Thursday, 2 October 2014

PENGKAJIAN DAN PEMERIKSAAN FISIK SISTEM PERSYARAFAN

PENGKAJIAN DAN PEMERIKSAAN FISIK
SISTEM PERSYARAFAN

KELOMPOK 4
NAMA ANGGOTA
1.
2.
3.
4.

Noor Hanimah
Novi Dewi Fatmaningsih
Nur Huda Al Fauzi
Nuru Febriana Hidayah

5.
6.
7.
8.
9.

Qonitalillah
Ratna Faradila
Rima Oktavinda Permatasari
Rizkiana Amelia
Silvia Anggarwati Prayitno Putri

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN SEMARANG
PRODI DIII KEPERAWATAN PEKALONGAN

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan
karunia-Nya kepada kita semua, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini. Ucapan
terima kasih kami sampaikan kepada dosen yang telah memberikan bimbingannya kepada kami
dan kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam menyusun makalah ini.
Kami menyadari dalam penyusunan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan,
kelemahan, dan keterbatasan. Oleh karena itu kami mengharapkan sumbangan pikiran, saran,
dan kritikan yang konstruktif demi kesempurnaan penyusunan makalah selanjutnya. Semoga

Terima kasih Penyusun Ttd BAB I .dengan makalah yang sederhana ini dapat memenuhi harapan kita semua dan memberikan manfaat bagi pembaca. sehingga dapat menambah ilmu pengetahuan.

Pemeriksaan persarafan terdiri dari dua tahapan penting yaitu pengkajian yang berupa wawancara yang berhubungan dengan riwayat kesehatan klien yang berhubungan dengan system persarafan seperti riwayat hiopertensi. chepalocaudal dan proximodistal. 2. Dalam melakukan pemeriksaan fisik diperhatikan prinsip-prinsip head to toe. Tujuan Dapat mengetahui dan mempraktikan cara pengkajian system persyarafan Dapat mengetahui dan mempraktikkan cara pemeriksaan fisik sitem persyarafan? . dan penggunaan obat yang diminum secara teratur. 1. Salah satu sistem komunikasi dalam tubuh adalah sistem saraf. Rumusan Masalah Bagaimana pengkajian dari system persyarafan? Bagaimana prosedur pemeriksaan fisik sistem persyarafan ? C. Harus pula diperhatikan keamanan klien dan privacy klien. pemeriksaan sensorik. 2. Pengkajian system persarafan merupakan salah satu aspek yang sangat penting untuk dilakukan dalam rangka menentukan diagnosa keperawatan tepat dan melakukan tindakan perawatan yang sesuai. pemeriksaan saraf cranial. Tubuh memerlukan koordinasi yang baik . Tahapan selanjutnya adalah pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan status mental. 1. pemeriksaan motorik. penggunaan obatobatan dan alcohol. Latar Belakang Tubuh manusia akan berada dalam kondisi sehat jika mampu berespon dengan tepat terhadap perubahan-perubahan lingkungan secara terkoordinasi. B. atau selaput otak. dan pemeriksaan reflex.PENDAHULUAN A. stroke. radang otak.

malaise Ketegangan mata Kesulitan membaca Insomnia Sirkulasi : Denyutan vaskuler misalnya daerah temporal Pucat. Pengkajian meliputi : Aktivitas / Istirahat : Lelah. anoreksia selama nyeri Neuro sensori : Pening. letih .BAB II PEMBAHASAN A. peka rangsang selama sakit kepala Makanan / Cairan Mual / muntah . Pengkajian Temuanya tergantung pada jenis / penyebab dari sakit kepala tersebut Riwayat yang lengkap merupakan suatu hal yang penting untuk membedakan diagnostik. wajah tampak kemerahan Integritas ego Ansietas. Disorientasi (selama sakit kepala) .

Garputala c. intonasi. tanggal. Nilai kesadara dengan menggunakan patokan Glasgow Coma Scale (GCS). Amati cara berpakaian klien. Penlight atau senter kecil e. Pra Intraksi Cuci tangan Jelaskan prosedur pemeriksaan pada klien Pastikan ruang periksa hangat dan cukup penerangan 3. pemilihan kata dan kemudahan berespon terhadap pertanyaan. Opthalmoskop f. postur tubuh klien. atau cuka l. vanilla atau parfum k. c. Kapas dan lidi d. Spatel tongue h. tempat dan alasan berkunjung. kaji . Jarum steril g. Objek yang dapat disentuh seperti peniti atau uang receh j. ekspresi wajah dan kemampuan bicara. Bahan-bahan beraroma tajam seperti kopi. mintalah klien untuk duduk disisi tempat tidur. Baju periksa m. Sarung tangan 2. a. a. Tanyakan waktu. Pemeriksaan System Persyarafan Status mental Atur posisi klien.Kenyamanan Respon emosional/ perilaku tak terarah seperti menangis. 2 tabung berisi air hangat dan air dingin i. gelisah Interaksi social Perubahan dalam tanggung jawab peran B. keras lembut. Refleks hammer b. Persiapan Alat a. manis atau asam seperti garam. Posedur Pemeriksaan Fisik System Persyarafan 1. gula. Bahan-bahan yang berasa asin. b.

kemampuan klien dalam berhitung dan mulailah dengan perhitungan yang sederhana. 3 : Kata-kata baik tapi kalimat tidak baik 2 : Kata-kata tidak dapat dimengerti. Tingkat kesadaran klien : dikaji menggunakan Glasgow koma skale Keadaan umum. hanya mengerang 1 : Tidak keluar suara Refleks motorik (M) 6 : Melakukan perintah dengan benar 5 : Mengenali nyeri lokal tapi tidak melakukaan perintah dengan benar 4 : Dapat menghindari rangsangan dengan tangan fleksi 3 : Hanya dapat melakukan fleksi 2 : Hanya dapat melakukan ekstensi 1 : Tidak ada gerakan. Kaji kemampuan klien untuk berfikir abstrak. tingkat kesadaran yang umumnya dikembangkan dengan Glasgow Coma Scala (GCS) : Refleks membuka mata (E) 4 : Membuka secara spontan 3 : Membuka dengan rangsangan suara 2 : Membuka dengan rangsangan nyeri 1 : Tidak ada respon Refleks verbal (V) 5 : Orientasi baik 4 : Kata baik. tapi isi percakapan membingungkan. . kalimat baik.

Perhatian terhadap · · sekeliling berkurang. tidak bicara dan pandangan hampa Pemeriksaan saraf cranial · Cara pemeriksaan saraf cranialis : · N I Olfactorius Pastikan rongga hidung tidak tersumbat oleh apapun dan cukup bersih. Verbalisasi mungkin terjadi tapi terbatas pada satu atau · dua kata saja.Derajat kesadaran : · · · Sadar : Dapat berorientasi dan berkomunikasi Somnolens : dapat digugah dengan berbagai stimulasi. pendengaran dengan suara keras dan penglihatan kuat. Periksa ketajaman dengan membaca. menjawab secara refleks terhadap rangsangan nyeri. Apatis : tidak tidur. reaksi rangsangan kasar dan ada yang menghindar · · (contoh mnghindri tusukan). Gelisah atau tenang. Cenderung mengantuk. Periksa lapang pandang: Klien berhadapan dengan pemeriksa 60-100 cm. Kualitas kesadaran : Compos mentis : bereaksi secara adekuat. Bingung/confused:disorientasi terhadap tempat. · N II Optikus Catat kelainan pada mata seperti katarak dan infeksi sebelum pemeriksaan. fikirannya. acuh tak acuh. Non verbal dengan menggunakan kepala. Stupor : gerakan spontan. Semi koma : tidak terdapat respon verbal. Koma : tidak bereaksi terhadap stimulus. Abstensia drowsy/kesadaran tumpul : tidak tidur dan tidak begitu waspada. perhatikan jarak baca atau menggunakan snellenchart untuk jarak jauh. orang dan waktu. ada halusinasi dn bergerak sesuai dengan kekacauan · b. Delerium : mental dan motorik kacau. bereaksi secara motorik / verbal kemudian terlena lagi. minta untuk menutup sebelah mata dan pemeriksa juga menutup sebelah mata dengan mata yang berlawanan dengan . Lakukan untuk lubang hidung yang satunya. Lakukan pemeriksaan dengan menutup sebelah lubang hidung klien dan dekatkan bau-bauan seperti kopi dengan mata tertutup klien diminta menebak bau tersebut.

dan abducen): Pada mata diobservasi apakah ada odema palpebra. Ulangi pemeriksaan yang sama dengan mata yang sebelahnya. lakukan kanan dan kiri. medial atas. Jangan lupa mata klien ditutup sebelum pemeriksaan.mengucapkan ya bila pertama melihat benda tersebut. mandibula dan frontal dengan mengguanakan kapas. Minta klien mengikuti arah telunjuk pemeriksa dengan bolamatanya · N V Trigeminus Fungsi sensorik diperiksa dengan menyentuh kilit wajah daerah maxilla. dan ptosis kelopak mata Pada pu[il diperiksa reaksi terhadap cahaya. ukuran pupil. lateral ke atas. Dengan menggunakan sensori nyeri menggunakan ujung jarum atau peniti di ketiga area wajah tadi dan minta membedakan benda tajam dan tumpul. N IV. dan N VI (occulomotorius. Gunakan benda yang berasal dari arah luar klien dank lien diminta . trochlear. Dengan rasa getar dapat pukla dilakukan dengan menggunakan garputala yang digetarkan dan disentuhkan ke ketiga daerah wajah tadi dan minta klien mengatakan getaran tersebut terasa atau tidak . Minta klien mengucapkan ya bila merasakan sentuhan. Minta klien menyebutkan area mana yang merasakan sentuhan. dan adanya perdarahan pupil Pada gerakan bola mata diperiksa enam lapang pandang (enam posisi cardinal) yaitu lateral. medial bawah lateral bawah. Ukur berapa derajat kemampuan klien saat pertama kali melihat objek. hiperemi konjungtiva. Dengan mengguanakan suhu panas dan dingin juag dapat dilakukan diketiga area wajah tersebut.mata klien. Gunakan opthalmoskop untuk melihat fundus dan optic disk (warna dan bentuk) · N III .

bersiul. . kedua kaki rapat. · N VIII Vestibulotrochlear cabang vestibulo dengan menggunakan test pendengaran mengguanakan weber test dan rhinne test Cabang choclear dengan rombreng test dengan cara meminta klien berdiri tegak. dekatkan gulungan kapas kecil dari samping kea rah mata dan lihat refleks menutup mata. minta klien memejampan mata kuat-kuat dan coba untuk membukanya. minta klien menutup mata tanpa mengubah posisi. Pemeriksaan motorik dengan mengatupkan rahang dan merapatkan gigi periksa otot maseter dan temporalis kiri dan kanan periksa kekuatan ototnya. Periksa kekuatan otot bagian atas dan bawah.is berbarengan. lalu observasi adanya ayunan tubuh. minta klien melakukan gerakan mengunyah dan lihat kesimetrisan gerakan mandibula. minta klien mengidentifikasi rasa ulangi untuk gula dan asam Fungsi mootorik dengan meminta klien tersenyum. lihat apakah klien dapat mempertahankan posisi · NIX dan NX Glossofaringeus dan Vagus Minta klien mengucapkan aa lihat gerakan ovula dan palatum. minta pula klien utnuk menggembungkan pipi dan tekan dengan kedua jari. normal bila uvula terletak di tengan dan palatum sedikit terangkat. kedua lengan disisi tubuh. · N VII Facialis: Fungsi sensorik dengan mencelupkan lidi kapas ke air garam dan sentuhkan ke ujung lidah. Lihat kesimetrisan kanan dan kiri.Pemerikasaan corneal dapat dilakukan dengan meminta klien melihat lurus ke depan. menggembungkan pipi. mengangkat kedua al. Periksa gag refleks dengan menyentuh bagian dinding belakang faring menggunakan aplikator dan observasi gerakan faring.

Periksa fungsi otot sternocleidomastoideus dengan meminta klien menoleh ke kanan dank e kiri. perhatikan kekuatan daya dorong · N XII Hipoglosus Periksa pergerakan lidah. observasi gerakan meelan dan kesulitan menelan. · N XI Assesorius: Periksa fungsi trapezius dengan meminta klien menggerakkan kedua bahu secara bersamaan dan observasi kesimetrisan gerakan. dorong kedua pipi dengan kedua jari. dorong bagian luar pipi dengan ujung lidah. Minta klien berjalan dengan menyentuhkan ibujari pada . Periksa kekuatan otot sternocleidomastoideus dengan meminta klien untuk menoleh kesatu sisi melawan tahanan telapak tangan pemeriksa. ulangi pemeriksaan sisi yang lain c.an air sedikit. menggerakkan lidah kekiri dan ke kanan. dan koordinasi gerakan tangan dan kaki. observasi kekuatan lidah. observasi kesimetrisan gerakan lidah Periksa kekuatan lidah dengan meminta klien mendorong salah satu pipi dengan ujung lidah. minta klien mendekatkan telinga ke bahu kanan dan kiri bergantian tanpa mengangkat bahu lalu observasi rentang pergerakan sendi Periksa kekuatanotottrapezius dengan menahan kedua bahu klien dengan kedua telapak tangan danminta klien mendorong telapak tangan pemeriksa sekuat-kuatnya ke atas. perhatikan kekuatan daya dorong. Pemeriksaan motorik Kaji cara berjalan dan keseimbangan dengan mengobservasi cara berjalan kemudahan berjalan. Periksa getaran pita suara saat klien berbicara.Periksa aktifitas motorik faring dengan meminta klien menel.

Pemeriksaan sensorik Pemeriksaan dilakukan dengan memberikan stimulus secara acak pada bagian tubuh klien dan dapat berupa sentuhan ringan seperti kapas. merasakan tulisan di tangan (graphesthesia test). Observasi kecepatan. Observasi kemudahan klien menggerakkan tumit pada garis lurus Derajat kekuatan motorik : 5 : Kekuatan penuh untuk dapat melakukan aktifitas 4 : Ada gerakan tapi tidak penuh 3 : Ada kekuatan bergerak untuk melawan gravitas bumi 2 : Ada kemampuan bergerak tapi tidak dapat melawan gravitasi bumi.tumit kaki yang lain (heel to toe). Melakukan pemeriksaan heel to shin test dengan meminta klien tidur pada posisi supine. 1 : Hanya ada kontraksi 0 : tidak ada kontraksi sama sekali d. dan kehalusan gerakan. minta klien menggesekkan tuimit telapak kaki kiri sepanjang tulang tibia tungkai kanan dari bawah lutut sampai ke pergelangan kaki. evaluasi perbedaan yang terjadi. kemampuan mengidentifikasi bagian tubuh yang diberi sentuhan dengan menutup mata (topognosis test) . kemampuan membedakan dua titik. suhu. minta klien jalan jinjit dan minta klien berjalan dengan bertumpu pada tumit. tumpul dan tajam. · Lakukan romberg test Lakukan pemeriksaan jari hidung dengan mata terbuka dan tertutup. Ulangi pada kaki kanan. identifikasi objek tanpa melihat objek (stereognosis test). · Tes pronasi dan supinasi Dengan meminta klien duduk dan meletakan telapak tangan di paha. irama. minta untuk melakukan pronasi dan supinasi bergantian dengan cepat. getaran.

observasi kontraksi otot biseps (fleksi siku) Triseps: Minta klien duduk. observasi kontraksi otot triseps (ekstensi siku) Brachioradialis: Minta klien duduk dan meletakkan kedua tangan di atas paha dengan posisi pronasi. dukung lengan bawah klien dengan tangan non dominan. abdomen: minta klien tidur terlentang. pukul tendon · archiles dengan mengguanakan bagian lebar refleks hammer. sentuhkan ujung aplikator ke kulit di bagian abdomen mulai dari arah lateral ke umbilical.e. observasi fleksi · dan supinasi telapak tangan. palpasi lokasi patella (interior dari · patella). pukulkan refleks hammer pada ibu jari. letakkan ibujari lengan non dominan diatas · tendon bisep. observasi gerakan telapak kaki (normal jika gerakan plantar fleksi dan jari-jari kaki · fleksi). pukulkan refleks · hammer pada prosesus olekranon. observasi kontraksi otot abdomen. · Reflex Biseps: Klien diminta duduk dengan rilekx dan meletakkan kedua lengan diatas paha. obsvasi plantar leksi telapak kaki Plantar: Minta klien tidur terlentang dengan kedua tungkai sedikit eksternal rotasi. perhatikan ekstensi otot quadriceps Tendon archiles: Pegang telapak kaki klien dengan tangan non dominant. lakuakan prosedur tersebut pada keempat area abdomen. pukulkan hammer diatas tendon (2-3 inchi dari pergelangan tangan). stimulasi telapak kaki klien dengan ujung tajam refleks hammer mulai dari tumit kearah bagain sisi luar telapak kaki. dukung siku dengan tangan non dominan. Patelar: Minta klien duduk dengan lulut digantung fleksi. pukulkan reflek hammer. \ .

BAB III PENUTUP .

klien dikembalikan pada posisi yang nyaman. Catat dengan teliti dan sistematis.Setelah melakukan pemeriksaan fisik. dapat dimengerti oleh setiap anggota tim kesehatan. . Tahap akhir adalah pendokumentasian. jika ditemukan kelainan didiskusikan dengan tim medis. jelaskan kesimpulan dari pemeriksaan fisik.

Baju periksa 13. gula. Refleks hammer Garputala Kapas dan lidi Penlight atau senter kecil Opthalmoskop Jarum steril Spatel tongue 2 tabung berisi air hangat dan air dingin Objek yang dapat disentuh seperti peniti atau uang receh Bahan-bahan beraroma tajam seperti kopi. Sarung tangan TAHAP PRA INTERAKSI 1. 2. Mencuci tangan Membawa alat di dekat pasien dengan benar 0 NILAI 1 2 . vanilla atau parfum Bahan-bahan yang berasa asin. atau cuka 12.TOOLS PEMERIKSAAN FISIK SISTEM PERSYARAFAN NO ASPEK YANG DINILAI Persiapan Alat 10. 11. manis atau asam seperti garam.

3.TAHAP ORIENTASI 1. Periksa ketajaman dengan membaca. Amati cara berpakaian klien. intonasi. 4. Lakukan pemeriksaan dengan menutup sebelah lubang hidung klien dan dekatkan bau-bauan seperti kopi dengan mata tertutup klien diminta menebak bau tersebut. 5. 2. Menanyakan kesepian klien sebelum kegiatan dilakukan TAHAP KERJA Pemeriksaan status mental 1. Memberikan salam sebagai pendekatan teraupetik Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada keluarga / klien 3. 2. 2. Catat kelainan pada mata seperti katarak dan infeksi sebelum pemeriksaan. postur tubuh klien. Lakukan untuk lubang hidung yang satunya. pemilihan kata dan kemudahan berespon terhadap pertanya Memeriksa reflex membuka mata dengan benar Memeriksa reflex verbal dengan benar Memeriksa reflex motorik dengan benar Menilai hasil pemeriksaan Pemeriksaan saraf cranial 1. keras lembut. perhatikan jarak baca atau menggunakan . ekspresi wajah dan kemampuan bicara.

is berbarengan. 5. Minta klien mengucapkan aa lihat gerakan ovula dan palatum. dan ptosis kelopak mata Fungsi sensorik diperiksa dengan menyentuh kulit wajah daerah maxilla. hiperemi konjungtiva. minta klien memejampan mata kuat-kuat dan coba untuk membukanya. minta klien mengidentifikasi rasa ulangi untuk gula dan asam 6. benda panas dan dingin. mengangkat kedua al. Periksa pergerakan lidah. normal bila uvula terletak di tengan dan palatum 9. Fungsi sensorik dengan mencelupkan lidi kapas ke air garam dan sentuhkan ke ujung lidah. Fungsi mootorik dengan meminta klien tersenyum. jarum. Periksa kekuatan otot bagian atas dan bawah. dengan kedua jari. cabang vestibulo dengan menggunakan test pendengaran mengguanakan weber test dan rhinne test 8. sedikit terangkat. menggerakkan lidah kekiri dan . mandibula dan frontal dengan mengguanakan kapas. lakukan kanan dan kiri. minta pula klien utnuk menggembungkan pipi dan tekan 7. bersiul. 4. 10. menggembungkan pipi.snellenchart untuk jarak jauh 3. Lihat kesimetrisan kanan dan kiri. Pada mata diobservasi apakah ada odema palpebra. Periksa fungsi trapezius dengan meminta klien menggerakkan kedua bahu secara bersamaan dan observasi kesimetrisan gerakan. Minta klien mengucapkan ya bila merasakan sentuhan.

observasi kontraksi otot triseps (ekstensi siku) Brachioradialis: Minta klien duduk dan meletakkan kedua tangan di atas paha dengan posisi pronasi. observasi kontraksi otot biseps 2. dukung lengan bawah klien dengan tangan non dominan. pukulkan refleks hammer pada prosesus 3. letakkan ibujari lengan non dominan diatas tendon bisep. 4. .ke kanan. olekranon. pukulkan hammer diatas tendon (2-3 inchi dari pergelangan tangan). (fleksi siku) Triseps: Minta klien duduk. Biseps: Klien diminta duduk dengan rilekx dan meletakkan kedua lengan diatas paha. evaluasi perbedaan yang terjadi. dukung siku dengan tangan non dominan. Lakukan romberg test Lakukan pemeriksaan jari hidung dengan mata terbuka dan tertutup. pukulkan refleks hammer pada ibu jari. observasi kesimetrisan gerakan lidah Pemeriksaan Motorik 1. Reflex 1.

plantar leksi telapak kaki Plantar: Minta klien tidur terlentang dengan kedua tungkai sedikit eksternal rotasi. sentuhkan ujung aplikator ke kulit di bagian abdomen mulai dari arah lateral ke umbilical. palpasi lokasi patella (interior dari patella). kaki fleksi). TAHAP TERMINASI Melepas handscoon Mencuci tangan Mencatat hasil pemeriksaan keperawatan. perhatikan ekstensi otot quadriceps Tendon archiles: Pegang telapak kaki klien dengan tangan non dominant.observasi fleksi dan supinasi telapak tangan. obsvasi 7. observasi kontraksi otot abdomen. hammer. Berpamitan dengan klien dalam lembar catatan . pukul tendon archiles dengan mengguanakan bagian lebar refleks hammer. observasi gerakan telapak kaki (normal jika gerakan plantar fleksi dan jari-jari 8. stimulasi telapak kaki klien dengan ujung tajam refleks hammer mulai dari tumit kearah bagain sisi luar telapak kaki. abdomen: minta klien tidur terlentang. lakuakan prosedur tersebut pada keempat area abdomen. Patelar: Minta klien duduk dengan lulut digantung fleksi. 5. pukulkan reflek 6.

.............Membersihkan alat – alat JUMLAH Keterangan : 0 = tidak dilakukan sama sekali Pekalongan ...) Daftar Pustaka ....................20..... 1 = dilakukan tetapi tidak sempurna Penguji 2 = dilakukan sempurna (.....................

indonesia PEMERIKSAAN FISIK SISTEM PERSARAFAN.htm Diposkan oleh Nissa Uchil di 9:33:00 am Reaksi: Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to FacebookShare to Pinterest .· · http :// SISTEM PERSYARAFAN/wahyu.htm http :// SISTEM PERSYARAFAN/Midwife.BieeHafshawaty PROSEDUR PEMERIKSAAN FISIK SISTEM PERSYARAFAN.