BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Kromatografi
Kromatografi merupakan analisa kapiler, mulamula telah dilakukan pemisahan

asamasam amino dan peptidapeptida yang merupakan hasil hidrolisa protein wool
dengan suatu cara dimana kolom yang berisi bubuk diganti dengan lembaran kertas
dan kemudian diletakan dalam bejana tertutup yang berisi uap jenuh larutan.
Kromatografi kertas ini merupakan jenis dari sistem partisi diman fasa tetap adalah
air, disokong oleh molekulmolekul selulose dari kertas, dan fase bergeraknya
merupakan campuran dari satu/lebih pelarutpelarut organik air. Kecepatan aliran naik
dengan penurunan kekentalan dari pelarut (dengan kenaikan suhu) tetapi aliran
pelarut pada suhu tertentu, ditentukan oleh kerapatan dan ketebalan dari kertas.
Penurunan kerapatan/kenaikan tebal memberi kecepatan aliran yang lebih tinggi.
Selain kertas Whatman dalam teknik kromatografi dapat pula digunakan kertas
selulosa murni. Kertas selulosa yang dimodifikasi dan kertas serat kaca. Untuk
memilih kertas, yang menjadi pertimbangan adalah tingkat dan kesempurnaan
pemisahan, difusivitas pembentukan spot, efek tailing, pembentukan komet serta laju
pergerakan pelarut terutama untuk teknik descending dan juga kertas seharusnya
penolak air. Seringkali nilai Rf berbeda dari satu kertas ke kertas lainnya. Pengotor
yang terdapat pada kertas saring adalah ionion Ca2+, Mg2+, Fe3+, Cu2+.
Dalam mengidentifikasi nodanoda dalam kertas sangat lazim menggunakan
harga Rf (retordation factor). Cara paling mudah dalam pengukuran Rf adalah
dengan menggunakan mistar. Namun ada cara lain untuk mengidentifikasi senyawasenyawa yaitu dengan reaksireaksi warna yang karakteristik. Reaksi kebanyakan
sangat berguna dalam pemisahan senyawasenyawa anorganik, tetapi untuk senyawa
organik sangta kecil kejadiannya, karena kebanyakan konstituenkonstituen dari
campuran mempunyai sifatsifat kimia yang mirip (Firdanovianty, 2015).

2.2

Jenis-Jenis Kromatografi

dilarutkan dalam sedikit pelarut lalu di masukan lewat puncak kolom dan dibiarkan mengalir kedalam zat menyerap. antara lain : 1. 2014).Berdasarkan Teknik Kerja yang digunakan. 3. Ketidakrataan akan menyebabkan . 2. Prinsip kerja kromatografi kolom adalah dengan adanya perbedaan daya serap dari masing-masing komponen. Zat yang di serap dari larutan secara sempurna oleh bahan penyerap berupa pita sempit pada kolom. 2010) 2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Harga Rf Faktor-faktor yang mempengaruhi gerakan noda dalam KLT yang juga mempengaruhi nilai Rf : 1. 2. 4. Senyawa yang lebih polar akan terserap lebih kuat sehingga turun lebih lambat dari senyawa non polar terserap lebih lemah dan turun lebih cepat. Kromatografi Kertas Kromatografi kertas adalah kromatografi yang menggunakan kertas selulosa murni yang mempunyai afinitas besar terhadap air atau pelarut polar lainnya..dkk. Sifat dari penjerap dan derajat aktifitasnya. Kromatografi Gas Kromatografi gas adalah proses pemisahan campuran menjadi komponenkomponennya dengan menggunakan gas sebagai fase bergerak yang melewati suatu lapisan serapan (sorben) yang diam (Sabban. Struktur kimia dari senyawa yang sedang dipisahkan.3 Prinsip Kromatografi Kertas Proses pemisahan menggunakan kromatografi kertas prinsipnya sama dengan cara kerja kromatografi kolom. Tebal dan kerataan dari lapisan penjerap. 2. Kromatografi Kolom Kromatografi kolom adalah kromatografi yang menggunakan kolom sebagai alat untuk memisahkan komponen-komponen dalam campuran. Kromatografi Lapis Tipis Kromatografi lapis tipis (KLT) adalah cara pemisahan campuran senyawa menjadi senyawa murninya dan mengetahui kuantitasnya yang digunakan. Pelarut lebih lanjut / dengan tanpa tekanan udara masin-masing zat akan bergerak turun dengan kecepatan khusus sehingga terjadi pemisahan dalam kolom (Mandia. campuran yang akan diuji. Kromatografi lapis tipis dapat digunaka untuk memisahkan senyawa – senyawa yang sifatnya hidrofobik seperti lipida – lipida dan hidrokarbon yang sukar dikerjakan dengan kromatografi kertas.Kromatografi kertas digunakan untuk memisahkan campuran dari substansinya menjadi komponen-komponennya. 3.

4. Dalam hal metode aliran penaikan. 9. karena suhu berkaitan dengan perubahan pada komponen pelarut. Suhu. Teknik percobaan. . tekstur dan nilai gizinya. warna. 2014) 2. 7.aliran pelarut menjadi tidak rata pula pada daerah yang kecil dari plat. (Widiyarini. Pemisahan-pemisahan sebaiknya dikerjakan pada suhu yang tetap. Derajat kejenuhan dari uap dalam bejana pengembangan yang digunakan. Kesetimbangan. Pelarut (dan derajat kemurniannya) fase gerak. Kesetimbangan tekanan atmosfer dalam bejana yang tidak jenuh dengan uap pelarut akan terjadi pengembangan dengan permukaan cekung dimana fase gerak akan bergerak lebih cepat pada bagian tepi daripada bagian tengah. Jumlah cuplikan yang digunakan.5 Aplikasi Kromatografi Kertas “Identifikasi Zat Warna Sintesis pada Agar Agar Tidak Bermerk Yang Dijual di Pasar Doro Pekalongan Dengan Metode Kromatografi Kertas” Penentuan mutu bahan makanan pada urnunmya sangat bergantung pada beberapa faktor diantaranya cita rasa. 8. 5. 6. Faktor wama tampil lebih dahulu dan kadang-kadang sangat rnenentukan mutu dari makanan.

2006) Adapun flowchart dari percobaan “Identifikasi Zat Warna Sintesis Pada Agar.Selain sebagai faktor yang ikut menentukan mutu. kemudian direndam hingga 24 jam Bulu domba dikeringkan dan dijenuhkan dengan ester Sampel yang sudah disiapkan dipanaskan hingga zat warnanya diserap oleh bulu domba .Agar Tidak Bermerk yang Dijual di Pasar Oro Pekalongan dengan Metode Kromatografi Kertas” adalah sebagai berikut : Mulai Sejumlah 3 buah agar agar dimasukkan dalam becker glass dan diasamkan dengan CH3COOH 6% dengan pH 4. apakah layak dikonsumsi dan tidak mengganggu kesehatan dan bagi produsen diharapkan menggunakan bahan pewarna sintetis yang diizinkan oleh Permenkes RI No. Bulu domba dicuci dan dikeringkan. 722l Menkes/Per/DV 1 988 (Triwahyuni M dan Susilowati. warna juga dapat digunakan sebagai indikator kesegaran atau kematangan. Baik tidaknya cara pencampuran atau cara pengolahan dapat ditandai dengan adanya warna yang seragam dan merata. Manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan bisa menambah pengetahuan bagi peneliti dan juga dapat menginformasikan kepada masyarakat mengenai jenis pewarna sintetis yang ditambahkan pada makanan agar-agar.

2 Selesai Gambar 2.1 Flowchart percobaan “Identifikasi Zat Warna Sintesis Pada Agar Agar Tidak Bermerk yang Dijual di Pasar Oro Pekalongan dengan Metode Kromatografi Kertas” (Triwahyuni M dan Susilowati. 2006) . penotolan contoh 2 an dari tepi bawah kertas kromatografi. (2) Harga Rf antara sampel dengan baku sama atau dengan selisih harga ≤ 0.Benang wool diambil dan dimasukkan ke dalam cawan porselen dan dicuci dengan air Ditambahkan Ammonium Hidroksida 12.5% dan dipanaskan hingga warna luntur Benang wool diambil dan lunturan dipekatkan Hasil pekatan ditotolkan pada kertas kromatografi dan ditotolkan juga baku pewarna yang sesuai dengan warna sampel Dieluasikan dengan jarak rambat elusi 12 cm. A A Diencerkan 5 ml Ammonium pekat dengan aquadest hingga 100 ml dan ditambahkan 3 ml Trinatrium Citrat Hasil dinyatakan positif apabila : (1) Warna bercak antara sampel dan baku sama.