You are on page 1of 4

Surat Bukti Kewarganegaraan Republik

Indonesia
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

SBKRI keluaran tahun 1973; bagian depan menunjukkan gambar pemegang SBKRI, cap jempol, dan tanda
tangan

SBKRI keluaran tahun 1973; bagian belakang menunjukkan biodata pemegang SBKRI serta dasar hukum dan
masa berlakunya SBKRI

Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia atau biasa disingkat SBKRI adalah kartu
identitas yang menyatakan bahwa pemiliknya adalah warganegara Republik Indonesia. Walaupun
demikian, SBKRI hanya diberikan kepada warganegara Indonesia keturunan, terutama keturunan
Tionghoa. Kepemilikan SBKRI adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi seseorang untuk
mengurus berbagai keperluan, seperti kartu tanda penduduk (KTP), memasuki dunia pendidikan,
permohonan paspor, pendaftaran Pemilihan Umum, sampai menikah dan meninggal dunia dan lainlain. Hal ini dianggap oleh banyak pihak sebagai perlakuan diskriminatif dan sejakOrde
Reformasi telah dihapuskan, walaupun dalam praktiknya masih diterapkan di berbagai daerah.
Daftar isi
[sembunyikan]

Perjanjian Dwikewarganegaraan RI-RRT ini yang dituangkan dalam UU No 2/1958 pada tanggal 11 Januari 1958 dan diimplementasikan dengan PP No 20/1959 dengan masa opsi 20 Januari 1960 hingga 20 Januari 1962. . setelah perjanjian dwikewarganegaraan tersebut dibatalkan pada 10 April 1969 dengan UU No 4/1969. Kebijaksanaan itu kemudian ditindaklanjuti dengan Perjanjian DwiKewarganegaraan RI-RRT antara Chou En Lai dan Mr. Kronologi[sunting | sunting sumber] Orde Lama (era Soekarno) 1946 .A. yang pernah membela nama Republik Indonesia di dunia Internasional. secara otomatis. sudah menyelesaikan permasalahan dwikewarganegaraan RI-RRT. 1Sejarah  2Kronologi  3Perkembangan terakhir  4Lihat pula  5Pranala luar Sejarah[sunting | sunting sumber] Dasar hukum SBKRI adalah Undang-Undang no. orang Tionghoa yang ada di Indonesia sejak Proklamasi 1945 adalah WNI suku Tionghoa. Tapi peraturan ini tidak dilaksanakan dan tetap saja perjanjian dwikewarganegaraan dengan kewajiban memilih kewarganegaraan RI atau RRT diterapkan kepada mereka. Orang Tionghoa di Indonesia kembali diharuskan memilih ingin jadi WNI atau tidak. veteran. yaitu untuk mereka yang berstatus misalnya tentara. permasalahan status WNI Tionghoa sudah terselesaikan dan anak-anak WNI Tionghoa yang lahir setelah tanggal 20 Januari 1962 sudah menjadi WNI tunggal. Dalam Pasal 12 Bab II Peraturan Pemerintah No 20/1959 tentang Pelaksanaan Undang-Undang tentang Persetujuan Antara Republik Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok disebutkan bahwa ada berbagai kelompok WNI yang dikelompokkan sebagai WNI tunggal atau mereka yang tidak diperkenankan untuk memilih kewarganegaraan RI-RRT dan tetap menjadi WNI. Dengan demikian. Salah satu alasan utama yang selalu dikemukakan adalah bahwa kebijakan SBKRI merupakan konsekuensi dari klaim politik pemerintahan Mao Zedong bahwa semua orang Tionghoa di seluruh dunia termasuk Indonesia adalah warga negara Republik Rakyat Tiongkok karena asas ius sanguinis (keturunan darah). Siapa saja yang lahir di Indonesia adalah warga negara Indonesia.Belanda mengharuskan Indonesia mendasarkan peraturan kewarganegaraannya ke zaman kolonial bila ingin mendapat pengakuan kedaulatan dari Belanda. yang setelah dewasa tidak diperbolehkan lagi untuk memilih kewarganegaraan lain-selain kewarganegaraan Indonesia (Penjelasan Umum UU No 4/1969) dan tidak perlu lagi membuktikan kewarganegaraan dengan SBKRI. Maengkom dan disahkan oleh Presiden Soekarno. pegawai pemerintah. Soenario pada 1955. 1949 .Indonesia pada tahun 1946 telah jelas mengundangkan bahwa Indonesia menganut asas ius soli. petani atau bahkan secara implisit mereka yang sudah pernah ikut Pemilu 1955. Dengan demikian. 62 tahun 1958 tentang "Kewarga-negaraan Republik Indonesia" yang dikeluarkan olehMenteri Kehakiman G.

menegaskan bahwa orang Tionghoa di Indonesia kembali diperbolehkan memilih kewarganegaraan Tiongkok atau Indonesia.Perjanjian dituangkan dalam UU.Keputusan Presiden tahun 1996 itu diperkuat sekali lagi dengan Instruksi Presiden tahun 1999. serta semua orang Tionghoa yang lahir setelah tahun 1962) tidak diperlukan SBKRI. era Reformasi 1999 . Batas waktu pemilihan sampai pada tahun 1962. menegaskan bahwa SBKRI hanya wajib bagi mereka yang mengambil surat pernyataan Dwi Kewarganegaraan lalu menyatakan keinginan menjadi WNI. dikeluarkan Instruksi Presiden No 4/1999 tentang Pelaksanaan Keputusan Presiden No 56/1996 yang menginstruksikan tidak berlakunya SBKRI bagi etnis Tionghoa yang sudah menjadi WNI. 1996 . Yang memegang surat pernyataan Dwi Kewarganegaraan menjadi stateless (tidak memiliki kewarganegaraan) bila tidak menyatakan keinginan menjadi WNI. Yang memilih menjadi WNI tunggal harus menyatakan diri melepaskan kewarganegaraan Tiongkok. Orde Baru (era Soeharto) 1969 . 1978 . "Bagi warga negara Republik Indonesia yang telah memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP). 1958 . "Dengan berlakunya Keputusan Presiden ini." Pada 1999.Keputusan Menteri Kehakiman . atau Kartu Keluarga (KK).Perjanjian Dwi Kewarganegaraan dibatalkan.Penyertaan SBKRI tidak diberlakukan lagi atas Keputusan Presiden. pemenuhan kebutuhan persyaratan untuk kepentingan tertentu tersebut cukup menggunakan Kartu Tanda Penduduk. (Hal ini merupakan alasan politik untuk menggalang dukungan dari kalangan Tionghoa perantauan seperti yang dilakukan oleh ROC Taiwan (nasionalis)). menegaskan bahwa anak2 keturunan dari orang Tionghoa pemegang SBKRI cukup menyertakan SBKRI orang tua sebagai bukti mereka adalah WNI. atau Akta Kelahiran tersebut. Perkembangan terakhir[sunting | sunting sumber] Pada tanggal 8 Juli 1996. namun di lain pihak merasa keturunan Tionghoa di luar negeri adalah masih memihak kepada ROC yang nasionalis. praktik persyaratan SBKRI masih tetap ada di birokrasi pemerintahan karena kurangnya sosialisasi pemberlakuan Keppres ini dan juga karena lemahnya sistem hukum Indonesia yang menyebabkan peraturan perundang-undangan dapat begitu saja diabaikan. .Keputusan Menteri Kehakiman . Zhou Enlai menyatakan bahwa keturunan Tionghoa di Indonesia berutang kesetiaan pada negara leluhur. Jadi bagi WNI tunggal dan keturunannya (yang telah menyatakan menjadi WNI tunggal sebelum tahun 1962 dan yang keturunan mereka. Di pasal 4 butir 2 berbunyi. 1983 .1955 . Di KAA Bandung. 1992 .Peraturan Menteri Kehakiman mewajibkan SBKRI bagi warga Tionghoa. Presiden Soeharto mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 56 Tahun 1996 tentang Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia. atau Akta Kelahiran. Namun tidak banyak yang tahu karena kurangnya sosialisasi.Perjanjian Dwi Kewarganegaraan antara RRT dan Indonesia ditandatangani. siapa yang lahir membawa marga Tionghoa (keturunan dari laki-laki Tionghoa) maka ia otomatis menjadi warga negara Tiongkok. maka segala peraturan perundang-undangan yang untuk kepentingan tertentu mempersyaratkan SBKRI. dinyatakan tidak berlaku lagi. Namun sebenarnya. Karena ada klaim dari Mao Zedong bahwa RRT menganut asas ius sanguinis. Mao di satu pihak meluncurkan kebijakan ini." Sedangkan pasal 5 berbunyi. atau Kartu Keluarga (KK).

Lihat pula[sunting | sunting sumber]  Tionghoa-Indonesia Pranala luar[sunting | sunting sumber]  (Indonesia) Kronologi Singkat Pemberlakuan SBKRI oleh Rintojiang  K (Indonesia) "SBKRI dan Pelembagaan Diskriminasi WN" .