BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pemerintah terus mengupayakan adanya keseimbangan antara pembangunan dengan
kelestarian lingkungan hidup. Salah satu upaya tersebut adalah dengan pembentukan
kelembagaan. Efektivitas kelembagaan lingkungan hidup dapat dilihat dari kinerja instansi
pemerintah, perangkat hukum dan peraturan perundang-undangan, serta program yang
dijalankan pemerintah dalam rangka menjaga kelestarian lingkungan hidup dan
melaksanakan pembangunan berkelanjutan. Saat ini, banyak kegiatan atau usaha yang
berhadapan dengan masalah lingkungan karena tuntutan dari masyarakat. Masalah
lingkungan juga dapat mempengaruhi kinerja suatu perusahaan dalam berbagai aktivitas
bisnisnya.
Pemerintah telah melakukan berbagai cara termasuk dengan memperbaiki instrumentinstrumen hukum terutama yang terkait dengan lingkungan hidup. Salah satu produk hukum
terbaru yang disahkan oleh pemerintah adalah UU No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan
dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Undang-undang yang berlaku sejak oktober 2009 dan
tercatat dalam lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2009 No 140 ini menggantikan
peran dari UU No 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Lingkungan merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupuan manusia.
Hal ini dikarenakan dimana seseorang hidup maka akan tercipta suatu lingkungan yang
berbeda dan sebaliknya. Pembangunan adalah sebagai suatu proses multidimensional yang
mencakup berbagai perubahan mendasar atas struktur social, sikap-sikap masyarakat dan
institusi-institusi nasional, disamping, tetap mengejar akselerasi pertumbuhan ekonomi,
penanganan ketimpaan pendapatan, serta pengentasan kemiskinan. agar menjadi lebih baik
dan sehat.
B. Rumusan Masalah
Adapun masalah yang akan dibahas pada makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.

Apa yang dimaksud dengan hukum ?
Apa yang dimaksud dengan lingkungan ?
Apa yang dimaksud dengan hukum lingkungan ?
Apa pengaruh hukum terhadap pelestarian lingkungan ?
1

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Hukum
Hukum adalah suatu sistem yang dibuat manusia untuk membatasi tingkah laku
manusia agar tingkah laku manusia dapat terkontrol , hukum adalah aspek terpenting dalam
pelaksanaan atas rangkaian kekuasaan kelembagaan, Hukum mempunyai tugas untuk
menjamin adanya kepastian hukum dalam masyarakat. Oleh karena itu setiap masyarat
berhak untuk mendapat pembelaan didepan hukum sehingga dapat di artikan bahwa hukum
adalah peraturan atau ketentuan-ketentuan tertulis maupun tidak tertulis yang mengatur
kehidupan masyarakat dan menyediakan sangsi bagi pelanggarnya.
Ada berbagai macam pengertian hukum menurut para ahli, tentunya untuk
mengetahui seperti apa pengertian hukum yang sebenarnya maka kita bisa sembarang
menafsirkan, oleh karena itu berikut informasi tentang pengertian hukum menurut para ahli:
1. Pengertian Hukum menurut E. Utrecht adalah himpunan petunjuk hidup yang
mengatur tata tertib dalam suatu masyarakat dan seharusnya di taati oleh anggota
masyarakat yang bersangkutan, oleh karenanya pelanggaran terhadap petunjuk hidup
itu dapat menimbulkan tindakan dari pemerintah masyarakat itu.
2. Menurut A. Ridwan Halim, Pengertian Hukum merupakan peraturan yang tertulis
maupun yang tidak tertulis, yang pada dasarnya peraturan tersebut berlaku dan diakui
orang sebagai peraturan yang harus ditaati dalam hidup bermasyarakat.
3. Sunaryati Hatono memberikan definisi mengenai Pengertian Hukum yaitu hukum
itu tidak menyangkut kehidupan pribadi seseorang, akan tetapi jika menyangkut dan
mengatur berbagai aktivitas manusia dalam hubungannya dengan manusia lainnya,
atau dengan kata lain hukum mengatur berbagai aktivitas manusia di dalam hidup
bermasyarakat.

2

karena begitu luas yang diaturnya. Van Aperldoorn tidak mungkin memberikan definisi mengenai Pengertian Hukum. tujuan hukum adalah kedamaian hidup antar pribadi yang meliputi ketertiban ekstern antar pribadi dan ketenangan intern pribadi 2. Hukum menghendaki perdamaian. Tujuan hukum menurut para ahli adalah sebagai berikut : 1. harta benda terhadap pihak yg merugikan.J. Pengertian Hukum menurut E. menuruti peraturan hukum mengenai kemerdekaan.Pengertian Hukum adalah seperangkat norma atau kaidah yang berfungsi mengatur tingkah laku manusia dengan tujuan untuk ketentraman dan kedamaian di dalam masyarakat(Masriani. 6. Perdamain diantara manusia dipertahankan oleh hukum dengan melindungi kepentingan-kepentingan hukum manusia tertentu.4. dimana aturan yang daya penggunaannya pada saat tertentu diindahkan oleh suatu masyarakat sebagai jaminan dari kepentingan bersama dan jika dilanggar menimbulkan reaksi bersama terhadap orang yang melakukan pelanggaran itu. Purnadi dan Soerdjono Soekanto. 5. Menurut Kant. Pengertian Hukum ialah keseluruhan syarat-syarat yang dengan ini kehendak bebas dari orang yang satu dapat menyesuaikan diri dengan kehendak bebas dari orang lain. Prof. tujuan hukum adalah mengatur pergaulan hidup manusia secara damai. Leon Duguit mengungkapkan Pengertian Hukum adalah aturan tingkah laku para anggota masyarakat. 7. Menurut J. Dr.2004). kemerdekaan. ditunjuk kepada tingkah laku manusia dalam masyarakat dan yang menjadi pedoman bagi pengusaha negara dalam melakukan tugasnya. L. van Apeldoorn. hanya tujuan hukum saja yang mengatur pergaulan hidup secara damai. jiwa. kehormatan. Meyers adalah semua aturan yang mengandung pertimbangan kesusilaan. Mr. 3 . Dari Pendapat para sarjana diatas dapat disimpulkan bahwa.

tujuan hukum adalah melindungi individu dalam hubngannya dengan masyarakat. setiap orang harus mendapatkan bagian yang sama pula. Roscoe Pound. 4.Soejono Dirdjosisworo.Aristoteles hukum mempunyai tugas yang suci yaitu memberi kepada setiap orang yang ia berhak menerimanya. Anggapan ini berdasarkan etika dan berpendapat bahwa hukum bertugas hanya membuat adanya keadilan saja. Soebekti. 7. Prof.H Dalam buku ”Dasar-dasar hukum dan Pengadilan” tujuan hukum adalah bahwa hukum itu mengabdi kepada tujuan negara yaitu mendatangkan kemakmuran dan kebahagiaan para rakyatnya. Hukum melayani tujuan negara tersebut dengan menyelenggarakan “keadilan” dan “ketertiban”. hukum bertujuan untuk merekayasa masyarakat artinya hukum sebagai alat perubahan sosial (as a tool of social engeneering).3. 8. dimana dalam keadaan yang sama. tertib dan adil 6. S. Hukum juga menjaga dan mencegah agar setiap orang tidak menjadi 4 . Keadilan lazim dilambangkan dengan neraca keadilan.Van Kant hukum bertujuan menjaga kepentingan tiap-tiap manusia supaya kepentingan itu tidak dapat diganggu. baik secara pribadi maupun dalam hidup masyarakat. sehingga dengan demikian dapat diiharapkan terwujudnya keadaan aman.Bellefroid tujuan hukum adalah menambah kesejahteraan umum atau kepentingan umum yaitu kesejahteraan atau kepentingan semua anggota2 suatu masyarakat. 5. Intinya adalah hukum disini sebagai sarana atau alat untuk mengubah masyarakat ke arah yang lebih baik.

9. termasuk di dalamnya manusia dan tingkah perhuatannya. chemical and biotic condition surrounding and organism. Sedangkan yang dimaksud secara pasif adalah mengupayakan pencegahan atas upaya yang sewenang-wenang dan penyalahgunaan hak secara tidak adil. pertumbuhan. Dalam kamus lingkungan hidup yang disusun Michael Allaby. Munadjat Danusaputro. Dr. Istilah lingkungan hidup.mewujudkan ketertiban dan keteraturan. Ir. tujuan hukum adalah untuk mengayomi manusia baik secara aktif maupun secara pasif. Definisi Lingkungan Hidup Pengertian lingkungan hidup adalah semua benda. lingkungan hidup itu diartikan sebagai: the physical. yang 5 . dalam bahasa Belanda disebut dengan millieu atau dalam bahasa Perancis disebut dengan l’environment. daya dan kondisi yang terdapat dalam suatu tempat atau ruang tempat manusia atau makhluk hidup berada dan dapat mempengaruhi hidupnya. ahli hukum lingkungan terkemuka dan Guru Besar Hukum Lingkungan Universitas Padjadjaran mengartikan lingkungan hidup sebagai semua benda dan kondisi. Tiap perkara harus diselesaikan melalui proses pengadilan dengan perantara hakim berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku. Secara aktif dimaksudkan sebagai upaya untuk menciptakan suatu kondisi kemasyarakatan yang manusia dalam proses yang berlangsung secara wajar. S. Usaha mewujudkan pengayoman ini termasuk di dalamnya diantaranya :. tidak mengadili dan menjatuhi hukuman terhadap setiap pelanggaran hukum terhadap dirinya.Suharjo (mantan menteri kehakiman). Wolf mengartikannya dengan semua faktor eksternal yang bersifat biologis dan fisika yang langsung mempengaruhi kehidupan. perkembangan dan reproduksi organism Prof. B. seorang ahli ilmu lingkungan (ekologi) terkemuka mendefinisikannya sebagai berikut: Lingkungan adalah jumlah semua benda dan kondisi yang ada dalam ruang yang kita tempati yang mempengaruhi kehidupan kita. Dr St.hakim atas dirinya sendiri (eigenrichting is verboden). McNaughton dan Larry L.mewujudkan keadilan bagi seluruh masyarakat. Prof. SH.J. Otto Soemarwoto. dalam bahasa Inggris disebut dengan environment.mewujudkan kedamaian sejati.mewujudkan kesejahteraan seluruh rakyat.

Selanjutnya dalam buku ini disebut UUPLH 1982).SH. yang dalam pembahasan selanjutnya dalam buku ini disebut UUPLH 1997 (PTIK. 2.J. Prof. 4 Tahun 1982 : 1. Munadjat Danusaputro. Prof. 1973.” 2.aspek lingkungan dan perkembangannya. Dictionary of the Environment. 2007).” Sedangkan yang dimaksud dengan 6 . 1979. Buku I Umum. membedakannya menjadi :Hukum Lingkungan dan Hukum Tata Lingkungan.sejalan dengan perkembangan atau kemajuan yang telah dicapai oleh umat manusia.Koesnadi Hardjasoemantri. dalam Seminar Segi-segi Hukum Pengelolaan Lingkungan Hidup. Michael Allaby. Pengertian ini hampir tidak berbeda dengan yang ditetapkan dalam Undang-Undang tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup No. yang dimaksud dengan Hukum Lingkungan adalah : 1.Menurut pendapat dari para pakar tersebut diatas. 5. daya dan keadaan dan makhluk hidup.Moenadjat Danusaputro.Koesnadi Hardjaasoemantri.SH memberikan batasan tentang Pengertian dari Hukum Lingkungan. Hukum Lingkungon. Menurut pengertian juridis. Binacipta. Gadjah Mada University Press. S. 2001. Prof. Definisi Hukum Lingkungan Beberapa pakar Hukum Lingkungan.antara lain Prof. Ltd. “Hukum Lingkungan itu menyangkut penetapan nilai-nilai yaitu nilai-nilai yang sedang berlaku dan diperlakukan dimasa mendatang.. General Ecology Second Edition. termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Binacipta. 1977.Siti Sundari Rangkuti.SH Menurut Prof Koesnadi Hardjasoemantri.Hukum Lingkungaan disebut juga dengan Hukum Tata Lingkungan. St.terdapat dalam ruang tempat manusia berada dan mempengaruhi hidup serta kesejahteraan manusia dan jasad hidup lainnya. 4. lingkungan hidup diartikan sebagai kesatuan ruang dengan semua benda. seperti diberikan oleh Undang-Undang tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup No. London.SH.SH dan Prof.. Saunders College Publishing. Wolf.Yang dimaksud dengan Hukum Lingkungan adalah “Merupakan Keseluruhan peraturan-peraturaan atau hukum yaang mengatur aspek. McNaughton dan Larry 1_. C. Permasalahan Lingkungan Hidup.Siti Sundari Rangkuti. Otto Soemarwoto. The Mac Milian Press. Anolisis Mengenal Dampak Lingkungon.23 Tahun 1997. 3. 1980. Otto Soemarwoto.

dan juga keadaan memiliki nilai fungsi ekosistem. Menurut ilmu ekologi.SH Menurut Beliau Hukum Lingkungan dibagi menjadi 2.Hukum Lingkungan Modern merupakan hukum yang menetapkan ketentuan-ketentuan dan norma guna mengatur tindak perbuatan manusia dengan tujuan untuk melindungi lingkungan dari kerusakannya serta kemerosotanya dan untuk menjamin kelestarian mutunya agar dapat secara langsung dan terus menerus dapat digunakan oleh generasi yang akan datang .Hukum Tata Lingkungan adalah” Hukum yang mengatur penataan lingkungan guna mencapai keselarasan lingkungan hubungan antara manusia dan lingkungan hidupnya. D. Perangkat hukum dibutuhkan dalam rangka menjaga supaya lingkungan dan sumber daya alam dimanfaatkan sesuai dengan daya dukung atau kondisi kemampuan lingkungan itu sendiri. manusia dapat membina atau memperkokoh ketahanan lingkungan melalui budi. daya. dan karsanya. yang masing-masing adalah lingkungan dan manusia.Sedangkan Hukum Lingkungan Klasik adalah merupakan Hukum yang mengatur mengenai penggunaan lingkungan semata oleh manusia yang berorientasi pada pemanfaatan lingkungan tanpa memberikan perlindungan terhadap lingkungan . semua benda termasuk semua makhluk hidup. yakni berperan mempengaruhi kelangsungan kehidupan manusia dan makhluk hidup lain. baik lingkungan hidup manusia maupun lingkungan hidup sosial. yaitu : Hukum Lingkungan Klasik dan Hukum Lingkungan Modern. Peran Hukum Lingkungan Hukum lingkungan diperlukan sebagai alat pergaulan sosial dalam masalah lingkungan. Dengan demikian tidak ada yang tidak bernilai dalam pengertian lingkungan hidup karena satu dengan lainnya memiliki kapasitas mempengaruhi dalam pola ekosistem.Moenadjat Danusaputro. 7 . Begitu pula. Prof. 3. daya. 1999). Lingkungan hidup sebagai obyek pengaturan dilindungi dari perbuatan manusia supaya interaksi antara keduanya tetap berada dalam suasana serasi dan saling mendukung (Dunn. Lingkungan hidup memberi fungsi yang amat penting dan mutlak bagi manusia. Dalam hukum lingkungan diatur tentang obyek dan subyek.

2. Undang-Undang No. Undang-Undang No.41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan.Lingkungan hidup sebagai salah satu aspek kebutuhan manusia. maka Hukum Lingkungan mengandung pula tujuan-tujuan kepada pembaruan masyarakat (social engineering).39 Tahun 2014 Tentang Perkebunan. Beberapa hukum yang mengatur masalah pengelolaan Lingkungan Hidup. 5. atau pemanfaatan lahan untuk kepentingan umum. Dalam interaksi manusia. 3. yaitu : 1. Karena dengan Hukum Lingkungan yang memuat kandungan demikian. Misalnya.32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. 1992). diatur dengan undang-undang atau peraturan yang di dalamnya terdapat nilai atau prinsip yang mendorong pembaruan masyarakat (Soemarwoto. 8 . Sesuai dengan tujuannya yang tidak hanya semata-mata sebagai alat ketertiban. Undang-Undang No. Pengaturan dapat berwujud dalam bentuk apa yang boleh diperbuat yang disebut dengan hak.26 Tahun 2007 Tentang Tata Ruang. memerlukan hukum sebagai sarana pengaturan masyarakat (Miles dan Huberman. Hukum Lingkungan disini mengandung manfaat sebagai pengatur interaksi manusia dengan lingkungan supaya tercapai keteraturan dan ketertiban (social order). dimana dalam memenuhi kebutuhan tersebut manusia berhadapan atau melibatkan baik secara perseorangan maupun antar manusia dan kelompok.18 Tahun 2003 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan. Undang-Undang No. Pengaturan hukum selain sebagai alat pengatur ketertiban masyarakat (law as a tool of social order). masyarakat dalam interaksinya dengan lingkungan dapat diarahkan untuk menerima dan merespons prinsip-prinsip pembangunan dan kemajuan. juga sebagai alat merekayasa atau membarui masyarakat (law us a tool of sosial engineering). yang disebut dengan kewajiban oleh setiap subyek hukum. Hukum sebagai alat rekayasa sosial sangat penting artinya dalam hukum lingkungan. dan apa pula yang terlarang atau tidak boleh dilakukan. Dengan demikian. 4. suatu proyek pembangunan energi dari alam seperti PLTA. baik terhadap lingkungan hidupnya maupun dengan sesamanya (antar manusia) dengan sasaran lingkungan atau sumbersumber alam. 2001). Undang-Undang No.

000. Peranan Undang-Undang No. dan yang berkaitan dengan kebakaran hutan.Dalam UU ini tercantum jelas dalam Bab X bagian 3 pasal 69 mengenai larangan dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang meliputi larangan melakukan pencemaran. memasukkan limbah ke media lingkungan hidup. UU disahkan di Jakarta.E.32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. memasukkan benda berbahaya dan beracun (B3). kenaikan air laut. disebutkan kriteria baku kerusakan lingkungan hidup yang meliputi kerusakan ekosistem dan kerusakan iklim. pemanfaatan. pengawasan. pemeliharaan.000.Pada UU no 32 tahun 2009 pasal 21. Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) menurut UU no 32 tahun 2009 pasal 1 ayat (2) adalah upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan.000.000.000. atau kekeringan. dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling sedikit Rp1. 9 . dan lain sebagainya. Salah satunya adalah dalam pasal 103 yang berbunyi: Setiap orang yang menghasilkan limbah B3 dan tidak melakukan pengelolaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59. terumbu karang. pengendalian.00 (tiga miliar rupiah). Maka UU ini dibuat sebagai tindakan pemerintah untuk mencegah semakin rusaknya lingkungan dan untuk mengelola lingkungan menjadi lebih baik. Sedangkan kerusakan iklim adalah kenaikan temperatur. UU ini dibuat karena saat ini segala aktivitas manusia untuk meningkatkan taraf hidup seringkali tidak bertanggung jawab dan merusak alam. Andi Mattalatta. 3 Oktober 2009 oleh Presiden dan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. dan penegakan hukum. gambut. Larangan-larangan tersebut diikuti dengan sanksi yang tegas dan jelas tercantum pada Bab XV tentang ketentuan pidana pasal 97-123. mangrove. Yang termasuk kerusakan ekosistem adalah kerusakan tanah. melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar.00 (satu miliar rupiah) dan paling banyak Rp3.000. badai.

Hak Gugat Masyarakat 5.emisi.Hak gugat pemerintah dan pemerintah daerah. Jika dilihat dari penerapan hukum secara perdata.yaitu pemidanaan terhadap pelanggaran baku mutu air limbah.dan gangguan. Hak Gugat Pemerintah dan Pemerintah daerah 4.class action dan legal standing.Dan pada bagian inilah peran Polri dapat masuk dan ikut serta menjadi seorang mediator dalam pelaksanaan mediasi.hak gugat masyarakat dan hak gugat organisasi lingkungan hidup merupakan bentukbentuk pengamalan konsep axio popularis.Bentuk-bentuk penyelesaian sengketa ini memang memperkenankan untuk hadirnya orang ketiga sebagai penengah dan bukan penentu kebijakan. Tanggung Jawab Mutlak 3. Gugatan Administratif Akan tetapi dibalik ini semua.Penerapan hukum perdata ini juga diikuti engan berbagai persyaratan seperti pelaksanaan hak gugat oleh pemerintah bisa dilakukan oleh Kejaksaan. UU No 32 Tahun 2009 mengenal apa yang dinamakan asas Ultimum Remedium.pelaksanaan clas action yang dapat dilakukan oleh orang atau sekelompok orang dan pelaksanaan hak gugat oleh organisasi Lingkungan yang harus memenuhi persyaratan organisasi sesuai dengan apa yang diatur dalam UU No 32 10 .yang dilakukan dalam wujud mediasi ataupun arbritasi.Bentuk-bentuk penyelesaian lingkungan hidup diluar pengadilan ini menganut konsep Alternative Dispute Resolution (ADR).yakni mewajibkan penerapan penegakan hukum pidana sebagai upaya terakhir setelah penegakan hukum administrasi dianggap tidak berhasil. Ganti Kerugian dan Pemulihan Lingkungan 2. Hak gugat Organisasi Lingkungan Hidup 6.hanya berlaku bagi tindak pidana formil tertentu.Yang mana penerapan asas ini. Sedangkan penyelesaian sengketa melalui peradilan diatur pada bagian ketiga UU No 32 Tahun 2009 dan terdiri dari : 1.Konsep-konsep ini merupakan terobosan hukum yang sangat baik dalam penerapannya.

Komisi penilai AMDAL pusat. Sanksi terhadap pejabat yang memberikan izin lingkungan yang tanpa dilengkapi dengan dokumen AMDAL atau UPL/UKL (Rina Suliastini. AMDAL dan UKL/UPL merupakan salah satu instrumen pencegahan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup. Izin lingkungan diterbitkan oleh Menteri. Peranan Undang-Undang Kehutanan 11 .Provinsi.maupun Kab/Kota wajib memiliki lisensi AMDAL. Selain hal-hal yang disebutkan diatas. Hal-hal baru mengenai AMDAL yang termuat pada undang-undang terbaru ini antara lain: 1.Hal-hal yang terkait dengan sanksi tersebut berupa : 1. Sanksi terhadap orang yang menyusun dokumen AMDAL tanpa memiliki sertifikat kompetensi. 3. 3. Sanksi terhadap orang yang melakukan usaha/kegiatan tanpa memiliki izin lingkungan.ada pengaturan yang tegas dan tercantum dalam UU No 32 Tahun 2009 ini . 2.yaitu dikenakannya sanksi pidana dan sanksi perdata terkait pelanggaran bidang AMDAL.Ancaman hukuman yang ditawarkan oleh UU No 32 Tahun 2009 ini juga cukup komprehensif. 5.Bupati/Walokota sesuai kewenangannya.Contoh yang paling konkret adalah porsi yang diberikan pada masalah AMDAL.Gubenur.2009).Tahun 2009 ini.misalkan mengenai pasal-pasal yang mengatur tentang ketentuan pidana dan perdata yang mengancam setiap pelanggaran peraturan dibidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. 4. Penyusunan dokumen AMDAL wajib memiliki sertifikat kompetensi penyusun dokumen AMDAL.tetapi pengertian dari AMDAL itu sendiri berbeda antara UU No 32/2009 dengan UU No 23/1997. AMDAL dan UKL/UPL merupakan persyaratan untuk penertiban izin lingkungan.yakni hilangnya ”dampak besar”.maupun pejabat.baik perseorangan.Sekurangnya terdapat 23 pasal yang mengatur mengenai AMDAL. F. 2.korporasi.

yang tercantum dalam “Forest Principle 19” yang memberikan arahan pembangunan sumberdaya hutan secara holistik bagi seluruh elemen ekosistem demi keberlanjutan. partisipasi. nongovernmental organisations and individuals. in the development. Prinsip Internasional Pentingnya kesadaran tata kelola kehutanan yang baik dimulai sejak pertemuan pembangunan berkelanjutan yang merupakan hasil dari KTT Bumi di Rio de Jainero pada tahun 1992. yang relevan diantaranya adalah: States have the sovereign and inalienable right to utilize. Beberapa aturan yang berhubungan dengan tatakelola hutan dan lahan baik di tingkat internasional maupun nasional disajikan sebagai berikut: 1. including local communities and indigenous people. industries. 12 . akuntabilitas dan koordinasi yang berarti pengelolaan hutan dan lahan ditujukan dan harus dimanfaatkan oleh publik. tetapi prinsip ini merupakan norma dasar bagi tata kelola yang harus dilaksanakan oleh negara-negara yang menandatanganinya.Tata kelola hutan dan lahan di Indonesia terkait dengan beberapa keberadaan hukum yang memberikan jaminan legal sebagai landasan bagi pemerintah dalam menjalankan tugas dan tanggungjawabnya. labour. Sebaliknya tata kelola hutan yang baik tidak dapat dihilangkan dari prinsip transparansi. including the conversion of such areas for other uses within the overall socioeconomic development plan and based on rational land-use policies (principe 2a) Governments should promote and provide opportunities for the participation of interested parties. forest dwellers and women. implementation and planning of national forest policies (principe 2d) Meskipun “Forest Principle” tidak bersifat mengikat secara hukum (non legally binding). manage and develop their forests in accordance with their development needs and level of socioeconomic development and on the basis of national policies consistent with sustainable development and legislation.

Meskipun demikian. sedangkan golongan kedua. Dalam undang-undang ini meski terdapat pengakuan terhadap masyarakat adat. hutan. Undang-undang nomor 41/1999 membawa nuansa pengaturan yang memiliki perbedaan mendasar dengan masukkan peran serta masyarakat. Golongan ketiga dari jenis tindak pidana di bidang kehutanan sesungguhnya merupakan ketentuan administrative yang menimbulkan suatu akibat (kerusakan hutan) karena ditujukan kepada penerima izin usaha di bidang kehutanan (izin usaha pemanfaatan kawasan. namun dalam praktik pengelolaan dan pemanfaatan hutan tetap dilakukan di atas hutan negara. Ketentuan Pidana dirumuskan secara kumulatif. pemungutan Jenis hasil Sanksi hutan dan kayu Sistem dan bukan Penjatuhan kayu). tindak pidana di bidang kehutanan meliputi 15 jenis tindak pidana yang dapat digolongkan ke dalam 3 golongan. undang-undang ini belum secara jelas memberikan pengakuan kepada masyarakat adat yang berdiam di kawasan hutan. pemanfaatan hasil hutan kayu dan bukan kayu. Golongan pertama dan golongan ketiga. merupakan tindak pidana formil (delik formil).2. sanksi pidana penjara dan sanksi pidana denda bersama 13 . 1) larangan 2) merusak larangan sarana dan prasarana menimbulkan perlindungan kerusakan hutan. pemanfaatan jasa lingkungan. Dalam undang-undang ini terdapat dua status hutan yaitu hutan negara dan hutan hak. Peraturan Perundangan di Indonesia Undang-Undang Nomor 41/1999 tentang Kehutanan Undang-Undang ini merupakan pengganti dari Undang-Undang nomor 5/1967 tentang Pokok-Pokok Kehutanan. 3) larangan yang bersifat administratif namun memberikan sanksi pidana. yaitu . Sanksi Ancaman sanksi pidana sebagaimana diatur dalam Bab XIV. Penggolongan Tindak Pidana Kehutanan Merujuk kepada Undang . merupakan tindak pidana materiel (delik materiel) yang mensyaratkan terjadinya akibat kerusakan hutan. hak masyarakat atas informasi kehutanan dan keterlibatan dalam pengelolaan hutan secara umum.Undang Kehutanan. Hutan adat dianggap sebagai masih bagian dari hutan negara yang berada di wilayah masyarakat adat.

Efek jera yang dimaksud bukan hanya kepada pelaku yang telah melakukan tindak pidana kehutanan.(Pasal 78 ayat (1) s/d (15)). Undang-undang Kehutanan tahun 1999 tersebut memasukkan ketentuan mengenai Ganti Rugi dan Sanksi Administratif (Bab XV) Pasal 80. ini : 1. pembentukan undang-undang menetapkan bahwa terhadap setiap pelanggaran ketentuan Pasal 50 UU Kehutanan akan menerima sanksi pidana penjara.41/1999 adalah merupakan salah satu dari upaya perlindungan hutan dalam rangka mempertahankan fungsi hutan secara lestari. di dalam undang-undang Kehutanan tersebut. Namun di dalam udang-undang kehutanan juga dimasukkan ketentuan mengenai kewajiban penyidik PNS Kehutanan untuk menyerahkan hasil penyidikannya kepada penuntut umum (kejaksaan) (Pasal 77 ayat (3) sehingga masih terbuka kemungkinan pihak Kejaksaan Agung untuk menetapkan tindak pidana di bidang kehutanan sebagai tindak pidana korupsi. Kententuan pidana yang diatur dalam Pasal 50 dan sanksi pidananya dalam Pasal 78 UU No. sanksi administratif dan kewajiban untuk mengganti kerugian dalam satu paket sanksi. belum mengatur perihal tindak pidana kehutanan yang melibatkan pegawai negeri. Ketentuan Pasal 77 ayat (3) UU Kehutanan tersebut potensial menimbulkan konflik penerapan hukum jika tidak dipahami makna suatu Undang-Undang sebagai “lex specialis systematic” di satu sisi dan “lex specialis”disisi lain. sanksi pidana denda. bukan sanksi pidana sebagaimana diatur di dalam Bab XIV Ketentuan Pidana UU Kehutanan. . seharusnya ketentuan pidana tersebut efektif untuk mencegah dan memberantas illegal logging. Maksud dan tujuan dari pemberian sanksi pidana yang berat terhadap setiap orang yang melanggar hukum di bidang kehutanan ini adalah agar dapat menimbulkan efek jera bagi pelanggar hukum di bidang kehutanan. sehingga aturan hukum yang dipakai untuk menindak pelaku-pelaku khususnya pegawai negeri yang terlibat dalam kejahatan Kehutanan seperti penebangan liar (illegal logging) terutama yang menyangkut unsur-unsur korupsi masih terus mengacu pada 14 undang-undang tentang pemberantasan korupsi ini. Berdasarkan ketentuan pidana dalam UU Kehutanan tersebut. akan tetapi kepada orang lain yang mempunyai kegiatan dalam bidang kehutanan menjadi enggan melakukan perbuatan melanggar hukum karena Kelemahan Adapun sanksi pidananya dari kelemahan yang Undang-undang dari undang-undang cukup kehutanan ini adalah berat.

teknologi. subsistem pengolahan. Industri pengolahan hasil perkebunan adalah kegiatan penanganan dan pemrosesan yang dilakukan terhadap hasil tanaman perkebunan yang ditujukan untuk mencapai nilai tambah yang lebih tinggi. Agribisnis perkebunan adalah suatu pendekatan usaha yang bersifat kesisteman mulai dari subsistem produksi. subsistem pemasaran. produk ikutan. jenis tanaman. Perkebunan diselenggarakan dengan tujuan: meningkatkan 15 .2. Adanya kesalahan koordinasi antara pihak hukum yang berwenang dalam melakukan penegakkan hukum dalam permalahan kehutanan ini akibat tidak diatur secara jelasnya pembatasan kewenangan masing-masing pihak. mengolah dan memasarkan barang dan jasa hasil tanaman tersebut. keterpaduan. Hasil perkebunan adalah semua barang dan jasa yang berasal dari perkebunan yang terdiri dari produk utama. Usaha perkebunan adalah usaha yang menghasilkan barang dan/atau jasa perkebunan. Pelaku usaha perkebunan adalah pekebun dan perusahaan perkebunan yang mengelola usaha perkebunan. dengan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan produk lainnya. kebersamaan. Peranan Undang-Undang Perkebunan Dalam Undang-undang No. permodalan serta manajemen untuk mewujudkan kesejahteraan bagi pelaku usaha perkebunan dan masyarakat. dan/atau kapasitas pabrik yang diwajibkan memiliki izin usaha. 8 Tahun 2004 tentang perkebunan. Pekebun adalah perorangan warga negara Indonesia yang melakukan usaha perkebunan dengan skala usaha tidak mencapai skala tertentu. Skala tertentu adalah skala usaha perkebunan yang didasarkan pada luasan lahan usaha. G. 3. Serta masih banyak kelemahan lainnya. produk sampingan. modal. dan subsistem jasa penunjang. Ternyata Undang-undang ini tidak mengatur tentang tindak pidana yang dilakukan oleh perusahaan atau korporasi sehingga memberi ruang bagi elit poliitik dan pengusaha untuk memanfaatkan keadaan ini untuk kelompoknya. yang dimaksud dengan Perkebunan adalah segala kegiatan yang mengusahakan tanaman tertentu pada tanah dan/atau media tumbuh lainnya dalam ekosistem yang sesuai. berkeadilan. produk turunan. Tanaman tertentu adalah tanaman semusim dan/atau tanaman tahunan yang karena jenis dan tujuan pengelolaannya ditetapkan sebagai tanaman perkebunan. tenaga kerja. Perusahaan perkebunan adalah pelaku usaha perkebunan warga negara Indonesia atau badan hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia yang mengelola usaha perkebunan dengan skala tertentu. Perkebunan diselenggarakan berdasarkan atas berkelanjutan.

pendapatan masyarakat. air. dan mengoptimalkan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. memenuhi kebutuhan konsumsi dan bahan baku industri dalam negeri. bahwa penyelenggaraan perkebunan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan sudah tidak sesuai dengan 16 . selanjutnya disebut UU Perkebunan. dan sosial budaya. H. Ketiga. bahwa bumi. meningkatkan penerimaan negara. dari aspek sosiologis. penyerap karbon. UU Perkebunan dibentuk dengan latar belakang atau dasar pemikiran yaitu: Pertama. Peran Serta Masyarakat. yaitu peningkatan konservasi tanah dan air. 1973). menyediakan lapangan kerja. Kedua. serta meningkatkan produktivitas. bahwa perkebunan berperan penting dan memiliki potensi besar dalam pembangunan perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat secara berkeadilan. Hal tersebut ditunjukkan antara lain dengan pengaturan secara eksplisit maupun implisit mengenai keberpihakan kepada Masyarakat Perkebunan dan Masyarakat (Hukum) Adat. UU Perkebunan tersebut mempunyai spirit utama untuk mewujudkan amanat Undang-Undang Dasar 1945. Perkebunan mempunyai fungsi ekonomi. Pemerintah RI telah mengundangkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan pada tanggal 17 Oktober 2014 melalui Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 308. yaitu sebagai perekat dan pemersatu bangsa. Mengutamakan Penggunaan Penanaman Modal Dalam Negeri (McNaughton dan Larry Wolf. asas manfaat dan keterbukaan. meningkatkan penerimaan devisa negara. dari aspek filosofis. Perananan Undang-Undang No. dan kekayaan alam yang terkandung di dalam wilayah Negara Republik Indonesia merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa untuk dimanfaatkan dan dipergunakan bagi sebesar-besar kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Indonesia sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. dari aspek yuridis. dan daya saing. yaitu peningkatan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat serta penguatan struktur ekonomi wilayah dan nasional. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5613. Kemitraan. dan penyangga kawasan lindung. nilai tambah. fungsi ekologi.39 Tahun 2014 Tentang Perkebunan. penyedia oksigen.

Pembinaan teknis dan penilaian Usaha Perkebunan (amanat Pasal 97 ayat (3). Syarat dan tata cara pemberian izin usaha perkebunan. Standar mutu atau persyaratan teknis minimal (amanat Pasal 24 ayat (4)). skala usaha. Ketentuan mengenai pembinaan dan keterpaduan usaha Pengolahan Hasil Perkebunan dengan usaha budi daya Tanaman Perkebunan (amanat Pasal 73 ayat (3)). Pengembangan perkebunan berkelanjutan (amanat Pasal 62 ayat (3)). Sanksi administratif bagi perusahaan perkebunan yang memindahkan hak atas tanah Usaha Perkebunan dan melanggar kewajiban mengusahakan Lahan Perkebunan (amanat Pasal 18 ayat (3)). Perlindungan wilayah geografis yang memproduksi Hasil Perkebunan yang bersifat spesifik (amanat Pasal 66). lembaga pembiayaan. Tata cara pencarian. dan pelestarian sumber daya genetik (amanat Pasal 27 ayat (5)). 17 . Introduksi dari luar negeri terkait bentuk benih atau materi induk untuk pemuliaan tanaman (Pasal 28 ayat (3)). pengumpulan. Fasilitasi pembangunan kebun masyarakat (amanat Pasal 59). Jenis Pengolahan Hasil Perkebunan tertentu (amanat Pasal 74 ayat (2)).dinamika dan kebutuhan hukum masyarakat. sehingga perlu diganti (Soemarwoto. Kewajiban membangun sarana dan prasarana di dalam kawasan Perkebunan (amanat Pasal 69 ayat (3)). Kemitraan Usaha Perkebunan (amanat Pasal 57 ayat (3)). luasan lahan tertentu untuk usaha budi daya Tanaman Perkebunan. Kawasan pengembangan perkebunan (amanat Pasal 61 ayat (4)). Penetapan batasan luas maksimum dan luas minimum penggunaan lahan untuk Usaha Perkebunan (amanat Pasal 14 ayat (3)).1977). belum mampu memberikan hasil yang optimal. 21 (dua puluh satu) perihal yang akan diatur dalam Peraturan Pemerintah. Ketentuan mengenai penghimpunan dana dari Pelaku Usaha Perkebunan. jenis Tanaman Perkebunan. serta belum mampu meningkatkan nilai tambah usaha perkebunan nasional. Sanksi adiministrasi bagi unit Pengolahan Hasil Perkebunan yang berbahan baku impor yang tidak membangun kebun dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) tahun (amanat Pasal 75 ayat (3)). Sanksi administratif bagi perusahaan perkebunan yang tidak memfasilitasi pembangunan kebun masyarakat (amanat Pasal 60 ayat (3)). Tata cara pencegahan timbulnya kerusakan lingkungan hidup dan pencemaran lingkungan (amanat Pasal 32 ayat (3)). meliputi. dan masyarakat (amanat Pasal 93 ayat (5)). dan kapasitas pabrik tertentu untuk usaha Pengolahan Hasil Perkebunan (amanat Pasal 49). dan kondisi wilayah tertentu (Pasal 95 ayat (5)). Sanksi administrasi bagi setiap perusahaan yang tidak membangun sarana dan prasana di dalam kawasan Perkebunan (Pasal 70 ayat (3)). Besaran penanaman modal asing.

Perbenihan. Tindakan yang Dilarang. 12 (dua belas) perihal yang diamanatkan oleh UU Perkebunan untuk diatur lebih lanjut dalam Peraturan Menteri (Pertanian). pelabelan. UU Perkebunan ini memuat beberapa pengaturan yang baru. UU Perkebunan dan undang-undang lain yang telah ada dan peraturan pelaksanaannya serta kebijakan lainnya yang terkait. kemasyarakatan atau profesi sesuai dengan kebutuhan—untuk memberikan masukan bagi kesempurnaan dan penyempurnaan substansi Peraturan 18 . yaitu Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2004. dan peredaran varietas hasil pemuliaan atau introduksi dari luar negeri (amanat Pasal 31 ayat (3)). Budi Daya Tanaman Perkebunan. Syarat-syarat dan tata cara pelepasan atau peluncuran varietas hasil pemuliaan atau introduksi dari luar negeri (amant Pasal 30 ayat (2)). Produksi. Penetapan Batasan Luas Maksimum dan Minimum Lahan Usaha Perkebunan . Pembatasan Penanaman Modal Asing. Persyaratan dan tata cara pengawasan dalam Usaha Perkebunan (amanat Pasal 99 ayat (5). Pembinaan Teknis dan Evaluasi atas Kinerja Perusahaan Perkebunan. hak asasi manusia. Pembukaan lahan tanpa membakar (amanat Pasal 56).Sementara itu. Sumber daya genetik Tanaman Perkebunan (amanat Pasal 23 ayat (2)). UUD NRI Tahun 1945. Tata cara kegiatan panen dan pasca panen yang baik (amanat Pasal 72 ayat (4)). Kewajiban Memfasilitasi Pembangunan Kebun Masyarakat. dan Ketentuan Pidana. teoritis. Apabila dibandingkan dengan UU Perkebunan yang sebelumnya. sosial. Peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan Perkebunan (amanat Pasal 101) (Erwin. baik melalui pengkajian hukum secara mendalam maupun forum konsultasi dan diskusi yang melibatkan para ahli dari perguruan tinggi dan organisasi di bidang ekonomi. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan (amanat Pasal 90 ayat (2). Peran Serta Masyarakat. Jenis Tanaman Perkebunan (amanat Pasal 46). yaitu. Standar minimum sarana dan prasarana pengendalian organisme pengganggu Tanaman Perkebunan (amanat Pasal 35 ayat (2). Kewajiban bagi Unit Pengolahan Hasil Perkebunan Tertentu yang Berbahan Baku Impor. dipandang perlu adanya pengkajian hukum dari aspek filosofis. hukum. sertifikasi. Sistem Data dan Informasi. 2008). politik. Perlindungan Tanaman Perkebunan (amanat Pasal 38). Kajian hukum tersebut perlu dilakukan agar Peraturan Pemerintah yang nantinya dirumuskan selaras dengan konsepsi dengan falsafah negara. budaya. dalam rangka penyusunan Peraturan Pemerintah tersebut. meliputi. yuridis. tujuan nasional. Pelaksanaan integrasi dan diversifikasi usaha (amanat Pasal 44 ayat (4)). Selain itu. dan sosiologis oleh pihak di luar Pemerintah.

Peraturan perundang-undangan telah ada dianggap tidak memadai dan belum mampu menangani pemberantasan secara efektif terhadap perusakan hutan yang terorganisasi.Pemerintah yang akan disusun. Pasal 112 UU No. huruf g.18 Tahun 2003 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan Pengganti Undang-Undang No. dan ayat (10) dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dicabut dan dinyatakan tidak berlaku (Soemarwoto. kepastian hukum dan kebermanfaatan bagi kelangsungan dan keberlanjutan berbagai pemangku kepentingan kegiatan perkebunan (Anonim. dan internasional. kerusakan kehidupan sosial budaya dan lingkungan hidup. agar dapat diterapkan serta dapat menjamin keadilan. dan perkebunan tanpa izin telah menimbulkan kerugian negara. 18 Th 2013 ttg P3H "pengganti tindak pidana bidang kehutanan tertentu dlm UU No. 18 Th 2013 ttg P3H menyebutkan bahwa: Ketentuan Pasal 50 ayat (1) dan ayat (3) huruf a. ayat (6). serta meningkatkan pemanasan global yang telah menjadi isu nasional. serta huruf k. 41 Th 1999" sebagai berikut: 19 . 2001). huruf h. ayat (9). huruf j. ketentuan Pasal 78 ayat (1) mengenai ketentuan pidana terhadap Pasal 50 ayat (1) serta ayat (2) mengenai ketentuan pidana terhadap Pasal 50 ayat (3) huruf a dan huruf b. huruf f. 2009). berdasarkan pertimbangan tersebut disusun dan diundangkanlah Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan (P3H). Perusakan hutan sudah menjadi kejahatan yang berdampak luar biasa. terorganisasi. ayat (7).41 Tahun 1991 Perusakan hutan. telah mengancam kelangsungan kehidupan masyarakat sehingga dalam rangka pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan yang efektif dan pemberian efek jera diperlukan landasan hukum yang kuat dan yang mampu menjamin efektivitas penegakan hukum. penambangan tanpa izin. dan. Peranan Undang-Undang No. regional. I. terutama berupa pembalakan liar. Adapun daftar tindak pidana bidang kehutanan dalam rumusan UU No. dan lintas negara yang dilakukan dengan modus operandi yang canggih.

000. Melakukan permufakatan untuk terjadinya pembalakan liar dan/atau penggunaan kawasan hutan secara tidak sah. khusus untuk pejabat yaitu orang yang diperintahkan atau orang yang karena jabatannya memiliki kewenangan dengan suatu tugas dan tanggung jawab tertentu. Peranan Undang-Undang No. 6. Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun serta pidana denda paling sedikit Rp1. 2013).000. dalam Pasal 105 disebutkan bahwa: Setiap pejabat yang: 1.Selain ketentuan tersebut di atas.000. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang hendaknya dilaksanakan sepenuhnya oleh Bupati/Walikota dengan dukungan penuh dari pihak legislatif di masing-maisng daerah. J. Surabaya. dan/atau. Dengan sengaja melakukan pembiaran dalam melaksanakan tugas sehingga terjadi tindak pidana pembalakan liar dan/atau penggunaan kawasan hutan secara tidak sah. 4. 3.000. 7. Hal ini tentu saja dilaksanakan dengan melihat kondisi bio-geografi lingkungan dan sumber daya manusia di masing-masing wilayah dan hendaknya dikembangkan secara bertahap. Melindungi pelaku pembalakan liar dan/atau penggunaan kawasan hutan secara tidak sah. Menerbitkan izin pemanfaatan hasil hutan kayu dan/atau izin penggunaan kawasan hutan di dalam kawasan hutan yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Menerbitkan surat keterangan sahnya hasil hutan tanpa hak. seperti kelima wilayah kota Provinsi DKI Jakarta. 2005).000.00 (satu miliar rupiah) dan paling banyak Rp10. 5.000. khususnya dalam penyediaan ruang terbuka hijau di wilayah kota sebagaimana diamanatkan dalam UndangUndang No. Hal ini telah dilaksanakan oleh beberapa Bupati dan Walikota yang juga telah mendapat dukungan penuh dari badan legislatifnya.26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang Perubahan paradigma dalam pembangunan wilayah dan kota. 2. Ikut serta atau membantu kegiatan pembalakan liar dan/atau penggunaan kawasan hutan secara tidak sah.00 (sepuluh miliar rupiah) (Hariyanto. Menerbitkan izin pemanfaatan hasil hutan kayu dan/atau penggunaan kawasan hutan di dalam kawasan hutan yang tidak sesuai dengan kewenangannya. dan lain-lain (Widjaja. 20 .

dan (3) Penyediaan dan pemanfaatan prasarana dan sarana jaringan pejalan kaki.Pada akhir bulan April 2008 ini. Diagram 4 Tahapan Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Penyusunan RTRW Kabupaten berlaku mutatis mutandis (Pasal 28 UUPR No. seperti di benua Amerika Selatan dan di Asia telah berhasil mengembangkan lingkungan kota layak huni (habitable) atau apa yang disebut sebagai: ‘Kota Berwawasan Lingkungan’ (Siagian. Pada hakekatnya penyebab utama perencanaan dan perancangan permukiman kota adalah ketidakpedulian akan pentingnya sanitasi lingkungan yang “higienis”. Negara-negara Eropa mempunyai persepsi ‘hijau’ sebagai “Kota yang Sehat” dan hampir bebas dari emisi polusi CO2. N2O. yang kemudian secara 21 . antara lain “Rancangan Perda Kota Semarang tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau” yang dimaksudkan sebagai perwujudan dari perubahan paradigma dimaksud (Diagram 4). yaitu: 1 Sebagai visi (negara bagian di USA) menghijaukan kota-kota dengan menanam banyak tanaman dan 2 tumbuhan serta membangun taman-taman kota. Juni 2008). (2) Penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka non-hijau. Model perencanaan tata ruang terakhir yang disepakati para Walikota di dunia pada Penandatanganan Bersama Kesepakatan Lingkungan Hidup adalah dikenal dengan istilah Green City. 1998). Meskipun demikian sekitar dua dekade lalu beberapa walikota di beberapa negara sedang berkembang. yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi wilayah kota sebagai pusat pelayanan sosial-ekonomi dan pusat pertumbuhan wilayah (Sudarmaji. angkutan umum. dan lain-lain serta orientasinya pada penggunaan sarana angkutan dengan energi non-fosil. Meskipun terdapat dua persepsi berbeda tentang istilah Kota Hijau ini. kegiatan sektor informal dan ruang evakuasi bencana. 26 Tahun 2007) untuk penyusunan RTRW Kota dengan penambahan muatan pada rencana-rencana: (1) Penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau. CO. DPRD Kota Semarang secara proaktif akan melakukan ‘public hearing’ dengan mengundang para pakar dalam menyusun berbagai peraturan daerah (Perda).

Oleh karena itu. Sistem transportasi/ lalu lintas yang buruk dengan adanya kemacetan lalu lintas dan polusi udara. ekonomi dan estetika). dalam rangka menuju pembangunan “Kota Sehat”. Buruknya lingkungan kerja/ kantor (hal ini ditandai dengan berkembangnya bakteri legionellosi. kecoak. 1979). 7. 5. diperuntukkan bagi peresapan air permukaan (hujan). dan lain-lain) tak terkendali.sadar maupun tidak. Sementara itu. Ruang terbuka hijau adalah ruang terbuka kawasan perkotaan yang merupakan bagian ruang terbuka suatu kawasan perkotaan. 2. kolam genangan (retention basin). 1992) 22 . termasuk di sini adalah ruang terbuka ‘biru’ (danau. yang mengakibatkan sick building syndrome). Lingkungan menjadi semakin buruk akibat tidak ditegakkannya peraturan perundang-undangan yang ada. Unsur hijau ini antara lain berfungsi sebagai pendukung keberlangsungan proses siklus alami (fisik- ekologis). menjadi perilaku (kebiasaan) warga yang tak terpuji. 3. Vektor penyakit (nyamuk. pewarna. Sampah padat dan limbah cair tidak terkelola dengan baik (tak ada ‘sewerage system’. atau luapan air hujan (Miles dan Huberman. ruang terbuka non-hijau kawasan perkotaan yang permukaan tanahnya bisa diperkeras (paved) untuk kepentingan tertentu. budaya. pendukung bagi upaya peningkatan kesejahteraan warganya (baik dalam bidang sosial. penyedap). tikus. Makanan tidak higienis (keracunan. Persediaan air bersih yang minim (tak cukup bahkan tak ada). maka diperlukan persyaratan ketat pembangunan sarana dan prasarana sanitasi kota (Michael. Kondisi sanitasi dasar lingkungan permukiman. 6. waduk serta jalur sungai atau tepi pantai) termasuk areal yang sengaja dibangun. Hal ini mengakibatkan beberapa permasalahan sebagai berikut: 1. 4. di mana antara lain relatif terdapat banyak unsur hijau tanaman dan tumbuhan yang sengaja atau tak sengaja ditanam. menimbulkan masalah kesehatan yang serius. pemakaian zat kimia/pengawet. Hampir semua permasalahan di atas saling terkait dan merupakan akibat dari penyelenggaraan penataan ruang yang buruk.

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan yang dapat kami tarik anatara lain adalah: 1. Dalam hukum lingkungan diatur tentang obyek dan subyek. Lingkungan hidup sebagai obyek pengaturan dilindungi dari perbuatan manusia supaya interaksi antara keduanya tetap 23 . Perangkat hukum dibutuhkan dalam rangka menjaga supaya lingkungan dan sumber daya alam dimanfaatkan sesuai dengan daya dukung atau kondisi kemampuan lingkungan itu sendiri. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan dan juga pemaparan yang sudah disampaikan diatas maka penulis dapat menyimpulkan beberapa hal mengenai peranan hukum dalam melestarikan lingkungan. Hukum lingkungan diperlukan sebagai alat pergaulan sosial dalam masalah lingkungan. yang masing-masing adalah lingkungan dan manusia.

Bentuk penegakan hukum lingkungan yang digunakan di Indonesia adalah yang pertama penegakan melalui instrumen administratif yang apabila tidak mampu menyelesaikan permasalahan dan juga tidak diindahkan oleh pelaku pelanggaran atau kejahatan lingkungan hidup adalah penggunaan instrumen perdata dan pidana . dan demokratisasi dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup. 24 . 2) Pengawasan mengenai hukum lingkungan yang berlaku sebaiknya dilaksanakan seoptimal mungkin baik dari pemerintah baik masyarakat. Hukum lingkungan diperlukan dan dibutuhkan dalam rangka menjaga supaya lingkungan dan sumber daya alam dimanfaatkan sesuai dengan daya dukung atau kondisi kemampuan lingkungan itu sendiri. transparansi. membuktikan telah terjadi pencemaran atau perusakan lingkungan bukanlah pekerjaan mudah. Yang menjadi kendala di dalam penegakan dan juga pengimplementasian hukum lingkungan antara lain adalah : 1) Perbedaan persepsi antara aparatur penegak hukum dalam memahami dan memaknai peraturan perundang-undangan yang ada 2) Biaya untuk menangani penyelesaian kasus lingkungan hidup terbatas. Saran Berdasarkan pembahasan yang telah diungkapkan diatas maka penulis menyarankan : 1) Sebaiknya aturan-aturan yang disusun oleh pemerintah disusun dengan sejelasjelasnya sehingga tidak terjadi simpang siur akibat ketidakjelasan dari aturan yang dibuat. yang mana kedua instrument sanksi hukum ini biasa gunakan secara pararel maupun berjalan sendiri sendiri. 3) Penanganan kasus pelanggaran hukum lingkungan sebaiknya dikerjakan secara serius oleh pemerintah karena masalah lingkungan terkait dengan masalah masyarakat ramai. B. 3) Kurangnya partisipasi publik. 2. 3.berada dalam suasana serasi dan saling mendukung.

Jakarta: Harvarindo. Peraturan Perundang-undangan Lingkungan Hidup.1999. Jakarta: Gajah mada university press.Bandung: Penerbit PT Refika Aditama. Hukum Lingkungan Dalam Sistem Kebijaksanaan Pembangunan Lingkungan Hidup. 2001. Dunn. William. Erwin.DAFTAR PUSTAKA  Buku : Anonim.2008. 25 .Analisa Kebijakan Publik.

Otto. Radja Grafindo Persada.blogspot.Masriani.html )(Diakses pada 03 Januari 2016) Arifin. Pengantar Hukum Indonesia.UU No.AW.Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Yogyakarta: Gadjah Mada UniversityPress. Jakarta: Grafindo. Soemarwoto.2001.1979.2012.Penyelenggaraan Otonomi Di Indonesia.1992. 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan. (http://alamendah.Permasalahan Lingkungan Hidup dalam Seminar Segisegi Hukum Pengelolaan Lingkungan Hidup. Perundang Undangan Perlindungan dan Pengelolaan LingkunganHidup.1977.PT Sinar Grafika: Jakarta Michael Allaby. Sondang. 2004.org/peraturan-hukum/undang-undang/uu-no-41-tahun-1999tentang-kehutanan/ )(Diakses pada 03 januari 2016) Alvon. A. Jakarta: PT. Miles.2009.com/2010/01/analisis-undang-undangperkebunan.Analisis Undang Undang Perkebunan.2011. Mathew B dan Huberman. Rina.( http://alvonkurniapalma. Jakarta: Binacipta.Kurnia. London : The Mac Milian Press. Jakarta: PT.wordpress.Dictionary of the Environment.com/2011/12/26/perundang-undangan26 . Siagian. Otto. Michael. Gunung Agung.1998. Bandung: Gadjah Mada University Press. (https://profsyamsularifin.  Internet : Alamendah. Otto.2010. Jakarta: UI Press.2005.Tata Ruang Wilayah. Yulies Tiena. Widjaja.Perbandingan UU No 23/1997 dengan UU No 32 /2009.2009. Suliastini. Soemarwoto.Syamsul. Soemarwoto. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. P. Administrasi Pembangunan.

ac. Hariyanto. (http://blogmhariyanto. (www. pukul 21:00 WIB). (http://geo.org) ( Diakses pada tanggal 29 Desember 2015. Pembangunan Berkelanjutan. Lingkungan Hidup dan Otonomi Daerah. 27 . pukul 20:00 WIB). Sudarmaji.id. Juni 2008. pukul 20:00 WIB).vgm.blogspot.html) (Diakses pada tanggal 28 Desember.perlindungan-dan-pengelolaan-lingkungan-hidup/ )(Diakses pada 03 Januari 2016) Anonim.2011.co.wikibooks.Melibatkan Masyarakat dalam Penanggulangan Kerusakan Lingkungan.2013.Tindak Pidana Bidang Kehutanan.id/archives/125) (Diakses pada tanggal 28 Desember 2015.id/2013/12/tindak-pidana-bidangkehutanan-dalam.

28 .