You are on page 1of 9

BAB II

LANDASAN TEORI
2.1.

Pengertian Kehilangan dan Berduka
Kehilangan adalah suatu keadaan individu berpisah dengan sesuatu yang
sebelumnya ada, kemudian menjadi tidak ada baik terjadi sebagian atau
keseluruhan. Kehilangan merupakan pengalamn yang pernah dialami oleh setiap
individu selama rentang kehidupan, sejak lahir individu sudah mengalami
kehilangan dan cenderung akan mengalaminya kembali walaupun dalam bentuk
yang berbeda (Susilawati, dkk, 2005).
S. Sundeen (1995 : 426) menyatakan : kehilangan dari attachment
(kedekatan seseorang terhadap orang lain yang dianggap penting), merupakan
kehilangan yang mencakup kejadian nyata atau hanya khayalan (yang
diakibatkan persepsi seseorang terhadap kejadian), seperti kasih sayang,
kehilangan orang yang berarti, fungsi fisik, harga diri. Banyak situasi kehilangan
dianggap sangat berpengaruh karena memiliki makna yang tinggi. Dapat pula
mencakup kehilangan teman lama, kenangan yang indah, tetangga yang baik.
Kemampuan seseorang untuk bertahan, tetap stabil, dan bersikap positif terhadap
kehilangan, merupakan suatu tanda kematangan dan pertumbuhan.
Berduka adalah reaksi terhadap kehilangan yang merupakan respons
emosional yang normal. Berduka merupakan suatu proses untuk memecahkan
masalah, dan secara normal berhubungan erat dengan kematian. Hal ini sangat
penting dan menentukan kesehatan jiwa yang baik bagi individu karena memberi
kesempatan individu untuk melakukan koping dengan kehilangan secara
bertahap sehingga dapat menerima kehilangan sebagai bagian dari kehidupan
nyata. Berduka sebagai proses sosial dapat diselesaikan dengan bantuan orang
lain.
Individu yang berduka kadang-kadang tidak mampu untuk menjalani
perasaan berduka secara normal, biasanya intensitas dan lmanya berduka lebih
panjang dari respons normal. Sebagai contoh individu yang berduka akan

2.2.

mengalami depresi yang berat dari yang biasa (Iyus Yosep, 2009)..
Psikodinamika
2.2.1. Etiologi Kehilangan

4

Situasional (Personal. c. 2. ginjal yang diangkat dan trauma. b. penyakit. Keyakinan religius yang kuat. dan perceraian. perpisahan. d. pekerjaan. individu dipengaruhi oleh: a. bekas luka. Banyaknya sumber yang tersedia terkait disfungsi fisik atau psikososial yang dialami. penyakit terminal. Maturasional Berhubungan dengan perubahan akibat penuaan seperti temanteman. berhubungan dengan kehilangan gaya hidup akibat melahirkan. 2006). sensori seperti kehilangan penglihatan.Banyak situasi yang dapat menimbulkan kehilangan yang dapat menimbulkan respon berduka pada diri seseorang (Carpenito. Situasi yang paling sering ditemui adalah sebagai berikut: 1. fungsi. dan kematian. Patofisiologis Seseorang yang mengalami kehilangan cenderung mengalami beberapa perubahan yang berhubungan dengan kehilangan fungsi atau kemandirian yang bersifat sekunder akibat kehilangan fungsi neurologis seperti gangguan memori. Rasa berduka yang muncul pada setiap individu dipengaruhi oleh bagaimana cara individu merespon terhadap terjadinya peristiwa kehilangan (dalam Carpenito. histerektomi). muskuloskeletal seperti kehilangan fungsi gerak atau patah tulang. rumah dan berhubungan dengan kehilangan harapan dan impian. Kesehatan mental yang baik. Lingkungan) Berhubungan dengan efek negatif serta peristiwa kehilangan sekunder (ketidakmampuan melakukan aktifitas secara mandiri) akibat nyeri kronis. perkawinan. pernapasan seperti terpasangnya trakheostomy. 4. 5 . digestif seperti terpasangnya colostomy. Terkait pengobatan Berhubungan dengan peristiwa kehilangan akibat dialisis dalam jangka waktu yang lama dan prosedur pembedahan (mastektomi. 3. dalam menghadapi kehilangan. dan berhubungan dengan kehilangan normalitas sekunder akibat keadaan cacat. anak meninggalkan rumah. 2006). Dukungan sosial (Support System). kolostomi.

“ kenapa harus terjadi pada saya ? “ kalau saja yang sakit bukan saya “ seandainya saya hati-hati “. penarikan sosial. tidak mempercayai kenyataan b.menawar. mual. pucat. b. Perilaku agresif.2. menangis. penurunan nafsu makan. misalnya. ketidaktegasan. susah tidur.2. dorongan libido menurun. tidak mau bicara atau putus asa. Rentang Respons 1. misalnya kesedihan. muka merah. 3.” itu tidak mungkin”. Verbalisasi. 5. Fase denial a. gangguan pernafasan. Perubahan fisik. Reaksi kognisi. letih. mual. misalnya sesak. kemarahan. hipersensitivitas terhadap suara dan cahaya.3. ketidakmampuan untuk berkonsentrasi.2. mimpi buruk. letih. Fase anger / marah a. Pikiran pada objek yang hilang berkurang. Reaksi pertama adalah syok. Menurut Buglass. mudah lupa. 6 . ketidakberdayaan. 2013. Menunjukan sikap menarik diri. mati rasa. 3. 2. detak jantung cepat. Fase depresi a. Verbalisasi . d. 4. Reaksi fisik. menangis. b. 4. hiperaktif. Mulai sadar akan kenyataan b. kebingungan. diare. menyalahkan diri sendiri. Reaksi perilaku. akhirnya saya harus operasi “ 2. “ saya tidak percaya itu terjadi ”. tangan mengepal. gangguan tidur. nadi cepat. misalnya ketidakpercayaan.” apa yang dapat saya lakukan agar saya cepat sembuh”.2010 dalam Putri. Fase acceptance a. lemah. Tanda dan Gejala Terdapat beberapa sumber yang menjelaskan mengenai tanda dan gejala yang sering terlihat pada individu yang sedang berduka. gelisah. Gejala . 2. “ yah. Marah diproyeksikan pada orang lain c. Reaksi perasaan. tanda dan gejala berduka melibatkan empat jenis reaksi. a. c.2. tidak sabar. rasa bersalah. Verbalisasi. susah tidur. mulut kering. kecemasan. Fase bergaining / tawar. menolak makan. Reaksi fisik. gelisah. kelemahan. meliputi: 1. kerinduan.

4. cemas. yang mencakup ke dalam lima respon. sedih. putus asa selama fase disorganisasi 7 . Berupaya mempertahankan keberadaan orang yang meninggal atau sesuatu yang hilang. spiritual. Perasaan mati rasa. Emosi tidak stabil. 4. yaitu respon kognitif. Mempertanyakan berupaya dan menemukan makna kehilangan. apatis. Marah. Percaya pada kehidupan akhirat dan seolaholah orang yang meninggal Respon Emosional adalah pembimbing. Kebencian. 6. 5. Gangguan asumsi dan keyakinan. dan fisiologis yang akan dijelaskan dalam tabel dibawah ini: Respon Berduka Respon Kognitif Tanda Gejala 1. 2. emosional. Keinginan kuat mengembalikan dengan individu untuk ikatan atau benda yang hilang. 7. Merasa bersalah dan kesepian. 3.Tanda dan gejala berduka juga dikemukan oleh Videbeck (2001). 2. Depresi. 3. perilaku. 1.

5. Kemungkinan melakukan upaya bunuh diri atau pembunuhan. Gangguan pencernaan. 3. Kemungkinan menyalahgunakan obat atau alkohol. Perubahan sistem imun dan endokrin. Menangis terisak atau tidak terkontrol. Kecewa dan marah pada Tuhan. 4. Tidak bertenaga. 3. 2. Respon Perilaku kehilangan makna. 2. Tidak memiliki harapan. Gelisah.Respon Spiritual dan keputusasaan. insomnia. 1. 8 . 4. 3. Iritabilitas atau perilaku bermusuhan. Mencari atau menghindar tempat dan aktivitas yang dilakukan bersama orang yang telah meninggal. Respon Fisiologis 1. 1. 2. 6. 5. Penderitaan karena ditinggalkan atau merasa ditinggalkan atau kehilangan. Gangguan nafsu makan. Sakit kepala.

seseorang yang bertujuan untuk mengalihkan kehilangan seseorang. dan c. Sehingga pada fase ini diharapkan seseorang sudah dapat menerima kondisinya. Berikut ini tahapan berduka menurut beberapa pendapat ahli : 1. tidak bisa istirahat. Peran perawat adalah untuk mendapatkan gambaran tentang perilaku berduka. a. 9 . diaporesis. Bisa merasa bersalah dan sangat menyesal tentang kurang perhatiannya di masa lalu terhadap almarhum. duduk malas. diare. mual. Tahap-tahap Kehilangan dan Berduka Tidak ada cara yang paling tepat dan cepat untuk menjalani proses berduka. Fase V (Reorganisasi) Kehilangan yang tak dapat dihindari harus mulai diketahui/disadari. Teori Engels Menurut Engel (1964) proses berduka mempunyai beberapa fase yang dapat diaplokasikan pada seseorang yang sedang berduka maupun menjelang ajal. Fase II (berkembangnya kesadaran) Seseoarang mulai merasakan kehilangan secara nyata/akut dan mungkin mengalami putus asa. mengenali pengaruh berduka terhadap perilaku dan memberikan dukungan dalam bentuk empati. karena kehilangan masih tetap tidak dapat menerima perhatian yang baru dari d. Kesadaran baru telah berkembang. perasaan bersalah.2. atau pergi tanpa tujuan. e. insomnia dan kelelahan. b. Fase IV (Idealisasi) Menekan seluruh perasaan yang negatif dan bermusuhan terhadap almarhum. Reaksi secara fisik termasuk pingsan. frustasi. kekosongan jiwa tiba-tiba terjadi. Kemarahan. depresi. Fase III (restitusi) Berusaha mencoba untuk sepakat/damai dengan perasaan yang hampa/kosong. detak jantung cepat. Fase I (shock dan tidak percaya) Seseorang menolak kenyataan atau kehilangan dan mungkin menarik diri.3.

Pada fase ini orang akan lebih sensitif sehingga mudah sekali tersinggung dan marah. Penerimaan (Acceptance) Reaksi fisiologi menurun dan interaksi sosial berlanjut. Pernyataan seperti “Tidak. Hal ini merupakan koping individu untuk menutupi rasa kecewa dan merupakan menifestasi dari kecemasannya menghadapi kehilangan. Penawaran (Bargaining) Individu berupaya untuk membuat perjanjian dengan cara yang halus atau jelas untuk mencegah kehilangan. Depresi (Depression) Terjadi ketika kehilangan disadari dan timbul dampak nyata dari makna kehilangan tersebut. tidak mungkin seperti itu. Tahap depresi ini memberi kesempatan untuk berupaya melewati kehilangan dan mulai memecahkan masalah. Teori Kubler-Ross Kerangka kerja yang ditawarkan oleh Kubler-Ross (1969) adalah berorientasi pada perilaku dan menyangkut 5 tahap. 3. d. Teori Martocchio 10 . c.2. Kubler-Ross mendefinisikan sikap penerimaan ada bila seseorang mampu menghadapi kenyataan dari pada hanya menyerah pada pengunduran diri atau berputus asa. Penyangkalan (Denial) Individu bertindak seperti seolah tidak terjadi apa-apa dan dapat menolak untuk mempercayai bahwa telah terjadi kehilangan. yaitu sebagai berikut: a. Kemarahan (Anger) Individu mempertahankan kehilangan dan mungkin “bertindak lebih” pada setiap orang dan segala sesuatu yang berhubungan dengan lingkungan. klien sering kali mencari pendapat orang lain. Pada tahap ini.” atau “Tidak akan terjadi pada saya!” umum dilontarkan klien. b. e.

Penghindaran Pada tahap ini terjadi shock. Teori Rando Rando (1993) mendefinisikan respon berduka menjadi 3 katagori: a. Konfrontasi Pada tahap ini terjadi luapan emosi yang sangat tinggi ketika klien secara berulang-ulang melawan kehilangan mereka dan kedukaan mereka paling dalam dan dirasakan paling akut. 4. Akomodasi Pada tahap ini terjadi secara bertahap penurunan kedukaan akut dan mulai memasuki kembali secara emosional dan sosial dunia sehari-hari dimana klien belajar untuk menjalani hidup dengan kehidupan mereka. Durasi kesedihan bervariasi dan bergantung pada faktor yang mempengaruhi respon kesedihan itu sendiri.Martocchio (1985) menggambarkan 5 fase kesedihan yang mempunyai lingkup yang tumpang tindih dan tidak dapat diharapkan. menyangkal dan tidak percaya. PERBANDINGAN EMPAT TEORI TAHAPAN BERDUKA ENGEL (1964) KUBLERMARTOCCHIO RANDO ROSS (1969) Shock dan tidak percaya Menyangkal Berkembangnya kesadaran Marah Restitusi Tawar-menawar (1985) Shock and disbelief Yearning and protest Anguish. disorganization Idealization Depresi Reorganization / the out Penerimaan despair Identification bereavement Reorganization (1991) Penghindaran Konfrontasi and in and akomodasi 11 . b. c. Reaksi yang terus menerus dari kesedihan biasanya reda dalam 6-12 bulan dan berduka yang mendalam mungkin berlanjut sampai 3-5 tahun.

come restitution 12 .