Penentuan Status Ayah Kandung pada Seorang Anak

Tesa Iswa Rahman
102012179
Kelompok C1
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
Pendahuluan
Ilmu kedokteran forensik tidak saja dipergunakan untuk menyelesaikan kasus pada
korban yang telah meninggal tetapi juga kasus-kasus yang melibatkan orang yang masih
hidup.. Salah satu kasus dibidang hukum yang memerlukan penjelasan forensik adalah kasus
perdebatan status keayahan (disputed paternity). Disputed paternity (ragu ayah) adalah usaha
untuk mengeksklusi seseorang yang dituduh sebagai orang tua biologis dari seorang anak.1
Penentuan status keayahan tidak hanya menyangkut masalah psikologi namun juga penting
dalam aspek hukum dan aspek medis. Dalam aspek hukum masalah ini berhubungan dengan
pembuatan akta kelahiran, hak waris dan pernikahan. Diketahuinya ayah biologis juga
berguna dari aspek medis dalam hal pendonoran darah atau transplantasi organ.
Penentuan status keayahan terhadap seorang anak dapat dilakukan dengan metode
paling sederhana yaitu dengan menentukan atau mencocokkan tingkat kesuburan atau
fertilitas seorang pria yang di tuduh sebagai ayah dan waktu terjadinya konsepsi. Selain itu
kasus-kasus disputed paternity juga dapat diselesaikan dengan melakukan tes paternitas, yaitu
suatu tes untuk menentukan apakah seorang pria adalah ayah biologis dari seorang anak.
Pemeriksaan tes paternitas penting dilaksanakan pada kasus-kasus dimana seorang wanita
yang pernah melakukan hubungan intim dengan lebih dari satu orang pria pada saat yang
berdekatan, kemudian wanita tersebut hamil tanpa diketahui siapa sebenarnya ayah biologis
anak. Dapat pula terjadi seorang wanita menuduh seorang pria sebagai ayah dari anaknya,
sedangkan pria tersebut menyangkal telah menghamili si wanita, seperti dalam kasus ini..
Selain itu, tes paternitas diperlukan pula untuk menentukan hubungan anak-ayah dalam
menentukan ahli waris maupun urusan klaim asuransi. Terdapat berbagai jenis metode tes
paternitas yaitu metode konvensional dengan analisis fenotip pada berbagai sistem golongan
darah dan metode forensik molekular yaitu dengan tes DNA. Analisis fenotip hanya dapat
memberikan jawaban pasti jika si X bukan ayah si anak, sedangkan tes DNA didasarkan pada
analisis informasi genetik yang sangat spesifik dalam membedakan ciri setiap individu
sehingga dapat menentukan identitas seseorang hampir 100 % pasti sebagai ayah biologis si
anak.2
1

Skenario
Seorang perempuan A datang ke anda dan menceritakan keluhannya. Ia seorang
wanita karier dan telah bersuamikan S dengan dua anak. Perkawinan telah berlangsung 12
tahun. Pada dua bulan yang lalu A telah didatangi seorang perempuan muda B yang mengaku
sebagai istri gelap suami S dan ia mengatakan bahwa akibat hubungannya dengan S telah
lahir seorang anak laki-laki.B memnita kepada S agar mengawininya secara sah demi
kepentingan anak laki-lakinya, tetapi S tidak setuju. B meminta kepada A agar mau
menerimanya sebagai madunya atau setidaknya memberi nafkah kepada anak laki-lakinya
A kemudian berbicara secara baik-baik dengan S tentang hal ini. S mengakui bahwa 2
tahun yang lalu, sewaktu A sedang tugas keluar negri selama 6 bulan, ia berkenalan seorang
wanita muda di café, yang dilanjutkan dengan pertemuan di hotel beberapa kali. S yakin
bahwa B bukanlah wanita baik-baik dan menganggap bahwa hubungan S dengan B adalah
hubungan yang short time saja.
A ingin memastikan apakah benar anak laki-laki B adalah benar berasal dari hubungannya dengan
suaminya. A juga meminta pendapat dokter, apa yang harus dilakukakn agar dapat terlaksana
permintaan tersebut.
Pembahasan
Aspek Hukum Medikolegal3
KUHP pasal 284
1.

Diancam dengan pidana penjara paling lama 9 bulan
a. Seorang pria yang telah kawin yang melakukan gendak (overspel), padahal
diketahui bahwa pasal 27 BW berlaku baginya,
b. Seorang wanita yang telah kawin yang melakukan gendak, padahal diketahui
bahwa pasal 27 BW berlaku baginya
c. Seorang pria yang turut serta melakukan perbuatan itu, padahal diketahuinya
bahwa yang turut bersalah telah kawin
d. Seorang wanita yang telah kawin yang turut serta melakukan perbuatan itu,
padahal diketahui olehnya bahwa yang turut bersalah telah kawin dan pasal 27

2.

BW berlaku baginya
Tidak dilakukan penuntutan melainkan atas pengaduan suami/istri yang tercemar, dan
bilamana bagi mereka berlaku pasal 27 BW, dalam tenggang waktu tiga bulan diikuti

3.

dengan permintaan bercerai atau pisah-meja dan ranjang karena alasan itu juga.
Terhadap pengaduan ini tidak berlaku pasal 72, 73, dan 75.

2

4.

Pengaduan dapat ditarik kembali selama pemeriksaan dalam sidang pengadilan belum

5.

dimulai.
Jika bagi suami-istri berlaku pasal 27 BW, pengaduan tidak diindahkan selama
perkawinan belum diputuskan karena perceraian atau sebelum putusan yang
menyatakan pisah meja dan tempat tidur menjadi tetap.

Metode Penentuan Status Keayahan
Metode penentuan status keayahan dalam menyelesaikan kasus disputed paternity
dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu: menentukan tingkat fertilitas laki-laki yang
dituduh sebagai ayah, mencocokkan waktu konsepsi dan melakukan tes paternitas.
Tingkat Fertilitas
Tingkat fertilitas atau kesuburan seorang laki-laki penting diketahui untuk
menentukan seseorang dinyatakan pasti bukan ayah biologis seorang anak atau mungkin
merupakan ayah biologis yang diduga. Laki-laki yang dinyatakan infertil dari hasil
pemeriksaan dapat mengeksklusi laki-laki tersebut dari dugaan sebagai ayah biologis
seseorang anak.
Tes Paternitas
Tes paternitas adalah tes atau pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui apakah
seorang pria adalah ayah biologis dari seorang anak. Pemeriksaan forensik serologis yang
pertama kali digunakan untuk menyelesaikan kasus disputed paternity adalah sistem ABO
yang pertama kali ditemukan di Jerman pada tahun 1910. Setelah itu ditemukan system MNS
dan Rhesus pada tahun 1940. Pemeriksaan serologi dengan menggunakan sistem-sistem ini
terutama digunakan untuk mengeksklusi seseorang yang dituduh sebagai ayah biologis
seorang anak atau dapat memastikan bahwa seorang pria pasti bukan ayah biologis anak
tersebut.2
Sejak tahun 1950 penelitian tentang polimorfisme genetik berkembang dengan sangat
pesat, sejak saat itu berbagai antigen sel darah merah dan sel darah putih, enzim sel darah
merah, serta plasma protein diketahui merupakan bentuk alel. Selain itu diketahui bahwa
pada rangkaian DNA seseorang juga terdapat beberapa lokus yang polimorfis artinya
rangkaian DNA di tempat tersbut berbeda antara satu individu dengan individu lainnya, baik
urutan basa DNA maupun panjang DNA. Lokasi-lokasi polimorfis inilah jika dianalisis
3

dengan membandingkan DNA anak, ayah dan ibunya akan menunjukkan kebenaran pria dan
wanita sebagai orangtua kandung.2
Pengelompokkan sistem yang digunakan dalam tes paternitas di bagi menjadi empat
yaitu :2
1. Sistem sel darah merah terdiri dari: sistem ABO, Rhesus (Rh), MNS, Kell (K), Duffy
(Fy), Kidd (Jk), Lutheran.
2. Sistem biokimia meliputi pemeriksaan plasma protein dan enzim sel darah merah
terdiri dari: haptoglobin (Hp), phosphoglucomutase (PGM), esterase D (EsD),
erythrocyte acid phosphatase (EAP), glyoxalase (GLO), adenosine deaminase (ADA),
adenylate kinase (AK), group specific component (GC), Gm dan KM.
3. Human Leukocyte Antigen (HLA) yang mengidentifikasi antigen pada leukocyte.
4. DNA profiling.
Pada prinsipnya dalam penyelesaian kasus disputed paternity semakin banyak sistem
yang diperiksa, maka peluang untuk memastikan bukan ayah akan semakin besar. Dengan
pemeriksaan semua serologi forensik yaitu pemeriksaan sel darah merah, biokimia dan HLA
maka peluang eksklusi yang memastikan bukan ayah sebesar 99,7 % dengan pemeriksaan
HLA yang memberikan peluang eksklusi tertinggi yaitu sebesar 94 %. Pemeriksaan dengan
serologi forensik kurang kuat jika dibandingakan dengan pemeriksaan DNA yang memiliki
peluang memastikan status keayahan sebesar 99,9 %. Berikut ini tabel peluang eksklusi
bukan ayah dari masing-masing sistem pemeriksaan serologis pada tes paternitas.2
Tes paternitas yang sering digunakan untuk untuk menyelesaikan kasus disputed
paternity yaitu metode konvensional dengan analisis fenotip berupa tes golongan darah
sistem ABO, Rhesus, MNS dan tes Human Leukocyte Antigen (HLA) serta tes paternitas
yang menggunakan metode forensik molekular yaitu tes DNA. Analisis fenotip hanya dapat
memberikan jawaban pasti jika si X bukan ayah si anak, sedangkan tes DNA didasarkan pada
analisis informasi genetik yang sangat spesifik dalam membedakan ciri setiap individu
sehingga dapat menentukan identitas seseorang hampir 100 % pasti sebagai ayah biologis si
anak.2
Sistem ABO
Sistem penggolongan darah yang paling terkenal dan secara medis penting dan
pertama kali dimanfaatkan untuk tes paternitas adalah sistem ABO. Sistem golongan darah
ABO ditemukan pada tahun 1900 dan 1901 di Universitas Vienna oleh Karl Landstainer. 4
Dalam sistem ABO golongan darah dikelompokkan menjadi empat yaitu golongan darah A,
4

B, AB dan O. Golongan darah didasarkan pada jenis antigen dan antibodi yang terkandung
dalam darahnya, sebagai berikut :4
1. Golongan darah A memiliki sel darah merah dengan antigen A di permukaan
membran selnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen B dalam serum
darahnya.
2. Golongan darah B memiliki antigen B pada permukaan sel darah merahnya
dan menghasilkan antibodi terhadap antigen A pada serum darahnya.
3. Golongan darah AB memiliki sel darah merah dengan antigen A dan B serta
tidak menghasilkan antibodi terhadap antigen A maupun antigen B.
4. Golongan darah O memiliki sel darah tanpa antigen tetapi memproduksi
antibodi terhadap antigen A dan B.
Pemeriksaan golongan darah ABO sangat mudah dilakukan dan tidak mahal serta
hanya membutuhkan sedikit sampel darah. Serum yang mengandung antibodi anti A
dicampur dengan sampel darah, serum lainnya yang mengandung antibodi anti B dicampur
dengan sisa sampel darah. Jika sampel darah mengalami aglutinasi dengan penambahan
antibodi anti A, tetapi tidak mengalami aglutinasi dengan antibodi anti B berarti terdapat
antigen A tetapi tidak terdapat antigen B sehingga golongan darahnya adalah A.4
Golongan darah ABO diturunkan melalui gen pada kromosom 9 dan tidak berubah
oleh pengaruh lingkungan selama kehidupan berlangsung. Golongan darah ABO seseorang
ditentukan dengan mewarisi 1 dari 3 alel (A, B atau O) dari tiap orang tua. Alel A dan B
bersifat lebih dominan dari pada alel O. Hal ini menyebabkan seseorang yang memiliki
genotip AO akan

memiliki fenotip A, dan seseorang yang memiliki genotip BO akan

memiliki fenotip B sedangkan orang yang memiliki genotip OO akan memiliki fenotip O.
Alel A dan B sama-sama dominan sehingga jika alel A diperoleh dari satu orang tua dan alel
B dari orang tua yang lain maka fenotip yang muncul adalah AB.6 Dari hal tersebut diketahui
bahwa golongan darah A memiliki dua fenotip yaitu AA dan AO, golongan darah B juga
memiliki 2 genotip yaitu BB dan BO. Sedangkan golongan darah O dan AB hanya memiliki
satu genotip.4 Kemungkinan golongan darah anak yang diwariskan oleh persilangan masingmasing golongan darah orang tua dijelaskan pada tabel berikut.

Tabel 1. Pewarisan Golongan Darah Kepada Anak4
5

Ibu/Ayah

O

A

B

AB

O
A
B
AB

O
O, A
O, B
A, B

O, A
O, A
O, A, B, AB
A, B, AB

O, B
O, A, B, AB
O, B
A, B, AB

A, B
A, B, AB
A, B, AB
A, B, AB

Sistem Rhesus
Jenis golongan darah lain yang cukup dikenal adalah dengan memanfaatkan faktor
rhesus atau faktor Rh. Golongan darah ini ditemukan oleh Landstainer saat melakukan
imunisasi terhadap kelinci menggunakan darah monyet dan menemukan antisera yang tidak
hanya mengaglutinasi sel darah merah monyet tetapi juga mengaglutinasi sel darah merah
dari 85 % populasi manusia. Seseorang yang memiliki sel darah merah yang mengalami
aglutinasi disebut rhesus positif dan orang yang memiliki sel darah merah yang tidak
mengalami aglutinasi disebut rhesus negatif. Antibodi yang bertanggung jawab terhadap
reaksi tersebut disebut anti Rh. Golongan darah ini memiliki genetik paling komplek
dibandingkan sistem yang lain karena sistem ini melibatkan 45 antigen yang berbeda pada
permukaan sel darah merah yang dikontrol oleh gen pada kromosom satu.4
Tiap orang memiliki sepasang gen darah faktor Rhesus yang dapat dites di
laboratorium untuk mengetahui adanya antigen Rhesus. Jika tes tidak menemukan antigen,
orang tersebut dikatakan memiliki tipe darah Rh negatif (Rh -), dan jika hal yang sebaliknya
terjadi maka dikatakan orang tersebut memiliki tipe darah Rh positif (Rh +).
Sistem Rhesus terdiri dari sejumlah besar antigen yang berbeda-beda, tetapi untuk
keperluan praktis salah satu diantaranya yaitu Rhesus D yang dianggap paling penting karena
Rhesus D paling kuat dalam merangsang pembentukan antibodi. Untuk menetapkan
penggolongan darah digunakan serum anti D dan untuk mengklasifikasikan

individu-

individu sebagai Rhesus positif atau Rhesus negatif digunakan tanda D+ atau D-. D bersifat
dominant terhadap d karena anti d tidak pernah muncul. Rhesus positif dan rhesus negatif
ditentukan oleh gen D dan gen d. Golongan Rhesus positif mempunyai dua macam genotip
yaitu DD dan Dd, sedangkan golongan negatif hanya mempunyai satu macam genotip yaitu
dd.

Berikut ini kemungkinan genotif golongan darah anak dengan sistem Rhesus.11
6

Orang tua

: DD x DD

DD x Dd

Dd x Dd

Anak

:

DD atau Dd

DD atau dd

Orang tua

: DD x dd

Dd x dd

dd

Anak

:

DD atau dd

DD

Dd

x

dd

dd

Tes DNA
Karakteristik DNA
DNA adalah asam nukleat yang mengandung materi genetik dan berfungsi mengatur
perkembangan biologis seluruh kehidupan secara biologis. DNA memiliki struktur pilinan
utas ganda yang terdiri dari komponen gula pentosa (deoksiribosa), gugus fosfat dan
pasangan basa. Pasangan basa pada DNA terdiri dari dua macam yaitu basa pirin dan
pirimidin. Basa pirin terdiri atas adenin (A) dan guanin (G) yang memiliki struktur cincin
ganda sedangkan basa pirimidin terdiri atas sitosin dan timin yang mempunyai struktur cincin
tunggal. Adenin selalu berpasangan dengan timin dan sitosin selalu berpasangan dengan
berpasangan dengan guanin, kedua basa pada masing-masing pasangan dihubungkan dengan
ikatan hidrogen. Kedua rantai berjalan memilin satu sama lain dalam rantai helix ganda. DNA
sebagai pembawa keterangan genetik dalam sel mempunyai unit esensial berupa kodon yaitu
yang merupakan triplet urutan basa dan masing-masing triplet mengkodekan sebuah asam
amino tertentu. Kode genetik hanya menentukan struktur protein primer. Protein ini dapat
merupakan komponen struktural makromolekul atau enzim yang mengendalikan sintesis non
protein.5
Di dalam setiap sel berinti terdapat dua jenis DNA yaitu core DNA (c-DNA) yang
terdapat di dalam inti sel dan mitokondria DNA (mt-DNA) yang terdapat dalam organel
mitokondria. c-DNA merupakan materi genetik yang membawa sifat individu dan diturunkan
dari ayah dan ibu menurut hukum Mendel. Berdasarkan pola pewarisan ini maka
pemeriksaan c-DNA dapat digunakan untuk mencari hubungan anak-ibu maupun anak-bapak.
mt-DNA merupakan materi genetik yang membawa kode genetik dari berbagai enzim dan
protein yang berkaitan dengan proses pembentukan dan penuaan. Berbeda dengan c-DNA,
mt-DNA berbentuk lingkaran ganda yang hanya diturunkan dari ibu kepada anak, sehingga
pemeriksaan mt-DNA hanya dapat digunakan untuk mencari hubungan anak-ibu. Dalam
forensik yang dimaksud dengan pemeriksaan DNA umumnya merujuk pada pemeriksaan cDNA yang penggunannya lebih luas.6

7

Setiap sel dalam tubuh seseorang memiliki rangkaian DNA identik. Rangkaian DNA
setiap sel disebut kromosom. Setiap kromosom dibagi menjadi lokus-lokus yang menandai
posisi gen dalam kromosom. Gen-gen yang terdapat pada lokus-lokus ini disebut alel. Jika
gen pada satu lokus sama dengan lokus pada kromosom pasangannya maka disebut alel
homozigot, sedangkan jika berbeda disebut heterozigot. Pada lokasi-lokasi tertentu dalam
kromosom terdapat alel-alel yang sangat spesifik pada setiap individu. Alel dalam tes DNA di
definisikan sebagai one of series of alternative form of gen at specific lokus in a genom. Alelalel spesifik ini diturunkan kepada anak dalam proses pembuahan sehingga si anak membawa
alel-alel ini dalam kromosomnya.5,6
Setiap sel dalam tubuh manusia memiliki 24 pasang kromosom. Pada induk sel
sperma dan sel telur terjadi pembelahan yang disebut meiosis sehingga 24 pasang kromosom
tersebut berpisah sehingga sel-sel induk menghasilkan sel sperma atau sel ovum yang
memiliki 24 kromosom. Pada saat pembuahan sel sperma ayah (24 kromosom) akan bersatu
dengan sel ovum ibu (24 kromosom) sehingga kromosom dari pihak ayah akan berpasangpasangan dengan kromosom dari pihak ibu dan membentuk zygot. Pada saat inilah rangkaian
DNA dari ayah dan ibu diturunkan kepada anaknya, dimana masing-masing pihak
memberikan kontribusi 50 persen terhadap DNA anak.6
Proses Analisis DNA untuk Tes Paternitas
Tes paternitas dengan menggunakan anlisis DNA adalah analisis informasi genetik
yang sangat spesifik dalam membedakan ciri setiap individu sehingga dapat menentukan
identitas seseorang hampir 100 % pasti sebagai ayah biologis si anak, sedangkan metode
konvensional dengan analisis fenotip berupa tes golongan darah sistem ABO, Rhesus, MNS
dan tes Human Leukocyte Antigen (HLA) hanya dapat mengeksklusi pria yang diduga
sebagai ayah biologis. Selain pada kasus disputed paternity tes DNA juga sangat berguna
pada kasus-kasus yang membutuhkan membuktian forensik. Beberapa kelebihan pemeriksaan
DNA dibandingkan dengan pemeriksaan konvensional lainnya adalah sebagai berikut:5
1. Ketepatan yang lebih tinggi
Sebagai contoh dalam pemeriksaan suatu bercak darah sebelum ditemukannya
pemeriksaan DNA dilakukan pemeriksaan golongan darah. Hasil pemeriksaan
golongan darah yang tidak cocok akan menyebabkan orang yang dicurigai
tersingkir sebagai sumber darah tersebut, namun jika cocok maka merupakan
suatu kemungkinan saja. Sedangkan hasil pemeriksaan DNA terhadap bercak

8

darah tersebut akan nyaris sempurna dalam menentukan siapa sumber bercak
darah tersebut.
2. Kestabilan yang tinggi
Pada kasus-kasus dimana bukti sebagai sampel sudah membusuk, maka hanya tes
DNA yang masih dapat dilakukan, karena DNA bersifat tahan pembusukan
dibandingkan protein.
3. Pilihan sampel yang luas
Penyebaran DNA hampir pada seluruh bagian tubuh membuat sampel untuk tes
DNA dapat diambil dari berbagai bagian tubuh kecuali sel darah merah.
4. Dapat mengungkap kasus sulit
Hanya tes DNA yang dapat dilakukan untuk pemecahan kasus-kasus sulit yang
tidak dapat dipecahkan oleh metode konvensional antara lain seperti: penentuan
keayahan, kasus incest, kasus paternitas dengan bayi dalam kandungan, kasus
paternitas dengan bayi yang sudah meninggal dan kasus paternity tanpa kehadiran
sang “ayah”.
5. Dapat mengungkap kasus perkosaan dengan banyak pelaku, pemeriksaan DNA
dapat memastikan berapa orang pelaku dan siapa saja pelakunya.
6. Sensitifitas yang amat tinggi
Sensitifitas tes DNA dapat mencapai 99,9 %. Tes DNA juga dapat dilakukan pada
sampel dengan jumlah kecil dengan metode PCR.
Analisis DNA untuk tes paternitas meliputi beberapa tahap yaitu tahap pengambilan
spesimen, tahap proses laboraturium, tahap perhitungan statistik dan pengambilan
kesimpulan.
Sampel pada tes DNA
Bahan sampel DNA dapat dipilih dari jaringan apa saja, karena DNA dapat diperoleh
dari semua sel berinti. Sel yang tidak memiliki DNA hanyalah sel darah merah karena sel
darah merah tidak memiliki inti. Untuk tes diperlukan spesimen yang diambil dari ibu, anak
dan pria yang diduga sebagai ayah biologisnya. Tes tidak dapat dilakukan jika spesimen tidak
lengkap, misalnya tanpa spesimen yang diambil dari ibu. Kalaupun dilakukan, kesimpulan tes
yang akan diperoleh sangat rendah yaitu kurang dari 50 %.7
Hal yang paling penting pada tahap pengambilan bahan atau spesimen adalah jangan
sampai terjadi kontaminasi. Artinya spesimen yang akan diperiksa tercampur dengan
9

spesimen individu lain sehingga mengakibatkan kesalahan pengambilan kesimpulan dalam
menentukan siapa ayah biologis anak tersebut. Bahan sampel setelah dikumpulkan harus
diberi perlakuan tertentu agar tidak rusak. Secara umum DNA dapat rusak akibat pengaruh
lingkungan seperti paparan sinar matahari, terkena panas, bahan kimia, air dan akibat kerja
enzim DNAase yang terdapat dalam jaringan sendiri. Untuk itu terhadap berbagai bahan
sampel tersebut harus diberi perlakuan sebagai berikut:7
1.

Jaringan
Untuk bahan sampel yang segar, sampel terbaik adalah jaringan limpa, kelenjar
getah bening dan hati. Sedangkan untuk bahan yang telah busuk, otak yang
terbaik meskipun kondisinya telah mencair. Bahan sampel diambil, dibungkus
kertas alumunium dan dibekukan pada suhu dibawah 20°C.

2.

Darah
Darah cair diberikan pengawet EDTA, dan disimpan dalam termos es atau
lemari es. Alternatif lain, bahan diserap dengan kain kasa lalu dikeringkan.
Bercak kering dapat dikerok dengan scalpel, dibawa dengan bendanya atau
diusap dengan kain kasa basah lalu dikeringkan.

3.

Cairan mani
Diserap dengan kain kasa kemudian dikeringkan

4.

Tulang, Gigi dan Rambut
Dibungkus dengan kertas alumunium dan disimpan pada suhu di bawah 20°C.
Bahan yang telah dikeringkan dapat disimpan pada suhu kamar. Sampel rambut
diambil 10 – 15 helai beserta akarnya. Sampel gigi dipilih paling sedikit empat,
molar jika mungkin. Sampel gigi sebaiknya tidak rusak oleh endodontia. Sampel
tulang sebaiknya dari femur.
Teknik Analisis DNA
Restriction Fragment Length Polymorphism (RFLP)
Teknik pertama yang digunakan analisa DNA dalam bidang forensiik adalah RFLP.
Polimorfisme yang dinamakan Restriction Fragment Leght Polymorphism (RFLP) adalah
suatu polimorfisme DNA yang terjadi akibat variasi panjang fragmen DNA setelah dipotong
dengan enzim retriksi tertentu menjadi fragmen Variable Number Of Tandem Repeat (VNTR).
Teknik ini dilakukan dengan memanfaatkan enzim retriksi yang berfungsi memotong DNA
pada tempat-tempat tertentu dengan cara mengenali urutan basa tertentu seperti AATT.
Urutan basa tersebut disebut sebagai recognition sequence. Enzim yang berbeda memiliki
10

recognition sequence yang berbeda. Enzim ini lalu memotong DNA menjadi segmen-segmen
yang berbeda. Panjang segmen tersebut bervariasi pada tiap orang, hal ini disebabkan karena
titik potong enzim yang berbeda dan panjang segmen antara titik potong juga berbeda.
Analisa yang dihasilkan adalah variasi pada panjang

fragmen DNA yang telah

ditentukan. Setelah selesai, pola RFLP tampak seperti kode batang (bar code). Saat
membandingkan hasil analisa dua sampel, pola batang pada autoradiograf dibandingkan
untuk menentukan apakah kedua sampel tersebut berasal dari sumber yang sama.8
Proses pada teknik Restriction Fragment Leght Polymorphism (RFLP) diawali dengan
proses pemotongan dengan menggunakan enzim retriksi tertentu. Kemudian dengan
menggunakan gel yang dialiri arus listrik, potongan DNA diurutkan berdasarkan panjangnya.
Proses ini dinamakan electrophoresis, prinsip pada proses in adalah potongan DNA yang
lebih pendek bergerak lebih cepat daripada yang lebih panjang. Untuk mendeteksi adanya
segmen yang bersifat polimorfik maka dilakukan suatu prosedur yang disebut sebagai
Southern Blooting. Dalam prosedur ini pada gel ditambahkan suatu zat kimia yang berfungsi
untuk memisahkan rantai ganda menjadi rantai tunggal, kemudian membran nilon diletakkan
diatas gel dan bahan penyerap diatas membran nilon. Cairan akan bergerak ke dalam bahan
penyerap bersama potongan DNA rantai tunggal. Kemudian dengan menggunakan fragmen
pendek DNA (DNA probe) yang mengandung petanda radioaktif maka akan dideteksi DNA
yang berasal dari lokasi pada genome yang memiliki ciri yang jelas dan sangat polimorfik.
Pada proses ini DNA probe akan berikatan dengan potongan DNA rantai tunggal dan
membentuk DNA rantai ganda pada bahan nilon. DNA probe yang tidak berikatan akan
dicuci. Membran nilon yang berisi potongan DNA yang telah ditandai dengan DNA probe
selanjutnya ditransfer pada selembar film X-ray. Pada proses ini akan tampak hasil berupa
kode batang yang disebut autorad. Pola inilah yang dibandingkan untuk mengetahui apakah
kedua sampel bersal dari sumber yang sama. Pada teknik RFLP tidak hanya digunakan satu
DNA probe, diamana DNA probe yang berbeda menandai lokus yang berbeda.8
Walaupun penggunaanya telah mulai digeser oleh teknologi baru RFLP tetap adalah
teknik terbaik untuk diskriminasi masing-masing lokus. Hal ini disebabkan oleh karena
lokus-lokus yang dipergunakan untuk RFLP dapat menunjukkan ratusan variasi untuk tiap
lokus. Dengan demikian jika dua sampel berasal dari sumber yang berbeda, RFLP dapat
membedakannya menggunakan jumlah lokus yang lebih sedikit. RFLP dapat menentukan
apabila sebuah sampel berasal dari lebih satu sumber dan dapat membedakan sumbernya
dengan baik. Tingginya daya diskriminasi teknik ini disebabkan oleh hipervariabilitas pada
tiap lokus dan kemampuan untuk memeriksa lebih dari satu lokus. Kelemahan teknik ini
11

adalah memerlukan sampel DNA dalam jumlah lebih besar dan harus dalam kondisi baik jika
dibandingkan dengan teknik menggunakan PCR. Teknik ini juga membutuhkan lebih banyak
tenaga.
Polymerase Chain Reaction (PCR)
Metode analisa DNA yang selanjutnya adalah Polymerase Chain Reaction (PCR)
yaitu suatu metode untuk memperbanyak fragmen DNA tertentu secara in vitro dengan enzim
polymerase DNA. Teknik ini didesain agar yang diperbanyak hanya segmen tertentu dari
sampel dengan tingkat akurasi yang tinggi, sehingga dapat diperoleh informasi dari sampel
yang jumlahnya sedikit atau bahkan pada sampel DNA yang sudah mulai terdegradasi.8
Sampel DNA yang disiapkan dengan metode PCR dapat diananlisis menggunakan
beberapa cara. Secara umum variasi per lokus sampel DNA yang disiapkan melalui PCR
lebih rendah daripada variasi pada RFLP. Dengan demikian hasil dapat diperoleh dari sampel
yang kurang secara kualitas maupun kuantitas namun kekuatan deskriminasinya lebih rendah
dengan jumlah lokus yang sama. Kekuatan metode analisis PCR adalah kemampuan untuk
menganalisa beberapa lokus secara bersamaan dengan proses yang otomatis.8
Proses yang terjadi pada teknik ini serupa dengan cara DNA memperbanyak
jumlahnya dalam sel. Ada tiga tahap yang dilakukan di laboraturium. Pertama, proses yang
dinamakan denaturation yaitu segmen atau urutan DNA rantai ganda dipisahkan menjadi dua
rantai tunggal dengan cara memanaskan. Kedua proses Annealing atau Hybridization, pada
proses ini setiap rantai tunggal tersebut dipersiapkan dengan cara mengikatkannya dengan
DNA primer. DNA primer adalah DNA pendek yang dibuat secara sintetis yang menunjukkan
urutan DNA yang akan diperbanyak. Proses ketiga disebut Extension yaitu enzim DNA
polymerase ditambahkan bersama dengan sejumlah basa bebas dari keempat jenis basa DNA
dilanjutkan dengan proses replikasi. Keunggulan PCR dibandingkan RFLP adalah:
1) Simpel dan mudah dilaksanakan di laboraturium
2) Hasil diperoleh dalam waktu singkat (dalam beberapa hari)
3) Oleh karena kapasitas produksi segmen DNA yang tidak terbatas maka metode
yang berdasarkan PCR memungkinkan untuk menganalisa DNA dalam jumlah
sangat sedikit.
Kekurangan metode PCR adalah:
1) Mudah terkontaminasi
Kontaminasi merupakan masalah yang besar pada PCR karena sistem ini
memperbanyak DNA yang ada dengan tingkat akurasi yang tinggi. Sebuah molekul
DNA dapat menjadi jutaan bahkan milyaran DNA dalam waktu tiga jam, jika ada
12

sebuah molekul DNA bakteri atau kontaminan lain tercampur maka molekul
tersebut juga akan diperbanyak dalam laju yang sama sehingga akan terjadi salah
kesimpulan.
2) Kebanyakan lokus dalam PCR memiliki alel lebih sedikit dibandingkan VNTR
pada metode RFLP.
3) Tidak seperti VNTR yang menggunakan area yang tidak berfungsi, beberapa lokus
dari PCR adalah gen yang fungsional, ini berarti telah terjadi seleksi alam yang
menyebabkan perbedaan yang lebih besar dari subgroup populasi.
STRs (Short Tandem Repeats)
Metode STRs (Short Tandem Repeats) adalah salah satu metode analisis yang
berdasar pada metode Polymerase Chain Reaction (PCR). STRs (Short Tandem Repeat)
adalah suatu istilah genetik yang digunakan untuk menggambarkan urutan DNA pendek (2 –
5 pasangan basa) yang diulang. Genome setiap manusia mengandung ratusan STRs. Metode
ini paling banyak dikembangkan karena metode ini cepat, otomatis dan memiliki kekuatan
diskriminasi yang tinggi. Dengan metode STRs dapat memeriksa sampel DNA yang rusak
atau dibawah standar karena ukuran fragmen DNA yang diperbanyak oleh PCR hanya
berkisar antara 200 – 500 pasangan basa. Selain itu pada metode ini dapat dilakukan
pemeriksaan pada setiap lokus yang memiliki tingkat polimorfisme sedang dengan
memeriksa banyak lokus dalam waktu bersamaan. Teknik yang digunakan adalah
multiplexing yaitu dengan memeriksa banyak lokus dan berbeda pada satu tabung. Dengan
cara ini dapat menghemat waktu dan menghemat sampel. Analisis pada teknik ini didasarkan
pada perbedaan urutan basa STRs dan perbedaan panjang atau pengulangan basa STRs.8
Y- STRs (Y-Short Tandem Repeats)
Y- STRs adalah STRs yang ditemukan pada kromosom Y. Y- STRs dapat diperiksa
menggunakan jumlah sampel kecil dan rusak dengan metode dan alat yang sama dengan
pemeriksaan STRs pada kromosom autosomal. Karena kromosom Y hanya terdapat pada
pria maka Y- STRs dapat berguna untuk menyaring informasi genetik yang spesifik dari pria
yang yang menjadi sampel. Pemeriksaan Y- STRs dapat digunakan untuk memeriksa sampel
tanpa sperma yang bercampur antara sampel laki-laki dan perempuan, seperti sampel darah
atau air liur yang diambil dari korban kasus perkosaan. Pemeriksaan ini juga dapat
mendeteksi profil pria ketika hanya profil wanita yang tampak jelas saat menggunakan STRs.
Karena kromosom Y tidak mempunyai homolog pada genom manusia, maka disebut
13

hemizygous. Kromosom Y tidak mempunyai partner yang sama seperti pada kromosom
autosomal. Walaupun ia berpasangan selama pembelahan sel, rekombinasi genetik yang
terjadi hanya sedikit atau yidak ada sama sekali, hal ini diwariskan kepada keturunannya. YSTRs sangat berguna untuk menyelesaikan kasus disputed paternity pada anak laki-laki,
karena kromosom Y diturunkan oleh ayah kepada anak laki-laki.8
mtDNA (Mitochondrial DNA)
Aplikasi penggunaan mitokondria DNA (mtDNA) dalam identifikasi forensik
dimulai pada tahun 1990. Mitokondria adalah partikel intraselular yang terdapat di luar
nukleus

dalam sitoplasma sel. Mitokondria mengandung DNA kecil berupa molekul

berbentuk sirkular yang terdiri dari 16569 pasangan basa yang dapat diidentifikasi. Setiap sel
mengandung 100 – 1000 mitokondria.
Ciri khas dari mtDNA adalah pola penurunannya. Tidak seperti DNA inti yang
tersusun dari kombinasi separuh DNA orang tua, mitokondria DNA hanya mengandung DNA
ibu. Mitokondria diturunkan melalui sel telur tidak melalui sperma walaupun sperma secara
struktural juga mengandung mitokondria dalam jumlah kecil, hal ini disebabkan karena
bagian mitokondria sperma tidak masuk ke dalam sel telur sehingga hanya mitokondria ibu
yang secara normal diturunkan pada anaknya.15
Mitokondria DNA bersifat seperti kromosom Y yang tidak mempunyai homolog
pada genom manusia, maka disebut hemizygous hal ini menyebabkan Mitokondria DNA dan
Kromosom Y diturunkan secara spesifik. Jika dari pemeriksaan Mitokondria DNA dapat
mengetahui garis ibu, maka dari pemeriksaan Kromosom Y dapat mengetahui garis ayah pada
anak laki-laki. Perbedaan yang terlihat bahwa Mitokondria DNA adalah marker sitoplasmik
yang diturunkan ibu kepada semua anaknya sedangkan Kromosom Y adalah marker nuklear
yang hanya diturunkan seorang ayah pada anak laki-lakinya.8
CODIS (Combined DNA Index System)
CODIS merupakan analisis DNA yang baru dikembangkan FBI. FBI memilih 13
STR yang digunakan sebagai deretan lokus utama standar dan meningkatkan pengembangan
kemampuan laboraturium untuk melakukan pemeriksaan pada lokus tersebut. Laboratorium
di seluruh dunia menggunakan lokus yang sama. Penggumpulan 13 lokus utama
meningkatkan kemampuan diskriminasi. Kemungkinan ditemukan kecocokan antara dua
orang yang tidak berhubungan berdasarkan random di Caucasian Amerika adalah satu
diantara 575 trilyun. Angka kemungkinan ini lebih kecil dibandingkan UK system. FBI secara
14

aktif dilibatkan dalam pengumpulan data frekuensi populasi pada grup dan subgrup populasi
yang berbeda. Populasi ini kemudian dibagi lagi, misalnya data dari Jepang, Cina, Korea dan
Vietnam. Pada dunia bagian barat terdapat data untuk Bahamian, Jamaica dan Trinidadian.18
FBI menyediakan software sebagai fasilitas pada penggunaan CODIS, termasuk
pelatihan penggunaan sistem serta menyediakan dukungan bagi laboraturium untuk
melakukan analisis DNA. CODIS menggunakan dua indeks atau putunjuk untuk melakukan
pemeriksaan pada kasus kriminal dengan analisis dna. Convicted Offender Index
mengandung profil

narapidana yang melakukan tindakan criminal. The Forensic Index

mengandung profil DNA dari fakta yang didapatkan pada kasus criminal misalnya darah atau
semen. Kedua indeks ini didapatkan dengan komputer.8
Analisis Hasil Tes DNA
Hasil analisis laboratorium atau profil DNA akan terlihat berupa pita-pita DNA yang
terdapat pada gel poliakrilamid. Pita DNA anak kemudian dibandingkan dengan pita DNA
ayah dan ibunya. Pada kasus paternitas metode analisis yang dipergunakan adalah analisis
AmpFLPs yang menggunakan satu lokus. Dapat dilihat bahwa masing-masing orang
memiliki dua pita sebagai representasi dua alel yang menggambarkan DNA pada satu pasang
kromosom. Salah satu pita pada kolom DNA anak sama tinggi dengan salah satu pita ibu
yang menunjukkan alel tersebut berasal dari ibu, artinya pita anak yang kedua berasal dari
pihak ayah terlihat bahwa salah satu pita ayah sama tinggi dengan pita kedua ayah. Kemudian
dilakukan perhitungan statistik sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa pria tersebut
kemungkinan besar adalah ayah dengan kemungkinan sekian persen dibandingkan dengan
orang lain dalam ras yang sama.8

Gambar 1. Perbandingan pola DNA dari dua sampel

15

Gambar 2. Perbandingan profil DNA dari dua individu yang didapatkan
dengan multiple STRs (Short Tandem Repeats). Setiap marker DNA
ditunjukkan oleh hurup A – J.

Kesimpulan
Ilmu kedokteran forensik tidak saja dipergunakan untuk menyelesaikan kasus pada
korban yang telah meninggal tetapi juga kasus-kasus yang melibatkan orang yang masih
hidup. Seperti pada kasus ini yang membutuhkan ilmu kedokteran forensik untuk
menentukan status ayah kandung dari seorang anak. Metode penentuan status keayahan dapat
dilakukan dengan beberapa cara yaitu: menentukan tingkat fertilitas laki-laki yang dituduh
sebagai ayah, mencocokkan waktu konsepsi dan melakukan tes paternitas yang terdiri dari
Sistem sel darah merah (sistem ABO, Rhesus), Sistem biokimia, HLA, dan pemeriksaan
DNA. Semakin banyak tes yang dilakukan semakin akurat hasil yang didapatkan. Pada kasus
perlu dilakukan tes seperti dibahas diatas, jika hasil tes positif maka S adalah ayah kandung
dari anak tersebut.

Daftar Pustaka

16

1.

Prosedur Tetap Forensik Klinik RSUP. Sanglah Denpasar. Instalasi Forensik

Klinik RSUP Sanglah Denpasar. Denpasar, 2006.
2.
Cordner, Stephen D., Plueckhahn Vernon D. Ethics, Legal Medicine and
Forensic Pathology. Melbourne University Press. Australia, 1991
3.
Safitry O. Kompiasi peraturan perundang-undangan terkait praktik
4.

kedokteran. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik FKUI; 2014.
Roberts, JA Fraser., Pembrey, Marcus E. Pengantar Genetika Kedokteran.

Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta, 1995.
5.
Cantor C, Spengler S. Primer on molecular genetiks.[Online]. Diunduh dari
6.

http://www.ornl.gov/hgmis/publicat/primer/toc; pada 07 Januari 2016.
Kolbinsky L, Levine, Margolis-Nuno H. Analysis DNA forensik. New York:

7.

Chelsea House of Publishing Infobase;2007.
Putu H. Pengumpulan dan cara pengiriman bahan pemeriksaan analisa
DNA. Bagian/Instalasi Ilmu Kedokteran Forensik FK UNAIR – RSU dr. Soetomo.
Surabaya.

8.

Norah R,Keith I. Introduction to forensik DNA analysis. 2nd ed. London
New York Washington DC: CRC Press LLC, 2002.

17