You are on page 1of 63

RUMUS LENGKAP

KIMIA SMA

SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM

Page 1

BAB 1
MATERI
MENENTUKAN KADAR ZAT DALAM CAMPURAN
1. PROSENTASE MASSA
% massa = massa komponen x 100 %
massa campuran
2. PROSENTASE VOLUME
% volume = volume komponen x 100 %
volume campuran
3. BAGIAN PER SEJUTA / bpj ( Part Per Million / ppm ) MASSA
bpj massa = massa komponen x 106
massa campuran
4. BAGIAN PER SEJUTA / bpj ( Part Per Million / ppm ) VOLUME
bpj volume = volume komponen x 106
volume campuran

PERUBAHAN MATERI
1. PERUBAHAN FISIKA
► Tidak terjadi perubahan permanen pada susunan zat dan jenis zat, yang berubah hanya
sifat fisiknya saja.
2. PERUBAHAN KIMIA
► Terjadi perubahan sifat : ada endapan, suhu berubah, ada gelembung gas, warna
berubah.
► Terjadi perubahan susunan zat.
► Terbentuk zat baru dengan sifat yang sama sekali berbeda dengan sifat zat asalnya
(perubahan sifat permanen).

SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM

Page 2

BAB 2
ATOM dan STRUKTUR ATOM
JENIS ATOM
► Atom Netral = Atom yang tidak bermuatan listrik
proton
elektron
netron

= nomor atom
= nomor atom
= massa atom – nomor atom

► Kation = Atom bermuatan positif
proton
elektron
netron

= nomor atom
= nomor atom – muatan
= massa atom – nomor atom

► Anion = Atom bermuatan negatif
proton
elektron
netron

= nomor atom
= nomor atom + muatan
= massa atom – nomor atom

BILANGAN KUANTUM
Bilangan yang menentukan letak keberadaan elektron suatu atom.
a. Bilangan kuantum utama ( n )
menyatakan nomor kulit tempat terdapatnya elektron, jenisnya :
K ( n = 1 ), L ( n = 2 ), M ( n = 3 ), N ( n = 4 ), dst.
b. Bilangan kuantum azimuth ( ℓ )
menyatakan sub kulit tempat terdapatnya elektron, jenisnya :
s = sharp
nilai ℓ = 0
d = diffuse
nilai ℓ = 2
p = principal nilai ℓ = 1
f = fundamental
nilai ℓ = 3
ℓ = 0 ( sharp )
ℓ = 0 ( sharp )
ℓ = 1 ( principal )
Untuk n = 3
Î ℓ = 0 ( sharp )
ℓ = 1 ( principal )
ℓ = 2 ( diffuse )
Untuk n = 4
Î ℓ = 0 ( sharp )
ℓ = 1 ( principal )
ℓ = 2 ( diffuse )
ℓ = 3 ( fundamental )
c. Bilangan kuantum magnetik ( m )
menyatakan orbital tempat terdapatnya elektron, jenisnya :
Untuk ℓ = 0
Î m=0
Untuk ℓ = 1
Î m = –1
m=0
m = +1
Untuk ℓ = 2
Î m = –2
m = –1
m=0
m = +1
Untuk n = 1
Untuk n = 2

Î
Î

SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM

Page 3

m = +2 SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 4 .

Aturan Aufbau : Elektron-elektron mengisi orbital dari tingkat energi terendah baru tingkat energi yang lebih tinggi Aturan Hund : Elektron-elektron tidak membentuk pasangan elektron sebelum masingmasing orbital terisi sebuah elektron Larangan Pauli : Tidak diperbolehkan di dalam atom terdapat elektron yang mempunyai keempat bilangan kuantum yang sama Diagram di bawah ini adalah cara untuk mempermudah menentukan tingkat energi orbital dari yang terendah ke yang lebih tinggi yaitu : 1s Urutannya adalah: 2s 2p 3s 3p 3d 4s 4p 4d 4f 5s 5p 5d 5f 6s 6p 6d 6f 7s 7p 7d 7f 1s 2s 2p 3s 3p 4s 3d 4p 5s 5p 6s 4f 5d 6p 7s 5f 6d 7p SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM 4d Page 5 . Jenisnya : + ½ dan – ½ untuk setiap orbital ( setiap harga m ) q = +½ r = –½ qr MENENTUKAN LETAK ELEKTRON Untuk menentukan letak elektron maka perlu mengikuti aturan-aturan tertentu yang sudah ditetapkan.Untuk ℓ = 3 m = –3 m = –2 m = –1 m=0 m = +1 m = +2 m = +3 Suatu orbital dapat digambarkan sebagai berikut : s 0 Î p –1 d f – –1 0 +1 2 +2 0 +1 – 3 –2 –1 0 +1 +2 +3 nilai m d. Bilangan kuantum spin ( s ) menyatakan arah elektron dalam orbital.

Sedangkan sifat unsur yang meliputi : ► Potensial ionisasi ( energi ionisasi ) ► Afinitas elektron ► Keasaman ► Kenon-logaman ► Keelektronegatifan ( maksimal di golongan VIIA ) ► Kereaktifan negatif SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 6 . Semakin ke kanan cenderung semakin kecil.BAB 3 SISTEM PERIODIK UNSUR Golongan Utama (Golongan A) Golongan Utama IA IIA IIIA IVA VA VIA VIIA VIIIA Elektron Valensi ns1 ns2 ns2 np1 ns2 np2 ns2 np3 ns2 np4 ns2 np5 ns2 np6 Nama Golongan Alkali Alkali Tanah Boron Karbon Nitrogen Oksigen / Kalkogen Halogen Gas Mulia Golongan Transisi (Golongan B) Golongan Transisi IB IIB IIIB IVB VB VIB VIIB VIIIB VIIIB VIIIB Elektron Valensi (n-1)d10 ns1 (n-1)d10 ns2 (n-1)d1 ns2 (n-1)d2 ns2 (n-1)d3 ns2 (n-1)d5 ns1 (n-1)d5 ns2 (n-1)d6 ns2 (n-1)d7 ns2 (n-1)d8 ns2 SIFAT PERIODIK UNSUR Sifat unsur yang meliputi : ► Jari-jari atom ► Jari-jari kation ► Kebasaan ► Kelogaman ► Keelektropositifan ► Kereaktifan positif Mempunyai kecenderungan seperti yang digambarkan di bawah ini : Semakin ke bawah cenderung semakin besar.

► Keasaman oksi SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 7 .

Semakin ke kanan cenderung semakin besar. SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 8 .Mempunyai kecenderungan seperti yang digambarkan di bawah ini : Semakin ke bawah cenderung semakin kecil.

IKATAN VAN DER WAALS a. b. 3. ► Ada perbedaan suhu tinggi dan sangat polar di antara molekul-molekulnya. Gaya dispersi (gaya London) ► Terjadi gaya tarik menarik antara molekul-molekul non polar yg terkena aliran elektron (dipol sesaat) dengan molekul non polar disebelahnya yang terpengaruh (dipol terimbas) yang berdekatan. IKATAN LOGAM ► Ikatan ion logam dengan ion logam dengan bantuan kumpulan elektron sebagai pengikat atom-atom positif logam. 5.BAB 4 IKATAN dan SENYAWA KIMIA 1. IKATAN KOVALEN ( HOMOPOLAR ) ► Ikatan atom unsur non logam dengan atom unsur non logam. Gaya Tarik dipol ► Gaya tarik antara molekul-molekul kutub positif dengan kutub negatif. 4. ► Unsur logam melepas elektron dan memberikan elektronnya pada unsur non logam. ► Pemakaian bersama elektron dari salah satu unsur. IKATAN HIDROGEN ► Terjadi antara atom H dari suatu molekul dengan atom F atau atom O atau atom N pada molekul lain.dipol terimbas. ► Gaya tarik antar molekulnya lebih kuat dari gaya tarik antara molekul dipol sesaat . 6. 2. ► Gaya tarik antar molekulnya relatif lemah. IKATAN KOVALEN KOORDINATIF(DATIV) ► Ikatan atom unsur non logam dengan atom unsur non logam. ► Ikatannya membentuk kristal logam. IKATAN ION ( IKATAN ELEKTROVALEN / HETEROPOLAR ) ► Ikatan atom unsur logam (atom elektropositif) dengan atom unsur non logam (atom elektronegatif). BENTUK GEOMETRI MOLEKUL Berbagai kemungkinan bentuk molekul : Jumlah pasangan elektron atom pusat 4 4 4 5 5 5 5 6 6 Pasangan elektron terikat Pasangan elektron bebas Bentuk molekul Contoh 4 3 2 5 4 3 2 6 5 0 1 2 0 1 2 3 0 1 Tetrahedron Segitiga piramid Planar V Segitiga bipiramid Bidang empat Planar T Linear Oktahedron Segiempat piramid CH4 NH3 H2O PCl5 SF4 IF3 XeF2 SF6 IF5 SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 9 . ► Pemakaian bersama elektron dari kedua unsur tersebut.

6 4 2 SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Segiempat planar XeF4 Page 10 .

Berbagai kemungkinan hibridisasi dan bentuk geometri orbital hibridanya sebagai berikut : Orbital Jumlah ikatan Bentuk geometrik hibrida sp 2 Linear sp2 3 Segitiga datar samasisi sp3 4 Tetrahedron sp2d 4 Persegi datar sp3d 5 Segitiga Bipiramidal sp3d2 6 Oktahedron SIFAT SENYAWA ION dan SENYAWA KOVALEN Sifat Titik didih & titik leleh Volatilitas Kelarutan dalam air Kelarutan dalam senyawa organik Daya hantar listrik (padat) Daya hantar listrik (lelehan) Daya hantar listrik (larutan) Senyawa Ion Relatif tinggi Tidak menguap Umumnya larut Tidak larut Senyawa Kovalen Relatif rendah Mudah menguap Tidak larut Larut Tidak menghantar menghantar menghantar menghantar menghantar sebagian menghantar SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 11 .HIBRIDISASI Proses pembentukan orbital karena adanya gabungan (peleburan) dua atau lebih orbital atom dalam suatu satuan atom.

Hukum Proust ( Ketetapan Perbandingan ) Menyatakan dalam suatu senyawa perbandingan massa unsur-unsur penyusunnya selalu tetap. Ar X1 + % kelimpahan X2 . maka untuk massa unsur A yang tetap. Hukum Dalton ( Perbandingan Berganda ) Jika unsur A dan unsur B membentuk lebih dari satu macam senyawa. oleh karena itu kita dapat menentukan massa atom relatifnya dengan rumus: Untuk 2 jenis isotop : Ar X = % kelimpahan X1. Ar X2 + % kelimpahan X3 . (RE)x = Massa Molekul Relatif x = faktor pengali Rumus Empiris HUKUM-HUKUM DASAR KIMIA 1. Rumus Molekul Adalah rumus kimia yang menyatakan jumlah sesungguhnya atom-atom dalam suatu susunan molekul. Mol = massa rA atau Mol = massa Mr 1. 3. Ar X1 + % kelimpahan X2 . Ar X2 100% Untuk 3 jenis isotop : Ar X = % kelimpahan X1.BAB 5 STOIKIOMETRI MASSA ATOM RELATIF Ar unsur A = massa satu atom unsur A 1 12 massa satu atom 12 C Menentukan massa atom relatif dari isotop-isotop di alam Di alam suatu unsur bisa di dapatkan dalam 2 jenis atau bahkan lebih isotop. Ar X3 100% MASSA MOLEKUL RELATIF Mr senyawa AB = massa satu molekul senyawa AB 1 12 massa satu atom 12 C Menentukan mol sebagai perbandingan massa zat dengan Ar atau perbandingan massa zat dengan Mr. massa unsur B dalam senyawanya berbanding sebagai bilangan bulat SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 12 . mol A : mol B : mol C 2. Hukum Lavoisier ( Kekekalan Massa ) Menyatakan bahwa massa zat sebelum reaksi sama dengan massa zat setelah reaksi. Rumus Empiris Adalah rumus kimia yang menyatakan perbandingan paling sederhana secara numerik antara atom-atom penyusun molekul suatu zat. 2.

sederhana. SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 13 .

koefisien gasA n gas = volume gasA A = koefisi B en gas B n gas volume gas B RUMUS GAS DALAM BERBAGAI KEADAAN ► Dalam keadaan standar ( Standard Temperature and Pressure ) atau ( 0oC. 1atm ): 1 mol gas = 22. gas-gas dalam volume sama akan mempunyai jumlah molekul yang sama jika diukur pada suhu dan tekanan yang sama.mol ) suhu absolut ( Kelvin ) = 0.4 liter ► Dalam keadaan ruang ( 25 oC. 2. 1atm) berlaku : 1 mol gas = 24 liter ► Rumus Gas Ideal Berlaku untuk gas dalam setiap keadaan : PV=nRT P = V = n = R = T = tekanan gas ( atm ) volume gas ( dm3 atau liter ) mol gas ( mol ) tetapan gas ( liter.HUKUM-HUKUM KIMIA UNTUK GAS 1.atm/K. Hukum Avogadro Dalam suatu reaksi kimia. Hukum Gay Lussac ( Perbandingan Volume ) Volume gas-gas yang bereaksi dengan volume gas-gas hasil reaksi akan berbanding sebagai bilangan (koefisien) bulat sederhana jika diukur pada suhu dan tekanan yang sama. SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 14 . volume gas koefisien gasA A = koefisi en gas volume gas B B Hukum Gay Lussac tidak menggunakan konsep mol.08205 = oC + 273 Rumus ini biasanya digunakan untuk mencari volume atau tekanan gas pada suhu tertentu di luar keadaan standard atau keadaan ruang.

Sehingga konsentrasi berbanding lurus dengan laju reaksi. tidak bisa hanya dilihat dari koefisien reaksinya. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LAJU REAKSI 1. Suhu Suhu juga berbanding lurus dengan laju reaksi karena bila suhu reaksi dinaikkan maka laju reaksi juga semakin besar. Luas permukaan bidang sentuh berbanding lurus dengan laju reaksi. Adapun persamaan laju reaksi untuk reaksi: aA + bn Æ cC + dD. Konsentrasi Bila konsentrasi bertambah maka laju reaksi akan bertambah. V1 Laju mula-mula Laju setelah kenaikan suhu Suhu mula-mula Suhu akhir Bila besar laju 3 kali semula maka (2) diganti (3) ! Bila laju diganti waktu maka (2) menjadi (½) 4. tΔ −Δ[Q] atau. Umumnya setiap kenaikan suhu sebesar 10oC akan memperbesar laju reaksi dua sampai tiga kali. Laju reaksi adalah : −Δ[P] atau. 2. Pada reaksi yang berlangsung cepat orde reaksi bukan koefisien masing-masing zat. 3. maka berlaku rumus : T2 T − V2 = (2) V1 V2 T1 T2 Catatan = = = = : 1 10 . ► berkurangnya konsentrasi Q tiap satuan waktu Î VQ = tΔ [P + Q] Δ ► bertambahnya konsentrasi PQ tiap satuan waktu Î VPQ = tΔ ► berkurangnya konsentrasi P tiap satuan waktu Î VP = PERSAMAAN LAJU REAKSI Persamaan laju reaksi hanya dapat dijelaskan melalui percobaan.BAB 6 LAJU REAKSI LAJU REAKSI Jadi jika ada suatu persamaan aP + bQ Æ cPQ. maka. adalah : V = k [A]m[B]n V = laju reaksi [B] = konsentrasi zat B k = konstanta laju reaksi m = orde reaksi zat A [A] = konsentrasi zat A n = orde reaksi zat B Catatan. Katalisator Adalah suatu zat yang akan memperlaju ( katalisator positif ) atau memperlambat SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 15 . Luas permukaan bidang sentuh Semakin luas permukaan bidang sentuhnya maka laju reaksi juga semakin bertambah.

Artinya bila proses reaksi selesai zat ini akan kembali sesuai asalnya. SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 16 .( katalisator negatif=inhibitor )reaksi tetapi zat ini tidak berubah secara tetap.

Satuan entalpi adalah joule atau kalori Î (1 joule = 4.BAB 7 TERMOKIMIA Skema reaksi Endoterm: kalor kalor kalor SISTEM LINGKUNGAN kalor ∆ H = H hasil – H pereaksi. JENIS-JENIS ENTALPI 1. Entalpi Pembentukan (Hf) Kalor (energi) yang dibutuhkan atau dilepas pada peristiwa pembentukan 1 mol senyawa dari unsur-unsur pembentuknya. 2. dengan H hasil > H pereaksi Cara penulisan Reaksi Endoterm : ► A + B + kalor Æ ► A + B Æ ► A + B Æ AB AB AB – kalor ∆ H = positif kalor Skema reaksi Eksoterm: kalor SISTEM kalor LINGKUNGAN kalor ∆ H = H hasil – H pereaksi. Entalpi Penguraian (Hd) Kalor (energi) yang dibutuhkan atau dilepas pada peristiwa penguraian 1 mol senyawa SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 17 . dengan H pereaksi > H hasil Cara penulisan Reaksi Eksoterm: ► A + B – kalor ► A + B ► A + B Æ Æ Æ AB AB AB + kalor ∆ H = negatif ENTALPI Jumlah energi total yang dimiliki oleh suatu sistem.18 kalori). energi ini akan selalu tetap jika tidak ada energi lain yang keluar masuk.

SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 18 .menjadi unsur-unsur pembentuknya.

Untuk menentukan besar entalpi jika diketahui energi ikatan rata-rata dapat digunakan rumus: ∆H = Σ energi ikatan pemutusan – Σ energi ikatan pembentukan Adapun data energi ikatan beberapa molekul biasanya disertakan dalam soal. Energi Atomisasi Energi yang dibutuhkan untuk memutus molekul kompleks dalam 1 mol senyawa menjadi atom-atom gasnya. Perhatikan: C(s) + ½ O2(g) Æ CO (g) ∆H = –A kJ/mol C(s) + O2(g) Æ CO2(g) ∆H = –B kJ/mol CO (g) + ½ O2(g) Æ CO2(g) ∆H = –C kJ/mol reaksi di balik menjadi: C(s) CO2(g) CO (g) + Æ + ½ O2(g) C(s) ½ O2(g) Æ + Æ CO (g) O2(g) CO2(g) Menurut Hukum Hess. Energi Ikatan Rata-rata Energi rata-rata yang dibutuhkan untuk memutuskan 1 mol senyawa gas menjadi atomatomnya. Berdasarkan Kalorimetri Dengan menggunakan rumus q m c : kalor reaksi : massa zat pereaksi : kalor jenis air SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 19 . untuk memutuskan kedua ikatan ini diperlukan energi sebesar 924 kJ tiap mol. Berdasarkan Energi Ikatan Energi ikatan adalah energi yang dibutuhkan untuk memutuskan ikatan antar atom tiap mol suatu zat dalam keadaan gas. maka 1 ikatan O – H mempunyai energi ikatan rata-rata 462 kJ. Berdasarkan Hukum HESS Perubahan enthalpi yang terjadi pada suatu reaksi hanya tergantung pada keadaan mulamula dan keadaaan akhir reaksi. jadi tidak tergantung pada proses reaksinya. MENGHITUNG ENTALPI 1. ∆ H atomisasi = Σ energi ikatan ∆T : suhu akhir – suhu mula-mula 4. Misal molekul air mempunyai 2 ikatan O – H yang sama. Berdasarkan Data Entalpi pembentukan (Hf) Dengan menggunakan rumus : ∆H = H hasil reaksi – H pereaksi 2. pada reaksi di atas : ∆H = –A kJ/mol ∆H = +B kJ/mol ∆H = –C kJ/mol ∆ H reaksi = – A + B – C 3.3. Entalpi Pembakaran (Hc) Kalor (energi) yang dibutuhkan atau dilepas pada peristiwa pembakaran 1 mol senyawa atau 1 mol unsur.

q = m. c. ∆T SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 20 .

Tetapan kesetimbangan dapat dinyatakan dalam: ► Tetapan Kesetimbangan Konsentrasi (Kc) ► Tetapan Kesetimbangan Tekanan (Kp) Misal dalam suatu reaksi kesetimbangan: pA + qB ⇔ rC + sD Maka di dapatkan tetapan kesetimbangan sebagai berikut: Tetapan Kesetimbangan Konsentrasi: Kc = r s p q [C] [D] Tetapan Kesetimbangan Tekanan: [A] [B] r C Kp = A s (P ) (P ) D p q (P ) (P ) B HUBUNGAN Kc dan Kp Kp = Kc ( RT )∆n ∆n = jumlah koefisien kanan – jumlah koefisien kiri TETAPAN KESETIMBANGAN REAKSI YANG BERKAITAN Misalkan suatu persamaan : aA + bB ⇔ cAB + bB Kc = K1 maka : cAB ⇔ aA Kc = 1 K1 ½aA + ½bB ⇔ ½cAB Kc = K1½ 2aA + 2bB ⇔ 2cAB Kc = K12 2cAB ⇔ 2aA + 2bB Kc = 1 2 2 K1 DERAJAT DISOSIASI Derajat disosiasi adalah jumlah mol suatu zat yang mengurai di bagi jumlah mol zat sebelum mengalami penguraian. α= jumlah mol zat terurai jumlah mol zat semula PERGESERAN KESETIMBANGAN Suatu sistem walaupun telah setimbang sistem tersebut akan tetap mempertahankan kesetimbangannya apabila ada faktor-faktor dari luar yang mempengaruhinya. SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 21 .BAB 8 KESETIMBANGAN KIMIA TETAPAN KESETIMBANGAN Adalah perbandingan komposisi hasil reaksi dengan pereaksi pada keadaan setimbang dalam suhu tertentu.

Perubahan volume ► Apabila volume dalam sistem kesetimbangan diperbesar maka kesetimbangan bergeser ke arah zat-zat yang mempunyai koefisien besar.Menurut Le Chatelier : Apabila dalam suatu sistem setimbang diberi suatu aksi dari luar maka sistem tersebut akan berubah sedemikian rupa supaya aksi dari luar tersebut berpengaruh sangat kecil terhadap sistem. Perubahan suhu ► Apabila suhu reaksi dinaikkan atau diperbesar maka kesetimbangan akan bergeser ke zat-zat yang membutuhkan panas (ENDOTERM) ► Sebaliknya jika suhu reaksi diturunkan kesetimbangan akan bergeser ke zat-zat yang melepaskan panas (EKSOTERM) SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 22 . 3. Perubahan konsentrasi ► Apabila salah satu konsentrasi zat diperbesar maka kesetimbangan mengalami pergeseran yang berlawanan arah dengan zat tersebut. ► Apabila volume dalam sistem kesetimbangan tersebut diperkecil maka kesetimbangan bergeser ke arah zat-zat yang mempunyai koefisien kecil. ► Apabila tekanan dalam sistem kesetimbangan tersebut diperkecil maka kesetimbangan bergeser kearah zat-zat yang mempunyai koefisien besar. jika koefisien zat-zat di kiri ( pereaksi ) dan kanan ( hasil reaksi ) sama maka tidak terjadi pergeseran kesetimbangan 4. ► Apabila konsentrasi diperkecil maka kesetimbangan akan bergeser ke arahnya. Perubahan tekanan ► Apabila tekanan dalam sistem kesetimbangan diperbesar maka kesetimbangan bergeser ke arah zat-zat yang mempunyai koefisien kecil. 2. Hal-hal yang menyebabkan terjadinya pergeseran: Perubahan sistem akibat aksi dari luar = Pergeseran Kesetimbangan 1. Catatan : Untuk perubahan tekanan dan volume.

Vn Mc M1 M2 Mn = = = = molaritas campuran molaritas zat 1 molaritas zat 2 molaritas zat n SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Vc V1 V2 Vn = = = = volume campuran volume zat 1 volume zat 2 volume zat n Page 23 .V2 + … + Mn. m= massa t M m massat massap Mr = = = = 1000 x r t massa (gram) p Molalitas massa zat terlarut massa pelarut massa molekul relatif zat terlarut 2. MOLALITAS Menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam 1 kg (1000 gram) pelarut. Gilbert Newton Lewis ► Asam = suatu zat yang bertindak sebagai penerima (akseptor) pasangan elektron.V1 + M2.BAB 9 TEORI ASAM-BASA dan KONSENTRASI LARUTAN TEORI ASAM-BASA 1. MOLARITAS Menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam 1 liter (1000 mililiter) larutan. ► Basa = suatu zat yang bertindak sebagai pemberi (donor) pasangan elektron. Svante August Arrhenius ► Asam = senyawa yang apabila dilarutkan dalam air menghasilkan ion hidrogen (H+) atau ion hidronium (H3O+) ► Basa = senyawa yang apabila dilarutkan dalam air menghasilkan ion hidroksida (OH–) 2. + Basa + H+ Æ Asam Konjugasi Asam Æ Basa Konjugasi + H 3. KONSENTRASI LARUTAN 1. Vc = M1. ► Basa = zat yang bertindak sebagai akseptor proton (menerima proton) dari asam. Johanes Bronsted dan Thomas Lowry ( Bronsted-Lowry ) ► Asam = zat yang bertindak sebagai pendonor proton (memberikan proton) pada basa. 1000 M = massat x M tr volume (mililiter) M massat volume Mr = Molaritas = massa zat terlarut = volume larutan = massa molekul relatif zat terlarut Pada campuran zat yang sejenis berlaku rumus: Mc.

gunakan rumus: [H+] = Konsentrasi Asam Kuat x Valensi Asam SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 24 . Bila keduanya habis gunakan rumus HIDROLISIS: [H+] = Kw x Konsentrasi KATION Garam Kb 2. gunakan rumus: [H+] = Konsentrasi Asam Kuat x Valensi Asam 3.Pada pengenceran suatu zat berlaku rumus: M1. Bila Asam Kuat bersisa. gunakan rumus: [OH–] = Konsentrasi Basa Kuat x Valensi Basa ASAM KUAT + BASA LEMAH 1. Bila Basa Kuat bersisa. Bila keduanya habis. Bila Asam Kuat bersisa. Xt = np Xp = nt + np nt nt + np Xt + Xp = 1 Xt Xp nt np = = = = fraksi mol zat terlarut fraksi mol pelarut mol zat terlarut mol pelarut MENGHITUNG pH LARUTAN Untuk menghitung pH larutan kita gunakan persamaan-persamaan dibawah ini : pH = –log [H+] atau pH = 14 – pOH pOH = –log [OH–] Untuk mencari [H+] dan [OH–] perhatikan uraian dibawah ini ! ASAM KUAT + BASA KUAT 1. V1 = M2.V2 M1 M2 V1 V2 = = = = molaritas zat mula-mula molaritas zat setelah pengenceran volume zat mula-mula volume zat setelah pengenceran 3. gunakan rumus: pH larutan = 7 ( netral ) 2. FRAKSI MOL Menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam jumlah mol total larutan atau menyatakan jumlah mol pelarut dalam jumlah mol total larutan.

gunakan rumus BUFFER: [OH–] = Kb x Konsentrasi sisa Basa Lemah Konsentrasi Garam ASAM LEMAH + BASA KUAT 1. Bila Asam Lemah bersisa. gunakan rumus: 3.3. gunakan rumus: [OH–] = Konsentrasi Basa Kuat x Valensi Basa 3. Bila Basa Lemah bersisa. Bila Basa Lemah bersisa. gunakan rumus BUFFER: Konsentrasi sisa [H+] = Ka x Asam Lemah Konsentrasi Garam ASAM LEMAH + BASA LEMAH 1. Bila Asam Lemah bersisa. gunakan rumus: SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM [H+] = [OH–] = Ka x Konsentrasi Asam Lemah Kb x Konsentrasi Basa Lemah Page 25 . Bila keduanya habis gunakan rumus HIDROLISIS: [OH–] = Kw x Konsentrasi ANION Garam Ka 2. Bila keduanya habis gunakan rumus HIDROLISIS: [H+] = Kw x Ka Kb 2. Bila Basa Kuat bersisa.

Jika Q < Ksp Î elektrolit belum mengendap / masih melarut Jika Q = Ksp Î larutan akan tepat jenuh Jika Q > Ksp Î elektrolit mengendap SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 26 . HASILKALI KELARUTAN Hasilkali kelarutan ( Ksp ) adalah hasil perkalian konsentrasi ion-ion dalam suatu larutan jenuh zat tersebut. atau mengendap. perhatikan catatan berikut. Di mana konsentrasi tersebut dipangkatkan dengan masing-masing koefisiennya. pada kondisi tepat jenuh. HCl Æ H+ + Cl– Ksp HCl = s2 Î s = Ksp s s 2– s Ksp = [2s]2 s = 4 s3 Î s = H2SO4 Æ 2 H+ + SO 4 s 3– 2s 4 3s Ksp 4 s Ksp = [3s]3 s = 27 s4 Î s = H3PO4 Æ 3 H+ + PO s 3 4 Ksp 27 s MEMPERKIRAKAN PENGENDAPAN LARUTAN Apabila kita membandingkan Hasilkali konsentrasi ion (Q) dengan Hasilkali kelarutan (Ksp) maka kita dapat memperkirakan apakah suatu larutan elektrolit tersebut masih larut.BAB 10 KELARUTAN dan HASILKALI KELARUTAN KELARUTAN Kelarutan ( s ) adalah banyaknya jumlah mol maksimum zat yang dapat larut dalam suatu larutan yang bervolume 1 liter.

Penurunan Titik Beku (∆Tf) ∆Tf = Tfpel – Tflar ∆Tf = Kf . dll 1. Sukrosa (C12H22O11).08205 Suhu mutlak = ( oC + 273 ) K SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 27 . Po ∆P Po P Xt Xp = = = = = Penurunan tekanan uap Tekanan Uap Jenuh pelarut murni Tekanan Uap Jenuh larutan Fraksi mol zat terlarut Fraksi mol pelarut 2. Po P = Xp .R. Penurunan Tekanan Uap (∆P) ∆P = Po – P ∆P = Xt .BAB 11 SIFAT KOLIGATIF LARUTAN SIFAT KOLIGATIF LARUTAN NON ELEKTROLIT Contoh larutan non elektrolit: Glukosa (C6H12O6). Urea (CO(NH2)2). Tekanan Osmotik (π) π=M. Kenaikan Titik Didih (∆Tb) ∆Tb = Tblar – Tbpel ∆Tb = Kb . m ∆Tf Tfpel Tflar Kb m = = = = = Penurunan Titik Beku Titik Beku pelarut Titik Beku larutan tetapan Titik Beku Molal pelarut Molalitas larutan 4. m ∆Tb Tblar Tbpel Kb m = = = = = Kenaikan Titik Didih Titik Didih larutan Titik Didih pelarut tetapan Titik Didih Molal pelarut Molalitas larutan 3.T π M R T = = = = Tekanan Osmotik Molaritas larutan Tetapan gas = 0.

Penurunan Tekanan Uap (∆P) ∆P = Po – P ∆P = Xt . Po P = Xp . i ∆Tb Tblar Tbpel Kb m = = = = = Kenaikan Titik Didih Titik Didih larutan Titik Didih pelarut tetapan Titik Didih Molal pelarut Molalitas larutan SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 28 . KOH. H2SO4. dll Untuk larutan elektrolit maka rumus-rumus di atas akan dipengaruhi oleh : i=1+(n–1)α i = Faktor van Hoff n = Jumlah koefisien hasil penguraian senyawa ion α = Derajat ionisasi α untuk asam kuat atau basa kuat = 1 Perhatikan: Larutan NaCl diuraikan: NaCl Æ Na+ + Cl– jumlah koefisien 2 maka: i=1+(2–1)1=2 Larutan Ba(OH)2 diuraikan: Ba(OH)2 Æ Ba2+ + 2 OH– jumlah koefisien 3 maka: i = 1 + ( 3 – 1 ) 1 = 3 Larutan MgSO4 diuraikan: 2– jumlah koefisien 2 maka: i = 1 + ( 2 – 1 ) 1 = 2 MgSO4 Æ Mg2+ + SO 4 1.SIFAT KOLIGATIF LARUTAN ELEKTROLIT Contoh Larutan elektrolit : NaCl. Po Xt = ∆P Po P Xt Xp nt np i = = = = = = = = nt x i (nt x i) + np np Xp = (nt x i) + np Penurunan tekanan uap Tekanan Uap Jenuh pelarut murni Tekanan Uap Jenuh larutan Fraksi mol zat terlarut Fraksi mol pelarut Mol zat terlarut Mol pelarut faktor van Hoff 2. Kenaikan Titik Didih (∆Tb) ∆Tb = Tblar – Tbpel ∆Tb = Kb . CH3COOH. m .

i = faktor van Hoff SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 29 .

Penurunan Titik Beku (∆Tf) ∆Tf = Tfpel – Tflar ∆Tf = Kf .08205 Suhu mutlak = ( oC + 273 ) K faktor van Hoff SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 30 .i π M R T i = = = = = Tekanan Osmotik Molaritas larutan Tetapan gas = 0. m .R. i ∆Tf Tfpel Tflar Kb m i = = = = = = Penurunan Titik Beku Titik Beku pelarut Titik Beku larutan tetapan Titik Beku Molal pelarut Molalitas larutan faktor van Hoff 4.T.3. Tekanan Osmotik (π) π=M.

intan CARA MEMBUAT SISTEM KOLOID Ada dua metode pembuatan sistem koloid : Larutan Kondensasi Koloid SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Dispersi Suspensi Page 31 . gerakan ini sifatnya acak dan tidak berhenti. Gerakan ini hanya dapat diamati dengan mikroskop ultra. Sifat ini digunakan untuk menentukan jenis muatan koloid. Adsorbsi Adsorbsi adalah proses penyerapan bagian permukaan benda atau ion yang dilakukan sistem koloid sehingga sistem koloid ini mempunyai muatan listrik. minyak ikan. bila cahaya itu dipancarkan melalui sistem koloid. Penggumpalan ini karena beberapa faktor antara lain karena penambahan zat kimia atau enzim tertentu. cat. Elektroforesis Elektroforesis adalah suatu proses pengamatan imigrasi atau berpindahnya partikel-partikel dalam sistem koloid karena pengaruh medan listrik. Koagulasi Suatu keadaan di mana partikel-partikel koloid membentuk suatu gumpalan yang lebih besar. Gerak Brown Gerak Brown adalah gerakan dari partikel terdispersi dalam sistem koloid yang terjadi karena adanya tumbukan antar partikel tersebut. opal Gelas warna. debu Busa sabun. sol emas Karet busa. JENIS-JENIS KOLOID No Terdispersi Pendispersi Nama 1 2 3 4 5 6 7 8 Cair Padat Gas Cair Padat Gas Cair Padat Gas Gas Cair Cair Cair Padat Padat Padat Aerosol Cair Aerosol Padat Buih Emulsi Sol Buih Padat Emulsi Padat Sol Padat Contoh Kabut. awan Asap.BAB 12 SISTEM KOLOID LARUTAN homogen dimensi: < 1 nm tersebar merata jika didiamkan: tidak memisah tidak dapat dilihat dengan mikroskop ultra jika disaring: tidak bisa KOLOID heterogen tampak seperti homogen dimensi: 1 nm − 100nm cenderung mengendap jika didiamkan: tidak memisah dapat dilihat dengan mikroskop ultra jika disaring:bisa (saringan membran) SUSPENSI heterogen dimensi: > 100 nm membentuk endapan jika didiamkan: memisah dapat dilihatdengan mikroskop biasa jika disaring:bisa (saringan biasa) SIFAT-SIFAT KOLOID Efek Tyndall Efek Tyndall adalah peristiwa menghamburnya cahaya. krim kocok Susu. santan Tinta. batu apung Mutiara. Sifat adsorbsi koloid digunakan dalam berbagai proses seperti penjernihan air dan pemutihan gula.

OKSIDASI = mengikat Oksigen REDUKSI = melepas Oksigen 2. H2. H2O2) O mempunyai Bilangan Oksidasi = –1. dalam senyawanya dengan logam (misal: NaH. dalam senyawa F2O mempunyai Bilangan Oksidasi = +2. Fe. Reaksi Reduksi = peristiwa pelepasan oksigen oleh suatu senyawa. KH. dalam senyawa lain mempunyai Bilangan Oksidasi = +1. Ca C dll) mempunyai Bilangan Oksidasi = 0 ► F mempunyai Bilangan Oksidasi = –1 SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 32 . dalam senyawa peroksida (misal: Na2O2.BAB 13 REDUKSI OKSIDASI dan ELEKTROKIMIA KONSEP REDUKSI OKSIDASI 1. misalnya : Ag+ = bilangan oksidasinya +1 Cu+ = bilangan oksidasinya +4 Cu2+ = bilangan oksidasinya +2 Na+ = bilangan oksidasinya +1 Fe2+ = bilangan oksidasinya +2 Fe3+ = bilangan oksidasinya +3 Pb2+ = bilangan oksidasinya +2 Pb4+ = bilangan oksidasinya +1 ► Bilangan Oksidasi H dalam H2= 0. Berdasarkan bilangan oksidasi Reaksi Oksidasi adalah meningkatnya bilangan oksidasi Reaksi Reduksi adalah menurunnya bilangan oksidasi OKSIDASI = peningkatan Bilangan Oksidasi REDUKSI = penurunan Bilangan Oksidasi Ada beberapa aturan bilangan oksidasi untuk menyelesaikan persoalan reaksi reduksi oksidasi berdasarkan bilangan oksidasi : ► Atom logam mempunyai Bilangan Oksidasi positif sesuai muatannya. BaH) atom H mempunyai Bilangan Oksidasi = –1. Berdasarkan pengikatan atau pelepasan Elektron Reaksi Oksidasi = peristiwa pelepasan elektron oleh suatu unsur atau senyawa. ► Atom O dalam O2 mempunyai Bilangan Oksidasi = 0. OKSIDASI = melepas Elektron REDUKSI = mengikat Elektron 3. O2. atau bisa dikatakan pengurangan kadar oksigen. ► Unsur bebas (misal :Na. Reaksi Reduksi = peristiwa pengikatan elektron oleh suatu unsur atau senyawa. Berdasarkan pengikatan atau pelepasan Oksigen Reaksi Oksidasi = peristiwa pengikatan oksigen oleh suatu unsur atau senyawa. atau bisa dikatakan penambahan kadar oksigen.

Menyetarakan muatan dengan menambahkan H+ ( suasana asam ) atau OH– ( suasana basa ) 6. Menentukan unsur yang mengalami perubahan bilangan oksidasi 2. Setarakan muatan dengan menambahkan elektron dengan jumlah yang sesuai. ► Jumlah Bilangan Oksidasi total dalam suatu senyawa netral = nol ► Jumlah Bilangan Oksidasi total dalam suatu ion = muatan ionnya MENYETARAKAN REAKSI REDUKSI OKSIDASI 1. bila reaksi oksidasi tambahkan elektron di ruas kanan. ELEKTROKIMIA 1. Setarakan oksigen dan kemudian hidrogen dengan ketentuan Suasana ASAM / NETRAL 3 Tambahkan 1 molekul H2O untuk setiap kekurangan 1 atom oksigen pada ruas yang kekurangan oksigen tersebut 3 Setarakan H dengan menambah ion H+ pada ruas yang lain Suasana BASA 3 Tambahkan 1 molekul H2O untuk setiap kelebihan 1 atom oksigen pada ruas yang kelebihan oksigen tersebut 3 Setarakan H dengan menambah ion OH– pada ruas yang lain 4. Notasi penulisan sel volta: M MA+ LB+ Anoda SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM L Katoda Page 33 .► Ion yang terdiri dari satu atom mempunyai Bilangan Oksidasi sesuai dengan muatannya. Setarakan jumlah elektron kemudian selesaikan persamaan. ► Dalam sel ini berlangsung reaksi redoks di mana katoda ( kutub positif ) dan tempat terjadinya reduksi. Menyetarakan unsur tersebut dengan koefisien yang sesuai 3. Menentukan koefisien yang sesuai untuk menyamakan jumlah perubahan bilangan oksidasi 5. bila reaksi reduksi tambahkan elektron di ruas kiri 5. 2. Menyetarakan atom H dengan menambahkan H2O Bila ada persamaan bukan dalam bentuk reaksi ion usahakan ubah ke dalam bentuk reaksi ion. METODE BILANGAN OKSIDASI (REAKSI ION) Langkah-langkahnya sebagai berikut: 1. METODE SETENGAH REAKSI (ION ELEKTRON) Langkah-langkahnya sebagai berikut : 1. sedangkan anoda ( kutub negatif ) dan tempat terjadinya oksidasi. SEL GALVANI atau SEL VOLTA ► Sel yang digunakan untuk mengubah energi kimia menjadi energi listrik. Setarakan atom unsur yang mengalami perubahan bilangan oksidasi 3. Tuliskan masing-masing setengah reaksinya. 2. misalnya S2–. Menentukan peningkatan bilangan oksidasi dari reduktor dan penu-runan bilangan oksidasi dari oksidator jumlah perubahan bil-oks = jumlah atom x perubahannya 4.Bilangan Oksidasinya = –2.

Elektrolisis Leburan ( Lelehan / Cairan ) Apabila suatu lelehan dialiri listrik maka di katoda terjadi reduksi oksidasi anion. Anion akan teroksidasi di Anoda.M MA+ L LB+ : : : : Logam yang mengalami oksidasi Logam hasil oksidasi dengan kenaikan bil-oks = A Logam hasil reduksi Logam yang mengalami reduksi dengan penurunan bil-oks = B Potensial Elektroda ( E ) Potensial listrik yang muncul dari suatu elektroda dan terjadi apabila elektroda ini dalam keadaan setimbang dengan larutan ion-ionnya. ► Dalam sel ini berlangsung reaksi redoks di mana katoda ( kutub negatif ) dan tempat terjadinya reduksi. Bila diukur pada 25oC. 1 atm: Potensial elektroda = Potensial elektroda standar ( Eo ) Adapun urutan potensial elektroda standar reduksi beberapa logam ( kecil ke besar ) adalah : Li-K-Ba-Ca-Na-Mg-Al-Mn-Zn-Cr-Fe-Cd-Ni-Co-Sn-Pb-(H)-Cu-Hg-Ag-Pt-Au deret Volta Keterangan : ► Li sampai Pb mudah mengalami oksidasi. maka yang tereduksi adalah air ( H2O ): SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 34 . umumnya bersifat reduktor ► Cu sampai Au mudah mengalami reduksi. Atau menunjukkan beda potensial antara elektroda logam dengan elektroda hidrogen yang mempunyai potensial elektroda = 0 volt. Al. dan Mn. KATODA (Reduksi) : Ca2+ + 2e Æ Ca ANODA (Oksidasi) : 2 Cl– Æ Cl2 + 2e Hasil Akhir: Ca2+ + 2 Cl– Æ Ca + Cl2 Elektrolisis Larutan Bila larutan dialiri arus listrik maka berlaku ketentuan sebagai berikut : Reaksi di KATODA ( elektroda – ) ► Bila Kation Logam-logam golongan I A. sedangkan anoda ( kutub positif ) dan tempat terjadinya oksidasi. kation dan di anoda terjadi Jika leburan CaCl2 dialiri listrik maka akan terion menjadi Ca2+ dan Cl– dengan reaksi sebagai berikut : CaCl2 Æ Ca2+ + 2 Cl– Kation akan tereduksi di Katoda. dalam reaksinya akan lebih mudah mengalami oksidasi Potensial Sel = Eo sel dirumuskan sebagai : o o E reduksi – E oksidasi Reaksi dikatakan spontan bila nilai Eo sel = POSITIF SEL ELEKTROLISIS ► Sel yang digunakan untuk mengubah energi listrik menjadi energi kimia. golongan II A. umumnya bersifat oksidator ► Logam yang berada di sebelah kiri logam lain.

2 H2O ( l ) + 2e Æ H2( g ) + 2 OH– ( aq ) SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 35 .

C ) ► Bila Anion sisa asam atau garam oksi seperti SO4 adalah air ( H2O ): – . seperti Pt. Au.► Bila Kation H+ maka akan tereduksi: 2 H+ ( aq ) + 2e Æ H2( g ) ► Bila Kation Logam lain selain tersebut di atas. dll. maka yang teroksidasi 2 H2O ( l ) Æ O2( g ) + 4 H+ ( aq ) + 4e ► Bila anion OH– maka akan teroksidasi : 4 OH– ( aq ) Æ O2 ( g ) + 2 H2O ( l ) + 4e ► Bila Anion golongan VII A ( Halida )maka akan teroksidasi : 2 F– ( aq ) Æ F2 ( g ) + 2e 2 Br– ( aq ) Æ Br2 ( g ) + 2e 2 Cl– ( aq ) Æ Cl2 ( g ) + 2e 2 I– ( aq ) Æ I2 ( g ) + 2e ANODA Tak Inert ► Anoda tersebut akan teroksidasi: L( s ) Æ Lm+ ( aq ) + me Larutan MgSO4 dialiri listrik maka akan terion menjadi Mg2+ dan SO4 2– 2– 2+ berikut: MgSO4 ÆMg dengan reaksi sebagai + SO 4 3 Yang tereduksi di Katoda adalah air karena potensial reduksinya lebih besar dari Mg2+ (ion alkali tanah) 3 Yang teroksidasi di Anoda adalah air karena elektrodanya inert (C) dan potensial 2– (sisa garam atau asam oksi)oksidasinya lebih besar dari SO 4 KATODA (Reduksi) : 2 H2O + 2e Æ H2+ 2 OH– ANODA (Oksidasi) : 2 H2O Æ O2+ 4 H+ + 4e Menyamakan elektron: KATODA (Reduksi) : 2 H2O + 2e ANODA (Oksidasi) : 2 H2O Æ H2+ 2 OH– Æ O2 + 4 H+ + 4e (x2) Hasil Akhir: 4 H2O + 2 H2O Æ H2 + 2 OH– + O2 + 4 H+ 6 H2O Æ 2 H2 + O2 + 4 OH– + 4 H+ 4 H2O HUKUM FARADAY Hukum Faraday 1 : massa zat yang dibebaskan pada reaksi elektrolisis sebanding dengan jumlah arus listrik SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 36 . maka logam tersebut akan tereduksi: Lm+ ( aq ) + me Æ L( s ) Reaksi di ANODA ( elektroda + ) ANODA Inert ( tidak reaktif.

dikalikan dengan waktu elektrolisis Hukum Faraday 2 : massa zat yang dibebaskan pada reaksi elektrolisis sebanding dengan massa ekivalen zat tersebut: SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 37 .

me 96500 = kuat arus t waktu = massa ekivalen zat Dari hukum Faraday 2 diperoleh rumus: m1 m2 me1 me2 = = = = m1 me1 = m2 me2 Massa zat 1 Massa zat 2 Massa ekivalen zat 1 Massa ekivalen zat 2 SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 38 . t .massa ekivalen = me = massa atom relatif perubahan bil-oks Dari hukum Faraday 1 dan Faraday 2 didapatkan rumus: massa = i = me i .

ALKANA Senyawa organik yang bersifat jenuh atau hanya mempunyai ikatan tunggal.BAB 14 KIMIA ORGANIK SENYAWA ORGANIK Senyawa organik adalah senyawa yang dihasilkan oleh makhluk hidup. Senyawa Jenuh Adalah senyawa organik yang tidak mempunyai ikatan rangkap atau tidak dapat mengikat atom H lagi. dan mempunyai rumus umum : CnH2n + 2 n 2n + 2 = = jumlah atom karbon ( C ) jumlah atom hidrogen ( H ) SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 39 . senyawa ini berdasarkan strukturnya diklasifikasikan menjadi: Senyawa Organik Senyawa Alifatik Senyawa Jenuh Contoh: Alkana Turunan Alkana Alkanol/alkohol Senyawa Siklik Karbosiklik Alisiklik Contoh: Sikloalkana Senyawa Tidak Jenuh Aromatik Contoh: Alkena Turunan Alkena Alkuna Contoh: Benzena Naftalena Antrasena Heterosiklik Contoh: Pirimidin Purin SENYAWA JENUH DAN SENYAWA TIDAK JENUH 1.

► Apabila dari kiri dan dari kanan atom C-nya mengikat alkil di nomor yang sama utamakan atom C yang mengikat lebih dari satu alkil terlebih dahulu. Rumus umumnya : CnH2n + 1 Beberapa senyawa alkil Atom C Rumus Molekul 1 CH3 2 C2H5 3 C3H7 4 C4H9 5 C5H11 - Nama metil etil propil butil amil PENAMAAN ALKANA MENURUT IUPAC 1. 2.untuk 3 dan tetra. Untuk rantai C terpanjang dan tidak bercabang nama alkana sesuai jumlah C tersebut dan diberi awalan n (normal).untuk 4. ► Alkil tidak sejenis ditulis namanya sesuai urutan abjad. SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 40 . Untuk rantai C terpanjang dan bercabang beri nama alkana sesuai jumlah C terpanjang tersebut.Beberapa senyawa alkana Atom C Rumus Molekul 1 CH4 2 C2H6 3 C3H8 4 C4H10 5 C5H12 6 C6H14 7 C7H16 8 C8H18 9 C9H20 10 C10H22 Nama Metana Etana Propana Butana Pentana Heksana Heptana Oktana Nonana Dekana Kedudukan atom karbon dalam senyawa karbon : CH3 CH3 C CH2 CH2 H CH3 CH3 CH3 C primer = atom C yang mengikat satu atom C lain Î ( CH3 ) C sekunder = atom C yang mengikat dua atom C lain Î ( CH2 ) C tersier = atom C yang mengikat tiga atom C lain Î ( CH ) C kuartener = atom C yang mengikat empat atom C lain Î ( C ) Gugus Alkil Gugus yang terbentuk karena salah satu atom hidrogen dalam alkana digantikan oleh unsur atau senyawa lain. tri. 2. di. atom C yang tidak terletak pada rantai terpanjang sebagai cabang (alkil). ► Beri nomor rantai terpanjang dan atom C yang mengikat alkil di nomor terkecil.untuk 2. Senyawa Tidak Jenuh Adalah senyawa organik yang mempunyai ikatan rangkap sehingga pada reaksi adisi ikatan itu dapat berubah menjadi ikatan tunggal dan mengikat atom H. sedang yang sejenis dikumpulkan dan beri awalan sesuai jumlah alkil tersebut.

sama seperti pada alkena. jelasnya perhatikan contoh berikut: ALKADIENA SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 41 . ALKUNA Alkuna adalah senyawa organik yang bersifat tak jenuh mempunyai mempunyai rumus umum : CH n n 2n – 2 = = ikatan rangkap tiga. Rantai terpanjang mengandung ikatan rangkap dan ikatan rangkap di nomor terkecil dan diberi nomor. 2. Untuk menentukan cabang-cabang aturannya seperti pada alkana. Rantai terpanjang mengandung ikatan rangkap dan ikatan rangkap di nomor terkecil dan diberi nomor sesuai letak ikatan rangkapnya. Untuk menentukan cabang-cabang aturannya seperti pada alkana dan alkena. dan mempunyai rumus umum: CnH2n n 2n = = jumlah atom karbon ( C ) jumlah atom hidrogen ( H ) Beberapa senyawa alkena Atom C Rumus Molekul 1 2 C2H4 3 C3H6 4 C4H8 5 C5H10 6 C6H12 7 C7H14 8 C8H16 9 C9H18 10 C10H20 Nama Etena Propena Butena Pentena Heksena Heptena Oktena Nonena Dekena PENAMAAN ALKENA MENURUT IUPAC 1. dan 2n – 2 jumlah atom karbon ( C ) jumlah atom hidrogen ( H ) Beberapa senyawa alkuna Atom C Rumus Molekul 1 2 C2H2 3 C3H4 4 C4H6 5 C5H8 6 C6H10 7 C7H12 8 C8H14 9 C9H16 10 C10H18 Nama Etuna Propuna Butuna Pentuna Heksuna Heptuna Oktuna Nonuna Dekuna PENAMAAN ALKUNA MENURUT IUPAC 1.ALKENA Alkena adalah senyawa organik yang bersifat tak jenuh mempunyai ikatan rangkap dua. 2.

SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 42 .Alkadiena adalah senyawa organik yang bersifat tak jenuh mempunyai 2 buah ikatan rangkap dua.

Isomer Kerangka Rumus molekul dan gugus fungsi sama . tetapi rantai induk berbeda C C C C C C dengan C C C C 2. 1. Isomer Posisi Rumus molekul dan gugus fungsi sama. Isomer Fungsional ( Isomer gugus fungsi ) Rumus molekul sama tetapi gugus fungsionalnya berbeda. tetapi posisi gugus fungsinya berbeda OH C C C OH dengan C C C 3.ISOMER Isomer adalah senyawa-senyawa dengan rumus molekul sama tetapi rumus struktur atau konfigurasinya. senyawa-senyawa yang berisomer fungsional: 3 Alkanol ( Alkohol ) dengan Alkoksi Alkana ( Eter ) 3 Alkanal ( Aldehid ) dengan Alkanon ( Keton ) 3 Asam Alkanoat ( Asam Karboksilat ) dengan Alkil Alkanoat ( Ester ) Contoh: CH3 CH2 CH2 OH berisomer fungsi dengan CH3 CH2 CHO berisomer fungsi dengan propanal CH3 CH2 CH3 CH2 CH3 CO SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM CH3 COO CH3 metil etanoat COOH juga berisomer fungsi dengan H asam propanoat CH3 propanon COOH berisomer fungsi dengan CH3 asam propanoat CH2 metoksi etana propanol CH3 O COO C2H5 etil metanoat Page 43 .

CH3 CH2 CH2 CH2 CH2 1-pentanol OH CH3 CH2 CH2 CH CH3 2-pentanol OH CH3 CH CH3 CH2 CH CH3 4-metil-2-pentanol OH SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 44 . 1. dan C3H7 GUGUS FUNGSIONAL Gugus fungsi adalah gugus pengganti yang dapat menentukan sifat Homolog IUPAC Trivial Alkanol Alkohol Alkil Alkanoat Eter Alkanal Aldehid Alkanon Keton Asam Asam Alkanoat Karboksilat Alkil Alkanoat Ester Rumus R — OH R — OR’ R — CHO R — COR’ Gugus Fungsi — OH —O— — CHO — CO — R — COOH R — COOR’ — COOH — COO — senyawa karbon. H. Gugus OH harus di nomor terkecil. rumus struktur sama.pentanol * C = C asimetris mengikat CH3. Isomer Geometris Rumus molekul sama. OH. 2. Rantai utama adalah rantai terpanjang yang mengandung gugus OH. ALKANOL Nama Trivial ( umum ) : Alkohol Rumus : R — OH Gugus Fungsi : — OH Penamaan Alkanol menurut IUPAC 1. Isomer Optis Isomer yang terjadi terutama pada atom C asimetris ( atom C terikat pada 4 gugus berbeda ) H CH3 *C CH2 CH2 CH3 OH 1.4. tetapi berbeda susunan ruang molekul yang dibentuknya CH3 C H CH3 CH3 berisomer geometris dengan C C H dalam H C H cis 2-butena atomnya CH3 trans 2-butena 5.

OH di nomor 2. buk an 4. jadi buk an 4pe nta nol tet api 2pe nta nol SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 45 .

3-dimetilpentanal O 4. ALKANON Nama Trivial ( umum ) : Keton Rumus : R — COR’ Gugus Fungsi : — CO — Penamaan Alkanon menurut IUPAC 1. Rantai terpanjang dengan gugus karbonil CO adalah rantai utama 2. Jika gugus alkil berbeda maka yang C-nya kecil sebagai alkoksi 2.2. ALKOKSI ALKANA Nama Trivial ( umum ) : Eter Rumus : R — OR’ Gugus Fungsi : — O — Penamaan Alkoksi Alkana menurut IUPAC 1. Gugus alkoksi di nomor terkecil CH3 O CH3 O CH3 metoksi metana C2H5 metoksi etana CH3 CH CH2 CH O CH3 C2H5 CH3 5-metil-3-metoksi heksana gugus metoksi di nomor 3 bukan di nomor 4 3. ALKANAL Nama Trivial ( umum ) : Aldehida Rumus : R — COH Gugus Fungsi : — COH Penamaan Alkanal menurut IUPAC Gugus CHO selalu dihitung sebagai nomor 1 CH3 CH2 CH2 C H butanal O CH3 CH3 CH CH2 C H 3-metilbutanal O CH3 CH3 C CH2 C2H5 C H 3. Gugus CO harus di nomor terkecil SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 46 .

3-dimetilheksanoat OH O 6.O CH3 CH2 CH2 CH3 2-pentanon CH3 4-metil-2-heksanon C O CH3 CH CH2 C C2H5 O CH3 CH CH2 C 4-metil-3-heksanon CH3 C2H5 5. ALKIL ALKANOAT Nama Trivial ( umum ) : Ester Rumus : R — COOR’ Gugus Fungsi : — COO — Penamaan Alkil Alkanoat menurut IUPAC R C OR alkanoat alkil O Gugus alkilnya selalu berikatan dengan O SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 47 . ASAM ALKANOAT Nama Trivial ( umum ) : Asam Karboksilat Rumus : R — COOH Gugus Fungsi : — COOH Penamaan Asam Alkanoat menurut IUPAC Gugus COOH selalu sebagai nomor satu CH3 CH2 C CH2 CH asam butanoat OH asam 3-metilpentanoat O O C2H5 CH3 OH C CH2 CH3 CH3 C CH2 C3H C asam 3.

CH3

CH2

C2H5
H

CH2
C

C

CH2

O
C

CH2

OC2H5

etil butanoat

OCH3

metil pentanoat

O

OCH3

metil metanoat

O
GUGUS FUNGSI LAIN
AMINA
Nama Trivial ( umum ) : Amina
Rumus : R — NH2
Penamaan Amina menurut IUPAC dan Trivial
Amina Primer
CH3

CH2

CH2

CH2

NH2

CH3

CH2

CH

CH2

CH3

CH2

CH3

1-amino-butana / butil amina
3-amino-pentana / sekunder amil amina

NH2
Amina Sekunder
CH3

CH2

NH

dietil amina

Amina Tersier
CH3

CH2

CH3

N

etil-dimetil-amina

CH3

SENYAWA SIKLIK
BENZENA
Benzena adalah suatu senyawa organik aromatis, yang mempunyai 6 atom karbon dan 3
ikatan rangkap yang berselang-seling (berkonjugasi) dan siklik ( seperti lingkaran ).
Strukturnya :

H
C

HC

CH

HC

CH
C
H

Simbol :
Reaksi Benzena
1. Adisi

SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM

Page 48

Ciri reaksi adisi adalah adanya perubahan ikatan rangkap menjadi ikatan tunggal.
Adisi dilakukan oleh H2 atau Cl2 pada suhu dan tekanan tinggi.

SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM

Page 49

H2
C

H
C
HC

CH

HC

CH

+

3 H2 Æ

H2C

CH2

H2C

CH2

Siklo heksana

C
H
2

C
H

2. Sustitusi
Ciri reaksi substitusi tidak ada perubahan ikatan rangkap menjadi ikatan tunggal atau
sebaliknya. Sustitusi benzena di bedakan menjadi:
Monosubstitusi
Penggantian satu atom hidrogen pada benzena dengan atom atau senyawa gugus yang lain.
Rumus umum monosubstitusi : C6H5A
H
C
HC

C—A

HC

A

atau secara simbolik

A = pengganti atom hidrogen

CH
C
H
Struktur

Nama

1.

CH3

Toluena

2.

OH

Fenol

3.

CH

Benzaldehida

O
CO

4.

5.

6.

O

Asam
Benzoat

NH2

Anilin

CH

Stirena

CH2
Disubstitusi
Penggantian dua atom hidrogen pada benzena dengan atom atau senyawa gugus yang lain.
Ada tiga macam disubstitusi:
orto
A
A
A
A

SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM

Page 50

meta A A para SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 51 .

susu Daging. kentang. gandum. Nutrisi yang diperlukan dalam tubuh Nutrisi Fungsi 1. Nitrogen ( N ) Belerang ( S ) Fosfor ( P ). Karbohidrat Sumber energi. 2. Hidrogen ( H ). H C H C HC C CH HC C CH C H C H ANTRASIN Antrasin atau antrasena adalah suatu senyawa organik aromatis. tahu. kacangkacangan. yang mempunyai 10 atom karbon dan 5 ikatan rangkap yang berselang-seling (berkonjugasi) dan double siklik ( seperti 2 lingkaran ). Senyawa kimia yang termasuk biokimia adalah senyawa-senyawa yang mengandung atau tersusun oleh unsur-unsur seperti : karbon ( C ). Protein 4. air Sumber energi Pertumbuhan dan perbaikan jaringan. H H H C C C HC C C CH HC C C H C C H CH C H ASPEK BIOKIMIA Biokimia adalah cabang ilmu kimia untuk mempelajari peristiwa kimia (reaksi kimia) yang terjadi dalam tubuh makhluk (organisme) hidup.NAFTALENA Naftalena adalah suatu senyawa organik aromatis. yang mempunyai 14 atom karbon . memaksimalkan fungsi panca indera Pelarut. sayuran Air minum Page 52 . pengontrol reaksi kimia dalam tubuh Beraneka peran khusus Pembentukan organ. penghantar. margarine. umbiumbian Mentega. 5. tempe. ikan. sayuran Buah-buahan. Lemak 3. Oksigen ( O ). minyak Daging. reaksi hidrolisis SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Sumber Nasi. telur. dan beberapa unsur lain dalam jumlah yang kecil. meningkatkan daya tahan tubuh. Garam mineral Vitamin 6.

gula bit Susu Polisakarida Glikogen Pati Kanji Selulosa Polimer Glukosa Polimer Glukosa Polimer Glukosa Simpanan energi hewan Simpanan energi tumbuhan Serat tumbuhan MONOSAKARIDA Berdasarkan jumlah atom C dibagi menjadi: Jumlah C 2 3 Nama Diosa Triosa Rumus C2(H2O)2 C3(H2O)3 4 Tetrosa C4(H2O)4 5 6 Pentosa Heksosa C5(H2O)5 C6(H2O)6 Contoh Monohidroksiasetaldehida Dihiroksiketon Gliseraldehida Trihidroksibutanal Trihidroksibutanon Ribulosa Deoksiribosa Ribosa Milosa Glukosa Manosa Galaktosa Fruktosa Berdasarkan gugus fungsinya : Aldosa: monosakarida yang mempunyai gugus fungsi aldehid ( alkanal ) Ketosa: monosakarida yang mempunyai gugus fungsi keton ( alkanon ) DISAKARIDA Disakarida dibentuk oleh 2 mol monosakarida heksosa: Contoh : Glukosa + Fruktosa Æ Sukrosa + air Rumusnya : C6H12O6 + C6H12O6 Æ C12H22O11 + H2O Disakarida yang terbentuk tergantung jenis heksosa yang direaksikan SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 53 .Senyawa-senyawa biokimia meliputi: 1. Madu Tidak ditemukan secara alami Disakarida Maltosa Sukrosa Laktosa Glukosa + Glukosa Glukosa + Fruktosa Glukosa + Galaktosa Kecambah biji-bijian Gula tebu. KARBOHIDRAT Rumus umum : Cn(H2O)m Karbohidrat Monosakarida Glukosa Fruktosa Galaktosa Komposisi Terdapat dalam C6H12O6 C6H12O6 C6H12O6 Buah-buahan Buah-buahan.

Reaksi hidrolisis berlangsung dalam suasana asam dengan bantuan ini sering disebut sebagai proses inversi dan hasilnya adalah gula invert Laktosa Hidrolisis 1 mol laktosa akan membentuk 1 mol glukosa dan 1 mol galaktosa. Sukrosa Hidrolisis 1 mol sukrosa akan membentuk 1 mol glukosa dan 1 mol C12H22O11 + H2O Æ C6H12O6 + C6H12O6 Sukrosa Glukosa Fruktosa fruktosa. atau Benedict. ASAM AMINO Asam amino adalah monomer dari protein. C12H22O11 + H2O Æ C6H12O6 + C6H12O6 Laktosa Glukosa Galaktosa Seperti halnya maltosa. Tollens. dan Benedict dan disebut gula pereduksi. rumus umumnya: R — CH — COOH NH2 SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 54 . Tollens. Tollens. C12H22O11 + H2O Æ C6H12O6 + C6H12O6 Maltosa Glukosa Glukosa Maltosa mempunyai gugus aldehid bebas sehingga dapat bereaksi dengan reagen Fehling. Benedict positif negatif positif dalam air larut larut koloid Optik-aktif dekstro dekstro dekstro Maltosa Hidrolisis 1 mol maltosa akan membentuk 2 mol glukosa. dan Benedict dan disebut gula pereduksi. Tollens. Benedict negatif positif negatif Tes Iodium biru violet putih Berdasarkan daya reduksi terhadap pereaksi Fehling. dengan rumus umum: (C6H10O5)n Reaksi pada Polisakarida: Polisakarida dalam air Amilum Glikogen Selulosa koloid koloid koloid Reduksi : Fehling. atau Benedict. Tollens.Reaksi pada Disakarida: Disakarida Maltosa Sukrosa Laktosa Reduksi : Fehling. Tollens. Gula tertutup : karbohidrat yang tidak mereduksi reagen Fehling. atau Benedict Gula terbuka : karbohidrat yang mereduksi reagen Fehling. 2. POLISAKARIDA Terbentuk dari polimerisasi senyawa-senyawa monosakarida. laktosa mempunyai gugus aldehid bebas sehingga dapat bereaksi dengan reagen Fehling. Tollens. yaitu asam karboksilat yang mempunyai gugus amina ( NH2 ) pada atom C ke-2.

Protein Polipeptida Î jumlah monomernya > 3 dan ikatan peptida >2 Berdasar hasil hidrolisis 1. Protein Tripeptida Î jumlah monomernya = 3 dan ikatan peptida = 2 3. PENGGOLONGAN PROTEIN Berdasar Ikatan Peptida 1. penyangga. valin. ornitin. miosin REAKSI IDENTIFIKASI PROTEIN No Pereaksi Reaksi Warna 1 Biuret Protein + NaOH + CuSO4 Merah atau ungu 2 Xantoprotein Protein + HNO3 kuning 3 Millon Protein + Millon merah Catatan Millon = larutan merkuro dalam asam nitrat SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 55 . Protein Dipeptida Î jumlah monomernya = 2 dan ikatan peptida = 1 2. PROTEIN Senyawa organik yang terdiri dari unsur-unsur C. sistin. S. metionin. treonin. gigi. pergerakan 2 Enzim Katalisator biologis 3 Hormon Pengaturan fungsi tubuh 4 Transport Pergerakan senyawa antar dan atau intra sel 5 Pertahanan Mempertahankan diri 6 Racun Penyerangan 7 Kontraktil sistem kontraksi otot Contoh Kulit. serin. fenilalanin. asam glutamat. norleusin 3. tulang. triptofan. H. tirosin. alanin.Asam 2 amino asetat (glisin) H — CH — COOH NH2 Asam 2 amino propionat (alanin) CH3 — CH — COOH NH2 JENIS ASAM AMINO Asam amino essensial (tidak dapat disintesis tubuh) Contoh : isoleusin. histidin Asam amino non essensial (dapat disintesis tubuh) Contoh : glisin. dll Semua jenis enzim dalam tubuh insulin hemoglobin antibodi Bisa Ular dan bisa laba-laba aktin.bulu. otot. asam aspartat. P dan mempunyai massa molekul relatif besar ( makromolekul ). arginin. Protein Sederhana Î hasil hidrolisisnya hanya membentuk asam α amino 2. N. lisin. O. sistein. Protein Majemuk Î hasil hidrolisisnya membentuk asam α amino dan senyawa lain selain asam α amino Berdasar Fungsi No Protein Fungsi 1 Struktur Proteksi. kuku. kepompong. rambut.

Sitosin. PVC ( vinil klorida = C2H3Cl ). Contoh: pembentukan nilon dan dakron 2. TIGA GOLONGAN LIPIDA TERPENTING 1. Thimin RNA = Ribo Nucleic Acid ( Asam Ribo Nukleat ) Basa yang terdapat dalam RNA : Adenin. Teflon ( tetrafluoretilen = C2F4). Terjadi berdasarkan reaksi adisi yaitu pemutusan ikatan rangkap menjadi ikatan tunggal. Polimerisasi adisi umumnya bergantung pada bantuan katalis. Guanin. ASAM NUKLEAT DNA = Deoxyribo Nucleic Acid ( Asam Deoksiribo Nukleat ) Basa yang terdapat dalam DNA : Adenin. Contoh: polietilen ( etena = C2H4 ). Contoh: Nilon ( asam adipat dan heksametilendiamin ) Dakron ( etilen glikol dan asam tereftalat ) Kevlar / serat plastik tahan peluru ( fenilenandiamina dan asam tereftalat ) SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 56 . Sitosin. asam nukleat ( telah dibahas pada sub bab sebelumnya). dan sebagai contoh lain adalah plastik. REAKSI PEMBENTUKAN POLIMER 1. atau unit-unit satuan yang lebih kecil. Kopolimer: terbentuk dari lebih satu jenis monomer. Berdasar jenis monomer Homopolimer: terbentuk dari satu jenis monomer. STEROID: merupakan Siklo hidrokarbon 5. Contoh: polisakarida (karbohidrat). Polimerisasi kondensasi terjadi pada monomer yang mempunyai gugus fungsi pada ujungujungnya. FOSFOLIPID: dari asam lemak + asam fosfat + gliserol 3. Adisi Monomer-monomer yang berkaitan mempunyai ikatan rangkap. dll. LIPIDA Senyawa organik yang berfungsi sebagai makanan tubuh. Urasil POLIMER Polimer adalah suatu senyawa besar yang terbentuk dari kumpulan monomer-monomer. Kondensasi Monomer-monomer berkaitan dengan melepas molekul air dan metanol yang merupakan molekul-molekul kecil. karet. Guanin. fiber dan lain sebagainya. Contoh: pembentukan polietilen dan poliisoprena PENGGOLONGAN POLIMER 1.4. protein. LEMAK: dari asam lemak + gliserol Lemak Jenuh ( padat ) 3 Terbentuk dari asam lemak jenuh dan gliserol 3 Berbentuk padat pada suhu kamar 3 Banyak terdapat pada hewan Lemak tak jenuh ( minyak ) 3 Terbentuk dari asam lemak tak jenuh dan gliserol 3 Berbentuk cair pada suhu kamar 3 Banyak terdapat pada tumbuhan 2.

polietilena 3. amilum. teflon. Berdasar asalnnya Polimer Alami: terdapat di alam Contoh: proten. dll SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 57 . dan tidak dapat dibentuk ulang. karet. Contoh: PVC. asam nukleat. Contoh: bakelit Termoplas: jika dipanaskan akan meliat (plastis) sehingga dapat dibentuk ulang.2. Polimer Sintetis: dibuat di pabrik Contoh: PVC. selulosa. polipropilen. Berdasar ketahan terhadap panas Termoset: jika dipanaskan akan mengeras.

Daftar ligan sesuai abjad. Ligan adalah gugus molekul netral. F– Cl– Br– I– F2 — 9 9 9 Cl2 — — 9 9 Br2 — — — 9 I2 — — — — Keterangan : 9 terjadi reaksi. Reaksi Gas Mulia Walaupun sukar bereaksi namun beberapa pakar kimia dapat mereaksikan unsur gas mulia di laboratorium: Senyawa yang pertama dibuat XePtF6 Adapun senyawa lainnya: Reaksi Xe + F2 Rn + 2 F2 Xe + 3 F2 XeF6 + H2O XeF6 + 2 H2O XeF6 + 3 H2O XeO3 + NaOH 4 NaHXeO4 + 8 NaOH Kr + F2 Kr + 2 F2 Rn + F2 Xe + 2 F2 Senyawa RnF4 XeF4 XeF6 XeOF4 + 2 HF XeO2F2 + 4 HF XeO3 + 6 HF NaHXeO4 Na4XeO6 + Xe + 6H2O KrF2 KrF4 RnF2 XeF2 Bil-Oks +2 +4 +4 +6 +6 +6 +8 +8 +2 +4 +2 +6 SENYAWA KOMPLEKS Aturan penamaan senyawa kompleks menurut IUPAC : 1. 2. Amin = NH3 ( bermuatan 0 ) Akuo = H2O ( bermuatan 0 ) Bromo = Br– ( bermuatan –1 ) Hidrokso = OH– ( bermuatan –1 ) Iodo = I– ( bermuatan –1 ) Kloro = Cl– ( bermuatan –1 ) Nitrito = NO2– ( bermuatan –1 ) 2– ( bermuatan –2 ) Oksalato = C2O4 Siano = CN– ( bermuatan –1 ) Tiosianato= SCN– ( bermuatan –1 ) 2– ( bermuatan –2 ) Tiosulfato = S2O3 SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 58 . Kation selalu disebutkan terlebih dahulu daripada anion. ion atau atom yang terikat pada suatu atom logam melalui ikatan koordinasi.BAB 15 KIMIA UNSUR 1. Reaksi antar Halogen Terjadi jika halogen yang bernomor atom lebih besar dalam larutan/berbentuk ion. — tidak terjadi reaksi 2. Nama ligan disebutkan secara berurut sesuai abjad. istilahnya ―reaksi pendesakan antar halogen‖.

tri.untuk 2. tetra. Bila ligan lebih dari satu maka dinyatakan dengan awalan di. Nama ion kompleks bermuatan positif nama unsur logamnya menggunakan bahasa Indonesia dan diikuti bilangan oksidasi logam tersebut dengan angka romawi dalam tanda kurung.untuk 4.untuk lima dan seterusnya.3.untuk 3. Unsur Nama Kation Anion Al aluminium aluminium aluminat Ag perak perak argentat Cr krom krom kromat Co kobal kobal kobaltat Cu tembaga tembaga kuprat Ni nikel nikel nikelat Zn seng seng zinkat Fe besi besi ferrat Mn mangan mangan manganat Pb timbal timbal plumbat Au emas emas aurat Sn timah timah stannat SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 59 . 4. Sedangkan untuk ion kompleks bermuatan negatif nama unsur logamnya dalam bahasa Latin di akhiri –at dan diikuti bilangan oksidasi logam tersebut dengan angka romawi dalam tanda kurung. penta.

00005 0.1 0.93 0.05 0.0001 0.002 0.keju keju saus. agar-agar produk kalengan minyak.000005 0. agar-agar Permen karet Permen karet 4.0315 0. produk kalengan Pemanis untuk Permen Minuman ringan Selai. Pembuat rasa dan aroma IUPAC trivial Etil etanoat Etil asetat Etil butanoat Etil butirat Oktil etanoat Oktil asetat Butil metanoat Butil format Etil metanoat Etil format SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Aroma dan rasa apel nanas jeruk raspberri rum Page 60 . Pemanis Nama Sakarin Siklamat Sorbitol Xilitol Maltitol Warna Hijau Coklat-Hitam Jingga Kuning merah Jenis sintetis sintetis sintetis sintetis sintetis Jenis alami alami alami alami sintetis Pewarna untuk selai. Pewarna Nama Klorofil Karamel Anato Beta-Karoten eritrosin 3. Penguat rasa atau penyedap rasa Mononatrium glutamat ( Monosodium glutamate = MSG ) atau disebut vetsin. NO2 Ozon O3 • 1bpj = 10–4 % % 78 21 0.000001 bpj 780000 210000 9300 315 20 18 5 1 0.00001 0.BAB 16 KIMIA LINGKUNGAN Komposisi udara bersih secara alami: Zat Rumus Nitrogen N2 Oksigen O2 Argon Ar Karbondioksida CO2 Karbonmonoksida CO Neon Ne Helium He Kripton Kr Hidrogen H Belerangdioksida SO2 Oksida Nitrogen NO .0018 0.5 0.01 Apabila zat-zat di atas melebihi angka-angka tersebut berarti telah terjadi pencemaran udara ZAT ADITIF MAKANAN 1.0005 0. O H Na – O – C – CH2 – CH2 – C – COOH NH2 2.

Amil butanoat Amil butirat SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM pisang Page 61 .

memepercepat pembentukan bunga dan mempercepat buah atu biji matang + K Memperlancar proses fotosintesis. ikan kalengan 6. keju olahan daging kalengan . Jenis-jenis pupuk organik : Nama Asal 1 Kompos Sampah-sampah organik yang sudah mengalami pembusukan dicampur beberapa unsur sesuai keperluan. protein . protein . Superfosfat ganda (DS). Ikan kalengan. tergantung jenis tanaman yang membutuhkan. KCl ► Pupuk Nitrogen : ZA. protein . lemak serta klorofil 3 oksigen CO2 dan H2O Menyusun karbohidrat. keju Saos. Jenis-jenis pupuk anorganik : ► Pupuk Kalium : ZK 90. 3 Kandang Dari kotoran hewan ternak seperti. Amonium nitrat ► Pupuk Fosfor : Superfosfat tunggal (ES). lemak serta klorofil 2 hidrogen H2O Menyusun karbohidrat. ayam. kuda. kecap minuman ringan ( botolan ) daging olahan.5. dan kambing 2. membentuk protein. buah kalengan BHA ( butilhidroksianol ) lemak dan minyak BHT ( butilhidroktoluen ) margarin dan mentega PUPUK Unsur yang dibutuhkan oleh tanaman: Unsur Senyawa/ion Kegunaan 1 karbon CO2 Menyusun karbohidrat. sapi. merangsang pertumbuhan vegetatif4 nitrogen NO3– dan NH 4 5 fosfor 6 kalium 7 8 kalsium magnesium 2– 2– HPO4 dan – H2PO4 Memacu pertumbuhan akar. SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM Page 62 . ZK96. Urea. contoh: Nama Kegunaan Asam askorbat Daging kalengan. meningkatkan daya tahan tanaman dari hama Ca2+ Mengeraskan batang dan membentuk biji Mg2+ Membentuk klorofil Menyusun protein dan membantu membentuk 9 belerang SO 4 klorofil 1. Antioksidan Membantu mencegah oksidasi pada makanan. pengerasan batang. TSP ► Pupuk majemuk Mengandung unsur hara utama N-P-K dengan komposisi tertentu. Pengawet Nama Asam propanoat Asam benzoat Natrium nitrat Natrium nitrit Pengawet untuk Roti. 2 Humus Dari dedaunan umumnya dari jenis leguminose atau polong-polongan. lemak serta klorofil + Sintesis protein.

4. aldrin. nama bakterisida fungisida herbisida insektisida nematisida rodentisida digunakan untuk memberantas bakteri atau virus jamur gulma serangga cacing (nematoda) pengerat ( tikus ) contoh tetramycin carbendazim basudin warangan 2. dieldrin diaziton Page 63 . Jenis-jenis pestisida: 1. Bahan Kimia dalam pestisida: kelompok fungsi arsen pengendali jamur dan rayap pada kayu antibeku pembeku darah hama tikus karbamat umumnya untuk meracuni serangga organoklor membasmi hama tanaman termasuk serangga organofosfat membasmi serangga SMAN 4 PADANG / ABINUL HAKIM contoh As2O5 wartarin karbaril DDT. 5. 6. 3. 2.PESTISIDA 1.