You are on page 1of 20

DAFTAR ISI

JUDUL.................................................................................................................i
KATAPENGANTAR............................................................................................ii
DAFTARISI............................................................................................................iii
RINGKASAN..........................................................................................................1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latarbelakang.............................................................................................2
B. Rumusanmasalah..........................................................................................3
C. Tujuan .......................................................................................................3
D. Manfaat....................................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN
A. Kewajiban keyakinan (Patekadan) ...........................................................4
B. Kewajiban hati/ Jiwa dan Lisan ................................................................4
C. Kewajiban: diri, Keluarga dan Umum.........................................................5
D. Kemurtadan: Hati, pekerjaan, lisan ...........................................................7
E. Kemaksiatan : Badan, hati, telinga dan tangan ...........................................8
F. Kemaksiatan: Perut, Lisan, Parji kaki dan mata........................................14
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN..........................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA .........................................................................................1

RINGKASAN
Pada dasarnya kata tanbih ini tidak ditemukan secara eksplisit dalam ayat-ayat
Al-Quran. Akan tetapi terdapat ayat-ayat yang memang memiliki makna sebagai
penyadaran kembali akan pelajaran atau tanda-tanda kekuasaan Allah dan juga
perintah-perintah.
Adapun Tanbih (penyegaran kembali), pada dasarnya memiliki esensi sebagai
pendorong manusia untuk mau berpikir ulang tentang sesuatu, baik tentang alam
semesta atau tujuan dan manfaat dari diperintah atau dilarangnya suatu perkara.
Adapun pengertian kewajiban, antara lain sebagai berikut: dilihat dari segi ilmu
fiqih, wajib mempunyai arti pengertian sesuatu yang harus dikerjakan, apabila
dikerjakan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan mendapat dosa. Menurut
ilmu tauhid, wajib sesuatu yang pasti benar adanya. Sedangkan menurut ilmu
akhlak, wajib adalah suatu perbuatan yang harus dikerjakan, karena perbuatan itu
dianggap baik dan benar. Kewajiban sendri adalah suatu tindakan yang harus
dilakukan

oleh

setiap

manusia

dalam

makhlukindividu, sosial, dan tuhan

memenuhi

hubungan

sebagai

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kehidupan kita selaku manusia tidak lepas dari tatanan peri laku dan
kaidah-kaidah dalam berhubungan dengan sesama manusia. Terlebih selaku
seorang Muslim kita memiliki pedoman yang jelas dan lenkap. Pedoman tersebut
adalah Al Quran dan As Sunnah / Al Hadis. Segala aktifitas dari yang bangun
tidur sampai kita berangkat tidur ada didalam Al Quran dan As Sunnah. Karena
kesempurnaan Al Quran dan As Sunnah mampu menjawab permasalahan hidup
sepanjang jaman. Islam dikenal sangat simple, dalam artian secara praktis aturanaturan dalam Islam mampu di terapkan secara langgsu. Juga sangat teliti, hingga
masalah sekecil dapat di antisipasi dan terselesaikan. Selain itu Islam juga sangat
menjunjung hak-hak orang lain dan masyarakat luas dengan harapan terjadi
kemaslahatan umat. Namum kadang kala dimasyarakat pada saat ini tidak
seluruhnya melakukan aktifitas sesuai syariah. Ada kalalanya melakukan
perbuatan yang dapat di benarkan oleh masyarakat lain namun tidak dapat
dibenarkan menurut pandangan Islam. Seperti sambung ayam dibeberapa daerah
di Indonesia di benarkan sebagai ritual adat. Ada pula seringkali kita dalam
bermuamalah melakukan tindak yang tidak disadari telah melukai hati
oranglain. Pebuatan yang baik dan sesuai denagan tatanan yang berlaku serin kita
kenal sebagai adab. Adapun segala perbuatan yang dilakukan berupa
penyimpanga-penyimpangan sering kita kenal sebagai maksiaat. Adakalanya
manusia yang sudah terbiasa melakukan perbuatan yang sesuai dengan adab yang
berlaku akan risau hatinya ketika melakukan perbuatan yang melanggar dari
norma yang berlaku di dalam masyarkat. Namum bagi orang yang sudah sering
melakukan tindakan maksiat tidak ada hambatan dari hati lantaran sudah terlanjur
banyak maksiat yang ia lakukan. Bila ada yang menegur dianggap sebagai angin
berlalu. Apa bila melakukan perbuatan yang beradap ada keganjalan kadang kala

ada perenungan. Jika hatinya tebuka untuk menerima kebenaran Allah pun akan
membukakan pintu hidayah untuk bertaubat. Namun jika hatinya suadah
mengeras tak mentup kemungkinan Allah akan menutup pintu hidayah.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, untuk lebih mudah memahami makalah ini
dibuat rumusan masalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Kewajiban keyakinan ( patekadan)


Kewajiban Hati / Jiwa dan Lisan
Kewajiban: Diri, keluarga, Umum
Kemurtadan: Hati, Pekerjaan, Lisan
Kemaksiatan: Badan, hati, Telinga dan tangan
Kemaksiatan: Perut, Lisan, Parji ( kemaluan) kaki dan mata.

C. Tujuan dan Manfaat


Makalah ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang kewajiban
dan keyakinan, kemudian mengetahui kemurtadan dan kemaksiatan.

BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Tanbih Kewajiban dan keyakinan
Kata Tanbih ( )dalam bahasa Arab berarti hal yang menjagakan,
mengingatkan, dan peringatan. Kata tanbih juga dapat berarti penyegaran
kembali seperti yang dituliskan A. Hasjmy dalam buku karangannya Dustur
Dakwah Menurut Al-Quran.
Pada dasarnya kata tanbih ini tidak ditemukan secara eksplisit dalam ayat-ayat
Al-Quran. Akan tetapi terdapat ayat-ayat yang memang memiliki makna sebagai
penyadaran kembali akan pelajaran atau tanda-tanda kekuasaan Allah dan juga
perintah-perintah.
Adapun Tanbih (penyegaran kembali), pada dasarnya memiliki esensi sebagai
pendorong manusia untuk mau berpikir ulang tentang sesuatu, baik tentang alam
semesta atau tujuan dan manfaat dari diperintah atau dilarangnya suatu perkara.
Adapun pengertian kewajiban, antara lain sebagai berikut: dilihat dari segi
ilmu fiqih, wajib mempunyai arti pengertian sesuatu yang harus dikerjakan,
apabila dikerjakan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan mendapat dosa.
Menurut ilmu tauhid, wajib sesuatu yang pasti benar adanya. Sedangkan menurut
ilmu akhlak, wajib adalah suatu perbuatan yang harus dikerjakan, karena
perbuatan itu dianggap baik dan benar. Kewajiban sendri adalah suatu tindakan
yang harus dilakukan oleh setiap manusia dalam memenuhi hubungan sebagai
makhluk individu, sosial, dan tuhan.

2. Kewajiban Hati Jiwa dan Lisan


Menurut KH. Mabrur (2002: 3-5) ada beberapa point point penting yang
termasuk kewajiban hati/jiwa dan lisan diantaranya:

Kewajiban- kewajiban Hati dan Jiwa: Yakiun, Ikhlas, Tawakal, Mahabah ke pada
Allah SWT sama wahyu yaitu al-Quran, Khsyu, Syukur atas Nikmat Allah SWT,
Percaya diberinya Rezeki, Takut sama siksaan Allah, sabar dan Ridho kepada
balai, mengagungkan Allah, bijaksana, baik sangka kepada makhluk, malu sama
keburukan, tidak ridho kepada nafsu.
Kewajiban Lisan: Membaca dua kalimat syahadat, mengajar atau
diajarkan, Dzikir dengan membaca Al-Quran, istigfar, hati- hati dalam
mengucapkan sumapah.
3. Kewajiban: diri, keluarga dan Umum
a. Kewajiban kepada diri sendiri:
Setiap manusia wajib berbuat wajib kepada diri sendiri. Bagaimana
caranya berbuat baik kepada diri sendiri? Ada tiga unsur yang dimiliki oleh setiap
manusia, yaitu badan atau tubuhnya, akalnya, dan hati atau jiwanya. Menunaikan
kewajiban kepada diri sendiri dilakukan dengan memelihara dengan sebaikbaiknya ketiga unsur tersebut. Hendaknya manusia merawat tubuhnya, dengan
menjaga

kesehatannya,

meningkatkan

kekuatan

dan

menambahkan

kecantikannya. Hendaknya meningkatkan akalnya dengan menuntut ilmu


pengetahuan yang bermanfaat. Hendaknya menyempurnakan jiwanya dengan
akhlak yang baik (Amin, 1983).
b. Kewajiban kepada keluarga:
Manusia adalah makhluk sosial.Setiap manusia mempunyai tabiat ingin
hidup bersama dengan manusia lainnya.Kehidupan bersama itu berlangsung
dalam keluarga.Lembaga keluarga terdiri dari orang tua, anak-anak dan saudarasaudara

dekat.Setiap

anggota

keluarga

mempunyai

kewajiban

sesuai

dengan kedudukannya.Orang tua sebagai kepala atau pemimpin dalam keluarga,


mempunyai kewajiban melindungi anggota keluarga dan mencukupi kebutuhan
mereka, sesuai dengan kemampuannya.Orang tua berkewajiban mendidik anak-

anaknya sehingga mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang sehat badan
dan jiwanya.Anakmempunyai kewajiban berbuat baik kepada orang tua.
Dalam ajaran islam seseorang anak hendaknya berbuat baik dengan
sebaik-baiknya kepada kedua orang tua (wabil walidaini ihsana). Tidak boleh
berkata kasar, senantiasa rendah hati dan mencurahkan kasih sayang sebagai mana
kedua orang tua itu telah membesarkannya dan mendidiknya dengan penuh kasih
sayang (Q.S. Al-Isra, 17:23-24).Seorang anak hendaknya berterima kasih kepada
kedua orang tua yang menjadi sebab kehadirannya di muka bumi.Berterima kasih
kepada kedua orang tua diperitahkan dalam agama sejajar atau berdampingan
dengan berterima kasih dan bersyukur kepada tuhan (Q.S. Al-Luqman,
31:14).Perlu ditambahkan disini bahwa kepatuhan anak kepada orang tua dibatasi
oleh kepatuhan kepada tuhan. Jika orang tua menyuruh anaknya berbuat sesuatu
yang melanggar perintah tuhan, anak dilarang mengikuti perintah tersebut, dengan
tetap hormat kepada keduanya sebagai orang tua(Q.S. Al-Luqman, 31:15).
Setiap manusia ingin mempunyai keluarga yang baik. keluarga yang baik
merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan kemuliaan manusia dan
kebahagiaannya.Keluarga yang baik terdiri dari individu yang baik, yaitu individu
yang melaksanakan kewajiban dengan sebaik-baiknya. Masyrakat manusia tidak
lain merupakan dari kumpulan dari keluarga-keluarga,dan sebuah bangsa tidak
lain merupakan kumpulan dari masyarakat dalam berbagai macam bentuk dan
sifatnya. Bangsa yang baik terdiri dari masyarakat yang baik, dan masyrakat yang
baik terdiri dari keluarga-keluarga yang baik ( Amin, 1983).
c. Kewajiban kepada bangsa dan negara (Umum):
Seringkali kita mendengar perkataan kebangsaan atau nasionalisme. Tidak
lain yang dimaksud kebangsaan atau nasionalisme ialah kecintaan manusia kepada
bangsanya dan tanah airnya. Kita cinta kepada negeri kita, karena antara kita dan
negeri kita itu ada hubungan yang erat. Kita menghirup udaranya, minum airnya,
makan hasil buminya, dan hidup diantara umatnya. Kita menjadi mulia dengan
kemuliaanya, dan merasa sakit bila negeri kita dicela dan dihina. Cinta seorang

kepada bangsanya, sebagaimana cintanya kepada tanah air dan negerinya


merupakan tabiat setiap manusia. Kewajiban yang harus dilakukan kepada
bangsa dan negara di antaranya :
1. Membela negara kita bila diserang atau diganggu kemerdekaannya.
2. Bekerja untuk kemajuan bangsa dan negara. Masing-masing orang sebagai
warga negara berbuat sesuai dengan kemampuannya.
3. Mmenghormati undang-undang yang berlaku dinegaranya.
4. Kewajiban kepada manusia pada umumnya
Manusia sebagai makhluk tuhan, adalah ibarat satu tubuh, walaupun
berbeda-beda negara, bangsa, maupun agamanya. Setiap manusia hendaknya
menyadari bahwa ia adalah bagian dari kemanusiaan itu. Hendaknya saling tolong
menolong dan mengasihi satu dengan yang lain. Jika disebuah negara terjadi
musibah, seperti musibah bencana alam yang memakan ratusan, bahkan ribuan
korban, maka wajib bagi kita memberikan pertolongan kepada siapa yang terkena
musibah itu. Jika terjadi kecelakaan dan korban kecelakaan itu membutuhkan
pertolongan, maka wajib bagi kita untuk menolong korban dari kecelakaan itu,
tanpa membedakan agama, bangsa , ataupu negara.Orang yang mengasihi akan
dikasihi oleh maha pengasih. Kasihilah siapa saja dimuka bumi, engkau akan
dikasihi oleh siapa yang dilangit.Demikian sabda nabi yang mulia. (Amin, 1983).
4. Kemurtadan: Hati, pekerjaan, Lisan
Secara etimologi Murtad berasal dari kata irtadda yang artinya rajaa
(kembali), sehingga apabila dikatakan irtadda an diinihi maka artinya orang itu
telah kafir setelah memeluk Islam. Sedangkan menurut istilah, penulis mengutip
pengertian murtad menurut Al Kasani al Hanafi bahwa sudah termasuk murtad
orang-orang yang melontarkan kalimat kufur dengan lisan setelah adanya iman,
jadi riddah adalah kembalinya seseorang dari keimanan kepada kekufuran. Sedang
menurut Asy-Syarbaini asy-Syafii riddah adalah memutuskan atau melepaskan
diri dari Islam dengan niat atau pun perbuatan, demikian pula ucapan baik yang
8

berupa olok-olok, penentangan ataupun berbentuk keyakinan. Dari pengertian dan


penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa riddah adalah kembali atau
berbaliknya seseorang dari keimanan. Perbuatannya yang menyebabkan dia kafir
atau murtad itu disebut sebagai riddah (kemurtadan). Dengan kata lain adalah
menjadi kafir sesudah berislam. Allah SWT. berfirman : Artinya : Barangsiapa
diantara kalian yang murtad dari agamanya kemudian mati dalam keadaan kafir
maka mereka itulah orang-orang yang terhapus amalannya di dunia dan akhirat.
Dan mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal berada di dalamnya. (QS. AlBaqarah : 217).
Murtad ada tiga bagian dan setiap bagian bercabang banyak sekali :
1.

Murtad secara i'tiqad (keyakinan).

2.

Murtad secara perbuatan.

3.

Murtad secara ucapan.


5. Kemaksiatan: Badan, hati, telinga dan tangan:
a. kemaksiatan Badan:

1. Berani kepada kedua orang tua

2. Lari dari peperangan


3. Memutus sanak famili
4. Menyakiti tetangga, sekalipun kafir yang sudah ada jaminan aman dengan
menyakiti yang terang.
5. Menyemir rambut dengan warna hitam
6. Orang laki-laki menyerupai orang perempuan (dengan pakaian atau gaya) dan
sebaliknya.
7. Menurunkan (menyengserkan) pakaian karena sombong.
8. Memacari kedua tangan atau kedua kaki, bagi laki-laki tanpa ada hajat.
9. Memutus perbuatan fardhu tanpa uzur.
10. Menggagalkan kesunatan haji dan umrah.
11. Menirukan orang mukmin karena menghina.
12. mengoreksi kekurangan-kekurangan orang.
13. Membuat tahi lalat (tato).
14. Memutus pembicaraan (sateru, jawa) dengan sesama muslim lebih dari tiga
9

hari, kecuali ada uzur syara.


15. Duduk bersama orang ahli bidah, atau bersama orang fasiq (ahli maksiat)
untuk menghibur.
16. Mengenakan emas atau perak, atau pakaian yang campur dengan emas/perak,
tapi lebih banyak emas/perak. Demikian bagi laki-laki yang sudah balig kecuali
cincin perak, kalau itu boleh.
17. Menyendiri bersama perempuan bukan mahram (pacaran)
18. Pergi tanpa ditemani mahram (perempuan pergi sendirian)
19. Mengambil buruh orang merdeka dengan paksa
20. Merendahkan Ulama, pemimpin yang adil, atau orang yang sudah masuk
islam.
21. Memusuhi wali (kekasih Alloh)
22. Membantu perbuatan maksiat.
23. Membelanjakan (menggunakan) uang yang sudah tak laku.
24. Menggunakan bejana-bejana emas/perak atau membuatnya.
25. Meninggalkan kefardhuan atau melakukannya tapi ada syarat dan rukun yang
ditinggalkan. kalaupun syarat dan rukunnya dipenuhi tapi melakukan hal yang
membatalkan kefardhuan itu.
26. Meninggalkan sholat jumat padahal sudah berkewajiban, sekalipun sudah
sholat duhur.
27. Meninggalkan berjamaah sholat fardhu bagi seluruh penduduk kampung.
28. Menunda sholat fardhu, hingga keluar dari waktunya tanpa ada uzur.
29. Melempar binatang buruan dengan barang berat yang mempercepat hilangnya
nyawa.
30. Memasang binatang untuk dijadikan sasaran lemparan.
31. Perempuan yang ditinggal mati suaminya tidak mau diam dirumah dan tak
mau meninggalkan berhias diri.
32. Perempuan yang tak mau diam dirumah saat idah.
33. Mengotori masjid dengan najis atau dengan barang yang suci.
34. Meremehkan ibadah haji, padahal telah mampu (tidak segera naik haji) sampai
meninggal.

10

35. Memberi hutang kepada orang yang tidak ada harapan untuk membayar dari
jihad lahir, jika yang memberi tidak tahu akan hal itu.
36. Tidak mau menunggu kepada orang yang belum mampu membayar hutang.
37. mendermakan harta untuk kemaksiatan.
38. Menghina Al-quran atau setiap ilmu syara.
39. Memperkenankan anak-anak yang belum tamyiz untuk membawa mushaf.
40. Merubah tapal batas tanah.
41. Memanfaatkan jalan umum untuk sesuatu yang tak diperbolehkan.
42. Menggunakan barang pinjaman untuk hal-hal yang tidak diizini oleh yang
meminjamkan.
43. Melampaui batas masa meminjam
44. Meminjamkan barang pinjaman.
45. Melarang sesuatu yang diperbolehkan, seperti tempat menggembala ternak,
atau tempat mencari kayu bakar dari tanah mati (belum dimiliki), atau garam dari
sumbernya (laut), emas perak dari pertambangan, dan atau melarang mengambil
airyang sudah lebih dari kebutuhan.
46. Mempergunakan barang temuan sebelum diumumkan dengan
syarat-syaratnya.
47. Duduk-duduk sambil menyaksikan kemungkaran dan dia tidak
termasuk orang ada uzur
48. Tataful (mengikuti undangan walimah padahal tidak di undang)
atau tidak diizinkan masuk atau disuruh masuk tapi malu.
49. Menghormati orang lain karena takut pada kejahatan orang yang
dihormati.
50. Tidak adil diantara para istri (dalam giliran)
51. Keluarnya orang perempuan dengan mengenakan wangi-wangian
atau menghias diri (misal, dengan pakaian yang menyala). sekalipun
tertutup seluruh auratnya atau diperbolehkan oleh suami. Haramnya
bila berjalan dihadapan laki-laki lain.
52. Menggunakan sihir.
53. Tidak patuh pemimpin
54. Menangani (mengurus) anak yatim, atau masjid atau menjabat

11

sebagai juru putus dan lain sebagainya, tapi sebenarnya dia tahu
bahwa dia tidak mampu memangku tugas tersebut.
55. Mencegah orang lain yang akan menuntut hak atas dirinya.
56. Menakut-nakuti orang islam (misal, mengacungkan pisau kearah
orang).
57. Memotong jalan (merampok dengan mencegat ditengah
perjalanan). Pelakunya harus dihukum menurut penganiayaan yang
dilakukan. Ada kalanya di tazir, dipotong kaki dan tangannya secara
bersilang, dan ada kalanya dibunuh kemudian dipancung.
58. Tidak mau memenuhi nazar
59. Menyambung puasa (misal, selama tiga hari tiga malam berpuasa
tanpa berbuka sama sekali).
60. Mengambil (menempati) tempat orang lain, atau mendesaknya
dengan cara yang menyakitkan
61. mengambil giliran orang.
b. Kemaksiatan hati:
Termasuk maksiat hati yaitu ria (pamer) dengan amal baik. Ria,
adalah berbuat karena manusia. Ria itu dapat melebur pahala, sama
halnya

dengan

ujub

(atau

mengagungkan

diri).Ujub

ialah

memandang/menganggap bahwa ibadahnya adalah dari diri sendiri


(bukan dari Alloh) dan tidak menganggap bahwa semua ibadah dari
Alloh. Ragu-ragu terhadap wujud Alloh. Merasa aman dari upaya (siksa)
Alloh. Putus asa dari rahmat Alloh. Sombong kepada hamba-hamba
Alloh.Sombong, adalah menolak kebenaran dari orang lain, menghina
orang dan beranggapan bahwa dirinya lebih baik daripada kebanyakan
makhluk Alloh.Dengki, ialah merahasiakan sikap permusuhan dalam
hati. Apabila hal ini disertai dengan perbuatan yang sesuai dengan
kedengkian, maka haram. jika dia benci kepada perbuatan kedengkian,
maka tidak haram.Iri juga termasuk maksiat hati. Iri adalah benci
terhadap orang islam yang sedang mendapatkan nikmat. Merasa
keberatan melihat temannya mendapatkan nikmat. Ini diharamkan bila
yang dihasud itu tidak benci pada perbuatan hasudnya, atau beramal

12

dengan perbuatan yang mengungkit-ungkit sedekah yang diberikan.


Terus

menerus

melakukan

maksiat

dapat

menghapus

pahala

sedekah.Begitu juga buruk sangka kepada Alloh atau terhadap orangorang. Mendustakan takdir. bergembira ketika berbuat maksiat, atau
ketika ada orang yang berbuat maksiat. Berdusta walau kepada orang
kafir. Menipu, benci kepada Sahabat Nabi, kepada Keluarga Nabi, dan
kepada orang saleh.Kikir dengan apa yang telah diwajibkan Alloh.
Bakhil,

tamak,

menghina

pada

yang

dimulyakan

Alloh,

atau

meremehkan kepada yang dibilang besar oleh Alloh, seperti hal taat,
risiko maksiat, Al-quran, ilmu agama atau surga dan neraka.
C.Maksiat Telinga

1.

Mendengarkan

pembicaraan

orang-orang

yang

sengaja

dirahasiakan.

2. Mendengarkan suara seruling, tambur, dan semua suara yang diharamkan.


3. Mendengarkan orang-orang yang sedang membicarakan orang atau
mendengarkan

orang

adu

domba.

4. Mendengarkan ucapan-ucapan yang diharamkan. Kecuali tanpa disengaja suara


itu terdengar ditelinganya secara paksa, tapi wajib benci dan ingkar.
D. Maksiat tangan
1. Mengurangi takaran, timbangan atau meteran.
2. Mencuri, jika mencuri barang senilai empat dinar emas (41/2 gram), dari
tempat simpanan barang, maka harus di had (dihukum), dipotong tangan kanan,
bila mencuri lagi dipotong kaki yang kiri, kalau mencuri lagi harus dipotong
tangan kiri, kalau kaki kanan bila mencuri lagi.
3. Merampok
4. Gasab
5. Menarik upeti (semacam penarikan sebagian hasil panen)
6. Menyembunyikan harta rampasan perang

13

7. Membunuh, ini ada kafaratnya yaitu harus memerdekakan budak (perempuan)


mukmin yang selamat dari cacat. Jika tak mampu harus berpuasa selama dua
bulan berturut-turut. Bila sengaja membunuh, harus dibalas dibunuh. Kecuali bila
diampuni oleh keluarga yang dibunuh atas denda atau cuma-cuma. Jika karena
lalai atau yang menyerupainya maka wajib membayar denda seratus ekor unta,
jika yang dibunuh itu orang merdeka dan muslim (laki-laki). Dan lima puluh ekor
jika yang dibunuh perempuan merdeka yang muslim. Denda pembunuhan bisa
berbeda-beda menurut bentuk pembunuhan.
8. Memukul tanpa ada hak
9. Mengambil sogok (pelicin), atau menyerahkannya (suap)
10. Membakar binatang (hidup-hidup), kecuali bila binatang itu mengganggu.
Kalau memang satu-satunya jalan untuk menyingkirkan itu dengan membakar,
maka boleh
11. Menyiksa binatang
12. Bermain dadu (dakon jawa) atau main tab (main lemparan menggunakan
batang-batang kayu)
13. Setiap permainan yang ada taruhan, sampai mainan anak-anak menggunakan
buah pala, atau lempar-lemparan dengan menggunakan tulang-tulang kaki
kambing juga haram
14. Bermain dengan mainan yang diharamkan, seperti tambur, seruling, gitar, dan
lain-lain
15. Menyentuh perempuan lain dengan sengaja dan tanpa penghalang (alas).
Meski dengan alas tapi bersahwat juga haram, sekalipun yang disentuh itu sama
jenisnya (laki-laki sama laki-laki atau perempuan sama perempuan) atau bahkan
mahramnya sendiri.
16. Menggambar binatang

14

17. Tak mau membayar zakat atau sebagiannya, bila memang sudah berkewajiban
zakat dan memungkinkan.
18. Mengeluarkan zakat tapi tidak memenuhi ukuran zakat atau diberikan kepada
orang yang tak berhak menerima
19. Tidak mau memberi upah kepada orang / barang yang disewa
20. Tidak mau menolong orang yang sengsara dengan memberi sesuatu yang
dapat menutup kebutuhannya, padahal tak ada uzur
21. Menulis tulisan yang haram diucapkan
22. Berkhianat, yaitu lawan kata nasihat. Jadi, berkhianat itu dapat terkandung di
dalam perbuartan-perbuatan, ucapan-ucapan dan tingkah laku.
6. Kemaksiatan : perut, Lisan Parji ( kemaluan) kaki dan mata.
a. Kemaksiatan Perut:
1. Makan riba
2. Makan upeti
3. Makan barang gasapan
4. Makan barang curian
5. Makan setiap yang diperoleh dengan cara yang diharamkan agama
6. Minum arak. Peminum arak harus di hukum dengan empat puluh kali
cambukan bagi orang merdeka dan dua puluh kali untuk sahaya (budak). Dan bagi
imam boleh menambah hukuman sebagai hajaran.
7. Makan setiap yang memabukan, barang najis, atau barang yang kotor
(menjijikan).
8. Makan harta anak yatim atau harta wakaf dengan cara menyeleweng dari yang
ditentukan oleh orang yang mewakafkan.
9. Makan barang yang didapat dari jalan malu (yang memberi karena malu/takut).
b. kemaksiatan Lisan

15

1. Membicarakan orang (ngrasani jawa), yaitu menyebut-nyebut saudara muslim


dengan perkara yang tidak disukai, sekalipun apa adanya.
2. Mengadu domba, yaitu memindahkan perkataan dari seorang kepada yang lain
dengan tujuan merusak
3. Mengadu langsung tanpa memindahkan omongan, sekalipun mengadu pada
binatang, haram juga.
4. Berdusta, yaitu berkata salah dengan kenyataannya.
5. sumpah bohong
6. Ucapan-ucapan menuduh zina, adapun lafadznya sangat banyak. Prinsipnya
setiap kalimat yang dilontarkan kepada orang atau salah seorang dari kerabatnya
dengan tuduhan zina, itulah yang dimaksud menuduh zina (misal, suami berkata
kau hamil bukan dari aku dan sebagainya).
Adapun orang yang menuduh zina ada kalanya dengan kata-kata yang jelas dan
ada yang kinayah (sindiran). Orang yang menuduh zina wajib dijilid (di cambuk).
Delapan puluh kali cambukan bagi orang merdeka dan empat puluh kali bagi
budak.
7. mencaci maki para sahabat Nabi
8. Bersaksi (menjadi saksi kasus), tapi bohong
9. Mengingkari janji
10. menunda pembayaran hutang, padahal sudah ada
11. Memaki
12. Melaknati (kepada insan/binatang atau benda mati)
13. Mengina orang islam (dengan kata-kata)
14. Setiap omongan yang menyakitkan sesama muslim
15. Berdusta kepada Alloh dan Rasul-Nya.
16. Pengakuan yang batil (tidak benar)
17. Cerai bidah (mencerai istri dalam keadaan haid)
18. dihar (menyerupakan istri dengan mahram).
Dalam dihar ada kafaratnya (denda), jika tidak langsung diceraikan. Dendanya

16

yaitu memerdekakan budak perempuan mukmin dan bebas dari cacat. bila tak
kuasa harus berpuasa selama dua bulan berturut-turut. jika tak mampu harus
memberi makan enam puluh orang miskin, masing-masing satu mud (6 gram).
19. Lahn (sengaja membaca salah ketika membaca Al-quran), sekalipun tidak
merubah makna.
20. Mengemis pada orang kaya, baik ngemis harta atau minta pekerjaan.
21. Nazar, dengan sengaja/bermaksud agar para ahli waris tidak mendapat
warisan.
22. Tidak mau berwasiat untuk dibayarkan hutangnya (jika mati) atau tak mau
wasiat urusan barang yang tidak tahu urusannya kecuali dia.
23. Mengakui/menghubungkan nasab dengan selain bapaknya atau kepada selain
yang memerdekakannya.
24. Melamar perempuan yang sudah dilamar oleh temannya
25. Memberi petuah tanpa pengetahuan (ngawur).
26. Belajar atau mengajarkan ilmu yang membahayakan.
27. Menghukumi dengan selain hukum Allah.
28. Meratapi/menangisi (dengan suara keras) pada mayit.
29. Setiap ucapan yang mendorong kepada orang lain untuk berbuat haram atau
untuk meninggalkan kewajiban.
30. Setiap ucapan yang mencela agama, salah seorang nabi, para ulama, ilmu Alquran, peraturan agama, dan atau sesuatu dari tanda-tanda agama Alloh.
31. Meniup seruling
32. Diam tak mau amar makruf nahi mungkar, padahal tidak ada uzur.
33. Menyimpan ilmu yang wajib, sementara ada orang yang menuntut.
34. Mengeluarkan angin keluar dari dubur (kentut).
35. Menertawakan orang islam dengan maksud menghina.
36. Menyimpan penyaksian (dia tahu tentang kasus, dan tak mau jadi saksi).

17

37. Lupa hafalan Al-quran (pernah hafal lalu lupa).


38. Tidak mau menjawab salam, yang wajib untuk dijawab.
39. Mencium istri dengan sahwat ketika ihram haji atau ketika berpuasa fardhu.
40. Mencium orang yang tidak halal dicium.
C. Kemaksiatan Parji
1. Berzina
2. Wathi di dubur. Orang zina harus di had, yaitu dilempari batu dengan ukuran
cukup (tak besar tak kecil) hingga mati, bagi laki-laki atau perempuan yang
bersuami /beristri (muhsan). Apabila yang berzina itu belum pernah menikah,
maka harus dihukum dengan seratus kali cambukan dan dibuang (diasingkan)
selama satu tahun, demikian bagi orang merdeka, jika sahaya, maka hukumannya
separuh dari orang merdeka itu.
3. Menjimak binatang meskipun milik sendiri
4. Mengeluarkan mani (onani) dengan selain tangan halibnya (istri/budaknya).
5. Mengumpuli istri (jimak) dalam keadaan haid, nifas setelah tuntas tapi belum
mandi, sesudah mandi tapi tidak niat mandi, atau niat mandi tapi salah satu syarat
dari syarat-syarat mandi ada yang tidak dipenuhi.
6. Membuka aurat didepan orang yang haram melihat aurat itu atau membuka
aurat ditempat sepi tanpa ada hajat.
7. Buang air besar dan kencing dengan menghadap kiblat atau membelakanginya
tanpa ada tutup. Kalau pun ada, tapi jauh dari orang itu, lebih dari tiga ratus zirok
(satu zirok tambah 60 cm). Kalaupun dekat, tapi kurang dari dua pertiga zirok,
kecuali ditempat yang disediakan untuk buang air besar.
8. Berak didalam masjid sekalipun didalam bejana atau berak ditempat yang
dihormati
9. Tidak berkhitan setelah balig.
d. maksiat mata
Termasuk maksiat mata yaitu memandang perempuan lain (bagi laki-laki) atau
memandang laki-laki lain (bagi wanita). Orang laki-laki haram memandang
bagian tubuh perempuan, selain perempuan halal (istri/budak). Dan bagi

18

perempuan, haram membuka aurat atau sebagian dari tubuhnya dihadapan orang
yang haram memandang padanya.
Haram bagi laki-laki dan perempuan membuka bagian tubuh yang diantara
pusar dan lutut dihadapan orang yang memperhatikan auratnya meskipun yang
memandang dan yang dipandang sama jenis, atau mahram, selain halilnya (suami
istri/ tuan dan budaknya).
Bagi laki-laki dan perempuan haram membuka qubul atau duburnya di tempat
sepi (sendirian) tanpa ada hajat, kecuali di hadapan halilnya.
Dan bagi mahram atau yang sejenis (laki-laki sama laki-laki/perempuan sama
perempuan) atau anak yang belum disahwati, boleh memandang selain diantara
pusar dan lutut, asal tidak bersahwat. Kecuali anak laki/perempuan yang belum
sampai usia tamyiz. boleh dipandang asal bukan farji anak perempuan. Tapi kalau
ibu boleh memandang farji anaknya. Haram memandang kepada sesama muslim
dengan gaya menghina.
Haram memandang kedalam rumah orang lain tanpa mendapat izin dari
pemiliknya. Haram memandang sesuatu yang sengaja disimpan tanpa mendapat
izin. Haram menyaksikan kemungkaran, jika dia tidak ingkar dan bukan tergolong
orang yang diampuni untuk menyaksikan nya. Bagi yang menyaksikan
kemungkaran wajib segera meninggalkan tempat itu.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kata Tanbih ( )dalam bahasa Arab berarti hal yang menjagakan,
mengingatkan, dan peringatan. Kata tanbih juga dapat berarti penyegaran
kembali seperti yang dituliskan A. Hasjmy dalam buku karangannya Dustur
Dakwah Menurut Al-Quran.
Adapun pengertian kewajiban, antara lain sebagai berikut: dilihat dari segi
ilmu fiqih, wajib mempunyai arti pengertian sesuatu yang harus dikerjakan,
apabila dikerjakan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan mendapat dosa.
Menurut ilmu tauhid, wajib sesuatu yang pasti benar adanya. Sedangkan menurut

19

ilmu akhlak, wajib adalah suatu perbuatan yang harus dikerjakan, karena
perbuatan itu dianggap baik dan benar. Kewajiban sendri adalah suatu tindakan
yang harus dilakukan oleh setiap manusia dalam memenuhi hubungan sebagai
makhluk individu, sosial, dan tuhan.

DAFTAR PUSTAKA
Amin, Ahmad. 1983. Etika (Ilmu Akhlak). Jakarta: Bulan Bintang.
K. Bertens. 2007. Etika, PT. Gramedia Pustaka Utama : Jakarta
Khair Fatimah, Muhammad. 2001, Al-Adab Al-Islamiyah, Dar Al-Khayr, hal:227231
Mabrur, A., KH. 2002. Ilmu Akhlaaq Islam. Tasikmalaya: Pesantren
Srahtarjuningrahayu Kiarakuda.
Wardi Muslich. Ahmad, Drs, H,.2005. Hukum Pidana Islam. Jakarta: EGC

20