You are on page 1of 8

PROSIDING

2012©

HASIL PENELITIAN FAKULTAS TEKNIK

Arsitektur

Elektro

Geologi

Mesin

Perkapalan

Sipil

ANALISIS KINERJA MOTOR DIESEL PERKINS TYPE 108 - V

Baharuddin Mire Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10 Tamalanrea - Makassar, 90245 Telp. 0411-588400 e-mail: baharuddin_unhas@yahoo.com

Abstrak Salah satu mesin yang digunakan praktikum mahasiswa teknik mesin fakultas teknik adalah mesin diesel perkins milik laboratorium motor bakar. Sejak tahun 1980 mesin ini sudah digunakan penelitian dan praktikum mahasiswa, oleh karena itu mesin tersebut tergolong sudah tua. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja yang meliputi daya efektif, konsumsi bahan bakar spesifik, efisiensi termal dan membandingkan kinerja mesin perkins pada saat masih baru. Penelitian ini dilakukan pada pembuka katup gas 30%, 40%, 50% dengan putaran bervariasi dari 1500 rpm sampai 2500 rpm. Hasil yang diperoleh daya efektif maksimum untuk kondisi mesin sekarang 15,18434 kw, sedangkan kondisi mesin pada saat baru 18,29340kw. Sedangkan konsumsi bahan bakar spesifik minimum untuk kondisi mesin sekarang diperoleh 0,3189 kg/kwh, sedangkan untuk kondisi mesin pada saat baru 0,1782 kg/kwh, sedangkan efesiensi termal maksimum untuk kondisi mesin sekarang 26,5017%, untuk kondisi mesin saat mesin baru 47,4171%. Kata kunci: daya, konsumsi bahan bakar, efesiensi

PENDAHULUAN

Dewasa ini motor diesel sebagai salah satu jenis penggerak mula yang menggunakan energi termal untuk melakukan kerja mekanik. Sebagian besar telah menyentuh masyarakat, berdasarkan hal tersebut telah banyak dilakukan penelitian untuk meningkatkan daya dan efisiensi. Motor diesel dituntut untuk memiliki daya dan efisiensi yang tinggi. Energi panas diperoleh dari perubahan panas kimia melalui proses pembakaran, makin banyak bahan bakar yang terbakar makin besar pula daya dan efisiensi yang dihasilkan, hal tersebut di atas terjadi apabila didukung komponen-komponen mesin yang masih baru. Faktor yang mempengaruhi kinerja mesin adalah umur atau lamanya waktu operasi. Setiap komponen mesin mempunyai life time yang tertentu untuk dapat digunakan secara ekonomis, sehingga mesin yang tidak memenuhi persyaratan baik segi teknis maupun segi ekonomis harus segera dihentikannya pengoperasiannya, karena apabila hal tersebut tidak diperhatikan maka mesin akan memperbesar jumlah pekerjaan perawatan, menghabiskan banyak alat-alat dan mesin dapat mempengaruhi produktivitas. Salah satu mesin tergolong sudah lama pengoperasiannya adalah mesin pengujian perkins pada laboratorium motor bakar. Mesin tersebut sudah mengalami penurunan kinerja.

Penelitian ini bertujuan untuk:

Menentukan daya efektif maksimum terhadap variasi pembukaan katup gas, putaran poros dan beban mesin.

terhadap pembukaan katup gas, putaran poros dan

Menentukan konsumsi bahan bakar spesifik minimum

beban mesin.

Menentukan efisiensi termal maksimum terhadap pembukaan katup gas, putaran poros dan beban mesin

Menganalisis perbandingan kinerja mesin perkins pada kondisi mesin baru dengan kondisi mesin sekarang terhadap variasi pembukaan katup gas putaran poros dan beban mesin.

Parameter Kinerja Mesin

Parameter kinerja mesin dalam penelitian ini adalah parameter yang digunakan untuk menganalisis kinerja mesin yang meliputi :

Daya Efektif (Kw)

Volume 6 : Desember 2012

Group Teknik Mesin

ISBN : 978-979-127255-0-6

TM2 -

1

Analisis Kerja Motor Diesel

Baharuddin Mire

Arsitektur

Elektro

Geologi

Mesin

Perkapalan

Sipil

Daya efektif merupakan daya berguna yang berhasil diperoleh sebagai daya poros penggerak beban. Daya ini dibangkitkan oleh suatu daya mula yang disebut daya indikator yang merupakan daya gas pembakaran yang menggerakkan jarak, sebagian daya indikator dibutuhkan untuk mengatasi gesekan-gesekan mekanik. Untuk mengetahui daya mesin digunakan suatu alat yang dinamakan dinamometer untuk mengukur momen putar atau torsi dan tachometer untuk mengukur putaran poros sehingga daya efektif dihitung dengan persamaan :

Pe

T. n

9549,305

(kw)

Dimana:

T

= Torsi (N.m)

n

= putaran poros (rpm)

9549,305

= konstanta dinamometer

Konsumsi Bahan Bakar (Kg/h) Jumlah konsumsi bahan bakar dapat dihitung dengan jalan mengukur waktu yang dibutuhkan mesin untuk menghabiskan sejumlah tertentu bahan bakar dalam gelas ukur, hubungan tersebut dinyatakan persamaan:

F

c

V

gu

.10

3

P

f

.3600

t

(kg/h)

Dimana :

V gu

P f

t = waktu untuk menghabiskan 50 cc bahan bakar (detik)

10 -3 = faktor konversi dari cc ke liter

= volume gelas ukur = 50 cc = massa jenis bahan bakar

Konsumsi bahan bakar spesifik (kg/kwh) Dengan menghitung konsumsi bahan bakar spesifik, maka dapat diketahui ukuran ekonomi dari suatu mesin, karena menyatakan jumlah konsumsi bahan bakar yang digunakan setiap jam untuk menghasilkan 1 kw daya efektif. Konsumsi bahan bakar spesifik dapat dihitung dengan persamaan:

SFC

Dimana:

F

c

P

e

F c

P

e

(kg/kwh)

= Konsumsi bahan bakar (kg/h) = Daya efektif (kw)

Efisiensi Termal Efektif (%) Efisiensi termal efektif suatu motor bakar didefinisikan sebagai perbandingan antara energi kalor yang diubah menjadi daya efektif dengan jumlah energi kalor bahan bakar yang disuplai kedalam silinder. Parameter ini menunjukkan kemampuan mesin dalam mengubah energi kalor dari bahan bakar menjadi energi mekanik sehingga efisiensi termal dihitung dengan persamaan:

t

Q

tot

P

e

Q tot

x 100%

LHV . FC

3600

ISBN : 978-979-127255-0-6

Group Teknik Mesin

Volume 6 : Desember 2012

TM2 -

2

PROSIDING

2012©

HASIL PENELITIAN FAKULTAS TEKNIK

Arsitektur

Elektro

Geologi

Mesin

Perkapalan

Sipil

Dimana:

Q tot

= Energi bahan bakar (kw)

LHV = nilai kalor bawah bahan bakar (kj/kg)

METODOLOGI

Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium Motor Bakar Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin dengan menggunakan mesin diesel perkins type 108-V

Spesifikasi Mesin

Mesin yang digunakan dalam penelitian ini adalah Tequipment TD 4a Diesel Engine Test Bed, dengan data sebagai berikut:

1. Type mesin

: Perkins4-108V

2. Jumlah silinder

: 4buah

3. Diameter silinder

: 79,5 mm

4. Panjang langkah

: 88,9mm

5. Volume langkah

:1790cc

6. Perbandingan kompressi

: 22 : 1

7. Bahan bakar

: Solar

8. Jumlah langkah

: 4 langkah

Fasilitas Pengujian

Fasilitas pengujian seperti terlihat pada gambar merupakan faktor utama yang mempengaruhi keakuratan data pengujian dan hasil analisa terhadap karakteristik pengujian yang diperoleh fasilitas yang tersedia pada mesin ini adalah:

1. Dinamometer Dinamometer yang terpasang pada mesin ini digunakan untuk mengukur daya efektif mesin, yang mana merupakan daya guna yang ditimbulkan oleh poros engkol mesin setelah mengalami tahanan gesekan dari mesin tersebut. Poros dinamometer terpasang bersama motornya, dimana didalamnya terdapat pusaran air yang berkecepatan tinggi. Tahanan putaran yang dihasilkan, menyebabkan daya efektif yang bervariasi sesuai dengan kecepatan putar.

2. Tachometer Setelah dinamometer peralatan lain yang digunakan untuk daya efektif adalah tachometer. Alat ini berfungsi untuk mengukur kecepatan putar dan poros, pada setiap kondisi operasi yang diberikan.

3. Flint Fuel Gauge Peralatan ini berfungsi untuk mengukur konsumsi bahan bakar yang digunakan, dimana volume bahan bakar yang terukur dibatasi oleh sekat (spacer) dengan volume tertentu yaitu 50 cc, 100 cc, dan 200 cc.

4. Inclined Manometer Peralatan ini digunakan untuk mengukur tekanan udara yang masuk kedalam bak penampungan udara, melalui sebuah plat.

Pengujian

Untuk menentukan hubungan variasi pembukaan katup gas, putaran poros dan beban mesin:

1. Pembukaan katup gas : 30%, 40% dan 50%

2. Putaran poros : (1500, 1700, 1900, 2100 dan 2300 rpm)

3. Setiap pengujian dilakukan pencatatan sebagai berikut :

Pembukaan katup gas

%

Putaran poros

(rpm)

Momen torsi

(N.m)

Waktu yang dibutuhkan untuk konsumsi bahan bakar 50 cc

Volume 6 : Desember 2012

Group Teknik Mesin

ISBN : 978-979-127255-0-6

TM2 -

3

Analisis Kerja Motor Diesel

Baharuddin Mire

Arsitektur

Elektro

Geologi

Mesin

Perkapalan

Sipil

Hasil Pengolahan Data

Adapun hasil pengolahan data dapat dilihat pada tabel-tabel berikut ini.

Tabel 1. Hasil Perhitungan Katup gas 30% kondisi mesin baru

n

T

t

Pe

FC

SFC

η

(%)

(rpm)

(Nm)

(detik)

(kW)

(kg/h)

(kg/kWh)

t

1500

70,5

39

11.07410

2.1447

0.1937

43.6340

1700

68

42,5

12.10559

2.2235

0.1837

46.0068

1900

65,3

46

12.99257

2.3155

0.1782

47.4171

2100

61

48,7

13.41459

2.4787

0.1848

45.7335

2300

57,5

50,2

13.84918

2.6296

0.1899

44.5060

Tabel 2. Hasil Perhitungan Katup gas 30% kondisi mesin sekarang

n

T

t

Pe

FC

SFC

η

(%)

(rpm)

(Nm)

(detik)

(kW)

(kg/h)

(kg/kWh)

t

1500

55.5

29

8,71791

5,2138

0,5981

14,1298

1700

54

30.5

9,61327

4,9574

0,5157

16,3869

1900

52

32

10,34630

4,7250

0,4567

18,5039

2100

49

35

10,77565

4,3200

0,4009

21,0785

2300

47

38.3

11,32020

3,9478

0,3487

24,2315

Pe

Pe vs Putaran Katup gas 30% 14.60000 13.80000 13.00000 12.20000 11.40000 10.60000 9.80000 9.00000 8.20000
Pe vs Putaran Katup gas 30%
14.60000
13.80000
13.00000
12.20000
11.40000
10.60000
9.80000
9.00000
8.20000
1400
1550
1700
1850
2000
2150
2300
9.00000 8.20000 1400 1550 1700 1850 2000 2150 2300 Putaran ( rpm ) Kondisi mesin baru

Putaran (rpm)

Kondisi mesin baru

Kondisi mesin sekarang11.40000 10.60000 9.80000 9.00000 8.20000 1400 1550 1700 1850 2000 2150 2300 Putaran ( rpm )

Gambar 1. Grafik hubungan antara Pe vs Putaran poros pada Bukaan Katup gas 30%

SFC vs Putaran Katup gas 30%

0.6400 0.6000 0.5600 0.5200 0.4800 0.4400 0.4000 0.3600 0.3200 0.2800 0.2400 0.2000 1400 1550 1700
0.6400
0.6000
0.5600
0.5200
0.4800
0.4400
0.4000
0.3600
0.3200
0.2800
0.2400
0.2000
1400
1550
1700
1850
2000
2150
2300
SFC
0.2400 0.2000 1400 1550 1700 1850 2000 2150 2300 SFC Putaran ( rpm ) Kondisi mesin

Putaran (rpm)

Kondisi mesin baru

Kondisi mesin sekarang0.3600 0.3200 0.2800 0.2400 0.2000 1400 1550 1700 1850 2000 2150 2300 SFC Putaran ( rpm

Gambar 3.Grafik hubungan antara SFC vs Putaran poros pada Bukaan Katup gas 30%

Fc

FC vs Putaran Katup gas 30%

5.5000 5.0000 4.5000 4.0000 3.5000 3.0000 2.5000 1400 1550 1700 1850 2000 2150 2300
5.5000
5.0000
4.5000
4.0000
3.5000
3.0000
2.5000
1400
1550
1700
1850
2000
2150
2300

Putaran (rpm)

Kondisi mesin baru4.5000 4.0000 3.5000 3.0000 2.5000 1400 1550 1700 1850 2000 2150 2300 Putaran ( rpm )

3.5000 3.0000 2.5000 1400 1550 1700 1850 2000 2150 2300 Putaran ( rpm ) Kondisi mesin

Kondisi mesin sekarang

Gambar 2. Grafik hubungan antara FC vs Putaran poros pada Bukaan Katup gas 30%

ηth

ηth Vs Putaran Katup Gas 30% 39.5000 36.5000 33.5000 30.5000 27.5000 24.5000 21.5000 18.5000 15.5000
ηth Vs Putaran Katup Gas 30%
39.5000
36.5000
33.5000
30.5000
27.5000
24.5000
21.5000
18.5000
15.5000
12.5000
1400
1550
1700
1850
2000
2150
2300

Putaran (rpm)

Kondisi mesin baru21.5000 18.5000 15.5000 12.5000 1400 1550 1700 1850 2000 2150 2300 Putaran ( rpm ) Kondisi

15.5000 12.5000 1400 1550 1700 1850 2000 2150 2300 Putaran ( rpm ) Kondisi mesin baru

Kondisi mesin sekarang

Gambar 4.

Grafik hubungan antara ηth vs Putaran poros pada Bukaan Katup gas 30%

ISBN : 978-979-127255-0-6

Group Teknik Mesin

Volume 6 : Desember 2012

TM2 -

4

PROSIDING

2012©

HASIL PENELITIAN FAKULTAS TEKNIK

Arsitektur

Elektro

Geologi

Mesin

Perkapalan

Sipil

Tabel 3. Hasil Perhitungan Katup gas 40% kondisi mesin baru

n

T

t

Pe

FC

SFC

η

(%)

(rpm)

(Nm)

(detik)

(kW)

(kg/h)

(kg/kWh)

t

1500

76,5

32

12,01658

4,7250

0,3932

21,4911

1700

75

34,2

13,35176

4,4211

0,3311

25,5206

1900

72,3

36

14,38534

4,2000

0,2920

28,9434

2100

69,5

38,5

15,28383

3,9273

0,2570

32,8867

2300

67

39,7

16,13730

3,8086

0,2360

35,8054

2500

64,5

41

16,88605

3,6878

0,2184

38,6936

2700

61,7

43,2

17,44525

3,5000

0,2006

42,1200

Tabel 4. Hasil Perhitungan Katup gas 40% kondisi mesin sekarang

n

T

t

Pe

FC

SFC

η

(%)

(rpm)

(Nm)

(detik)

(kW)

(kg/h)

(kg/kWh)

t

1500

70

24

10,99556

6,3000

0,5730

14,7488

1700

69

25,5

12,28362

5,9294

0,4827

17,5063

1900

67

27

13,33081

5,6000

0,4201

20,1163

2100

64

28,5

14,07432

5,3053

0,3769

22,4181

2300

60

30

14,45131

5,0400

0,3488

24,2301

2500

57,5

31,5

15,05345

4,8000

0,3189

26,5017

Pe

Pe vs Putaran Katup gas 40% 17.80000 17.00000 16.20000 15.40000 14.60000 13.80000 13.00000 12.20000 11.40000
Pe vs Putaran Katup gas 40%
17.80000
17.00000
16.20000
15.40000
14.60000
13.80000
13.00000
12.20000
11.40000
10.60000
1400
1660
1920
2180
2440
2700
12.20000 11.40000 10.60000 1400 1660 1920 2180 2440 2700 Putaran ( rpm ) Kondisi mesin baru

Putaran (rpm)

Kondisi mesin baru

12.20000 11.40000 10.60000 1400 1660 1920 2180 2440 2700 Putaran ( rpm ) Kondisi mesin baru

Kondisi mesin sekarang

Gambar 5.

Grafik hubungan antara Pe vs Putaran poros pada Bukaan Katup gas 40%

Fc

FC vs Putaran Katup gas 40%

6.8000 6.4000 6.0000 5.6000 5.2000 4.8000 4.4000 4.0000 3.6000 3.2000 1400 1660 1920 2180 2440
6.8000
6.4000
6.0000
5.6000
5.2000
4.8000
4.4000
4.0000
3.6000
3.2000
1400
1660
1920
2180
2440
2700

Putaran (rpm)

Kondisi mesin baru5.2000 4.8000 4.4000 4.0000 3.6000 3.2000 1400 1660 1920 2180 2440 2700 Putaran ( rpm )

Kondisi mesin sekarang5.2000 4.8000 4.4000 4.0000 3.6000 3.2000 1400 1660 1920 2180 2440 2700 Putaran ( rpm )

Gambar 6.

Grafik hubungan antara FC vs Putaran poros pada Bukaan Katup gas 40%

SFC vs Putaran Katup gas 40%

0.6100 0.5700 0.5300 0.4900 0.4500 0.4100 0.3700 0.3300 0.2900 0.2500 0.2100 0.1700 1400 1660 1920
0.6100
0.5700
0.5300
0.4900
0.4500
0.4100
0.3700
0.3300
0.2900
0.2500
0.2100
0.1700
1400
1660
1920
2180
2440
2700
SFC

Putaran (rpm)

0.2500 0.2100 0.1700 1400 1660 1920 2180 2440 2700 SFC Putaran ( rpm ) Kondisi mesin

Kondisi mesin baru

0.2500 0.2100 0.1700 1400 1660 1920 2180 2440 2700 SFC Putaran ( rpm ) Kondisi mesin

Kondisi mesin sekarang

Gambar 7.

Grafik hubungan antara SFC vs Putaran poros pada Bukaan Katup gas 40%

ηth

ηth vs Putaran Katup Gas 40%

45.0000 40.0000 35.0000 30.0000 25.0000 20.0000 15.0000 10.0000 1400 1660 1920 2180 2440 2700
45.0000
40.0000
35.0000
30.0000
25.0000
20.0000
15.0000
10.0000
1400
1660
1920
2180
2440
2700

Putaran (rpm)

Kondisi mesin baru30.0000 25.0000 20.0000 15.0000 10.0000 1400 1660 1920 2180 2440 2700 Putaran ( rpm ) Kondisi

Kondisi mesin sekarang30.0000 25.0000 20.0000 15.0000 10.0000 1400 1660 1920 2180 2440 2700 Putaran ( rpm ) Kondisi

Gambar 8.

Grafik hubungan antara ηth vs Putaran poros pada Bukaan Katup gas 40%

Volume 6 : Desember 2012

Group Teknik Mesin

ISBN : 978-979-127255-0-6

TM2 -

5

Analisis Kerja Motor Diesel

Baharuddin Mire

Arsitektur

Elektro

Geologi

Mesin

Perkapalan

Sipil

Tabel 5. Hasil Perhitungan Katup gas 50% kondisi mesin baru

n

T

t

Pe

FC

SFC

η

(%)

(rpm)

(Nm)

(detik)

(kW)

(kg/h)

(kg/kWh)

t

1500

80,2

21,7

12,59778

6,9677

0,5531

15,2785

1700

81

24

14,41990

6,3000

0,4369

19,3420

1900

77,5

26,3

15,41997

5,7490

0,3728

22,6656

2100

74,8

28

16,44936

5,4000

0,3283

25,7415

2300

71

30,2

17,10072

5,0066

0,2928

28,8635

2500

67,5

31,5

17,67144

4,8000

0,2716

31,1107

2700

64,7

33

18,29348

4,5818

0,2505

33,7394

Tabel 6. Hasil Perhitungan Katup gas 50% kondisi mesin sekarang

n

T

t

Pe

FC

SFC

η

(%)

(rpm)

(Nm)

(detik)

(kW)

(kg/h)

(kg/kWh)

t

1500

70

20,5

10,99556

7,3756

0,6708

12,5979

1700

71

22

12,63966

6,8727

0,5437

15,5412

1900

68

24

13,52978

6,3000

0,4656

18,1480

2100

65,2

25,5

14,33822

5,9294

0,4135

20,4344

2300

62

27

14,93302

5,6000

0,3750

22,5340

2500

58

29

15,18435

5,2138

0,3434

24,6105

Pe

Pe vs Putaran Katup gas 50%

19.00000 18.00000 17.00000 16.00000 15.00000 14.00000 13.00000 12.00000 11.00000 10.00000 1400 1660 1920 2180
19.00000
18.00000
17.00000
16.00000
15.00000
14.00000
13.00000
12.00000
11.00000
10.00000
1400
1660
1920
2180
2440
2700
12.00000 11.00000 10.00000 1400 1660 1920 2180 2440 2700 Putaran ( rpm ) Kondisi mesin baru

Putaran (rpm)

Kondisi mesin baru

12.00000 11.00000 10.00000 1400 1660 1920 2180 2440 2700 Putaran ( rpm ) Kondisi mesin baru

Kondisi mesin sekarang

Gambar 9.

Grafik hubungan antara Pe vs Putaran poros pada Bukaan Katup gas 50%

Fc

FC vs Putaran Katup gas 50%

7.5000 7.2500 7.0000 6.7500 6.5000 6.2500 6.0000 5.7500 5.5000 5.2500 5.0000 4.7500 4.5000 1400 1660
7.5000
7.2500
7.0000
6.7500
6.5000
6.2500
6.0000
5.7500
5.5000
5.2500
5.0000
4.7500
4.5000
1400
1660
1920
2180
2440
2700
5.0000 4.7500 4.5000 1400 1660 1920 2180 2440 2700 Putaran ( rpm ) Kondisi mesin baru

Putaran (rpm)

Kondisi mesin baru

5.0000 4.7500 4.5000 1400 1660 1920 2180 2440 2700 Putaran ( rpm ) Kondisi mesin baru

Kondisi mesin sekarang

Gambar 10. Grafik hubungan antara FC vs Putaran poros pada Bukaan Katup gas 50%

SFC vs Putaran Katup gas 50%

0.7200 0.6700 0.6200 0.5700 0.5200 0.4700 0.4200 0.3700 0.3200 0.2700 0.2200 1400 1660 1920 2180
0.7200
0.6700
0.6200
0.5700
0.5200
0.4700
0.4200
0.3700
0.3200
0.2700
0.2200
1400
1660
1920
2180
2440
2700
SFC
0.3200 0.2700 0.2200 1400 1660 1920 2180 2440 2700 SFC Putaran (rpm) Kondisi mesin baru Kondisi

Putaran (rpm)

Kondisi mesin baru

0.3200 0.2700 0.2200 1400 1660 1920 2180 2440 2700 SFC Putaran (rpm) Kondisi mesin baru Kondisi

Kondisi mesin sekarang

Gambar 11. Grafik hubungan antara SFC vs Putaran poros pada Bukaan Katup gas 50%

ηth

ηth vs Putaran Katup Gas 50% 35.0000 32.5000 30.0000 27.5000 25.0000 22.5000 20.0000 17.5000 15.0000
ηth vs Putaran Katup Gas 50%
35.0000
32.5000
30.0000
27.5000
25.0000
22.5000
20.0000
17.5000
15.0000
12.5000
10.0000
1400
1660
1920
2180
2440
2700
15.0000 12.5000 10.0000 1400 1660 1920 2180 2440 2700 Putaran ( rpm ) Kondisi mesin baru

Putaran (rpm)

Kondisi mesin baru

15.0000 12.5000 10.0000 1400 1660 1920 2180 2440 2700 Putaran ( rpm ) Kondisi mesin baru

Kondisi mesin sekarang

Gambar 12. Grafik hubungan antara ηth vs Putaran poros pada Bukaan Katup gas 50%

ISBN : 978-979-127255-0-6

Group Teknik Mesin

Volume 6 : Desember 2012

TM2 -

6

PROSIDING

2012©

HASIL PENELITIAN FAKULTAS TEKNIK

Arsitektur

Elektro

Geologi

Mesin

Perkapalan

Sipil

PEMBAHASAN

Hubungan Daya Efektif dengan Putaran Mesin

Daya efektif tertinggi baik pada kondisi mesin sekarang maupun pada kondisi mesin pada saat masih baru sebagai berikut :

Untuk katup gas 30% pada kondisi mesin sekarang diperoleh daya efektif 11,32020 kw pada putaran 2300 rpm sedangkan pada saat mesin baru diperoleh daya efektif 13,84918 kw pada putaran 2300 rpm. Untuk katup gas 40% pada kondisi mesin sekarang diperoleh daya efektif 15,05345 kw pada putaran poros 2500 rpm, sedangkan pada saat mesin baru diperoleh daya efektif 17,44525 kw pada putaran poros 2700 rpm. Untuk katup gas 50% pada kondisi mesin sekarang daya efektif 15,18435 kw pada putaran poros 2500 rpm, sedangkan pada saat kondisi mesin baru daya efektif 18,29348 kw pada putaran poros 2700 rpm.

Pada ketiga pembukaan katup gas terlihat bahwa daya efektif turun pada kondisi mesin sekarang, hal ini disebabkan karena terjadinya kebocoran air pada sistem dynamometer sehingga pembacaan torsi pada dynamometer tidak optimal lagi, hal lain yang menyebabkan daya efektif turun karena umur mesin tergolong sudah tua sehingga memungkinkan terjadi kebocoran gas pembakaran pada katup, cincin torak dan sebagainya.

Hubungan Konsumsi Bahan Bakar dengan Putaran Poros

Konsumsi bahan bakar terendah baik pada kondisi mesin sekarang maupun pada kondisi mesin pada saat baru sebagai berikut :

Untuk katup gas 30% pada kondisi mesin sekarang diperoleh 3,9478 kg/l pada putaran poros 2300 rpm sedangkan pada kondisi mesin baru 2,1447 kg/l pada putaran poros 1500 rpm.

Untuk katup gas 40%, pada kondisi mesin sekarang konsumsi bahan bakar 4.800 kg/I pada putaran poros

2500

rpm, pada kondisi mesin pada saat baru konsumsi bahan bakar 3.500 kg/l pada putaran poros 2700

rpm.

Untuk katup gas 50%, pada kondisi mesin sekarang diperoleh konsumsi bahan bakar 5,2138 kg/I pada putaran poros 2500 rpm, sedangkan pada kondisi mesin pada saat baru konsumsi bahan bakar 4,5818 kg/I pada putaran poros 2700 rpm.

Dari ketiga pembukaan katup gas terlihat bahwa secara umum konsumsi bahan bakar lebih besar pada kondisi mesin sekarang, hal ini disebabkan karena injector sudah lama tidak diganti sehingga penyemprotan bahan bakar lebih banyak dan juga terjadi kebocoran bahan bakar pada sistem bahan bakar.

Hubungan Konsumsi Bahan Bakar Spesifik dengan Putaran Poros

Konsumsi bahan bakar spesifik terendah baik pada saat kondisi mesin sekarang maupun pada kondisi mesin pada saat baru dapat dijelaskan sebagai berikut:

Untuk katup gas 30% pada kondisi mesin sekarang diperoleh konsumsi bahan bakar spesifik terendah 0,3487 kg/kwh pada putaran poros 2500 rpm, sedangkan pada kondisi mesin pada saat baru diperoleh konsumsi bahan bakar spesifik 0,1782 kg/kwh.

Untuk ketup gas 40% pada kondisi mesin sekarang diperoleh konsumsi bahan bakar spesifik terendah 0,

3189 kg/kwh. Pada putaran poros 2300 rpm, sedangkan pada kondisi mesin pada saat baru, konsumsi bahan

bakar spesifik 0,2006 kg/kwh, putaran poros 2300 rpm untuk katup gas 50%, pada kondisi mesin sekarang

diperoleh mesin konsumsi bahan bakar spesifik 0,3434 kg/kwh pada putaran 2500 rpm, sedangkan pada

kondisi mesin pada saat baru diperoleh konsumsi bahan bakar spesifik 0,2505 kg/kwh. Pada putaran poros

2700 rpm.

Dari ketiga pembukaan katup gas dengan berbagai putaran poros terlihat bahan nilai konsumsi bahan bakar spesifik terendah diperoleh pada mesin baru sehingga pada kondisi mesin sekarang sangat boros. Borosnya konsumsi bahan bakar spesifik pada kondisi mesin sekarang karena sangat dipengaruhi oleh daya efektif yang dihasilkan mesin dan kondisi bahan bakar. Apabila daya mesin tinggi dan konsumsi bahan bakar rendah maka konsumsi bahan bakar spesifik diperoleh rendah pula atau hemat.

Hubungan Efesiensi Termal dengan Putaran Poros

Efesiensi termal maksimal baik pada kondisi mesin sekarang maupun kondisi mesin pada saat baru, dapat dijelaskan sebagai berikut :

Volume 6 : Desember 2012

Group Teknik Mesin

ISBN : 978-979-127255-0-6

TM2 -

7

Analisis Kerja Motor Diesel

Baharuddin Mire

Arsitektur

Elektro

Geologi

Mesin

Perkapalan

Sipil

Untuk katup gas 30% pada kondisi mesin sekarang diperoleh efesiensi termal 24,2315%, pada putaran poros

2300

rpm, sedangkan pada kondisi mesin baru diperoleh efisiensi termal 44,5060% pada putaran poros 2300

rpm.

Untuk katup gas 40% pada kondisi mesin sekarang efisiensi termal 26,5017% pada putaran 2500 rpm, sedangkan pada kondisi mesin baru efisiensi termal 14,1200% pada putaran 2700 rpm.

Untuk katup gas 50% pada, pada kondisi mesin sekarang efisiensi termal 24,6115% pada putaran poros

2500 rpm sedangkan pada mesin baru efisiensi termal 33, 7394% pada putaran 2700 rpm.

Dari ketiga pembukaan katup gas dengan variasi putaran poros terlihat bahwa pada kondisi mesin sekarang diperoleh efisiensi termal sangat rendah dibanding pada kondisi baru. Hal ini disebabkan karena pada mesin kondisi sekarang daya efektif yang dihasilkan lebih rendah pada semua perlakuan dan pengujian dilakukan begitu pula konsumsi bahan bakar spesifik, pada kondisi mesin sekarang terlihat sangat boros, sehingga daya efektif dari mesin bahan bakar spesifik sangat mempengaruhi efisiensi termal.

KESIMPULAN

Dari ketiga pembukaan katup gas dengan variasi putaran poros baik pada kondisi mesin sekarang maupun pada kondisi mesin saat baru, dapat disimpulkan sebagai berikut:

Daya efektif maksimum untuk kondisi mesin sekarang 15,18434 kw, pada katup gas 50% dengan putaran poros 2500 rpm, sedangkan untuk kondisi mesin saat baru daya efektif 18,29348 kw, pada katup gas 50% dengan putaran poros 2700 rpm.

Pemakaian bahan bakar spesifik minimumnya (terendah) untuk kondisi mesin sekarang diperoleh 0,3189 pada katup gas 40% dengan putaran poros 2500 rpm, sedangkan untuk kondisi mesin saat baru 0,1782 kg/kwh pada katup gas 30% pada putaran poros 1900 rpm.

Efisiensi termal maksimum untuk kondisi mesin sekarang 26,5017% pada katup gas 40% putaran poros

2500 rpm, sedangkan untuk kondisi mesin saat baru 47,4171% katup gas 30%, putaran poros 1900 rpm.

Pada mesin baru kondisi komponen-komponen masih dalam batas maksimal sedangkan kondisi sekarang sudah banyak komponen-komponen yang tidak optimal misalnya dynamometer, injector, katup-katup dan sebagainya sehingga kinerja mesin perkinsnya tidak optimal lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Arismunandar W. 1988. Penggerak Mula, Motor Bakar. Penerbit ITB, Bandung Arismundar W, Saito Heizo. 1980. Penyegaran Udara. PT. Pradnya Paramita, Bandung. Benson R.S dan Whitehouse N.D 1979, Internal Combustion Engines. Pergamon Press, New York. Blundell J.K., Hydraulic Dynamometer TD4. England Tequipment Limited, Nottingham. Chapra, S.C dan Canale R.P., 1998. Numerical Method for Engineers with Programming and software Application, WCB/McGraw-Hill, New York. Eastop dan MC., Congkey, 1993. Applied Thermodynamics For Engineering Technologist. New York. Heywood, J.B., 1989. Internal Combustion Engines. Me Graw Hill Book Company, New York. Maleev, V.L., 1951. Internal Combustion Engines. Tokyo Kogakusha & Co., Tokyo. Mathur M.L, dan Sharma R.P Internal Combustion Engines. Dhampat Roi & Sons, New Delhi. Obert E.F., 1973. Internal Combustion Engines and Air Pollution. Harper and Row Publisher.

Plint, Installation and Operating Instruction. England Plint Engineers & partner Ltd. Wokingham.

ISBN : 978-979-127255-0-6

Group Teknik Mesin

Volume 6 : Desember 2012

TM2 -

8