You are on page 1of 4

Pada tahun 2004 WHO merekomendasikan penggunaan obat anti malaria kombinasi berbasis

Artemisinin (Artemisinin Combination Therapy/ ACT) sebagai terapi lini pertama dalam penanganan
malaria tanpa komplikasi di daerah yang telah dikonfirmasi multidrug resistance untuk mencegah
kegagalan terapi, resistensi dan relaps. Penggunaan ACT merupakan kombinasi dari dua atau lebih obat
anti malaria berdasarkan potensi sinergistik bertujuan meningkatkan efikasi dan mencegah resistensi
dari masing¬masing obat (Tjitra, 2004).
Berdasarkan rekomendasi WHO dan – di Indonesia – Komisi Ahli Bidang Diagnosis Malaria Indonesia
(KOMLI), penggunaan Artemisinin Combination Therapy di Indonesia dimulai sejak tahun 2004. Saat ini
terdapat dua regimen ACT yang digunakan dalam program malaria yaitu artesunat amodiakuin (AAQ)
dan dihidroartemisinin pip erakuin (DHP). ACT dapat memberikan hasil yang cepat namun memiliki
efek samping yang sering dilaporkan misalnya keluhan gastrointestinal (mual dan muntah). Penelitian
Hasugian et al.(2007) di Papua, melaporkan AAQ memiliki efikasi yang lebih kecil dan efek samping yang
lebih berat dari pada DHP. Hal ini mendorong KOMLI merekomendasikan penggunaan DHP
menggantikan AAQ di Papua. Selanjutnya regimen tersebut diharapkan dapat digunakan di seluruh
Indonesia terutama jika terjadi efek samping yang berat dari AAQ (Depkes RI, 2009).
Menurut Depkes RI (2008), salah satu tantangan terbesar dalam upaya pengobatan malaria di Indonesia
adalah terjadinya penurunan efikasi pada penggunaan beberapa obat anti malaria, bahkan terdapat
resisten terhadap obat klorokuin . Hal ini dapat disebabkan antara lain oleh beragamnya pengobatan
malaria. Sejak tahun 2004 obat pilihan utama untuk malaria falciparum digunakan obat
kombinasi derivat Artemisinin yang dikenal dengan Artemisinin Combination Therapy (ACT) Regimen
yang dipakai saat ini adalah Artesunate dan Amodiaquin serta injeksi Artemeter untuk malaria berat di
samping injeksi Kina.
Berdasarkan beberapa data dan hasil penelitian, sudah lama diketahui beberapa strain P. falciparum
yang resisten terhadap proguanil dan pirimetamin. Menurut Harijanto (2007), beberapa laporan
tentang resistensi terhadap obat anti malaria, yaitu terhadap obat golongan 4-aminokuinolin (klorokuin
dan amodiakuin) tahun 1957 di Thailand dan tahun 1959 di perbatasan Kolumbia dan Venezuela. Tahun
1978 dilaporkan resistensi klorokuin di Afrika (Kenya, pulau Komoro, Madagaskar, Tanzania, Uganda dan
Zambia), dan tahun 1983 di daerah Pasifik Barat, India dan Cina Selatan.
Sedangkan di Indonesia pertama kali kasus resistensi P. falciparum terhadap klorokuin ditemukan di
Kalimantan Timur tahun 1973. Kemudian resistensi itu meluas ke seluruh propinsi dengan derajat
resistensi yang bervariasi. Berdasarkan evaluasi obat anti malaria di Indonesia tahun 1981-1985
dilaporkan resistensi RIII di 4 propinsi dan hingga tahun 1995 sudah ditemukan di 20 propinsi. Kasus
resistensi P. falciparum terhadap sulfadoksin pirimetamin dilaporkan di 11 propinsi dengan derajat
resistensi RI-RII. Evaluasi in vitro resistensi P. falciparum terhadap kina ditemukan di 6 propinsi,
terhadap mefloquin di 5 propinsi dan resistensi terhadap amodiaquin di 4 propinsi. Resistensi P.vivax
terhadap klorokuin pertama kali dilaporkan di Sumatra Utara (Pulau Nias 13%) tahun 1991, Irian jaya (4
1%), NTT (8%), Sulawesi Utara (2%) (Tjitra, 1997).

2001).1%). Klorokuin juga dapat mempengaruhi fungsi vakuola makanan parasit dengan cara inhibisi aktivitas protease aspartik dan sistein dimana sehingga proses pencernaan hemoglobin tidak terjadi. Kasus kegagalan sulfadoksin pirimetamin terhadap P. dan selanjutnya mengalami metabolisme menjadi heme dan globin. Terdapat tiga faktor yang menimbulkan resistensi yaitu faktor operasional (dosis subterapeutik dan kepatuhan penderita). Klorokuin telah terbukti dapat berikatan dengan heme bebas sehingga dapat menghambat proses polimerisasi dan menyebabkan kematian parasit. falciparum dilaporkan di Purworejo tahun 2002 dengan kriteria gagal pengobatan kasep (Late Paracitological Failure 7. Klorokuin secara kimiawi merupakan basa lemah sehingga terjadi peningkatan pH vakuolar di atas pH optimum untuk aktivitas protease (Borst dan Ouellette. Gen pfcrt yang terletak pada kromosom 7 dari parasit malaria telah ditunjukkan berkaitan secara jelas dengan pewarisan sifat resistensi klorokuin pada uji silang genetik (Wellems dan Plowe. Pirimetamin dan proguanil menghambat aktivitas enzim dihydrofolate reductase (dhfr) pada sistem biosintesis folat parasit malaria melalui kompetisi perikatan. maka terapi kombinasi anti malaria rasional sangat dianjurkan. Menurut Borst dan Ouellette (1995). Hemoglobin dicerna di dalam vakuola makanan. Heme yang bebas bersifat toksik terhadap parasit.8%) dan kriteria gagal pengobatan dini (Early Treatment Failure sebesar 9. Sulfadoksin menghambat aktivitas . falciparum yang berkaitan dengan resistensi terhadap klorokuin. falciparum terhadap sulfadoksin pirimetamin. tetapi parasit memiliki sistem detoksifikasi heme melalui polimerisasi menjadi bentuk hemozoin.3 % dan Late Clinical Failure 1. 1995). 2009). Sebagaimana diketahui parasit malaria memerlukan asam amino untuk sintesis protein. Terdapat dua mekanisme utama yang berperan pada proses resistensi : 1-Perubahan Transport Obat Fenomena timbulnya perubahan pada sistem transport obat dapat dilihat pada resistensi parasit terhadap obat-obat golongan kuinolin. Untuk mencegah dan memperlambat laju resistensi. Berbagai riset molekuler dalam beberapa dasawarsa terakhir telah mengidentifikasi beberapa gen pada P. sulfa dan analog koenzim Q. Mekanisme resistensi Mekanisme resistensi plasmodium terhadap obat anti malaria dapat dijelaskan bahwa pada dasarnya resistensi parasit terhadap suatu obat anti malaria timbul sebagai akibat sasaran obat pada tingkat molekul atau mempengaruhi akses obat terhadap sasarannya pada parasit malaria (Syafruddin. faktor farmakologik. 2Perubahan Afinitas Perikatan Enzim. faktor transmisi malaria (intensitas malaria. drug pressure dan imunitas). mekanisme perubahan afinitas perikatan enzim mencakup resistensi terhadap obat-obat golongan antifolat. karena memiliki kemiripan struktur.Hasil Studi di Jawa Tengah yang dilakukan NAMRU tahun 2000 melaporkan kegagalan pengobatan atau resistensi P. Hemoglobin adalah suatu protein yang sangat melimpah di sitoplasma eritrosit dan berfungsi sebagai sumber utama asam amino untuk parasit.

E. Refference.. 2008..8 dihidropteroat. salah satu subtrat yang dibutuhkan pada proses pembentukan 7. ditandai dengan menetapnya atau timbulnya kembali parasit aseksual di darah perifer dengan atau tanpa disertai gejala klinis malaria. Terdpat beberapa implikasi klinis resistensi plasmodium. EGC  Tjitra. Di samping itu. 2004. akan meningkatkan gametocyte cariage yang merupakan sumber (reservoir) penularan. Peningkatan kasus malaria dengan anemia menambah beban biaya pemberantasan malaria. New Mechanisms of Drug Resistance in Parasitic Protozoa. Parasitologi Kedokteran FKUI Press  Syafruddin.. 2010. Semakin banyak kegagalan pengobatan atau tertundanya kesembuhan pada pengobatan awal. W. Guidlines for The Treatment of Malaria. antara lain munculnya kasus malaria baru. P. Resistensi terhadap obat anti malaria yang diberikan.  Sutanto. beberapa riset yang bertujuan untuk mengungkapkan dasar molekuler resistensi Plasmodium terhadap obat-obat sulfa telah menemukan beberapa alel mutan gen dhps yang berkaitan dengan resistensi tersebut. I. and Oullette M.enzim dihydropteroate synthetase (dhps) karena memiliki struktur yang mirip dengan para-amino benzoic acid (PABA).. waktu rekrudesensi akan semakin pendek atau semakin cepat terdeteksi parasitemia aseksualnya yang berarti semakin beratnya derajat resistensi parasit tersebut. D. Mutasi pada gen dhfr dan dhps yang menyandi masing-masing enzim secara berturut dhfr dan dhps telah dibuktikan menyebabkan perubahan afinitas perikatan enzim-enzim tersebut. 2009. epidemi atau KLB serta terjadinya kegagalan pengobatan. Menurut Syafruddin (2009). kegagalan pengobatan karena parasit resisten seringkali mengakibatkan terjadinya komplikasi atau penyakit menjadi berat. Apabila keadaan ini tidak diatasi. . kegagalan pengobatan yang berulang akibat parasit resisten obat dapat mengakibatkan anemia. bahkan seringkali mengakibatkan KLB bahkan epidemi. meskipun parasit membawa gen dhps yang mengalami mutasi dan dapat mengganggu aktivitas enzim tersebut. Menurut Tjitra ( 2004). dan bahkan tidak jarang menimbulkan kematian. keadaan masih dapat diatasi oleh parasit dengan menggunakan folat endogen.. Dasar Molekul Resistensi Parasit terhadap Obat Antimalaria. Pengobatan Malaria dengan Kombinasi Artemisinin. antara lain :  Borst. Hal ini memungkinkan semakin banyak orang terinfeksi malaria. munculnya kembali malaria di daerah yang telah diberantas. Kemampuan Plasmodium untuk memintas (bypass) aktivitas enzim dhps pada sistem biosintesis folat dengan menggunakan folat endogen merupakan faktor yang dapat mempengaruhi resistensi. Oleh karena itu. Pribadi.  WHO. 1995.

Pedoman Penatalaksanaan Kasus Malaria di Indonesia. Depkes RI. . 2008.