NAMA

: NUR AULIANI SAFITRI

NIM

: 1501121335

NO. ABSENSI

: 32 (HI b)

MATA KULIAH : SISTEM HUKUM INDONESIA (UAS)

1.

Sebelum berbicara mengenai dampak bahkan cara mengatasi mafia hukum di
Indonesia, ada baiknya membahas apa yang dimaksud dengan mafia lalu apa yang
melatarbelakangi atau sebab mafia itu terjadi. Mafia adalah suatu kejahatan yang
dilakukan secara rapi dengan struktur-struktur didalamnya yang dilakukan oleh
sekelompok tertentu dan tidak lupa ada seorang yang menjadi pemimpinnya. Jadi, dalam
mafia tersebut terdapat bos yang mengatur jalannya permainan “kejahatan” yang akan
mereka lakukan. Kejahatan tersebut bisa berupa korupsi, suap-menyuap, judi, narkoba,
penyelundupan dan dalam hal ini saya akan memaparkan tentang mafia hukum. Dan saya
memandang dari berbagai banyak macam mafia di indonesia, mafia hukum lah yang
menurut saya paling berbahaya. Mengapa dapat saya mengatakan begitu? karena
merekalah yang menjadi pelindung para pelaku kejahatan. Bagaimana bisa mereka
menjadi pelindung? Jelas, karena merekalah yang berkuasa dan mengendalikan jalannya
hukum di Indonesia ini sesuai dengan keinginan mereka.
Contohnya, siapa yang tidak mengenal Gayus Tambunan yang melakukan
permainannya dengan para petinggi-petinggi kedua instansi, jaksa dan polisi sehingga
Gayus Tambunan diputuskan dengan bebas dan tak tersentuh. Padahal kasus Gayus
Tambunan tidak main-main yaitu kasus penyuapan terhadap pejabat-pejabat tinggi Ditjen
pajak oleh Puluhan perusahaan konglomerat termasuk bakrie grup yang tak pernah
disidangkan di pengadilan. Rakyat ditipu dgn kasus-kasus Gayus yg lain. Akhirnya rakyat
dilupakan oleh kasus-kasus yang remeh itu. Mafia hukum kembali tunjukan
kemampuannya dengan mengendalikan hukum di negeri ini. Kasus Antasari juga begitu,
selain dicurigai penuh permainan, kasus antasari juga diamankan oleh para mafia hukum
yang tentunya bekerjasama dengan para oknum yang berkuasa.
Nah, mengapa itu bisa terjadi? Menurut saya mafia hukum terjadi dikanenakan oleh
beberapa hal.

Yang pertama, dikarenakan lemahnya peraturan perlindungan terhadap korban
dan saksi, sehingga para korban menjadi tertindas dan hanya pasrah terhadap
jalannya persidangan berlangsung.

Yang kedua, lemahnya sistem pengawasan yang dikarenakan tak didasari atas
rasa bertanggung jawab terhadap kewajibannya. Karena sistem pengawasan
lemah, jadinya para petinggi hukum melakukan atas dasar keinginan mereka
sendiri.

Yang ketiga, lemah, lambat bahkan tidak tegas dalam menangani suatu kasus
atau perkara. Hal tersebut disebabkan krisisnya kedisiplinan, sikap tegas, adil
jujur dan bertanggung jawab sehingga menjadi peluang terciptanya para mafia
hukum berkembang biak

Padahal Ratu Atut telah melakukan suap kepada mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar sebesar 1 Milyar Rupiah untuk memenangkan gugatan yang diajukan pasangan Amir Hamzah dan Kasmin. Akibatnya rasa ketidakadilan dan ketidakpuasan tumbuh subur dengan hijaunya di masyarakat Indonesia. Pemanfaatan penegakan hukum oleh sekelompok orang demi kepentingannya sendiri. Bahkan hukum islam juga harus ikut berperan dalam pemberantasan kasus korupsi ini karena hukuman yang berlaku juga cukup berat. Dengan meyakinkan pada diri bahwa apapun tindakan yang dilakukan akan ada pertanggungjawabannya didunia bahkan di akhirat. lemah dan diskriminatif ? memang suatu hal yang tak bisa dipungkiri pada zaman sekarang ini. membawa masyarakat pada pola kehidupan sosial yang sudah tidak lagi mempercayai hukum sebagai sarana penyelesaian konflik. Sebagai contoh misalnya kasus korupsi mantan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah yang hanya dijatuhi hukuman 4 tahun penjara dan denda 200 Juta rupiah. dimulai dengan kesadaran diri sendiri tentunya. artinya untuk mendapatkan bukti sang korban harus menggunakan jasa para detektif  Yang kelima. atau yang terakhir dikarenakan buruknya kinerja lebaga penegak hukum itu sendiri. orang yang lemah akan semakin ditindas. Hal ini sudah banyak terlihat dalam hal penegakan hukum itu sendiri. selalu berakibat merugikan pihak yang tidak mempunyai kemampuan yang sama rata. kasus penyuapan bahkan kasus yang lain. Yang keempat. Kita bandingkan saja dengan kasus seorang nenek yang . Pandangan masyarakat yang buruk mengenai penegakan hukum. Lalu bagaimana dampaknya ? menurut saya masalah hukum ini paling dirasakan oleh masyarakat dan membawa dampak yang sangat buruk bagi kehidupan bermasyarakat. Dan bagaimana cara mengatasi mafia hukum tersebut ? saya membagi menjadi dua cara :    2. salah satunya dengan cara tidak emilih kembali suatu partai politik yang dianggap buruk. Di tengah ketidakmampuan mereka. Dengan mempertegas ancaman sanksi untuk para koruptor. masyarakat yang kecil akan dikesampingkan. mereka tidak mendapatkan keadilan hukum yang benar. dan cenderung menyelesaikan konflik dan permasalahan mereka di luar jalur. dari masyarakat yang turut ikut mengawasi jalannya pemerintahan. memadai yang seperti mereka harapkan. apabila seorang korban yang mulai tersudutkan tentu saja akan terselamatkan apabila didapatinya suatu bukti atau saksi dan bukti tersebut tak akan turun dengan sendirinya dari langit. Cara yang kedua. Cara yang ketiga. dalam hal fasilitas (ekonomi). Cara ini tentunya akan membawa akibat buruk bagi masyarakat itu sendiri. Cara yang pertama. Mengapa penegakan hukum pada masa pemerintahan saat ini semakin tidak jelas. Contonya seperti di Negara Korea dan China yang menghukum mati para koruptor. oleh pemerintah. Penghukuman hanya tajam dan berlaku kepada rakyat yang kecil saja.

Jika Indonesia memberlakukan LGBT itu maka kebudayaan yang selama ini dijaga dan diterapkan dengan baik akan rusak seketika dengan hadirnya LGBT yang tak bermoral dan tak bernilai itu. Rasanya sangat tidak adil melihat kedua kasus ini. 3. lemah dan diskriminatif yang terjadi dimana-mana. jaminan. Namun. Dalam kasus KPK yang melakukan tebang pilih terhadap tersangka koruptor. bahkan kaedah yang menjadi ciri khas Indonesia itu sendiri. Sehingga menyebabkan penegakan hukum menjadi tidak jelas. pelecehan seksual terhadap anak dibawah umur dan pelecehan tersebut dilakukan kepada korban yang merupakan sejenis kelamin dengannya. tak lain dan tak bukan sama-sama laki-laki. tata sosial. Bagaimana tidak? LGBT telah melanggar hukum perkawinan berdasarkan hukum perdata Pasal 1 UU Nomor 1 Tahun 1974 yang menyatakan : “Ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita dengan tujuan membentuk rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa“. Padahal dalam hal ini mereka. Bagi mereka para masyarakat di kalangan bawah perlakuan ketidakadilan terhadap mereka sudah biasa terjadi.755 miliar diduga kuat juga melibatkan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).mencuri singkong karena kelaparan dan dijatuhi hukuman 2. nilai. Dengan kata lain KPK telah mengubur dalam-dalam kasus korupsi yang sudah jelas terlihat didepan mata dengan menindaklanjuti kasus tersebut. KPK merasa dan terlihat bersemangat. ditambah dengan tidak bertanggung jawab. Tidak peduli status sosialnya. adab dan sopan santun. tapi di tempat yang lain. saya mengambil satu contoh kasus korupsi dari pembelian sebagian lahan RS Sumber Waras dengan kasus dugaan suap. Dalam memandang kasus LGBT saya pribadi pun mengatakan salah bahkan dalam kacamata hukum pun menyalahkan LGBT yang ditambah lagi mendesak perempuan menikah dengan perempuan. 4. Namun bagi kalangan para penjabat tinggi yang punya kekuasaan sulit rasanya menjerat mereka dengan tuntutan hukum. Artinya sama saja KPK juga menyuburkan korupsi. Karena kita bisa melihat bahwa masyarakat Indonesia menjaga ketat budaya. para pejabat tinggi tersebut sudah jelas melanggar UUD Pasal 28 D Ayat 1 yang berbunyi “Setiap orang berhak atas pengakuan. Saya memberi contoh. Membentuk rumah tangga yang bahagia yaitu dengan mendapatkan keturunan yang juga salah satu tujuan dari perkawinan tersebut. ketika kasus dugaan korupsi melibatkan oknum dewan. perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum. Pembelian lahan seluas 3. norma. dengan kata lain mereka sangat egois. Menurut saya hal tersebut terjadi karena setiap orang yang hanya mementingkan kepentingan mereka sendiri tanpa memikirkan kepentingan orang lain padahal kepentingan orang lain tersebut lebih penting dibandingkan kepentingan mereka itu sendiri. Jadi apabila hal tersebut meminta agar diterima secara hukum saya pribadi menyalahkan. hilangnya rasa ingin berkeadilan dan jujur.6 ha yang dinilai dengan Rp.” Dari ayat tersebut sudah sangat jelas bahwa setiap orang berhak diperlakukan sama dihadapan hukum. yang laki-laki menikah dengan yang laki-laki untuk diterima secara hukum. . baik dia hanya sebagai tukang sampah sekalipun sampai Presiden sekalipun harus diperlakukan sama dihadapan hukum. saya yakin telinga kita tak akan asing saat mendengar kasus yang dilakukan Saipul Jamil.5 tahun penjara.

sudah jelas bersalah tapi masih bisa dibebaskan. Penyampingan perkara (deponering) yang dimaksud Pasal 8 Undang-Undang No. Karena hanya para pelaku mafia hukumlah yang dapat melakukan tindakan yang seperti tersebut sehingga anggota KPK menang di pengadilan. Dalam kasus ini sepertinya para mafia hukum juga bekerja sama dengan pers sehingga meekspose data yang telah dijanjikan atau yang telah disepakati ke media. Hakim seakan menganggap hukum itu suatu mainan. Bagaimana bisa seorang hakim yang dipandang sebagai pelopor keadilan . dan terdapat dalam Penjelasan Pasal 77 KUHAP berbunyi: “Yang dimaksud dengan penghentian penuntutan tidak termasuk penyampingan perkara untuk kepentingan umum menjadi wewenang Jaksa Agung”. menurut saya keputusan itu merupakan bukti bahwa tidak adanya keseriusan dalam menangani atau menindak pelaku perusakan lingkungan dan sangat bertolak belakang dengan norma perlindungan lingkungan. 16 Tahun 2004 pasal 35 huruf c disebutkan: “Yang dimaksud dengan ‘kepentingan umum’ adalah kepentingan bangsa dan Negara dan/atau kepentingan masyarakat. Dengan kata lain dapat dikatakan para mafia hukum telah bermain didalamnya. tidak semena-mena karena hanya keinginan semaata. KPK yang melakukan tebang pilih tersebut juga menunjukkan adanya mafia hukum yang terjadi dalam kasus/perkara tersebut. jika hakim serius dalam menanggapi perkara tersebut. dalam contoh kasus diatas sudah terungkap melakukan praktik korupsi tetepi tidak ditindaklanjuti. bukanlah keputusann seperti itu yang seharusnya dikeluarkan. Kemudian dalam KUHAP Pasal 46 ayat (1) huruf c yang berbunyi: “Perkara tersebut dikesampingkan demi kepentingan umum atau perkara tersebut ditutup demi hukum. Dalam Penjelasan UU No. kecuali apabila benda itu diperoleh dari suatu tindak pidana atau yang dipergunakan untuk melakukan suatu tindak pidana”. Lalu bagaimana dengan manipulasi fakta dalam Operasi Tangkap Tangan atau OTT. 5 Tahun 1991 jo. tapi ada yang tak terkena OTT namun tetap diekspose ke media? menurut saya mafia hukum juga telah memainkan perannya dalam hal ini dengan mengorbankan seorang untuk menutup kesalahan orang lain atau menutupi kesalahan orang yang jelas-jelas bersalah. 6. Pasal 35 huruf c Undang-Undang No 16 Tahun 2004 berbunyi: “Jaksa Agung mempunyai tugas dan wewenang menyampingkan perkara demi kepentingan umum”. Seharusnya mesti diselesaikan dengan melanjutkan proses pengadilan yang sesuai. 5. yang hanya dapat dilakukan oleh Jaksa Agung setelah memperhatikan saran dan pendapat dari badan-badan kekuasaan Negara yang memepunyai hubungan dengan masalah tersebut”. Dan jelas-jelas terjadi diskriminasi atas penanganan kasus yang seperti itu. Dapat dilihat dari adanya ketidakaadilan dalam penyelesaian kasus. 15 Tahun 1961 jo Pasal 32 huruf e Undang-undang No.Dan menurut saya. Berdasarkan pernyataan hakim yang menyatakan bahwa yang bersalah adalah “API” dalam kasus pembakaran hutan di Sumatera Selatan. seharusnya hakim juga melihat dampak apa yang ditimbulkan oleh pelaku atas perkara tersebut. mengapa beberapa anggota KPK yang menjadi tersangka pidana tidak mau membuktikan bahwa ia bersalah di pengadilan ? tentu ada sesuatu yang terjadi dibalik itu semua. mengesampingkan sebagaimana dimaksud dalam ketentuna ini merupakan pelaksanaan asas opportunitas. Yang ditanyakan dalam hal ini adalah.

Dapat kita lihat sendiri dari cara pebedaan perlakuan dalam penanganan suatu perkara. yang terjadi saat ini adalah politik terlalu berkuasa atas hukum. 8. sehingga sampailah pada menyalahgunakan kekuasaannya. karena tuntutan untuk berlari mengejar mendapatkan pekerjaan yang berdasarkan pendidikan. Jika kepada rakyat kecil hukum sangat “PEKA” mengapa kepada para pejabat tinggi ataupun penguasa hukum seakan-akan “PEKAK”?. Namun. Penegakan hukum yang baik juga harus ada sinergi antara politik dan hukum. Contohnya. 9. 7. ketika ada sebagian anggota DPR yang menolak memasukkan metode pembuktian terbalik untuk memberantas korupsi. nah. Praktik jual beli nilai. seperti Badan Yudikatif. mereka berperan sangat penting dalam masalah peradilan. bahkan dihilangkan tanpa jejak. namun tindakan hukum harus selalu didukung oleh politik. Sebaliknya. Dan seharusnya politik harus taat kepada hukum. tidak bisa dilaksanakan sebab hukum membutuhkan tindakan dari penegaknya dan para penguasa untuk mengeluarkan undang-undang atau kebijakan. Seperti kasus yang orang biasa juga bisa menganggap perkara seperti seorang anak yang mencuri sandal jepit adalah perkara sepele tapi diproses hingga pengadilan. Dengan kekuasaan mereka. maksudnya melihat dari ijazah yang membuktikan bahwa seorang tersebut telah menyelesaikan pendidikannya pada jenjang SMA. Hal tersebut memperlihatkan bahwa politik tidak mendukung hukum. Tidak hanya iyu. Biarkan hukum mengalir tanpa ada campur tangan dari pihak manapun. Nah fenomena tersebut sudah cukup membuktikan terjadinya diskriminasi terhadap hukum. Bibit dan Chandra dalam Rapat Dengar Pendapat perkembangan penyelesaian kasus Century karena status tersangka yang melekat pada keduanya. Fenomena-fenomena hukum yang terjadi seperti itu menunjukkan gejala adanya Diskriminasi terhadap penegakan hukum. yaitu dengan membeli ijazah palsu. semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang maka semakin besar pula peluar seorang tersebut untuk mendapatkan pekerjaan yang diinginkannya. Hukum tanpa politik. Lalu permasalahannya bagaimana seorang tersebut bahkan tak menyelesaikan pendidikannya. dapat kita lihat sudah banyak terjadi diberbagai sekolah-sekolah yang ingin menaikkan akreditasi atau predikat sekolah tersebut secara cepat dan instan dengan cara . Atau ketika anggota Komisi III DPR menolak kehadiran dua orang pimpinan KPK. atau S1 misalnya.oleh masyarakat mengeluarkan keputusan yang seperti itu. mengabaikan kewajiban dan mengatur dengan sewenang-wenangnya. Mengapa hukum cenderung kalah oleh politik ? bukankah hukum tersebut produk dari politik ? bukankah politik seharusnya yang taat terhadap hukum ? Hukum cenderung kalah oleh politik dikarenakan seperti yang kita ketahui bahwa yang memegang kekuasaan hukum adalah politik. politik tanpa hukum akan sewenang-wenang sebab penguasa merasa tidak mempunyai batas untuk melakukan sesuatu. tidak ditindaklanjuti. salah satunya saja seperti main bersih atau tidak ada unsur kecurangan dalam Pemilu misalnya. Bila dibandingkan dengan korupsi ataupun kasus penyuapan yang dilakukan oleh para penguasa yang tidak diproses. sangat tidak adil sekali membebaskan tersangka yang seharusnya bersalah. disinilah praktik jual beli nilai terlaksana.

penelantaran. berhak mendapatkan perlindungan dari perlakuan diskriminasi. kekerasan dan penganiayaan. Kemudian. suap menyuap menjadi lumrah. Lalu dipertegas pula pada Pasal 18 yakni setiap anak yang menjadi korban atau pelaku tindak pidana berhak mendapatkan bantuan hukum dan bantuan lainnya. Kita tahu dalam sistem kapitalisme uang menjadi pedang yang menjadi alat diskriminasi bahkan dalam hal-hal pokok yang menjadi hak seluruh rakyat seperti pendidikan dan kesehatan. Tidaklah mengejutkan kalau sang “pesuap” bisa mempermainkan hukum termasuk aparat hukum dengan seenaknya. Dengan fasilitas AC. penyiksaan atau penjatuhan hukuman yang tidak manusiawi. Bagaimana para koruptor yang sudah memakan dengan rakus uang negara yang seharusnya bisa digunakan untuk rakyat. pada Pasal 17 Ayat (2). Selain dua contoh diatas. perkara-perkara tersebut merupakan bentuk pelanggaran hukum. Disebutkan Pasal 13 Ayat (10) yang berbunyi “Setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua. Makna keadilanpun pantas dipertanyakan oleh masyarakat. televisi dan fasilitas lain bahkan ada ruang karaoke dan fitnes yang siapapun akan betah untuk tinggal disana. Jadi dapat disimpulkan. maka pelaku diberi pemberatan hukuman. Dimana kekuatan modal menentukan segalanya termasuk fasilitas penjara. atau pihak lain mana pun yang bertanggung jawab atas pengasuhannya. pakaian yang digantung didinding.memanipulasikan nilai yang dilakukan oleh para guru-guru disekolah tersebut tanpa memikirkan dampaknya terhadap murid yang dididiknya. kulkas. wali. wali atau pengasuh anak melakukan segala bentuk perlakuan sebagaimana Ayat (1). kemudian dipenjara dengan fasilitas bagaikan hotel. Pada Ayat (2) bila orang tua. dan perlakuan salah lainnya”. Lagi –lagi perkara tersebut menunjukkan diskriminasi tingkat dewa yang dibangun oleh sistem kapitalisme. Tentunya sangat berbeda dengan para tahanan biasa yang menghuni 1 kamar dengan 10-12 tahanan didalamnya. Semua orang tahu seharusnya hukuman . Bagaimana mutu dan fasilitas pendidikan dan kesehatan yang diterima rakyat sangat ditentukan oleh uang. Kemudian juga kekejaman. Alias penjara tersebut layaknya hotel. Barang-barang tahanan yang berserakan sana-sini. Padahal contoh kasus tersebut jelas-jelas pelanggaran hukum. setiap anak yang menjadi korban atau pelaku kekerasan seksual atau yang berhadapan dengan hukum berhak dirahasiakan. pelecehan seksual terhadap anak dibawah umur dalam proses pembimbingan juga menjadi salah satu contoh yang seakan-akan sudah menjadi tradisi ataupun kebiasaan yang memang sebagian menganggap suatu yang wajar. Dengan kata lain. Dalam kasus ini saya mengambil contoh. Yang anehnya bagaimana penjara bisa menjadi suatu yang membuat efek jera jika penjara tersebut lebih bagus jika dibandingkan kost-kost-an kami. kasus narapidana Artalyta Suryani alias Ayin yang divonis 5 tahun penjara. Kemudian. eksploitasi baik ekonomi maupun seksual. Kebijakan politisi bisa diatur oleh mereka. Pemilik modal besar akan menentukan segalanya dengan kekuatan modalnya. Pasal 16 Ayat (1) setiap anak berhak memperoleh perlindungan dari sasaran penganiayaan. karena sang politisi berhutang budi setelah didukung oleh para pesuap itu. Padahal penjara merupakan sanksi hukum yang telah diputuskan oleh hakim. 10.

Namun apapun yang terjadi sepertinya Densus 88 hanya akan terus beraksi walaupun aksinya sangat sadis dan tidak berperikemanusiaan karena para bos besar “Amerika” yang masih mau memberi uang jajan untuk mereka maka apapun itu Densus 88 akan mebobrok apapun didepan mereka karena Densus 88 adalah Boneka Barbie nya Amerika!. tetapi kenapa hanya kepada orang yang identik dengan berpakaian jubah atau gamis saja yang dicurigai padahal tidak melakukan apa-apa. padahal yang dituduh tersangka tersebut tidak mengetahui apa-apa. bagaimana bisa terjadi kesalahpahaman terhadap penangkapan teroris ? karena mereka hanya berpusat kepada satu kelompok tertentu. Jadi mereka melihat bahwa teroris hampir sama atau diidentikkan dengan orang-orang yang Muslim yang beraliran keras. Amerika menghadiahkan bahkan menggaji Densus 88 kepada Indonesia dengan tujuannya itu tadi.  Tata nilai : Indonesia mengenal sistem politik adu domba yang dahulunya pernah digunakan para penjajahan Belanda yang mampu memperlemah bahkan menghapus kekuasaan diberbagai daerah di Indonesia yang sehingga dengan udah Belanda menguasainya. dengan salah paham itu juga yang berujung kepada salah tangkap. Mengapa Densus 88 hanya memfokuskan untuk menangkap suatu kelompok tertentu dengan identitas agama yang tertentu. Pengaruh buruk penjajahan terhadap tata nilai. Karena teroris bisa terjadi dikelompok manapun dan memang harus diberantas. Padahal sudah jelas sekali banyak kelompok-kelompok yang nyata mengancam NKRI seperti pasukan Republik Maluku Selatan. Hingga saat ini sistem politik yang saling adu domba contohnya saja kampanye yang dilakukan secara berlebihan hingga sampai mengadu domba partai politik yang lain yang menjadi lawannya dalam pemilihan umum.itu memberikan efek jera. 12. kebiasaan dan sistem hukum yang kini berlaku di Indonesia. Kalau tidak memberikan efek jera tentu bukan hukuman namanya! Lalu bagaimana sebaiknya ? pertegas kembali penegakan hukum yang tak didampingi dengan diskriminasi!. 11. Karena yang seperti kita semua tahu bahwa Amerika sedang mencari celah untuk menghancurkan umat Islam karena mereka takut jika Islam akan bangkit. Tapi disini menurut saya. norma perilaku. walaupun belum ada buktinya ? Saya berpendapat terjadinya salah tangkap terhadap yang diduga adalah teroris dikarenakan kesalahpahaman mengartikan makna terorisme itu siapa. dalam hal ini agama Islam lah yang menjadi sasarannya. karena hanya menduga-duga. sebab jika tidak tentunya akan meresahkan orang banyak.  Norma Perilaku : permainan kasar yang dilakukan penjajah Belanda kepada Indonesia seperti dahulu Belanda memaksa sistem tanam paksa . Dalam penanganan kasus ini Amerika sudah campur tangan dengan Indonesia dalam penegaakan hukum. Kita lihat lagi fakta bahwa Densus 88 adalah ciptaan Amerika. untuk memberantass Terorisme di Indonesia. serta istilah teroris yang sepertinya hanya berlaku untuk orang Islam saja. Dan sudah jelas sekali terdapat diskriminatif dalam penegakan hukum tersebut dibuktikan dengan tiadanya ketidakadilan dalam penangkapan tersangka yang salah. padahal meskinya tidak begitu. itu adalah salah satu upaya untuk melenyapkan kaum Muslim.

Bumiputera. Dari menjalani proses tersebut. Selain itu bentuk peradilan yang tebagi menjadi. Orang Eropa. Ketiga. kuliah umum. terdapat usaha demi usaha yang dilakukan oleh bangsa Indonesia agar terlepas dari belenggu hukum Belanda. Kebiasaan : para penjajah mempunyai kebiasaan yang sewenangwenangnya mengatur apapun karena sudah mendapatkan kekuasaan sehingga berdampak sangat buruk juga terhadap masyarakat Indonesia yang bahkan mempunyai kebiasaan yang satu ini. Hukum Belanda memiliki pengaruh yang sangat luar biasa dalamnya pada hukum Indonesia. melihat dari seberapa banyak masyrakat yang telah membuat onar . peradilan agama. contohnya saja para pemerintah yang memerintah dengan seenaknya tanpa memikirkan kewajibannya terhadap rakyatnya. Sistem hukum : sistem hukum Indonesia memang menggunakan sistem hukum yang dipakai pada zaman penjajahan Belanda. sampai dengan berupa buku. peradilan pribumi. dan Orang Timur Asing. pidato. Paling tidak ada tiga fase. Kebijakan dan politik pembinaan hukum nasional dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN).  yang masyarakat Indonesia bahkan dipaksa melakukan pekerjaan secara terus menerus ang tentu saja sangat menyiksa fisik maupun batin masyarakat Indonesia sehingga berpengaruh pada perilaku yang mengikuti perilaku para penjajah yang kasar dan egois. namun bukan berarti itu Sistem Hukum Belanda. Tidak hanya itu Belanda dahulunya memberlakukan deskriminasi terhadap suatu golongan ras. Namun begitu. Kesimpulannya yaitu dengan hukum kita dapat menjalankan peraturan yang berlaku. pertama. dimulai dari 1956 diikuti dengan pendirian LPHN yang berubah menjadi BPHN dengan berbagai Seminar Hukum Nasional yang diselenggarakan. tapi sistem Hukum Indonesia yang hanya saja sebagian hukum didalamnya diambil dari sistem hukum Belanda. masih cukup berlaku. Kedua. gubernemen. dapat diketahui bahwa Indonesia masih berada dalam perjalanan yang cukup panjang untuk bisa mancapai tujuan kodifikasi dan unifikasi hukum. golongan yang putih diberi hak yang istimewa. Seperti golongan dari mereka dapat mengecap pendidikan tetapi tidak ada pendidikan bagi rakyat Indonesia. dan peradilan desa. jadi sebagian sistem hukum pada saat itu digunakan kembali pada zaman sekarang. berupa tulisan lepas perorangan berupa paper dalam seminar. Diantara unsur yang masih erat diterapkan dalam kehidupan hukum Indonesia adalah klasifikasi rakyat menjadi tiga golongan. karena mereka para penjajah Belanda berkulit putih maka mereka mendapatkan hak yang lebih istimewa dari yang tak berkulit putih. peradilan daerah-daerah swapraja.