You are on page 1of 108

UNIVERSITAS INDONESIA

ANALISIS EKSERGI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA PANASBUMI
SIKLUS BINER DENGAN REGENERATIVE ORGANIC RANKINE CYCLE
(RORC)

SKRIPSI

AYU SETYA ISMAWATI
0906604496

FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA
DEPOK
JUNI 2012

Analisis eksergi..., Ayu Setya Ismawati, FT UI, 2012

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Makalah skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri, dan semua sumber baik
yang dikutip maupun dirujuk telah saya nyatakan dengan benar.

Nama

: AYU SETYA ISMAWATI

NPM

: 0906604496

Tanda Tangan

:

Tanggal

: Juni 2012

ii

Analisis eksergi..., Ayu Setya Ismawati, FT UI, 2012
Universitas Indonesia

LEMBAR PENGESAHAN

Skripsi ini diajukan oleh :
Nama

: Ayu Setya Ismawati

NPM

: 0906604496

Program Studi

: Teknik Kimia

Judul Skripsi

: Analisis Eksergi Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi
Siklus Biner Dengan Regenerative Organic Rankine Cycle
(RORC)

Telah berhasil dipertahankan dihadapan Dewan Penguji dan diterima
sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar
Sarjana Teknik pada Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknik,
Universitas Indonesia

DEWAN PENGUJI

Pembimbing 1

: Prof. Dr. Ir. Widodo W. Purwanto, DEA

(

)

Pembimbing 2

: Dr. Taufan Surana, M.Eng

(

)

Penguji 1

: Dr. Ir. Asep Handaya Saputra, M.Eng

(

)

Penguji 2

: Ir. Kamarza Mulia M.Sc., Ph.D

(

)

Penguji 3

: Dr. Ir. Setiadi, M.Eng

(

)

Ditetapkan di
Tanggal

: Depok
: 26 Juni 2012

iii

Analisis eksergi..., Ayu Setya Ismawati, FT UI, 2012
Universitas Indonesia

selaku dosen pembimbing 2 atas saran. dan adik-adik saya. Dalam penyusunan makalah skripsi ini.. selaku dosen pembimbing akademis atas saran dan masukannya terhadap akademis penulis. semangat untuk kita semua dan semoga sukses untuk kedepannya. Semoga Allah SWT selalu memberikan limpahan rahmatnya untuk kita sekeluarga. Makalah Skripsi \DQJ EHUMXGXO ³Analisis Eksergi Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi Siklus Biner Dengan Regenerative Organic Rankine Cycle (RORC)´ GLVXVXQ XQWXN memenuhi salah satu syarat untuk melaksanakan tugas akhir dan penelitian di Program Studi Teknik Kimia. bimbingan.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT.. DEA.Eng. penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Ayu Setya Ismawati. 3. 4. Ir. VHUWD GR¶DQ\D NHSDGD SHQXOLV.Eng. Dr. diskusi. dan dorongan yang luar biasa untuk segera lulus. M. Semoga kamu dan kelurga selalu diberikan rahmat oleh Allah SWT. Prof.. bimbingan. atas saran. Widodo Wahyu Purwanto. dan dukungan. Kedua Orang Tua. bimbingan. Fakultas Teknik. Universitas Indonesia. 2. 5. FT UI. karena atas kebaikan-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah skripsi ini dengan baik. M. Serta untuk Wambra Aswo Nuqramadha S. Dr. Departemen Teknik Kimia. Lina Agustina. Rekan-rekan Teknik Kimia seperjuangan. 2012 Universitas Indonesia . kasih sayang. ST. Ir. 6. dan tutorial untuk menjalankan program simulasi serta pengetahuan di bidang Panasbumi. Taufan Surana. dan diskusi mengenai Panasbumi yang sangat menambah pengetahuan. atas saran.Si. dan kritiknya dalam menyusun Makalah Skripsi ini. 7. Setiadi. arahan. serta keluarga besar yang senantiasa selalu mendukung saya GHQJDQ VHJHQDS GR¶D. iv Analisis eksergi. selaku dosen pembimbing atas saran.

. Sahabat-sahabat tersayang \DQJ VHODOX PHPEHULNDQ GXNXQJDQ GDQ GR¶Q\D kepada penulis. Depok. semoga Allah SWT senantiasa membalas semua kebaikan yang telah diberikan untuk saya dan mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penulisan Makalah Skripsi ini.. sahabat. Semoga Makalah Skripsi ini dapat bermanfaat untuk siapa saja yang membacanya. FT UI. Seluruh kerabat.8. dan teman-teman yang senantiasa selalu PHQGXNXQJ GHQJDQ VHPDQJDW GDQ GR¶DQ\D \DQJ WLGDN GDSDW GLVHEXWkan satu persatu. mereka yang menjadi penyemangat dan inspirasi dikala suka dan duka. Ayu Setya Ismawati. 9. Juni 2012 Penulis v Analisis eksergi. saran dan masukan sangat dinantikan. Akhir kata.. 2012 Universitas Indonesia .

. dan mempublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis dan sebagai pemilik Hak Cipta.. merawat. (Ayu Setya Ismawati) vi Analisis eksergi. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Ayu Setya Ismawati. Dengan Hak Bebas Royalti Noneksklusif ini Universitas Indonesia berhak menyimpan. mengelola dalam bentuk pangkalan data (database).HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS PUBLIKASI TUGAS Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia. saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama : Ayu Setya Ismawati NPM : 0906604496 Program Studi : Teknik Kimia Departemen : Teknik Kimia Fakultas : Teknik Jenis Karya : Skripsi Demi pengembangan ilmu pengetahuan. FT UI..mengalihmedia/formatkan. menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Non-eksklusif (Non-exclusive Royalty-Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul : ANALISIS EKSERGI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA PANASBUMI SIKLUS BINER DENGAN REGENERATIVE ORGANIC RANKINE CYCLE (RORC) Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). 2012 Universitas Indonesia . Dibuat di : Depok Pada tanggal : Juni 2012 Yang menyatakan.

perbedaantemperatur pinch evaporator dan kondensor yang lebih kecil. Siklus ini menghasilkan 18. Regenerative Organic Rankine Cycle (RORC)¸ Internal Heat Exchanger (IHE) vii Analisis eksergi. baik energi maupun eksergi dan daya yang lebih besar. Ayu Setya Ismawati. dan mengidentifikasikan serta menghitung besarnya degradasi eksergi yang dihasilkan. Dari hasil perhitungan dan simulasi diperoleh RORC dengan IHE memiliki efisiensi yang lebih tinggi. Digunakan suatu aplikasi pemodelan sistem yang dibantu oleh software Engineering Equation Solver (EES). RORC dan modifikasi RORC menggunakan Internal Heat Exchanger (IHE) serta menggunakan R-123 sebagai fluida kerjanya. metode tersebut kurang mampu menggambarkan aspek-aspek penting dari pemanfaatan energi.. menghitung daya netto. Oleh karena itu.19 % efisiensi energi. Efisiensi suatu pembangkit tidak cukup hanya dilihat berdasarkan efisiensi energi (hukum I Termodinamika) saja. dan daya netto sebesar 596. Hasil perhitungan termodinamika kemudian digunakan untuk mendefinisikan efisiensi energi dan eksergi pembangkit. serta penurunan temperatur reinjeksi menghasilkan daya netto dan efisiensi yang lebih besar. Siklus Biner. penurunan tekanan kondensor.49 % efisiensi eksergi. FT UI.ABSTRAK Nama : Ayu Setya Ismawati Program Studi : Teknik Kimia Judul : Analisis Eksergi Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi Siklus Biner Dengan Regenerative Organic Rankine Cycle (RORC) Regenerative Organic Rankine Cycle (RORC) pada siklus biner menjadi salah satu alternatif yang dapat meningkatkan performansi dan efisiensi dari siklus pada Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) yang memiliki entalpi rendah hingga menengah. diperlukan kombinasi pendekatan eksergi (hukum II Termodinamika) dalam analisisnya.. 20.. Penelitian membandingkan tiga siklus biner konseptual yaitu basic ORC. Kata kunci : Eksergi. 2012 Universitas Indonesia .1 kW. Kenaikan temperatur inlet turbin.

the differences of pinch evaporator temperature and smaller condenser. Ayu Setya Ismawati. condencer pressure drops.. Regenerative Organic Rankie Cycle (RORC). FT UI. and identify also quantify the resulted of exergy degradation. The efficiency of the power is not only be seen based on the energy efficiency (Thermodynamics Law I) only. calculate net power. 2012 Universitas Indonesia . basic ORC.ABSTRACT Name : Ayu Setya Ismawati Study Program : Chemical Engineering Title : An Exergetic Analysis Of Binary Cycle Geothermal Power Plant Using Regenerative Organic Rankine Cycle (RORC) Regenerative Organic Cycle (RORC) on binary cycle becomes one of the alternatives that can increases the performance and efficient from the cycle of Geothermal Power Plant (PLTP) which has low until average enthalpy. 20. From the calculation and simulation results obtained that RORC with IHE have higher efficiency.19 % energy efficeincy. The study compared three conceptual binary cycles.49 % exergy efficiency. and RORC modification using Internal Heat Exchanger (IHE) and also using R-123 as working fluid. The increasing of turbin inlet temperature. either energy or exergy and greater power. RORC. Keywords : Exergy. Binary Cycle. It is used a modeling application system which is assisted by software Engineering Equation Solver (EES).. that method is less able to describe the important aspects of energy utilization. and net power is about 596.. Internal Heat Exchanger (IHE). This cycle produces 18.1 kW. The results of Thermodynamic calculations are then used to define energy efficiency and exergy power. it is needed the combination of exergy approach (Thermodynamics Law II) in its analysis. Therefore. also the descent of reinjection temperature produces net and greater efficiency. viii Analisis eksergi.

....................5 2...............4..................................................................................................................................16 2.............................. Ayu Setya Ismawati....19 2.3 Tujuan Penelitian.....................................................1 PLTP Sistem Binary-Cycle .3........................................3 Organic Rankine Cycle (ORC).............................vi ABSTRAK .......................................12 2....vii ABSTRACT ..... 2012 Universitas Indonesia ................................................................................................4 Konsep Dasar Eksergi...............9 2.............22 ix Analisis eksergi..........3 1.DAFTAR ISI HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS .................4..............6 2.........................4 1.....1 1............................2 Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP)...................................3 1.......2 Rumusan Masalah...........................................................................................ix DAFTAR GAMBAR .......................................6 Analisis Energi dan Eksergi Sub-komponen..................................................................................1 Dead State...............................................................21 2.....iv HALAMAN PENGESAHAN PUBLIKASI ILMIAH ............................................................................................................xii DAFTAR TABEL ..................................7 2.3 1..ii LEMBAR PENGESAHAN ................................................12 2..........................................................................5 2.....................................................4 Batasan Masalah......................................................................................................5 Metodologi Penelitian.........10 2...............6 Sistematika Penulisan............................................................................................................................. FT UI.................4....................................iii KATA PENGANTAR ...xiv DAFTAR SIMBOL ................................................................1 Efisiensi Hukum-Kedua....................................1 1..........................5 Perhitungan Umum Analisis Energi dan Eksergi RORC.....3 Perpindahan Eksergi Dikaitkan dengan Perpindahan Kalor........................................1 Latar Belakang...13 2...................4 Keseimbangan Eksergi untuk Massa Kendali.................2....................2 Eksergi untuk Sistem Tertutup....................4 BAB 2 STUDI LITERATUR.....................................................................viii DAFTAR ISI ..........................................................1 Pengembangan Model Binary-Cycle dengan RORC...........................................................................4..........xv BAB 1 PENDAHULUAN ...........................................................................................................................

..........25 2.2 Evaporator.....................28 2....4 Kondensor.......................................................................30 2....................................45 4.......6 Total Eksergi Siklus....................................................2..........2...........................6 Efisiensi siklus........................1..........7 � Temperatur Pinch........... 37 3.................2 Degradasi Eksergi Setiap Komponen............29 2..............................................................................24 2......................................................6..............5 Kondensor...6.....29 2........................33 BAB 3 METODE PENELITIAN................................45 4............................1 Pompa..... Ayu Setya Ismawati.....24 2...............7 Efisiensi Hukum-kedua.......................................1.........6.....26 2........2................6.24 2..31 2..1 Feed-water Heater...........25 2....................6........3 Simulasi...............................................23 2...............1 Analisis Hasil Simulasi................6......40 3.............2 Pompa (Proses 1-2 dan 3-4)...........................51 4.........................25 2......2...............................................7 Total Eksergi Siklus.....1...................6.2..........................................36 3..............23 2..................1 Analisis Energi dan Eksergi Model 1..................................2.............................................. Evaporator (Proses 4-5)...1....6.1.........3.........................................................................................2..........6..............................8 Kriteria Dalam Pemilihan Fluida Kerja.6......2.44 BAB 4 ANALISIS HASIL SIMULASI..1 Asumsi dan Data yang Digunakan.................52 4................2....................... FT UI...........3 Perbandingan Efisiensi Keseluruhan...51 4.................................2 Analisis Energi dan Eksergi Model 2.............26 2........5 Efisiensi siklus......................................6........6..6......3 Turbin..................6.......26 2....... 2012 Universitas Indonesia .6..1.........................2............2 Analisis Efisiensi Energi dan Eksergi....28 2...............3 Analisis Energi dan Eksergi Model 3......4 Turbin (Proses 5-6 dan 5-7)....43 3...............................................................................2........................6.....55 x Analisis eksergi......4 Analisis Komparatif.........29 2.........6.............6...........................................................................................3....................6............8 Efisiensi Hukum-kedua...........................................2 Desain Persamaan.......................2............................................................1.....................1 Analisis Performansi Setiap Komponen............................1 Evaluasi Performansi...28 2..................................27 2........................................................

........................................... 2012 Universitas Indonesia ..... Ayu Setya Ismawati........4 Analisis Pengaruh Tekanan Kondensor.......................59 4........................................................5 Analisis Pengaruh � Temperatur Pinch....68 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN.....................4..............72 5.....................65 4..................................61 4......................1 Kesimpulan........................73 DAFTAR ACUAN...............................................................................................................................................................................................................7 Analisis Pengaruh Temperatur Lingkungan Terhadap Efisiens....75 xi Analisis eksergi...................3 Analisis Pengaruh Inlet Turbin............2 Saran.........................74 LAMPIRAN.......................... FT UI........72 5......6 Analisis Pengaruh Temperatur Reinjeksi Fluida Panasbumi...............................56 4.........................................

................................. 32 Gambar 3....... 41 Gambar 3..................................6 Skematik pengembangan kerja reversibel........................................... Regenerative Organic Rankine Cycle menggunakan IHE ..DAFTAR GAMBAR Gambar 2............................................................... 2008).. Ayu Setya Ismawati..... 8 Gambar 2........ FT UI............ 26 Gambar 2...... 18 Gambar 2......... 42 Gambar 4......... b) ............................................ ORC......4 Pengaruh temperatur inlet turbin terhadap daya netto ... RORC.. RORC........................................... 57 xii Analisis eksergi............. 49 Gambar 4.................... dan c)........................ dan c)..................... ORC......3 RORC ± IHE ............ Regenerative Organic Rankine Cycle menggunakan IHE .................. 11 Gambar 2............... Regenerative Organic Rankine Cycle tanpa IHE ........... b)................... dan c)..................2 Diagram P-h (pressure-enthalpy) untuk proses binary-cycle umum (DiPippo........... RORC ± IHE..... 5 Pengaruh temperatur inlet turbin terhadap efisiensi energi. 15 Gambar 2............................. 40 Gambar 3................. Regenerative Organic Rankine Cycle tanpa IHE ...... 17 Gambar 2............................8 Plot T-S menunjukkan area dari perpindahan eksergi ....................1 Diagram alir penelitian....1 Diagram proses binary-cycle secara umum ..... 22 Gambar 2................. 37 Gambar 3.......13 Kurva Komposit ..2 Basic ORC..............7 Plot T-S menunjukkan area mewakili perpindahan eksergi dikaitkan dengan perpindahan kalor dari sistem tertutup pada temperatur konstan TR.4 Model 2.......... 13 Gambar 2. 2 Diagram T-s a)......................................... 8 Gambar 2............3 Model 1......................................................... 50 Gambar 4.......................................2 RORC.. 19 Gambar 2.......................................................5 Sistem tertutup ................................................................ RORC.. 54 Gambar 4........................ 11 Gambar 2.....................................12 Model 3.... ORC.......................11 Model 2..................................................9 Arah perpindahan kalor Q dan perpindahan Eksergi ¥ ........................................................ RORCIHE......3 Besar Losses setiap komponen a)... 2012 Universitas Indonesia .. 57 Gambar 4................. 1 Diagram P-h a).. RORC ± IHE ..10 Diagram dari process penukaran panas antara fluida panasbumi dengan fluida kerja ORC dalam evaporator.......................... 30 Gambar 2.............................................................. b)......................

...... ORC... 12 Pengaruh temperatur pinch terhadap efisiensi eksergi .................... RORC...... 64 Gambar 4. ORC....... 58 Gambar 4. 2012 Universitas Indonesia ... dan c)... 6 Pengaruh temperatur inlet turbin terhadap efisiensi eksergi .... RORC............. 59 Gambar 4......... 59 Gambar 4........... Ayu Setya Ismawati... RORC.... ORC.............. 70 xiii Analisis eksergi... ORC....... dan c)...10 Proses pada alat penukar panas antara fluida panasbumi dan fluida kerja dalam evaporator a)........ dan c)............... FT UI..Gambar 4......... 67 Gambar 4.............15 Pengaruh temperatur lingkungan terhadap efisiensi a)........ 60 Gambar 4... b)... RORC-IHE.....................14 Pengaruh temperatur reinjeksi terhadap daya netto dan rasio degradasi eksergi a). 11 Pengaruh temperatur pinch terhadap efisiensi energi................. RORC............ dan c)..... RORC-IHE............. b) ........7 Pengaruh tekanan kondensor terhadap daya netto . 8 Pengaruh tekanan kondensor terhadap efisiensi energi. 65 Gambar 4.......13 Pengaruh temperatur reinjeksi terhadap efisiensi a)............................. 9 Pengaruh tekanan kondensor terhadap efisiensi eksergi......... 63 Gambar 4............... 62 Gambar 4.................... RORC dengan IHE . b).... b).. RORC-IHE........

.......................... 42 Tabel 3...........................DAFTAR TABEL Tabel 2........2 Perfomansi Setiap Komponen. 43 Tabel 4..... 2 Rangkuman persamaan energi dan eksergi untuk RORC......... 66 xiv Analisis eksergi....................... 1 Rangkuman persamaan energi dan eksergi untuk ORC.... 2012 Universitas Indonesia ....................... 3 Perbandingan efisiensi energi dan eksergi... Ayu Setya Ismawati. 3 Rangkuman persamaan energi dan eksergi untuk RORC ± IHE . 2 Analisis energi dan Eksergi setiap sub-komponen .......... 41 Tabel 3.............. 8 Tabel 2.. 35 Tabel 3...... 4 Pengaruh temperatur reijeksi terhafap efisiensi........ 55 Tabel 4......... 51 Tabel 4........ 45 Tabel 4.. FT UI....................................... 1 Hasil perhitungan neraca massa dan energi dan laju eksergi.. 1 Efisiensi relatif dari PLTP binary-cycle di berbagai lokasi ................................... 3 Properties Fluida Kerja R123....................................... 30 Tabel 2.............................

Ayu Setya Ismawati.. 2012 Universitas Indonesia ...DAFTAR SIMBOL A C E atau Ex e atau e x E G H H I M M m p P Pcritical Pmaximum Pext Q Q Luas perpindahan panas Kapasitas fluida Eksergi Eksergi spesifik Laju Eksergi Percepatan gravitasi Entalpi spesifik Entalpi Irreversibility/exergy losses Berat molekul Massa Laju alir massa Daya Tekanan Tekanan kritis Tekanan maksimum yang dapat diterapkan Absolute turbine extraction pressure Kalor spesifif Kalor m2 kJ/kg K kJ kJ/kg kW m/s2 kJ/kg kJ kJ kg/mol Kg kg/s kW kPa Mpa Mpa kPa kJ/kg kW S S T Tbp Tcritical Tmaximum TL TH T0 Massa jenis Entropi spesifik Entropi Temperatur Temperatur didih Temperatur kritis Temperatur maksimum yang dapat diterapkan Temperatur dari low-temperarture reservoir Temperatur dari high-temperarture reservoir Temperatur lingkungan kg/m3 kJ/kg K kJ/K o C o C o C o C K K o C Temperatur boundary o Selisih temperatur Tekanan lingkungan K Bar Koefisien perpindahan panas Kerja Efisiensi Rational efficiency Availibility pada sistem tertutup Spesifik availibility pada sistem tertutup Volume spesifik Fraksi massa Fraksi dari laju alir yang masuk kedalam OFOF dari turbin Exergy destruction ratio W/m2 oC kW %  Tj �T P0 U W     V X Y Y xv C kJ kJ m3/kg % Analisis eksergi. FT UI.

3.. 2012 Universitas Indonesia .. D Ext Geo I II OFOH R S Pp Singkatan IHE OFOH ORC RORC EES Kondensor Siklus Evaporator Keluaran Ideal Masukan Pompa Ambien Turbin Dead state Lokasi siklus Destruction Extraction Fluida panasbumi Hukum pertama Hukum kedua Open feed-organic heater Reinjection Isentropik Pinch point Internal Heat Exchanger Open feed-water heater Organic Rankine Cycle Regenerative Organic Rankine Cycle Engineering Equation Solver xvi Analisis eksergi. Ayu Setya Ismawati.Subskrip C Cycle E Exit Ideal Inlet P O T 0 1.2.. FT UI...

binary-cycle plants dimana binary dan kombinasi dari flash/binary plants merupakan desain pembangkit yang relatif lebih baru. Meski demikian. dengan tekhnologi yang ada saat ini. yaitu drysteam plants. FT UI. Hal yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan efisiensi dari desain-desain yang ada saat ini. dengan menggunakan fluida kerja yang memiliki titik lebih rendah daripada air. Berbagai jenis fluida kerja dapat digunakan untuk sistem PLTP.308 MW. Banyak usaha yang telah dilakukan untuk menjadikan ORC sebagai fluida panasbumi yang optimal dan efisien bila dibandingkan dengan fluida panasbumi 1 Universitas Indonesia Analisis eksergi. PLTP binary-cycle adalah teknologi pembangkit yang sangat efektif untuk diterapkan dalam pemanfaatan energi panasbumi skala kecil (enthalpy rendah o sampai dengan menengah dengan temperatur 120-180 C). Ayu Setya Ismawati. tidak banyak desain PLTP baru yang dapat dikembangkan. Indonesia menyimpan potensi panasbumi terbesar yaitu 40% dari potensi dunia dan berdasarkan data dari Badan Geologi pada tahun 2011.BAB 1 PENDAHULUAN 1.1.. Saat ini..196 MW (4%) yang dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik. 2012 . terdapat tiga jenis utama pembangkit listrik yang beroperasi. tetapi saat ini fluida kerja untuk enthalpy rendah hingga menengah banyak menggunakan Organic Rankine Cycle (ORC) yang merupakan modifikasi siklus rankine dengan fluida kerja dari bahan organik (Refrigeran). Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) merupakan alternatif untuk memenuhi urgensi kebutuhan listrik nasional. Latar Belakang Energi panasbumi merupakan sumber daya alam terbarukan yang memiliki potensi besar dalam mengatasi krisis energi terutama kebutuhan yang terjadi saat ini. Sampai dengan saat ini baru sekitar 1. flash-steam plants. potensi panas bumi Indonesia adalah 29..

. dan lokasi terjadinya kerugian (losses) pada sistem dam sub-sistem termal. Untuk mengetahui efisiensi suatu PLTP. Analisis eksergi juga dapat digunakan untuk mengidentifikasikan jenis. FT UI. DiPippo dalam jurnalnya telah melakukan kajian tentang hukum II Termodinamika dari PLTP binary-cycle.. Penambahan komponen Open Feed-Water Heater dapat mengurangi beban dari Evaporator sehingga energi termal yang hilang dapat dikurangi dan terkonversi menjadi energi listrik. tidak cukup jika hanya mengacu pada efisiensi energi saja (yang didasarkan pada hukum I Termodinamika).. Ayu Setya Ismawati. memberikan efisiensi energi/thermal yang relatif rendah. 2012 . dan ramah lingkungan.3]. Penggunaan temperatur fluida panasbumi yang relatif lebih rendah bila dibanding dengan jenis PLTP konvensional yang ada dan memiliki temperatur yang tinggi. penyebab. Penelitian sebelumnya telah menganalisisa penggunaan RORC sebagai pengembangan dari sistem ORC yang telah menggunakan II kombinasi dari hukum I dan ada dengan termodinamika.2 yang telah lalu. karena metode tersebut kurang mampu menggambarkan aspek-aspek penting dari pemanfaatan energi.2. sehingga perbaikan-perbaikan serta peningkatan kualitas dapat dilakukan[6]. Universitas Indonesia Analisis eksergi. Losses atau energi termal yang masih banyak terbuang dari Evaporator pada ORC membuat Regenerative Organic Rankine Cycle (RORC) menjadi salah satu alternatif yang dapat meningkatkan performansi dan efisiensi dari siklus. R123 merupakan fluida kerja yang memiliki performa baik pada temperatur rendah hingga menengah. dan membandingkan performansi serta efisiensi termal keduanya[4]. tidak beracun. Karena itu perlu dikombinasikan dengan pendekatan eksergi yang berdasarkan hukum II Termodinamika. Hasilnya didapatkan bahwa performansi PLTP binary-cycle memiliki efisiensi eksergi yang tinggi meskipun fluida panasbumi yang digunakan memiliki temperatur rendah [5]. Pada penelitian sebelumnya telah dianalisa mengenai semua jenis fluida organik yang dapat digunakan dalam ORC dan menunjukkan performansi dari masing-masing fluida organik yang dibandingkan[1.

Kondisi dalam sistem adalah tunak (steady state) dengan turbin uap. Penggunaaan Regenerative Organic Rankine Cycle (RORC) dengan atau tanpa Internal Heat Exchanger (IHE) merupakan salah satu pengembangan dari siklus binary-cycle. Perubahan energi kinetik dan potensial dapat diabaikan Universitas Indonesia Analisis eksergi.3. 2012 .evaporator sebagai alat penyusun utama dan R-123 sebagai fluida kerja 3. pompa.. Tidak ada kebocoran dalam sistem 7. Kerja pompa dan turbin adalah isentropis 5.. 1. kondensor.2. FT UI. Penurunan tekanan dapat diabaikan 6. Penambahan komponen Internal Heat Exchanger (IHE) untuk mengurangi Losses dan beban evaporator serta meningkatkan efisiensi pembangkit 4. Penelitian ini difokuskan pada analisis eksergi dari Regenerative Organic Rankine Cycle 2.4. Analisis energi dan eksergi diperlukan untuk memperoleh optimalisasi sistem ini untuk meningkatkan efisiensi termal secara lebih baik dari siklus yang dibandingkan. Batasan Masalah Adapun batasan masalah yang ditentukan untuk menghindari kesalahpahaman dan mengarahkan pembahasan : 1. Ayu Setya Ismawati.3 1. Rumusan Masalah Losses dan efisiensi termal yang dihasilkan dari pembangkit siklus konvensional binary-cycle masih dapat di optimalkan.. Tujuan Penelitian a) Mendapatkan model ideal PLTP binary-cycle dengan Regenerative Organic Rankine Cycle (RORC) dengan efisiensi yang paling baik b) Mendapatkan hasil perhitungan analisis energi dan eksergi untuk mengetahui efisiensi pembangkit dari ketiga siklus yang dibandingkan c) Memberikan rekomendasi pilihan model dengan efisiensi terbesar untuk diterapkan dalam PLTP aktual baik PLTP berskala kecil maupun besar 1.

batasan masalah.. Bagian terakhir tentang analisis energi dan eksergi model konseptual. Perhitungan neraca massa dan energi dilakukan terlebih dahulu untuk mengetahui properti dari termodinamika masing-masing siklus utnuk mengetahu efisiensi dan daya netto yang dihasilkan serta degradasi energi masing- Universitas Indonesia Analisis eksergi. BAB 2 : Studi Literatur Membahas tentang literatur dasar mengenai model ideal binary-cycle serta model konseptual binary-cycle dengan Regenerative Organic Rankine Cycle dengan atau tanpa IHE. kemudian diteruskan dengan konsep dasar eksergi. 1. Metodologi Penelitian Secara umum metode penelitian yang dilakukan dalam penyusunan tugas akhir ini adalah melakukan rancangan efisiensi eksergi dari tiap-tiap model yang telah dibuat dengan menerapkan persamaan-persamaan analisis eksergi. dan metodologi yang digunakan. 2012 .4 1.. Kemudian pengumpulan data-data dan parameter yang akan dipergunakan dalam simulasi serta membuat asumsi-asumsi yanng diperlukan. tujuan dilakukannya penelitian. FT UI. BAB 4 : Analisis Hasil Simulasi Merupakan simulasi siklu biner dan modifikasinya pada PLTP yang dilakukan dengan EES.. Sistematika Penulisan BAB 1 : Pendahuluan Berisi tentang latar belakang penelitian.5. Ayu Setya Ismawati. Selanjutnya teori mengenai fluida kerja R123. Hasil yang diharapkan dari penyelesaian persamaan analisis eksergi masing-masing model adalah untuk menjawab tujuan penelitian tugas akhir ini. BAB 3 : Metodologi Penelitian Langkah-langkah yang dilakukan dalam menganalisis eksergi dan menghitung efisiensi dari ketiga model yang dibandingkan.6. Kemudian dilakukan analisis dengan menggunakan software penyelesaian seluruh Engineering Equation Solver (EES) untuk persamaan.

. supaya lebih mudah dipahami. tekanan evaporator. daya netto dan efisiensi ditampilkan dalam bentuk grafik ataupun tabel. Universitas Indonesia Analisis eksergi. Pada bagian akhir terdapat daftar pustaka dan lampiran.5 masing komponen. Kemudian dicari hubungan antara temperatur inlet turbin.. FT UI. 2012 . Ayu Setya Ismawati.. diberikan analisis dan simulasi untuk perbaikan dari siklus sebelum dan dianalis penyebabnnya BAB 5 : Kesimpulan dan Saran Merupakan kesimpulan yang didapatkan dari tugas akhir ini. Pada akhir bab ini. � temperatur pinch. dan juga saran yang bermanfaat dalam proses pengembangan dan penerapan tugas akhir ini.

...2) Hukum kedua menekankan pada fakta bahwa bentuk dari dua kuantitas energi yang sama bisa saja memiliki nilai availibility yang berbeda. Oleh karena itu hukum-kedua effiesiensi mengukur kerugian / losses selama proses berlangsung... (2.......... khususnya useful untuk perangkat steadystate..... FT UI... (2. dan apa yang dihitung 5 Universitas Indonesia Analisis eksergi.. Hukum pertama berdasar pada prinsip kekekalan.............. Ayu Setya Ismawati... entropi dihasilkan dan availibility dimusnahkan.....1 Efisiensi Hukum-Kedua[7] +XNXP SHUWDPD HIILVLHQVL _...... apa yang menjadi input.... Hukum pertama dan kedua efisiensi berbeda satu sama lainnya...... Tidak seperti pada hukumpertama efisiensi...... Dengan kehadiran irreversibility.. adalah : L MM L p_rc md _t_gjg`gjgrw msrnsr _t_gjg`gjgrw glnsr .... GDQ HIHN DNKLU GLXNXU GHQJDQ irreversibility I...... 3DGD komsep availibility PHQJJXQDNDQ KXNXP NHGXD HILVLHQVL _ kedua II atau hukum efektifitas Ý....1) Dimana kerugian menyatakan perpindahan nonuseful /tidak bermanfaat melintasi boundary... Pendekatannya selanjutnya.. Energi ini PHUXSDNDQ QLODL µEHUDW¶ PHQXUXW availibility-nya.. sedangkan efektifitas mengindikasikan bagaimana availibility digunakan sebaik-baiknya........ efektifitas mengukur kerugian dalam kapasitas kerja selama proses berlangsung... 2012 .....................BAB 2 STUDI LITERATUR 2.. PHQJHNVSUHVLNDQ UDVLR GDUL NXDQWLWDV HQHUJL... Pada hukum pertama menyatakan bagaimana energi digunakan dibandingkan dengan proses ideal.. Diperhatikan. Definisi umum dari hukum-kedua efisiensi (_ I)I adalah : L sqcdsj _t_gj_`gjgrw msr L _t_gjg`gjgrw gl F _t_gjg`gjgrw bcqrpsargml _lb jmqqcq _t_gjg`gjgrw glnsr . Disisi lain entropi dan availibility dari pandangan hukum-kedua adalah sifat yang tidak kekal...... Efek pembentuNDQ GLXNXU GHQJDQ SURGXNVL HQWURSL 1...

........ yaitu: 1. FT UI.............. Ayu Setya Ismawati.... Maka.....6 sebagai kerugian. Jika bertemperatur sekitar 170 Co ± 370 o C maka menggunakan flushed steam system dimana uap masih mengandung cairan dan harus dipisahkan dengan flush separator sebelum memutar turbin............. PLTP biasanya dibangun di Universitas Indonesia Analisis eksergi...... 2012 .......act . Hanya saja uap yang digunakan adalah uap panas bumi yang berasal langsung dari perut bumi...... Binary cycle system (sistem siklus biner) Proses dalam pembangkit dimulai dari uap yang diambil dari panas bumi yang digunnakan untuk memutar turbin......... Flushed steam system 3.... Untuk keadaan siklus aktual (reversibel) W act _ th.4) Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) Pada umumnya pembangkit listrik panas bumi berdasarkan jenis fluida kerja panas bumi yang diperoleh dibagi menjadi 3.....3) Karena availibility dikaitkan dengan kerja shaft adalah nilai dari kerja shaft itu sendiri........... Jika uap tersebut bertemperatur diatas 370 C o maka PLTP menggunakan vapor dominated system dimana uap dari panas bumi langsung digunakan utuk memutar turbin. (2...2 Ð ÌÎß Ð ÝÐá L _ àÓ ÌÎß _ ÎÌÝÙÚß L _ àÓ ÌÎß 5?:Í ½⁄ Í ..... QH.... Dalam binary-cycle system uap panas bumi digunakan untuk memanaskan gas dalam heat exchanger kemudian gas ini yang akan memutar turbin. Sebagai contoh untuk penggunaan konsep availibility pada analisis hukum-kedua sebuah mesin kalor yang beroperasi diantara dua reservoir termal pada TH dan T L.... Karena itu. sehingga tidak melalui proses pemanasan oleh boiler. ÝL 2..... Prinsip kerja PLTP hampir sama dengan PLTU....... dapat didefinisikan efektivitas dari siklus power dan rasio availibility-nya Wact / Wrev.............¹ .. maka : åØÙL ß ÖÔåáâç Á LB F ͽ ͹ C Á .. Vapor dominated system (sistem dominasi uap) 2.. jika siklusnya adalah reversibel.. (2.

2012 . Fluida panas bumi di seluruh sistem dijaga pada tekanan di atas titik nyala untuk temperatur fluida agar mencegah keluarnya uap dan gas noncondensable yang dapat menyebabkan timbulnya kalsilasi scale pada pipa. namun PLTP memerlukan biaya investasi yang besar terutama untuk biaya eksplorasi dan pengeboran perut bumi. Proses termodinamis yang dialami oleh fluida kerja akan ditampilkan dalam Gambar. Setelah keluar dari HE. Sumur produksi dilengkapi dengan pompa yang diletakkan diatas kepala sumur untuk menarik fluida panasbumi dalam hal ini brine yang kemudian dialirkan kedalam Preheater / Heat-Exchanger (HE). brine tersebut akan kembali diinjeksikan kedalam bumi. dan efisiensi ideal dari PLTP binary cycle yang berada pada beberapa lokasi [5. dimana energi termal ditransfer kepada fluida kerja.. Universitas Indonesia Analisis eksergi.2 dan Gambar 2. sebuah pembangkit binary-cycle mengikuti diagram alur skematik yang diberikan dalam Gambar 2. Terdapat dua langkah dalam proses pemanasan-pendidihan. dan juga sangat baik diterapkan untuk panas bumi pada sistem binary-cycle. 2.1 PLTP Sistem Binary-Cycle Dalam bentuk yang paling sederhana.1 merupakan gambaran besarnya efisiensi energi/thermal. dilakukan di dalam HE dimana fluida kerja dipanaskan hingga titik didihnya dan dalam evaporator yang kemudian keluar sebagai uap jenuh. Tabel 2. 6]. Ayu Setya Ismawati. 2.2.. Jenis diagram yang paling sering digunakan untuk siklus pendinginan dan penyejuk udara.2. Lebih lanjut. temperatur fluida tidak diperbolehkan untuk turun ke titik di mana silika scale dapat terbentuk pada Pre-heater dan didalam sistem perpipaan bahkan dalam sumur injeksi. tekanan-entalpi.7 daerah pegunungan atau dekat gunung berapi. P-h diagram.. FT UI.3.

. 1 Diagram proses binary-cycle secara umum (Yari. 2012 . 2007] Gambar 2. FT UI.. 1 Efisiensi relatif dari PLTP binary-cycle di berbagai lokasi [Sumber : DiPippo (Geothermics) 36..8 Tabel 2. 2009) Gambar 2. 2008) Universitas Indonesia Analisis eksergi. Ayu Setya Ismawati. 2 Diagram P-h (pressure-enthalpy) untuk proses binary-cycle umum (DiPippo.

Namun sebagian besar panas bumi di indonesia memiliki kualitas uap yang kurang baik dimana masih mengandung air (35% air dan 65% uap). Pompa. FT UI. Ayu Setya Ismawati.. Evaporator dan Kondesor. 2012 . Perbedaan utama siklus Rankine dan ORC yaitu pada siklus Rankine menggunakan fluida kerja air untuk menghasilkan uap (Refrigerant). Dalam ORC terdapat 4 komponen utama yaitu Turbin uap.3 Organic Rankine Cycle (ORC) Suatu pembangkit listrik dapat menggunakan sumber panas yang bertemperatur dan tekanan rendah yaitu dengan sistem pembangkit Organic Rankine Cycle.. Penelitian tentang Regenerative Organic Rankine Cycle (RORC) telah dilakukan oleh Pedro J. Turbin uap berfungsi untuk mengerakkan generator untuk menghasilkan listrik dengan mengekspansi uap refrigeran dari tekanan tinggi ke rendah. temperatur antara 78 Co ± 125 o C dan tekanan rendah dibawah 3 bar. Umumnya sumur-sumur uap yang berada dilokasi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) sebagian besar menghasilkan uap dengan tekanan dan temperatur rendah (Psteam < 3bar. Hukum-pertama dan kedua thermodinamika Universitas Indonesia Analisis eksergi.. Mago untuk menganalisis sistem Regenerative ORC (RORC) dengan menggunakan Dry Fluid[4]. T <150 C)o sehingga tidak dapat digunakan penggerak turbin uap pada PLTP.9 2. sehingga dengan menggunakan sistem pembangkit Organik Rankine Cycle sehingga dapat mengoptimalkan sumber panas yang disediakan oleh alam. Turbin uap pada PLTP umumnya beroperasi pada tekanan diatas 5 bar. Pada sedang pada ORC menggunakan fluida siklus Rankine menggunakan boiler kerja organik sebagai tempat penambahan panas sedangkan pada sistem ORC menggunakan evaporator sebagai tempat penyerapan panas sehingga pada siklus ini kita tidak menggunakan suatu wadah untuk proses pembakaran sehingga tidak menghasilkan polusi udara akibat dari proses pembakaran. sehingga steam dari sumur-sumur yang berkualitas rendah ini dapat digunakan sebagai pemanas evaporator pada ORC untuk menghasilkan listrik. Penelitian ini mengkaji pengaruh irrevisibility sistem ORC terhadap efisiensi siklus. Sedangkan pompa menaikkan tekanan refrigerant cair dari kondensor ke evaporator untuk diubah menjadi refrigerant uap.

10
digunakan untuk mengetahui kesetimbagan energi dan sifat irreversibiltas dari
suatu sistem.
Dengan melakukan pemanasan kembali (reheat) atau dengan siklus regeneratif
maka efisiensi dari siklus akan meningkat. Penelitian tentang ORC telah banyak
dilakukan dengan berbagai sumber panas yang digunakan dan pada penelitian ini
akan dibuat suatu sistem ORC dengan melakukan reverse engineering terhadap
keempat komponen utama dari sistem, serta uji eksperimental dilakukan untuk
mendapatkan daya dan efisiensi siklus, dan melakukan modifikasi terhadap
kompresor refrigrasi menjadi turbin uap yang akan digunakan panas sistem ORC.
2.3.1

Pengembangan Model Binary-Cycle dengan RORC

Pada sistem binary-cycle, energi termal akan ditransfer oleh fluida panasbumi
melalui penukar panas ke fluida kerja sekunder untuk digunakan dalam ORC.
ORC merupakan gambaran dari

siklus Rankin uap tradisional, tetapi

menggunakan fluida organik (isobutene, isopentana, R113, R123, dll) sebagai
fluida kerja menggantikan air. Berbeda dengan silus Rankin tradisional, ekspansi
dari fluida organik tidak berhenti sebagai uap jenuh tetapi dalam fase gas diatas
temperatur kondensor.
Oleh sebab itu, sebuah penukar panas internal (IHE) sering digunakan untuk
meningkatkan efisiensi dari sistem. Dalam penelitian sebelumnya sebagian besar
berfokus dengan menggunakan ORC

sebagai dasar dari sistem.

meningkatakan kinerja dari ORC, sistem dengan

Untuk

siklus regeneratif ORC

digunakan. Skema dari penggunaan RORC ditunjukkan pada Gambar 2.4 dan 2.5
[8]. Seperti dapat dilihat pada Gambar 2.5, Evaporator melakukan tahap
pemanasan awal, mengevaporasi, dan menjadikan fluida organik kedalam fasa
superheated. Uap superheated ini diekspansi dalam expander, untuk menghasilkan
kerja mekanik. Uap yang terkspansi didinginkan dalam suatu penukar panas
internal (IHE). Setelah kondensasi ini, pompa 1 dipompakan ke IHE. Ini
pemanasan awal fluida kerja, dimana fluida organik akan dipanaskan kembali.
Selanjutnya dipanaskan dalam siklus tertutup pemanas feed-organic oleh fluida

Universitas Indonesia
Analisis eksergi..., Ayu Setya Ismawati, FT UI, 2012

11
yang diekstraksi. kemudian pompa 2 akan memompa fluida kerja kembali.
Evaluasi dari RORC mencakup efek dari konfigurasi sistem ini pada keseluruhan
efisiensi termal siklus, ireversibilitas total siklus, jumlah waste-heat yang
dibutuhkan untuk mengoperasikan siklus, dan efisiensi berdasarkan sistem
hukum-kedua[8].

Gambar 2. 3 Model 1. Regenerative Organic Rankine Cycle tanpa IHE
(Mago, 2007)

Gambar 2. 4 Model 2. Regenerative Organic Rankine Cycle menggunakan IHE
(Yari, 2009)

Universitas Indonesia
Analisis eksergi..., Ayu Setya Ismawati, FT UI, 2012

12
2.4

Konsep Dasar Eksergi[7]

Eksergi merupakan energi yang dapat dimanfaatkan (available energy) atau
ukuran ketersediaan energi untuk melakukan kerja. Eksergi suatu sumber daya
memberikan indikasi seberapa besar kerja yang dapat dilakukan oleh sumber daya
tersebut pada

suatu lingkungan

tertentu. Konsep eksergi secara

eksplisit

memperlihatkan kegunaan (kualitas) suatu energi dan zat sebagai tambahan selain
apa yang dikonsumsi dalam tahapan-tahapan pengkonversian atau transfer energi.
Salah satu kegunaan utama dari konsep eksergi adalah keseimbangan eksergi
dalam analisis sistem termal. Keseimbangan eksergi (analisis eksergi) dapat
dipandang sebagai pernyataan hukum energi degradasi. Analisis eksergi adalah
alat untuk identifikasi jenis, lokasi dan besarnya kerugian termal. Identifikasi dan
kualifikasi kerugian ini memungkinkan untuk evaluasi dan perbaikan desain
sistem termal.
Metode analisis eksergi dapat menunjukkan kualitas dan kuantitas kerugian panas
dan lokasi degradasi energi (mengukur dan mengidentifikasi penyebab degradasi
energi). Sebagian besar kasus ketidaksempurnaan termodinamika tidak dapat
dideteksi dengan analisis energi. Persamaan kerja aktual dan kerja reversibel
sering diformulasikan dalam persamaan fungsi eksergi untuk sebuah sistem
terbuka dan sistem tertutup. Sampai saat ini dianggap penting untuk menentukan
kerja potensial dari sebuah sistem pada keadaan tertentu menuju kesetimbangan
dengan lingkungan sementara sejumlah kalor yang dipindahkan merupakan satusatunya interaksi dengan lingkungan.
2.4.1

Dead State

Ketika sistem dan lingkungan berada pada kesetimbangan, tidak ada perubahan
state pada sistem secara mendadak yang bisa terjadi, dan dengan demikian tidak
ada kerja yang dilakukan. Karena proses yang telah dijelaskan di atas memberikan
kerja reversibel maksimum atau kerja potensial yang berhubungan dengan state
sebuah sistem maka

ketika sistem dan lingkungannya

telah mencapai

kesetimbangan satu sama lain, sistem dikatakan pada kondisi dead state.
Khususnya, sebuah sistem pada dead state secara termal dan mekanikal setimbang

Universitas Indonesia
Analisis eksergi..., Ayu Setya Ismawati, FT UI, 2012

FT UI..0nilai numerik (T . Dengan demikian pembatasan pada pengertian keseimbangan kimia dengan lingkungan Metode yang digunakan untuk mengevaluasi eksergi dan pertukaran eksergi untuk sistem tertutup dan sistem steady-state terbuka. Pembatasan temperatur. Eksergi untuk Sistem Tertutup Situasi umum untuk sistem tertutup ditunjukkan oleh gambar dibawah ini. 2012 . dan karakter ketinggian adalah sebuah pembatasan dead state yang berhubungan dengan kesetimbangan termomekanikal dengan atmosfer. Gambar 2. Ayu Setya Ismawati. Konsekuensinya. 5 Sistem tertutup (Culp.15 K dan 1.2.4. seperti ketinggian air laut atau tanah menjadi nol.. Syarat ini akan dipenuhi dengan merubah pengaturan beberapa ketinggian dari bumi. perpindahan-eksergi yang berhubungan dengan perpindahan kerja nyata (tidak termasuk kerja terhadap lingkungan) sama dengan kerja-bermanfaat itu sendiri. 2. Syarat tambahan dead state adalah kecepatan dari fluida sistem tertutup atau arus fluida adalah nol dan energi gravitasi potensial juga nol. kecepatan. 0P ) 0direkomendasikan untuk dead state /kedudukan mati adalah yang berada pada atmosfer standar. 298.01325 bar (1atm). 1989) Universitas Indonesia Analisis eksergi..13 dengan lingkungan pada T0dan P . tekanan. seperti halnya proses perpindahan kalor adalah dengan mengevaluasi perpindahan-eksergi yang berhubungan dengan interaksi kerja terhadap lingkungan.

. Di dalam kondisi ini... persamaan memprediksi nilai maksimum output kerjabermanfaat atau nilai input minimum kerja-bermanfaat yang berhubungan dengan perubahan kedududkan yang diberikan..................... Aplikasi dari persamaan [2............5)   Catat bahwa E dapat digantikan dengan U untuk sistem stationery..................14 Perpindahan kalor ÜQj melewati batasan sistem pada temperatur T j. dan simbol cv digantikan dengan cm. (2.. Keadaan seperti ini ditunjukkan oleh gambar di bawah ini.... (2.......... FT UI. Universitas Indonesia Analisis eksergi.6)   Integrasi dari persamaan di atas antara state 1 dan 2 pada sistem tertutup menghasilkan Wu  E P0 V T0 S )  T0  Q  T0  cm  b 1 2 1    T  E2  E1  P0 (V 2  V1 )  T0S( 2  T0    S1 )  1  Q  T0  ..7)  2 1  Tb  Terlihat Ti telah digantikan dengan T b..........7] dan [2...... Ayu Setya Ismawati.. Inilha satu-satunya batasan pada pengembangan dari persamaan di atas.....8] pada dasarnya untuk menentukan perpindahan kerja-bermanfaat reversibel yang terjadi ketika sistem tertutup merubah energi sebagai satu-satunya perpindahan kalor dengan lingkungan pada T0. sehingga kerja-bermanfaat netto menjadi : Wu  n  T0 d (E  PV 0  T0S ) cv   Qj  1 dt j 1   Tj   T0 cv ......... 2012 ..  T0 j 1   Tj n Wu  d (E  PV 1  0  T0S ) cv    Q j  T0 cv ...... Untuk perubahan state kondisi finite.. temperatur batas adalah uniform ketika perpindahan kalor terjadi.............. Karena tidak ada aliran arus yang dihubungkan dengan sistem tertutup [control mass (cm)]..8)  1  Tb  2 Persamaan ini akan mengevaluasi kerja-EHUPDQIDDW UHYHUVLEHO GHQJDQ PHQJDWXU 1 = 0 ..... Dalam basis unit-massa dapat dituliskan menjadi Wu  e P0 v T0 s  T0  q  T0  m b  1 2 1    T  T0   e2  e1 P0 (v 2  v1 )  T0s( 2  s1 )   1  q  T0  ......... (2.. (2..

15 Gambar 2... PDND QLODL GDUL 1 MXJD nol.... 1989) dimana boundary/ batasan digambar mengitari sistem tertutup dan wilayah perpindahan kalor.... Perlu dicatat bahwa temperatur boundary Tb dimana perpindahan kalor yang terjadi adalah seragam dan konstan.. pengintegralan dari persamaan [2............... maka hasilnya adalah Wrev. Sehingga persamaan [2.... 2012 .........5] menjadi Wrev........ FT UI. Untuk sistem tertutup yang berjalan dari state yang diberikan relatif terhadap dead state dalam sebuah proses dimana perpindahan kalor terjadi hanya dengan lingkungan.....8] adalah nol jika keseluruhan proses adalah revHUVLEHO.....10) Universitas Indonesia Analisis eksergi. Ayu Setya Ismawati............7] dan [2.... Eksergi dari sebuah sistem tertutup pada state yang ditentukan didefinisikan sebagai kerja output maksimum yang bermanfaat yang mungkin diperoleh dari kombinasi sistem-atmosfer seperti halnya sistem berjalan dari state setimbang yang diberikan terhadap dead state oleh sebuah proses dimana letak perpindahan kalor terjadi hanya dengan atmosfer.....u  E2  E1  P0 (V 2  V1 )  T0 S( 2  S1 ) ..9) Persamaan ini memberikan penjelasan hubungan dari eksergi pada sistem tertutup...... (2. Dengan demikian. 6 Skematik pengembangan kerja reversibel (Culp.........u  E0  U P0 (V 0  V )  T0 S( 0  S ) . (2..9]..... kerja bermanfaat reversibel diperoleh langsung dari persamaan [2..

......... Eksergi pada sistem tertutup diberikan simbol µ dan dapat dihitung dari hubungan berikut ini E U 0  P0 (V  V0 )  T0 S(  S0 )  ( E  PV 0  T0 S )  (U 0  PV 0 0  T0 S 0 ) .........11) 'LPDQD ´RXWSXW UHYHUVLEHO´ PHQ\DWDNDQ ´RXWSXW PDNVLPXP´.... dan kemudian eksergi spesifik dapat dituliskan sebagai berikut    e u0  P0 v(  v0 )  T0s(  s0 ) ......... 2012 .......... 0 Menurut standar konvensi penandaan.in í: u.. Catat hasil ini hanya terbatas pada dead state....... menjadi Wrev..10].u.. out  E U0  P0 (V  V0 )  T0 S(  S0 ) .j Perpindahan eksergi juga dikaitkan dengan perpindahan kalor.. Dengan menggunakan persamaan [2..... FT UI.4..16 Dimana E 0.. V 0dan S merupakan properties dari sistem tertutup pada dead state.. Oleh karena itu.......12) Dimana E = U + KE + PE adalah total energi pada sistem tertutup.... Tetapi kerja potensial pada kondisi relatif terhadap dead state adalah nilai eksergi-nya...... (2...... =W u............. Ayu Setya Ismawati................ didapat  U P0 V T0 S ) m( u P0 v T0 s) ....12] sebagai state awal dan akhir 1 dan 2 pada sistem tertutup........3 Perpindahan Eksergi Dikaitkan dengan Perpindahan Kalor Perpindahan entropi yang dikaikan dengan perpindahan kalor Q jmelintasi batasan sistem pada T j digambarkan dengan nilai Q /T j . Pada temperatur TR maka  T0  Wpot  Qcarnot  Q  1   TR  Dimana temperatur penampung adalah T 0 pada lingkungan dan W pot bernilai positif................. (2......... (2.... (2......... Persamaan ini kemudian mengukur eksergi pada sistem tertutup..13) m Dimensi dan unit dari eksergi dan eksergi spesifik sama seperti energi dan energi spesifik..... 2... output kerja-bermanfaat reversibel diberikan oleh tanda negatif dari persamaan [2.....14] akan digunakan pada pengembangan keseimbangan eksergi.out ..14) Persamaan [2.... secara berurutan. sehingga Universitas Indonesia Analisis eksergi............

...... Gambar 2. FT UI.8 dan perpindahan kalor Q= TR.17   T0 Q 1  TR .R  Q T0  TR     Q T0 S R  'LPDQD ûS adalah perubahan entropi selama proses reversibel pada sistem.8.. û6 R..15) Dengan ¥ Q......R simbol dari perpindahan eksergi yang berkaitan dengan perpindahan kalor Q masuk atau keluar pada sistem tertutup dengan temperatur T R konstan....R memilki intepretasi sebagai berikut pada TS diagram gambar 2.... 7 Plot T-S menunjukkan area mewakili perpindahan eksergi dikaitkan dengan perpindahan kalor dari sistem tertutup pada temperatur konstan TR (Culp. Setiap variabel persamaan diatas diwakili oleh area kotak pada gambar 2.. Pertama.... seperti perubahan temperatur konstan yang ditunjukkan pada gambar 2...   (2..........9 (a) dibawah ini........ Ayu Setya Ismawati.............15] dapat dituliskan seperti Q Q . Universitas Indonesia Analisis eksergi.....QR  . persamaan [2...... 1989) Pada situasi umum dimana temperatur sistem tertutup bervariasi selama proses berlangsung. tertutup pada temperatur konstan TR........ 2012 .. Persamaan untuk ¥ Q...

............. jika temperatur sistem T A lebih kecil Universitas Indonesia Analisis eksergi..................17)  b 1 2 1   T Untuk perpidahan Eksergi ¥ Qpada basis unit massa.............. sehingga persamaannya adalah  T0  T Q Q j  Q j  0 j Tj  Tj    Wrev   1 Pada proses terbatas antar state 1 dan 2........ 1989) ÜQj yang Kita harus mempertimbangkan penambahan perpindahan kalor dipindahkan dari sistem pada temperatur T j serta kerja reversibel untuk penambahan pada perpindahan kerja.... temperatur batasnya dapat diwakili oleh Tb. (2.. maka sistem mendapat eksergi ketika perpindahan kalor ke sistem................ sehingga persamaannya menjadi  Q  T0  Q ...........18)   Hal penting dari persamaan [2.................. 8 Plot T-S menunjukkan area dari perpindahan eksergi (Culp.......... Bagaimanapun juga.... dapat ditulis dengan  T0 1   1   Tj 2  Q  q j .18 Gambar 2..............................................16] dan [2......... sehingga :  Q  T0  Q j ...................16) 1   Tj   1  2 Dimana ¥ Q didefinisikan sebagai perpindahan eksergi yang berkaitan dengan perpindahan kalor Q ke dan dari sistem tertutup yang uniform pada temperatur T .. FT UI............................. 2012 . (2........... Ayu Setya Ismawati.............j Temperatur batas adalah uniform ketika perpindahan kalor terjadi..18] adalah jika temperatur sistem (T ) A lebih besar dari T 0....................... (2.... dan sebaliknya.......

.. Jadi aliran energi dan aliran eksergi berlawanan arah.... 1989) 2.19 dari T0... energy kinetik dan energi potensial tidak berubah....... ditunjukkan pada gambar dibawah ini.16] sebagai ¥Q. Gambar 2. kemudian terjadi kerugian eksergi sistem ketika perpindahan kalor ke sistem.. 2012 ..5] dikembangkan untuk mencari nilai kerja-bermafaat W berkaitan dengan sistem tertutup dimana perpindahan kalor Q j u yang melintasi permukaan kendali pada temperatur uniform Tb dan hasilnya adalah n  T0 Wu   Qj  1 j 1  Tb  d (E  PV 0  T0S   T0 cm dt  Untuk sistem tertutup stationery. GDQ WHUP NHGXD EDJDLDQ NDQDQ GLGHILQLVLNDQ ROHK SHUVDPDDQ >_. Ayu Setya Ismawati..__@ VHEDJDL û¥ dan yang terakhir didefinisikan sebagai irreversibility I cm didalam sistem tertutup........... 9 Arah perpindahan kalor Q dan perpindahan Eksergi ¥ (Culp. FT UI....4.. dan E dapat digantikan dengan U.. (2..4 Keseimbangan Eksergi untuk Massa Kendali Persamaan [2.... Maka persamaan tersebut menjadi Universitas Indonesia Analisis eksergi... Untuk perubahan finite pada state pada kasus ini adalah  T0 Wu   1  1  Tb 2  Q  ( U P0 V T0 S ) T0  cm .19)  Tapi term kedua bagian kanan didefinisikan oleh persamaan [2....

20  Wu  Icm .........20] dengan format I cm  Wu  ( cm Q ) ..................................23) Perpindahan eksergi ini dikaitkan dengan perpindahan kalor pada boundary perpindahan-kalor adalah semata-mata menentukan irreversibility di dalam wilayah... Oleh sebab itu u adalah perpindahan kalor antara dua wilayah dengan temperatur diketahui..... (2.... keseimbangan eksergi menjadi IQ  Q.....in  Q.....................u ke persamaan [2..... persamaan tersebut menyatakan bahwa [availibility change of a control mass] = [availibility transfer with heat transfer into system] + [availibility transfer with useful work into system] – [availibility destruction within MCs] Dengan demikian persamaan [2....... Ayu Setya Ismawati.............out ......... Peningkatan entropi pada sistem terisolasi menyatakan bahwa Sisol   isol  0 Universitas Indonesia Analisis eksergi................................... (2.22) Kedua hubungan diatas untuk I adalah ekivalen terhadap persamaan [2.............. FT UI.....................20]..... dimana Icm = 0.................................. Wrev................. EDLN ûNcm dan Wbernilai nol......... Dengan kata lain.................u  ( cm Q ) Subtitusi pada persamaan diatas untuk Wr ev.. Untuk proses reversibel...........21] akan Menghasilkan I cm  Wu  Wrev.........21) Sebagai tambahan.. Semua irreversibility akan menghancurkan eksergi dan dapat dievaluasi langsung dari keseimbangan eksergi dengan menuliskan persamaan [2.........19] dan [2.........20] menyatakan keseimbangan eksergi untuk massa kendali yang berkaitan dengan perpindahan kalor dan interaksi kerja....u ..... persamaan diatas dapat ditulis sebagai interaksi kerja......... (2.. 2012 ........20]... dan juga berguna dalam menghasilkan persamaan spesifik untuk irreversibility terhadap proses perpindahan kalor yang berasal dari persamaan [2.......... Untuk SHUSLQGDKDQ SDQDV..........20) cm Q Disini Icm mengukur eksergi (availability) destruction/ penghancuran ketersediaan didalam sistem tertutup.... (2..............

................................................................................. Laju Eksergi spesifik dan laju dari total Eksergi diberikan L F 6L 6 4 F 4: F 4................................. 6âèç 6L âèç F 6 âèç F 6Üá Üá (2.......... maka nilai Eksergi berubah untuk sistem terisolasi menjadi negatif.25) Ini adalah rumus untuk peningkatan pada prinsip entropi sistem terisolasi......5 Perhitungan Umum Analisis Energi dan Eksergi[8] Kesetimbangan Massa... dan 6 ÛØÔç adala net Eksergi yang dipindahkan oleh panas pada temperatur T........28) Dimana 6dan 6merupakan net heat input dan work output.........31) Dimana subskrip 0 merupakan batasan dead state dan T adalah temperatur dead 0 state....................... ketika Q dan W adalah nol pada sistem terisolasi.............. 2012 ................. Maka isol  0 ............. (2.... Í 6 ......26) ........... masing-masing........................................................... energi dan Eksergi untuk setiap volume kendali pada keadaan tunak dengan mengabaikan perubahan energi kinetik dan potensial dapat dinyatakan. Ayu Setya Ismawati... (2... (2............................................... ..27) 6 6 Üá E ½ .................................. (2.............................. keseimbangan Eksergi oleh persamaan [2....... (2.......20] menjadi isol  Iisol .................................30) .............................. dengan : 6Üá L 6F 6âèç 6L 6 ÛØÔçF ...24) Karena I isol harus selalu bernilai positif pada proses aktualnya..................... tanda in dan out merupakan relasi dari masukan dan keluaran................. Efisiensi dari energi dan Eksergi secara umum dapat dijabarkan dalam persamaan ßÂL B ØáØåÚì Üá ãåâ×èÖç C çâçÔß ØáØåÚì Üáãèç .......29) Dimana T adalah temperatur dimana perpindahan panas dimulai..... h adalah entalpi.......... yang diberikan oleh 6 ÛØÔçL : F Í.... ......................................... (2............. (2. 2. 6 ½ merupakan laju Eksergi destruction / losses..... 6adalah laju alir massa dari fluida........21 Sama halnya.......... (2........................... FT UI..........32) Universitas Indonesia Analisis eksergi......

......22 ØëØåÚì Üá ãåâ×èÖç ßÂÂL B çâçÔß ØëØåÚì Üáãèç C ... pembangkit listrik sistem biner panas bumi dibagi menjadi subsistem....... Ayu Setya Ismawati............ F ¾ ¾ ............................ 10 Diagram dari process penukaran panas antara fluida panasbumi dengan fluida kerja ORC dalam evaporator (Yari.............. 2010) 2.. 2012 ............. FT UI........ Massa........ energi dan eksergi saldo dan berbagai efisiensi didasarkan baik dengan energi dan eksergi... Universitas Indonesia Analisis eksergi.6 Analisis Energi dan Eksergi Sub-komponen[8] Untuk analisis energi dan eksergi rinci dalam penelitian ini.............11 merupakan selisih kurva minimum temperatur antar fluida panas bumi dan fluida kerja ORC......34) pada gambar 2. (2................33) Kriteria desain untuk evaporator dapat didefinisikan sebagai ¾L ãã Dimana...... Gambar 2......... (2.........

1 Analisis Energi dan Eksergi Model 1 Untuk persamaan energi dan eksergi model ini merujuk kepada persamaan yang telah disajikan oleh Mago.. (2. FT UI........39) 2 adalah spesifik entropi dari fluida kerja pada masukan dan keluaran dari pompa pada kondisi aktual....ideal p  m(h1  h2 s )  p   ....  (2. 2012 ...........1... Basic Organic Rankine Cycle 2....... Somayaji dalam jurnal mereka \DQJ EHUMXGXO ³$Q H[DPLQDWLRQ RI UHJHQHUDWLYH RUJDQLF 5DQNLQH F\FOHV XVLQJ GU\ IOXLGV´>_@.. Gambar 2... Laju eksergi dari pompa didefinisikan dalam persamaan I p  T0m(s 1  s2 ) Dimana s 1dan s  .. Universitas Indonesia Analisis eksergi.36) Dimana 6ã Ü×ØÔß adalah daya ideal dari pompa 6adalah laju alir dari fluida kerja... Pompa (Proses 1-2) Power dari Pompa I (proses 1-2) dapat dituliskan sebagai Wp  Wp ..... ßã adalah efisiensi isentropik dari pompa.......6........23 2...... sedangkan 5 dan 6æ adalah entalpi dari fluida kerja pada masukan dan keluaran dari pompa untuk keadaan ideal...........1...................... Srinivasan.6............ Chamra.. Ayu Setya Ismawati... 11 Model 1...............

. dan T H adalah temperatur dari temperatur tertinggi reservoir..............idealt  mt (h3 h4 s ) .............................. turbin t adalah efisiensi isentropik turbin........24 2...................... 2.....6........42) dimana Wt .... temperatur ini dianggap sama dengan TH  T3  TH .(2.. 2.......................... Laju eksergi dari evaporator didefinisikan dalam persamaan  (h  h )  I e  T0m  ( s3  s3 )  3 2 ......1... Kondensor Laju panas dari kondensor dapat digambarkan dalam persamaan   Qc  m(h1  h4 ) .....43) It  T0 m(s 4  s3 ) ...... Laju eksergi dari kondensor didefinisikan dalam persamaan Universitas Indonesia Analisis eksergi..................... 2012 ........4....41)  TH     dimana s 3 dan s3 adalah spesifik entropi dari fluida kerja pada masukan dan keluaran evaporator.......... (2............. FT UI...... Demikian pula untuk konfigurasi lainnya................ dimana s 3adalah spesifik entropi dari fluida kerja pada masukan turbin . Laju eksergi dari turbin didefinisikan dalam persamaan   (2..... dan h 4s adalah entalpi fluida kerja pada keluaran dari turbin untuk keadaan yang ideal.................... Turbin (Proses 3-4) Power turbin diberikan oleh persamaan Wt  Wt . dimana h 3 dan h2 adalah entalpi dari fluida kerja pada masukan dan keluaran evaporator........ h3 adalah entalpi dari fluida kerja pada masukan turbin........ideal adalah power ideal turbin.....6.. Evaporator (Proses 2-3) Pada evaporator perpindahan panas terjadi pada tekanan yang konstan.......1..................44) dimana h 1 dan h4 adalah entalpi dari fluida kerja pada masukan dan keluaran kondensor.....................6. dan s 4 adalah spesifik entropi dari fluida kerja pada keluaran turbin pada kondisi aktual.1........... Ayu Setya Ismawati............ (2.....40) Qe  m(h3  h2 ) ...........3................2.......................... Evaporator memanaskan Laju perpindahan panas dari evaporator digambarkan sebagai   (2.....

.............  ( h3  h2 )  ( h1  h4 )    T0 m       TH  TL     (2... dan (2....... (2................. (2........5.. kedalam persamaan (2.....43).. FT UI.55) sehingga menjadi persamaan cycle   h3 h4 s )  p 1 (h1  h2 s ) t [( .6...6. dan (2.. (2.45) sebagai berikut I cycle  I j  I p  I e  It Ic j ..46) Qe Subtitusi dari persamaan (2. (h3  h2 ) (2...25  (h  h ) I c  T0m(1 X 1 )  ( s1  s7 )  1 7 TL   . dan T Ladalah temperatur dari temperatur terendah reservoir............ Total Eksergi Siklus Total exegi dapat diperoleh dengan menambahkan persamaan (2.....45)     dimana s 1 dan s7 adalah spesifik entropi dari fluida kerja pada masukan dan keluaran kondensor...(2.............7.......48) 2.....................49) Universitas Indonesia Analisis eksergi....1.......... Demikian pula untuk konfigurasi lainnya... Efisiensi Siklus Efisiensi termal daapat digambarkan dengan persamaan W  Wp cycle  t ......6..... temperatur ini dianggap sama dengan TL  T1 TL 2................. (2..1...........40)........39).... 2012 .....38)...47) 2.........................41).     (2....42)....6......1. Ayu Setya Ismawati..... Efisiensi Hukum-kedua Efisiensi hukum-kedua untuk RORC dapat dinyatakan sebagai  II  Wnet  T Qe 1  L  TH   t [(h3  h4 s )  (h1  h2 s ) p1      TL   ( h h )   1   3 2       TH    .

...... 11 Model 2.2.....6. Feed-water Heater Untuk menentukan fraksi dari laju aliran yang masuk ke Feed-water Heater dan fraksi yang masuk ke dalam massa dan kesetimbangan energi kondensor diterapkan dalam pemanas air umpan...... 2012 ... Somayaji dalam jurnal mereka \DQJ EHUMXGXO ³$Q H[DPLQDWLRQ RI UHJHQHUDWLYH RUJDQLF 5DQNLQH F\FOHV XVLQJ GU\ IOXLGV´[4].26 2.. Fraksi dari laju aliran yang masuk ke Feedwater Heater diberikan oleh X1  h3  h2 h6  h2 2... (2..................... 2007) 2........ FT UI. Chamra..6................ Srinivasan.........2... Regenerative Organic Rankine Cycle tanpa IHE (Mago...6.2...2 Analisis Energi dan Eksergi Model 2 Untuk persamaan energi dan eksergi model ini merujuk kepada persamaan yang telah disajikan oleh Mago... Ayu Setya Ismawati..... ....1....... Gambar 2......35) Pompa (Proses 1-2 dan 3-4) Power dari Pompa I (proses 1-2) dapat dituliskan sebagai Universitas Indonesia Analisis eksergi.

... (2... dimana h 4 dan h5 adalah entalpi dari fluida kerja pada masukan dan keluaran evaporator..... 2... (2....2.. s3 dan s 4 adalah entropi dari fluida kerja pada masukan dan keluaran dari Pompa II pada kondisi aktual........... Laju eksergi dari evaporator didefinisikan dalam persamaan  (h  h ) I e  T0m  ( s5  s4 )  3 4 TH   ....................... 2012  ........... Demikian pula untuk konfigurasi lainnya..... 2............... Ayu Setya Ismawati..........27 Wp ............. (2.........3.......... dan T H adalah temperatur dari temperatur tertinggi reservoir.............................37) Penggabungan dari pers.39) adalah spesifik entropi dari fluida kerja pada masukan dan keluaran dari Pompa I pada kondisi aktual......37 dapat menghasilkan power total Pompa yang digambarkan dalam persamaan (1 X 1 )(h1  h2 s )(h3  h4 s )  Wp  m   ..... Universitas Indonesia Analisis eksergi.....2  Wp.. (2................... temperatur ini dianggap sama dengan TH  T3  TH ..ideal p  m(h 3  h4 s )  p   ....................... Evaporator (Proses 4-5) Laju perpindahan panas dari evaporator digambarkan sebagai   (2........................ideal p  (1 X 1m ) h( 1  h2 s )   p  ........6............38) p      Laju eksergi dari pompa didefinisikan dalam persamaan I p  T0m (1 X1 )(s1  s2 )(s3 s4 ) Dimana s 1dan s 2 .............................40) Qe  m(h5  h4 ) ........... (2........36 dan 2.................................41)     dimana s 4 dan s5 adalah spesifik entropi dari fluida kerja pada masukan dan keluaran evaporator..................1  Wp ................36) dan power dari Pompa II (proses 3-4) dapat dituliskan sebagai Wp........................................ FT UI.........................

............................. Turbin (Proses 5-6 dan 5-7) Power turbin diberikan oleh persamaan Wt  Wt ... h5adalah entalpi dari fluida kerja pada masukan turbin...... (2..............2...43) dimana s 5adalah spesifik entropi dari fluida kerja pada masukan turbin ..........4....46) Qe Universitas Indonesia Analisis eksergi............... Laju eksergi dari turbin didefinisikan dalam persamaan I t  T0m ( s7  s5 )  X 1s( 6 s7 ) ..6.................. Ayu Setya Ismawati........ turbin t adalah efisiensi isentropik turbin....................... (2....45)  TL     dimana s 1 dan s7 adalah spesifik entropi dari fluida kerja pada masukan dan keluaran kondensor..... FT UI...5............................ dan T Ladalah temperatur dari temperatur terendah reservoir................. temperatur ini dianggap sama dengan TL  T1 TL 2..... 2012 .....6........................... Demikian pula untuk konfigurasi lainnya.......... 2..6.................. (2..42) dimana Wt ................44) dimana h 1 dan h7 adalah entalpi dari fluida kerja pada masukan dan keluaran kondensor..... Laju eksergi dari kondensor didefinisikan dalam persamaan  (h  h )  I c  T0m(1 X 1 )  ( s1  s7 )  1 7 .6. Kondensor Laju panas dari kondensor dapat digambarkan dalam persamaan Qc  m(1 X1 )(h1 h7 ) ... dan s 6 dan s 7adalah spesifik entropi dari fluida kerja pada keluaran turbin pada kondisi aktual... (2.............................idealt  m t [(h5  h7 s )  X 1h( 7s h6 s )] ..................(2...........28 2.... Efisiensi Siklus Efisiensi termal daapat digambarkan dengan persamaan W  Wp cycle  t ....2...2............... dan h 6s dan h7s adalah entalpi fluida kerja pada keluaran dari turbin untuk kasus yang ideal..........ideal adalah power ideal turbin....

. kedalam persamaan (2..... Diberikan dalam tabel Tabel 2.. Efisiensi Hukum-kedua Efisiensi hukum-kedua untuk RORC dapat dinyatakan sebagai  II  Wnet  T  Qe 1  L   TH       t [(h5  h7 s )  X 1 (h7 s  h6 s )]  (1 X 1 )(h1  h2 s )  (h3  h4 s ) p1     TL   ( h h )  1   5 4   TH     .. Universitas Indonesia Analisis eksergi...... dan (2.45) sebagai berikut   (h5  h4 )  (h  h )   I cycle  T0m  (1 X 1 )  1 7  ..39)...6.2.. dan (2.... (2.3 Analisis Energi dan Eksergi Model 3 Untuk persamaan energi dan eksergi model ini merujuk kepada rangkuman yang WHODK GLVDMLNDQ ROHK <DUL GDODP MXUQDOQ\D EHUMXGXO ³([HUJHWLF DQDO\VLV RI YDULRXV W\SHV RI JHRWKHUPDO SRZHU SODQWV´[8].8..6.49)     2.. (2..40).41)...48)    TH     TL   2. Ayu Setya Ismawati. (2..38).43)...42)......... (2.... 2012  ...2.....55) sehingga menjadi persamaan cycle   h5 h7 s )  X 1 (h7 s  h6 s )]  (1 X 1 )(h1  h2 s )  (h3  h4 s ) t [( (h5  h4 ) 2........ FT UI....2.. (2... (2.7.6....47) Total Eksergi Siklus Total exegi dapat diperoleh dengan menambahkan persamaan (2.. 1 p ....29 Subtitusi dari persamaan (2..

........ Regenerative Organic Rankine Cycle menggunakan IHE (Yari.. 12 Model 3.... FT UI.30 Gambar 2.....................1 Evaluasi Performansi Secara umum... menjadi Universitas Indonesia Analisis eksergi.50) mgeo (hgeo h0 ) Dimana denominator adalah gambaran dari energi yang masuk ke pembangkit...6........... 2009) 2....3.. Menggunakan aliran.. hukum pertama efisiensi dari pembangkit panasbumi dapat dituliskan  I ........... Ayu Setya Ismawati.. diekspresikan sebagai entalpi dari fluida panasbumi sehubungan dengan keadaan lingkungan dikalikan dengan massa kecepatan aliran air panas bumi..... 2012 ........ 2 Analisis energi dan Eksergi setiap sub-komponen (Yari..1 Wnet .. 2009) Tabel 2......... (2.

........2  II .. (2.....................E  ED ....... i .......54) Wnet .................... hukum-kedua effisiensi pembangkit listrik tenaga panas bumi dapat didefinisikan sebagai II .... Y D..C  ED .. 2..........  (2..i Ein .........P  ED.........................1 Wnet m10 (h10 h0 ) ........ (2...1  Wnet  Ein Untuk Wnet  m10 [(h10  h0 )  T0s( binary-cycle. Ayu Setya Ismawati................T  ED ........ 2012 ......55) m5 [(h6  h5 )  T0s( 6 s5 )] Tingkat destruction rate di eksergi siklus ditentukan dari ED  ED....CA Untuk perbandingan yang lebih baik.........56) Dimana E in adalah eksergi dari fluida panasbumi..................................53) hukum-kedua dapat didefinisikan berdasarkan penurunan eksergi dari fluida panasbumi atau kenaikan eksergi dari fluida kerja dalam evaporator : II ............IHE  ED ................................... (2.3  Wnet m10 [(h10  h11 )  T0s( 10 s11 )] .... Sehingga menjadi.............. (2......i  ED.....31  I ... 10  s0 )] efisiensi .i EFuel  ED............................ FT UI. yang merupakan destruction rate dalam komponen dibandingkan dengan tingkat eksergi bahan bakar yang diberikan kepada sistem secara keseluruhan................................. digunakan eksergi yang rasio destruction rate...........r ED .............2 W  net  m10 (h10  h11 ) Wnet  ..... Universitas Indonesia Analisis eksergi...............51) Efisiensi pertama hukum dapat dinyatakan berdasarkan perpidahan panas ke ORC I ......52)   m5h( 6  h5 ) Menggunakan eksergi dari fluida panasbumi sebagai masukan eksergi ke pembangkit....... YD........................... (2.............OFOH  ED .7 � Temperatur Pinch [14] Pinch technology adalah suatu metodologi yang didasarkan pada prinsip-prinsip termodinamika untuk mengurangi pemakaian energi pada overall suatu proses.

Gambar 2. Salah satu yang perlu diketahui untuk merencanakan sebuah penggunaan energi secara maksimal adalah kurva komposit. Hasil analisa dengan teknologi pinch.13. yaitu aliran dingin.. 13 Kurva Komposit (B. Kedua aliran proses tersebut adalah dari sistem secara keseluruhan. dapatlah dibuat sebuah kurva komposit seperti digambarkan pada Gambar 2. 1985) Universitas Indonesia Analisis eksergi.. yaitu sebuah kurva yang menggambarkan suatu aliran proses yang membutuhkan pendinginan atau dengan satu istilah aliran panas. Dalam suatu proses perubahan energi. Linnhoff. dan aliran proses yang membutuhkan pemanas.32 Teknologi pinch digunakan untuk merancang dan mengembangkan jaringan alat penukar panas. dengan mengintegrasikan aliran panas (sebagai sumber panas) dengan aliran dingin (sebagai penyerap panas).. Tujuan yang ingin dicapai adalah pemanfaatan panas yang ada di dalam aliran proses semaksimal mungkin atau penggunaan energi seminimal mungkin. mulai diaplikasikan didalam industri pada tahun 1980-an. FT UI. 2012 . Tahap awal pada analisis pinch adalah diketahuinya neraca massa dan neraca panas pada suatu peralatan/proses. Ayu Setya Ismawati. sehingga dapat tentukan peluang-peluang utama (target) untuk penghematan energi dan selanjutnya dibuat suatu desain dari Heat Exchanger Network (HEN).

Ayu Setya Ismawati.8 Kriteria Dalam Pemilihan Fluida Kerja[9] Fluida kerja adalah fluida yang memiliki energi untuk melakukan kerja pada peralatan mekanik. Fluida kerja yang baik memiliki temperatur kritis yang lebih rendah dari temperatur kritis brine.. Karena sifat alami dari sebuah kurva. sedangkan beda temperatur minimum antara aliran panas dan aliran dingin dinamakan T Pinch. Hal tersebut bisa disebabkan oleh fluida brine mengandung senyawa-senyawa (baik berupa padatan. karena akan memberikan driving force perpindahan panas yang baik.. namun begitu ada beberapa kriteria utama yang harus dipenuhi diantaranya: a. 2. FT UI. Pada PLTP siklus biner. 2012 . cairan. Temperatur dimana terjadinya Pinch ini disebut sebagai temperatur pinch. Universitas Indonesia Analisis eksergi. Alasan penggunaan fluida kerja pada PLTP siklus biner dikarenakan fluida brine tidak bisa digunakan langsung untuk menggerakkan turbin. Dalam aplikasi PLTP siklus biner.. tidak ada fluida kerja ideal yang dapat memenuhi seluruh kriteria.33 Pada dasarnya aliran panas dan aliran dingin dalam sebuah proses dapat diwakili oleh sebuah grafik Temperatur-Entalpi (T-H grafik). dimana temperatur input dan output serta flowrate diketahui. Properti termodinamik yang cocok ‡ Temperatur kritis Temperatur kritis adalah temperatur dimana fase cair dan fase gas suatu senyawa tidak dapat dibedakan lagi. gas) yang dapat merusak turbin ataupun karena kondisi brine (tekanan dan temperatur sumur) yang tidak cukup tinggi untuk memutar turbin konvensional/uap. fluida kerja digunakan untuk menggerakkan turbin. Pada daerah yang mempunyai jarak terdekat dari kurva disebut sebagai Pinch. maka kedua proses aliran tersebut akan saling mendekat sampai sedekat mungkin pada satu titik.

vap ...... parameter ini didefinisikan oleh Kihara dan Fukunaga (1975) dalam bentuk persamaan berikut: I  1 Tcond / C p (dT / ds) sat ... Mudah didapatkan g....... fluida kerja yang terkondensasi juga dapat menimbulkan kerusakan serius pada turbin..... sebagian fluida tersebut sudah mulai terkondensasi. b..... Tidak mudah terbakar f.. Sifat termodinamika lain yang diinginkan dari fluida adalah besarnya panas laten dan panas spesifik fluida yang rendah-atau mendekati vertikal dari garis saturated liquid-sehingga panas yang paling besar diperoleh sepanjang perunahan dari fasa tanpa membutuhkan kerumitan untuk memanaskan umpan secara regeneratif agar Universitas Indonesia Analisis eksergi...... Ayu Setya Ismawati.... Harga terjangkau Berdasarkan kriteria-kriteria di atas.... maka beberapa senyawa yang memiliki potensi sebagai fluida kerja yang ideal ditunjukkan pada Lampiran 1. asalkan tidak lebih rendah dari tekanan atmosfer.34 ‡ THNaQaQ NRQGHQVaVL Tekanan kondensasi adalah tekanan dimana sebuah fluida mulai terkondensasi. kondisi fluid a kerja keluar turbin masih dalam kondisi superheat. Tidak beracun e.... Semakin rendah tekanan kondensasi suatu fluida kerja maka akan semakin murah biaya peralatan (HE and piping) dan operasionalnya (pumping cost). Namun jika faktor I > 1............ (2......... karena dapat mengakibatkan udara masuk ke dalam sistem...57) Bila nilai faktor I < 1.. Tidak korosif d. 2012 ............ ‡ FaNWRU I Faktor I adalah suatu parameter yang menjelaskan kondisi fasa fluida ketika meninggalkan turbin...... Tidak mengotori (non fouling) c.. FT UI........ Selain dapat menurunkan efisiensi turbin...

sedikit kelembaban yang dihasilkan selama ekspansi.3]. Dalam penelitian tersebut diperbandingkan fluida-fluida ideal yang dapat digunakan pada PLTP serta efisiensi yang dihasilkan dan evaluasi dari sifat termodinamikanya. 3 Properties Fluida Kerja R123 (Mago.. Ayu Setya Ismawati. 2007) R123 merupakan fluida kerja yang memiliki performa baik pada temperatur rendah hingga menengah. FT UI. dan disisi lain. 2012 . tidak seharusnya mengkondensasikan uap superheated. ini cocok digunakan pada temperatur uap menengah dalam jarak 0.3 dibawah[4] Tabel 2. Universitas Indonesia Analisis eksergi. Disamping itu keadaan dimana mendekati vertikal dari garis saturated liquid diinginkan. tidak beracun.. Untuk fluida kerja yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan Fluida Refrijeran R123 yang memiliki properties seperti pada tabel 2.Q 1RQ-6WHDG\ )ORZV IRU :DVWH (QHUJ\ 5HFRYHU\ 6\VWHPV´ GDQ ³8QFRQYHQWLRQDO ZRUNLQJ IXLGV LQ Rrganic Rankine-cycles for waste energy recovery systems[2..35 mencapai efisiensi siklus yang tinggi. dan ramah lingkungan seperti yang ditunjukkan pada hasil penelitian Mazza dan Mazza pada jurnal mereka berjudul ³:RUNLQJ )OXLGV . Pada akhirnya.Berbagai penelitian lanjutan guna mendapatkan optimasi dari penggunaan ORC dan pemanfaatan energi lainnya dalam siklus pembangkit.1-2.5 Mpa dalam unit penukar-panas.

36 Universitas Indonesia Analisis eksergi. yang dimana akan digambarkan sebagai. 2012 . kita dapat membandingkan efisiensi kedua model berdasarkan hukum-pertama dan kedua termodinamika. Ayu Setya Ismawati. Hasil yang diharapkan dari penyelesaian persamaan analisis eksergi masingmasing model adalah untuk menjawab tujuan penelitian tugas akhir ini.1. FT UI. Sehingga didapatkan model dengan efisiensi eksergi terbaik yang untuk selanjutnya dapat diaplikasikan untuk mengetahui efisiensi eksergi PLTP aktual. Seluruh rangkaian metodologi ini digambarkan dalam diagram alir penelitian pada Gambar 3. Setelah semua data dan asumsi telah dibuat validasi modelnya maka akan dilakukan simulasi optimasi dengan menggunakan software Engineering Equation System (EES).. besarnya losses setiap komponen.. dimana software ini dapat mengevaluasi properties dari termodinamika dan menyelesaikan persamaan dari persamaan non-linear. Kemudian pengumpulan data-data dan parameter yang akan dipergunakan dalam simulasi serta membuat asumsi-asumsi yang diperlukan. hasil perhitungan heat and mass balance dan Eksergi rate. gambaran tentang dibandingkan dengan panas yang berhasil dikembalikan (T temperatur versus Heat Recovered). performansi tiap komponen. Dari hasil diatas.BAB 3 METODE PENELITIAN Secara umum metode penelitian yang dilakukan dalam penyusunan tugas akhir ini adalah melakukan rancangan efisiensi eksergi dari tiap-tiap model yang telah dibuat dengan menerapkan persamaan-persamaan analisis eksergi..

FT UI.1 Asumsi dan Data yang Digunakan Perbandingan siklus yang akan dianalia ini menggunakan R123 sebagai fluida kerjanya. Sulawesi Utara yang didapatkan dari data BPPT dan sumber sekunder [11].. PLTP ini menggunakan brine hasil pemisahan separator sebagai sumber panasnya. 2012 . Ayu Setya Ismawati.37 Gambar 3.. Data dan asumsi yang digunakan diperoleh dari data pada Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi di Lahendong. 1 Diagram alir penelitian 3. Dalam proses simulasi. Berikut ini adalah asumsi dan parameter yang digunakan dalam proses simulasi : Universitas Indonesia Analisis eksergi.. diperlukan asumsi dan parameter untuk menyederhanakan dan menyelesaikan permasalahn.

Pembangkit listrik perlu dihentikan operasinya apabila melakukan proses perbaikan pada turbin. 4) Keadaan masuk pompa adalah cair jenuh (fraksi uap = 0). FT UI. isentropik Pompa (%) 75 . 2) Keadaan masuk evaporator adalah cair jenuh (fraksi uap = 0). Evaporator berfungsi untuk mengubah fasa dari cair jenuh menjadi uap jenuh. isentropik Turbin (%) 75 1) Keadaan masuk turbin adalah uap jenuh (fraksi uap = 1).89 o T0( C) 25 Tbrine in (oC) 170 Tbrine out (oC) 140 Laju alir brine (ton/h) 100 TCooling water in (oC) 25 TCooling water out (oC) 35 PExt (bar) 5. sehingga pasokan listrik menjadi terganggu..38 Parameter Nilai P0(bara) 0.945 untuk RORC tanpa IHE . Universitas Indonesia Analisis eksergi. Ayu Setya Ismawati. yaitu kalor yang diperlukan untuk mengubah fasa fluida.812 untuk RORC dengan IHE 4. Pompa akan mengalami kerusakan apabila kondisi fluida masuk masih mengandung udara / uap. sehingga performa dari pompa akan menurun dan pada akhirnya pompa tersebut menjadi tidak berfungsi. 3) Temperatur keluar evaporator disyaratkan berada dibawah temperatur kritis dari fluida kerja. yang nanti nilainya dapat diubah sesuai dengan temperatur pinch point evaporator yang disyaratkan... Apabila keadaan masuk turbin tidak uap jenuh (masih mengandung air) akan menyebabkan kerusakan pada sudu turbin karena mengalami erosi. Erosi tersebut akan mengganggu performa turbin yang akan mengakibatkan rontoknya sudu turbin. Kalor yang terjadi adalah kalor laten. Uap tersebut dapat pecah dan merusak sudu pompa. 2012 .

89 bar absolut (bara). sehingga nilainya dapat diabaikan. 9) Temperatur dan tekanan dead state adalah 25 Co dan 0. Nilai efisiensi isentropik menunjukkan seberapa dekat kondisi yang dihasilkan terhadap kondisi idealnya. Data temperatur dan tekanan diperoleh dari rata-rata nilai harian yang terjadi di pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) di daerah Lahendong.945 bar dan RORC dengan IHE adalah 5. Kerja dari pompa tersebut bervariasi dan bergantung pada kondisi geologi dan tidak dapat dengan tepat diprediksi hingga sumur panasbumi dieksplorasi. FT UI. o 10) Pinch Temperature di kondensor dan evaporator adalah sebesar 6 C. Sulawesi Utara.. Universitas Indonesia Analisis eksergi. Hal ini dikarenakan pengaruhnya terhadap perubahan efisiensi kecil.. 8) Tekanan absolut ekstraksi turbin merupakan tekanan yang disyaratkan untuk memasuki OFOH dengan keadaan uap jenuh (X=1). Ayu Setya Ismawati.812 bar. 2012 . Nilai 6 o C didapatkan dari Rule of Thumb perancangan alat penukar panas dan telah umum digunakan dalam alat penukar panas PLTP.39 5) Tekanan keluar kondensor merupakan referensi dari tekanan kondensasi dari fluida kerja. Pada proses simulasi ini digunakan efisiensi isentropik 75 persen yang masih berada dalam rentang yang diijinkan. Pembatasan pinch temperature ini digunakan untuk meminimalisir energi yang dikonsumsi oleh alat penukar panas. yang nanti nilainya dapat berubah sesuai dengan temperatur pinch point kondensor yang disyaratkan. 11) Perubahan energi kinetik dan potensial serta penurunan tekanan pada alat penukar panas diabaikan.. Nilai efisiensi tersebut sudah umum digunakan dalam proses perancangan turbin. 7) Efisiensi isentropik pompa adalah 75 persen. Untuk RORC adalah 4. Nilai efisiensi isentropik pompa yang akan digunakan dalam proses simulasi adalah 75 persen. sehingga asumsi ini dapat diterima 12) Kerja dari pompa produksi dan reinjeksi diabaikan. 6) Efisiensi isentropik turbin adalah 75 persen. Umumnya rentang efisiensi isentropik adalah antara 70 ± 90 persen.

. Pengotor dalam evaporator tidak diperhitungkan dalam simulasi ini..40 13) Fluida panasbumi diasumsikan sebagai air. generator memiliki efisiensi lebih dari 90% dan beberapa generator baru memiliki efisiensi 99%. Ayu Setya Ismawati. 14) Efisiensi generator adalah 100%. Secara umum. Silika dan kontaminan lainnya dalam fluida panasbumi bervariasi tergantung dari sumur produksinya. Pengabaian ini tidak menghasilkan kontribusi yang signifikan pada perhitungan. 2012 . 2 Basic ORC Universitas Indonesia Analisis eksergi. Gambar 3.. dan model 3 adalah persamaan yang telah dirujuk pada literatur[8]. karena fraksi yang diperhitungkan kecil. 3. FT UI.2 Desain Persamaan Berikut ini adalah desain persamaan yang akan diselesaikan dengan EES. Efisiensi yang renda dapat menghasilkan daya listrik yang rendah pula. Daya listrik yang dihasilkan oleh generator berkaitan dengan net output dari keseluruhan siklus dan dianggap memiliki efisiensi 100%. Model 1 dan 2 merupakan modifikasi dari persamaan yang telah dirujuk pada literatur[4].

r  mBrine[(hBrine.in ) - ED.. Ayu Setya Ismawati. in hBrine. out )  T    Persamaan Eksergi WT (h1  h2 ) (h1  h2 s )  WFT (h1 h2s )    m  QC  mWF (h2  h3 )  mCW (hCW ..out  sCW .E  T0m [ WF (s1  s4 )  mBrine (sBrine.out  h0 )  T0s(  s0 )] Brine.in  sBrine.41 Tabel 3. 2012 . 3 RORC Universitas Indonesia Analisis eksergi.out hCW . out Gambar 3.in )] ED.T T0mWF (s1 s2 )     ED.out )] ED . FT UI.P T0mWF (s4 s3 )    ED.C  T0m [ WF (s2  s3 )  mCW (sCW . 1 Rangkuman persamaan energi dan eksergi untuk ORC Komponen   Pump   Evaporator Persamaan Energi v3 ( P4  P3 )  P  h4  h3 m (h  h ) W p  WF 4 3   P   Turbine  Condensor Reinjection  QE  mWF (h1  h4 )  mBrine(hBrine..

out ) ED..in  sBrine.42 Tabel 3. 2012 . 2 Rangkuman persamaan energi dan eksergi untuk RORC Komponen Persamaan Energi P v7 ( P7  P6 ) v5 ( P5  P4 )    h7  h6 h5  h4 Persamaan Eksergi .in ) - ED.r  mBrine[(hBrine.out  sCW .T  T0mWF ( s1  s2 )  X (s 2  s3 ) Open feedorganic heater (OFOH) Condensor Reinjection X h6  h5 h2  h5 ED.in )] ED. h1  h2 s h2  h3s WT  mWF [(h1  h2 )  (1 X )(h2 h3 )] ED. FT UI. Ayu Setya Ismawati.out hCW ..OFOH  T0mWF [ s6  Xs2  (1 X )s 5 ] QC  mWF (h3  h4 )  mCW (hCW .out )] T Turbine (h1  h2 ) (h2  h3 )    .in hBrine.C  T0m [ WF (s3  s4 )  mCW (sCW . out Gambar 3..out  h0 )  T0s(  s0 )] Brine. Pump Wp  mWF [(1 X )(h5  h4 )  (h7 h6 ) ED.P  T0mWF (1 X )(s5  s4 )  ( s7  s6 ) Evaporator QE  mWF (h1  h7 )  mBrine (hBrine.E  T0 m [ WF (s1  s7 )  mBrine ( sBrine. 4 RORC ± IHE Universitas Indonesia Analisis eksergi.

C  T0mWF [ X (s 3  s4 )  ( s7  s6 )] Reinjection ED.43 Tabel 3..in  sBrine.P  T0mWF (1 X )(s6  s5 )  (s9  s8 ) Evaporator QE  mWF (h1  h9 )  mBrine (hBrine. out ...1) Persamaan untuk energi dan kesetimbangan massa untuk komponen lain dari siklus dan untuk sifat termodinamika dapat ditambahkan ke dalam persamaan (3... FT UI.out ) ED.. Ayu Setya Ismawati.in hBrine. 3 Rangkuman persamaan energi dan eksergi untuk RORC ± IHE Komponen Persamaan Energi Persamaan Eksergi v9 ( P9  P8 ) v6 ( P6  P5 )    ...T  T0mWF ( s1  s2 )  X (s 2  s3 ) Open feedorganic heater (OFOH) Internal heat X  exchanger h8  h7 h2  h7 ED.. h9  h8 h6  h5 P Pump Wp  mWF [(1 X )(h6  h5 )  (h9 h8 ) ED...out )] (h1  h2 ) (h2  h3 )    .r  mBrine[(hBrine.IHE  T0m [ s2 ( 2  s3 )  m8s( 9  s8 )] Condensor QC  mWF (h3  h4 )  mWF (h7 h6 ) ED. h1  h2 s h2  h3s T WT  mWF [(h1  h2 )  (1 X )(h2 h3 )] Turbine ED.OFOH  T0 mWF [s8  Ys2  (1 X )s 7 ] T3  T4 .3 Simulasi Pada penelitian yang telah dilakukan sebelumnya[11] didapatkan bahwa tekanan turbin optimum ditemukan pada RORC dan dapat ditunjukkan melalui hukumpertama efisiensi maksimum (I ) untuk ektraksi keluar tekanan turbin yg yang diberikan: Maksimalisasi I ( PEXT ) 200  PEXT  800  s0 )] Brine.... T3  T6 (IHE) QIHE  m8 h ( 8  h9 )  m2h( 3 h2 ) ED.out  h0 )  T0s( 3.. 2012 .... Universitas Indonesia Analisis eksergi... (3..E  T0m [ WF (s1  s9 )  mBrine (sBrine.. dan dilakukan dengan menetapkan batas-batas pada setiap variabel....1) untuk membentuk sistem non-linear persamaan.

.....4 Analisis Komparatif Untuk melakukan validasi pada siklus..plant 1  Wnet ExBrine............ Hasil perhitungan dari beberapa optimasi yang dijalankan dikaji ulang melalui perhitungan tangan.... atau memperbaharui metode hingga optimasi keseluruhan ditemukan.. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah performansi dan simulasi dari data yang dimodelkan memiliki trend yang sama dengan penelitian sebelumnya................ yang kemudian mengevaluasi sifat termodinamika dan memecahkan sistem persamaan non-linier....in II .. dengan memasukkan semua rancangan persamaan diatas dan persamaan umum eksergi seperti pada tinjauan pustaka..plant 2  mWF ((hevap.4) Proses simulasi dilakukan dengan menggunakan EES (Engineering Evaluation Solver) Program [10]...................in )  (T0s( ..out  hevap... Universitas Indonesia Analisis eksergi..out  sevap..2) mBrime (hbrine....................out ) Sedangkan untuk efisiensi eksergi dapat dihitung dengan persamaan : II .. 2012 ............in  ExBrine......(3. kriteria akhir..... Ayu Setya Ismawati.out II .in ) Wnet .......... (3..plant 2  Wnet ExBrine...out Wnet  hevap..... FT UI......44 Efisiensi energi dapat dihitung dengan persamaan :  I  I  Wnet mWF (hevap...... Proses optimasi diulang beberapa kali pada setiap model dengan memvariasikan tebakan awal.. hasil yang didapatkan kemudian divalidasi dengan merujuk kepada penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya.....in )) Penetuan daya netto dapat dihitung dengan persamaan : Wnet  Wturbin Wpompa ..........8]......... 3.....in  hbrine.................. [4..............3) evap .... (3.. dan perubahan perubahan yang terjadi dapat dianalisis lebih lanjut..

798 2.00 Liquid 25.70 14. 2012 .30 589.143 2.23 67.42 Saturated 39.00 0.000 0.226 115.89 0. serta laju eksergi pada setiap keadaan berdasarkan perhitungan neraca massa dan kesetimbangan energi.1 memberikan hasil perhitungan termodinamika dari siklus yaitu temperatur. ORC Nomer Fluida Aliran 0 0' 0" 1 2 3 4 5 6 7 8 Brine R123 Air R123 R123 R123 R123 Brine Brine Air Air Fasa s T (deg.00 104.89 21.710 0.86 Saturated 170.80 398.20 0. C)P (bar abs) h (kJ/kg) m (kg/s) ex (kJ/kg) Ex (kW) (kJ/kg.739 0.504 14.90 11.20 67.00 1908.. 1 Hasil perhitungan neraca massa dan energi dan laju eksergi a.70 Superheated 74.72 32.00 0.80 146..367 0.20 10.80 466.50 243.20.71 2909.K) Dead state 25.042 1.20 25. Ayu Setya Ismawati.64 Liquid 40.70 14.1 Analisa Hasil Simulasi Perhitungan simulasi didasarkan sebagai sebuah control volume yang berada dalam kondisi tetap (steady state). dan laju alir.743 1.23 55.718 816.00 Dead state 25.20 104.790 0.141 1.400 75.89 104. Dalam Tabel 4.69 21.370 1.00 Saturated 151.28 0.90 241.70 14.699 0.69 1.50 187. Tabel 4.BAB 4 ANALISA HASIL SIMULASI 4.00 48 45 Universitas Indonesia Analisis eksergi.00 Saturated 140.89 0.00 Liquid 35.68 10.70 25.370 1.68 1.89 0. tekanan.00 Dead state 25.40 719.712 1.500 12.. FT UI.30 432.

00 Liquid 35.699 0.275 2.48 25.00 1908.730 1.711 1.08 Saturated 80.370 1.80 448.20 10.00 11.70 1.00 Liquid 25.00 124.K) Dead state 25.10 286.10 16.27 4.38 Saturated 81.89 0.20 25.000 0.95 1.81 104..671 1.89 0. RORC Nomer Fluida Aliran 0 0' 0" 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Brine R123 Water R123 R123 R123 R123 R123 R123 R123 Brine Brine Water Water Fasa s T (deg.70 4.90 428.30 3.280 12.870 0.855 7.89 0.042 1.51 Superheated 67.091 115.505 18.00 104.370 1. RORC ± IHE Nomer Fluida Aliran 0 0' 0" 1 2 3 4 5 6 Brine R123 Air R123 R123 R123 R123 R123 R123 Fasa s T (deg.48 18.95 20.10 54.48 3.89 Liquid 41. FT UI.142 1.20 16.80 206.872 1046.80 .97 14.46 b..470 12.727 1.76 1.89 19.89 0.718 1005.89 Liquid 40.20 0.739 0.840 10.89 104.20 104.00 Dead state 25.80 243.699 0.81 1.190 34.00 0.044 5..03 Universitas Indonesia Analisis eksergi.00 Saturated 147.00 Dead state 25.728 1.76 1.20 0.90 Superheated 69.89 20.711 1.95 4.70 175.370 1.89 Saturated 40.88 Saturated 39.02146. Ayu Setya Ismawati.817 1.390 31.200 0.710 0.K) Dead state 25.20 131.80 464.00 Dead state 25.15 108. C)P (bar abs) h (kJ/kg) m (kg/s) ex (kJ/kg) Ex (kW) (kJ/kg.51 14.10 16.80 464.99 54.60 719.00 104.00 59 c.370 1.76 5.20 82.400 75.51 18.89 0.60 427. C)P (bar abs) h (kJ/kg) m (kg/s) ex (kJ/kg) Ex (kW) (kJ/kg.00 Saturated 140.59 Saturated 170.10 2909.00 14.90 409.146 19.78 15.00 287.725 1.99 82.90 Saturated 98.142 1.80 242.94 5.90 446.60 0.51 14.80 241.367 0.00 Saturated 102.30 589.50 242.145 1.14 0.80 398.00 Dead state 25.00 0.274 1. 2012 .27 10.90 177.80 398.42 Superheated 43.00 Saturated 147.00 109.

Selanjutnya RORC akan bekerja dalam siklus Rankin seperti pada ORC. Ayu Setya Ismawati. sehingga implikasinya dapat menaikkan efisiensi termal dan memanfaatkan energi termal dengan maksimal.27 bar.89 C pada tekanan tetap 1.89 oC dalam fasa cair jenuh... Fluida kerja keluaran dari IHE yang masuk ke OFOH memiliki temperatur yanng lebih tinggi o yaitu dari 41. keluaran turbin dengan fasa superheat temperatur 69.8 bar. Cair jenuh keluaran dari OFOH akan dipompakan kedalam pompa bertekanan tinggi utnuk menaikkan tekanannya.9 Co dan tekanan 20. Keluaran dari IHE masih memiliki fasa superheat yang nantinya akan masuk kedalam kondensor untuk didinginkan dengan temperatur keluaran 40. Keluaran turbin dipisahkan dengan fraksi aliran yang selanjutnya uap jenuhnya akan diekstraksi oleh OFOH dan fasa superheatnya akan masuk kedalam kondensor.42 o o C akan masuk kedalam IHE dan menurunkan temperaturnya hingga 43.. Selanjutnya siklus akan berjalan seperti contoh sebelumnya Dapat terlihat bahwa penambahan komponen seperti OFOH dan IHE. Dalam RORC uap jenuh diekspansikan dengan tekanan tinggi ke dalam turbin pada temperatur 147. Universitas Indonesia Analisis eksergi.14 oC menjadi 59. FT UI. Keluaran uap jenuh dari kondensor akan dipompakan bertekanan rendah kedalam OFOH dengan menaikkan tekanan fluida sehingga hampir mencapai kondisi isotermalnya. 2012 . pada proses ini terjadi penurunan tekanan. Tekanan fluida kerja kemudian akan dinaikkan oleh pompa bertekanan rendah kembali kedalam IHE sehingga fluidanya berubah menjadi cair dengan kondisi hampir isotermal. Pada RORC dengan IHE.47 Perbedaan pada pengembangan dari siklus biner terletak pada penambahan komponen OFOH dan IHE.20 C dalam fasa cair dengan tekanan tetap. akan mengurangi beban kerja komponen-komponen dalam siklus biner sederhana (ORC).

Ayu Setya Ismawati.48 a... 2012 . FT UI.. b. Universitas Indonesia Analisis eksergi.

b).. RORC ± IHE a. 1 Diagram P-h a). 2012 .. dan c).49 c. RORC. Gambar 4. Universitas Indonesia Analisis eksergi. ORC. FT UI.. Ayu Setya Ismawati.

ORC. RORC. Dari diagram T-s. b). Dengan Universitas Indonesia Analisis eksergi. garis uap jenuh dari R123 memliki slope yang positif dan memastikan bahwa keluaran dari turbin memiliki fasa uap superheat.. FT UI. c. dan c).2. Gambar 4... 2012 .1 dan 4. 2 Diagram T-s a). RORC ± IHE Siklus fluida kerja R123 pada T-s dan P-h diagram ditunjukkan oleh Gambar 4. Ayu Setya Ismawati.50 b.

23 4.32 7. Ini merupakan salah satu alasan mengapa R123 dari golongan refrijeran sesuai sebagai fluida kerja pada siklus biner dan pengembangannya.14 4.10 1274 Komponen 3.51 demikian.49 29.1 Pompa Fluda Kerja 7. RORC ± IHE Degradasi Efisiensi Rasio Efisiensi Energi/ Perpindahan Eksergi (kW) Eksergi (%)Degradasiisentropik (%)Panas (kW) Evaporator 115.20 75 610.41 Komponen 2.2 Analisis Efisiensi Energi dan Eksergi 4.46 3277 Kondensor 128.1 Analisis Performansi Setiap Komponen Hasil simulasi eksergi keseluruhan dan setiap komponen dari ketiga siklus yang dibandingkan terangkum dalam Tabel 4.48 75 628. Tabel 4.25 75 32.9 88.2.88 0.9 35.41 3.84 0.4 87.4 IHE 7.37 4.41 2813 Turbine 136. 2012 . 4. tidak ada uap air yang terdapat dalam pengoperasian turbin.13 0.9 78.366 80..35 3. RORC Degradasi Efisiensi Rasio Efisiensi Energi/ Perpindahan Eksergi (kW) Eksergi (%)Degradasiisentropik (%)Panas (kW) Evaporator 126.54 995.25 311.57 0.99 3277 Kondensor 106.249 83.21 OFOH 31.4 27.45 3.8 78.22 75 27.7 Komponen Besarnya energi atau kerja yang hilang dari tiap komponen untuk tiap siklus memiliki kecenderungan yang sama dimana evaporator memiliki nilai yang paling Universitas Indonesia Analisis eksergi.2..63 0.02 3.68 2700 Turbine 100.3 34.24 75 31.86 18 1.13 84.7 Pompa Fluda Kerja 6.9 78.28 OFOH 15.072 84. ORC Degradasi Efisiensi Rasio Efisiensi Energi/ Perpindahan Eksergi (kW) Eksergi (%)Degradasiisentropik (%) Panas (kW) Evaporator 216.42 76.35 3277 Kondensor 106.2 Perfomansi Setiap Komponen 1.65 2683 Turbine 93.3 Pompa Fluda Kerja 7.70 75 491. FT UI.64 3.. Ayu Setya Ismawati.

2012 . karena proses yang terjadi memerlukan kenaikan temperatur dari fluida kerja secara signifikan dengan tekanan yang tinggi. 4. Sama halnya dengan komponen OFOH yang memiliki efisiensi eksergi cukup rendah. Hasil analisa dari efisiensi eksergi pada keseluruhan siklus dapat dianggap tinggi dan mengindikasikan bahwa performansi dari alat penukar panas dari siklus memuaskan. lingkungan.. sehingga panas buangan dapat dimanfaatkan secara maksimal atau mengatur � temperatur pinch.52 besar dibandingkan komponen lainnya. Lebih kanjut kedua komponen itu dapat dilakukan pengkajian untuk meningkatkan efisiensi dari eksergi masing-masing. Temperatur fluida pendingin mengacu ke temperatur Kehilangan panas pada kondensor juga cenderung lebih rendah. alat penukar panas merupakan komponen yang memegang peranan penting. FT UI.2. Kondensor untuk keseluruhan siklus memiliki efisiensi paling rendah dari semua bagian komponen. Universitas Indonesia Analisis eksergi. dikarenakan pertukaran panas yang belum maksimal.. Ayu Setya Ismawati. Pada pembangkit siklus biner. Rasio degradasi pada tabel performansi kemudian di plot kedalam grafik pada Gambar 4..3 untuk menunjukkan perbandingan losses masing-masing komponen. Efisiensi eksergi yang rendah disebabkan oleh rendahnya perbedaan temperatur yang dipertukarkan antara fluida kerja R123 dan fluida pendingin. Untuk mengurangi energi yang hilang di evaporator dapat disiasati dengan menurunkan temperatur reinjeksi dari fluida panasbumi. Pertukaran panas di evaporator memerlukan energi yang besar. maka performansi individu dapat mempengaruhi performansi keseluruhan siklus. karena sebagian besar panas dilepaskan oleh pertukaran dengan fluida pendingin dan juga tidak terjadi perubahan tekanan pada kondensor. yang lebih lanjut akan dibahas dibagian selanjutnya.2 Degradasi Eksergi Setiap Komponen Rasio degradasi eksergi merupakan besarnya degradasi eksergi dari suatu komponen dibagi dengan besarnya eksergi yang dibawa oleh fluida panasbumi untuk masuk kedalam siklus.

68 3.22 Evaporator Condenser Turbine OFOH Pump Reinjection 65.10 0.24 Universitas Indonesia Analisis eksergi.60 a. 4.53 Evaporator Condenser Turbine WF Pump Reinjection 65.70 0.60 b.35 3. Ayu Setya Ismawati. 2012 . FT UI.. 7.46 4.41 4.20 1...

FT UI. ORC. dikarenakan temperatur reinjeksi yang cukup tinggi dan selanjutnya akan dibahas kemudian. dan pompa fluida kerja dapat dibandingkan secara langsung. Penambahan komponen penukar panas seperti OFOH dan IHE dapat mengurangi degradasi energi dengan signifikan pada masing-masing komponen untuk keseluruhan siklus. Komponen utama seperti evaporator. yang disebabkan panas yang dibuang dan dimanfaatkan lebih dari 95%. b). kondensor. 2012 . dan c). RORCIHE Dari perbandingan ketiga siklus terlihat bahwa komponen reinjeksi memiliki losses yang paling besar.25 0.54 Evaporator OFOH Condensor IHE Turbine Reinjection Pump 65. Pertimbangan efisiensi komponen itu sendiri menjadi hal yang utama. dan turbin. Dampak penambahan komponen penukar panas terlihat jelas pada penurunan rasio degradasi energi pada evaporator ORC dibandingkan dengan RORC dan RORC dengan IHE. turbin.60 c. Ayu Setya Ismawati.65 3.3 Besar Losses setiap komponen a). Universitas Indonesia Analisis eksergi. kondensor. Selain itu komponen yang memiliki degradasi eksergi yang cukup besar adalah evaporator. selain itu desain peralatan juga menjadi faktor penting.. RORC. 3..99 3.48 0. Hal ini sudah sangat baik untuk sebuah siklus biner sedangkan untuk mencapai 100% merupakan hal yang cukup sulit.54 0..25 Gambar 4.

. dimana turbin dan pompa mengalami penurunan.19 20.6 Co [8]..plant (%) 14. Meskipun demikian.19 %.plant.2.3.30 ȠI.17 %. Hal ini berarti lebih dari 81% energi yang dibuang dan belum dimanfaatkan. dan RORC dengan IHE berturut-turut adalah 14.8 17. dikarenakan laju alir massa fluida kerja meningkat saat memasuki turbin dan juga meningkatkan kerja dari pompa fluida kerja.55 sehingga dapat disimpulkan. dan daya turbin kemampuan memanfaatkan eksergi sangat penting. FT UI. panas dimanfaat secara maksimal oleh OFOH dan IHE pada siklus sehingga panas buang dapat berkurang. degradasi energi dari turbin dan pompa fluida kerja sedikit meningkat.49 59.21 RORC dengan IHE 596. Tabel 4.84 66. 2012 . Ayu Setya Ismawati. 1 (%) 15. dan 18.38 ȠII.66 19. menaikkan performansi siklus.binary (%) 59. 4.90 57. sedangkan untuk meningkatkan efisiensi. penambahan kompone tersebut juga dapat mengurangi beban komponen beban turbin dan beban evaporator. 17. Hasil ini berbeda dengan yang ditunjuka oleh penelitian Yari.3 Perbandingan Efisiensi Energi dan Eksergi Keseluruhan Daya yang dihasilkan dan perbandingan efisiensi energi dan eksergi dari siklus yang dibandingkan ditunjukkan dalam Tabel 4.. Universitas Indonesia Analisis eksergi. Efisiensi Eksergi yang dihasilkan oleh ketiga siklus masih tergolong cukup rendah.17 ȠII. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ORC masih memilih panas buang yang cukup besar dan belum dimanfaatkan secara maksimal.24 RORC 578.96 ȠII. 3 Perbandingan efisiensi energi dan eksergi Parameter ORC Performansi Daya Netto (kW) 464.66 %.plant. Pada penambahan IHE. dimana komponen tersebut memiliki kerja lebih berat untuk pertukaran panas dan menghasilkan listrik.56 67.1 18. 2 (%) 46. RORC. Yari pada jurnalnya yang juga membandingkan RORC dan RORC dengan IHE menggunakan fluida kerja yang sama dengan temperatur o fluida panas bumi yang masuk 180 C dan temperatur reinjeksi 113.21 Efisiensi energi untuk ORC.

RORC dengan IHE tidak begitu signifikan. Pada Tabel 4. Kemungkinan peningkatan efisiensi juga masih dapat dilakukan dengan memperbaiki losses pada masing-masing komponen. Penambahan komponen OFOH dan IHE juga menaikkan daya netto yang dihasilkan oleh siklus.3 Analisis Pengaruh Temperatur Inlet Turbin Sebagai bagian dari simulasi.56 Efisiensi keseluruhan siklus baik energi maupun eksergi lebih kecil bahkan dengan temperatur reinjeksi yang lebih kecil dibandingkan dengan hasil simulasi ini. dianalisis juga efek dari temperatur inlet turbin terhadap daya netto serta efisiensi energi dan eksergi yang dihasilkan oleh siklus. Temperatur lingkungan yang lebih rendah akan meningkatkan baik efisiensi energi maupun eksergi [6].. Pengaruh temperatur lingkungan juga perlu dikaji dalam peningkatan efisiensi. tetapi penurunan rasio degradasi eksegi untuk masing-masing komponen cukup besar. 2012 . Daya netto yaitu daya yang dihasilkan oleh turbin dikurangi daya yang dihasilkan oleh pompa.o Nantinya perubahan temperatur ini akan sangat terlihat pada komponen kondensor. 4. FT UI. Sedangkan pada RORC dengan IHE hanya menaikkan daya ± 20 kW dari RORC dengan penambahan IHE. Temperatur lingkungannya rata-rata sebesar 5 C. sehingga masih patut dipertimbangkan dalam desain pembangkit. Dalam menghasilkan daya. Temperatur lingkungan yang lebih rendah hanya terdapat di daerah-daerah daratan tinggi atau daerah dingin seperti Islandia yang juga memiliki potensi panasbumi yang besar dengan kualitas yang baik.. Universitas Indonesia Analisis eksergi. Kenaikan daya netto turbin juga diiringi dengan kenaikan efisiensi energi dan efisiensi eksergi dari siklus.3 dapat dilihat bahwa daya netto naik dengan signifikan dari ORC ke RORC.. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa pada simulasi ini memiliki efisiensi yang lebih baik untuk gambaran siklus biner. Ayu Setya Ismawati.o sedangkan untuk indonesia temperatur rata-rata daerah potensi panas bumi adalah 23-25 C.

2012 ..57 Gambar 4. FT UI..4 Pengaruh temperatur inlet turbin terhadap daya netto Gambar 4. 5 Pengaruh temperatur inlet turbin terhadap efisiensi energi Universitas Indonesia Analisis eksergi. Ayu Setya Ismawati..

Karena efisiensi berkaitan erat dengan perubahan daya netto keluaran dari siklus. Kenaikan daya netto dan efisiensi tubin memiliki batasan.68 C. dimana sekitar 80% nilai eksergi di turbin diubah secara maksimal menjadi energi mekanik untuk memutar turbin dan menghasilkan energi listrik. Meskipun temperatur turbin dapat dinaikkan hingga titik optimumnya. dimana pada temperatur tertentu akan mengalami penurunan. dimana diikuti pula oleh kenaikan efisiensi energinya. Temperatur inlet turbin juga sekaligus merupakan temperatur keluaran kondensor. Ayu Setya Ismawati. Diatas temperatur kritis fluida kerja tidak dapat terbentuk dan tekanannya tinggi.58 Gambar 4. hal ini menjadi parameter seberapa besar temperatur inlet turbin dapat digunakan untuk memutar turbin. FT UI..o maka penurunan terjadi hingga tercapai temperatur kritis kemudian berhenti. tetapi kendala � temperatur pinch pada evaporator sangat Universitas Indonesia Analisis eksergi.. 6 Pengaruh temperatur inlet turbin terhadap efisiensi eksergi Dari hasil simulasi menunjukkan bahwa dengan kenaikan temperatur inlet turbin maka daya netto dari siklus juga akan meningkat. 2012 . Disebabkan oleh tingginya efisiensi eksergi pada turbin.. Demikian halnya dengan peningkatan efisiensi eksergi siklus secara keseluruhan. Mendekati temperatur kritis dari fluida kerja R123 yaitu 183.

. pengaruh tekanan kondensasi juga dilakukan terhadap daya netto dan efisiensi dari siklus. Gambar 4.59 dipertimbangkan.. FT UI. 2012 .4 Analisis Pengaruh Tekanan Kondensor Selain analisis dari pengaruh temperatur inlet turbin.7 Pengaruh tekanan kondensor terhadap daya netto Gambar 4.. karena nantinya berhubungan dengan desain evaporator dan keekonomiannya. 4. Ayu Setya Ismawati. Lebih lanjut akan dibahas dibagian selanjutnya. 8 Pengaruh tekanan kondensor terhadap efisiensi energi Universitas Indonesia Analisis eksergi.

Gambar 4. pertimbangan utama adalah temperatur pinch � yang menjadi batasan utama dalam penentuan temperatur kondensasi optimum dari kondensor. dengan penurunan grafik yang cukup tinggi.60 Gambar 4.7..8.66 Mpa. fluida kerja berubah fasa menjadi fluida termampatkan (compressible fluid) yang mengharuskan untuk menggunakan pompa vakum dalam alirannya dan akan memerlukan kompresor sebagai peralatan tambahan. 9 Pengaruh tekanan kondensor terhadap efisiensi eksergi Dari Gambar 4. Universitas Indonesia Analisis eksergi. seperti alasan yang telah dikemukakan sebelumnya. fluida kerja masih dapat dialirkan.9 dapat dilihat bahwa dengan kenaikan temperatur kondensasi maka baik daya netto maupun kedua efisiensi menurun untuk keseluruhan siklus. Tekanan kondensasi dibatasi oleh tekanan kritisnya. Tekanan kritis fluida kerja R124 adalah 3.. Tekanan kondensasi dari turbin dibatasi oleh beberapa parameter yaitu tekanan atmosferik. Ayu Setya Ismawati. Dibawah temperatur atmosferik. tekanan kritis fluida kerja. dan Gambar 4.. hal ini juga tidak mempengaruhi efisiensi siklus. dan � temperatur pinch pada kondensor. Keekonomian dan kegunaannya untuk siklus tidak dipertimbangkan. karena dengan menggunakan pompa biasa. karena semakin besar tekanannya penurunan daya netto dan efisiensi akan semakin jelas. FT UI. Selain pertimbangan diatas temperatur atmosferik. 2012 .

Pada RORC dan RORC dengan IHE berturut-turut adalah 2 bar dan 1..61 Pendinginan awal fluida kerja dengan menggunakan IHE sebelum masuk kedalam kondensor adalah salah satu cara untuk menurunkan tekanan kondensasi dari fluida kerja. Hal ini dikarenakan terjadi pemisahan fraksi laju massa fluida kerja pada turbin. 2012 . Tetapi ini tidak mempengaruhi penurunan daya turbin dan efisiensi. karena OFOH berfungsi untuk memaksimalkan panasa yang terbuang dari turbin. Ayu Setya Ismawati.. sehingga perubahan ini mempengaruhi perubahan temperatur yang masuk kedalam kondensor.756 bar.5 Analisis Pengaruh � Temperatur Pinch Terhadap Efisiensi Sesuai dengan Rule of thumb perancangan alat penukar panas maka nilai 6 oC merupakan yang disarankan untuk nilai � temperatur pinch paada evaporator dan kondensor .. yaitu 1. sehingga menurunkan konsumsi energi dan meningkat baik daya netto siklus maupun efisiensinya. Pada RORC penambahan OFOH menaikkan temperatur kondensasi jika dibandingkan ORC. Sebagai pembanding telah dilakukan simulasi hubungan antara nilai � temperatur pinch dengan efisiensi dari siklus baik energi maupun eksergi. FT UI. IHE akan menyerap panas darifluida kerja dan mengurangi temperaturnya. Universitas Indonesia Analisis eksergi.686 bar menjadi 2 bar. 4. sehingga kenaikan yang terjadi cukup signifikan.

RORC-IHE Temperatur saturasi pada evaporator (temperatur keluaran evaporator) merupakan hasil perhitungan dari nilai � temperatur pinch evaporator.686 bar. 1.10 Proses pada alat penukar panas antara fluida panasbumi dan fluida kerja dalam evaporator a).10.756 bar Universitas Indonesia Analisis eksergi.3. Seperti halnya pada evaporator untuk mendapatkan temperatur kondensasi yang sesuai maka tekanan kondensasi harus disesuiakan dengan nilai � temperatur pinch yang disyaratkan. ORC.1. dan c). dan 147 oC berturut untuk ORC. dan RORC dengan IHE pada Tabel 4. FT UI. 2012 .7 bar. RORC.7 C.. Nilai tekanan kondensasi memiliki meningkat seiring dengan bertambahnya komponen dalam siklus.o 147. 1..9 o C.2. seperti dijelaskan pada Gambar 4.. dan 1. Ayu Setya Ismawati.62 Gambar 4. Semakin baik suatu siklus atau siklus yang memiliki efisiensi lebih besar. dan 4. b). 4. RORC. akan menghasilkan temperatur saturasi yang lebih rendah 151.

63 berturut-turut untuk ORC. Kenaikan efisiensi dengan menurunnya nilai � temperatur pinch ini merupakan dampak dari perbaikan siklus oleh penambahan komponen alat penukar panas seperti OFOH dan IHE untuk memaksimalkan panas yang terbuang. Tetapi nilai � � temperatur pinch terlalu kecil akan berakibat penukar panas memerluaskan luas penampang perpindahan yang sangat besar. dan 4.1.3.. RORC. Penentuan � temperatur pinch nantinya akan mempengaruhi performansi dari alat penukar panas baik daya hingga efisiensi dari siklus. Gambar 4.. FT UI. 2012 . sehingga bukan saja biaya manufaktur dan perawatan yang lebih mahal tetapi juga memerlukan konsumsi energi yang lebih tinggi. dan RORC dengan IHE pada Tabel 4. 4.2. Sehingga temperatur saturasi yang digunakan untuk memanaskan fluida kerja oleh fluida panasbumi lebih rendah dan tekanan kondensasi yang harus disesuaikan untuk menurunkan temperatur oleh fluida pendingin. Ayu Setya Ismawati.. Kondisi yang paling optimum untuk menghasilkan efisiensi yang lebih besar adalah pada nilai temperatur pinch yang kecil. 11 Pengaruh � temperatur pinch terhadap efisiensi energi Universitas Indonesia Analisis eksergi.

sehingga daya turbin yang dihasilkan dengan kenaikan nilai � temperatur pinch evaporator akan semakin menurun.. 2012 . Penurunan efisiensi berkaitan erat dengan daya netto turbin yang dihasilkan. baik halokarbon maupun refrijeran sehingga didapatkan nilai � temperatur pinch yang optimum untuk siklus yang akan dianalisis dan efektif naik dari segi performansi maupun biaya. 12 Pengaruh � temperatur pinch terhadap efisiensi eksergi Dari Gambar 4.12 dapat dilihat bahwa semakin besar nilai � temperatur pinch yang dgunakan maka efisiensi baik energi maupun eksergi dari ketiga siklus yanng dibandingkan akan semakin menurun. FT UI. Ayu Setya Ismawati...64 Gambar 4. Nilai � temperatur pinch perlu dikaji lebih lanjut untuk berbagai tipe fluida kerja yang berbeda. Universitas Indonesia Analisis eksergi. sesuai dengan hasil analisis pengaruh temperatur inlet turbin diatas.11 dan Gambar 4.

Hasil analisis siklus menunjukkan bahwa 65. FT UI. Untuk meningkatkan efisiensi eksergi dari siklus pengurangan temperatur reinjeksi dapat dimanfaatkan dengan lebih maksimal. Ayu Setya Ismawati. RORC..13 Pengaruh temperatur reinjeksi terhadap efisiensi a). sehingga hanya sekitar 34% panas dari fluida panas bumi yang dimanfaatkan dalam siklus.. RORC-IHE Dari hasil simulasi menunjukkan semakin kecil temperatur reinjeksi dari fluida panasbumi maka efiensi eksergi dari siklus akan meningkat.65 4.. tidak terdapat perubahan temperatur evaporasi Universitas Indonesia Analisis eksergi. Gambar 4. ORC.6% panas yang terbuang. tetapi hal ini tidak merubah efisiensi energi dari siklus seperti terlihat pada Gambar 4. dan c). Hal ini dikarenakan pada efisiensi energi.12. b).6 Analisis Pengaruh Temperatur Reinjeksi Fluida Panasbumi Kehilangan pemanfaatan panas secara signifikan dalam penggunaan fluida panasbumi terdapat pada unit reinjeksi. 2012 .

48 125 126 127.3 135.17 14.95 21.73 15. Ayu Setya Ismawati.7 151.97 19.48 14.4 141.7 151.98 14.2 25.68 21.7 151.47 18.6 145.01 12.17 14.52 18.17 14.2 25.2 25.17 14.2 25.2 25.98 10.4 138.2 25.1 128.17 14.48 10.7 151.2 25.98 15.7 151.48 11.7 151.6 20.7 25.7 151.17 14.7 151.7 151.2 25. sehingga panas yang diabsorb dari temperatur reinjeksi hanya berpengaruh kepada perubahan laju alir massa dari fluida kerja R123 seperti pada Tabel 4.17 14.66 pada siklus.5 144.2 25.2 25.3 137.06 19.7 151.17 14. Tabel 4.46 20.82 16.1 130.7 151. 2012 .7 151 21.98 11.2 25.48 16.17 14.2 25.2 25.2 132.98 13.56 13.2 25.5 142.17 14.38 Universitas Indonesia Analisis eksergi.7 151. Eff.84 23.3 136.7 151.96 20.17 14.2 134.2 25.98 17.47 11..7 151.48 13.2 14.6 147.97 18.17 14.76 22. C)Brine (kg/s)(%) (%) 151.3 22.2 25.17 14. FT UI.2 25.2 25.9 17. 4 Pengaruh temperatur reijeksi terhafap efisiensi Temperatur Laju AlirTemperaturLaju Alir Eff.22 21.7 151.17 14.17 14.2 25.1 13.2 25.7 151.14 20. C) (kg/s) (deg.6 148.48 12.5 143.2 25.27 15.4 140.44 17.17 14.2 133.7 151.2 25.4 139.98 12.17 14.47 17.1 129.2 25.6 146.17 14.19 14.7 151..1 131.92 11.17 14.7 151. EvaporasiMassa R123 Reinjeksi Massa Energi Eksergi (deg.64 14.98 16.17 23.17 14.7 151.48 15..17 14.4.46 19.17 14.17 14.36 16.7 151.98 18.7 151.7 151.

Christian Gunawan telah melakukan pengkajian mengenai batas temperatur reinjeksi silika dengan menggunakan beberapa metode. Ayu Setya Ismawati. RORC. Dimana data yang digunakan merupakan data yang digunakan dalam simulasi ini. dan c). 2012 . dengan peningkatan laju fluida kerja sehingga secara langsung menaikkan daya turbin juga efisiensi eksergi. FT UI. b). metode DiPippo.67 Gambar 4.. dan metode Silica Scaling Index (SSI)[13]. Perlu diperhatikan bahwa temperatur reinjeksi memiliki batasan optimum. seperti metode Fournier. RORC dengan IHE Daya netto yang dihasilkan oleh siklus semakin tinggi dengan penurunan temperatur reinjeksi.14 Pengaruh temperatur reinjeksi terhadap daya netto dan rasio degradasi eksergi a).. dikarenakan pembentukan kerak silika yang akan menggangu performansi siklus dan merusak peralatan. Pemanfaatan panas dari fluida panasbumi digunakan secara maksimal untuk memanaskan fluida kerja. yaitu data Universitas Indonesia Analisis eksergi. ORC..

sehingga menurunkan temperatur digunakan untuk menjalankan siklus. FT UI. 2012 . sehingga batasan yang digunakan dalam simulasi ini adalah 125 oC. Sulawesi utara. 4. yaitu penurunan temperatur reservoir panasbumi. karena perbedaan penggunaan jenis fluida kerja juga mempengaruhi adanya kerak silika. Jika temperatur reinjeksi yang digunakan terlalu rendah. peningkatan losses.82 C.15 Universitas Indonesia Analisis eksergi. Perlu dikaji lebih lanjut tentang temperatur minimal dari pembentukan kerak silika ini. 121.85 oC. maka reservoir dapat menjadi lebih dingin panasbumi yang dari sebelumnya. dan 122 Co untuk masing-masing metode yang telah disebutkan diatas.. Performansidibandingkan pada temperatur ambien (dead state) rata-rata pada siang hari sebesar 25 C dan malam hari sebesar 15 C. Perbedaan temperatur tersebut dapat mempengaruhi efisiensi pada masingmasing siklus seperti yang terlihat pada Gambar 4. perlu dipertimbangkan pula untuk menjaga reservoir panasbumi dari potensi thermal breakthrough. Ayu Setya Ismawati..7 Analisis Pengaruh Temperatur Lingkungan Terhadap Efisiensi Pengaruh temperatur lingkungan terhadap efisiensi baik energi maupun eksergi juga dianalisis dalam penelitian ini. Sebagai akibatnya. Dari ketiga metode tersebut didapatkan o temperatur minimal reinjeksi adalah 117. dan berbagai macam kerugian lainnya yang akan menurunkan performansi pembangkit.68 lapangan Lahendong. Selain faktor kerak silika yang dapat timbul dengan penurunan temperatur reinjeksi. penurunan daya netto yang dihasilkan.. penurunan efisiensi dapat terjadi.

FT UI... 2012 . Ayu Setya Ismawati.69 Universitas Indonesia Analisis eksergi..

Hal ini dikarenakan terdapat perbedaan laju alir massa dai fluida kerja pada kedua temperatur yang dibandingkan. Dalam keduanya tidak terdapat perubahan lau alir massa baik brine maupun fluida Universitas Indonesia Analisis eksergi.. RORC. Pada RORC dan RORC-IHE jelas terlihat perbedaan efisiensi yang cukup besar dari keduanya. dikarenakan penambahan komponen OFOH dan IHE yang memberikan perbaikan yang cukup signifikan terhadap efisiensi dari siklus. RORC-IHE Secara umum.70 Gambar 4. 2012 .. semakin rendah temperatur ambien pada siklus.15 Pengaruh temperatur lingkungan terhadap efisiensi a). ORC. FT UI. terjadi peningkatan efisiensi. Pada ORC kenaikan efisien dengan perbedaan temperatur hanya mengalami sedikit peningkatan. Demikian halnya dengan efisiensi berdasrakan plant 1 dan efisiensi energi yang juga hanya mengalami sedikit peningkatan. b). dan c)... meskipun perbedaannya tidak cukup signifikan sehingga membuat perbedaan efisiensi yang dihasilkan juga kecil. Kenaikan efiensi eksergi berdasarkan plant 2 pada temperatur 15 C mengalami peningkatan dan pada titik sebelum titik kritis efisiensi mengalami penurunan sehingga nilainya hampir sama dengan efisiensi pada temperatur 25 C. Ayu Setya Ismawati.

Universitas Indonesia Analisis eksergi. sehingga performansinya benar-benar hanya ditentukan oleh peningkatan temperatur masukan dalam turbin. 2012 . Ayu Setya Ismawati. FT UI.. Oleh karena itu PLTP juga dapat beroperasi pada temperatur yang lebih rendah yaitu pada malam hari dengan efisiensi dan daya netto yang lebih baik...71 kerja. Efeknya tentu saja akan meningkatkan daya netto yang dihasilkan oleh siklus.

. efisiensi siklus baik energi maupun eksergi akan semakin kecil.49 %) serta daya netto yang dihasilkan (596. serta performansi yang lebih baik dan mengurangi degradasi energi dari siklus. RORC dan RORC-IHE menhhasilkan efisiensi yang lebih baik dibandingkan ORC pada temperatur ambien yang lebih rendah Universitas Indonesia Analisis eksergi. Penurunan tekanan kondensasi akan menaikkan baik daya netto maupun efisiensi energi dan eksergi. tapi tidak merubah efisiensi energinya.1 kW). Semakin besar nilai � temperatur pinch pada evaporator dan kondensor. Penurunan temperatur reinjeksi dapat menaikkan efisiensi eksergi dan daya netto dari siklus serta menurunkan rasio degradasi eksergi. Nilai temperatur inlet turbin yang lebih tinggi akan menaikkan baik daya netto maupun efisiensi energi dan eksergi.. 9. Hal ini disebabkan tidak terjadinya perubahan temperatur inlet turbin. hanya peningkatan laju alir massa dari fluida kerja R123. Ayu Setya Ismawati.1 Kesimpulan Dari simulasi dan hasil perhitungan yang dilakukan dapat diperoleh kesimpulan berupa : 1. sehingga penambahan komponen baru untuk mengurangi rasio degradasi eksergi pada komponen belum diperlukan. 3.19 % ) maupun eksergi (20. 2012 . 4.72 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 5. 6. Pada temperatur lingkungan yanng lebih rendah efisiensi dan daya netto yang dihasilkan oleh siklus lebih tinggi jika dibandingkan pada temperatur lingkungan yang lebih tinggi. baik nilai efisiensi energi (18. RORC dengan IHE memiliki nilai yang paling besar. 5. FT UI. 2. daya netto.. 7. 8. Dengan menurunkan temperatur reinjeksi akan memperbaiki performansi dan meningkatkan daya netto dari siklus. Penambahan OFOH dan IHE dapat menaikkan efisiensi energi dan eksergi.

FT UI. faktor material. 5. Universitas Indonesia Analisis eksergi. Perlu dilakukan pengkajian penggunaan berbagai tipe fluida kerja untuk mengetahui performansi dan hasil yang lebih baik pada ketiga siklus yang dibandingkan. Studi lebih detail mengenai penambahan komponen OFOH dan IHE perlu dilakukan...2 Saran 1. Ayu Setya Ismawati.73 5. Perlu dilakukan perhitungan kerak silika pada pembangkit sesuai dengan reservoir yang digunakan. politik.. 3. dan lainnya. 2012 . lingkungan. Perlu dilakukan kajian termoekonomi/ eksergonomi. agar diketahui nilai efisiensi secara ekonomi dari siklus yang dibandingkan 2. dengan pengoptimalan operasi PLTP pada malam hari. 4. tidak hanya dari kajian termodinamika tetapi juga dari segi desain peralatan. Untuk tahapan implementasi perlu dilakukan kajian yang menyeluruh dan lebih mendalam dari berbagai aspek seperti : ekonomi. agar tidak mengganggu kinerja dari pembangkit. 6. dan sebagainya. sosial. Pengkajian operasi PLTP pada temparatur yang lebih rendah perlu dilakukan.

[6] $JXVWLQD. ³([HUJHWLF DQDO\VLV RI YDULRXV W\SHV RI JHRWKHUPDO SRZHU SODQWV. $OYDGD ).´ Applied Thermal Engineering 28. [8] 0RUWD]D. 1989) <DUL.´ WI: F-chart Software . 1996579-590. International Journal of Exergy 6 (3) .OHLQ 6. ³:RUNLQJ IOXLGV IRU low-WHPSHUDWXUH RUDQLF 5DQNLQH F\FOHV.. 2007: 1210-1221. "Pengembangan Turbin Hidrokarbon Tipe Radial Flow untuk PLTP Silus Biner oleh Industri Lokal dalam Negeri".´ Renewable Energy 35. [3] 9. . 2010. GDQ 6X\DQWR. [10] . 5. terj Darwin Sitompul. M.´ The 11th Annual Indonesian Geothermal Association Meeting & Conference. Ayu Setya Ismawati.´ Applied Thermal Engineering 21 (3). [11] Yari M. (Jakarta : Erlangga. "Performance analysis of the different organic Rankine cycles (ORCs) using dry fluids". 0DL]]D. 2007: 276-285. 6DOHK. 2001: 381-390. "Prinsip-Prinsip Konversi Energi". [4] Pedro.2009:323±42. GDQ )LVFKHU -.RJOEDXHU *. GDQ 0DL]]D $. [7] Culp.´ Applied Thermal Engineering (7). 2012 . J. [5]'L3LSSR. (UL 0DULD 8OIDK. Maizza. Bandar Lampung: Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). ³8QFRQYHQWLRQDO ZRUNLQJ IOXLGV LQ RUJDQLF Rankine-F\FOHV IRU ZDVWH HQHUJ\ UHFRYHU V\VWHP. ³Analisis Eksergi Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) Binary Cycle 1 0:.74 DAFTAR ACUAN [1] %..´ Geothermics 36. Mago. 7DXIDQ 6XUDQD. :HQGODQG 0. GDQ 0DL]]D $. M. ³:RUNLQJ IOXLGV LQ QRQ-steady flows for waste energy recovery system.´ Energy 32 (7). 2010: 112-121.. 2011. Srinivasan Kalyan. [9] Yogisworo. /LQD. Archie W Jr. Chamra Louay. ST.. ³. Laporan Akhir..GHDO WKHUPDO HIILFLHQF\ IRU JHRWKHUPDO ELQDU\ SODQWV. 2008: 998-1007. dan Somayaji &KDQGUDPRKDQ. FT UI. [2] V.Eng. ³$Q H[DPLQDWLRQ RI UHJHQHUDWLYH RUJDQLF 5DQNLQH F\FOHV XVLQJ GU\ IOXLGV. 2007. ³(QJLQHHULQJ (TXDWLRQ 6ROYHU. Danang. Universitas Indonesia Analisis eksergi. Jakarta: Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Ayu Setya Ismawati. 1995) Universitas Indonesia Analisis eksergi.. 2012 ... Beberapa Senyawa Berpotensi Sebagai Fluida Kerja Ideal (Maizza.75 Lampiran 1. FT UI.

Karakteristik Termodinamika Dan Parameter Perhitungan Dari Beberapa Fluida Kerja Ideal Untuk ORC (Maizza..76 Lampiran 2. 2000) Universitas Indonesia Analisis eksergi.. Ayu Setya Ismawati. FT UI. 2012 ..

. X=0. X=1) P[6] = Pressure(R123... P=P_brine[1]) s_brine[2] = Entropy(Water.hf2) T[2]=Temperature(R123.T=T_brine[2]. X=1. h=h[6]) s[6] = Entropy(R123. P=P[6]. X=0) deltaT_pinchE=T_br-T[5] "Turbin" P[1]=P[6] T[1]=T[6] h[1]=h[6] s[1]=Entropy(R123. X=1) "T outlet evap = T inlet turbin.P=P[2]) hg2=Enthalpy(R123.P=P[2]) hf2=Enthalpy(R123. T=T[6]. P=P[2].sf2)/(sg2-sf2) h2is=hf2+X2is*(hg2-hf2) eta_is_turbin=0.kg/s) "ton/jam" "Evaporator" m_brine*(h_brine[1]-h_brine[2])=m_wf*(h[6].P=P[2]) sf2=Entropy(R123. X=1.h[4]) "$IFNOT ParametricTable" T[6]= 151. X=0. Ayu Setya Ismawati. P=P[6]. P=P[2].75 eta_is_turbin=(h[1] . FT UI.P=P[2]) X2is=(s2is .7228 "C" under T critical" "$ENDIF" h[6] = Enthalpy(R123. 2012 "isentropik" . T=T_br. T=T_brine[1].T=T_brine[1].02 "bar" h_brine[1] = Enthalpy(Water. "Pinch Point Evaporator" m_brine*(h_brine[1]-h_br)=m_wf*(h[6].h2is) W_turbin=m_wf*(h[1] .T=T[2]) "Condensor" "IFNOT ParametricTable" Universitas Indonesia Analisis eksergi. T=T[1].h=h[2]) s[2]=Entropy(R123. P=P[6].h[2]) X_2=(h[2] . T=T_brine[2].h[5]) h_br=Enthalpy(Water.h[2])/(h[1] . Program EES untuk memprediksi performansi dari flluida kerja R123 pada ORC T_brine[1]=170 "C" $IFNOT ParametricTable T_brine[2]=140 "C" $ENDIF P_brine[1]=10. P=P[6]. X=1) s[1]=s2is sg2=Entropy(R123.X = 0) h_brine[2] = Enthalpy(Water. X=0) s[5] = Entropy(R123.hf2)/(hg2 . P=P_brine[2]) m_brine=100*convert(ton/hour.77 Lampiran 3. X=0) h[5]=Enthalpy(R123.T=T[6].02 "bar" P_brine[2]=10.X = 0) s_brine[1] = Entropy(Water. X=0) P[5]=P[6] T[5]=Temperature(R123.

P=P[3].89 "bar" Pc[2]= Pc[1]_ hc[1]=Enthalpy(Water.T=T[3]) h3a=Enthalpy(R123. P=Pc[1]) sc[2]=Entropy(Water.h=h[4]) eta_pwf=0.s=s4is) T[4]=Temperature(R123. T= Tc[2]. X=0. X=0) deltaT_pinchC=T[3]-Tcx "Exergy Rate" T[0]=25 "C" water" P[0]=0. P=P[10].T=T[0]) T[10]=25 "C" P[10]=0. P=Pc[2]) m_wf*(h[2]-h[3])=m_cw*(hc[2]-hc[1]) "cw in" "cw out" "Pinch Point Condenser" m_wf*(hx-h[3])=m_cw*(hcx-hc[1]) m_wf*(h3a-hx)=m_cw*(hca-hcx) hx=Enthalpy(R123.T=T[4]) W_pwf=m_wf*v_wf*(P[4] .68637 "bar" "ENDIF" P[2]=P[3] T3a=Temperature(R123. 2012 .75 eta_pwf=(h4is-h[3])/(h[4]-h[3]) v_wf=volume(R123.kW) s[4]=Entropy(R123. X=1. P=P[10].T=T[10]) s[10]=Entropy(R123. FT UI.T=T3a) hcx=Enthalpy(Water. X=0.P[3])/eta_pwf*convert(m^3*bar/s.P=P[4]. T= Tc[1].P=P[4].T=T[10]) "dead state temp for brine and "P absolute" "dead state temp for R123" "exergy spesific" ex_1=h[1]-h[10]-(T[10]+273)*(s[1]-s[10]) ex_2=h[2]-h[10]-(T[10]+273)*(s[2]-s[10]) ex_3=h[3]-h[10]-(T[10]+273)*(s[3]-s[10]) ex_4=h[4]-h[10]-(T[10]+273)*(s[4]-s[10]) ex_5=h[5]-h[10]-(T[10]+273)*(s[5]-s[10]) "ex 1-6 using R123" Universitas Indonesia Analisis eksergi. P=P[3]..T=T[0]) s[0]=Entropy(Water.T=T[3]) "ref P condensation" "T saturated" "T subcooled. T= Tc[1]. X=0) hc[2]=Enthalpy(Water.T=T[3]) s[3]=Entropy(R123.89 "bara" h[0]=Enthalpy(Water. P=P[3]. h=h[0].T=T[4]) "Cooling Tower" Tc[1]=25 "C" Tc[2]=35 "C" Pc[1]= 0.P=P[4]..89 "bara" h[10]=Enthalpy(R123. T=Tcx.78 P[3]=1.. 3 C " "Feed Pump" "isentropik" P[4] = P[6] s[3]=s4is h4is=Enthalpy(R123.X =0) T[3]=T3a-3 "C" h[3]=Enthalpy(R123.P=P[4]. Ayu Setya Ismawati. T= Tc[2]. X=0) sc[1]=Entropy(Water.

2012 . Ayu Setya Ismawati... FT UI..79 ex_6=h[6]-h[10]-(T[10]+273)*(s[6]-s[10]) ex_bri_in=h_brine[1]-h[0]-(T[0]+273)*(s_brine[1]-s[0]) ex_bri_out=h_brine[2]-h[0]-(T[0]+273)*(s_brine[2]-s[0]) ex_cw_in=hc[1]-h[0]-(T[0]+273)*(sc[1]-s[0]) ex_cw_out=hc[2]-h[0]-(T[0]+273)*(sc[2]-s[0]) "Exergy rate" Exr_1=m_wf*ex_1 Exr_2=m_wf*ex_2 Exr_3=m_wf*ex_3 Exr_4=m_wf*ex_4 Exr_5=m_wf*ex_5 Exr_6=m_wf*ex_6 Exr_bri_in=m_brine*ex_bri_in Exr_bri_out=m_brine*ex_bri_out Exr_cw_in=m_cw*ex_cw_in Exr_cw_out=m_cw*ex_cw_out "Efficiency Exergy For Each Component" eta_II_Evap=(Exr_1-Exr_4)/(Exr_bri_in-Exr_bri_out)*100 eta_II_Cond=(Exr_cw_out-Exr_cw_in)/(Exr_2-Exr_3)*100 eta_II_Turb=W_turbin/(Exr_1-Exr_2)*100 eta_II_Pump=(Exr_4-Exr_3)/W_pwf*100 "Exergy Destruction for each components" I_Evap=(Exr_4+Exr_bri_in)-(Exr_bri_out+Exr_6) I_Cond=(Exr_2+Exr_cw_in)-(Exr_cw_out+Exr_3) I_Turb=Exr_1-(W_turbin+Exr_2) I_Pump=(W_pwf+Exr_3)-Exr_4 "Exergy Destruction Ratio" Y_Evap=I_Evap/Exr_bri_in*100 Y_Cond=I_Cond/Exr_bri_in*100 Y_Turb=I_Turb/Exr_bri_in*100 Y_Pump=I_Pump/Exr_bri_in*100 Y_Rein=Exr_bri_out/Exr_bri_in*100 "Heat Work" W_Evap=m_wf*(h[1]-h[4]) W_Cond=m_wf*(h[2]-h[3]) W_CW=m_cw*(hc[2]-hc[1]) eta_I_plant=W_net*100/(m_wf*(h[6]-h[4])) eta_II_plant1=W_net*100/Exr_bri_in eta_II_plant2=W_net*100/(Exr_bri_in-Exr_bri_out) eta_II_binary=W_net*100/(m_wf*((h[1]-h[4])-(T[0]+273)*(s[1]-s[4]))) W_net=W_turbin-W_pwf Universitas Indonesia Analisis eksergi.

... 2012 .80 Lampiran 4. Ayu Setya Ismawati. Hasil Program EES untuk memprediksi performansi dari flluida kerja R123 pada ORC Universitas Indonesia Analisis eksergi. FT UI.

sf3)/(sg3-sf3) h3is=hf3+X3is*(hg3-hf3) "isentropik" s[1]=s2is sg2=Entropy(R123.sf2)/(sg2-sf2) h2is=hf2+X2is*(hg2-hf2) Universitas Indonesia Analisis eksergi.X = 0) h_brine[2] = Enthalpy(Water. P=P[9]. X=0) h[8]=Enthalpy(R123.T=T[9]. X=0) s[8] = Entropy(R123.P=P[3]) sf3=Entropy(R123. h=h[9]) s[9] = Entropy(R123.h[8]) h_br=Enthalpy(Water.P=P[2]) sf2=Entropy(R123. X=0) P[8]=P[9] T[8]=Temperature(R123. X=0.X = 0) s_brine[1] = Entropy(Water. X=0. Program EES untuk memprediksi performansi dari flluida kerja R123 pada RORC T_brine[1]=170 "C" $IFNOT ParametricTable T_brine[2]=140 "C" $ENDIF P_brine[1]=10.81 Lampiran 5. X=0. "Pinch Point Evaporator" m_brine*(h_brine[1]-h_br)=m_wf*(h[9]..P=P[3]) hf3=Enthalpy(R123.P=P[2]) X2is=(s2is . X=1. T=T_br. T=T[9]. P=P[9]. T=T_brine[1]. X=1) P[9] = Pressure(R123. Ayu Setya Ismawati.02 "bar" P_brine[2]=10.02 "bar" h_brine[1] = Enthalpy(Water. X=0) deltaT_pinchE=T_br-T[8] "Turbin" P[1]=P[9] T[1]=T[9] h[1]=h[9] s[1]=s[9] s[1]=s3is sg3=Entropy(R123. T=T_brine[2]. X=1.P=P[3]) hg3=Enthalpy(R123. X=1. P=P_brine[1]) s_brine[2] = Entropy(Water. FT UI. X=0..P=P[2]) hf2=Enthalpy(R123.T=T_brine[2].. P=P[9]) "T outlet evap = T inlet turbin. P=P_brine[2]) m_brine=100*convert(ton/hour. 2012 .P=P[3]) X3is=(s3is .P=P[2]) hg2=Enthalpy(R123.h[7]) "$IFNOT ParametricTable" T[9]= 147.kg/s) "ton/jam" "Evaporator" m_brine*(h_brine[1]-h_brine[2])=m_wf*(h[9].8572 "C" under T critical" "$ENDIF" h[9] = Enthalpy(R123.T=T_brine[1]. X=1. P=P[9]. X=1.

.h=h[5]) s[5]=Entropy(R123.h2is) eta_is_turbin=(h[2] .P=P[5].h3is) "split turbin" W_turbin=m_wf*((h[1] .. P=P[2].75 eta_is_turbin=(h[1] . s=s[6]) s[6] = Entropy(R123. P=P[3].X =0) T[4]=T4a-3 "C" h[4]=Enthalpy(R123.T=T[4]) "ref P condensation" "T saturated" "T subcooled. P=P[2].s=s7is) T[7]=Temperature(R123.T=T[5]) v_wf2=volume(R123. X=0) "Condensor" P[3]=P[4] "$IFNOT ParametricTable" P[4]=1.h[2])+(1-X_OFOH)*(h[2]-h[3])) T[3]=Temperature(R123.6992 "bar" "$ENDIF" T4a=Temperature(R123. X=0. P=P[4].h=h[3]) s[3]=Entropy(R123.T=T4a) hcx=Enthalpy(Water.T=T[5]) eta_pwf=(h5is-h[4])/(h[5]-h[4]) "Pump 2" P[7] = P[9] s[6]=s7is h7is=Enthalpy(R123. X=1. Ayu Setya Ismawati.h=h[7]) s[7]=Entropy(R123.T=T[2]) "OFOH" X_OFOH=(h[6]-h[5])/(h[2]-h[5]) P[2]= 4.s=s[6].82 eta_is_turbin=0.P=P[5].75 eta_pwf=(h7is-h[6])/(h[7]-h[6]) v_wf1=volume(R123. 3 C " "Pinch Point Condenser" m_wf*(hx-h[4])=m_cw*(hcx-hc[1]) m_wf*(h4a-hx)=m_cw*(hca-hcx) hx=Enthalpy(R123. T=Tcx. P=P[3].945 "bar" P[2]=P[6] h[6] = Enthalpy(R123.s=s5is) T[5]=Temperature(R123.P=P[7].P=P[7].h=h[2]) s[2]=Entropy(R123.P=P[5].T=T[4]) h4a=Enthalpy(R123.T=T[7]) "Evap in" Universitas Indonesia Analisis eksergi.h=h[7]) eta_pwf=0. P=P[4]. P=P[6]) T[6] = Temperature(R123.P=P[7]. P=P[6]. P=P[6]. 2012 .P=P[7].P=P[5]. FT UI..T=T[3]) T[2]=Temperature(R123.h[3])/(h[2] .T=T[4]) s[4]=Entropy(R123. X=0) deltaT_pinchC=T[4]-Tcx "Feed Pump" "isentropik" "Pump 1" P[5]=P[2] s[4]=s5is h5is=Enthalpy(R123. P=P[4].h[2])/(h[1] .

h=h[0]. T= Tc[2]. 2012 . FT UI. P=Pc[1]) sc[2]=Entropy(Water.kW) "Cooling Tower" Tc[1]=25 "C" Tc[2]=35 "C" Pc[1]= 0. X=0) hc[2]=Enthalpy(Water. X=0.83 W_pwf=m_wf*((v_wf1*(P[7] .T=T[0]) s[0]=Entropy(Water... Ayu Setya Ismawati. P=P[10]. T= Tc[2].89 "bar" Pc[2]= Pc[1] hc[1]=Enthalpy(Water.T=T[10]) "working fluid" m_wf1=m_wf m_wf2=X_OFOH*m_wf m_wf3=(1-X_OFOH)*m_wf "dead state temp for brine and "P absolute" "dead state temp for R123" "stage 6791" "stage 2" "stage 345" "exergy spesific" ex_1=h[1]-h[10]-(T[10]+273)*(s[1]-s[10]) ex_2=h[2]-h[10]-(T[10]+273)*(s[2]-s[10]) ex_3=h[3]-h[10]-(T[10]+273)*(s[3]-s[10]) ex_4=h[4]-h[10]-(T[10]+273)*(s[4]-s[10]) ex_5=h[5]-h[10]-(T[10]+273)*(s[5]-s[10]) ex_6=h[6]-h[10]-(T[10]+273)*(s[6]-s[10]) ex_7=h[7]-h[10]-(T[10]+273)*(s[7]-s[10]) ex_8=h[8]-h[10]-(T[10]+273)*(s[8]-s[10]) ex_9=h[9]-h[10]-(T[10]+273)*(s[9]-s[10]) "ex 1-6 using R123" ex_bri_in=h_brine[1]-h[0]-(T[0]+273)*(s_brine[1]-s[0]) ex_bri_out=h_brine[2]-h[0]-(T[0]+273)*(s_brine[2]-s[0]) ex_cw_in=hc[1]-h[0]-(T[0]+273)*(sc[1]-s[0]) ex_cw_out=hc[2]-h[0]-(T[0]+273)*(sc[2]-s[0]) "Exergy rate" Exr_1=m_wf1*ex_1 Exr_2=m_wf2*ex_2 Exr_3=m_wf3*ex_3 Universitas Indonesia Analisis eksergi.T=T[10]) s[10]=Entropy(R123.89 "bara" h[0]=Enthalpy(Water.. X=0) sc[1]=Entropy(Water.P[6]))+(v_wf2*(1-X_OFOH)*(P[5]P[4])))/eta_pwf*convert(m^3*bar/s.89 "bara" h[10]=Enthalpy(R123. T= Tc[1]. P=Pc[2]) m_wf*(h[3]-h[4])=m_cw*(hc[2]-hc[1]) "cw in" "cw out" W_net=W_turbin-W_pwf "Exergy Rate" T[0]=25 "C" water" P[0]=0. T= Tc[1]. P=P[10].T=T[0]) T[10]=25 "C" P[10]=0.

. FT UI.84 Exr_4=m_wf3*ex_4 Exr_5=m_wf3*ex_5 Exr_6=m_wf1*ex_6 Exr_7=m_wf1*ex_7 Exr_8=m_wf1*ex_8 Exr_9=m_wf1*ex_9 Exr_bri_in=m_brine*ex_bri_in Exr_bri_out=m_brine*ex_bri_out Exr_cw_in=m_cw*ex_cw_in Exr_cw_out=m_cw*ex_cw_out "Efficiency Exergy For Each Component" eta_II_Evap=(Exr_1-Exr_7)/(Exr_bri_in-Exr_bri_out)*100 eta_II_Cond=(Exr_cw_out-Exr_cw_in)/(Exr_3-Exr_4)*100 eta_II_Turb=W_turbin/((Exr_2-Exr_3)-(Exr_3-Exr_1))*100 eta_II_Pump=((Exr_5-Exr_4)+(Exr_7-Exr_6))/(w_pwf)*100 eta_II_OFOH=(Exr_2-Exr_6)/(Exr_6-Exr_5)*100 "Exergy Destruction for each components" I_Evap=(Exr_7+Exr_bri_in)-(Exr_bri_out+Exr_9) I_Cond=(Exr_3+Exr_cw_in)-(Exr_cw_out+Exr_4) I_Turb=(T[0]+273)*m_wf*((s[3]-s[1])+X_OFOH*(s[2]-s[3])) I_Pump=(T[0]+273)*m_wf*((1-X_OFOH)*(s[5]-s[4])+(s[7]-s[6])) I_OFOH=(T[0]+273)*m_wf*(s[6]-X_OFOH*s[2]-(1-X_OFOH)*s[5]) I_Rein=m_brine*((h_brine[2]-h[0])-(T[0]+273)*(s_brine[2]-s[0])) "Exergy Destruction Ratio" Y_Evap=I_Evap/Exr_bri_in*100 Y_Cond=I_Cond/Exr_bri_in*100 Y_Turb=I_Turb/Exr_bri_in*100 Y_Pump=I_Pump/Exr_bri_in*100 Y_OFOH=I_OFOH/Exr_bri_in*100 Y_Rein=I_Rein/Exr_bri_in*100 "Heat Work" W_Evap=m_wf1*(h[1]-h[7]) W_Cond=m_wf3*(h[3]-h[4]) W_OFOH=m_wf3*(h[6]-h[5])+m_wf2*(h[2]-h[6]) W_CW=m_cw*(hc[2]-hc[1]) eta_I_plant=W_net*100/(m_wf*(h[9]-h[7])) eta_II_plant1=W_net*100/Exr_bri_in eta_II_plant2=W_net*100/(Exr_bri_in-Exr_bri_out) eta_II_binary=W_net*100/(m_wf*((h[1]-h[7])-(T[0]+273)*(s[1]-s[7]))) Universitas Indonesia Analisis eksergi. Ayu Setya Ismawati. 2012 "cek ulang" ...

2012 .85 Lampiran 6.. FT UI... Hasil Program EES untuk memprediksi performansi dari flluida kerja R123 pada RORC Universitas Indonesia Analisis eksergi. Ayu Setya Ismawati.

86
Lampiran 7. Program EES untuk memprediksi performansi dari flluida kerja
R123 pada RORC-IHE
T_brine[1]=170 "C"
"$IFNOT ParametricTable"
T_brine[2]=140 "C"
"$ENDIF"
P_brine[1]=10,02 "bar"
P_brine[2]=10,02 "bar"
h_brine[1] = Enthalpy(Water;T=T_brine[1];X = 0)
h_brine[2] = Enthalpy(Water;T=T_brine[2];X = 0)
s_brine[1] = Entropy(Water; T=T_brine[1]; P=P_brine[1])
s_brine[2] = Entropy(Water; T=T_brine[2]; P=P_brine[2])
m_brine=100*convert(ton/hour;kg/s) "ton/jam"
"Evaporator"
m_brine*(h_brine[1]-h_brine[2])=m_wf*(h[11]- h[9])
$IFNOT ParametricTable
T[11]= 146,98 "C"
under T critical"
$ENDIF
h[11] = Enthalpy(R123;T=T[11]; X=1)
P[11] = Pressure(R123; T=T[11]; h=h[11])
s[11] = Entropy(R123; X=1; P=P[11])

"T outlet evap = T inlet turbin,

"Pinch Point Evaporator"
m_brine*(h_brine[1]-h_br)=m_wf*(h[11]- h[10])
h_br=Enthalpy(Water; T=T_br; X=0)
P[10]=P[11]
T[10]=Temperature(R123; P=P[11]; X=0)
h[10]=Enthalpy(R123; P=P[11]; X=0)
s[10] = Entropy(R123; P=P[11]; X=0)
deltaT_pinchE=T_br-T[10]
"Turbin"
P[1]=P[11]
T[1]=T[11]
h[1]=h[11]
s[1]=s[11]
s[1]=s3is
sg3=Entropy(R123; X=1;P=P[3])
sf3=Entropy(R123; X=0;P=P[3])
hg3=Enthalpy(R123; X=1;P=P[3])
hf3=Enthalpy(R123; X=0;P=P[3])
X3is=(s3is - sf3)/(sg3-sf3)
h3is=hf3+X3is*(hg3-hf3)

"isentropik"

s[1]=s2is
sg2=Entropy(R123; X=1;P=P[2])
sf2=Entropy(R123; X=0;P=P[2])
hg2=Enthalpy(R123; X=1;P=P[2])
hf2=Enthalpy(R123; X=0;P=P[2])
X2is=(s2is - sf2)/(sg2-sf2)
h2is=hf2+X2is*(hg2-hf2)
eta_is_turbin=0,75

Universitas Indonesia
Analisis eksergi..., Ayu Setya Ismawati, FT UI, 2012

87
eta_is_turbin=(h[1] - h[2])/(h[1] - h2is)
eta_is_turbin=(h[2] - h[3])/(h[2] - h3is)

"split turbin"

W_turbin=m_wf*((h[1] - h[2])+(1-X_OFOH)*(h[2]-h[3]))
P[3]=P[4]
T[3]=Temperature(R123; P=P[3];h=h[3])
s[3]=Entropy(R123; P=P[3];T=T[3])
T[2]=Temperature(R123; P=P[2];h=h[2])
s[2]=Entropy(R123; P=P[2];T=T[2])
"OFOH"
X_OFOH=(h[8]-h[7])/(h[2]-h[7])
P[2]= 5,812 "bar"
P[2]=P[8]
h[8] = Enthalpy(R123;s=s[8]; P=P[8])
T[8] = Temperature(R123; P=P[8]; s=s[8])
s[8] = Entropy(R123; P=P[8]; X=0)
"IHE"
P[2]=P[7]
h[3]-h[4]=h[7]-h[6]
Eps_IHE=(T[3]-T[4])/(T[3]-T[6])
T[7]=Temperature(R123; P=P[7];h=h[7])
s[7]=Entropy(R123; P=P[7];T=T[7])
s[4]=Entropy(R123; P=P[4];X=1)
T[4]=Temperature(R123; P=P[4];h=h[4])
h[4]=Enthalpy(R123; P=P[4];X=1)
"Condensor"
P[4]=P[5]
"$IFNOT ParametricTable"
P[5]=1,7556 "bar"
"$ENDIF"
T5a=Temperature(R123; P=P[5];X =0)
T[5]=T5a-3 "C"
h[5]=Enthalpy(R123; P=P[5];T=T[5])
s[5]=Entropy(R123; P=P[5];T=T[5])

"ref P condensation"
"T saturated"
"T subcooled, 3 C "

"Pinch Point Condenser"
m_wf*(hx-h[5])=m_cw*(hcx-hc[1])
m_wf*(h5a-hx)=m_cw*(hca-hcx)
hx=Enthalpy(R123; X=1;T=T[5])
h5a=Enthalpy(R123; X=0;T=T5a)
hcx=Enthalpy(Water; T=Tcx; X=0)
deltaT_pinchC=T[5]-Tcx
"Cooling Tower"
Tc[1]=25 "C"
Tc[2]=35 "C"
Pc[1]= 0,89 "bar"
Pc[2]= Pc[1]
hc[1]=Enthalpy(Water; T= Tc[1]; X=0)
hc[2]=Enthalpy(Water; T= Tc[2]; X=0)

"cw in"
"cw out"

Universitas Indonesia
Analisis eksergi..., Ayu Setya Ismawati, FT UI, 2012

88
sc[1]=Entropy(Water; T= Tc[1]; P=Pc[1])
sc[2]=Entropy(Water; T= Tc[2]; P=Pc[2])
m_wf*(h[4]-h[5])=m_cw*(hc[2]-hc[1])
"Feed Pump"

"isentropik"

"Pump 1"
P[6]=P[2]
s[5]=s6is
h6is=Enthalpy(R123;P=P[6];s=s6is)
T[6]=Temperature(R123;P=P[6];h=h[6])
s[6]=Entropy(R123;P=P[6];T=T[6])
eta_pwf=(h6is-h[5])/(h[6]-h[5])
"Pump 2"
P[9] = P[11]
"Evap in"
s[8]=s9is
h9is=Enthalpy(R123;P=P[9];s=s9is)
T[9]=Temperature(R123;P=P[9];h=h[9])
s[9]=Entropy(R123;P=P[9];h=h[9])
eta_pwf=0,75
eta_pwf=(h9is-h[8])/(h[9]-h[8])
v_wf1=volume(R123;P=P[6];T=T[6])
v_wf2=volume(R123;P=P[9];T=T[9])
W_pwf=m_wf*((v_wf1*(P[9] - P[8]))+(v_wf2*(1-X_OFOH)*(P[6]P[5])))/eta_pwf*convert(m^3*bar/s;kW)
W_net=W_turbin-W_pwf
"Exergy Rate"
T[0]=25 "C"
water"
P[0]=0,89 "bara"
h[0]=Enthalpy(Water; X=0;T=T[0])
s[0]=Entropy(Water; h=h[0];T=T[0])
T[12]=25 "C"
P[12]=0,89 "bara"
h[12]=Enthalpy(R123; P=P[12];T=T[12])
s[12]=Entropy(R123; P=P[12];T=T[12])
"working fluid"
m_wf1=m_wf
m_wf2=X_OFOH*m_wf
m_wf3=(1-X_OFOH)*m_wf

"dead state temp for brine and
"P absolute"

"dead state temp for R123"

"stage 18911"
"stage 2"
"stage 34567"

"exergy spesific"
ex_1=h[1]-h[12]-(T[12]+273)*(s[1]-s[12])
ex_2=h[2]-h[12]-(T[12]+273)*(s[2]-s[12])
ex_3=h[3]-h[12]-(T[12]+273)*(s[3]-s[12])
ex_4=h[4]-h[12]-(T[12]+273)*(s[4]-s[12])
ex_5=h[5]-h[12]-(T[12]+273)*(s[5]-s[12])
ex_6=h[6]-h[12]-(T[12]+273)*(s[6]-s[12])
ex_7=h[7]-h[12]-(T[12]+273)*(s[7]-s[12])
ex_8=h[8]-h[12]-(T[12]+273)*(s[8]-s[12])
ex_9=h[9]-h[12]-(T[12]+273)*(s[9]-s[12])
ex_10=h[10]-h[12]-(T[12]+273)*(s[10]-s[12])

"ex 1-6 using R123"

Universitas Indonesia
Analisis eksergi..., Ayu Setya Ismawati, FT UI, 2012

. FT UI.89 ex_11=h[11]-h[12]-(T[12]+273)*(s[11]-s[12]) ex_bri_in=h_brine[1]-h[0]-(T[0]+273)*(s_brine[1]-s[0]) ex_bri_out=h_brine[2]-h[0]-(T[0]+273)*(s_brine[2]-s[0]) ex_cw_in=hc[1]-h[0]-(T[0]+273)*(sc[1]-s[0]) ex_cw_out=hc[2]-h[0]-(T[0]+273)*(sc[2]-s[0]) "Exergy rate" Exr_1=m_wf1*ex_1 Exr_2=m_wf2*ex_2 Exr_3=m_wf3*ex_3 Exr_4=m_wf3*ex_4 Exr_5=m_wf3*ex_5 Exr_6=m_wf3*ex_6 Exr_7=m_wf3*ex_7 Exr_8=m_wf1*ex_8 Exr_9=m_wf1*ex_9 Exr_10=m_wf1*ex_10 Exr_11=m_wf1*ex_11 Exr_bri_in=m_brine*ex_bri_in Exr_bri_out=m_brine*ex_bri_out Exr_cw_in=m_cw*ex_cw_in Exr_cw_out=m_cw*ex_cw_out "Efficiency Exergy For Each Component" eta_II_Evap=(Exr_1-Exr_9)/(Exr_bri_in-Exr_bri_out)*100 eta_II_Cond=(Exr_cw_out-Exr_cw_in)/(Exr_4-Exr_5)*100 eta_II_Turb=W_turbin/((Exr_2-Exr_3)-(Exr_3-Exr_1))*100 eta_II_Pump=((Exr_6-Exr_5)+(Exr_9-Exr_8))/(w_pwf)*100 eta_II_OFOH=(Exr_2-Exr_8)/(Exr_7-Exr_8)*100 eta_II_IHE=(Exr_7-Exr_6)/(Exr_3-Exr_4)*100 "Exergy Destruction for each components" I_Evap=(Exr_9+Exr_bri_in)-(Exr_bri_out+Exr_1) I_Cond=(Exr_4+Exr_cw_in)-(Exr_cw_out+Exr_5) I_Turb=(T[0]+273)*m_wf*(X_OFOH*s[2]+(1-X_OFOH)*s[3]-s[1]) I_Pump=(T[0]+273)*m_wf*((1-X_OFOH)*(s[6]-s[5])+(s[9]-s[8])) I_OFOH=(T[0]+273)*m_wf*(s[8]-X_OFOH*s[2]-(1-X_OFOH)*s[7]) I_IHE=(T[0]+273)*m_wf*((s[7]-s[6])+(s[4]-s[3])) I_Rein=m_brine*((h_brine[2]-h[0])-(T[0]+273)*(s_brine[2]-s[0])) "Exergy Destruction Ratio" Y_Evap=I_Evap/Exr_bri_in*100 Y_Cond=I_Cond/Exr_bri_in*100 Y_Turb=I_Turb/Exr_bri_in*100 Y_Pump=I_Pump/Exr_bri_in*100 Y_OFOH=I_OFOH/Exr_bri_in*100 Y_IHE=I_IHE/Exr_bri_in*100 Y_Rein=I_Rein/Exr_bri_in*100 "Heat Work" Universitas Indonesia Analisis eksergi... Ayu Setya Ismawati. 2012 .

. Ayu Setya Ismawati. FT UI.. 2012 ..90 W_Evap=m_wf1*(h[1]-h[9]) W_Cond=m_wf3*(h[4]-h[5]) W_OFOH=m_wf3*(h[8]-h[7])+m_wf2*(h[2]-h[8]) W_IHE=m_wf3*(h[3]-h[4]) W_CW=m_cw*(hc[2]-hc[1]) eta_I_plant=W_net*100/(m_wf*(h[1]-h[9])) eta_II_plant1=W_net*100/Exr_bri_in eta_II_plant2=W_net*100/(Exr_bri_in-Exr_bri_out) eta_II_binary=W_net*100/(m_wf*((h[1]-h[9])-(T[0]+273)*(s[1]-s[9]))) Universitas Indonesia Analisis eksergi.

FT UI.. Hasil Program EES untuk memprediksi performansi dari flluida kerja R123 pada RORC Universitas Indonesia Analisis eksergi.91 Lampiran 8... Ayu Setya Ismawati. 2012 .