Pemeriksaan Forensik pada Kasus Dugaan Kematian Akibat Keracunan

Claudia Zendha Papilaya 102011273
Oswaldus Gratiano 102012046
Ester Cardia Pakpahan 102012057
Andreas Sihar Mangoppo 102012128
Tesa Iswa Rahman 102012179
Aldy setiawan Putra 102012258
Viona Natalia Sitohang 102012395
Ahmad Marzuqi 102012475
Nike Pebrica Purnamasari 102012518
Kelompok C1
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
Pendahuluan
Semua makhluk biologis akan mati dan cara mati masing-masing adalah berbeda
walaupun pada dasarnya kematian adalah disebabkan ketiadaan oksigen di otak. Tanatologi
adalah ilmu yang mempelajari tentang kematian dan perubahan yang berlaku setelah
kematian serta faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut.1 Ilmu kedokteran
forensik, disebut juga ilmu kedokteran kehakiman, merupakan salah satu mata ajaran wajib
dalam rangkaian pendidikan kedokteran di Indonesia, dimana peraturan perundangan
mewajibkan setiap dokter baik dokter, dokter spesialis kedokteran forensik, spesialis klinik
untuk membantu melaksanakan pemeriksaan kedokteran forensik bagi kepentingan
peradilan bilamana diminta oleh polisi penyidik.
Ilmu Kedokteran Forensik adalah cabang spesialistik ilmu kedokteran yang
memanfaatkan ilmu kedokteran untuk kepentingan penegakan hukum. Proses penegakan
hukum dan keadilan merupakan suatu usaha ilmiah, dan bukan sekedar common sense,
nonscientific belaka. Dengan demikian, dalam penegakan keadilan yang menyangkut
tubuh, kesehatan dan nyawa manusia, bantuan dokter dengan pengetahuan Ilmu
Kedokteran Forensik dan Medikolegal yang dimilikinya amat diperlukan.1
Toksikologi ialah ilmu yang mempelajari sumber, sifat serta khasiat racun, gejala
dan pengobatan pada keracunan, serta kelainan yang didapatkan pada korban meninggal.1
Skenario
Suatu hari Anda didatangi penyidik dan diminta untuk membantu mereka
dalam memeriksa suatu tempat kejadian perkara (TKP). Menurut penyidik, TKP
adalah sebuah rumah yang cukup besar milik seorang pengusaha perkayuan yang
terlihat sukses. Tadi pagi si pengusaha dan isterinya ditemukan meninggal dunia di
1

dalam kamarnya yang terkunci di dalam. Anaknya yang pertama kali mencurigai hal
itu (pukul 08.00) karena si ayah yang biasanya bangun untuk lari pagi, hari ini belum
keluar dari kamarnya. Ia bersama dengan pak ketua RT melaporkannya kepada polisi.
Penyidik telah membuka kamar tersebut dan menemukan kedua orang tersebut
tiduran di tempat tidurnya dan dalam keadaan mati. Tidak ada tanda-tanda perkelahian
di ruang tersebut, segaanya masih tertata rapi sebagaimana biasa, tutur anaknya. Dari
pengamatan sementara tidak ditemukan luka-luka pada kedua mayat dan tidak ada
barang yang hilang. Salah seorang penyidik ditelepon oleh petugas asuransi bahwa ia
telah dihubungi oleh anak si pengusaha berkitan dengan kemungkinan klaim asuransi
jiwa pengusaha tersebut.
Pembahasan
Aspek Hukum dan Medikolegal
Kewajiban Dokter Membantu Peradilan2
Pasal 133 KUHAP
1. Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik
luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan
tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli
kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.
2. Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan
secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan
luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.
3. Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah
sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat
tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan cap jabatan
yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.
Penjelasan Pasal 133 KUHAP
2. Keterangan yang diberikan oleh ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan
ahli, sedangkan keterangan yang diberikan oleh dokter bukan ahli kedokteran
kehakiman disebut keterangan.
Pasal 179 KUHAP
1. Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau
doktera tau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.
2

2. Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang
memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan
sumpah atau janji akan memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan
sebenanar-benarnya menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya.2
Bentuk Bantuan Dokter Bagi Peradilan Dan Manfaatnya
Pasal 183 KUHAP
Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila
dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa
suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah
melakukannnya1.
Pasal 184 KUHAP
1. Alat bukti yang sah adalah: Keterangan saksi, Keterangan ahli, Surat, Pertunjuk,
Keterangan terdakwa
2. Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan1.
Pasal 186 KUHAP
Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan.
Pasal 180 KUHAP
1. Dalam hal diperlukan untuk menjernihkan duduknya persoalan yang timbul di
siding pengadilan, Hakim ketua siding dapat minta keterangan ahli dan dapat pula
minta agar diajukan bahan baru oleh yang berkepentingan.
2. Dalam hal timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau penasihat hokum
terhadap hasil keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Hakim
memerintahkan agar hal itu dilakukan penelitian ulang.
3. Hakim karena jabatannya dapat memerintahkan untuk dilakukan penelitian ulang
sebagaimana tersebut pada ayat (2)2

Sangsi Bagi Pelanggar Kewajiban Dokter
3

Pasal 216 KUHP
1. Barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang
dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi
sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya. Demikian pula yang diberi kuasa
untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barang siapa
dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan
guna menjalankan ketentuan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat
bulan dua minggu atau denda paling banyak Sembilan ribu rupiah.
2. Disamakan dengan pejabat tersebut di atas, setiap orang yang menurut ketentuan
undang-undang terus-menerus atau untuk sementara waktu diserahi tugas
menjalankan jabatan umum.
3. Jika pada waktu melakukan kejahatan belum lewat dua tahun sejak adanya
pemidanaan yang menjadi tetap karena kejahatan semacam itu juga, maka
pidanya dapat ditambah sepertiga2
Pasal 222 KUHP
Barangsiapa

dengan

sengaja

mencegah,

menghalang-halangi

atau

menggagalkan pemeriksaan mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana penjara
paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus
rupiah.2
Pasal 224 KUHP
Barangsiapa yang dipanggil menurut undang-undang untuk menjadi saksi, ahli
atau juru bahasa, dengan sengaja tidak melakukan suatu kewajiban yang menurut
undang-undang ia harus melakukannnya:
1. Dalam perkara pidana dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya
9 bulan.
2. Dalam perkara lain, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 6
bulan
Pasal 522 KUHP

4

Barangsiapa menurut undang-undang dipanggil sebagai saksi, ahli atau
jurubahasa, tidak datang secara melawan hukum, diancam dengan pidana denda
paling banyak sembilan ratus rupiah.
Identifikasi Forensik
Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan
membantu penyidik untuk menentukan identitas seseorang.Identifikasi personal sering
merupakan suatu masalah dalam kasus pidana maupun perdata. Menentukan identitas
personal dengan tepat amat penting dalam penyidikan karena adanya kekeliruan dapat
berakibat fatal dalam proses peradilan.1
Identitas seseorang dipastikan bila paling sedikit dia metode yang digunakan
memberikan hasil positif (tidak meragukan). Penentuan identitas personal dapat
menggunakan metode identifikasi sidik jari, visual, dokumen, pakaian dan perhiasan,
medik, gigi, serologic dan secara ekslusi.Akhir-akhir ini dikembangkan pula metode
identifikasi DNA.3,4
Pemeriksaan Sidik Jari
Metode ini membandingkan gambaran sidik jari jenasah dengan data sidik jari
ante motem. Sampai saat ini, pemeriksaan sidik jari merupakan pemeriksaan yang
diakui paling tinggi ketepatannya untuk menentukan identitas seseorang.
Dengan demikian harus dilakukan penanganan yang sebaik-baiknya terhadap
jari tangan jenazah untuk pemeriksaan sidik jari, misalnya melakukan pembungkusan
kedua tangan jenazah dengan kantung plastik.3,4
Metode Visual
Metode ini dilakukan dengan cara memperlihatkan jenazah pada orang-oarang
yang merasa kehilangan anggota keluarga atau temannya. Cara ini hanya efektif pada
jenazah yang belum membusuk sehingga masih mungkin dikenali wajah dan bentuk
tubuhnya oleh lebih dari satu orang.Hal ini perlu diperhatikan mengingat adanya
kemungkinan factor emosi yang turut berperan untuk membenarkan atau sebaliknya
menyangkal identitas jenazah tersebut.3,4
Pemeriksaan Dokumen
Dokumen seperti kartu identifikasi (KTP, SIM, Paspor dsb) yang kebetulan
dijumpai dalam saku pakaian yang dikenakan akan sangat membantu mengenali
jenazah tersebut.

5

Perlu diingat bahwa pada kecelakaan masal, dokumen yang terdapat dalam tas
atau dompet yang dekat dengan jenazah belum tentu adalah milik jenazah yang
bersangkutan.3,4
Pemeriksaan Pakaian dan Perhiasan
Dari pakaian dan perhiasan yang dikenakan jenazah, mungkin dapat diketahui
merek atau nama pembuat, ukuran, inisial nama pemilik, badge, yang semuanya dapat
membantu identifikasi walaupun telah terjadi pembusukan pada jenazah tersebut.3,4
Identifikasi Medik
Metode ini menggunakan data tinggi badan, berat badan, warna rambut, warna
mata, cacat/kelainan khusus, tatu (rajah). Metode ini mempunyai nilai tinggi karena
selain dilakukan oleh seorang ahli dengan menggunakan berbagai cara/modifikasi
(termasuk pemeriksaan dengan sinar-X), sehingga ketepatannya cukup tinggi.Bahkan
pada tengkorak/kerangkapun masih dapat dilakukan metode identifikasi ini. Melalui
metode ini, diperoleh data tentang jenis kelamin, ras, perkiraan umur dan tinggi
badan, kelainan pada tulang dan sebagainya.3,4
Pemeriksaan Gigi
Pemeriksaan ini meliputi pencatatan data gigi (odontogram) dan rahang yang
dapat dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan manual, sinar-X dan pencetakan
gigi serta rahang.Odontogram memuat data tentang jumlah, bentuk, susunan,
tambalan, protesa gigi dan sebagainya.
Seperti halnya dengan sidik jari, maka setiap individu memiliki susunan gigi
yang

khas.

Dengan

demikian,

dapat

dilakukan

identifikasi

dengan

cara

membandingkan data temuan dengan data pembanding mortem.3,4
Pemeriksaan Serologi
Pemeriksaan serologik bertujuan untuk menentukan golongan darah jenazah,
penentuan golongan darah pada jenazah yang telah membusuk dapat dilakukan
dengan memeriksa rambut, kuku dan tulang.3,4
Tanatologi
Tanatologi adalah bagian dari Ilmu Kedokteran Forensik yang mempelajari
kematian dan perubahan yang terjadi setelah kematian serta faktor yang
mempengaruhi perubahan tersebut. Dalam tanatologi dikenal beberapa istilah tentang
mati, yaitu mati somatis (mati klinis), mati suri, mati seluler, mati serebral, dan mati
otak (mati batang otak).
6

Mati somatis (mati klinis) terjadi akibat terhentinya fungsi ke tiga sistem
penunjang kehidupan, yaitu susunan saraf pusat, sistem kardiovaskular, dan sistem
pernapasan, yang menetap. Secara klinis tidak ditemukan refleks-refleks, EEG
mendatar, nadi tidak teraba, denyut jantung tidak terdengar, tidak ada gerak
pernapasan, dan suara nafas tidak terdengar pada auskultasi.
Mati suri adalah terhentinya ketiga sistem penunjang kehidupan yang
ditentukan dengan alat kedokteran sederhana. Dengan peralatan kedokteran canggih
masih dapat dibuktikan bahwa ketiga sistem tersebut masih berfungsi. Mati suri sering
ditemukan pada kasus keracunan obat tidur, tersengat aliran listrik, dan tenggelam.
Mati seluler (mati molekuler) adalah kematian organ atau jaringan tubuh
beberapa saat setelah kematian somatis. Daya tahan hidup masing-masing organ atau
jaringan berbeda-beda, sehingga terjadinya kematian seluler pada tiap organ atau
jaringan tidak bersamaan.
Mati serebral adalah kerusakan kedua hemisfer otak yang irriversible kecuali
batang otak dan serebelum, sedangkan kedua sistem lainnya yaitu sistem pernapasan
dan kardiovaskuler masih berfungsi dengan bantuan alat.
Mati otak (mati batang otak) adalah bila terjadi kerusakan seluruh isi neuronal
intrakranial yang irreversible termasuk batang otak dan serebelum. Dengan
diketahuinya mati otak (mati batang otak) maka dapat dikatakan seseorang secara
keseluruhan tidak dapat dinyatakan hidup lagi, sehingga alat bantu dapat dihentikan.1
Kematian adalah suatu proses yang dapat dikenal secara klinis pada seseorang
berupa tanda kematian, yaitu perubahan yang terjadi pada tubuh mayat. Perubahan
tersebut dapat timbul dini pada saat meninggal atau beberapa menit kemudian,
misalnya kerja jantung dan peredaran darah berhenti, pernapasan berhenti, refleks
cahaya dan refleks kornea mata hilang, kulit pucat dan relaksasi otot. Setelah
beberapa waktu timbul perubahan pascamati yang jelas yang memungkinkan
diagnosis kematian lebih pasti. Tanda-tanda tersebut dikenal sebagai tanda pasti
kematian berupa lebam mayat (hipostasis atau lividitas pasca-mati), kaku mayat (rigor
mortis), penurunan suhu tubuh, pembusukan, mumifikasi dan adiposera.3
Tanda Tidak Pasti kematian
Tanda kematian yang tidak pasti adalah: (1) pernafasan berhenti, dinilai selama
lebih dari 10 menit (inspeksi, palpasi, auskultasi).; (2) Terhentinya sirkulasi, dinilai
selama 15 menit, nadi karotis tidak teraba.; (3) Kulit pucat, tetapi bukan merupakan
tanda yang dapat dipercaya, karena mungkin terjadi spasme agonal sehingga wajah
7

tampak kebiruan.; (4) Tonus otot menghilang dan relaksasi. Relaksasi dan otot-otot
wajah menyebabkan kulit menimbul sehingga kadang-kadang membuat orang
menjadi tampak lebih muda. Kelemasan otot sesaat setelah kematian disebut relaksasi
primer. Hal ini mengakibatkan pendataran daerah-daerah yang tartekan, misalnya
daerah belikat dan bokong pada mayat yang terlentang.; (5) Pembuluh darah retina
mengalami segmentasi beberapa menit setelah kematian. Segmen-segmen tersebut
bergerak ke arah tepi retina dan kemudian menetap.3
Tanda Pasti Kematian
Untuk melihat tanda pasti kematian seseorang, maka akan dapat ditemukan lebam
mayat, kaku mayat, penurunan suhu tubuh, pembusukan, adiposera, dan
mummifikasi.3
Lembam Mayat
Pada lebam mayat (livor mortis), setelah kematian klinis maka eritrosit akan
menempati tempat terbawah akibat gaya gravitasi, mengisi vena dan venula,
membentuk bercak darah berwarna ungu (livide) pada bagian terbawah tubuh, kecuali
pada bagian tubuh yang tertekan alas keras. Darah tetap cair karena adanya aktivitas
fibrinolisin yang berasal dari endotel pembuluih darah. Lebam mayat biasanya mulai
tampak pada 20-30 menit pasca mati, makin lama intensitasnya bertambah dan
menjadi lengkap dan menetap setelah 8- 12 jam. Sebelum waktu itu, lebam mayat
masih hilang (memucat) pada penekanan dan dapat berpindah jika posisi mayat
diubah. Memucatnya lebam mayat akan lebih cepat dan lebih sempurna apabila
penekanan atau perubahan posisi tubuh tersebut dilakukan dalam 6 jam pertama
setelah mati klinis. Tetapi walaupun setelah 24jam, darah masih tetap cukup cair
sehingga sejumlah darah masih dapat mengalir dan membentuk lebam mayat di
tempat terendah yang baru. Kadang dijumpai bercak perdarahan berwarna biru
kehitaman akibat pecahnya pembuluh darah. Menetapnya lebam disebabkan oleh
bertimbunnya sel-sel darah dalam jumlah cukup banyak sehingga sulit berpindah lagi.
Selain itu kekauan otot-otot dinding pembuluh darah ikut mempersulit perpindahan
tersebut.
Lebam mayat dapat digunakan untuk tanda pasti kematian; memperkirakan
sebab kematian, misalnya lebam berwarna merah terang apda keracunan CO atau CN,
warna kecoklatan pada keracunan anililn, nitrit, nitrat, sulfonal; mengetahui
perubahan posisi mayat yang dilakukan setelah terjadi lebam mayat yang menetap;
dan memperkirakan saat kematian. Apabila pada mayat terlentang yang telah timbul
8

lebam mayat belum menetap dilakukan perubahan posisi menjadi telungkup, maka
setelah beberapa saat akan terbentuk lebam mayat baru di daerah dada dan perut.
Lebam mayat yang belum menetap atau masih hilang pada penekanan menunjukkan
saat kematian kurang dari 8-12 jam sebelum saat pemeriksaan.1
Mengingat pada lebam mayat darah terdapat didalam pembuluh darah, maka
keadaan ini digunakan untuk membedakannya dengan resapan darah akibat trauma
(ekstravasi). Bila pada daerah tersebut dilakukan irisan dan kemudian disiram dengan
air, maka warna merah darah akan hilang atau pudar pada lebam mayat, sedangkan
resapan darah tidak menghilang.3
Kaku Mayat
Kaku mayat (rigor mortis), kelenturan otot setelah kematian masih
dipertahankan karena metabolisme tingkat seluler masih berjalan berupa pemecahan
cadangan glikogen otot yang menghasikan energi. Energi ini digunakan untuk
mengubah ADP menjadi ATP. Selama masih terdapat ATP maka serabut aktin dan
miosin tetap lentur. Bia cadangan glikogen dalam otot habis, maka energi tidak
terbentuk lagi, aktin dan miosin menggumpal dan otot menjadi kaku.3
Perhatikan bahwa ATP baru harus melekat ke miosin agar ikatan jembatan
silang antara miosin dan aktin dapat terlepas pada akhir siklus, meskipun selama
proses disosiasi ini ATP tidak terurai. Kebutuhan akan ATP dalam memisahkan miosin
dan aktin jelas terlihat dalam rigor mortis, suatu penguncian menyeluruh otot rangka
yang dimulai 3 sampai 4 setelah kematian dan berakhir dalam waktu sekitar 12 jam.
Setelah kematian, konsentrasi Ca2+ sitosol mulai meningkat, kemungkinan besar
karena membrane sel otot inaktif tidak dapat menahan Ca2+ ekstrasel dan juga
mungkin karena Ca2+ keluar dari kantung lateral. Ca2+ ini menggeser ke samping
protein-protein regulatorik, menyebabkan aktin berikatan dengan jembatan silang
miosin, yang sudah dibekali ATP sebelum kematian. Sel-sel mati tidak lagi dapat
menghasilkan ATP sehingga aktin dan miosin, sesekali terikat, tidak dapat terlepas,
karena sel-sel tersebut tidak memiliki ATP segar. Karena itu filament tipis dan tebal
tetap terikat oleh jembatan silang, menyebabkan otot yang mati menjadi kaku. Dalam
beberapa hari selanjutnya, kaku mayat secara bertahap berkurang akibat proteinprotein yang terlibat dalam kompleks rigor mortis mulai terurai.3
Kaku mayat dibuktikan dengan memeriksa persendian. Kaku mayat mulai
tampak kira-kira 2 jam setelah mati kilnis, dimulai dari bagian luar tubuh (otot-otot
kecil) ke arah dalam (sentripetal). Teori lama menyebutkan bahwa kaku mayat ini
9

menjalar kraniokaudal. Setelah mati klinis 12 jam kaku mayat menjadi lengkap,
dipertahankan selama 12 jam dan kemudian menghilang dalam urutan yang sama.
Kaku mayat umumnya tidak disertai pemendekan serabut otot, tetapi jika sebelum
terjadi kaku mayat otot berada dalam posisi teregang, maka saat kaku mayat terbentuk
akan terjadi pemendekan otot.
Faktor-faktor yang mempercepat terjadinya kaku mayat adalah aktivtas fisik
sebelum mati, suhu tubuh yang tinggi, bentuk tubuh kurus dengan otot-otot keci dan
suhu lingkungan tinggi. Kaku mayat dapat dipergunakan untuk menunjukkan tanda
pasti kematian dan memperkirakan saat kematian.3
Penurunan Suhu Tubuh
Penurunan suhu tubuh terjadi karena proses pemindahan panas dari suatu
benda ke benda yang lebih dingin, melalul cara radiasi, konduksi, evaporasi dan
konveksi. Grafik penurunan suhu tubuh ini hampir berbentuk kurva sigmoid atau
seperti huruf S. Kecepatan penurunan suhu dipengaruhi oleh suhu keliling, aliran dan
kelembaban udara, bentuk tubuh, posisi tubuh, pakaian. Selain itu suhu saat mati perlu
diketahul untuk perhitungan perkiraan saat kematian. Penurunan suhu tubuh akan
lebih cepat pada suhu keliling yang rendah, lingkungan berangin dengan kelembaban
rendah, tubuh yang kurus, posisi terlentang, tidak berpakaian atau berpakaian tipis,
dan pada umumnya orang tua serta anak kecil.3
Pembusukan
Pembusukan adalah proses degradasi jaringan yang terjadi akibat autolysis dan
kerja bakteri. Autolisis adalah pelunakan dan pencairan jaringan yang terjadi dalam
keadaan steril. Autolisis timbul akibat kerja digestif oleh enzim yang dilepaskan sel
pascamati dan hanya dapat dicegah dengan pembekuan jaringan.
Setelah seseorang meninggal, bakteri yang normal hidup dalam tubuh segera
masuk ke jaringan. Darah merupakan media terbaik bagi bakteri tersebut bertumbuh.
Sebagian besar bakteri berasal dari usus dan yang terutama adalah Clostridium
welchii. Pada proses pembusukan ini terbentuk gas-gas alkana, H2S dan HCN, serta
asam amino dan asam lemak.
Pembusukan baru tampak kira-kira 24 jam pasca mati berupa warna kehijauan
pada perut kanan bawah, yaitu daerah sekum yang isinya lebih cair dan penuh dengan
bakteri serta terletak dekat dinding perut. Warna kehijauan ini disebabkan oleh
terbentuknya sulf-met-hemoglobin. Secara bertahap warna kehijauan ini akan

10

menyebar ke seluruh perut dan dada, dan bau busukpun mulai tercium. Pembuluh
darah bawah kulit akan tampak seperti melebar dan berwarna hijau kehitaman.3
Selanjutnya kulit ari akan terkelupas atau membentuk gelembung berisi cairan
kemerahan berbau busuk.
Pembentukan gas di dalam tubuh, dimulai di dalam lambung dan usus, akan
mengakibatkan tegangnya perut dan keluarnya cairan kemerahan dari mulut dan
hidung. Gas yang terdapat di dalam jaringan dinding tubuh akan mengakibatkan
terabanya derik (krepitasi). Gas ini menyebabkan pembengkakan tubuh yang
menyeluruh, tetapi ketegangan terbesar terdapat di daerah dengan jaringan longgar,
seperti skrotum dan payudara. Tubuh berada dalam sukap seperti petinju (pugilistic
attitude), yaitu kedua lengan dan tungkai dalam sukap setengah fleksi akibat
terkumpulnya gas pembusukan di dalam rongga sendi.3
Selanjutnya, rambut menjadi mudah dicabut dan kuku mudah terlepas, wajah
menggembung dan berwarna ungu kehijauan, kelopak mata membengkak, pipi
tembem, bibir tebal, lidah membengkak dan sering terjulur diantara gigi. Keadaan
seperti ini sangat berbeda dengan wajah asli korban, sehingga tidak dapat lagi dikenali
oleh keluarga.3
Hewan pengerat akan merusak tubuh mayat dalam beberapa jam pasca mati,
terutama bila mayat dibiarkan tergeletak di daerah rumpun. Luka akibat gigitan
binatang pengerat khas berupa lubang-lubang dangkal dengan tepi bergerigi. Larva
lalat akan dijumpai setelah pembentukan gas pembusukan nyata, yaitu kira-kira 36-48
jam pasca mati. Kumpulan telur lalat telah dapat ditemukan beberapa jam pasca mati,
di alis mata, sudut mata, lubang hidung dan diantara bibir. Telur lalat tersebut
kemudian akan menetas menjadi larva dalam waktu 24 jam. Dengan identifikasi
spesies lalat dan mengukur panjang larva, maka dapat diketahui usia larva tersebut,
yang dapat dipergunakan untuk memperkirakan saat mati, dengan asumsi bahwa lalat
biasanya secepatnya meletakkan telur setelah seseorang meninggal (dan tidak lagi
dapat mengusir lalat yang hinggap).
Alat dalam tubuh akan mengalami pembusukan dengan kecepatan yang
berbeda. Perubahan warna terjadi pada lambung terutama di daerah fundus, usus,
menjadi ungu kecoklatan. Mukosa saluran napas menjadi kemerahan, endokardium
dan intima pembuluh darah juga kemerahan, akibat hemolisis darah. Difusi empedu
dari kandung empedu mengakibatkan warna coklat kehijauan di jaringan sekitarnya.
Otak melunak, hati menjadi berongga seperti spons, limpa melunak dan mudah robek.
11

Kemudian alat dalam akan mengerut. Prostat dan uterus non gravid merupakan organ
padat yang paling lama bertahan terhadap perubahan pembusukan.3
Pembusukan akan timbul cepat bila suhu keliling optimal (26,5 deracat celcius
hingga sekitar suhu normal tubuh), kelembaban dan udara yang cukup, banyak bakteri
pembusuk, tubuh gemuk atau menderita penyakit infeksi dan sepsis. Media tempat
mayat terdapat juga berperan. Mayat yang terdapat di udara akan lebih cepat
membusuk dibandingkan dengan yang terdapat dalam air atau dalam tanah.
Perbandingan kecepatan pembusukan mayat yang berada dalam tanah:air:udara
adalah 1:2:8.3
Adiposera
Adiposera (lilin mayat) adalah terbentuknya bahan yang berwarna keputihan,
lunak atau berminyak, berbau tengik yang terjadi di dalam jaringan lunak tubuh pasca
mati. Dulu disebut sebagai saponifikasi, tetapi istilah adiposera lebih disukai karena
menunjukkan sifat-sifat diantara lemak dan lilin.
Adiposera terutama terdiri dari asam-asam lemak tak jenuh yang terbentuk
oleh hidrolisis lemak dan mengalami hidrogenisasi sehingga terbentuk asam lemak
jenuh pasca mati yang tercampur dengan sisa-sisa otot, jaringan ikat, jaringan saraf
yang termumifikasi dan Kristal-kristal sferis dengan gambaran radial. Adiposera
terapung di air, bila dipanaskan mencair dan terbakar dengan nyala kuning, larut di
dalam alkohol panas dan eter.
Adiposera dapat terbentuk di sebaran lemak tubuh, bahkan di dalam hati,
tetapi lemak superfisial yang pertama kali terkena. Biasanya perubahan berbentuk
bercak, dapat terlihat di pipi, payudara atau bokong, bagian tubuh atau ekstremitas.
Jarang seluruh lemak tubuh berubah menjadi adiposera.
Adiposera akan membuat gambaran permukaan luar tubuh dapat bertahan
hingga bertahun-tahun, sehingga identifikasi mayat dan perkiraan sebab kematian
masih dimungkinkan. Faktor-faktor yang mempermudah terbentuknya adiposera
adalah kelembaban dan lemak tubuh yang cukup, sedangkan yang menghambat
adalah air yang mengalir yang membuang elektrolit.
Udara yang dingin menghambat pembentukan, sedangkan suhu yang hangat
akan mempercepat. Invasi bakteri endogen ke dalam jaringan pasca mati juga akan
mempercepat pembentukannya.
Pembusukan akan terhambat oleh adanya adiposera, karena derajat keasaman
dan dehidrasi jaringan bertambah. Lemak segar hanya mengandung kira-kira 0,5%
12

asam lemak bebas, tetapi dalam waktu 4 minggu pasca mati dapat naik menjadi 20%
dan setelah 12 minggu menjadi 70% atau lebih. Pada saat ini adiposera menjadi jelas
secara makroskopik sebagai bahan berwarna putih kelabu yang menggantikan atau
menginfiltrasi bagian-bagian lunak tubuh. Pada stadium awal pembentukannya
sebelum makroskopik jelas, adiposera paling baik dideteksi dengan analisis asam
palmitat.3
Mumifikasi
Mumifikasi adalah proses penguapan cairan atau dehidrasi jaringan yang
cukup cepat sehingga terjadi pengeringan jaringan yang selanjutnya dapat
menghentikan pembusukan. Jaringan berubah menjadi keras dan kering, berwarna
gelap, berkeriput dan tidam membusuk karena kuman tidak berkembang pada
lingkungan yang kering. Mumifikasi terjadi bila suhu hangat, kelembaban rendah,
aliran udara yang baik, tubuh yang dehidrasi dan waktu yang lama (12-14 minggu).
Mumifikasi jarang dijumpai pada cuaca yang normal.3
Perkiraan Waktu Kematian
Selain dari melihat tanda-tanda perubahan pada mayat seperti di atas, beberapa
perubahan lain dapat digunakan untuk memperkirakan saat mati. Diantaranya dapat
dilihat dari perubahan pada mata, lambung, rambut, kuku, cairan serebrospinal, dsb.
Perubahan pada Mata
Bila mata terbuka pada atmosfer yang kering, sklera di kiri-kanan kornea akan
berwarna kecoklatan dalam beberapa jam berbentuk segitiga dengan dasar di tepi
kornea (traches noires sclerotiques). Kekeruhan kornea terjadi lapis demi lapis.
Kekeruhan yang terjadi pada lapis terluar dapat dihilangkan dengan meneteskan air,
tetapi kekeruhan yang telah mencapai lapisan lebih dalam tidak dapat dihilangkan
dengan tetesan air. Kekeruhan yang menetap ini terjadi sejak kira-kira 6 jam pasca
mati. Baik dalam keadaan mata tertutup maupun terbuka, kornea menjadi keruh kirakira 10 – 12 jam pasca mati dan dalam beberapa jam saja fundus tidak tampak jelas.
Setelah kematian tekanan bola mata menurun, memungkinkan distorsi pupil
pada penekanan bola mata. Tidak ada hubungan antara diameter pupil dengan
lamanya mati. Perubahan pada retina dapat menunjukkan saat kematian hingga 15 jam
pasca mati. Hingga 30 menit pasca mati tampak kekeruhan makula dan mulai
memucatnya diskus optikus. Kemudian hingga 1 jam pasca mati, makula lebih pucat
13

dan tepinya tidak tajam lagi. Selama 2 jam pertama pasca mati, retina pucat dan
daerah sekitar diskus menjadi kuning. Warna kuning juga tampak disekitar makula
yang menjadi lebih gelap. Pada saat itu pola vaskular koroid yang tampak sebagai
bercak-bercak dengan latar belakang merah dengan pola segmentasi yang jelas, tetapi
pada kira-kira 3 jam pasca mati menjadi kabur dan setelah 5 jam menjadi homogen
dan lebih pucat.3
Pada kira-kira 6 jam pasca mati, batas diskus kabur dan hanya pembuluhpembuluh besar yang mengalami segmentasi yang dapat dilihat dengan latar belakang
kuning kelabu. Dalam waktu 7 – 10 jam pasca mati akan mencapai tepi retina dan
batas diskus akan sangat kabur. Pada 12 jam pasca mati diskus hanya dapat dikenali
dengan adanya konvergensi beberapa segmen pembuluh darah yang tersisa. Pada 15
jam pasca mati tidak ditemukan lagi gambaran pembuluh darah retina dan diskus,
hanya makula saja yang tampak berwarna coklat gelap.
Perubahan Pada Lambung
Kecepatan pengosongan lambung sangat bervariasi, sehingga tidak dapat
digunakan untuk memberikan petunjuk pasti waktu antara makan terakhir dan saat
mati. Namun keadaan lambung dan isinya mungkin membantu dalam membuat
keputusan. Ditemukannya makanan tertentu dalam isi lambung dapat digunakan untuk
menyimpulkan bahwa korban sebelum meninggal telah makan makanan tersebut.3
Perubahan pada Rambut dan Kuku
Dengan mengingat bahwa kecepatan tumbuh rambut rata-rata 0,4 mm/hari,
panjang rambut kumis dan jenggot dapat dipergunakan untuk memperkirakan saat
kematian. Cara ini hanya dapat digunakan bagi pria yang mempunyai kebiasaan
mencukur kumis atau jenggotnya dan diketahui saat terakhir ia mencukur. Sejalan
dengan hal rambut tersebut di atas, pertumbuhan kuku yang diperkirakan sekitar 0,1
mm per hari dapat digunakan untuk memperkirakan saat kematian bila dapat
diketahui saat terakhir yang bersangkutan memotong kuku.3
Perubahan Cairan Serebrospinal dan Cairan Vitreus
Kadar nitrogen asam amino kurang dari 14 mg% menunjukkan kematian
belum lewat 10 jam, kadar nitrogen non-protein kurang dari 80 mg% menunjukkan
kematian belum 24 jam, kadar kreatin kurang dari 5 mg% dan 10 mg% masingmasing menunjukkan kematian belum mencapai 10 jam dan 30 jam. Dalam cairan
vitreus terjadi peningkatan kadar kalium yang cukup akurat untuk memperkirakan
saat kematian antara 24 – 100 jam pasca mati.
14

Kadar Komponen Darah
Kadar komponen darah berubah setelah kematian, sehingga analisis darah
pasca mati tidak memberikan gambaran konsentrasi zat-zat tersebut semasa hidupnya.
Perubahan tersebut diakibatkan oleh aktivitas enzim dan bakteri, serta gangguan
permeabilitas dari sel yang telah mati. Selain itu gangguan fungsi tubuh selama proses
kematian dapat menimbulkan perubahan dalam darah bahkan sebelum kematian itu
terjadi. Hingga saat ini belum ditemukan perubahan dalam darah yang dapat
digunakan untuk memperkirakan saat mati dengan lebih tepat.
Reaksi Supravital
Rekasi supravital yaitu reaksi jaringan tubuh sesaat pasca mati klinis yang
masih sama seperti reaksi jaringan tubuh pada seseorang yang hidup. Beberapa uji
dapat dilakukan terhadap mayat yang masih segar, misalnya rangsang listrik masih
dapat menimbulkan kontraksi otot mayat hingga 90-120 menit pasca mati dan
mengakibatkan sekresi kelenjar keringat sampai 60-90 menit pasca mati, sedangkan
trauma masih dapat menimbulkan perdarahan bawah kulit sampai 1 jam pasca mati.
Tempat Kejadian Perkara (TKP)3
Tempat Kejadian Perkara (TKP) adalah tempat ditemukannya benda bukti dan
atau tempat terjadinnya peristiwa kejahatan atau yang diduga kejahatan menurut suatu
kesaksian. Meskipun kelak terbukti bahwa di tempat tersebut tidak pernah terjadi
suatu tindak pidana, tempat tersebut tetap disebut sebagai TKP. Peran dokter di TKP
adalah membantu penyidik dalam mengungkap kasus dari sudut kedokteran forensik.
Dasar pemeriksaan adalah hexameter, yaitu menjawab 6 pertanyaan : apa yang terjadi,
siapa yang tersangkut, di mana, kapan terjadi, bagaimana terjadinnya, dan dengan apa
melakukannya serta kenapa terjadi peristiwa tersebut.
Beberapa tindakan dapat mempersulit penyelidikan, seperti memegang setiap
benda di TKP tanpa sarung tangan, mengganggu barcak darah, membuat jejak baru,
atau memeriksa sambil merokok. Pemeriksaan di tempat kejadian penting untuk
membantu penentuan penyebab kematian dan menentukan cara kematian. Hal-hal
yang perlu diperhatikan adalah posisi korban saat mati, benda-benda bukti di sekitar
korban, dan keadaan lingkungan.
Pemeriksaan dimulai dengan membuat foto dan sketsa TKP, termasuk penjelasan
mengenai letak dan posisi korban, benda bukti dan interaksi lingkungan. Mayat dan
benda bukti biologis/ medis, termasuk obat atau racun, dikirimkan ke instalasi
15

kedokteran forensik atau ke rumah sakit umum setempat untuk pemeriksaan lanjutan.
Apabila tidak tersedia sarana pemeriksaan labolatorium forensik, benda bukti dapat
dikirim ke laboratorium kepolosian atau ke bagian kedokteran forensik. Benda bukti
bukan biologis dapat langsung dikirim ke laboratorium kriminil/ forensik kepolisisan
daerah setempat.
Pemeriksaan di tempat kejadian penting untuk membantu penentuan penyebab
kematian dan menentukan cara kematian. Pemeriksaan harus ditujukan untuk
menjelaskan apakah mungkin orang itu mati akibat keracunan, misalnya dengan
memeriksa tempat obat, apakah ada sisa obat atau pembungkusnya. Jika diduga
korban adalah morfinis, cari bubuk heroin, pembungkusnya atau alat penyuntik. Bila
terdapat muntahan, pakah berbau fosfor (bau bawang putih), bagaimana sifat
muntahan misalnya seperti bubuk kopi (zat kaustik), berwarna hitam (H2SO4 pekat),
kuning (HNO3), biru kehijauan (CuSO4).
Apakah terdapat gelas atau alat minum lain atau ada surat perpisahan/peninggalan
jika merupakan kasus bunuh diri. Mengumpulkan keterangan sebanyak mungkin
tentang saat kematian, kapan terakhir kali ditemukan dalam keadaan sehat, sebelum
kejadian ini apakah ia sehar-sehat saja. Berapa lama gejala timbul setelah
makan/minum terakhir dan apa gejala-gejalanya. Bila sebelumnya sudah sakit, apa
penyakitnya dan obat-obat apa yang diberikan serta siapa yang memberi. Harus
ditanyakan pada dokter yang memberi obat, apa penyakitnya, obat-obat yang
diberikan dan berapa banyak, juga ditanyakan apakah apotik memberikan obat yang
sesuai. Obat yang tersisa dihitung jumlahnya.
Pada kasus kecelakaam, misalnya pada anak-anak tanyakan dimana zat beracun
disimpan, apakah dekat dengan makanan-minuman. Apakah anak biasa makan
sesuatu yang bukan makanan. Bagaimana keadaan emosi korban tersebut sebelumnya
dan apakah pekerjaan korban, sebab mungkin saja racun diambil dari tempat dia
bekerja atau mengalami industrial poisoning. Mengumpulkan barang bukti.
Kumpulkan obat-obatan dan pembungkusnya, muntahan harus diambil dengan kertas
saring dan disimpan dalam toples, periksa adanya etiket dari apotik dan jangan lupa
untuk memeriksa tempat sampah.
Pada TKP ditemukkan korban meninggal sepasang suami istri yang meninggal
dalam kamar tidur dan tepat meninggal di atas tempat tidur dalam posisi terlentang.
Keadaan rumah baik-baik saja, tidak ada tanda-tanda pembobolan rumah. Terutama

16

pada kamar korban meninggal tanda-tanda perkelahian, segala sesuatunnya masih
tertata rapi sebagaimana biasa.

Toksikologi3
Toksikologi ialah ilmu yang mempelajari sumber, sifat, serta khasiat racun,
gejala-gejala dan pengobatan pada keracunan, serta kelainan yang didapatkan pada
korban yang meninggal. Racun ialah zat yang bekerja pada tubuh secara kimiawi dan
dan fisiologik yang dalam dosis toksik akan menyebabkan gangguan kesehatan atau
mengakibatkan kematian.
Berdasarkan sumber, dapat dibagi menjadi racun yang berasal dari tumbuhtumbuhan: opium (dari papaver somniferum), kokain, kurare, aflatoksin (dari
aspergilus niger), berasal dari hewan: bisa/toksin ular/laba-laba/hewan laut, mineral:
arsen, timah hitam, atau sintetik: heroin. Berdasarkan tempat dimana racun berada,
dapat dibagi menjadi racun yang terdapat di alam bebas, misalnya gas racun di alam,
racun yang terdapat di rumah tangga; misalnya deterjen, desinfektan, insektisida,
herbisida, pestisida. Racun yang digunakan dalam industri dan laboratorium, misalnya
asam dan basa kuat, logam berat. Racun yang terdapat dalam makanan, misalnya CN
dalam singkong, toksin botulinus, bahan pengawet, zat aditif serta ‘racun’ dalam
bentuk obat, misalnya hipnotik, sedatif, dll.
Dapat pula pembagian racun berdasarkan organ tubuh yang dipengaruhi,
misalnya racun yang bersifat hepatotoksik, nefrotoksik. Berdasarkan mekanisme
kerja, dikenal racun yang mengikat gugus sulfhidril (-SH) misalnya Pb, yang
berpengaruh pada ATP-ase, yang membentuk methemoglobin misalnya nitrat dan
nitrit. (Nitrat dalam usus oleh flora usus diubah menjadi nitrit). Pembagian lain
didasarkan atas cara kerja/efek yang ditimbulkan. Ada racun yang bekerja lokal dan
menimbulkan beberapa reaksi misalnya perangsangan, peradangan atau korosif.
Keadaan ini dapat menimbulkan rasa nyeri yang hebat dan dapat menyebabkan
kematian akibat syok neurogenik. Contoh racun korosif adalah asam dan basa kuat:
H2SO4, HNO3, NaOH, KOH; golongan halogen seperti fenol, lisol, dan senyawa
logam.3

17

Racun yang bekerja sistemik dan mempunyai afinitas terhadap salah satu sistem
misalnya barbiturate, alkohol, morfin terhadap susunan saraf pusat, digitalis, oksalat
terhadap jantung, CO terhadap hemoglobin darah. Terdapat pula racun yang
mempunyai efek lokal dan sistemik sekaligus misalnya asam karbol menyebabkan
erosi lambung dan sebagian yang diabsorpsi akan menimbulkan depresi susunan saraf
pusat. Tetra-etil lead yang masih terdapat dalam campuran bensin selain mempunyai
efek iritasi, jika diserap dapat menimbulkan hemolisis akut.
Pelbagai faktor mempengaruhi terjadinya keracunan, antara lain cara masuk,
umur, kondisi tubuh, kebiasaan, alergi, takaran, dan waktu pemberian. Keracunan
paling cepat terjadi jika masuknya racun secara inhalasi. Cara masuk lain, berturutturut ialah intravena, intramuscular, intraperitoneal, subkutan, peroral, dan paling
lambat ialah melalui kulit yang sehat. Untuk beberapa jenis racun tertentu, orang tua
dan anak-anak lebih sensitif misalnya pada barbiturat. Bayi premature lebih rentan
terhadap obat karena ekskresi melalui ginjal belum sempurna dan aktifitas mikrosom
dalam hati belum cukup. Penderita penyakit ginjal umumnya lebih mudah mengalami
keracunan. Pada penderita demam dan penyakit lambung, absorpsi dapat terjadi
dengan lambat. Bentuk fisik dan kondisi fisik, misalnya lambung berisi atau kosong.
Kebiasaan sangat berpengaruh pada racun golongan alkohol dan morfin, sebab
dapat terjadi toleransi, tetapi toleransi tidak dapt menetap, jika pada suatu ketika
dihentikan, maka toleransi akan menurun lagi. Idiosinkrasi dan alergi pada vitamin E,
penisilin, streptomisin, dan prokain. Pengaruh langsung racun tergantung pada
takaran. Makin tinggi takaran akan makin cepat (kuat) keracunan. Konsentrasi
berpengaruh pada racun yang bekerja secara lokal, misalnya asam sulfat. Struktur
kimia, misalnya calomel (Hg2Cl2) jarang menimbulkan keracunan sedangkan Hg
sendiri dapat menyebabkan kematian. Morfin dan nalorfin yang mempunyai struktur
kimia hampir sama merupakan antagonis. Terjadi addisi antara alkohol dan barbiturat
atau alkohol dan morfin. Dapat pula terjadi sinergisme yang seperti addisi, tetapi lebih
kuat. Addisi dan sinergisme sangat penting dalam masalah mediko-legal. Waktu
pemberian. Untuk racun yang ditelan, jika ditelan sebelum makan, absorpsi terjadi
lebih baik sehingga efek akan timbul lebih cepat. Jangka pemberian untuk waktu lama
(kronik) atau waktu singkat/sesaat.3
Kriteria Diagnostic
Diagnosa keracunan didasarkan atas adanya tanda dan gejala yang sesuai
dengan racun penyebab. Dengan analisis kimiawi dapat dibuktikan adanya racun pada
18

sisa barang bukti. Yang terpenting pada penegakan diagnosis keracunan adalah dapat
ditemukan racun/sisa racun dalam tubuh/cairan tubuh korban, jika racun menjalar
secara sistemik serta terdapatnya kelainan pada tubuh korban, baik makroskopik
maupun mikroskopik yang sesuai dengan racun penyebab. Disamping itu perlu pula
dipastikan bahwa korban tersebut benar-benar kontak dengan racun.
Yang perlu diperhatikan untuk pemeriksaan

korban keracunan ialah:

keterangan tentang racun apa kira-kira yang merupakan penyebabnya, dengan
demikian pemeriksaan dapat dilakukan dengan lebih terarah dan dapat menghemat
waktu, tenaga, dan biaya.3
Pemeriksaan kedokteran forensic
Korban mati akibat keracunan umumnya dapat dibagi menjadi 2 golongan,
yang sejak semula sudah dicurigai kematian diakibatkan oleh keracunan dan kasus
yang sampai saat sebelum autopsi dilakukan, belum ada kecurigaan terhadap
kemungkinan keracunan.
Harus dipikirkan kemungkinan kematian akibat keracunan bila pada
pemeriksaan setempat (scene investigation) terdapat kecurigaan akan keracunan, bila
pada autopsi ditemukan kelainan yang lazim ditemukan pada keracunan dengan zat
tertentu, misalnya lebam mayat yang tidak biasa (cherry pink colour pada keracunan
CO; merah terang pada keracunan CN; kecoklatan pada keracunan nitrit, nitrat, anilin,
fenasetin dan kina); luka bekas suntikan sepanjang bena dan keluarnya buih dari
mulut dan hidung (keracunan morfin); bau amandel (keracunan CN) atau bau kutu
busuk (keracunan malation) serta bila pada autopsi tak ditemukan penyebab kematian
(negative autopsy).
Pengambilan Bahan Toksikologi
Para dokter hendaknya mengetahui dengan baik bahan apa yang harus
diambil, cara mengawetkan dan cara pengiriman. Tidak jarang seorang dokter
mengirimkan bahan yang salah atau dalam jumlah terlampau sedikit. Dengan
demikian jela bahawa ahli toksikologi tidak dapat memenuhi permintaan dokter
tersebut.
Pada semua kasus, bahan tersebut dibawah ini diambil sekalipun dokter yang
melakukan autopsy sudah memperoleh petunjuk yang cukup kut bahwa ia sedang
menghadapi suatu jenis racun, hendaknya ia tetap mengambil bahan-bahan secara
lengkap. Misalnya sudah jelas bahwa karbon monoksida adalah racun penyebab

19

kematian sehingga pada hakekatnya pengiriman darah saja sudah cukup untk
pemeriksaan toksikologi. 3
Tetapi selalu terdapat kemungkinann bahwa setelah beberapa hari timbul
kecurigaan akan adanya racun lain terlibat dalam peristiwa kematian tersebut.
misalnya, korban diberi obat tidur terlebih dahulu sebelum ia diracuni dengan gas
yang mengandung karbon monoksida. Untuk penentuan racun lain itu dibutuhkan
bahwa bahan-bahan lain, selain darah. adalah lebih baik mengambil bahan dalam
keadaan segar dan lengkap pada waktu autopsi dari pada kemudian harus mengadakan
penggalian kubur untuk mengambil bahan-bahan yang dilakukan dan melakukan
analisis toksikologik atas jaringan yang sudah busuk atau yang sudak diawetkan
(dengan formalin).
Darah diambil terpisah dari sebelah kanan dan kiri masing-masing sebanyak
50 ml. darah tepi sebanyak 30-50 ml, diambil dari vena iliaka komunis, bukan darah
adari vena porta. Diketahui stelah oang menelan glukosa, dapat terjadi difusi kebilik
jantung sebelah kanan, sehingga kadar glukosa dalam darah sebelah kanan lebih
tinggi daripada dalam darah sebelah kiri. Dikuatirkan difusi seperti itu jga dapat
terjadi adaobat/ racun sehingga penentuan konsentrasi atas jantung sebelah kanan
saja akan memberikan kesan yang salah tentang konsentrasi obat/racun dalam darah.
Akhir-akhir ini diketahui bahwa setelah orang meninggal, tubuhnya teta
merupakan pabrik kimia yang efisien. Sianida, aceton dan alcohol ternyata dapat
membentuk dlam jaringan yang membusuk. Dengan demikian pengambilan darah
dalam jumlah besar dari satu tempat. Bila misalnya daam beberapa contoh darah yang
diamil dari berbagai tempat diketemukan konsentrasi yang sama, maka dengan aman
dapat dinyatakan bahwa racun bersangkutan berasal dari luar tubuh (terpapar dari
luar), sebab proses bakteriologik kimiawi yang terjadi dalam tubuh yang telah
membusuk tidak berlangsung serentk dengan kecepatan yang tetap sama diseluruh
tubuh. Pada korban yang masih hidup darah adalah bahan yang terpenting. Ambil
2ontoh darah masing-masing minimal 5 ml; yang pertama diberi pengawet NaF 1%
dan yang lain tanpa pengawet.
Urin diambil semua yang ada dalam kandung kemih. Bilasan lambung juga
diambil semuanya. Pada mayat diambil lambung beserta isinya lambung diikat pada
perbatasan dengn usus dua belas jari agar pil/ tablet tidak hancur. Atau dengan cara
lain, dokter membuka lambung itu sendiri, kemudian mencatat kelainan-kelainan

20

yang didapat. Baru dikirim ke laboratorium sehingga dapat diperkirakan jenis
racunnya. 3
Usus beserta isinya dapat sagat berguna terutama bila kematian terjadi dalam
waktu beberapa jam setelah menelan racun sehinga dapat dapat diperkirakan setelah
kematian dapat pula ditemukan pil yang tak dapat hancur oleh lambung (entericcoated). Hati semua harus diambil setelah dibersihkan untuk pemeriksaan patologi
anatomi dengan alasan: takaran toksik kebanyakan racun sangat kecil, hanya beberapa
mg/kg sehingga kadar racun dalam tubuh sangt rendah dan untuk memudahkan racun,
bahan pemeriksan harus banyak, dan hati merupakan tempat detosikasi tubuh
terpenting. Organ ini mempunyai kekampuan untuk mengkonsentrasikan racun-racn
sehingga kadar racun dalam hati sangat tinggi.
Ginjal keduanya diambil, ginjal penting dalam intoksikasi logam, pemeriksaan
racun secara umum dan pada kasus dimana secara histologik ditemukan ca oksalat
dan sulfonamide. Otak. Jaringan lipoid dalam otak mempunyai kemampuan untuk
menahan racun, misalnya CHCl3 tetap ada walaupun jaringan otak telah membusuk.
Otak bagian tengah peting pada intosikasi CN karena tahan terhadap pembusukan
(CN dapat terbentuk pada pembusukan). Urin paling penting karena merupakan
tempat eksresi sebagian besar racun sehngga dapat untuk tes pendahuluan (spot test)
dan juga penting untuk pemerikasan penyaring racun golongan narkotika dan
stimulant.
Empedu sebaiknya kandung empedu jangan dibuka agar cairan empedu tidak
mengalir kehati dan mengacaukan pemeriksaan bahan-bahan tersebut diatas umumnya
sudah cukup untuk memberikan informasi pada keracunan aut yang masuk melalui
mulut. Tetapi pada beberapa keadaan dapat diambil limpa, jantung, likuor otak,
jaringan lemak, (insektisidan, obat anastesi), oto (CO,Pb), rambut (arsen). Cara lain
adalah dengan mengambil dari tiga tempat, yaitu: tempat masuk racun
(lambng,tempat suntikan), darah (yang menandakan racun beredar secara sistemik),
dan tempat keluar (urin,empedu). Menurut curry contoh bahan pemeriksaan yang
rutin harus diambil adalah lambung beserta isinya, darah, seluruh hati dan seluruh
urin.3
Wadah Bahan Pemeriksaan Toksikologik
Idelalnya diperlukan minimal 9 wdah karena masing-masing bahan
pemeriksaan ditempatkan secara tersendiri, tidak boleh dicampur, yaitu: 2 buah peles
a 2 liter untuk hati dan usus; 3 peles a 1liter untuk lambung besreta isiny, otk dan
21

ginjal; 4 botol a 25 ml untuk darah (2buah), urin dan empedu. Wadah harus
dibersihkan terlebih dahulu dengan mencucinya dengan asam kronat hangat lalu
dibilas aquades dan dikeringkan.3
Bahan Pengawet
Sebenarnya yang paling baik adalah tanpa pengawet, tetapi bahan pemeriksaan
harus disimpan dalam lemari es.

Bila terpaksa misalnya karena pemeriksaan

toksikologiktidak dapat dilakukan dengan segera tetapi beberapa hari kemudian, maka
dapat digunakan bahan oengawet yaitu : (a) Alkohol absolut; (b) Larutan garam dapur
jenuh; (c) Laruran NaF 1%; (d) NaF + Na sitrat (5 ml NaF + 50 ml Na sitrat untuk
tiap 10 ml bahan); dan (e) Na benzoate + fenil merkuri nitrat (hanya untuk urin).
Volume pengawet sebaiknya minimal dua kali volume bahan pemeriksaan.
Penggunaan pengawet alcohol tidak dapat dibenarkan pada keracunan alcohol dan
sebaiknya juga tidak digunakan untuk racun yang mudah menguap.
Cara Pengiriman
Apabila pemeriksaan toksikologi dilakukan di institusi lain, maka pengiriman
bahan toksikologik harus memenuhi kriteria berikut: satu tempat hanya berisi satu
contoh bahan pemeriksaan, contoh bahan pengawet harus disertakan dengan control,
dan tiap tempat yang telah terisi disegel dan diberi label yang memuat keterangan
mengenai tempat pengambilan bahan, nama korban, bahan pengawet dan isinya. Hasil
autopsy harus disertakan secara singkat, jika mungkin sertakan pula anamnesis dan
gejala-gejala klinik, surat permintaan pemeriksaan dari penyidik harus disertakan dan
memuat identitas korban dengan lengkap dan dugaan racun apa yang menyebabkan
intoksikasi.
Semua yang tersebut diatas dikemas dalam suatu kotak dan harus dijaga agar
botol tertutup rapat sehingga tidak ada kemungkinan tumpah atau pecah dalam
pengiriman. Kotak harus diikat dengan tali yang setiap persilangannya diikat mati
serta diberi lak pengaman. Penyegelan dilakukan oleh polisi yang juga harus membuat
berita acara penyegelan dan berita acara ini harus disertakan dalam pengiriman bahan
pemeriksaan, demikian pula berita acara penyegelan barang bukti seperti racun/obat.
Dalam berita acara tersebut harus terdapat contoh kertas pembungkus segel/meterai
yang digunakan.
Jika jenazah diawetkan, maka pengambilan contoh bahan harus dilakukan
sebelum pengawetan jenazah. Tidak dibenarkan mengambil setelah pengawetan
karena formalin yang biasanya digunakan untuk mengawet jenazah dapat menyulitkan
22

pemeriksaan dan kadang kala malah merusak racun. Pada pengambilan contoh bahan
dari korban hidup, alcohol tidak dapat dipakai sebagai disenfektan local saat
pengambilan darah, hal ini untuk menghilangkan kesulitan dalam penarikan
kesimpulan bila kasus menyangkut alcohol. Sebagai gantinya dapat digunakan
sublimat 1% atau merkuru klorida 1%.3

Berbagai Macam Zat Penyebab Keracunan
Keracunan karbon monoksida:

Karbon monoksida (CO) adalah tracun

yang tertua dalam sejarah manusia. Gas CO adalah gas yang tidak berwarna, tidak
berbau dan tidak merangsang selaput lendir. Sumber gas CO dapat ditemukan pada
hasil pembakaran, motor yang menggunakan bensin, gas arang batu, alat pemanas
berbahan bakar gas, lemari es gas, cerobong asap yang tidak bekerja dengan baik.5
Farmakokinetik : CO hanya diserap ,melalui paru dan sebagian besar diikat
oleh hemoglobin secara reversibel, membentuk karboksi-hemoglobin. Selebihnya
mengikat diri dengan mioglobin dan beberapa protein heme ekstravaskuler lain. CO
bukan merupakan racun yang kumulatif. Absorpsi atau ekskresi CO ditentukan oleh
kadar CO dalam udara lingkungan, kadar COHb sebelum pemaparan , lamanya
pemaparan dan ventilasi paru.
Farmakodinamik : CO bereaksi dengan Fe dari porfirin dan karena itu CO
bersaing dengan O2 dalam mengikat protein heme yaitu hemoglobin, mioglobin,
sitokrom oksidase dan sitokrom P-450, Hb dan sitokrom A3. Dengan diikatnya Hb,
menjadi COHb mengakibatkan Hb menjadi inaktif sehingga darah berkurang
kemampuannya untuk mengangkut O2. Konsentrasi CO dalam udara lingkungandan
lama nya inhalasi menentukan kecepatan timbulnya gejala-gejala ataru kematian.3,5
Tanda dan gejala keracunan : Gejala keracunan CO berkaitan dengan kadar
COHb dalam darah. Pada gejala saturasi sampai dengan 10% tidak terdapat gejalagejala. Pada kondisi ekstrim dimana kadar presentasi saturasi COHb mencapai 70-80
% gejala-gejala nya nadi lemah, pernafasan lambat, gagal pernafasan dan mati.
Pemeriksaan kedokteran forensik : diagnosis keracunan CO pada korban
hidup biasanya berdasarkan anamnesis adanya kontak dan ditemukannnya gejala
keracunan CO. Pada korban yang mati tidak lama setelah keracunan CO, ditemukan
23

lebam mayat berwarna merah muda terang, yang tampak jelas bila kadar COHb
mencapai 30% atau lebih. Pada analisa toksikologik darah akan ditemukan adanya
COHb. Kelainan yang dapat ditemukan adalah kelainan akibat hipoksemia dan
komplikasi yang timbul selama penderita dirawat.
Pemeriksaan laboratorium : untuk penentuan COHb secara kualitatif dapat
dikerjakan uji dilusi alkali. Perlu diperhatikan bahwa darah yang dapat digunakan
sebagai kontrol dalam uji dilusi alkali ini. Haruslah darah dengan Hb yang normal.
Jangan gunakan darah Foetus karena dikatakan bahwa darah Foetus juga bersifat
resisten terhadap alkali. Pemeriksaan adanya COHb dalam darah juga dapat melalui
penentuan secara spektroskopis. Cara spektrofotometrik adalah cara yang terbaik
untuk melakukan analisis CO atas darah segar korban keracunan CO yang masih
hidup, karena hanya dengan cara ini, dapat ditentukan rasio COHb : OxiHb. Darah
mayat adalah darah yang tidak segar sehingga memberikan hasil yang tidak dapat
dipercaya. Cara kromatografi gas banyak dipakai untuk mengukur kadar CO dari
sampel darah mayat dan cukup dapat dipercaya.3,5
Keracunan Sianida
Sianida (CN) merupakan racun yang sangat toksik karena garam sianida dalam
takaran kecil sudah cukup untuk menimbulkan kematian pada seseorang dengan
cepat seperti bunuh diri yang dilakukan oleh beberapa tokoh nazi. Sumber sianida :
hidrogen sianida merupakan cairan jernih yang bersifat asam, larut dalam air,
alkohol, dan eter. Garam sianida yang dipakai dalam pengerasan besi dan baja, dalam
proses penyepuhan emas dan perak serta dalam fotografi. Sianida juga didapat ari biji
tumbuh-tumbuhan genus prunus , singkong liar, umbi-umbian liar,temu lawak, cherry
liar,plum,aprikot,amigdalin liar,jetberry bush,dll.
Farmakokinetik : garam sianida cepat diabsorpsi melalui saluran pencernaan
cyanogen dan uap HCN diabsorpsi melalui pernafasan. HCN cair akan cepat
diabsorpsi melalui kulit tetapi gas HCN lambat. Sianida dapat masuk ke dalam tubuh
melalui mulut,inhalasi dan kulit. Setelah diabsorbsi, masuk ke dalam sirkulasi darah
sebagai CN bebas dan tidak berikatan dengan hemoglobin,kecuali dalam bentuk
methemoglobin akan terbentuk methemoglobin.
Tanda dan gejala keracunan : cepat menyebabkan kegagalan pernafasan dan
kematian dapat timbul dalam beberapa menit. Korban mengeluh terasa terbakar pada
kerongkongan dan lidah, sesak nafas,hipersalivasi, mual,muntah , sakit kepala,
24

vertigo, fotofobi, tinitus, pusing dan kelelahan. Dapat pula ditemukan sianosis pada
muka, busa keluar dari mulut, nadi cepat dan lemah, pernafasan cepat dan kadangkadang tidak teratur,pupil dilatasi dan refleks melambat. Kemudian mayat berwarna
merah terang dan bau amandel .
Pemeriksaan kedokteran forensik : pada pemeriksaan luar jenazah dapat
tercium bau amandel yang patognomonik untuk keracunan CN, dapat tercium dengan
cara menekan dada mayat sehingga akan keluar gas dari mulut dan hidung. Sianosis
pada wajah dan bibir,busa keluar dari mulut, dan lebam mayat berwarna merah
terang.
Pemeriksaan laboratorium : uji kertas saring dicelupkan ke dalam larutan
asam pikrat jenuh, yang diteteskan satu tetes isi lambung atau darah korban. Reaksi
Schonbein-Pagenstecher dimana isi lambung 50 mg/jaringan ke dalam botol
erlenmeyer.kertas saring kemudian dicelupkan ke dalam larutan guajacol dalam
alkohol,keringkan. 3,5
Keracunan Arsen
Arsen dahulu sering digunakan sebagai racun untuk membunuh orang lain,
dan tidaklah mustahil dapat ditemukan kasus peracunan dengan arsen di masa
sekarang ini. Disamping itu keracunan arsen kadang-kadang dapat terjadi karena
kecelakaan

dalam

industri

dan

pertanian

akibat

memakan/meminum

makanan/minuman yang terkontaminasi dengan arsen. Sumber : industri dan
pertanian terdapat dalam bahan yang digunakan untuk penyemprotan buahbuahan,insektisida,fungisida,rodentisida,pembasmi tanaman liar dan pembunuhan
lalat.juga kadang-kadang didapatkan dalam cat dan kosmetika. Arsen juga terdapat
dalam tanah, air minum yang terkontaminasi, bir, kerang,tembakau dan obat-obatan.
Farmakokinetik : arsen dapat masuk ke dalam tubuh melalui mulut,inhalasi
dan melalui kulit. Setelah diabsorpsi melalui mukosa usus, arsen kemudian ditimbun
dalam hati,ginjal , kulit dan tulang.
Farmakodinamik : arsen menghambat sistim enzim sulfhidiril dalam sel
sehingga metabolisme sel dihambat.pada orang dewasa kadar normal dalam urin 100
ug/L.
Tanda dan gejala keracunan : Timbul gejala gastro-intestinal hebat. Mulamula rasa terbakar di daerah tenggorok dengan rasa logam pada mulut.

25

Pemeriksaan kedokteran forensik : pada pemeriksaan luar ditemukan tandatanda dehidrasi. Pada pembedahan jenazah ditemukan tanda-tandairitasi lambung,
mukosa berwarna merah,kadang-kadang dengan perdarahan. Pada jantung ditemukan
perdarahan sub-endokard pada septum. Bila korban cepat meninggal setelah
menghirup arsen, akan terlihat tanda-tanda kegagalan kardio-respirasi akut. Bila
meninggal nya lambat dapat ditemukan ikterus dengan anemi hemolitik,tanda-tanda
kerusakan ginjal berupa degenerasi lemak dengan nekrosis lokal serta nekrosis
tubuli. Pada korban mati akibat keracunan kronik tampak keadaan gizi buruk, pada
kulit terdapat pigmentasi coklat,keratosis telapak tangan dan kaki. Kuku
memperlihatkan garis-garis putih pada bagian kuku yang tumbuh dan dasar kuku.
Pemeriksaan laboratorium : curiga keracunan akut= 0,5 mg/kg, keracunan
akut = 30 mg/kg (pada rambut kepala normal) dan curiga keracunan = 1 mg/kg dan
keracunan akut : 80 ug/kg (kuku normal). Dapat dilakukan uji reinsch.3
Keracunan Timbel
Sumber : terdapat dimana-mana,dalam jumlah besar dalam badan
accu/baterrai, pipa air, bahan dasar cat, benda-benda keramik dan gelas.
Farmakokinetik : Timah hitam dapat diasorbsi melalui berbagai cara. Saluran
cerna terutama usus halus mengasorbsi Pb sebanyak 5-10%. Dapat juga melalui kulit
yang utuh dan diikat oleh sel darah merah.
Farmakodinamik : keracunan akan mengakibatkan spasme arteriol, spasme
otot polos usus, ureter, uterus, hambatan pembentukan heme, gangguan fungsi tubuli
ginjal .
Tanda dan gejala keracunan : pada keracunan akut korban akan merasa
sepat (rasa logam), muntah-muntah berwarna putih karena adanya Pb klorida. Diare
dengan

feses

yang

hitam,

nyeri

perut,

syok,

hemolisis

akut,

globinuri,oligouri,parestesi. Keracunan kronik korban tampak pucat yang tak sesuai
dengan derajat anemi,rasa logam pada mulut,anoreksia,obstipasi,kadang-kadang
diare.
Pemeriksaan kedokteran forensik : pada keracunan akut yang meninggal
ditemukan tanda-tanda dehidrasi,lambung mengerut ,hiperemi,isi lambung berwarna
putih.usus spastis dan feses berwarna hitam. Jika keracunan kronik maka didapatkan
tubuh sangat kurus, pucat,terdapat garis Pb,ikterik,gastritis kronik, dan pada usus
ditemukan bercak-bercak hitam.
26

Pemeriksaan laboratorium : normal kadar Pb dalam darah kurang dari 60
ug/100 ml. Bila lebih dari 70 ug/100 ml berarti ada pemaparan abnormal. Bila lebih
dari 100 ug/100 ml berarti telah terjadi keracunan.3
Keracunan alkohol
Sumber

:

terdapat

dala

berbagai

minuman

seperti

whisky,brandy,rum,vodka,gin (mengandung 45% alkohol) , wines (10-20%), beer
dan ale (48%). Alkohol sintetik seperti air tape, tuak, dan brem.
Farmakokinetik : alkohol diabsorpsi dalam jumlah sedikit melalui mukosa
mulut dan lambung. Sebagian besar diabsorpsi di usus halus dan sisanya di kolon.
Farmakodinamik

:

alkohol

menyebabkan presipitasi dan dehidrasi

sitoplasma sel sehingga bersifat sebagai astringent. Pada kulit alkohol menyebabkan
penurunan temperatur akibat penguapan, sedangkan pada mukosa akan menimbulkan
iritasi dan lebih hebat lagi mengakibatkan inflamasi.
Tanda dan gejala keracunan : pada kadar yang rendah sudah menimbulkan
gangguan berupa penurunan keapikan ketrampilan tangan dan perubahan tulisan
tangan. Pada kadar 30-40 mg% telah timbul penciutan lapang pandangan,penurunan
ketajaman penglihatan dan pemanjangan waktu reaksi. Alkohol dengan kadar dalam
darah 200 mg menimbulkan gejala banyak bicara, ramai,refleks menurun.
Pemeriksaan kedokteran forensik : kelainan yang ditemukan pada korban
mati tidak khas. Mungkin ditemukan gejala-gejala yang sesuai dengan asfiksia.
Seluruh organ menunjukkan tanda perbendungan, darah lebih encer, berwarna merah
gelap. Organ-organ termasuk otak dan darah berbau alkohol.
Laboratorium : untuk pemeriksaan toksikologik diambil darah dari pembuluh
darah vena perifer (kubiti atau femoralis).3
Sudden Death6,7
Pengertian kematian mendadak sebenarnya berasal dari kata sudden unexpected
natural death yang di dalamnya terkandung kriteria penyebab yaitu natural (alamiah,
wajar). Mendadak disini diartikan sebagai kematian yang datangnya tidak terduga dan
tidak diharapkan, dengan batasan waktu yang nisbi. Camps menyebutkan batasan
kurang dari 48 jam sejak timbul gejala pertama. Definisi kematian mendadak menurut
WHO yaitu kematian dalam waktu 24 jam sejak gejala timbul, tapi beberapa dokter

27

dan ahli patologi berpendapat bahwa 1 jam terlalu lama, sehingga mereka hanya
menyetujui jika kematian terjadi dalam waktu 1 jam sejak timbulnya penyakit.
Terminologi kematian mendadak disini dibatasi pada suatu kematian alamiah yang
terjadi tanpa diduga dan terjadi secara mendadak, mensinonimkan kematian
mendadak dengan terminologi

”sudden natural unexpected death”. Deskripsi

“sudden” atau “unexpected” tidak selalu akurat, “unexplained” biasanya menjadi
alasan dilakukan investigasi medico-legal. Otopsi dapat dilakukan untuk mengetahui
penyebab kematian, meskipun setelah otopsi dilakukan, penyebab kematian tetap
tidak diketahui.
Pada kematian mendadak, penyebab kematian hampir selalu ditemukan pada
sistem kardiovaskuler, meskipun lesi tidak terdapat di jantung atau pembuluh darah
utama. Cerebral hemmorraghe yang masif, perdarahan subarachnoid, rupture
kehamilan ektopik, hemoptisis, hematemesis dan emboli pulmonal, sebagai contoh,
bersama dengan penyakit jantung dan aneurisma aorta mempunyai kontribusi pada
sebagian besar penyebab kematian mendadak dan “unexpected” akibat system
vascular. Tanpa otopsi, para dokter salah dalam menentukan sebab kematian dari 2550% kasus. Di banyak negara dengan banyak proporsi otopsi medico-legal dan di
Inggris dan Wales terdapat sekitar 80% otopsi koroner, sisanya karena bunuh diri,
kecelakaan, dan pembunuhan.
Lesi yang dapat menyebabkan kematian alamiah yang mendadak secara garis
besar terdiri dari 3 golongan, yaitu lesi yang diakibatkan oleh proses penyakit,
terjadinya ruptur pembuluh darah, dan infeksi latent. Grup terbesar adalah lesi yang
diakibatkan oleh proses penyakit yang berjalan perlahan atau insidental berulang yang
merusak organ vital tanpa menimbulkan suatu gejala renjatan akut sampai terjadi
suatu penghentian fungsi organ vital yang tiba-tiba. Salah satu contoh yang paling
baik untuk golongan ini adalah kematian mendadak akibat penyakit jantung koroner.
Terjadinya ruptur pembuluh darah yang mendadak dan tak terduga, yang diikuti
dengan perdarahan yang berakibat fatal. Contoh golongan ini adalah pecahnya
aneurisma aorta dengan perdarahan ke dalam pericardial sac atau pecahnya aneurisma
pada sirkulus Willisi yang menyebabkan perdarahan subdural. Golongan ketiga
mencakup infeksi latent atau infeksi hebat yang perjalanan penyakitnya berkembang
tanpa menunjukkan gejala yang nyata atau bermakna sampai terjadi kematian.
Contohnya adalah endokarditis bakterial atau obstruksi mendadak usus karena
volvulus.

28

Pengenalan sebab kematian pada kasus kematian mendadak secara mendasar
adalah proses interpretasi yang mencakup deteksi perubahan patologis yang
ditemukan secara anatomis, patologi anatomi, bakteriologis dan kimiawi serta seleksi
lesi yang ditemukan yang dianggap mematikan bagi korban.
Berhadapan dengan kasus kematian mendadak, autopsi harus dilakukan dengan
amat teliti, pemeriksaan histopatologik merupakan suatu keharusan. Sampel diambil
dari semua organ yang dianggap terlibat dengan perjalanan penyakit hingga
menyebabkan kematian, juga kelainan pada organ yang tampak secara makroskopik,
walau mungkin kelainan tersebut tidak berhubungan langsung dengan penyebab
kematian.
Sebaiknya setiap jenis organ dimasukkan pada wadahnya sendiri, menghindari
bias pembacaan mikroskopik. Eksisi sampel organ haruslah mencakup daerah yang
normal dan daerah yang kita curigai secara mikroskopik terjadi proses patologik.
Informasi mengenai temuan-temuan pada autopsi perlu disertakan dalam permintaan
pemeriksaan histopatologi, sehingga dokter ahli patologi dapat melakukan tugasnya
dengan maksimal.
Pada autopsi kasus yang diduga kematian mendadak, hampir selalu pemeriksaan
toksikologi harus dilakukan. Tanpa pemeriksaan toksikologi, penegakan sebab mati
menjadi kurang tajam. Pengambilan sampel untuk pemeriksaan toksikologi beragam
sesuai dengan kecurigaan jenis racun pada kasus secara individual.
Visum et Repertum
Visum et Repertum adalah keterangan yang dibuat dokter atas permintaan
penyidik yang berwenang mengenai hasil pemeriksaan medis terhadap manusia, hidup
maupun mati, ataupun bagian/diduga bagian tubuh manusia, berdasarkan keilmuannya
dan di bawah sumpah untuk kepentingan peradilan.8
Penegak hukum mengartikan Visum et Repertum sebagai laporan tertulis yang
dibuat dokter berdasarkan sumpah atas permintaan yang berwajib untuk kepentingan
peradilan tentang segala hal yang dilihat dan ditemukan menurut pengetahuan yang
sebaik-baiknya.
Jenis Visum et Repertum
Ada beberapa jenis Visum et Repertum, yaitu:
1. Visum et Repertum Perlukaan atau Keracunan
2. Visum et Repertum Kejahatan Susila
3. Visum et Repertum Jenazah
4. Visum et Repertum Psikiatrik
29

Tiga jenis visum yang pertama adalah Visum et Repertum mengenai tubuh
atau raga manusia yang berstatus sebagai korban, sedangkan jenis keempat adalah
mengenai mental atau jiwa tersangka atau terdakwa atau saksi lain dari suatu tindak
pidana. Visum et Repertum perlukaan, kejahatan susila dan keracunan serta Visum et
Repertum psikiatri adalah visum untuk manusia yang masih hidup sedangkan Visum
et Repertum jenazah adalah untuk korban yang sudah meninggal. Keempat jenis
visum tersebut dapat dibuat oleh dokter yang mampu, namun sebaiknya untuk Visum
et Repertum psikiatri dibuat oleh dokter spesialis psikiatri yang bekerja di rumah sakit
jiwa atau rumah sakit umum.8
Format Visum et Repertum
Meskipun tidak ada keseragaman format, namun pada umumnya Visum et
Repertum memuat hal-hal sebagai berikut:
Visum et Repertum terbagi dalam 5 bagian:8
1. Pembukaan: Kata “Pro Justisia” artinya untuk peradilan, Tidak dikenakan materai,
Kerahasiaan
2. Pendahuluan: berisi landasan operasional ialah obyektif administrasi: Identitas
penyidik (peminta Visum et Repertum, minimal berpangkat Pembantu Letnan Dua,
Identitas korban yang diperiksa, kasus dan barang bukti, Identitas TKP dan saat/sifat
peristiwa, Identitas pemeriksa (Tim Kedokteran Forensik), Identitas saat/waktu dan
tempat pemeriksaan
3. Pelaporan/inti isi: Dasarnya obyektif medis (tanpa disertai pendapat pemeriksa,
Semua pemeriksaan medis segala sesuatu/setiap bentuk kelainan yang terlihat dan
diketahui langsung ditulis apa adanya (A-Z)
4. Kesimpulan: landasannya subyektif medis (memuat pendapat pemeriksa sesuai
dengan pengetahuannya) dan hasil pemeriksaan medis (poin 3), Ilmu kedokteran
forensik, Tanggung jawab medis
5. Penutup: landasannya Undang-Undang/Peraturan yaitu UU no. 8 tahun 1981 dan
LN no. 350 tahun 1937 serta Sumpah Jabatan/Dokter yang berisi kesungguhan dan
kejujuran tentang apa yang diuraikan pemeriksa dalam Visum et Repertum
tersebut.
Contoh Visum Et Repertum
Bagian Ilmu Kedokteran Forensik
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Jl. Salemba Raya 6 Telp. 3106197, Fax. 3154626, Jakarta 10430
Nomor : 1435-SK.III/VER/3-11

Jakarta,05 Desember 2015
30

Lamp : Satu sampul tersegel-------------------------------------------------------------------Perihal : Hasil Pemeriksaan Pembedahan-----------------------------------------------------atas jenazah Tn. A---------------------------------------------------------------------PROJUSTITIA
Visum Et Repertum
Yang bertanda tangan di bawah ini, dr. Andi, dokter ahli kedokteran forensik pada
Bagian Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida
Wacana Jakarta, menerangkan bahwa atas permintaan tertulis dari Kepolisian Resort
Jakarta Barat No. Pol: A/053/Ver/LK/X/2011 tertanggal dua sembilan November dua
ribu lima belas, maka pada tanggal lima desember tahun dua ribu lima belas, pukul
sepuluh lewat tiga puluh menit Waktu Indonesia bagian Barat, bertempat di ruang
bedah jenazah Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana telah
melakukan pemeriksaan atas jenazah yang menurut surat permintaan tersebut adalah :
Nama
: Budi
Umur
: 36 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Warga negara : Indonesia
Pekerjaan
: Supir
Agama
: Islam
Alamat
: Jl. Tanjung duren 3 RT 10 No 05
I.

Hasil Pemeriksaan
Pemeriksaan Luar
1.
Mayat adalah seorang laki-laki bangsa Indonesia, umur
kurang lebih tiga puluh sembilan tahun, kulit berwarna sawo matang, gizi
cukup, panjang badan seratus enam puluh lima sentimeter dan berat badan
tujuh
puluh
empat
kilogram
dan
zakar
disunat.
----------------------------------------------------------2.
Mayat
tidak
terbungkus---------------------------------------------------------------3.
Mayat berpakaian sebagai berikut: Kaos oblong
berwarna
putih
berukuran
M.
Celana
pendek.--------------------------------------------------------------------4.
Kaku mayat lengkap pada seluruh persendian korban,
lebam
mayat
ditemukan
pada
bagian
punggung
korban------------------------------------------5.
Rambut hitam keriting. Wajah dan leher tidak
ditemukan
tanda
kekerasan
tumpul
maupun
tajam
-----------------------------------------------------------------6.
Kedua mata tertutup, tidak ada gambaran perbendungan
mata dan tidak ada bintik-bintik perdarahan pada komjungtiva bulbi dan
palpebra.----------------7.
Hidung berbentuk normal dan kedua daun telinga
berbentuk normal.---------8.
Mulut tertutup. Kedua bibir tampak tebal. Gigi
lengkap-------------------------9.
Dari lubang hidung, telinga, mulut dan lubang tubuh
lainnya
tidak
keluar
apaapa----------------------------------------------------------------------------------31

10.

Dada : tidak ditemukan tanda kekerasan tumpul maupun
tajam.----------------

11.

Perut : tidak ditemukan tanda kekerasan tumpul maupun
tajam.-----------------

12.

Punggung : ditemukan beberapa memar berbentuk dua
garis sejajar ----------13.
Alat kelamin: tidak ditemukan tanda kekerasan tumpul
maupun tajam-------14.
Anggota gerak atas : tidak ditemukan tanda kekerasan
tumpul maupun tajam
15.
Anggota gerak bawah : tidak ditemukan tanda
kekerasan tumpul maupun tajam
II. Pemeriksaan Dalam (Bedah Jenazah)
1. Kepala & leher : -----------------------------------------------------------------------------2. Dada:--------------------------------------------------------------------------------------------Perut :------------------------------------------------------------------------------------Kesimpulan
1. Korban seorang Laki-laki, Usia Tiga puluh sembilan tahun , Tinggi badan kurang
lebih seratus enam puluh lima centimeter, Berat badan tujuh puluh lima kilogram,
keadaan gizi baik, warna kulit sawo matang, rambut hitam meriting, panjang
kurang lebih lima centimeter. --------------------------------------------------------------2. Pemeriksaan Luar : --------------------------------------------------------------------------Pemeriksaan Dalam: ------------------------------------------------------------------------Demikian Visum Et Repertum ini saya buat dengan mengingat sumpah waktu
menerima jabatan.
Dokter yang memeriksa,
dr. Andi,SpF

Kesimpulan
Ilmu Kedokteran Forensik adalah cabang spesialistik ilmu kedokteran yang
memanfaatkan ilmu kedokteran untuk kepentingan penegakan hukum. Proses
penegakan hukum dan keadilan merupakan suatu usaha ilmiah, dan bukan sekedar
common sense, nonscientific belaka. Dengan demikian, dalam penegakan keadilan
yang menyangkut tubuh, kesehatan dan nyawa manusia, bantuan dokter dengan
pengetahuan Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal yang dimilikinya amat
diperlukan.
Dari kasus diatas, korban (sepasang suami istri) ditemukan meninggal di
dalam kamarnya yang terkunci dari dalam. Tidak ditemukan luka-luka pada kedua
mayat dan tidak ada barang yang hilang. Menurut anaknya, kamar tidur tersebut
32

masih tertata rapih seperti biasanya. Tidak ditemukan adanya tanda-tanda perkelahian
di ruangan tersebut. Kematian korban terlihat sebagai kematian yang tidak wajar,
namun karena tidak ada informasi lebih lanjut terkait kasus tersebut sehingga belum
dapat ditentukan cara, sebab, dan mekanisme kematian sepasang suami istri tersebut.
Untuk kasus ini perlu dicurigai penyebab kematian korban adalah karena keracunan.
Untuk itu dibutuhkan pemeriksaan TKP dan otopsi sesuai dengan kaidah toksikologi
yang telah dibahas. Adapun kemungkinan lain penyebab korban meninggah adalah
sudden death.
Daftar Pustaka
1. Idries AM, Tjiptomartono AL. Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam
Proses Penyidikan Cetakan Pertama Edisi Revisi bagian Pendahuluan. Jakarta:
Sagung Seto, 2008.
2. Safitry O. Kompilasi peraturan perundang-undangan terkait praktik
kedokteran. Bagian Kedokteran Forensik FKUI; 2014.
3. Budiyanto.A, Widiaktama.W, Sudionoa.S, Hertian.S, Sempurna.B, et al. Ilmu
Kedokteran Forensik. Edisi Pertama cetakan kedua. Bagian Kedokteran
Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta:1997, hal 3, 5, 8,
25-35, 44-48
4. James J.P., Byard R., Corey T., Henderson C.. Asphyxia. Encyclopedia of
Forensic and Legal Medicine. Vol 1.1st ed. Elsevier Publication. 2004. p151-15
5. Arif Mansjoer, Suprohaiti, Wahyu Ika, Wiwiek S. Ilmu Kedokteran Forensik.
Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius Fakultas Kedokteran
Indonesia; Edisi ketiga, Jilid 2; Tahun 2000.
6. Byard, Roger W. Sudden Death in Infancy Childhood and Adolescent. 2004.
Cambrige University Press. New York.
7. Dahlan, Sofwan. Ilmu Kedokteran Kehakiman. Badan Penerbit Universitas
Diponegoro.Semarang.2008
8. Safitry O. Mudah membuat visum et repertum kasus luka. Bagian Kedokteran
Forensik FKUI; 2014.

33