Penentuan prioritas masalah dengan metode Hanlon

1. Komponen A
No.

Masalah

Besaran

Standar

Skor

1.

ISPA

6.095/37.605

15%

8

2.

hipertensi

16/37.605

< 1%

2

3.

DBD

549/37.605

15%

6

4.

AKB

1 : 58

1: 60

6

2. Komponen B
a. Urgency
1) DBD merupakan bagian dari MDG’s maka diberi skor maksimal
2) Hipertensi merupakan salah satu konsen WHO di tahun 2015, diberi skor
maksimal
3) AKB merupakan bagian dari basic six nasional sebagai masalah yang
diprioritaskan, diberi nilai dibawah maksimal.
4) ISPA merupakan target pencapaian puskesmas diberi skor sedang.
b. Severity
1) Case fatality rate DBD = 1,2%
2) Case fatality rate hipertensi = 4,81%
3) Case fatality rate DBD = 8,45%
4) Case fatality rate AKB = 1,7%
c. Cost
1) cost untuk ISPA= Rp. 36.552.000,-

AKB 8 6 6 6. Hipertensi 89% 10 3.3 4. Besar: 67. Efektivitas: 89% 3) Sosialisasi tentang pola makan yang baik dan makanan yang baik untuk dimakan. Masalah Efektivitas Skor 1. Efektivitas: 68% 4) Pemantauan pertumbuhan bayi. target: 80%. Efektivitas: 52%. DBD 10 8 4 7. AKB 71% 8 . 3. hipertensi 10 4 10 8 3.350. 2) Melakukan Penyuluhan 4M plus untuk menghentikan vector nyamuk. Komponen C 1) Melakukan penyuluhan interaktif mengenai ISPA dan cara melindungi diri agar resiko terkena penyakit ISPA berkurang.67 3.2) Cost untuk hipertensi = Rp. ISPA 52% 6 2. Skoring No.000. Masalah Urgency Severity Cost Skor 1.d.254.200.000.4) Cost untuk AKB = Rp. ISPA 6 10 10 8. 60.1%. 40.67 2.3) Cost untuk DBD = Rp. DBD 68% 8 4. Efektivitas: 71% No.

berdasarkan penghitungan metode Hanlon diatas prioritas masalah utama yang didapatkan adalah DBD.36 Maka.02 x 1 = 100.4. Komponen D PEARL terpenuhi untuk seluruh solusi atas masalah yang ada.4 4) AKB : (6+6. dengan skor 106.4. Penghitungan NPD = (A+B) x C NPT = NPD x D 1) ISPA : (8 + 8. .67) x 8 = 101.67) x 6 = 100.02 2) Hipertensi : (2 + 8) x 6 = 100 x 1 = 100 3) DBD : (6+7. maka PEARL =1 5.3) x 8 = 106.