You are on page 1of 107

UNIVERSITAS UDAYANA

EVALUASI IMPLEMENTASI PENGADAAN OBAT
BERDASARKAN KATALOG ELEKTRONIK (E-CATALOGUE)
DI KOTA DENPASAR TAHUN 2015

IDA BAGUS WISNU ADYAKSA

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2015

i

UNIVERSITAS UDAYANA

EVALUASI IMPLEMENTASI PENGADAAN OBAT
BERDASARKAN KATALOG ELEKTRONIK (E-CATALOGUE)
DI KOTA DENPASAR TAHUN 2015

Skripsi ini diajukan sebagai
salah satu syarat untuk memperoleh gelar
SARJANA KESEHATAN MASYARAKAT

IDA BAGUS WISNU ADYAKSA
NIM. 1120025068

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2015

ii

PERNYATAAN PERSETUJUAN
Skripsi ini telah disetujui dan diperiksa dihadapan
Tim Penguji Skripsi
Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Denpasar, 22 Juni 2015

Pembimbing

dr. Ni Made Sri Nopiyani, MPH.
NIP. 198311042008012005

iii

22 Juni 2015 Tim Penguji Skripsi Penguji I Rina Listyowati.PERNYATAAN PERSETUJUAN Skripsi ini telah dipresentasikan dan diujikan dihadapan Tim Penguji Skripsi Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Denpasar.. M. S.SiT. MPH NIP. 19770331 200501 2 001 iv .Kes NIP. 197105292008122001 Penguji II Putu Ayu Indrayathi. SE.

PhD selaku Ketua Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat atas ijin dan petunjuknya dalam penyusunan skripsi ini 2. arahan. antara lain kepada : 1. selaku dosen pembimbing skripsi yang telah memberikan bimbingan. MPH. SKM. Teman – teman IKM angkatan 2011 yang telah banyak memberikan dukungan dan motivasi dalam penyusunan skripsi ini v . SE. Oleh karena itu penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini. Kedua orang tua dan keluarga yang telah memberikan banyak dukungan.. Ibu Putu Ayu Indrayathi. MPH. Ni Made Sri Nopiyani. Bapak dr. MPH. selaku kepala bagian peminatan AKK yang telah memberikan arahan dalam penyusunan skripsi ini 5. motivasi dan masukan dalam penyusunan skripsi ini 3. MPH. Ibu dr. semangat dan memberikan segalanya dalam proses penyusunan skripsi ini 6. Bapak Made Kerta Duana. arahan dan bantuan dari berbagai pihak sehingga skripsi ini dapat selesai tepat pada waktunya. selaku dosen pembimbing akademis yang telah memberikan motivasi dan masukan selama proses kuliah hingga penyusunan skripsi ini 4. I Made Ady Wirawan. bimbingan.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena atas berkat rahmat-Nya lah penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Evaluasi Implementasi Pengadaan Obat Berdasarkan Katalog Elektronik (E-Catalogue) di Kota Denpasar tahun 2015” tepat pada waktunya Dalam penyusunan skripsi ini penulis banyak memperoleh masukan.

Mei 2015 Penulis Ida Bagus Wisnu Adyaksa vi . III Denpasar Selatan dan Puskesmas II Denpasar Barat yang telah membantu dalam proses penyusunan skripsi ini Denpasar. Seluruh staf dan petugas di Puskesmas I .7. Seluruh staf dan petugas di Dinas Kesehatan Kota Denpasar yang telah membantu dalam seluruh proses penyusunan skripsi ini 8.

Informan penelitian berjumlah tujuh orang yang terdiri dari petugas pengelola obat Puskesmas. staf Dinas Kesehatan dan Kepala Seksi di Dinas Kesehatan Kota Denpasar. Proses perencanaan kebutuhan obat lebih sistematis disbanding sebelumnya dan sudah sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan No. E-Catalogue vii .proses dan output. Penelitian ini menggunakan rancangan observasional deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi implementasi pengadaan obat berdasarkan ECatalogue dilihat dari ketersediaan input. namun masih ditemukan berbagai permasalahan dari segi input. 63 Tahun 2014. Sehingga untuk mencapai outcome perlu dilakukan berbagai penyempurnaan terkait dengan kebijakan tersebut. Secara keseluruhan implementasi pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue telah berjalan dengan cukup baik.PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA PEMINATAN ADMINISTRASI DAN KEBIJAKAN KESEHATAN MEI 2015 Ida Bagus Wisnu Adyaksa EVALUASI IMPLEMENTASI PENGADAAN OBAT BERDASARKAN KATALOG ELEKTRONIK (E-CATALOGUE) DI KOTA DENPASAR TAHUN 2015 ABSTRAK Kebijakan tentang pengadaan obat pemerintah melalui mekanisme EPurchasing berdasarkan katalog elektronik (E-Catalogue) merupakan kebijakan baru yang bertujuan untuk menunjang proses pengadaan obat pemerintah pada era JKN. Faktor yang mendukung proses implementasi adalah telah dibentuk tim pengadaan dari Puskesmas dan telah ditunjang dengan sarana. Kepala Puskesmas. Faktor penghambatnya adalah tim pengadaan yang dibentuk kurang efektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketersediaan input dari proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue dari segi pendanaan mencukupi. Pada fase awal pelaksanaan pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue belum pernah dilakukan evaluasi untuk menilai implementasi kebijakan tersebut. proses hingga output. Pemesanan dan perjanjian kontrak yang dilakukan telah sesuai dengan PMK. telah dilengkapi juknis pelaksanaan. Kata kunci : Evaluasi. kerja sama dengan banyak rekanan dan gangguan sistem yang sering terjadi dari server pusat. Penelitian dilakukan di Dinas Kesehatan Kota Denpasar serta empat Puskesmas di Kota Denpasar yang dipilih secara purposive yang terdiri dari dua Puskesmas dengan jumlah kunjungan tertinggi dan dua Puskesmas dengan jumlah kunjungan terendah. SDM masih kurang dan sasaran belum mencapai 100% Puskesmas di Kota Denpasar. Distribusi obat pernah mengalami keterlambatan dan realisasi obat tidak mencapai 100%. pengadaan obat. Pengumpulan data primer dilakukan dengan melakukan wawancara mendalam dan data sekunder dari Dinas Kesehatan Kota Denpasar.

Factors which reinforce the implementation of E-Catalogue system are the establishment of procurement team in Public Health Center and supported by adequate facilities. drug procurement. It was conducted in Denpasar City Health Department and four public health centers (Puskesmas)in Denpasar which have been chosen purposively consisting two public health centers with the highest number of visit and two public health centers with the lowest number of visit. The overall implementation of drug procurement based E-Catalogue has been running quite well. process and output. and output. Primary data collection was done by in-depth interview and secondary data was obtained from Denpasar City Health Department. Therefore. has been equipped with the implementation of the guidelines and objectives have not reached 100% public health centers in the city of Denpasar. In the initial phase. The informant of research consist of seven people. no prior study has been done to measure policy implementation. 63 Tahun 2014) but the planning process became more systematic. Drug demand planning process is in conformity with the regulation (Peraturan Menteri Kesehatan No. cooperation with many partners and system disorder that often occurs from a central server. Purchase order and contractual agreements made in accordance with the PMK. a lot of improvements related to the policy need to be done to achieve a better outcome. Drug distribution have experienced delays and drug realization does not reach 100%. inhibiting factors arise are the staff who are involve in procurement team have more workload than before which could be less effective. Keywords :Evaluation. However. The research aimed to evaluate implementation of drug procurements based on e-Catalogue by observing the input availability.SCHOOL OF PUBLIC HEALTH FACULTY OF MEDICINE UDAYANA UNIVERSITY ADMINSTRATION AND HEALTH POLICY MAY 2015 Ida Bagus Wisnu Adyaksa EVALUATION OF THE IMPLEMENTATION DRUG PROCUREMENT BASED ON ELECTRONIC CATALOGS (E-CATALOGUE) IN DENPASAR CITY 2015 ABSTRACT Government policy on drugs procurement through E-Purchasing based on electronic catalogs (E-Catalogue) is a new policy that aim to support government drug procurements process in JKN era. there are still many problems found in terms of input. This study uses an observational design with a qualitative approach. process. On the other hands. including drug management officers. Health Department staff and section head of Denpasar City Health Department Office The results showed that the availability of input of drug procurement process based E-Catalogue is still lacking in terms of human resources. Chief Public Health Center. insufficient funding. E-Catalogue viii .

................2 Tujuan Khusus .. iv ABSTRAK .................4.....1........................ xivv DAFTAR SINGKATAN/ ISTILAH.................................................................................... 10 2.....4 Implementasi Kebijakan .......................iii KATA PENGANTAR ..................................................... 8 2.........3 Tujuan .................1............................ 8 2............................................1 Manfaat praktis ......2 Pengadaan Obat ...................................... 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................2..................................1............... 6 1..... ixx DAFTAR TABEL .....................2 Manfaat teoritis ....................................1 Tujuan Umum................................................................................................................................................................................................................................................................................2 Tujuan Evaluasi ................... 1 1............ 1 1.......................i Halaman Judul dengan spesifikasi…………………………………………………….... xv BAB I PENDAHULUAN .............................................1 Pengertian Evaluasi ................... 8 2.....1 Evaluasi Implementasi ........................................DAFTAR ISI Halaman Halaman Judul ………………………………………………………………………................. 6 1......................................................................................................................................5 Ruang Lingkup Penelitian...............5 Evaluasi Implementasi ........................................... 12 2..xii DAFTAR GAMBAR ..... 12 2.....ii PERNYATAAN PERSETUJUAN ...............................4 Manfaat ..............3................................................................... 5 1............................2 Rumusan Masalah ......................... 9 2..................................................................................................................................................................................1................................................................................................................................................................................................................................................xiii DAFTAR LAMPIRAN ......................... 12 ix ............................. 5 1...............3................................................. 10 2............ 5 1...............................................................................................................................1........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................ 5 1........ viiii DAFTAR ISI....................................................... 6 1..................3 Metode Evaluasi .......................................................................................vii ABSTRACT ......1 Latar Belakang .......................................................................1 Pengertian Obat ............................................4....................

........3 Waktu dan Tempat Penelitian .............4................................................... 24 2...................................................8 Faktor Penghambat dalam proses pelaksanaan pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue ................... 52 5....5 Implementasi Kebijakan E-Catalogue di Puskesmas ....................................... 13 2....................................................................... 16 2...2............. 36 4.......3............................. 30 3.............................................. 56 5...............4......4.....4.................................3 Karakteristik Informan ........1 Ketersediaan input dalam proses pengadaan obat berdasarkan ECatalogue .............................2......... 57 5.............................................4.......................................................................................... 22 2................................6 Cakupan realisasi obat ... 59 x ....................................2 Pengadaan Obat berdasarkan E-Catalogue ..............................2 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ..... 27 BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL ................7 Faktor Pendukung dalam proses pelaksanaan pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue..1 Dasar Kebijakan Umum Obat ................. 42 5..........1 Pengumpulan Data Primer ......................................... 51 5...............3..................................................................................3 Proses substitusi obat yang tidak tercantum dalam daftar E-Catalogue .............4......................................3 Proses Pengadaan Obat ..........4.......................................................4...............5 Proses distribusi obat ke Puskesmas ..................... 54 5..................4 Strategi Pengumpulan Data........................5 Analisa Data ........................................ 16 2........................ 34 4..................... 49 5.................... 35 4.............. 44 5...................2 Pengadaan Obat ....................4....................... 38 BAB V HASIL...................................................................................................2 Pengumpulan Data Sekunder ...........6 Strategi Validasi Data .................................................. 53 5............................ 37 4............................. 35 4................3 Kebijakan Pengadaan Obat .................................................................... 34 4...............4..........9 Sustainabilitas kebijakan pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue.................. 39 5...............................................................................................................1 Karakteristik Penelitian ... 30 3.2........... 39 5....... 14 2....4 Hasil Wawancara Penelitian ...............2 Riwayat Penelitian .................4... …………………………………………………………………44 5..............1 Kerangka Konsep ......................4 Proses pengajuan pemesanan dan perjanjian kontrak......... 31 BAB IV METODE PENELITIAN ....................................................................................6 Penelitian Terkait ......4 Kedudukan Dinas Kesehatan .................... 18 2.................2 Peran Peneliti .............................................. 35 4.......................... 44 5......................2 Proses perencanaan pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue ................................................1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian .......................................................................................................... 34 4.............................................................................

.....................................................................1.......2 Ketersediaan dana ..........2 Saran ......................... 61 6.......... 87 xi ................1......... 77 6............3 Proses Substitusi Obat yang Tidak Tercantum dalam Daftar E-Catalogue...1 Simpulan ..... 84 7... 64 6....... 72 6............................................................... 68 6........... 66 6...................4 Proses Pengajuan Pemesanan dan Perjanjian Kontrak ............................................79 6...................... 70 6.......... 74 6........7 Faktor Pendukung dalam Proses Pengadaan Obat Berdasarkan E-Catalogue ……………………………………………………………………………..........................................61 6..................BAB VI PEMBAHASAN............................ 61 6..............................................6 Cakupan Realisasi Obat .....................2 Proses Perencanaan Pengadaan Obat Berdasarkan E-Catalogue ...................................... 86 DAFTAR PUSTAKA ... 84 7..........................1..1 Ketersediaan Input dalam Proses Pengadaan Obat Berdasarkan E-Catalogue ……………………………………………………………………………...................................9 Sustainabilitas Kebijakan Pengadaan Obat Berdasarkan E-Catalogue ................................................................................................5 Proses Distribusi Obat ke Puskesmas .... 82 BAB VII SIMPULAN DAN SARAN ........3 Ketersediaan bahan baku ...............1 Ketersediaan sumber daya manusia ................................................... 76 6............................................................................4 Sasaran.....................................1..........80 6.........................................................................................8 Faktor Penghambat dalam Proses Pengadaan Obat Berdasarkan E-Catalogue ……………………………………………………………………………........................

56 xii ..2 Daftar Obat yang Tidak Terealisasi Tahun 2014 di Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kota Denpasar…………………………………………….1Keaslian Penelitian ……………………………………………………28 Tabel 3.1 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ……………………….DAFTAR TABEL Halaman Tabel 2.31 Tabel 5.1 Jumlah Kunjungan Puskesmas di Kota Denpasar Tahun 2014 ………41 Tabel 5..

DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 3.1 Simple Logic Model Proses Pengadaan Obat Berdasarkan E-Catalogue …………………………………………………………30 xiii .

Surat . Pedoman wawancara mendalam kepada petugas Puskesmas Lampiran 7.surat xiv .DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. 63 Tahun 2014 tentang Pengadaan Obat Berdasarkan Katalog Elektronik Lampiran 8. Daftar Realisasi Obat di Puskesmas dan Dinkes Kota Denpasar tahun 2014 Lampiran 10. Surat Edaran Menteri Kesehatan No. Peraturan Menteri Kesehatan No. Lembar informasi wawancara mendalam Lampiran 2. Lembar persetujuan (informed consent) Lampiran 3. Pedoman wawancara mendalam kepada Kepala Puskesmas Lampiran 6. 167 Tahun 2014 tentang Pengadaan Obat Berdasarkan Katalog Elektronik Lampiran 9. Pedoman wawancara mendalam kepada Kasi Pelayanan Perijinan dan Perbekalan Kesehatan Bidang Yankes Dinkes Kota Denpasar Lampiran 4. Pedoman wawancara mendalam kepada Staf Seksi Pelayanan Perijinan dan Perbekalan Kesehatan Bidang Yankes Dinkes Kota Denpasar Lampiran 5. Daftar Kebutuhan Obat di Puskesmas dan Dinkes Kota Denpasar tahun 2014 Lampiran 11.

DAFTAR SINGKATAN/ ISTILAH E-Catalogue : Katalog Elektronik Puskesmas : Pusat Kesehatan Masyarakat Dinkes : Dinas Kesehatan LKPP : Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah PBF : Pedagang Besar Farmasi Pokja ULP : Kelompok Kerja Unit Layanan Pengadaan PPK : Pejabat Pembuat Komitmen CPOB : Cara Pembuatan Obat yang Baik DOEN : Daftar Obat Esensial Nasional BPOM : Badan Pengawasan Obat dan Makanan APBD : Anggaran Pendapatan Belanja Daerah DAK : Dana Alokasi Khusus UPT : Unit Pelaksana Teknis Kepmenkes : Keputusan Menteri Kesehatan PMK : Peraturan Menteri Kesehatan Juknis : Petunjuk Teknis JKN : Jaminan Kesehatan Nasional CDOB : Cara Distribusi Obat yang Baik LPLPO : Lembar Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat SDM : Sumber Daya Manusia xv .

pengadaan. dan status gizi masyarakat (Dinkes Kota Denpasar. angka kesakitan. 2013). penyimpanan dan pendistribusian obat yang dikelola secara optimal untuk menjamin tercapainya ketepatan jumlah dan jenis perbekalan farmasi dan alat kesehatan (Mangindra. dkk. Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam menunjang tercapainya pembangunan nasional di bidang kesehatan adalah dengan melakukan suatu manajemen. jumlah maupun kualitas secara efisien. Dalam meningkatkan pelayanan kesehatan agar dapat berjalan lebih efektif dan efisien perlu dilakukan suatu manajemen dan pengelolaan yang baik di bidang obat – obatan dan perbekalan farmasi. Derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari berbagai indikator yang ditetapkan secara nasional yaitu angka harapan hidup. Pembangunan di bidang kesehatan bertujuan meningkatkan kesadaran.1 Latar Belakang Pembangunan kesehatan merupakan salah satu aspek dalam menunjang pembangunan secara nasional.BAB I PENDAHULUAN 1. 2013). dengan demikian manajemen obat dapat dipakai sebagai proses penggerakan dan pemberdayaan semua sumber daya yang 1 . pengelolaan dan pelayanan kesehatan yang sebaik-baiknya (Melen. Pengelolaan obat merupakan suatu rangkaian kegiatan yang mencakup perencanaan. 2012). Tujuan manajemen obat adalah tersedianya obat setiap saat dibutuhkan baik mengenai jenis. angka kematian. kemauan dan kemampuan bagi setiap individu untuk hidup sehat agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

2004). pengajuan kebutuhan permintaan obat kepada Dinas Kesehatan Daerah Tingkat II/ Gudang Obat dengan menggunakan formulir daftar permintaan obat serta penerimaan dan pengecekan jumlah obat (Depkes RI. 2007). Kegiatan pengadaan obat di Puskesmas meliputi penyusunan daftar permintaan obat yang sesuai kebutuhan. 2008). Perencanaan kebutuhan obat merupakan suatu proses memilih jenis dan menetapkan jumlah perkiraan kebutuhan obat sementara pengadaan merupakan usaha – usaha dan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan operasional yang telah ditetapkan dalam fungsi perencanaan (Seto. prinsip keadilan. transparansi. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012 tentang Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah sebagaimana disebutkan bahwa pengadaan barang/ jasa di instansi pemerintahan dilakukan secara manual. Kebijakan baru tersebut bertujuan untuk menunjang proses pengadaan obat pemerintah yang harus dilaksanakan sesuai dengan prinsip pemerintah yang baik dan bersih. Proses perencanaan dan pengadaan menjadi bagian yang begitu penting dalam pengelolaan obat dalam menunjang ketersediaan obat di Puskesmas. Di awal tahun 2013 Kementerian Kesehatan melalui Menteri Kesehatan mengeluarkan Surat Edaran NOMOR KF/MENKES/337/VII/2013 tentang Pengadaan Obat Pemerintah melalui Mekanisme E-Purchasing berdasarkan Katalog Elektronik (E-Catalogue). profesional dan akuntabel untuk mendapatkan produk yang berkualitas . Untuk menjaga ketersediaan obat dan kualitas obat di instansi kesehatan seperti Puskesmas maka hal terpenting yang harus diperhatikan selama proses pengelolaan obat yaitu proses perencanaan dan pengadaan obat (Athijah. 2010).dkk.2 dimiliki untuk dimanfaatkan dalam rangka mewujudkan ketersediaan obat setiap saat dibutuhkan untuk operasional yang efektif dan efisien (Syair.

Pada tahun 2014 Menteri Kesehatan kembali mengeluarkan Surat Edaran NOMOR KF/MENKES/167/III/2014 tentang pengadaan obat berdasarkan katalog elektronik (E-Catalogue). sehingga Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota akan mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam . seehingga di tahun pertama pelaksanaannya yang merupakan masa transisi kebijakan menyebabkan terkendalanya pengadaan obat oleh instansi kesehatan pemerintah. 2014). 29 industri farmasi yang bertindak sebagai pihak penyedia obat dan dalam katalog obat elektronik tersebut telah mencakup 326 sediaan obat generik. Desentralisasi di bidang kesehatan memberikan keleluasaan kepada daerah untuk menggali potensi yang dimiliki dalam membangun daerahnya. Sejak bulan Maret tahun 2014 jumlah sediaan obat generik yang telah tercantum adalah 453 sediaan dan industri farmasi yang berpartisipasi dalam menunjang proses pengadaan obat telah berjumlah lebih dari 100 (Kemenkes RI. Pada fase awal pelaksanaan pengadaan obat dengan E-Catalogue di tahun 2013 Pemerintah Pusat telah melakukan sosialisasi terkait dengan kebijakan baru tersebut. Dalam prakteknya beberapa pihak mulai dari pihak pemegang program sampai pihak penyedia obat masih beradaptasi dalam menjalankan kebijakan baru tersebut.3 dengan harga yang wajar baik untuk Program Jaminan Kesehatan Nasional maupun program kesehatan lainnya. Dalam surat edaran tersebut mengatur mengenai pengadaan obat dilaksanakan berdasarkan ECatalogue obat dengan menggunakan metode pembelian secara elektronik (EPurchasing) sebagaimana tercantum dalam katalog obat yang telah ditetapkan oleh LKPP selaku lembaga pemerintah yang bertanggung jawab dalam proses pengadaan barang dan jasa pemerintah. Pengadaan obat dengan E-Catalogue telah diadopsi oleh 432 Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit Pemerintah di seluruh Indonesia.

Dinas Kesehatan Kota Denpasar serta Puskesmas di Kota Denpasar selaku Unit Pelaksana Teknis Dinas melakukan pengadaan obat dengan mekanisme E-Purchasing berdasarkan katalog elektronik (ECatalogue). Kebijakan pengadaan obat dengan E-Catalogue sudah berjalan selama 2 tahun sehingga dirasa sudah tepat untuk dinilai prosesnya. Permasalahan yang terjadi baik di Dinas Kesehatan maupun di Puskesmas terkait dengan pengadaan obat dengan E-Catalogue masih belum dilakukan pembahasan secara mendalam untuk menemukan solusi atau pemecahan yang dapat diambil dalam permasalahan tersebut. Dinas Kesehatan Kota Denpasar mempunyai kewajiban membuat perencanaan berbasis wilayah atau evidence based planning. Sehingga penting untuk melakukan evaluasi terkait dengan pengadaan obat dengan ECatalogue tersebut yang dapat dijadikan acuan dalam pengadaan obat oleh Puskesmas di tahun berikutnya yang dilakukan dengan mekanisme E-Purchasing berdasarkan katalog elektronik (E-Catalogue). Pada fase awal pelaksanaannya banyak ditemukan permasalahan yang terjadi namun pelaporan terkait permasalahan yang dihadapi oleh Puskesmas hanya dilakukan saat ada pertemuan dengan Dinas Kesehatan setiap 3 bulan sehingga tidak dilakukan pencatatan yang baik terkait dengan permasalahan yang terjadi di Puskesmas terkait dengan pengadaan obat dengan E-Catalogue. .4 perencanaan upaya kesehatan. yaitu perencanaan yang dibuat secara terpadu dan benar-benar didasarkan pada besarnya masalah. Terkait dengan kebijakan pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue. kondisi daerah serta kemampuan sumber daya.

2 Tujuan Khusus 1.3.2 Rumusan Masalah Pada fase awal pelaksanaan pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue diindikasi muncul berbagai permasalahan. Dalam dua tahun pelaksanaan kebijakan tersebut belum pernah dilakukan evaluasi untuk menguji efektifitas dari pelaksanaan pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue. Kabupaten/ Kota dan Puskesmas.3 Tujuan 1.1 Tujuan Umum Untuk mengevaluasi implementasi pengadaan obat berdasarkan katalog elektronik (E-Catalogue) di Kota Denpasar tahun 2015 1. Dinas Kesehatan Provinsi.3. Untuk mengetahui proses pengajuan dan perjanjian kontrak dari pihak pemegang program dengan pihak PBF dalam pengajuan pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue di Kota Denpasar pada tahun 2015 . Dalam prosesnya pelaksanaan pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue dilakukan di seluruh Satuan Kerja di Bidang Kesehatan yang meliputi Rumah Sakit Pemerintah. Untuk mengetahui proses perencanaan pengadaan obat berdasarkan ECatalogue di Kota Denpasar pada tahun 2015 3.5 1. sehingga penelitian bertujuan untuk menjawab pertanyaan penelitian yaitu bagaimana implementasi pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue di Kota Denpasar tahun 2015 ? 1. Untuk mengetahui ketersediaan input yang menunjang proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue di Kota Denpasar pada tahun 2015 2.

Untuk mengetahui proses distribusi obat kepada Puskesmas melalui proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue di Kota Denpasar pada tahun 2015 5.1 Manfaat praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan dalam implementasi pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue bagi Dinas Kesehatan Kota Denpasar beserta Puskesmas se Kota Denpasar di tahun berikutnya.4. Bagi Mahasiswa Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan serta pengetahuan terkait dengan pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue.6 4. .4 Manfaat 1.4.2 Manfaat teoritis 1. Untuk mengetahui cakupan realisasi obat dalam proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue di Kota Denpasar pada tahun 2015 6. 1. Bagi Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan dalam melakukan penelitian lanjutan dari mahasiswa Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Untuk mengetahui faktor pendukung dan faktor penghambat dalam implementasi pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue di Kota Denpasar pada tahun 2015 1. 2.

5 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian yang terkait dengan manajemen logistik dalam kesehatan dengan melihat sistem pengadaan obat melalui E-Catalogue. Penelitian dilakukan di Puskesmas di Kota Denpasar untuk melihat implementasi dari proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue pada tahun 2015 dengan melihat input sampai output dari implementasinya. .7 1. Waktu penelitian dimulai dari Bulan Maret-Mei tahun 2015.

misalnya 2 tahun setelah kebijakan tersebut diimplementasikan (Ervina. Semakin strategis dan semakin terstrukturnya suatu kebijakan maka semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk mengetahui outcome atau dampak dari kebijakan tersebut. 1998). Namun jika ingin mengetahui bagaimana proses dan pelaksanaan dari suatu kebijakan yang sifatnya lebih teknis maka dapat dilakukan dalam waktu yang lebih singkat. 8 . Hal yang paling penting dalam melakukan suatu evaluasi adalah harus memiliki tujuan evaluasi yang jelas. 2008).BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Evaluasi dirancang untuk memberikan nilai pada suatu intervensi dengan mengumpulkan informasi yang valid dan reliable terhadap intervensi tersebut yang dilakukan secara sistematis (Ovretveit. Evaluasi terhadap suatu intervensi yang diberikan baru dapat dilakukan jika suatu intervensi tersebut telah berjalan dalam cukup waktu.1 Pengertian Evaluasi Evaluasi merupakan suatu penilaian secara sistematis untuk menentukan atau menilai kegunaan dan keefektifan sesuatu yang didasarkan pada kriteria tertentu dari suatu program.1 Evaluasi Implementasi 2. Untuk melakukan evaluasi terhadap kebijakan yang baru diambil dapat dilakukan dalam waktu yang cukup lama untuk mengetahui outcome atau dampak yang ditimbulkan.

. Mengukur tingkat keluaran (outcome) suatu kebijakan Evaluasi digunakan untuk mengukur seberapa besar dan kualitas keluaran dari suatu kebijakan 4. Mengukur tingkat efisiensi suatu kebijakan Dengan melakukan evaluasi dapat diketahui keefektifan suatu kebijakan yang dilihat biaya. Keputusan tersebut akan berguna dalam perumusan kebijakan selanjutnya dan juga dapat digunakan untuk menentukan keefektifan kebijakan sebelumnya. Dengan melakukan evaluasi dapat diketahui derajat pencapaian tujuan dan sasaran dari kebijakan 2. sumber daya dan manfaat dari suatu kebijakan 3.9 2. Menentukan tingkat kinerja suatu kebijakan.1. Namun tujuan akhir yang merupakan tujuan yang utama dari evaluasi adalah untuk pengambilan keputusan. Mengukur dampak suatu kebijakan Evaluasi dapat digunakan untuk menilai dampak dari implementasi kebijakan yang dapat berdampak positif maupun negatif 5. Untuk mengetahui penyimpangan yang terjadi Evaluasi dapat digunakan untuk mengukur penyimpangan yang mungkin terjadi dengan membandingkan tujuan dan sasaran dengan target yang dicapai 6. Untuk bahan masukan dalam kebijakan selanjutnya Tujuan akhir dari suatu evaluasi adalah untuk memberikan masukan dalam perumusan kebijakan berikutnya.2 Tujuan Evaluasi Tujuan dari evaluasi menurut Ervina (2008) adalah sebagai berikut : 1.

Menurut Azwar (2010) dan Notoatmodjo (2011) evaluasi dapat dibedakan menjadi empat kelompok yaitu : 1. Evaluasi terhadap dampak. Evaluasi terhadap proses. 2. evaluasi yang menyangkut pemanfaatan berbagai sumber daya yang mencakup sumber daya manusia.10 2. evaluasi terhadap hasil yang dicapai dari suatu program.1986). Implementasi kebijakan merupakan intervensi yang diberikan pada suatu kebijakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Mazmanian & Sabatier. Evaluasi terhadap input. evaluasi yang menitikberatkan pada pelaksanaan program apakah sudah sesuai dengan yang direncanakan atau tidak 3. Dalam perjalanannya tidak semua kebijakan dapat diimplementasikan dengan baik untuk mencapai tujuannya karena dalam proses .1. sumber dana ataupun sarana. evaluasi terhadap dampak dari suatu program yang mencakup pengaruh yang ditimbulkan atau intervensi yang diberikan terhadap peningkatan status kesehatan masyarakat 2.1. Penilaian tersebut bertujuan untuk mengetahui capaian program apakah sudah sesuai dengan target atau kriteria yang ditetapkan 4. Setelah proses implementasi kebijakan berjalan diharapkan akan muncul suatu keluaran (output) hingga dampak akhir (impact). Keberhasilan dari implementasi suatu kebijakan sangat dipengaruhi oleh bagaimana sebuah desain kebijakan mampu merumuskan secara komperehensif aspek pelaksanaan sekaligus metode evaluasi yang akan dilaksanakan.4 Implementasi Kebijakan Implementasi suatu kebijakan sangatlah berhubungan dengan perencanaan kebijakan. Evaluasi terhadap output.3 Metode Evaluasi Beberapa ahli menyebutkan berbagai macam metode dalam melakukan evaluasi.

dengan demikian dapat mencapai tujuan kebijakan sesuai dengan yang dikehendaki atau yang tidak dibayangkan oleh pihak di atas. Dalam implementasi suatu kebijakan dikenal dengan berbagai model implementasi kebijakan. yaitu : 1.11 implementasi tidak bisa dilakukan dengan sempurna seperti dalam proses perumusan kebijakan. Menurut Buse (2012) dalam bukunya yang berjudul Making Health Policy menyebutkan ada dua model teori implementasi kebijakan. Banyak kebijakan yang tidak dapat dilaksanakan dengan sempurna. Teori Implementasi Top-Down Merupakan suatu teori yang mengedepankan pembagian yang jelas antara formulasi kebijakan dan implementasi. Teori Implementasi Bottom-Up Merupakan teori yang mengakui dimana tingkatan di bawah yang lebih rendah dapat memainkan peran yang lebih aktif dalam proses implementasi. artinya terdapat beberapa kegiatan yang gagal dalam proses implementasinya. Kegagalan dalam implementasi kegiatan disebabkan oleh dua hal utama yaitu kebijakan yang tidak terlaksana atau tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya dan kebijakan yang mengalami kegagalan saat dilaksanakan. 2. termasuk memiliki berbagai keleluasaan untuk merubah kebijakan dalam sistem. . proses implementasi yang rasional dan linier dimana tingkat – tingkat di bawahnya melaksanakan praktek berdasarkan apa yang diarahkan oleh pihak yang tingkatnya lebih tinggi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

1. Proses dalam siklus tersebut dimulai dari perumusan kebijakan.1 Pengertian Obat Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia obat memiliki pengertian sebagai bahan yang digunakan untuk mengurangi. 2012). meningkatkan kekebalan tubuh dan juga dapat digunakan untuk mendiagnosa suatu penyakit (Bahfen. menghilangkan penyakit atau menyembuhkan seseorang dari penyakit. Evaluasi formatif merupakan evaluasi yang dirancang untuk memberikan kontribusi langsung bagi pelaksanaan tugas dan tanggung jawab program sehingga membentuk wajah program yang baik dalam perumusan sampai implementasinya. Namun sebenarnya obat dapat digunakan untuk mencegah penyakit.12 2. dimana berfokus kepada dampak yang ditimbulkan dari capaian program yang telah sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Implementasi dan evaluasi merupakan proses yang tidak dapat dipisahkan. Evaluasi sumatif dirancang untuk memberikan ruang dalam proses pengambilan keputusan.5 Evaluasi Implementasi Dalam siklus kebijakan terdapat berbagai proses dalam menunjang tercapainya tujuan dari kebijakan tersebut.2 Pengadaan Obat 2.2. Implementasi merupakan intervensi yang diberikan dalam suatu kebijakan sedangkan evaluasi merupakan proses untuk melakukan penilaian terhadap intervensi yang diberikan. implementasi kebijakan dan evaluasi kegiatan (Buse. 2. Secara garis besar pengertian obat tersebut hanya penjelasan yang spesifik mengenai obat yaitu hanya berfungsi dalam proses penyembuhan penyakit. Dalam melakukan evaluasi implementasi. . proses evaluasi dapat dibedakan menjadi dua yaitu evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. 2006).

Obat paten. merupakan obat jadi dengan nama dagang yang terdaftar atas nama si pembuat atau yang dikuasakan dan dijual dalam bentuk bungkus asli dari pabrik yang memproduksinya 3. atau diagnosa. pencegahan. Pengadaan obat publik . Obat esensial. antara lain : 1.2 Pengadaan Obat Pengadaan obat publik dan perbekalan kesehatan adalah proses untuk menyediakan kebutuhan obat di Unit Pelayanan Kesehatan. pelarut atau komponen lain yang tidak dikenal sehingga belum dikenal 4. pengisi. adalah obat yang terdiri atau berisi suatu zat baik sebagai bagian yang berkhasiat maupun yang tidak berkhasiat misalnya lapisan. 2. adalah obat yang paling dibutuhkan untuk pelaksanaan pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang meliputi diagnose. merupakan obat esensial yang tercantum dalam Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) dan mutunya terjamin karena diproduksi dengan CPOB dan diuji ulang oleh BPOM. profilaksis terapi dan rehabilitasi 5. Obat jadi. ditawarkan atau disajikan untuk digunakan dalam proses pengobatan.13 Pengertian obat jika dilihat dari peraturan yang dibuat oleh pemerintah yaitu dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 43/Menkes/SK/II/1988 tentang Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) adalah bahan atau campuran bahan yang dibuat. Obat generik. adalah obat dalam keadaan murni atau campuran dalam berbagai bentuk obat yang mempunyai nama teknis sesuai dengan Farmako Indonesia 2. pemulihan.2. Obat juga memiliki berbagai istilah dalam penggunaannya. Obat baru.

Menjamin mutu sediaan obat 3. Dalam pengadaan obat terdapat suatu siklus yang terdiri dari : 1. persyaratan pemasok. Tujuan dari melakukan pengadaan obat adalah : 1. Proses perencanaan kebutuhan obat di Puskesmas bertujuan untuk mendapatkan perkiraan jumlah dan jenis obat yang sesuai dengan kebutuhan. Obat dapat diperoleh pada saat dibutuhkan 2. Dalam melakukan pengadaan obat perlu memperhatikan beberapa kriteria diantaranya kriteria obat publik dan perbekalan kesehatan. harga yang wajar dan kualitas yang sesuai dengan standar yang diakui (Quick. penentuan waktu pengadaan dan kedatangan obat. 2007).2. 2010). meningkatkan efisiensi penggunaan obat dan meningkatkan penggunaan obat secara rasional. Proses perencanaan . Untuk memperoleh obat dapat dilakukan dengan pembelian. Tersedianya obat dengan jenis dan jumlah yang cukup sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan 2. Perencanaan kebutuhan obat Proses perencanaan kebutuhan obat di Puskesmas merupakan proses kegiatan seleksi obat dan perbekalan kesehatan untuk menentukan jenis dan jumlah obat dalam rangka pemenuhan kebutuhan obat di Puskesmas (Dirjen Binfar.3 Proses Pengadaan Obat Proses pengadaan obat yang efektif akan menjamin ketersediaan obat yang baik dalam jumlah yang tepat. penerimaan dan pemeriksaan obat dan pemantauan status pesanan.14 dan perbekalan kesehatan dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/ Kota sesuai dengan ketentuan – ketentuan dalam Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Instansi Pemerintah. sumbangan atau melalui pabrik.

2012). Proses distribusi merupakan proses yang sangat penting dalam menunjang ketersediaan kebutuhan obat di Puskesmas selaku FKTP pada era JKN.15 kebutuhan obat sangat penting karena dapat menunjang ketersediaan obat dalam pelayanan sehingga dapat meningkatkan pelayanan kesehatan (Yuliastini. 3. Dalam proses perencanaan kebutuhan obat. 2014). 2. Proses distribusi obat Proses distribusi obat ke Puskesmas merupakan kegiatan pengeluaran dan penyerahan obat secara merata dan teratur untuk memenuhi kebutuhan obat dari Puskesmas (Dirjen Binfar. Kerja sama dengan pihak distributor dimulai dari pengajuan pemesanan terhadap obat yang disiapkan oleh PBF selaku distributor. Kemampuan pihak distributor dalam proses pengadaan merupakan ujung tombak terlaksananya seluruh proses pengadaan obat. 2013). Proses pemesanan dan perjanjian kontrak Proses pengadaan obat melibatkan pihak pemerintah dari pusat hingga daerah dengan pihak swasta. 2010). Pihak swasta yang terlibat kerja sama dan perjanjian kontrak yang paling mendukung suksesnya proses implementasi kebijakan tersebut adalah pihak distributor atau penyedia obat (Sauwir. Dalam merencanakan kebutuhan akan obat di Puskesmas atau Rumah Sakit tidak semua obat yang dibutuhkan tersedia di pasaran sehingga sangat penting untuk merencakanan mekanisme substitusi jenis obat (Hartono. Setelah melakukan pemesanan maka akan ada perjanjian kontrak bersama dengan pihak distributor. Pemerintah telah mengeluarkan aturan mengenai cara distribusi obat yang baik yang diatur dalam . alternatif yang perlu diperhatikan adalah mekanisme substitusi jenis obat.

131/Menkes/II/2004). terdistribusi secara adil dan merata dalam upaya menjamin terselenggaranya pembangunan nasional di bidang kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat setinggi – tingginya (Kepmenkes RI No.1 Dasar Kebijakan Umum Obat Dalam Sistem Kesehatan Nasional disebutkan bahwa subsistem obat dan perbekalan kesehatan adalah tatanan yang menghimpun berbagai upaya perencanaan. 2.3. pemenuhan kebutuhan serta pemanfaatan dan pengawasan obat dan perbekalan kesehatan secara terpadu dan saling mendukung untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat setinggi – tingginya.2517 Tahun 2014 tentang Pedoman Teknis Cara Distribusi Obat Yang Baik (CDOB). Obat dan perbekalan kesehatan sebagai barang publik sehingga harus dijamin ketersediaan dan keterjangkaunnya. Prinsip dalam penyelenggaraan subsistem obat dan perbekalan kesehatan yaitu: 1. Tujuan utama dalam pelaksanaan subsistem obat dan perbekalan kesehatan yaitu tersedianya obat dan perbekalan kesehatan yang mencukupi.1.K.16 Peraturan Kepala BPOM No.3 Kebijakan Pengadaan Obat 2. Pada penelitian yang dilakukan oleh Antonius (2012) tentang Implementasi Cara Distribusi Obat yang Baik pada Pedagang Besar Farmasi di Yogyakarta menunjukkan bahwa belum semua aspek CDOB dilakukan oleh PBF secara baik. 03. H.11. Obat dan perbekalan kesehatan adalah kebutuhan dasar manusia oleh karena itu tidak dilakukan sebagai komoditas ekonomi semata 2. karena itu penetapan harga .12.34.

Bentuk pokok dari subsistem obat dan perbekalan kesehatan yang diatur oleh pemerintah yaitu : 1. serta penyediaan perbekalan kesehatan diselenggarakan secara adil dan merata 4. Pendistribusian obat dan perbekalan kesehatan diselenggarakan melalu Pedagang Besar Farmasi (PBF) 5. kemudahan diakses serta keamanan bagi masyarakat dan lingkungannya. Pemerataan obat dan perbekalan kesehatan diarahkan pada pemakaian obat – obat esensial generik 6. Pengadaan dan pemanfaatan obat di sarana pelayanan kesehatan mengacu pada Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) 5. Perencanaan obat merujuk pada Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) yang ditetapkan oleh pemerintah bekerja sama dengan organisasi profesi 3. Pengadaan obat.17 obat dan perbekalan kesehatan tidak diserahkan kepada mekanisme pasar melainkan melalui pemerintah 3. Perencanaan obat dan perbekalan kesehatan secara nasional diselenggarakan oleh pemerintah 2. Pemanfaatan obat dan perbekalan kesehatan diselenggarakan secara rasional dengan mempelajari aspek mutu. yang mengutamakan obat generik bermutu. manfaat. harga. Pengadaan obat dan perbekalan kesehatan kesehatan yang dibutuhkan oleh pembangunan kesehatan menjadi tanggung jawab pemerintah 4. Peningkatan keterjangkauan obat dan perbekalan kesehatan dilaksanakan melalui kajian dan penetapan harga secara berkala oleh pemerintah bersama pengusaha dengan menggunakan harga obat produksi industri farmasi pemerintah sebagai acuan .

Sistem E-Purchasing merupakan tata cara pemilihan penyedia barang/ . 2. promosi serta pemanfaatan obat dan perbekalan kesehatan. Penerapan sistem pengadaan secara elektronik bertujuan untuk : 1. Pengawasan mutu produksi obat dan perbekalan kesehatan pada tahap pertama dilakukan oleh industri yang bersangkutan sesuai CPOB yang ditetapkan oleh pemerintah 8. organisasi profesi dan masyarakat. Meningkatkan transparansi/ keterbukaan dalam proses pengadaan barang/ jasa 2. Pengadaan barang/ jasa secara elektronik dapat dilakukan dengan sistem EPurchasing. Pengawasan distribusi.2 Pengadaan Obat berdasarkan E-Catalogue Pengadaan secara elektronik atau E-Procurement merupakan pengadaan barang/ jasa yang dilaksanakan dengan menggunakan teknologi informasi dan transaksi elektronik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang – undangan. karena penyedia barang/jasa tidak perlu lagi datang ke Kantor Kelompok Kerja Unit Layanan Pengadaan (Pokja ULP) untuk melihat.18 7.3. Meningkatkan efektifitas dan efisiensi dalam pengelolaan proses pengadaan barang/ jasa. termasuk efek samping serta pengendalian harganya dilakukan oleh pemerintah bekerja sama dengan kalangan pengusaha. Meningkatkan persaingan yang sehat dalam rangka penyediaan pelayanan publik dan penyelenggaraan pemerintah yang baik 3. mendaftar dan mengikuti proses pelelangan tetapi cukup melakukannya secara online melalui website pelelangan elektronik. Kemajuan teknologi informasi mempermudah dan mempercepat proses pengadaan barang/ jasa.

distributor dan kontrak payung penyediaan obat. kemasan. terbuka. Prinsip pemilihan penyedia barang/ jasa sebagaimana mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 70 tahun 2012 yaitu secara efisien. Dinas Kesehatan hingga Rumah Sakit Pemerintah dilakukan berdasarkan katalog elektronik (E-Catalogue) dengan sistem E-Purchasing. Persiapan Pengadaan obat dilaksanakan oleh Kelompok Kerja Unit Layanan Pengadaan (Pokja ULP) atau Pejabat Pengadaan Satuan Kerja berdasarkan perintah dari Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Satuan Kerja di Bidang Kesehatan. c. provinsi. Dengan sistem tersebut maka proses pengadaan obat yang dilakukan oleh seluruh Satuan Kerja di bidang kesehatan mulai dari Puskesmas. transparan. nama penyedia. adil dan akuntabel. Satuan Kerja Bidang Kesehatan di daerah maupun pusat menyampaikan rencana kebutuhan obat kepada PPK b. a. efektif. PPK melihat E-Catalogue obat dalam Portal Pengadaan Nasional yang memuat nama. PPK menetapkan Daftar Pengadaan Obat sesuai kebutuhan dan ketersediaan anggaran yang terdiri atas 1) Daftar Pengadaan Obat berdasarkan E-Catalogue 2) Daftar Pengadaan Obat diluar E-Catalogue . Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 63 Tahun 2014 tentang Pengadaan Obat berdasarkan E-Catalogue terdapat tata cara dalam melakukan pengadaan obat pemerintah yang akan dijabarkan sebagai berikut : 1. nama obat. bersaing. harga satuan terkecil.19 jasa yang dapat dilakukan secara terbuka dan dapat diikuti oleh semua penyedia barang/ jasa yang terdaftar pada sistem elektronik.

Daftar Pengadaan Obat diluar E-Catalogue ditandatangani oleh PPK selanjutnya diteruskan kepada Pokja ULP/ Pejabat Pengadaan untuk diadakan dengan metode lain sesuai Peraturan Presiden Nomor 70 tahun 2012. Pokja ULP/ Pejabat Pengadaan membuat paket pembelian obat dalam aplikasi E-Purchasing berdasarkan Daftar Pengadaan Obat sebagaimana tercantum dalam formulir yang diberikan oleh PPK b. Penyedia obat/ industri farmasi yang telah menerima permintaan pembelian obat melalui E-Purchasing dari Pokja ULP/ Pejabat Pengadaan memberikan persetujuan atas permintaan pembelian obat . Pengadaan obat dengan E-Purchasing Pengadaan obat dengan E-Purchasing berdasarkan E-Catalogue dilakukan oleh PPK dan Pokja ULP/ Pejabat Pengadaan melalui aplikasi EPurchasing pada website Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE). Daftar Pengadaan Obat berdasarkan E-Catalogue ditandatangani oleh PPK selanjutnya diteruskan kepada Pokja ULP/ Pejabat Pengadaan untuk diadakan dengan metode E-Purchasing e.20 d. Untuk dapat menggunakan aplikasi tersebut PPK dan Pokja ULP/ Pejabat Pengadaan harus memiliki kode akses (user id dan password) dengan cara melakukan pendaftaran sebagai pengguna kepada LPSE setempat. Adapun tahapan E-Purchasing adalah sebagai berikut : a. Pokja ULP/ Pejabat Pengadaan selanjutnya mengirimkan permintaan pembelian kepada penyedia obat/ industri farmasi yang termasuk dalam kelompok paket pengadaan c. 2.

h. Persetujuan penyedia obat/ industri farmasi kemudian oleh Pokja ULP/ Pejabat Pengadaan kepada PPK untuk ditindaklanjuti e. Tahapan yang dilakukan dalam pengadaan obat secara manual yaitu : 1.21 dan menunjuk distributor/ PBF. Apabila menolak harus menyampaikan alasan penolakan d. PPK selanjutnya melakukan perjanjian/ kontrak jual beli terhadap obat yang telah disetujui dengan distributor/ PBF yang ditunjuk penyedia obat/ industri farmasi f. Dalam hal aplikasi E-Purchasing mengalami kendala operasional/ offline (gangguan daya listrik. Pokja ULP/ Pejabat Pengadaan membuat paket pembelian obat dalam aplikasi E-Purchasing berdasarkan Daftar Pengadaan sebagaimana tercantum dalam formulir yang diberikan oleh PPK Obat . gangguan jaringan atau kerusakan aplikasi) maka pembelian dapat dilakukan secara manual dengan tetap melalui koordinasi PPK dan Pokja ULP/ Pejabat Pengadaan beserta pihak penyedia obat/ industri farmasi. PPK melaporkan item dan jumlah obat yang ditolak atau tidak dipenuhi oleh penyedia obat/ industri farmasi kepada Kepala Lembaga Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah (LKPP). Distributor/ PBF kemudian melaksanakan penyediaan obat sesuai dengan isi perjanjian/ kontrak jual beli g. PPK selanjutnya mengirim perjanjian pembelian obat serta melengkapi riwayat pembayaran dengan cara mengunggah pada aplikasi EPurchasing.

. Apabila menolak harus menyampaikan alasan penolakan 4. Pokja ULP/ Pejabat Pengadaan selanjutnya mengirimkan permintaan pembelian kepada penyedia obat/ industri farmasi yang termasuk dalam kelompok paket pengadaan 3. PPK selanjutnya melakukan perjanjian/ kontrak jual beli terhadap obat yang telah disetujui dengan distributor/ PBF yang ditunjuk penyedia obat/ industri farmasi 6. Distributor/ PBF kemudian melaksanakan penyediaan obat sesuai dengan isi perjanjian/ kontrak jual beli 2.22 2. Pada era desentralisasi setiap daerah memiliki peranan yang sangat menentukan dalam perencanaan upaya kesehatan.4 Kedudukan Dinas Kesehatan Dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. Persetujuan penyedia obat/ industri farmasi kemudian oleh Pokja ULP/ Pejabat Pengadaan kepada PPK untuk ditindaklanjuti 5. 75 tahun 2004 tentang Puskesmas. Penyedia obat/ industri farmasi yang telah menerima permintaan pembelian obat melalui dari Pokja ULP/ Pejabat Pengadaan memberikan persetujuan atas permintaan pembelian obat dan menunjuk distributor/ PBF. Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota merupakan unsur pelaksana bidang kesehatan yang dipimpin oleh Kepala Dinas yang berkedudukan dibawah Walikota dan bertanggung jawab melalui Sekretaris Daerah. Dalam menjalankan tugasnya Dinas Kesehatan dilakukan berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan. Dinas Kesehatan merupakan satuan kerja pemerintah daerah yang bertanggung jawab dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan tentang kesehatan.

Perencanaan Obat Pelayanan Kesehatan Dasar b. .23 Dalam upaya mewujudkan pembangunan kesehatan di Kabupaten/ Kota. dalam program kerja di bidang kesehatan terkait dengan pengelolaan obat di daerah Dinas Kesehatan Kota Denpasar melakukan berbagai kegiatan pengelolaan obat dan farmasi. Perencanaan Bahan Laboratorium 2. Pendistribusian. Pengadaan Dana pengadaan obat untuk unit pelayanan kesehatan di Kota Denpasar berasal dari berbagai sumber dana dari dana DAK (Dana Alokasi Khusus) dan dana APBD II. Perencanaan Obat Klinik Praja Husada d. Perencanaan Obat Penunjang c. antara lain : 1. Obat-obat untuk unit pelayanan kesehatan di Kota Denpasar baik yang diadakan di Dinas Kesehatan Kota Denpasar maupun yang diterima dari Dinas Kesehatan Propinsi Bali dan Departemen Kesehatan R. kegiatannya meliputi : a. telah ditetapkan visi dan misi dalam bidang kesehatan yang disusun oleh Walikota. Selanjutnya obat-obatan tersebut didistribusikan ke Puskesmas setiap bulan sesuai dengan permintaan dari masing-masing puskesmasdan disesuaikan dengan stok obat yang ada di UPT Pengawasan Farmasi dan Makanan.menerapkan sistem pengelolaan obat satu pintu. Perencanaan. 3. Pada era desentralisasi setiap daerah memiliki rencana pembangunan sendiri atas daerahnya.I pengelolaannya diserahkan kepada UPT Pengawasan Farmasi dan Makanan Kota Denpasar dengan .

. kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang yang bermukim di wilayah kerja dari Puskesmas tersebut. Mengacu pada Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 128/SK/II/2004 mengenai pengertian Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota yang bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya.5 Implementasi Kebijakan E-Catalogue di Puskesmas Dalam menjalankan peranan dan fungsinya. Unit pelaksana teknis dari Dinas Kesehatan adalah Puskesmas. Rekapan laporan tersebut dilaporkan pertriwulan ke Dinas Kesehatan Provinsi. Pencatatan dan Pelaporan Seksi Pelayanan Perijinan dan Perbekalan Kesehatan Farmasi merekap semua Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO) yang dikirim oleh Puskesmas setiap bulan. Pembinaan dan Pengawasan Pembinaan dan pengawasan pengelola obat di puskesmas dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. 5. 2. 2004). Tujuan Puskesmas secara umum mengacu pada tujuan pembangunan kesehatan yaitu meningkatkan status derajat kesehatan masyarakat setinggi – tingginya dengan upaya meningkatkan kesadaran. Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota memiliki Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan untuk menunjang tercapainya berbagai program kesehatan yang disusun untuk meningkatkan derajat kesehatan di daerahnya.24 4. Pelaksanaannya dengan mengadakan pembinaan dan pengawasan langsung ke Puskesmas yang ada di Kota Denpasar yang berjumlah 11 Puskesmas setiap triwulan. (Kemenkes RI.

method. 2004). 2011). pembinaan dan pengawasan untuk menunjang pelayanan kesehatan (Badan PPSDM Kesehatan RI. Aspek penunjang di Puskesmas dapat dilihat dari konsep 6 M yang terdiri dari man. 2004). Dalam menjalankan fungsi – fungsi tersebut setiap Puskesmas memiliki sumber daya dan beberapa aspek – aspek yang dapat menunjang keberhasilan dari ketiga fungsi tersebut. Sumber daya manusia di Puskesmas pada era JKN masih kurang secara kuantitas. 1. 2013). hal tersebut dilihat dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Nopiyani (2014) dan Handayani (2009) menunjukkan bahwa petugas di Puskesmas memiliki beban kerja ganda. Oleh karena itu. money. Pada era JKN diperlukan suatu perencanaan akan kebutuhan SDM di bidang kesehatan. Perencanaan kebutuhan SDM Kesehatan pada era JKN sangat penting dilakukan untuk memberikan gambaran dan informasi bagi setiap pemangku kebijakan di daerah untuk dapat memperkirakan jumlah kebutuhan SDM Kesehatan. tercapainya tujuan organisasi disebabkan oleh kerja sama sumber daya manusia di dalamnya (Iskandar. (Kemenkes RI.25 Puskesmas memiliki tiga fungsi utama yaitu sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan. Man Sumber daya manusia merupakan faktor penentu tercapainya suatu tujuan organisasi. pelatihan. pusat pemberdayaan masyarakat dan pusat pelayanan kesehatan strata pertama. materials. . merencanakan distribusi SDM Kesehatan termasuk meningkatkan kompetensi SDM Kesehatan melalui pendidikan. market dan machine (Muninjaya.

2004). Menurut Kepmenkes RI No. tidak menyangkut wewenang dan prosedur. Materials Materials atau bahan baku merupakan suatu unsur yang merupakan objek yang digunakan sebagai sarana yang digunakan oleh sumber daya untuk mencapai tujuan (Satrianegara. Petunjuk teknis suatu kegiatan tidak hanya penting dalam menunjang proses pelaksanaan suatu kegiatan. (2011) petunjuk teknis merupakan aturan yang memuat hal – hal yang berkaitan dengan teknis kegiatan. 128 Tahun 2004 tentang Kebijakan Dasar Puskesmas sumber pembiayaan di Puskesmas yang utama berasal dari Pemerintah Kabupaten atau Kota yang berupa dana APBD dan dana jaminan kesehatan. Puskesmas juga dapat menerima sumber dana dari Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat (Kemenkes RI. Money Untuk menyelenggarakan berbagai upaya kesehatan baik upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat yang menjadi fungsi utama dari Puskesmas maka perlu ditunjang dengan ketersediaan pendanaan yang mencukupi.26 2. Petunjuk teknis pelaksanaan suatu kegiatan biasanya dimuat dalam Surat Keputusan yang dibuat oleh pembuat kebijakan/ program atau pihak pemangku kebijakan. Petunjuk teknis pelaksanaan merupakan salah satu bahan baku yang menunjang pelaksanaan suatu program. 3. 162A. 2009). tapi juknis juga dapat menunjang tercapainya tujuan dari suatu . Berdasarkan Petunjuk Penyelenggaraan Sistem Manajemen Kwartir No.

). namun terdapat beberapa penelitian terdahulu yang terkait dengan evaluasi proses pelaksanaan pengadaan obat. Puskesmas sebagai FKTP pada era JKN merupakan salah satu sasaran dari kebijakan yang diambil oleh Kementerian Kesehatan RI. 4. 2. .27 program sehingga juknis harus disosialisasikan kepada setiap petugas yang menjalankan program.6 Penelitian Terkait Belum ada penelitian terkait yang dilakukan untuk mengevaluasi pelaksanaan pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue. Penelitian tersebut berbeda dengan penelitian ini yang dapat dilihat dalam tabel berikut. Market Setiap kebijakan dibuat pasti memiliki sasaran untuk mencapai tujuan dari kebijakan tersebut. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Nurcahyani (2011) menyebutkan bahwa keberhasilan implementasi suatu kebijakan di Puskesmas ditopang dari ketersediaan sumber daya yang mendukung dan menjalankan kebijakan sesuai dengan petunjuk teknis.

Evaluasi penerapan Peraturan Daerah Kabupaten Gunung Kidul No. 14/2000 terhadap ketersediaan obat di Puskesmas untuk melihat pengaruh diterapkannya Perda Kabupaten Gunung Kidul no. Petugas Pengelola Provinsi. Petugas Farmasi.) Kelompok pengguna yang terdiri dari Kepala IFRS.1 Keaslian Penelitian Indikator Judul penelitian Tujuan Tempat Jenis Penelitian Unit Analisis Subyek Penelitian Penelitian Istinganah dkk. Petugas Pengelola Obat Obat di Puskesmas Subbag Keuangan RS. proses sampai output pengadaan obat dilihat dari sumber daya yang tersedia. Evaluasi sistem pengadaan obat dari dana APBD tahun 2001-2003 terhadap ketersediaan dan efisiensi obat Untuk melakukan evaluasi terhadap sistem pengadaan obat yang berasal dari dana APBD Pemerintah DIY tahun 2001-2003 di RS Grhasia Yogyakarta Deskriptif kualitatif Penelitian Sri Purwaningsih dkk. proses sampai output yang Input. yaitu : 1. Dokter dan Perawat Kepala Ruangan . Ketua Komite Medik.) Kelompok Kesehatan. 14/2000 terhadap ketersediaan obat di Puskesmas Gunung Kidul Cross Sectional kuantitatif Penelitian Ini Evaluasi implementasi proses pengadaan obat berdasarkan ECatalogue di Kota Denpasar tahun 2014 Untuk melakukan evaluasi pelaksanaan pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue di Kota Denpasar tahun 2014 Denpasar Deskriptif kualitatif Proses perencanaan dan proses Input .28 Tabel 2. Kepala Puskesmas. Puskesmas. Subbag Penyusunan RS. pemesanan dan perjanjian kontrak. Kepala pengadaan yang meliputi Bappeda Kesehatan Dinas Kesehatan. distribusi obat. Panitia di Puskesmas Pengadaan . 2. Kepala Bidang Pelayanan Pembuat Komitmen. realisasi obat dan hambatan dalam pelaksanaan Informan penelitian dibagi Informan penelitian Kepala Dinas Informan penelitian Pejabat menjadi 2. proses perencanaan. pelaksanaan pengadaan obat proses pelaksanaan hingga capaian berdasarkan E-Catalogue yang dilihat dari ketersediaan input.

Ketersediaan obat tidak efektif dan tidak efisien karena terjadi penumpukan stok obat Wawancara mendalam dan data sekunder Analisis tematik - . harga obat relatif menjadi lebih mahal frekuensinya kecil dan prosedurnya melewati beberapa tahapan baku.29 Metode pengumpulan data Analisis Data Hasil Wawancara observasi mendalam Content analysis dan Wawancara mendalam sekunder dan data Data disajikan dalam bentuk tabel dengan presentase Sistem pengadaan obat dari dana Stok obat yang tersedia cukup dan APBD waktunya lama.

43 th 2014 .. 2004) Keterangan .peningkatan pelayanan kesehatan yang ditunjang dengan ketersediaan obat dan perbekalan farmasi .Pejabat Pembuat Komitmen .proses realisasi obat berdasarkan pengadaan ECatalogue output ..proses distribusi obat berdasarkan pengadaan ECatalogue .distribusi obat ke Puskesmas yang sesuai PMK no.PMK no.BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL 3.: objek yang tidak diteliti : objek yang diteliti 30 ..jumlah obat yang terealisasi sesuai dengan kebutuhan Puskesmas outcome impact .perencanaan yang sesuai berdasarkan PMK no.1 Simple Logic Model Proses Pengadaan Obat Berdasarkan E-Catalogue (diadopsi dari Basic Logic Model W.juknis E-Catalogue Market : .Kepala Puskesmas .Petugas Pengelola Obat Puskesmas .dana APBD Materials: . 43 th 2014 .PBF Money PMK: no. 43 th 2014 .pemesanan dan perjanjian kontrak yang sesuai PMK no.1 Kerangka Konsep Input Man : .Puskesmas Kebijakan : .Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Gambar 3.K. Kellogg Foundation..proses perencanaan pengadaan obat berdasarkan ECatalogue .obat . 43 th 2014 proses . 43 th 2014 .dana DAK .proses pengajuan pemesanan dan perjanjian kontrak pengadaan obat berdasarkan ECatalogue .

Man b. Cara Ukur Wawancara mendalam. Sumber daya manusia yang harus dimiliki adalah Pejabat Pembuat Komitmen dari Dinas Kesehatan. data sekunder Data sekunder . pihak PBF dan petugas penanggung jawab obat dari Puskesmas yang berkompeten dan memahami teknis pelaksanaan pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue Merupakan ketersediaan keuangan yang menunjang proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue. input tersebut meliputi ketersediaan man. materials dan market. Materials Definisi Operasional Terkait dengan sumber daya yang menunjang proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue yang dilihat dari konsep 6M. Merupakan ketersediaan sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam proses proses pengadaan obat berdasarkan ECatalogue. data sekunder Alat Ukur Pedoman wawancara Wawancara mendalam Pedoman wawancara Wawancara mendalam.2 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Tabel 3. Dalam hal ini obyek untuk melakukan suatu pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue adalah juknis E-Catalogue dan juga obat yang merupakan obyek utama selama proses pengadaan obat. Money c. Ketersediaan input yang menunjang proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue a.1 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional No Variabel Penelitian 1.31 3. Keuangan untuk pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue berasal dari dana APBD dan DAK Merupakan obyek yang digunakan sebagai sarana yang digunakan oleh sumber daya untuk mencapai tujuan. money.

Kebijakan 2. Data sekunder Pedoman wawancara Wawancara mendalam. Proses perencanaan pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue 3. Data sekunder Pedoman wawancara Wawancara mendalam Pedoman wawancara Wawancara mendalam. Proses distribusi obat ke Puskesmas 5. Proses perencanaan kebutuhan obat yang dilakukan oleh setiap Puskesmas yang kemudian diajukan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota Proses pemesanan obat yang dilakukan oleh PPK dan Pokja ULP/ Pejabat Pengadaan. Cakupan realisasi obat berdasarkan pengadaan E-Catalogue Puskesmas merupakan sasaran dari proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue untuk menunjang segala kebutuhan obat Puskesmas Peraturan Menteri Kesehatan No.32 d. 63 tahun 2014 merupakan aturan yang digunakan sebagai pedoman dalam pelaksanaan pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue. Proses pengajuan pemesanan dan perjanjian kontrak pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue 4. data sekunder Pedoman wawancara . Market e. Perjanjian kontrak yang kemudian dilakukan perjanjian/ kontrak jual beli terhadap obat yang telah disetujui dengan distributor/ PBF yang ditunjuk penyedia obat/ industri farmasi Merupakan proses pendistribusian obat kepada Puskesmas yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan melalui UPT Pengawasan Makanan dan Farmasi yang disesuaikan dengan perencanaan dan pengajuan kebutuhan obat dari Puskesmas untuk menjaga ketersediaan obat di Puskesmas Berupa jumlah obat yang dapat direalisasikan baik di Dinas Kesehatan maupun di Puskesmas berdasarkan pengadaan E-Catalogue yang telah ditetapkan berdasarkan perjanjian kontrak jual beli dengan pihak distributor/ PDF Wawancara mendalam Pedoman wawancara Data sekunder Wawancara mendalam.

Faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue Faktor – faktor yang menghambat dan mendukung selama proses pelaksanaan pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue baik dari tahap perencanaan hingga realisasi obat Wawancara mendalam Pedoman wawancara .33 6.

2 Peran Peneliti Pada penelitian kualitatif metode penelitian yang digunakan berdasarkan kondisi objek secara alamiah dimana peneliti berperan sebagai instrumen kunci dalam penelitian (Sugiyono. Rancangan evaluasi audit merupakan rancangan evaluasi untuk mengevaluasi proses pelaksanaan dari suatu program. 2009). Aspek yang diteliti dalam penelitian adalah ketersediaan input. 63 Tahun 2014. Evaluasi dilakukan dengan membandingkan capaian program dengan standar (Ovretveit.1 Karakteristik Penelitian Penelitian ini menggunakan rancangan observasional deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang berupa penelitian evaluasi dengan rancangan audit untuk melihat implementasi pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue di Kota Denpasar pada tahun 2015 yang dibandingkan dengan standar pelaksanaan pengadaan obat dengan ECatalogue berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 63 tahun 2014. Pada penelitian ini peneliti hanya meneliti tentang proses dari pelaksanaan pengadaan E-Catalogue di Kota Denpasar tahun 2014 untuk melihat kesesuaian implementasi dari kebijakan tersebut yang dibandingkan dengan standar dari Peraturan Menteri Kesehatan No. proses sampai output. Peneliti berperan sebagai pewawancara 34 . 4. 2002).BAB IV METODE PENELITIAN 4.

Pemilihan berdasarkan jumlah kunjungan didasarkan asumsi bahwa tingginya kunjungan di Puskesmas menyebabkan tingginya jumlah kebutuhan obat.1 Pengumpulan Data Primer Pada penelitian kualitatif teknik pengumpulan data dilakukan dengan analisa dokumen dan wawancara mendalam (Moleong. begitu juga sebaliknya. Kemudian peneliti melakukan analisa data dan melakukan penarikan kesimpulan.3 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilakukan di Dinas Kesehatan Kota Denpasar serta empat Puskesmas di Kota Denpasar yang dipilih secara purposive yang terdiri dari dua Puskesmas dengan jumlah kunjungan tertinggi dan dua Puskesmas dengan jumlah kunjungan terendah. Penelitian dilakukan selama 3 bulan yang dimulai dari Bulan Maret – Mei tahun 2015. 4.35 yang dilakukan sesuai dengan pedoman wawancara yang telah ditetapkan. 2007). Purposive sampling merupakan cara pemilihan informan berdasarkan pada pertimbangan subyektif peneliti yang dianggap dapat memberikan informasi yang memadai untuk menjawab pertanyaan penelitian (Sastroasmoro. Kesesuaian berarti pemilihan informan yang dilakukan atas dasar pengetahuan yang memadai terkait dengan topik penelitian yang dilihat dari situasi masalah dalam penelitian.4 Strategi Pengumpulan Data 4. 2002). Sementara kecukupan berarti informan yang dipilih dapat menggambarkan keseluruhan masalah dalam penelitian tanpa memperhatikan ukuran . Pemilihan informan juga dilakukan dengan asas kesesuaian dan asas kecukupan. 4.4. Cara pemilihan informan dalam penelitian ini dilakukan secara purposive.

Data sekunder ini nantinya akan berbentuk data kuantitatif yang juga menunjang hasil dari penelitian. Pengumpulan data sekunder terdiri dari : 1. Kepala Seksi Pelayanan Perijinan dan Perbekalan Kesehatan Bidang Bina Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Denpasar selaku Pejabat Pembuat Komitmen 2. 1991). Empat petugas pengelola obat dari setiap Puskesmas yang terpilih sebagai informan selaku penanggung jawab obat Puskesmas 4. Jumlah realisasi kebutuhan obat di setiap Puskesmas yang terpilih menjadi informan .36 sampel yang digunakan (Notoatmodjo. Jumlah kebutuhan obat dari Puskesmas yang terpilih menjadi informan 2.2 Pengumpulan Data Sekunder Selain pengumpulan data secara primer. Pengumpulan data primer dilakukan dengan teknik wawancara mendalam kepada pihak yang telah ditentukan oleh peneliti sebagai informan dalam penelitian. Adapun informan dalam penelitian ini adalah : 1. juga dilakukan pengumpulan data sekunder yang berasal dari studi dokumentasi terkait.4. Staf Seksi Pelayanan Perijinan dan Perbekalan Kesehatan Bidang Yankes Dinas Kesehatan Kota Denpasar selaku Petugas Pengelola Obat di Dinas Kesehatan Kota Denpasar 3. Pada penelitian ini sudah sesuai dengan asas kesesuaian dan asas kecukupan. Empat Kepala Puskesmas yang terpilih sebagai informan selaku Penanggung Jawab Puskesmas 4.

37

4.5

Analisa Data
Analisis data kualitatif merupakan proses mencari dan menyusun secara

sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan cara menggorganisasikan
data ke dalam kategori, menjabarkan berdasarkan unit, kemudian memilah data dan
kemudian menarik kesimpulan agar dapat dipahami oleh pembaca (Hartono, 2012). Pada
penelitian ini analisa data dilakukan secara tematik. Analisis data tematik merupakan
suatu proses mengkode informasi yang dapat menghasilkan daftar tema, model tema atau
indikator yang kompleks.

Menurut Poerwandari (2005) langkah – langkah dalam

melakukan analisis data tematik yaitu:
1. Familiarisasi data dengan mendengarkan hasil wawancara
2. Transkripsi yaitu mengubah hasil wawancara yang berbentuk suara menjadi
suatu tulisan yang bersifat narasi
3. Coding yaitu membaca hasil transkrip tersebut lalu menganalisis tema – tema
yang muncul dari hasil wawancara dan memberikan kode khusus dari setiap
tema
4. Melakukan analisa secara deduktif yaitu menggolongkan hasil coding ke
dalam kategori – kategori tema yang telah ditetapkan sebelumnya tanpa
menutup kemungkinan munculnya kategori tema baru yang terkait dengan
penelitian.
Sementara untuk data yang berbentuk angka yang didapatkan dari hasil data
sekunder akan diasjikan dalam secara deskriptif dan juga disajikan langsung dalam
jumlah absolutnya.

38

4.6

Strategi Validasi Data
Untuk menguji keabsahan data dalam penelitian biasanya dilakukan uji validitas

dan uji realibilitas terhadap hasil penelitian, namun pada penelitian kualitatif lebih
menekankan kepada uji validitas (Hartono, 2012). Pada penelitian ini uji validitas data
dilakukan dengan cara triangulasi sumber. Triangulasi sumber dilakukan dengan
menyesuaikan data hasil penelitian yang diperoleh dari hasil wawancara mendalam
kepada Pejabat Pembuat Komitmen beserta staf, Kepala Puskesmas dan penanggung
jawab atau pemegang program pengadaan obat di Puskesmas.

BAB V
HASIL

5.1

Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Luas wilayah Kota Denpasar sebesar 12.778 Ha atau 2,18 persen dari luas

wilayah Propinsi Bali. Kota Denpasar memiliki empat Kecamatan yaitu Kecamatan
Denpasar Barat, Denpasar Timur, Denpasar Utara dan Denpasar Selatan. Pemerintahan
Kota Denpasar secara administratif terdiri dari empat Kecamatan dan 43 Desa/Kelurahan.
Dari 43 Desa/ Kelurahan yang ada 16 buah berstatus Kelurahan dan 27 berstatus Desa.
Jumlah penduduk Kota Denpasar pada tahun 2013 berjumlah 850.600 jiwa yang
terdiri dari penduduk laki-laki sebanyak 434.400 jiwa dan penduduk perempuan
sebanyak 416.200 jiwa. Kepadatan masyarakat Kota Denpasar tidak merata dengan
kepadatan rata – rata 6.657 jiwa/km2. Wilayah dengan kepadatan paling tinggi adalah
Kecamatan Denpasar Barat yaitu 10.249

jiwa/km2 dan kepadatan paling rendah di

Kecamatan Denpasar Selatan yaitu 5.359

jiwa/km2 (Dinkes Kota Denpasar, 2014).

Jumlah penduduk Kota Denpasar yang tercover oleh JKN adalah 681.279 jiwa atau
42,5% dari total keseluruhan peserta di Propinsi Bali. Uraian peserta JKN di Kota
Denpasar yaitu jumlah peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) sebanyak 241.868 jiwa atau
35% dan jumlah peserta non PBI sebanyak 439.411 jiwa atau 64,5% (BPJS Regio IX,
2014).

39

Kecamatan Denpasar Utara memiliki tiga Puskesmas diantaranya Puskesmas I.40 Dalam menjalankan berbagai program kesehatan di Kota Denpasar guna menunjang tercapainya derajat kesehatan di Denpasar. Hal tersebut disebabkan karena perbedaan jumlah penduduk dan ketidakmerataan kepadatan penduduk di Kota Denpasar. . II dan III Denpasar Utara. Jumlah kunjungan Puskesmas di Kota Denpasar bervariasi di setiap Kecamatan. Sementara untuk jumlah Posyandu yang dimiliki oleh Puskesmas Kota Denpasar berjumlah 485 Posyandu. II. Berikut adalah jumlah kunjungan ke Puskesmas di Kota Denpasar pada tahun 2014. Denpasar Timur memiliki dua Puskesmas diantaranya Puskesmas I dan II Denpasar Timur. Denpasar Selatan dengan jumlah penduduk paling padat memiliki empat Puskesmas yaitu Puskesmas I. Dalam membantu pekerjaan Puskesmas di setiap wilayah kerjanya agar lebih efektif. Puskesmas di Kota Denpasar memiliki 25 Puskesmas Pembantu (Pustu) yang tersebar di setiap Kecamatan Kota Denpasar. III dan IV Denpasar Selatan. Sementara Kecamatan Denpasar Barat memiliki dua Puskesmas yaitu Puskesmas I dan II Denpasar Barat. Dinas Kesehatan Kota Denpasar memiliki 11 Puskesmas selaku Unit Pelaksana Teknis yang tersebar di seluruh Kecamatan Wilayah Kota Denpasar. Terdapat beberapa Puskesmas dengan kunjungan yang relatif tinggi dan Puskesmas dengan kunjungan yang relatif rendah dalam satu tahun.

287 30.298 36.412 43.300 dan Puskesmas II Denpasar Barat dengan jumlah kunjungan 51.559 40.607 2. Sementara dua Puskesmas dengan jumlah kunjungan terendah berada pada Puskesmas III Denpasar Selatan dengan jumlah kunjungan 21.559 2. III.051.442 3. Dari data tersebut maka dapat dipilih informan penelitian yang berasal dari Puskesmas I.567 pada tahun 2014. Puskesmas selaku Unit Pelaksana Teknis dari Dinas Kesehatan merupakan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama pada era JKN.41 Tabel 5. Salah satu perubahan yang terjadi di Puskesmas semenjak era JKN adalah perubahan manajemen logistik khususnya manajemen .051 38.528 21.240 dan Puskesmas I Denpasar Selatan dengan jumlah kunjungan 28.047 3.284 3.338 3.1 Jumlah Kunjungan Puskesmas di Kota Denpasar Tahun 2014 Nama Puskesmas Jumlah Kunjungan Rata-rata Perbulan 1 Pusk I Denpasar Utara 2 Pusk II Denpasar Utara 3 Pusk III Denpasar Utara 4 Pusk I Denpasar Timur 5 Pusk II Denpasar Timur 6 Pusk I Denpasar Selatan 7 Pusk II Denpasar Selatan 8 Pusk III Denpasar Selatan 9 Pusk IV Denpasar Selatan 10 Pusk I Denpasar Barat 11 Pusk II Denpasar Barat Jumlah/Total 36.300 37.172 51.211 1. banyak terjadi perubahan dalam hal pelayanan kesehatan di Puskesmas. dua jumlah kunjungan tertinggi di Puskesmas berada pada Puskesmas IV Denpasar Selatan dengan jumlah kunjungan 65.770 5. IV Denpasar Selatan serta Puskesmas II Denpasar Barat yang terdiri dari Kepala Puskesmas dan petugas penanggung jawab obat di Puskesmas.350 3.567 432.199 39.1 di atas.240 65.098 4. Semenjak diberlakukannya Sistem Jaminan Sosial Nasional.713 28.028 3.004 No Sumber: Dinas Kesehatan Kota Denpasar (2014) Berdasarkan tabel 5.

Setelah beberapa surat dan rekomendasi penelitian diberikan maka peneliti langsung mengirimkan surat ke Puskesmas yang menjadi informan dalam penelitian sambil memperkenalkan diri dan kemudian mulai membuat janji untuk melakukan wawancara mendalam kepada petugas pengelola obat dan Kepala Puskesmas. sementara untuk kebutuhan obat rutin di Puskesmas proses pengadaan berdasarkan E-Catalogue dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kota Denpasar. sementara di Puskesmas Kota Denpasar baru dilaksanakan pada tahun 2014. kemudian Kepala Puskesmas dilanjutkan dengan staf Dinas Kesehatan dan Kepala Seksi di Dinas Kesehatan. Semenjak diberlakukannya JKN proses pengelolaan obat khususnya mekanisme pengadaan obat telah diatur oleh Pemerintah Pusat. Dalam mengumpulkan data dengan melakukan wawancara mendalam peneliti berfokus mendahulukan informan yang bertugas sebagai pengelola obat di Puskesmas. . proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue telah dilaksanakan pada tahun 2013. Mekanisme pelaksanaan pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue di Puskesmas dilakukan dengan merencanakan kebutuhan obat yang masuk dalam daftar JKN.2 Riwayat Penelitian Penelitian dilakukan pada bulan April 2015 karena menunggu beberapa surat izin dan rekomendasi terkait dengan penelitian. 5. Pada tahun 2013 Kementerian Kesehatan RI mengeluarkan kebijakan mengenai pengadaan obat yang dilakukan berdasarkan katalog elektronik (E-Catalogue) yang wajib dilaksanakan oleh seluruh satuan kerja di bidang kesehatan termasuk Puskesmas dan Dinas Kesehatan.42 pengelolaan obat di Puskesmas. Dalam pelaksanaan di Dinas Kesehatan Kota Denpasar.

Sebelum memulai wawancara mendalam peneliti menjelaskan terlebih dahulu mengenai lembar informasi kepada informan yang terdiri dari latar belakang penelitian. Informan yang diwawancara sangat kooperatif dan mampu memberikan informasi yang jelas terkait dengan pertanyaan penelitian. namun karena keterbatasan waktu yang dimiliki oleh informan sehingga tidak bisa dilakukan wawancara mendalam secara langsung melainkan dilakukan dengan telepon dan e-mail. Namun hal tersebut tidak begitu berpengaruh terhadap kelengkapan informasi yang didapat karena informasi yang diperoleh dari informan yang berhasil diwawancara telah sesuai dengan asas kecukupan dan kesesuaian dalam mendukung kelengkapan data hasil wawancara.43 Dalam proses pelaksanaan penelitian peneliti menemui berbagai permasalahan terutama terkait dengan jadwal untuk bisa melakukan wawancara. Setelah itu informan menandatangani informed consent dan telah bersedia untuk direkam suaranya selama proses wawancara berlangsung. Wawancara dilakukan pada tanggal 22 April sampai 12 Mei 2015. Namun terdapat wawancara yang sempat terputus karena kesibukan informan sehingga wawancara dilanjutkan kembali saat informan sudah tidak ada kesibukan. Setelah wawancara mendalam berlangsung kepada seluruh informan peneliti masih ingin menggali beberapa informasi dari informan. sehingga informan penelitian jumlahnya berkurang dari yang ditetapkan di awal penelitian. tujuan penelitian. Wawancara mendalam dilakukan di pagi hari dan siang hari di saat informan sedang tidak ada kesibukan dan pada saat jam pelayanan sudah selesai. manfaat serta risiko yang dapat diterima oleh informan. Secara keseluruhan proses wawancara mendalam berlangsung baik dan kondusif dengan rentang waktu 29 menit sampai 44 menit. Proses tersebut sangat membantu peneliti dalam .

Informan terdiri dari enam orang perempuan dan satu orang laki .3 Karakteristik Informan Informan pada penelitian ini berjumlah tujuh orang.4. Petugas pengelola obat di Puskesmas (tiga orang) 2. Kepala Seksi Pelayanan Perijinan dan Perbekalan Kesehatan Bidang Yankes Dinkes Kota Denpasar (satu orang). Ketersediaan sumber daya manusia (man) Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan di Puskesmas Kota Denpasar menunjukan beberapa Puskesmas masih kekurangan sumber daya manusia terkait dengan .4 Hasil Wawancara Penelitian 5.laki. Hal tersebut disebabkan karena kesibukan dan kegiatan dari pihak Puskesmas sehingga informan yang terpilih tujuh orang yang tetap dapat mewakili dan dapat memberikan informasi yang tepat dan memadai dalam penelitian. Kepala Puskesmas (dua orang) 3. 5. Berikut adalah jabatan dari informan penelitian : 1.beda.44 mencari informasi dan mengembangkan pertanyaan penelitian yang dirasa masih kurang saat wawancara berlangsung sebelumnya.1 Ketersediaan input dalam proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue 1. 5. Staf Seksi Pelayanan Perijinan dan Perbekalan Kesehatan Bidang Yankes Dinkes Kota Denpasar (satu orang) 4. Seluruh informan merupakan Pegawai Negeri Sipil dengan golongan yang berbeda . Usia informan berkisar antara 28 – 46 tahun.

Hal tersebut ditunjukan dengan tidak adanya staf yang khusus bertugas sebagai tim pengadaan E-Catalogue yang dibentuk di Puskesmas. Sementara di Puskesmas petugas yang ditunjuk adalah staf yang sudah memegang program dan bertugas di pelayanan sehingga menambah beban kerja dan diluar dari tupoksi mereka seharusnya” (Informan 05) Sementara di Dinas Kesehatan Kota Denpasar sumber daya manusia yang dimiliki juga masih terbatas karena proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue yang berpusat melalui Seksi Pelayanan Perijinan dan Perbekalan Kesehatan Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Denpasar. “Terkait dengan SDM disini masih kekurangan karena keterbatasan staf di seksi farmasi.45 proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue. walaupun pengadaan bisa dilakukan oleh seksi lain seperti seksi pelayanan kesehatan dasar namun tetap dirasa kurang karena kebutuhan obat rutin tetap diadakan oleh seksi farmasi. “Kalau berbicara masalah SDM di Puskesmas masih kekurangan sumber daya karena seharusnya dibentuk petugas khusus yang mengelola JKN khususnya pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue. Dengan ditunjuk sebagai tim pengadaan maka staf tersebut akan memiliki tugas tambahan. Tim pengadaan tersebut adalah staf atau petugas Puskesmas yang telah memegang program atau sudah memiliki tupoksi masing – masing. Selain itu SDM yang dimiliki juga tidak 100% memahami teknis pelaksanaan karena setiap tahun juknis E-Catalogue berubah”(Informan 06) . Pada Seksi Pelayanan Perijinan dan Perbekalan Kesehatan hanya satu staf yang memiliki tugas untuk mengurus perbekalan farmasi.

Tidak ditemukan permasalahan kekurangan dana terkait dengan proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue.46 Keterbatasan sumber daya manusia yang dimiliki oleh Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kota Denpasar dalam proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue menyebabkan pihak Dinas Kesehatan dan Puskesmas benar – benar harus memanfaatkan sumber daya yang ada agar benar – benar dapat memahami teknis pelaksanaan dari proses pengadaan tersebut. Dana pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue bersumber dari dana JKN dan dana APBD. Sehingga sangat diperlukan staf yang berkompeten khususnya dibidang IT yang akan sangat menunjang keberhasilan dalam proses pelaksanaan”(Informan 04) 2. “Dana yang tersedia dirasa telah mencukupi karena terdapat dua sumber pendanaan yaitu dari dana JKN yang langsung diserahkan kepada Puskesmas dan dana APBD Kota Denpasar” (Informan 01) . apalagi petugas dengan pengalaman yang sedikit jadi masih meraba – raba dalam menjalankan ini. Kepala Puskesmas saja masih harus banyak melalui pelatihan agar benar – benar bisa memahami teknis ini. Ketersediaan dana (money) Berdasarkan hasil wawancara mendalam kepada informan di Puskesmas Kota Denpasar ketersediaan dana telah mencukupi dalam menunjang proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue. Dana yang bersumber dari dana JKN bersifat tetap sehingga jumlahnya sama setiap tahun sementara dana APBD Kota Denpasar bersifat fluktuatif setiap tahunnya. “Permasalahan yang terjadi di Puskesmas adalah kurangnya pehamanan dari staf yang ditunjuk sebagai tim pengadaan terkait dengan teknis E-Catalogue.

Berdasarkan PMK No. Sementara dana yang terus mengalir dan tidak mungkin juga setiap tahun Puskesmas membeli banyak obat yang kalau dibiarkan begitu akan menimbulkan penumpukan stok obat”(Informan 04) Sementara di Dinas Kesehatan Kota Denpasar ketersediaan dana dalam proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue berkurang dibandingkan dengan tahun pengadaan sebelumnya. Untuk pemeliharaan sistem itu ada dana dari APBD yang memang akan . “Dana kebetulan tahun ini telah dipangkas dari tahun sebelumnya jadi bisa dibilang kurang mencukupi tapi proses pengadaan tetap bisa dilakukan seperti biasa. “Dana JKN yang sekarang membuat Puskesmas dipusingkan dalam proses perencanaan karena kita bingung kita harus gunakan dana tersebut untuk membeli apa saja? Karena jika dana yang diberikan dibiarkan bisa menjadi endapan dan bisa menjadi temuan. Sementara untuk pemeliharaan sistem yang mendukung pelaksanaan proses pengadaan berdasarkan ECatalogue telah dianggarkan melalui dana APBD. 19 tahun 2014 tentang Penggunaan Dana JKN yang mengatur alokasi dana 40% untuk menunjang operasional dalam pelayanan kesehatan dan 60% digunakan untuk pembayaran jasa pelayanan. Permasalahan yang muncul adalah Puskesmas kebingungan untuk menggunakan 40% dana tersebut untuk memenuhi kebutuhan sarana di Puskesmas karena setiap tahun jumlah kebutuhan Puskesmas yang berbeda – beda.47 Permasalahan yang terjadi terkait dengan sistem pendanaan adalah dana JKN yang dialokasikan langsung ke Puskesmas oleh Pemerintah Pusat melalui Kemenkes harus digunakan oleh Puskesmas untuk memenuhi segala kebutuhan di Puskesmas. Namun pengurangan dana dari tahun sebelumnya tidak menimbulkan permasalahan dalam proses pengadaan obat.

Semenjak mulai diterapkannya kebijakan pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue pada tahun 2013 seluruh satuan kerja di bidang kesehatan meliputi Puskesmas dan Dinas Kesehatan wajib melaksanakan proses pengadaan obat melalui mekanisme E-Purchasing. Di Kota Denpasar sasaran dari proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue adalah Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kota Denpasar. Di Kota Denpasar proses pelaksanaan E-Catalogue telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan sejak tahun 2013. Sasaran (market) Seluruh satuan kerja di bidang kesehatan mulai dari pusat hingga daerah merupakan sasaran dari proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue. Kalau tahun ini juknisnya beda dari tahun lalu jadi sedikit bingung tapi secara umum sih masih sama teknis pelaksanaan pengadaannya” (Informan 06) 4. Tapi untuk Puskesmas di Kota Denpasar proses implementasi masih belum sempurna karena baru ada satu . sementara untuk Puskesmas baru dimulai pada tahun 2014. “Pada tahun pertama juknis datangnya terlambat sehingga benar – benar menghambat proses pengadaan.48 dialokasikan untuk sistem seperti komputer maupun jaringan internet” (Informan 07) 3. Perubahan juknis juga dapat menghambat selama proses pengadaan diimplementasikan. Ketersediaan bahan baku (materials) Petunjuk teknis (juknis) pelaksanaan merupakan material utama dalam menunjang proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue di Kota Denpasar. karena waktu itu belum ada tim jadi hanya bisa online terus untuk mendapatkan info dan berkoordinasi terus dengan kabid. Keterlambatan kedatangan juknis dapat menghambat proses pengadaan karena tim pengadaan kurang memahami teknis mengenai pengadaan yang masih bersifat baru.

sehingga hanya ada satu Puskesmas dari setiap Kecamatan yang memiliki user id dan bisa melakukan pemesanan online secara langsung. tim perencanaan dari Puskesmas harus online terlebih dahulu untuk memastikan apakah obat yang dibutuhkan oleh Puskesmas tercantum dalam daftar E-Catalogue yang diupload oleh LKPP. Kemudian disusun perencanaan kebutuhan obat berdasarkan pemakaian obat satu tahun yang diambil dari LPLPO (Lembar Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat) selama satu tahun. jadi cuma mereka yang bisa login karena sudah punya id. Mekanisme proses perencanaan kebutuhan obat yang akan diadakan dengan E-Catalogue disusun dengan RKO (Rencana Kebutuhan Obat) yang dibuat setahun sekali pada bulan Januari. Sistemnya Puskesmas non PPK yang merencanakan kemudian dikasi ke Puskesmas yang ditunjuk sebagai PPK di Kecamatan selanjutnya proses pengadaannya di Puskesmas yang PPK”(Informan 05) 5. Kebutuhan obat di Puskesmas dibedakan menjadi kebutuhan obat rutin dan kebutuhan obat JKN.2 Proses perencanaan pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue Proses perencanaan kebutuhan obat yang dilakukan oleh Puskesmas terkait dengan pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue dilakukan dengan mekanisme perencanaan yang lebih sistematis dan matang. untuk perencanaan kebutuhan obat rutin dilakukan oleh petugas gudang obat sementara untuk obat JKN dilakukan oleh tim pengadaan yang dibentuk oleh Puskesmas. Dalam proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue Puskesmas akan benar – benar mendapatkan jumlah dan . Saat melakukan perencanaan kebutuhan obat.4. “Di tiap Kecamatan hanya ada satu Puskesmas sebagai PPK.49 Puskesmas di setiap Kecamatan yang berperan sebagai PPK.

Jika di proses pengadaan secara manual Puskesmas mengajukan kebutuhan obat dalam satu tahun namun Puskesmas belum tentu mendapatkan seluruh obat dengan jumlah yang sama sesuai dengan yang direncanakan karena mekanisme distribusi obat ke Puskesmas diatur oleh Dinas Kesehatan. Untuk perencanaan di Dinas Kesehatan Kota Denpasar juga berbeda dibanding dengan perencanaan kebutuhan obat sebelumnya yang diadakan secara manual karena pengadaan dengan sistem ini transaksinya dilakukan dengan distributor nasional yang melayani seluruh Indonesia jadi untuk rencana kebutuhan obat . Dinas Kesehatan Kota Denpasar kemudian merekap seluruh jumlah kebutuhan obat Puskesmas dalam satu tahun kemudian mengajukan ke Dinas Kesehatan Propinsi Bali yang akan meneruskan ke Kementerian Kesehatan RI. Setelah memastikan kebutuhan obat tersebut tersedia maka Puskesmas akan menyerahkan LPLPO ke Dinas Kesehatan Kota Denpasar. Dinas Kesehatan akan memberikan obat jika Puskesmas benar – benar membutuhkan obat yang diajukan.50 jenis obat yang sesuai dengan apa yang direncanakan. kalau dulu hanya merencanakan kebutuhan obat dan tergantung Dinas yang mengalokasikan obat ke Puskesmas tapi dengan sistem JKN ini obat yang direncanakan oleh Puskesmas memang harus benar – benar yang dibutuhkan oleh Puskesmas dan obat pasti akan datang” (Informan 02) Semenjak era JKN Puskesmas harus membuat suatu rencana kerja anggaran dalam satu tahun ke depan yang harus sesuai dengan kondisi dan kebutuhan Puskesmas. “Untuk proses perencanaan obat berdasarkan E-Catalogue sistemnya lebih rumit dan berbeda dari tahun sebelumnya.

51

tahun depan harus benar – benar direncanakan dengan matang agar pihak distributor
memiliki gambaran akan rencana kebutuhan obat di setiap daerah.
“Perencanaan kebutuhan obatnya berbeda karena sekarang kita jauh – jauh hari
sudah menyiapkan rencana kebutuhan obat ke Dinkes Provinsi yang diteruskan
ke Kemenkes kemudian dipilih distributor yang akan melaksanakan tender obat
tersebut. Perencanaan kebutuhan obat di Dinkes tetap dilakukan perseksi yang
kemudian diajukan melalui seksi farmasi tapi dengan sistem yang ini jadi lebih
ribet” (Informan 06)

5.4.3

Proses substitusi obat yang tidak tercantum dalam daftar E-Catalogue
Tidak semua obat generik yang dibutuhkan oleh Puskesmas tercantum dalam

daftar E-Catalogue yang di upload oleh LKPP. Ada beberapa jenis obat yang tidak
tercantum dalam daftar tersebut. Maka pada saat proses perencanaannya pihak dari
Puskesmas maupun Dinas Kesehatan juga merencanakan substitusi untuk obat yang tidak
tercantum dalam daftar E-Catalogue. Untuk sistem substitusi obat jika tidak tercantum
dalam daftar E-Catalogue dapat dilakukan melalui pengadaan langsung secara manual
dengan tetap mengikuti mekanisme seperti yang ditetapkan pada Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 63 Tahun 2014.
“Untuk obat yang tidak tercantum dalam daftar dapat diadakan secara manual
diluar E-Catalogue dengan menunjukan bukti bahwa dalam daftar E-Catalogue
obat yang dibutuhkan tidak tercantum” (Informan 01)

Selain beberapa jenis obat yang tidak tercantum dalam daftar E-Catalogue
ketersediaan stok obat juga sering mengalami kekosongan. Hal itu disebabkan karena
pihak penyedia yang tidak siap untuk menyediakan obat dengan stok yang banyak dan
dalam waktu yang singkat atau bahan baku untuk membuat obat yang telah habis. Hal itu

52

juga menyebabkan perlu dilakukan substitusi jenis obat yang dibutuhkan dalam proses
perencanaan kebutuhan obat sebelumnya.
“Kendala dari proses pengadaan ini adalah obat kadang muncul kadang hilang
dalam daftar. Hal tersebut disebabkan karena kekosongan stok obat/ kehabisan
bahan baku dalam produksinya. Tapi saat obat tersebut hilang standar harganya
masih tercantum jadi hal tersebut bisa digunakan untuk acuan dalam melakukan
pengadaan obat secara manual sebagai substitusi dari obat yang tidak ada dalam
daftar E-Catalogue” (Informan 04)

5.4.4

Proses pengajuan pemesanan dan perjanjian kontrak
Proses pengajuan pemesanan dan perjanjian kontrak dilakukan oleh Pejabat

Pembuat Komitmen dari Dinas Kesehatan Kota Denpasar. Prosesnya adalah tim dari
Dinas Kesehatan membuat kerangka acuan kegiatan sebagai dasar dalam melakukan
kegiatan, menyusun paket, membuat surat pengantar ke ULP, kemudian ULP bersama
dengan PPK melakukan proses pengadaan. Setelah diverifikasi oleh tim dari Sekretariat
Daerah kemudian dilakukan perjanjian kontrak dengan distributor obat yang telah
memenangkan tender. Dalam hal ini pihak dari Dinas Kesehatan Kota Denpasar tidak
bisa menentukan siapa rekanan yang diajak melakukan kerja sama karena pihak rekanan
telah dipilih oleh pusat yang telah memenangkan tender dari pengadaan obat tersebut.
“Untuk rekanan itu tidak bisa milih karena dari pusat telah menentukan pihak
penyedia mana yang memenangkan tender jadi dari kita hanya menerima
hasilnya saja, misal obat A yang disediakan oleh distributor A maka langsung
diajukan kontrak dan menunggu kedatangan obatnya, kalau seandainya terjadi
pelanggaran kontrak misal obatnya telat datang atau stoknya habis melapornya
ke LKPP”(Informan 07)

53

5.4.5

Proses distribusi obat ke Puskesmas
Proses distribusi obat dari Dinas Kesehatan Kota Denpasar menuju ke Puskesmas

dilakukan melalui Unit Pelaksana Teknis Pengawasan Makanan dan Farmasi Kota
Denpasar. Sebelum obat didistribusikan ke Puskesmas tim pemeriksa dari Dinas
Kesehatan melakukan beberapa proses agar dapat mendistribusikan obat dengan baik ke
Puskesmas. Proses pertama adalah saat obat datang dari pihak distributor, saat obat
datang obat langsung diperiksa oleh tim pemeriksa untuk memeriksa fisik obat, jenis
obat, tanggal kadaluarsa obat dan kesesuaian obat dengan yang ada di faktur. Setelah itu
tim pemeriksa bersama PPK harus membuat berita acara terkait dengan pemeriksaan, jika
telah dibuat berita acara tersebut maka obat baru bisa didistribusikan ke Puskesmas. Pada
proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue pernah terjadi kekosongan stok obat
namun tidak dalam jumlah yang besar. Kekosongan stok obat di gudang obat disebabkan
karena dari pihak distributor yang terlambat mengirimkan.
“Saat obat datang harus dicek dulu kelengkapannya dari jenis, jumlah dan ednya
kalau memang sesuai baru diambil dan disimpan. Kalau ada obat belum datang/
terlambat memang dari pihak distributornya yang bermasalah mungkin karena
kehabisan stok atau bahan baku obatnya habis. Respon dari setiap rekanan juga
berbeda – beda ya makanya obat tidak bisa datangnya bersamaan” (Informan
06)

Mekanisme pengambilan obat yang dilakukan Puskesmas adalah dengan
menyerahkan LPLPO kepada pihak dari gudang farmasi dan Dinkes kemudian dilakukan
pengecekan kembali terhadap obat, setelah sesuai baru obat bisa diambil oleh Puskesmas.
Proses pengambilan obat dari gudang farmasi dilakukan setiap dua bulan sekali, namun

kemudian pihak penyedia yang tidak memiliki banyak stok obat karena harus . Alur distribusinya ke setiap sub unit dengan LPLPO dari setiap sub unit yang diajukan setiap satu bulan sekali”(Informan 02) 5. Puskesmas Keliling. Pengambilannya dilakukan setiap dua bulan sekali tapi jika stok habis bisa diambil kapan saja asal tetap menyerahkan LPLPO dan telah disetujui. Poliklinik dan Apotek Puskesmas. “Pas obat datang di Puskesmas dicek oleh tim pemeriksa Puskesmas lalu obat akan disimpan dalam gudang.4. Unit – unit tersebut terdiri dari Puskesmas Pembantu. Dalam realisasi obat ditemukan berbagai kendala dimana kedatangan obat yang terlambat. Kalau obat yang dibutuhkan belum datang ya harus ditunggu” (Informan 03) Setelah obat didistribusikan ke Puskesmas maka gudang obat Puskesmas juga akan mendistribusikan obat ke setiap sub unit yang ada di Puskesmas.54 jika terjadi kekosongan obat tidak menutup kemungkinan untuk kembali meminta obat melalui mekanisme yang sama. Pengajuan permintaan kebutuhan obat dari setiap sub unit dilakukan setiap satu bulan sekali kepada gudang obat tapi jika stok habis tidak menutup kemungkinan jika pengajuan dilakukan sebelum satu bulan. “Kalau untuk distribusi obat tetap dilakukan dengan menyerahkan LPLPO kepada Dinas dan gudang farmasi baru obat bisa diambil. Setiap subunit dari Puskesmas untuk meminta obat juga harus menyerahkan LPLPO ke gudang obat.6 Cakupan realisasi obat Setelah obat yang diajukan didistribusikan oleh Dinas Kesehatan Kota Denpasar melalui UPT Pengawasan Makanan dan Farmasi Kota Denpasar kepada Puskesmas maka Puskesmas akan melakukan pemeriksaan terhadap obat yang telah berhasil terealisasi.

entah itu kesalahan dari pihak distributornya atau pihak LKPP yang salah upload di daftarnya. . Beberapa obat yang datang juga kadang tidak sesuai dengan obat yang tercantum dalam daftar yang diupload oleh LKPP sehingga realisasi obat masih ditemukan berbagai permasalahan. “Sebenarnya sistem JKN melalui E-Catalogue ini bagus. Jenis obat yang tidak terealisasi tersebut beragam. Berdasarkan hasil wawancara mendalam. Tapi selama ini ada beberapa obat yang datang terlambat mungkin karena banyaknya permintaan sama obat itu atau stoknya belum ada” (Informan 05) Permasalahan dalam realisasi obat baik di Puskesmas maupun di Dinas Kesehatan Kota Denpasar disebabkan karena pada saat sudah mengajukan pemesanan melalui ECatalogue kuota sudah habis atau produsen yang sudah tidak bisa memproduksi jenis obat yang sama karena sudah over kuota. Hal tersebut menyebabkan realisasi obat melalui proses pengadaan E-Catalogue tidak bisa terealisasi 100%. presentase obat yang tidak terealisasi sekitar 60% pada tahun 2014.55 melayani banyak konsumen. “Pada saat obat datang kan langsung dilakukan pemeriksaan oleh tim pemeriksa. Selain itu juga ada obat yang dekat dengan ed [expired date]” (Informan 07) Data sekunder dari Dinas Kesehatan Kota Denpasar terkait dengan cakupan realisasi obat di Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kota Denpasar menunjukkan bahwa 24 jenis obat tidak mampu direalisasikan oleh pihak distributor pada tahun 2014. pada saat pemeriksaan itu obat yang kita ajukan misalnya obat A 50gr tapi yang datang obat A 100gr. obat yang dibutuhkan langsung datang ke Puskesmas. Jumlah tersebut lebih besar dibandingkan dengan jumlah obat yang tidak terealisasi pada tahun 2013.

900 22 Papaverin tablet 40 mg 17. Tabel 5.650 20 Metformin HCl tablet 500 mg 97.700 7 Bisoprolol tablet 5 mg 200 8 Dekstrometorfan tablet 15 mg (HBr) 460.500 Sumber: Seksi Perbekalan Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Denpasar (2014) 5.4.200 21 Nistatin vaginal tablet 100.25 mg 700 11 Dimenhidrinat tablet 50 mg 2.000 IU/ g 5.2 Daftar Obat yang Tidak Terealisasi Tahun 2014 di Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kota Denpasar No Nama Obat Total (Satuan) 1 Alopurinol tablet 100 mg 25.600 13 Fenobarbital tablet 100 mg 5.100 10 Digoksin tablet 0.000 24 Prednison tablet 5 mg 128.650 6 Asam Folat tablet 1 mg 26.900 17 Kalium Diklofenak tablet 50 mg 9.5 mg 200 16 Hidroklorotiazida tablet 25 mg 6.56 Rincian jenis obat dan jumlah obat yang yang tidak terealisasi di Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kota Denpasar dapat dilihat pada tabel 5.2 di bawah.7 Faktor Pendukung dalam proses pelaksanaan pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue Dalam proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue terdapat faktor – faktor yang dapat mendukung dan juga dapat menghambat proses pelaksanannya. Faktor yang menjadi faktor pendukung dalam proses pelaksanaan kebijakan ini baik di Puskesmas .600 2 Aminofilin injeksi 24 mg/ml 5 3 Antifungi DOEN Kombinasi 504 4 Asam Asetilsalisilat tablet 100 mg (Asetosal) 1900 5 Asam Askorbat (Vitamin C) tablet 250 mg 31.000 19 Loratadin tablet 10 mg 16.300 14 Furosemid tablet 40 mg 500 15 Haloperidol tablet 0.600 9 Diazepam tablet 2 mg 19.400 23 Piridoksin (Vitamin B6)tablet 10 mg 118.200 12 Fenobarbital tablet 30 mg 23.850 18 Kalsium Lactat 500 mg 134.

Mudah – mudahan dengan dibentuknya tim ini proses pengadaan berdasarkan E-Catalogue mampu mengcover seluruh kebutuhan obat dari Puskesmas” (Informan 05) Selain telah dibentuknya tim pengadaan oleh setiap Puskesmas yang juga dapat menunjang implementasi kebijakan ini adalah sudah tersedianya akses internet dan perangkat komputer yang dimiliki oleh setiap Puskesmas di Kota Denpasar. Walaupun tim tersebut merupakan staf dengan tupoksi berbeda dan staf dengan rangkap jabatan tetapi petugas yang dipilih menjadi tim JKN tersebut memang memiliki kompeten dan telah diberikan sosialisasi maupun pelatihan.57 maupun di Dinas Kesehatan Kota Denpasar adalah telah dibentuknya tim khusus yang fokus untuk mengurus JKN yang menggunakan sistem E-Catalogue.4. pengadaan dan penerimaan sudah dihandel oleh orang – orang yang berkompeten.8 Faktor Penghambat dalam proses pelaksanaan pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue Selain faktor – faktor yang mendukung selama implementasi proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue juga terdapat beberapa faktor yang menghambat dalam . jadi dari proses perencanaan. “Faktor pendukungnya ya sudah dibentuknya tim JKN. sementara dana yang ada juga bisa digunakan untuk menambah perangkat jadi setiap petugas di tim bisa bekerja dengan lebih optimal” (Informan 03) 5. Selain itu ketersediaan dana yang besar juga menunjang setiap Puskesmas untuk mampu meningkatkan sarana dalam menunjang proses pengadaan. “Kalau disini sudah dilengkapi dengan akses internet dan didukung juga dengan perangkat komputer yang memadai jadi dapat menunjang selama proses pengadaan.

Kemudian sistem administrasi dari proses pengadaan ini yang dibuat secara sistematis sehingga menyebabkan proses pelaksanaan yang seharusnya menjadi mudah tapi terkesan menjadi lebih rumit.58 proses implementasi kebijakan tersebut. Faktor penghambat selama proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue adalah kerja sama yang dilakukan dengan banyak pihak dan banyak rekanan. “Mungkin yang jadi penghambat adalah kerja sama dengan banyak rekanan. Hal ini bisa saja menghambat proses pengadaan kalau mereka sedang sibuk dalam pelayanan atau sedang menjalankan sebuah program” (Informan 05) . kemudian respon rekanan yang beda – beda juga membuat setiap pengadaan kita tidak bisa datang bersamaan. Selain itu kalau kerja sama dengan satu rekanan kita bisa membuat banyak perjanjian kontrak karena administrasinya tidak bisa dibuat sekali” (Informan 06) Hal yang dapat dikategorikan sebagai faktor penghambat adalah tidak efektifnya tim pengadaan yang dibentuk oleh setiap Puskesmas terkait dengan pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue. Hal tersebut disebabkan karena tim pengadaan yang dibentuk dengan keterbatasan sumber daya manusia yang dimiliki oleh Puskesmas. tapi dari segi kuantitas mereka yang sebagai tim pengadaan adalah staf yang bertugas di pelayanan dan telah memiliki tupoksi sendiri sehingga mereka memiliki rangkap jabatan. Staf dan petugas Puskesmas yang ditunjuk sebagai tim pengadaan adalah staf yang telah memiliki tupoksi sebagai petugas di bidang pelayanan. “Dengan adanya tim pengadaan memang kerjanya bisa jadi lebih baik. sementara respon yang diberikan oleh setiap rekanan berbeda – beda.

Kalau sistem lagi rusak atau gangguan ya kita harus menunggu sampai sistem benar – benar kembali lagi baru bisa melihat obat apa saja yang sudah di upload. Selain itu juga obat yang kita butuhkan kadang tidak ada atau kadang kita kehabisan stok karena penyedia sudah over kuota” (Informan 07) 5.4. Sehingga masih perlu beberapa penyempurnaan dalam implementasi kebijakan pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue. Walaupun terdapat berbagai permasalahan di awal pelaksanaannya tapi hal tersebut bisa diatasi dengan melakukan berbagai pertemuan dengan pihak – pihak yang terkait dengan proses penyelenggaraan kebijakan ini. . Jika sistem dari pusat mengalami gangguan maka pihak di bawah harus menunggu sampai sistem sudah tidak gangguan baru bisa melakukan pengadaan. Tidak semua daerah bisa mendapatkan obat yang dibutuhkan karena pihak penyedia yang menaungi seluruh wilayah di Indonesia jadi kemungkinan akan kesulitan dalam melakukan produksi obat dalam jumlah yang besar.59 Faktor lain yang menjadi faktor penghambat dalam proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue adalah permasalahan sistem dari LKPP. Sistem yang cakupannya nasional ini juga menyebabkan terkendalanya kedatangan obat. Kebijakan pengadaan ini patut dipertahankan dan ditingkatkan karena kebijakan ini sangat baik dan dapat menunjang terciptanya derajat kesehatan masyarakat yang lebih baik dengan peningkatan pelayanan kesehatan di bidang logistik dan perbekalan kefarmasian.9 Sustainabilitas kebijakan pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue Kebijakan pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue masih terbilang baru diimplementasikan oleh seluruh Satuan Kerja di bidang Kesehatan baik di Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kota Denpasar.

Tapi dalam perjalanannya memang banyak terjadi masalah. mungkin karena baru jadi memang harus banyak penyempurnaan lagi.60 “Kebijakan ini amat sangat baik dan untuk maintenancenya memang perlu dilakukan suatu pemeliharaan yang baik. Pengadaan obat dengan sistem seperti ini membuat harga jadi lebih pasti sehingga tidak perlu susah – susah lagi untuk mencari harga termurah dan tidak perlu lagi mencari banyak pembanding. proses yang sesuai maka output yang diharapkan akan menciptakan outcome yang baik dan jika tercapai UHC di Indonesia kebijakan ini dapat menjadi suatu modal yang penting” (Informan 04) “Ya. Dengan ditunjang input yang baik. Mungkin kedepannya perlu banyak pelatihan lagi dan penyempurnaan di sistem pusat karena itu yang selama ini jadi kendala terberat dalam pelaksanaan” (Informan 07) . Banyak masalah yang penting bisa dicarikan solusi dan jalan keluarnya maka kebijakan ini akan sangat baik Kebijakan ini juga bersifat sangat terbuka jadi setiap masyarakat dapat ikut bersaing dalam hal tenderisasi. sistem ini sangat baik untuk dilanjutkan dan perlu disempurnakan.

Tanpa ada manusia tidak ada proses kerja.BAB VI PEMBAHASAN 6. Evaluasi dapat dilakukan untuk mengukur input. outcome hingga dampak dari suatu intervensi. Oleh karena itu. market dan machine (Muninjaya.1 Ketersediaan Input dalam Proses Pengadaan Obat Berdasarkan E-Catalogue Evaluasi dirancang untuk memberikan nilai pada suatu intervensi dengan mengumpulkan informasi yang valid dan reliable terhadap intervensi tersebut yang dilakukan secara sistematis (Ovretveit. market dan kebijakan. Hal tersebut tertuang dalam buku yang berjudul Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan dalam Persiapan Pelaksanaan JKN. 6. Pada era JKN diperlukan suatu perencanaan akan kebutuhan sumber daya manusia di bidang kesehatan. output. proses. money. money. 2011). 1998). Menurut Keputusan 61 . Dalam suatu organisasi manusia yang membuat tujuan dan manusia yang melakukan proses untuk mencapai tujuan. sebab pada dasarnya manusia adalah makhluk kerja. Untuk mengukur input dari suatu program atau kebijakan maka dapat dilihat dari konsep 6 M yang terdiri dari man. materials. method. materials.1 Ketersediaan sumber daya manusia Sumber daya manusia merupakan faktor penentu tercapainya suatu tujuan organisasi. 2004). Ketersediaan input yang menunjang dalam proses pengadaan obat berdasarkan ECatalogue di Kota Denpasar dapat dilihat dari faktor man. tercapainya tujuan organisasi disebabkan oleh kerja sama sumber daya manusia di dalamnya (Iskandar.1.

pelatihan. Sumber daya manusia yang bertugas dalam proses pengadaan obat berdasarkan ECatalogue di Kota Denpasar adalah tim pengadaan yang dibentuk oleh Puskesmas. pengertian SDM Kesehatan adalah tenaga kesehatan profesi termasuk tenaga kesehatan strategis dan tenaga kesehatan non profesi serta tenaga pendukung atau penunjang kesehatan yang terlibat serta bekerja mengabdikan dirinya seperti dalam upaya dan manajemen kesehatan. 857 Tahun 2009 tentang Pedoman Penilaian Kinerja SDM Kesehatan di Puskesmas. Ketersediaan SDM terkait dengan pengadaan obat berdasarkan ECatalogue dapat dilihat dari dua aspek yaitu dari kuantitas dan kualitas. Keterbatasan sumber daya di Puskesmas dari segi kuantitas menyebabkan penumpukan beban kerja yang dialami oleh petugas di Puskesmas. Dengan ditunjuk sebagai tim pengadaan maka staf tersebut akan memiliki tugas tambahan. petugas pengelola obat di Puskesmas.62 Menteri Kesehatan No. Tim pengadaan khusus yang dibentuk oleh setiap Puskesmas adalah staf dan petugas Puskesmas yang telah memegang program atau sudah memiliki tupoksi masing – masing. Dalam penelitian yang dilakukan Nopiyani (2014) menyebutkan bahwa keterbatasan sumber daya manusia di . Secara kuantitas jumlah sumber daya baik yang dimiliki Puskesmas maupun Dinas Kesehatan Kota Denpasar masih kurang terkait dengan proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue. Staf Dinkes beserta Pejabat Pembuat Komitmen. merencanakan distribusi SDM Kesehatan termasuk meningkatkan kompetensi SDM Kesehatan melalui pendidikan. 2013). pembinaan dan pengawasan untuk menunjang pelayanan kesehatan (Badan PPSDM Kesehatan RI. Perencanaan kebutuhan SDM Kesehatan pada era JKN sangat penting dilakukan untuk memberikan gambaran dan informasi bagi setiap pemangku kebijakan di daerah untuk dapat memperkirakan jumlah kebutuhan SDM Kesehatan. Kepala Puskesmas.

63 Puskesmas menyebabkan terjadinya beban kerja ganda dari setiap petugas. Hal tersebut dapat berdampak pada penurunan pelayanan kesehatan di Puskesmas. Dalam hasil penelitian tersebut 56. Namun SDM di Puskesmas dan Dinas Kesehatan masih belum 100% memahami tugas tambahan yang diberikan karena minimnya pelatihan dan pembinaan terkait dengan proses implementasi .6 % informan menyebutkan bahwa pemberian tugas tambahan diluar tupoksi menyebabkan terganggunya tugas pokok yang seharusnya dikerjakan. namun sistem rekrutmen sumber daya manusia di Puskesmas diatur oleh pihak Badan Kepegawaian Daerah sehingga Puskesmas tidak bisa langsung memenuhi kebutuhan sumber daya manusianya. Secara kualitas. sumber daya yang dimiliki oleh Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kota Denpasar sudah cukup memiliki kompetensi terkait dengan proses pengadaan namun pemahaman mengenai teknis masih kurang. 2013). Peningkatan dan pengembangan kualitas dari SDM Kesehatan yang dimiliki instansi kesehatan akan mampu menunjang tercapainya suatu pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien pada era JKN (Badan PPSDM Kesehatan RI. Pihak Puskesmas sebenarnya sudah melakukan perencanaan kebutuhan sumber daya. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Handayani (2009) menunjukkan bahwa cukup banyak petugas di Puskesmas yang melakukan tugas tambahan di samping tugas pokok. SDM Kesehatan yang dimiliki oleh Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kota Denpasar adalah SDM dengan keterampilan dan pendidikan yang sesuai dengan tugas yang diberikan yaitu dalam proses pengadaan obat berdasarkan ECatalogue. Hasil penelitian oleh Handayani (2009) menunjukkan bahwa kesesuaian keterampilan dan pendidikan yang dimiliki oleh petugas Puskesmas dengan tugas pokok dapat menunjang tercapainya pelayanan kesehatan yang efektif.

Sumber pendanaan pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue di Kota Denpasar berasal dari dua sumber. sementara secara kualitas sudah dirasa cukup namun masih perlu berbagai pelatihan dan pembinaan.2 Ketersediaan dana Biaya operasional merupakan keseluruhan biaya yang dibutuhkan dalam menyelenggarakan dan memanfaatkan pelayanan kesehatan masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat setinggi – tingginya dan memelihara kesehatan serta mencegah berbagai penyakit (Azwar. 2010). dana APBD Kota Denpasar dan dana Jaminan Kesehatan Nasional.1. Frekuensi . Jadi secara kuantitas ketersediaan sumber daya manusia terkait dengan proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue di Kota Denpasar dirasa masih kurang. Menurut Kepmenkes RI No. 6. jadi dana setiap tahun jumlahnya berbeda – beda. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Istinganah (2006) tentang Evaluasi Sistem Pengadaan Obat dari Dana APBD Pemerintah Propinsi DIY banyak ditemukan berbagai permasalahan terkait dengan ketersediaan dan efisiensi obat di Rumah Sakit.64 kebijakan tersebut. 128 Tahun 2004 tentang Kebijakan Dasar Puskesmas sumber pembiayaan di Puskesmas yang utama berasal dari Pemerintah Kabupaten atau Kota yang berupa dana APBD dan dana jaminan kesehatan. 2004). Untuk menyelenggarakan berbagai upaya kesehatan baik upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat yang menjadi fungsi utama dari Puskesmas maka perlu ditunjang dengan ketersediaan pendanaan yang mencukupi. Dana dari APBD Kota Denpasar yang diberikan kepada Puskesmas bersifat fluaktuatif setiap tahunnya. Puskesmas juga dapat menerima sumber dana dari Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat (Kemenkes RI.

28 Tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan JKN dibedakan berdasarkan dana kapitasi dan dana non kapitasi. Jika dana JKN dalam satu tahun tidak dihabiskan maka dana tersebut dapat menjadi dana endapan. Pengadaan obat di Kota Denpasar dengan dana yang bersumber dari APBD telah direncanakan dengan baik dan dilakukan dengan mekanisme yang sesuai sehingga untuk pengadaan obat dengan dana bersumber dari APBD tidak ditemukan permasalahan walaupun dana APBD yang bersifat tidak tetap. 19 tahun 2014 tentang Penggunaan Dana JKN yang mengatur alokasi dana 40% untuk menunjang operasional dalam pelayanan kesehatan dan 60% digunakan untuk pembayaran jasa pelayanan. Untuk dana pengadaan yang bersumber dari dana JKN menimbulkan permasalahan di Puskesmas karena dana dialokasikan langsung ke Puskesmas oleh Pemerintah Pusat melalui Kemenkes yang harus digunakan oleh Puskesmas untuk memenuhi segala kebutuhan di Puskesmas. Berdasarkan PMK No. Hal tersebut disebabkan karena dalam proses perencanaan kebutuhan obat tidak dilakukan dengan efektif dan efisien.65 pengadaan yang dilakukan dua kali dalam setahun dinilai masih kurang dalam menunjang ketersediaan obat. Untuk dana kapitasi jika ada sisa maka dana disetorkan ke . 2014). sementara banyak ditemukan penumpukan stok obat dan banyak obat yang sudah kadaluarsa. Mekanisme sisa penggunaan dana JKN di Puskesmas selaku FKTP yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No. Dana APBD Kota Denpasar yang bersifat fluktuatif menuntut pihak Puskesmas maupun Dinas Kesehatan Kota Denpasar untuk menentukan skala prioritas akan kebutuhan obat (Dinkes Kota Denpasar. Permasalahan yang muncul adalah Puskesmas kebingungan untuk menggunakan 40% dana tersebut untuk memenuhi kebutuhan sarana di Puskesmas karena setiap tahun jumlah kebutuhan Puskesmas yang berbeda – beda.

Pada prose pengadaan obat dengan E-Catalogue di Kota Denpasar objek utamanya adalah obat dan ditunjang dengan petunjuk teknis pelaksanaan pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue. sisa dana juga disetor ke kas daerah jika ingin digunakan kembali Pemerintah Daerah harus mengeluarkan aturan terkait dengan penggunaan dana tersebut (Kemenkes RI.3 Ketersediaan bahan baku Materials atau bahan baku merupakan suatu unsur yang merupakan objek yang digunakan sebagai sarana yang digunakan oleh sumber daya untuk mencapai tujuan (Satrianegara. (2011) petunjuk teknis merupakan aturan yang memuat hal – hal yang berkaitan dengan teknis kegiatan. Petunjuk teknis suatu kegiatan tidak hanya penting dalam menunjang proses . 2009). tidak menyangkut wewenang dan prosedur.66 kas daerah. 2014). Berdasarkan Petunjuk Penyelenggaraan Sistem Manajemen Kwartir No. Petunjuk teknis pelaksanaan suatu kegiatan biasanya dimuat dalam Surat Keputusan yang dibuat oleh pembuat kebijakan/ program atau pihak pemangku kebijakan. 6. namun dana JKN yang diberikan langsung ke Puskesmas masih perlu dikaji agar alokasi dana tersebut dapat dialihkan untuk hal yang diperlukan oleh setiap Puskesmas sehingga tidak terjadi penumpukan dana. Sementara untuk dana pemeliharaan terkait dengan sistem yang menunjang proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue di Kota Denpasar bersumber dari APBD Kota Denpasar. Sementara untuk dana non kapitasi. 162A. untuk dapat kembali menggunakan dana tersebut maka harus mengikuti aturan dan prosedur sesuai dengan yang tercantum dalam Pedoman Pelaksanaan JKN. Secara garis ketersediaan dana dalam proses pengadaan obat berdasarkan ECatalogue sudah mencukupi untuk menunjang segala proses pengadaan obat tersebut .1.

Sementara di tahun 2015 petunjuk teknis pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue sedikit mengalami perubahan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Ketidahpahaman sumber daya yang dimiliki mengenai teknis pelaksanaan BOK tersebut menyebabkan pelaksanaan suatu kebijakan menjadi formalitas saja. 48 Tahun 2013 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengadaan Obat Dengan Prosedur E-Purchasing Berdasarkan E-Catalogue Obat. Pelaksanaan pengadaan obat melalui ECatalogue di Kota Denpasar telah ditunjang dengan petunjuk teknis pelaksanaan. Petunjuk teknis pelaksanaan pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue juga sudah disebarkan ke seluruh satuan kerja di bidang kesehatan dan telah dilakukan sosialisasi mengenai juknis tersebut. Perubahan juknis setiap tahun menyebabkan ketidakpahaman SDM yang berdampak pada terhambatnya implementasi dari suatu kebijakan seperti pada penelitian yang dilakukan oleh Nurcahyani (2011) mengenai implementasi BOK di Kabupaten Bandung menyebutkan bahwa implementasi yang sesuai dengan pedoman pelaksanaan akan menunjang meningkatnya cakupan program lain. Petunjuk teknis pelaksanaan proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue telah diatur dan ditetapkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. Implementasi BOK di Kabupaten Bandung tidak berjalan dengan baik karena keterbatasan sumber daya manusia dan ketidakpahaman mengenai petunjuk pelaksanaan.67 pelaksanaan suatu kegiatan. Hal tersebut menyebabkan terkendalanya proses implementasi yang berdampak pada tidak tercapainya beberapa cakupan program di . namun di tahun pertama pada tahun 2013 petunjuk teknis tersebut datang terlambat sehingga proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue menjadi terhambat. tapi juknis juga dapat menunjang tercapainya tujuan dari suatu program.

Terdapat beberapa kebijakan terkait dengan pelaksanaan pelayanan kesehatan yang dilakukan di Puskesmas. namun perubahan juknis setiap tahunnya menyebabkan sedikit terhambatnya proses pengadaan karena perlu dilakukan sosialisasi kepada tim pengadaan agar memahami petunjuk teknis yang baru tersebut.1. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Nurcahyani (2011) menyebutkan bahwa keberhasilan implementasi suatu kebijakan di Puskesmas ditopang dari ketersediaan sumber daya yang mendukung dan menjalankan kebijakan sesuai dengan petunjuk teknis. Puskesmas sebagai Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama pada era JKN merupakan salah satu sasaran dari kebijakan yang diambil oleh Kementerian Kesehatan RI. Hasil penelitian tersebut menunjukkan kegagalan dari implementasi . 2011). Dalam proses implementasi suatu kebijakan terdapat tiga hal yang dapat menunjang keberhasilan suatu implementasi. Dalam proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue yang menjadi sasarannya adalah seluruh satuan kerja di bidang kesehatan yang meliputi Puskesmas dan Dinas Kesehatan. Di Kota Denpasar secara garis besar seluruh tim pengadaan yang melakukan pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue telah memiliki dan memahami terkait dengan petunjuk teknis yang diberikan. Dalam proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue. 2009).4 Sasaran Market atau pasar merupakan sasaran atau tempat dimana organisasi menyebarluaskan atau memasarkan produknya (Satrianegara. petunjuk teknis pelaksanaan merupakan suatu bahan yang akan sangat menunjang keberhasilan dari seluruh proses pengadaan. yaitu menentukan tujuan yang hendak dicapai dan menentukan sasaran yang spesifik (MIP UNY. 6.68 Puskesmas. Setiap kebijakan dibuat pasti memiliki sasaran untuk mencapai tujuan dari kebijakan tersebut.

Namun tidak seluruh Puskesmas dapat melakukan proses pelelangan/ pengadaan obat berdasarkan aplikasi E-Purchasing. sementara Puskesmas baru melakukan proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue pada tahun 2014. Hal lain yang berpengaruh dalam kegagalan implementasi kebijakan di Puskesmas selaku sasaran karena suatu kebijakan yang baru diimplementasikan sehingga masih perlu beberapa sosialisasi terkait dengan petunjuk teknis dan masih perlu beberapa penyempurnaan dalam proses implementasi kebijakan. Dinas Kesehatan dan Puskesmas di Kota Denpasar sebagai sasaran dari kebijakan pengadaan obat tersebut telah memiliki sumber daya dan petunjuk teknis dalam menunjang implementasi kebijakan. Di setiap Kecamatan hanya ada satu Puskesmas yang menjadi Pejabat Pembuat Komitmen sehingga setiap Puskesmas di masing – masing Kecamatan tetap melakukan seluruh proses mulai dari perencanaan hingga penerimaan namun yang bisa melakukan transaksi online baru satu Puskesmas di masing – masing Kecamatan. Pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue di Kota Denpasar telah dilaksanakan mulai tahun 2013 oleh Dinas Kesehatan Kota Denpasar. Sementara di Dinas Kesehatan semua jenis pengadaan obat yang dilakukan telah melalui aplikasi E-Purchasing.69 suatu kebijakan di Puskesmas selaku sasaran kebijakan karena keterbatasan sumber daya yang dimiliki Puskesmas. . Hal tersebut menunjukkan kebijakan pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue di Kota Denpasar belum dilaksanakan secara 100% di Puskesmas selaku sasaran dari kebijakan.

Proses perencanaan merupakan proses paling awal dalam manajemen yang dapat menentukan bagaimana pelaksanaan suatu program. meningkatkan efisiensi penggunaan obat dan meningkatkan penggunaan obat secara rasional. 2010). Jadi proses perencanaan merupakan suatu pedoman dalam mencapai tujuan secara efektif dan efisien (Muninjaya.2 Proses Perencanaan Pengadaan Obat Berdasarkan E-Catalogue Perencanaan merupakan salah satu proses paling penting dalam manajemen. karena dengan perencanaan akan menentukan fungsi manajemen lainnya terutama dalam pengambilan keputusan. selanjutnya dari bagian Farmasi dan Perbekalan Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota akan melakukan kompilasi dan analisa terhadap kebutuhan obat Puskesmas di wilayah kerjanya (Dirjen Binfar. 2004).70 6. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Yuliastini (2014) mengenai analisis perencanaan obat di RSUD Pahuwato menyebutkan bahwa ketidaktepatan dalam menentukan jenis obat dan kekosongan stok obat disebabkan karena lemahnya proses perencanaan kebutuhan obat di RS tersebut. Hal tersebut menunjukkan pentingnya proses . Fungsi perencanaan merupakan dasar dari seluruh fungsi manajemen lainnya. Proses perencanaan kebutuhan obat di Puskesmas merupakan proses kegiatan seleksi obat dan perbekalan kesehatan untuk menentukan jenis dan jumlah obat dalam rangka pemenuhan kebutuhan obat di Puskesmas (Dirjen Binfar. Proses perencanaan kebutuhan obat di Puskesmas bertujuan untuk mendapatkan perkiraan jumlah dan jenis obat yang sesuai dengan kebutuhan. 2010). setiap Puskesmas menyediakan data pemakaian obat dengan menggunakan Lembar Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO). Dalam proses perencanaan kebutuhan obat pertahun.

Setelah memastikan kebutuhan obat tersebut tersedia maka Puskesmas akan menyerahkan LPLPO ke Dinas Kesehatan. Sementara hasil penelitian yang dilakukan oleh Istinganah (2006) menunjukkan bahwa kegagalan dalam melakukan perencanaan kebutuhan obat dapat mengakibatkan kekosongan stok obat di Rumah Sakit.71 perencanaan kebutuhan obat dalam menunjang ketersediaan jumlah obat dalam pelayanan kesehatan. Namun saat melakukan perencanaan obat. Proses perencanaan dimulai dari menentukan jumlah kebutuhan obat di Puskesmas dalam satu tahun kemudian menyusun LPLPO yang diajukan ke Dinas Kesehatan Kota Denpasar. Pada fase awal pelaksanaan proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue di Kota Denpasar pada tahun 2014 seluruh Puskesmas di Kota Denpasar telah mengikuti seluruh prosedur proses pengadaan terutama dalam melakukan perencanaan kebutuhan obat. tim perencanaan dari Puskesmas harus online terlebih dahulu untuk memastikan apakah obat yang dibutuhkan oleh Puskesmas tercantum dalam daftar E-Catalogue yang diunggah oleh LKPP. Proses perencanaan obat yang dilakukan di Puskesmas setelah dikeluarkan kebijakan pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue menjadi lebih sistematis dibandingkan dengan pengadaan obat secara manual di tahun sebelumnya. Walaupun ditunjang dengan dana yang besar tapi proses perencanaan merupakan proses yang sangat menentukan dalam proses pemenuhan kebutuhan obat baik di Rumah Sakit maupun di Puskesmas. Proses perencanaan obat berdasarkan E-Catalogue di Puskesmas dilakukan dengan menyusun rencana kebutuhan obat di Puskesmas dalam satu tahun yang kemudian diajukan ke Dinas Kesehatan melalui LPLPO. Namun perbedaan yang terjadi dibandingkan dengan proses perencanaan sebelumnya saat pengadaan obat dilakukan secara manual adalah Puskesmas harus benar .

Dinas Kesehatan akan memberikan obat jika Puskesmas benar – benar membutuhkan obat yang diajukan. Hal itu disebabkan dengan alokasi dana JKN yang harus digunakan oleh Puskesmas 40% untuk menunjang sarana pelayanan termasuk untuk memenuhi kebutuhan obat. Puskesmas dengan kunjungan relatif rendah menemui permasalahan dalam merencanakan penggunaan alokasi dana tersebut karena kebutuhan obat mereka berbeda dengan kebutuhan obat dari Puskesmas dengan kunjungan yang tinggi sehingga diperlukan suatu proses perencanaan kebutuhan obat dengan matang agar tidak terjadi penumpukan stok obat. Proses perencanaan obat yang dibuat dengan sistematis memang sangat membantu dalam proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue. Namun dalam prosesnya Puskesmas mengalami berbagai kesulitan dalam proses perencanaan.3 Proses Substitusi Obat yang Tidak Tercantum dalam Daftar E-Catalogue Dalam melakukan suatu perencanaan diperlukan berbagai alternatif yang dapat digunakan apabila dalam proses pelaksanaan atau dalam proses perencanaan terdapat . 6. Hal tersebut disebabkan karena dalam proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue Puskesmas akan benar – benar mendapatkan jumlah dan jenis obat yang sesuai dengan apa yang direncanakan. Puskesmas dituntut untuk melakukan perencanaan secara matang – matang dalam memenuhi kebutuhan obat selama satu tahun.72 – benar menentukan dengan matang kebutuhan obat dalam satu tahun ke depan. Jika di proses pengadaan secara manual Puskesmas mengajukan kebutuhan obat dalam satu tahun namun Puskesmas belum tentu mendapatkan seluruh obat dengan jumlah yang sama sesuai dengan yang direncanakan karena mekanisme distribusi obat ke Puskesmas diatur oleh Dinas Kesehatan.

Dalam proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue beberapa obat generik yang dibutuhkan oleh Puskesmas tidak masuk dalam daftar katalog. Proses pengadaan obat dilakukan secara manual dengan tetap mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan No. Salah satu asas dalam perencanaan adalah asas alternatif. 63 Tahun 2013 tentang Pengadaan Obat Berdasarkan E-Catalogue telah diatur bagaimana melakukan pengadaan obat secara manual jika aplikasi sedang mengalami gangguan atau jika obat yang dibutuhkan Puskesmas tidak tercantum atau hilang dari daftar katalog. Dalam proses perencanaan kebutuhan obat. Pengadaan langsung secara manual dilakukan dengan mengikuti prosedur sesuai dengan petunjuk pelaksanaan E-Catalogue dengan menunjukan bukti bahwa obat memang benar tidak tercantum dalam daftar katalog dan menunjukkan .73 berbagai kendala. Dalam merencanakan kebutuhan akan obat di Puskesmas atau Rumah Sakit tidak semua obat yang dibutuhkan tersedia di pasaran sehingga sangat penting untuk merencakanan mekanisme substitusi jenis obat (Hartono. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 2003). yang merupakan penentuan dari alternatif kegiatan yang tidak bisa terlaksana dalam proses mencapai tujuan (Hasibuan. Maka dalam proses perencanaan sebelum dilakukan pengajuan kepada Dinas Kesehatan pihak Puskesmas harus benar – benar menyiapkan substitusi obat yang tidak masuk dalam daftar katalog. alternatif yang perlu diperhatikan adalah mekanisme substitusi jenis obat. Daftar jenis obat yang dibutuhkan oleh Puskesmas juga bisa hilang dari daftar karena kekosongan stok obat/ pihak produsen kehabisan bahan baku dalam membuat obat. 63 Tahun 2013. Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kota Denpasar telah melakukan beberapa substitusi obat yang tidak tercantum dalam daftar katalog. 2012).

Dalam hal ini kerja sama beberapa pihak diperlukan guna mencapai tujuan bersama. Kerja sama yang terjadi tidak hanya ada pada sektor swasta. Sementara untuk permasalahan yang terjadi terkait dengan kerja sama dengan pihak swasta yang memiliki banyak rekan kerja yaitu semakin luas wilayah kerja semakin besar juga kendala yang dihadapi. Pihak swasta yang terlibat kerja sama dan perjanjian kontrak yang paling mendukung suksesnya proses implementasi kebijakan . Beberapa pihak tersebut akan bekerja bersama secara efektif dalam menciptakan hubungan kemitraan yang baik dan tercapainya tujuan bersama. Menurut Sauwir (2013) diperlukan suatu kerja sama yang efektif dengan beberapa pihak yang memiliki tujuan yang sama. Hal tersebut menuntut pihak swasta untuk mampu mencakup seluruh mitranya di setiap daerah yang menyebabkan penurunan kualitas kerja sama terhadap pihak tersebut. 6. Proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue melibatkan pihak pemerintah dari pusat hingga daerah dengan pihak swasta. melainkan pemerintah daerah atau pusat pun sudah menciptakan berbagai kemitraan bersama dengan sektor swasta.74 standar harga yang akan digunakan sebagai acuan dalam melakukan pengadaan obat secara manual. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Sauwir (2013) tentang kerja sama Pemerintah Kota Surabaya dengan pihak swasta menyebutkan bahwa pemerintah daerah perlu melakukan suatu kerja sama dengan pihak swasta guna menunjang aset dan mengembangkan fasilitas pelayanan umum.4 Proses Pengajuan Pemesanan dan Perjanjian Kontrak Dalam melakukan suatu program atau kegiatan terdapat beberapa pihak yang akan terlibat dalam setiap proses berlangsungnya kegiatan tersebut.

63 Tahun 2013 tentang Pengadaan Obat Berdasarkan E-Catalogue. Sebelum diimplementasikan kebijakan pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue pemilihan rekanan/ pihak distributor bisa ditentukan langsung oleh Puskesmas. Setelah melakukan pemesanan maka akan ada perjanjian kontrak bersama dengan pihak distributor.75 tersebut adalah pihak distributor atau penyedia obat. Proses dimulai dari pengajuan kebutuhan obat oleh Puskesmas yang selanjutnya ditindak oleh PPK di setiap Kecamatan. Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (LKPP) selaku lembaga yang bertanggung jawab dalam proses pengadaan barang dan jasa pemerintah telah menentukan pihak distributor yang memenangkan tender dalam proses pengadaan. Sanksi bagi pelanggaran kontrak yang terjadi telah ditetapkan oleh LKPP selaku lembaga pemerintah yang bertanggung jawab selama proses pengadaan. Kemampuan pihak distributor dalam proses pengadaan merupakan ujung tombak terlaksananya seluruh proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue. Untuk perjanjian kontrak telah sesuai dengan petunjuk teknis dan mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan No. namun setelah implementasi pihak distributor ditentukan oleh Pemerintah Pusat. Proses pengajuan pemesanan dan perjanjian kontrak yang dilakukan oleh Pejabat Pembuat Komitmen beserta Pokja ULP di Kota Denpasar telah sesuai dengan ketentuan pelaksanaan yang diatur dalam petunjuk teknis pelaksanaan pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue. Kemudian Dinas Kesehatan Kota Denpasar membuat suatu kerangka acuan kegiatan yang diserahkan ke ULP setelah itu baru bisa melakukan pemesanan. Pihak dari Puskesmas maupun Dinas Kesehatan hanya dapat . Kerja sama dengan pihak distributor dimulai dari pengajuan pemesanan terhadap obat yang disiapkan oleh PBF selaku distributor.

H. 2014). Mekanisme pengambilan obat yang dilakukan Puskesmas adalah dengan menyerahkan LPLPO kepada pihak dari gudang farmasi dan Dinas Kesehatan kemudian dilakukan pengecekan kembali terhadap obat.2517 Tahun 2014 tentang Pedoman Teknis Cara Distribusi Obat Yang Baik (CDOB).11.1. setelah sesuai baru obat bisa diambil oleh . 2010).76 melaporkan pelanggaran kontrak yang terjadi kepada pihak LKPP yang selanjutnya akan ditindak oleh LKPP (Kementerian Kesehatan RI. 03. Pada penelitian yang dilakukan oleh Antonius (2012) tentang Implementasi Cara Distribusi Obat yang Baik pada Pedagang Besar Farmasi di Yogyakarta menunjukkan bahwa belum semua aspek CDOB dilakukan oleh PBF secara baik. 6. Proses distribusi merupakan proses yang sangat penting dalam menunjang ketersediaan kebutuhan obat di Puskesmas selaku FKTP pada era JKN.34. Pemerintah telah mengeluarkan aturan mengenai cara distribusi obat yang baik yang diatur dalam Peraturan Kepala BPOM No.12.5 Proses Distribusi Obat ke Puskesmas Proses distribusi obat ke Puskesmas merupakan kegiatan pengeluaran dan penyerahan obat secara merata dan teratur untuk memenuhi kebutuhan obat dari Puskesmas (Dirjen Binfar. Pada penelitian tersebut menunjukkan bahwa pihak PBF masih dinilai kurang layak dalam melakukan pendistribusian obat ke Puskesmas dalam menunjang ketersediaan kebutuhan obat di Puskesmas. terdapat PBF yang belum memiliki SOP. terdapat beberapa PBF yang belum memiliki struktur organisasi dan terdapat pihak PBF yang belum melakukan dokumentasi dan inspeksi. Terdapat beberapa penanggung jawab PBF yang belum mengikuti pelatihan CDOB.K.

Distribusi obat ke Puskesmas dilakukan melalui Unit Pelaksana Teknis Pengawasan Makanan dan Farmasi Kota Denpasar. Kekosongan stok obat di gudang obat disebabkan karena dari pihak distributor yang terlambat mengirimkan. Berdasarkan studi pustaka. Keterlambatan distribusi obat di Kota Denpasar tidak berdampak buruk pada ketersediaan obat di Puskesmas karena Dinas Kesehatan Kota Denpasar telah membagi kebutuhan obat ke Puskesmas berdasarkan skala kebutuhan prioritas. terdapat keterlambatan distribusi obat dalam proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue di Aceh dan Papua. 6.77 Puskesmas.6 Cakupan Realisasi Obat Cakupan realisasi obat merupakan jumlah obat yang diterima oleh Puskesmas maupun Dinas Kesehatan setelah melakukan pengadaan. Pada proses pengadaan obat berdasarkan ECatalogue pernah terjadi keterlambatan distribusi obat sehingga terjadi kekosongan stok obat namun tidak dalam jumlah yang besar. Proses pengambilan obat dari gudang farmasi dilakukan setiap dua bulan sekali. jadi tidak semua obat bisa datang tepat pada waktunya. Realisasi kebutuhan obat . Hal tersebut disebabkan karena respon dari setiap distributor yang berbeda – beda. namun jika terjadi kekosongan obat tidak menutup kemungkinan untuk kembali meminta obat melalui mekanisme yang sama. Keterlambatan distribusi obat dari distributor tidak hanya terjadi di Kota Denpasar. 2014). Proses distribusi obat dari Dinas Kesehatan Kota Denpasar menuju ke Puskesmas di Kota Denpasar telah sesuai dengan prosedur cara pendistribusian obat yang baik. Hal tersebut disebabkan karena pihak distributor yang tidak ingin dibebankan biaya pengiriman dalam mendistribusikan obat ke daerah (Alabaspos.com.

78 merupakan suatu proses yang menunjang ketersediaan obat di Puskesmas untuk memenuhi kebutuhan obat Puskesmas. Pihak yang ditunjuk sebagai produsen obat . dan permasalahan keterlambatan kedatangan obat. Hal tersebut disebabkan karena produsen obat yang melayani seluruh kebutuhan obat di instansi kesehatan yang mencakup nasional. Pada proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue di Kota Denpasar cakupan realisasi obat tidak mencapai 100% melainkan hanya 60%. Hal itu menunjukkan pada fase awal proses pengadaan obat berdasarkan ECatalogue cakupan realisasi obat menurun dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Maka perlu dilakukan suatu manajemen pengelolaan obat yang baik sehingga realisasi dari kebutuhan obat dapat bermanfaat dalam rangka menunjang kebutuhan jumlah obat (Hartono. Pada proses pengadaan obat yang dilakukan secara manual pada tahun 2012 cakupan realisasi obat lebih tinggi daripada setelah diimplementasikan kebijakan ECatalogue . Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Wirdah (2013) tentang Evaluasi Pengelolaan Obat di RSUD Karel Sadsuitubun Kabupaten Maluku Tenggara dan Strategi Perbaikan dengan Metode Hanlon menunjukkan bahwa permasalahan dalam pengadaan obat disebabkan karena proses pengadaan tidak dilakukan oleh tim farmasi rumah sakit melainkan panitia yang dibentuk oleh pemerintah. kemudian perlu dilakukan pengadaan langsung agar dapat menunjang ketersediaan obat jika terdapat obat yang tidak mampu terealisasi. 2012). Dalam manajemen pengelolaan logistik obat perlu dilakukan proses yang matang dari proses perencanaan hingga penerimaan. Permasalahan dalam realisasi obat baik di Puskesmas maupun di Dinas Kesehatan Kota Denpasar disebabkan karena pada saat sudah mengajukan pemesanan melalui E-Catalogue kuota sudah habis atau produsen yang sudah tidak bisa memproduksi jenis obat yang sama karena sudah over kuota.

Beberapa keunggulan lain dari sistem tersebut adalah ketersediaan informasi yang sangat lengkap dalam situs lelang tersebut dan pemantauan sistem yang dilakukan dengan baik oleh petugas. karakteristik agen pelaksana. Hal itu ditunjukkan dengan sistem registrasi online yang dilakukan dan dengan respon balasan yang cepat dari server pusat sehingga cepat saat mengakses cepat mendapatkan informasi saat melakukan akses informasi. kecenderungan sikap pelaksana. 6. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Sherlya (2012) tentang Evaluasi E-Procurement dalam Sistem Pengadaan Barang dan Jasa di Pemerintah Kota Surabaya menunjukkan hasil bahwa hal – hal yang menunjang implementasi dari kebijakan E-Procurement dalam sistem pengadaan barang dan jasa di Pemerintah Kota Surabaya adalah sistem yang sudah dikelola dengan baik. Faktor – faktor yang mempengaruhi kebijakan publik dapat dikelompokkan menjadi enam faktor yaitu ukuran dan tujuan kebijakan. 2004). Faktor – faktor tersebut dapat berupa faktor pendukung dan faktor penghambat dalam proses implementasi kebijakan. komunikasi antar organisasi pelaksana dan lingkungan (Agustino. Permasalahan lain yang muncul dalam realisasi obat adalah beberapa obat yang datang tidak sesuai dengan obat yang tercantum dalam daftar yang diunggah oleh LKPP. sumber daya. Hal tersebut menunjukkan ketersediaan sumber daya dari segi sumber daya .7 Faktor Pendukung dalam Proses Pengadaan Obat Berdasarkan E-Catalogue Dalam suatu kebijakan terdapat berbagai faktor yang berpengaruh terhadap kebijakan tersebut.79 tidak akan mampu melayani seluruh permintaan akan obat karena keterbatasan bahan baku yang dimiliki.

Faktor – faktor tersebut dapat berupa faktor pendukung dan faktor penghambat.8 Faktor Penghambat dalam Proses Pengadaan Obat Berdasarkan E- Catalogue Dalam proses implementasi suatu kebijakan banyak faktor yang dapat mempengaruhi proses implementasi kebijakan tersebut. Dalam proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue yang dapat dikategorikan sebagai faktor yang mendukung dari segi sumber daya adalah telah dibentuknya tim khusus yang fokus untuk mengurus JKN yang menggunakan sistem E-Catalogue. Ketersediaan dana yang besar juga menunjang setiap Puskesmas untuk mampu meningkatkan sarana dalam melakukan proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue di Kota Denpasar. pengajuan hingga penerimaan.80 manusia. sarana dan prasarana yang cukup menunjang proses implementasi EProcurement di Pemerintah Kota Surabaya. Dengan dibentuknya tim pengadaan khusus dari setiap Puskesmas di Kota Denpasar maka pelaksanaan pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue akan lebih efektif dan efisien sehingga mampu memenuhi kebutuhan obat di setiap Puskesmas. 6. Menurut Agustino (2004) terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi implementasi kebijakan yang bisa menunjang implementasi kebijakan maupun dapat menghambat proses implementasi. Dalam . Tim pengadaan tersebut merupakan tim yang khusus mengelola sistem pengadaan ECatalogue dimulai dari proses perencanaan. Selain telah dibentuknya tim pengadaan oleh setiap Puskesmas yang juga dapat menunjang implementasi kebijakan ini adalah sudah tersedianya akses internet dan perangkat komputer yang dimiliki oleh setiap Puskesmas di Kota Denpasar.

Kemudian sistem administrasi dari proses pengadaan ini yang dibuat secara sistematis sehingga menyebabkan proses pelaksanaan yang seharusnya menjadi mudah tapi terkesan menjadi lebih rumit. Hal yang dapat dikategorikan sebagai faktor penghambat adalah tidak efektifnya tim pengadaan yang dibentuk oleh setiap Puskesmas terkait dengan pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue. . Selain itu faktor penunjang kebijakan seperti petunjuk teknis dan kesiapan pihak – pihak yang terlibat dalam proses dapat menghambat proses implementasi karena petunjuk teknis dalam kebijakan BOK masih tidak jelas sementara untuk pihak – pihak yang terlibat dalam implementasi masih belum berperan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi yang seharusnya. Hal tersebut disebabkan karena tim pengadaan yang dibentuk dengan keterbatasan sumber daya manusia yang dimiliki oleh Puskesmas. Faktor lain yang menjadi faktor penghambat dalam proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue adalah permasalahan sistem dari LKPP. sementara respon yang diberikan oleh setiap rekanan berbeda – beda. Jika sistem dari pusat mengalami gangguan maka pihak di bawah harus menunggu sampai sistem sudah tidak gangguan baru bisa melakukan pengadaan. Faktor penghambat selama proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue di Kota Denpasar adalah kerja sama yang dilakukan dengan banyak pihak dan banyak rekanan. Staf dan petugas Puskesmas yang ditunjuk sebagai tim pengadaan adalah staf yang telah memiliki tupoksi sebagai petugas di bidang pelayanan. Sistem yang cakupannya nasional ini juga menyebabkan terkendalanya kedatangan obat.81 penelitian yang dilakukan oleh Nurcahyani (2011) tentang Implementasi Dana BOK di Kabupaten Bandung Barat menunjukkan faktor – faktor penghambat dalam proses implementasi suatu kebijakan dimulai dari faktor input yang akan mempengaruhi proses pelaksanaan kebijakan.

82 Tidak semua daerah bisa mendapatkan obat yang dibutuhkan karena pihak penyedia yang menaungi seluruh wilayah di Indonesia jadi kemungkinan akan kesulitan dalam melakukan produksi obat dalam jumlah yang besar. Sustainabilitas atau keberlanjutan dari suatu kebijakan publik sangat diharapkan dapat memberikan outcome bahkan impact yang merupakan tujuan dari suatu kebijakan (Sherlya. Dalam menunjang keberlangsungan kebijakan maka perlu dilakukan suatu implementasi kebijakan yang efektif dan efisien. Outcome dari kebijakan tersebut adalah telah berkurangnya kecurangan dalam pengadaan. memiliki teori kausal yang jelas.9 Sustainabilitas Kebijakan Pengadaan Obat Berdasarkan E-Catalogue Implementasi dari suatu kebijakan merupakan suatu proses melihat apa yang terjadi dengan hasil yang diharapkan (De Leon. pelaku kebijakan yang berkompeten dan terampil serta dukungan dari berbagai pihak yang menunjang keberlangsungan kebijakan. suatu proses implementasi yang terstruktur. proses pengadaan dan pelelangan menjadi lebih transparan. Menurut Sabatier dan Mazmanian (1979) untuk menunjang implementasi kebijakan yang efektif dan efisien maka perlu menentukan tujuan – tujuan yang konsisten secara logis dan jelas. Sehingga mampu memberikan impact menciptakan proses . 1999). 6. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Sherlya (2012) tentang Evaluasi EProcurement dalam Pengadaan Barang dan Jasa di Pemerintah Kota Surabaya menunjukkan bahwa kebijakan pengadaan barang dan jasa yang dilakukan dengan mekanisme online tersebut telah dapat memberikan dampak – dampak sesuai dengan tujuan implementasi dari kebijakan tersebut. 2012).

kemudian proses yang sesuai maka output yang diharapkan akan menciptakan outcome yang baik sehingga dampak baik dari kebijakan pengadaan obat berdasarkan ECatalogue akan dirasa dalam terciptanya pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien yang ditunjang dengan sistem yang baik dalam bidang perbekalan kefarmasian. bertanggung jawab efektif. adil. .83 pengadaan barang dan jasa di Pemerintah Kota Surabaya yang memiliki kriteria transparan. Dalam penelitian tersebut juga dijelaskan bahwa kebijakan harus dilanjutkan dan disempurnakan agar dapat mencapai impact yang diharapkan. Kebijakan pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue masih terbilang baru diimplementasikan oleh seluruh Satuan Kerja di bidang Kesehatan baik di Puskesmas maupun Dinas Kesehatan Kota Denpasar. Walaupun terdapat berbagai permasalahan di awal pelaksanaannya tapi hal tersebut bisa diatasi dengan melakukan berbagai pertemuan dengan pihak – pihak yang terkait dengan proses penyelenggaraan kebijakan ini. Dalam proses ke depan kebijakan ini akan sangat baik karena dapat melakukan suatu pengawasan yang baik terkait dengan permasalahan yang terjadi dari pusat sampai daerah. karena dengan sistem yang berlaku secara nasional akan menimbulkan transparansi dalam proses pengadaan. Kebijakan ini juga bersifat sangat terbuka jadi setiap masyarakat dapat ikut bersaing dalam hal tenderisasi. efisien dan berhati – hati dalam pelaksanaannya. Dengan ditunjang input yang baik. Kebijakan pengadaan ini patut dipertahankan dan disempurnakan karena kebijakan ini sangat baik dan dapat menunjang terciptanya derajat kesehatan masyarakat yang lebih baik dengan peningkatan pelayanan kesehatan di bidang logistik dan perbekalan kefarmasian.

Proses pengajuan pemesanan dan perjanjian kontrak yang dilakukan oleh Pejabat Pembuat Komitmen beserta Pokja ULP di Kota Denpasar telah sesuai dengan ketentuan pelaksanaan yang diatur dalam petunjuk teknis pelaksanaan pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue 84 . Secara kuantitas SDM yang menunjang proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue di Kota Denpasar masih kurang namun secara kualitas sudah mencukupi. Untuk sasaran masih belum mencakup 100% Puskesmas di Kota Denpasar yang melakukan pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue 2. bahan baku dan sasaran.1 Simpulan 1. Ketersediaan dana sudah mencukupi. dana. Proses perencanaan kebutuhan obat berdasarkan E-Catalogue sudah sesuai dengan PMK No. Ketersediaan input dalam proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue dilihat dari segi SDM. 63 Tahun 2013.BAB VII SIMPULAN DAN SARAN 7. Bahan baku yang berupa petunjuk teknis sudah dipahami namun petunjuk teknis mengalami perubahan setiap tahun. namun mekanisme perencanaan menjadi lebih sistematis sehingga diperlukan suatu perencanaan kebutuhan obat yang matang agar tidak terjadi penumpukan stok obat. 3.

sistem administrasi yang sistematis. Pada proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue di Kota Denpasar cakupan realisasi obat tidak mencapai 100% melainkan hanya 60%. . Pada proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue pernah terjadi keterlambatan distribusi obat sehingga terjadi kekosongan stok obat namun tidak dalam jumlah yang besar.85 4. Proses distribusi obat dari Dinas Kesehatan Kota Denpasar menuju ke Puskesmas di Kota Denpasar telah sesuai dengan prosedur cara pendistribusian obat yang baik. 5. Permasalahan dalam realisasi obat disebabkan karena pada saat sudah mengajukan pemesanan melalui E-Catalogue kuota sudah habis atau produsen yang sudah tidak bisa memproduksi jenis obat yang sama karena sudah over kuota. Sementara faktor penghambat selama proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue di Kota Denpasar adalah kerja sama yang dilakukan dengan banyak pihak dan banyak rekanan. Faktor yang mendukung proses pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue adalah telah dibentuknya tim pengadaan khusus di setiap Puskesmas. sudah tersedianya akses internet dan perangkat komputer yang dimiliki oleh setiap Puskesmas di Kota Denpasar dan ketersediaan dana yang besar. tidak efektifnya tim pengadaan di Puskesmas dan permasalahan gangguan sistem dari LKPP. 6.

4. 5. Dinas Kesehatan Kota Denpasar perlu melakukan beberapa sosialisasi dan pembinaan bagi setiap pihak yang terlibat dalam proses implementasi pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue di Kota Denpasar.2 Saran 1. .86 7. Pemerintah Pusat dalam memilih pihak PBF selaku distributor agar lebih selektif sehingga pihak distributor yang ditunjuk sebagai penyedia obat dapat melayani seluruh kebutuhan obat yang mencakup skala nasional. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan agar mencakup seluruh Puskesmas yang telah 100% melakukan pengadaan obat berdasarkan E-Catalogue agar dapat menguji efektifitas dan dampak dari kebijakan tersebut. Sebaiknya Puskesmas di Kota Denpasar dalam membentuk tim pengadaan memilih petugas yang tidak bertugas di pelayanan poliklinik dan staf yang tidak memegang program yang besar sehingga tidak memberikan beban kerja berlebih kepada petugas yang ditunjuk selaku tim pengadaan 3. Pemerintah Pusat sebaiknya meninjau kembali efektifitas penggunaan 40% alokasi dana JKN yang dianggarkan untuk memenuhi kebutuhan sarana termasuk untuk membeli kebutuhan obat karena kebutuhan obat setiap Puskesmas yang berbeda – beda sehingga Puskesmas dengan kunjungan relatif rendah akan bermasalah dalam menggunakan dana tersebut. 2.

Implementasi Cara Distribusi Obat yang Baik pada Pedagang Besar Farmasi di Yogyakarta. Direktorat Jenderal Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan. Athijah.html (Accesed : 2015. A. Perencanaan dan Pengadaan Obat di Puskesmas Surabaya Timur dan Selatan. Buse.DAFTAR PUSTAKA Agustino. F. Azwar. PT Hecca Metra Utama. (2012). Pedoman Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas. 56-60. U. A. Profil Dinas Kesehatan Kota Denpasar Tahun 2013. Antonius. Jakarta. Departemen Kesehatan RI (2007). K. Denpasar. 115-131. Jurnal Farmasi Indonesia. May 26). Alabaspos. Binarupa Aksara. (2010). Dinas Kesehatan Kota Denpasar (2014). et al. Open University Press. Denpasar. Jakarta. Bahfen. Jakarta. United Kingdom. Jurnal Farmasi Indonesia. Making Health Police. (2006). Kebijakan Menkes Soal E-Katalog Perlu Ditinjau Ulang.com/view/kebijakan-menkes-soal-e-katalog-perlu- ditinjau-ulang. Renstra Dinas Kesehatan Kota Denpasar Tahun 2010-2015. (second edition). (2008). (2010). 5(1): 15-23. Jakarta. CV Alfabeta. Available : http://alabaspos. 6(1): 48-54. Bandung : 140-144. (edisi pertama). Dinas Kesehatan Kota Denpasar (2014). Dasar – Dasar Kebijakan Publik. L. Peraturan dalam Produksi dan Peredaran Obat.com (2014). (2012). Pengantar Administrasi Kesehatan. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 87 .

N. May 18). (2012). An Introduction. (2006). Kellog. R. (edisi kedua). (2003). Evaluasi Pelaksanaan Program P2DBD di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Duren Sawit Jakarta Timur Tahun 2007. Depok.. Analisis Perencanaan Proses Kebutuhan Obat Publik untuk Pelayanan Kesehatan Dasar di Puskesmas se Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya. PT Toko Gunung Agung. Evaluasi Sistem Pengadaan Obat dari APBD tahun 2001 – 2003 terhadap Ketersediaan dan Efisiensi Obat.K. (2004.undip. 13(1) : 12-20. Available : http://eprints. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan. M. .org (Access ed : 2015. Iskandar. “Logicmodelguide” (Logic Model Development Guide). January 21) Kemenkes RI (1988). W. Hartono.. Skripsi FKM UI. 43/Menkes/SK/II/1988 tentang Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). Public Policy Analysis. Pengambilan Keputusan dan Pemecahan Masalah. January – last update).W. January 28). Keputusan Menteri Kesehatan RI No. Istinganah. Jakarta. Jakarta. J. Manajemen Sumber Daya Manusia. Available : http://wkkf.id (Accessed : 2015.edu/Ridwan-Iskandar-Pemecahan-Masalah/. Engelwood Cliff. L. Available : www. et al. Handayani. R. (1994). 9(1): 31-41. Hasibuan. (2008). Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Terjemahan dari Gajah Mada University Press. Ervina. (2011)./ (Accessed : 2015.ac. Peran Tenaga Kesehatan sebagai Pelaksana Pelayanan Kesehatan Puskesmas.88 Dunn.academia. (2009).

128 tahun 2004 tentang Kebijakan Dasar Puskesmas. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 19 Tahun 2014 tentang Penggunaan Dana Kapitasi JKN. 857/Menkes/SK/IX/2009 tentang Pedoman Penilaian Kinerja Sumber Daya Kesehatan di Puskesmas. Kemenkes RI (2010).131/Menkes/II/2004 tentang Sistem Kesehatan Nasional. 75 tahun 2004 tentang Puskesmas. Jakarta. Jakarta. Kemenkes RI (2004). Jakarta. . Peraturan Menteri Kesehatan No. Kemenkes RI (2014). Jakarta. Badan PPSDM Kemenkes RI. Jakarta. Kemenkes RI (2013). Jakarta. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. Jakarta.89 Kemenkes RI (2004). Peraturan Menteri Kesehatan RI No. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. Kemenkes RI (2014). 28 Tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan JKN. Jakarta.48 Tahun 2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Obat dengan Prosedur E-Purchasing Berdasarkan E-Catalogue. Jakarta : 4-6 Kemenkes RI (2013). Materi Pelatihan Manajemen Kefarmasian di Puskesmas. Direktorat Jenderal Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan dalam Persiapan Pelaksanaan JKN. Kemenkes RI (2004). Kemenkes RI (2009).

90 Kemenkes RI (2014). 162A Tahun 2011 tentang Petunjuk Penyelenggaraan Sistem Administrasi Kwartir. 1(1): 99-107. Faktor Penyebab dan Kerugian Akibat Stock Out dan Stagnant Obat di Unit Logistik RSU Haji Surabaya. (2014). A. Mangindra. Dalam : Presentasi MIP UMY. 1(1): 31-40.M. Surat Edaran NOMOR KF/MENKES/167/III/2014 tentang Pengadaan Obat Berdasarkan Katalog Elektronik (E-Catalogue). 63 Tahun 2014 tentang Pengadaan Obat berdasarkan Katalog Elektronik (E-Catalogue).S. D & Sabatier. C. Nopiyani. Metode Penelitian Kualitatif. (2002). R. PT Remaja Rosdakarya. Denpasar. (2001). Implementation and Public Policy . W. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia.. Mazmanian. Jakarta. J. L. P (1986). J. et al. . Implementasi Kebijakan Publik. (2004). Manajemen Kesehatan. (2012).G. Mellen. Jakarta : 220-234. Jakarta. Jurnal Administrasi Kesehatan Indonesia.A. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. Kwartir Nasional Gerakan Pramuka (2011). Analisis Pengelolaan Obat di Puskesmas Kampala Kecamatan Sinjai Timur Kabupaten Sinjai tahun 2011. & Pudjirahardjo. Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka N0. Jakarta. Moleong. Kemenkes RI (2014). Jurnal AKK. N. Muninjaya. (2013). Analisis Kapasitas Subsistem SDM Kesehatan untuk Implementasi Treatment as Prevention pada Pekerja Seks Perempuan di Propinsi Bali Menggunakan WISN dan Studi Kualitatif. Bandung.

Surabaya. (edisi kedua). Efektifitas Implementasi Pemerintah Kota Surabaya Melaksanakan Kerja Sama Sister City dengan Busan.W. Radcliffe Medical Press. Universitas Padjadjaran. R. Farmasi Rumah Sakit. Action Evaluation of Health Programmes and Changes: A handbook for a user focused approach. Kumari Press. Sauwir. et al. J. Ed. Universitas Pembangunan Nasional. Purwaningsih. (2004). Jakarta. Procurement... Oxon. (2013). Manajemen Farmasi Lingkup : Apotek. (2002). S. (second edition).D. Airlangga University Press. S.P.91 Nurcahyani. O’ Connor. Evaluasi Penerapan Peraturan Daerah Kabupaten Gunung Kidul Nomor 14/2000 terhadap Ketersediaan Obat di Puskesmas. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 70-76. Sagung Seto. Jawa Timur. Industri Farmasi. Jakarta.R. Seto. et al. (2003).. R. Ovretveit. Satrianegara. M. R. Fakultas Psikologi UI. Dasar Dasar Manajemen. J. 6(1): 29-34 Quick. Pedagang Besar Farmasi.S. Jakarta. . Edisi Pertama. Poerwandari (2005).R. (2009). Salemba Medika. (2002). Implementasi Kebijakan Bantuan Operasional Kesehatan di Kabupaten Bandung Barat Tahun 2011. 164-185 Sastroasmoro. USA. Rankin & J. Bandung. (2007). Dasar – Dasar Metode Penelitian Klinis. Managing Drug Supply. The Selection. Distribution and Use of Pharmaceutical. Pendekatan Kualitatif untuk Penelitian Manusia. (2011).

January 21). Studi Perencanaan dan Penyimpanan Obat di Instalasi Farmasi RSUD Pohuwato. Wirdah. Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro. Syair (2008). (2013). ISSN: 2339-2592 Yuliastini (2014). Pelaksanaan Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja.ung. Evaluasi E-Procurement dalam Sistem Pengadaan Barang dan Jasa di Pemerintah Kota Surabaya. Available : http://eprints. et al.id (Accessed : 2015. . Available : http://script. Evaluasi Pengelolaan Obat dan Strategi Perbaikan Dengan Metode Hanlon di Instalasi Farmasi RSUD Karel Sadsuitubun Kabupaten Maluku Tenggara Tahun 2012. May 22).com (Accessed : 2015. 2010. Penelitian Kualitatif. Prosiding Seminar Nasional Perkembangan Terkini Sains Farmasi dan Klinik.ac. W.92 Sherlya (2012). Dalam : Kusuma Jati Ibrahim. Semarang. Sugiyono (2009). Manajemen Pengelolaan Obat di Puskesmas Ahuhu Kabupaten Konawe Tahun 2008.