You are on page 1of 24

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Di Indonesia jumlah penyalah guna narkoba diperkirakan ada sebanyak 3,8
juta sampai 4,1 juta orang dalam setahun terakhir (current users) pada kelompok
usia 10-59 tahun di tahun 2014.1 Hasil proyeksi angka prevalensi penyalahguna
narkoba akan meningkat setiap tahun. Fakta tersebut di dukung oleh adanya
kecenderungan peningkatan angka sitaan dan pengungkapan kasus narkoba.
Masalah penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainya
(NAPZA) atau istilah yang populer dikenal masyarakat sebagai NARKOBA
(Narkotika dan Bahan/ Obat berbahanya) merupakan masalah yang sangat
kompleks, yang memerlukan upaya penanggulangan secara komprehensif dengan
melibatkan kerja sama multidispliner, multisektor, dan peran serta masyarakat
secara aktif yang dilaksanakan secara berkesinambungan, konsekuen dan
konsisten. Meskipun dalam Kedokteran, sebagian besar golongan Narkotika,
Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) masih bermanfaat bagi
pengobatan, namun bila disalahgunakan atau digunakan tidak menurut indikasi
medis atau standar pengobatan terlebih lagi bila disertai peredaran di jalur ilegal,
akan berakibat sangat merugikan bagi individu maupun masyarakat luas
khususnya generasi muda.
Fenomena penyalahgunaan zat mempunyai banyak implikasi untuk penelitian
otak, psikiatri klinis, dan masyarakat pada umumnya. Dinyatakan dengan
sederhana, beberapa zat dapat mempengaruhi keadaan mental yang dirasakan dari
dalam (sebagai contohnya, mood) maupun aktivitas yang dapat diobservasi dari
luar (yaitu, perilaku).
Relaps merupakan perilaku penggunaan kembali narkoba setelah menjalani
penanganan secara rehabilitasi yang ditandai dengan adanya pemikiran, perilaku
LBM I

Page 1

dan perasaan adiktif setelah periode putus zat. Secara garis besar ada dua faktor
yang mempengaruhi terbentuknya relaps yaitu faktor internal dan faktor eksternal
dari individu. Intervensi yang dapat diberikan pada kasus relaps narkoba harus
meliputi terapi perilaku (konseling, terapi kognitif, terapi sosial), terapi medis, dan
terapi keagamaan. Data dari Badan Narkotika Nasional (BNN) menunjukkan pada
tahun 2006 di lembaga Balai Kasih Sayang Pamardi Siwi BNN menunjukkan
bahwa terdapat 38 kasus relaps berkali-kali dan masuk kembali ke lembaga
rehabilitasi yang sama. Tahun 2007 tingkat relaps sebesar 95% bahkan ada residen
yang masuk untuk ke empat kalinya ke lembaga rehabilitasi tersebut. Tahun 2008
menunjukkan data relaps di indonesia mencapai 90%.

LBM I

Page 2

BAB II
PEMBAHASAN
A. SKENARIO
HIDUPKU KACAU
Hendra merupakan seorang laki-laki berusia 35 tahun dan sudah berkeluarga
dengan 2 orang anak. Hendra merupakan karyawan suatu pabrik yang berlokasi
tidak jauh dari tempat tinggalnya. Ia sering merasa pekerjaannya tidak layak,
dengan usianya yang sudah mencapai 35 tahun ia merasa tidak memiliki apapun
secara materi. Di panti rehabilitasi, Hendra sering mengamuk, berteriak,
cenderung menyakiti orang lain dan diri sendiri. Nafas cepat dan denyut jantung
meningkat dan meminta untuk segera diberikan bubuk favoritnya Hendra sudah
berada pada dunianya sendiri. Baginya tiada kesenangan lain selain bias
mendapatkan bubuk favoritnya.
Kondisi ini diperberat dengan adanya kritikan yang sering diterima dari istri, ia
pun merasa pekerjaannya saat ini tidak sesuai dengan harapannya. Menghadapi
bebannya yang dirasa berat ini, Hendra sering mengikuti ajakan teman kerjanya
untuk pergi ke tempat hiburan malam. Mereka sama-sama menikmati hiburan
malam disertai dengan rokok, minuman alkohol hingga puncaknya dengan
mengkonsumsi heroin. Hal ini berlangsung lebih dari satu tahun, dan pada
akhirnya Hendra menjalani perawatan di tempat rehabilitasi. Bersyukur masih ada
saudara yang masih peduli dengan keadaan Hendra dimana istri dan keluarga
lainnya tidak peduli dengan keadaannya.
B. TERMINOLOGI
Rehabilitasi adalah sebuah kegiatan ataupun proses untuk membantu para
penderita yang mempunyai penyakit serius atau cacat yang memerlukan
pengobatan medis untuk mencapai kemampuan fisik psikologis, dan sosial
yang maksimal.

LBM I

Page 3

Heroin adalah obat adiktif dengan sifat penghilang rasa sakit yang diproses
dari morfen, sebuah zat yang terjadi secara alami dari opium poppy. Heroin
murni adalah serbuk berwarna putih.

A. PERMASALAHAN
1.

Apa yang dimaksud dengan NAPZA ?

2.

Apa dampak dari heroin ?

3.

Mekanisme kerja heroin ?

4.

Jenis jenis narkoba ?

5.

Apa tanda dan gejala seseorang dikategorikan sebagai pecandu narkoba serta
dampaknya?

6.

Diagnosa pasti skenario ?

B. PEMBAHASAN PERMASALAHAN
1.

Apa yang dimaksud dengan NAPZA


NAPZA adalah singkatan dari Narkotika Psikotif dan Zat Adiktif
yang merupakan zat-zat kimiawi yang apabila dimasukkan kedalam tubuh
baik secara oral (diminum, dihisap, dihirup dan disedot) maupun disuntik,
dapat mempengaruhi pikiran, suasana hati, perasaan dan perilaku seseorang,
serta menimbulkan ketergantungan. Hal ini dapat menimbulkan gangguan
keadaan sosial yang ditandai dengan indikasi negatif, waktu pemakaian yang
panjang dan pemakaian yang berlebihan.

2.

Apa dampak dari heroin


Dampak langsung dari heroin

LBM I

Menghilangkan rasa sakit (analgesik)


Kesulitan bernafas.
Sembelit.
Merasa nyaman (euforia).
Mual dan muntah-muntah.
Page 4

Dalam dosis yang tinggi, akan memperlambat sistem saraf pusat hingga
menyebabkan koma dan kematian.
Dampak jangka panjang dari heroin

3.

Pembuluh darah pecah.


Tetanus.
Masalah jantung, dada dan cabang tenggorokan.
Menstruasi yang tidak teratur dan ketidaksuburan (pada wanita).
Impotensi (pada pria).
Sembelit kronis.
Tindak kekerasan dan kriminal.
Mekanisme kerja heroin
Heroin disintesis dari morfin atau kodein dan mempunyai efek analgetik

yang jauh lebih kuat dibandingkan morfin atau kodein. Heroin berbentuk granul,
warna putih, rasa pahit tebal dan tidak berbau. Heroin tidk digunakan dalam
medis karena sangat cepat menimbulkan ketergantungan dan euphoria.
a. Absorpsi
Heroin diabsorpsi dengan baik disubkutaneus, intramuskular dan
permukaan mukosa hidung atau mulut.
b. Distribusi
Heroin dengan cepat masuk kedalam darah dan menuju ke dalam
jaringan. Konsentrasi heroin tinggi di paru-paru, hepar, ginjal dan limpa,
sedangkan di dalam otot skelet konsentrasinya rendah. Konsentrasi di dalam
otak relatif rendah dibandingkan organ lainnya akibat sawar darah otak. Heroin
menembus sawar darah otak lebih mudah dan cepat dibandingkan dengan
morfin atau golongan opioid lainnya
c. Metabolisme
Heroin didalam otak cepat mengalami hidrolisa menjadi mono

LBM I

Page 5

asetilmorfin dan akhirnya menjadi morfin, kemudian mengalami konjugasi


dengan asam glukuronik menajdi morfin 6-glukoronid yang berefek analgesik
lebih kuat dibandingkan morfin sendiri. Akumulasi obat terjadi pada pasien
gagal ginjal.
d. Ekskresi
Heroin /morfin terutama diekstresi melalui urine (ginjal). 90%
diekskresikan dalam 24 jam pertama, meskipun masih dapat ditemukan dalam
urine 48 jam heroin didalam tubuh diubah menjadi morfin dan diekskresikan
sebagai morfin.
e. Mekanisme kerja
Opioid agonis menimbulkan analgesia akibat berikatan dengan reseptor
spesifik yang berlokasi di otak dan medula spinalis, sehingga mempengaruhi
transmisi dan modulasi nyeri. Terdapat 3 jenis reseptor yang spesifik, yaitu
reseptor (mu), d (delta) dan k (kappa). Di dalam otak terdapat tiga jenis
endogeneus peptide yang aktivitasnya seperti opiat, yitu enkephalin yang
berikatan dengan reseptor d , endorfin dengan reseptor dandynorpin dengan
reseptor k . Reseptor merupakan reseptor untuk morfin (heroin). Ketiga jenis
reseptor ini berhubungan dengan protein G dan

berpasangan dengan

adenilsiklase menyebabkan penurunan formasi siklik AMP sehingga aktivitas


pelepasan neurotransmitter terhambat.
f. Efek
Efek heroin pada dosis normal yaitu perasaan enak dan bahagia
(euphoria) yang dapat timbul pada pemakaian 3-4 kali dengan dosis yang sesuai,
menghilangkan nyeri (analgesik), dan merangsang sistem parasimpatik
(kolinergik) sehingga menimbulkan depresi pernafasan, denyut jantung
melemah, hipotensi, menekan libido, pupil mengecil (miosis), mual, muntah,
dan konstipasi. Dosis tinggi dapat meningkatkan intensitas efek yang timbulpada
dosis normal dan disertai dengan ketidakmampuan berkonsentrasi, tidur yang
LBM I

Page 6

dalam (fall a sleep), pernapasan yang dalam dan lambat, berkeringat, gatal, dan
jumlah air seni meningkat. Kelebihan dosis menyebabkan terjadinya penurunan
suhu tubuh dan denyut jantung yang tidak teratur bahkan kematian dikarenakan
depresi pernapasan yang berat. Efek seperti ini juga dpat terjadi pada
penggunaan dosisi normal yang dikombinasikan dengan benzodiazepine atau
alkohol.
4.

Jenis-jenis narkoba
Narkotika, menurut Pasal 1 butir 1 UU No. 35 Tahun 2009 tentang
Narkotika (UU 35/2009), adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau
bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan
penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai
menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang
dibedakan ke dalam golongan-golongan sebagaimana terlampir dalam undangundang.
Kasus keracunan baik fatal maupun non fatal hampir selalu dijumpai
setiap tahun. Walaupun bukan penyebab utama dari kasus forensik, namun kasus
keracunan perlu mendapat cukup perhatian. Secara definisi, racun merupakan
suatu zat yang apabila kontak atau masuk ke dalam tubuh dalam jumlah tertentu
(dosis toksik) merusak faal tubuh baik secara kimia ataupun fisiologis sehingga
menyebabkan sakit atau kematian.
Menurut Undang-undang Republik Indonesia No. 35 Tahun 2009 tentang
narkotika pasal 6 ayat 1, penggolongan narkotika terdiri dari 3 golongan, yaitu:
Golongan I
a. Hanya

digunakan

untuk

kepentingan

pengembangan

ilmu

pengetahuan
b. Tidak digunakan dalam terapi
c. Potensi ketergantungan sangat tinggi
Contoh: tanaman Papaver somniferum L, Opium, tanaman koka (daun
koka, kokain merah) heroin, morfin dan ganja.

LBM I

Page 7

Golongan II
a. Untuk pengobatan pilihan terakhir
b. Untuk pengembangan ilmu pengetahuan
c. Potensi ketergantungan tinggi
Contoh: Alfasetilmetadol, Benzetidin, Betametadol
Golongan III
a. Digunakan dalam terapi
b. Potensi ketergantungan ringan
Contoh: Opium obat, codein, petidin, fenobarbital
5.

Apa tanda dan gejala seseorang dikategorikan sebagai pecandu narkoba serta
dampaknya

Zat
Opiate

Efek perilaku
dan

opoid

: Euphoria,

Efek fisik
mengantuk, Miosis, pruritus, mual,

opium, morfin, heroin anoreksia,


Demerol,

penurunan bradikardi,

methadone, dorongan

pentazocine

konstipasi,

seksual, jejak

hipoaktivitas,

jarum

perubahan dilengan,tungai, bokong

kepribadian
Amfetamindan

Terjaga,

simpatomimetik,

euphoria,

termasuk kokain

agresivitas,

banyak

kecendrungan

bicara, Midriasis,

tremor,

hiperaktivitas, halitosis, mulut kering,


agitasi, takikardi,

hipertensi,

paranoid, penurunan berat badan,

impotensi, halusinasi lihat dan aritmia, demam, kejang,


raba.

perforasi septum hidung.

Depresan system saraf Mengantuk, konfusi, tidak ada Diaphoresis,

attaksia,

pusat pusat: barbiturate, perhatian

hipotensi,

methaqualone,

delirium, miosis.

meprobamate,
benzodiazepin, doriden

LBM I

Page 8

kejang,

Inhalan lain : nitrogen Euphoria, mengantuk, konfusi

Ataksia,

oksida

depresi

analgesia,
pernapasan,

hipotensi
Alcohol

Pertimbangan buruk, banyak Nistagmus,


bicara,

agresi,

gangguan kemerahan,

atensi, amnesia
Halusinogen:

LSD, Halusinasi,

psilocybin,mescaline,
DMT,DOM

atau

perasaan

muka
ataksia,

bicara cadel

ide

paranoid, Midriasis,

pencapaian

ataksia,

dan konjungtiva

hiperemis,

STP, kekuatan palsu, kecendrungan takikardi, hipertensi.

MDA

bunuh diri, atau membunuh

Phencyclidine

Halusinasi,

ide

paranoid, Nistagmus,

midriasis,

mood labil, asosiasi, longgar, ataksia,

takikardi,

katatonia, perilaku kekerasan, hipertensi.


kejang
Hidrokarbon volatif, dan Euphoria,
derivate minyak bumi: mengabur,

sensorium Ataksia,
bicara

bau

cadel, pernapasan,

taikardi

lem, benzene, gasoline, halusinasi pada 50% kasus

dengan

kemungkinan

tiner

fibrilasi

ventrikuler,

vermis,

cairan

permantik api, aerosol

kemungkinan kerusakan
pada otak, hati ginjal,
miokardium, kerusakan
otak permanen jika di
gunakan
selama

setiap
lebih

hari,

dari

bulan.
Alkaloid

LBM I

belladonna, Konfusi, luapan, kegembiraan, Kulit

Page 9

panas,

eritema.

medikasi yang di jual delirium, stupor, koma.

Lemah, haus, pandangan

bebas, dan morning glory

kabur,

seeds,

tenggorokan

stramonium,

mulut

dan
kering,

homartropine,

midriasis,

kedutan,

scopolamine.

disfagia,

sensivitas

cahaya,

pireksia,

hipertensi diikuti syok


retensi urin.
6.

Apa kemungkinan diagnosa pasien di scenario

Definisi
Menurut WHO, ketergantungan adalah keadaan dimana telah terjadi
ketergantungan fisik dan psikis, sehingga tubuh memerlukan jumlah zat/obat yang
makin

bertambah

(toleransi),

dan

apabila

pemakaiannya

dikurangi

atau

diberhentikan akan timbul gejala putus zat (withdrawal syamptom). Sedangkan


penyalahgunaan zat adalah pemakaian terus-menerus atau jarang tetapi berlebihan
terhadap suatu zat atau obat yag sama sekali tidak ada kaitannya dengan terapi
medis. Zat yang dimaksud adalalah zat psikoaktif yang berpengaruh pada sistem
saraf pusat (otak) dan dapat mempengaruhi kesadaran, perilaku, pikiran, dan
perasaan.
Ketergantungan secara perilaku adalah menekankan pada aktivitas mencari zat
dan bukti terkait tentang pola penggunaan patologis. Sedangkan ketergantungan
fisik adalah merujuk pada efek fisik (fisiologis) dari episode multiple penggunaan
zat. Selain itu ketergantungan juga berhubungan dengan kata kecanduan dan
pecandu.
Ketergantungan psikologis adalah kondisi ketergantungan yang ditandai dengan
stimulasi kognitif dan efektif yang mendorong kognitif (perilaku) seseorang untuk
selalu mengonsumsi narkoba. Stimulasi kognitif tampak pada individu yang selalu

LBM I

Page 10

membayangkan, memikirkan, dan merencanakan untuk dapat menikmati narkoba.


Sementara itu, stimulasi afektif adalah rangsangan emosi yang mengarahkan
individu untuk merasakan kepuasan yang pernah dialami sebelumnya. Orang yang
memiliki stimulasi afektif cenderung akan mengulang-ulang kenikmatan dari
pengonsumsian narkoba sebelumnya. Sementara itu, kondisi konatif merupakan
hasil kombinasi dari stimulasi kognitif ataupun stimulasi afektif, berupa perilaku
nyata (real behavior) dalam bentuk penggunaan narkoba yang sesunguhnya. Dengan
demikian, ketergantungan psikologis ditandai dengan ketergantungan pada aspekaspek pemikiran (kognitif), emosi-perasaan (afektif) untuk selalu tertuju pada
narkoba, dan berusaha sungguh-sungguh untuk mengonsumsinya.
Ketergantungan fisiologis adalah kondisi ketergantungan yang ditandai dengan
kecenderungan sakaw (lapar/haus akan narkoba). Sensasi rasa lapar atau haus
mendorong individu untuk segera mengonsumsi narkoba. Kondisi sakaw sering kali
tak mampu dihambat atau dihalangi pecandu. Karena itu, mau tak mau ia harus
memenuhinya. Tidak terpenuhinya rasa sakaw akan menyebabkan suatu penderitaan
(kelaparan/kehausan). Dengan demikian, orang yang mengalami ketergantungan
secara fisiologis terhadap narkoba, akan sulit dihentikan atau dilarang untuk
mengonsumsi. Semakin keras dilarang, semakin keras pula ia berupaya bagaimana
memperoleh dan dapat mengonsumsi narkoba tersebut. Apakah dengan cara halal
atau tidak, seseorang tidak memedulikan lagi norma-norma etika yang ada dalam
lingkungan sosial.
Epidemiologi
Dewasa ini diperkirakan di Indonesia terdapat lebih dari 3,5 juta pengguna zat
psikoaktif (Badan Narkotika Nasional, 2006). Dalam jumlah tersebut, hanya kurang
dari 10 ribu orang yang tersentuh layanan terapi: 1000 orang dalam terapi
substitusi metadon, 500 orang terapi substitusi buprenorfin, kurang dari 1000 orang
dalam rehabilitasi (pesantren, theraupetic communities, kelompok bantu diri/selfhelp group), 2000 orang dalam layanan medis lain dan sekitar 4000 orang menjadi
penghuni lembaga pemasyarakatan dan tahanan polisi. Sedangkan hasil penelitian

LBM I

Page 11

BNN bekerjasama dengan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia


(puslitkes-UI) pada tahun 2008 menunjukkan angka prevalensi pecandu narkoba di
Indonesia sebesar 1,9% atau sekitar 3,1-3,5 juta jiwa. Di tahun 2011 angka
prevalensi itu naik menjadi 2,2% atau sekitar 3,7-4,7 juta orang.2,3
Etiologi
a. Faktor Psikodinamik (teori psikososial dan psikodinamika)
Pendekatan psikodinamika untuk seseorang dengan penyalahgunaan zat
diterima dan dinilai secara lebih luas, daripada dalam pengobatan pasien
alkoholik. Berbeda dengan pasien alkoholik, mereka dengan penyalahgunaan
banyak zat disebabkan lebih mungkin memiliki masa anak-anak yang tidak
stabil, lebih mungkin mengobati diri sendiri dengan zat, dan lebih mungkin
mendapatkan manfaat dari psikoterapi. Penelitian yang cukup banyak
menghubungkan gangguan kepribadian dengan perkembangan ketergantungan
zat.
Teori psikososial lain menjelaskan hubungan dengan keluarga dan dengan
masyarakat pada umumnya. Terdapat banyak alasan untuk mencurigai suatu
peranan

masyarakat

dalam

perkembangan

pola

penyalahgunaan

dan

ketergantungan zat. Tetapi, dalam tekanan sosial tersebut, tidak semua anak
mendapatkan

diagnosis

penyalahgunaan

atau

ketergantungan

zat,

jadi

mengarahkan kemungkinan adanya keterlibatan faktor penyebab lainnya.


b. Teori Perilaku
Beberapa model perilaku penyalahgunaan zat memfokuskan pada perilaku
mencari zat dibanding pada gejala ketergantungan fisik. Sebagian besar
penyalahgunaan zat menimbulkan pengalaman positif setelah penggunaan
pertama, dan oleh karena itu zat tersebut bertindak sebagai penguat positif
perilaku mencari zat.
Prinsip pertama dan kedua adalah kualitas pendorong positif dan efek
merugikan dari beberapa zat. Sebagian besar zat yang disalahgunakan disertai
dengan suatu pengalaman positif setelah digunakan untuk pertama kalinya. Jadi,

LBM I

Page 12

zat bertindak sebagai suatu pendorong postitif untuk perilaku mencari zat lagi.
Banyak zat juga disertai dengan efek merugikan, yang bertindak menurunkan
perilaku dalam mencari zat lagi. Ketiga, orang harus mampu membedakan zat
yang disalahgunakan dari zat lainnya. Keempat, hampir semua perilaku mencari
zat disertai dengan petunjuk lain yang menjadi berhubungan dengan pengalaman
menggunakan zat.
c. Faktor Genetik
Bukti-bukti kuat dari penelitian pada anak kembar, anak angkat, dan saudara
kandung telah menimbulkan indikasi yang jelas bahwa penyalahgunaan alkohol
mempunyai suatu komponen genetika dalam penyebabnya. Terdapat banyak
data yang kurang meyakinkan dimana jenis lain penyalahgunaan atau
ketergantungan zat memiliki pola genetika dalam perkembangannya. Tetapi,
beberapa

penelitian

telah

menemukan

suatu

dasar

genetika

untuk

ketergantungan dan penyalahgunaan zat non alkohol. Baru-baru ini, peneliti


telah

menggunakan

teknologi

RFLP

(Restriction

Fragment

Length

Polumorphism) dalam meneliti penyalahgunaan zat dan ketergantungan zat, dan


beberapa laporan hubungan RFLP telah diterbitkan.
d. Faktor Neurokimiawi
Dengan pengecualian alcohol, para peneliti telah mengidentifikasi
neurotransmitter atau reseptor neurotransmitter tertentu yang terlibat dengan
sebagian besar zat yang disalahgunakan. Sejumlah peneliti mendasarkan studi
mereka pada hipotesis tersebut. Sebagai contoh, opioid bekerja sebagai resptor
opioid. Seseorang dengan aktivitas opioid endogen yang terlalu sedikit
(contohnya konsentrasi endorfinyang rendah) atau dengan aktivitas antagonis
opioid

endogen

yang

terlalu

banyak

mungkin

beresiko

mengalami

ketergantungan opioid. Bahkan pada orang dengan fungsi resptor endogen dan
konsentrasi neurotransmitter yang benar-benar normal, penyalahgunaan jangka
panjang suatu zat tertentu pada akhirnya mungkin akan memodulasi sistem
resptor di otak sehingga zat eksogen dibutuhkan untuk mempertahankan

LBM I

Page 13

homeostatis. Proses pada tingkat reseptor semacam itu mungkin menjadi


mekanisme untuk membentuk toleransi di dalam SSP. Namun, untuk
menunjukkan adanya modulasi pelepasan neurotransmitter dan fungsi reseptor
neurotransmitter terbukti sulit, dan penelitian terkini memfokuskan efek zat pada
sistem duta kedua dan pada regulasi gen.
e. Jaras dan Neurotransmitter
Neurotransmitter utama yang mungkin terlibat dalam perkembangan
penyalahgunaan zat dan ketergantungan zat adalah sistem opiat, katekolamin
(khususnya dopamine), dan GABA. Dan yang memiliki kepentingan khusus
adalah neuron di daerah tegmental ventral yang berjalan ke daerah kortikal dan
limbic, khususnya nucleus akumbens. Jalur khusus tersebut diperkirakan terlibat
dalam sensasi menyenangkan (reward sensation) dan diperkirakan merupakan
mediator utama untuk efek dari zat tertentu seperti amfetamin dan kokain. Lokus
sereleus, kelompok terbesar neuron adrenergik, diperkirakan terlibat dalam
perantara efek opiat dan opioid.
2.4 FaktorFaktor yang Mempengaruhi Penggunaan Zat
1) Faktor diri/pribadi seseorang
Penyalahgunaan obat dipengaruhi oleh keadaan mental, kondisi fisik dan
psikologis seseorang. Kondisi mental seperti gangguan kepribadian, depresi, dapat
memperbesar kecenderungan seseorang untuk menyalahgunakan narkoba. Faktor
individu pada umumnya ditentukan oleh dua aspek :
a. Aspek biologis Secara biologis, seseorang dapat masuk ke dalam penyalahgunaan
narkoba disebabkan antara lain karena ingin menghilangkan rasa sakit atau
keletihan.
b. Faktor psikologis Sebagian besar penyalahgunaan obat dimulai pada masa
remaja. Seseorang dapat terjerumus dalam pemakaian narkoba karena beberapa
alasan antara lain:
a) Ingin meningkatkan semangat dan gairah kerja atau juga ingin meningkatkan
keperkasaan atau percaya diri.

LBM I

Page 14

b) Ingin melepaskan diri dari berbagai beban hidup yang menimpanya.


c) Ingin melepaskan diri dari kesunyian, kehampaan, atau ingin mencari hiburan.
d) Ingin diterima sebagai anggota suatu kelompok karena menganggap bahwa
kelompok yang ingin dimasukinya mempunyai trend yang patut diikuti.
e) Ingin coba-coba atau ingin mencari pengalaman baru.
f) Merasa dijauhkan atau diasingkan atau tidak dicintai atau merasa tidak dihargai.
2) Faktor Lingkungan
a) Keluarga yang kurang komunikatif, kurang perhatian, kurang membagi kasih
sayang dan kurangnya penghargaan terhadap sesama anggota keluarga.
b) Keluarga yang kurang pengawasannya terhadap sesama anggota keluarga .
c) Lingkungan sosial yang tidak harmonis dan tidak terikat dengan berbagai norma
seperti norma hukum, agama, susila, dan lain-lain.
d) Lingkungan yang kurang disiplin, tidak mempunyai tata tertib, tidak mempunyai
sistem pengawasan yang memadai, dan kurangnya sistem pengamanan lingkungan
baik lingkungan pendidikan, lilngkungan kerja, atau tempat tinggal.
e) Pergaulan sebaya yang tidak sehat.
f) Peraturan atau undang-undang yang tidak tegas sehingga tidak membuat jera para
pelaku peredaran narkoba.
g) Lemahnya penegakan hukum oleh para penegak hukum seperti polisi, hakim,
jaksa, bea cukai, dan lain-lain.
h) Pandangan yang keliru tentang masalah penanggulangan narkoba bahwa masalah
narkoba adalah urusan pemerintah saja.
i) Fasilitas pelayanan dan rehabilitasi yang mahal bagi korban narkoba.
3) Faktor Keberadaan Narkoba
a) Harga narkoba yang semakin murah dan semakin dijangkau oleh masyarakat. Hal
ini terjadi juga karena adanya paket hemat dari kemasan narkoba itu sendiri.
b) Narkoba semakin banyak baik jenis, cara pemakaian, atau pun bentuk
kemasannya.
c) Modus operasi para pelaku tindak pidana narkoba semakin jeli dan licik sehingga

LBM I

Page 15

sulit diungkap oleh aparat penegak hokum.


d) Semakin mudahnya akses internet yang menginformasikan tentang keberadaan,
pembuatan atau peredaran narkoba.
e) Perdagangan narkoba dikendalikan oleh sindikat yang kuat dan professional
2.5 Tahapan-tahapan yang dialami oleh Penyalahguaan zat Oleh U.S National
Comission On Marihuana and Drug Abuse berusaha mengklasifikasikan tahapan
penyalah-guna zat menjadi beberapa tahap
1) Experimental Users
Mereka yang menggunakan zat tadi tanpa mempunyai motivasi tertentu. Mereka
hanya terdorong oleh rasa ingin tahu,. Pemakaian biasanya sesekali dengan dosis
yang relatif kecil. Hal ini dapat disamakan seesorang yang mulai mengenal rokok.
2) Recreational Users/ casual Users
Kelompok ini biasanya menggunakan zat/ obat tertentu dalam pertemuan/pesta
atau dalam kebersamaan (menikmati rekreasi). Mereka biasanya mempunyai
hubungan yang sangat erat dengan kelompoknya. Interaksi sosial masih dirasakan
wajar-wajar saja hanya sewaktu mereka berkumpul biasanya mereka terbawa dan
terhanyut dalam kecenderungan untuk memakai obat/ zat tadi secara berlebihan.
3) Situational Users
Umumnya orang yang tergolong tahap ketiga ini, mulai menggunakan obat/ zat
secara sadar kalau mereka menghadapi masa masa sulit. Mereka percaya bahwa
hanya dengan menggunakan/mengkonsumsi obat tadi, mereka lebih sanggup
mengatasi persoalan hidup yang sulit tadi. Penggunaan obat pada golongan ini dapat
merupakan satu pola tingkah laku tertentu sehingga mendorong individu tadi untuk
mengulangi perbuatannya sehingga resiko menjadi addict/ kecanduan akan
menjadi

jauh

lebih

besar

dibandingkkan

kelompok

dan

II

diatas.

4) Intensified Users
Kelompok yang sudah secara kronis menggunakan obat/ zat tertentu. Kelompok
ini merasa butuh memakai obat tadi untuk memperoleh kenikmatan atau mencari
pelarian dari tekanan hidup. Walau penggunaannya sudah lebih banyak, tapi

LBM I

Page 16

individu semacam ini masih sangggup ber-interaksi dengan masyarakta secara baik.
Hanya mereka bertendensi untuk mengkonsumsikan pemakaian obat tadi secara
berlebihan.
5) Compulsive Dependence Users
Pengguna dengan jumlah dan frekuensi yang lebih banyak dengan jumlah dan
frekuensi yang lebih banyak lagi melepaskan kebiasaannya tanpa merasakan
guncanngan psikis/ fisik. Apabila mereka tidak menggunakan zat tadi, mereka sudah
mengalami withdrawl symptoms/sindroma putus obat yang cukup berat. Mereka
memang sudah tergantung hidupnya dari pemakaian obat/zat tadi.
DSM-IV menyebutkan ketergantungan zat ditandai oleh adanya sekurangnya
satu gejala spesifik yang menyatakan bahawa penggunaan zat telah mempengaruhi
kehidupan seseorang. Seseorang tidak dapat memenuhi penyalahgunaan zat untuk
suatu zat tertentu jika ia tidak pernah memenuhi kriteria untuk ketergantungan pada
zat yang sama. Pasien yang mengalami intoksikasi atau putus zatyang disertai
dengan gejala psikiatrik tetapi yang tidak memenuhi kriteria untuk pola sindrom
spesifik untuk gejala (sebagai contohnya depresi) mendapatkan diagnosis
intoksikasi zat, kemungkinan bersama dengan ketergantungan atau penyalahgunaan.

Diagnostic Criteria for Substance Dependence/Ketergantungan Zat


Suatu pola pengguanaan zat yang maladaptif mengarah pada gangguan atau penderitaan yng
bermakna klinis, bermanifestasi sebagai 3 (tiga) atau lebih hal-hal berikut yang terjadi pada
tiap saat dalam periode 12 bulan:
1. 1.Toleransi yang didefinisikan sbb:
a. peningkatan nyata jumlah kebutuhan zat untuk mendapatkan efek yangdidamba atau
mencapai intoksikasi.

LBM I

Page 17

b.Penurunan efek yang nyata dengan penggunaan kontinyu jumlah yang sama dari zat.
w 2.Withdrawal, bermanifestasi sebagai salah satu dari:
a.Sindroma withdrawal khas untuk zat penyebab ( criteria A dan B dari gejala withdrawal zat).
b.Zat yang sama atau sejenis digunakan untuk menghilangkan atau menghindari gejala-gejala
withdrawal.
3. 3.zat yng dimaksud sering digunakan dalam jumlah yang besar atau lewat dari batas waktu
pemakaiannya.
4. 4.adanya hasrat menetap atau ketidakberhasilan mengurangi atau mengendalikan pemakaian
zat.
5. 5.adanya aktifitas yang menyita waktu untuk kebutuhan mendapatkan zat (mis.mendatangi
berbagai dokter atau sampai melakukan perjalan jauh), untuk menggunakan zat (merokok
tiada sela) atau untuk pulih dari efeknya.
6. 6.kegiatan-kegiatan sosial yang penting,pekerjaan atau rekreasi dilalaikan atau dikurangi
karena penggunaan zat.
7. 7.penggunaan zat tetap berlanjut meskipun mengetahui bahwa problem fisik dan fisiologis
menetap atau berulang disebabkan oleh penggunaan zat (mis.sementara menggunakan kokain
meskipun mengetahui itu menginduksi depresi atau tetap meneguk-alkohol- meskipun
mengetahui hal itu memperburuk ulcus gaster).
Tentukan jika:
Dengan ketergantungan fisiologis: terbukti adanya toleransi atau withdrawal.
Tanpa ketergantungan fisiologis: tidak terbukti adanya toleransi atau withdrawal.
Tentukan perlangsunganya:
Remisi dini penuh
Pemisi dini parsial
Remisi penuh menetap
Remisi parsial menetap
Dalam terapi agonis

LBM I

Page 18

Dalam lingkungan yang diatur


Menurut PPDGJ-III: Diagnosis Ketergantungan Zat
Yang pasti ditegakkan jika ditemukan tiga atau lebih gejala di bawah ini dialami
dalam masa setahun sebelumnya:
a) Adanya keinginan yang kuat atau dorongan yang memaksa(kompulsi) untuk
menggunakan zat
b) Kesulitan dalam mengendalikan perilaku menggunakan zat sejak awal, usaha
penghentian atau tingkat penggunaannya
c) Keadaan putus zat secara fisiologis ketika penghentian penggunaan zat atau
penguranagn, terbukti orang tersebut menggunakan zat atau golongan yang
sejenis dengan tujuan untuk menghilangkan atau menghindari terjadinya gejala
putus zat
d) Adanya bukti toleransi, berupa peningkatan dosis zat psikoaktif yang diperlukan
guna memperoleh efek yang sama yang biasanya diperoleh dengan dosis lebih
rendah

(contoh

yang

jelas

dapat

ditemukan

pada

individu

dengan

ketergantungan alkohol dan opiat yang secara rutin setiap hari menggunakan zat
tersebutsecukupnya untuk mengendalikan keinginannya).
e) Secara progresif mengabaikan alternatif menikmati kesenangan kerana
penggunaan zat psikoaktif yang lain, meningkatkan jumlah waktu yang
diperlukan untuk mendapatkan atau menggunakan zat atau pulih dari akibatnya
f) Terus menggunakan zat meskipun ia menyadari adanya akibat yang merugikan
kesehatannya,

seperti

gangguan

fungsi

hati

kerana

minum

alkohol

berlebihan,keadaan depresi sebagai akibat penggunaan yang berat atau hendaya


fungsi kognitif akibat menggunakan zat, upaya perlu diadakan untuk
memastikan bahwa pengguna zat bersungguh-sungguh atau diharapkan untuk
menyadari akan hakikat dan besarnya bahaya.

LBM I

Page 19

Penatalaksanaan

a. Hilangkan penyebab bila memungkinkan. Jika disebabkan oleh obat,


dengan meminimalkan setiap obat yang memperburuk.
a

Obati infeksi

Optimalkan nutrisi dan hidrasi.

Suport pada pasien dan keluarga.

Ciptakan lingkungan yang mendukung, seperti ;


1. Anggota keluarga memberikan penenangan dan hal-hal lazim dari
rumah untuk mengingatkan pasien kembali.
2. Mendorong kerabat atau teman untuk datang berkunjung.
3. Hindari gangguan tidur dengan menciptakan lingkungan yang tenang
dan meyakinkan, pencahayaan yang baik.
4. Tempatkan pasien di dekat tempat perawatan agar mudah dipantau.

Obati agitasi yang menyertai, lebih baik dengan haloperidol (Haldol),


dosis awal 0,5 sampai 2 mg IM atau IV. Jika Haldol tidak efektif, pikirkan
tambahan lorazepam (Ativan) 0,5 sampai 1 mg IM atau IV. Sebagai usaha
terakhir, pasien dapat dikurung demi keamanan. Perlu diingat obat
benzodiazepin bisa memperburuk delirium karena efek sedasinya.

Pencegahan
Strategi pencegahan delirium sebagian besar terdiri dari meminimalkan
faktor resiko. Pencegahan dan pengobatan delirium dapat dilakukan dengan 2
cara nonfarmakologi dan farmakologi.

LBM I

Page 20

a. Pencegahan nonfarmakologi
Berfokus pada meminimalkan faktor-faktor risiko. Strategi intervensi yang
dilakukan meliputi:
1. Reorientasi ulang pasien
2. Tentukan kegiatan untuk merangsang kognitif pasien,
3. Tidur atau istirahat sebagai bagian dari prosedur nonfarmakologi,
4. Melakukan kegiatan mobilisasi dini, dengan mengajarkan pasien melakukan
latihan dengan berbagai gerakan,
5. Mencabut kateter tepat pada waktunya untuk mengatasi hambatan fisik
pasien,
6. Penggunaan kacamata dan lensa pembesar,
7. Penggunaan alat bantu pendengaran,
8. Koreksi ada tidaknya dehidrasi.
b. Pencegahan farmakologi
Menilai penggunaan obat-obatan yang dapat menyebabkan atau
memperburuk delirium. Penggunaan obat penenang yang tidak tepat atau
analgesik dapat memperburuk gejala delirium. Sebagai contoh penggunaan
benzodiazepine dan narkotika yang sering digunakan diruangan ICU untuk
mengobati delirium dapat memperburuk kondisi dan memperparah delirium.
Lebih jauh lagi Jacobi et al mengatakan bahwa American Psychiatric
Association dan Society of Critical Care Medicine merekomendasikan
haloperidol untuk pengobatan delirium, Haloperidol adalah antagonis reseptor

LBM I

Page 21

dopamin yang bekerja dengan menghambat dopamin neurotransmisi, dengan


dihasilkannya perbaikan yang positif dalam simtomatologi (halusinasi, gelisah
dan perilaku agresif) seringkali menghasilkan efek obat penenang. Disamping
haloperidol, obat lain antipsikotik atau neuroleptic agen (misalnya, risperidol,
ziprasidone, quetiapine, dan olanzapine) terutama dengan afinitas reseptor yang
lebih luas digunakan untuk pengobatan delirium.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Penyalahgunaan zat merupakan

suatu pola pemakaian zat yang

maladaptive yang menimbulkan gejala-gejala gangguan kognitif, perilaku, dan

LBM I

Page 22

fisiologik. Banyak hal yang meneyebabkan penyalahgunaan zat antara lain


adalah faktor individu dan lingkungan serta faktor zat itu sendiri.
Penyalahgunaan zat, selain memberikan gejala fisik, menimbulkan gejala pada
fungsi mental,misalnya gangguan pada suasana perasaan atau bahkan gejala
psikotik, sehingga menimbulkan hendaya atau distress dalam fungsi sosial,
pekerjaan, dan fungsi penting lainnya.
Dalam sudut pandang psikologis salah satu motif utama penggunaan
ketergantungan zat adalah untuk meningkatkan mood, sehingga zat bernilai
positif yaitu dapat meningkatkan mood positif dan mengurangi mood negatif
serta dapat mengurangi stres dan ketegangan. Sosiokultural menekankan
pentingnya peran kelompok, orang tua, serta media dalam menentukan perilaku
yang dapat diterima dan yang tidak, antara lain bagaimana contoh yang
diberikan keluarga berperan dalam pembentukan penyalahgunaan zat dan
penting juga untuk diperhatikan adalah ketersediaan zat di lingkungan jika
banyak zat diperjualbelikan akan menimbulkan kecendrungan ke arah penyalahgunaan zat.

DAFTAR PUSTAKA
1. Husain AB, Gangguan Penggunaan Zat. in Buku Ajar Psikiatrik edited by Elvira
SD, Hadisukanto G. Badan Penerbit FKUI: Jakarta. 2010, p. 138-69
2. Maslim R, ed. Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Zat. in
PPDGJ-III. Bagian Ilmu Kesehatan Jiwa FK-Unika Atmajawa: Jakarta. 2001, p.
36-43.

LBM I

Page 23

3. Maramis. W.F, Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa, Cetakan ke VI, Airlangga


University Press, Surabaya. 2009.
4. Sadock BJ, Sadock VA, Gangguan Terkait Zat edited by Muttaqin H, Sihombing
Retna NE. in Kaplan&Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis, 2nd ed. ECG: Jakarta.
2012, p. 86-146.

LBM I

Page 24