You are on page 1of 16

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Belajar merupakan suatu proses yang mengakibatkan adanya perubahan
perilaku baik potensial maupun aktual dan bersifat relatif permanen sebagai akibat
dari latihan dan pengalaman. Sedangkan kegiatan pembelajaran adalah kegiatan
interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu
lingkungan belajar. Dalam kegiatan pembelajaran siswa dituntut keaktifannya.
Aktif

yang

dimaksud

adalah

siswa

aktif

bertanya,

mempertanyakan,

mengemukakan gagasan dan terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran, karena
belajar memang merupakan suatu proses aktif dari siswa dalam membangun
pengetahuannya. Sehingga, jika pembelajaran tidak memberikan kesempatan
kepada siswa untuk berperan aktif, maka pembelajaran tersebut bertentangan
dengan hakikat belajar.
Dalam kegiatan pembelajaran siswa tidak hanya dituntut keaktifannya saja
tapi juga kekreativitasannya, karena kreativitas dalam pembelajaran dapat
menciptakan situasi yang baru, tidak monoton dan menarik sehingga siswa akan
lebih terlibat dalam kegiatan pembelajaran.
Tujuan diberikannya matematika di jenjang pendidikan dasar dan
menengah adalah memberi tekanan pada penataan nalar dan pembentukan sikap
siswa serta pada keterampilan dalam penerapan matematika, seperti yang
dikemukakan Erman Suherman . Belajar matematika merupakan kegiatan mental
yang tinggi sebab matematika berkaitan dengan konsep-konsep abstrak yang
berkenaan dengan ide-ide, struktur hubungan-hubungan yang diatur secara logis
yang akan membawa terjadinya proses pembelajaran matematika itu sendiri.
Beberapa faktor yang mementukan terjadinya proses pembelajaran matematika
meliputi : siswa, pengajar atau tenaga pendidik, sarana, dan prasarana, serta
penilain disamping materi pelajaran. Proses pembelajaran akan berhasil apabila
faktor-faktor tersebut dikelola dengan baik. Pengelolaan pembelajaran di kelas
biasanya didominasi oleh guru, disinilah pangkal kesalahan dari guru dalam
mengelola kelas. Guru seharusnya bisa

mengurangi dominasi dan dalam

pembelajaran siswa yang seharusnya lebih banyak diberikan porsi. Keberhasilan
proses pembelajaran terletak pada turut sertanya peserta didik secara aktif oleh
karena itu apapun metode yang digunakan dalam proses pembelajaran harus
memungkinkan peserta didik dapat belajar secara aktif. Karena apabila peserta
didik tidak dapat diarahkan untuk aktif, maka interaksi dan komunikasi dalam
pembelajaran tidak akan terjadi. Untuk itulah perlu diguakan cara-cara mengajar
yang sesuai dan bervariasi dalam proses pembelajaran matematika
Dalam pembelajaran matematika seringkali siswa merasa kesulitan dalam
belajar, selain itu belajar siswa belum bermakna, sehingga pengertian siswa
tentang konsep salah. Akibatnya prestasi siswa baik secara nasional maupun
internasional belum menggembirakan. Rendahnya prestasi disebabkan oleh faktor
siswa yaitu mengalami masalah secara komprehensip atau secara parsial.
Sedangkan guru yang bertugas sebagai pengelola pembelajaran seringkali belum
mampu menyampaikan materi pelajaran kepada siswa secara bermakna, serta
penyampaiannya juga terkesan monoton tanpa memperhatikan potensi dan
kreativitas siswa sehingga siswa merasa bosan karena siswa hanya dianggap
sebagai botol kosong yang siap diisi dengan materi pelajaran. Hal ini
menunjukkan bahwa dalam pembelajaran matematika guru harus menggunakan
metode pembelajaran yang bervariasi dan disesuaikan dengan kondisi siswa
sehingga siswa lebih memahami materi yang disampaikan dan siswa lebih
berkesan dengan pembelajaran yang telah disampaikan serta siswa akan lebih
mengingat dan tidak mudah melupakan hal- hal yang dipelajarinya.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang diangkat dalam penulisan makalah ini
adalah sebagai berikut.
1) Apakah problematika yang ditemui di sekolah dalam pembelajaran
matematika?
2) Bagaimana alternatif solusi untuk mengatasi problematika yang dihadapi?

2

C. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1) Menginformasikan problematika yang ditemui di sekolah dalam pembelajaran
matematika.
2) Untuk mengetahui alternatif solusi untuk mengatasi problematika yang
dihadapi.
D. Manfaat
Makalah ini diharapkan bermanfaat bagi banyak pihak dan golongan, baik
masyarakat umum, pemerintah, praktisi pendidikan, matematikawan, maupun
civitas akademika.
Manfaat penulisan makalah ini adalah diharapkan mampu menambah
informasi kepada pembaca tentang problematika dan alternatif solusi yang dapat
diimplementasikan dalam pendidikan matematika khususnya interaksi belajar
yang terjadi di kelas. Dengan bertambahnya wawasan tentang problematika dan
berbagai alternatif solusinya ini, diharapkan semakin banyak pihak yang tertarik
untuk mengembangkan dan meneliti metode ataupun pendekatan-pendekatan
pembelajaran guna mengatasi masalah pendidikan yang dihadapi dan tentunya
untuk meningkatkan kualitas pendidikan di negara ini.

3

BAB II
PEMBAHASAN
A. Hakekat Pembelajaran Matematika

Belajar

adalah

suatu

proses

aktif

dalam

memperoleh

pengalaman/pengetahuan baru sehingga menyebabkan perubahan tingkah laku.
Belajar matematika melibatkan suatu struktur hirarki dari konsep-konsep tingkat
tinggi yang dibentuk atas dasar apa yang dipelajari sebelumnya.
Terkait dengan hakekat belajar matematika ini, siswa akan belajar dengan
baik jika

mereka termotivasi. Situasi yang menyenangkan atau rasa senang

akan dapat menimbulkan motivasi siswa untuk belajar. Belajar matematika itu
akan lebih efektif apabila matematika itu

menarik,

menyenangkan,

dan

menantang. Dengan demikian aktivitas pembelajaran hendaknya memberikan
kegiatan yang menantang sehingga dapat menimbulkan rasa ingin tahu.
Pengalaman aktual yang dimiliki oleh siswa hendaknya digunakan sebagai
landasan dalam pembelajaran matematika. Siswa harus diarahkan untuk
menyadari akan manfaat matematika terhadap kehidupan sehari-hari. Vselain
itu siswa hendaknya diupayakan agar senantiasa merasa berhasil dalam belajar
sehingga timbul sikap positif terhadap matematika itu sendiri.
Matematika merupakan ilmu yang bersifat abstrak. Untuk membantu
siswa memahami konsep matematika yang bersifat abstrak maka pembelajaran
matematika sebaiknya melibatkan interaksi baik dengan lingkungan fisik atau
lingkungan social. Siswa belajar matematika lewat interaksi. Interaksi ini akan
mengarahkan proses abstraksi yang diperoleh siswa dalam matematika.
Implikasinya dalam pembelajaran adalah : pemahaman siswa terhadap ide-ide
matematika hendaknya dikembangkan lewat interaksi mereka dalam berbagai
situasi pembelajaran. Kesempatan berinteraksi sesame siswa juga perlu di
upayakan, sehingga para siswa saling memberikan bantuan ketika ada siswa yang
mengalami kesulitan.
Salah satu karakteristik matematika yaitu matematika sebagai kegiatan
penelusuran pola dan hubungan (Departemen Pendidikan Nasional, 2003). Oleh
karena itru dalam proses pembelajaran matematika hendaknya melibatkan

4

investigasi mengenai

pola,

hubungan serta

proses.

Kesempatan untuk

menggunakan proses matematis dlam pemecahan masalah sebaiknya diupayakan
ada dalam semua aktivitas pembelajaran matematika. Siswa akan belajar dengan
baik kalau mereka sempat mengkonstruksi pengetahuannya sendiri di benak
mereka. (Departemen Pendidikan Nasional, 2003). Hal ini didasarkan atas 3 hal
yaitu : (1) pengetahuan tidak diterima secara pasif, (2) siswa mengkonstruksi
pengetahuan matematika melalui aktivitas baik fmaupun mental, dan (3) belajar
itu mencerminkan proses sosial. Dari ketiga hal tersebut maka perlu diupayakan
suatu kondisi pembelajaran yang kondusif sehingga siswa menjasi aktif dan
proses sosial yang terjadi menjadi harmonis. Dengan begitu siswa akan merasa
senag dan nyaman dalam belajar, sehingga kesempatan untuk mengkonstruksi
pengerahuannya sendiri menjadi lebih baik.
B. Pembelajaran Matematika di Sekolah

Berbagai pendapat muncul mengenai definisi matematika, dipandang dari
pengetahuan dan pengalaman masing- masing yang berbeda. Ada yang
mengatakan bahwa matematika itu bahasa simbol; matematika adalah bahasa
numerik; matematika adalah bahasa yang dapat menghilangkan sifat kabur,
majemuk dan emosional, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Banyak jawaban yang muncul terhadap pertanyaan " what is matematics?,
diantaranya ada yang mendefinisikan" mathematics is power dan " mathematics is
a tool". Mathematics is power, Ruseffendi ET (1980 : 148) mengemukakan bahwa
matematika terbentuk sebagai hasil pemikiran manusia yang berhubungan dengan
ide, proses, dan penalaran. Simbol ataau notasi dalam matematika mempunyai
peranan penting dalam mengkomunikasikan ide-ide dalam membangun
matemaiika. Terbentuknya suatu konsep matematika melalui proses berikut,
adanya simbol-simbol dari ide-ide dengan mengkomunikasikan simbol-simbol
akan membangun konsep-konsep matematika sebagai kekuatan. Kline (1973)
dealam bukunya mengatakan matematika bukanlah pengetahuan yang menyendiri
yang dapat sempurna karena dirinya sendiri, tetapi adanya matematika itu
terutama untuk membantu manusia dalam memahami dan dan menguasai
persoalan sosial, ekonomi dan alam. Matematika tumbuh dan berkembang karena

5

proses berpikir, dikatakan sebagai alat karena matematika dapat membantu
mengembangkan ilmu yang lain memecahkan masalah kehidupan serta
mengembangkan ilmu untuk dirinya sendiri dan dikkembangkan untuk kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi.
Karakteristik

pembelajaran

matematika

diantaranya:

pembelajaran

matematika adalah berjenjang, pembelajaran matematika mengikuti metoda spiral,
pengajaran matematika menekankan pola berfikir deduktif, pembelajaran
matematika menganut kebenaran konsistensi.
Salah satu tujuan diberikannya matematika dijenjang pendidikan dasar dan
menengah, yaitu untuk “Mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan
matematika dan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari-hari …”
(Depdikbud 1994:1). Dikatakan pula oleh Gagne (Ruseffendi, 1988: 165), bahwa
objek tidak langsung dari mempelajari matematika adalah agar siswa memiliki
kemampuan memecahkan masalah. Dari pendapat Gagne dan tujuan Kurikulum
Matematika, dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk dapat memecahkan suatu
masalah, para siswa perlu memiliki kemampuan bernalar yang dapat diperoleh
melalui pembelajaran matematika.
C. Problematika dalam Pendidikan Matematika di Sekolah

Peraturan Menteri (Permen) nomor 23 tahun 2006 tentang Standar
Kompetensi Lulusan secara jelas menyiratkan bahwa kompetensi yang harus
dimiliki oleh peserta didik setelah mempelajari matematika yaitu kemampuan
pemecahan masalah yang meliputi kemampuan untuk memahami masalah,
merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang
diperoleh. Kompetensi lain yang diharapkan dimiliki oleh peserta didik yaitu
memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu
memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika,
serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Kedua kompetensi tersebut memberikan makna bahwa dalam proses belajar
mengajar matematika, guru dan siswa harus menyadari bahwa sasaran dari belajar
matematika

adalah

kemampuan

untuk

memecahkan

masalah

serta

menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam NCTM (1989) dinyatakan

6

bahwa “… problem solving should become the focus of mathematics in school”.
Ini berarti bahwa fokus dari pembelajaran matematika di sekolah adalah
kemampuan siswa untuk memecahkan masalah. Masalah yang diberikan kepada
siswa mencakup masalah tertutup yaitu masalah dengan solusi tunggal, masalah
terbuka dengan solusi tidak tunggal, dan masalah dengan berbagai cara
penyelesaian. Katagori masalah tersebut dikenal sebagai problem solving
question. Dengan diberikannya soal pemecahan masalah kepada siswa, maka
kemampuannya dalam menyelesaiakan dengan langkah-langkah yang tepat
merupakan indikator ketercapaian kompetensi tersebut. Langkah-langkah yang
seharusnya dilaksanakan sesuai dengan langkah-langkah penyelesaian masalah
menurut

Polya, yaitu:

a) Memahami

masalahnya.

Dalam

hal

ini,

pemecah masalah harus

mengetahui apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan;
b) Merencanakan cara penyelesaian;
c) Memecahkan masalah sesuai dengan rencana; dan
d) Melakukan pengecekan kembali terhadap semua langkah yang telah
dikerjakan.
Namun, dari hasil diskusi dengan guru mata pelajaran Matematika
terindikasi beberapa permasalahan dalam proses belajar mengajar, diantaranya:
a) Kemampuan siswa, khususnya dalam pemecahan masalah matematika
masih memerlukan perhatian khusus.
b) Motivasi siswa untuk menyelesaikan soal pemecahan masalah masih
kurang
c) Siswa lebih berorientasi untuk memecahkan soal-soal yang

dapat

diselesaikan dengan prosedur rutin dan kurang memperhatikan bahwa
kompetensi yang dituntut adalah kemampuan dalam pemecahan masalah
d) Siswa kurang terbiasa untuk memecahkan masalah. Ini yang merupakan
indikasi minimnya kesempatan berlatih dalam proses belajar mengajar di
kelas.
e) Sebagian besar siswa belum mampu mengkomunikasikan gagasannya
dengan menggunakan simbol-simbol matematika, tabel dan grafik

7

f) Terdapat kesalahan prosedur (algoritma) dalam proses penyelesaian
masalah
g) Masih terdapat kecendrungan terjadi kesalahan penulisan notasi ataupun
langkah dalam pemecahan masalah
Sebagian dari permasalahan yang dihadapi peserta didik di atas memerlukan
penangan secara cepat dan inovatif tentu oleh guru sebagai fasilitator dan
mediator pembelajaran di kelas. Oleh karena itu, terdapat indikasi bahwa
kesenjangan

yang

terjadi

disebabkan

karena

implementasi

pendekatan

pembelajaran yang belum mendukung secara maksimal kesempatan siswa untuk
berlatih memecahkan masalah. Padahal, jika dikaji secara rinci sasaran yang ingin
dicapai dalam belajar matematika dan karakteristik masing-masing pendekatan
pembelajaran, terdapat beragam model, strategi, pendekatan, ataupun metode
pembelajaran yang bisa diterapkan diantaranya model kooperatif (STAD,
JIGSAW, TAI, TGT, NHT, GI, dan sebagainya), pembelajaran kontekstual,
inkuiri, dicovery learning, problem based learning, project based learning,
problem possing, dan masih banyak pendekatan lainnya. Namun, dengan
memperhatikan muara dari pembelajaran matematika serta karakteristik masalah
yang dialami oleh Siswa, pendekatan Problem-Based Learning merupakan salah
satu pendekatan yang relevan.
D. Solusi dari Problematika Pendidikan Matematika di Sekolah

Suatu masalah dalam matematika sering diidentikan dengan soal
matematika. Sehingga apabila seseorang dihadapkan pada suatu masalah dalam
hal ini soal matematika, maka akan ada beberapa kemungkinan yang mungkin
terjadi di dalam proses pemecahan masalah. Salah satu diantaranya adalah ia tidak
mempunyai gambaran tentang penyelesaiannya tetapi berkeinginan untuk
menyelesaikannya, maka dapat dikatakan orang tersebut berhadapan dengan suatu
masalah. Sutawidjaja (1998: 2) mengatakan bahwa “ suatu soal merupakan suatu
masalah bagi seseorang apabila diprlukan dua syarat:
a. orang itu tidak mempunyai gambaran tentang jawaban soal itu, dan
b. orang itu berkeinginan atau berkemauan untuk menyelesaikan soal
tersebut’.Ini

berhati

suatu

soal mepuakan masalah atau tidak bagi

seseorang sangat relaitf bagi orang tersebut.
8

Suparno

(1997:6)

menyatakan

kegiatan memindahkan

bahwa

“mengajar

bukanlah

suatu

pengetahuan dari guru ke siswa, melainkan suatu

kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya”.
Dalam pembelajaran matematika terutama dalam belajar

dan mengajar

pemecahan masalah seorang guru memposisikan dirinya sebagai fasilitator
bagi siswa. Dalam peranannya sebagai fasilitator seperti yang dijelaskan oleh
Munandar (1992: 45) seorang guru seharusnya:
1. mendorong belajar mandiri sebanyak munkin
2. dapat menerima gagasan- gagasan dari semua siswa
3. memupuk siswa untuk memberi kritik secara konstuktif dan untuk
memberikan penilaian diri sendiri
4. berusaha menghindari pemberian hukuman atau celaan terhadap ideide yang tidak biasa
5. dapat menerima perbedaan menurut waktu dan kecepatan antar siswa
dalam kemampuan berpikir.
Untuk dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan
masalah sangatlah diperlukan suatu strategi khusus. Perry dan Conroy (dalam
Sutawidjaja, 1998: 9) mengemukakan mengenai strategi yang dapat digunakan
untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah yaitu:
1) strategi untuk meningkatkan kemampuan untuk memecahkan masalah
yang berkaitam dengan siswa;
a. siswa harus diberanikan untuk menerima ketidaktahuan dan
merasa senang untuk mencari tahu
b. setiap siswa dalam kelompok harus diberanikan untuk
membuat soal atau pertanyaan
c. siswa diperbolehka memilih masalah-masalah dari sejumlah
masalah yang diberikan
d. siswa harus diberanikan untuk mengambil resiko atau mencari
alternatif
2) strategi untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah yang
berkaitan dengan guru;

9

a. guru harus sadar akan sikap positif dan cara-cara yang
mengembangkan hal ini
b. guru harus berani mencari dan mengembangkan keterampilan
siswa dalam memecahkan masalah
c. guru harus mencari masalah yang menarik yang sering muncul
secara spontan
d. guru perlu memperjelas situasi belajar dengan bertanya untuk
menggalakkan jawaban dan penyajian siswa
e. guru harus mau membiarkan pemecahan suatu masalah
menurut persepsi siswa walaupun mungkin mempunyai arah
yang berbeda dengan yang direncanakan
f. masalah tidak harus selalu diselesaikan oleh siswa. Masalah
dapat dilontarkan sebagai awal dari penyajian materi baru
Berkaitan dengan pendekatan Problem-Based Learning yang merupakan
pendekatan yang relevan sebagai salah satu alternatif solusi dari masalah
pendidikan matematika yang penulis temui di tingkat sekolah khususnya di SMP
Negeri 3 Ubud, ada beberapa hal yang sudah sepatutnya diperhatikan untuk
meredusir masalah yang ditemui.
1. Pengajuan masalah atau pertanyaan
Pengajaran berbasis masalah bukan hanya mengorganisasikan prinsipprinsip atau ketrampilan akademik tertentu, pembelajaran berdasarkan masalah
mengorganisasikan pengajaran di sekitar pertanyaan dan masalah yang keduaduanya secara sosial penting dan secara pribadi bermakna untuk siswa. Mereka
dihadapkan situasi kehidupan nyata yang autentik , menghindari jawaban
sederhana, dan memungkinkan adanya berbagai macam solusi untuk situasi itu.
Menurut Arends (dalam Abbas, 2000:13), pertanyaan dan masalah yang diajukan
haruslah memenuhi criteria sebagai berikut.
a. Autentik
Yaitu masalah harus lebih berakar pada kehidupan dunia
nyata siswa dari pada berakar pada prinsip-prinsip disiplin ilmu
tertentu.

10

b. Jelas
Yaitu masalah dirumuskan dengan jelas, dalam arti tidak
menimbulkan masalah baru bagi siswa yang pada akhirnya
menyulitkan penyelesaian siswa.
c. Mudah dipahami.
Yaitu masalah yang diberikan hendaknya mudah dipahami
siswa. Selain itu masalah disusun dan dibuat sesuai dengan tingkat
perkembangan siswa.
d. Luas dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Yaitu masalah yang disusun dan dirumuskan hendaknya
bersifat

luas, artinya masalah tersebut mencakup seluruh materi

pelajaran yang akan diajarkan sesuai dengan waktu, ruang dan
sumber yang tersedia. Selain itu, masalah yang telah

disusun

tersebut harus didasarkan pada tujuan pembelajaran yang telah
ditetapkan.
e. Bermanfaat.
aitu masalah yang telah disusun dan dirumuskan haruslah
bermanfaat, baik siswa

sebagai pemecah masalah maupun guru

sebagai pembuat masalah. Masalah yang bermanfaat adalah masalah
yang dapat meningkatkan kemampuan berfikir memecahkan masalah
siswa, serta membangkitkan motivasi belajar siswa.
2. Penyelidikan autentik
Pengajaran berbasis masalah siswa melakukan penyelidikan
autentik untuk mencari penyelesaian nyata terhadap masalah nyata. Mereka
harus menganalisis dan mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis dan
membuat ramalan, mengumpulkan
melakukan

dan

menganalisis

informasi,

eksperimen (jika diperlukan), membuat inferensi dan merumuskan

kesimpulan. Metode penyelidikan yang digunakan bergantung pada masalah yang
sedang dipelajari.
3. Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya
Pengajaran berbasis masalah menuntut siswa untuk menghasilkan
produk tertentu dalam bentuk karya nyata atau artefak dan peragaan yang
menjelaskan

atau mewakili bentuk penyelesaian
11

masalah yang mereka

temukan. Produk itu dapat berupa transkip debat, laporan, model fisik,
video

atau

program

komputer (Ibrahim & Nur, 2000:5-7 dalam Nurhadi,

2003:56)
4. Kerjasama.
Model pembelajaran berbasis masalah dicirikan oleh siswa yang
bekerjasama satu sama lain, paling sering secara berpasangan atau
dalam kelompok kecil.
Fase Aktivitas guru
Fase 1: Mengorientasikan siswa pada masalah
Pembelajaran dimulai dengan menjelaskan tujuan pembelajaran dan
aktivitas- aktivitas yang akan dilakukan. Dalam penggunaan PBL, tahapan
ini sangat penting dimana guru/dosen harus menjelaskan dengan rinci apa
yang harus dilakukan oleh siswa/mahasiswa dan juga oleh dosen. Disamping
proses yang akan berlangsung, sangat penting juga dijelaskan bagaimana
guru/dosen akan mengevaluasi proses pembelajaran. Hal ini sangat penting
untuk memberikan motivasi agar siswa dapat engage dalam pembelajaran yang
akan dilakukan.
Fase 2: Mengorganisasikan siswa untuk belajar
Disamping mengembangkan ketrampilan memecahkan masalah,
pembelajaran PBL juga mendorong siswa/mahasiswa belajar berkolaborasi.
Pemecahan suatu masalah sangat membutuhkan kerjasama dan sharing antar
anggota. Oleh sebab itu, guru/dosen dapat memulai kegiatan pembelajaran
dengan membentuk kelompok-kelompok siswa dimana masing-masing
kelompok akan memilih dan memecahkan masalah yang berbeda. Prinsipprinsip pengelompokan siswa dalam pembelajaran kooperatif dapat digunakan
dalam konteks ini seperti: kelompok harus heterogen, pentingnya interaksi
antar anggota, komunikasi yang efektif, adanya tutor sebaya, dan sebagainya.
Guru/dosen sangat penting memonitor dan mengevaluasi kerja masingmasing kelompok untuk menjaga kinerja dan dinamika kelompok selama
pembelajaran.

12

Fase 3: Membantu penyelidikan mandiri dan kelompok
Penyelidikan adalah inti dari PBL. Meskipun setiap situasi
permasalahan memerlukan teknik penyelidikan yang berbeda, namun pada
umumnya tentu melibatkan karakter yang identik, yakni pengumpulan data
dan eksperimen, berhipotesis dan penjelasan, dan memberikan pemecahan.
Pengumpulan data dan eksperimentasi merupakan aspek yang sangat penting.
Pada tahap ini, guru harus mendorong mahasiswa untuk mengumpulkan data
dan melaksanakan eksperimen (mental maupun aktual) sampai mereka betulbetul memahami dimensi situasi permasalahan. Tujuannya adalah agar
mahasiswa mengumpulkan cukup informasi untuk menciptakan dan membangun
ide mereka sendiri. Pada fase ini seharusnya lebih dari sekedar membaca
tentang masalah-masalah dalam buku-buku. Guru membantu mahasiswa untuk
mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber, dan ia
seharusnya mengajukan pertanyaan pada mahasiswa untuk berifikir tentang
massalah dan ragam informasi yang dibutuhkan untuk sampai pada
pemecahan masalah yang dapat dipertahankan.
Fase 4: Mengembangkan dan menyajikan artifak (hasil karya) dan
mempamerkannya
Tahap penyelidikan diikuti dengan menciptakan artifak (hasil karya)
dan pameran. Artifak lebih dari sekedar laporan tertulis, namun bisa
suatu videotape (menunjukkan
pemecahan yang

situasi
diusulkan),

masalah dan
model (perwujudan secara

fisik dari situasi masalah dan pemecahannya), program komputer,
sajian
dipengaruhi

tingkat

multimedia. Tentunya kecanggihan artifak
berfikir

dan
sangat

mahasiswa. Langkah selanjutnya adalah

mempamerkan hasil karyanya dan guru berperan sebagai organisator pameran.
Akan lebih baik jika dalam pemeran ini melibatkan mahasiswa-mahasiswa
lainnya, guru-guru, orangtua, dan lainnya yang dapat menjadi “penilai” atau
memberikan umpan balik.

13

Fase 5: Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah
Fase
dimaksudkan

ini

merupakan

tahap

akhir

dalam

PBL.

Fase

ini

untuk membantu mahasiswa menganalisis dan mengevaluasi

proses mereka sendiri dan kete-rampilan penyelidikan dan intelektual yang
mereka gunakan. Selama fase ini guru

meminta

mahasiswa

untuk

merekonstruksi pemikiran dan aktivitas yang telah dilakukan selama proses
kegiatan

belajarnya. Kapan mereka pertama kali memperoleh pemahaman

yang jelas tentang situasi masalah? Kapan mereka yakin dalam pemecahan
tertentu? Mengapa mereka dapat menerima penjelasan lebih siap dibanding
yang

lain?

Mengapa

mereka

menolak

beberapa

penjelasan? Mengapa

mereka mengadopsi pemecahan akhir dari mereka? Apakah mereka berubah
pikiran

tentang situasi masalah ketika penyelidikan berlangsung? Apa

penyebab perubahan itu? Apakah mereka akan melakukan secara berbeda
di waktu yang akan datang? Tentunya masih banyak lagi pertanyaan yang
dapat diajukan untuk memberikan umpan balik dan
kelemahan dan kekuatan PBL untuk pengajaran.

14

menginvestigasi

BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
1) Terdapat beberapa problematika dalam pembelajaran matematika di
sekolah yang memerlukan penangan secara cepat dan inovatif

tentu

oleh guru sebagai fasilitator dan mediator pembelajaran di kelas.
Terdapat indikasi bahwa kesenjangan yang terjadi disebabkan karena
implementasi pendekatan pembelajaran yang belum mendukung secara
maksimal kesempatan siswa untuk berlatih memecahkan masalah.
2) PBL adalah suatu pendekatan yang menggunakan masalah dunia nyata
sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis
dan

keterampilan

pemecahan

masalah.

3) Pembelajaran berbasis masalah dikembangkan terutama untuk membantu
kemampuan berpikir, pemecahan masalah, dan keterampilan intelektual
dan belajar menjadi pembelajar yang otonom. Keuntungan PBL adalah
mendorong kerja sama dalam menyelesaikan tugas. Pembelajaran berbasis
masalah melibatkan siswa dalam penyelidikan pilihannya sendiri, yang
memungkinkan siswa menginterpretasikan dunia nyata dan membangun
pemahaman tentang fenomena tersebut. Hal ini diharapkan dapat
digunakan sebagai salah satu alternatif solusi dalam menghadapi
problematika yang dihadapi.
B. Saran
Bagi para praktisi pendidikan utamanya guru diharapkan dapat
menggali lebih jauh problematika apa yang mungkin bisa dihadapi
dalam melaksanakan proses belajar mengajar di kelas. Baik itu faktor
fisik maupun faktor non fisik. Dengan mengidentifikasi masalah yang
dihadapi maka akan bisa ditentukan alternatif-alternatif solusi untuk
mengatasi masalah tersebut. Dimana jika dikaji secara rinci sasaran
yang ingin dicapai dalam belajar matematika dan karakteristik masingmasing pendekatan pembelajaran, terdapat beragam model, strategi,
pendekatan, ataupun metode pembelajaran yang bisa diterapkan sesuai
dengan masalah yang dihadapi.

15

16