You are on page 1of 2

Peredaran Vaksin dan Obat Palsu di Indonesia

PHARMACOPEDIA 3
Hari , Tanggal
: Kamis, 22 September 2016
Waktu
: 17.00 – 18.00
Tempat
: RK 3.2 FF UNAIR
Speaker
: Dra. Liza Pristianty ,M.Si.,Apt (Ketua PC IAI Surabaya)

-

-

-

-

-

Dunia obat adalah milik farmasis , sebagai calon apoteker harus peduli
dengan obat . Obat tidak seperti komuniti yang lain , karena di dalamnya ada
dosis . Ada jumlah tertentu , kandungan tertentu dan aturan pakai yang
harus dipatuhi. Saat ini , banyak sekali oknum non farmasis yang tertarik
untuk terjun di dunio obat sehingga banyak obat obat yang tidak bisa
dipertangggungjwabkan.
Makna obat palsu sendiri bukan hanya sekedar suatu obat yang tidak
memiliki kandungan oobat yang sesuai , jalur pendistribusian yang tidak
benar dapat diklasifikasikan pula ke dalam hal obat palsu . Jalur distribusi
obat yang legal di Indonesia adalah obat obat yang dibuat oleh produsen
kemudian didistribusi oleh Pedangang besar farmasi , kemudian baru menuju
ke retail (apotek, rumah sakit, instalasi farmasi lainnya ) dan harus ada
dokumen yang resmi.
Masalah penemuan obat obat palsu dan kadaluwarsa di pasar pramuka
memang masalah yang sudah ditemukan dari dulu namun belum ada
penindakan yang tegas. Permasalahan antara obat obat yang ada di pasar
pramuka dan vaksin palsu yang ditemukan di daerah Bekasi sebenarnya
bersumber dari alur pendistribusian yang tidak jelas atau illegal. DIduga
produsen vaksin palsu membeli vaksin / bahan obat dari sumber yang tidak
jelas kemudian ditambahkan dengan cairan infus kemudian dikemas lagi
mirip dengan vaksin vaksin wajib di Indonesia.
Penyebab dari peredaran obat obatan palsu ini bukan hanya dari oknum
oknum yang memanfaatkan dunia obat yang besar ini untuk melakukan
kejahatan, lemahnya pengawasan oleh Badan POM juga bisa melonggarkan
kesempatan para oknum untuk terus melakukan hal tersebut . Untungnya, di
kasus vaksin palsu tidak ditemukan tersangka yang berprofesi apoteker,
namun sangat disayangkan ketika penemuan obat palsu di pasar pramuka,
beberapa APA di sana adalah orang BPOM dan banyak apoteker yang tekab.
Sehingga banyak APA yang tidak mengerti betul jalur pendistribusian
apoteknya sendiri dan hal ini digunakan beberapa oknum untuk terus
mendistribusikan obat obat palsu dan kadaluwarsa.
Sebenarnya sudah ada peraturan perundang undangan yang menyebutkan
sanksi apa saja yang harus diberikan kepada oknum oknum masalah obat
palsu ini , namun kelemahannya adalah BPOM bersama IAI selama ini hanya
mengawasi saja karena BPOM tidaak memiliki hak untuk menutup paksa
apotek karena hak untuk itu diserahkan ke Dinkes (yang memberi izin apotek
itu berdiri). Namun IAI sudah mengadvokasikan kepada dinkes / pemerintah

-

-

tentang penegasan hukum terhadap masalah peredaran obat dan vaksin
palsu ini.
Sebagai orang awam , mungkin cukup susah untuk membedakan mana obat
yang asli dan yang palsu apalagi jika obat utu dikemas mirip dengan aslinya .
Namun tidak perlu khawatir, salah satu cara untuk kita supaya untuk
antisipasi mendapatkan obat palsu ialah membeli obat di tempat yang benar
yaitu apotek . Karena di apotek ada apoteker yang diberikan kewenangan
untuk menjamin mutu obat yang didistribusi. Nah , kita sebagai apoteker
atau calon apoteker harus mempu mengedukasi masyarakat untuk membeli
obat di tempat yang benar .
Sbg calon farmasis, tunjukkan kepada masyarakat indentitas kita sebagai
apoteker, lakukan hal yang baik dan sesuai dengan kewenangan kita !