You are on page 1of 11

Etika dan Hukum Terkait Surat Keterangan Medis bagi Tahanan

Tesa Iswa Rahman
102012179
Kelompok C1
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
Pendahuluan
Dalam bidang kedokteran, seorang dokter selain mengerti tentang hal medis juga
dituntut untuk memahami etika kedokteran dan hukum-hukum yang berkaitan dengan
kedokteran. Pengetahuan akan prosedur hukum akan berguna agar seorang dokter tidak
melanggar hukum yang berlaku dan dokter pun harus menghormati hak-hak yang dimiliki
pasien, sekalipun pasien itu merupakan seorang tahanan kepolisian. Salah satu hak tahanan
adalah mendapatkan pelayanan kesehatan seperti warga negara lainnya. Dalam tulisan ini
akan dibahas tentang aspek kesehatan dan hukum yang dimiliki oleh seorang narapidana dan
kelayakan secara medis seseorang untuk dapat dilakukan persidangan dan ditahan.
Skenario
Seorang laki-laki adalah pasien lama anda, dating ke tempat praktek anda. Ia menyapa
dengan baik seperti biasanya, dan kemudian meminta tolong kepada anda melakukan sesuatu.
Kakak kandungnya saat ini sedang diperiksa oleh kejaksaan karena diduga
telah melakukan tindak pidana korupsi, dengan status tahanan. Ia sebenernya menderita
penyakit jantung yang telah lama dideritanya, penyakit lever, dan penyakit pada lutut
kanannya (osteochondritis genu) sehingga ia mengalami hambatan dalam berjalan. Pasien
lama anda tersebut menunjukan kepada anda data-data medic dari kakaknya. Pasien lama
anda tersebut mendengar bahwa di Jepang terdapat seorang professor ortopedi mahir dalam
menangani penyakit lututnya. Oleh karena itu ia meminta kepada anda untuk dapat
membuatkan surat pengantar berobat ke Profesor di Jepang tersebut.

1

Pembahasan
Etik Profesi Kedokteran
Etik (Ethics) berasar dari kata Yunani ethos, yang berarti akhlak, adat kebiasaan,
watak, perasaan, sikap, yang baik, yang layak. Menurut KBBI, etika adalah ilmu pengethuan
tentang azas akhlak. Menurut Kamus Kedokteran, etika aalah pengethuan tentang perilaku
yang benar dalam satu prodesi. Dalam arti lebih sempit, pengertian etika adalah pedoman
atau aturan moral untuk menjalankan profesi. Istilah etika dan etik sering dipertukarkan
pemakaiannya dan tidak jelas pebedaan antara keduanya, namun etik dapat diartikan sebagai
seperangkat asas atau nilai yang berkaitan dengan akhlak seperti dalam Kode Etik, semntara
etika adalah ilmu yang mempelajari azas akhlak.2
Profesi sendiri berasar dari bahasa latin professio, yang berarti pengakuan atau
pernyataan publik. Menurut Posner, profesi merupakan suatu pekerjaan yang tidak hanya
membutuhkan pengetahuan, pengalamn, dan kecerdasan umum, tetapi juga penguasaan
khusus yang merupakan abstraksi dari ilmu pengetahuan atau beberapa bidang lain yang
diyaki memiliki struktur intelektual. Dalam bidang kesehatan, profesi kedokteran sudah
dikenal sejak ada manusia yang merasa sakit.1
Praktik kedokteran dari dahulu sapai sekarang dipandu berdasarkan prinsip etik yaitu
nil nocere (do no harm) dan bonum facere (do good for the patients). Prinsip etik tersebut
telah diterapkan sebagai norma etik kedokterann, yang sebenarnya telah dipergunakan sejak
adanya orang dalam masyarakat yang mempunyai tugas mengobati orang sakit. Walaupun
tidak tertuis, norma ini menggariskan kelakukan orang yang mengobati terhadap orang yang
diobatinya.1
Diantara norma tersebut, norma tertua dan telah digariskan adalah sumpah dokter
Hindu yang ditulis pada tahun 1500 sebelum Masehi. Inti dari sumpah tersebut adalah: jangan
merugikan penderita yang sedang diobati. Setelah itu dikenal sumpah Hippocrates yang
memuat azas-azas etika medis yaitu kewajiban berbuat baik, kewajiban untuk tidak
menimbulkan cedera atau menimbulkan kerugian pada pasien, kewajiban berbudi dan
berprilaku luhur, kewajiban menghormati hidup insani sejak masih dalam kandungan, azas
tidak serakah dan menyadari keterbatasan diri sendiri, dan azas menjaga kerahasiaan pasien.1
Prinsip Moral dalam Kedokteran3
Praktik kedokteran juga berpegang kepada prinsip-prinsip moral kedokteran, prinsipprinsip moral yang dijadikan arahan dalam membuat keputusan dan bertindak, arahan dalam
2

menilai baik-buruknya atau benar-salahnya suatu keputusan atau tindakan medis dilihat dari
segi moral. Pengetahuan etika ini dalam perkembangannya kemudian disebut sebagai etika
biomedis. Etika biomedis memberi pedoman bagi para tenaga medis dalam membuat
keputusan klinis yang etis (clinical ethics) dan pedoman dalam melakukan penelitian di
bidang medis.
Nilai-nilai materialisme yang dianut masyarakat harus dapat dibendung dengan
memberikan latihan dan teladan yang menunjukkan sikap etis dan profesional dokter, seperti
autonomy, beneficence, non maleficence, dan justice. Autonomy memiliki makna bahwa
dokter menghormati hak pasien, terutama hak dalam memperoleh infomasi dan hak membuat
keputusan tentang apa yang akan dilakuakan terhadap dirinya. Beneficence artinya
melakukan tindakan untuk kebaikan pasien, sementara non maleficence berarti tidak
melakukan perbuatan yang dapat memperburuk pasien. Terakhir, justice artinya dokter dapat
bersikap jujur dan adil.
Kode Etik Kedokteran
Kode Etika Kedokteran Indonesia mengemukakan betapa luhurnya pekerjaan profesi
dokter. Meskipun dalam melaksanakan pekerjaan memperoleh imbalan, tapi bebeda dengan
usaha penjual jasa lainnya. Dalam Kode Etika Kedokteran Indonesia, tertulis penjelasan pasapasal yang memberi penekanan pada kewajiban dokter dan larangan bagi dokter yang harus
dipahami

dan

dipergunakan

sebagai

pedoman

dalam

melaksanakan

pekerjaan

keprofesiannya.1
Etik profesi kedokteran merupakan seperangkat perilaku dokter dalam hubungannya
dengan pasien, keluarga, masyarakat, teman sejawat dan mitra kerja. Rumusan perilaku
dokter sebagai anggota profesi disusun oleh organisasi profesi bersama pemerintah menjadi
satu kode etik profesi, yaitu Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI).1

3

Surat Keterangan Dokter berdasarkan KODEKI Pasal 7
Dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) Pasal 7, dituliskan bahwa:
seorang dokter hanya memberi surat keterangan dan pendapat yang telah diperiksa sendiri
kebenarannya.4
Surat keterangan medis adalah keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter untuk
tujuan tertentu tentang kesehatan atau penyakit pasien atas permintaan pasien atau atas
permintaan pihak ketiga dengan persetujuan pasien. Surat keterangan medis harus dibuat
berdasarkan hasiI pemriksaan medis yang secara teknis medis relevan, memadai dan benar
serta diinterpretasikan dengan menggunakan ilmu pengetahuan kedokteran yang telah
diterima pada saat itu (state-of-the-ant). Dokter pembuat surat keterangan medis tersebut
harus dapat membuktikan kebenaran keterangannya apabila diminta. Dengan kalimat
"memeriksa sendiri kebenarannya" sebagaimana tercantum dalam pasal ini berarti bahwa
dokter tersebut menginterpretasikan hasil-hasil pemeriksaan medis yang telah diyakini
kebenarannya, baik yang dilakukannya sendiri maupun yang dilakukan oleh sejawatnya atau
hasil konsultasinya.5
Sementara itu, surat keterangan sehat diberikan untuk memenuhi keperluan tertentu.
Perlu diingat bahwa, sehat untuk suatu keperluan tertentu membutuhkan tingkat kesehatan
yang tertentu pula. Tingkat kesehatan untuk membuat surat izi mengemudi (SIM) berbeda
dengan tingkat kesehatan untuk masuk sekolah atau perguruan tinggi, menjadi tentara,
menjadi pilot dll. Oleh karena itu surat keterangan sehat harus menyebutkan tujuannya,
apakah untuk membuat SIA mendaftar sekolah atau perguruan tinggi dan sebagainya. Surat
keterangan sakit atau istirahat sakit harus dibuat berkaitan dengan suatu keadaan sakit
tertentu (pathology, impairment, disability dan handical) dan ditujukan sebagai salah satu
upaya penyembuhan penyakit tersebut. Keterangan ini tidak menyebutkan diagnosis
penyakitnya, melainkan hanya menyebutkan bahwa pasien sedang sakit dan membutuhkan
istirahat selama jumlah hari tertentu. Namun, pada umumnya pemberian istirahat sakit lebih
dari 14 (empat belas) hari mengharuskan disebutnya diagnosis penyakit pasien tersebut.5
Surat Keterangan Medis untuk Kepentingan Peradilan5
Surat keterangan medis yang dibuat atas permintaan resmi penyidik yang berwenang
tentang hasil pemeriksaan medis atas seseorang manusia, baik sewaktu hidup ataupun setelah
meninggal, yang dibuat berdasarkan sumpah dan menggunakan ilmu pengetahuan
kedokterannya serta ditujukan untuk kepentingan peradilan pada umumnya, disebut sebagai
visum et repertum. Namun demikian terdapat pula keterangan yang tidak disebut sebagai
4

visum et repentum meskipun ditujukan untuk kepentingan peradilan, seperti surat keterangan
sakit

untuk

tidak

dapat

menghadiri

persidangan,

keterangan

sakit

untuk

tidak

diperiksa/diinterogasi keterangan sakit bagi tahanan dan terpidana, dan keterangan tentang
kelayakan untuk disidangkan (fitness to stand trial).
Keterangan-keterangan seperti ini sebaiknya dibuat oleh dokter yang bukan sebagai
dokter pengobat orang tersebut. Pada hakekatnya seseorang yang membutuhkan perawatan
inap di rumah sakit dapat dinyatakan sebagai sakit dan tidak dapat dimasukkan ke dalam
tahanan (kecuali dalam rumah sakit tahanan) ataupun diajukan ke sidang pengadilan. Selain
itu, seseorang yang memiliki gangguan mental tertentu dapat dinyatakan sebagai "tidak layak
diajukan ke pengadilan. Kelayakan seseorang diajukan ke pengadilan itu harus diputuskan
oleh psikiater dan diperoleh dari suatu pemeriksaan psikiatris yang adekuat, serta melalui
prosedur hukum yang berlaku.
Seorang tahanan ataupun terpidana bukanlah orang yang memiliki hak sipil yang
penuh, sehingga ia tidak memiliki kebebasan penuh dalam memilih dokter atau rumah sakit
tempat Ia akan dirawat. Dengan pertimbangan keamanan, penyidik atau jaksa penuntut umum
berwenang menentukan tempat perawatan tahanan setelah berkonsultasi dengan dokter.
Dokter diharapkan untuk tidak dengan mudah merujuk pasiennya yang berstatus tahanan atau
terpidana ke sarana kesehatan di luar negeri tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan pihak
yang berwenang keterangan dokter dapat juga diberikan tidak dalam bentuk tertulis, misalnya
penjelasan kepada pasien dalam rangka pemenuhan hak pasien atas informasi medisnya atau
dalam rangka memperoleh informed consent. Dalam hal ini dokter diharapkan memberikan
informasi yang benar, jujur, lengkap dan sejelasjelasnya sehingga pasien dapat memahami
dan membuat keputusan dengan bebas.
Pelanggaran Pembuatan Surat Keterangan6
Dokter dianggap melanggar etik apabila ia mengetahui secara sadar menerbitkan surat
keterangan yang tidak mengandung kebenaran. Hal ini tertuang dalam Pasal 267 KUHP.
Seorang dokter yang dengan sengaja membuat surat keterangan palsu tentang ada tidaknya
penyakit-penyakit, kelemahan atau cacat dapat dijatuhi hukuman penjara paling tinggi 4
tahun. Contohnya membuat surat keterangan kematian , tetapi orangnya masih hidup atau
membuat surat tidak bisa memenuhi panggilan pengadilan (tetapi pasien sesungguhnya dapat
memenuhi panggilan pengadilan). Seorang dokter yang dengan sengaja membuat suatu surat
keterangan palsu dengan tujuan untuk memasukkan seseorang ke dalam rumah sakit jiwa atau
dikeluarkan dari rumah sakit tersebut dapat dikenakan penjara paling tinggi 8 tahun 6 bulan.
5

Hak Terdakwa dalam Hal Medis
Dalam UU No 8 Tahun 1981 pasa 58, dijelaskan bahwa: tersangka atau terdakwa
yang dikenakan penahanan berhak menghubungi dan menerima kunjungan dokter pribadinya
untuk kepentingan kesehatan baik yang ada hubungannya dengan proses perkara maupun
tidak.
Fitness to Stand Trial dan Fitness to be Detained4,7
Kapasitas yang harus dimiliki seseorang untuk dapat dikatakan kompeten
memberikan kesaksian di pengadilan adalah mampu mengamati, mengingat dan
berkomunikasi tentang peristiwa yang dipertanyakan, serta memahami sifat dan dampak dari
sumpah yang diucapkannya (be capable of observing, remembering, and communicating
about events in question, understand the nature of an oath).
Kompetensi yang lebih tinggi kualitasnya harus dimiliki oleh seseorang yang akan
diinterogasi sebagai tersangka (competence to be interviewed, competence to be detained)
ataupun diperiksa di sidang pengadilan sebagai terdakwa (competence to stand trial).
Perasaan moral masyarakat menyatakan bahwa individu yang tidak dapat memahami sifat
dan obyektif persidangan yang melawannya, tidak mampu berkonsultasi dengan penasehat
hukumnya dan tidak mampu membantu persiapan pembelaan atas dirinya, dianggap tidak
layak untuk diadili.
Di dalam jurisprudensi kasus Dusky vs US (1960) dikatakan bahwa test (untuk
menguji kompetensi untuk diajukan ke pengadilan) harus dapat menentukan “apakah ia saat
ini memiliki kemampuan yang memadai untuk berkonsultasi dengan penasehat hukumnya
dengan tingkat penalaran yang memadai dan pemahaman yang memadai tentang fakta dalam
persidangan tersebut”. Dalam praktek, Chiswyck (1990) merumuskan kapasitas yang harus
dimiliki adalah sebagaimana dikutip oleh Zapata sewaktu mengomentari pemeriksaan atas
Pinochet, yaitu : (1) memberi instruksi kepada penasehat hukum, (2) melakukan pembelaan
atas tuduhan, (3) menantang keberadaan seseorang anggota juri tertentu, dan (4) memahami
bukti-bukti yang diajukan ke pengadilan.
Penentuan kompetensi biasanya melalui tiga tahap prosedur, dimulai dengan tahap
pencetus. Baik jaksa penuntut umum maupun pembela, ataupun hakim dapat mencetuskan
persoalan kompetensi terdakwa. Akibatnya, begitu isu kompetensi diajukan di pengadilan,
maka siapa pun tidak diperbolehkan mengabaikannya – ditinjau dari prinsip fair-trial.
Seorang atau sebaiknya tim dokter yang independen segera dibentuk untuk menilai
6

keadaan kesehatan jiwa terdakwa. Dalam hal ini terdapat dua hal yang perlu dicatat, yaitu
unsur prosedural dan unsur substantif. Dalam kaitannya dengan prosedur, kata “independen”
di atas berarti bahwa dokter tersebut bukanlah dokter pengobat (treating / attending
physicians), melainkan dokter yang khusus ditunjuk untuk menilai (assessing / advising
physicians). Demikian pula pemeriksaan yang dilakukan haruslah pemeriksaan psikiatris
yang impartial. Secara substantif, kompetensi yang dipertanyakan adalah kompetensi
terdakwa pada saat ini dan bukan kompetensi pada saat melakukan tindak pidana.
Peraturan perundang-undangan di Indonesia belum mengatur hal di atas, sementara
berbagai negara membuat ketentuan yang jelas dan cukup rinci. Dikatakan bahwa selanjutnya
akan digelar suatu formal hearing (tertulis), dimana pada saat tersebut peran ahli psikiatri
sangatlah penting. Bila ia mengatakan bahwa terdakwa mungkin inkompetent (is likely to be
incompetent), maka biasanya akan digelar suatu competency hearing. Competency hearing
dapat diadakan kapan saja dalam suatu rangkaian persidangan. Psikiater pemeriksa terdakwa
akan menjadi saksi ahli utama dalam competency hearing, namun tidak menutup
kemungkinan diajukannya saksi dan atau ahli lain oleh jaksa penuntut umum ataupun oleh
pembela. Dalam hal kemudian diputuskan bahwa terdakwa tidak kompeten untuk diajukan ke
pengadilan, maka ia dimasukkan ke dalam suatu institusi atau dirawat selama satuan waktu
tertentu untuk memperoleh observasi dalam rangka re-evaluasi secara berkala. Ia dapat
dibebaskan dari ketentuan observasi apabila ia dinyatakan kompeten dan konsekuensinya
diajukan ke pengadilan atau perkaranya dihentikan secara resmi.
Pertanggungjawaban hukum
Sejarah menunjukkan bahwa seseorang secara hukum dianggap tidak dapat
dipertanggungjawabkan apabila ia menderita “sakit jiwa” sehingga “ia tidak dapat memahami
sifat dan kualitas tindakannya, atau apabila ia memahaminya, ia tidak memahami apakah
tindakannya tersebut benar atau salah” (M’ Naughton rule). Setelah seabad lebih ketentuan ini
berlaku, konsep ini mulai dikritik. Para ahli mengatakan bahwa banyak orang menderita
penyakit mental sedemikian rupa sehingga meskipun ia dapat membedakan baik dan
buruknya suatu tindakan, namun ia tidak dapat mengendalikan tindakannya. Untuk mengatasi
kelemahan M’Naughton rule tersebut, maka ditambahkanlah satu test, yaitu irresistible
impulse.
Oleh karena M’Naughton rule dianggap terlalu sempit maka dibuatlah standar yang
lebih luas (Durham), yaitu “terdakwa tidak dapat bertanggungjawab secara pidana apabila
7

tindak pidana yang dilakukannya adalah hasil dari suatu penyakit jiwa atau defek kejiwaan”.
Namun para ahli menganggap ketentuan ini terlalu luas. Pada tahun 1960 the American Law
Institute (ALI) membuat model test dengan menyatakan bahwa “seseorang tidak
bertanggungjawab secara pidana apabila pada saat itu tindak pidana tersebut merupakan
akibat dari penyakit atau defek mental sehingga ia kehilangan kapasitas yang diperlukan
untuk menilai kriminalitas tindakannya atau untuk menyesuaikan tindakannya dalam
mematuhi hukum” (if at the time of such conduct as a result of mental disease or defect he
lacks substantial capacity either to appreciate the criminality of his conduct or to conform
his conduct to the requirements of the law).
The American Psychiatry Association mengajukan suatu standar yang lebih ketat,
yaitu “seseorang dapat dinyatakan tidak bersalah karena alasan insanity apabila terbukti
bahwa sebagai hasil dari penyakit mental atau mental retardasinya ia tidak mampu menilai
kesalahan tindakannya pada saat ia melakukan tindak pidana. Di dalam standar ini, keadaan
penyakit mental dan retardasi mental hanya meliputi mereka dengan kondisi mental yang
abnormal berat sehingga secara jelas terlihat gangguan persepsi atau pemahaman atas
realitasnya” (a person charged with a criminal offense should be found not guilty by reason
of insanity if it is shown that as a result of mental disease or mental retardation he was
unable to appreciate the wrongfulness of his conduct at the time of the offense. As used in this
standard, the terms mental disease or mental retardation include only those severely
abnormal mental conditions that grossly and demonstrably impair a person’s perception or
understanding of reality and that are not attributable primarily to the voluntary ingestion of
alcphol or other psychoactive substances).
Di Indonesia kita kenal pasal 44 KUHP sebagai dasar hukum utama :
(1) Barangsiapa melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggungkan kepadanya
karena jiwanya cacat dalam pertumbuhan atau terganggu karena sakit, tidak
dipidana.
Saat ini Indonesia belum memiliki peraturan perundangundangan yang mengatur
secara rinci apa yang dimaksud dengan keadaan jiwa sebagaimana bunyi pasal 44 KUHP.
Oleh karena itu pemeriksaan penilaian kompetensi seseorang dalam kaitannya dengan
kepentingan peradilan mengacu kepada ketentuan profesional yang terkait dengan itu, yaitu
profesi neuro-psikiatri.
Penilaian Kompetensi8
Penilaian kompetensi seseorang hingga saat ini masih merupakan bidang yang belum
8

tuntas benar dan masih dikembangkan oleh berbagai ahli, terutama oleh para ahli psikiatri. Di
dunia psikiatri terdapat sejumlah checklists dan tes psikometrik yang didesain untuk
membantu para dokter dalam menilai kompetensi seseorang untuk diajukan ke pengadilan.
Salah satu yang paling sering digunakan adalah Competency to Stand Trial Instrument (CSTI)
yang didesain oleh Laboratorium Psikiatri Komunitas. CSTI mengkur 13 fungsi yang
berkaitan dengan yang dibutuhkan dalam mengikuti proses persidangan dalam rangka ia
dapat membela diri secara adekuat. CSTI menstandarisasi, mengobyektifkan, dan
mengkualifikasikan kriteria yang relevan untuk menentukan kompetensi seseorang diajukan
ke pengadilan.
Berbagai instrumen pemeriksaan yang biasa digunakan dalam psikiatri untuk menilai
intelegensi (Wechler dan Progressive matrix) dan memori juga dapat digunakan (drawing,
brief story, objects). Demikian pula Mini Mental State Examination juga dapat dilakukan
untuk mengukur orientasi, memori, perhatian, konsentrasi, kemampuan menyebut nama
obyek, kemampuan untuk mengikuti perintah tulisan dan verbal, menulis suatu kalimat atau
menggambar suatu geometrik. Selain itu pemeriksaan fisik yang berkaitan dengan fungsi
neurologis tertentu dapat juga dimanfaatkan untuk dapat menjelaskan berbagai kelainan,
seperti CT Scan, brain mapping dll. Beberapa pemeriksaan lain bila diperlukan juga dapat
dilakukan untuk menjelaskan hubungan antara penyakit kronik tertentu, impairment tertentu
dan penggunaan obat-obatan, dengan keadaan mentalnya saat itu.
Pada awal 1990 the MacArthur Foundation Research Network on Mental Health and
the Law mulai mengembangkan suatu instrumen untuk mengukur kompetensi seseorang
untuk maju ke pengadilan. Studi tersebut mendasarkan kerjanya kepada proposal :
kompetensi fundamental untuk berkonsultasi dengan penasehat hukum dan konsep
kontekstual decisional competence. Kompetensi fundamental mengacu kepada kriteria
Dusky,

sedangkan

decisional

competence

mengacu

kepada

kemampuan

untuk

mengungkapkan pendapat yang ingin disampaikannya, kemampuan untuk memahami
informasi yang relevan, kesadaran yang terinformasi tentang signifikansi informasi tersebut
bagi kasusnya, dan penggunaan penalaran pengambilan keputusan dalam mencapai
keputusan.

9

Mac Arthur Structured Assessment of the Competencies of Criminal Defendants
(MacSAC-CD) menggunakan teori legal competence dan dibagi ke dalam dua garis
konseptual (adjudication dan decisional competence) dan 4 area fungsional (choice,
understanding, appreciation, and reasoning). Selanjutnya, dengan merampingkan MacSACCD mereka dapat menciptakan MacCAT-CA (MacArthur Competence Assessment Tool –
Criminal Adjudication) yang memiliki 3 pengukuran dan 22 items. MacSAC-CA dapat
dilakukan dalam waktu kurang dari satu jam, memeriksa : understanding (misalnya
kemampuan memahami informasi umum berkaitan dengan hukum dan prosedur
persidangan); reasoning (misalnya kemampuan melihat informasi dengan potensi relevan
dengan hukum dan kapasitas untuk menalar pilihan khusus yang menentang terdakwa dalam
persidangan); dan appreciation (misalnya kesadaran rasional akan arti dan konsekuensi
persidangan bagi kasusnya).
Kesimpulan
Dalam praktik kedokteran, seorang dokter wajib tetap berpegang teguh pada aspek
etik dan hukum kedokteran. Bukan hanya dalam hal praktik kedokteran sehari-hari, namun
seorang dokter juga harus mampu menerapkan etik dan hukum kedokteran saat terkait dengan
pembuatan surat keterangan demi kepintingan peradilan. Dalam KODEKI pasal 7 telah diatur
mengenai bagaimana selayaknya seorang dokter memberikan surat keterangan bagi
pasiennya. Segala bentuk pelanggaran dalam hal pembuatan dan pemberian surat keterangan
telah diatur pula oleh pemerintah.

Daftar Pustaka
1. Darwin E, dkk. Etika profesi kesehatan. Yogayakarta: Deepublish; 2014.
2. Hanafiah MJ. Amir A. Etika kedokteran & hukum kesehatan. Ed 4. Jakarta: EGC;2009.
10

3. Sachrowardi Q, Basbeth F. Bioetik: isu & dilema. Jakarta: Pensil;2013.
4. Purwadianto A, Soetedjo, Gunawan S, dkk. Kode etik kedokteran indonesia dan pedoman
pelaksanaan kode etik kedokteran indonesia 2012. Pengurus Besar Ikatan Dokter
Indonesia.
5. Sampurno B. Addendum 1: penjelasan khusus untuk beberapa pasal dan revisi KODEKI
hasil

mukernas

etika

kedokteran

III.

April

2001.

Diunduh

dari:

www.ididkijakarta.com/data/addendum1.pdf. Pada 07 Januari 2016.
6. Safitry O. Kompiasi peraturan perundang-undangan terkait praktik kedokteran. Bagian
Kedokteran Forensik FKUI; 2014.
7. Ciccone JR. Competence to stand trial: efforts to clarify the concept and improve clinical
evaluations of criminal defendants. Current Opinion in Psychiatry 1999, 12: 647-651.
8. Leenen H, Gevers S, Pinet G. The Rights of Patients in Europe. Boston : Kluer Taxation
and Law Publishers, 1993.

11