You are on page 1of 22

SKENARIO

“Pulang Konser Bon Jovi, Wajah Merot”
Seorang mahasiswa, 20 tahun meneluh rasa kebas pada pipi dan telinga
kanan. Semalam sebelum keluhannya muncul, pasien mengatakan pulang larut
malam mengendarai motor selepas menonton konser Bon Jovi. Kemudian tidur di
lantai memakai kipas angin yang menyentor terus menerus ke wajah pasien.
Bangun tidur, saat pasien melihat di cermin, wajah tidak simetris (merot) ke kiri
ketika tersenyum. Pasien juga mengeluh kelopak mata kanan tidak bisa menutup,
mata kanannya nrocos. Pasien juga mengeluh sulit saat berkumur dan minum
dengan sedotan. Bicara normal seperti biasa tidak pelo.

STEP 1: KLARIFIKASI ISTILAH
1. Kebas : Rasa abnormal yang tidak sewajarnya, disebabkan oleh iritasi
pada saraf.[1]
2. Merot : Ketidak simetrisan wajah yang diakibatkan oleh kelemahan otot.
[1]

3. Pelo

: Kesulitan dalam berbicara, yang mengakibatkan tidak jelas

pengucapannya.[1]
4. Nrocos : Keluarnya air mata secara terus menerus dan berlebihan karena
penutupan

palpebra yang tidak sempurna (lagoftalmus).[1]

STEP 2: MENETAPKAN MASALAH
1. Bagaimana patomekanisme dari: wajah merot, kebas pipi dan telinga, mata
kesulitan menutup dan nerocos, dan sulit berkumur?
2. Apa hubungan kronologi yang disampaikan pasien dengan keluhan dan
apa sajakah faktor pencetus?
3. Mengapa tidak ditemukan adanya pelo?
4. Apa saja diagnosis banding dari kasus di atas?

STEP 3: ANALISIS MASALAH

1

1. Patomekanisme
a. Wajah Merot, Kebas Pipi dan Telinga
Hal yang terjadi pada pasien dikarenakan adanya lesi pada N.
[VII]. Secara anatomi, N. [VII] dibagi menjadi serabut parasimpatis,
sensorik, dan motorik. N. Facialis cabang dari N. [VII] mempersarafi
serabut motorik, dimana N. Facialis akan mempersarafi otot wajah.
Sedangkan N. Intermedius mempersarafi serabut sensorik dan
parasimpatis, dimana fungsi parasimpatisnya yaitu mengatur kerja dari
glandula lacrimalis dan glandula salivatorius, sedangkan untuk
sensoriknya mempersarafi dari 2/3 anterior lidah untuk indra
pengecapan rasa manis, asin, dan asam.[2], [3]
Kedua radix N. Facialis muncul dari permukaan anterior otak
antara pons dan medulla oblongata. Radix tersebut berjalan ke lateral
di dalam fossa crani posterior bersama N. [VIII], kemudian masuk ke
meatus acusticus internus di pars petrosa ossis temporalis. Di bawah
meatus, nervus memasuki canalis facialis dan berjalan ke lateral
melalui telinga dalam. Ketika mencapai dinding medial cavum
tympani, nervus melebar membentuk Ganglion Geniculatum dan
membelok tajam kea rah belakang di atas promontorium. Di dinding
posterior cavum tympani, nervus facialis membelok ke bawah pada sisi
medial aditus antrum mastoid, turun di belakang pyramis, dan keluar
dari foramen stylomastoid.[2]
Jika terjadi lesi di sekitar persarafan N.[VII], maka dilihat
secara anatomi dimana letak lesinya. Lokasi lesi akan menunjukkan
fenomena yang terlihat pada wajah pasien seperti muka merot, kebas
pipi dan telinga. Kemungkinan lokasi lesi tersebut berada antara
ganglion geniculatum hingga foramen stylomastoid. Bila lesi berada
foramen stylomastoid, akan menyebabkan rasa nyeri yang menjalar ke
sudut mulut, sehingga mulut nantinya akan tertarik ke arah yang sehat.
Karena itulah mengapa wajah pasien merot. Selain itu rasa kebas pada
pipi dan telinga juga diakibatkan lesi pada foramen stylomastoid,

2

Dari kronologi tersebut dapat kita duga pasien mengalami Bell’s palsy.[4] 3 .[2].dimana cabang saraf yang keluar dari foramen stylomastoid akan mempersarafi otot-otot sekitar pipi dan telinga. Nerocos. kelembaban.[2]. Lesi di kanalis fasialis (di atas persimpangan dengan korda timpani tetapi di bawah ganglion genikulatum) akan menunjuk semua gejala seperti lesi di foramen stylomastoid ditambah pengecapan menghilang pada dua per tiga anterior lidah pada sisi yang sama. [3]. Karena meskipun secara umum penyebab Bell’s palsy yaitu idiopatik tetapi ada beberapa penelitian menyatakan bahwa Bell’s palsy dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti iklim atau faktor meteorologi seperti suhu. dan tekanan barometrik. kedua mata melakukan rotasi ke atas (Bell’s phenomenon). Bila lesi terdapat di saraf yang menuju ke muskulus stapedius dapat terjadi hiperakusis (sensitivitas nyeri terhadap suara keras).[2]. [4] Manifestasi komplit lainnya ditunjukkan dengan makanan yang tersimpan antara gigi dan pipi akibat gangguan gerakan wajah dan air liur keluar dari sudut mulut dan keluarnya air saat berkumur atau mengakibatkan sulit berkumur. Saat menutup kelopak mata. kemudian tidur dilantai memakai kipas angin yang menyetor terus menerus ke wajah pasien. Bangun tidur wajah pasien menjadi merot. dapat terjadi gangguan komplit yang menyebabkan paralisis semua otot ekspresi wajah. lesi pada ganglion genikulatum akan menimbulkan lakrimasi dan berkurangnya salivasi serta dapat melibatkan saraf kedelapan. dan Sulit Berkumur Bila lesi di foramen stylomastoid. Selain itu. Mata Kesulitan Menutup. Dalam kasus pasien menceritakan bahwa ia pulang larut malam mengendarai motor selepas menonton konser. [3] b. [4] 2. [3]. Hubungan kronologi yang disampaikan pasien dengan keluhan yang dialami pasien dan faktor pencetusnya. Selain itu. mata dapat terasa berair karena aliran air mata ke sakus lakrimalis yang dibantu muskulus orbikularis okuli terganggu.

[2]. yang mensarafi otot-otot wajah (kecuali m.[3] 4. data eksperimental yang paling mendukung dalam patofisiologi penyakit Bell’s palsy adalah “ hipotesis suhu rendah”. rasa nyeri dan mungkin juga rasa suhu dan rasa raba dari sebagian daerah kulit dan mukosa yang dipersarafi oleh nervus trigeminus. 3) Serabut visero-sensorik. Serabut saraf ini mengurus glandula dan mukosa faring. Saraf otak ke VII mengandung 4 macam serabut. yaitu : 1) Serabut somato motorik. stilohioid.VII). sinus paranasal. dan glandula submaksilaris serta sublingual dan lakrimalis. yang menghantar impuls dari alat pengecap di dua pertiga bagian depan lidah. [5] Pencetus Bell’s palsy 1) 2) 3) 4) 5) Diabetes mellitus ( DM ) Kehamilan dan menyusui Pajanan udara dingin ( refrigerator facial palsy ) Hipotiroidisme Hipertensi 3. palatum. Selain itu reaktivasi HSV yang merupakan salah satu teori terjadinya Bell’s palsy juga berhubungan dengan perbedaan iklim antar negara dan polusi dari atmosfer. levator palpebrae (nervus III). Diagnosis Sementara dan Diagnosis Banding kasus 4 . (parasimpatis) yang datang dari nukleus salivatorius superior. Pada kasus kemungkinan serabut somato-sensorik tidak terkena jadi mengapa pasien tidak mengalami pelo. 4) Serabut somato-sensorik. otot platisma. Suhu dingin di salah satu bagian wajah dapat menyebabkan iritasi nervus fasialis (N. [3] b. digastrikus bagian posterior dan stapedius di telinga tengah).Dapat kita hubungkan kronologi dengan keluhan pasien dimana bahwa kita tahu pada malam hari. Karena pelo merupakan gejala khas pada stroke. rongga hidung. Tidak ditemukan adanya pelo a. 2) Serabut visero-motorik. Untuk menghindari DD stroke.[4]. tidur dilantai serta menggunankan kipas angin terus menerus suhu nya dingin dan pasien merasakan wajah dingin.

Bell’ s palsy adalah paralisis wajah unilateral yang timbul mendadak akibat lesi nervus fasialis. seperti di negara-negara bagian utara dan timur Amerika Serikat. penyakit telinga tengah yang aktif atau suatu massa di kelenjar parotid. Otitis media 5 . d. Gangguan ini juga dikenali dengan baik di Eropa dan Australia. di pertengahan barat (Minnesota dan Wisconsin). tumor saliva). adanya ruam-ruam di kulit dan arthralgia. Penyakit ini endemis di daerah tertentu.Istilah Bell’ s palsy biasanya digunakan untuk kelumpuhan nervus VII jenis perifer yang timbul secara akut. dan berprogresif secara lambat dalam beberapa minggu atau bulan dan gejala sering bertahan tanpa ada penyembuhan. dan mengakibakan distorsi wajah yang khas. Penyakit ini juga memiliki gejala lainnya yang membedakannya dari Bell’s palsy. Lesi struktural di dalam telinga atau kelenjar parotid (seperti cholesteatoma. Lyme disease Pasien dengan Lyme disease juga memiliki riwayat terpapar dengan kutu. atau di Califomia atau Oregon selama musim panas dan bulan-bulan pertama musim gugur. b. Penyakit-penyakit tersebut adalah: a. Guillain Barre Syndrome (GBS) Guillain Barre Syndrome merupakan suatu poliradikuloneuropati inflamasi yang bersifat akut. Klinis lainnya adalah kelumpuhan pada saraf motorik ekstremitas. Saraf fasialis yang sering terlibat adalah bilateral. c. Refleks tendon negatif pada daerah yang terlibat. Gangguan berupa paralisis fasialis bilateral dapat dijumpai pada ± 50% kasus GBS. Terlibatnya hanya satu atau dua cabang distal dari saraf fasialis juga menduga tumor. Pasien dengan tumor memiliki perjalanan penyakit yang panjang. Beberapa penyakit juga memiliki gejala paralisis fasialis yang identik dengan Bell’s palsy.Dengan kata lain Bell ‘ s palsy merupakan suatu kelainan pada saraf wajah yang menyebabkan kelemahan atau kelumpuhan tiba – tiba pada otot di satu sisi wajah. Di daerah-daerah ini merupakan lokasi geografis dimana vektor kutu ditemukan. dan pernafasan.

[7]. [8] STEP 4: SKEMA 6 . dan manifestasi biasanya terjadi secara berurutan dan jarang terjadi secara bersamaan. sedangkan yang lainnya masing-masing terjadi pada setengah pasien. f. atau gangguan pendengaran atau keseimbangan. Edema orofasial merupakan gambaran yang selalu dijumpai pada pasien MRS. Ramsay Hunt Syndrome (komplikasi herpes zoster) Pasien dengan Ramsay Hunt Syndrome memiliki suatu prodromal nyeri dan sering berkembang erupsi vesikel pada kanal telinga dan faring.Otitis media memiliki onset yang lebih bertahap. Melkerson Rosenthal Syndrome (MRS) Melkerson Rosenthal Syndrome merupakan suatu trias dari gejala edema orofasial berulang. dengan klinis berupa paralisis fasialis. Diagnosis dibuat berdasarkan temuan klinis beserta dengan biopsi jaringan yang terlibat oleh sarcoid. paralisis fasialis berulang. Sarcoidosis Pasien dengan sarcoidosis memiliki gejala paralisis fasialis bilateral dan uveitis. Penyakit ini disebabkaan oleh virus herpes zoster. Trias lengkap ini hanya dijumpai pada seperempat kasus. dan lingua plicata (fissured tongue). Penyakit ini umumnya dimulai pada dekade kedua. g.[6]. Sarcoidosis merupakan penyakit granulomatosa dari asal yang tidak ditentukan yang melibatkan banyak sistem organ. e. dengan disertai nyeri telinga dan demam.

Anatomi dan Fisiologi N. Bell’s Palsy a. Penatalaksanaan f. Etiologi b. Diagnosis e. Komplikasi g. Manifestasi Klinis d. M g f is lm k p o P t ik M n e a F te A o e a k s A o L & n ld R is C rP S o iB a I e Y F g D a N m n & A rn N iK n e s a itL e lk d u a E frI u t ig r y n d S a re o n a u r o ir o lg H k [ n k s g u a V iR n s I e s a it Is ]i k o STEP 5: SASARAN BELAJAR 1. Prognosis STEP 6: BELAJAR MANDIRI 7 .k U S L B A E M P D O T S p tp ru e o E n ia t r y e o S rp m a s w L f t ia n m I o u e L io e t g d a p k 'rm o f g in e r lt N e a T S e s m o ia . Patofisiologi c. Facialis (VII) 2.

dan glandula submaksilaris serta sublingual dan lakrimalis. [3] 8 . digastrikus bagian posterior dan stapedius di telinga tengah). Nukleus motorik mempersarafi otot-otot ekspresi wajah. levator palpebrae (nervus III). Anatomi dan Fisiologi N. yaitu : a. [3] Saraf otak ke VII mengandung 4 macam serabut. d. Facialis (VII) Nervus facialis mempunyai radiks motorik dan sensorik. posterior Sedangkan musculus nukleus digastricus sensoris dan (nervus musculus intermedius) menerima serabut-serabut pengecap dari 2/3 anterior lidah. Berikut adalah bagan perjalanan nervus facialis. sinus paranasal. rongga hidung. Serabut somato motorik Serabut somato motorik yang mensarafi otot-otot wajah (kecuali m. venter stylohyoideus.STEP 7: HASIL BELAJAR MANDIRI 1. Serabut visero-sensorik Serabut visero-sensorik yang menghantar impuls dari alat pengecap di dua pertiga bagian depan lidah. c. otot platisma. Serabut saraf ini mengurus glandula dan mukosa faring. b. musculus auricularis.[2]. Serabut somato-sensorik Serabut somato-sensorik rasa nyeri (dan mungkin juga rasa suhu dan rasa raba) dari sebagian daerah kulit dan mukosa yang dipersarafi oleh nervus trigeminus. dasar mulut dan palatum. Serabut visero-motorik (parasimpatis) Serabut visero-motorik yang datang dari nukleus salivatorius superior. stilohioid. palatum.[2]. stapedius.

9 .

pemeriksaan neurologik. sejak itu semua kelumpuhan n.[9] Pengamatan klinik. Bell’s Palsy a. Sir Charles Bell (1821) adalah orang yang pertama meneliti beberapa penderita dengan wajah asimetrik. fasialis perifer yang tidak diketahui sebabnya disebut Bell's palsy. Etiologi 10 . Definisi Bell's palsy (BP) ialah suatu kelumpuhan akut n. Penyakit ini lebih sering ditemukan pada usia dewasa. Biasanya didahului oleh infeksi saluran napas bagian atas yang erat hubungannya dengan cuaca dingin. laboratorium dan patologi anatomi menunjukkan bahwa BP bukan penyakit tersendiri tetapi berhubungan erat dengan banyak faktor dan sering merupakan gejala penyakit lain.2. fasialis perifer yang tidak diketahui sebabnya. jarang pada anak di bawah umur 2 tahun.[9] b.

dll). radang. dll) c) Proses di leher yang menekan daerah prosesus stilomastoideus) d) Infeksi tempat lain (otitis media. tidur di tempat terbuka. herpes zoster.[9] 2) Kongenital a) Anomali kongenital (sindroma Moebius) b) Ttrauma lahir (fraktur tengkorak. fasialis perifer. hiperkolesterolemi. perdarahan intrakranial. Teori ini merupakan latar belakang untuk dekompresi bedah 11 . antara lain iskemik vaskular. menyebabkan edema dan penjepitan saraf fasialis selama perjalanannya didalam kanal tulang temporal dan menghasilkan kompresi dan kerusakan langsung atau iskemia sekunder terhadap saraf.[9] Secara klinis.[9] Beberapa mekanisme termasuk iskemia primer atau inflamasi saraf fasialis. Umumnya dapat dikelompokkan sebagai berikut: 1) Idiopatik Sampai sekarang belum diketahui secara pasti penyebabnya yang disebut Bell’s palsy. hipertensi. fasialis familial. dan penyebab proses inflamasi masih tidak jelas. stres. Bell’s palsy telah didefinisikan idiopatik.Penyebab adalah kelumpuhan n. [9] 3) Didapat a) Trauma Penyakit tulang tengkorak (osteomielitis) b) Proses intrakranial (tumor. penyakit vaskuler. Beberapa teori telah diduga sebagai penyebab dari Bell’s palsy. tidur di lantai. dll) e) Sindroma paralisis n. gangguan imunologik dan faktor genetic. Faktor-faktor yang diduga berperan menyebabkan Bell’s palsy antara lain : sesudah bepergian jauh dengan kendaraan. diabetes mellitus. infeksi dan herediter telah diduga menjadi penyebab. perdarahan. imunologi.

Kebanyakan kasus yang dijumpai adalah autosomal dominant inheritance. Begitu juga Hughes dkk. Namun demikian dalam jarak waktu satu minggu atau lebih dapat terjadi paralysis bilateral. Karena tidak efektifnya antivirus dalam mengobati pasien Bell’s palsy sehingga perlu dipertimbangkan adanya penyebab Bell’s palsy yang lainAdanya peran genetik juga telah dikemukakan sebagai penyebab Bell’s palsy. Patofisiologi Para ahli menyebutkan bahwa pada Bell’s palsy terjadi proses inflamasi akut pada nervus fasialis di daerah tulang temporal. di sekitar foramen stilomastoideus. tetapi salah satu teori 12 . yang kemungkinan terjadi pada seluruh perjalanan saraf dan bukan oleh kompresi pada kanal tulang. menemukan transformasi limfosit pada pasien Bell’s palsy dan menduga bahwa beberapa penyebab Bell’s palsy merupakan hasil dari cell mediated immunity melawan antigen saraf perifer.[9] c. terutama kasus Bell’s palsy yang rekuren ipsilateral atau kontralateral. Suatu penelitian systematic review berdasarkan Cochrane database. Govern dkk. Patofisiologinya belum jelas.[9] Mekanisme lainnya adalah infeksi virus. yang dilakukan terhadap beberapa penelitian randomized yang berkualitas tinggi telah menyimpulkan bahwa antivirus tidak lebih efektif daripada plasebo dalam menghasilkan penyembuhan lengkap pada pasien Bell’s palsy. Suatu hipotesa imunologis telah diperkenalkan oleh Mc. yang memiliki hubungan objektif yang kuat dengan berbagai penyakit autoimun. Hasil ini mendukung penelitian selanjutnya dengan steroid dan imunoterapi lainnya. dan kebanyakan terpusat pada sistem Human leucocyte antigen (HLA). Penyakit ini dapat berulang atau kambuh. Bell’s palsy hampir selalu terjadi secara unilateral. Sejumlah penelitian telah berusaha rnemberikan temuan objektif tentang dasar genetik dari BeII’s palsy.pada pengobatan Bell’s palsy. yang secara langsung merusak fungsi saraf melalui mekanisme inflamasi. berdasarkan penelitian eksperimental pada hewan.

Lesi supranuklear bisa terletak di daerah wajah korteks motorik primer atau di jaras kortikobulbar ataupun di lintasan asosiasi yang berhubungan dengan daerah somatotropik wajah di korteks motorik primer. Karena itu nervus fasialis bisa sembab. AC. di foramen stilomastoideus dan pada cabang-cabang tepi nervus fasialis.menyebutkan terjadinya proses inflamasi pada nervus fasialis yang menyebabkan peningkatan diameter nervus fasialis sehingga terjadi kompresi dari saraf tersebut pada saat melalui tulang temporal. Pada lesi LMN bisa terletak di pons. Terutama virus herpes zoster karena virus ini menyebar ke saraf melalui sel satelit. di os petrosum atau kavum timpani. Karena adanya suatu proses yang dikenal awam sebagai “masuk angin” atau dalam bahasa inggris “cold”. Impuls motorik yang dihantarkan oleh nervus fasialis bisa mendapat gangguan di lintasan supranuklear dan infranuklear. Pada radang 13 . atau mengemudi dengan kaca jendela yang terbuka diduga sebagai salah satu penyebab terjadinya Bell’s palsy. Paparan udara dingin seperti angin kencang. adanya inflamasi. Berdasarkan beberapa penelitian bahwa penyebab utama Bell’s palsy adalah reaktivasi virus herpes (HSV tipe 1 dan virus herpes zoster) yang menyerang saraf kranialis. paralisis nervus fasialis LMN akan timbul bergandengan dengan tuli perseptif ipsilateral dan ageusia (tidak bisa mengecap dengan 2/3 bagian depan lidah). Karena itu paralisis fasialis LMN tersebut akan disertai kelumpuhan muskulus rektus lateralis atau gerakan melirik ke arah lesi.[9] Perjalanan nervus fasialis keluar dari tulang temporal melalui kanalis fasialis yang mempunyai bentuk seperti corong yang menyempit pada pintu keluar sebagai foramen mental. demyelinisasi atau iskemik dapat menyebabkan gangguan dari konduksi. Lesi di pons yang terletak di daerah sekitar inti nervus abdusens dan fasikulus longitudinalis medialis. di sudut serebelo-pontin. Selain itu. Dengan bentukan kanalis yang unik tersebut. ia terjepit di dalam foramen stilomastoideus dan menimbulkan kelumpuhan fasialis LMN.

makanan berkumpul di antar pipi dan gusi. Pada anak 73% didahului infeksi saluran napas bagian atas yang erat hubungannya dengan cuaca dingin.herpes zoster di ganglion genikulatum. Gejala Klinis Manifestasi klinik BP khas dengan memperhatikan riwayat penyakit dan gejala kelumpuhan yang timbul. lipat nasolabialis mendatar pada sisi yang lumpuh dan mencong ke sisi yang sehat. pegal. fisura palpebra tidak dapat ditutup dan pada usaha untuk memejam mata terlihatlah bola mata yang berbalik ke atas. ditambah dengan hilangnya ketajaman pengecapan lidah (2/3 bagian depan) dan salivasi di sisi 14 . Apabila mata yang terkena tidak tertutup atau tidak dilindungi maka air mata akan keluar terus menerus. linu dan rasa tidak enak pada telinga atau sekitarnya sering merupakan gejala awal yang segera diikuti oleh gejala kelumpuhan otot wajah berupa : 1) Kelopak mata tidak dapat menutupi bola mata pada sisi yang lumpuh (lagophthalmos). fenomena ini disebut Bell's sign. 3) Sudut mulut tidak dapat diangkat. Karena lagophtalmos. dan sensasi dalam (deep sensation) di wajah menghilang.[9] Selanjutnya gejala dan tanda klinik lainnya berhubungan dengan tempat/lokasi lesi : 1) Lesi di luar foramen stilomastoideus. disertai bola mata berputar ke atas bila memejamkan mata. nervus fasialis bisa ikut terlibat sehingga menimbulkan kelumpuhan fasialis LMN. Mulut tertarik ke arah sisi mulut yang sehat. maka air mata tidak bisa disalurkan secara wajar sehingga tertimbun disitu. 2) Lesi di kanalis fasialis (melibatkan korda timpani). 2) Gerakan bola mata pada sisi yang lumpuh lambat. [9] d. lipatan kulit dahi menghilang.[8]. Bibir tidak bisa dicucukan dan platisma tidak bisa digerakkan. Sudut mulut tidak bisa diangkat. Kelumpuhan pada Bell’s palsy akan terjadi bagian atas dan bawah dari otot wajah seluruhnya lumpuh. Gejala dan tanda klinik seperti pada (1)). Dahi tidak dapat dikerutkan. Perasaan nyeri.

(4)). (3)) disertai dengan nyeri di belakang dan di dalam liang telinga. (2)). sekaligus menunjukkan lesi di daerah antara pons dan titik di mana korda timpani bergabung dengan nervus fasialis di kanalis fasialis. [10] 2) Pemeriksaan Fisik Gerakan volunter yang diperiksa. Gejala dan tanda klinik seperti (1)). herpes. dianjurkan minimal : a) Mengerutkan dahi 15 . 5) Lesi di daerah meatus akustikus interna.[6]. Lesi herpetik terlibat di membran timpani. dan lain-lain. (2)). dan riwayat penyakit yang pernah dialami oleh penderita seperti infeksi saluran pernafasan. riwayat pekerjaan dan adakah aktivitas yang dilakukan pada malam hari di ruangan terbuka atau di luar ruangan. Hilangnya daya pengecapan pada lidah menunjukkan terlibatnya nervus intermedius. 3) Lesi di kanalis fasialis lebih tinggi lagi (melibatkan muskulus stapedius). ditambah dengan adanya hiperakusis. 4) Lesi di tempat yang lebih tinggi lagi (melibatkan ganglion genikulatum). ada tidaknya nyeri. gangguan atau kehilangan pengecapan. Gejala dan tanda klinik seperti pada (1)). rasa nyeri. Gejala dan tanda klinik seperti (1)). otitis. dan gejala lain yang menyertai penting ditanyakan untuk membedakannya dengan penyakit lain yang menyerupai. ditambah dengan tuli sebagi akibat dari terlibatnya nervus akustikus. durasi. Kasus seperti ini dapat terjadi pasca herpes di membran timpani dan konka.[6]. (2)). Diagnosa 1) Anamnesa Anamnesis yang lengkap mengenai onset. dan perjalanan penyakit. (3)). mencapai paralisis maksimal dalam 3 minggu atau kurang.yang terkena berkurang. Pada Bell’s palsy kelumpuhan yang terjadi sering unilateral pada satu sisi wajah dengan onset mendadak (akut) dalam 1-2 hari dan dengan perjalanan penyakit yang progresif. [9] e. kanalis auditorius eksterna dan pina. Ramsay Hunt adalah paralisis fasialis perifer yang berhubungan dengan herpes zoster di ganglion genikulatum.

Hal ini dikarenakan: - Anatomi saraf fasialis dan percabangannya yang cukup bervariasi. - Teknik yang digunakan untuk mengukur fungsi saraf fasialis tidak sepenuhnya dapat dipercaya. aliran saliva.b) c) d) e) f) Memejamkan mata Mengembangkan cuping hidung Tersenyum Bersiul Mengencangkan kedua bibir. - Lesi yang bertanggung jawab terhadap paralisis. sehingga jarang digunakan dalam praktek klinis. sekurang-kurangnya kelumpuhan ekstremitas pada sisi yang kontralateral.[10] Tes topognostik (fungsi kelenjar lakrimal. hanyaperbedaannya dari lesi perifer tidak dijumpainya paralisis dahi pada sisi yang terlibat dan dapat menutup mata dengan baik (lagophtalmus tidak dijumpai) dan disertai dengan defisit neurologis lainnya. mungkin tidak secara tajam terletak pada level tertentu. telah diteliti tidak memiliki manfaat sebagai tes diagnostik dan prognostik pada pasien dengan paralisis fasialis.komponen yang bervariasi dapat terjadi pada waktu yang berbeda. dan pengecapan) selain refleks stapedial.beda.[10] Dari hasil pemeriksaan neurologi. mengizinkan untuk terbentuknya suatu jalur alternatif bagi akson. karena suatu lesi dapat mempengaruhi komponen yang berbeda dari saraf pada tingkat yang beragam dan dengan derajat keparahan yang berbedabeda.[10] 16 . didapatkan gangguan fungsi saraf fasialis perifer yang difus tanpa ada neuropati lainnya. Lesi SSP (supranuklear) juga dapat menyebabkan paralisis saraf fasialis. - Penyembuhan dan kornponen.akson untuk mencapai terminalnya.

seperti: 1) Imaging: Computed tomography (CT) atau Magnetic Resonance lmaging (MRI) diindikasikan jika tanda fisiknya tidak khas. pemeriksaan lanjutan berikut dapat dianjurkan. Dasar dari pengobatan ini adalah untuk menurunkan kemungkinan terjadinya kelumpuhan yang sifatnya permanen 17 .kelainan tersebut. 2) Tes pendengaran: jika diduga adanya kehilangan pendengaran. dimana pemberiannya dimulai pada hari kelima setelah onset penyakit. Tatalaksana 1) Istirahat terutama pada keadaan akut.tanda keterlibatan sistemik tanpa perbaikan lebih dari empat minggu. Adanya riwayat suatu kedutan pada wajah atau spasme yang mendahului kelumpuhan wajah diduga karena iritasi tumor harus dilakukan juga imaging.[9] 2) Medikamentosa a) Pemberian kortikosteroid (perdnison dengan dosis 40-60 mg/hari per oral atau 1 mg/kgBB/hari selama 3 hari.[10] g. Bila ditemukan adanya otitis rnedia yang aktif dan massa di kelenjar parotid. Namun. adanya kehilangan perdengaran. bila dijumpai indikasi tertentu. gunanya untuk meningkatkan peluang kesembuhan pasien. tidak ada perbaikan paralisis fasial setelah 1 bulan.Pemeriksaan telinga perlu dilakukan untuk menyingkirkan penyakit lain yang mungkin bisa menyebabkan paralisis fasialis. tes audiologi dapat dilakukan untuk menyingkirkan neuroma akustikus. Pemeriksaan Penunjang Umumnya pasien Bell’s palsy tidak membutuhkan pemeriksaan penunjang. dan bukan suatu Bell’s palsy. kemungkinan paralisis fasialis dihubungkan dengan kelainan.[10] f. 3) Tes laboratorium perlu jika pasien memiliki tanda. defisit saraf kranial multipel dan tanda. diturunkan perlahan-lahan selama 7 hari kemudian).tanda paralisis anggota gerak atau gangguan sensorik.

Ini timbul beberapa bulan setelah terjadi paresis dan terjadinya akibat dari regenerasi yang salah dari 18 . [9] 3) Fisioterapi Sering dikerjakan bersama-sama pemberian prednison.[5] h. [9] 4) Pembedahan / Operasi Tindakan operatif umumnya tidak dianjurkan pada anakanak karena dapat menimbulkan komplikasi lokal maupun intracranial. b) Penggunaan obat-obat antivirus. Acyclovir (400 mg selama 10 hari) dapat digunakan dalam penatalaksanaan Bell’s palsy yang dikombinasikan dengan prednison atau dapat juga diberikan sebagai dosis tunggal untuk penderita yang tidak dapat mengkonsumsi prednison.[5]. Kacamata atau tameng pelindung mata dari trauma dan menurunkan pengeringan dengan menurunkan paparan udara langsung terhadap kornea. Satu kerugiannya adalah - pandangan kabur. c) Perawatan mata: . Komplikasi 1) Crocodile tear phenomenon.[5]. Tindakan operatif dilakukan apabila : a) tidak terdapat penyembuhan spontan b) tidak terdapat perbaikan dengan pengobatan prednison. Pelumas digunakan saat tidur: Dapat digunakan selama masa sadar jika air mata buatan tidak mampu menyedikan perlindungan yang adekuat. Yaitu keluarnya air mata pada saat penderita makan makanan.Penggunaan Acyclovir akan berguna jika diberikan pada 3 hari pertama dari onset penyakit untuk mencegah replikasi virus.Air mata buatan: digunakan selama masa sadar untuk - menggantikan lakrimasi yang hilang. dapat dianjurkan pada stadium akut.yang disebabkan oleh pembengkakan nervus fasialis di dalam kanal fasialis yang sempit. Cara yang sering digunakan yaitu : mengurut/massage otot wajah selama 5 menit pagi-sore atau dengan faradisasi. Tujuan fisioterapi untuk mempertahankan tonus otot yang lumpuh.

Komplikasi ini terjadi bila penyembuhan tidak sempurna.kontraksi platisma. mata mengecil. biasanya ringan. maka akan timbul gerakan (involunter) elevasi sudut mulut. Timbul “kedutan” pada wajah (otot wajah bergerak secara spontan dan tidak terkendali) dan juga spasme otot wajah. Kondisi ini bisa terjadi jika kerusakan saraf tidak bisa kembali pulih dengan baik. Pada stadium awal hanya mengenai satu sisi wajah saja. dan garis antara hidung dan mulut bertambah dalam sebagai akibat dari kontraktur otot-otot wajah. serabut saraf yang mengalami regenerasi bersambung dengan serabut-serabut otot yang salah. [11] 4) Gangguan bicara. Dalam hal ini otot-otot tidak dapat digerakkan satu per satu atau tersendiri. Kondisi ini bisa menyebabkan kebutaan dan infeksi mata. tetapi kemudian dapat mengenai pada sisi lainnya. atau berkerutnya dahi. 19 . Akibatnya. Lokasi lesi di sekitar ganglion genikulatum. yang timbul dalam beberapa bulan atau 1-2 tahun kemudian. Ulkus kornea bisa muncul karena kelopak mata terlalu lemah untuk bisa menutup sepenuhnya. lapisan pelindung mata menjadi tidak berfungsi dengan baik. 2) Synkinesis.[10]. 3) Tic Facialis sampai Hemifacial Spasme. Kondisi ini terjadi ketika otot-otot wajah mengalami ketegangan secara permanen. selalu timbul gerakan bersama. pipi menebal. Cacat wajah. Penyebabnya adalah innervasi yang salah. Kondisi ini muncul sebagai akibat dari kerusakan pada otot-otot wajah penderita Bell’s palsy. 7) Kontraktur wajah. Misal bila pasien disuruh memejamkan mata. Kelelahan dan kelainan psikis dapat memperberat spasme ini. 5) Mata kering dan ulkus kornea.serabut otonom yang seharusnya ke kelenjar saliva tetapi menuju ke kelenjar lakrimalis. 6) Indera perasa berkurang atau hilang.

15% kesembuhan terjadi pada 3-6 bulan kemudian. 3) Latihan tiup lilin. Penderita seperti ini tidak memiliki kelainan yang nyata. 1/3 sisanya cacat seumur hidup.[4] Sepertiga dari penderita Bell’s palsy dapat sembuh seperti sedia kala tanpa gejala sisa. mengunyah permen karet 4) Perawatan mata :  Beri obat tetes mata (golongan artifial tears) 3x sehari  Memakai kacamata gelap sewaktu bepergian siang hari  Biasakan menutup kelopak mata secara pasif sebelum tidur j. pasien Bell’s palsy cenderung memiliki prognosis yang baik. mempunyai peluang 40% sembuh total dan beresiko 20 . Prognosis Walaupun tanpa diberikan terapi. Faktor resiko yang memperburuk prognosis Bell’s palsy adalah: 1) Usia di atas 60 tahun 2) Paralisis komplit 3) Menurunnya fungsi pengecapan atau aliran saliva pada sisi yang lumpuh 4) Nyeri pada bagian belakang telinga. 85% memperlihatkan tanda-tanda perbaikan pada minggu ketiga setelah onset penyakit. Pada penderita kelumpuhan nervus fasialis perifer tidak boleh dilupakan untuk mengadakan pemeriksaan neurologis dengan teliti untuk mencari gejala neurologis lain. berkumur.[4] Penderita Bell’s palsy dapat sembuh total atau meninggalkan gejala sisa.011 penderita Bell’s palsy. minum dengan sedotan. dan 5) Berkurangnya air mata. Penderita yang berumur 60 tahun atau lebih. Dalam sebuah penelitian pada 1.i. Edukasi 1) Kompres hangat daerah sisi wajah yang sakit selama 20 menit 2) Massage wajah yang sakit ke arah atas dengan menggunakan tangan dari sisi wajah yang sehat. makan dengan mengunyah disisi yang sakit. Pada umumnya prognosis Bell’s palsy baik: sekitar 80-90 % penderita sembuh dalam waktu 6 minggu sampai tiga bulan tanpa ada kecacatan. 1/3 lainnya dapat sembuh tetapi dengan elastisitas otot yang tidak berfungsi dengan baik.

[4] Penderita diabetes 30% lebih sering sembuh secara parsial dibanding penderita nondiabetik dan penderita DM lebih sering kambuh dibanding yang non DM.tinggi meninggalkan gejala sisa. VII atau tumor kelenjar parotis. yaitu sinkinesis. Sekitar 30 % penderita yang kambuh ipsilateral menderita tumor N. Jika tidak sembuh dalam waktu 4 bulan. maka penderita cenderung meninggalkan gejala sisa. Penderita yang berusia 30 tahun atau kurang. Bell’s palsy kambuh pada 10-15 % penderita. hanya punya perbedaan peluang 10-15 persen antara sembuh total dengan meninggalkan gejala sisa.[4] 21 . Hanya 23 % kasus Bells palsy yang mengenai kedua sisi wajah. crocodile tears dan kadang spasme hemifasial.

10. Y & Basjiruddin. Hal. Hal 297-300. M. J. Djamil. 3. 5. & B. 2014. 8. Volume 76. D. Jakarta: PT. Chris. Sidharta. Hal. Sidharta. Dashe JF. Priguna. Dalam: Harsono. 2008. May.. Sabirin. Jakarta: EGC. Pusat Bahasa. Buku Saku Neurologi Edisi 5. Semarang: Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Levitt LP. Dalam: Hadinoto dkk. Hal. New York. 4. Tata Pemeriksaan Klinis dalam Neurologi. M. ed. J. Jakarta: Media Aesculapius. The Facial Nerve. dkk. Kapita Selekta Neurologi. 11. 2. 22 .update-com. Bell’s Palsy. Weiner HL.. Gramedia Pustaka Utama. 7. 174. Jakarta: Dian Rakyat. Jakarta: Dian Rakyat. Wita JS. 997-1002. 171-812. Richard. Amerika Academy of Family Physicians. Paralisis Bell. Ronthal M. Snell. Neuroanatomi Klinik. 2009. Bell’s Palsy Diagnosis and Management. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Bell’s Palsy: Pathogenesis. Gangguan Gerak Cetakan 5. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Jilid II Edisi Keempat. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat. Thieme. Shefner JM. Tiemstra. Available from: www. & Khatkhate N. Neurologi Dasar Klinis. 1990. Jakarta: EGC. 2014. 2008. Clinical Features. Schaitkin. Ataksia. Tanto. 2006. and Diagnosis in Adults. editor. 6.DAFTAR PUSTAKA 1. 9.