. Quasi experimental study was
designed to determine the effectiveness of Reality Counseling in a group setting to enhance the selfdiscipline of junior high school students. Experiment with control group design is executed in SMP 13
Malang. 62 students who have low self-discipline choosed as a subject of study and divided as the
experimental group and the control group. There are 31 students as experimental group and 31 others as
control group. Treatment for the experimental group was given for 2 months in 7 meeting. Data were
analyzed by t-test. The results showed there were significant differences between the experimental group
and the control group after treatment. Thus the reality group counseling is effective to improve selfdiscipline of Junior High School students. Therefore it is recommended for school counselor to apply this
model to improve self-discipline of students.
Kata kunci : models of counseling , reality counseling , self-discipline
Pengantar
Pada kehidupan sehari-hari dapat diamati sejumlah masalah sosial yang mengemuka yang salah
satunya berkenaan dengan perilaku disiplin. Kedisiplinan sebagian anggota masyarakat dalam berbagai
situasi tampak lemah. Dapat diamati sejumlah fenomena yang menunjukkan ketidaksiplinan masyarakat,
seperti: pelanggaran peraturan lalu-lintas, menyerobot dalam antrean, membuang sampah sembarangan,
terlambat dalam pengurusan dokumen kependudukan, sembarangan dalam penggunaan fasilitas publik,
memaksa berkegiatan pada wilayah-wilayah yang dilarang, dan mengabaikan berbagai norma dan aturan
main dalam kehidupan sehari-hari. Pada kalangan siswa pun banyak ditemukan perilaku yang menunjukkan
rendahnya kedisiplinan diri mereka, seperti: membolos, tidak mengerjakan tugas dari guru, menunda-nunda
(procastination), mencontek ataupun memberikan contekan, bermain game on-line pada jam sekolah,
merusak fasilitas sekolah dan lain-lain (Puspitaningtyas, 2009; Sudrajat,2008).
Kedisiplinan diri (self-discipline) adalah kemampuan untuk mendapatkan diri tetap mengambil
tindakan nyata terlepas bagaimanapun keadaan emosi diri seseorang (Pavlina, 2005). Hereford (2008)
merumuskannya lebih komprehensif sebagai kemampuan untuk mengendalikan dorongan, emosi, keinginan
dan perilaku seseorang. Batasan ini menunjukkan adanya kemampuan untuk menolak kesenangan dan
kepuasan instan atau menunda kepuasan demi memperoleh kepuasan jangka panjang dan pemenuhan dalam
mencapai tujuan yang lebih tinggi dan lebih bermakna. Sedangkan Sasson (2010) menyatakan selfdiscipline adalah inner power yang merupakan sinonim dari self-control, yang menurut Gallozzi (2007)
juga merupakan aspek penting dalam pendidikan karakter. Dengan demikian self-discipline merupakan
kekuatan dalam diri dan kemampuan melakukan aktivitas pribadi secara tertib, teratur, dan ajeg dalam
upaya mencapai tujuan tertentu dengan tidak terpengaruh bagaimana keadaan emosi diri sehingga dapat
menunda kepuasan diri untuk memperoleh hasil yang labih bermakna.
Secara umum self-discipline siswa SMP di kota Malang baik, namun ada beberapa perilaku yang
masih sering diabaikan siswa. Ada beberapa perilaku tertib sekolah yang dilanggar oleh pada umumnya
siswa, namun perilaku itu termasuk pada kategori pelanggaran kecil. Masalah self-discipline yang paling
banyak dialami itu adalah bergurau saat pelajaran berlangsung (dilakukan 95,45% siswa), mencontek
ataupun memberikan contoken kepada temannya (dilakukan 82,27% siswa), dan ketinggalan peralatan
sekolah (dilakukan 75,46 siswa) . Selain itu, terdapat sebagian siswa yang menunjukkan self-discipline
rendah dengan jenis pelanggaran yang lebih banyak (Fauzan & Bisri, 2013).
Sebagai wujud kepedulian, sekolah tentu berupaya mengembangkan cara-cara yang dipandang
efektif untuk penegakkan disiplin bagi siswa-siswinya, hanya saja pendekatan yang diterapkan pada
umumnya bertumpu pada kontrol eksternal. Alih-alih menumbuhkan kesadaran, pelaksanaannya cenderung
represif dengan mengedepankan pengawasan dan hukuman. Eksesnya anak hanya tertib dan disiplin ketika

178

ada yang mengawasi, namun ketika tidak ada lagi yang mengawasi, perilaku disiplinnya luntur. Hal itu
terjadi karena perilaku mereka belum berangkat dari kesadaran dan kekuatan internal yang memiliki sistem
pengawasan melekat pada diri masing-masing. Keadaan ini dapat merugikan siswa di masa depan. Lebihlebih untuk memasuki era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang akan diberlakukan pada akhir 2015
memerlukan keahlian tinggi dan semangat kompetisi yang dibentuk melalui proses pendisiplinan diri yang
berasal dari kekuatan internal.
Untuk menumbuhkan kekuatan internal dalam berperilaku disiplin, Konseling Realitas memberikan
tawaran bagi pengembangannya. Sesuai dengan laporan hasil sejumlah penelitian dalam mengubah perilaku
anak, Konseling Realitas dapat menjadi prosedur efektif untuk mengembangkan self-discipline siswa
(Corey, 2009). Ketika Konseling Realitas diterapkan dalam latar kelompok, ada nilai tambah yakni
efisiensi, karena dapat menjangkau sejumlah siswa dalam suatu pertemuan konseling dan ada sistem
dukungan dalam kelompok.
Sekaitan dengan upaya membantu siswa meningkatkan self-discipline melalui konseling kelompok,
Fauzan dan Bisri (2013) telah menyusun manual Konseling Kelompok Realitas untuk meningkatkan selfdiscipline siswa SMP. Manual tersebut terdiri atas dua bagian utama. Bagian pertama menguraikan konsep
dan prinsip-prinsip dasar Teori Pilihan dan Konseling Realitas serta profil masalah self-discipline siswa.
Bagian dua menjelaskan bagaimana secara prosedural Konseling Realitas diterapkan dalam latar kelompok
untuk meningkatkan self-discipline siswa SMP.
Manual ini telah disusun melalui prosedur penelitian pengembangan sampai dengan tahap validasi
ahli. Hasil penilaian baik oleh ahli teori konseling maupun pengguna (konselor sekolah) menunjukkan
kualitasnya bergerak antara baik sampai dengan sangat baik pada aspek-aspek yang diungkap: kegunaan,
ketepatan dan keterlaksanaan (Fauzan & Bisri, 2014).
Sekalipun manual telah memiliki kualitas baik dan sangat baik menurut pertimbangan ahli, namun
ia belum teruji pada aplikasinya di lapangan. Untuk itu diperlukan uji lapangan mengenai tingkat
keefektifannya agar lebih dapat dipertanggungjawabkan kemungkinan penggunaannya. Dengan demikian
diperlukan penelitian tentang efektifitas manual Konseling Kelompok Realitas untuk Meningkatkan Selfdiscipline Siswa SMP.
Metodologi
Untuk menjawab permasalahan yang muncul dirancang penelitian eksperimen kuasi.
Penelitian eksperimen kuasi dimaksudkan untuk menguji model layanan yang tertuang pada
manual Konseling Kelompok Realitas untuk meningkatkan self-discipline siswa. Adapun jenis
eksperimen kuasi yang digunakan yaitu the pretest postest nonequivalent control group design.
Eksperimen dilakukan terhadap tiga kelompok siswa sesuai dengan jumlah konselor pelaksana
eksperimen. Pengelompokan ini disesuaikan dengan prinsip keefektifan pelaksanaan layanan konseling
kelompok: setiap kelompok besarannya berkisar antara 6 sampai dengan 10 orang. Sebaran kelompok
eksperimen adalah:
Tabel Sebaran subjek eksperimen
Kelompok
Konselor
Konseling
Kelas A
P
Kelas B
Q
Kelas C
R
Jumlah siswa kelompok
eksperimen

Jumlah
Anggota
10
11
10
31

Anggota kelompok tersebut merupakan campuran dari siswa kelas 8A sampai dengan kelas 8H.
Kelompok kontrol ditetapkan 31 orang juga yang berasal dari siswa campuran mulai kelas 8A
sampai dengan kelas 8H juga. Pengambilan anggota kelompok eksperimen ataupun kelompok kontrol
didasarkan pada pengukuran awal tingkat self-discipline mereka. Dari 62 siswa yang memiliki nilai selfdiscipline paling rendah, diambil secara acak untuk dimasukkan pada kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol.
Eksperimen dilakukan oleh konselor sekolah yang dibantu oleh seorang kokonselor (mahasiswa
PPL) pada ke tiga kelompok yang ada selama dua bulam dalam tujuh kali pertemuan, yaitu setiap Sabtu
seusai jam pelajaran sekolah. Pemilihan waktu tersebut berdasarkan pertimbangan setiap Sabtu sehabis
jam pelajaran sekolah siswa diwajibkan mengikuti kegiatan PRAMUKA. Dengan demikian kelompok

179

kontrol mengikuti kegiatan kepramukaan, sedangkan kelompok eksperimen dapat melaksanakan
kegiatannya tanpa terganggu perasaannya karena teman-teman yang lainnya juga belum pulang.
Untuk mengukur variabel terikat dikembangkan inventori skala self-discipline siswa berskala
4 dengan rentangan mulai dari sering sampai dengan tidak pernah. Pengukuran self-discipline
dilakukan pada praperlakuan dan pascaperlakuan. Untuk mengukur keterlaksanaan perlakuan ses uai
dengan standar yang diharapkan dikembangkan lembar monitoring keterlaksanaan Konseling
Kelompok Realitas.
Pengukuran tingkat self-discipline siswa dilakukan pada pertemuan ke dua. Ini dilakukan sebab
pada pertemuan pertama, sesuai asas konseling pada awal pertemuan perlu mendahulukan kegiatan
pembinaan hubungan dan penormaan. Pengukuran dilaksanakan sebagai langkah awal dan bagian dari
tahap kerja dalam konseling. Adapun pascates dilakukan pada pertemuan ke 8.
Data yang diperoleh dari kegiatan eksperimen dianalisis dengan teknik analisis uji-t (t-test)
untuk dua sampel bebas. Analisis ini digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan
yang signifikan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol pascaperlakuan.
Hasil dan Pembahasan
Hasil pengukuran prates menunjukkan rerata skor self-discipline siswa adalah 41,77 pada
kelompok eksperimen dan 41,12 kelompok kontrol. Angka tersebut menunjukkan tidak ada perbedaan
yang signifikan di antara ke dua kelompok. Hal ini ditunjukkan dari hasil uji-t dengan df = 30, nilai F =
1,11 (p = 0,39 dengan F kritik sebesar 1,84).
Setelah pemberian perlakuan Konseling Kelompok Realitas dalam 7 sesi sebaran skor kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol menunjukkan hasil yang berbeda. Skor rerata kelompok eksperimen
sebesar 51,16; dan skor rerata kelompok kontrol sebesar 41,32.
Untuk menguji hipotesis penelitian (H1) yang menyatakan, ―terdapat perbedaan self-discipline
yang signifikan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol setelah diberikan perlakuan
Konseling Kelompok Realitas untuk meningkatkan self-discipline‖ dilakukan analisis statistik uji –t.
Hasil perhitungan uji-t untuk dua sampel bebas diperoleh nilai angka, yaitu F = 1,97. Apabila nilai
tersebut dikompromikan pada nilai F kritik (tabel) untuk N=31 adalah 1,84. Angka F > F kritik dengan p
= 0,03.
Oleh karena nilai F hitung lebih besar daripada F kritik (tabel), maka Ho ditolak dan H1 diterima.
Ini berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata nilai kelompok eksperimen dengan
kelompok kontrol setelah diberikan perlakuan Konseling Kelompok Realitas pada kelompok eksperimen.
Kalau pada penelitian senelumnya menunjukkan pada umumnya siswa SMP Negeri di Kota Malang
memiliki self-discipline yang baik, kecuali pada sebagian perilaku masih memiliki masalah (Fauzan &
Bisri, 2013), kenyataan ini menunjukkan bahwa berkenaan dengan masalah self-discipline di kalangan
siswa di SMP Negeri di Kota Malang bukan masalah besar dan belum sampai pada taraf penanganan
dengan model krisis. Perilaku disiplin masih lebih banyak ditunjukkan oleh siswa. Namun begitu sebagian
perilaku indisiplin mereka juga perlu mendapatkan perhatian melalui bantuan layanan BK agar tidak
berkembang lebih buruk.
Anak SMP yang belum sepenuhnya meninggalkan dunia anak yang merupakan masa bermain
akan sulit menghindarkan aktivitas bergurau. Hal ini disebabkan adanya kecenderungan manusia bosan
ketika melakukan aktivitas dalam jangka panjang, memiliki sifat-sifat dasar yang cenderung ingin
memperoleh keenakan secara mudah; dan aktivitas yang dilakukan dipandang sebagai kewajiban atau
beban (Prijosaksono & Sanjaya, 2002).
Dalam kerangka Choice Theory, aktivitas bergurau tersebut merupakan upaya pemenuhan kebutuhan
akan bersenang-senang (fun) Corey, 2012). Cegahan, peringatan dapat diberikan pada anak, namun
biasanya hanya bertahan dalam beberapa saat, ketika ada seorang anak yang memulai biasanya yang lain
akan ikut terpancing. Ketinggalan peralatan sekolah baik itu alat tulis, buku pelajaran maupun seragam olah
raga banyak terjadi ketika anak terburu-buru berangkat ke sekolah dan tidak dipersiapkan lebih dahulu
sebelum berangkat. Ketinggalan peralatan sekolah peluang terjadinya lebih besar apabila kontrol dan
kepedulian orang tua lemah. Sementara itu kalau perilaku ini dibiarkan menjadi kebiasaan dapat
menimbulkan kesulitan tersendiri ketika anak sudah terjun di masyarakat. Adapun contek mencontek sulit
dihindarkan karena faktor sosial dan tuntutan prestasi yang berpengaruh pada aspek emosi. Pemaknaan
anak terhadap prinsip kesetiakawanan mungkin membuat mereka mengutamakan berbagi sekalipun itu
salah. Perasaan tidak enak apabila temannya minta diberikan contekan mendorong anak memberikan
contekan meskipun sebagian merasa terpaksa. Sedang anak yang mencontek mungkin dipicu oleh
ketidaksiapan mengahadapi tes, di sisi lain prestasi tinggi atau nilai baik merupakan tuntutan. Orang tua
menuntut anak nilainya baik, guru memandang rendah terhadap anak yang nilainya buruk, masyarakat pada
umumnya menghargai perolehan nilai baik, tuntutan kerja pun demikian. Keadaan ini mempengaruhi

180

pikiran anak untuk memperoleh nilai baik. Hanya sayangnya pikiran itu sering tidak diikuti upaya persiapan
dan rendahnya kemampuan, sehingga yang terjadi adalah mencontek kepada teman atau cara-cara lain.
Perilaku semacam inipun perlu diubah untuk mencegar terjadinya transfer pada perilaku lainnya, misalnya
plagiasi.
Urutan masalah self-discipline yang banyak dilakukan sebagian besar siswa adalah: tidak
mengerjakan PR, membuang sampah sembarangan, dan terlambat masuk kelas setelah jam istirahat.
Perilaku-perilaku ini mencerminkan lemahnya kesadaran dan kontrol anak atas dinamika internal pada
dirinya dan rendahnya kepekaan mereka terhadap lingkungan. Anak tidak mengerjakan PR bisa karena lupa
ataupun tidak mampu mengerjakan. Lupa terjadi apabila anak tidak memiliki jadwal belajar teratur dan
tidak memiliki catatan tugas yang harus diselesaikan. Ketika tidak bisa mengerjakan dan tidak ada bantuan
di rumah bisa jadi anak mengharapkan contekan dari temannya, sekalipun itu tidak selalu bisa diperoleh.
Membuang sampah sembarangan terjadi karena kebiasaan sehari-harinya di rumah anak kurang tertib.
Contoh di masyarakat mengenai perilaku membuang sampah sembarangan juga terjadi setiap hari.
Akibatnya perilaku tertib membuang sampah mungkin dipandang kurang bernilai, sehingga terpeliharalah
ketidaksiplinan membuang sampah. Sedang terlambat masuk kelas setelah istirahat bisa terjadi karena
keteledoran anak terhadap waktu. Hal ini memperkuat pandangan bahwa self-discipline merupakan karakter
penting yang sulit dibentuk (Prijosaksono & Sanjaya, 2002), pembentukannya memerlukan pemberdayaan
inner power mereka (Sasson, 2010).
Hasil lain menunjukkan sebagian siswa memiliki masalah dengan self-discipline berkenaan dengan
terlambat masuk sekolah, menggunakan HP saat pelajaran berlangsung, dan berbohong kepada guru/orang
tua, dan tidak memakai seragam/atribut sesuai dengan ketentuan sekolah. Terlambat masuk sekolah dan
tidak memkai seragam atau atribut sekolah sesuai ketentuan mungkin merupakan perilaku yang
berhubungan. Keduanya berkaitan dengan disiplin waktu dan jadwal. Ketentuan seragam dan penggunaan
atribut terkait dengan penjadwalan. Masuk sekolah juga berkenaan dengan jadwal kegiatan. Tanpa
kecermatan terhadap penjadwalan ini akan mudah bagi anak melakukan pelanggaran, padahal budaya kerja
dan nilai agama mengajarkan tentang pentingnya waktu. Adapun penggunaan HP pada umumnya sekolah
memberikan larangan dan sering mengadakan razia. Namun ketertarikan anak untuk berkomunikasi,
memperoleh informasi atau sekedar hiburan dari HP tetap terjadi. Peluang terjadinya perilaku ini semakin
besar apabila anak mengalami kebosanan atau kejenuhan dalam belajar.
Adapun masalah self-discipline yang dialami oleh sebagian kecil siswa adalah membela teman yang
salah, membaca komik saat pelajaran berlangsung, merusak prasarana/sarana sekolah, dan terlambat
mengembalikan buku perpustakaan sesuai jadwal pengembalian. Membela teman yang salah, membaca
komik saat pelajaran, dan merusak sarana/prasaraana sekolah bisa jadi merupakan upaya anak memenuhi
kebutuhan akan power dan freedom (Corey, 2012). Anak ingin mengeksplorasi kekuatannya secara tidak
tepat dengan melawan norma dan peraturan yang diketahui. Selain itu membela teman juga dapat didorong
oleh kebutuhan akan cinta dan memiliki. Sedang keterlanbatan mengembalikan buku perpustakaan bisa
terjadi karena keteledoran akan waktu ataupun uji coba dalam perebutan kekuasaan. Anak membuat
peraturan sendiri untuk menandingi peraturan yang ada.
Sejumlah perilaku indisiplin yang dilakukan siswa tersebut pada dasarnya dapat diubah. Perilaku
muncul dadasari oleh bagaimana mereka mempersepsi dan bagaimana keterampilan mereka untuk
berperilaku secara efektif. Persepsi dapat diubah melalui pemberian dan pembetulan informasi. Informasi
baru dapat mengubah persepsi seseorang dan selanjutnya dapat mengubah perilakunya. Namun begitu
upaya pengubahan hendaknya merupakan upaya yang berkelanjutan (Pavlina, 2005).
Adakalanya individu sudah melakukan pilihan benar terhadap perilaku tertentu yang hendak
diwujudkan, namun perilaku yang efektif tidak dihasilkan karena lemahnya keterampilan mereka. Sebagian
perilaku muncul melalui hasil belajar dari orang tua, teman, dan orang-orang yang dekat (Bryant, 2011).
Sejumlah keterampilan spesifik perlu dipertajam dan diperkuat untuk berperilaku yang efektif dengan
memperhatikan empat pilar self-discipline, yaitu self-control, motivation, persitence, dan goals (Janke,
2008). Keempatnya dapat dibelajarkan melalui konseling. Adapun prioritas bantuan perlu memperhatikan
berat ringannya nilai pelanggaran (poin) dan banyak sedikitnya siswa yang melakukan.
Sejumlah subjek yang memiliki tingkat self-discipline rendah telah dipilih untuk menjadi subjek
penelitian baik sebagai kelompok eksperimen maupun sebagai kelompok kontrol. Antara kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol memiliki kesetaraan karena tidak ada perbedaan yang signifikan
menurut perhitungan dengan teknik uji-t untuk dua sampel bebas. Setelah perlakuan diberikan pada
kelompok eksperimen, melalui uji-t, ditemukan perbedaan yang signifikan antara kelompok eksperimen
dengan kelompok kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa model Konseling Kelompok Realitas efektif untuk
meningkatkan self-discipline siswa. Dengan perkataan lain hipotesis yang menyatakan ada perbedaan
signifikan dalam self-discipline antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol setelah perlakuan
dapat diterima.

181

Hasil penelitian ini memperkuat penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan baik dalam kaitan
keefektifan Konseling Realitas terhadap variabel self-discipline maupun dengan variabel lainnya. Studi
keefektifan Reality Therapy untuk mengubah perilaku tertentu yang sejalan di antaranya: Comiskey
(2007) Meneliti dan mendapatkan efektivitas pelatihan kelompok Reality Therapy (RTGT), yang
digunakan baik sendiri atau bersama dengan intervensi kelembagaan (sekolah-sekolah) pada partisipasi
dalam sesi kelompok tentang lokus harga diri remaja, orientasi kontrol, prestasi akademik , sikap terhadap
sekolah, kehadiran, dan perilaku di kelas. Penelitian tersebut membandingkan 3 kelompok dari 11 siswa
kelas 9, beberapa di antaranya menerima RTGT. Terkait pemenuhan kebutuhan, pemecahan masalah, dan
pertemuan kelas juga diteliti. Sekelompok dikombinasikan dalam program konseling, ditambah
akomodasi sekolah, teruji efektif dalam mengubah perilaku dan sikap yang berkaitan dengan putus
sekolah. Kim (2005) mendapati Reality Tharapy efektif untuk penyembuhan pasien penderita
schizophrenia. Mason dan Duba (2009) mendapati potensi keefektifan Reality Therapy untuk menunjang
keberhasilan program BK model ASCA (American School Counseling Assosiation). Intervensi Reality
Therapy dalam latar kelompok di sekolah menengah atas juga ditemukan efektif terhadap anak-anak yang
berperilaku beresiko (Paone et al, 2009).
Berdasarkan hasil penelitian ini memperkuat pandangan positif bahwa perilaku kurang disiplin
dari siswa dapat diperbaiki tanpa pendidikan disiplin yang keras. Konseling Realitas yang anti hukuman
telah menunjukkan efektifitasnya dalam mengubah perilaku maladaptif siswa, khususnya yang rendah
self-discipline-nya. Untuk itu konselor sekolah dapat menjadikan Konseling Kelompok Realitas untuk
membantu meningkatkan self-discipline siswa. Peningkatan self-discipline siswa ini diharapkan dapat
memperbaiki kualitas mereka baik terkait dengan prestasi akademik maupun kualitas hidup serta pola
hidup efektif ehari-hari pada umumnya.
Sebagaimana ditunjukan oleh Laitsch (2006), yang melakukan penelitian terhadap siswa kelas 8,
mendapatkan self-discipline merupakan prediktor yang baik bagi prestasi belajar siswa. Temuan ini juga
sejalan dengan hasil penelitian Duckworth dan Seligman (2005) terhadap remaja yang menunjukkan
perbedaan signifikan prestasi belajar mereka antara kelompok yang mendapat perlakuan dan kelompok
kontrol.
Widodo (2009) dalam penelitiannya menemukan hasil bahwa Konseling Realitas dipandang
efektif dalam peningkatan disiplin diri siswa SMK. Hal ini teruji dari menurun perilaku tidak disiplin
siswa seperti membolos, terlambat, dan tidak menggunakan atribut sekolah secara lengkap. Selain itu,
meningkatnya pengendalian diri dan menurunnya durasi perilaku tidak disiplin pada subjek penelitian
juga menjadi salah satu indikator yang teruji dalam penelitian ini.
Hasil penelitian inipun sejalan dengan Astuti (2010) yang melakukan penelitian pada siswa SMP.
Sejumlah siswa SMP yang terindikasi memiliki tingkat disiplin diri yang rendah, diberi perlakuan
Konseling Realitas secara individual. Hasilnya menunjukkan perilaku tidak disiplin siswa mengalami
penurunan, permasalahan siswa teratasi, dan tugas perkembangan siswa dapat berjalan dan ditunaikan
lebih baik. Namun demikian, Astuti dalam penelitian yang sama mengatakan bahwa hendaknya pada saat
konselor mengatasi perilaku tidak disiplin siswa, perlu untuk berkolaborasi dengan guru atau wali kelas.
Selain hasil penelitian terdahulu, hasil penelitian ini juga memiliki esensi yang sama dengan
karakteristik teoretik Konseling Realitas yang menyebutkan bahwa secara umum tujuan Konseling
Realitas adalah untuk membantu individu memenuhi lima kebutuhan dasarnya (survival, love and
belongingness, power of achievement, freedom, dan fun). Konselor bertugas untuk membantu konseli
mengidentifikasi kebutuhan yang hendak dicapai oleh konseli, serta bagaimana mencapainya dengan cara
yang efektif. Disiplin diri merupakan salah satu kebutuhan individu dalam hal ini adalah siswa SMP yang
perlu dibantu pencapaiannya menggunakan Konseling Kelompok Realitas. Menggunakan tahap-tahap
Konseling Kelompok Realitas sebagaimana dikonsepkan oleh William Glasser dan Wubbolding
merupakan cara yang efektif untuk siswa SMP memenuhi satu atau beberapa kebutuhan dasar yang
dimilikinya (Sharf, 2012).
Penutup
Berdasarkan uraian terdhulu, pada akhirnya dapat disimpulankan bahwa terdapat perbedaan yang
signifikan antara siswa yang yang mendapatkan perlakuan model konseling kelompok Realitas dalam
meningkatkan self-discipline dengan siswa yang tidak mendapatkan perlakuan. Siswa yang mendapatkan
perlakuan model konseling kelompok Realitas dalam meningkatkan self-discipline memiliki tingkat disiplin
diri yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang tidak mendapatkan perlakuan. Dengan demikian
Konseling Kelompok Realitas efektif untuk meningkatkan self-discipline siswa SMP.
Untuk itu, konselor sekolah diharapkan menggunakan manual model Konseling Kelompok
Realitas dalam membantu siswa meningkatkan disiplin dirinya.Penelitian lanjutan juga perlu dilakukan

182

dengan melibatkan variabel yang sama pada kelompok subjek yang berbeda ataupun dengan variabel lain
pada kelompok subjek yang sama ataupun berbeda.

Daftar Pustaka
Astuti, N.W.P. (2010). http://karya-ilmiah.um.ac.id/index.php/BK-Psikologi/article/view/10188
Bryant, T. (2011). Self-Discipline in 10 days: How To Go From Thinking to Doing. Seattle, Washington:
HUB Publishing.
Comiskey P. E (2007) Using Reality Therapy group training with at-risk high school freshmen.
PsycINFO Database Record. APA
Corey, G. (2009). Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy. Belmont, CA Brooks/Cole.
Corey, G. (2012). Theory and Practice of Group Counseling. Belmont, CA Brooks/Cole.
Fauzan, L. & Bisri, M. (2013) Self-discipline Siswa sebagai Masalah dalam Bimbingan dan Konseling
Kelompok: Gambaran dan Model Bantuannya. Ilmu Pendidikan. Vol.4. No 1. Januari 2013:16-23.
Fauzan, L. & Bisri, M. (2013) Pengembangan Model Konseling Kelompok Realitas untuk Meningkatkan
Self-discipline Siswa SMP. tahap 2. LP2M Universitas Negeri Malang.
Gallozzi, C. (2007). Developing Self-Discipline. http://www.personal-development.com/
chuck/selfdiscipline.htm. diakses 20-03-2012.
Hereford, Z. (2008). Self-discipline The Fondation for Success. http://www.essentiallifeskills.net/selfdiscipline.html. diakses 20-03-2012.
Janke, M. (2008) Discipline Deficiency and the excuse virus. http://self-discipline.8m.com/
discipline_deficiency.htm. diakses 20-03-2012.
Kim, J. (2005) Effectiveness of Reality Therapy Program for Schizophrenic Patients. Journal of Korean
Academy of Nursing Vol. 35, No. 8, 1485
Laitsch, D. (2006). Self-Discipline and Student Academic Achievement. Psychological Science , Volume
4 (6),
Mason, C. P & Duba, J. D. (2009). Using Reality Therapy in Schools: Its Potential Impact on the
Effectiveness of the ASCA National Model. International Journal of Reality Therapy, 29 (2), 512.
Paone,T.R., Maddux, C. & Rothman, T. (2008). A school-based group activity therapy intervention with
at-risk high school students as it relates to their moral reasoning. International Journal of Play
Therapy Volume: 17, Issue: 2, Pages: 122-137
Pavlina, S. (2005) Self-Discipline. http://pavlina.com/self-discipline. diakses 20-03-2012.
Prijosaksono, A dan Sanjaya, D. (2002). Use Your 7 Power. Jakarta : PT. Elex Media Komputindo
Kelompok Gramedia.
Puspitaningtyas, R. (2009). Pengaruh Disiplin Belajar dan Fasilitas Belajar terhadap Prestasi Belajar IPS
pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Kartasura Tahun 2008.2009. Skripsi. UMS.
Sasson R. (2010). Will Power and Self-discipline.
http://www.successconsciousness.com/index_000006.htm.
Sudrajat, A. (2008) Disiplin Siswa di Sekolah. http://akhmadsudrajat.wordpress.com/ 2008/04/04/disiplinsiswa-di-sekolah. diakses 20-03-2012.
Widodo, B. (2009). Keefektivan Konseling Kelompok Realitas untuk Meningkatkan Perilaku Disiplin
Siswa di Sekolah. http://karyailmiah.um.ac.id/ index.php/tesis/article/view/3055. Diakses 28-042013.

183

KONSELING KETERAMPILAN HIDUP
( LIFE SKILLS COUNSELLING) BERLANDASKAN TRI HITA KARANA
DALAM PEMBERDAYAAN MANUSIA MEMASUKI MEA
Dr. A. A. Ngurah Adhiputra, MPd.
E-mail: doktor.adiputra @ yahoo.com
Fakultas Ilmu Pendidikan – Program Studi Bimbingan dan Konseling
Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) PGRI BALI

Abstract
Study to develop life skills counselling model based on Tri hita karana this kind of general
lifeskills is needed because counselling services in most society tend to be academic and vocational
oriented. Therefore model life skills counselling is a must especially in society.
The study wast conducted in four steps. First, preliminary overviews of general life skills
education program in society. Second, developed a 'hypothetical' life skills counselling model based on
Tri hita karana and formulated an early life skills counselling service. Third, conducted a model
validation though seminars and try -out model and data analysis. At this stage researcher conducted a data
analysis betwen pre-test and post-test implementation. Fourth, based on data analysis, researcher
formulated a final model of Tri hita karana-based counselling service and further socialize, disseminate,
and strengthen the place of counselling in society.
In general, this research has achieved the targeted goals; to develop a Tri hita karana-based
model in life skills counselling. The model can be useful for tutors, technical resource persons, counselor,
organizer of fasilitator.
Key word: Tri hita karana, Self-Learning, Independence & Communicative, Cooperative
& Colaborative, and Solidarity
Pendahuluan
Konseling keterampilan hidup (Life Skills Counselling) dalam pemberdayaan manusia memasuki
masyarakat ekonomi Asean memiliki suatu tantangan bagi konselor bagaimana memperdayakan manusiamanusia yang terampil, siap bekerja, berusaha, dan mandiri (BBM). Pada perkembangan dunia global,
tenaga konselor dan praksis bimbingan dan konseling tidak hanya akan terbatas pada tatanan sekolah,
melainkan pada tatanan masyarakat yang lebih luas, dimana sekolah hanya merupakan salah satu bagian
dari tatanan masyarakat tersebut.
Mencermati kondisi perkembangan masyarakat ekonomi Asean terhadap konseling keterampilan hidup di
masyarakat, memberi isyarat bahwa sangat dibutuhkan suatu jenis layanan konseling keterampilan hidup
berlandasan Tri Hita Karana yang efektif untuk pemberdayaan manusia (warga kelompok belajar)
memasuki masyarakat ekonomi Asean agar menjadi lebih terbuka dan kiritis serta tidak mudah menyerah.
Upaya yang dilakukan pemerintah dan asosiasi bimbingan dan konseling (ABKIN) serta pengalaman
pembimbing di sekolah selama ini, tampaknya belum cukup memberikan pemberdayaan yang efektif
terhadap warga kelompok belajar di masyarakat.
Hasil studi pendahuluan yang dilakukan peneliti untuk mengetahui kondisi awal tentang
penguasaan keterampilan hidup pada cakupan tahun pertama- 2008, cakupan tahun kedua- 2009, dan
cakupan tahun ketiga - 2013 menunjukkan bahwa program pembelajaran disusun untuk satu tahun ajaran
yang meliputi teori 30 % dan praktek 70 %. Kurikulum didasarkan pada kebutuhan belajar masyarakat
dan sasaran konseling keterampilan hidup dipokuskan pada kecakapan khusus (Specipic lifeskills), yaitu.
Kecakapan akademik dan vokasional. Pada akhir proses pembelajaran diadakan evaluasi terhadap tingkat
kemampuan warga kelompok belajar baik teori maupun praktek.
Pemberdayaan warga kelompok belajar melalui layanan konseling keterampilan hidup berlandaskan Tri
Hita Karana dalam bidang pendidikan, yaitu bertujuan untuk mengubah perilaku warga kelompok belajar
keterampilan hidup. Aspek-aspek yang dikembangkan dalam pendekatan ini juga meliputi aspek kognitif,
hubungan interpersonal, konsep diri, afeksi dan kondisi kesehatan dalam belajar. Aspek-aspek ini
dikembangkan secara terintegrasi telah tersirat dalam konsep Tri Hita Karana, yaitu menjaga
keseimbangan antara manusia dengan Tuhan (parahyangan), menjaga keseimbangan antara manusia
dengan manusia (pawongan), dan menjaga keseimbangan antara manusia dengan alam lingkungan
(palemahan).

184

Metode Penelitian
Sesuai dengan tujuan penelitian, maka rancangan penelitian yang digunakan adalah disain
research and development (Borg, 1979; Borg dan Gall, 2003) dengan terlebih dahulu melakukan modifikasi. Sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dan kuantitatif secara terpadu
(mixing) agar dapat mencapai hasil yang optimal (Creswell, 1994: 145). Denzin (1970) mengungkapkan
bahwa kombinasi strategi dalam penelitian bertujuan untuk menguji suatu masalah penelitian yang sama
sehingga akan meningkat perhatian terhadap validasi konklusi yang diperkaya dengan data (dalam
Branen, 1993: 13). Dalam proses pengumpulan data, pendekatan kualitatif menekankan peran peneliti
sebagai instrumen utama (key instrument) melalui pengamatan dan wawancara mendalam. Sedangkan
pendekatan yang secara kuantitatif pengujian dilakukan dengan eksperimental menggunakan the one
group pretest-posttest design (Fraenkel J dan Wallen Norman E, 1993: 246) yaitu melakukan analisis data
antara sebelum penerapan model (pre test) dengan sesudah penerapan model (post test) pada warga
kelompok belajar keterampilan hidup.
Hasil dan Bahasan
Temuan penelitian pendahuluan cakupan tahun ketiga-2013 yang dilakukan oleh peneliti untuk
mengetahui kondisi awal tentang penguasaan kecakapan umum keterampilan hidup warga kelompok
belajar menunjukkan bahwa rata-rata 45,65 persen warga kelompok belajar yang menguasai kecakapan
umum keterampilan hidup dari ketiga wilayah penelitian, yaitu: Kabupaten Bangli, Klungkung, dan
karangasem Provinsi Bali (pre test).
Subyek dalam penelitian ini adalah para warga kelompok belajar keterampilan hidup di tiga
Kabupaten Provinsi Bali. Sedangkan aspek yang diteliti adalah efektivitas layanan konseling
keterampilan hidup berlandaskan Tri Hita Karana pada Warga Kelompok Belajar di Provinsi Bali.
Adapun subjek penelitian ini berjumlah 85 orang warga kelompok belajar yang terbagi atas empat
kelompok belajar keterampilan hidup di tiga wilayah penelitian. Adapun sebaran jumlah subjek ke dalam
tiap kelompok dapat dilihat dalam tabel berikut.

Tabel : 01
Jumlah Subjek Menurut Gender dan Kelompok Belajar Keterampilan Hidup
di Tiga Wilayah Penelitian, yaitu: Kabupaten Bangli, Klungkung, dan Karangasem Provinsi Bali

Gender

Laki-laki
Perempuan
Jumlah

Menganyam
bambu Bangli

Uang
Kepeng
Klungkung

Mengulat
lontar
Klungkung

Mengulat
bambu
Kr.Asem

25

8

5

5

5

7

5

25

30

15

10

30

Total

43
42
85

Tabel: 02
Penguasaan ‗Genera Life Skills’ Pada Warga Kelompok Belajar
di Tiga Wilayah, yaitu: Kabupaten Bangli, Klungkung, dan Karangasem Provinsi Bali (Pre Test)
Penguasaan ‗Genera Life Skills’
Genera Life Skills
(dalam %)
A. Menganyam Bambu (Bangli)
47,09
B. Uang Kepeng (Klungkung)
44,47
C. Mengulat Lontar (Klungkung)
46,20
D. Mengulat Bambu (Kr.Asem)
44,82
Rerata
45,65

185

Tabel: 03
Penguasaan ‗Genera Life Skills’ Pada Warga Kelompok Belajar
di Tiga Wilayah, yaitu: Kabupaten Bangli, Klungkung, dan Karangasem Provinsi Bali (Pre Test
dan Post Test)
Penguasaan ‗Genera Life Skills’
(dalam %)
Genera Life Skills
Pre Test
Post Test
1. Menganyam Bambu (Bangli)
47,09
48,79
2. Uang Kepeng (Klungkung)
44,47
45,91
3. Mengulat Lontar (Klungkung)
46,20
47,93
4. Mengulat Bambu (Karangasem)
44,82
49,01
Rerata
45,65
47,91
Jika dibuat dalam grafik, peningkatan itu tampak seperti di bawah ini

Simpulan
Materi layanan konseling keterampilan hidup dalam pemberdayaan pada warga kelompok belajar di
masyarakat adalah sebagai berikut: (1) Konseling kelompok adalah proses konseling untuk
menumbuhkan rasa tanggungjawab peribadi dalam belajar kelompok, mengembangkan sikap saling
pengertian antaranggota kelompok belajar, membangun kebersamaan antaranggota kelompok kerja,
menjalin hubungan antara pemimpin dan antaranggota lainnya dalam kelompok kerja, menjalankan tugas
yang dibebankan kepada kelompok dalam mencapai target/tujuan yang diinginkan bersama, mengambil
keputusan secara kolektif, memiliki sikap saling menghormati antaranggota kelompok, menyelesaikan
pertikaian secara damai antaranggota lain dalam kelompok belajar, dan menerima dengan tulus atas
perbedaan-perbedaan peribadi anggota kelompok kerja dan (2) Konseling individual adalah proses
konseling untuk memahami keunggulan (kelebihan) dan kelemahan dirinya sendiri, mengembangkan
kemampuan berpikir simbolis dan kemampuan melakukan komunikasi yang efektif, mampu
membelajarkan diri sendiri, mampu mengambil keputusan, mengarahkan diri, mengembangkan diri, serta
menyesuaikan diri sesuai dengan norma-norma yang berlaku di lingkungan belajar, tidak bergantung
kepada bantuan orang lain, mampu berperilaku fleksibel dalam berkomunikasi dengan anggota kelompok
kerja, memiliki itikad dan sikap yang positif untuk bekerja sama dalam kelompok, mampu membangun
kebersamaan kelompok dalam bekerja sama, dan adanya sikap saling menghormati, kesediaan menerima
dengan tulus, serta penghormatan terhadap perbedaan-perbedaan dalam kelompok belajar.
Adapun pengorganisasian materi konseling keterampilan hidup berlandaskan Tri hita karana
dapat dijelaskan dalam matrik keterampilan berpikir dan bertindak dalam lingkup pelaksanaan layanan
konseling keterampilan hidup.
Keterampilan Berpikir
1.

Mengenal Diri
Memahami keunggulan dan kelemahan diri
dan masa depanya.

Keterampilan Bertindak

Menunjukkan cara menguasai suatu
keterampilan tertentu dengan keahliannya

186

Memiliki keyakinan, perasaan, atau sikap
seseorang tentang dirinya sendiri.
Kelemahan: kurang pemaknaan individu
tentang dirinya sendiri dan pandangan orang
lain tentang dirinya.
2. Membelajarkan Diri
Menyadari bahwa belajar bagaimana belajar.
Mampu mengembangkan kepribadian yang
lebih baik dan mampu bertindak mandiri
serta memiliki rasa tanggung jawab.
Kelemahan: kurang memiliki rasa tanggung
jawab sendiri dalam belajar.
3. Kemandirian
Mampu mengambil keputusan, mengarahkan
dan mengembangkan diri serta
menyesuaikan diri dengan norma-norma
yang berlaku di lingkungannya.
Kelemahan: kurang mampu membuat
keputusan berkenaan dengan diri dan
lingkungannya.

Menganalisis potensi yang dimiliki untuk
dikembangkan secara optimal.
Melakukan sesuatu yang tidak mendukung
pengembangan dirinya.

Mencari informasi bagaimana cara
belajar yang efektif.
Menganalisis kegunaan pengembangan diri
dalam belajar untuk meningkatkan
tanggung jawabnya.
Kurang dapat melakukan pembelajaran diri
dengan efektif.

Mencari kemungkinan yang mengarah pada
pengembangan diri dan penyesuaian diri dengan
norma-norma masyarakat.
Kurang dapat mengarahkan dirinya sesuai
dengan keputusannya.

4. Komunikatif
Mampu menyampaikan pesan, baik secara
verbal maupun nonverbal.
Keberhasilan menunjukkan perilaku yang
fleksibel dan mengelola interaksi.
Kelemahan: berperilaku yang kurang
fleksibel dan tidak memiliki keterampilanketerampilan sosial.
5. Kooperatif dan kolaboratif
Dapat bekerja sama dalam kelompok.
Adanya sifat saling mempercayai di
antara anggota kelompok.
Kelemahan: kurang memiliki tenggang rasa
serta tanggung jawab kelompok.

6. Solidaritas
Mampu mengambil keputusan secara
kolektif, bekerja sama, bekerja dalam
regu/kelompok, dan mampu memecahkan
masalah-masalah secara damai.
Adanya sikap hidup saling menghormati
antaranggota kelompok.
Kelemahan: kurang adanya kesediaan
menerima dan tulus serta penghormatan pada
perbedaan pribadi.

7. Akademik
Menguasai konsep-konsep dasar keilmuan,
yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Menguasai konsep-konsep kunci keilmuan,
yaitu prinsip-prinsip utama dan pohon

Menemukan cara berkomunikasi yang
komunikatif.
Menganalisis kegunaan berperilaku yang pantas
dalam berbagai macam konteks perilaku.
Kurang dapat mengidentifikasikan
pemeliharaan dan menumbuhkan rasa empati.

Menunjukkan sifat kerja sama yang baik dalam
kelompok.
Menganalisis kegunaan membangun
kebersamaan dalam kelompok.
Melakukan sesuatu yang tidak memiliki
itikad dan sikap yang baik antaranggota
kelompok.

Mencari kemungkinan pemecahan masalahmasalah secara damai.

Menganalisis keguanaan pengambilan
suatu keputusan secara kolektif.
Melakukan sesuatu yang tidak menunjukkan
sikap hidup yang saling menghormati.

187

keilmuan.
Kelemahan: penguasaan yang kurang
memiliki kecakapan proses dan kurang
mampu menerapkan konsep.

8. Vokasional
Menerapkan konsep-konsep kunci keilmuan.

Menunjukkan cara menguasai konsep-konsep
dasar keilmuan dan konsepkonsep kunci kelimuan.
Menganalisis kegunaan memiliki
kecakapan proses, yaitu kecakapan yang
dipersyaratkan.
Kurang dapat menerapkan konsep dalam
kehidupan sehari-hari.

Kelemahan: kurang memiliki cara
menerapkan keterampilan proses yang harus
dimiliki oleh warga belajar.
Mencari kemungkinan penerapan
konsep-konsep kunci keilmuan.
Melakukan sesuatu yang kurang dapat
menerapkan keterampilan proses yang
harus dimiliki dalam kehidupan seharihari di lingkungan masyarakat.
Selanjutnya bagaimana konsep Tri Hita Karana sebagai landasan dalam memberikan layanan
konseling keterampilan hidup di masyarakat dapat dideskripsikan sebagai berikut:
No.
Konsep
Nilai – nilai Budaya
General Lifeskills
Tri Hita Karana
Warga Kelompok
Belajar
1.
Parahyangan :
Memberikan bimbingan
Moksartam jagathitaya
Pengendalian situasi,
menjalankan ibadah atau
caiti dharma: menyiratkan
motivasi bertindak,
persembahyangan,
gambaran manusia hidup
kesediaan mengambil resiko,
melaksanakan upacara
di dunia bertujuan untuk
memahami
Yadnya dan upacara
Adat mencapai kesejahtraan
keunggulan dan kelemahan.
lahir dan batin.
Wyapi-wiyapaka: sebagai
azas manusia selalu ingat
bahwa Tuhan selalu ada
dimana-mana dan selalu ingat
bersembahyang
atau beribadah.
Menyadari kemampuan
Rwa bhineda: (menghargai
belajarnya, mampu
perbedaan/dua yang berbeda)
memecahkan masalah
adalah menumbuhkan sikap
sendiri, mengembangkan
adanya saling pengertian antar
sikap saling pengertian.
sesama.
Jagathita: (hidup bahagia
Mengenal diri dan
dan sejahtra di dunia) adalah
lingkungan secara obyektif,
agar manusia mampu
membuat keputusan secara
mengarahkan diri dan
tepat,
mewujudkan diri untuk
mengarahkan diri sesuai
mencapai kesejahtraan di dunia. dengan keputusan, dan
mampu mewujudkan diri.
2.
Pawongan :
Memberikan bimbingan
Tri kaya parisudha:
Mampu menyampaikan ide atau
yang menunjukkan
mengajarkan manusia untuk
pesan, perilaku
kepatuhan warga belajar
selalu berpikir (manacika),
yang fleksibel, dan
terhadap Pendeta dan
berkata (wacika), dan bertindak
mampu mengutarakan
para Sulinggih,
atau berbuat (kayika) yang baik. perasaannya.
kehidupan mekrame
Catur purusartha: yaitu

188

Banjar, mekrame Adat,
dan kekerabatan

3.

Palemahan :
Memberikan bimbingan
untuk melestarikan alam
lingkungan sekitar,
menumbuhkan
kepedulian cinta pada
keasrian lingkungan,
dan menjaga keindahan
dan kebersihan
lingkungan di wilayah
tempat kerja

berhasil terwujudnya
dharma (perbuatan baik), artha
(materi/harta), kama
(kesenangan), moksa
(keseimbangan/keharmonisan) dalam kehidupan
manusia sehari-hari.
Tat twan asi: (konsep –
cinta kasih, dan menyadari
kehidupan semua mahluk hidup
sebagai satu kesatuan yang
utuh) adalah mengajarkan
manusia untuk senantiasa
menghindarkan diri dari
kekerasan dan kekejaman.
Karma phala: (hukum –
sebab akibat)
Tri guna: (tiga karakter/
perilaku) yaitu satwan
(bijaksana, jujur, setia),
rajas (penuh nafsu/rakus),
tamas (malas).
Paras paros salunglung
sabayataka saharpanaya:
Menyiratkan nilai sikap,
manusia belajar memahami dan
melakukan
praktek hidup toleran,
seia sepenanggungan.

Mampu mengerjakan tugas
secara bersama, adanya
itikad dan sikap para
anggota kelompok,
memiliki suatu tujuan
bersama, dan terbangunnya rasa
kebersamaan.

Menunjukkan sikap saling
pengertian, mampu
bekerjasama, bekerja dalam
kelompok, memecahkan
masalah secara damai, dan
menghargai keragaman budaya.

Anuduhkna ajnyana sandhi:
Menyiratkan manusia tidak akan
berbuat merusak, dan
memporandakan alam.

Penutup
Berdasarkan hasil penelitian cakupan tahun ketiga-2013 ternyata temuan tentang layanan
koneling keterampilan hidup berlandaskan Tri hita karana ini mempunyai efektivitas yang cukup tinggi,
dan validitas internal yang memadai. Oleh karena itu disarankan bahwa pendekatan layanan konseling
keterampilan hidup (life skills counselling) berlandaskan Tri hita karana ini diperkenalkan kepada
khalayak pendidikan dalam menghadapi masyarakat ekonomi Asean, khususnya para pamong
belajar/tutor, nara sumber teknis, pendamping atau pembimbing, serta bagi para penyelenggara atau
pengelola di tingkat Kabupaten dan pengelola di tingkat Desa melalui ‗pelatihan khusus‘ mengenai
penggunaannya di masyarakat, agar pelaksanaan model ini di lapangan tidak menjadi kabur maknanya
hanya karena ketidakbiasaan menggunakannya. Bahkan walaupun pendekatan layanan konseling
keterampilan hidup berlandaskan Tri hita karana ini menurut data emperis memiliki efektivitas yang
cukup tinggi, tidak ada salahnya bila sebelum dipergunakan dilakukan uji coba lapangan yang lebih luas
yang dapat dilakukan secara simultan bersamaan dengan penggunaannya. Kecakapan umum keterampilan
hidup (general lifeskills) warga kelompok belajar akan mampu menghadapi tantangan pekerjaan yang
semakin kompleks dan rumit memasuki masyarakat ekonomi Asean, kiranya tidak berlebihan bila
pendekatan layanan konseling keterampilan hidup berlandaskan Tri hita karana ini disarankan dipelajari
secara mendalam oleh para pamong belajar/tutor, nara sumber teknis, pendamping atau pembimbing, dan
para penyelenggara atau pengelola baik di tingkat Kabupaten dan pengelola di tingkat Desa. Agar tidak
terjadi lagi kekeliruan penggunaan prosedur model layanan konseling keterampilan hidup berlandaskan
Tri hita karana dalam pemberdayaan manusia memasuki masyarakat ekonomi Asean menjadi prosedur
pembinaan pembelajaran, akan lebih menguntungkan kiranya seandainya pendekatan model layanan
konseling keterampilan hidup berlandaskan Tri hita karana ini disarankan untuk dimasukkan ke dalam
kurikulum program pembelajaran sebagai salah satu materi pembelajaran.

189

1. Keterampilan Uang Kepeng (Jinah Bolong) di Dusun Kamasan Klungkung

2. Keterampilan Mengulat Lontar di Dusun Bumbungan Klungkung

3. Keterampilan Mengulat Bambu di Dusun Bang Kubu Karangasem

4. Keterampilan Menganyam Bambu di Dusun Malet Gusti Susut Bangli

DAFTAR PUSTAKA
Adimihardja, K. & Hikmat, H. (2001). Strategi Pemberdayaan Masyarakat. Bandung: Humaniora Utama
Press.
Adhiputra, A.A.N. (2002). ―Pengembangan Model Layanan Bimbingan Berbasis Nilai Budaya lokal
untuk Meningkatkan Kreativitas Anak‖. Journal Psikopedagogia, 2 (4), 223-239.

190

Adhiputra, A.A.N/. (2013)."Model layanan Life Skills Counselling (Bimbingan Keterampilan Hidup)
Berlandaskan Tri Hita Karana di Provinsi Bali". Denpasar: Proseding Kongres XII dan Konvensi
Nasional BK XVIII ABKIN 2013.
Arwata, M. 2003. ―Kesemestaan Tri Hita Karana‖. Majalah Gumi Bali Sarad [Salah Makna Tri Hita
Karana], vol.38, 34 – 35. Tersedia: http://www.sarad.bali.com [21 Juli 2003].
Atmaja, P. 1999. Tri Hita Karana dalam Pembangunan Bali. Denpasar: PT. Bali Post.
Bagian Proyek Life Skills Diklusepa. 2002. Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan
Pemuda Nomor: PKS69/BPLS/VIII/2002, tertanggal; 28 Agustus 2002, Perjanjian Kerja Sama
Penyelenggaraan Pendidikan Keterampilan Hidup (Life Skills), Bidang Pendidikan Luar
Sekolah dan Pemuda. Jakarta: Depdiknas.
Biro Organisasi Setda Propinsi Bali. 2002. Peraturan Daerah Propinsi Bali No. 4 tahun 2002 tentang
Pembentukkan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD)
Perda Propinsi Bali.
Direktorat Pendidikan Tenaga Teknis. 2002. Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Keterampilan Hidup.
Jakarta: Depdiknas.
Fraenkel, J. R. and Wallen, N. E. 1993. How to Design and Evaluate Research in Educaton. New York:
Mc.Graw Hill Inc.
Kartadinata, S. 2000. ―Pendidikan untuk pengembangan Sumber Daya
Manusia Bermutu
memasuki bad XXI: Implikasi
Bimbingannya‖. Journal Psikologi Pendidikan dan
Bimbingan. 1 (1), 1 – 12.
Natawidjaja, R. 2000. ―Reposisi program Studi bimbingan dan penyuluhan dalam menjawab tantangan
masa depan‖ (Sebuah Analisis dan rekomendasi mengenai Visi dan Penilaian-Diri Program
Studi Bimbingan dan Penyuluhan). Journal Psikologi Pendidikan dan Bimbingan. 1 (2), 71 –
86.
Nelson-Jones, R. 1997. Practical Counselling & Helping Skills. Texts and Exercises for the Lifeskills
Counselling Model. Fourth Edition. London: British Library Cataloguing in Publication Data.
Pedersen, P.B., et al. 1985. Handbook of Cross-Cultural Counselling and Therapy. Greenwood Press.
Westport, Connecticut London, England.
Sekretaris Negara RI. 1989. Undang-Undang Nomor 2/1989, tentang Sistem Pendidikan Nasional,
Jakarta.
Sukartini, SP. 2002. Model Konseling Keterampilan Hidup untuk Mengembangkan Karakteristik Pribadi
yang Tegar, Disertasi Doktor pada Program Pascasarjana UPI Bandung: tidak diterbitkan.
Surya, M. 1997. Bimbingan untuk Mempersiapkan Generasi Muda Memasuki Abad-21 (Pendekatan
Psiko-pedagogis). Pidato Pegukuhan Guru Besar Tetap dalam Psikologi Umum IKIP Bandung,
Tanggal 17 Oktober 1997.

191
PENGELOLAAN PELATIHAN BIMBINGAN KETERAMPILAN HIDUP

INSTRUMENTAL INPUT
VISI & MISI
DIKNAS
(BBM)

BPKB TK I

Ib
SKB TK II/Kota

II

INPUT

1.

Perencanaan

Merumuskan
Tujuan Lay
Life Skills
Counselling

Ic
Warga Klp
Belajar/
Sasaran
Program

Merumuskan
Pola Lay
Life Skills
Counseling

Kebutuhan
Pembelajaran
Keterampilan

Warga Masyarakat:
- Putus sekolah

- Kurang produktif
- Kurang pengetahuan
- Keluarga miskin
- Kurang keterampilan
- dsb.

LEMBAGA DUNIA USAHA
PROSES

Pengembangan
Strategi :
Pembelajaran

Keterlibata
Warga kelompo
Belajar

Kondisi riil Layanan BKH:
- kurang menyentuh aspek –
aspek psikologis
- memfokuskan pada bimb
akademik & vokasional
- belum memiliki visi yg
jelas tentang konseling

Menerapkan
Fungsi-fungsi
Psikologis dan
Tri Hita Karana

Kepala Desa/
Lurah

Pamong belajar/Tutor,
NST dan Pendamping

Mengembangkan
Fungsi-fungsi
Psikologis dan
Tri Hita Karana

Life Skills

Ia

IV
2. Pelaksanaan
Melakukan
Tahaptahapan
Lay Life skills
Counselling
Melibatkan
Warga
Kelompok
Belajar

III

Basis
THK

Gambar: Model Pelatihan Lifeskills Counselling Berlandaskan THK dalam
Pemberdayaan Manusia Memasuki MEA

LPD

Basis
Sosial

Basis
Ekonomi

EVALUASI
HASIL
PERLAKUAN

V
OUTPUT
- memahami
- menerima
- mengarahkan
- mengembang
kan layanan
life skills
counselling

OUTCOME
WKB yang
terampil
siap bekerja,
berusaha, dan
mandiri (BBM)

Basis
Potensi daerah

192

KETERANGAN :
Ia
Ib
Ic
II
III

IV
V

: Identifikasi kondisi sumber daya lokal dan potensi daerah
: Pendekatan dan koordinasi dengan Diknas – Program Pembelajaran & Model
Konseling Keterampilan Hidup
: Penentuan sasaran dengan memadukan kebutuhan warga kelompok belajar &
visi dan misi Diknas
: Menyusun perencanaan model layanan Life Skills Counselling berlandaskan
THK dalam Pemberdayaan Manusia memasuki MEA (Input)
: Pelaksanaan program pelatihan dan proses layanan life skills counseling
berlandaskan Tri Hita Karana dalam Pemberdayaan Manusia memasuki MEA
(Process)
: Evaluasi hasil perlakuan (Out-Put)
: Monitoring dan evaluasi pasca pelatihan layanan life skills counseling
berlandaskan THK (Out-Come)
: Ruang lingkup kegiatan dan aspek kajian model layanan konseling
keterampilan hidup
: Sub bagian dari kajian dan aspek model layanan konseling keterampilan hidup
: Garis koordinasi mulai tahap perencanaan sampai implementasi model layanan
konseling keterampilan hidup
: Tahapan kajian dan pengembangan model layanan life skills counseling
berlandaskan Tri Hita Karana .
: Keterkaitan aspek kajian model layanan life skills counseling berlandaskan
Tri Hita Karana dalam Pemberdayaan Manusia Memasuki MEA.

193

1.
2.
3.
4.
5.
6.

2.

Rasional
Kebutuhan terhadap Layanan Konseling
Visi dan Misi Konseling
Tujuan Pelaksanaan Layanan Konseling
Sistem Pendukung Layanan Konseling
Pengembangan Model Layanan Konseling
Keterampilan Hidup Berlandaskan
Tri hita karana dalam Pemberdayaan
Manusia memasuki MEA
Merencanakan

2. Melaksanakan

Merumuskan
Tujuan
Konseling

Pengembangan
Strategi :
Pembelajaran
Pemberdayaan

Mengembangkan
Fungsi-fungsi
Psikologis dan
Budaya Lokal

Merumuskan
Pola
Konseling

Keterlibatan
Warga Belajar

Menerapkan
Fungsi-fungsi
Psikologis dan
Budaya Lokal

4. Hasil
Peningkatan ‗general lifeskills‟
Warga Belajar
a. Memahami, menerima, mewujudkan,
mengaktualisasikan, dan
mengembangkan keterampilan hidup
b. Warga Belajar yang terampil
Siap bekerja, berusaha, dan mandiri
(BBM).

Melakukan
Tahaptahapan
Layanan
Konseling
Melibatkan
Warga Belajar

3. Evaluasi Hasil Perlakuan

5. Peranan Pembimbing

(Pamong belajar/Tutor, dan
Nara Sumber Teknis
Gambar: Model Layanan Konseling Keterampilan Hidup
Berlandaskan Tri Hita Karana dalam Pemberdayaan Manusia Memasuki MEA

194

PENGARUH KONSELING TERHADAP PENINGKATAN KEPERCAYAAN DIRI DAN
ORIENTASI MASA DEPAN NARA PIDANA DI LEMBAGA PEMSYARAKATAN ANAK
PEKANBARU
Oleh:
Prof. Dr. Zulfan Saam, MS
Alamat email zulfansaam@yahoo.com
Program Studi Bimbingan dan Konseling FKIP Universitas Riau
Drs. Raja Arlizon, M.Pd
Alamat email rajaarlizon@yahoo.com
Program Studi Bimbingan dan Konseling FKIP Universitas Riau
Abstract
The effect of counseling on confidence and future orientation for child inmates in children correctional
institution at Pekanbaru. Child inmate is a person who have age under 21st years old, have judge of guilty by
a court and convicted to prison. The purpose of this research was to determine the effect of counseling on
convidence and future orientation for child inmates. Subject on this research were 12 inmates drug cases
consisting of 6 male and 6 female that choosing by purposive way. This research is a quasy-experimental by
give counseling for group and individual for the subject of further will analysis using qualitative method. The
conclutions of the research are as follows : a. There have effect of counseling on confidence for child
inmates, b. There have effect of counseling on future orientation for child inmates. They future orientation be
better than before they got the counceling. Several subject in this research says that they will continue their
education after being released and the others says will get some good job for their life.
Keywords : child inmate, children correctional institution, group and individual counseling, confidence and
future orientation.
Pendahuluan
Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa. Dalam masa tersebut
sebagian remaja mengalami ―kegoncangan diri‖ seperti memberontak terhadap orang tua dan lingkungan
sosial, melanggar norma bahkan yang melanggar hukum sehingga dijatuhi hukuman penjara. Menurut Praja
dan Sasmita (1995) pidana penjara bertujuan menimbulkan rasa derita bagi terpidana karena hilangnya
kemerdekaan ―bergerak‖, bertaubat, memberikan pendidikan agar menjadi anggota masyarakat yang baik,
dengan kata lainbertujuan untuk pemasyarakatn narapidana. Secara lebih rinci Muladi (1995) menyebutkan
ada empat kategori tujuan pemidanaan yaitu: (a) pencegahan; menghalangi sipelaku mengulangi
kejahatannya, (b) perlindungan; melindungi masyarakat dari tindak pidana yang meresahkannya sehingga
mengganggu aktivitas, (c) memelihara solidaritas masyarakat; pemidanaan merupakan penegakan hukum
sehingga mencegah dendam perorangan dalam masyarakat, dan (d) pengimbangan; maksudnya setiap orang
dapat berbuat jahat dan tanpa khawatir akan ada pengimbangan terhadap perbuatan jahat tersebut. Aspek
utama sistem pemasyarakatan adalah pembinaan narapidana yang bertujuan setelah selesai menjalankan
hukuman dapat berperilaku sebagai anggota masyarakat yang baik dan berguna bagi diri sendiri, masyarakat
dan bangsa.
Anak atau remaja yang berumur dibawah 21 tahun dan melakukan pelanggaran hukum disebut
narapidan anak (Harsono, 1995). Anak atau remaja yang melakukan pelanggaran hukum tersebut hukuman
kurungan dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS) Anak. Lapas anak adalah tempat pembinaan dan
pendidikan bagi anak negara dan sipil (UU No. 3 Tahun 1997 Pasal 60 Ayat 1). Narapidana anak berhak
memperoleh pendidikan dan latihan baik formal maupun non formal sesuai bakat dan kemauan masingmasing. Lembaga pemasyarakatan merupakan ujung tombak pelaksanaan asas pengayoman melalui
pendidikan, rehabilitasi, reintegrasi dan resosialisasi. Pembinaan yang dilakukan secara terpadu antara
pembina, warga binaan, dan masyarakat untuk meningkatkan kualitas narapidana agar menyadari kesalahan,
memperbaiki diri, dan tidak menanggulangi tindak pidana sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan
masyarakat dan dapat aktif berperan dalam pembangunan dan dapat hidup secara wajar sebagai warga yang
baik dan bertanggung jawab. Pemasyarakatan diartikan dalam arti yang luas dan dalam konteks pedagogis
dan psikologis. Sujatno (2004) mengatakan pemasyarakatan sebagai proses therapiutik artinya narapidana
tatkala masuk LAPAS merasa dalam keadaan tidak harmonis dengan masyarakat di sekitarnya. Di samping
itu, sistem pemasyarakatan juga beranggapan bahwa hakekat perbuatan melanggar hukum oleh warga binaan
pemasyarakat adalah cerminan adanya keretakan hidup, kehidupan dan penghidupan antara yang
bersangkutan dengan masyarakat sekitarnya.

195

Berdasarkan keputusan Menteri Kehakiman RI No. Mo2-PK.04.10 Tahun 1990 pola pembinaan
napi dibagi dalam dua bidang yaitu pembinaan kepribadian dan pembinaan kemandirian melalui latihan
berbagai keterampilan. Meskipun demikian, Saam et.al (2012) melaporkan bahwa pembinaan kepribadian di
LAPAS Anak Pekanbaru masih belum banyak karena keterbatasan tenaga pelaksana dan keterbatasan ahli
psikologi dan bimbingan. Di samping itu, hasil penelitian Irawan (2011) menunjukkan bahwa ruang lingkup
pembinaan di LAPAS Anak Tanjung Pati Sumatera Barat masih terdapat kekurangan dan belum sesuai
dengan tujuan yang ingin dicapai.
Beberapa penelitian menyimpulkan ada pengaruh yang signifikan pelayanan konseling terhadap
pengembangan. Saam (2000) menyimpulkan ada pengaruh yang signifikan pelayanan konseling kelompok
―AKTIF‖ terhadap peningkatan motivasi dan harga diri siswa SMA yang kurang berprestasi. Sementara itu,
Saam et.al (2013) menyimpulkan bahwa pelatihan pengembangan diri dapat meningkatkan ego strenght
narapidana anak di LAPAS Anak Pekanbaru. Selain penelitian yang disebutkan tadi, Yuusuf et.al (2009)
melaporkan bahwa konseling kelompok dapat menuntaskan masalah pribadi (±62%) kasus narkoba di
LAPAS Anak Pekanbaru. Yusuf dkk melaporkan juga bahwa pemberian konseling kelompok dapat
mengurangi rasa kecewa, rasa sedih dan rasa tertekan meratapi di LAPAS Anak. Penelitian lain yang
dilakukan oleh Azti dan Mill (2013) menyimpulkan (a) kelompok teman sebaya yang negatif dapat
mengantarkan sesorang pada perilaku kecanduan narkoba, (b) dukungan sosial memiliki peranan yang
penting dalam penyembuhan kecanduan narkoba, dan (c) harapan masa depan berperan dalam proses
penyembuhan. Jadi, teman sebaya dapat memberi dampak positif atau negatif, tergantung teman yang baik
atau tidak baik serta dukungan sosial seperti orang tua dan terapis akan berperan dalam proses terapiutik.
Berdasarkan hal tersebut dilakukan penelitian dengan judul: Pengaruh Layanan Konseling Terhadap
Peningkatan Keprcayaan Diri dan Orientasi Masa Depan Narapidana di LAPAS Anak Pekanbaru.
Napi anak adalah individu yang berumur di bawah 21 tahun yang melakukan tindak pidana yang
telah diputuskan bersalah majelis hakim dan dihukum penjara selama waktu tertentu yang ditempatkan di
LAPAS anak. Beberapa tugas perkembangan remaja yang harus dilaksanakannya adalah merencanakan masa
depan yang meliputi pendidikan, pekerjaan, dan aktualisasi diri. Tugas-tugas tersebut ada yang dapat
dilakukan oleh remaja dengan lancer tetapi ada pula remaja yang terhambat melakukannya. Remaja yang
sedang menjalani hukuman di LAPAS anak akan mengalami berbagai hambatan karena terbatasnya berbagai
fasilitas dan sumberdaya manusia dalam memberikan pendididkan dan bimbingan terhadap narapidana atau
warga binaan. Nies (2001) menyebutkan beberapa masalah yang dihadapi narapidana anak adalah : (a)
merasa takut akan penerimaan lingkungan, (b) merasa malu bergaul kembali dengan lingkungan sosial, (c)
gangguan harga diri, dan (d) masyarakat cendrung menjauhi mereka. Pernyataan Nies tersebut menunjukkan
bahwa masalah yang dihadapi narapidana adalah kurang mantapnya kepercayaan diri dan hal tersebut perlu
ditingkatkan melalui berbagai pendekatan. Penelitian Yulianti et.al (2005) menyimpulkan bahwa pelatihan
yang diberikan kepada narapidana anak dapat merubah orientasi masa depan mereka kearah yang lebih baik.
Meskipun demikian, Yulianti et.al menyarankan perlu adanya pelayanan dalam bentuk ―correction setting”
dengan pendekatan konseling mengenai orientasi masa depan agar napi tidak putus asa dalam menghadapi
masa depan setelah selesai menjalani masa hukuman.
Pelayanan konseling memberi banyak manfaat bagi individu. Prayitno (2004) menyebutkan tujuan
akhir konseling adalah melahirkan manusia mandiri dan kemampuan pribadi sehingga dapat mengenal diri
dalam lingkungan secara objektif, menerima diri dalam lingkungan secara positif, mengambil keputusan,
mengarakan diri dan mewujudkan diri.
Tahap-Tahap Pembinaan di Lapas Anak
Kegiatan pembinaan yang dilaksanakan di LAPAS Anak dimulai sejak masuknya seseorang
menjadi narapidana sampai kepada narapidana tersebut selesai menjalani pidana bebas bersyarat (Pedoman
Pola Pembinaan Bagi Anak di LAPAS, 2004).
Tahap pembinaan di Lapas dapat di bagi atas:
1. Tahap awal
Pembinaan pada tahap ini dimulai sejak berstatus narapidana sampai menjalani sepertiga masa
pidana. Pada tahap ini dilakukan pengawasan, penelitian dan pengenalan lingkungan untuk menentukan
rencana program pembinaan bagi narapidana selanjutnya. Pada tahapan ini pengawasan dilakukan secara
maximum security. Dalam masa pembinaan tahap awal ini dilakukan pembinaan kepribadian yang dapat
meliputi: pembinaan kesadaran beragama, pembinaan kesadaran berbangsa dan bernegara, pembinaan
kemampuan intelektual/ kecerdasan, pembinaan kesadaran hukum.
2. Tahap Lanjutan Pertama
Tahap pembinaan lanjutan tingkat pertama dimulai sejak narapidana telah menjalani sepertiga
masa pidana sampai setengah masa pidana. Pada tahap pembinaan ini kegiatan pembinaan yang dilakukan
adalah disamping program pembinaan kepribadian juga dilaksanakan pembinaan kemandirian. Kegiatan

196

pembinaan kepribadian ini antara lain dengan memberikan bekal berupa : keterampilan untuk mendukung
usaha-usaha mandiri, keterampilan untuk mendukung usaha industri kecil, keterampilan yang
dikembangkan sesuai dengan bakatnya masing-masing, dan keterampilan unutk mendukung usaha-usaha
industri/ pertanian/ perkebunan dengan teknologi madya/ tinggi. Dalam tahap pembinaan lanjutan
pertama ini pengawasan terhadap narapidana telah menurun kepada pengawasan medium security.
3. Tahap Lanjutan Kedua/ Tahap Asimilasi
Tahap pembinaan terhadap narapidana pada masa ini adalah setelah narapidana menjalani
setengah masa pidana sampai menjalani dua pertiga masa pidana. Tahap ini disebut dengan tahap
asimilasi. Pada tahap asimilasi ini narapidana telah melakukan kegiatan dengan membaurkan diri dengan
masyarakat luar. Pada tahap ini pembinaan narapidana telah dinilai oleh Tim Pengamat Pemasyarakatan
(TPP) yang menurut penilaian tim tersebut narapidana telah memperoleh kemajuan pembinaan mental
dan keterampilan, maka wadah pembinaan diperluas dengan memberikan program asimilasi yakni
membaurkan diri di tengah kehidupan masyarakat (berada di luar tembok)
Program asimilasi itu sendiri dapat dilakukan di dalam LAPAS dan di luar LAPAS. Kegiatannya
dapat berupa: asimilasi sekolah, menjalankan ibadah, mengikuti bakti sosial , olahraga, cuti mengunjungi
keluarga (cmk), bekerja pada pihak ketiga di luar LAPAS, asimilasi di LAPAS terbuka. Dalam tahap
pembinaan ini pengawasan terhadap narapidana sudah beralih kepada pengawasan minimum security.
4. Tahap Akhir (Tahap Integrasi)
Masa pembinaan pada tahap ini adalah narapidana yang telah menjalani dua pertiga dari masa
pidana yang sebenarnya. Menurut TPP narapidana bersangkutan dinilai telah siap diterjunkan kembali
kepada masyarakat selanjutnya, narapidana tersebut dapat diusulkan Pembebasan Bersyarat (PB), Cuti
Menjelang Bebas (CMB) maupun Cuti Bersyarat (CB). Pada tahap ini keseluruhan program pembinaan
dilakukan sepenuhnya di luar Lapas.
Adapun pembinaan terhadap warga binaan yang telah dilakukan sebagai berikut: a. kegiatan
pembelajaran kesetaraan paket A/B/C, b. Program pelatihan keterampilan seperti menjahit, beternak
bebek, reparasi komputer, salon kecantikan, seni tari, instruktur senam, c. Program pembinaan kesehatan
yakni pelatihan kader kesehatan, KIE tentang KIV dan AIDS, pelatihan TIM juru pengamat jentik, senam
kesegaran jasmani, d. program pembinaan mental spiritual yakni: tanam pendidikan Al-Quran, pesantren
kilat, pojok curhat, kebaktian gereja, e. program pembinaan pengetahuan antara lain English in practice,
taman bacaan Andikpas.
Menurut Dirdjosiswo (2006), bentuk-bentuk pembinaan yang dapat dilakukan di dalam Sistem
Pemasyarakatan adalah:
a. Pembinaan di dalam Lapas
Pembinaan di dalam lembaga, dan di luar lembaga asal pembebasan menjalani integrasi ke
tengah-tengah masyarakat dalam bentuk pembebasan bersyarat, dan cuti menjelang bebas, meskipun
bekerja di luar secara mandiri.
b. Pembinaan di luar Lapas
Pembinaan di luar LAPAS ini merupakan tahap integrasi yaitu dalam bentuk pembebasan
bersyarat, cuti menjelang bebas dan cuti bersyarat, pembinaan dan pengawasannya dilaksanakan oleh
Balai Pemasyarakatan. Bentuk pembinaan tehadap narapidana di LAPAS sebagaimana yang
dituangkan dalam Keputusan Menteri 12 Kehakiman Republik Indonesia No. 02-PK. 04-01 tahun
1990 tentang pola pembinaan narapidana/ tahanan pelayanan tahanan
c. Penyuluhan Rohani
Kegiatan penyuluhan rohani dapat juga berupa pemberian ceramah, penyuluhan dan
pendidikan agama. Untuk keperluan ceramah, Penyuluhan dan pendidikan tersebut LAPAS dapat
mengadakan dengan instansi-instansi pemerintah setempat.
Setiap pembinaan baik berupa ceramah, penyuluhan atau pendidikan tentunya harus selalu
mendapatkan pengawasan dari petugas, agar tidak dilakukan untuk tujuan-tujuan yang dapat
mengganggu keamanan dan keterlibatan LAPAS sendiri maupun negara.
d. Penyuluhan Jasmani
Untuk kesehatan jasmani, kepada warga binaan diberikan kegiatan olahraga, kesenian dan
rekreasi di dalam LAPAS sesuai fasilitas yang tersedia. Dalam memenuhi fasilitas yang dibutuhkan
untuk kegiatan sebagaimana dimaksud, warga binaan diperkenankan membawa sendiri peralatan yang
diperlukan, sepanjang tidak merugikan atau mengganggu LAPAS.
Kegiatan pembinaan jasmani berupa senam pagi dapat dipimpin oleh petugas LAPAS dan
dilakukan sekurang-kurangnyadua minggu sekali. Kegiatan pembinaan jasmani ini dapat juga
dilakukan dengan menyelenggarakan kegiatan olahraga lainnya seperti bola volley, bulutangkis, tenis
meja, sepak bola, catur dan lain-lain yang tentunya dilaksanakan di dalam LAPAS dan selalu dalam
pengawasan petugas. Di samping kegiatan di atas, dilaksanakan juga kegiatan rekreasi bagi warga

197

binaan di dalam LAPAS yang dapat meliputi kesenian yang dilakukan warga binaan sendiri maupun
dengan mendatangkan orang luar. Hal ini biasanya dilaksanakan dalam rangka memperingati hari-hari
besar, terutama pada saat-saat menjelang atau pada hari-hari besar nasional dan juga pada saat hari
ulang tahun LAPAS itu sendiri. Penyelengaraan kegiatan rekreasi ini juga berupa pemutaran film,
video, atau televisi dan lain-lain.
e. Bimbingan Bakat dan Keterampilan
Untuk mengetahui bakat setiap warga binaan, maka perlu diadakan penelitian kepada mereka
semenjak pertama kali memasuki LAPAS. Setelah penelusuran terhadap bakat yang dimiliki oleh
warga binaan, maka bakat tersebut akan disalurkan dan dikembangkan atas kecakapan alami yang
dimiliki oleh LAPAS. Bimbingan-bimbingan keterampilan hendaknya sedapat mungkin diarahkan
kepada jenis-jenis keterampilan yang bermanfaat di masyarakat dan yang dapat dikembangkan lebih
lanjut di luar LAPAS, seperti keperluan industri, perkayuan (pertukangan), pertanian, perkebunan dan
sebagainya.
Metode penelitian
Jesnis penelitian ini adalah quasi experiment dengan menggunakan one group pre and post test.
Observasi dilakukan sebelum dalam proses, dan sesudah eksperiment subjek penelitian adalah 12 orang
narapidana di LAPAS Anak Pekanbaru yang dipilih secara purposive sampling dengan ciri-ciri adalah kasus
penyalahgunaan narkoba, berumur antara 13-20 tahun, belum menikah dan masih mempunyai orangtua
lengkap. Subjek penelitian berumur antara 13 – 19 tahun. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik
observasi dan depth interview (wawancara mendalam) yang selanjutnya dianalisis secara kualitatif.
Pelaksanaan Eksperimen
Kegiatan eksperimen dilakukan selama empat hari. Hari pertama sampai dengan ketiga diberikan
konseling kelompok dengan tiga kali pertemuan (sessi). Masing-masing sessi dilaksanakan selama 90 menit.
Tema adalah tentang kepercayaan diri, penyesuaian diri dan orientasi masa depan. Pada hari keempat
dilakukan konseling perorangan untuk pengeksplorasian orientasi masa depan masing-masing subjek
penelitian.

Pembahasan
Masalah dan kondisi psikologis sebelum dan sesudah konseling:
1. Kode : ERN
Vonis : 20 th
Masalah
- Menjadi kurir, pemakai dan pengedar narkoba karena sebagai tulang punggung keluarga
- ODHA
Kondisi Psikologis Sebelum konseling:
- Labil
- Tidak percaya diri
- Sering sakit sakitan
- Obesitas
Kondisi Psikologis Sesudah konseling:
- Kondisi emosi stabil
- Lebih bisa memaknai hidup
- Fisik lebih sehat
- Berat badan mulai normal
- Semakin berani berbicara
2. Kode : LIN
Vonis : 5 th
Masalah
- Pengedar dan pemakai narkoba karena sebagai tulang punggung keluarga
- Janda anak 8
Kondisi Psikologis Sebelum konseling:
- Depresi
- Ketergantungan obat penenang
- Emosional

198

- Pemuruang
- Pesimis dalam memaknai hidup
Kondisi Psikologis Sesudah konseling:
- Tidak membutuhkan obat penenang
- Emosi stabil
- Ceria
- Optimis dalam memaknai hidup
3. Kode : ELL
Vonis : 4 th 7 bln
Masalah
- Pengedar dan pemakai narkoba karena sebagai tulang punggung keluarga
- Janda anak 2
Kondisi Psikologis Sebelum konseling:
- Pesimis terhadap masa depan setelah kembali ke masyarakat
- Khawatir karena pemahaman agama yang minim
Kondisi Psikologis Sesudah konseling:
- Optimis bahwa dirinya juga memiliki kemapuan
- Memiliki pemahaman keagamaan yang mulai baik
4. Kode : SRP
Vonis : 16 th
Masalah
- Pengedar dan pemakai narkoba
- ODHA
Kondisi Psikologis Sebelum konseling:
Emosional
Gampang tersinggung
Kurang percaya diri
Kondisi Psikologis Sesudah konseling:
- Tenang
Sudah bisa menyesuaikan diri
5. Kode : SR
Vonis : 8 th
Masalah
- Pengedar
- Pemakai
Kondisi Psikologis Sebelum konseling:
- Depresi
- Pemurung
- Tidak percaya diri
- Sulit menyesuaikan diri karena terlalu pendiam dan menutup diri
Kondisi Psikologis Sesudah
- Emosi stabil
- Ceria
- Percaya diri
- Sudah bisa lebih terbuka dan mengeluarkan pendapat
6. Kode : YO
Vonis : 3 th 2 bln
Masalah
- Pengedar
- Pemakai
Kondisi Psikologis Sebelum konseling:
- Emosi labil karena baru berusia 18 tahun
- Tidak memiliki keinginan belajar
- Susah konsentrasi

199

Kondisi Psikologis Sesudah konseling:
- Emosi stabil
- Memiliki semangat dalam belajar dan memiliki cita-cita
- Lebih mudah fokus
7. Kode : IR
Vonis : 4 th 8 bln
Masalah
Pengedar
Pemakai
Kondisi Psikologis Sebelum konseling:
Pemurung
Antipati terhadap lingkungan
Selalu curiga
Malas
Kondisi Psikologis Sesudah konseling:
- Ceria
- Bisa bergaul dengan kelompok
- Lebih terbuka
- Rajin dan bersemangat
8. Kode : AS
Vonis : 4 th 7 bln
Masalah
- Pengedar dan Pemakai
Kondisi Psikologis Sebelum konseling:
- Pemurung
- Pesimis
- Kurang percaya diri
Kondisi Psikologis Sesudah konseling:
- Ceria
- Optimis
9. Kode : KA
Vonis : 4 th 7 bln
Masalah
Pengedar dan pemakai narkoba
ODHA
Kondisi Psikologis Sebelum konseling:
Labil
Pemurung
Tidak percaya diri
Kondisi fisik lemah
Kondisi Psikologis Sesudah konseling:
- Masih labil
- Lebih ceria
- Mulai percaya diri
- Kondisi fisik baik
10. Kode : AA
Vonis : 2 th
Masalah
- Pemakai
Kondisi Psikologis Sebelum konseling:
- Pendiam
- Jarang berkomunikasi dengan teman karena kurang percaya diri
Kondisi Psikologis Sesudah konseling:
- Sudah mulai mau berkomunikasi dan berpendapat

200

11. Kode : AG
Vonis : 1 th 8 bln
Masalah
Pemakai
Kondisi Psikologis Sebelum konseling:
Tidak banyak bicara
Jarang senyum
Pesimis
Kondisi Psikologis Sesudah konseling:
- Sudah mulai berbicara
- Merasa ada yang memperhatikan
12. Kode : MU
Vonis : 1 th 2 bln
Masalah
- Pemakai
Kondisi Psikologis Sebelum konseling:
- Pemurung
- Tak banyak bicara
- Pemalu
Kondisi Psikologis Sesudah konseling:
- Sudah mulai mau berkomunikasi dalam kelompok
Berdasarkan uraian tersebut dapat dirangkum bahwa ada pengaruh yang positif pelayanan konseling
terhadap narapidana di LAPAS Anak misalnya bertambah kepercayaan diri mereka, bertambah optimis dan
semakin baik komunikasi antar pribadi.
Orientasi Masa Depan Napi
Subjek penelitian terdiri dari 12 orang yang terdiri dari tujuh orang laki-laki dan lima orang
perempuan. Napi tersebut lima orang masih sekolah dan tujuh orang tidak sekolah. Sebelemu mendapat
pelayanan konseling, pada umumnya masih pesimis dan ragu-ragu apakah akan sekolah kembali setelah
selesai menjalani hukuman. Bagi subjek yang sudah bekrja orientasi masa depan mereka adalah ragu-ragu
tentang pekerjaan yang akan dilakukan dan belum terpikirkan hal tersebut karena pada umunya hanya bekerja
serabutan (harian lepas). Setelah mendapat pelayanan konseling, lima dari tujuh orang napi yang masih
sekolah belum masuk LAPAS menyatakan akan melanjutkan sekolah/kuliah lagi walaupun melalui
pendidikan non-formal melalui paket C. seluruh napi yang sudah bekerja (lima orang) menyatakan akan
mencari pekerjaan yang halal (seperti teknisi bengkel sepeda motor, tukang bangunan, menjadi SATPAM).
Intinya harus mencari pekerjaan yang halal bukan sebagai pengedar narkoba.
Penutup
Kesimpulan penelitian ini adalah (a) ada pengaruh positif pelayanan konseling terhadap peningkatan
kepercayaan diri narapidana di LAPAS Anak Pekanbaru. Setelah napi mengikuti konseling mereka semakin
berani mengekspresikan perasaan, dapat memberikan pendapat dan semakin baik komunikasi verbal mereka,
(b) ada pengaruh positif pelayanan konseling terhadap orientasi masa depan napi. Napi yang telah mengikuti
konseling akan merencanakan melanjutkan pendidikan atau mencari pekerjaan yang halal setelah kembali ke
masyarakat. Bagi peneliti yang ada diatas agar dapat meneliti pengaruh konseling terhadap peningkatan
aspek-aspek kepribadian narapidana yang diukur secara kuantitatif.
Daftar pustaka
Aztri, S. dan Milla, M.N. 2013. Rasa Berharga dan Pelajaran Hidup Mencegah Kekambuhan Kembali Para
Pecandu Narkoba. Jurnal Psikologi, No. 9 Juni hal 48-63.
Dirdjosiswoyo, 2006. Bentuk-bentuk Pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan. Penertbit Dirjen
Pemasyarakatan .
Harsono, HS, 1995. Sistem Baru Pembinaan Narapidana. Jambatan : Jakarta

201

Irawan, A.2011. Resosialisasi Narapidana Anak Berkaitan Dengan Efektivitas Pola Pembinaan Narapidana di
LAPAS Anak (Studi Kasus LAPAS Anak Kelas IIB Tanjung Pati – Sumatera Barat, Tesis. Program
Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Andalas.
Muladi, 1995. Selekta Peradilan Perdana. Balai Penerbit Universitas Diponegoro.
Nies, M.A, 2001. Community Health Nursinga. Lipincolt, Soundies Company.
Pedoman Pola Pembinaan Bagi Anak di LAPAS (2009) Diretort Jendral Pemasyarakatan DEPKUMHAM.
Praja, A.S. dan Atmasasmita, 1992. Sistem Pemasyarakatan di Indonesia. Percetakan Ekonomi, Bandung
Prayitno, 2004. Layanan Bimbingan Kelompok dan
Konseling, FIP. UNP.

Konseling Kelompok. Jurusan Bimbingan dan

Saam, Z. 2000. Pengaruh Konseling Kelompok ―AKTIF‖ Terhadap Peningkatan Motivasi dan Harga Diri
Siswa SMA Kurang Berprestasi. Laporan Penelitian. Lembaga Penelitian Universitas Riau.
Saam, Z. 2012. Psikologi Konseling. PT Grasindo – Rajawali : Jakarta.
Saam, Z, Arlizon R, Yakub, E dan Rosmawati. 2013. Pelatihan Pengembangan Diri Narapidana Anak di
LAPAS Anak Pekanbaru. Laporan Pengabdian Kepada Masyarakat UNRI.
Saam, Z dan Wahyuni S, 2014. Psikologi Keperawatan, PT Grasindo Rajawali : Jakarta.
Sujatno, A. 2004. Sistem Pemasyarakatan Membangun Manusia Mandiri. Dirjen Pemasyarakatan –
DEPKUMHAM-RI. Jakarta.
Yusuf, S. Abuasyari dan Saam, Z. 2009. Pelayanan Konseling Kelompok bagi Narapidana Kasus Narkoba di
LAPAS Anak Pekanbaru. Laporan Pengabdian Kepada Masyarakat. Universitas Riau Pekanbaru.
Yulianti, Sriati, A dan Widiasih, R. Gambaran Orientasi Masa Depan Narapidana Remaja Sebelum dan
Setelah Pelatihan di Rumah Talang Negara Kelas 1 Bandung, Majalah Keperawatan Narsing
Journal Of Padjadjaran University. Vol. 10 No. XIX Oktober 2008 sd Februari 2009, hal 97-98.

202

The Development Of Psychological Well-Being Programme Based On Six Factor Model Psychological
Well-Being Ryff (1989)
Norsayyidatina Che Rozubi*,
Lau Poh Li**
*University of Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia
tinarozubi@yahoo.com
**University of Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia
janicepolly@um.edu.my
Abstract
The aims of this study were to develop and validate a Psychological Well-Being Programme for primary
school children based on 6 Factor Model Psychological Well- Being by Ryff (1989). This Program
encompassed 6 sub programme and 8 activities developed along the concept and components of the 6 Factor
Model Psychological Well- Being by Ryff (1989). The design method used in this study involved a
descriptive approach involving expert judgment. In addition, literature review was used to examine the need
for developing of Psychological Well-Being Programme and to justify usage the 6 Factor Model
Psychological Well- Being by Ryff (1989). The instruments used to determine the content validity of the
programme as advocated by Jamaludin (2002) is a modification from Russell (1974). The sample of the study
comprised six experts in the field of counseling and psychology. A statistical software was used to analyze
the descriptive statistics of the collected data which revealed promising results. The values computed for the
content validity were high, ranging from 80% to 93%. These findings reinforce the Six Factor Model
Psychological Well- Being by Ryff (1989) in the design of Psychological Well-Being Programme for
primary school children in Malaysia. Implications of the findings are discussed.

Keywords: Psychological Well-Being, child counseling & Ryff (1989)
Malaysia is a country that has a dense population of about 29,947.6 million, of this total, 7,799 million (26%)
were children aged from 0 to 14 years (Jabatan Perangkaan Malaysia, 2013). Based on these statistics show a
quarter of the population is comprised of children. This is a challenge to the state in the next generation of
potential catalysts to bring the State towards progress. Hence, focus and sensitivity to the well-being of
children should be emphasized especially in terms of psychology, as psychological well-being is a way of life
towards a balance between the physical, mental and spiritual well-integrated to achieve optimum life and can
be achieved by individuals (Myers et al., 2000). Therefore, the school is the best location in the building
talents, abilities, potential, interests and personality of children (Li, 2011). Accordingly, the module or
programme, which aims to increase this matter is very important, this fact supported some previous findings
(eg., Li et al., 2012; LeBlanc & Ritchie, 2001; Hancock, 2011: William et al., 2003, 2010). In respect of
interest, the Psychological Well-Being Programme developed by following the correct programme
development procedure and based on strong theory can be used in the schools to help increase the level of
child psychological well-being in Malaysia.
Psychological Well-Being Programme
Psychological Well-Being Programme carried out by 8 sessions included an introductory session and
termination of each week of the session will be held. The overall programme duration is 20 hours and each
session is 2 hours 30 minutes depending on the activity being undertaken. The programme can accommodate
the number of participants to about 20 -30 students from primary school. This programme can be
implemented in a group counseling in a classroom setting or a small hall. The aims of Psychological WellBeing Programme is to provide opportunities for students - primary school ranging from children to improve
the psychological aspects that include cognitive, emotional and behavioral and increased life satisfaction and
self-esteem through structured play to generate the skills and knowledge through the participation
programme.
To develop the programme content, the researcher used the Six Factor Model Psychological Well- Being by
Ryff (1989). For the systematic development of the programme, the researchers used a module construction
procedure submitted by Sidek (2001). The procedures were chosen because they suggest a systematic
approach in the development process and are suitable for use in the Malaysian context. The main objective of

203

the Psychological Well-Being Programme is to help children: (a) achieve psychological well-being through
self-acceptance, (b) achieve psychological well-being through autonomy, (c) achieve psychological wellbeing through positive relationships with others, (d) achieve psychological well-being through controlled
environment, (e) achieve psychological well-being through life's purpose and (f) To achieve prosperity
through the development of self-psychology
Literature Review
Psychological Well Being Programme Development Needs
For centuries various mechanisms identified to address mental disorders in order to ensure the psychological
well-being can be achieved among others by implementing various programs to promote health (Li et al.,
2012). However, the programs implemented over the short term in nature and focuses on children who have a
chronic problem alone (Hancock, 2011). Most children of school level often experience various emotional
and behavioral problems as a result of the collapse of the family system, modernization and urbanization.
Thus primary school children should be given early exposure to levels of psychological well-being at optimal
levels. The study conducted on a group of American students have children approaching their teens who
actively seek their identity usually build a high identity, optimism, high self-esteem, lack of feeling useless
and less delinquency behavior (Philips & Pittman, 2007). In addition, the selection of sample in common
among children due to interaction study participants at each other. This is because previous studies show that
children learn from imitation and the relationship with the environment. Similarly, a study conducted by
Finstuen (2010) using the experimental program on the effect of art activities on self-concept and
psychological well-being that the level of anxiety, stress and behavioral disorders among children could be
reduced after the program ends.
Justification of Six Factor Model Psychological Well- Being by Ryff (1989)
Based on the theories of psychological well-being raised by well-known figures, this study has chosen the
theory of psychological well-being Ryff (1989, 1995) as the base model. This is because the theory is
incomplete because Ryff based philosophical background and a strong theoretical guidance including
counseling theories such as Maslow, Rogers and Erikson. It also discusses the theory of psychological wellbeing is a dimension which focuses on the characteristics that are interrelated and overlap among the six
proposed dimensions. This theory is supported by extensive research that suggests differences based on
demographic profile, social and personal factors influence the psychological well-being. Therefore, in
accordance with the objectives of the study to improve psychological well-being of children through the
implementation of Well-Being Psychology program developed by researchers.
Ryff and Heidrich (1997) affirms the influence of life experience as an important factor for the psychological
well-being of a person, including children. This theory is consistent with the child as the child of a small
range of life experiences, especially with parents, family and friends. A study related psychological wellbeing by Waterman (2007) argues that individuals will experience increased well-being if they were aware of
the goals themselves in accordance with the requirements themselves.
Theoretical Foundation of Psychological Well-Being Programme
The good programme development should be based on the theory for each content programme built. In the
development of the Psychological Well-Being Programme, researcher using the Six Factor Model
Psychological Well- Being by Ryff (1989) as the basis, particularly in terms of content, structure, and
sequence of programme. This theory is very important because it is the cornerstone of the strength
psychological well-being programme . Ryff (1989) have built a model of psychological well-being is to
integrate some components of the theory of Maslow‘s concept of self-perfection, the full functionality of
Rogers, Jung formulation concepts individuality, Allport maturity concept, Erikson‘s psychosocial stage, the
basic trend of Buhler concept, the executive personality Neugarten and the concept of mental health Jahoda
(Ryff 1989a, 1989b, 1995; Ryff & Keyes, Ryff & Singer, 1995 and 1996). Based on this theory, Ryff (1989,
1995) conceptualize psychological well-being in six components of self-acceptance, positive relations with
others, purpose in life, autonomy, environmental mastery and self-development. This theory suggests that the
full dimensions related positively related functionality (Zainal, 2012). Figure 1 shows the development
framework of Psychological Well-Being Programme based on 6 Factor Model Psychological Well- Being by
Ryff (1989).

204

PSYCHOLOGICAL
WELL-BEING
MODEL
(Ryff 1989)
Self-acceptance
Autonomy
Positive Relation

PROGRAM

PSYCHOLOGICAL
WELL-BEING
PROGRAMME

SUB
PROGRAM

Self-acceptance
Autonomy
Positive Relation

Environmental
Mastery
Purpose of Life

Environmental
Mastery
Purpose of Life

Self- Development

Self- Development

ACTIVITY

ACTIVITY 1
ACTIVITY 2
ACTIVITY 3
ACTIVITY 4
ACTIVITY 5
ACTIVITY 6

Figure 1. Development framework of Psychological Well-Being Programme based on 6 Factor Model
Psychological Well- Being by Ryff (1989).
Objectives of the Study
This study has three objectives:
1. To develop a Psychological Well-Being Programme for primary school children based on 6 Factor
Model Psychological Well- Being by Ryff (1989).
2. To examine the needs of Psychological Well-Being Programme development based on literature
review.
3. To determine the content validity of the Psychological Well-Being Programme .
Research Design, Instruments and Procedure
The research method used in this study was based on quantitative approach carried out through a
survey; the instrument to determine the content validity of the module as advocated by Jamaludin (2002) is a
modification of Russell (1974). The synthesis of the current, relevant literature had helped the researchers in
developing the Psychological Well-Being Programme based on the 6 Factor Model Psychological WellBeing by Ryff (1989) that contains 8 sub modules and 8 activities include ice breaking and conclusion . The
survey was administered to determine two types of validity of the module: i) face validity, and ii) content
validity. The face validity of the Psychological Well-Being Programme was examined by a language expert
from the National University of Malaysia (UKM), and a language expert from Islamic Science University of
Malaysia (USIM). The experts worked through the initial draft and made several recommendations to
improve the syntax, sentence structure, and nomenclature of the module. All the suggestions were followed
by revising the initial draft to ensure the proposed programme would be appropriate for the target population.
The next step followed involved validating the module contents by a panel of experts. The panel in
this study consisted of six experts, which was deemed sufficient, as Othman (2004) states that six to nine
experts are adequate in examining the constructs and items of an instrument of a study. The six experts were
chosen because of their vast experience and expertise in psychology, counseling, module development, and
teaching. Each of these experts was given a copy of a complete Psychological Well-Being Programme, which
essentially consisted of an introduction to the study, a manual of the programme, and a host of related
appendices. Critiques and suggestions by the experts for improving all these materials were rated along a
continuum of scales, ranging from 1 (strongly disagree) to 10 (strongly agree). To determine the value of the
validity of the programme contents, the raw data were computed as follows: total scores of the individual
experts ratings were divided by the overall score of the rating. The calculated value based on this procedure
would highlight the level of validity of a research programme, the content validity is deemed high if the value
exceeds 70% (Sidek & Jamaludin, 2005).

Participants
The participants who voluntarily participated in this study were drawn from some public universities in
Malaysia as they are experts who have in‐depth knowledge and vast experience in teaching the subject

205

matter. Before selecting a sample (participants), researchers ensured credibility of the participants in the
relevant fields, particularly child counseling and expert in psychological well-being.
Findings
Raw data elicited from the panel of experts were processed in a statistical software. The following Table 1
summarizes the computed values for the overall content and five statements with respect to the integrity of
the programme.
Table 1: Content validity percentages of the Psychological Well-Being Programme for primary school
children based on 6 Factor Model Psychological Well- Being by Ryff (1989) as advocated by Jamaludin
(2002)
No.
Statements
Content validity
Experts‘ judgment
Percentages (%)
1.
The contents of the programme meet the target
93.0
Accepted
population.
2.
The contents of the programme can be implemented
86.6
Accepted
successfully.
3.
The contents of the module are appropriate with the
93.0
Accepted
planned duration.
4.
The contents of the programme can help to increase
80.0
Accepted
the level of psychological well-being.
5.
The content of this programme can change the
80.0
Accepted
thinking, emotions and behavior of children towards a
more prosperous
Overall content
86.5
Accepted
Table 1 indicates that the validity value for the overall content of the the Psychological Well-Being
Programme based on the 6 Factor Model Psychological Well- Being by Ryff (1989) was high at 86.5
percent, comfortably exceeding the recommended threshold value of 70 percent. In term of individual
statements, all of them achieved high validity values, ranging from 80 percent to 93 percent. Effectively, the
conditions as suggested by Jamaludin (2002) is a modification from Rusell (1974), which had been employed
by the researchers for the programme construction, were strongly validated. Thus, the finding showed that the
overall content validity of the programme was high that could be applied to relevant students.
Discussion
In developing the Psychological Well-Being Programme based on the 6 Factor Model Psychological WellBeing by Ryff (1989), the researchers first reviewed the relevant, established literature of psychological wellbeing, particularly the theoretical concepts, principles, and techniques that were founded by Ryff (1989). All
information obtained has helped researchers to develop the programme that comprises eight (8) sub
programme and 8 activities. All these sub programmes and activities, which are based on Model
Psychological Well- Being by Ryff (1989). From the theoretical and practical perspectives, these outcomes
would have a profound impact on the relevant body of knowledge related to psychology in general, child
counseling, and psychological well-being in particular. For such an impact to be more meaningful, the
content validity of the programme has to be verified prior to its adoption lest the effects would be spurious.
This assertion is best echoed by Sidek (2005) who states that there are three vital criteria that reflect
the worthiness of a development module. These measures are the content validity, reliability, and usability of
the programme; among these, content validity is the most important factor in determining the strength of the
construct built into the tool. Achieving high content validity is difficult as a programme that is to be
developed would entail a thorough review on related literature (Aziz et al, 2013). Through this process, only
then a programme can be developed effectively to suit the intended needs of a specific segment of a society,
such as student groups. In light of this specific requirement, the researchers adopted five relevant statements
or conditions as outlined by Jamaludin (2002). Then, the content validity of the group guidance programme
was appraised by six experts along these five determinants of relevancy. The results of the appraisal indicate
that the group guidance module has high content validity based on the unanimous, unequivocal agreement of
all experts involved. Hence, a programme that has high content validity and innovative craftsmanship would
benefit practitioners in dealing with psychological well-being of primary school children.
The benefits of Psychological Well-Being Programme are further boosted by its efficacy in
achieving short-term goals, and by its inherent nature to get immediate feedback from counseling
practitioners. It is envisioned that the Psychological Well-Being Programme when used judiciously and

206

persistently would help intended children to achieve the increasing levels of psychological well- being.
Hopefully, the Psychological Well-Being Programme of this kind would be embraced by the relevant
stakeholders (i.e., policymakers and the decision makers, course coordinators or counselor educators,
practicing counselors, researchers, and counseling students or trainees) in earnest to foster the psychological
well-being in practicing child counseling in Malaysia.
Recommendations
Following the promising preliminary results, namely the high content validity of the Psychological WellBeing Programme based on the 6 Factor Model Psychological Well- Being by Ryff (1989), the researchers
propose three recommendations as follows:
1. Conducting a pilot study to examine the usability of the programme when used.
2. Conducting an experimental research to examine the effects of the Psychological Well-Being
Programme .
3. Promoting Psychological Well-Being Programme
to the counseling practitioners in the
development of child psychological well- being so that more research should be conducted on a
larger scale in the context of Malaysia.
Conclusion
In this study, the researchers has demonstrated that a Psychological Well-Being Programme based on the 6
Factor Model Psychological Well- Being by Ryff (1989) is feasible. Moreover, the programme developed has
been validated to possess high content validity through expert judgment. Thus, the programme reported in
this study, will act as a catalyst for more research on psychological well-being and child counseling
specifically. In a nutshell, the lessons learned from this study will encourage counseling practitioners to adopt
such an approach to develop a diverse range of programme of psychological well-being, benefitting
profession counselor and Malaysian society.

References
Finsteun C. (2010). Addressing Childhood Anxiety Through A Combination of Yoga and Art
Experiences. Unpublished PhD Thesis. Institute of Transpersonal Psychology Palo
Alto
California.
Hancock I (2011) The camp experience for siblings of pediatric cancer patients. Journal of Pediatric
Oncology Nursing 28(3): 137–142.
Jabatan Perangkaan Malaysia (2013). Buku Maklumat Perangkaan Malaysia 2013.
Jamaludin Ahmad. (2008). Modul dan Pengendalian Bimbingan Kelompok. Serdang: Universiti Putra
Malaysia.
Jamaludin Ahmad. (2002). Validity, Reliability and Effectiveness Module of Personal Advanced Program
Achievement Motivation among High School Students Selangor. Unpublished PhD
Thesis.
Serdang:
Universiti Putra Malaysia.
Lau Poh Li (2011). Effect Of Career Exploration Program On Career Maturity and Self- Concept Among
Form Four Students. Unpublished PhD Thesis. Universiti Malaya.
LeBlanc, M., & Ritchie, M. (2001). A meta-analysis of play therapy outcomes. Counseling
Psychology Quarterly, 14, 149–163.
Li HCW, Chung OKJ and Ho KYE. (2012). Effectiveness of an Adventure -Based Training Programme in
Promoting the Psychological Well-Being of Primary School Children. Journal of Health
Psychology.
Mohammad Aziz Shah Mohamed Arip, Rapidah A.Bakar, Aslina Ahmad & Samsiah Md Jais
(2013).
The development of a group guidance module for student self development based
on gestalt theory.
Procedia - Social and Behavioral Sciences. 84: 1310 – 1316.
Othman Mohamed. (2004). Principles of Psychotherapy and Management in Counselling.

207

Serdang, Malaysia: University Putra Malaysia Publisher.
Phillips, T. M. & Pittman, J. F. (2007). Adolescent psychological well-being by identity style. Journal of.
Adolescence, 30, 1021 - 1034.
Russell, J.D. (1974). Modular instruction: A guide to the design, selection, utilization and evaluation of
modular materials. New York: Publishing Company.
Ryff, C.D. (1989). Happiness is everything, or is it? Exploration on the meaning of psychological wellbeing. Journal of Personality and Social Psychology. 57 : 1069-1081
Ryff, C.D. (1989). In the eye of the beholder : Views of psychological well- being among
middle- aged and older adults. Psychology and Aging 4(2) : 195-210.
Ryff, C.D. & Heidrich, S.M.(1997). Experience and well-being : Explorations on domains of life and
they matter. International Journal of Behavioral Development, 20(2), 193-206.

how

Ryff, C.D. & Keyes, C.L.M.(1995). The structure of psychological well-being revisited. Journal
Personality Social Psychology,69,719-727.

of

Ryff,C.D., & Singer, B (2008). Know thyself and become what you are : eudaimonic approach to
psychological well- being. Journal of happiness Studies 9 : 13-39

Sidek Mohd Noah & Jamaludin Ahmad. (2005). Module building: How to build exercise module and
academic module. Serdang, Malaysia:University Putra Malaysia Publisher.
Sidek Mohd Noah (2001). Perkembangan Kerjaya: Teori dan Praktis. Serdang: Universiti Putra Malaysia.
Sidek Mohd Noah (2005). Testing and evaluation in counselling: Theory and application. Serdang:
University Putra Malaysia Publisher.
Waterman, A.S (2007). Doing Well : The relationship if identity status to the three conceptions of wellbeing. Identity: An International Journal of Theory and Research, 7: 289-307.
Williams PD, Piamjariyakul U, Graff JC, et al. (2010) Development disabilities: Effects on well
siblings. Issues in Comprehensive Pediatric Nursing 33: 39–55.
Williams PD, Williams AR, Graff JC, et al. (2003) A community-based intervention for siblings and parents
of children with chronic illness or disability: The ISEE study. The Journal of Pediatrics 143: 386–
393.
Zainal Madom (2012). Factors That Contribute Psychological Well-Being of Form Four Students.
Unpublished PhD Thesis. Universiti Malaya.

208

LEVEL OF STUDENTS` SELF-EFFICACY BASED ON GENDER
Ifdil1 Rizka Apriani2 & Frischa Meivilona Yendi 3
ifdil@konselor.org
Universitas Negeri Padang
Abstract
This research is aimed at describing the condition of both male and female students‘ selfefficacy and identifying the difference. This research is a quantitative research with
descriptive-comparative. The samples included 221 students. The data were analyzed by using
descriptive statistics normal curve by determining the mean (average); calculating the
percentage that exists in a particular category and analyzing t-test. The findings of the research
showed 42.7% of male students‘ self-efficacy are at moderate category of and 47.2% of female
students are at high category. This research also revealed a significant difference of both
female and male students‘ self-afficacy. The implication of the research is it is expected that
counselors provide guidance and counseling services to improve and develop self-efficacy,
especially towards male students as self-efficacy of male students is lower than female
students.
Keyword: self-efficacy, gender
Introduction
The quality of human resources is crucial to create a better life (Hariandja & Hardiwati, 2002). It is
undeniable that the progress of a nation depends heavily on the quality of the people in the country,
especially young generation (Effendi & Politics, 2007; Riyadi, 2000). One of the strategic lines to realize the
quality of human resources is of course education.
Self- personal development through education can be an alternative to prepare individuals to
encounter global competition. On the other hand, education continues to increase the standard, so that
graduates are able to compete in the global market. This indirectly requires the individuals to further develop
their abilities, so that academic achievement can be optimized.
Hence, a student as an individual should have a strong belief in academic achievement. This concept
is called self-efficacy. According to Bandura (in Feist & Feist 2011: 212) "Self-efficacy is a person's belief in
his ability to do some controls over one's own functioning and events in the neighborhood". Self-efficacy
helps to develop educational talent with involvement in learning activities. Through these activities, the level
of achievement and motivation usually increases and has positive influence.
According to Bandura (Feist & Feist in 2011), a student with high self-efficacy for a particular topic
believes in his own ability to complete a task, find correct answer, achieve goals, and often excel his peers.
While a student with low self-efficacy on a particular topic who does not believe in his own ability will feel
depressed to complete the task as he observes that others can successfully perform a task which he considers
too difficult.
This is in line with Schunk (in Santrock, 2012), that has implemented the concept of self-efficacy to
various aspects of student achievement, ie self-efficacy influences the choice of students‘ activities (Raub &
Liao, 2012). Students with low self-efficacy in terms of learning may avoid some learning tasks, particularly
challenging tasks. Instead, students with high self-efficacy immediately want to finish the learning tasks to
gain good achievement.
Associated with academic achievement, according to a research by Sartini Nuryoto (1998) female
students achieve better than male as female are more diligent, thorough (especially for mathematics subject),
and willing to listen well. Their emotional attitude which is more dominant than the physical strength has put
female in a very good position. Thus, in general it is found that female students occupy the top 10 ranks in
each school. This is similar to what Martono et al stated (2009) in which female in general achieve better
than male. Theoretically, female students perform better than male because they are more motivated and
work more diligently in doing school work, self-belief of female is better than male, and female prefer to read
compared to male (Santrock, 2012 ).
From the findings, it can be concluded that there is difference in the academic achievement of
female and male. Instead of observing the difference in the academic achievement of both female and male
students, other aspects on difference of gender were also found in the research findings conducted by Dinni
Jufita Putri (2013), which revealed that in mathematics, self-efficacy of male is higher than female students,
yet in Bahasa Indonesia female achieves better than male students.
Therefore, this research would like to describe self-efficacy of female student, self-efficacy of male
students, and examine whether there are differences in self-efficacy of female and male students.

209

Methodology
This research is a descriptive-comparative research (Anas Sudijono, 2005; Arikunto, 2002; Gall,
Borg, & Gall, 1996) with the total sample 221 students selected by using stratified random sampling
technique (Levy & Lemeshow, 2013; de Vries, 1986; Levy and Lemeshow, 2013; Stokes, Davis, & Koch,
2012). The instrument used to collect data in this research was self-efficacy scale. To answer the research
problem about the level of students' self-efficacy, the data were processed by using descriptive statistics
(Santoso, 2003), by determining the mean (average) which calculated percentage in a particular category.
While to prove the research hipotesis on differences in the level of students‘ self-efficacy based on gender is
processed by using t-Test formula (Samuels, Witmer, and Schaffner, 2012). The data were analyzed by using
SPSS version 22 for Windows.
Results and discussion
Based on the overall results of the research, out of the 221 students as the sample, 5.4% of students
have very high self-efficacy, 37.6% of students have high self-efficacy, 38.5% of students have a moderate
self-efficacy, and 15.8% of students are in the category of low self-efficacy, and 2.5% of students have very
low self-efficacy. The results of this study showed that majority of the students have moderate self-efficacy.
From the result of analysis, the level of female students‘ self-efficacy showed that 4.8% of students
have very high self-efficacy, 47.2% of students have high self-efficacy, 35.2% of students have moderate
self-efficacy, 11. 2% of students are in the category of low self-efficacy, and 1.6% of students have very low
self-efficacy. Based on these results it can be concluded that most female students have high self-efficacy.
While the result of the level of male students‘ self-efficacy, out of 96 students, 6.2% of students
have very high self-efficacy, 25% of students have high self-efficacy, 42.7% of students have moderate selfefficacy, and and 21.9% of students are in the category of low self-efficacy, and 4.2% of students have very
low self-efficacy . These results indicate that most male students have moderate self-efficacy.
The results of this research showed that female students‘ self-efficacy are at high category and male
students‘ are at moderate category. This means that students are at passable category but it needs to be
improved in order to achieve the level of very high self-efficacy. According to Bandura (2002) individuals
who have high academic self-efficacy will have the attitude of: (a) being ready to participate more in the
completion of the learning task, (b) working hard, (c) having a longer persistence when facing difficulties
than those who doubt their own abilities, (d) encouraging self to look for any positive efforts to improve
achievement and personal welfare, (e) accelerating interest in a particular matter and be soluble in pleasure
activities, (f) making difficult tasks as a challenge and being motivated to finish it, (g) planning challenging
goals and maintaining a strong commitment, (h) continuously striving against laziness, and (i) if experience a
failure, then quickly fix it and re-arrange themselves.
Self-efficacy is a substantial matter in determining a person to act, think and react when facing
unpleasant situations (Bandura, 2002). This means that when students encounter unpleasant situations like
facing a difficult task, the presence of students‘ self-efficacy is able to step in and react positively to cope
with these situations.
The results of this research also showed that there are some students who are in very low category.
Students who have low self-efficacy tend to doubt their abilities. Students with low self-efficacy will keep off
a difficult tasks as the students see them as thread. This is influenced by emotional condition, in which this
strong emotion will usually reduce performance when a person experiences a strong fear, acute anxiety, or
high stress level, and is likely to have a low efficacy expectation (Feist & Feist, 2011).
Is there any difference in the level of self-efficacy of male and female? To answer this research
problem, the results of the the data analysis showed the value of t-test obtained is 2.962 and significance (Sig
2-tailed) of 0.003. since the significance is <0.05 then Ho is rejected. So, it can be concluded that there is
difference in the average students‘ self-efficacy of male and female students.
Many factors affect level of ones‘ self-efficacy, one of them according to Bandura (2002) is culture
and gender. Culture influences self-efficacy through value, belief, and self-regulatory process which serves as
an assessment source of self-efficacy as well as the consequences of a belief in self-efficacy. In addition,
gender influences self-efficacy in which female students have higher self-efficacy in managing their role.
The results of this research support the results of other research, such as one conducted by Kumar
and Lal (2006) proves that there is a significant difference in the academic achievement of Bahasa Indonesia
between male and female, where female students achieve better than male students. According to Kumar and
Lal (2006), there is a significant difference between gender and intelligence, where female scored higher than
male. This is probably because female students spend more time to learn while male students tend to be lazy
to learn, but it cannot prove that male are less intelligent than female. Martono et al (2009) also found that
female students perform better than male because female are more motivated and work more diligently than

210

men in doing school work, self-belief of female students is better than male, and they prefer to read than
male. Coles and Hall (2002) found that boys less like reading compared to girls.
As stated by Pintrich and Groot (1990) in their research, self-efficacy is positively related to
academic achievement. Students, who believe with their ability, use cognitive and metacognitive strategies in
order to pass the difficult tasks. Shunk also has applied the concept of self-efficacy to various aspects of
student achievement; and self-efficacy influences the choice of students‘ activities (Shunk in Santrock,
2012). Students with low self-efficacy in terms of learning, may avoid a variety of learning tasks, particularly
challenging tasks. On the other hand, students with high self-efficacy may not wait to finish the learning
tasks.
Conclusions and Recommendations
From the research conducted, it can be concluded that self-efficacy of female students is categorized
as high, self-efficacy of male students is categorized as moderate, and there is difference in the average of
students‘ self-efficacy both in female and male students.
Based on the results of the research, the researchers propose some suggestions to teachers of
guidance and counseling in general that there is an average difference in the result of research of self-efficacy
both female and male students so that it is expected that counselors direct guidance and counseling services
to which could improve and develop to self-efficacy, especially to male students as they have lower selfefficacy than female students. Counselors are expected to further optimize the BK 17 plus (guidance and
counseling 17 plus approach – Counseling approach base of Indonesian Culture) which is appropriate and in
accordance with the students‘ needs as an effort to foster, develop and improve self-efficacy by creating a
learning group counseling which consists of male and female students. After that, counselors collaborate with
parents to increase self-efficacy.
Then for the next researchers, it is expected that they are able to enrich the research by taking other
variable beside self-efficacy.
References
Anas Sudijono. (2005). Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Arikunto, S. (2002). Metodologi penelitian. Jakarta: Penerbit PT. Rineka Cipta.
Bandura, A. (1997). Self-Efficacy Toward a Unifying Theory of Behavioral Change. Jurnal of Psychological
Review, (Online), Vol.84.no.2, 101-215.
Colles M, Hall C. (2002). Gendered readings: learning from children‘s reading choice. Journal of research in
reading, (Online) Vol.25.no.1, 96-108.
de Vries, P. G. (1986). Stratified random sampling Sampling Theory for Forest Inventory (pp. 31-55):
Springer.
Dinni Jufita Putri. (2013). Analisis Gender terhadap Self-efficacy, Self Regulated Learning, dan Prestasi
Akademik Remaja dalam Pelajaran Matematika dan Bahasa Indonesia. Skripsi tidak diterbitkan.
Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Effendi, S., & Politik, I. (2007). Perspektif Administrasi Pembangunan Kualitas Manusia dan Kualitas
Masyarakat.
Feist, J. & Feist, G. J. (2011). Theories of Personality. Terjemahan oleh Smita Prathita Sjahputri.
Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Gall, M. D., Borg, W. R., & Gall, J. P. (1996). Educational research: An introduction: Longman Publishing.
Hariandja, M. T. E., & Hardiwati, Y. (2002). Manajemen sumber daya manusia: Grasindo.
Kumar R, Lal R. (2006). The role of self-efficacy and gender difference among adolescents. Journal of the Indian
Academy of Applied Psychology., (Online), Vol.63.no.1,128-138.
Levy, P. S., & Lemeshow, S. (2013). Sampling of populations: methods and applications: John Wiley & Sons.
Martono N, Puspitasari E, Mintarti, Rostikawati R.2009. Perbedaan Gender dalam Prestasi Belajar Mahasiswa Unsoed, in
press.
Pintrich PR, Groot EV. 1990. Motivational and Self-Regulated Learning Components of ClassroomAcademic
Performance. Journal of Educational Psychology, (Online), Vol.82.no.1, 33-40.
Raub, S., & Liao, H. (2012). Doing the right thing without being told: joint effects of initiative climate and general selfefficacy on employee proactive customer service performance. Journal of Applied Psychology, 97(3), 651.
Riyadi, D. I. D. M. M. (2000). Pembangunan Daerah melalui Pengembangan Wilayah: Makalah pada acara Diseminasi
dan Diskusi Program Pengembangan Daerah dan Pengembangan Ekonomi Masyarakat di Daerah, Bogor.
Samuels, M. L., Witmer, J. A., & Schaffner, A. (2012). Statistics for the life sciences: Pearson education.
Santoso, S. (2003). Statistik Deskriptif: Konsep dan Aplikasi dengan MS Excel dan SPSS.
Santrock, J. W. (2012). Life Span Development–Perkembangan Masa Hidup. Jakarta: Erlangga.
Stokes, M. E., Davis, C. S., & Koch, G. G. (2012). Categorical data analysis using SAS: SAS institute.s

211

APLIKASI INSTRUMENTASI
NORMA-NORMA PERKEMBANGAN
Arlindasari
Mariyatul Qibtiyyah
Drs. Tri Leksono Prihandoko M.Pd, S.Kom, Kons
JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
IKIP VETERAN SEMARANG

Latar Belakang
Salah satu cara untuk menempelkan arti pada skor-skor tes adalah dengan mengindikasikan sejauh mana
seseorang individu telah maju sepanjang jalur perkembangan yang normal. Usia Mental, istilah ‖usia mental‖
dikenal luas lewat penerjemahan dan adaptasi skala-skala Binet-Simon, meskipun Binet sendiri telah
menggunakan istilah lebih netral. Contohnya, soal-soal yang bisa dikerjakan oleh kebanyakan anak usia 7
tahun dalam sempel standardisasi ditempatkan pada kelas 7-tahun, yang bisa dikerjakan oleh kebanyakan
anak usia 8 tahun ditempatkan pada kelas 8-tahun, dan sterusnya. Skor seorang anak pada tes tertentu akan
berhubungan dengan kelas tahun-tertinggi yang dia bisa kerjakan dengan sukses. Usia mental anak pada tes
adalah jumlah dari usia basal dan bulan kredit tambahan yang diperoleh pada kelas lebih tinggi.
Rumusan Masalah
1. Pengertian norma perkembangan
2. Jenis-jenis norma perkembangan
Pembahasan
1. Pengertian Norma Perkembangan
Norma adalah penyebaran skor-skor dari suatu kelompok yang digunakan sebagai patokan untuk
memberi makna pada skor-skor individu. Terdapat dua jenis norma, yaitu:
a) Norma perkembangan; digunakan untuk menginterpretasikan skor-skor pada tes-tes
perkembangan. Norma perkembangan dibagi menjadi mental age, basal age, nilai rata-rata
yang diperoleh kelompok umur tertentu, skala ordinal.
b) Norma kelompok (within-group norms); digunakan untuk mengetahui posisi subjek dalam
distribusi sample normative. Sample normative adalah skor subjek dibandingkan dengan skor
kelompok. Saat peneliti hendak menggambarkan posisi individu dengan cara membandingkan
antar kemampuan dan kelompok, raw score harus ditransformasikan ke dalam skala yang sama.
Macam-macam skala:
o percentile rank
o standard score, yang dibagi menjadi: z-score, t-scale, c-scale, stanine, deviation IQ.
Norma perkembangan digunakan untuk menginterpretasikan skor-skor pada tes-tes perkembangan.

2.

Norma perkembangan dibagi menjadi mental age,basal age, ekuivalen-ekuivalen kelas, skala
ordinal.
a. Mental Age. Dalam bab 2 dicatat bahwa istilah ‖usia mental‖ dikenal luas lewat penerjemahan
dan adaptasi skala-skala Binet-Simon, meskipun Binet sendiri telah menggunakan istilah lebih
netral. Contohnya, soal-soal yang bisa dikerjakan oleh kebanyakan anak usia 7 tahun dalam
sempel standardisasi ditempatkan pada kelas 7-tahun, yang bisa dikerjakan oleh kebanyakan anak
usia 8 tahun ditempatkan pada kelas 8-tahun, dan sterusnya. Skor seorang anak pada tes tertentu
akan berhubungan dengan kelas tahun-tertinggi yang dia bisa kerjakan dengan sukses. Usia
mental anak pada tes adalah jumlah dari usia basal dan bulan kredit tambahan yang diperoleh
pada kelas lebih tinggi.

212

b.

c.

d.

Basal Age.Carole E. Gelfer
Usia Basal merupakan tingkat tertinggi, pada tes standar dalam unit sesuai dengan usia mental
atau usia setara, di bawah ini yang dapat diasumsikan bahwa semua item akan dijawab dengan
benar. Sebagai contoh, seorang anak yang benar menjawab jumlah yang diperlukan item pada
tingkat usia tertentu akan diberikan kredit untuk semua item sebelumnya pada tes meskipun anak
belum benar-benar diuji pada item-item. Usia basal Istilah ini sering digunakan bergantian
dengan skor basal.
Ekuivalen-ekuivalen kelas. Skor-skor pada tes prestasi pendidikan kerap kalidiinterprestasikan
dari segi ekuivalen-ekuivalen kelas (grade). Praktik ini bisa dimengerti karena tes-tes ini
digunakan dalam lingkungan sekolah. Untuk mendeskripsikan prestasi seorang murid dengan
mengatakan prestasinya ekuivalen dengan kinerja kelas tuju dalam mengeja, kelas delapan dalam
membaca, dan kelas lima dalam aritmatika,sama menariknya dengan penggunaaan usia mental
dalam tes-tes inteligensi tradisional.
Norma kelas dapat menghitung skor rata-rata yang didapatkan oleh anak dalamsetiap kelas.
Dengan demikian, jika jumlah rata-rata soal yang dipecahkan dengan tepat pada tes arimetik oleh
anak kelas empat dalam sampel standarisasi adalah 23, maka skor mentah 23 berhubungan
dengan ekuivalen kelas4. Ekuivalen-ekuivalen kelas menengah, (intermediate), yang
menggambarkan fraksi suatu kelas,biasanya didapat lewat interpolasi, meskipun ekuivalenekuivalen itu juga bisa diperoleh secara langsung dengan menguji anak-anak pada waktu yang
berbeda dalam tahun sekolah. Karena tahun sekolah meliputi sepuluh bulan, bulan-bulan yang
berturut-turut dapat diungkapkan sebagai desimal. Contohnya, 4,0 merujuk pada kinerja rata-rata
pada permulaan kelas empat (testing september), 4,5 merujuk pada kinerja rata-rata pada
pertengahan kelas (testing februari), dan seterusnya.
Meskipun populer, norma-norma kelas memiliki banyak kekuranagan. Pertama, isi intruksi agak
berbeda dari kelas ke kelas. Karenanya, norma-norma kelas hanya sesuai untuk subyek-subyek
umum yang diajarkan pada tingkat-tingkat kelas. Karenanya norma-norma kelas hanya sesuai
untuk subyek-subyek umum yang diajarkan sepanjang tingkat-tingkat kelas yng dicangkup oleh
tes itu. Norma-norma kelas ini pada umumnya tidak dapat diterapkan pada tingkat sekolah
menengah, dengan subyek yang bisa dipelajari hanya untuk satu dua tahun. Akan tetapi, bahkan
dengan subyek-subyek yang diajarkan pada setiap kelas, penekanan yang ditempatkan pada
subjek-subjek yang berbeda-beda bisa bervariasi dari kelas satu ke kelas lainnya, dan karena
kemajuan bisa lebih cepat dalam satu subjek ketimbang subjek lainnya selama kelas tertentu.
Dengan kata lain, unit0-unit kelas jelas tidak sama dan ketidaksamaan-ketidaksamaan ini muncul
secara tidak teratur dalam berbagai bidang pokok subyek yang berbeda.
Norma-norma kelas juga bisa disalah-interprestasikan kecuali jika para pengguna tes dengan
teguh berpegang pada cara yang benar. Contohnya jika seorang anak kelas empat mendapat
ekuivalen kelas 6,9 pada aritmetik, tidak lalu berarti bahwa dia menguasai proses-proses aritmetik
yang diajarkan pada kelas enam. Jelas dia mendapatkan skornya karena kinerjanya yang hebat
pada aritmetika kelas empat. Tentu saja tak dapat diasumsikan bahwa dia memiliki syarat untuk
aritmetika kelas tujuh. Ahirnya norma-norma kelas cenderung tidak dihargai dengan tepat sebagai
standar-standar kinerja. Seorang guru kelas enam misalnya, bisa mengasumsikan bahwa semua
murid dalam kelasnya seharusnya masuk masuk atau dekat dengan norma kelas enam dalam tes
prestasi. Miskonsepsi ini tentu saja tidak mengejutkan bila norma kelas yang digunakan. Namun,
perbedaan-perbedaan individual dalam kelas manapun adalah sedemikian rupa sehingga rentang
skor tes prestasi mau tak mau akan menjangkau sampai beberapa kelas.
Skala-skala Ordinal. Pendekatan lain pada norma perkembangan berasal dari riset dalam
psikologi anak. Observasi empiris atas perkembangan prilaku dalam diri belita dan anak-anak
kecil mengarah pada deksripsi prilaku yang tipikal untuk umur suksesif pada fungsi-fungsi seperti
lokomosi, diskriminasi sensorik, komunikasi linguistik, dan pembentukan konsep. Sebuah contoh
awal disajikan oleh karya Gesell dan rekan-rekannya di Yale (Ames, 1937; Gasell & Amatruda,
1947; Halverson, 1933; Knobloch & Pasamanick, 1974). Jadwal perkembangan Gesell (gesell
Developmental Schedules) menunjukkan tingkat perkembangan yang mirip dalam satuan yang
diperoleh seorang anak dalam masing-masing empat bidang utama, yakni motorik, adaptif,
bahasa, dan personal-sosial. Semua level ini didapat lewat perbandingan prilaku anak dengan

213

prilaku yang khas pada dari delapan kunci usia, merentang dari empat minggu sampai dengan 36
bulan. Gesell dan rekan-rekannya menekankan pemolaan berurutan dari perkembangan prilaku
awal. Mereka mengutip buku eksentif tentang keseragaman rangkaiaasn perkembangan dan
kemajuan teratur dari perubahan-perubahan perilaku. Contohnya, reaksi anak terhadap objek
kecil yang ditempatkan didepanya menunjukkan urutan kronologis karateristik dalam
kemantapan visual dan dalam gerakan tangan serta jari. Penggunaan seluruh tangan dalam usaha
keras untuk menggenggam dengan telapak tangan terjadi pada usia lebih awal daripada
penggunaan ibu jari yang berhadapan dengan telapak tangan;tipe genggaman ini pada gilirannya
diikuti oleh penggunaan ibu jari dan jari telunjuk dengan genggaman mirip penjepit yang lebih
efisien atas obyek. Pemolaan rangkaian seperti ini juga dilakukan dalam mengamati bagaimana
cara berjalan , naik tangga dan kebanyakan perkembangan sensorimotorik pada beberapa tahun
pertama. Skala yang dikembangkan pada kerangka ini merupakan skala skala teratur dalam arti
bahwa tahap-tahap perkembangan terjadi dalam urutan tetap. Setiap tahap mengandaikan
penguasaan karakteristik-karakteristik perilaku tahap-tahap sebelumnya.
pada tahun 1960-an, ada kebangkitan minat yang tajam terhadap teori-teori perkembangan pada
psikologi anak asal swiss, Jean Piaget. Riset Piaget dilakukan pada perkembangan proses kognitif
dari balita sampai pertengahan remaja. Dia lebih memperhatikan konsep-konsep tertentu
ketimbang kemampuan-kemampuan unum. Sebuah contoh tentang konsep atau skema seperti itu
adalah permanesi objek, yang melaluinya seorang anak sadar akan identitas dan tetap beradanya
objek ketika objek-objek itu dilihat dari berbagai sudut pandang yang berbeda-beda atau bahkan
ketika tidak dipandang. Sebuah konsep lain yang dipelajari secara mendalam adalah pembicaraan
atau penerimaan bahwa suatu atribut tetap konstan meskipun ada perubahan dalam penampakan
perseptual, seperti ketika sejumlah cairan dituangkan kedalam wadah yang bentuknya berbedabeda, atau ketika batang yang sama panjangnya ditempatkan disuatu ruangan dengan cara yang
berbeda-beda.
Tugas-tugas piagetian digunakan secara luas dalam penelitian oleh para psikolog perkembangan,
dan sebagaimana tugas-tugas itu diorganisir kedalam skala yang dibakukan. Hal ini akan
dibicarakan dalam bab 9. Sejalan dengan pendekatan piaget, instrumen-instrumen ini adalah skala
ordinal didalam mana pencapaian suatu tahap bersifat sementara sampai tahap lebih awal
perkembangan terpenuhi. Tugas-yugas ini dirancang untuk menyingkapkan aspek-aspek dominan
setiap tahap perkembangan. Baru kemudian data-data empiris dikumpulkan mencangkup usia
dicapainya setiap tahap pada umumnya. Dalam hal ini, prosedur yang digunakan berbeda dari
prosedur yang diikuti dalam menyusun skala usia, yaitu pertama soal-soal diseleksi berdasarkan
diferensiasi soal-soal itu diantara usia suksesif meskipun minat terhadap sumbangan pendekatan
Piaget terus berlanjut, analisis kritis dan evaluasi empiris telah memperjelas baik dari segi
kontruktif maupun keterbatasan-keterbatasannya (sugarman, 1987)
Ringkasan kata, skala ordinal dirancang untuk mengidentifikasi tahap yang dicapai anak
dalamperkembangan fungsi-fungsi prilaku khusus. Meskipun skor-skor bisa dilaporkan dari segi
tingkat usia aproksimatif, skor-skor semacam itu bersifat skunder terhadap deskripsi kualitatif
prilaku karateristik seorang anak. Ordinalitas skala seperti ini merujuk pada kemajuan
perkembangan melalui tahap-tahap suksesif. Sejauh memberikan informasi secara khusus tentang
apa yang sesungguhnya bisa dilakukan seorang anak 9misalnya, menaiki tangga tanpa
dibantu;menerima identitas dalam kuantitas cairan ketika dituangkan kedalam wadah yang
berbeda-beda bentuknya), skala-skala ini mempunyai segi penting yang juga dimiliki oleh tes-tes
yang merujuk pada domain (domain-referenced tests).

Penutup

Norma adalah penyebaran skor-skor dari suatu kelompok yang digunakan sebagai patokan untuk memberi
makna pada skor-skor individu.

214





Norma perkembangan; digunakan untuk menginterpretasikan skor-skor pada tes-tes perkembangan.
Norma perkembangan dibagi menjadi mental age, basal age, nilai rata-rata yang diperoleh kelompok
umur tertentu, skala ordinal.
Mental Age. Dalam bab 2 dicatat bahwa istilah ‖usia mental‖ dikenal luas lewat penerjemahan dan
adaptasi skala-skala Binet-Simon, meskipun Binet sendiri telah menggunakan istilah lebih netral.
Basal Age. Carole E. Gelfer.Usia Basal merupakan tingkat tertinggi, pada tes standar dalam unit sesuai
dengan usia mental atau usia setara, di bawah ini yang dapat diasumsikan bahwa semua item akan dijawab
dengan benar.
Ekuivalen-ekuivalen kelas. Skor-skor pada tes prestasi pendidikan kerap kalidiinterprestasikan dari segi
ekuivalen-ekuivalen kelas (grade). Praktik ini bisa dimengerti karena tes-tes ini digunakan dalam
lingkungan sekolah.
Skala-skala Ordinal. Pendekatan lain pada norma perkembangan berasal dari riset dalam psikologi anak.
Observasi empiris atas perkembangan prilaku dalam diri belita dan anak-anak kecil mengarah pada
deksripsi prilaku yang tipikal untuk umur suksesif pada fungsi-fungsi seperti lokomosi, diskriminasi
sensorik, komunikasi linguistik, dan pembentukan konsep.
Ringkasan kata, skala ordinal dirancang untuk mengidentifikasi tahap yang dicapai anak
dalamperkembangan fungsi-fungsi prilaku khusus. Meskipun skor-skor bisa dilaporkan dari segi tingkat
usia aproksimatif, skor-skor semacam itu bersifat skunder terhadap deskripsi kualitatif prilaku karateristik
seorang anak. Ordinalitas skala seperti ini merujuk pada kemajuan perkembangan melalui tahap-tahap
suksesif. Sejauh memberikan informasi secara khusus tentang apa yang sesungguhnya bisa dilakukan
seorang anak 9misalnya, menaiki tangga tanpa dibantu;menerima identitas dalam kuantitas cairan ketika
dituangkan kedalam wadah yang berbeda-beda bentuknya), skala-skala ini mempunyai segi penting yang
juga dimiliki oleh tes-tes yang merujuk pada domain (domain-referenced tests).

DAFTAR PUSTAKA
Anne Anastasi. 1997. Tes Psikologi. PT.Prenhalindo. Jakarta
http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/metode-mainmenu-33/32-pengukuran/135norma#sthash.FD61cqjt.dpuf
http://srmo.sagepub.com/view/encyclopedia-of-measurement-and-statistics/n42.xml
http://nindyaajja.blogspot.com/2010/11/norma-dalam-psikometri.html

215

APLIKASI UJIAN PSIKOLOGI DALAM PENGURUSAN SUMBER MANUSIA
Azura Hamdan
Bahagian Pengurusan Psikologi
Jabatan Perkhidmatan Awam Malaysia
Abstrak
Sumber manusia merupakan aset yang paling penting dan sangat bernilai dalam sesebuah organisasi.
Kejayaan atau kegagalan pencapaian matlamat sesebuah organisasi bergantung kepada individu yang dipilih
untuk menerajuinya. Oleh yang demikian, proses pemilihan dan pengambilan seseorang pekerja perlu
dilaksanakan sebaik mungkin agar matlamat organisasi untuk mendapatkan the right man for the right job
with the right attitude tercapai. Bagi membantu pengurus sumber manusia di sesebuah organisasi membuat
pemilihan dan pengambilan calon pekerja yang terbaik, penggunaan ujian psikologi dilihat sebagai instrumen
yang sangat penting kerana kebolehsuaiannya dalam pelbagai kegunaan dalam pengurusan sumber manusia.
Ujian psikologi merupakan suatu bentuk pengukuran atau penilaian keupayaan atau ciri-ciri tertentu
seseorang individu secara kuantitatif seperti sikap, minat, emosi, personaliti, tingkah laku, pemikiran,
perwatakan, kecerdasan, kebolehan, kemahiran dan sebagainya. Melalui penggunaan ujian psikologi,
pemilihan calon yang memenuhi kriteria yang ditetapkan, membantu pengurus sumber manusia menyenarai
pendekkan calon yang dipanggil menghadiri temuduga dan dapat menjimatkan masa serta kos kepada
organisasi. Penggunaan ujian psikologi dalam perkhidmatan awam digunakan bukan sahaja bagi tujuan
pemilihan dan penempatan, tetapi ia juga digunakan bagi tujuan pembangunan potensi diri pegawai dan
mempermudah proses kaunseling. Aplikasi ujian psikologi dalam kaunseling merupakan satu kaedah yang
efisien dalam membantu kaunselor memperoleh maklumat penting dan relevan terutama ketika memberikan
perkhidmatan kaunseling. Maklumat yang diperoleh daripada ujian psikologi selalunya boleh mengesahkan
beberapa aspek berkaitan dengan diri klien dan secara tidak langsung boleh meningkatkan keinginan serta
keyakinan klien untuk menjadi lebih baik.

Pengantar
Secara umumnya ujian psikologi digunakan bagi tujuan menaksir dan menilai maklumat yang diberi oleh
individu kepada penguji. Penggunaan ujian psikologi dalam pengurusan sumber manusia bertujuan membuat
pemilihan, penempatan, penilaian dan pembangunan potensi individu. Walaupun terdapat pelbagai alasan
yang rasional bagi mentadbir ujian psikologi, faktor utama penggunaannya ialah bagi tujuan penilaian dan
mencadangkan strategi rawatan yang bersesuaian bagi menjalankan terapi. Pemberian maklumat oleh
responden kepada penguji atau penilai boleh dilakukan sama ada dalam bentuk jawapan lisan kepada soalan
temu bual, jawapan bertulis kepada soalan pernyataan (buku soalan) atau jawapan bertanda secara
berkomputer.
Menurut Schmidt dan Hunter (1998), dalam mempraktikkan penggunaan ujian psikologi dalam pengurusan
sumber manusia, perkara terpenting dalam penilaian personel yang perlu diberi perhatian ialah kesahan
ramalan (predictive validity). Mereka mentafsirkan kesahan ramalan sesuatu ujian psikologi yang digunakan
dalam pengurusan sumber manusia sebagai kebolehan untuk meramal pencapaian pekerjaan seseorang calon
pada masa hadapan atau tahap pembelajaran yang diperoleh semasa menjalani latihan pekerjaan atau program
pembangunan kerjaya.
Kajian oleh Hunter & Hunter (1984) dan Ree & Earles (1992) menunjukkan bahawa faktor peramal yang
mempunyai kesahan tinggi ke atas pencapaian pekerjaan bagi calon pekerja yang tidak mempunyai
pengalaman bekerja ialah penggunaan alat pengukuran yang menilai kebolehan kecerdasan umum (general
mental ability) atau kebolehan kognitif umum (general cognitive ability) individu. Menurut mereka,
kebolehan ini boleh diukur menggunakan pelbagai ujian kebolehan sedia ada dan digunakan bagi membantu
proses pemilihan. Namun demikian, terdapat pelbagai alat pengukuran lain yang turut memberi sumbangan

216

dalam proses pemilihan calon pekerja seperti tret personaliti (kehematan), integriti, temuduga berstruktur dan
pengetahuan berhubung sesuatu pekerjaan bagi calon yang mempunyai pengalaman kerja.
Menurut Erford (2007), penggunaan ujian psikologi dalam kaunseling memberi banyak kelebihan kepada
kaunselor kerana ia adalah pendekatan paling mudah, menjimatkan masa dan pantas untuk memahami serta
membantu pelajar dan klien menangani permasalahan yang dihadapi. Lambert (2000) pula menyatakan
bahawa penggunaan ujian psikologi dalam kaunseling boleh membantu klien melalui proses perubahan dari
aspek sokongan, pembelajaran dan tindakan.
Masalah
Ujian Psikologi digunakan dalam terapi atau kaunseling bagi tiga tujuan yang saling berkait iaitu:
(a) Mudah Mendapatkan Maklumat Daripada Ujian Jika Dibandingkan Dengan Sesi Temu
Bual
Kebanyakan Pegawai Psikologi mungkin tidak cekap mendapatkan maklumat daripada klien
ketika sesi temu bual diadakan. Melalui ujian psikologi, pegawai boleh memperoleh maklumat
yang mungkin tidak dinyatakan dalam sesi temu bual.
(b) Maklumat Daripada Ujian Adalah Lebih Konsisten Jika Dibandingkan Dengan
Maklumat Sesi Temu Bual
Maklumat yang standard daripada ujian psikologi memberi keputusan yang adil terutama jika ia
melibatkan proses membuat keputusan ke atas klien.
(c) Sukar Untuk Tidak Memberitahu Yang Benar Dalam Ujian Daripada Sesi Temu Bual
Maklumat yang diperoleh daripada ujian psikologi membolehkan pegawai mengetahui sama
ada klien memberitahu perkara yang benar atau sebaliknya berdasarkan kepada petunjuk yang
terdapat dalam ujian psikologi.
Menurut Erford (dlm Meier 2007), penggunaan ujian psikologi dalam terapi atau kaunseling memberi faedah
seperti berikut: ”Assessment is the quickest way to understand students and clients. The better one
understands clients or students, the better and faster one will be able to help them. Assessment saves the
client time, money and most importantly social and emotional pain. The more efficient a professional
counselor becomes in knowing a student or a client, the more effective and respected the counselor will
become.”
Lambert (dlm Watkins dan Campbell 2000) pula menyatakan bahawa penggunaan ujian psikologi dalam
kaunseling boleh membantu klien melalui proses perubahan dari aspek sokongan, pembelajaran dan tindakan.
Maklumat yang diperoleh daripada ujian psikologi selalunya boleh mengesahkan beberapa aspek berkaitan
dengan diri klien dan secara tidak langsung boleh meningkatkan keinginan serta keyakinan klien untuk
menjadi lebih baik.
Pembahasan
e-Psikologi merupakan satu sistem pengambilan ujian psikologi secara berkomputer yang pertama dalam
perkhidmatan
awam
yang
dibuat
melalui
capaian
di
laman
web
JPA
iaitu:
http://www.interactive.jpa.gov.my/ujian.
Permohonan untuk menggunakan perkhidmatan e-Psikologi adalah terhad kepada:
(a)
(b)
(c)

Kementerian, jabatan, kerajaan negeri, agensi badan berkanun dan pihak berkuasa tempatan
(termasuk tentera dan polis);
Pegawai perkhidmatan awam dan ahli keluarga terdekat; dan
Pelajar tajaan JPA.

217

e-Psikologi mempunyai tujuh ujian psikologi yang boleh digunakan yaitu:
(a)

(b)

(c)

(d)

(e)

(f)
(g)

Indikator Perwatakan Unggul (IPU)
Indikator ini bertujuan menilai perwatakan individu dari tiga aspek utama iaitu pemikiran,
emosi dan tingkah laku.
Indeks Bimbingan Kerjaya (IBK)
Indeks ini bertujuan melihat kecenderungan individu terhadap pemilihan kerjaya atau
bidang pengajian yang bersesuaian dengan personaliti diri.
Indeks Personaliti (IP)
Indeks ini bertujuan melihat personaliti dari empat aspek utama iaitu perhubungan sosial,
pemprosesan data, pemprosesan keputusan dan pengamalan gaya hidup.
Inventori Stres Organisasi (ISO)
Inventori ini bertujuan melihat tahap stres yang dialami oleh individu berdasarkan kepada
empat aspek iaitu punca stres, tindak balas terhadap stres, orientasi terhadap stres dan
kemahiran menangani stres.
Inventori Pengurusan Konflik (IPK)
Inventori ini bertujuan melihat pengurusan konflik individu berdasarkan kepada cara gaya,
ekspresi dan reaksi.
Indeks Motivasi Diri (IMD)
Indeks ini bertujuan melihat faktor, punca dan tahap motivasi individu.
Indeks Organisasi Cemerlang (IOC)
Indeks ini bertujuan mengenal pasti isu psikologi yang mungkin perlu diberi perhatian oleh
organisasi seperti stres, motivasi dan sikap.

Penggunaan ujian psikologi dalam proses kaunseling perlu dilakukan oleh pegawai yang terlatih dan
berkemahiran berhubung ujian tersebut agar penyampaian perkhidmatan yang diberikan adalah secara
beretika dan profesionalisme.
Melalui penggunaan ujian psikologi, pegawai boleh mengenal pasti isu atau masalah klien dan seterusnya
menyediakan pelan rawatan (strategi rawatan) bagi membantu klien mengendalikan permasalahan yang
dihadapi dengan lebih efektif.
Rujukan:
Hunter, I. E., & Hunter, R. F. (1984). Validity and utility of alternative predictors of job performance.
Psychological Bulletin, 96, 72-98.
Meier, Scott. T. (2007). Measuring change in counseling and psychotherapy. Guilford Press.
Ree, M. J., & Earles, J. A. (1992). Intelligence is the best predictor of job performance. Current Directions in
Psychological Science, 1, 86-89.
Schmidt, F. L., & Hunter, J. E. (1998). The validity and utility of selection methods in personnel psychology:
Practical and theoretical implications of 85 years of research findings. Psychological bulletin, 124(2),
262-274.
Watkins, C. E. & Campbell, L. V. (2000). Testing and assessment in counseling practice. Lawrence Erlbaum
Associates.

218

Lapan Indeks Kesejahteraan Kendiri (8-I2K)
Rusni A Ghani, Ph.D & Nordin Yusoff
Kluster Penyelidikan dan Pembangunan, Bahagian Pengurusan Psikologi, Jabatan Perkhidmatan Awam (JPA)

Pengantar
Penggunaan Aplikasi Psikologi Dalam Perkhidmatan Awam telah dilaksanakan bermula dengan
perkhidmatan bimbingan dan kaunseling di Kementerian Pelajaran Malaysia hasil perakuan yang dibuat oleh
UNESCO sekitar tahun 1962 hingga 1963. Usaha ini berterusan sehinggalah terbitnya Pekeliling
Perkhidmatan Bilangan 18 Tahun 2005 oleh Bahagian Pengurusan Psikologi, Jabatan Perkhidmatan Awam
sebagai satu garis panduan untuk menggunakan Aplikasi Psikologi dalam pengurusan sumber manusia sektor
awam.
Sejajar dengan program transformasi kerajaan yang ingin melahirkan rakyat berminda kelas pertama
dan berprestasi tinggi, maka alat ukur Lapan Indeks Kesejahteraan Kendiri (8-I2K) dilihat sebagai pelengkap
kepada sebuah masyarakat yang harmoni, berintegriti, sejahtera, minda kelas pertama dan berprestasi tinggi
(Najib Razak 2010; Fatimah Hanum 2011). 8-I2K menggunakan pendekatan kecerdasan dan kesejahteraan
psikologi dalam lapan indikator terpilih iaitu minda, emosi, spiritual, sosial dan fizikal, kewangan,
persekitaran dan pekerjaan. Lapan indikator ini membentuk lapan indeks iaitu Indeks Kesejahteraan Minda,
Indeks Kesejahteraan Emosi, Indeks Kesejahteraan Spiritual, Indeks Kesejahteraan Sosial, Indeks
Kesejahteraan Fizikal, Indeks Kesejahteraan Kewangan, Indeks Kesejahteraan Persekitaran dan Indeks
Kesejahteraan Pekerjaan.
Oleh itu alat ukur 8-I2K dibangunkan sebagai senarai semak untuk mengukur kesejahteraan pegawai
awam di Malaysia yang sebelum ini belum pernah dibina. Skor yang diperoleh bertujuan untuk mengukur
sejauh mana sejahtera nya tingkah laku pegawai awam. Pembangunan instrumen ini dalam aspek aplikasi
penilaian personel mempunyai hubungan rapat dengan integrasi peranan Bahagian Perkhidmatan, JPA.
Instrumen ini penting dalam usaha membantu Bahagian Perkhidmatan mengenal pasti kesejahteraan penjawat
awam kerana kesejahteraan akan memberi impak kepada tingkah laku atau pelaksanaan sesuatu tugas serta
aktiviti dalam kehidupan harian penjawat awam (Myers & Sweeney,2005).
Latar Belakang
8-I2K merupakan gabungan Indeks Kesejahteraan Kendiri (I2K) dan Indeks Pegawai Guna Sama Persekutuan
(IGP). I2K merupakan cetusan idea Bahagian Pengurusan Psikologi, JPA yang mengandungi 5 indeks iaitu
minda, emosi, spiritual, sosial dan fizikal. Pengumpulan item bermula pada tahun 2010. Sumber pool items
minda daripada Gardner (1983), dan Mayer et al. (2008), sumber items emosi dan sosial daripada Mayer et al.
(2008), sumber spiritual daripada Mitroff dan Detton (1999) serta Zohar dan Marshall (2000) mana kala
sumber fizikal daripada kajian lepas. Ahli jawatankuasa terdiri daripada Pegawai Psikologi dan pensyarah
daripada UIAM dan UPM. Kajian rintis I2K dan penambahbaikan dijalankan sehingga 2013 dan pengujian
item dijalankan pada 2014.
IGP adalah hasil cetusan idea Bahagian Perkhidmatan, JPA yang mengandungi 3 indeks iaitu
kewangan, persekitaran dan pekerjaan. Pengumpulan item bermula pada 2012. Sumber pool items
berdasarkan teori Hierarki Keperluan Maslow (1954) dan Roscoe (2009). Item kesejahteraan kewangan
diambil daripada buku Celik Wang: Pengurusan Wang Secara Bijak (2009) dan buku Power Pengurusan
Wang Ringgit Anda (2011) oleh Agensi Kaunseling dan Pengurusan Kredit (AKPK), item kesejahteraan
persekitaran daripada Renger et al. (2000) dan sumber item kesejahteraan pekerjaan oleh Osipow & Spokane
(1987) dan Cooper et al. (1988). Ahli jawatankuasa terdiri daripada Pegawai Psikologi dan pakar daripada
Kementerian Sumber Manusia, Agensi Kaunseling Pengurusan Kredit (AKPK), Jabatan Insolvensi dan
Jabatan Alam Sekitar. Kajian rintis dijalankan pada 2013 hingga 2014 dan pengujian item dijalankan pada
2014.

219

Proses Menguji Item 8-i2k

Kesahan Gagasan 8-12k
Bagi mendapatkan validiti 8-I2K, penyelidik mengendalikan analisis faktor melalui tiga langkah (Pallant
2007) iaitu: 1) menentukan kesesuaian data untuk analisis faktor; 2) mengekstrak faktor; dan 3) pemutaran
faktor.
Kesesuaian analisis faktor ditentukan berdasarkan prinsip utama untuk mengendalikan analisis faktor
iaitu nisbah 2:1 sampel setiap item (Hinton et al. 2004) dan sampel lebih dari 100 adalah sesuai. Bagi
menangani isu kekuatan hubungan antara item, penyelidik berpandukan tiga kaedah Tabachnick dan Fidell
(2006) iaitu i. menggunakan nilai pekali korelasi matrik antara item Measures of Sampling Adequacy (MSA
≥ .5) untuk mengukur kelayakan item; ii. pengukuran statistik kebolehfaktoran Kaiser-Meyer-Olkin (KMO) ≥
.50 bagi mengukur persamaan antara item (multikekolineariti) dan memastikan item sesuai menjalani analisis
faktor dan iii. signifikan ujian kesferaan Bartlett p < .05. Berpandukan semua syarat-syarat ini, penyelidik
mendapati keputusan awal kebolehfaktoran alat ukur 8-I2K memenuhi syarat dan langkah kedua mengekstrak
faktor dijalankan.
Pengekstrakan faktor bertujuan untuk menentukan bilangan faktor yang boleh diekstrak bagi
mewakili pemboleh kesejahteraan yang dikaji. Penyelidik menggunakan teknik Principal Component
Analysis (PCA) kerana teknik ini paling sesuai dan sering digunakan untuk mengurangkan bilangan pemboleh
ubah yang minimum (Gaur & Gaur 2009) dan mampu memberi gambaran yang sama seperti data asal (Field
2009). Prosedur mengekstrak faktor menggunakan program SPSS menunjukkan nilai komunaliti yang
menerangkan proposi varian bagi setiap faktor yang menyumbang kepada perubahan varian keseluruhan

220

(Chua 2009). Semakin tinggi nilai komunaliti bagi sesuatu pemboleh ubah selepas diekstrak, maka semakin
tinggi perubahan varian yang diterangkan oleh pemboleh ubah tersebut (Gaur & Gaur 2009). Darjah
Komunaliti menunjukkan proposi varians bagi setiap faktor. Nilai komunaliti > .8 adalah tinggi, .4 -.7 adalah
sederhana, dan < .4 adalah rendah. Bagi bilangan sampel antara 100 ke 200, nilai ekstrak komunaliti lebih
dari .50 dianggap signifikan dan mencukupi (Field 2009).
Bilangan faktor utama pula ditentukan menggunakan kriteria nilai eigen dan graf scree plot. Keduadua nilai eigen dan scree plot digunakan untuk menentukan bilangan faktor selepas diekstrak. Nilai Eigen > 1
dianggap signifikan dan bilangan faktor utama untuk diekstrak ditentukan merujuk kepada titik lengkuk balas
keluk (siku).
Seterusnya pemutaran faktor dijalankan. Operasi pemutaran menggunakan teknik varimax
(orthogonal
method rotation) bertujuan untuk memudahkan dan menjelaskan struktur data untuk
diinterpretasikan, memaksimumkan sebaran muatan dalam faktor dan mengurangkan bilangan pemboleh ubah
yang mempunyai nilai muatan yang tinggi dalam setiap faktor. Nilai loading > .4 adalah signifikan. Item
yang mempunyai nilai loading lebih tinggi adalah lebih bermakna dengan mengambil kira prinsip bilangan
item dalam faktor iaitu < 3 item dianggap tidak stabil, dan > 5 item dianggap solid. Proses pemutaran dapat
mengurangkan bilangan item dan mengekalkan faktor solid. Interpretasi faktor (penjenamaan konstruk)
dijalankan setelah proses pemutaran faktor.

Keputusan
Jadual 1 dan Jadual 2 menunjukkan ciri-ciri psikometrik setelah proses kesahan gagasan, penjenamaan
konstruk, pemilihan item dan kebolehpercayaan dijalankan.

Jadual 1 Ciri-ciri psikometrik 8-I2K
Indeks
Bil
Normaliti
Komunaliti
Kesejahteraan
Item
(±2)
Sig
1. Minda
28
.520 - .746

(123 sampel)
2. Emosi
15
. 520 - 873

(123 sampel)
3.Spiritual (123 12
.576 - .921

sampel)
4. Sosial
16
.517 - .742

(123 sampel)
5. Fizikal
9
.536 - .770

(123 sampel)
6.Kewangan (201 15
.527 - .821

sampel)
7.
Persekitaran 14
.500 - .789

(201 sampel)
8. Pekerjaan (273 36
.548 - .814

sampel)

KMO

Bartlett’s
Test

MSA

Faktor

α

.900

.000

4

.942

.891

.000

3

.909

.787

.000

3

.805

.914

.000

2

.852

.814

.000

2

.852

.865

.000

3

.863

.884

.000

2

.905

.913

.000

.805
-.937
.791
- .954
.565
- 889
.526
- .967
.625
- .900
.789
- .942
.826
- .943
.740
- .948

5

.937

Setelah melalui proses pengujian item, akhirnya 8-I2K mempunyai 97 item dengan nilai α keseluruhannya
ialah .923 manakala nilai α setiap konstruk antara .793 – 946.

221

Jadual 2 Penjenamaan konstruk 8-I2K
Indeks
Bil
Sub Konstruk
Kesejahteraan
Item
1. Minda
12
F1: Pembuatan Keputusan
F2: Kreatif dan Inovatif
F3: Kebolehan Mengingat
F4: Pembelajaran
2. Emosi
15
F1: Pengurusan Emosi
F2: Pengurusan Kendiri
3. Spiritual
12
F1: Kepercayaan
F2: Bersyukur
F3: Pengamalan
4. Sosial
13
F1: Kesejahteraan Sosial
5. Fizikal
7
Kesejahteraan Fizikal
6. Kewangan
13
F1: Pelan Kewangan Yang Bertulis
F2: Berbelanja Mengikut Kemampuan
F3: Perancangan Kewangan Yang Baik
7. Persekitaran
10
F1: Organisasi
F2: Alam Sekeliling
8. Pekerjaan
15
F1: Kepemimpinan
F2: Akauntabiliti
F3: Kompeten
F4: Keterlibatan
F5: Beban Kerja
Jumlah
97

Faktor

α

4

.833

2

.924

3

.805

2
1
3

.946
.793
.848

2

.873

5

.832

22

.923

Rumusan
Alat ukur 8-I2K telah melalui proses pengujian item yang ketat dan mematuhi syarat-syarat kesahan gagasan
yang ditetapkan. Hasil pengujian menjadikan alat ukur 8-I2K mengandungi 97 item yang terdiri daripada 8
konstruk iaitu minda, emosi, spiritual, fizikal, sosial, kewangan, persekitaran dan pekerjaan yang mempunyai
24 sub konstruk keseluruhannya. Keputusan analisis yang dijalankan ke atas 97 item cadangan menunjukkan
nilai pekali kebolehpercayaan alfa Cronbach alat ukur 8-I2K ialah .923. Nilai ini menunjukkan 8-I2K
mempunyai pekali kebolehpercayaan alfa Cronbach yang tinggi (Mohd Najib 1999) dan memuaskan (Chua
2006) dan boleh diterima untuk diguna pakai kerana ia mengukur pemboleh ubah dengan tekal.
Rujukan
Chua Yan Piaw. 2006. Kaedah penyelidikan. Malaysia: Mc-Graw-Hill (Malaysia) Sdn Bhd.
Chua Yan Piaw. 2009. Statistik penyelidikan lanjutan: ujian regresi, analisis faktor dan analisis SEM.
Malaysia: Mc-Graw-Hill (Malaysia) Sdn Bhd.
Cooper, C. L. Sloan, S.J. & Williams, S. 1988. The occupational stress
indicator. Windsor, UK: NFER-Nelson.
Fatimah Hanum Mohamad Hajari/ PERKAMA International Convention 2011.
Field, A. 2009. Discovering statistics using SPSS. London: Sage Publications Ltd.
Gardner, H. 1983. Frames of mind: The theory of multiple intelligences In Paik, H.S. One Intelligence or
Many? Alternative Approaches to Cognitive Abilities.
http://www.personalityresearch.org/papers/paik.html. Jun 2011.
Gaur, A. S., & Gaur, S. S. 2009. Statistical methods for practice and research: A guide to data analysis using
SPSS. Ed. Ke-2. New Delhi:
Response Books.
Hinton, P. R., Brownlow, C., McMurray, I. & Cozens, B. 2004. SPSS explained. London: Routledge.
Mayer, J.D., Roberts, R.D., & Barsade, S.G. 2008. Human abilities: Emotional intelligence. Annual Review
Psychologist. 59(1): 507-536.

222

Mitroff, I. & Denton, E. 1999. A Spiritual audit of corporate America: A
hard look at spirituality,
religion, and values in the workplace In Ashar, H. & Lane Maher, M. 2002. Spirituality in the
workplace – a measure of success? Journal of Behaviour and Applied Management, 3(3), 191205.
Mohamed Najib Abdul Ghafar. 1999. Penyelidikan pendidikan. Johor:
Universiti Teknologi
Malaysia.
Najib Razak. 2010. Transformasi Minda: Memeta Wawasan Melaksana Amanah. Kuala Lumpur : INTAN.
Pallant, J. 2007. SPSS survival manual. USA: McGraw-Hill.
Osipow, S. H., & Spokane, A. R. (1987). A manual for the occupational stress inventory (Research Version).
Odessa, FL: Psychological Assessment Resources.
Renger, R. F., Midyett, S. J., Mas, F. G., Erin, T. E., McDermott, H. M.,
Papenfuss, R. L., Eichling, P.
S., Baker, D. H., Johnson, K. A., & Hewitt, M. J. 2000. Optimal Living Profile: An inventory to
assess health and wellness. American Journal of Health Promotion, 24(6) 403-412.
Tabachnick, B. G. & Fidell, L. S. 2006. Using Multivariate Statistics (5th ed.). Massachusetts: Allyn &
Bacon.
Zohar, D. & Marshall, I. 2000. SQ: Spiritual Intelligence. The Ultimate Intelligence In Selman, V., Selman,
R.C., Selman, J. & Selman, E.(2005). College Teaching Methods & Styles Journal. 1(3): 23-30.

223

KONSELING EKSISTENSIAL HUMANISTIK UNTUK MENINGKATKAN KECERDASAN
INTERPERSONAL SISWA

I Gede Tresna, S.Pd.,M.Pd
Program Studi Bimbingan dan Konseling
Fakultas Ilmu Pendidikan
IKIP PGRI Bali
Email : gedetresna2013@gmail.com

ABSTRACK
Based on the results of the discussion and analysis, lack of interpersonal intelligence allegedly as a result of:
(1) lack of interaction with his friends, (2) feel alienated, within, or mistrust, (3) do not have time to play with
his friend, (4 ) is too busy with its own affairs and pressure from parents, (5) the lack of communication and
relationship with parents. The research objective is to improve high school students' interpersonal
intelligence. The subjects were students who had low interpersonal intelligence. Dilakuakan research
procedure with the following steps: (1) planning action, (2) implementation of the action, (3) observation, (4)
reflection. Based on the results of data analysis data showed that: in the first cycle of an increase in students'
interpersonal intelligence that ranged from 38.7% to 55.8%, and when viewed as a group increased 49.7% and
reached the second cycle individually increased interpersonal intelligence students who ranged from 52.5% to
83.7% up to 83.7% and in group increased by 67.4%. Based on the results of research and discussion of this
study concluded that: implementation of the humanistic existential counseling services can improve students'
interpersonal intelligence.
Kata Kunci : Eksistensial Humanistik, Kecerdasan Interpersonal
A.

Pengantar
Kecerdasan interpersonal merupakan kemampuan yang sangat penting bagi manusia. Menurut Lewin

et al (2008: 199) dengan kecerdasan interpersonal yang baik seseorang dapat : a) menjadi orang dewasa yang
sadar secara sosial dan mudah menyesuaikan diri, b) menjadi berhasil dalam pekerjaan, dan c) mewujudkan
kesejahteraan emosional dan fisik. Dan untuk itulah pengembangan kecerdasan interpersonal merupakan
usaha yang harus dilakukan oleh setiap individu dengan: a) melatih dirinya berkomunikasi secara efektif, b)
belajar bekerja sama dengan orang lain, c) belajar untuk memahami pikiran, perasaan, dan maksud orang lain,
d) mengembangkan karakter yang mendukung aktivitas menjalin relasi dengan orang lain, misalnya ramah,
rendah hati, berpikiran positif.
Banyak sekali orang yang tidak menyadari betapa pentingnya kecerdasan ini. Padahal kemampuan
interpersonal yang baik sangat diperlukan dalam kehidupan pribadi, lingkungan pekerjaan atau dalam
bermasyarakat. Mereka yang kecerdasan sosialnya terlatih sejak kecil akan mudah bergaul, berteman, dan
berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya, sehingga dapat lebih berhasil dalam pendidikannya atau
mungkin mendapat jenjang karier lebih tinggi dan lebih cepat. Fakta dalam kehidupan sehari-hari
menunjukkan, orang-orang yang kurang cerdas secara sosial sulit berkembang dalam pendidikan atau
lingkungan masyarakatnya, meskipun mereka pandai secara akademik. Sedangkan mereka yang cerdas sosial

224

walaupun tidak memiliki IQ tinggi, mampu menjalin hubungan, kerja sama atau mempengaruhi dan
memimpin orang lain.
Berbagai upaya pada umumnya telah dilakukan untuk meningkatkan kecerdasan interpersonal siswa
adalah: 1) mengarahkan siswa memahami perasaan orang lain. Untuk dapat memahami perasaan orang lain
anak perlu belajar dulu rasa senang, sedih, marah, takut, kecewa, dan sebagainya. Tegur segera jika anak
mulai bersikap tidak mengindahkan perasaan orang lain dan jangan beranggapan bahwa siswa akan belajar
bersikap lebih baik tanpa peringatan dari kita. Selalu diingatkan bahwa jika kita ingin diperlakukan baik oleh
orang lain, maka kita pun meski berbuat serupa. 2) Memberi kesempatan kepada siswa untuk merasa nyaman
bersama siswa lain dan mengajarkan keberanian untuk berteman adalah keterampilan penting yang akan
menguntungkannya di kemudian hari. 3) bekerja dengan teman-teman. Berlatih bekerja dengan teman akan
menghasilkan serangkaian nilai positif dan keterampilan sosial yang akan membantunya tumbuh sehat, mudah
menyesuaikan diri, dan kuat. Ini merupakan sumbangan pada aset perkembangan anak tersebut. 4) belajar
mempercayai. Belajar mempercayai orang lain adalah unsur penting dalam mempertahankan hubungan yang
kuat dengan orang-orang yang kita sayangi dan bekerja sama dengan mereka. 5) mengungkapkan kasih
sayang. Menurut para psikiater, menerima dan memberi pelukan sangat penting bagi kita untuk tumbuh
menjadi orang dewasa yang mantap secara emosional. Secara teratur, peluklah anak kita dan doronglah
mereka untuk memeluk kita dan teman-teman baiknya. Hal ini untuk membiasakan mereka mengungkapkan
rasa kasih sayangnya. 6) belajar menyelesaikan masalah atau konflik kemasyarakatan. Maka dengan
demikian, kecerdasan interpersonal sangat penting untuk ditingkatkan.

B.

Kajian Teori

Konseling Eksistensial Humanistik
Eksistensial humanistik adalah suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia alihalih suatu sistem teknik-teknik yang digunakan untuk mempengaruhi klien dimana pendekatan ini mencakup
terapi-terapi yang berlainan yang semuanya berlandaskan konsep-konsep dan asumsi tenntang manusia
(Corey, 2009: 55). Sedangkan menurut Hartono dan Soedarmadji (2012: 143) Humanistik adalah manusia
mempunyai sifat yang baik, pernyatan tersebut mengandung makna bahwa manusia itu mempunyai
kemampuan untuk terus berkembang, mengarahkan diri, kreatif dan dapat memenuhi kebutuhannya sendiri
dan mampu menentukan arah hidupnya sendiri dengan penuh kesadaran dan kebebasan.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas yang dimaksud dengan
manusia mempunyai sifat yang baik, dimana pemahaman manusia

eksistensial humanistik adalah

menggunakan teknik-teknik untuk

membantu klien berkembang, mengarahkan diri, kreatif dan mampu memenuhi kebutuhannya sendiri serta
menetukan arah hidupnya sendir dengan penuh kesadaran dan kebebasan.

225

Tujuan Konseling Eksistensial Humanistik
Konseling Eksistensial humanistik bertujuan untuk: (1) agar klien mengalami keberadaannya secara
otentik dengan menjadi sadar atas keberadaannya dan potensi-potensi serta sadar bahwa ia dapat membuka
diri dan bertindak berdasarkan kemampuannya. (2) meluaskan kesadaran diri klien dan karenanya
meningkatkan kesanggupan pilihannya yakni menjadi bebas dan bertanggung jawab atas arah hidupnya. (3)
membantu klien agar mampu menghadapi kecemasan sehubungan dengan tindakan memilih diri dan
menerima kenyataan bahwa dirinya lebih dari sekedar korban kekuatatan deterministik di luar dirinya (Corey,
2009: 58).

Teknik konseling eksistensial humanistik
Teknik konseling eksistensial humanistik (Komalasari, Dkk, 2011: 271) yaitu:
1) Mendengaran Aktif yaitu memperhatikan perkataan konseli, sensitif terhadap kata atau kalimat
yang diucapkan, intonasi dan bahasa tubuh konseli.
2) Mengulang kembali yaitu mengulang perkataan konseli dengan kalimat yang berbeda.
3) Memperjelas yaitu merespon pernyataan atau pesan konseli yang membingungkan dan tidak
jelas, dengan memfokuskan pada isu-isu utama dan membantu individu untuk menemukan dan
memperjelas perasaan-perasaan konseli yang bertolak belakang.
4) Menyimpulkan yaitu keterampilan konselor untuk menganalisis seluruh elemen-elemen penting
yang muncul dalam seluruh atau bagaian sesi konseling.
5) Bertanya yaitu untuk menggali informasi yang lebih dalam dari konseli. Dalam bertanya ada dua
jenis pertanyaan yaitu pertanyaan tertutup dan terbuka.
6) Menginterpretasi yaitu kemampuan konselor dalam mengenterprestasi pikiran, perasaan atau
tingkah laku konseli yang bertujuan untuk memberikan persfektif alternatif.
7) Mengkonfrontasi yaitu cara yang kuat untuk menentang konseli untuk melihat dirinya secara
jujur, konfrontasi adalah cara yang efektif untuk membuka mata anggota kelompok.
8) Merefleksikan perasaan yaitu kemampuan untuk merespon terhadap esensi perkataan bukan
sekadar memantulkan perasaan konseli dan termasuk pula ekspresinya.
9) Memberikan dukungan adalah upaya memberikan penguatan kepada konseli, terutama ketika
konseli berhasil membuka informasi-informasi personal.
10) Berempati yaitu kemampuan untuk sensitif terhadap hal-hal subyektif konseli. Untuk dapat
melakukan empati konselor harus memiliki perhatian dan penghargaan terhadap konseli.
11) Memfasilitasi yaitu membedayakan konseli untuk mencapai tujuan-tujuannya.
12) Menentukan tujuan yaitu konselor menstimulasi konseli menentukan dan memperjelas tujuantujuan yang akan dicapai dalam proses koneling.
13) Mengevaluasi yaitu mengevaluasi seluruh proses konseling.
14) Memberikan umpan balik

226

15) Menjaga yaitu upaya onselor untuk menjaga konseli dari kemungkinan resiko-resiko psikologis
dan fisik yang tidak perlu.
16) Mengakhiri yaitu keterampilan konselor unuk menentukan waktu dna cara mengakhiri kegiatan
konseling.

Kecerdasan Interpersonal
Kecerdasan interpersonal merupakan suatu kemampuan seseorang untuk peka terhadap perasaan
orang lain. Mereka cenderung untuk memahami dan berinteraksi dengan orang lain sehingga mudah
bersosialisasi dengan lingkungan disekelilingnya (B.Uno, Umar 2009:13). Sedangkan menurut (Widodo S.
(2010) Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk mengamati dan mengerti maksud, motivasi dan
perasaan orang lain. Peka pada ekpresi wajah, suara dan gerakan tubuh orang lain dan ia mampu memberikan
respon secara efektif dalam berkomunikasi. Kecerdasan ini juga mampu untuk masuk ke dalam diri orang
lain, mengerti dunia orang lain, mengerti pandangan, sikap orang lain dan umumnya dapat memimpin
kelompok (Widodo S, 2010).
Dari pendapat di atas disimpulkan kecerdasan interpersonal adalah kemampuan individu dalam
pemahaman sosial, kepekaan sosial, dan keterampilan menjalin komunikasi sosial, guna untuk
mempertahankan suatu hubungan antar pribadi (sosial) yang sehat dan saling menguntungkan.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan Interpersonal
Faktor-faktor yang memengaruhi kecerdasan interpersonal yaitu: (1) faktor bawaan, (2) sejarah
hidup pribadi, (3) latar belakang cultural dan historis (Jaisy, 2009)
1) Faktor bawaan atau biologis, termasuk di dalam nnya factor keturunan atau genetus, luika atau cedera otak
sebelumnya, selama dan sesudah kelahiran. Gardner menyatakan

semua indeks dalam riset otak

menyatakan bagian depan otak memainkan peran yang menonjol dalam pengetahuan antar pribadi,
kerusakan otak bagian depan akan berpengaruh pada kecerdasan seseorang, terutama kaitannya dengan
orang lain.
2) Sejarah hidup pribadi, termasuk didalamnya pengalaman dengan orang tua, baik yang membangkitkan
maupun yang menghambat pengembangan kecerdasan.
3) Latar belakang cultural dan historis, termasuk waktu dan tempat dilahirkan dan dibesarkan serta sifat dan
kondisi perkembangan historis atau cultural di tempat-tempat lain.

Aspek Kecerdasan Interpersonal
Anderson (dalam Jaisy, 2009 ) menyatakan kecerdasan sosial atau kecerdasan interpersonal
mempunyai tiga aspek utama yaitu: (1) kepekaan sosial, (2) wawasan sosial, (3) keterampilan komunikasi
sosial.

227

1)

Social senitivity (kepekaan sosial) yaitu kemampuan siswa untuk mampu merasakan dan mengamati
reaksi-reaksi atau perubahan orang lain yang ditunjukkan baik secara verbal maupun nonverbal. Siswa
memiliki Social sensitivity akan mudah memahami dan menyadari adanya reaksi-reaksi tertentu dari
orang lain, baik reaksi positif maupun reaksi negatif, Social sensitivity meliputi :
a)

Sikap Empati. Empati adalah sejenis pemahaman perspektif yang mengacu pada ―respon emosi yang
dianut bersama dan dialami individu ketika ia mempersepsikan reaksi emosi orang lain‖. Empati
memiliki dua komponen yaitu kognitif dan efektif. Komponen kognitif itu pertama adalah
kemampuan individu untuk mengidentifikasi masalah dan melabelkan perasaan orang lain. Kedua
kemampuan individu mengasumsikan perspektif orang lain. Komponen afektif adalah kemampuan
dalam keresponsifan emosi.

b) Sikap prososial. Sikap prososial adalah tindakan moral yang harus dilakukan secara cultural seperti
berbagi, membantu seseorang yang membutuhkan, bekerjasama dengan orang lain dan
mengungkapkan simpati.
2) Social insight (wawasan sosial) yaitu kemampuan siswa untuk memahami dan mencari pemecahan
masalah yang efektif dalam suatu interaksi sosial, sehingga masalah tidak menghambat apalagi
menghancurkan relasi sosial yang telah dibangun siswa. Pondasi dasar dari Social insight adalah
berkembangnya kesadaran diri siswa secara baik. Kesadaran diri yang berkembang akan membuat siswa
mampu memahami dirinya baik keadaan internal maupun eksternal seperti menyadari emosi-emosi yang
muncul (internal) atau menyadari cara berbicara dan intonasi suaranya (eksternal). Pemahaman sosial
meliputi:
a)

Kesadaran diri . kesadaran diri adalah mampu menyadari dan menghayati totalitas keberadaannya
didunia seperti menyadari keinginan-keinginannya, cita-citanya, harapan-harapannya dan tujuantujuannya dimasa depan. Kesadaran diri ini sangat penting dimiliki oleh siswa karena kesadaran diri
memiliki fungsi monitoring dan fungsi kontrol dalam diri.

b)

Pemahaman situasi sosial dan etika sosial. Untuk sukses dalam membina dan mempertahankan
sebuah hubungan, individu perlu memahami norma-norma moral dan sosial yang berlaku
dimasyarakat. Didalam norma moral dan sosial terdapat ajaran

yang membimbing individu

bertingkah laku yang benar dalam situasi sosial.
c)

Pemecahan masalah efektif, setiap individu membutuhkan keterampilan untuk memecahkan masalah
secara efektif. Apalagi jika masalah tersebut berkaitan dengan konflik interpersonal. semakin tinggi
kemampuan individu dalam memecahkan masalah, maka akan semakin positif hasil yang akan
didapatkanya dari penyelesaian konflik antar pribadi tersebut. Sedangkan individu yang memiliki
kecerdasan interpersonal yang tinggi memiliki keterampilan memecahkan masalah konflik antara
pribadi yang efektif, dibandingkan individu yang kecerdasan interpersonalnya rendah.

3)

Social communication atau keterampilan komunikasi sosial merupakan kemampuan individu untuk
menggunakan proses komunikasi dalam menjalin dan membangun hubungan interpersonal yang sehat.

228

Keterampilan komunikasi yang harus dikuasai adalah keterampilan mendengarkan efektif, dan
keterampilan berbicara dengan orang lain.

C.Pembahasan
Pada kenyataannya banyak siswa yang memiliki kecerdasan interpersonal yang tergolong rendah,
hal ini dapat dilihat dari hasil observasi awal yang dilakukan oleh peneliti. Untuk mencapai kecerdasan
interpersonal siswa yang optimal secara merata dikelas tidaklah mudah, karena didalam satu kelas ataupun
satu sekolah terdiri dari banyak siswa yang memiliki perilaku yang berbeda. Perbedaan ini sangat tampak
terutama pada kemampuan masing-masing siswa dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan siswa lainnya
baik dalam pelajaran ataupun bermain dilingkungan sekolah. Setelah dilaksanakan tindakan-tindakan pertama
ternyata kecerdasan interpersonal siswa meningkat. Hal ini dibuktikan dari hasil observasi setelah tindakan
terjadi peningkatan skor kecerdasan interpersonal siswa.
Hasil observasi dan evaluasi yang dilakukan selama dua tahap tindakan tersebut, ternyata dapat
meningkatkan kecerdasan interpersonal siswa. Setelah dilakukan tindakan pada siklus pertama terjadi
peningkatan kecerdasan interpersonal siswa antara 38,7% sampai denga 55,8 % secara individu dan jika
dilihat secara kelompok mengalami peningkatan mencapai 49,7 %. Pada siklus tindakan kedua, terjadi
peningkatan kecerdasan interpersonal siswa antara 52,5% sampai dengan 83,7 % dan secara kelompok terjadi
peningkatan sebesar 67,4%.

Berdasarkan data diatas, maka dapat ditarik simpulan bahwa penerapan

layanan konseling eksistensial humanistik dapat meningkatkan kecerdasan interpersonal siswa.
Daftar Pustaka
Corey,Gerald. 2009. Teori dan Praktek Konseling Psikoterapi. Bandung: PT Refika Aditama.
Farid Mashudi, Psikologi Konseling. Jogjakarta: IRCiSoD
Gie,The Liang. 1980. Cara Belajar Efektif. Yogyakarta:Gajah Mada Press
Hartono, Boy Soedarmadji. 2012. Psikologi Konseling. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Hikmawati,Fenti. 2010. Bimbingan Konseling. Bandung: PT Rajagrafindo Persada.
Jaisy. 2009. Jurnal, Bimbingan untuk meningkatkan kecerdasan sosial (multifly.com/jurnal/item/71).
Http://wyw.id.wordpress.com
Juntika. 2005. Strategi Layanan Bimbingan & Konseling. Bandung: PT Refika Aditama.
Komalasari, Gantina, Dkk. 2011. Teori dan Teknik Konseling. Jakarta: PT Indeks.
Tohirin. 2007. Bimbingan dan konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Intelegensi). Jakarta: PT.
Rajagrafindo Persada.

229

BIMBINGAN PSIKOLOGI DALAM KELUARGA SEBAGAI PENDEKATAN MENGHADAPI MEA

Putu Agus Semara Putra Giri, S.Pd.,M.Pd
Program Studi Bimbingan dan Konseling
Fakultas Ilmu Pendidikan
IKIP PGRI Bali
Email : agusgiri84@gmail.com

Abstrak
The presence of the Asean Economic Community (AEC), making the formation of a free trade area in
Southeast Asia which was designated unitary region market and production base. MEA will lead to
increasingly high demands of life and competitiveness, not only emerge from the nation itself but from other
nations.
The role of the family as primary education plays an important role in preparing the human face of the MEA.
Psychological understandings in the family will bring the ark families achieve the goal of a prosperous and
happy life. Welfare and happiness that is the main capital as a force in the face of global challenges.

Kata kunci : MEA, Psikologi keluarga

Pengantar
Sejalan dengan perkembangan zaman, bangsa Indonesia mulai menghadapai berbagai bentuk
tantangan global, nasional dan lokal. Tantangan-tantangan itu harus dihadapi dengan sebaik-baiknya, terlebih
hadirnya Masyarakat Ekonomi Asean atau yang dikenal dengan istilah MEA, dimana akan terbentuk sebuah
kawasan pasar bebas di kawasan Asia Tenggara yang diijadikan sebuah wilayah kesatuan pasar dan basis
produksi. Dengan terciptanya kesatuan pasar dan basis produksi maka akan membuat arus barang, jasa,
investasi, modal dalam jumlah yang besar, dan skilledlabour menjadi tidak ada hambatan dari antara negaranegara di kawasan Asia Tenggara.
Dihadapkan oleh sebuah kenyataan tersebut di atas, maka bangsa Indonesia harus segera
menyiapkan sumber daya manusia yang kompetitif dan berkulitas global, MEA akan mengakibatkan tuntutan
hidup yang semakin tinggi dan berdaya saing, tidak hanya muncul dari bangsa sendiri namun dari bangsa lain.
Salah satu usaha penting yang dapat mengatasi dan menumbuh kembangkannya sumber daya
manusia dalam menghadapi MEA adalah melalui pendidikan. Menurut Musaheri (2007), ‖pendidikan dalam
arti luas merupakan bantuan atau pertolongan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain untuk
mengembangkan dan memfungsionalkan rohani (pikiran, rasa, karsa, cipta dan budi nurani) manusia dan
jasmani (pancaindera dan keterampilan-keterampilan) manusia agar meningkat wawasan pengetahuannya‖.

230

Jadi pendidikan tidak cukup terfokus pada aspek kognitif semata tetapi juga aspek non kognitif. Kedua aspek
ini memberi pengaruh yang cukup besar terhadap perkembangan.
Selain pendidikan di sekolah maupun di masyarakat, keluarga merupakan sumber pendidikan utama,
dimana segala pengetahuan dan kecerdasan intelektual manusia diperoleh pertama-tama dari orang tua dan
anggota keluarganya sendiri. Keluarga sebagai pusat dan tempat kelahiran individu, merupakan peletak dasar
pendidikan pertama dan utama. Peran keluarga tidak dapat disangsikan lagi dalam pembinaan perkembangan
kepribadian dan tingkah laku anak. Oleh karena itu keluarga harus menempatkan perannya demi tercapainya
perkembangan pribadi dan tingkah laku anak secara optimal. Seperti dikemukakan oleh Havigurst (1968),
bahwa keluarga memberikan sumbangan paling besar dalam pembentukkan kepribadian dan tingkah laku
anak. Sikap kerjasama dan saling menghargai dengan penuh pemahaman diantara kedua orang tua, akan
menciptakan suasana kehidupan keluarga yang harmonis. Keharmoisan hubungan dalam keluarga
memberikan kesempatan kepada anak didik untuk saling percaya diri, saling menghargai sesama anggota
keluarga, sehingga mereka mendapatkan ketenangan dalam menjalani kehidupan dengan penuh makna.
Banyak persoalan yang sering muncul sehubungan dengan permasalahan anak dalam keluarga.
Abdul Aziz El-Qussy (2001) menyebutkan 11 faktor dalam keluarga yang menyebabkan anak bermasalah.
Kesebelas faktor tersebut adalah 1) rusaknya hubungan suami istri, 2) kerasnya orang tua dalam
memperlakukan anak, 3) anak merasa tersingkir dan diabaikan oleh orang tua, 4) pendapat anak tak pernah
dihargai, 5) banyaknya sanksi yang tidak mendidik, 6)orang tua memperlakukan anak secara tidak tegas dan
jelas, 7) anak yang satu dengan yang lain tidak bisa rukun, 8) Contoh orang tua yang negatif, 9) Orang tua
yang sangat sibuk sehingga jarang di rumah, 10) jumlah anak terlalu banyak dan sempitnya tempat tinggal,
dan 11) rendahnya status sosial keluarga. Orang tua sebagai pendidik kodrat harus dengan sadar memahami
bahwa keluarga dapat sebagai pencetus timbulnya masalah tingkah laku anak. Kesadaran ini akan membawa
implikasi bahwa keluarga perlu menempatkan peranya sebagai payung keluarga, sehingga anak-anak tidak
kepanasan dalam mengarungi kehidupan, terlebih dengan tantangan serta persaingan global MEA yang sangat
ketat.
Kesadaran tersebut hendaknya dibarengi dengan selalu meningkatkan ketrampilan dalam mendidik
dan mengontrol keluarga agar selau berada pada jalan yang sesuai dengan norma kehidupan.

Pembahasan
A.

Peran Keluarga membantu memecahkan masalah anak
Permasalahan-permasalahan yang sering dijumpai pada anak dalam keluarga dapat disebabkan oleh

berbagai faktor. Untuk dapat membantu anak menanggualangi permasalahan-permasalahan anak, orang tua
perlu memahami latar belakang penyebab dari masalah tersebut. Bila latar belakang penyabab dapat dipahami
dengan baik, orang tua dapat melakukan peranya dalam membantu anak memecahkan masalahnya.
Permasalahan-permasalahan

tingkah laku seperti

membolos sekolah, tidak mengaerjakan PR,

memberontak terhadap orang tua, terlibat tawuran, merokok, sampai penyalahgunaan narkoba dapat muncul

231

kapan saja pada anak. Permasalahan-permasalahan itu muncul sebagai dampak dari kemajuan media masa,
yang secara bebas menvisuliasasikan kejadian-kejadian yang dapat memicu anak-anak untuk melakukannya.
Hal ini menuntut kewaspadaan orang tua dalam memberikan perhatian, pengawasan dan kontrol pada anakanaknya, melalui kerja sama dalam keluarga..
Sebagai pusat dan tempat kelahiran dan pendidikan anak yang pertama dan utama, keluarga dapat
dikatakan sebagai peletak sendi-sendi kehidupan anak. Ini berarti keluarga sangat menentukan perkembangan
kelangsungan hidup anak, karena kepribadian dan tingkah laku anak untuk pertama kali terbentuk dalam
keluarga.
Dimensi-dimensi keluarga yang berperan dalam pembentukan, perkembangnan, dan kelangsungan
hidup anak dapat dipilah menjadi tiga, yaitu dimensi struktural, dimensi proses, dan dimensi aspirasi. (
Johnstone dan Jiyono, 1983). Dimensi struktural mencakup pada status sosial ekonomi keluarga,yang di
dalamnya mencakup keutuhan keluarga, jumlah anak dalam keluarga, dan bahasa yang digunakan. Dimensi
proses mencakup aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh orang tua dan anak sehubungan dengan proses
belajar di rumah. Sedangkan dimensi aspirasi mencakup aspirasi orang tua terhadap pendidikan dan pekerjaan
anak di masa mendatang.
Di pihak lain Keeves (1997) menyebut unsur-unsur keluarga dalam pendidikan anak adalah dimensi
struktural, proses dan sikap. Sedangkan Marjoribanks (1997) menyebutkan bahwa unsur-unsur keluarga
adalah lingkungan dan stutus sosial keluarga. Status sosial yaitu status sosial ekonomi keluarga, sedangkan
lingkungan adalah lingkungan sosial psikologis dan lingkungan sosial linguistik keluarga.
Dalam melakoni perannya sebagai orang tua dalam keluarga, perlu dipahami bahwa upaya
pendidikan dalam keluarga adalah tanggung jawab bersama diantara orang tua. Dalam hal ini orang tua
hendaklah menjaga sikap dan tingkah lakunya dalam mendidik anak-anak, sehingga permasalahanpermasalahan yang mungkin muncul pada anak dapat dicegah, bahkan permasalahan-permasalahan tingkah
laku anak yang sudah ada dapat ditanggulangi dengan baik. Peran itu dapat dilakukan dengan baik bila
keharmonisan dalam keluarga tetap terjaga.
Sehubungan dengan itu Zakiah Daradjat (2000) mengemukakan bahwa faktor penting dalam
pendidikan sehubungan dengan tingkah laku dan kepribadian anak adalah hubungan antara anggota keluarga,
keadaan dan suasana rumah tanga, hubungan antara kedua orang tua, serta sikap orang tua terhadap keluarga.
Di pihak lain Selo Sumarjan dan Yaumil Achir (1986) menyampaikan bahwa sejumlah kasus kenakalan
anak remaja, umumnya disebabkan oleh hubungan yang kurang harmonis anatar anak dengan orang tuanya.
Padahal hubungan timbal balik yang berlansung lancar dan manis merupakan mata rantai pembinaan watak
dan kepribadian anak. Di sisni jelas sekali bahwa keluarga sangat menentukan pembentukan pribadi dan
tingkah laku anak, melalui penataan hubungan harmosis dan pengembangan sikap positif dalam pendidikan
anak.
Pendapat para ahli psikologi dan pendidikan seperti Gruenberg (1997) menyebutkan bahwa apabila
remaja merasa aman dalam keluarga maka anak remaja tersebut akan dapat mengatasi tugas-tugas sekolahnya

232

dengan baik. Sebaliknya suasana keluarga yang ditandai dengan hukuman-hukuman, ketidak teraturan,
suasana kaku akan mengakibatkan kesukaran-kesukaran bagi anak dan remaja. Sinolungan (1979)
menyimpulkan hasil penelitiannya bahwa hubungan antara orang tua yang tidak utuh berpengaruh secara
signifikan terhadap kecenderungan nakal para remaja. Penciptaan suasana harmonis, melalui interaksi yang
sehat dan kondusif serta saling menghargai satu sama lain akan membentuk tingkah laku positif dan
produktif,

sedangkan

keretakan-keratakan

dalam

interaksi

tersebut

berpengaruh

buruk

terhadap

perkembangan tingkah laku dan penampilan anak. Hurlock (1978) menyebutkan bahwa sikap penolakan dari
orang tua terhadap anak cenderung menjadikan anak keras kepala, curiga, cemas. Bersikap enggan, tidak
tenang, introvert, dan penuh ketegangan. Sedangkan Kimbal Young ( 1978) menyebutkan bahwa sikap dan
perlakuan favoritisme dari orang tua terhadap anak dapat menjadikan anaknya mengalami kesulitan dalam
bertingkah laku.
Dari kajian di atas dapat dikemukakan bahwa permasalahan tingkah laku anak dapat diatasi dengan
menempatkan peran orang tua dalam keluarga secara wajar. Artinga orang tua perlu menyadari tanggung
jawab terhadap kelangsungan hudup anak, sehingga mau berbuat yang terbaik untuk anak dan keluarga.
Komitmen bersama perlu dipupuk dan ditingkatkan dengan mengusung tatanan harmosis dan suasana
kondusif dalam keluarga, sikap penerimaan apa adanya terhadap anak, menghargai sewajarnya, memberikan
keteladanan yang mendidik.

B.

Bimbingan Psikologi dalam keluarga menghadapi MEA
Orang tua dalam melaksanakan perannya sebagai pembimbing dalam keluarga dapat menerapkan

berbagai strategi. Salah satu strategi yang paling cocok adalah strategi bersahabat dengan anak. Dengan
strategi ini anak dapat menyampaikan keluhan tentang masalahnya pada orang tua, minta nasehat dari orang
tua, dan biasa menyampaikan keinginan-keinginan, bahkan bisa memberikan kritik dan saran pada orang
tuanya dalam pendidikan anak-anaknya. Bila hal ini terjadi, maka orang tua akan dengan mudah dapat masuk
dalam dunia anak-anaknya, sehingga lebih mudah memamahi masalah yang dialami dan dengan mudah pula
memberikan bimbingan yang diharapkan.
Bimbingan orang tua sebenarnya masuk pada dimesi proses, pada dimensi -dimensi keluarga.
Sebagai dimnesi proses,, bimbingan keluarga dapat dilakukan oleh orang tua melalui pemberian nasehat,
dorongan, perhatian, dan penghargaan terhadap tingakah laku positif dan produktif dari anak. Dengan
demikian, diharapkan anak dapat berkembang menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan paham terhadap
diri dan lingkungannya.
Dalam upaya orang tua membimbing anak-anaknya, Martaniah (1984) menyebutkan bahwa
bimbingan orang tua harus menyentuh kebutuhan psikologis yang terpenting adalah pemebrian rasa aman,
kasih sayang, dan harga diri yang dinyatakan dalam bentuk ucapan-ucapan, tindakan dari orang tua yang
ditujukan kepada anak. Bila kebutuhan psikologis anak terpenuhi, maka mereka akan dapat menunjukkan

233

tingkah laku positif sehingga tidak mengalami hambatan dalam mentaati peraturan yang berlaku dalam
keluarga.
Di pihak lain Nugareni (1982) menyebutkan bahwa bimbingan orang tua merupakan faktor yang
paling kuat dalam keberhasilan belajar anak. Untuk itu orang tua perlu meningkatkan ketrampilannya dalam
memberikan bimbingan belajar pada anak. Dukungan orang tua untuk belajar anak, dapat dilakukan dengan
memberikan perhatian terhadap kebutuhan belajar anak, membantu anak dalam pemecahan masalah
belajarnya, sampai pada penyediaan fasilitas belajar yang memdai sesuai kebutuhan anak. Memberikan waktu
yang jelas pada anak untuk bermain, dan melakukan kegiatan lain yang tidak ada hubungan langsung dengan
belajar juga pelu dilakukan oleh orang tua. Hal ini akan membantu anak dalam pembentukkan sikap disiplin,
yang jelas dalam setiap kebebasan yang diberikan perlu dituntut tanggung jawab. Penyediaan waktu kepada
anak untuk belajar dengan pengawasan orang tua juga sangat penting untuk dilakukan. Pengawasan dengan
menggunakan ajakan untuk bertanggung jawab akan lebih berhasil dari larangan-larangan yang bernuansa
hukuman.
Dalam memberikan bimbingan psikologis kepada anak dalam keluarga yang menyentuh pemenuhan
kebutuhan psikologis anak adalah :
a.

Pemberian rasa aman,
Pemberian rasa aman pada anak dan keluarga dapat dilakukan melalui penciptaan, dan
pemeliharaan iklim sosio-emosional dalam keluarga, yang penuh saling pengertian sesama
anggota keluarga, sehingga antara anggota keluarga muncul rasa saling membutuhkan satu
dengan yang lain.

b.

Penataan hubungan yang harmonis.
Hubungan harmonis antara kedua orang tua, antara orang tua dengan anak, dan antara anak
dalam keluarga sangat membantu perkembangan psikologis anak secara positif. Keharmonisan
hubungan ini akan membentuk kerukunan dan kedamaian dalam keluarga, sehingga anggota
keluarga merasa betah untuk berada di rumah.

c.

Sikap penghargaan dan penerimaan.
Sikap penghargaan dan penerimaan yang tulus dari orang tua terhadap anak, akan membuat
anak merasa berharga di hadapan orang tua, sehingga anak-anak akan selalu memanfaatkan
penghargaan dan penerimaan orang tuanya tersebut untuk memotivasi dirinya melakukan
kegiatan yang positif dan produktif.

d.

Pengembangan motivasi
Pengembangan motivasi pada anak dapat dilakukan

dengan membangun kepercayaan diri

melalui:
a)

membimbing anak untuk tidak mencari-cari alasan

b) membimbing anak untuk menggunakan imajinasi
c)

membimbing anak untuk tidak takut menghadapi kegagalan

234

d) membimbing anak untuk tampil percaya diri, membimbing anak untuk menyusun
catatan sukses yang pernah dialami.
e.

Pendisiplinan diri pada anak
Pendisiplinan pada anak dapat dilakukan dengan memberikan bimbingan keteladanan dan
contoh-contoh perilaku disiplin dari orang tua. Contoh-contah perilaku disiplin orang tua akan
memberikan inspirasi bagi anak untuk memjadikan orang tuanya sebagai figur kedisiplinan
yang pantas ditiru.

f.

Atur pertemuan keluarga
Pertemuan keluarga bermanfaat sebnagai media untuk mendiskusikan secara terbuka menegenai
masalah dan kesulitan yang dialami keluarga. Dalam mpertemuan tersebut orang tua
mendapatkan kesempatan untuk meminta saran dan pendapat anggota keluarga. Bila hal ini
dilakukan maka gagasan dan ide-ide anak

Penutup
Kata kunci dalam bimbingan psikologi dalam keluarga sebagai pendekatan menghadapi MEA adalah
pemahaman. Tantangan-tangan yang dihadapi kedepan dibutuhkan kesadaran serta pemahaman. Pemahaman
antara anggota keluarga akan membawa bahtera keluarga mencapai tujuan hidup yang sejahtera dan bahagia.
Sejahtra dan bahagia dalam arti terpenuhi kebutuhan dasar akan sandang pangan dan papan, walaupun hanya
cukup tetap disyukuri. Kesejahteraan dan kebahagian inilah yang menjadi tujuan setiap keluarga dalam
membina rumah tangga. Kebahagiaan pada keluarga akan tercermin pada lima kondisi individu dalam
keluarga yaitu rasa aman yang mantap tanpa beban, kompetensi dalam hal wawasan, pengetahuan,
ketrampilan, nilai dan sikap (WPKNS) yang jelas, aspirasi yang tersalurkan dan tertampung, semangat yang
tinggi untuk menjaga keluarga tetap harmonos, dan selalu dapat menggunakan kesempatan secara efektif.
Inilah cirri dari keluarga yang sejahtera dan bahagia, di mana dalam kesehariannya selalu mennunjukkan
perilaku yang efektif.
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah mampukah kita untuk memahami kondisi masing-masing
anggota keluarga? Inilah yang menjadi PR kita apabila ingin menwujudkan keluarga yang sejahtera dan
bahagia, sehingga berdampak baik kepada perkembngan psikologis anak dalam menghadapi masyarakat
ekonomi asean. Terimakasih.

Daftar Rujukan
Abdul Aziz El-Qussy. 2001. Pokok-Pokok Kesehatan Jiwa. Jakarta : Bulan Bintang
Gruenberg, S.M. 1997. Parent Questions. New York : Revosed Inc.
Goleman, Daniel. 2003. Kecerdasan Emosional. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Havighurst, R.J. 1968. Society and Education. Boston. : Allyn and Bacon Inc.

235

Hurlock, E.B. 1978. Persnality Development. Tokyo. : McGraw-Hill Publishing Co.

Ltd.

Johstone and Jiyono. 1983. Out of School Factor and Education Achievement in Indonesia.

Comparative

Education Review. 27. p. 286-295.
Keeves, J.P. 1997. Educational Enviroment and Students Achievement. Stockholm. :

Algmuis

&

Wiksels.
Martaniah. 1984. Motif Sosial Remaja Suku Jawa dan Keturunan Cina di Beberapa

SMA

Yogyakarta.

Disertasi. Yogyakarta Fakultas Pasca Sarjana. UGM.
Musaheri. 2007. Pengantar Pendidikan. Jogjakarta : IRCISOD
Selo Sumarjan dan Yaumil Achir. 1987. Antara Cinta dan Pengertian. Kartini. Jakarta.
Sri Esti W. D. 2005. Memecahkan Masalah Tingkah Laku Anak di Rumah dan di Sekolah. Jakarta :Grasindo.

236

Moral Education Children With Habituation Value Students
Through Life Character Modeling
By
Dra Ninik Setyowani, M.Pd.
Dosen Jurusan BK Universitas Negeri Semarang
Email: nsetyowani@gmail.com

Abstract
Current character education to be excellent in its breadth of education in Indonesia, considering
the condition of the people especially students showed commendable behavior and lack of respect for the
culture of the nation. Counseling Guidance as an integral part of school education has a strategic role to
perform habituation character value. Character education is not easy to apply. Character education is
not easy to implement, because it requires a very long process. Character education requires a
habituation process is done continuously and this process will be effective when using a life modeling.
Life modeling is a technique by using an example in everyday life in schools and the creation of
instruments supported by reinforcement and punishment. This technique refers to the theory of
behaviorism, in which formation of behavior modification can be done using the environment.
Expectations to the front of the character will be automatically behavior in student life.
Keywords: Character values, Life Modeling, dan Moral education.

Pendidikan Moral Anak Dengan Pembiasaan Nilai
Karakter Siswa Melalui Life Modeling
Oleh:
Dra Ninik Setyowani, M.Pd.
Dosen Jurusan BK Universitas Negeri Semarang
Email: nsetyowani@gmail.com
Abstrak
Perkembangan moral pada awal masa kanak-kanak masih dalam tingkat yang rendah. Hal ini disebabkan
karena perkembangan intelektual anak-anak belum mencapai titik di mana anak dapat mempelajari atau
menerapkan prinsip-prinsip abstrak tentang benar dan salah. Anak juga tidak mempunyai dorongan untuk
mengikuti peraturan-peraturan karena tidak mampu mengerti masalah standart moral, anak-anak harus
belajar berperilaku moral dalam berbagai situasi khusus. Ingatan anak-anak, sekalipun anak-anak yang
sangat cerdas, cenderung kurang baik maka belajar bagaimana berperilaku yang baik merupakan proses
yang panjang dan sulit. Dalam tahap perkembangan moral ini anak-anak secara otomatis mengikuti
peraturan-peraturan tanpa berpikir atau menilai, dan ia menganggap orang-orang dewasa yang berada di
lingkungan memberikan contoh yang positif kepada anak-anak sehingga anak-anak akan memahami
tentang lingkungan yang bisa diadaptasi oleh anak dalam hal positif. Saat ini pendidikan karakter menjadi
primadona dalam nafas pendidikan di Indonesia, mengingat kondisi masyarakat terutama siswa
menunjukkan perilaku tidak terpuji dan kurang menghargai budaya bangsa. BK sebagai bagian yang tidak
terpisahkan dari pendidikan di sekolah mempunyai peran yang sangat strategis untuk melakukan
pembiasaan nilai karakter. Pendidikan karakter tidaklah mudah diterapkan, karena membutuhkan proses
yang sangat panjang. Proses pendidikan karakter membutuhkan pembiasaan yang dilakukan terus
menerus dan proses ini akan menjadi efektif apabila mengunakan life modeling. Life modeling
merupakan suatu teknik dengan mengunakan teladan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah dan
pembentukannya didukung oleh instrumen reinforcement dan punishment. Teknik ini mengacu pada teori
Behaviorisme, di mana pembentukan perilaku dapat dilakukan dengan menggunakan modifikasi
lingkungan. Harapan ke depan karakter akan menjadi perilaku yang otomatically dalam kehidupan siswa
sehari-hari.
Kata Kunci: Nilai karakter, Life Modeling, dan Pendidikan Moral.

237

Pendahuluan
Diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sejak Januari 2015, para siswa dan
pendidik dituntut mampu bersaing dengan negara lain yang mayoritas lebih maju dibanding Indonesia.
Pendidikan karakter menjadi modal penting menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tahun
2015. MEA 2015 menuntut semua yang berkecimpung dialamnya agar mempunyai mental luar biasa,
karena berhadapan dengan masyarakat dari luar Indonesia. Didalam pendidikan karakter, diajarkan
untuk menjadi manusia yang cerdas, jujur, tangguh, dan peduli. keempat hal tersebut beralasan untuk
menjadi kunci sukses. Apabila mempunyai kecerdasan maka akan bisa memilah mana yang baik dan
salah. Kecerdasan, harus diimbangi dengan kejujuran untuk mendapatkan keeprcayaan orang lain.
Sedangkan tangguh diperlukan karena yang bermain dalam MEA 2015 bukan hanya masyarakat
Indonesia tapi juga negara lain di ASEAN. Sikap peduli tidak kalah pentingnya dengan ketiga hal
tadi, karena dengan sikap peduli dengan orang lain, maka akan mudah untuk menjaga hubungan baik
dengan yang lain. uru. Untuk itu, guru diharapkan mampu mengimplementasikan pendidikan karakter
dengan memadukan metode pembelajaran sekaligus memasukkan budi pekerti. Pendidikan karakter
atau budi pekerti, bisa diajarkan pada pelajaran umum seperti Matematika, Ilmu Sosial dan semua
mata pelajaran yang ada. Pendidikan karakter yang menekankan budi pekerti, perilaku, sopan santun,
saling menghargai dan menghormati antar sesama. Setidaknya, harus ditanamkan oleh guru dalam
memberikan bekal pada anak usia dini agar memiliki karakter pendidikan yang kuat dan berkualitas.
Program BK di sekolah sangat berkompeten dalam hal pembangunan karakater bangsa di
kalangan siswa sekolah dasar khususnya pada ciri akhir masa kanak-kanak, orang tua, pendidik dan
ahli psikologi memberikan label kepada perkembangan anak-anak di sekolah. Ciri-ciri penting dari
periode masa kanak-kanak selalu di gunakan oleh orang tua akan mengatakan bahwa akhir masa
kanak-kanak merupakan masa yang menyulitkan. Suatu masa dimana anak tidak mau lagi menuruti
perintah orang tua tetapi lebih banyak di pengaruhi oleh teman-teman sebaya daripada orang tua dan
anggota keluarga yang lain. Terutama pada anak laki-laki kurang memperhatikan dan tidak
bertanggung jawab terhadap pakaian dan benda-benda miliknya sendiri. Kemudian ia tidak rapi, dan
ceroboh penampilannya, oleh karena itu diperlukan pembiasaan dari orang tua pada kegiatan-kegiatan
yang positip. Misalkan merapikan tempat tidur atau pun barang-barangnya, sehingga dengan
pembiasaan orang tua dapat memberikan reward kepad anak bukan punishment. Sehingga kondisi di
rumah sangat menyenangkan.
Para pendidik berpendapat bahwa anak usia sekolah dasar diharapkan memperoleh dasar-dasar
pengetahuan yang penting untuk keberhasilan penyesuaian diri pada kehidupan selanjutnya atau
dewasa. Mempelajari ketrampilan tertentu baik kurikuler maupun ekstra kulikuler di sekolah.
Pendidik juga memandang sebagai periode kritis dalam dorongan berprestasi dimana anak membentuk
dalam kebiasaan untuk mencapai sukses atau sangat sukses sekali. Kebiasaan bekerja dengan
kemampuannya pada tingkat perkembangan selanjutnya.konselor di sekolah diharapkan bisa
memotivasi anak-anak untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan menyelesaikan tugas baik di rumah
maupun disekolah dengan harapan ia mempunyai kebiasaan yang baik, khususnya pada kegiatan
belajar.
Menurut Piaget perkembangan anak usia 5th – 12 th banyak terjadi perubahan tentang moralitas
anak yang baik di harapkan mengikuti aturan-aturan yang baik. Peranan disiplin dalam perkembangan
moral sangat penting karena merupakan perilaku yang dimiliki anak sejak kecil, pada diri anak selalu
ada suara hati sehingga nak melakukan perbuatan yang benar.
Sekolah dan seluruh warga sekolah mempunyai tanggung jawab bersama untuk membentuk
karakter siswa sebagai penerus bangsa. Menurut kementerian pendidikan nasional badan penelitian
dan pengembangan pusat kurikulum dan perbukuan (2011:6) pendidikan karakter adalah usaha
menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik (habituation) sehingga peserta didik mampu bersikap
dan bertindak berdasarkan nilai-nilai yang telah menjadi kepribadiannya. Menyimak pengertian
pendidikan karakter di atas bahwa karakter siswa dibentuk dari kebiasaan, itu berarti ada pengaruh
lingkungan yang memberi konstribusi. Berdasarkan uraian di atas, dapat dirumuskan pertanyaan:
Bagaimanakah menerapkan pendidikan moral dengan life modelling untuk melakukan pembiasaan
nilai karakter pada siswa sekolah?
Masalah
1. Pendidikan Moral Anak

238

Pendidikan moral diperlukan moral oleh orang yang lebih dewasa dilingkungan anakanak sangat diperlukan melalui beberapa tingkatan menurut Kohlberg dalam bukunya Robert E.
Slavin, yaitu
I.Tingkat Prakonvensi
II. Tingkat Konvensi
III. Tingkat Pasca Konvensi
Tahap I : Orientasi hukum Indivudu menganut aturan dan Orang mendifinisikan nilaidan Ketaatan. Konsekuensi kadang-kadang
akan nilainya sendiri berdasar
Fisik tindakan menentukan menomorduakan
kebutuhan prinsip etika yang telah
kebaikan dan keburukannya.
sendiri dibanding kebutuhan mereka pilih untuk diikuti
kelompok.
Tahap 2 : Orientasi Relativis Tahap 3: Orientasi “Anak Tahap 5: Orientasi Kontrak
Instrumental. Apa yang benar Baik” perilaku yang baik Sosial. Apa yang benar
adalah
apa
saja
yang adalah
apa
saja
yang ditentukan berdasarkan hakmemuaskan kebutuhan diri menyenangkan atau membantu hak individu umum dan
sendiri dan kadang-kadang orang lain dan disetujui oleh beredar
standar
yang
kebutuhan orang lain.
mereka. Seseorang memperoleh disepakati oleh masyarakat.
persetujuan dengan bersikap
―manis‖
Tahap
4
:
Orientasi Tahap 6 : Orientasi Prinsip
“Hukuman dan Keteraturan” Etika Universal. Apa yang
benar
berarti
melakukan benar
ditentukan
oleh
kewajiban seseorang, dengan keputusan suara hati menurut
memperlihatkan sikap hormat prinsip etika yang dipilih
kepada orang yang berwenang pribadi.
dan mempertahankan tatanan
sosial tertentu bagi dirinya
2. Karakter
Pemahaman tentang karakter merujuk pada nilai-nilai yang unik-baik yang terpateri
dalam diri dan terejawantahkan dalam perilaku. Karakter secara koheren memancar dari hasil olah
pikir, olah hati, olah rasa dan karsa, serta olahraga seseorang atau sekelompok orang.
Karakter dilihat dari sudut pandang behaviorial lebih menekankan pada unsur
somatopsikis yang dimiliki seseorang sejak lahir. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa proses
perkembangan karakter pada seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor yang khas yang ada pada
orang yang bersangkutan yang juga disebut faktor bawaan (nature) dan lingkungan (nurture).
Yang dimaksud dengan faktor bawaan (nature) adalah karakter yang dibawa karena hasil dari
genetika orang tua dan sifatnya masih potensi belum berujud perilaku. Sedangkan faktor
lingkungan merupakan faktor yang berada di luar diri individu. Berdasarkan pemahaman tentang
karakter, maka karakter seorang individu dapat dibentuk dari kondisi internal yang dibawa sejak
lahir dan dipengaruhi oleh kondisi di luar diri sendiri. Sehingga dapat dikatakan bahwa karakter
tidak semata-mata berasal dari dalam diri saja, namun berkembangnya juga dipengaruhi oleh
lingkungan.
Karakter sebagai dasar atau potensi untuk membentuk kepribadian individu, kelak
kepribadian individu akan termanifestasi ke dalam perilaku individu yang terkait dengan sopan
santun. Mengapa demikian? Karena karakter mempunyai berbagai komponen sehingga bisa
membentuk konfigurasi perilaku individu. Komponen yang dimaksud dalam karakter adalah:
a. Olah Hati (Spiritual and emotional development),
b. Olah Pikir (intellectual development),
c. Olah Raga dan Kinestetik (Physical and kinestetic development),
d. Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development).
Keempat proses psikososial (olah hati, olah pikir, olah raga, dan olahrasa dan karsa)
tersebut secara holistik dan koheren memiliki saling keterkaitan dan saling melengkapi, yang
bermuara pada pembentukan karakter yang menjadi perwujudan dari nilai-nilai luhur.
Pengelompokan nilai tersebut sangat berguna untuk kepentingan perencanaan. Dalam proses
intervensi (pembelajaran, pemodelan, dan penguatan) dan proses habituasi (pensuasanaan,
pembiasaan, dan penguatan) dan pada akhirnya menjadi karakter, keempat kluster nilai luhur
tersebut akan terintegrasi melalui proses internalisasi dan personalisasi pada diri masing-masing
individu.

239

Pendidikan karakter mempercayai adanya keberadaan moral absolute, yakni bahwa
moral absolute perlu diajarkan kepada generasi muda agar mereka paham betul mana yang baik
dan benar ( Dirjendikti, 2010: 10). Namun demikian pendidikan karakter kurang sakan
memepaham dengan cara pendidikan moral reasoning dan value clarification, karena pendidikan
karakter kualitasnya lebih tinggi dengan pendidikan moral. Pendidikan karakter terdiri dari tiga
ranah, yaitu ranah konitif, ranah afektif dan ranah perilaku.
Ranah kognitif dapat memberikan pemahaman pada individu tentang sesuatu yang baik
atau salah, sehingga lebih cenderung membentuk suatu habitus atau kebiasaan.
Sedangkan ranah afektif berkaitan dengan kemampuan merasakan nilai yang baik dan
terkait dengan ke dua ranah di atas akan membentuk perilaku. Sehingga perilaku individu itu baik
atau tidak sangat tergantung dari ranah kognitifnya yang bertugas memahami suatu peristiwa,
kemudian diolah dalam ranah afektif apakah pemahaman tentang sesuatu itu baik apabila
diwujudkan ke dalam perilaku. Seorang individu akan mempunyai perilaku baik atau salah sangat
tergantung dalam pengolahan dari ke tiga ranah tadi secara terus menerus. Maka dari itu,
pendidikan karakter tidak hanya melibatkan moral knowing, namun juga dapat merasakan dengan
baik atau loving the good/ moral feeling dan berujud perilaku yang baik atau moral action.
3. Nilai Karakter
Nilai karakter merupakan nilai prakondisi untuk pendidikan karakter, sehingga
berdasarkan nilai-nilai karakter tersebut seorang individu akan berproses dalam pendidikan
karakter. Menurut Pengembangan dan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa (2009:9-10), nilai
karakter meliputi: (1) Religius, (2) Jujur, (3) Toleransi, (4) Disiplin, (5) Kerja keras, (6) Kreatif,
(7) Mandiri, (8) Demokratis, (9) Rasa Ingin Tahu, (10) Semangat Kebangsaan, (11) Cinta Tanah
Air, (12) Menghargai Prestasi, (13) Bersahabat/Komunikatif, (14) Cinta Damai, (15) Gemar
Membaca, (16) Peduli Lingkungan, (17) Peduli Sosial, (18) Tanggung Jawab. Nilai-nilai tersebut
tidak diajarkan namun dikembangkan melalui proses belajar, artinya bahwa materi nilai karakter
bukanlah bahan ajar biasa, melainkan dapat dikembangkan melalui proses internalisasi melalui
proses belajar.
Pembelajaran nilai-nilai karakter tersebut tidak dilakukan seperti halnya mengajar
materi pelajaran, namun justru nilai karakter digunakan sebagai instrumen yang dikembangkan
melalui materi pelajaran. Sehingga dalam pembelajaran seorang guru tidak perlu mengubah pokok
bahasan untuk mengajarkan nilai-nilai karakter. Pembelajaran nilai karakter tidak membutuhkan
strategi khusus untuk mengajarkannya. Suatu hal yang selalu harus diingat bahwa satu aktivitas
belajar dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan dalam ranah kognitif, afektif, konatif,
dan psikomotor. Konsekuensi dari prinsip ini 18 nilai-nilai karakter tidak ditanyakan dalam
ulangan ataupun ujian. Namun demikian, siswa tetap harus mengetahui bahwa guru dalam
pembelajaran sedang menumbuhkan nilai karakter pada siswa. Sehingga pembelajaran nilai
karakter tidak memerlukan pamahaman secara khusus, namun dapat menerapkan nilai-nilai
tersebut
4. Proses Pembentukan Nilai Karakter
Pembentukan karakter melalui rekayasa faktor lingkungan dapat dilakukan melalui
strategi: (1) keteladanan, (2) intervensi, (3) pembiasaan yang dilakukan secara konsisten, dan (4)
penguatan. Dengan kata lain perkembangan dan pembentukan karakter memerlukan
pengembangan keteladanan yang ditularkan, intervensi melalui proses pembelajaran, pelatihan,
pembiasaan terus-menerus dalam jangka panjang yang dilakukan secara konsisten dan penguatan
serta harus dibarengi dengan nilai-nilai luhur.
Pemilihan nilai-nilai tersebut ber