You are on page 1of 64

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

.......................................................................................

1

DAFTAR ISI

.......................................................................................

2

BAB I PENDAHULUAN

...........................................................................

3

1.1. Latar Belakang

...........................................................................

3

1.2. Permasalahan

...........................................................................

4

1.3. Tujuan Penulisan

...........................................................................

4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

...........................................................................

5

2.1. Musculoskeletal Disorder..........................................................................

5

2.2. Kecacatan di Sistem Muskuloskeletal.......................................................

42

BAB III TINJAUAN KASUS

...........................................................................

54

3.1. Kasus Kecacatan karena Penyakit Akibat Kerja ......................................

54

3.2. Kasus Keccacata karena Kecelakaan Kerja...............................................

54

BAB IV PEMBAHASAN

...........................................................................

56

4.1. Kasus Kecacatan karena Penyakit Akibat Kerja ......................................

56

4.2. Kasus Keccacata karena Kecelakaan Kerja...............................................

60

BAB V KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA

...........................................................................

64

.......................................................................................

65

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Setiap pekerjaan memiliki resiko baik terhadap kesehatan maupun kecelakaan
kerja. Resiko kesehatan dan kecelakaan kerja tersebut dapat mengenai sejumlah organ
yang bisa bermuara pada terjadinya kondisi cacat. Sebagaimana berlaku untuk
kecelakaan kerja, cacat karena penyakit akibat kerja adalah keadaan hilang atau
berkurangnya fungsi anggota badan karena kecelakaan kerja atau penyakit akibat
kerja

yang secara langsung atau

berkurangnya kemampuan untuk

tidak langsung

menjalankan

mengakibatkan hilang atau

pekerjaan. Tidak semua atau hanya

sebagian kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja menyebabkan cacat. Cacat karena
kecelakaan kerja ada bila ada/ terjadi kecelakaan kerja yang menyebabkannya. Demikian
juga, cacat karena penyakit akibat kerja hanya ada bila ada penyakit akibat kerja yang
menjadi penyebabnya. Cacat karena kecelakaan kerja maupun akibat penyakit akibat
kerja dapat merupakan cacat anatomis maupun cacat fungsi. cacat anatomis dan cacat
fungsi secara langsung atau tidak langsung mengakibatkan berkurangnya kemampuan
untuk menjalankan pekerjaan.
Penyakit akibat kerja yang banyak ditimbulkan akibat pekerjaan salah satunya
adalah penyakit otot rangka atau Musculoskeletal Disorders (MSDs). Kejadian gangguan
musculoskeletal seperti low back pain, cervic spindolisis, carpal tunnel syndrome, dan
tennis elbow, sangat sering dirasakan oleh manusia. Selama lebih dari 50 tahun, dalam
studi ditemukan bahwa 50% populasi mendapatkan nyeri dibagian leher, pundak maupun
lengan. Gangguan muskuloskeletal yang muncul dapat merupakan akibat dari pekerjaan
yang dilakukan (Bridger, 1995). Lebih lanjut Humantech (1995) menjelaskan bahwa
istilah Musculoskeletal Disorders atau MSDs digunakan pakar ergonomi untuk
menggambarkan berbagai bentuk cedera, nyeri atau kelainan pada sistem otot rangka
yang terdiri dari jaringan saraf, otot, tulang, ligamen, tendon dan sendi. MSDs
merupakan masalah yang signifikan pada pekerja. MSDs pada awalnya menyebabkan
sakit, nyri, mati rasa, kesemutan, bengkak, kekakuan, gemetar, gangguan tidur dan rasa
terbakar.
Banyak data dari berbagai penelitian dari berbagai negara yang menunjukkan
MSDs adalah satu satu kasus kesehatan kerja terbanyak. Di Amerika, diperkirakan 6 juta

2

kasus per tahun atau rata-rata 300-400 kasus per 100 ribu orang pekerja. Masalah ini
menyebabkan kehilangan hari kerja (lost day) untuk istirahat sehingga perusahaan
merugi karena kehilangan produktivitas. Diperkirakan biaya akibat MSDs yang harus
dikeluarkan adalah rata-rata 14.726 dolar per tahun atau lebih dari 130 juta rupiah (Tim
Ergoinstitute, 2008 dalam Ariani, 2009).
Gangguan MSDs dapat menimbulkan kerugian bagi pekerja itu sendiri dan bagi
pengusaha. Pekerja yang mengalami masalah MSDs berarti mengalami gangguan
kesehatan dalam dirinya dan dapat menjadi lebih parah lagi bila tidak segera diobati dan
dicegah agar tidak terjadi terus menerus. Bila kesehatan pekerja terganggu maka pekerja
menjadi tidak produktif sehingga tidak dapat bekerja dan tidak dapat memenuhi
kebutuhan hidupnya sedangkan bagi perusahaan akan mengalami kerugian dikarenakan
hilangnya waktu kerja dan menurunnya produktivitas serta kualitas dari karyawan,
sehingga proses kerja akan terhambat dan tidak maksimal, selain itu harus mengeluarkan
biaya konpensasi pengobatan dan kerugian lainnya yang berkaitan langsung ataupun
tidak langsung berhubungan dengan timbulnya masalah MSDs
1.2. PERMASALAHAN
Dari hasil studi Depkes tentang profil masalah kesehatan di Indonesia tahun
2005 menunjukkan bahwa sekitar 40,5 % penyakit yang diderita pekerja berhubungan
dengan pekerjaannya, gangguan kesehatan yang dialami pekerja, menurut studi yang
dilakukan tehadap 9.482 pekerja di 12 kabupaten/kota di Indonesia, umumnya berupa
penyakit musculoskeletal (16%), kardiovaskuler (8 %), gangguan syaraf (6 %), gangguan
pernapasan (3%), dan gangguan THT (1,5 %), dari studi tersebut dapat disimpulkan
bahwa di Indonesia kasus musculoskeletal disorder merupakan salah satu kasus
terbanyak yang ditemukan pada pekerja.
1.3. TUJUAN
1. Mengetahui pedoman dalam mendiagnosis dan mengevaluasi kecacatan karena
kecelakaan dan penyakit akibat kerja, khususnya di bidang Orthopaedi
2. Mengetahui dampak atau efek kesehatan bagi para pekerja di bidang Orthopaedi
3. Meningkatkan pengetahuan dalam hal evaluasi dan penilaian kecacatan dan penyakit
akibat kerja bagi pekerja di bidang Orthopaedi

3

1 Musculoskeletal Disorder 2.1 Anatomi Muskuloskeletal Gambar 2.1 Anatomi Sistem Rangka Manusia Musculoskeletal terdiri dari kata musculo yang artinya otot dan skeletal yag berarti tulang. Rangka manusia terdiri dari tulang-tulang yang menyokong tubuh manusia yang terdiri atas tulang tengkorak. fascia (pembungkus). tulang sendi dan otot.1. 4 . Sistem musculoskeletal tersebut bekerja membuat gerakan dan tindakan yang harmoni. kartilago. 2004).BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Tendon. ligamen. Enam substruktur utama pembentuk sistem muskuloskeletal antara lain: tendon. tulang badan dan tulang anggota gerak (Nurmianto. ligamen.

sistem pernafasan. Tendon dapat berfungsi pada sekitar pojok. Sistem tarikan dalam tendon jari sangat krusial untuk berfungsinya tangan. Contoh dari jaringan fascia adalah intramuscular septa yang memisahkan otot-otot lengan. Melindungi organ-organ tubuh yang vital (contoh: tengkorak melindungi otak. Gangguan padanya akan membawa pada perubahan lengan momen tendon dan juga meningkatkan penyimpangan tendon (jarak tendon harus bergeser) ketika jari berkontraksi (ditarik) maupun relaksasi (diregangkan) dan akan membawa pada dampak bowstringing. gerakan dihasilkan melalui aksi ungkit tulang dan sendi) 4. sedangkan tulang sendi diperlukan untuk pergerakan antara segmen tubuh. Kartilago melindungi permukaan tulang artikular dan juga terdapat dalam beberapa organ telinga. Homopoiesis (tulang memproduksi sel darah merah) 5. Sedangkan tulang dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari struktur tulang keseluruhan dan sebagai jaringan. Penyokong (menahan jaringan tubuh dan memberi bentuk kepada kerangka tubuh) 2. mengupayakan kestabilan dalam persendian. piringan sendi tulang belakang. tulang rusuk melindungi jantung dan paru-paru) 3. Menyimpan mineral. 1995). 5 . Adapun fungsi sistem rangka adalah sebagai berikut: 1. Bergerak (otot menempel pada tulang dan saat mereka kontraksi. seperti dalam jari dan sendi pergelangan. hidung. menyalurkan tenaga dari otot. Ligamen menghubungkan tulang dengan tulang. yaitu melengkungnya tendon.fascia dan otot sering disebut sebagai jaringan lunak. contoh: kalsium (Bridger. sedangkan tendon merekatkan otot pada tulang. Fascia juga merupakan jaringan penghubung padat yang melindungi organ atau bagian dari organ dan memisahkannya satu dengan yang lain.

Dengan demikian peredaran darah meningkat dan otot menerima darah 10 sampai 20 kali keadaan kerja otot statis. Sel otot merupakan sel tubuh yang khusus digunakan untuk melakukan kontraksi dan relaksasi sehingga pergerakan manusia dapat terlaksana (Suma’mur. Pada kerja otot statis. pembuluh darah tertekan oleh pertambahan tekanan dalam otot akibat kontrasi sehingga menyebabkan peredaran darah dalam otot terganggu. 1989). Anizar (2006) membagi kerja Otot menjadi kerja secara statis (postural) atau dinamis (rhythmic). Kontraksi disertai pemompaan darah ke luar otot sedangkan relaksasi memberikan kesempatan bagi darah untuk masuk ke dalam otot. Menjaga postur atau mempertahankan sikap/posisi tubuh 3. sel otot menghasilkan panas sebagai sebuah produk dan menjadi mekanisme penting untuk menjaga suhu tubuh (Bridger. Keadaan peredaran darah pada kerja otot statis berbeda dengan kerja otot dinamis. Pada kerja otot dinamis. Menghasilkan gerakan tubuh atau menggerakkan rangka 2. Adapun Fungsi sistem otot adalah: 1. Menghasilkan panas. Otot yang bekerja secara dinamis memperoleh banyak oksigen dan glukosa sehingga memiliki banyak tenaga sementara sisa metabolisme segera dibuang. Kerja otot statis dibutuhkan dalam membentuk postur tubuh oleh karena konstraksinya yang kontiniu maka bagian-bagian tubuh dapat dipertahankan berada pada posisi yang tetap. otot menetap dan berkontraksi untuk suatu periode waktu tertentu. Otot yang bekerja statis tidak memperoleh oksigen dan glukosa dari darah dan harus 6 . 1995). kontraksi dan relaksasi terjadi silih berganti sedangkan pada kerja otot statis.Sistem otot terdiri dari sejumlah besar otot yang bertanggung jawab atas gerakan tubuh. Kerja otot dinamis berlaku sebagai suatu pompa bagi peredaran darah.

(Anizar. Jika suplai darah ke otot kurang. Jika otot terus-menerus dirangsang untuk melakukan kontraksi. bahan makanan dan sisa metabolisme terhambat. tendon. Asam piruvat dalam sel otot dapat diubah menjadi asam laktat.2006) Otot memerlukan energi ketika berkontraksi. 7 . maka dapat menyebabkan kejang otot. 1989). Dalam pemanfaatan energi. Energi berasal dari pemecahan molekul ATP (Adenosin trifosfat) menjadi ADP (Adenosin difosfat) yang berada di dalam otot. Hal ini tidak sesuai dengan kebutuhan energi yang tinggi karena kerja otot statis kurang efisien dibandingkan kerja otot dinamis akibat konsumsi energi pada pekerjaan statis menjadi lebih besar untuk melakukan upaya atau pekerjaan yang lebih kecil daripada pekerjaan dinamis (Suma’mur. Timbunan asam laktat dalam otot dapat menyebabkan rasa pegal atau kelelahan. peredaran darah ke otot berkurang yang dipengaruhi oleh besarnya tenaga yang diperlukan. Lebih dari itu sisa metabolisme seperti asam laktat tidak dapat diangkut keluar akibat peredaran darah yang terganggu sehingga menumpuk dan menimbulkan rasa nyeri. otot dan struktur penunjang seperti discus intervertebral. pekerjaan dinamis lebih baik daripada pekerjaan statis. energi diambil dari senyawa glukosa yang terdapat dalam otot karena peredaran darah yang menyalurkan oksigen.menggunakancadangan yang ada. 2. Pada pekerjaan statis. Glukosa akan mengalami glikolisis menjadi asam piruvat dan ATP yang akan digunakan untuk kontraksi otot.2 Musculoskeletal Disorders (MSDs) Menururt NIOSH (1997) yang dimaksud dengan musculoskeletal disorders adalah sekelompok kondisi patologis yang mempengaruhi fungsi normal dari jaringan halus sistem musculoskeletal yang mencakup sistem syaraf.1. maka energi yang dihasilkan pun berkurang. Jika kontraksi terus berlangsung.

Nur Ikrimah (2009)

menerangkan

berdasarkan

Canadian

Center

for

Occupational Health and Safety, Aktivitas kerja seperti pekerjaan yang bersifat
repetitif, atau pekerjaan dengan postur yang tidak normal adalah hal yang dapat
menyebabkan munculnya gangguan MSDs, yang sakitnya dapat dirasakan selama
bekerja atau pada saat tidak bekerja.
Humatech (1995) menyatakan bahwa gangguan pada system musculoskeletal
tidak pernah terjadi secara langsung, tetapi merupakan kumpulan-kumpulan benturan
kecil dan besar yang terakumulasi secara terus menerus dalam waktu relatif lama,
dapat dalam hitungan beberapa hari, bulan dan tahun, tergantung pada berat ringannya
trauma setiap kali dan setiap saat, sehingga dapat menimbulkan suatu cidera yang
cukup besar yang diekspresikan dengan rasa sakit, kesemutan, pegal-pegal, nyeri
tekan, pembengkakan dan gerakan yang terhambat atau gerakan minim atau
kelemahan pada anggota tubuh yang terkena trauma. MusculoSkeletal Disorders
merupakan

istilah

yang

memperlihatkan

adanya

gangguan

pada

sistem

musculoskeletal, dan bukan merupakan suatu diagnosis.
Tiap bagian tubuh yang digunakan dalam bekerja memilki risiko ergonomi dan
gangguan

kesehatan, yang

dapat

mengakibatkan

melemahkan

fungsi

tubuh

dan penurunan kinerja pekerja baik dalam hal kualitas maupun kuantitas. Bagianbagian tubuh seperti tangan, leher, bahu, punggung dan kaki merupakan bagian tubuh
yang sering digunakan pekerja dalam melakukan pekerjaannya. Bagian tubuh yang
sering digunakan pekerja maka akan berdampak timbulnya keluhan atau cidera pada
bagian- bagian tubuh tersebut. Dalam hal ini NIOSH menyatakan bahwa faktor
risiko pada pekerjaan termasuk manusia (postur tubuh, beban, durasi, dan frekuensi,
genggaman), faktor alat, dan lingkungan kerja merupakan faktor-faktor yang dapat
menyebabkan MSDs.

8

Terkait postur tubuh dengan kejadian MSDs ditegaskan pula oleh
Achwan (2006) yang menyatakan bahwa, Ada dua aspek postur tubuh yang
memberikan kontribusi atas gangguan muskuloskeletal akibat kerja, termasuk
pekerjaan yang bersifat repetitif. Pertama adalah posisi dari bagian tubuh saat
melakukan pekerjaan. Aspek yang kedua dari postur tubuh yang memberikan
kontribusi atas gangguan WMSDs (Work Related Musculoskeletal Disorser) adalah
posisi dari leher akan senantiasa menstabilkan posisi tubuh selama pekerjaan
dilakukan. Kontraksi otot yang terjadi akan menekan pembuluh darah, dan
menyebabkan terganggunya peredaran darah. Otot pada leher dan betis akan menjadi
lelah meskipun leher dan bahu

tidak bergerak. Inilah yang menimbulkan sakit pada

bagian leher.
2.1.2.1 Keluhan MSDs
Keluhan musculoskeletal adalah keluhan pada bagian-bagian otot skeletal
yang dirasakan oleh seseorang mulai dari keluhan sangat ringan sampai sangat sakit.
Apabila otot menerima beban statis secara berulang dan dalam waktu yang lama, akan
dapat menyebabkan keluhan berupa kerusakan pada sendi, ligament, dan tendon.
Keluhan hingga kerusakan inilah yang biasanya diistilahkan dengan keluhan
Musculoskeletal Disorders (MSDs) atau cedera pada sistem musculoskeletal (Tarwaka
et al, 2004).
Menurut Weeks et al (1991) tanda awal yang menunjukan terjadinya
gangguan MSDs yaitu bengkak (sweeling), gemetar (numbness), kesemutan (tingling),
sakit (aching), dan rasa terbakar (burning pain).
Secara garis besar keluhan muskuloskeletal dapat dikelompokkan menjadi
dua, yaitu ;

9

a. Keluhan sementara (reversible), yaitu keluhan otot yang terjadi pada saat
otot menerima beban statis, namun demikian keluhan tersebut akan segera
hilang apabila pembebanan dihentikan, dan
b. Keluhan menetap (persistent), yaitu keluhan otot yang bersifat menetap.
Walaupun pembebanan kerja telah dihentikan, namun rasa sakit pada otot
masih terus berlanjut (Tarwaka et al, 2004).

Pada hakikatnya nyeri merupakan hasil iritasi terhadap ujung-ujung
serabut syaraf penghantar impuls nyeri, yang dikenal sebagai serabut nyeri. Iritasi
berasal dari adanya proses patologik, seperti tarikan, penekanan, infeksi, pendarahan,
metastase dan lain-lain. Tempat proses patologik mengiritasi serabut nyeri dikenal
sebagai sumber nyeri.
Nyeri otot dibagi menjadi dua jenis (Permana,2001 dalam Triawan, 2007)
yaitu ;

myalgia (nyeri otot), yang bilamana dilakukan penekanan terhadap otot
yang bersangkutan akan menimbulkan rasa nyeri yang sangat.

pegal adalah perasaan tidak enak di otot yang dirasakan di sepanjang otot
yang terkena, namun pada tempat-tempat tertentu terdapat daerah yang keras
sekali, yang dikenal sebagai myofacial trigger point.
Keluhan nyeri otot akibat kontraksi otot yang terus menerus akan

mengakibatkan terjadinya iritasi kimiawi dan kompresi pada serabut otot juga pada
pembuluh darah sebagai
sedangkan

pada

akibat

tertimbunnya

sampah

metabolik

pada

otot,

waktu bersamaan terjadi juga fase konstriksi pembuluh darah.

Penimbunan sampah metabolik ini menyebabkan iritasi pada sistem reseptor dari otot-

10

NIOSH. pergerakan yang berulang/repetitif.otot leher. atau menggerakkan pergelangan tangan secara berulang. Keadaan tersebut akan semakin berkembang ketika tendon terus menerus digunakan untuk mengerjakan hal-hal yang tidak biasa seperti tekanan yang kuat pada tangan. Cidera Pada Tangan Cidera pada bagian tangan. pergelangan tangan dan siku bisa disebabkan dari pekerjaan tangan yang intensif sehingga memungkinkan terjadinya postur janggal pada tangan dengan durasi yang lama. Jika ketegangan otot tangan ini terus berlangsung. 2.2. 1997). akan menyebabkan tendinitis. (Bernard et al. membengkokkan pergelangan tangan selama bekerja. dan tekanan dari peralatan/ material kerja. iritasi ini terjadi oleh karena peningkatan aktifitas motor unit untuk masa waktu yang panjang dari setiap otot dan akan mengakibatkan rasa nyeri pada otot. 1997). Berikut ini adalah beberapa jenis cidera yang mungkin dialami pekerja disebabkan pekerjaannya: A. Penelitian dari Chiang (1993) pada tiga grup pekerjaan menyimpulkan bahwa prevalensi CTS ditemukan sebbesar 14. Gejala yang 11 .5% sebagai gejala awal dari pergerakan repetitive yang dilakukan pekerja.1.2 Gangguan Kesehatan Pada Muculoskeletal Tiap Bagian Tubuh NIOSH (2007) menjelaskan bahwa Musculoskeletal Disorders (MSDs) dapat disebabkan oleh berbagai faktor risiko. baik berupa faktor tunggal maupun kombinasi dari berbagai factor risiko. a) Tendinitis. merupakan peradangan pada tendon. adanya struktur ikatan yang melekat pada masing-masing bagian ujung dari otot ke tulang. Sembilan belas studi menyatakan bahwa pekerjaan repetitive berpengaruh pada cidera pada tangan dan pergelangan tangan misalnya CTS (Bernard et al.

melemahnya sensasi genggaman karena hilangnya fungsi syaraf sensorik. CTS dapat menyebabkan sulitnya seseorang menggenggam sesuatu pada tangannya. Pekerjaan ketika yang berpotensi bagian antatra lain adalah Industri perakitan automobile. postur. sakit seperti terbakar. force/ gaya yang membutuhkan peregangan.2 Postur Kerja Pada Tangan yang Menyebabkan Tendinitis (Sumber: NIOSH. juru manufaktur tulis. CTS pada pergelangan tangan merupakan terowongan yang terbentuk oleh carpal tulang pada tiga sisi dan ligamen yang melintanginya. salah satu dari tiga syaraf yang menyuplai tangan dengan kemampuan sensorik dan motorik. Kemerah-merahan. Gejalanya antara lain Gatal dan mati rasa pada jari khususnya di malam hari. sakit pada bagian tertentu khususnya ketika bergerak aktif seperti pada siku dan lutut yang disertai dengan pembengkakan. Gambar 2. pengemasan makanan. Faktor risiko yang dapat menyebabkan CTS Manual handling. frekuensi. repetisi. mati rasa yang menyakitkan. 2007) b) Carpal Tunnel Syndrome (CTS). 12 . durasi. terasa terbakar. CTS merupakan Gangguan tekanan/ pemampatan pada syaraf yang mempengaruhi syaraf tengah.dirasakan antara lain Pegal. sales. getaran. sensasi bengkak yang tidak terlihat. sakit dan membengkak tubuh tersebut beristirahat.

Gambar 2. perakitan.3 Postur Kerja Pada Tangan yang Menyebabkan Carpal Tunnel Syndrome (Sumber: NIOSH. kegiatan manufaktur. Gambar 2. 2007) 13 . Tekanan yang berulang pada jari-jari (pada saat menggunakan alat kerja yang memiliki pelatuk) dimana menekan tendon secara terus menerus hingga ke jari-jari dan mengakibtakan rasa sakit dan tidak nyaman pada bagian jari-jari.4 Postur Kerja Pada Tangan yang Menyebabkan Trigger finger (Sumber: NIOSH. Pekerjaaan yang berpotensi adalah pekerjaan Mengetik dan proses pemasukan data. 2007) c) Trigger finger. penjahit dan pengepakan/ pembungkusan.suhu.

Gejala dari HAVS adalah Mati rasa. Dikenal juga sebagai getaran yang menyebabkan white finger. atau penggosok lantai. traumatic vasospastic diseases atau fenomena Raynaud’s kedua. Gambar 2. gerinda. perusahaan automobil dan supir truk. pengebor. intensitas getaran. Gangguan pada pembuluh darah dan syaraf pada jari yang disebabkan oleh getaran alat atau bagian / permukaan benda yang bergetar dan menyebar langsung ke tangan. suhu dingin. 14 . gatal-gatal. Rasa sakit ini berhubungan dengan perputaran ekstrim pada lengan bawah dan pembengkokan pada pergelangan tangan. Gejala biasanya muncul dalam keadaan dingin.5 Postur Kerja Pada Tangan yang Menyebabkan Epicondylitis (Sumber: NIOSH. frekuensi. Pekerjaan yang birisiko adalah Pekerjaan konstruksi. penyangga. lebih lanjut dapat menyebabkan berkurangnya sensitivitas terhadap panas dan dingin. dan putih pucat pada jari. petani atau pekerja lapangang. Faktor yang berisiko menyebabkan HAVS diantaranya adalah Getaran.d) Epicondylitis. Kondisi ini juga biasa disebut tennis elbow atau golfer’s elbbow. pekerjaan memalu. penjahit. durasi. 2007) e) Hand-Arm Vibration Syndrome (HAVS). Merupakan rasa nyeri atau sakit pada bagian siku.

Gambar 2.  Bursitis.B. Terdapat hubungan yang positif antara pekerjaan repetitif dan MSDs pada bahu dan leher. dan rasa sakit yang menyebar ke bagian leher. Sindroma ini mengakibatkan kekakuan pada otot leher. Peradangan (pembengkakan) atau iritasi yang terjadi pada jaringan ikat yang berada pada sekitar persendian. Penyakit ini akibat posisi bahu yang janggal seperti mengangkat bahu di atas kepala dan bekerja dalam waktu yang lama. Durasi yang lama dan gerakan yang berulang juga mempengaruhi kesakitan pada bahu. Cidera Pada Bahu dan Leher Pekerjaan dengan melibatkan bahu memiliki kemungkinan yang besar dalam penyebabkan cidera pada bagian tubuh tersebut. kejang otot. 15 . 2007)  Tension Neck Syndrome. studi lainnya menyatakan bahwa kejadian cidera bahu juga disebabkan karena eksposur dengan postur janggal dan beban yang diangkat (Bernard et al. 1997). Gejala ini terjadi pada leher yang mengalami ketegangan pada otot-ototnya disebabkan postur leher menengadah ke atas dalam waktu yang lama. Beberapa postur bahu seperti merentang lebih dari 45° atau mengangkat bahu ke atas melebihi tinggi kepala.6 Posisi Kerja yang Berisiko Pada Bahu (Sumber: NIOSH.

Cidera Pada Punggung dan Lutut Di beberapa jenis pekerjaan. Kondisi patologis yang mempengaruhi tulang. dibutuhkan pekerjaan lantai atau mengangkat beban yang menyebabkan postur punggung tidak netral. syaraf. terdapat 80% orang dewasa mengalami nyeri pada bagian tubuh belakang (back pain) karena berbagai sebab dan kejadian back pain ini mengakibatkan 40% orang tidak masuk kerja. intervertebral disc dari lumbar spine (tulang belakang). membungkuk. Posisi berlutut. ligamen. 2007) C. 16 . Cidera pada punggung dikarenakan otot-otot tulang belakang mengalami peregangan jika postur punggung membungkuk.Gambar 2. atau jongkok bisa menyebabkan sakit pada punggung bagian bawah atau pada lutut.  Low Back Pain.7 Posisi Kerja yang Berisiko Pada Leher (Sumber: NIOSH. 2007). jika dilakukan dalam waktu yang lama dan kontinyu mengakibatkan masalah yang serius pada otot dan sendi (NIOSH. tendon. Menurut Ablett (2001) dalam Santoso (2004). Diskus (discs) mengalami tekanan yang kuat dan menekan juga bagian dari tulang belakang termasuk syaraf.

maka diskus akan melemah yang pada akhirnya menyebabkan putusnya diskus (disc rupture) atau biasa disebut herniation.getaran. penjahit dan perawat. Pekerjaan yang berisiko antara lain Pekerja lapangan atau bukan lapangan. pelayan. operator. force/ gaya. batuk atau mengganti posisi. Gejala yang dirasakan adalah Sakit di bagian tertentu yang dapat mengurangi tingkat pergerakan tulang belakang yang ditandai oleh kejang otot.beban objek. repetisi. Tekanan yang berlangsung terus 17 . sales. pekerjaan manual handling. dan ketidakpuasan terhadap pekerjaan.8 Posisi Kerja yang Menyebabkan Cidera Pada Punggung (Sumber: NIOSH.tekhnisian dan manajernya. Sakit ketika mengendarai mobil. 2007)  Penyakit musculoskeletal yang terdapat di bagian lutut berkaitan dengan tekanan pada cairan di antara tulang dan tendon. Sakit daritingkat menengah sampai yang parah dan menjalar sampai ke kaki. Gambar 2. profesional. Sulit berjalan normal dan pergerakan tulang belakang menjadi berkurang. supir truk. postur janggal. pekerjaan yang berhubungan dengan tulismenulis dan pengetikan.Apabila postur membungkuk ini berlangsung terus menerus. Faktor risiko yang dapat menimbulkan LBP adalah Pekerjaan manual yang berat.

18 . lupus eritomatosus sistemik dan polimiositis. Tekanan dari luar ini juga menyebabkan tendon pada lutut meradang yang akhirnya menyebabkan sakit (tendinitis).2. Yang masuk kedalam kelompok ini adalah pasien yang menderita nyeri punggung. dapat telihat sakit kronis dengan kelemahan umum.1. arthritis atau bursitis. Pasien pada penyakit local pada dasarnya merupakan individu sehat yang menderita keterbatasan gerakan dan nyeri pada suatu daerah tertentu. membengkak. Gambar 2. kaku.9 Posisi Kerja yang Menyebabkan Cidera Pada Lutut (Sumber: NIOSH.menerus akan mengakibatkan cairan tersebut (bursa) tertekan. dan meradang atau biasa disebut bursitis. tennis elbow. dan penyakit ini dapat mempunyai dampak yang besar sekali. 2007) 2. nyeri dan kaku sendi secara berkala. Pasien dengan penyakit sistemik seperti arthritis rematoid. Meskipun pasien2 ini hanya mempunyai gejala-gejala local. disability yang dideritanya dapat sangat membatasi kemampuan kerja mereka.3 Pemeriksaan Fisik Musculoskeletal Penyakit system musculoskeletal dapat dibagi menjadi 2 golongan: penyakit sistemik dan penyakit local.

Rentang gerak aktif adalah gerakan yang dilakukan pasien karena mengerakkan otototot tubuhnya. Rentang gerak pasif adalah gerakan yang terjadi karena pemeriksa menggerakkan tubuh pasien. Rentang gerak pasif biasanya sama dengan rentang gerak aktif kecuali pada kelumpuhan otot atau reptur tendo. Apakah gerakan menimbulkan rasa sakit Pada pemeriksaan sendi. rentang gerak sangat penting. krepitasi dan pergerakan yang abnormal 3) Move a. Apakah dapat bergerak pasif atau aktif b. 1) Look (inspeksi). Palpasi merupakan pemeriksaan yang memberi informasi dua arah. Perlukaan atau kemerahan b. Gerakan sendi diukur dalam derajat lingkaran dengan sendi itu dipusatnya. Apakah ada nyeri tekan. a. Jika suatu anggota tubuh diekstesikan dengan tulang 19 .Pemeriksaan fisik system musculoskeletal akan lebih komprehensif bila mengikuti anjuran apley. karena itu perhatikan wajah pasien atau tanyakan apakah yang diraba nyeri. Feel. selain itu perhatikan apakah ada perabaan teraba sesuatu yang lain dari normal b. Tiap sendi memiliki rentang gerak yang khas yang dapat diperiksa secara pasif dan aktif. yaitu dengan Look. yaitu pemeriksaan dengan melihat bagaimana keadaan a. Deformitas 2) Feel (palpasi). dan Move. Pembengkakan c.

Posisi nol adalah posisi netral untuk sendi itu. sendi itu dikatakan dalam posisi nol. Konsep rentang gerak dilukiskan dalam gambar 2.10 Gambar 2. Kalau sendi difleksikan.10 Konsep Rentang Gerak Ada 6 macam gerakan dasar pada sendi .membentuk garis lurus. yaitu:  Fleksi dan ekstensi  Dorsifleksi dan plantar fleksi  Aduksi dan abduksi  Inversi dan eversi  Rotasi internal dan eksternal  Pronasi dan supinasi 20 . sudut ini meningkat.

rotasi internal dan eksternal. pergelangan tangan palmar tangan mengarah keatas *jika gerakan melebihi posisi nol. pingggul Memutar permukaan plantar kaki kedalam Eversi Memutar permukaan plantar kaki keluar Rotasi internal Memutar permukaan anterior ekstrimitas kedalam Rotasi eksternal Memutar permukaan Bahu.1. pinggul.Tabel 2. jari tanagan Pergelangan kaki. dikatakan ada hiperekstensi +pada tangan atau kaki garis tengah adalah garis yang berturut-turut ditarik melalui jari tengah lengan atau kaki. metakarpofalangeal. pergelangan tangan. jari kaki. jari tanagan) Sendi bahu. pergelangan tangan palmar tangan mengarah kebawah Supinasi Rotasi sehingga permukaan Siku.11. Gerakan sendi bahu adalah abduksi dan adduksi. Gerakan bahu digambarkan pada gambar 2. (pergelangan tangan. fleksi dan ekstensi. 21 . pingggul anterior ekstrimitas keluar Pronasi Rotasi sehingga permukaan Siku. metatarsofalangeal Sendi bahu. metakarpofalangeal. Gerakan Sendi Gerakan Fleksi Ekstensi Dorsifleksi Definisi Gerakan menjauhi posisi nol Gerakan kembali keposisi nol* Gerakan dalam arah permukaan dorsal Plantar(atau palmar) fleksi Gerakan dalam plantar(atau) plamar arah Aduksi Gerakan tengah+ ke arah garis Abduksi Gerakan tengah menjauhi garis Inverse Contoh Kebanyakan sendi Kebanyakan sendi Pergelangan kaki. pinggul. metatarsofalangeal Sendi subtalar dan midtarsal kaki Sendi subtalar dan midtarsal kaki Bahu. jari kaki.

11 Rentang Gerak di Bahu.12 Rentang Gerak Sendi Siku (A) Fleksi dan Ekstensi. (B) supinasi dan pronasi 22 .Gambar 2. (A) Abduksi dan Adduksi. serta supinasi dan pronasi. (C) Rotasi internal dan eksternal Gerakan-gerakan sendi siku adalah fleksi dan ekstensi.12 Gambar 2. (B)Fleksi dan Ekstensi. Gerakan-gerakan ini diperlihatkan dalam gambar 2.

14 Gambar 2.13. (B) Fleksi 23 . Rentang Gerak Sendi Pergelangan Tangan (A) Dorsifleksi(ekstensi) dan fleksi palmar. Rentang gerak sendi jari tangan (A) abduksi dan adduksi.Gerakan sendi pergelangan tangan adalah dorsifleksi (atau ekstensi) dan fleksi palmar.gerakan ini dilukiskan dalam gambar 2. (B) Supinasi dan pronasi Gerakan sendi jari tangan adalah abduksi dan aduksi serta fleksi. Gambar 2.14. Gerakan.13. serta supinasi dan pronasi. Gerakan-gerakan ini dilukiskan dalam gambar 2.

(B) aposisi Gerakan-gerakan sendi pinggul adalah fleksi dan ekstensi. Gerakan-gerakan ini dilukiskan dalam gambar 2. Gambar 2. Rentang Gerak Sendi Pinggul (A) fleksi dan ekstensi (B).16. Gerakan-gerakan ini dilukiskan dalam gambar 2.16. dan aposi.15 Gambar 2.Gerakan sendi ibu jari adalah fleksi dan ekstensi. abduksi dan aduksi. abduksi dan aduksi.15 Rentang gerak ibu jari (A) fleksi dan ekstensi. serta rotasi internal dan eksternal. (C) rotasi internal dan eksternal 24 .

(B) eversi dan inverse 25 . Gerakan-gerakan ini dilukiskan dalam gamabar 2. serta eversi dan inverse.17 Gerakan-gerakan sendi pergelangan kaki adalah dorsifleksi dan fleksi plantar.18 Gambar 2.17 Rentang gerak sendi lutut fleksi dan hiperekstensi Gambar 2. Gerakan-gerakan ini dilukiskan dalam gamabar 2.Gerakan-gerakan sendi lutut adalah fleksi dan hiperekstensi.18 Rentang gerak sendi pergelangan kaki dan sendi kaki (A) dorsifleksi dan fleksi plantar.

A. Gerakan-gerakan sendi vertebra lumbalis adalah fleksi dan ekstensi. rotasidan fleksi lateral.20 Sendi Vertebrata Lumbalis Fleksi dan Ekstensi. fleksi lateral.Gerakan-gerakan sendi leher adalah fleksi dan ekstensi. B. Gerakan-gerakan ini dilukiskan dalam gambar 2. C. Fleksi dan ekstensi. Gerakan-gerakan ini dilukiskan dalam gambar 2.19 Gambar 2.19 Rentang Gerak Vertebra Servikalis. rotasi dan ekstensi lateral. rotasi.20 Gambar 2. Rotasi dan Ekstensi Lateral 26 .

BRIEF digunakan untuk menentukan sembilan bagian tubuh yang dapat beresiko terhadap terjadinya CTD (Cummulative Trauma Disorders) atau risiko gangguan kesehatan pada sistem rangka. tenaga. Rapid Upper Limb Assessment (RULA) RULA menyediakan sebuah dasar perhitungan dari beban pada musculoskeletal dalam pekerjaan ketika seseorang mempunyai risiko pada leher dan anggota badan bagian atas (McAtamney and Corlett. tangan kanan dan pergelangnya.2. Risiko dihitung ke dalam sebuah skor dari 1 (terendah) sampai 7 (tertinggi). Baseline Risk Identification of Ergonomics Factors (BRIEF) Baseline Risk Identification of Ergonomics Factors (BRIEF) adalah alat penyaring awal menggunakan struktur dan bentuk sistem tingkatan untuk mengidentifikasi penerimaan tiap tugas dalam suatu pekerjaan.4 Metode Penilaian Ergonomi A. leher. sedang. 1995) Survei ini mengidentifikasi risiko-risiko yang berhubungan dengan postur. mudah dipahami. bahu kanan dan kaki (Humantech. durasi dan frekuensi ketika mengobservasi ke-sembilan bagian tubuh tersebut.2. Penilaian pekerjaan menggambarkan tinjauan ulang ergonomi secara mendalam dari ketiga penetapan data (sederhana. RULA juga menyediakan nilai tunggal yang memberikan penilaian pada postur. Penilaian risiko digunakan untuk menentukan tinggi. 1993). Bagian tubuh yang dianalisa meliputi: tangan kiri. B. punggung. gerakan yang dibutuhkan. bahu kiri. dan pergelangannya. tenaga. dan dapat dipercaya) dan juga yang paling memberikan beban paling berat. Skor ini di kelompokan ke dalam empat tingkatan tindakan yang mendasari sebuah indikasi batasan waktu dimana kontrol terhadap risiko harus dilakukan. siku kiri. siku kanan. atau rendahnya risiko untuk setiap bagian tubuh. 1989. 27 .1.

OWAS menilai empat action level.1. 2000) dikembangkan untuk mengkaji postur bekerja yang dapat ditemukan pada industri pelayanan kesehatan dan industri pelayanan lainnya.2004). OVAKO Work Analysis System (OWAS) OWAS merupakan metode yang digunakan untuk mengevaluasi beban postur selama melakukan pekerjaan. Rapid Entire Body Assessment (REBA) REBA (Highnett and McAtamney. D. Seperti pekerjaan di belakang layar atau pekerjaan komputer. Data yang dikumpulkan termasuk postur badan. tenaga. tipe dari pergerakan. manufaktur. dimana faktor yang dinilai adalah punggung. Skor akhir REBA diberikan untuk memberi sebuah indikasi pada tingkat risiko mana dan pada bagian mana yang harus dilakukan tindakan penanggulangan. Faktor Pekerjaan Faktor risiko pekerjaan adalah karakteristik pekerjaan yang dapat meningkatkan risiko cedera pada sistem otot rangka.Metode ini digunakan untuk mengkaji postur. kekuatan yang digunakan. dan gerakan berangkai. atau pedagang dengan posisi duduk atau berdiri tanpa bergerak kemana-mana. Ada beberapa faktor yang terbukti berkontribusi menyebabkan MSDs yaitu pekerjaan yang dilakukan 28 . lengan.5 Faktor Risiko MusculoSkeletal Disorders A. C. OWAS lebih cocok digunakan untuk menilai pekerjaan yang bergerak seperti manual handling. Faktor risiko ergonomic adalah sifat/karakteristik pekerja atau lingkungan kerja yang dapat meningkatkan kemungkinan pekerja menderita gejala MSDs (LaDao. Metode REBA digunakan untuk menilai postur pekerjaan berisiko yang berhubungan dengan musculoskletal disorders/work related musculoskeletal disorders (WRMSDs).2. kaki dan beban. 2. dan gerakan yang dihubungkan dengan pekerjaan yang menetap atau tidak berpindah pindah. gerakan berulang.

Sebagai contoh pekerjaan statis berupa duduk terus menerus. Bridger (1995) menyatakan bahwa postur didefinisikan sebagai orientasi rata-rata bagian tubuh dengan memperhatikan satu sama lain antara bagian tubuh yang lain. Pekerjaan yang dikerjakan dengan duduk dan berdiri. meskipun postur terlihat nyaman dalam bekerja. dan persendian. - Dinamis 29 . ligamen. akan menyebabkan gangguan pada tulang belakang manusia. Dengan keadaan statis suplai nutrisi kebagian tubuh akan terganggu begitupula dengan suplai oksigen dan proses metabolisme pembuangan tubuh. durasi. dan genggaman. bahu. seperti pada pekerja kantoran dapat mengakibatkan masalah pada punggung. leher dan bahu serta terjadi penumpukan darah di kaki jika kehilangan kontrol yang tepat. Hal ini mengakibatkan cedera pada leher. Secara alamiah postur tubuh dapat terbagi menjadi: - Statis Pada postur statis persendian tidak bergerak. a) Postur Kerja Postur tubuh adalah posisi relatif dari bagian tubuh tertentu. Posisi tubuh yang senantiasa berada pada posisi yang sama dari waktu kewaktu secara alamiah akan membuat bagian tubuh tersebut stress.dengan postur tubuh saat bekerja. dan beban yang ada adalah beban statis. dan lain-lain. gerakan repetitive/frekuensi. Posisi tubuh yang menyimpang secara signifikan terhadap posisi normal saat melakukan pekerjaan dapat menyebabkan stress mekanik lokal pada otot. pergelangan tangan. beban. tulang belakang. dapat berisiko juga jika mereka bekerja dalam jangka waktu yang lama. Postur dan pergerakan memegang peranan penting dalam ergonomi. Namun di lain hal.

Durasi selama bekerja akan berpengaruh terhadap tingkat kelelahan. Penelitian lain membuktikan bahwa hernia diskus lebih sering terjadi pada pekerja yang mengangkat barang berat dengan postur membungkuk dan berputar (Levy dan Wegman. 2000). 1989) c) Durasi (Duration) Durasi adalah lamanya pajanan dari faktor risiko. Pekerjaan yang dilakukan secara dinamis menjadi berbahaya ketika tubuh melakukan pergerakan yang terlalu ekstreme sehingga energi yang dikeluarkan oleh otot menjadi sangat besar. b) Beban atau Tenaga (Force) Beban dapat diartikan sebagai muatan (berat) dan kekuatan pada struktur tubuh. 1997). Atau tubuh menahan beban yang cukup besar sehingga timbul hentakan tenaga yang tiba-tiba dan hal tersebut dapat menimbulkan cedera (Aryanto. 2008). Satuan beban dinyatakan dalam newton atau pounds. Pekerja yang melakukan aktivitas mengangkat barang yang berat memiliki kesempatan 8 kali lebih besar untuk mengalami low back pain dibandingkan pekerja yang bekerja statis.Posisi yang paling nyaman bagi tubuh adalah posisi netral. Pembebanan fisik yang dibenarkan adalah pembebanan yang tidak melebihi 30. atau dinyatakan sebagai sebuah proporsi dari kapasitas kekuatan individu (NIOSH.semakin berat beban maka semakin singkat pekerjaan. Kelelahan akan menurunkan kinerja. 30 .(Suma’mur.40% dari kemampuan kerja maksimum tenaga kerja dalam 8 jam sehari dengan memperhatikan peraturan jam kerja yang berlaku. Dalam berbagai penelitian dibuktikan cedera berhubungan dengan tekanan pada tulang akibat membawa beban. Semakin berat benda yang dibawa semakin besar tenaga yang menekan otot untuk menstabilkan tulang belakang dan menghasilkan tekanan yang lebih besar pada bagian tulang belakang.

Durasi atau lamanya waktu bekerja dibagi menjadi durasi singkat yaitu kurang dari 1 jam/hari. dapat dikarakteristikan baik sebagai kecepatan pergerakan tubuh. Pekerjaan fisik yang berat akan mempengaruhi kerja otot. Selain itu. ada pula yang menyebut durasi manual handling yang berisiko adalah > 10 detik (Humantech. kemampuan tubuh akan menurun dan dapat menyebabkan kesakitan pada anggota tubuh. Suma’mur (1989) mengungkapkan bahwa durasi berkaitan dengan keadaan fisik tubuhpekerja. system pernapasan dan lainnya. Dalam Humantech (1995). Durasi manual handling yang lebih besar dari 45 menit dalam 1 jam kerja adalah buruk dan melebihi kapasitas fisik pekerja. Gerakan repetitif dalam pekerjaan. atau dapat di perluas sebagai gerakan yang dilakukan secara berulang tanpa adanya variasi gerakan Bridger (1995) menyatakan bahwa aktivitas berulang. pergerakan yang cepat dan membawa beban yang berat dapat menstimulasikan saraf reseptor mengalami sakit.kenyamanan dan konsentrasi sehingga dapat menyebabkan kecelakaan kerja. maka dapat disebut sebagai repetitive. Frekuensi terjadinya sikap tubuh yang salah terkait dengan beberapa kali terjadi repetitive motion dalam melakukan suatu pekerjaan. Jika aktivitas pekerjaan dilakukan secara berulang. Keluhan otot terjadi karena otot menerima tekanan akibat beban kerja terus menerus tanpa memperolah kesempatan untuk relaksasi. durasi sedang yaitu antara 1-2 jam/hari dan durasi lama yaitu lebih dari 2 jam/hari. Sedangkan dalam REBA. d) Pekerjaan Berulang (Frequency) Frekuensi dapat diartikan sebagai banyaknya gerakan yang dilakukan dalam suatu periode waktu. Jika pekerjaan berlangsung dalam waktu yang lama tanpa istirahat. posisi tangan dan 31 . kardiovaskular. 1995). aktivitas yang berisiko adalah 1 menit jika ada satu atau lebih bagian tubuh yang statis.

Penggunaan definisi ini. leher.pergelangan tangan berisiko apabila dilakukan gerakan berulang/frekuensi sebanyak 30 kali dalm semenit dan sebanyak 2 kali per menit untuk anggota tubuh seperti bahu. Penelitian tersebut 32 . 56% dari pekerja perakitan menderita penyakit pada lengan bawah dan atau pergelangan tangan. Beberapa studi telah dilakukan yang memberikan indikasi tingkat bahaya dari pekerjaan dengan tangan. punggung dan kaki. dibandingkan dengan kelompok control hanya 14%. Penelitian menemukan secara statistic hubungan yang signifikan (p<0. Pekerja perakitan dikarakteristikan dengan gerakan tangan yang berulang-ulang. Kenyataannya. Gerakan lengan dan tangan yang dilakukan secara berulang-ulang terutama pada saat bekerja mempunyai risiko bahaya yang tinggi terhadap timbulnya CTDs. Tingkat risiko akan bertambah jika pekerjaan dilakukan dengan tenaga besar. dalam waktu yang sangat cepat dan waktu pemulihan kurang. hubungan yang signifikan ditemukan antara kegiatan berulang-ulang (repetitiveness) dan keberadaan CTD.000 atau lebih untuk tiap hari kerja (kira-kira 50 gerakan tangan per menit) berkontribusi terhadap perkembangan CTD. Silvertein (1987) mendefinisikan pekerjaan berulang sebagai salah satu dengan waktu putaran kurang dari 30 detik atau lebih dari 50% waktu putaran disimpan untuk menampilkan aksi pokok yang sama.001) anatara pekerja perakitan dan keberadaan sindrom otot-tendon dan CTD. Luopajarvi (1997) membandingkan prevalensi tenosynovitis dan penyakit lainnya pada pekerja perakitan. Lain halnya dalam penelitian Lie T Merijanti S (2005) yang meniliti mengenai gerakan repetitive berulang terhadap risiko terjadinya sindrom terowongan karpal pada pekerja wanita di pabrik pengolahan makanan. lebih dari 25. Studi ini menyarankan bahwa gerakan tangan sebanyak 25. dengan jari dan tangan secara tetap menangani mesin.000 gerakan tangan setiap hari kerja.

Jadi semakin tua umurnya semakin besar risiko terjadinya gangguan MSDs. e) Genggaman Terjadinya tekanan langsung pada jaringan otot yang lunak. Pada penelitian 33 . yaitu antara 25-65 tahun. B. penelitian lain dalam Hadler (2005) pada pekerja di Swedia menunjukkan hasil bahwa sekitar 70% di antara yang mengalami keluhan pada punggung berusia antara 35-40 tahun. dapat menyebabkan rasa nyeri otot yang menetap (Tarwaka et al. Pada saat kekuatan dan ketahanan otot menurun. maka jaringan otot tangan yang lunak akan menerima tekanan langsung dari pegangan alat. kekuatan dan ketahanan otot mulai menurun. pada saat tangan harus memegang alat. Menurut Suma’mur (1989) memegang diusahakan dengan tangan penuh dan memegang dengan hanya beberapa jari yang dapat menyebabkan ketegangan statis lokal pada jari tersebut harus dihindarkan. Sebagai contoh. (1995) dalam Tarwaka (2004) menyatkan bahwa pada umumnya keluhan musculoskeletal mulai dirasakan pada usia kerja. 2004). maka risiko terjadinya keluhan semakin meningkat. Selain itu. Chaffin (1979) dan Guo et al. Keluhan pertama biasa dirasakan pada usia 35 tahun dan akan terus meningkat sejalan dengan bertambahnya umur. yaitu repetitif rendah bila jumlah gerakan <1000/jam. Hal ini terjadi karena pada umur setengah baya. (1989) dalam Tarwaka (2004) menjelaskan bahwa umur berhubungan dengan keluhan pada otot. dan apabila hal ini sering terjadi.mengkategorikan jumlah gerakan repetitif tangan/jam kedalam 3 katagori. Faktor Individu a) Umur Riihimaki et al. repetitif sedang bila jumlah gerakan 1000–1200/jam dan repetitive tinggi bila jumlah gerakan >1200/jam.

Hanne dan kawan-kawan (1995) pada pekerja perusahaan kayu dan furniture. Dapat berupa masa kerja dalam suatu perusahaan dan masa kerja dalam suatu unit produksi. kemampuan otot wanita lebih rendah dibanding pria. b) Masa Kerja Masa kerja merupakan faktor risiko dari suatu pekerja yang terkait dengan lama bekerja. Riihimaki et al. d) Kebiasaan merokok Setiap rokok/cerutu mengandung lebih dari 4. (1993). terutama untuk jenis pekerjaan yang menggunakan kekuatan kerja yang tinggi. (1989) menjelaskan bahwa masa kerja mempunyai hubungan yang kuat dengan keluhan otot. dimana 400 dari bahan-bahan tersebut dapat meracuni dan 40 dari bahan tersebut 34 . Bernard et al. diketahui bahwa LBP berhubungan dengan usia dan masa kerja yang lebih lama. c) Jenis Kelamin Secara fisiologis. (1994) dan Johansen (1994) yang menunjukkan bahwa perbandingan keluhan otot antara pria dan wanita adalah 1:3. (1994). Tarwaka (2004) juga mencatat hasil penelitiannya lainnya oleh Chiang et al. Pada penelitian Hanne dan kawan-kawan (1995) pada pekerja perusahaan kayu dan furniture.000 jenis bahan kimia. Astrand dan Rodahl (1977) dalam Tarwaka (2004) menjelaskan bahwa kekuatan otot wanita hanya sekitar dua pertiga dari kekuatan otot pria sehingga daya tahan otot pria lebih tinggi dibandingkan otot wanita. Masa kerja merupakan faktor risiko yang sangat mempengaruhi seorang pekerja untuk meningkatkan risiko terjadinya musculoskeletal disorders. diketahui bahwa LBP berhubungan dengan usia dan masa kerja yang lebih lama. Hales et al.

2004). Perokok lebih memiliki kemungkinan menderita masalah punggung dari pada bukan perokok. cadmium.dapat menyebabkan kanker. Semakin lama atau semakin tinggi frekuensi merokok semakin tinggi pula tingkat keluhan otot yang dirasakan. polonium-210 dan vinyl chloride serta zat berbahaya lainnya. 1991). Selain itu juga terdapat zat karbot mono oksida. Beberapa penelitian membuktikan bahwa meningkatnya keluhan otot terkait dengan lama dan tingkat kebiasaan merokok. arsenic.000 orang yang merokok sering mengeluhkan rasa ridak nyaman pada musculoskeletal dan rasa lumpuh terhadap cidera musculoskeletal dibandingkan mereka yang tidak pernah merokok. Jantung tidak diberikan kesempatan istirahat dan tekanan darah akan semakin meninggi. Semakin lama dan semakin tinggi frekuensi merokok. Palmer juga mengatakan penyebab perokok lebih merasakan sakit musculoskeletal antara lain: 1) Zat nikotin yang terkandung di dalam rokok merupakan stimulan kuat yang secara efektif menjalankan respon sakit pada tubuh perokok 2) Asap rokok mungkin menyebabkan kerusakan umum pada jaringan musculoskeletal dengan cara mengurangi suplai darah ke jaringan 35 . semakin tinggi pula tingkat keluhan yang dirasakan (Tarwaka et al. tar. formaldehyd. Zat berbahaya didalam rokok diantaranya adalah nikotin Efek nikotin menyebabkan perangsangan terhadap hormon kathekolamin (adrenalin) yang bersifat memacu jantung dan tekanan darah. naphthalene. Efeknya adalah hubungan dosis yang lebih kuat dari pada yang diharapkan dari efek batuk risiko meningkat sekitar 20% untuk setiap 10 batang rokok perharin (Pheasant. berakibat timbulnya hipertensi.seperti survey yang dilakukan di Britania oleh Palmer et al (1996) ditemukan 13. DDT. Hal ini disebabkan rokok dapat merusak jaringan otot dan mengurangi respon syaraf terhadap rasa sakit. hydrogen cyanidhe.

kemudian timbul rasa lelah hingga nyeri otot.musculoskeletal. atau mengurangi aliran nutrisi ke otot dan sendi Tarwaka (2004) mencatat salah satu penelitian oleh Boshuizen et al. Hal ini terjadi karena kebiasaan merokok akan dapat menurunkan kapasitas paru sehingga kemampuan menghirup oksigen menurun. Bila orang tersebut dituntut untuk melakukan tugas yang 36 . (1993) yang hasilnya menemukan hubungan yang signifikan antara kebiasaan merokok dengan keluhan otot pinggang terkait pekerjaan yang memerlukan pengerahan otot yang besar. Mereka yang telah berhenti merokok selama setahun memiliki risiko LBP sama dengan mereka yang tidak merokok. Meningkatnya keluhan otot sangat erat hubungannya dengan lama dan tingkat kebiasaan merokok. sehingga menyebabkan tekanan pada bagian tulang belakang serta kandungan zat kimia dalam rokok dapat mempengaruhi berkurangnya kandungan mineral dalam tulang yang berakibat microfractures. lalu penumpukan asam laktat di otot. meningkatkan penggumpalan darah. Pendapat serupa dinyatakan dalam NIOSH (1997). yang mengunkapkan bahwa merokok juga dapat menimbulkan rasa sakit pada punggung karena disebabkan batuk yang diderita perokok dapat meningkatkan tekanan pada abdominal dan intradiscal. Perokok lebih memiliki kemungkinan menderita masalah punggung dari pada bukan perokok. Efeknya adalah hubungan dosis dan lebih kuat dari pada yang diharapkan dari efek batuk. Risiko meningkat 20% untuk tiap 10 batang rokok per hari. Akibatnya adalah kekuatan dan ketahanan otot menurun karena suplai oksigen ke otot juga menurun sehingga produksi energi terhambat. sehingga kemampuannya untuk mengkonsumsi oksigen akan menurun. Kebiasaan merokok akan menurunkan kapasitas paru-paru.

menuntut pengerahan tenaga. atau disebut juga olahraga kekuatan. yaitu: kekuatan.(Ariani. Olahraga statis berat sebagai contoh adalah angkat besi atau angkat berat. daya tahan. kekuatan. kelenturan. keseimbangan. mengganggu penyerapan kalsium pada tubuh sehingga meningkatkan risiko terkena osteoporosis. Kesepuluh komponen tersebut dapat diperkuat melalui kebiasaan olahraga. maka akan mudah lelah karena kandungan oksigen dalam darah rendah (Jeanie Croasmun. otot pernafasan dan otototot rangka tubuh. Olahraga dapat dikelompokkan dalam bentuk statis dan dinamis. kelincahan. dan lebih melancarkan aliran darah ke dalam sel-sel tubuh. menghambat penyembuhan luka patah tulang serta menghambat degenerasi tulang. Dengan berolahraga teratur dapat mencegah kegemukan dengan segala dampak negatifnya. risiko keluhan menjadi tiga kali lipat dibandingkan yang memiliki kekuatan fisik tinggi. Olahraga statis digolongkan kedalam 2 bagian yaitu berat dan ringan. Hal ini dikarenakan efek rokok akan menciptakan respon rasa sakit atau sebagai permulaan rasa sakit. kecepatan. Bagi pekerja dengan kekuatan fisik yang rendah. Olahraga semacam itu memang ditunjukkan untuk memperbesar dan memperkuat otot. Kesegaran tubuh terdiri dari 10 komponen. orangnya tidak berpindah-pindah. seperti otot jantung. ketepatan dan waktu reaksi. menguatkan dan lebih mengefisienkan kinerja otot. e) Kebiasaan Olahraga Tingkat kesegaran jasmani yang rendah akan meningkatkan risiko terjadinya keluhan otot. koordinasi. Olahraga ini 37 .otot tubuh. 2003).2009) Kusmana (2007) menjelaskan bahwa olahraga adalah menggerakkan tubuh dalam jangka waktu tertentu. dan pembuangan bahan-bahan sisa dari sel-sel tubuh menjadi lebih baik. Croasmun (2003) juga menanbahkan bahwa perokok memiliki risiko 50 % lebih besar untuk merasakan MSDs. Disebut statis artinya dilakukan ditempat.

tetapi akhirnya setelah melakukan pengamatan yang lama ia mengakui bahwa olahraga 3 kali dalam seminggu saja sudah cukup. panahan. Olahraga dengan beban ringan seperti dumble yang dilakukan dengan jumlah angkatan tertentu (sampai 12 kali) dapat meningkatkan kekuatan otot. mendayung 2000 m. skate 10. Ditambahkan pula oleh Kusmana (2007) yang mengungkapkan mengenai frekuensi olahraga menurut pendapat seorang penganjur olahraga aerobic yaitu Cooper. mudah. Badan memerlukan pemulihan selesai berolahraga sehingga satu hari olahraga dan satu hari lainnya tidak. Olahraga dinamis mampu meningkatkan aliran darah sehingga sangat menunjang pemeliharaan jantung dan system pernapasan. lari 1-5 km. Adapun yang di maksud dengan Konsep Olahraga Kesehatan adalah: Padat gerak. Adekuat artinya cukup. adekuat. yaitu cukup dalam waktu (10-30 menit tanpa henti) dan cukup dalam 38 .000 m. singkat (cukup 10-30 menit tanpa henti). massaal.tidak memberikan manfaat yang berarti untuk sistem aliran darah maupun jantung. murah. Olahraga statis ringan contohnya mengangkat dumble berkali-kali. berenang 400 m. artinya selang sehari. jogging dan jalan cepat. meriah dan fisiologis (bermanfaat dan aman). cukup memberi kesempatan pada otot dan persendian untuk memulihkan diri.tenis. Kusmana (2007) menyebutkan olahraga yang baik untuk kesehatan jantung dan peredaran darah diantaranya adalah marathonb. ketegangan otot-otot tidak menjadi tujuan. sebab yang diinginkan adalah bertambahnya aliran darah. Setiap olahraga dinamis ditandai dengan memanjang dan memendeknya otot-otot. Berbagai penelitian menunjukkan frekuensi latihan minimal 3 kali seminggu pada hari yang bergantian. dan olahraga aerobic lainnya. Dahulu Cooper menyampaikan untuk setiap hari berolahraga. bebas stress. Otot yang bertambah kuat akan mampu melakukan gerakan yang lebih lama sehingga aliran darah kejantung akan lebih meningkat. ). lari gawang 200-800 m.

Vibrasi memiliki 2 parameter yaitu: kecepatan dan intensitas (Oborne. Menurut Cooper (1994). Pada frekuensi 10-20 Hz dapat menyebabkan sakit kepala dan tegangan mata. 1992). Komplain akan sakit punggung biasanya terjadi jika terdapat getaran 8-12 Hz (Pulat. bahkan menyebabkan kesulitan bernafas. sedangkan pada frekuensi 4-10Hz akan menimbulkan nyeri pada abdominal. Getaran juga dapat menyebabkan kontraksi otot meningkat yang menyebabkan peredaran darah tidak lancar. 1995). Beda suhu lingkungan dengan suhu tubuh mengakibatkan sebagian energi di dalam tubuh dihabiskan untuk mengadaptasikan suhu tubuh terhadap 39 . Vibrasi dengan frekuensi 4-8 hz (frekuensi natural dari trunk) dapat menimbulkan efek nyeri. Vibrasi yang ditimbulkan oleh mesin biasanya sangat komplek tapi regular. 2007). khususnya untuk bagian tubuh dada. b) Suhu Pajanan pada udara dingin. aliran udara. Vibrasi secara sederhana dapat didefinisikan sebagai gerakan ditimbulkan tubuh terhadap titik tertentu. penggunaan otot yang berlebihan untuk memegang alat kerja dapat menurunkan resiko ergonomi. C. peralatan sirkulasi udara dan alat-alat pendingin dapat mengurangi keterampilan tangan dan merusak daya sentuh.intensitasnya. intensitas Olahraga Kesehatan yang cukup yaitu apabila denyut nadi latihan mencapai 65-80% DNM (Denyut nadi maximal: 220-umur dalam tahun) (Santosa. Faktor Lingkungan a) Getaran Getaran ini terjadi ketika spesifik bagian dari tubuh atau seluruh tubuh kontak dengan benda yang bergetar seperti menggunakan power handtool dan pengoperasian forklift saat mengangkat beban. sehingga terjadi peningkatan timbunan asam laktat yang dapat menimbulkan rasa nyeri.

Faktor Psikososial Faktor psikososial yaitu kepuasan kerja. Rata-rata gerakan udara dalam ruang yang ditempati tidak melebihi 0. Apabila tidak disertai pasokan energi yang cukup akan terjadi kekurangan suplai energi ke otot (Tarwaka. akan membuat tubuh beradaptasi untuk mendekati cahaya. waktu istirahat. Organisasi kerja didefinisikan sebagai distribusi dari tugas kerja tiap waktu dan diantara para pekerja. 1995).lingkungan. 1992). maka performa kerja dalam pekerjaan fisik akan menurun (Pulat. 1997). Kecepatan udara di bawah 0.15 m/det untuk musim dingin dan 0. organisasi kerja (shift kerja. durasi dari tugas 40 . Hal ini berkaitan dengan tingkat pekerjaan yang membutuhkan tingkat ketilitian yang tinggi atau tidak. dll) (Dinardi. suhu udara dalam ruang yang dapat diterima adalah berkisar antara 20-24 ºC (untuk musim dingin) dan 23-26 ºC (untuk musim panas) pada kelembapan 35-65%. 2004).25 m/det untuk musim panas. stress mental. Berdasarkan rekomendasi NIOSH (1984) tentang kriteria suhu nyaman.07 m/det akan memberikan rasa tidak enak di badan dan rasa tidak nyaman. postur seperti ini dapat menambah risiko MSDs. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa pada temperature 27-30 ºC. c) Pencahayaan Pencahayaan akan mempengaruhi ketelitian dan performa kerja. D. Pencahayaan yang inadekuat dapat merusak salah satu fungsi organ tubuh. Bila pencahayaan yang inadekuat pada ruangan kerja akan menyebabkan postur leher lebih condong kedepan (fleksi) begitupun dengn postur tubuh. Bekerja dalam kondisi cahaya yang buruk. Jika hal tersebut terjadi dalam waktu yang lama meningkatkan tekanan pada otot bagian atas tubuh (Bridger.

tulang belakang dan struktur yang berkaitan secara medikamentosa. Ditemukan bahwa kerja VDU yang melebihi empat jam per hari berhubungan dengan gejala pada leher (Riihimaki. sehingga akibat dari satu penyakit.kerja dan durasi serta distribusi dari periode istirahat. 2. Disability Akibat dari suatu gangguan fungsi organ dalam stadia penyembuhan maka fungsi social maupun pekjerjaan mulai dapat dilakukan (beberapa macam pekerjaan) 41 . Terdapat 3 stadia gangguan kegiatan pasien akibat dari suatu penyakit. Bernard et al (1997) menyatakan bahwa walaupun banyak penelitian yang menunjukkan MSDs dipengaruhi oleh faktor psikososial tetapi umumnya memiliki kekuatan yang lemah.2 Kecacatan di Sistem Muskuloskeletal Ortopedi adalah suatu spesialisasi yang mencakup investigasi. Studi khusus pada pengaruh organisasi kerja pada gangguan leher telah dilakukan. 1. prevensi. restorasi dan perkembangan bentuk dan fungsi ektremitas. Impairement Kehilangan fungsi suatu organ atau bagian tubuh secara objektif dibandingkan dengan sebelumnya. Durasi kerja dan periode istirahat memiliki pengaruh pada kelelahan jaringan dan pemulihan. pembedahan dan dengan metoda fisik (AAOS 1960). Pernyataan Bernard tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Kerr et al (2001) menunjukkan bahwa faktor psikososial menyebabkan terjadinya MSDs tetapi memiliki hubungan yang lemah. akan timbul gangguan fungsi yang dapat bersifat sementara atau menetap. 1998). Sehingga dengan demikian yang dimaksud dengan penyakit ortopedi adalah penyakit yang mengenai sistem muskuloskeletal sehingga menimbulkan gangguan fungsi pergerakan yang kemudian menimbulkan hambatan dalam kegiatan pasien atau sistem musculoskeletal (otot kerangka) yang bertalian dengan fungsi yaitu gerak. tidak dapat melakukan pekerjaan secara total dan masih pula menerima pengobatan 2.

Pemeriksaan laboratorium rutin 2. trofi (pertumbuhan). Kelainan sebagaian atau seluruh anggota tubuh 2. Ukuran panjang atau pendek e. Apakah terdapat trauma? 2. Kelainan bentuk anatomi 3. Pemeriksaan Penunjang : 1. Apakah pasien tidak dapat bekerja sama sekali? 3. Apakah sudah mendapat terapi? 6. sehingga penderita ada keterbatasan dalam melakukan suatu pekerjaan yang tadinya dapat dikerjakan Untuk Impairement dan disability sifatnya sementara sedangkan untuk handicap sifatnya menetap. Handicapped Cacat yang menetap (permanent partial atau total). bawah dan tulang belakang secara keseluruhan dengan dasar pemeriksaan : a. Kelumpuhan 2. Kekakuan atau kelainan sendi f. Kelemahan (manual muscle test) C. Kelainan sensorik dan motorik c. Berapa lama telah berlangsung? 5. Pemeriksaaan rontgent minimal dalam 3 proyeksi Bila perlu dilakukan :  Proyeksi khusus untuk daerah tertentu 42 . Bagaimana status keadaan paien saat ini? Apakh sudah maksimum/stabil/ permanen ? B. Apakah dominasi penggunaan anggota gerak? Kidal atau kanan? 4. Amputasi b.3. Gangguan fungsi muskuloskeletal dapat terjadi akibat : 1.2. Kelainan yang dapat ditemukan a. Move (gerakan aktif atau pasif ) 3. Berapa lama waktu yang diperlukan untuk dapat kembali bekerja? 9. Kelainan tonus/lingkar (diameter) d. Sejak kapan terapi dilakasanakan dan sampai kapan? 7.1 Diagnosis Diagnosis bidang ortopedi ditegakkan melalui : A. Pemeriksaan ortopedi mencakup seluruh anggota gerak atas. Pemeriksaan Fisik 1. Look (inspeksi) b. Keadaan umum 2. deformitas h. Stabilitas dan gerak lingkup sendi g. Kelainan lain seperti : sikatriks. Kekakuan sendi 4. Feel (palpasi) c. Ananmesis 1. Masihkah diperlukan pengobatan rehabilitasi? 8.

       Tomografi Kontras (Arthrografi.64 tahun 2005. dan telah disempurnakan Peraturan Pemrintah No. dan diperbaharui kembali PP no. Kelumpuhan (Plegia) atau kelemahan (parese) Kelumpuhan dan kelemahan Tentukan daerah /gerakan sendi yang menggangu Tentukan tingkat kekuatan otot ( Manual Muscle Test : 0-5) Tentukan tingkat gangguan fungsi Nilai :  0 : tidak ada gerakan otot Kehilangan fungsi 100%  1 : Ada gerakan otot.53 tahun 2012) 2. Membandingkan dengan catatan medik awal 43 . 3 tahun 1992. Kekakuan Kehilangan fungsi dihitung dari perubahan derajat lingkup gerak sendi (LGS)/ Range of Motion dengan cara : 1. arteriografi) CT Scan/ Sacintigrafi MRI/NMR Ultra Sonografi Pemeriksaan Neurologik Elektromuskulografi (EMG) 2.2.2 Uraian Cacat Dan Penilaian Tingkat Cacat: 1. aturan ini tercantum dalam PP No. mielografi. tanpa gerakan sendi Kehilangan fungsi 80%  2 : Dapat menggerakkan sendi pada seluruh lingkup gerak sendi dan dapat melawan gravitasi Kehilangan fungsi 60%  3 : Dapat melawan gravitasi dan menggerakan otot tanpa tahanan. Amputasi Sebagian atau seluruhnya dari bagian anggota gerak Uraian :  Jelaskan bagian yang hilang  Tentukan daerah/ regio amputasi  Tentukan tinggi/ level amputasi  Tentukan tingkat gangguan fungsi  Penilaian tingkat cacat mengacu pada lampiran peraturan pemerintah nomor : 14 tahun 1993: (dengan berlakunya UU No. 14 tahun 1993. Kehilangan fungsi 50%  4 : Nilai 3 ditambah dengan tahanan ringan Kehilangan fungsi 20%  5 : Nilai 3 ditambah tahanan penuh (normal) Kehilangan fungsi 0% 3.

ekstensi dan abduksi : Gerak Flexi Ekstensi Abduksi Normal 175 45 180 400 Hasil Pemeriksaan 90 30 30 150 Kehilangan LGS 85 15 150 250 Maka kehilangan fungsi akibat kekakuan : 250/400 x 100% = 62. mengakibatkan kehilangan fungsi sebesar 5 % dari fungsi kedua tungkai dari pangkal paha ke bawah. Kasus Khusus a. LGS awal 90° (normal) Setelah terjadi kekakuan 60° : kehilangan LGS 90°-60° =30° Maka kehilangan fungsi menjadi 30/90 x 100% = 33. 5. Bandingkan dengan LGS sisi yang lain Bandingkan dengan LGS pemeriksa yang normal Contoh : 1.5 % 4. Sendi Lutut  Pasca minisektomi : 5%  Ruptur lig. Setiap perpendekan 0. Perpendekan (Discrepancy) Cacat akibat perpendekan hanya berlaku untuk anggota gerak bawah (tungkai). Bila suatu sendi terdapat gerakan yaitu : fleksi. Krusiatum : 20-30%  Patelektomi : 20%  Gangguan gerak o 0-110 :5% o 0-80 : 15% o 0-60 : 35% o 15-90 : 40% c.3 % 2. Nyeri pada anggota gerak dan tulang belakang 44 . d.2. Pergelangan kaki / kaki Impairment and loss physical handicap (diperhitungkan 80% dari anggota gerak bawah). 3. Sedangkan kekakuan sendi pergelangan kaki lebih besar dari tulang-tulang tarsalia dan tarsal-metatarsal lebih dari jari-jari kaki. Sendi panggul  Nilai terhadap seluruh badan 50%  Non union tanpa koreksi perbaikan : 75%  Lingkup gerak dan kedudukan kelainan : 50% b.5 inchi (2.5 m=cm) salah satu tungkai.

Terdapat kesukaran melakukan tugas/ kegiatan sehari-hari : 50% 3. khususnya untuk organ-organ tubuh yang langsung berkaitan dengan pelaksanaan kekurangan yaitu tangan dan kaki dan bagianbagiannya.2. Bila bukan maka pemeriksaan dilakukan sesuai dengan pemeriksaan psikiatri/psikologi Penentuan kecacatan sebaiknya dilakukan setelah menjalani pengobatan selama 6 bulan untuk periode penyembuhan luka dan 24 bulan untuk penyembuhan komplikasi vaskuler Penilaian kecacatan juga ditentukan sisi mana yang terkena. Sisi yang bukan sisi dominan maka kecacatan dikurangi 5 % bila penurunan fungsi sebesar 5-50% dan dikurangi 10% bila penurunan fungsi sebesar 51100% Penilaian kecacatan yang disebabkan oleh penyakit akibat kerja sebaiknya dilakukan dengan membandingkan dengan kondisi/kemampuan pasien sebelum mengalami penyakit tersebut.3 Tingkat permanent physical impairment dan physical loss function Besarnya tunjangan ganti rugi untuk cacat fungsi total telah ada dalam lampiran undang-undang kecelakaan*). Karena itu juga penting mengetahui kemampuan bekerja pekerja (misalnya: jumlah huruf yang mampu diketik oleh seorang juru ketik dalam waktu satu menit) Sebagai pertimbangan dapat digunakan pedoman penentuan kecacatan yang dikemukaan oleh Steinbocker (kemampuan pasien setelah penyembuhan untuk kegiatan sehari-hari: 1. Dapat melaksanakan tugas / kegiatan sehari-hari dengan 4. bantuan : 75% Dapat melaksanakan tugas / kegiatan sehari-hari dengan banyak kesulitan: 100% 2. Dapat melakukan tugas / kegiatan sehari-hari : 25 % 2. Karena itu penting adanya catatan kecacatan yang telah ada pada setiap pekerja saat akan mulai bekerja Penilaian akhir suatu kecacatan sebaiknya juga dengan mempertimbangkan kemampuan pasien bekerja kembali dibandingkan dengan kemampuannya sebelum mengalami penyakit tersebut.Nyeri sulit dinilai secara objektif dan harus ditentukan apakah merupakan suatu akibat kelainan fisik atau bukan. Yang diperhitungkan adalah besarnya prosentase tunjangan dari upah misalnya : 45 .

14 tahun 1993. gerak  Lingkup gerak dan kedudukan kelainan b. selama-lamanya tak mampu bekerja sebagian.80 0-60 15-90 % permanen impairment fisik dan kehilangan fungsi anggota gerak 5% 75% 50% 50% 5% 20-30% 20% 5% 15% 35% 40% 46 . Sendi panggul (nilai/terhadap seluruh badan 50%)  Non union tanpa koreksi perbaikan  Dengan arthroplasty. Jumlah tunjangan yang didapat 3. Patokan ini agar dipakai sebagai patokan/pedoman penilaian pada kasus perorangan.5 cm) a. Buat orang kidal kalau kehilangan salah satu lengan atau jari. dapat jalan & berdiri Waktu kerja 40%. dengan catatan : *) catatan : dengan berlakunya UU No.– Lengan kanan dari sendi bahu ke bawah. karena kehilangan. 2. Anggota badan yang tidak dapat dipakai sama sekali karena lumpuh dianggap hilang. Dalam hal kehilangan beberapa anggota yang tersebut di atas ini.53 tahun 2012 1.64 tahun 2005. Secara garis besar adalah sebagai berikut (beberapa contoh %): 1. maka besarnya tunjangan ditetapkan dengan menjumlahkan banyak persen dari tiap-tiap anggota badan itu. AAOS memberikn patokan yang desesuaikan dengan nilai/nisbi dari bagian lain dari tubuh. 3 tahun 1992. tunjangan berapa % dari upah. dan diperbaharui kembali PP no. maka keterangan kanan atau kiri yang tersebut dalam daftar di atas ini dipertukarkan. Sendi lutut  Pasca minisectomi  Ligament cruciate rupture  Peletectomy  Gangguan gerak: 0-110 0. Anggota gerak bawah – Pemendekan tiap ½ inchi (2. aturan ini tercantum dalam PP No. tidak boleh lebih dari 70 % upah sendiri. dan telah disempurnakan Peraturan Pemrintah No.

2. 2. Bahu: berdasarkan sendi berkisar 5-50% b. Selain itu dari jenis jari yaitu : – Ibu jari 50% – Telunjuk 75% – Tengah 10% – Cincin 10% – Kelingking 10% 3. meloncat. mencapai sesuatu. maka tingkat kehilangan persentasenya 100%. Penilaian cacat bidang orthopaedi meliputi : a. contusio – Fraktur – dislokasi – Keberhasilan tindakan Untuk : – bagian leher – Thoracal dan thoraco lumbal – Lumbal bawah Paraplegia total. “straping”. Pergelangan tangan dan lengan 65% Termasuk bagian yang penting dan ini dijabarkan sapai ke jari. akibat posisi yang tidak baik dari jari serta kekakuan tiap sendi termasuk tinggi: 75 – 100%. 47 . Sedangkan kekakuan sendi pergelangan lebih besar dari tulang-tulang tarsalia dan tarsal-metarsal lebih kecil dari jari-jari kaki. tetapi harus dinilai kemampuan usaha/kerja: mengangkat. Anggota gerak atas a. berputar . Waktu mengerjakan hal tersebut diatas. Penilaian cacat Anatomi akibat kecelakaan kerja / Penyakit Akibat Kerja bisa dilakukan kurang dari 6 bulan s/d 2 tahun setelah luka sembuh. 2. nyeri merupakan faktor penting yang menentukan keterbatasan gerak.Impairment and loss of physical eversi (diperhitungkan 80% dari anggota gerak bawah) lebih dari iversion. Tulang belakang Evaluasi “permanent physical impairment” tidak dapat semata-mata atas keterbatasan gerak.4 Ketentuan dalam bidang orthopaedi : 1. Dibedakan antara : – Sprain.

bisa berkurang. Tidak sembuh.b. 2) Radiologi Union (pada kasus fraktur). 6) Masih ada implant. ada keluhan akut/mendadak dan ada penyebabnya. 1) Telah dilakukan terapi medis secara maksimal. 3. Sembuh belum sempurna 1) Luka sembuh. d. 5) Waktu maksimal 2 tahun. 4) Fungsi kembali lagi 100%. serta apabila nilai kecacatan dimungkinkan dapat berubah. b. 2. 3) Waktu maksimal 2 tahun. 3) Tidak di dapat komplikasi. KK5 untuk penyakit akibat kerja dan ditulis bahwa penilaian kecacatan klinis dilakukan pada hari/dan tanggal penilaian. Sembuh tidak sempurna (fungsi berkurang). pasien diberi formulir inform concern yang ditanda tangani oleh pasien. Sembuh sempurna : 1) Luka sembuh. Kriteria akibat kecelakaan kerja bidang orthopaedi yaitu : a. Penilaian cacat Fungsi anggota tubuh akibat kecelakaan kerja / Penyakit Akibat Kerja selambat-lambatnya 6 bulan s/d 2 tahun setelah usaha medis secara maksimal dilakukan termasuk rehab medis. 2) Fungsi berkurang dan dianggap tidak bisa pulih serta tidak dapat dikoreksi dengan terapi medis apapun (hasil akhir). c. 1) Tidak sembuh setelah menjalani terapi maksimal selama 2 tahun karena penyakit tersebut. Penetapan cacat di bidang Orthopaedi dilakukan setelah dilaksanakan terapi maksimal selambat-lambatnya sampai dengan 2 tahun. Apabila tenaga kerja dinyatakan sembuh akibat kecelakaan kerja/penyakit akibat kerja oleh dokter pemeriksa maka selanjutnya diberikan surat keterangan dengan mengisi formulir bentuk KK4 untuk kecelakaan kerja. Apabila kondisi tenaga kerja belum sembuh Badan Penyelenggara belum wajib membayar santunan / Jaminan Kecelakaan Kerja. 5. 48 . 3) Tidak di dapat komplikasi. 6) Tidak ada implant kecuali protesa. 5) Waktu maksimal 2 tahun. Hernia Nucleus Pulposus (HNP) termasuk kasus Kecelakaan Kerja apabila memenuhi kriteria : Ada riwayat trauma ditempat kerja. 4. 2) Selanjutnya pasien dapat ditentukan kecacatannya. 4) Fungsi bisa kembali normal. 2) Radiologi Union (pada kasus fraktur).

7. tulang persendian. pembuluh darah tepi atau syaraf tepi dapat di kategorikan sebagai penyakit akibat kerja apabila dapat dibuktikan faktor penyebabnya dalam pekerjaan atau lingkungan kerja. 49 . Orthose/prothese dan alat bantu lainnya diberikan saat layanan rehabilitasi medik dalam masa pemulihan fungsi mencapai stadium lanjut dengan keadaan cacat yang sudah menetap atau permanen.6. Penyakit yang berkaitan dengan otot. urat.

1. Nyeri dirasakan ± 3 hari yang lalu. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien mengeluh kesemutan di telapak tangan kanan yang dirasakan sejak ± 1 bulan yang lalu.BAB III TINJAUAN KASUS (SIMULASI) 3. 3. Kesemutan terutama dirasakan pada sisi dalam jari tengah. Pasien tidak pernah memeriksakan keluhan tersebut sebelumnya. Nyeri berkurang bila pergelangan tangan dipijat atau dikibas-kibaskan. Kesemutan bersifat hilang timbul dan dirasakan terutama pada malam hari dan berkurang bila dikebas-kebaskan. Keluhan muncul bersamaan dengan rasa kesemutan. telunjuk. Pasien juga mengaku terdapat nyeri di pergelangan tangan yang tidak menjalar. Pasien mengeluh rasa sedikit tebal pada jari tengah.1 Identitas Pasien : Nama : Ibu Z Umur/tanggal lahir : 30 tahun.2 Anamnesis Penyakit : 1. telunjuk. Alamat : Jakarta Jenis kelamin : Perempuan Agama : Islam Pekerjaan : Tukang bubur Status Perkawinan : Menikah. Oleh pasien tangan yang sakit masih tetap digunakan untuk bekerja. dan ibu jari.1 Kasus Penyakit Akibat Kerja (PAK) 3. Keluhan Utama Telapak tangan sering kesemutan 2.1. dan ibu jari. Pasien bekerja sebagai penjual bubur yang aktivitasnya mengaduk bubur pada kuali besar setiap hari yang sudah dijalani lebih 50 .

Pasien juga menyangkal riwayat jatuh menumpu pada tangan.4 Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan fisik ditemukan : Status interna Status psikiatri Status neurologis Kesadaran Fungsi luhur Fungsi sensoris Taktil Nyeri Suhu : dbn : dbn : : GCS E4V5M6 : dbn : : : : Kanan turun dbn dbn Lengan Kiri dbn dbn dbn 51 .dari 8 tahun.1. Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat penyakit serupa Riwayat trauma Riwayat hipertensi Riwayat penyakit gula : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal 4. Pasien juga menyangkal kebiasaan tidur menumpu pada pergelangan tangan.1. Pasien menyangkal riwayat kelemahan anggota gerak. Pasien menyangkal riwayat bengkak dan panas di pergelangan tangan. sudah berapa lama melakukan pekerjaannya sebagai penjual bubur. berapa lama dalam sehari pasien melakukan pekerjaannya. seberapa sering pasien mengaduk bubur setiap harinya. 3. 3. Pasien juga mengaku mempunyai kebiasaan mencuci dan memeras pakaian dengan tangan di rumah. Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat penyakit serupa : disangkal Riwayat hipertensi : disangkal Riwayat penyakit gula : disangkal . dll. 3. dan apakah pasien pernah mengalami hal serupa sebelumnya.3 Anamnesis Okupasi Diperlukan anamnesis mengenai pekerjaannya. Pasien menyangkal riwayat kesulitan dalam memegang botol atau benda-benda berbentuk sejenis.

Dia juga menderita laserasi berat di telapak tangan dan pergelangan tangan. SS melanjutkan pencucian gilingan pengoles perekat.Diskriminan 2 titik : Lokalis : turun turun Fungsi motorik: Kekuatan Trofi Tonus : : : Atas 5 normal normal C. Diagnosis Kerja: Carpal Tunnel Syndrome dextra 3. dia kehilangan jari telunjuk. bekerja dengan mesin pengoles perekat dengan pekerja lain di pabrik meubel. jari tengah.1. di akhir pekerjaan. SS bekerja di ujung penerimaan mesin dan menumpuk lapisan kayu tersebut membentuk blok kayu untuk mesin pembentuk. Diagnosis Okupasi : Melalui 7 langkah Diagnosis Okupasi.5. jari manis. 3. Beberapa bulan setelah kecelakkan.1. wanita berusia 33 tahun. saat luka sudah sembuh dan keadaan telah stabil. Akibat kecelakaan tersebut.2 Kasus Kecelakaa Kerja SS. Kehilangan 4 jari tangan kanan pada sendi metacarpophalangeal 2.1. Pemeriksaan nyeri Flick’s sign Wrist extension test Phalen’s test Tinels’s sign Pressure test dbn dbn Ekstremitas Superior Kanan Tengah Bawah 5 5 normal normal normal normal : (+/-) : (+/-) : (+/-) : (+/-) : (+/-) 3. Keterbatasan gerakan pergelangan tangan kanan (dorsofleksi aktif sampai 40’. palmarfleksi aktif sampai 50’) 52 . Dia dilarikan ke rumah sakit.7. Dia ditemukan menderita: 1. Suatu hari. Pemeriksaan penunjang: Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang 3. Dibahas lebih mendalam pada bab pembahasan. Pekerja lain memasukan lapisan katu tipis ke dalam mesin pengoles lapisan perekat pada lembatan kayu. Tangan kanannya mendadak terjerat penggiling.6. dan jari kelingking tangan kanan. dia dikaji seorang dokter untuk kecacatan yang menetap.

Dengan terjadinya kecelakaan maka timbul hak tenaga kerja yang harus dibayarkan oleh pengusaha. pengusaha wajib melaporkan tidak lebih dari 2 x 24 jam sejak kecelakaan kerja terjadi atau sejak penyakit akibat kerja tersebut timbul. yang pertama-tama adalah dengan terjadinya suatu kejadian kecelakaan kerja. selanjutnya dilakukan analisis untuk mencari penyebab kecelakaan untuk upaya pengendalian. Hak itu adalah hak untuk mendapatkan pertolongan.BAB IV PEMBAHASAN Bila terjadi kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja. Dua hal penting yang berkaitan dengan pelaporan tersebut. maka diperlukan suatu investigasi/penyelidikan mengenai sebab terjadinya kecelakaan. 53 .

Besarnya tunjangan ganti rugi untuk cacat fungsi total telah ada dalam lampiran undang-undang kecelakaan. aturan ini tercantum dalam PP No. Tenaga kerja yang mengalami kecelakaan kerja dan keluarga membutuhkan penyelesaian kasus secara cepat. 14 tahun 1993.64 tahun 2005.pengobatan. Diagnosis klinis: Anamnesis: .Keluhan utama : Telapak tangan sering kesemutan .Riwayat penyakit keluarga : tidak ada . dan telah disempurnakan Peraturan Pemrintah No. perawatan dan rehabilitasi serta hak untuk memperoleh santunan (kompensasi) apabila mengalami cacat atau meninggal. UU No. Diagnosis PAK : Melalui 7 Langkah diagnosis PAK.Riwayat penyakit : belum pernah mengalami hal tersebut sebelumnya . oleh karena itu UU menetapkan bahwa pengusaha wajib mengeluarkan semua biaya yang diakibatkan oleh kecelakaan tanpa menunggu penyelesaian kasus terlebih dahulu. 4. A.1 Kecacatan Karena Penyakit Akibat Kerja Langkah-langkah untuk menentukan Diagnosis PAK dan menentukan derajat kecacatannya.Riwayat pekerjaan : Bekerja sebagai tukang bubur selama 8 tahun Pemeriksaan Fisik Status interna Status psikiatri Status neurologis Kesadaran Fungsi luhur Fungsi sensoris Taktil : dbn : dbn : : GCS E4V5M6 : dbn : : Kanan turun Lengan Kiri dbn 54 . sebagai berikut: 1. 3 tahun 1992. dan dirubah kembali menjadi PP no 53 tahun 2012 khususnya untuk organ-organ tubuh yang langsung berkaitan dengan pelaksanaan kekurangan yaitu tangan dan kaki dan bagian-bagiannya.

Hal tersebut dilengkapi dengan gejala yang khas CTS dan dari hasil pemeriksaan sign dan yang bisa dijadikan catatan juga adalah pekerja telah melakukan hal tersebut selama 8 tahun lamanya 4. Jumlah pajanan cukup? Ya dari anamnesa didapatkan pasien sudah melakukan pekerjaan tersebut selama 8 tahun.Radiologi:Kesimpulan Diagnosis Klinis: Carpal tunnel syndrome dextra 2. force. Pajanan yang dialami: mengaduk bubur sekuali besar setiap harinya selain itu juga melakukan pekerjaan rumah seperti mencuci dan memeras pakaian dengan tangan 3.Patologi Anatomi:. dan setiap hari 55 . dan durasi. karena dari hasil anamnese terdapat faktor risiko yang dialami oleh pasien yang dapat menyebabkan CTS seperti repetisi.Nyeri Suhu Diskriminan 2 titik Lokalis Fungsi motoric Kekuatan Trofi Tonus : : : : : : : dbn dbn turun turun : Ekstremitas Superior Kanan Atas Tengah 5 5 normal normal normal normal Pemeriksaan nyeri Flick’s sign Wrist extension test Phalen’s test Tinels’s sign Pressure test dbn dbn dbn dbn Bawah 5 normal normal : (+/-) : (+/-) : (+/-) : (+/-) : (+/-) Pemeriksaan laboratorium Tidak dilakukan Pemeriksaan penunjang lainnya . frekuensi. Hubungan antara pajanan dengan penyakit: ada hubungan antara pajanan dengan penyakit.

C. Dilakukan pengobatan secara maksimal Setelah pengobatan maksimal tersebut selesai dan pasien masih mengalami keluhan. b. Faktor lain di luar pekerjaan: pasien melakukan pekerjaan rumah mencuci baju dengan menggunakan tangan 7. khususnya untuk organ-organ tubuh yang langsung berkaitan dengan pelaksanaan kekurangan yaitu tangan dan kaki dan bagian-bagiannya. a. Patokan persentase telah diterangkan pada tinjauan pustaka. Penetapan Diagnosis Okupasi: PAK Carpal tunnel syndrome pada pekerja penjual bubur B. Yang diperhitungkan adalah besarnya prosentase tunjangan dari upah. No Bagian yangh terkena 1 CTS Dextra DK3DN AAOS desesuaikan dengan nilai/nisbi dari bagian 56 . Evaluasi derajat kecacatannya: Besarnya tunjangan ganti rugi untuk cacat fungsi total telah ada dalam lampiran undang-undang kecelakaan*). Sedangkan AAOS memberikn patokan yang desesuaikan dengan nilai/nisbi dari bagian lain dari tubuh. Penilaian cacat Anatomi akibat kecelakaan kerja / Penyakit Akibat Kerja bisa dilakukan kurang dari 6 bulan s/d 2 tahun setelah luka sembuh. maka perlu dilakukan evaluasi derajat kecacatannya. Penilaian cacat Fungsi anggota tubuh akibat kecelakaan kerja / Penyakit Akibat Kerja selambat-lambatnya 6 bulan s/d 2 tahun setelah usaha medis secara maksimal dilakukan termasuk rehab medis. Faktor-faktor individu yang mungkin berpengaruh: pasien tidak menggunakan sarung tangan atau alat pelindung diri pada saat melakukan pekerjaan sebagai tukang bubur 6. Patokan ini agar dipakai sebagai patokan/pedoman penilaian pada kasus perorangan.5.

Penilaian cacat Anatomi akibat kecelakaan kerja / Penyakit Akibat Kerja bisa dilakukan kurang dari 6 bulan s/d 2 tahun setelah luka sembuh. V Dextra dan Keterbatasan gerakan pergelangan tangan kanan (dorsofleksi aktif sampai 40’. III. CTS terkonfirmasi. palmarfleksi aktif sampai 50’) B. pada kasus ini.lain dari tubuh metacarpophalangeal II Dextra Tidak didapatkan nilai rujukan 65% Namun bila merujuk ke AMA edisi ke 6. maka perlu dilakukan evaluasi derajat kecacatannya. Director of Advocacy Janet Thron. a. slide presentasi Matthew Kremke.namun tidak ada temuan lain. Diambil dari AMA Guides to Evaluation of Permanent Impairment –Sixth Edition. Diagnosis KK : Amputasi metacarpophalangeal II. Dilakukan pengobatan secara maksimal Setelah pengobatan maksimal tersebut selesai dan pasien masih mengalami keluhan. Senior Acquisitions Editor. MBA. September 6. maka perkiraan derajat kecacatan adalah 0-2%.2 Kecacatan Karena Kecelakaan Kerja A. 57 . IV. 4. 2012.

Tabel derajat kecacatan PP no 53 tahun 2012 58 . Evaluasi derajat kecacatannya: Beberapa bulan setelah kecelakkan. saat luka sudah sembuh dan keadaan telah stabil. jari manis. Penilaian cacat Fungsi anggota tubuh akibat kecelakaan kerja / Penyakit Akibat Kerja selambat-lambatnya 6 bulan s/d 2 tahun setelah usaha medis secara maksimal dilakukan termasuk rehab medis. dia dikaji seorang dokter untuk kecacatan yang menetap. 3 tahun 1992. dan telah disempurnakan Peraturan Pemrintah No. Keterbatasan gerakan pergelangan tangan kanan (dorsofleksi aktif sampai 40’.64 tahun 2005. Bandingkan dengan LGS pemeriksa yang normal Sedangkan AAOS memberikn patokan yang desesuaikan dengan nilai/nisbi dari bagian lain dari tubuh.b. Patokan persentase telah diterangkan pada tinjauan pustaka. C. dan dirubah kembali menjadi PP no 53 tahun 2012 seperti terlihat pada tabel di bawah ini. Bandingkan dengan LGS sisi yang lain 3. jari tengah. 14 tahun 1993. Kehilangan 4 jari tangan kanan pada sendi metacarpophalangeal jari telunjuk. palmarfleksi aktif sampai 50’) Pada kasus ini menurut DK3DN untuk kasus amputasi menggunakan UU No. aturan ini tercantum dalam PP No. Patokan ini agar dipakai sebagai patokan/pedoman penilaian pada kasus perorangan. Sedangakan untuk kehilangan fungsi dihitung dari perubahan derajat lingkup gerak sendi (LGS)/ Range of Motion dengan cara : 1. Dia ditemukan menderita: 1. Membandingkan dengan catatan medik awal 2. dan jari kelingking tangan kanan 2.

59 .

Cedera tersebut dapat dikaji sebagai berikut: No Bagian yangh terkena 1 Amputasi jari: DK3DN AAOS Sesuai PP no 53 tahun 2012 desesuaikan dengan nilai/nisbi dari bagian dari lain tubuh metacarpophalangeal II 13.5% 75% Dextra metacarpophalangeal III 6% 10 % Dextra metacarpophalangeal IV 6% 10% Dextra metacarpophalangeal V 6% 10% Dextra 2 Keterbatasan pergelangan tangan gerak perubahan derajat lingkup gerak sendi (LGS)/ Range of Motion desesuaikan dengan nilai/nisbi dari bagian lain dari tubuh 60 .

5% 170% 50’ yang normal 90’) total 61 .Dorsofleksi aktif sampai 40’ (sebelumnya/sisi yang normal 90’) Palmar fleksi sampai (sebelumnya/sisi aktif 90/180 x100% =50% 65% 81.

memerlukan waktu karena perjalanan penyakit menuju kesembuhan dapat dan atau menimbulkan kecacatan sehingga evaluasi perlu melihat stadia pada waktu penderita dinilai (bila tidak progresif/keadaan stabil. yang dibuat oleh perkumpulan profesi kerjasama dengan Depnaker.1. stabilitas dan kekakuan 4. Penilaian tingkat kecacatan mempunyai 2 pengertian. Penyakit/kecelakaan di bidang orthopedia memerlukan diagnosis selain anatomi juga fungsi dari anggota gerak/sendi dalam menentukan kecacatan 2. menghitung % gangguan fungsi fisik berdasarkan kelainan anatomi/bentuk. sedangkan dari segi administratif menghitung % kompensasi berdasarkan pemeriksaan % medik 5. KESIMPULAN 1.BAB V KESIMPULAN 5. Penilaian bidang othopedia perlu memperhatikan fungsi atas dasar kelainan bentuk anatomi serta kemampuan berbuat akibat kelemahan. 62 . Perlu pedoman penailan atas dasar kelainan yang ada yang dapat dipakai sebagai patokan yang lebih memadai. Penilaian akhir. Dari segi medik. cacat permanen. stadia handicap) 3.

ccohs. NIOSH. A Primer Based On Workplace Evaluations Of Musculoskeletal Disorders. Fitting The Task to The man. Ergonomi untuk Produktivitas Kerja. 1997. Bridger.. International Editions. E. General Engineering Series. Inc. Introduction to Ergonomics. WMSDs (online).1993. Canadian Centers for Occupational Health & Safety. http://www. Alexander L. 1995. Virginia. London. Columbia: NIOSH Publications Disseminations. 2005. nd Edition. Cohen. S. Amerika : U. Penyakit Akibat Kerja dan Penyakit Terkait Kerja. R. NIOSH. London: Taylor dan Fancis. et al. Element Of Ergonomics Programs. Jakarta: CV Haji Mas Agung.ca/oshanwers/ergonomics/riks. DiNardi.DAFTAR PUSTAKA Bridger. 1997. USU Repository © 2007. R. Inc.inc. (1989). 2003.. 2 Fancis. 63 . 2007. 4 ed. Taylor & Buchari. American Industrial Hygienne Association. Introduction to ergonomimcs..S Departemenof Health and Human Services. NIOSH: Centers of Disease Contrrol and Prenvention. McGraw-Hill. Salvatore. 1997.html (diakses 2 Oktober 2010). R. th Grandjean. Suma’mur. Musculoskeletal Disorders and Workplace Faktors: A Critical Review of Epidemiologic Evidence for Work Related Musculoskeletal Disoeder. NIOSH.S. Ergonomi Guidelines for Manual Material Handling. The Occupational Environment-Its Evaluation and Control.

64 .