You are on page 1of 43

GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG HIPERTENSI SEBAGAI

FAKTOR RESIKO STROKE DAN KEPATUHAN MENGKONSUMSI OBAT ANTI
HIPERTENSI PADA PENDERITA HIPERTENSI DI POSYANDU LANSIA WILAYAH
KERJA PUSKESMAS PADANG GUCI

ABSTRAK
Latar belakang :
Stroke adalah suatu penyakit defisit neurologis akut yang disebabkan oleh
gangguan pembuluh darah otak yang terjadi secara mendadak dan menimbulkan gejala dan
tanda yang sesuai dengan daerah otak yang terganggu. Hipertensi yang tidak diobati adalah
penyebab utama stroke.Banyak penderita hipertensi yang tidak sadar dengan karakter penyakit
sehingga masyarakat sering mengacuhkan terapi kontrol obat pada hipertensi. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui pengetahuan tentang hipertensi sebagai faktor resiko stroke dan
kepatuhan dalam pengobatan pasien hipertensi.
Metode:
Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif yang dilaksanakan dengan metode
survei, dimana pengumpulan/pengambilan data diambil pada pasien rawat jalan hipertensi di bagian
poliklinik ginjal dan hipertensi interna di RSUP Prof.DR.R.D Kandou Manado.
Hasil:
Jumlah sampel yang memenuhi kriteria untuk penelitian berjumlah 73 sampel di Bagian poli
Interna RSU Prof. R. D. Kandou Manado bulan November 2012, umur dari responden yang terbanyak
yaitu 46-65 tahun sebanyak 65 responden (89%) dan pendidikan terakhir dari responden yang
terbanyak adalah pendidikan SLTA sebanyak 30 responden (41.1%), kebanyakan responden
masih bekerja sebanyak 48 responden (65.8%).
Kesimpulan:
Berdasarkan dari hasil yang didapatkan, kategori tingkat pengetahuan responden tentang
hipertensi sebagai faktor resiko stroke kebanyakan Cukup yaitu 34 responden (46.6%) kategori untuk
kepatuhan mengkonsumsi obat anti hipertensi kebanyakan Baik yaitu sebanyak 39 responden (53.4%).
Kata kunci :Stroke, Hipertensi,Pengetahuan,Kepatuhan.

ABSTACK
Background:
Stroke is a disease of acute neurological deficits caused by brain blood vessel
disorders that occur suddenly and cause symptoms and signs corresponding to the affected
brain regions. Untreated hypertension is a major cause of stroke. Many patients with
hypertension are not aware of the character of the disease so that people often ignore drug
therapy in hypertension control. This study aimed to determine the knowledge of hypertension
as a risk factor for stroke and compliance in the treatment of hypertensive patients.
Methods:
This research is a descriptive study conducted by survey, where collection / retrieval of data
taken at the outpatient clinic of hypertension on the kidney and hypertension in the
department of internal Prof.DR.RD Kandou Manado.
Results: The number of samples that
meet the criteria for the study amounted to 73 samples in Part poly Interna RSU Prof. R. D.
Kandou Manado in November 2012, the age of most respondents is 46-65 years by 65
respondents (89%) and education level of most respondents are high school education by 30
respondents (41.1%), most respondents still working as many as 48 respondents (65.8
%).
Conclusion: Based on the results obtained, the respondents knowledge level category of
hypertension as a risk factor for stroke mostly just the 34 respondents (46.6%) categories for
compliance with anti-hypertensive drugs are mostly good total of 39 respondents (53.4%)
Keywords: Stroke, Hypertension, Knowledge, Compliance

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL………………………………………………........... I
ABSTRAK………………………………………………………………... Ii
DAFTAR ISI…………………………………………………………….... X
DAFTAR TABEL………………………………………………………… Xii
DAFTAR GAMBAR…………………………………………………….. Xiii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang…………………………………………………… 1
B. Perumusan Masalah……………………………………………… 4
C. Tujuan Penelitian………………………………………………… 4
D. Manfaat Penelitian………………………………………………. 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 7
A. Pengetahuan ................................................................................ 7
B. Hipertensi……………………………………………………........ 13
2.1 Defenisi Hipertensi ................................................................ 9
2.2 Klasifikasi Hipertensi..................................................... 10
2.3. Epidemiologi

2.3 Gejala Hipertensi ................................................................... 12
2.4 Penyebab Hipertensi .............................................................. 13
2.5 Komplikasi Hipertensi ........................................................... 14
2.6 Pengobatan Hipertensi ........................................................... 15
2.7 Diet untuk Penderita Hipertensi ............................................. 18
3. Stroke.......................................................................................... 19
B. Lanjut Usia………………………………………………………. 14
C. Posyandu Lansia…………………………………………………. 18
BAB VI PENATALAKSANAAN 21
A. Pengendalian Faktor Resiko 21

B. D. Upaya Pengendalian Hipertensi…………………………….......... 21
B. Terapi Farmakologis 22
C. Rujukan........ 25

E. Kerangka Teori…………………………………………............... 22
F. Kerangka Konsep………………………………………………... 23
G. Hipotesis…………………………………………………………. 23
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 24
A. Jenis dan Rancangan Penelitian………………………………….. 24
B. Subjek Penelitian………………………………………………… 24
C. Waktu dan Tempat Penelitian……………………………………. 24
D. Populasi dan Sampel…………………………………………… 24

Pengumpulan Data………………………………………………. 25 3. Hasil Penelitian………………………………………………… 33 1.. 33 B. Instrumen penelitian…………………………………………. 48 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN .1. 28 H. Saran………………………………………………………………. Analisis Data…………………………………………………… 32 BAB IV HASIL PENELITIAN 33 A. Pengolahan Data………………………………………………… 31 I.. Kesimpulan………………………………………………………… 48 B. 34 3. Hubungan antara Pengawasan Kelaurga dengan Upaya Pengendalian Hipertensi……………………………………… 43 D. Teknik pengambilan sampel…………………………………. Hubungan antara Pengetahuan Lansia dengan Upaya Pengendalian Hipertensi……………………………………… 45 BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 48 A. Cara pengumpulan data……………………………………… 28 4. 26 E. Variabel Penelitian………………………………………………. 26 G. Karakteristik responden……………………………………… 33 2.. Sumber data………………………………………………… 28 3. Definis Operasional Variabel……………………………………. 28 2.. 26 F. Sampel………………………………………………………. Hubungan antara Sikap Lansia dengan Upaya Pengendalian Hipertensi……………………………………………………… 41 C. 40 B. Jenis data……………………………………………………. 28 1. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin………………………………………………………. Analisis bivariat……………………………………………… 36 BAB V PEMBAHASAN 40 A. Populasi……………………………………………………… 24 2. Gambaran Umum Lokasi Penelitian…………………………….. Analisis univariat…………………………………………….

Hal ini juga meningkatkan risiko penyakit jantung koroner sebesar 12% dan meningkatkan risiko stroke sebesar 24% (WHO. Berbagai perubahan fisiologis akibat proses penuaan akan dialami oleh lansia yang diantaranya memicu terjadinya hipertensi.(Faktor upaya pengendalian hipertensi) Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah keadaan peningkatan tekanan darah yang akan berlanjut pada suatu organ target seperti stroke 1 Insiden stroke secara nasional diperkirakan adalah 750. akibat gangguan peredaran darah di otak.000 per tahun. Data Global Status Report on Noncommunicable Diseases 2010 dari WHO.Stroke ditemukan pada semua golongan usia.4 juta kematian akibat penyakit kardiovaskuler setiap tahun. dengan 200.BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Hipertensi adalah salah satu penyebab utama mortalitas dan morbiditas di Indonesia. 2 (referensi dari judul sendiri) Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2012 Hipertensi memberikan kontribusi untuk hampir 9. sehingga tatalaksana penyakit ini merupakan intervensi yang sangat umum dilakukan diberbagai tingkat fasilitas kesehatan. 2012). menyebutkan 40% negara ekonomi berkembang memiliki penderita hipertensi. di mana akan terjadi peningkatan 100 kali lipat pada mereka yang berusia 80-90 tahun. Hipertensi juga dikenal sebagai heteregeneous group of disease karena dapat menyerang siapa saja dari berbagai kelompok umur dan kelompok sosial ekonomi yang dapat beresiko stroke. Ditemukan kesan bahwa insiden stroke meningkat secara eksponensial dengan bertambahnya usia. namun sebagian besar akan dijumpai pada usia diatas 55 tahun. Stroke merupakan salah satu masalah kesehatan yang serius karena ditandai dengan tingginya morbiditas dan mortalitas. Salah satu faktor risiko yang penting untuk terjadinya stroke adalah hipertensi. .000 merupakan stroke rekuren. Stroke adalah gangguan fungsi otak yang timbulnya mendadak. berlangsung selama 24 jam atau lebih. (referensi dari judul sendir) Meningkatnya prevalensi hipertensi setiap tahun menjadi masalah utama di negara berkembang dan negara maju.

dan baru mulai mengkonsumsi obat antihipertensi saat sudah terjadi kerusakan organ. Ketika penderita dinyatakan tekanan darahnya sudah normal.4% kasus yang minum obat hipertensi (referensi dari judul sendiri). Kawasan Asia Tenggara. keluarga.6 miliar orang dewasa di seluruh dunia menderita hipertensi (Depkes RI 2013:1). Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 ditemukan prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 31. Namun sering terdapat pendapat keliru di masyarakat bahwa mengonsumsi obat antihipertensi akan menyebabkan ketergantungan. umur. hipertensi perlu dideteksi dini yaitu dengan pemeriksaan tekanan darah secara berkala(kontrol tekanan darah) (Depkes RI. Problem ketidakpatuhan umum dijumpai dalam pengobatan penyakit kronis yang memerlukan pengobatan jangka panjang seperti hipertensi.8%. mereka menganggap kalau kesembuhan mereka permanen.Sehingga tidaklah mengherankan bila pada lebih dari 20% penderita stroke . dimana hanya 7. pekerjaan. dan juga sangat berperan .7%. Banyak penderita hipertensi yang tidak sadar dengan karakter penyakit ini yang timbul tenggelam. Hal ini menandakan bahwa sebagian besar kasus hipertensi di masyarakat belum terdiagnosis dan terjangkau pelayanan kesehatan. gaya hidup dan pola makan(Faktor upaya pengendalian hipertensi). tetapi yang terdiagnosis oleh tenaga kesehatan atau riwayat minum obat hanya sebesar 9. Faktor yang mempertinggi hipertensi antara lain daya tahan tubuh terhadap penyakit. Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Indonesiatahun 2013 prevalensi hipertensi di Indonesia yang didapat melalui pengukuran pada umur ≥18 tahun sebesar 25. 2003). padahal hipertensi bisa terjadi kembali. Jumlah ini akan terus meningkat seiring dengan perubahan gaya hidup modern sehingga hipertensi menjadi masalah kesehatan yang serius. sehingga terbentuk pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan lansia dan mendekatkan pelayanan serta meningkatkan peran serta masyarakat dan swasta dalam pelayanan kesehatan di samping meningkatkan komunikasi antara masyarakat usia lanjut (Depkes RI. Tujuan pembentukan posyandu lansia secara garis besar antara lain meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan lansia di masyarakat. terdapat 36% orang dewasa yang menderita hipertensi dan telah membunuh 1.8% (Riskesdas.5 juta orang setiap tahunnya. adat kebiasaan.5%. diprediksikan pada tahun 2025 sekitar 29% atau sekitar 1.2% penduduk yang sudah mengetahui memiliki hipertensi dan hanya 0. sementara tekanan darah yang terus menerus tinggi dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan komplikasi. 2007).4(referensi dari judul sendir) Posyandu lansia digerakkan oleh masyarakat di mana mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan. Kepatuhan pengobatan pasien hipertensi merupakan hal penting karena hipertensi merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan tetapi harus selalu dikontrol atau dikendalikan agar tidak terjadi komplikasi yang dapat berujung pada kematian (Palmer dan William. 2013). Posyandu lansia merupakan pengembangan dari kebijakan pemerintah melalui pelayanan kesehatan bagi lansia yang penyelenggaraannya melalui program puskesmas dengan melibatkan peran serta para lansia. tokoh masyarakat dan organisasi sosial. 2012). Jumlah penderita hipertensi akan terus meningkat tajam.sedangkan negara maju hanya 35%. Hipertensi juga merupakan penyebab kematian ke-3 di Indonesia pada semua umur dengan proporsi kematian 6. 3 Oleh karena itu. baru mengetahui bahwa dirinya menderita hipertensi saat sudah terkena stroke.Hal ini menyebabkan beberapa penderita hipertensi enggan. Obat-obat antihipertensi yang ada saat ini telah terbukti dapat mengontrol tekanan darah pada pasien hipertensi. Penggunaan obat-obat antihipertensi sangat dianjurkan bagi penderita hipertensi. Hipertensi sering tidak menimbulkan gejala sehingga disebut sebagai silent killer.

Teknik pengambilan sampel dengan teknik simple random sampling.dalam menurunkan risiko berkembangnya komplikasi kardiovaskular. 2011:247). Manfaat Penelitian Dapat memberikan sumbangan dalam perkembangan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan hipertensi sebagai factor resiko stroke dan pentingnya pengobatan hipertensi . Namun demikian. 2. Untuk mendeskripsikan kepatuhan dalam pengobatan penderita hipertensi. penggunaan antihipertensi saja terbukti tidak cukup untuk menghasilkan efek pengontrolan tekanan darah jangka panjang apabila tidak didukung dengan kepatuhan dalam menggunakan antihipertensi tersebut (Saepudin dkk. . Pasien rawat jalan hipertensi di bagian poliklinik ginjal dan hipertensi interna selama waktu penelitian berjalan. Penelitian dilaksanakan selama satu bulan yaitu pada bulan November 2012 bertempat di RSUP Prof.DR.DR.Data yang diperoleh akan di kumpulkan dan di olah. baik secara manual maupun dengan menggunakan computer kemudian akan di tampilkan atau disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi serta menggunakan program SPSS versi 17 untuk pengolahan data.R. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif yang dilaksanakan dengan metode survei. Untuk mendeskripsikan tingkat pengetahuan tentang hipertensi sebagai faktor resiko stroke.R.000). Seluruh sampel berjumlah 73 orang. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Hairunisa (2014) yang menunjukan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat kepatuhan minum obat antihipertensi dengan tekanan darah terkontrol (p=0. dimana jumlah subjek dalam populasi yang tidak diketahui akan dipilih dan dihitung terlebih dahulu dengan menggunakan Formula Snedecor dan Cochran. Pada penelitian ini menggunakan data primer yaitu kuesioner.D Kandou Manado. Tujuan Khusus `1. Pengukuran kuesioner menggunakan skala Guttman dimana jawaban Positif adalah bernilai 1 dan jawaban Negatif adalah bernilai 0. dapat memberikan penyuluhan/ informasi kepada pasien hipertensi tentang pentingnya pengobatan hipertensi dan dapat digunakan sebagai bahan penelitian selanjutnya. Dengan populasinya adalah pasien hipertensi di RSUP Prof.D Kandou Manado. Rumusan Masalah Berdasarkan data dalam latar belakang maka permasalahan yang dapat dirumuskan adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan tentang hipertensi sebagai faktor resiko stroke dan kepatuhan meminum obat hipertensi pada penderita hipertensi Tujuan Penelitian Tujuan Umum Untuk mengetahui pengetahuantentang hipertensi sebagai faktor resiko stroke dan kepatuhan dalam pengobatan pasien hipertensi.

serta polisitemia.25 2. merokok. alkohol. dan umur. dan lain-lain. feokromositoma. disebut juga hipertensi idiopatik. Tekanan sistolik berkaitan dengan tingginya tekanan pada arteri apabila jantung berkontraksi (denyut jantung). defek dalam ekskresi Na. lingkungan. kurangnya aktivitas fisik.1 Definisi Hipertensi Hipertensi adalah meningkatnya tekanan darah sistolik lebih besar dari 140 mmHg dan atau diastolik lebih besar dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu 5 menit dalam keadaan cukup istirahat (tenang). Terdapat sekitar 95 % kasus. penyakit jantung koroner (PJK). penyakit ginjal. 2) Hipertensi sekunder atau hipertensi renal. jenis kelamin. Hipertensi diastolik (diastolic hypertension) merupakan peningkatan tekanan diastolik tanpa diikuti peningkatan tekanan sistolik. biasanya ditemukan pada anak-anak dan dewasa muda.24. 28 . gangguan ginjal dan lain-lain yang berakibat pada kelemahan fungsi dari organ vital seperti otak. dan faktor-faktor yang meningkatkan risiko. dan sindrom Cushing. yaitu: 1) Hipertensi esensial atau hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya. ginjal dan jantung yang dapat berakibat kecacatan bahkan kematian. hiperaldosteronisme primer.23 Hipertensi dapat mengakibatkan komplikasi seperti stroke. Hipertensi sistolik (isolated systolic hypertension) merupakan peningkatan tekanan sistolik tanpa diikuti peningkatan tekanan diastolik dan umumnya ditemukan pada usia lanjut. perilaku merokok. seperti penggunaan estrogen. Hipertensi atau yang disebut the silent killer yang merupakan salah satu faktor resiko paling berpengaruh penyebab penyakit jantung (cardiovascular). seperti obesitas.7 Hipertensi didefinisikan oleh Joint National Committee on Detection.2 Klasifikasi Hipertensi Hipertensi dapat dibedakan menjadi tiga golongan yaitu hipertensi sistolik. Penyebab spesifiknya diketahui. pola konsumsi makanan yang mengandung natrium dan lemak jenuh. hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan. Hipertensi campuran merupakan peningkatan pada tekanan sistolik dan diastolik. Tekanan sistolik merupakan tekanan maksimum dalam arteri dan tercermin pada hasil pembacaan tekanan darah sebagai tekanan atas yang nilainya lebih besar. Terdapat sekitar 5% kasus.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. sehingga memperbesar tahanan terhadap aliran darah yang melaluinya dan meningkatkan tekanan diastoliknya. kelemahan jantung.22 Hipertensi merupakan penyakit yang timbul akibat adanya interaksi berbagai faktor resiko yang dimiliki seseorang. Tekanan darah diastolik berkaitan dengan tekanan arteri bila jantung berada dalam keadaan relaksasi di antara dua denyutan. hiperaktivitas susunan saraf simpatis. dan hipertensi campuran.26-27 Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi dua golongan. Evaluation and Treatment of High Blood Pressure sebagai tekanan yang lebih tinggi dari 140 / 90 mmHg. Hipertensi diastolik terjadi apabila pembuluh darah kecil menyempit secara tidak normal. hipertensi diastolik. Faktor pemicu hipertensi dibedakan menjadi yang tidak dapat dikontrol seperti riwayat keluarga. Faktor yang dapat dikontrol seperti obesitas. hipertensi vaskular renal. peningkatan Na dan Ca intraselular. Banyak faktor yang mempengaruhinya seperti genetik. koartasio aorta. sistem renin-angiotensin.

Namun banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya menderita hipertensi.3 Patofisiologi Tubuh memiliki sistem yang berfungsi mencegah perubahan tekanan darah secara akut yang disebabkan oleh gangguan sirkulasi. 1) Perubahan anatomi dan fisiologi pembuluh darah Aterosklerosis adalah kelainan pada pembuluh darah yang ditandai dengan penebalan dan hilangnya elastisitas arteri. sangat sedikit urin yang diekskresikan ke luar tubuh (antidiuresis). kelainan aliran darah. Kestabilan tekanan darah jangka panjang dipertahankan oleh sistem yang mengatur jumlah cairan tubuh yang melibatkan berbagai organ terutama ginjal. Boedi Darmoyo dalam penelitiannya menemukan bahwa antara 1. volume cairan ekstraseluler akan ditingkatkan dengan cara . kalsium dan berbagai substansi lainnya dalam lapisan pembuluh darah. Pada usia 65 tahun ke atas. terjadi pada manusia yang setengah umur (Iebih dari 40 tahun). Pada golongan umum 55 -64 tahun.Menurut The Seventh Report of The Joint National Committee on Prevention. pengamatan pada populasi menunjukkan penurunan tekanan darah dapat menurunkan terjadinya penyakit jantung. Pada usia setengah baya dan muda. hipertensi ini lebih banyak menyerang pria daripada wanita. Sehingga. Pertumbuhan plak di bawah lapisan tunika intima akan memperkecil lumen pembuluh darah. sehingga menjadi pekat dan tinggi osmolalitasnya. Hal ini disebabkan gejalanya tidak nyata dan pada stadium awal belum menimbulkan gangguan yang serius pada kesehatannya. klasifikasi hipertensi pada orang dewasa dapat dibagi menjadi kelompok normal.8% -28. Penelitian epidemiologi membuktikan bahwa tingginya tekanan darah berhubungan erat dengan kejadian penyakit jantung. Untuk mengencerkannya.) cari table jnc dan who hipertensi. prehipertensi. Detection. Meningkatkan sekresi Anti-Diuretic Hormone (ADH) dan rasa haus. Aterosklerosis merupakan proses multifaktorial. obstruksi luminal. 33 2) Sistem renin-angiotensin Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiotensin II dari angiotensin I oleh angiotensin I-converting enzyme (ACE). hipertensi derajat I dan derajat II. and Treatment of High Blood Pressure (JNC VII). 2. Epidemiologi Hipertensi adalah suatu gangguan pada sistem peredaran darah. produk sampah seluler. Pertumbuhan ini disebut plak. penderita hipertensi wanita lebih banyak daripada pria. Evaluation. a. Pada umumnya. (Tabel 2. penderita hipertensi pada pria dan wanita sama banyak. Dengan meningkatnya ADH.31-32 Sel endotel pembuluh darah juga memiliki peran penting dalam pengontrolan pembuluh darah jantung dengan cara memproduksi sejumlah vasoaktif lokal yaitu molekul oksida nitrit dan peptida endotelium. Disfungsi endotelium banyak terjadi pada kasus hipertensi primer. kolesterol. Prevalensi hipertensi di seluruh dunia diperkirakan antara 15-20%. pengurangan suplai oksigen pada organ atau bagian tubuh tertentu. yang cukup banyak mengganggu kesehatan masyarakat. Terjadi inflamasi pada dinding pembuluh darah dan terbentuk deposit substansi lemak.6% penduduk dewasa adalah penderita hipertensi. yang berusaha untuk mempertahankan kestabilan tekanan darah dalam jangka panjang reflek kardiovaskular melalui sistem saraf termasuk sistem kontrol yang bereaksi segera. Angiotensin II inilah yang memiliki peranan kunci dalam menaikkan tekanan darah melalui dua aksi utama.

menarik cairan dari bagian intraseluler. yang pada akhirnya akan meningkatkan tekanan darah. Untuk mengatur volume cairan ekstraseluler. yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medula spinalis ke ganglia simpatis di toraks dan abdomen.35 Gambar 1. neuron preganglion melepaskan asetilkolin. Naiknya konsentrasi NaCl akan diencerkan kembali dengan cara meningkatkan volume cairan ekstraseluler yang pada gilirannya akan meningkatkan volume dan tekanan darah. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui saraf simpatis ke ganglia simpatis. aldosteron akan mengurangi ekskresi NaCl (garam) dengan cara mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. 34 3) Sistem saraf simpatis Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak di pusat vasomotor. Akibatnya. Pada titik ini.4 Faktor-faktor Risiko Hipertensi Faktor resiko terjadinya hipertensi antara lain: . pada medula di otak. yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah. volume darah meningkat. Menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenal. b. dimana dengan dilepaskannya norepinefrin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Faktor-faktor yang mempengaruhi tekanan darah 2. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis.

37 .1) Usia Tekanan darah cenderung meningkat dengan bertambahnya usia. 4) Kebiasaan Gaya Hidup tidak Sehat Gaya hidup tidak sehat yang dapat meningkatkan hipertensi. 2) Kegemukan atau makan yang berlebihan Berdasarkan hasil penelitian Jono (2009). Kebiasaan hidup Kebiasaan hidup yang dimaksud antara lain: 1) Konsumsi garam yang tinggi 2) Berdasarkan data statistik diketahui bahwa hipertensi jarang diderita oleh suku bangsa atau penduduk dengan konsumsi garam yang rendah. antara lain minum minuman beralkohol. a. Dunia kedokteran juga telah membuktikan bahwa pembatasan konsumsi garam (natrium) oleh obat diuretik (pelancar kencing) akan menurunkan tekanan darah lebih lanjut. Merokok Merokok merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan hipertensi. 38-39 Karbon monoksida dalam asap rokok akan menggantikan ikatan oksigen dalam darah. 2) Ras/etnik Hipertensi bisa mengenai siapa saja. 3) Jenis Kelamin Pria lebih banyak mengalami kemungkinan menderita hipertensi daripada wanita. sehingga tekanan darah akan meningkat. Di otak.37 Tembakau memiliki efek cukup besar dalam peningkatan tekanan darah karena dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah.20%) responden yang menderita hipertensi 76. Hal tersebut mengakibatkan tekanan darah meningkat karena jantung dipaksa memompa untuk memasukkan oksigen yang cukup ke dalam organ dan jaringan tubuh lainnya. Kandungan bahan kimia dalam tembakau juga dapat merusak dinding pembuluh darah. rasa marah. dan rasa bersalah) dapat merangsang kelenjar anak ginjal melepaskan hormon adrenalin dan memacu jantung berdenyut lebih cepat.30% nya mengalami obesitas. Menghisap rokok menyebabkan nikotin terserap oleh pembuluh darah kecil dalam paru-paru dan kemudian akan diedarkan hingga ke otak.36 c. rasa takut. sebab rokok mengandung nikotin. dendam. biasa sering muncul pada etnik Afrika Amerika dewasa daripada Kaukasia atau Amerika Hispanik. Bagaimanapun. serta lebih kuat. kurang berolahraga. hal ini dibuktikan dari sebanyak 64 orang (84. nikotin akan memberikan sinyal pada kelenjar adrenal untuk melepas epinefrin atau adrenalin yang akan menyempitkan pembuluh darah dan memaksa jantung untuk bekerja lebih berat karena tekanan darah yang lebih tinggi. dan merokok. murung. Pada laki-laki meningkat pada usia lebih dari 45 tahun sedangkan pada wanita meningkat pada usia lebih dari 55 tahun. diketahui bahwa faktor obesitas atau kegemukan berhubungan dengan hipertensi. 3) Stres atau ketegangan jiwa Diketahui bahwa stres atau ketegangan jiwa (rasa tertekan.

3 kali lebih banyak mengalami peningkatan tekanan darah sistolik dibandingkan dengan perempuan. risiko terkena hipertensi menjadi lebih besar.1. Faktor risiko yang tidak dapat diubah a.Karbon monoksida dalam asap rokok akan menggantikan ikatan oksigen dalam darah. Ada kesalahan pemikiran yang sering terjadi pada masyarakat bahwa penderita hipertensi selalu merasakan gejala penyakit.1. 2. Kurangnya aktifitas fisik juga dapat meningkatkan risiko kelebihan berat badan yang akan menyebabkan risiko hipertensi meningkat. gelisah. Jenis Kelamin Jenis kelamin berpengaruh pada terjadinya hipertensi. 2013:17). karena pria diduga memiliki gaya hidup yang cenderung meningkatkan tekanan darah.1. Hal tersebut mengakibatkan tekanan darah meningkat karena jantung dipaksa memompa untuk memasukkan oksigen yang cukup ke dalam organ dan jaringan tubuh lainnya. mudah lelah dll (Depkes RI.6 Tanda dan Gejala Sebagian besar penderita hipertensi tidak merasakan gejala penyakit. penglihatan kabur. Tidak semua penderita hipertensi mengenali atau merasakan keluhan maupun gejala. Studi epidemiologi membuktikan bahwa olahraga secara teratur memiliki efek antihipertensi dengan menurunkan tekanan darah sekitar 6-15 mmHg pada penderita hipertensi. hipertensi terutama ditemukan hanya berupa kenaikan tekanan darah sistolik. yaitu faktor risiko yang tidak dapat diubah dan faktor risiko yang dapat diubah. karena olahraga isotonik dan teratur dapat menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan darah.41 2.1. Bila tekanan darah tidak terkontrol dan menjadi sangat tinggi (keadaan ini disebut hipertensi berat atau hipertensi maligna)(Palmer dan William. Kenyataannya justru sebagian besar penderita hipertensi tidak merasakan adanya gejala penyakit (WHO. Olahraga juga dikaitkan dengan peran obesitas pada hipertensi. Namun setelah . Olahraga banyak dihubungkan dengan pengelolaan hipertensi. Pada orang yang tidak aktif melakukan kegiatan fisik cenderung mempunyai frekuensi denyut jantung yang lebih tinggi. Kejadian ini disebabkan oleh perubahan struktur pada pembuluh darah besar (Depkes RI 2013:7). Pada usia lanjut. Hipertensi jarang menimbulkan gejala dan cara satu-satunya untuk mengetahui apakah seseorang mengalami hipertensi adalah dengan mengukur tekanan darah. sehingga hipertensi sering dijuluki pembunuh dian-diam (silent killer). Kurangnya aktifitas fisik Aktivitas fisik sangat mempengaruhi stabilitas tekanan darah. Umur Umur mempengaruhi terjadinya hipertensi. b. 1. 40 b. jantung berdebar-debar. Hal tersebut mengakibatkan otot jantung bekerja lebih keras pada setiap kontraksi. rasa sakit didada. pusing. makin besar pula tekanan yang dibebankan pada dinding arteri sehingga meningkatkan tahanan perifer yang menyebabkan kenaikkan tekanan darah.8 Faktor Risiko Hipertensi Menurut Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular faktor risiko hipertensi yang tidak ditangani dengan baik dibedakan menjadi dua kelompok. Pria mempunyai risiko sekitar 2. 2007:12). Dengan bertambahnya umur. Makin keras usaha otot jantung dalam memompa darah. Keluhan-keluhan yang tidak spesifik pada penderita hipertensi antara lain: sakit kepala. 2012).

Merokok akan meningkatkan denyut jantung. murung. f. sehingga tekanan darah meningkat (Depkes RI 2013: 11). Sedangkan. Stress atau ketegangan jiwa (rasa tertekan. 2. Dengan melakukan olahraga aerobik yang teratur tekanan darah dapat turun. prevalensi hipertensi pada perempuan meningkat (Depkes RI 2013:7). pada penderita hipertensi ditemukan sekitar 20-30% memilki berat badan lebih (overweight) (Depkes RI 2013:8).9 Penatalaksanaan Hipertensi Penatalaksanaan penyakit hipertensi bertujuan untuk mengendalikan angka kesakitan dan angka kematian akibat penyakit hipertensi dengan cara seminimal . sehingga kebutuhan oksigen otot-otot jantung bertambah (Depkes RI 2013:9). dendam. terutama hipertensi primer (essensial). Kegemukan (obesitas) Berat badan dan indeks masa tubuh (IMT) berkolerasi langsung dengan tekanan darah. sehingga akan meningkatkan volume tekanan darah (Depkes RI 2013:9). Faktor genetik juga berkaitan dengan metabolisme pengaturan garam dan renin membran sel (Depkes RI 2013:7). Konsumsi garam berlebihan Garam menyebabkan penumpukan cairan dalam tubuh karena menarik cairan diluar sel agar tidak dikeluarkan. Merokok Zat-zat kimia beracun seperti nikotin dan karbon monoksida yang dihisap melalui rokok yang measuk melalui aliran darah dapat mengakibatkan tekanan darah tinggi. d. 2. g. meskipun berat badan belum turun (Depkes RI 2013:9). Kurang aktivitas fisik Olahraga yang teratur dapat membantu menurunkan tekanan darah dan bermanfaat bagi penderita hipertensi ringan. rasa takut. b. terutama tekanan darah sistolik dimana risiko relatif untuk menderita hipertensi pada orang-orang gemuk 5 kali lebih tinggi untuk menderita hipertensi dibandingkan dengan seorang yang badanya normal. rasa bersalah) dapat merangsang kelenjar anak ginjal melepaskan hormon adrenalin dan memacu jantung berdenyut lebih cepat serta kuat. marah.1. c. Keturunan (Genetik) Riwayat keluarga dekat yang menderita hipertensi (faktor keturunan) juga meningkatkan risiko hipertensi.memasuki menopause. Diduga peningkatan kadar kortisol. Dislipidemia Kolesterol merupakan faktor penting dalam terjadinya aterosklerosis. c. Psikososial dan Stress h. yang kemudian mengakibatkan peningkatan tahanan perifer pembuluh darah sehingga tekanan darah meningkat (Depkes RI 2013:10). e. Konsumsi Alkohol Berlebih Pengaruh alkohol terhadap kenaikan tekanan darah telah dibuktikan. peningkatan volume sel darah merah dan peningkatankekentalan darah berperan dalam menaikan tekanan darah (Depkes RI 2013:11).1. Faktor risiko yang dapat diubah a.

atau karena efek tidak langsung. alkohol dan sebagainya. Beberapa penelitian menemukan bahwa penyebab kerusakan organ-organ tersebut dapat melalui akibat langsung dari kenaikan tekanan darah pada organ.45 Umumnya. stress oksidatif. down regulation. Sebaiknya dilakukan lebih dari satu kali pengukuran dalam posisi duduk dengan siku lengan menekuk di atas meja dengan posisi telapak tangan menghadap ke atas dan posisi lengan sebaiknya setinggi jantung. jantung. apakah arteri dan organ-organ internal terpengaruh. pembuluh darah arteri. 4) Pemeriksaan dasar Setelah terdiagnosis hipertensi maka akan dilakukan pemeriksaan dasar. baik secara langsung maupun tidak langsung. hipertensi dapat menimbulkan kerusakan organ tubuh. kualitas hidup penderita menjadi rendah dan kemungkinan terburuknya adalah terjadinya kematian pada penderita akibat komplikasi hipertensi yang dimilikinya. radiologis.ray khusus (angiografi) yang mencakup penyuntikan suatu zat warna yang digunakan untuk memvisualisasi jaringan arteri aorta. tes laboratorium. 5) Tes khusus Tes yang dilakukan antara lain adalah : a. Komplikasi tersebut dapat menyerang berbagai target organ tubuh yaitu otak.43 2. dan lain-lain. soda. misalnya kerusakan pembuluh darah akibat meningkatnya ekspresi transforming growth factor-β (TGF-β). 2) Mengisolasi penyebabnya Tujuan kedua dari program diagnosis adalah mengisolasi penyebab spesifiknya. X. EKG (electrocardiography) dan rontgen. seperti kardiologis. renal dan adrenal. yaitu pencarian faktor-faktor risiko tambahan yang tidak boleh diabaikan. 3) Pencarian faktor risiko tambahan Aspek lain yang penting dalam pemeriksaan. serta ginjal.6 Komplikasi Hipertensi Hipertensi yang terjadi dalam kurun waktu yang lama akan berbahaya sehingga menimbulkan komplikasi. 42 Pasien yang terdiagnosa hipertensi dapat dilakukan tindakan lebih lanjut yakni : 1) Menentukan sejauh mana penyakit hipertansi yang diderita Tujuan pertama program diagnosis adalah menentukan dengan tepat sejauh mana penyakit ini telah berkembang. mata. Memeriksa saraf sensoris dan perifer dengan suatu alat electroencefalografi (EEG).5 Diagnosis Hipertensi Diagnosis hipertensi dengan pemeriksaan fisik paling akurat menggunakan sphygmomanometer air raksa. Kerusakan organ-organ yang umum ditemui pada pasien hipertensi adalah: 45 1) Jantung . Sebagai dampak terjadinya komplikasi hipertensi. Penelitian lain juga membuktikan bahwa diet tinggi garam dan sensitivitas terhadap garam berperan besar dalam timbulnya kerusakan organ target. alat ini menyerupai electrocardiography (ECG atau EKG).2. dan lain. 44 Hipertensi dapat menimbulkan kerusakan organ tubuh. makanan tinggi kolesterol.lain. Pasien diharapkan tidak mengonsumsi makanan dan minuman yang dapat mempengaruhi tekanan darah misalnya kopi. baik secara langsung maupun tidak langsung. apakah hipertensinya ganas atau tidak. antara lain adanya autoantibodi terhadap reseptor angiotensin II. Pengukuran dilakukan dalam keadaan tenang. b.

000 ada penderita stroke yang baru. Stroke Hemoragik a. Berdasarkan stadium/ pertimbangan waktu 2.2.1. Perdarahan subaraknoid II.1. Berdasarkan patologi anatomi dan penyebabnya 1. Stroke iskemik atau serebral infark. Transient Ischemic Attack .3. dan perdarahan subaraknoid. (Price dan Wilson. Konsekuensinya. 2. akan semakin banyak pula kasus stroke yang dijumpai. Definisi Menurut World Health Organization (WHO).000 penduduk per tahun. Stroke 2. adalah yang paling sering. 2007).gagal jantung 2) Otak . yaitu stroke iskemik.1. 2002). perdarahan intraserebral primer. yang terjadi akibat obstruksi atau bekuan di satu atau lebih arteri besar pada sirkulasi serebrum.angina atau infark miokardium . Sekitar 80% sampai 85% stroke adalah stroke iskemik. Stroke meliputi tiga penyekit serebrovaskular utama. Trombosis serebri c. yaitu 70-80% dari semua kejadian stroke (Frtzsimmons. Emboli serebri 2.stroke atau transient ishemic attack 3) Penyakit ginjal kronis 4) Penyakit arteri perifer 5) Retinopati 2. 2007). 2007). Transient Ischemic Attack b. Resiko stroke meningkat sesuai umur. Epidemiologi Di Amerika Serikat. Insidensi stroke meningkat dengan bertambahnya usia. Stroke Iskemik a. stroke dibagi atas (Misbach.7. dengan semakin panjangnya angka harapan hidup. Insidensi serangan stroke pertama sekitar 200 per 100. Klasifikasi Berdasarkan klasifikasi modifikasi Marshall. stroke adalah suatu tanda klinis yang berkembang cepat akibat gangguan fokal (atau global) dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih dan dapat menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskuler (Frtzsimmons.1.2002) 2.6. dengan insidensi stroke yang tinggi pada orang-orang diatas 65 tahun (Frtzsimmons.1 Komplikasi Hipertensi Pada otak Stroke dapat terjadi karena 2.hipertrofi ventrikel kiri . terdapat 4 juta penderita stroke dan lebih dari 750. Perbandingan antara penderita pria dan wanita hampir sama (Hankey. 1999): I. Perdarahan intraserebral b.. termasuk di Indonesia.

Hypertensi/ tekanan darah tinggi 2. malaria. Umur 2. sickle cell disease. Arteritis a. Faktor Resiko Yang Dapat Diubah 1. temporal arteritis. Diabetes 4. Faktor resiko yang tak dapat diubah 1. granuloma atau arteritis giant sel dari aorta. trombotik trombositopenia purpura. 7. Stroke in evolution 4.4. mucormyosis) b.1. Transient iskemik 3. Ras 5. Emboli 4. necrotizing arteritis. Penyakit Jantung/Atrial Fibrilation . Faktor Keturunan 6. polisitemia. Jenis Kelamin. 8. tipe infeksi yang lain (tipus. kelainan faktor pembekuan darah. Trombosis aterosklerosis 2. Sistem vertebro-basiler 2. Faktor Resiko Menurut AHA (American Heart Association) Guideline (2006). Completed stroke III. Berdasarkan sistem pembuluh darah 1. penyebab kelainan pembuluh darah otak yang dapat mengakibatkan stroke. Wegener arteritis. arteritis sekunder dari piogenik dan meningitis tuberkulosis. antara lain : 1.3. Berat Lahir Yang Rendah 4. Komplikasi angiografi 2. Merokok 3. Penyakit jaringan ikat (poliarteritis nodosa. faktor resiko stroke adalah sebagai berikut: I. Angiopati amiloid 11. Perdarahan hipertensi 5. Meningovaskular sipilis. Trauma atau kerusakan karotis dan arteri basilar 10. Kerusakan aneuriisma aorta 12. trombositosis. Trombophlebitis serebral : infeksi sekunder telinga. dan wajah. Ruptur dan sakular aneurisma atau malformasi arterivena 6.1. sinus paranasal. scistosomiasis.5. 3. limpoma intravaskular. Etiologi Menurut Adam dan Victor (2009) . 9. Kelainan Pembuluh Darah Bawaan : sering tak diketahui sebelum terjadi stroke II. Takayasu diseases. Kelaianan hematologi : antikoagulan dan thrombolitik. Sistem karotis 2. lupus eritromatous).

2007). Kenaikan kadar cholesterol/lemak darah 6. Gejala umum berupa baal atau lemas mendadak di wajah. Diagnosis 2. hilangnya keseimbangan atau koordinasi. Nyeri kepala diperkirakan pada 25% pasien stroke iskemik.2. Mual dan muntah terjadi. lengan. walaupun TIA lebih berhubungan dengan aterosklerosis. 2. 2002). Latihan fisik 11.2. 2002). Penyempitan Pembuluh darah Carotis 7. 2009). dalam perluasannya ke arah dalam. 2007). Gejala Sickle cel 8. terdapat gejala fluktuatif setelah onset. terutama di salah satu sisi tubuh. Hypercoagubility 2. atau terjadi ketika bangun tidur (Fitzsimmons. 9. 2007). bingung mendadak. Gejala dan Tanda Tanda utama stroke iskemik adalah muncul secara mendadak defisit neurologik fokal. Drug Abuse/narkoba 4. Defisit tersebut mungkin mengalami perbaikan dengan cepat. Penggunaan terapi sulih hormon. Anamnesis Gejala dan Tanda . Kegemukan III. tersandung selagi berjalan. Gejala baru terjadi dalam hitungan detik maupun menit.2. Gangguan Pola Tidur 6. Diet dan nutrisi 10. dari embolik ke lakunar. Perkembangan gejala neurologis tergantung dari mekanisme stroke iskemik dan derajat aliran darah kolateral. defisit neurologik yang progresif pada 24-48 jam pertama yang disebut stroke in evolution (Fitzsimmons. Pemakaian alkohol berlebihan 3. karena dilatasi akut pembuluh kolateral (Simon. Walaupun perdarahan di daerah vaskular yang sama mungkin menimbulkan banyak efek yang serupa.2.1. Selain itu. mengalami perburukan progresif. khususnya stroke yang mengenai batang otak dan serebelum (Fitzsimmons. Faktor Resiko Yang Sangat Dapat Diubah 1. pusing bergoyang. 2002). Gambaran klinis utama yang berkaitan dengan insufisiensi arteri ke otak mungkin berkaitan dengan gejala dan tanda berikut yang disebut sindrom neurovaskular. Kenaikan homocystein 7. atau tungkai.5. Pemakaian obatobat kontrasepsi (OC) 5. TIA dijumpai pada subtipe yang lain. Pada semua subtipe infark.3. perdarahan dapat mengenai teritorial dari lebih satu pembuluh. Metabolik Sindrom 2. perdarahan menyebabkan pergeseran jaringan dan meningkatkan tekanan intra kranial (TIK) (Price dan Wilson.3. Aktivasi kejang biasanya bukan sebagai gelaja stroke. Diperkirakan 10-30% pasien stroke iskemik akut. memperlihatkan variasi derajat aliaran darah kolateral ke jaringan iskemik. gambaran klinis keseluruhan cenderung berbeda karena. atau menetap (Price dan Wilson. dan nyeri kepala mendadak tanpa kausa yang jelas (Price dan Wilson. TIA dijumpai pada 20% kasus infark iskemik. Kenaikan lipoprotein 8. gangguan penglihatan seperti penglihatan ganda atau kesulitan melihat pada satu atau dua mata.

Pemeriksaan 2. pemghentian mendadak obat antihipertensi klonidin (Catapres) dapat menyebabkan rebound yang berat.1. Jantung. kadar gula darah. 2. Anemia mungkin terjadi akibat adanya perdarahan gastrointestinal. tidak ada penemuan diagnostik laboratorium pada infark serebral. 2007). terutama hipertensi.4. dan kejadian terapi antiplatelet. Faktor resiko.2. Perkembangan gejala atau keluhan pasien atau keduanya 3. infark miokardium akut atau penyakit katup jantung dapat mengalami embolus obstruktif. kelainan diabetes. prothrombin time (PT). Riwayat TIA 4.2. Ekstremitas.2. dimana dapat meningkatkan resiko trombolisis. Periksa ada tidaknya cupping diskus optikus. Evaluasi Klinis Awal Pasien harus menjalani pemeriksaan fisik lengkap yang berfokus pada system berikut (Price dan Wilson. Pemeriksaan darah lengkap digunakan untuk mendeteksi anemia. Anemia dapat juga berhubungan dengan keganasan. 2. 3. Pemakaian obat. antikoagulasi. Anamnesis sebaiknya mencakup (Price dan Wilson. Pemeriksaan Laboratorium Biasanya. Retina. leukositosis. Platelet jurang dari . 2002): 1. Sebagai contoh. Pengobatan yang sedang dijalani. dan pemakaian alcohol 5. Sifat intactness diperlukan untuk mengetahui letak dan luas suatu stroke 2. Lakukan auskultasi pada arteria karotis untuk mencari adanya bising (bruit) dan periksa tekanan darah di kedua lengan untuk diperbandingkan. partial thromboplastin time (PTT).Keadaan klinis pasien. Perlu dilakukan pemeriksaan jantung yang lengkap. karena pasien dengan fibrilasi atrium. Evaluasi ada tidaknya sianosis dan infark sebagai tanda-tanda embolus perifer. dimana dapat menghasilkan hiperkoagulasi. 5. juga sebagai penyebab jarang dari stroke iskemik. fibrilasi atrium.4. Sistem pembuluh perifer. dapat dinilai dengan pemeriksaan darah lengkap. dimana menyebabkan anemia. dan ezim jantung (Fitzsimmons. Pemeriksaan neurologic. Penjelasan tentang awitan dan gejala awal. Tetapi pada semua pasien. jumlah platelet yang abnormal. Kejang pada gejala awal mengisyaratkan stroke embolus 2. diabetes. perdarahan retina.2. Murmur dan distmia merupakan hal yang harus dicari. merokok. basic metabolic panel (Chem-7). 4. dimulai dengan auskultasi jantung dan EKG 12-sadapan. gejala dan riwayat perkembangan gejala dan defisit yang terjadi merupakan hal yang penting dan dapat menuntun dokter untuk menentukan kausa yang paling mungkin dari stroke pasien. 2002) : 1. atau menghasilkan gejala neurologis sebagai hasil metastasis. terutama kokain 6. termasuk obat yang baru dihentikan.3.Inflamasi dan kelainan kolagen pembuluh darah.

2.2. dan penyakit pembuluh darah lainnya seperti arteritis dan vasospasme (Adams dan Victor. 2. U. keuntungan utama memulai teknik diffusion-weighted magnetic resonance. Aspirin.2. Antiplatelet. infark miokardium. 2007). 2009). 2007). secara akurat menperlihatkan stenosis dan penyumbatan pembuluh darah intrakranial dan ekstrakranial seperti aneurisma.2.000/mm3 merupakan kontraindikasi pengobatan stroke dengan intravenous recombinant tissue plasminogen activator (IV rt-PA) (Fitzsimmons. . 2009). Kemajuan teknologi meningkatkan penilaian klinis pada pasien stroke. 2007).4. a. Obat antiplatelet seperti aspirin. 2. pencitraan ini dapat memperlihatkan lesi serebral dan pembuluh darah yang terkena.100.5. Tetapi.1. dan kematian vascular. 2007). lebih cepat dibandingkan CT scan dan sekuens MRI lainnya (Adams dan Victor. malformasi pembuluh darah. 1. enzim CK-MB menilai adanya iskemik miokard. Pemeriksaan kadar gula darah sebaiknya diperiksa pada semua pasien dengan gejala stroke akut. Mekanisme aksi dari aspirin yaitu menghambat fungsi platelet melalui inaktivasi COX (Cyclooxygenase) secara irreversible. 2009). 2009). digunakan dengan proses pencitraan digital. darah subaraknoid. dan kombinasi dipiridamole dengan aspirin memiliki peran yang besar dalam pencegahan sekunder kejadian aterotrombotik. juga menyimgkirkan tentang adanya perdarahan atau proses intrakranial nonvaskular (Adams dan Victor. Meta analisis memperlihatkan aspirin menurunkan resiko stroke. Angiografi. Efek samping utama ketidaknyamanan pada lambung. Pemeriksaan PT dan aPTT diperlukan dalam penentuan penatalaksanaan stroke. CT scan dan MRI dapat memberikan konfirmasi defenitif bahwa keadaan stroke iskemik telah terjadi. Diperkirakan 20-30% pasien dengan stroke iskemik akut memiliki riwayat gejala penyakit jantung koroner (Fitzsimmons. Penatalaksanaan 2.S.5. Peningkatan yang signifikan pada PT atau aPTT merupakan kontraindikasi absolut dalam terpai IV rt-PA. clopidogrel. Magnetic resonance imaging (MRI) punya keuntungan dapat memperlihatkan lesi yang dalam pada lakunar kecil di hemisfer dan abnormalitas pada batang otak. seperti troponin jantung. Peningkatan PT dapat terjadi pada pengobatan menggunakan warfarin jangka panjang. Pemeriksaan enzim jantung. CT memperlihatkan secara akurat lokasi perdarahan kecil. Food and Drug Administration merekomendasikan dosis aspirin 50-325 mg per hari pada pasien stroke. Terapi Farmakologi Penilaian umum dan penggunanan obat antitrombolitik (antiplatelet dan antikoagulan) dan obat trombolitik merupakan terapi medical utama dari stroke iskemik akut (Biller. kelainan bentuk arterivena. dimana dapat mendeteksi lesi infark dengan waktu beberapa menit setelah stroke. Pemeriksaan Radiologi Pemeriksaan radiologi otak memberikan informasi diagnostik paling baik pada penilaian dan penatalaksanaan pasien dengan stroke iskemik akut. 2009). dan memperlihatkan area infark (Adams dan Victor. karena keadaan hipoglikemia kadang dapat memberikan gejala defisit neurologik fokal tanpa iskemik serebral akut (Fitzsimmons. clots dan aneurisma. Terapi antiplatelet mimiliki efektivitas yang tinggi dalam resiko kejadian vaskular dan direkomendasikan setelah warfarin untuk stroke kardioembolik (Biller. 2009). indikasi dari itu mungkin berhubungan dengan etiologi stroke iskemik (Fitzsimmons.

Clopidogrel. Ticlodipine mempunyai mekanisme menghambat jalur adenosine diphosphate (ADP) dari membran platelet. Penelitian pada 19. diabetes melitus. 75 mg clopidogrel lebih efektif (8. termasuk diare. penyakit jantung. Clopidogrel merupakan antagonis reseptor ADP (adenosine diphosphate) platelet. kecuali pada kasus trombosis vena (Biller. riwayat stroke terdahulu. yaitu kontrol faktor resiko.000 pasien dengan penyakit atherosclerosis vascular bermanisfestasi seperti stroke iskemik. Merokok merupakan faktor resiko stroke iskemik pada laki-laki maupun perempuan di semua umur. atau penyakit arteri perifer simptomatis. penggunaan kontrasepsi oral (Biller. The Second European Stroke Prevention Study (ESPS-2) merandomisasi 6. Faktor resiko lain termasuk umur dan jenis kelamin. d. 2. dan intervensi bedah. meningkatkan 3-4 kali faktor resiko stroke. c. Faktor resiko yang dapat dimodifikasi antara lain hipertensi. miokard infark. Pengendalian tekanan darah menghasilkan penurunan 5 mmHg selama 2-3 tahun berhubungan dengan penurunana 40% resiko stroke (Biller. 2009). 2. 1. atau heparinoid untuk penatalaksanaan stroke iskemik akut menunjukkan tidak ada keuntungan dalam menurunkan morta.602 pasien dengan riwayat TIA atau stroke untuk ditatalaksana dengan aspirin (25 mg dua kali per hari). atau plasebo. hiperlipidemia. Pengetahuan dan mengendalikan faktor resiko yang dapat dimodifikasi adalah hal utama dalam pencegahan primer dan sekunder stroke. atau penyakit arteri perifer lainnya. low-molecular weight heparin (LMWH).itas. dan aktivitas fisik. konsumsi alkohol yang berlebihan. Hipertensi merupakan faktor resiko yang dapat dimodifikasi paling penting pada stroke.b. tinggi fibrinogen. Pencegahan Pencegahan stroke diikuti tiga cara utama. Ticlodipine memiliki efek samping lebih banyak dibandingkan aspirin. 2009). mual. merokok. dipiridamol (200 mg dua kali per hari). Peneliti melaporkan peningkatan efek dipiridamol (37%) ketika dikombinasikan dengan aspirin. obesitas. 2009). Dipiridamol merupakan cyclic nucleotide phosphodiesterase inhibitor. Ticlodipine. Trombolitik Terapi trombolisis menstimulasi jalur intrinsik fibrinolisisuntuk mngendalikan patologi trombosis National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS) rt-PA (recombinant tissue plasminogen activator) Stroke Study Group menunjukkan terpai dengan intavena rt-PA pada tiga jam setelah onset stroke iskemik meningkatkan hasil klinis dari pengobatan selama 3 bulan (Biller. Banyak orang dengan diabetes meninggal akibat komplikasi atrosklerosis (lebih dari 80% dari semua penderita diabetes) (Biller. 2009).7% penurunan resiko relative) daripada 325 aspirin dalam menurunkan resiko stroke. morbiditas akibat stroke.6. rekurensi stroke atau prognosis stroke. Dipiridamol dengan aspirin. dispesia. 2009). Dosis yang direkomendasi dari ticlodipine 250 mg dalam dua kali pemberian per hari. terpai farmakologi. tingginya level hemoglobin dan hematokrit. infark miokard. Penurunan tekanan darah juga menurunkan resiko stroke pada individu dengan isolated systolic hypertension dan pada orang usia lanjut. Dibutuhkan lebih dari lima tahun berhenti merokok untuk menurunkan resiko stroke (Biller. 2009). kombinasi keduanya. Diabetes Melitus meningkatkan resiko iskemik serebrovaskular 2-4 kali lebih besar dibandingkan orang yang tidak menderita diabetes. Antikoagulan Percobaan randomisasi unfractionated heparin (UFH). .2.

pada penderita hipertensi ditemukan sekitar 20-33% memiliki berat badan lebih (overweight). atau riwayat lesi aterosklerosis harus ditatalaksana dengan mengunakan statin. Jika serangan stroke terjadi berkali-kali. Dengan demikian obesitas harus dikendalikan dengan menurunkan berat badan. Junaidi. Stroke dapat dicegah dengan mengendalikan faktor resiko yang menyebabkannya. 2011). karena hipertensi dapat mempercepat pengerasan dinding pembuluh darah arteri dan mengakibatkan penghancuran lemak pada sel otot polos sehingga mempercepat proses aterosklerosis. Semakin tinggi tekanan darah pasien kemungkinan stroke akan semakin besar.Ada korelasi positif anatara serum kolesterol dan resiko stroke iskemik.8 Penatalaksanaan Hipertensi (pedoman teknis Indonesia sehat 2010) Pengendalian Faktor Risiko Pengendalian faktor risiko penyakitjantung koroneryang dapat saling berpengaruh terhadap terjadinya hipertensi.1. Hipertensi merupakan faktor resiko yang paling penting untuk terjadinya iskemik dan stroke hemoragik. 2009). Meskipun stroke sering juga dipengaruhi oleh beberapa faktor lain. dan resiko stroke atau TIA jika dibandingkan dengan plasebo (Biller. Obesitas bukanlah penyebab hipertensi. menurunkan resiko nonfatal atau stroke fatal. Risiko relatif untuk menderita hipertensi pada orang-orang gemuk 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan seorang yang badannya normal. peningkatan 20 mmHg tekanan darah sistolik atau 10 mmHg tekanan darah diastolic akan melipatgandakan resiko penyakit kardiovaskuler. Sedangkan. baik perdarahan maupun bukan. Bagi individu yang berusia 40-70 tahun. 3. 2009. Peningkatan tekanan sistolik dan diastolic dapat meningkatkan resiko terjadinya stroke. riwayat penyakit jantung koroner. hipertensi yang ekstrem dapat menjadi penyebab terjadinya stroke tanpa dipengaruhi faktor lain. Mengatasi obesitas/menurunkan kelebihan berat badan. Akan tetapi prevalensi hipertensi pada obesitas jauh lebih besar. Bila hal ini terjadi pada pembuluh darah di otak. Tekanan darah yang selalu tinggi dan kurangnya pengontrolan dan perawatan adalah salah satu faktor untuk terjadinya stroke. Stroke dapat terjadi akibat sumbatan dari gumpalan darah yang tidak mengalir lancar di pembuluh darah yang sudah menyempit. Pasien dengan TIA atau stroke iskemik dengan peninggian kolesterol. Hipertensi dapat menyebabkan pembuluh darah yang sudah lemah menjadi pecah. Pada Stroke Preventionby Aggressive Reduction in Cholesterol Levels (SPARCL). serangan jantung dan gagal jantung. pengobatan dengan atorvastatin 80 mg per hari. Hipertensi Sebagai Faktor Resiko Stroke Hipertensi adalah faktor resiko stroke yang paling berkontribusi terhadap kejadian stroke. dengan usaha-usaha sebagai berikut : a. .1. Hipertensi berperan dalam proses aterosklerosis melalui efek penekanan pada sel endotel/lapisan dalam dinding arteri yang berakibat pembentukan plak pembuluh darah semakin cepat.(universitas Indonesia) 2. maka kemungkinan untuk sembuh dan bertahan hidup akan semakin kecil (Sudoyo. Oleh sebab itu dibutuhkan perawatan hipertensi yang tepat agar dapat mengurangi resiko untuk terjadinya stroke pada lansia hipertensi. maka terjadi pendarahan di otak yang dapat berakibat kematian. Makin tinggi tekanan darah makin tinggi kemungkinan terjadinya stroke. Dengan melakukan pengontrolan tekanan darah dapat mengurangi 38% kejadian stroke. hanya terbatas pada faktor risiko yang dapat diubah.

Laki-Iaki Tidak lebih dari 2 gelas per hari Wanita : Tidak lebih dari 1 gelas per hari . dan mengakibatkan proses artereosklerosis. Batasi sampai dengan kurang dari 5 gram ( 1 sendok teh ) per hari pada saat memasak. dan tekanan darah tinggi. Mengurangi asupan garam didalam tubuh. diharapkan dapat menrnbah kebugaran dan memperbaiki metabolisme tubuh yang ujungnya dapat mengontrol tekanan darah. Oi negara-negara tertentu permen ini diperoleh dengan resep dokter. e. f. Program diselesaikan dengan tingkat dan jadwal sesuai kemauan. Hindari konsumsi alkohol berlebihan. Permen nikotin mengandung cukup nikotin untuk mengurangi penggunaan rokok. Ciptakan keadaan rileks Berbagai cara relaksasi seperti meditasi. Merokok juga meningkatkan denyut jantung dan kebutuhan oksigen untuk disuplai ke otot-otot jantung. Oengan demikian. Para anggota kelompok dapat saling memberi nasihat dan dukungan.b. c. Tidak perlu menghadiri rapat-rapat penyuluhan. tetapi biaya dan waktu yang diperlukan untuk menghadiri rapat-rapat seringkali menyebabkan enggan bergabung. Ada jangka waktu tertentu untuk menggunakan permen ini. dibuktikan kaitan erat antara kebiasaan merokok dengan adanya artereosklerosis pada seluruh pembuluh darah. d. yoga atau hipnosis dapat menontrol sistem syaraf yang akhirnya dapat menurunkan tekanan darah. Menggunakan Permen yang mengandung Nikotin Kencanduan nikotin membuat perokok sulit meninggalkan merokok. Pengurangan asupan garam secara drastis akan sulit dilaksanakan. Melakukan olah raga teratur Berolahraga seperti senam aerobik atau jalan cepat selama 30-45 menit sebanyak 34 kali dalam seminggu. Pada studi autopsi. Tidak memakai ongkos. Mengurangi konsumsi alkohol. diharapkan perokok sudah berhenti merokok secara total sesuai jangka waktu yang ditentukan. Beberapa metode yang secara umum dicoba adalah sebagai berikut: a. Selama menggunakan permen ini penderita dilarang merokok. Program yang demikian banyak yang berhasil. Tidak ada cara yang benar-benar efektif untuk memberhentikan kebiasaan merokok. Merokok pada penderita tekanan darah tinggi semakin meningkatkan risiko kerusakan pada pembuluh darah arteri. tidak memakai pertolongan pihak luar. c. Zatzat kimia beracun seperti nikotin dan karbon monoksida yang dihisap melalui rokok yang masuk ke dalam aliran darah dapat merusak lapisan endotel pembuluh darah arteri. Nasehat pengurangan garam. harus memperhatikan kebiasaan makan penderita. Inisiatif Sendiri Banyak perokok menghentikan kebiasannya atas inisiatif sendiri. Berhenti merokok Merokok dapat menambah kekakuan pembuluh darah sehingga dapat memperburuk hipertensi. Kelompok Program Beberapa orang mendapatkan manfaat dari dukungan kelompok untuk dapat berhenti marokok. Inisiatif sendiri banyak menarik para perokok karena halhal berikut : • • • • Oapat dilakukan secara diam-diam. b.

Terapi Farmakologis Penatalaksanaan penyakit hipertensi bertujuan untuk mengendalikan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit hipertensi dengan cara seminimal mungkin menurunkan gangguan terhadap kualitas hidup penderita. sehingga volume cairan tubuh berkurang mengakibatkan daya pompa jantung menjadi ringan dan berefek turunnya tekanan darah. Pemilihan obat atau kombinasi yang cocok bergantung pada keparahan penyakit dan respon penderita terhadap obat anti hipertensi. Jenis obat ini tidak dianjurkan pada penderita yang telah diketahui mengidap gangguan pernafasan seperti asma bronkhial. Pengobatan hipertensi dimulai dengan obat tunggal . Obat berikutnya mungkin dapat ditarnbahkan selama beberapa bulan pertama perjalanan terapi. Pengobatan hipertensi esensial ditujukan untuk menurunkan tekanan darah dengan harapan memperpanjang umur dan mengurangi timbulnya komplikasi. Yang termasuk dalam golongan ini adalah prazosin dan hidralazin. 3. Vasodilatator Obat ini bekerja langsung pada pembuluh darah dengan relaksasi otot polos (otot pembuluh darah). Efek samping yang mungkin timbul adalah : sembelit. Contoh obat yang termasuk golongan ini adalah kaptopril. Betabloker Mekanisme kerja obat antihipertensi ini adalah melalui penurunan daya pompa jantung. sakit kepala dan muntah. Pemakaian pada penderita diabetes harus hati-hati. klonodin dan reserpin. Pada orang dengan penderita bronkospasme (penyempitan saluran pernapasan) sehingga pemberian obat harus hati-hati. Beberapa prinsip pemberian obat anti hipertensi sebagai berikut : 1. Efek samping yang sering terjadi pada pemberian obat ini adalah pusing dan sakit kapala. Efek samping yang sering timbul adalah batuk kering. Pengobatan hipertensi adalah pengobatan jangka panjang. 4. bahkan pengobatan seumur hidup. sakit kepala dan lemas. gangguan fungsi ahati dan kadang-kadang dapat menyebabkan penyakit hati kronis. 4. Contoh obat yang termasuk dalam golongan penghambat simpatetik adalah : metildopa. Penghambat reseptor angiotensin II . Jenis-jenis obat antihipertensi : 1. Antagonis kalsium Golongan obat ini bekerja menurunkan daya pompa jantung dengan menghambat kontraksi otot jantung (kontraktilitas). Efek samping yang dijumpai adalah: anemia hemolitik (kekurangan sel darah merah kerena pecahnya sel darah merah). Saat ini golongan ini jarang digunakan. propanolol. Contoh obat golongan betabloker adalah metoprolol. atenolol dan bisoprolol. Penghambat Simpatis Golongan obat ini bekerja denqan menghambat aktifitas syaraf simpatis (syaraf yang bekerja pada saat kita beraktifitas). pusing. 5. pusing. Digunakan sebagai obat pilihan pertama pada hipertensi tanpa adanya penyakit lainnya. Upaya menurunkan tekanan darah dicapai dengan menggunakan obat anti hipertensi. Yang termasuk golongan obat ini adalah : nifedipin. 7. 3. masa kerja yang panjang sekali sehari dan dosis dititrasi. 6. 2. Oiuretik Obat-obatan jenis diuretik bekerja dengan mengeluarkan cairan tubuh (Iewat kencing). Penghambat enzim konversi angiotensin Kerja obat golongan ini adalah menghambat pembentukan zat angiotensin II (zat yang dapat meningkatakan tekanan darah). diltizem dan verapamil. karena dapat menutupi gejala hipoglikemia (dimana kadar gula darah turun menjadi sangat rendah sehingga dapat membahayakan penderitanya). Pengobatan hipertensi sekunder adalah menghilangkan penyebab hipertensi 2.B.

3. c. Penghambat reseptor beta dengan diuretic iv. maka dilakukanlah usaha untuk menurunkan faktor risiko yang ada dengan modifikasi gaya hidup. maka terapi obat pilihan diperlukan. Yang penting adalah mempersiapkan penderita untuk rujukan tersebut sehingga tidak menimbulkan persepsi yang salah terhadap hasil pengobatan yang sudah dijalani.05 -0. . Terapi pertama obat pili han adalah pertama golongan tiazid. seperti diabetes mellitus. kelainan hati dan kelainan darah. Penghambat ACE dengan penghambat kalsium iii. sehingga dapat dicapai tekanan darah yang diharapkan. 4. Penghambat reseptor beta: propanolol 40 -160 mg/hari Agonis reseptor alpha central (penghambat simpatis}: reserpin 0. Efek samping yang mungkin timbul adalah sakit kepala. Diuretik: hidroclorotiazid dengan dosis 12. Bila terapi tunggal tidak berhasil maka terapi dapat dikombinasikan.25 mg/hari Terapi kombinasi antara lain: i. pusing. 5. asma bronchial. kehamilan . Tatalaksana hipertensi dengan obat anti hipertensi yang dianjurkan: a. Obat-obatan yang termasuk . Penghambat kalsium yang bekerja panjang : nifedipin 30 -60 mg/hari d. Bila tekanan darah tidak dapat dicapai baik melalui modifikasi gaya hidup dan terapi kombinasi maka dilakukakanlah sistem rujukan spesialistik. Rujukan Rujukan dilakukan bilamana terapi yang diberikan di pelayanan primer belum dapat mencapai sasaran pengobatan yang diinginkan atau dijumpai komplikasi penyakit lainnya akibat penyakit hipertensi. Agonis reseptor alpha dengan diuretic Keterangan alur pengobatan hipertensi : 1.golongan ini adalah valsartan.Kerja obat ini adalah dengan menghalangi penempelan zat angiotensin II pada reseptornya yang mengakibatkan ringannya daya pompa jantung. Terapiobatyangdiperlukansesuaidenganderajathipertensidanadatidaknnyaindikasi khusus.kemudian diikuti golongan antagonis kalsium.5 -50 mg/hari b. kedua golongan penghambat enzim konversi angitensin. 2. Penghambat ACE dengan diuretik ii. Bila dalam jangga waktu 1 bulan tidak tercapai tekanan darah normal. Penghambat ACE/penghambat reseptor angiotensin II : Captopril 25 -100 mmHg c. Pada saat seseorang ditegakkan diagnosisnya menderita hipertensi maka yang pertama dilakukan adalah mencari faktor risiko apa yang ada. lemas dan mual.

I .

Kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat dapat diukur menggunakan berbagai metode.3 Perilaku Kepatuhan 1. Jenis kelamin berkaitan dengan peran kehidupan dan perilaku yang berbeda antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat. Pengukuran Tingkat Kepatuhan Keberhasilan pengobatan pada pasien hipertensi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu peran aktif pasien dan kesediaanya untuk memeriksakan ke dokter sesuai dengan jadwal yang ditentukan serta kepatuhan dalam meminum obat antihipertensi. Adapun faktor eksternal yaitu dampak dari pendidikan kesehatan. Dimatteo. Kepatuhan seorang pasien yang menderita hipertensi tidak hanya dilihat berdasarkan kepatuhan dalam meminum obat antihipertensi tetapi juga dituntut peran aktif pasien dan kesediaanya untuk memeriksakan ke dokter sesuai dengan jadwal yang ditentukan. Dinicola. Sampai dengan umur 55 .3. perempuan lebih sering mengobatkan dirinya dibandingkan dengan laki-laki (Notoatmodjo. 2013). nilai sosial. salah satu metode yang dapat digunakan adalah metode MMAS-8 (ModifedMorisky Adherence Scale)(Evadewi.1 Jenis Kelamin Perbedaan jenis kelamin yang ditentukan secara biologis. yang sebelumnya didahului oleh proses konsultasi antara pasien (dan keluarga pasien sebagai orang kunci dalam kehidupan pasien) dengan dokter sebagai penyedia jasa medis. Kepatuhan terapi pada pasin hipertensi merupakan hal yang penting untuk diperhatikan mengingat hipertensi merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikendalikan (Palmer dan William. Thorne dan Kyngas melakukan penelitian dan mendiskusikan bahwa ada dua faktor yang berhubungan dengan kepatuhan yaitu faktor internal dan faktor eksternal. biasanya kaum perempuan lebih memperhatikan kesehatanya dibandingkan dengan laki-laki. Keberhasilan dalam mengendalikan tekanan darah tinggi merupakan usaha bersama antara pasien dan dokter yang menanganinya (Burnier.2. dan emosi yang disebabkan oleh penyakit. interaksi penderita dengan petugas kesehatan (hubungan diantara keduanya) dan tentunya dukungan dari keluarga.2. sikap. 2010).1. Pengertian Menurut Siti Noor Fatmah (2012) mendifinisikan kepatuhan adalah sebagai perilaku untuk menaati saran-saran dokter atau prosedur dari dokter tentang penggunaan obat.1.2001). 2013:34). 2. P. yang secara fisik melekat pada masing-masing jenis kelamin. Adapun faktor internal meliputi karakter si penderita seperti usia. laki-laki dan perempuan (Rostyaningsih.2002:58).3 Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan dalam Menjalani Pengobatan Hipertensi 2. petugas kesehatan dan teman (Niven. kemampuan untuk mengendalikan dirinya untuk tetap minum obat (Morisky &Muntner. 2007). Morisky secara khusus membuat skala untuk mengukur kepatuhan dalam mengkonsumsi obat dengan delapan item yang berisi pernyataan-pernyataan yang menunjukan frekuensi kelupaan dalam minum obat. Dalam hal menjaga kesehatan. 2. 2009).1. kesengajaan berhenti minum obat tanpa sepengetahuan dokter. Perbedaan pola perilaku sakit juga dipengaruhi oleh jenis kelamin.

2010: 17).tahun. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. kepribadian. dan banyak tantangan (A. 2.1. Dari umur 55 s/d 74 tahun. hal ini disebabkan kebanyakan penderita akan merasa bosan untuk berobat (Ketut Gama et al.1.3. Tingkat pendidikan menengah yaitu SMA dan sederajat 3.1.2 Tingkat Pendidikan Terakhir Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. Dimana pasien yang bekerja cenderung tidak patuh dalam menjalani pengobatan dibanding dengan mereka yang tidak bekerja. Penelitian yang dilakukan oleh . Orang yang bekerja cenderung memiliki sedikit waktu untuk mengunjungi fasilitas kesehatan (Notoatmodjo. 2006:2). maka akan memudahkan seseorang menerima informasisehingga meningkatkan kualitas hidupdan menambah luas pengetahuan. 2014). tetapi lebih banyak merupakan cara mencari nafkah yang membosankan.006). akhlak mulia.4 % (Muchid. Tingkat pendidikan dasar yaitu tidak sekolah. Pada populasi lansia (umur ≥ 60 tahun). Menurut penelitian yang dilakukan Ekarini (2011) dan Mubin dkk (2010) menunjukan tingkat pendidikan berhubungan dengan tingkat kepatuhan pasienhipertensi dalam menjalani pengobatan.4 Lama Menderita Hipertensi Tingkat kepatuhan penderita hipertensi di Indonesia untuk berobat dan kontrol cukup rendah. Aziz Alimul Hidayat.044). pengendalian diri. diselenggarakan dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (UU RI no. 2005:80) Menurut UU Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional terdapat 3 tingkatan dalam proses pendidikan yaitu: 1.3. 2. Responden yang memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi sebagian besar memiliki kepatuhan dalam menjalani pengobatan. Semakin lama seseorang menderita hipertensi maka tingkat kepatuhanya makin rendah. Semakin tinggi pendidikan seseorang. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Su-Jin Cho (2014) pekerjaan memiliki hubungan yang signifikan dengan kepatuhan pasien hipertensi dalam menjalani pengobatan (p=0. prevalensi untuk hipertensi sebesar 65. 2007). masyarakat. sedikit lebih banyak perempuan dibanding laki-laki yang menderita hipertensi. Penelitian yang dilakukan oleh Alphonce (2012) menunjukan jenis kelamin berhubungan dengan tingkat kepatuhan pengobatan hipertensi (p=0. berulang.3 Status Pekerjaan Menurut Thomas yang dikutip oleh Nursalam (2003). Pekerjaan bukanlah sumber kesenangan. Pengetahuan yang baik akan berdampak pada penggunaan komunikasi secara efektif (A. kecerdasan. 20 tahun 2003: 1). pendidikan dasar (SD/SMP/Sederajat) 2. Pendidikan menuntut manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupanya yang dapat digunakan untuk mendapatkaninformasi sehingga meningkatkan kualitas hidup. pekerjaan adalah sesuatu yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupannya dan keluarga. laki-laki lebih banyak menderita hipertensi dibanding perempuan. 2.3.Wawan dan Dewi M. Tingkat pendidikan tinggi yaitu perguruan tinggi atau akademi.

dan tersedianya obat-obatan (Depkes RI.1.3. 1996:64).1. aplikasi. dan sebagainya). 2. sintetis. Pengetahuan tentang faktor-faktor yang terkait dan/atau mempengaruhi kesehatan antara lain: gizi makanan. waktu tempuh dan kemudahan transportasi untuk mencapai pelayanan kesehatan. cara pencegahanya. atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya ( mata.3. 2010:56) meliputi: a. 2. maupun kecelakaan lalu lintas.Suwarso (2010) menunjukan ada hubungan yang signifikan antara lama menderita hipertensi dengan ketidakpatuhan pasien penderita hipertensi dalam menjalani pengobatan (p=0. puskesmas). 2012). hidung. sarana air bersih. pembuangan sampah. perumahan sehat.002). pembuangan kotoran manusia. Keterjangkauan akses yang dimaksud dalam penelitian ini dilihat dari segi jarak.7 Keterjangkauan Akses ke Pelayanan Kesehatan Menurut Notoatmodjo (2008). Dimana semakin lama seseorang menderita hipertensi maka cenderung untuk tidak patuh karena merasa jenuh menjalani pengobatan atau meminum obat sedangkan tingkat kesembuhan yang telah dicapai tidak sesuai dengan yang diharapkan. perilaku dan usaha yang dilakukan dalam menghadapi kondisi sakit. maka kesadaran untuk berobat ke pelayanan kesehatan juga semakin baik. Pengetahuan tentang penyakit menular dan tidak menular (jenis penyakit dan tanda-tandanya. telinga. Akses pelayanan kesehatan merupakan tersedianya sarana kesehatan (seperti rumah sakit. evaluasi (Notoatmodjo. Akses pelayanan kesehatan dapat dilihat dari sumber daya dan karakteristik pengguna pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan yang baik adalah pelayanan kesehatan yang dapat dijangkau oleh seluruh masyarakat. d. pembuangan air limbah. Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkat yang berbeda-beda. 2010:50).8 Dukungan Keluarga Keluarga adalah unit terkecil masyarakat. Untuk mencapai perilaku sehat masyarakat.1. Pengetahuan tentang tatacara memelihara kesehatan (Notoatmodjo. Penelitian yang dilakukan oleh Prayogo (2013) menyatakan bahwa ada hubungan antara akses pelayanan kesehatan menuju fasilitas kesehatan dengan kepatuhan minum obat 2.040). Pengetahuan tentang fasilitas pelayanan kesehatanyang profesional maupun tradisional. Secara garis besarnya dibagi dalam 6 tingkat pengetahuan yaitu tahu. cara mengatasi atau menangani sementara) b. klinik.3. maka hasrus dimulai pada masing-masing tatanan keluarga. Pengetahuan untuk menghindari kecelakaan baik kecelakaan rumah tangga. memahami. c.6 Tingkat Pengetahuan Tentang Hipertensi Pengetahuan adalah hasil penginderaan. salah satu alasan untuk tidak bertindak karena fasilitas kesehatan yang jauh jaraknya. semakin jauh jarak rumah pasien dari tempat pelayanan kesehatan dan sulitnya transportasi maka. dan tempay-tempat umum. Semakin baik pengetahuan seseorang. analisis. dan sebagainya. cara penularanya. polusi udara. akan berhubungan dengan keteraturan berobat (Sujudi. Dalam . Penelitian yang dilakukan Ekarini (2011) menunjukan pengetahuan berhubungan dengan tingkat kepatuhan pengobatan penderita hipertensi (p=0. tersedianya tenaga kesehatan.

Peran petugas kesehatan juga dapat berfungsi sebagai konseling kesehatan. Agar masing-masing keluarga menjadi tempat yang kondusif untuk tempat tumbuhnya perilaku sehat bagi anak-anak sebagai calon anggota masyarakat. Motivasi pada dasarnya merupakan interaksi seseorang dengan situasi tertentu yang dihadapinya. Dengan adanya kebutuhan untuk sembuh. Dengan adanya kebutuhan untuk sembuh maka klien hipertensi akan terdorong untuk patuh dalam menjalani pengobatan.9 Peran Tenaga Kesehatan Dukungan dari tenaga kesehatan profesional merupakan faktor lain yang dapat mempengaruhi perilaku kepatuhan.maka promosi sangat berperan (Notoatmodjo. mediator. Hipertensi memerlukan pengobatan seumur hidup. perhatian dan pertolongan yang mereka butuhkan dari seseorang atau kelompok biasanya cenderung lebih mudah mengikuti nasehat medis (Suprianto et al. Motivasi yang tinggi dapat terbentuk karena adanya hubungan antara kebutuhan. Dukungan keluarga merupakan sikap. Pengertian motivasi tidak terlepas dari kata kebutuhan atau keinginan. dapat dijadikan sebagai tempat bertanya oleh individu. Dukungan dari keluarga dan teman-teman dapat membantu seseorang dalam menjalankan program-program kesehatan dan juga secara umum orang yang menerima penghiburan. dukungan sosial dari orang lain sangat diperlukan dalam menjalani pengobatanya. maka klien hipertensi akan .10 Motivasi Berobat Motivasi berasal dari bahasa latin moreve yang berarti dorongan dari dalam diri manusia untuk bertindak atau berperilaku (reasoning) seseorang untuk bertindak dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. 2009:73). (Notoatmodjo. 2010).1. dimana petugas kesehatan adalah pengelola penderita sebab petugas adalah yang paling sering berinteraksi.1.3.teori pendidikan dikatakan. dorongan dan tujuan. tindakan dan penerimaan terhadap penderita yang sakit. Penelitian yang dilakukan Lilis Triani (2011) menunjukan dukungan keluarga berhubungan dengan kepatuhan berobat pada pasien hipertensi (p=0.2010:38).3. bahwa keluarga adalah tempat pesemaian manusia sebagai anggota masyarakat. Pelayanan yang baik dari petugas dapat menyebabkan berperilaku positif. 2. serta penderita diberi penjelasan tentang obat yang diberikan dan pentingnya makan obat yang teratur.Novian. Peran serta dukungan petugas kesehatan sangatlah besar bagi penderita.000). 2013). protector. sehingga pemahaman terhadap konsisi fisik maupun psikis menjadi lebih baik dan dapat mempengaruhi rasa percaya dan menerima kehadiran petugas kesehatan dapat ditumbuhkan dalam diri penderita dengan baik (A. kelompok. Penelitian yang dilakukan oleh Ekarini (2011) menunjukan tingkat motivasi berhubungan dengan tingkat kepatuhan klien hipertensi dalam menjalani pengobatan (p=0. communicator. Perilaku petugas yang ramah dan segera mengobati pasien tanpa menunggu lama-lama. dan advocate (pelindung dan pembela). dan rehabilitator.001). dan masyarakat untuk memecahkan berbagai masalah dalam bidang kesehatan yang dihadapi oleh masyarakat (Wahid Iqbal Mubarak. 2009:9). Selain itu peran petugas kesehatan (perawat) dalam pelayan kesehatan dapat berfungsi sebagai comforter atau pemberi rasa nyaman. 2. keluarga. Karena itu bila persemaian itu jelek maka jelas akan berpengaruh pada masyarakat.

di atas 90 tahun. C. pra usia lanjut (virilitas/pra senilis) 45-59 tahun. Definisi posyandu lansia Posyandu lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk masyarakat usia lanjut di suatu wilayah tertentu yang sudah disepakati. Sedangkan Depkes RI (2003). tujuan penyelenggaraan posyandu lansia adalah : a. Posyandu lansia merupakan pengembangan dari kebijakan pemerintah melalui pelayanan kesehatan bagi lansia yang penyelenggaraannya melalui program puskesmas dengan melibatkan peran serta para lansia. d. Sedangkan menurut Andayuna (2009). lanjut usia tua (old). Posyandu Lansia 1. 2. yaitu kelompok usia 45 sampai 59 tahun. Klasifikasi lansia Batasan usia menurut Depkes RI (2003). yang digerakkan oleh masyarakat di mana mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan. tokoh masyarakat dan organisasi sosial dalam penyelenggaraannya (Erfandi. b. lanjut usia (elderly). 2. lansia (lanjut usia) adalah kelompok umur pada manusia yang telah memasuki tahapan akhir fase kehidupannya. khususnya aspek peningkatan dan pencegahan tanpa mengabaikan aspek pengobatan dan pemulihan. Pelayanan kesehatan di kelompok usia lanjut meliputi pemeriksaan kesehatan fisik dan mental emosional. antara 60 sampai 74 tahun. B. Meningkatkan kesejahteraan usia lanjut melalui kegiatan kelompok usia lanjut yang mandiri dalam masyarakat. Meningkatnya cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan usia lanjut. Lanjut Usia 1. Kartu menuju sehat (KMS) usia lanjut sebagai alat pencatat dan pemantau untuk mengetaui lebih awal penyakit yang diderita (deteksi dini) atau ancaman masalah kesehatan yang dihadapi dan mencatat perkembangannya dalam Buku Pedoman Pemeliharaan Kesehatan Usia Lanjut atau catatan kondisi kesehatan yang lazim digunakan di Puskesmas (Depkes RI. c. Pengertian lansia Menurut Wahyudi (2008). 2003). batasan usia pertengahan (middle age). Tujuan posyandu lansia Menurut Depkes RI (2003).terdorong untuk patuh dalam menjalani pengobatan. usia lanjut 60-69 tahun dan usia lanjut risiko tinggi yaitu usia lebih dari 70 tahun. Berkembangnya usia lanjut yang aktif melaksanakan kegiatan dengan kualitas yang baik secara berkesinambungan. dimana tujuan ini merupakan akhir dari siklus motivasi. antara 75 sampai 90 tahun dan usia sangat tua (very old). keluarga. Memudahkan bagi usia lanjut dalam mendaptkan pelayanan kesehatan. . mendefinisikan lansia adalah seseorang yang berumur 60 tahun atau lebih. 2009).

Pengetahuan juga dapat membentuk kepercayaan seseorang serta sikap terhadap sesuatu hal. dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. 2007). menyatakan. dijelaskan bahwa defenisi pengetahuan adalah kepercayaan yang benar (knowledge is justified true belief). dan masih ada kaitannya satu sama lain. sintesis (synthesis). Evaluasi (evaluation). dapat merencanakan. secara terminologi pengetahuan adalah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan tahu. dapat menyesuaikan. dapat menyusun. Tahu ini merupakan tingkatan pengetahuan yang paling rendah. dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. menurut Notoatmodjo (2003) pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. aplikasi (application). Aplikasi (application). Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar. Sintesis (synthesis). pendengaran. Notoatmodjo (2003) menyatakan bahwa pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai enam tingkatan. Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). menguraikan. Pekerjaan tahu tersebut adalah hasil dari kenal sadar. Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Pengetahuan Secara etimologi pengetahuan berasal dari bahasa Inggris yaitu knowledge. mendefinisikan. dan sebagainya. Dari pengalaman dan penelitian diketahui bahwa ternyata prilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih bertahan lama daripada yang tidak didasari oleh pengetahuan. yakni indera penglihatan. penciuman. memisahkan. mengerti. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. Aplikasi di sini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum. Tahu (know). Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.1. metode. prinsip. Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen. dan sebagainya. Hampir sama dengan Gazaba. Pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh badan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. membedakan. insaf. dan sebagainya. Memahami (comprehension). menyebutkan contoh. Penilaian-penilaian ini didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau . Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior). rasa. Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. menyimpulkan. mengelompokkan. atau menggunakan kritera-kriteria yang telah ada. dan raba. tetapi masih di dalam satu struktur organisasi. analisis (analysis). Penginderaan terjadi melalui pancaindra manusia. memahami (comprehension). Orang yang telah paham terhadap objek atau materi tersebut secara benar. Sedangkan menurut Gazaba (1992) dalam Saragih (2007). dan evaluasi (evaluation). yaitu tahu (know). Misalnya. Meningkatnya pengetahuan dapat menimbulkan perubahan persepsi dan kebiasaan seseorang. Dalam Encyclopedia of Philosophy (Saragih. dan pandai. rumus. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti dapat menggambarkan (membuat bagan). Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan. Analisis (analysis). meramalkan.

2003).responden. . Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan di atas (Notoatmodjo.

Hasil penelitian juga menunjukan bahwa mayoritas responden adalah berjenis kelamin perempuan yaitu sebesar 65. Pada penelitian yang dilakukan oleh Alphonce sampel yang digunakan adalah pasien hipertensi berusia 18 tahun keatas. Hal ini dikarenakan sifat-sifat dari perempuan yang lebih memperhatikan kesehatan bagi dirinya dibandingkan laki-laki (Depkes RI.044. sehingga akan lebih banyak perempuan yang datang berobat dibandingkan laki-laki (Notoatmodjo. Hal ini dikarenakan tidak adanya perbedaan yang bermakna antara responden perempuan yang patuh (66%) dan responden laki-laki yang patuh (61%).5%. Berdasarkan hasil analisis bivariat menunjukan tidak ada hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan kepatuhan dalam menjalani pengobatan hipertensi di Puskesmas Gunungpati dengan nilai p=0. . 1 PEMBAHASAN 5. hal ini dikarenakan 78% laki-laki yang dinyatakan tidak patuh adalah mereka yang memiliki pekerjaan. biasanya kaum perempuan lebih memperhatikan kesehatanya dibandingkan dengan laki-laki. perempuan lebih sering mengobatkan dirinya dibandingkan dengan laki-laki.1. Perbedaan pola perilaku sakit juga dipengaruhi oleh jenis kelamin. sehingga rentang usia lebih luas.BAB V PEMBAHASAN 5.05). Dalam hal menjaga kesehatan. Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Saepudin dkk (2011) yang menunjukan bahwa tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan kepatuhan penggunaan obat pada pasien hipertensi dengan nilai p=0.1 Hubungan antara Jenis Kelamin dengan Kepatuhan dalam Menjalani Pengobatan Hipertensi Jenis kelamin berkaitan dengan peran kehidupan dan perilaku yang berbeda antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat.366 (p>0.5% dan berjenis kelamin laki-laki sebesar 34.826. 2010). Dalam penelitianya Alphonce menyebutkan bahwa impotensi adalah efek samping obat antihipertensi yang kemungkinan mempengaruhi kepatuhan minum obat pada responden laki-laki. Sedangkan dalam penelitian ini peneliti memfokuskan pada pasien hipertensi dengan rentang usia 45-64 tahun. sehingga hasil dapat berbeda. Sedangkan penemuan dalam penelitian ini pekerjaan diduga menjadi alasan mengapa laki-laki cenderung tidak patuh untuk melakukan pengobatan. Artinya baik responden perempuan maupun laki-laki keduanya sama-sama memiliki kesadaran untuk patuh dalam penggunaan obat hipertensi. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Alphonche (2012) bahwa jenis kelamin berhubungan dengan kepatuhan pengobatan pasien hipertensi dengan nilai p=0.2013).

Hal ini dikarenakan pada hasil penelitian. penelitian Kimuyu (2014) menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan antara tingkat pendidikan terhadap kepatuhan minum obat antihipertensi di Rumah sakit Kota Kiambu (p=0.2 Hubungan antara Tingkat Pendidikan Terakhir dengan Kepatuhan dalam Menjalani Pengobatan Hipertensi Menurut teori Lawrence Green (1980) menyatakan bahwa perilaku patuh dipengaruhi oleh faktor-faktor predisposisi.1% responden tidak patuh menjalani pengobatan.2014:13). tetapi dukungan untuk dirinya sendiri masih kurang (Hairunisa. Dalam penelitian ini terdapat 34% responden perempuan yang memiliki pekerjaan. Berdasarkan hasil analisis bivariat menunjukan bahwa ada hubungan antara tingkat pendidikan terakhir dengan kepatuhan dalam menjalani pengobatan hipertensi dengan nilai p=0.Berdasarkan hasil penelitian dilapangan. sedangkan 49% perempaun lainya tidak patuh. pada penelitian ini juga ditemukan bahwa responden dengan pendidikan tinggi akan lebih patuh 85% dibandingkan dengan responden yang tidak patuh 15%. Sugiharto dkk (2003) juga menyatakan tingkat pendidikan dapat mempengaruhi kemampuan dan pengetahuan seseorang dalam menerapkan perilaku hidup sehat.2010). 5. Sama halnya dengan penelitian yang dilakukan Vincent Boima (2015). Selain itu. dari total responden yang berpendidikan tinggi sebanyak 70.000. Berbeda dengan hasil penelitian ini. Tidak adanya perbedaan yang signifikan ini dapat dipengaruhi oleh faktor pendidikan pada responden perempuan. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka akan semakin tinggi pula kemampuan seseorang dalam menjaga pola hidupnya agar tetap sehat. terutama mencegah penyakit hipertensi. melakukan pengobatan ke Puskesmas akan berkaitan erat dengan ketersediaan waktu dan kesempatan yang dimiliki. Dalam . Hasil penelitian ini diperkuat penelitian yang dilakukan oleh Vincent Boima (2015) yang menyatakan terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan kepatuhan pengobatan hipertensi (p=0. dimana perempuan akan lebih banyak memiliki waktu dan kesempatan untuk datang ke puskesmas dibandingkan laki-laki.001). Ketidakpatuhan berobat pada ibu rumah tangga dapat terjadi karena kurangnya motivasi atau dukungan keluarga terhadap dirinya. mayoritas responden adalah berjenis kelamin perempuan dan tidak semua responden perempuan patuh dalam menjalani pengobatan. Namun saat ini perempuan tidak selalu memiliki ketersediaan waktu untuk datang ke Puskesmas karena bekerja/memiliki kesibukan. Pendidikan adalah suatu kegiatan atau proses pembelajaran untuk mengembangkan atau meningkatkan kemampuan tertentu sehingga sasaran pendidikan itu dapat berdiri sendiri (Notoatmodjo.191).1. hanya ada 51% saja dari total responden perempuan yang dinyatakan patuh melakukan pengobatan hipertensi.9% responden patuh menjalani pengobatan dan 29. salah satunya pendidikan. karena menurut hasil analisis 82% responden perempuan memiliki tingkat pendidikan yang rendah. dan sebagian besar perempuan lainya merupakan ibu rumah tangga. Responden yang berpendidikan lebih tinggi akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas dibandingkan dengan responden yang tingkat pendidikanya rendah. Menurut teori perempuan yang bekerja sebagai ibu rumah tangga adalah motivator terbaik bagi suaminya dan anak-anaknya terutama dalam hal kesehatan.

Wawan dan Dewi M. 5. Hal ini dikarenakan baik dalam penelitian ini maupun penelitian Tisna (2009) ditemukan tidak ada perbedaan kepatuhan dalam berobat antara responden yang bekerja maupun tidak bekerja. Dengan pengetahuan yang diperoleh maka pasien hipertensi akan mengetahui manfaat dari saran atau nasihat petugas kesehatan sehingga akan termotivasi untuk lebih patuh menjalani pengobatan yang dianjurkan oleh petugas kesehatan. Hal ini menandakan bahwa responden dengan pendidikan rendah sangat berisiko untuk tidak patuh dalam menjalani pengobatan. Ketidakpatuhan pada responden dengan pendidikan rendah dapat disebabkan karena faktor minimnya pengetahuan yang mereka miliki.1% lainya memiliki pekerjaan. pekerjaan adalah sesuatu yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupannya dan keluarga (A. Berdasarkan hasil penelitian dilapangan sebagian besar responden yang masuk dalam kategori tidak patuh adalah mereka yang berpendidikan rendah yaitu sebesar 42 responden (65. Pendidikan sangat erat kaitanya dengan pengetahuan. Perbedaan hasil penelitian ini terjadi karena perbedaan jumlah sampel yang cukup besar.006).3 Hubungan antara Status Pekerjaan dengan Kepatuhan dalam Menjalani Pengobatan Hipertensi Menurut Thomas yang dikutip oleh Nursalam (2003). Selain itu perbedaan hasil penelitian ini juga dipengaruhi oleh jenis pekerjaan serta durasi jam kerja . Berdasarkan hasil analisis bivariat menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara status pekerjaan dengan kepatuhan dalam menjalani pengobatan hipertensi di Puskesmas Gunungpati dengan nilai p=0. yaitu penelitian yang dilakukan oleh Su-Jin Cho (2014) yang menyatakan pekerjaan memiliki hubungan yang signifikan dengan ketidakpatuhan penggunaan antihipertensi (p=0. 2007). Dimana dalam penelitian Su-Jin Cho mengikutsertakan 702 responden sedangkan penelitian ini mengikutsertakan 84 responden.9%) dan 38. Dengan belajar baik secara formal maupun non formal manusia akan dapat meningkatkan kematangan intelektual dan memiliki pengetahuan.1. 2010: 17).872 Hasil penelitian juga menunjukan mayoritas responden adalah mereka yang tidak bekerja (61.penelitian Kimuyu distribusi tingkat pendidikan responden lebih heterogen jika dibandingkan pada penelitian ini yang cenderung mengelompok lebih besar pada responden berpendidikan dasar yaitu sebesar 64% dari total responden sehingga hasil dapat berbeda. Hasil penelitian ini diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh Tisna (2009) yang menunjukan bahwa tidak ada hubungan antara pekerjaan dengan kepatuhan pengobatan pasien hipertensi dengan nilai p=0. sedangkan pada responden dengan pendidikan tinggi 85% patuh dalam menjalani pengobatanya. pendidikan merupakan proses belajar mengajar sehingga akan terbentuk seperangkat tingkah laku. Orang yang bekerja cenderung memiliki sedikit waktu untuk mengunjungi fasilitas kesehatan sehingga akan semakin sedikit pula ketersediaan waktu dan kesempatan untuk melakukan pengobatan (Notoatmodjo. Bertentangan dengan hasil penelitian ini. hal ini ditunjukan pada responden dengan pendidikan rendah 73% memiliki pengetahuan yang rendah juga tentang penyakitnya.6%).908. kegiatan atau aktivitas.

1. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Suwarso (2010) yang menunjukan bahwa ada hubungan antara lama pasien mengidap hipertensi terhadap ketidakpatuhan pasien hipertensi dengan nilai p velue=0.9% patuh dalam menjalani pengobatanya. maka dokter yang menangani pasien tersebut biasanya akan menambah jenis obat ataupun akan meningkatkan sedikit . pada umumnya pasien yang telah lama menderita hipertensi tapi belum kunjung mencapai kesembuhan.9% saja yang patuh menjalani pengobatan. sehingga lama menderitahipertensi bukan menjadi faktor yang mempengaruhi kepatuhan dalam perawatanhipertensi. Hal ini disebabkan kebanyakan penderita akan merasa jenuh menjalani pengobatan sedangkan tingkat kesembuhan yang telah dicapai tidak sesuai dengan yang diharapkan.1%) dalam melakukan pengobatan hipertensi yang dijalaninya. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa semakin lama seseorang menderita hipertensi maka tingkat kepatuhanya makin rendah (Ketut Gama et al.8%) patuh menjalani pengobtan. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Su-Jin Cho sebagian besar responden bekerja di sektor formal dan terikat oleh jam kerja.002. Tidak adanya perbedaan ini dikarenakan sebagian besar responden yang bekerja adalah disektor non-formal yang tidak ditentukan batasan waktu kerja. Berdasarkan penelitian dilapangan responden yang menderita hipertensi ≤5 tahun 64. Hal ini berdasarkan hasil penelitian bahwa pasien yang menderita hipertensi >5 tahun cenderung tidak patuh dalam melakukan pengobatanya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan kepatuhan antara responden yang bekerja maupun tidak bekerja. Menurut analisis Suhadi lama menderita hipertensi pada lansia berkaitandengan lamanya melakukan pengobatan hipertensi.1%) patuh melakukan pengobatan dan dari 32 responden yang bekerja 14 responden (43. sehingga responden yang bekerjapun tetap memiliki kesempatan dan ketersediaan waktu yang sama dengan responden yang tidak bekerja untuk melakukan pengobatan hipertensi yang dijalaninya. ditemukan bahwa dari 52 responden yang tidak bekerja. sama halnya dengan penelitian Suwarso. sedangkan pada responden yang sudah menderita hipertensi >5 tahun hanya 31. 2014). Berdasarkan penelitian dilapangan.005. dan pedagang yang tidak terikat jam kerja. Perbedaan hasil penelitian dapat terjadi karena subjek penelitian dalam penelitian Suhadi adalah lansia (>65 tahun) sedangkan dalam penelitian ini subjek penelitian adalah pasien hipertensi dengan usia 45-64 tahun. sebanyak 25 responden (48. sehingga kesempatan untuk datang ke fasilitas kesehatan menjadi terbatas. 5. yaitu penelitian yang dilakukan oleh Suhadi (2011) yang menyatakan bahwa lama menderita hipertensi tidak berhubungan dengan kepatuhan dalam perawatan hipertensi pada lansia. supir.yang berbeda. pada penelitian ini responden yang menderita hipertensi >5 tahun ditemukan lebih banyak untuk tidak patuh (68. Bertentangan dengan hasil penelitian ini. sedangkan dalam penelitian ini mereka yang bekerja sebagian besar adalah pada sektor nonformal seperti petani/buruh.4 Hubungan antara Lama Menderita Hipertensi dengan Kepatuhan dalam Menjalani Pengobatan Hipertensi Berdasarkan hasil analisis bivariat menunjukan bahwa ada hubungan antara lama menderita hipertensi dengan kepatuhan dalam menjalani pengobatan hipertensi dengan nilai p=0. Hal ini juga terkait dengan jumlah obat yang diminum.

ditemukan bahwa responden yang memiliki tingkat pengetahuan rendah 72.2010) Berdasarkan hasil analisis bivariat menunjukan bahwa ada hubungan antara pengetahuan tentang hipertensi dengan kepatuhan dalam menjalani pengobatan hipertensi (p=0. buku dan media massa. baik terhadap diri sendiri maupun lingkungan.002). Bertentangan dengan hasil penelitian ini.dosisnya. diperoleh dari proses belajar selama hidup dan dapat dipergunakan sewaktu-waktu sebagai alat penyesuaian diri.2% cenderung untuk lebih patuh dan hanya ada 27. Hal ini secara tidak langsung mampu meningkatkan pengetahuan klien hipertensi sehingga memotivasi klien hipertensi untuk menjalani pengobatan secara teratur. teman. pemberian brosur tentang penyakit hipertensi. orang tua.6 Hubungan antara Pengetahuan tentang Hipertensi dengan Kepatuhan dalam Menjalani Pengobatan Hipertensi Menurut WHO (2002) pengetahuan dapat diartikan sebagai kumpulan informasi yang dipahami. Dalam penelitianya Ekarini menyebutkan adanya hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan berobat ini dikarenakan adanya upaya yang telah dilakukan oleh petugas kesehatan diantaranya dengan mensosialisasikan pentingnya menjalani pengobatan yang teratur bagi klien hipertensi. Akibatnya pasien tersebut cenderung untuk tidak patuh untuk berobat. Hal ini dikarenakan penelitian tersebut termasuk dalam penelitian deskriptif yang dilihat dari rangkuman data yang ada.1. Hal ini sesuai dengan teori Lawrence Green yang menyatakan bahwa perilaku patuh itu dipengaruhi oleh faktor-faktor predisposisi.2010:59). Penderita yang mempunyai pengetahuan tinggi cenderung lebih patuh berobat daripada penderita yang berpengetahuan rendah (Notoatmodjo. Dapat disimpulkan dari teori tersebut bahwa pengetahuan penderita hipertensi dapat menjadi guru yang baik bagi dirinya. dengan pengetahuan yang dimiliki akan mempengaruhi kepatuhan penderita hipertensi tersebut dalam menjalani pengobatan. penyuluhan kesehatan mengenai penyakit hipertensi. Sedangkan penelitian ini adalah penelitian analitik dimana diuji hingga tahap bivariat sehingga diketahui keeratan hubunganya .000). Patuhnya responden dengan pendidikan tinggi juga terjadi karena tingginya motivasi berobat yang ada dalam dirinya. hal ini ditandai dengan 81% responden berpendidikan tinggi memiliki . 5. Pengetahuan tentang suatu objek dapat diperoleh dari pengalaman guru. Hal tersebut dikarenakan responden yang berpengetahuan tinggi tentang hipertensi lebih memahami penyakit yang diderita serta tahu bagaimana pengobatan hipertensi yang benar dan bahayanya apabila tidak rutin kontrol tekanan darah sehingga lebih patuh dalam melakukan pengobatan dan mematuhi anjuran dokter untuk meminum obat secara rutin. Hasil penelitian ini diperkuat oleh penelitian yang telah dilakukan Ekarini (2011) yang menunjukan bahwa ada hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan berobat pada pasien hipertensi dengan (p=0. Menurut penelitian dilapangan. salah satunya pengetahuan responden (Notoatmodjo.9% tidak patuh dalam menjalani pengobatanya sedangkan responden dengan pengetahuan tinggi 72.8% responden berpendidikan tinggi yang tidak patuh. yaitu penelitian yang dilakukan oleh Abere Dessie Ambaw (2012) yang menunjukan bahwa pengetahuan tidak mempunyai pengaruh terhadap penggunaan obat antihipertensi.

104). 2) Ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan kepatuhan dalam menjalani pengobatan pada pasien hipertensi di Puskesmas Gunungpati Kota Semarang (p velue=0.143) 6) Adanya hubungan antara tingkat pengetahuan tentang hipertensi dengan kepatuhan dalam menjalani pengobatan pada pasien hipertensi di Puskesmas Gunungpati Kota Semarang (p velue=0. 9) Adanya hubungan antara peran petugas kesehatan dengan kepatuhan dalam menjalani pengobatan pada pasien hipertensi di Puskesmas Gunungpati Kota Semarang (p velue=0. 1.2 SARAN 1.872). 8) Adanya hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan dalam menjalani pengobatan pada pasien hipertensi di Puskesmas Gunungpati Kota Semarang (p velue=0. 1 SIMPULAN Berdasarkan penelitian tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan penderita hipertensi dalam menjalani pengobatan di Puskesmas Gunungpati Kota Semarang didapatkan hasil sebagai berikut: 1) Tidak adanya hubungan antara jenis kelamin dengan kepatuhan dalam menjalani pengobatan pada pasien hipertensi di Puskesmas Gunungpati Kota Semarang (p velue=0. 7) Tidak adanya hubungan antara keterjangkauan akses ke pelayanan kesehatan dengan kepatuhan dalam menjalani pengobatan pada pasien hipertensi di Puskesmas Gunungpati Kota Semarang (p velue=0.000).366). 5) Tidak adanya hubungan antara keikutsertaan asuransi kesehatan dengan kepatuhan dalam menjalani pengobatan pada pasien hipertensi di Puskesmas Gunungpati Kota Semarang (p velue=0. 3) Tidak adanya hubungan antara status pekerjaan dengan kepatuhan dalam menjalani pengobatan pada pasien hipertensi di Puskesmas Gunungpati Kota Semarang (p velue=0.000). Diharapkan penderita hipertensi agar teratur melakukan kontrol tekanan darah sesuai dengan anjuran dokter sehingga dapat meminimalisir kemungkinan komplikasi yang dapat terjadi. Diharapkan penderita hipertensi untuk menjalankan pola hidup yang sehat seperti menghentikan kebiasaan merokok.000). 4) Ada hubungan antara lama menderita hipertensi dengan kepatuhan dalam menjalani pengobatan pada pasien hipertensi di Puskesmas Gunungpati Kota Semarang (p velue=0. menghindari stress dan . 10) Adanya hubungan antara motivasi berobat dengan kepatuhan dalam menjalani pengobatan pada pasien hipertensi di Puskesmas Gunungpati Kota Semarang (p velue=0. 2.motivasi yang tinggi pula untuk berobat.000).000).2. BAB VI SIMPULAN DAN SARAN 1.1 Bagi Penderita Hipertensi 1.005).

Nuha Medika. 2010.mematuhi diet hipertensi untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. Perlu adanya penelitian selanjutnya yang menganalisa faktor-faktor dalam penelitian ini. Jakarta. Angelina. S. 1. Teori dan Pengukuran Pengetahuan. Menyediakan media berisi informasi mengenai tatalaksana hipertensi diruang pemeriksaan agar dapat menambah pengetahuan masyarakat mengenai penyakit hipertensi. Jakarta. Disertasi: Universitas Muhimbili. . 2012. Ambaw et al. No. 2.1 Bagi Keluarga Pasien Hipertensi 1. Arikunto. Melakukan pendataan ulang bagi pasien hipertensi pemegang BPJS agar bisa ikut program prolanis yang dilakukan setiap bulanya. Vol.2. 3 Bagi Peneliti Selanjutnya 1. namun juga kepada keluarga dan orang terdekat penderita hipertensiagar dapat ikut serta mengingatkan dan memberikan motivasi pada penderita hipertensi. Factors Afecting Treatment Compliance Among Hypertension Patients In Three District Hospital – Dar Es Salaam. Adherence to Antihypertensive treatment and associated factors among patients on Follow Up at University of Gondar Hospital. Yogyakarta. 2.1 Bagi Instansi Terkait 1. Suharsimi. Hal 1-6 Annisa. 2. 2012. dilengkapi dengan metode kualitatif atau quasi eksperimen yang berkaitan dengan kepatuhan penderita hipertensi dalam menjalani pengobatan. Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Berobat Hipertensi pada Lansia di Puskesmas Pattingallong Kota Makasar. 3.2. Perlu adanya penambahan variabel lain yang berhubungan dengan kepatuhan melakukan pengobatan hipertensi misalnya faktor penyakit penyerta. Prosedur Penelitian. Rineka Cipta. 2011. Azwar. Salemba Medika. 2. Bagi keluarga/kerabat terdekat penderita hipertensi diharapkan berperan aktif untuk selalu memberikan motivasi dan dukungan kepada anggota keluarga yang menderita hipertensi agar selalu rutin minum obat dan senantiasa patuh dalam melakukan mengobatan ke tempat-tempat pelayanan kesehatan. 2.12. faktor riwayat hipertensi keluarga DAFTAR PUSTAKA A Wawan dan Dewi M. Alphonce. 2010. Ubiversitas Hassanuddin. 2013. A Fitria. Sikap dan Perilaku Manusia. Perhitungan Sampel dan Skala Psikologi.282. Keluarga sebagai pemegang peranan penting pada penderita hipertensi juga diharapkan dapat melakukan upaya-upaya pencegahan dan perencanaan yang lebih baik untuk menjaga kesehatan anggota keluarga yang lain. Northwest Ethiopia.2. Memberikan pendidikan kesehatan kepada penderita hipertensi rawat jalan di Puskesmas Gunungpati dan pendidikan kesehatan tersebut sebaiknya tidak hanya diberikan kepada penderita hipertensi saja.

diakses pada 4 April 2015 (http://www. diakses tanggal 5 Februari 2015. Buku Ajar Keperawatan Keluarga:Riset.L. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia: Aplikasi Konsep dan Keperawatan Jilid 1. Diyah 2011. 2006. 2015.id) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Silliman RA.internationaljournalofhypertension Budiman.1. Hubungan Tingkat Kepatuhan Minum Obat dan Diet dengan Tekanan Darah Terkontrol pada Penderita Hipertensi Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Perumnas I Kecamatan Pontianak Barat. 2007. M. 2014. Asuransi Kesehatan dan Managed Care. Marilyn. Pedoman Teknis Penemuan dan Tatalaksana Penyakit Hipertensi. Semarang. Bustan. Salemba Medika.id) Hairunisa. Factors Associated with Medication Nonadherence Among Hypertensive in Ghana and Nigeria. http://www. Jakarta Boima. Article ID 205717. 2013.id) Evadewi. Vol. Volume 2015. 2006.Alimul Hidayat.stikeskusumahusada.ac. Vincent et al. Departemen Kesehatan RI. Jinhyun Kim. Profil Kesehatan Kota Semarang tahun 2013. Fink AK. 2013. IGA Harini. Friedman. Tahun 2014.poltekkes-denpasar. Henni. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Tingkat Kepatuhan Klien Hipertensi dalam Menjalani Pengobatan di Puskesmas Gondangrejo Karanganyar. Tahun 2013. No. Jakarta Cho. Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Berobat Pasien yang Diterapi dengan Temoxifen Setelah Operasi Kanker Payudara. Profil Kesehatan Jawa Tengah 2013. hal 32-42. 2013.ac. EGC.ac. Fox MP. Vol 16. 2003. Riset Kesehatan Dasar 2013 (Riskesdas 2013). Mei 2013. Djuhaeni. 2013. Dinas Pendidikan Nasional. Rineka Cipta. Dinas Kesehatan Kota Semarang. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.go. Factors Associated With Nonadherence to Antihypertensive Medication. I Ketut.untan. Teori dan Praktek Edisi 5.Aziz . 1. diakses tanggal 16 Maret 2015(http://www. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular.Adherance . Semarang . Jakarta: DepDikNas. Factors Associated with Adherence to Antihypertensive Treatment Lash.2. I Wayan Sarmidi. (http://jurnal. diakses pada 4 April 2015 (http://jurnal. Vol.1. Hal 20-24. Hal 461-467.depkes.id) Kimuyu. Jakarta Balitbangkes Kemenkes RI. Su-Jin. 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2007. Putu Kenny Rani. Westrup JL. Faktor Penyebab Ketidakpatuhan Kontrol Penderita Hipertensi. Kepatuhan Mengonsumsi Obat Paien Hipertensi di Denpasar ditinjau dari Kepribadian Tipe A dan Tipe B. No. Arif dkk (2013). Universitas Padjadjaran. 2014. 2010. Jakarta Gama. Boniface Mulinge. Undang-Undang No. 2014. A. 2007. 2013. Timothy. Jakarta: Direktorat pengendalian penyakit tidak menular.International Society of Hypertension (ISH) menyokong penuh penanggulangan hipertensi. Bandung Ekarini. Kemenkes RI.

Menjaga kebugaran jantung.215. kesmas. Kepatuhan Pasien Yang Menderita Penyakit Kronis. 2011. Rineka Cipta. Faktor faktor yang mempengaruhi kepatuhan minum obat anti tuberkuosis pada pasien tuberkulosis paru di Puskesmas Pamulang Kota Tangerang Selatan. 2010. Psikologi kesehatan pengantar untuk perawat profesional kesehatan lain. Metodologi Penelitian Kesehatan. 1. EGC. Muchid. Abdul. Raja Grafindo Persada. No. D. Riset Kesehatan Dasar 2007 Laporan Provinsi Jawa Tengah. Ahmad Hudan Eko. (http://www. Breast Cancer Research and Treatment. No. Hal 30-33 P McGowan.9.15 No. Vol.. 2002. 2009. Jakarta: Depkes RI Ditjen Bina Farmasi Komunitas dan Klinik. Bryan.to tamoxifen over the five-year course. Soekidjo.mercubuana-yogya.W. dkk. No. Desember 2008 Hal 139-144 Riskesdas Jateng. Diakses pada 3 Februari 2015. Vol. Jakarta: Rineka Cipta ---------------------------. 2007. Majalah Berkala Neurosains. Jakarta: Rineka Cipta Novian. MF. Arista. & Munter. Terjemahan oleh Patuan Raja. No.id) Riyanto Agus.3 Pujiyanto. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta Prayogo. Gadjah Mada University Press. Hal 20. Anna dan Williams. 2008. Osamor. Vol. Januari-Februari 2015.. Diakses tanggal 7 Februari 2015 (http://fpsi.Vol. Tekanan Darah Tinggi. Erlangga. Morisky.pdf) Notoatmodjo. Promosi kesehatan teori dan aplikasi. Mary dan P Castelli. Skripsi: universitas islam negeri syarif Hidayatullah Prodjosudjadi.3. Kepatuhan Diit Pasien Hipertensi. Sugeng hariyanto dan Sukono.dinkesjatengprov.99. Murti. Faktor Sosio Ekonomi yang Mempengaruhi Kepatuhan Minum Obat Antihipertensi. 2015. No. 2010.Hipertensi : Mekanisme Dan Penatalaksanaannya. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi. Yogyakarta.1 Tahun 2013 hal 99-110.26. 2005.6.1. Sosial Suport an Management of Hypertension ini South-West Nigeria. Jakarta. ---------------------------. 2008. Yogyakarta: Nuha Medika . Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi.go. 2013. P. Jakarta Palmer. No. 2003. Jakarta Noorfatmah Siti. Pauline E. New medication adherence scale versus pharmacy fill rates in senior with hipertention. 2006. Wiliam 2001. 2010. Vol. Karakteristik Dan Pengetahuan Pasien Dengan Motivasi Melakukan Kontrol Tekanan Darah Di Wilayah Kerja Puskesmas Sragi I PekalonganVol. Bhisma.3.id/wpcontent/ uploads/2012/06/Noor-Kepatuhan. Vol.. American Jurnal Of Managed Care. Juli 2013. (1): Hal 59-66 Mubin. Niven N. Buku Saku Hipertensi:Pharmacheutical Care Untuk Penyakit Hipertensi.1.ac. 2013. Hal 100-105. 2012. (2000).

id/wp-content/uploads/2013/07/KONSEPGENDER.id/admin/jurnal/2209810_19798091 Suwarso. diakses tanggal 2 Februari 2015 http://jurnal. (http://www. K. reduce your risk. Tesis:Universitas Indonesia Suprianto. T. Hidup Bahagia dengan Hipertensi. diakses tanggal 2 Februari 2015.ac.html) WHO 2012. Kuspiantiningsih. W. Analisis faktor yang Berhubungan dengan Ketidakpatuhan Pasien Penderita Hipertensi pasa Pasien Rawat Jalan di RSU H.int/mediacentre/news/releases/2013/world_health_day_2 0130403/en/) . A+ Plus Books: Jogjakarta Suhadi. D.who. Measure your blood pressure. Adam Malik. Juli 2013. (http://www. No 4.lipi. Dewi. 2011. Universitas Sumatera Utara. Digi Familia. Raised Blood Pressure. 2012. Jurnal Farmasi Indonesia: Kepatuhan Penggunaan Obat pada Pasien Hipertensi di Puskesmas. diakses tanggal 5 Februari 2015. (http://admpublik. 2011. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Lansia dalam Perawatan Hipertensi di Wilayah Puskesmas Srondol Kota Semarang.undip. Konsep Gender.go.pdii. Soetamo Surabaya.who.fisip. Hal 246-253.Rostyaningsih. Dukungan sosial keluarga dengan kepatuhan menjalankan program pengobatan pasien hipertensi di URJ Jantung RSU Dr.int/gho/ncd/risk_factors/blood_pressure_prevalence_text /en/index. ISSN: 14121107. purnawan. 2013. Vol 6. Sofia Dewi. pdf) Saepudin dkk. 2010. 2012. Medan WHO. diakses tanggal 4 April 2015. Arna Y. 2009. World Health Day 2013.