You are on page 1of 25

Pemeriksaan Forensik pada Kasus Kematian Akibat Asfiksia

Claudia Zendha Papilaya 102011273
Oswaldus Gratiano 102012046
Ester Cardia Pakpahan 102012057
Andreas Sihar Mangoppo 102012128
Tesa Iswa Rahman 102012179
Aldy setiawan Putra 102012258
Viona Natalia Sitohang 102012395
Ahmad Marzuqi 102012475
Nike Pebrica Purnamasari 102012518
Kelompok C1
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
Pendahuluan
Semua makhluk biologis akan mati dan cara mati masing-masing adalah berbeda
walaupun pada dasarnya kematian adalah disebabkan ketiadaan oksigen di otak. Tanatologi
adalah ilmu yang mempelajari tentang kematian dan perubahan yang berlaku setelah
kematian serta faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut.1 Ilmu kedokteran
forensik, disebut juga ilmu kedokteran kehakiman, merupakan salah satu mata ajaran wajib
dalam rangkaian pendidikan kedokteran di Indonesia, dimana peraturan perundangan
mewajibkan setiap dokter baik dokter, dokter spesialis kedokteran forensik, spesialis klinik
untuk membantu melaksanakan pemeriksaan kedokteran forensik bagi kepentingan
peradilan bilamana diminta oleh polisi penyidik.
Ilmu Kedokteran Forensik adalah cabang spesialistik ilmu kedokteran yang
memanfaatkan ilmu kedokteran untuk kepentingan penegakan hukum. Proses penegakan
hukum dan keadilan merupakan suatu usaha ilmiah, dan bukan sekedar common sense,
nonscientific belaka. Dengan demikian, dalam penegakan keadilan yang menyangkut
tubuh, kesehatan dan nyawa manusia, bantuan dokter dengan pengetahuan Ilmu
Kedokteran Forensik dan Medikolegal yang dimilikinya amat diperlukan.1
Traumatologi adalah cabang ilmu kedokteran forensik yang mempelajari tentang
luka dan cedera serta hubungannya dengan berbagai tindak kekerasan.Berdasarkan sifat
serta penyebabnya, kekerasan dapat dibedakan menjadi kekerasan mekanik,fisika dan
kimia. 1

1

Skenario
Sesosok mayat dikirimkan ke Bagian Kedokteran Forensik FKUI / RSCM oleh
sebuah Polsek di Jakarta. Ia adalah tersangka pelaku pemerkosaan terhadap seorang remaja
putri yang kebetulan anak dari seorang pejabat kepolisian. Berita yang dituliskan di dalam
surat permintaan visum et repertum adalah bahwa laki-laki ini mati karena gantung diri di
dalam sel tahanan Polsek.
Pemeriksaan yang dilakukan keesokan harinya menemukan bahwa pada wajah
mayat terdapat pembengkakakn dan memar, pada punggungnya terdapat beberapa memar
berbentuk dua garis sejajar (railway hematome) dan di daerah paha di sekitar kemaluannya
terdapat beberapa luka bakar yang sesuai dengan jejas listrik. Sementara itu terdapat pula
jejas jerat yang melingkari leher dengan simpul di daerah kiri belakang yang membentuk
sudut ke atas. Pemeriksaan bedah jenazah menemukan resapan darah yang luas di kulit
kepala, perdarahan yang tipis di bawah selaput keras otak, sembab otak besar, tidak
terdapat resapan darah di kulit leher tetapi sedikit resapan darah di otot leher sisi kiri dan
patah ujung rawan gondok sisi kiri, sedikit busa halus di dalam saluran napas, dan sedikit
bintik-bintik perdarahan di permukaan kedua paru dan jantung. Tidak terdapat patah tulang.
Dokter mengambil beberapa contoh jaringan untuk pemeriksaan laboratorium.

Keluarga

korban datang ke dokter dan menanyakan tentang sebab-sebab kematian korban karena
mereka mencurigai adanya tindakan kekerasan selama di tahanan Polsek. Mereka melihat
sendiri adanya memar-memar di tubuh korban.
Pembahasan
Aspek Hukum dan Medikolegal
Kewajiban Dokter Membantu Peradilan2
Pasal 133 KUHAP
1. Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik
luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan
tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli
kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.
2. Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan
secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan
luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.
3. Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah
sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat
2

tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan cap jabatan
yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.
Penjelasan Pasal 133 KUHAP
2. Keterangan yang diberikan oleh ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan
ahli, sedangkan keterangan yang diberikan oleh dokter bukan ahli kedokteran
kehakiman disebut keterangan.
Pasal 179 KUHAP
1. Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau
doktera tau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.
2. Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang
memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan
sumpah atau janji akan memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan
sebenanar-benarnya menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya.2
Bentuk Bantuan Dokter Bagi Peradilan Dan Manfaatnya
Pasal 183 KUHAP
Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila
dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa
suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah
melakukannnya1.
Pasal 184 KUHAP
1. Alat bukti yang sah adalah: Keterangan saksi, Keterangan ahli, Surat, Pertunjuk,
Keterangan terdakwa
2. Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan1.
Pasal 186 KUHAP
Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan.
Pasal 180 KUHAP

3

1. Dalam hal diperlukan untuk menjernihkan duduknya persoalan yang timbul di
siding pengadilan, Hakim ketua siding dapat minta keterangan ahli dan dapat pula
minta agar diajukan bahan baru oleh yang berkepentingan.
2. Dalam hal timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau penasihat hokum
terhadap hasil keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Hakim
memerintahkan agar hal itu dilakukan penelitian ulang.
3. Hakim karena jabatannya dapat memerintahkan untuk dilakukan penelitian ulang
sebagaimana tersebut pada ayat (2)2

Sangsi Bagi Pelanggar Kewajiban Dokter
Pasal 216 KUHP
1. Barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang
dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi
sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya. Demikian pula yang diberi kuasa
untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barang siapa
dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan
guna menjalankan ketentuan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat
bulan dua minggu atau denda paling banyak Sembilan ribu rupiah.
2. Disamakan dengan pejabat tersebut di atas, setiap orang yang menurut ketentuan
undang-undang terus-menerus atau untuk sementara waktu diserahi tugas
menjalankan jabatan umum.
3. Jika pada waktu melakukan kejahatan belum lewat dua tahun sejak adanya
pemidanaan yang menjadi tetap karena kejahatan semacam itu juga, maka
pidanya dapat ditambah sepertiga2
Pasal 222 KUHP
Barangsiapa

dengan

sengaja

mencegah,

menghalang-halangi

atau

menggagalkan pemeriksaan mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana penjara
paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus
rupiah.2
4

Pasal 224 KUHP
Barangsiapa yang dipanggil menurut undang-undang untuk menjadi saksi, ahli
atau juru bahasa, dengan sengaja tidak melakukan suatu kewajiban yang menurut
undang-undang ia harus melakukannnya:
1. Dalam perkara pidana dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya
9 bulan.
2. Dalam perkara lain, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 6
bulan
Pasal 522 KUHP
Barangsiapa menurut undang-undang dipanggil sebagai saksi, ahli atau
jurubahasa, tidak datang secara melawan hukum, diancam dengan pidana denda
paling banyak sembilan ratus rupiah.
Identifikasi Forensik
Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan
membantu penyidik untuk menentukan identitas seseorang.Identifikasi personal sering
merupakan suatu masalah dalam kasus pidana maupun perdata. Menentukan identitas
personal dengan tepat amat penting dalam penyidikan karena adanya kekeliruan dapat
berakibat fatal dalam proses peradilan.1
Identitas seseorang dipastikan bila paling sedikit dia metode yang digunakan
memberikan hasil positif (tidak meragukan). Penentuan identitas personal dapat
menggunakan metode identifikasi sidik jari, visual, dokumen, pakaian dan perhiasan,
medik, gigi, serologic dan secara ekslusi.Akhir-akhir ini dikembangkan pula metode
identifikasi DNA.3,4
Pemeriksaan Sidik Jari
Metode ini membandingkan gambaran sidik jari jenasah dengan data sidik jari
ante motem. Sampai saat ini, pemeriksaan sidik jari merupakan pemeriksaan yang
diakui paling tinggi ketepatannya untuk menentukan identitas seseorang.
Dengan demikian harus dilakukan penanganan yang sebaik-baiknya terhadap
jari tangan jenazah untuk pemeriksaan sidik jari, misalnya melakukan pembungkusan
kedua tangan jenazah dengan kantung plastik.3,4
Metode Visual

5

Metode ini dilakukan dengan cara memperlihatkan jenazah pada orang-oarang
yang merasa kehilangan anggota keluarga atau temannya. Cara ini hanya efektif pada
jenazah yang belum membusuk sehingga masih mungkin dikenali wajah dan bentuk
tubuhnya oleh lebih dari satu orang.Hal ini perlu diperhatikan mengingat adanya
kemungkinan factor emosi yang turut berperan untuk membenarkan atau sebaliknya
menyangkal identitas jenazah tersebut.3,4
Pemeriksaan Dokumen
Dokumen seperti kartu identifikasi (KTP, SIM, Paspor dsb) yang kebetulan
dijumpai dalam saku pakaian yang dikenakan akan sangat membantu mengenali
jenazah tersebut.
Perlu diingat bahwa pada kecelakaan masal, dokumen yang terdapat dalam tas
atau dompet yang dekat dengan jenazah belum tentu adalah milik jenazah yang
bersangkutan.3,4

Pemeriksaan Pakaian dan Perhiasan
Dari pakaian dan perhiasan yang dikenakan jenazah, mungkin dapat diketahui
merek atau nama pembuat, ukuran, inisial nama pemilik, badge, yang semuanya dapat
membantu identifikasi walaupun telah terjadi pembusukan pada jenazah tersebut.3,4
Identifikasi Medik
Metode ini menggunakan data tinggi badan, berat badan, warna rambut, warna
mata, cacat/kelainan khusus, tatu (rajah). Metode ini mempunyai nilai tinggi karena
selain dilakukan oleh seorang ahli dengan menggunakan berbagai cara/modifikasi
(termasuk pemeriksaan dengan sinar-X), sehingga ketepatannya cukup tinggi.Bahkan
pada tengkorak/kerangkapun masih dapat dilakukan metode identifikasi ini. Melalui
metode ini, diperoleh data tentang jenis kelamin, ras, perkiraan umur dan tinggi
badan, kelainan pada tulang dan sebagainya.3,4
Pemeriksaan Gigi
Pemeriksaan ini meliputi pencatatan data gigi (odontogram) dan rahang yang
dapat dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan manual, sinar-X dan pencetakan
gigi serta rahang.Odontogram memuat data tentang jumlah, bentuk, susunan,
tambalan, protesa gigi dan sebagainya.

6

Seperti halnya dengan sidik jari, maka setiap individu memiliki susunan gigi
yang

khas.

Dengan

demikian,

dapat

dilakukan

identifikasi

dengan

cara

membandingkan data temuan dengan data pembanding mortem.3,4
Pemeriksaan Serologi
Pemeriksaan serologik bertujuan untuk menentukan golongan darah jenazah,
penentuan golongan darah pada jenazah yang telah membusuk dapat dilakukan
dengan memeriksa rambut, kuku dan tulang.3,4
Tanatologi
Tanatologi adalah bagian dari Ilmu Kedokteran Forensik yang mempelajari
kematian dan perubahan yang terjadi setelah kematian serta faktor yang
mempengaruhi perubahan tersebut. Dalam tanatologi dikenal beberapa istilah tentang
mati, yaitu mati somatis (mati klinis), mati suri, mati seluler, mati serebral, dan mati
otak (mati batang otak).
Mati somatis (mati klinis) terjadi akibat terhentinya fungsi ke tiga sistem
penunjang kehidupan, yaitu susunan saraf pusat, sistem kardiovaskular, dan sistem
pernapasan, yang menetap. Secara klinis tidak ditemukan refleks-refleks, EEG
mendatar, nadi tidak teraba, denyut jantung tidak terdengar, tidak ada gerak
pernapasan, dan suara nafas tidak terdengar pada auskultasi.
Mati suri adalah terhentinya ketiga sistem penunjang kehidupan yang
ditentukan dengan alat kedokteran sederhana. Dengan peralatan kedokteran canggih
masih dapat dibuktikan bahwa ketiga sistem tersebut masih berfungsi. Mati suri sering
ditemukan pada kasus keracunan obat tidur, tersengat aliran listrik, dan tenggelam.
Mati seluler (mati molekuler) adalah kematian organ atau jaringan tubuh
beberapa saat setelah kematian somatis. Daya tahan hidup masing-masing organ atau
jaringan berbeda-beda, sehingga terjadinya kematian seluler pada tiap organ atau
jaringan tidak bersamaan.
Mati serebral adalah kerusakan kedua hemisfer otak yang irriversible kecuali
batang otak dan serebelum, sedangkan kedua sistem lainnya yaitu sistem pernapasan
dan kardiovaskuler masih berfungsi dengan bantuan alat.
Mati otak (mati batang otak) adalah bila terjadi kerusakan seluruh isi neuronal
intrakranial yang irreversible termasuk batang otak dan serebelum. Dengan
diketahuinya mati otak (mati batang otak) maka dapat dikatakan seseorang secara
keseluruhan tidak dapat dinyatakan hidup lagi, sehingga alat bantu dapat dihentikan.1
7

Kematian adalah suatu proses yang dapat dikenal secara klinis pada seseorang
berupa tanda kematian, yaitu perubahan yang terjadi pada tubuh mayat. Perubahan
tersebut dapat timbul dini pada saat meninggal atau beberapa menit kemudian,
misalnya kerja jantung dan peredaran darah berhenti, pernapasan berhenti, refleks
cahaya dan refleks kornea mata hilang, kulit pucat dan relaksasi otot. Setelah
beberapa waktu timbul perubahan pascamati yang jelas yang memungkinkan
diagnosis kematian lebih pasti. Tanda-tanda tersebut dikenal sebagai tanda pasti
kematian berupa lebam mayat (hipostasis atau lividitas pasca-mati), kaku mayat (rigor
mortis), penurunan suhu tubuh, pembusukan, mumifikasi dan adiposera.3
Tanda Tidak Pasti kematian
Tanda kematian yang tidak pasti adalah: (1) pernafasan berhenti, dinilai selama
lebih dari 10 menit (inspeksi, palpasi, auskultasi).; (2) Terhentinya sirkulasi, dinilai
selama 15 menit, nadi karotis tidak teraba.; (3) Kulit pucat, tetapi bukan merupakan
tanda yang dapat dipercaya, karena mungkin terjadi spasme agonal sehingga wajah
tampak kebiruan.; (4) Tonus otot menghilang dan relaksasi. Relaksasi dan otot-otot
wajah menyebabkan kulit menimbul sehingga kadang-kadang membuat orang
menjadi tampak lebih muda. Kelemasan otot sesaat setelah kematian disebut relaksasi
primer. Hal ini mengakibatkan pendataran daerah-daerah yang tartekan, misalnya
daerah belikat dan bokong pada mayat yang terlentang.; (5) Pembuluh darah retina
mengalami segmentasi beberapa menit setelah kematian. Segmen-segmen tersebut
bergerak ke arah tepi retina dan kemudian menetap.3
Tanda Pasti Kematian
Untuk melihat tanda pasti kematian seseorang, maka akan dapat ditemukan lebam
mayat, kaku mayat, penurunan suhu tubuh, pembusukan, adiposera, dan
mummifikasi.3
Lembam Mayat
Pada lebam mayat (livor mortis), setelah kematian klinis maka eritrosit akan
menempati tempat terbawah akibat gaya gravitasi, mengisi vena dan venula,
membentuk bercak darah berwarna ungu (livide) pada bagian terbawah tubuh, kecuali
pada bagian tubuh yang tertekan alas keras. Darah tetap cair karena adanya aktivitas
fibrinolisin yang berasal dari endotel pembuluih darah. Lebam mayat biasanya mulai
tampak pada 20-30 menit pasca mati, makin lama intensitasnya bertambah dan
menjadi lengkap dan menetap setelah 8- 12 jam. Sebelum waktu itu, lebam mayat
masih hilang (memucat) pada penekanan dan dapat berpindah jika posisi mayat
8

diubah. Memucatnya lebam mayat akan lebih cepat dan lebih sempurna apabila
penekanan atau perubahan posisi tubuh tersebut dilakukan dalam 6 jam pertama
setelah mati klinis. Tetapi walaupun setelah 24jam, darah masih tetap cukup cair
sehingga sejumlah darah masih dapat mengalir dan membentuk lebam mayat di
tempat terendah yang baru. Kadang dijumpai bercak perdarahan berwarna biru
kehitaman akibat pecahnya pembuluh darah. Menetapnya lebam disebabkan oleh
bertimbunnya sel-sel darah dalam jumlah cukup banyak sehingga sulit berpindah lagi.
Selain itu kekauan otot-otot dinding pembuluh darah ikut mempersulit perpindahan
tersebut.
Lebam mayat dapat digunakan untuk tanda pasti kematian; memperkirakan
sebab kematian, misalnya lebam berwarna merah terang apda keracunan CO atau CN,
warna kecoklatan pada keracunan anililn, nitrit, nitrat, sulfonal; mengetahui
perubahan posisi mayat yang dilakukan setelah terjadi lebam mayat yang menetap;
dan memperkirakan saat kematian. Apabila pada mayat terlentang yang telah timbul
lebam mayat belum menetap dilakukan perubahan posisi menjadi telungkup, maka
setelah beberapa saat akan terbentuk lebam mayat baru di daerah dada dan perut.
Lebam mayat yang belum menetap atau masih hilang pada penekanan menunjukkan
saat kematian kurang dari 8-12 jam sebelum saat pemeriksaan.1
Mengingat pada lebam mayat darah terdapat didalam pembuluh darah, maka
keadaan ini digunakan untuk membedakannya dengan resapan darah akibat trauma
(ekstravasi). Bila pada daerah tersebut dilakukan irisan dan kemudian disiram dengan
air, maka warna merah darah akan hilang atau pudar pada lebam mayat, sedangkan
resapan darah tidak menghilang.3
Kaku Mayat
Kaku mayat (rigor mortis), kelenturan otot setelah kematian masih
dipertahankan karena metabolisme tingkat seluler masih berjalan berupa pemecahan
cadangan glikogen otot yang menghasikan energi. Energi ini digunakan untuk
mengubah ADP menjadi ATP. Selama masih terdapat ATP maka serabut aktin dan
miosin tetap lentur. Bia cadangan glikogen dalam otot habis, maka energi tidak
terbentuk lagi, aktin dan miosin menggumpal dan otot menjadi kaku.3
Perhatikan bahwa ATP baru harus melekat ke miosin agar ikatan jembatan
silang antara miosin dan aktin dapat terlepas pada akhir siklus, meskipun selama
proses disosiasi ini ATP tidak terurai. Kebutuhan akan ATP dalam memisahkan miosin
dan aktin jelas terlihat dalam rigor mortis, suatu penguncian menyeluruh otot rangka
9

yang dimulai 3 sampai 4 setelah kematian dan berakhir dalam waktu sekitar 12 jam.
Setelah kematian, konsentrasi Ca2+ sitosol mulai meningkat, kemungkinan besar
karena membrane sel otot inaktif tidak dapat menahan Ca2+ ekstrasel dan juga
mungkin karena Ca2+ keluar dari kantung lateral. Ca2+ ini menggeser ke samping
protein-protein regulatorik, menyebabkan aktin berikatan dengan jembatan silang
miosin, yang sudah dibekali ATP sebelum kematian. Sel-sel mati tidak lagi dapat
menghasilkan ATP sehingga aktin dan miosin, sesekali terikat, tidak dapat terlepas,
karena sel-sel tersebut tidak memiliki ATP segar. Karena itu filament tipis dan tebal
tetap terikat oleh jembatan silang, menyebabkan otot yang mati menjadi kaku. Dalam
beberapa hari selanjutnya, kaku mayat secara bertahap berkurang akibat proteinprotein yang terlibat dalam kompleks rigor mortis mulai terurai.3
Kaku mayat dibuktikan dengan memeriksa persendian. Kaku mayat mulai
tampak kira-kira 2 jam setelah mati kilnis, dimulai dari bagian luar tubuh (otot-otot
kecil) ke arah dalam (sentripetal). Teori lama menyebutkan bahwa kaku mayat ini
menjalar kraniokaudal. Setelah mati klinis 12 jam kaku mayat menjadi lengkap,
dipertahankan selama 12 jam dan kemudian menghilang dalam urutan yang sama.
Kaku mayat umumnya tidak disertai pemendekan serabut otot, tetapi jika sebelum
terjadi kaku mayat otot berada dalam posisi teregang, maka saat kaku mayat terbentuk
akan terjadi pemendekan otot.
Faktor-faktor yang mempercepat terjadinya kaku mayat adalah aktivtas fisik
sebelum mati, suhu tubuh yang tinggi, bentuk tubuh kurus dengan otot-otot keci dan
suhu lingkungan tinggi. Kaku mayat dapat dipergunakan untuk menunjukkan tanda
pasti kematian dan memperkirakan saat kematian.3
Penurunan Suhu Tubuh
Penurunan suhu tubuh terjadi karena proses pemindahan panas dari suatu
benda ke benda yang lebih dingin, melalul cara radiasi, konduksi, evaporasi dan
konveksi. Grafik penurunan suhu tubuh ini hampir berbentuk kurva sigmoid atau
seperti huruf S. Kecepatan penurunan suhu dipengaruhi oleh suhu keliling, aliran dan
kelembaban udara, bentuk tubuh, posisi tubuh, pakaian. Selain itu suhu saat mati perlu
diketahul untuk perhitungan perkiraan saat kematian. Penurunan suhu tubuh akan
lebih cepat pada suhu keliling yang rendah, lingkungan berangin dengan kelembaban
rendah, tubuh yang kurus, posisi terlentang, tidak berpakaian atau berpakaian tipis,
dan pada umumnya orang tua serta anak kecil.3
Pembusukan
10

Pembusukan adalah proses degradasi jaringan yang terjadi akibat autolysis dan
kerja bakteri. Autolisis adalah pelunakan dan pencairan jaringan yang terjadi dalam
keadaan steril. Autolisis timbul akibat kerja digestif oleh enzim yang dilepaskan sel
pascamati dan hanya dapat dicegah dengan pembekuan jaringan.
Setelah seseorang meninggal, bakteri yang normal hidup dalam tubuh segera
masuk ke jaringan. Darah merupakan media terbaik bagi bakteri tersebut bertumbuh.
Sebagian besar bakteri berasal dari usus dan yang terutama adalah Clostridium
welchii. Pada proses pembusukan ini terbentuk gas-gas alkana, H 2S dan HCN, serta
asam amino dan asam lemak.
Pembusukan baru tampak kira-kira 24 jam pasca mati berupa warna kehijauan
pada perut kanan bawah, yaitu daerah sekum yang isinya lebih cair dan penuh dengan
bakteri serta terletak dekat dinding perut. Warna kehijauan ini disebabkan oleh
terbentuknya sulf-met-hemoglobin. Secara bertahap warna kehijauan ini akan
menyebar ke seluruh perut dan dada, dan bau busukpun mulai tercium. Pembuluh
darah bawah kulit akan tampak seperti melebar dan berwarna hijau kehitaman.3
Selanjutnya kulit ari akan terkelupas atau membentuk gelembung berisi cairan
kemerahan berbau busuk.
Pembentukan gas di dalam tubuh, dimulai di dalam lambung dan usus, akan
mengakibatkan tegangnya perut dan keluarnya cairan kemerahan dari mulut dan
hidung. Gas yang terdapat di dalam jaringan dinding tubuh akan mengakibatkan
terabanya derik (krepitasi). Gas ini menyebabkan pembengkakan tubuh yang
menyeluruh, tetapi ketegangan terbesar terdapat di daerah dengan jaringan longgar,
seperti skrotum dan payudara. Tubuh berada dalam sukap seperti petinju (pugilistic
attitude), yaitu kedua lengan dan tungkai dalam sukap setengah fleksi akibat
terkumpulnya gas pembusukan di dalam rongga sendi.3
Selanjutnya, rambut menjadi mudah dicabut dan kuku mudah terlepas, wajah
menggembung dan berwarna ungu kehijauan, kelopak mata membengkak, pipi
tembem, bibir tebal, lidah membengkak dan sering terjulur diantara gigi. Keadaan
seperti ini sangat berbeda dengan wajah asli korban, sehingga tidak dapat lagi dikenali
oleh keluarga.3
Hewan pengerat akan merusak tubuh mayat dalam beberapa jam pasca mati,
terutama bila mayat dibiarkan tergeletak di daerah rumpun. Luka akibat gigitan
binatang pengerat khas berupa lubang-lubang dangkal dengan tepi bergerigi. Larva
lalat akan dijumpai setelah pembentukan gas pembusukan nyata, yaitu kira-kira 36-48
11

jam pasca mati. Kumpulan telur lalat telah dapat ditemukan beberapa jam pasca mati,
di alis mata, sudut mata, lubang hidung dan diantara bibir. Telur lalat tersebut
kemudian akan menetas menjadi larva dalam waktu 24 jam. Dengan identifikasi
spesies lalat dan mengukur panjang larva, maka dapat diketahui usia larva tersebut,
yang dapat dipergunakan untuk memperkirakan saat mati, dengan asumsi bahwa lalat
biasanya secepatnya meletakkan telur setelah seseorang meninggal (dan tidak lagi
dapat mengusir lalat yang hinggap).
Alat dalam tubuh akan mengalami pembusukan dengan kecepatan yang
berbeda. Perubahan warna terjadi pada lambung terutama di daerah fundus, usus,
menjadi ungu kecoklatan. Mukosa saluran napas menjadi kemerahan, endokardium
dan intima pembuluh darah juga kemerahan, akibat hemolisis darah. Difusi empedu
dari kandung empedu mengakibatkan warna coklat kehijauan di jaringan sekitarnya.
Otak melunak, hati menjadi berongga seperti spons, limpa melunak dan mudah robek.
Kemudian alat dalam akan mengerut. Prostat dan uterus non gravid merupakan organ
padat yang paling lama bertahan terhadap perubahan pembusukan.3
Pembusukan akan timbul cepat bila suhu keliling optimal (26,5 deracat celcius
hingga sekitar suhu normal tubuh), kelembaban dan udara yang cukup, banyak bakteri
pembusuk, tubuh gemuk atau menderita penyakit infeksi dan sepsis. Media tempat
mayat terdapat juga berperan. Mayat yang terdapat di udara akan lebih cepat
membusuk dibandingkan dengan yang terdapat dalam air atau dalam tanah.
Perbandingan kecepatan pembusukan mayat yang berada dalam tanah:air:udara
adalah 1:2:8.3
Adiposera
Adiposera (lilin mayat) adalah terbentuknya bahan yang berwarna keputihan,
lunak atau berminyak, berbau tengik yang terjadi di dalam jaringan lunak tubuh pasca
mati. Dulu disebut sebagai saponifikasi, tetapi istilah adiposera lebih disukai karena
menunjukkan sifat-sifat diantara lemak dan lilin.
Adiposera terutama terdiri dari asam-asam lemak tak jenuh yang terbentuk
oleh hidrolisis lemak dan mengalami hidrogenisasi sehingga terbentuk asam lemak
jenuh pasca mati yang tercampur dengan sisa-sisa otot, jaringan ikat, jaringan saraf
yang termumifikasi dan Kristal-kristal sferis dengan gambaran radial. Adiposera
terapung di air, bila dipanaskan mencair dan terbakar dengan nyala kuning, larut di
dalam alkohol panas dan eter.

12

Adiposera dapat terbentuk di sebaran lemak tubuh, bahkan di dalam hati,
tetapi lemak superfisial yang pertama kali terkena. Biasanya perubahan berbentuk
bercak, dapat terlihat di pipi, payudara atau bokong, bagian tubuh atau ekstremitas.
Jarang seluruh lemak tubuh berubah menjadi adiposera.
Adiposera akan membuat gambaran permukaan luar tubuh dapat bertahan
hingga bertahun-tahun, sehingga identifikasi mayat dan perkiraan sebab kematian
masih dimungkinkan. Faktor-faktor yang mempermudah terbentuknya adiposera
adalah kelembaban dan lemak tubuh yang cukup, sedangkan yang menghambat
adalah air yang mengalir yang membuang elektrolit.
Udara yang dingin menghambat pembentukan, sedangkan suhu yang hangat
akan mempercepat. Invasi bakteri endogen ke dalam jaringan pasca mati juga akan
mempercepat pembentukannya.
Pembusukan akan terhambat oleh adanya adiposera, karena derajat keasaman
dan dehidrasi jaringan bertambah. Lemak segar hanya mengandung kira-kira 0,5%
asam lemak bebas, tetapi dalam waktu 4 minggu pasca mati dapat naik menjadi 20%
dan setelah 12 minggu menjadi 70% atau lebih. Pada saat ini adiposera menjadi jelas
secara makroskopik sebagai bahan berwarna putih kelabu yang menggantikan atau
menginfiltrasi bagian-bagian lunak tubuh. Pada stadium awal pembentukannya
sebelum makroskopik jelas, adiposera paling baik dideteksi dengan analisis asam
palmitat.3
Mumifikasi
Mumifikasi adalah proses penguapan cairan atau dehidrasi jaringan yang
cukup cepat sehingga terjadi pengeringan jaringan yang selanjutnya dapat
menghentikan pembusukan. Jaringan berubah menjadi keras dan kering, berwarna
gelap, berkeriput dan tidam membusuk karena kuman tidak berkembang pada
lingkungan yang kering. Mumifikasi terjadi bila suhu hangat, kelembaban rendah,
aliran udara yang baik, tubuh yang dehidrasi dan waktu yang lama (12-14 minggu).
Mumifikasi jarang dijumpai pada cuaca yang normal.3
Traumatologi
Traumatologi adalah ilmu yang mempelajari tentang luka dan cedera serta
hubungannya dengan berbagai kekerasan (ruda paksa), sedangkan yang di maksud
dengan luka adalah suatu keadaan ketidaksinambungan jaringan tubuh akibat
kekerasan.Berdasarkan sifat serta penyebabnya, kekerasan dapat dibedakan atas
13

kekerasan yang bersifat : Mekanik (Kekerasan oleh benda tajam, Kekerasan oleh
benda tumpul, Tembakan senjata api), Fisik (Suhu, Listrik dan petir, Perubahan
tekanan udara, Akustik, Radiasi), Kimia (Asam atau basa kuat)5
Luka Akibat Kekerasan Tumpul
Luka yang terjadi akibat kekerasan tumpul bisa berupa memar (kontusio,
hematome), luka lecet (ekskoriasi, abrasi), dan luka terbuka atau robek (vulnus
laseratum).
Memar / Hematoma
Memar adalah suatu perdarahan dalam jaringan bawah kulit/kutis akibat
pecahnya kapiler dan vena, yang disebabkan oleh kekerasan benda tumpul. Luka
memar kadangkala member petunjuk tentang bentuk benda penyebabnya.
Letak, bentuk dan luas luka memar dipengaruhi oleh berbagai factor seperti
besarnya kekerasan, jenis benda penyebab (karet, kayu, besi), kondisi dan jenis
jaringan (jaringan ikat longgar, jaringan lemak), usia, jenis kelamin, corak dan warna
kulit, kerapuhan pembuluh darah, penyakit penyerta ( hipertensi, diastesis
hemorragik, penyakit kardiovaskular). Akibat gravitasi, lokasi hematom mungkin
terletak jauh dari letak benturan.
Umur luka memar secara kasar dapat diperkirakan melalui perubahan
warnanya. Pada saat timbul, memar berwarna merah, kemudian berubah menjadi
ungu atau hitam, setelah 4-5 hari akan berwarna hijau yang kemudian akan berubah
menjadi kuning dalam 7-10 hari, dan akhirnya menghilang dalam 14-15 hari.
Perubahan warna tersebut berlangsung mulai dari tepid an waktunya dapat bervariasi
tergantung derajat dan berbagai factor yang mempengaruhinya.3,5
Dari sudut pandang medikolegal, interpretasi luka memar merupakan hal
penting, apalagi bila luka memar itu disertai luka lecet. Dengan perjalanan waktu,
baik pada orang hidup atau mati, luka memar akan memberikan gambaran yang
makin jelas.
Hematoma ante-mortem yang timbul beberapa saat sebelum kematian
biasanya akan menunjukkan pembengkakan dan infltrasi darah dalam jaringan
sehingga dapat dibedakan dari lebam mayat dengan cara melakukan penyayatan kulit.
Pada lebam mayat, darah akan mengalir keluar dari pembuluh darah yang tersayat
sehingga bila dialiri air, penampang sayatan akan tampak bersih. Sedangkan pada
hematom penampang sayatn tetap berwarna merah kehitaman. Tetapi harus diingat

14

bahwa pada pembusukan juga terjadi ekstravasasi darah yang dapat mengacaukan
pemeriksaan ini.5
Luka lecet (ekskoriasi / abrasi)
Luka lecet terjadi akibat cedera pada epidermis yang bersentuhan dengan
benda yang memiliki permukaan kasar atau runcing. Manfaat interpretasi luka lecet
ditinju dari aspek medikolegal seringkali diremehkan, padahal pemeriksaan luka lecet
yang teliti disertai pemeriksaan TKP dapat mengungkapkan peristiwa yang
sebenarnya terjadi. Sesuai dengan mekanisme terjadinya, lika lecet diklasifikasikan
sebagai luka lecet gores (scratch), luka lecet serut (graze), luka lecet tekan
(impression) dan luka lecet geser (friction abrasion). Luka lecet gores diakibatkan
oleh benda runcing (misalnya kuku jari yang menggores kulit) yang menggesar
lapisan permukaan kulit (epidermis) didepannya dan menyebabkan lapisan tersebut
terangkat sehingga dapat menunjukkan arah kekerasan yang terjadi.5
Luka lecet serut adalah variasi dari luka lecet gores yang daerah
persentuhannya dengan permukaan kulit lebih lebar. Arah kekerasan ditentukan
dengan melihat letak tumpukan epitel.3
Luka lecet tekan disebabkan oleh penjejakan benda tumpul pada kulit. Karena
kulit adalah jaringan yang lentur, maka bentuk kula lecet tekan belum tentu sama
dengan bentuk permukaan benda tumpul tersebut, tetapi masih memungkinkan
identifikasi benda penyebab yang mempunyai bentuk yang khas.
Gambaran luka lecet tekan yang ditemukan pada mayat adalah daerah kulit
yang kaku dengan warna lebih gelap dari sekitarnya akibat menjadi lebih
padatnya jaringan yang tertekan serta terjadinya pengeringan yang berlangsung
pasca kematian.
Luka lecet geser disebabkan oleh tekananlinier pada kulit disertai gerakan
bergeser. Misalnya pada kasus gantung atau jerat serta pada korban pecut. Luka
lecet geser yang terjadi semasa hidup mungkin sulit dibedakan dari luka lecet
yang terjadi segera pasca kematian.3
Luka robek
Merupakan luka terbuka akibat trauma benda tumpul yang menyebabkan kulit
teregang ke satu arah dan bila batas elstisitas kulit terlampaui makan akan terjadi
robekan pada kulit. Luka ini mempunyai ciri yang umumnya tidak beraturan, tepi atau
dinding tidak rata, tampak jembatan jaringan antara kedua tepi luka, bentuk dasar luka
tidak beraturan, sering tampak luka lecet atau luka memar di sisi luka.

15

Kekerasan benda tumpul yang cukup kuat dapat menyebabkan patah tulang.
Bila terdapat lebih dari 1 garis patah tulang yang saling bersinggungan maka garis
yang terjadi belakangan akan terhenti pada garis patah yang telah terjadi sebelumnya.5
Luka Akibat Kekerasan Tajam3,5
Benda-benda yang dapat mengakibatkan luka dengan sifat luka seperti ini
adalah benda yang memiliki sisi tajam, baik berupa garis maupun runcing, yang
bervariasi dari alat-alat seperti pisau, golok, dan sebagainya hingga keping kaca.
Gambaran umum luka yang diakibatkannya adalah tepi dan dinding luka yang rata,
berbentuk garis, tidak terdapat jembatan jaringan dan dasar luka berbentuk garis atau
titik. Luka akibat kekerasan benda tajam dapat berupa luka iris atau luka sayat, luka
tusuk dan luka bacok. Selain gambaran umum luka di atas, luka iris atau sayat dan
luka bacok mempunyai kedua sudut luka lancip dan dalam luka tidak melebihi
panjang luka. Sudut luka yang lancip dapat terjadi dua kali pada tempat yang
berdekatan akibat pergeseran senjata sewaktu ditarik atau akibat bergeraknya korban.
Bila dibarengi gerak memutar, dapat menghasilkan luka yang tidak selalu segaris.5
Pada luka tusuk, sudut luka dapat menunjukkan perkiraan benda penyebab,
apakah berupa pisau bermata satu atau bermata dua. Bila satu sudut luka lancip dan
yang lain tumpul berarti benda penyebabnya adalah benda tajam bermata satu. Bila
kedua sudut luka lancip, luka tersebut dapat diakibatkan oleh benda tajam bermata
dua. Benda tajam bermata satu dapat menimbulkan luka tusuk dengan kedua sudut
luka lancip apabila hanya bagian ujung benda saja yang menyentuh kulit, sehingga
sudut luka dbentuk oleh ujung dan sisi tajamnya. Kulit di sekitar luka akibat
kekerasan benda tajam biasanya tidak menunjukkan adanya luka lecet atau memar,
kecuali bila bagian gagang turut membentur kulit.5
Pada luka tusuk, panjang luka biasanya tidak mencerminkan lebar benda tajam
penyebabnya, demikian pula panjang saluran luka biasanya tidak menunjukkan
panjang benda tajam tersebut. Hali ini disebabkan oleh faktor elastisitas jaringan dan
gerakan korban.3
Asfiksia Mekanik
Asfiksia mekanik meliputi peristiwa pembekapan, penyumbatan, pencekikan,
penjeratan dan gantung serta penekanan pada dinding dada. Pada pemeriksaan mayat
sering ditemukan tanda kematian akibat asfiksi berupa lebam mayat yang gelap dan
luas, perbendungan pada bola mata, busa halus pada lubang hidung, mulut dan saluran
pernafasan, perbendungan pada alat-alat dalam serta bintik perdarahan Tardieu.

16

Tanda-tanda asfiksi tidak akan ditemukan bila kematian terjadi melalui mekanisme
non-asfiksi.3,6
Terdapat empat fase dalam asfiksia, yaitu:
1. Fase Dispneu.
Pada fase ini terjadi penurunan kadar oksigen dalam sel darah merah dan
penimbunan CO2 dalam plasma akan merangsang pusat pernapasan di medulla
oblongata. Hal ini membuat amplitude dan frekuensi pernapasan meningkat, nadi
cepat, tekanan darah meninggi, dan mulai tampak tanda-tanda sianosis terutama muka
dan tangan.
2. Fase Konvulsi.
Akibat kadar CO2 yang naik maka akan timbul rangsangan terhadap susunan
saraf pusat sehingga terjadi konvulsi (kejang), yang mula-mula kejang berupa kejang
klonik tetapi kemudian menjadi kejang tonik dan akhirnya timbul spasme opistotonik.
Pupil mengalami dilatasi, denyut jantung menurun, tekanan darah juga menurun. Efek
ini berkaitan dengan paralisis pusat yang lebih tinggi dalam otak akobat kekurangan
O2.
3. Fase Apneu.
Pada fase ini, terjadi depresi pusat pernapasan yang lebih hebat. Pernapasan
melemah dan dapat berhenti, kesadaran menurun,dan akibat dari relaksasi sfingter
dapat terjadi pengeluaran cairan sperma, urine, dan tinja.
4.Fase Akhir.
Terjadi paralisis pusat pernapasan yang lengkap. Pernapasan berhenti setelah
kontraksi otomatis otot pernapasan kecil pada leher. Jantung masih berdenyut
beberapa saat setelah pernapasan berhenti. Masa dari saat asfiksia timbul sampai
terjadinya kematian sangat bervariasi. Umumnya berkisar antara 4-5 menit.3,6

17

Fase 1 dan 2 berlangsung ± 3-4 menit. Hal ini tergantung dari tingkat
penghalangan O2. Bila penghalangan O2 tidak 100 %, maka waktu kematian akan
lebih lama dan tanda-tanda asfiksia akan lebih jelas dan lengkap.3,6
Pemeriksaan jenazah (autopsi) pada kasus - kasus asfiksia akan mamberikan
gambaran:
Pemeriksaan luar
Dapat ditemukan sianosis pada bibir, ujung - ujung jari dan kuku.
Pembendungan sistemik maupun pulmoner dan dilatasi jantung kanan merupakan
tanda klasik pada kematian akibat asfiksia. Kematiaan biasanya disebabkan kegagalan
kerja jantung yang disebabkan oleh tekanan mendadak pada leher. Mekanisme yang
terjadi mirip dengan sinkop sinus yaitu misalnya mengenakan pakaian dengan kerah
yang ketat yang dapat menyebabkan bradikardia dan hilangnya kesadaran. Tanda
petekie dan hemoragis dan tanda lain terkadamg tidak diketemukan pada kematian
asfiksia karena proses sirkulasi yang sangat cepat sehingga tidak memberi waktu
yang cukup terjadinya tahapan asfiksia pada umumnya.
Warna lebam mayat (livor mortis) merah - kebiruan gelap akan terbentuk lebih
cepat. Distribusi lebam lebih luas akibat kadar CO2 yang tinggi dan aktivitas
fibrinolisin dalam darah, sehingga darah sukar membeku dan mudah mengalir.
Tingginya fibrinolisin ini sangat berhubungan dengan cepatnya proses kematian.
Terdapat busa halus pada hidung dan mulut yang timbul akibat peningkatan
aktivitas pernafasan pada fase 1 yang disertai sekresi selaput lendir saluran nafas
bagian atas. Keluar masuknya udara yang cepat dalam saluran sempit akan
menimbulkan busa yang kadang - kadang bercampur darah akibat pecahnya kapiler.
Gambaran perbendungan pada mata berupa pelebaran pembuluh darah
konjungtiva bulbi dan palpebra yang terjadi pada fase 2, akibat tekanan hidrostatik
dalam pembuluh darah meningkat terutama dalam vena, venula dan kapiler. Selain itu
hipoksia dapat merusak endotel kapiler sehingga dinding kapiler yang terdiri dari
selapis sel akan pecah dan timbul bintik - bintik perdarahan yang dinamakan sebagai
tardeou’s spot.3
Pemeriksaan dalam
Darah berwarna lebih gelap dan lebih encer, karena fibrinolisin darah yang
meningkat paska kematian. Busa halus di dalam saluran pernafasan. Pembendungan

18

sirkulasi pada seluruh organ dalam tubuh sehingga menjadi lebih berat, berwarna
lebih gelap, dan pada pengirisan banyak mengeluarkan darah.
Petekie dapat ditemukan pada mukosa usus halus, epikardium pada belakang
jantung daerah aurikuloventrikular, subpleura viseralis paru terutama di lobus bawah
pars diafragmatika dan fissura interlobaris, kulit kepala sebelah dalam terutama
daerah otot temporal, mukosa epiglottis dan daerah subglotis.3,6
Penggantungan
Penggantungan (hanging) merupakan suatu strangulasi berupa tekanan pada
leher akibat adanya jeratan yang menjadi erat oleh berat badan korban.
Ada 4 penyebab kematian pada penggantungan, yaitu : Asfiksia, Iskemia otak akibat
gangguan sirkulasi, Vagal reflex, Kerusakan medulla oblongata atau medulla spinalis
Ada 3 cara kematian pada penggantungan, yaitu : Bunuh diri (paling sering),
Pembunuhan, termasuk hukuman mati, Kecelakaan, misalnya bermain dengan tali
lasso, tali parasut pada terjun payung, dan penggunaan tali untuk mendapat kepuasan
seks. Untuk mengetahui lebih jelas cara kematian ini, hal yang perlu diperhatikan,
yaitu :
Ada tidaknya alat penumpu korban, misalnya bangku dan sebagainya. Arah serabut
tali penggantung. Serabut tali penggantung yang arahnya menuju korban dapat
memberi petunjuk bagi kita bahwa korban melakukan bunuh diri. Sebaliknya, bila
arah serabut tali menjauhi korban menjadi bukti korban dibunuh lebih dahulu sebelum
digantung. Distribusi lebam mayat, Distribusi lebam mayat harus kita perhatikan
secara seksama, apakah sesuai dengan posisi mayat ataukah tidak.
Jenis simpul tali gantungan, Hal ini penting diperhatikan karena dapat kita
jadikan sebagai patokan apakah korban melakukan bunuh diri ataukah korban
pembunuhan. Simpul tali, baik simpul hidup maupun simpul mati, bila melewati
lingkar kepala korban dapat menunjukkan korban melakukan bunuh diri. Apabila
simpul tali tidak melewati lingkar kepala korban, berarti korban dibunuh lebih dahulu
sebelum digantung. Simpul hidup harus dilonggarkan secara maksimal untuk
membuktikannya.3,6
Pemeriksaan luar
Kepala, Muka korban penggantungan akan mengalami sianosis dan terlihat
pucat karena vena terjepit. Selain itu, pucat pada muka korban juga disebabkan
terjepitnya arteri. Mata korban dapat melotot akibat adanya bendungan pada kepala
19

korban. Hal ini disebabkan terhambatnya vena-vena kepala tetapi arteri kepala tidak
terhambat. Bintik-bintik perdarahan pada konjungtiva korban terjadi akibat pecahnya
vena dan meningkatnya permeabilitas pembuluh darah karena asfiksia. Lidah korban
penggantungan bisa terjulur, bisa juga tidak terjulur. Lidah terjulur apabila letak
jeratan gantungan tepat berada pada kartilago tiroidea. Lidah tidak terjulur apabila
letaknya berada diatas kartilago tiroidea.
Leher, Alur jeratan pada leher korban penggantungan berbentuk lingkaran (V
shape). Alur jerat berupa luka lecet atau luka memar dengan ciri-ciri : Alur jeratan
pucat, Tepi alur jerat coklat kemerahan, Kulit sekitar alur jerat terdapat bendungan.,
Alur jeratan yang simetris / tipikal pada leher korban penggantungan (hanging)
menunjukkan letak simpul jeratan berada dibelakang leher korban. Alur jeratan yang
asimetris menunjukkan letak simpul disamping leher.
Anggota gerak (lengan dan tungkai), Anggota gerak korban penggantungan
dapat kita temukan adanya lebam mayat pada ujung bawah lengan dan tungkai.
Penting juga kita ketahui ada tidaknya luka lecet pada anggota gerak tersebut.
Dubur dan Alat kelamin, Dubur korban penggantungan dapat mengeluarkan
feses. Alat kelamin korban dapat mengeluarkan mani, urin, dan darah (sisa haid).
Pengeluaran urin disebabkan kontraksi otot polos pada stadium konvulsi atau puncak
asfiksia. Lebam mayat dapat ditemukan pada genitalia eksterna korban.3,6
Pemeriksaan Dalam
Kepala, Kepala korban penggantungan dapat kita temukan tanda-tanda
bendungan pembuluh darah otak, kerusakan medulla spinalis dan medulla oblongata.
Kedua kerusakan tersebut biasanya terjadi pada hukuman gantung (judicial hanging).
Leher, Leher korban penggantungan dapat kita temukan adanya perdarahan
dalam otot atau jaringan, fraktur (os hyoid, kartilago tiroidea, kartilago krikoidea, dan
trakea), dan robekan kecil pada intima pembuluh darah leher (vena jugularis).
Dada dan perut, Pada dada dan perut korban dapat ditemukan adanya
perdarahan (pleura, perikard, peritoneum, dan lain-lain) dan bendungan/kongesti
organ.
Darah, Darah dalam jantung korban penggantungan (hanging) warnanya lebih
gelap dan konsistensinya lebih cair.3,6
Interpretasi Temuan
Sebab Kematian
20

Terhambatnya aliran udara pernafasan karena kasus gantung
Cara Kematian
Pada kasus ini, cara kematian korban adalah tidak wajar, dengan dugaan
terjadi pembunuhan di penjara dengan cara menggantung pasien dengan tali, dan
sebelumnya telah dilakukan berbagai tindak kekerasan pada pasien.
Mekanisme Kematian
Asfiksia yang terjadi karena tidak baiknya jalan nafas sehinga menyebabkan
hipoksia sehingga menimbulkan kerusakan jaringan serta kematian

Visum et Repertum
Visum et Repertum adalah keterangan yang dibuat dokter atas permintaan
penyidik yang berwenang mengenai hasil pemeriksaan medis terhadap manusia, hidup
maupun mati, ataupun bagian/diduga bagian tubuh manusia, berdasarkan keilmuannya
dan di bawah sumpah untuk kepentingan peradilan.7
Penegak hukum mengartikan Visum et Repertum sebagai laporan tertulis yang
dibuat dokter berdasarkan sumpah atas permintaan yang berwajib untuk kepentingan
peradilan tentang segala hal yang dilihat dan ditemukan menurut pengetahuan yang
sebaik-baiknya.
Jenis Visum et Repertum
Ada beberapa jenis Visum et Repertum, yaitu:
1. Visum et Repertum Perlukaan atau Keracunan
2. Visum et Repertum Kejahatan Susila
3. Visum et Repertum Jenazah
4. Visum et Repertum Psikiatrik
Tiga jenis visum yang pertama adalah Visum et Repertum mengenai tubuh
atau raga manusia yang berstatus sebagai korban, sedangkan jenis keempat adalah
mengenai mental atau jiwa tersangka atau terdakwa atau saksi lain dari suatu tindak
pidana. Visum et Repertum perlukaan, kejahatan susila dan keracunan serta Visum et
Repertum psikiatri adalah visum untuk manusia yang masih hidup sedangkan Visum
et Repertum jenazah adalah untuk korban yang sudah meninggal. Keempat jenis
visum tersebut dapat dibuat oleh dokter yang mampu, namun sebaiknya untuk Visum
et Repertum psikiatri dibuat oleh dokter spesialis psikiatri yang bekerja di rumah sakit
jiwa atau rumah sakit umum.7
Format Visum et Repertum
21

Meskipun tidak ada keseragaman format, namun pada umumnya Visum et
Repertum memuat hal-hal sebagai berikut:
Visum et Repertum terbagi dalam 5 bagian:7
1. Pembukaan: Kata “Pro Justisia” artinya untuk peradilan, Tidak dikenakan materai,
Kerahasiaan
2. Pendahuluan: berisi landasan operasional ialah obyektif administrasi: Identitas
penyidik (peminta Visum et Repertum, minimal berpangkat Pembantu Letnan Dua,
Identitas korban yang diperiksa, kasus dan barang bukti, Identitas TKP dan saat/sifat
peristiwa, Identitas pemeriksa (Tim Kedokteran Forensik), Identitas saat/waktu dan
tempat pemeriksaan
3. Pelaporan/inti isi: Dasarnya obyektif medis (tanpa disertai pendapat pemeriksa,
Semua pemeriksaan medis segala sesuatu/setiap bentuk kelainan yang terlihat dan
diketahui langsung ditulis apa adanya (A-Z)
4. Kesimpulan: landasannya subyektif medis (memuat pendapat pemeriksa sesuai
dengan pengetahuannya) dan hasil pemeriksaan medis (poin 3), Ilmu kedokteran
forensik, Tanggung jawab medis
5. Penutup: landasannya Undang-Undang/Peraturan yaitu UU no. 8 tahun 1981 dan
LN no. 350 tahun 1937 serta Sumpah Jabatan/Dokter yang berisi kesungguhan dan
kejujuran tentang apa yang diuraikan pemeriksa dalam Visum et Repertum
tersebut.
Contoh Visum Et Repertum
Bagian Ilmu Kedokteran Forensik
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Jl. Salemba Raya 6 Telp. 3106197, Fax. 3154626, Jakarta 10430
Nomor : 1435-SK.III/VER/3-11
Jakarta,05 Desember 2015
Lamp : Satu sampul tersegel-------------------------------------------------------------------Perihal : Hasil Pemeriksaan Pembedahan-----------------------------------------------------atas jenazah Tn. A---------------------------------------------------------------------PROJUSTITIA
Visum Et Repertum
Yang bertanda tangan di bawah ini, dr. Andi, dokter ahli kedokteran forensik pada
Bagian Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida
Wacana Jakarta, menerangkan bahwa atas permintaan tertulis dari Kepolisian Resort
Jakarta Barat No. Pol: A/053/Ver/LK/X/2011 tertanggal dua sembilan November dua
ribu lima belas, maka pada tanggal lima desember tahun dua ribu lima belas, pukul
sepuluh lewat tiga puluh menit Waktu Indonesia bagian Barat, bertempat di ruang
bedah jenazah Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana telah
melakukan pemeriksaan atas jenazah yang menurut surat permintaan tersebut adalah :
Nama
: Budi
22

Umur
Jenis kelamin
Warga negara
Pekerjaan
Agama
Alamat
I.

: 36 tahun
: Laki-laki
: Indonesia
: Supir
: Islam
: Jl. Tanjung duren 3 RT 10 No 05

Hasil Pemeriksaan
Pemeriksaan Luar
1.
Mayat adalah seorang laki-laki bangsa Indonesia, umur
kurang lebih tiga puluh sembilan tahun, kulit berwarna sawo matang, gizi
cukup, panjang badan seratus enam puluh lima sentimeter dan berat badan
tujuh
puluh
empat
kilogram
dan
zakar
disunat.
----------------------------------------------------------2.
Mayat
tidak
terbungkus---------------------------------------------------------------3.
Mayat berpakaian sebagai berikut: Kaos oblong
berwarna putih berukuran M. Celana panjang kain dengan ikat pinggang
kulit. -----------------------------4.
Kaku mayat lengkap pada seluruh persendian korban,
lebam mayat ditemukan pada bagian kaki dan panggul korban berwarna
merah kebiruan. 5.
Rambut hitam keriting. Wajah terlihat adanya
pembengkakan dan memar, di bawah leher ada bekas jerat dengan simpul di
daerah
kiri
belakang
yang
membentuk
sudut
ke
atas-------------------------------------------------------------6.
Kedua mata tertutup, tidak ada gambaran perbendungan
mata dan tidak ada bintik-bintik perdarahan pada komjungtiva bulbi dan
palpebra.----------------7.
Hidung berbentuk normal dan kedua daun telinga
berbentuk normal.---------8.
Mulut tertutup. Kedua bibir tampak tebal. Gigi
lengkap-------------------------9.
Dari lubang hidung, telinga, mulut dan lubang tubuh
lainnya
tidak
keluar
apaapa----------------------------------------------------------------------------------10.
Dada : tidak ditemukan tanda kekerasan tumpul maupun
tajam.---------------11.
Perut : tidak ditemukan tanda kekerasan tumpul maupun
tajam.----------------12.
Punggung : ditemukan beberapa memar berbentuk dua
garis sejajar ----------13.
Alat kelamin didapati luka bakar yang sesuai dengan
jejas listirik.-------------14.
Anggota gerak atas : tidak ditemukan tanda kekerasan
tumpul maupun tajam
15.
Anggota gerak bawah : terdapat luka bakar berbentuk
bundar
diameter
sekitar
1cm-------------------------------------------------------------------------------

23

II. Pemeriksaan Dalam (Bedah Jenazah)
1. Kepala & leher : terdapat resapan darah yang luas di kulit kepaa, perdarahan yang
tipis di bawah seaput keras otak, sembab otak besar, sedikit resapan darah di otot
leher sisi kiri, patah ujung rawan gondok sisi kiri ---------------------------------------2. Dada : paru dan jantung ditemukan sedikit binting-bintik pendarahan, sedikit busa
halus di dalam saluran pernapasan----------------------------------------------------------Kesimpulan
1. Korban seorang Laki-laki, Usia Tiga puluh sembilan tahun , Tinggi badan kurang
lebih seratus enam puluh lima centimeter, Berat badan tujuh puluh lima kilogram,
keadaan gizi baik, warna kulit sawo matang, rambut hitam meriting, panjang
kurang lebih lima centimeter. --------------------------------------------------------------2. Pemeriksaan Luar : ditemukan bengkak dan memar pada daerah wajah & pada
punggung terdapat beberapa memar berbentuk dua garis sejajarl. Di daerah paha di
skitar kemaluannya terdapat beberapa luka bakar, alat kelamin ditemukan luka
bakar sesuai dengan gambaran jejas listrik, jerat yang melingkari leher dengan
simpul di daerah kiri belakang yang membentuk sudut keatas
---------------------------------------------------------------------------------3. Pemeriksaan Dalam: perdarahan yang tipis di bawah selaput keras otak, sembab
otak besar, tidak terdapat resapan darah di kulit leher tetapi terdapat sedkit resapan
di otot leher sisi kiri dan patah ujung rawan gondok sisi kiri, sedikit busa halus di
dalam saluran napas, dan sedikit bintik-bintik pendarahan di permukaan kedua
paru dan jantung ------------------------------------------------------------------------------4. Sebab kematian korban adalah asfiksia yang terjadi akibat terhambatnya jalan
nafas karena tergantungnya korban -------------------------------------------------------Demikian Visum Et Repertum ini saya buat dengan mengingat sumpah waktu
menerima jabatan.
Dokter yang memeriksa,
dr. Andi,SpF

Kesimpulan
Ilmu Kedokteran Forensik adalah cabang spesialistik ilmu kedokteran yang
memanfaatkan ilmu kedokteran untuk kepentingan penegakan hukum. Proses
penegakan hukum dan keadilan merupakan suatu usaha ilmiah, dan bukan sekedar
common sense, nonscientific belaka. Dengan demikian, dalam penegakan keadilan
yang menyangkut tubuh, kesehatan dan nyawa manusia, bantuan dokter dengan
pengetahuan Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal yang dimilikinya amat
diperlukan.
24

Dari kasus diatas, sebelum korban ditemukan mati dalam posisi tergantung
diduga korban telah mengalami penganiayaan, hal ini dikarenakan adanya memarmemar dibagian wajah dan punggung yang kemungkinan besar diakibatkan oleh
benda tumpul. Selain itu, ditemukan juga adanya luka bakar pada alat kelaminnya,
memar berbentuk dua garis sejajar (railway hematome) di daerah paha yang
menandakan adanya penganiayaan. Setelah mengalami penganiayaan, barulah korban
digantung yang berakhir pada kematian. Cara kematian korban pada kasus ini adalah
tidak wajar karena diduga terjadi tindak pembunuhan. Sebab kematiannya adalah
karena penekanan saluran pernafasan yang disebabkan oleh penggantungan tubuh
korban. Mekanisme kematiannya adalah karena asfiksia, yaitu akibat terhambatnya
aliran udara pernapasan akibat digantung oleh pelaku.
Daftar Pustaka
1. Idries AM, Tjiptomartono AL. Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam
Proses Penyidikan Cetakan Pertama Edisi Revisi bagian Pendahuluan. Jakarta:
Sagung Seto, 2008.
2. Safitry O. Kompilasi peraturan perundang-undangan terkait praktik
kedokteran. Bagian Kedokteran Forensik FKUI; 2014.
3. Budiyanto.A, Widiaktama.W, Sudionoa.S, Hertian.S, Sempurna.B, et al. Ilmu
Kedokteran Forensik. Edisi Pertama cetakan kedua. Bagian Kedokteran
Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta:1997, hal 3, 5, 8,
25-35, 44-48
4. James J.P., Byard R., Corey T., Henderson C.. Asphyxia. Encyclopedia of
Forensic and Legal Medicine. Vol 1.1st ed. Elsevier Publication. 2004. p151-15
5. Arif Mansjoer, Suprohaiti, Wahyu Ika, Wiwiek S. Ilmu Kedokteran Forensik.
Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius Fakultas Kedokteran
Indonesia; Edisi ketiga, Jilid 2; Tahun 2000.
6. Rao.
D.
Asphyxia.
Forensic
Pathology.
Diunduh
dari
http://forensicpathologyonline.com/e-book/asphyxia/ligature-strangulation.
12 Desember 2015
7. Safitry O. Mudah membuat visum et repertum kasus luka. Bagian Kedokteran
Forensik FKUI; 2014.

25