You are on page 1of 12

1

Daftar isi

Contents
KATA PENGANTAR....................................................................................................... 2
Bab 1 pendahuluan.................................................................................................... 3
BAB 2.......................................................................................................................... 4
BAGAIMANA LANGKAH-LANGKAH MENCAPAI MOKSA DENGAN BHAKTI MARGA YOGA 4
Faktor-Faktor yang mendorong pencapaian moksa dengan bhakti marga.................7
Faktor yang meghambat pencapaian moksa dengan bhakti marga.........................10
Upaya yang dilakukan untuk mencapai moksadengan bakti marga.........................11

KATA PENGANTAR

Om Swastyastu
Puja dan Puji Syukur saya panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa / Ida
Sang Hyang Widhi Wasa, karena atas Asung Kertha Wara NugrahanNya lah makalah
yang berjudul “mencapai moksa dengan catur marga “ ini dapat terselesaikan
tepat pada waktunya.
Saya menyadari bahwa isi makalah ini masih banyak kekuraangan, untuk itu
saya mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak.
Semoga makalah yang saya buat ini dapat bermamfaat dan berguna untuk
para pembaca.
Om Cantih, Cantih, Cantih Om

2

Denpasar ,

Bab 1 pendahuluan

I.

PENDAHULUAN

Di dalam agama Hindu dikenal adanya berbagai jalan untuk menghubungkan diri dengan
Tuhan Yang Maha Esa. Jalan atau cara itu bebas dipilih oleh umat-Nya sesuai dengan sifat
dan pembawaannya. Dalam kitab Bhagavad Gita Bab IV Sloka (11) disebutkan :
ye yatha mam prapadyante
tams tathai ‘va bhajamy aham
mama vartma ‘nuvartante
manushyah partha sarvasah
Jalan manapun ditempuh manusia kearah-Ku, semuanya Ku-terima, dari mana-mana semua
mereka menuju jalan-Ku, oh Parta.
Di dalam agama Hindu tidak ada suatu keharusan untuk menempuh satu-satu jalan,
karena semua jalan untuk menuju Tuhan Yang Maha Esa diturunkan oleh-Nya

3

untuk memudahkan umat-Nya menuju kepada-Nya. Empat jalan untuk menghubungkan diri,
yang dimaksud adalah menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa. Usaha untuk
menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa akan berhasil bila didukung dengan metode,
media maupun lokasi spiritual yang kondusif. Untuk itu, di samping personalitas pribadi orang
yang menghubungkan diri kepada-Nya. Di zaman kaliyuga ini, masalah personalitas pribadi
masih menjadi masalah dalam hal mendekatkan diri kehadap-Nya. Seperti yang kita ketahui
bahwa moralitas manusia cenderung menurun karena kemajuan zaman dan factor penyebab
lainnya. Hal tersebut, sebenarnya bisa diatasi jika ada kesadaran dari manusia untuk selalu
berbuat dengan memperhatikan ajaran agama. Salah satunya adalah dengan melaksanakan ajaran
catur marga untuk menghubungkan diri kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan beberapa masalah mengenai Catur
Marga Yoga diantaranya sebagai berikut(1).Pengertian Catur marga Yoga?, (2). Bagian-bagian
Catur Marga Yoga?, (3). Implementasi dari ajaran Catur Marga Yoga?.
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah ; (1). Untuk mengetahui Pengertian
Catur marga Yoga, (2). Untuk mengetahui Bagian-bagian Catur Marga Yoga, (3). Untuk
mengetahui Implementasi dari ajaran Catur Marga Yoga
Rumusan masalah
1. BAGAIMANA LANGKAH-LANGKAH MENCAPAI MOKSA DENGAN BHAKTI MARGA
YOGA
2. Faktor-Faktor yang mendorong pencapaian moksa dengan bhakti marga
3. Faktor yang meghambat pencapaian moksa dengan bhakti marga
4. Upaya yang dilakukan untuk mencapai moksadengan bakti marga
5.

BAB 2
BAGAIMANA LANGKAH-LANGKAH MENCAPAI MOKSA DENGAN BHAKTI MARGA YOGA

1.

Bhakti marga yoga
Adalah proses atau cara mempersatukan atman dengan Brahman dengan berlandaskan
atas dasar cinta kasih yang mendalam kepada Ida Sang Hyang Widhi dan segala ciptaan-Nya.
Kata bhakti berarti hormat, taat, sujud, menyembah, mempersembahkan, cintah kasih
penyerahan diri seutuhnya pada Sang pencipta.
Seorang Bhakta (orang yang menjalani Bhakti marga) dengan sujud dan cinta,
menyembah dan berdoa dengan pasrah mempersembahkan jiwa raganya sebagai yadnya kepada
Sang Hyang Widhi. Cinta kasih yang mendalam adalah suatu cinta kasih yang bersifat umum dan
mendalam yang disebut maitri. Semangat tat twam asi sangat subur dalam hati sanubarinya.
Cinta bhaktinya kepada Hyang Widhi yang sangat mendalam, itu juga dipancarkan
kepada semua makhluk baik manusia binatang juga tumbuh-tumbuhan. Dalam doanya selalu
menggunakan pernyataan cinta dan kasih sayang dan memohon kepada Hyang Widhi agar semua

4

makhluk tanpa kecuali selalu berbahagia dan selalu mendapat anugrah termulia dari Hyang
Widhi. Jadi untuk lebih jelasnya seorang bhakta akan selalu berusaha melenyapkan kebenciannya
kepada semua makhluk sebaliknya ia selalu berusaha memupuk dan mengembangkan sifat-sifat
maitri, karuna, mudita dan upeksa (catur paramita).
Di dalam kitab suci Veda kita jumpai beberapa mantra tentang Bhakti salah satunya
adalah:
“Arcata prarcata priyam edhaso Arcata, arcantu putraka uta puram na dhrsnvarcata”
Rgveda VIII.69.8)
(pujalah, pujalah Dia sepenuh hati, Oh cendekiawan, Pujalah Dia. Semogalah semua anak- anak
ikut memuja- Nya, teguhlah hati seperti kukuhnya candi dari batu karang untuk memuja
keagungan- Nya).
Terhadap landasan filosofis ajaran Bhakti diatas, Drs. I Gusti Made Ngurah dkk
menyatakan pendapatnya: “… bhakti adalah perwujudan cinta yang tulus kepada Tuhan,
mengapa harus berbhakti kepada Tuhan karena Tuhan menciptakan alam semesta dengan segala
isinya berdasarkan Yajnya.” (Ngurah, 2006 : 80)
Sikap yang paling sederhana dalam kehidupan beragama adalah cinta kasih dan
pengabdian yang tulus. Tuhan dipandang sebagai yang paling disayangi, sebagai ibu, bapak,
teman, saudara, sebagai orangtua, sebagai tamu, dan sebagai seorang anak.
Pada umumnya kita mengenal dua bentuk bhakti yaitu bentuk Aparabhakti dan
parabhakti.
A. Apara bhakti artinya tidak utama; jadi apara bhakti artinya cara berbhakti kepada Hyang
Widhi yang tidak utama. Apara bhakti dilaksanakan oleh bhakta yang tingkat inteligensi dan
kesadaran rohaninya kurang atau sedang-sedang saja.
Aparabhakti, yaitu pemujaan atau persembahan dan kebaktian dengan berbagai permohonan dan
permohonan itu adalah wajar mengingat keterbatasan pengetahuan kita tentang hakekat bhakti.
B.

Para artinya utama; jadi para bhakti artinya cara berbhakti kepada Hyang Widhi yang utama.
Para bhakti dilaksanakan oleh bhakta yang tingkat inteligensi dan kesadaran rohaninya tinggi
Parabhakti adalah bhakti berupa penyerahan diri yang setulusnya. Penyerahan diri kepada- Nya
bukanlah dalam pengertian pasif tidak mau melakukan berbagai aktivitas, tetapi aktif dan dengan
keyakinan bahwa bila bekerja dengan baik dan tulus maka akan memperoleh pahala yang baik
pula. Kita tidak boleh mendoakan seseorang untuk memperoleh kecelakaan dan sejenisnya.
Drs. I Gusti Made Ngurah dkk berpendapat : ”… Seperti yang disampaikan bahwa
Tuhan yang Maha Esa adalah ibu dan bapa kita , seperti kita meminta sesuatu pada kedua
orangtua kita tidak semua permintaan dapat terpenuhi. Demikianlah bila kita memohon kepada
Tuhan Yang Maha Esa. Sesungguhnya kita sering mendapat karunia- Nya berupa kesejahteraan,
kegembiraan atau kebahagiaan, tetapi bila kita lalai, maka sekali waktu cobaan dan penderitaan
yang kita terima. Walaupun itu cobaan dan penderitaan, itupun sesungguhnya sebuah karunia,
kita harus mensyukuri agar kita segera mawas diri, memperbaiki kesalahan atau kelalaian kita.”
(Ngurah, 2006 : 83)

5

Dalam meningkatkan kualitas bhakti kita kepada sang Hyang Widi ada beberapa jenis
bentuk bhakti yang disebut Bhavabhakti, sebagai berikut:
Santabhava, yaitu sikap bhakti seperti bhakti atau hormat seorang anak terhadap ibu dan
bapaknya.
Sakhyabava, yaitu bentuk bhakti yang meyakini Hyang Widi, manifestasiNya, Istadevata
atau Avatara- Nya sebagai sahabat yang sangat akrab dan selalu memberikan perlindungan dari
pertolongan pada saat yang diperlukan.
Dasyabhava, yaitu bhakti atau pelayanan kepada Tuhan Yang Maha Esa seperti sikap
seorang hamba kepada majikannya.
Vatsalyabhava, yaitu sikap bhakti seorang penyembah memandang Tuhan Yang Maha Esa
seperti anaknya sendiri.
Kantabhava, yaitu sikap bhakti seorang istri terhadap suami tercinta.
Maduryabhava, yaitu bentuk bhakti sebagai cinta yang amat mendalam dan tulus dari
seorang bhakta kepada Tuhan Yang Maha Esa. Secara lahiriah bentuk- bentuk di Indonesia sama
halnya dengan di India, umat mewujudkannya melalui pembangunan berbagai Pura ( mandir),
mempersembahkan berbagai sesaji (naivedya), mempersembahkan kidung (bhajan), gamelan,
tari- tarian, dan sebagainya.

a.
b.
c.
d.
e.
f.

a.
b.

Cirri-ciri seorang Bhakti Marga yaitu :
Keinginan untuk berkorban
Keinginan untuk bertemu
Tuhan senang bila engkau menolong dan melayani sesama manusia (pengabdian /
dharmabakti). Kitab-kitab suci telah menetapkan 9 jalan bhakti, yaitu :
- Mendengarkan kisah-kisah Tuhan (shravanam)
- Menyanyikan kemuliaan Tuhan (kirtanam)
- Mengingat Nama-Nama Tuhan ( Vishnusmaranam)
- Melayani kaki Tuhan yang suci (padasevanam)
- Pemujaan (archanam)
- Sembah sujud (vandanam)
- Pengabdian (dasyam)
- Persahabatan (sneham)
- Pasrah / penyerahan diri kepada Tuhan sepenuhnya (atmanivedanam)

6

Faktor-Faktor yang mendorong pencapaian moksa dengan bhakti marga
2.1. Definisi Moksa
Moksa adalah suatu sradha dalam Agama Hindu, yang merupakan tujuan hidup tertinggi agama
hindu .Moksa berasal dari bahasa Sansekerta dari kata “Muc” = membebaskan atau melepaskan.
Dengan demikian Moksa berarti: “Kelepasan dan Kebebasan”. “MOKSA” merupakan
terlepasnya Atman dari belenggu Maya ( bebas dari pengaruh Karma dan Punarbawa ). Moksa
bersifat Nirguna tidak ada bahasa manusia yang dapat menjelaskan bagaimana sesungguhnya
alam Moksa itu. Alam moksa hanya dapat dirasakan oleh orang yang
dapat mencapainya.Yang dimaksud kebebasan dalam ajaran Moksa adalah terlepasnya Atma
dariikatan Maya, sehingga dapat menyatu dengan Brahman. Bagi orang yang telah mencapai
moksa atau ketentraman serta kebahagiaan yang kekal abadi berarti mereka telah mencapai alam
Sat Cit Ananda, yaitukebahagiaan yang tertinggi.
Menurut kitab-kitab Upanisad, moksa adalah keadaan atma yang bebas dari segala bentuk ikatan
dan bebas dari samsara. Yang dimaksud dengan atma adalah roh, jiwa.
Dalam kehidupan kita saat ini juga dapat untuk mencapai moksa yang disebut dengan Jiwan
Mukti (Moksa semasih hidup), bukan berarti moksa hanya dapat dicapai dan dirasakan setelah
meninggal dunia, dalam kehidupan sekarangpun kita dapat merasakan moksa yaitu kebebasan
asal persyaratan-persyaratan moksa dilakukan, jadi kita mencapai moksa tidak menunggu waktu
sampai meninggal.
2.2. Pencapaian Moksa.
Untuk mencapai moksa seseorang harus mempunyai persyaratan-persyaratan tertentu sehingga
proses mencapai moksa dapat berjalan sesuai dengan norma-norma ajaran agama Hindu. Dalam
mencapai Moksa dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu :

7

1. Dharma.
Dalam ajaran agama Hindu yang terdapat dalam Catur Purusa artha dijelaskan bahwa tujuan dari
kehidupan adalah bagaimana untuk menegakkan Dharma, setiap tindakan harus berdasarkan
kebenaran tidak ada dharma yang lebih tinggi dari kebenaran. Dalam Bagawad Gita disebutkan
bahwa Dharma dan Kebenaran adalah nafas kehidupan. Krisna dalam wejangannya kepada
Arjuna mengatakan bahwa dimana ada Dharma, disana ada Kebajikan dan Kesucian, dimana
Kewajiban dan Kebenaran dipatuhi disana ada kemenangan. Orang yang melindungi dharma
akan dilindungi oleh dharma maka selalu tempuhlah kehidupan yang suci dan terhormat.
Dalam zaman edan saat ini semua orang mengabaikan kebenaran, orang sudah menghalalkan
segala cara untuk mencapai tujuan, krisis moral sudah meraja lela dimana mana, kebenaran dan
keadilan sudah langka, orang sudah tidak mengenal budaya malu, semua perbuatannya dianggap
sudah benar dan normal. Sebenarnya Dharma tidak pernah berubah, Dharma telah ada pada
zaman dahulu, zaman sekarang dan zaman yang akan datang, ada sepanjang zaman tetapi setiap
zaman mempunyai karateristik lain-lain dalam melakukan latihan kerohanian (spiritual). Untuk
Kerta Yuga latihan kerohanian yang baik adalah melakukan Meditasi, untuk Treta Yuga latihan
kerohanian yang baik adalah dengan melakukan Yadnya atau kurban, untuk latihan kerohanian
yang baik adalah dengan melakukan Yoga yaitu upacara pemujaan dan untuk Kali Yuga latihan
kerohanian yang baik adalah dengan melakukan Nama Smarana yaitu mengulang ngulang atau
menyebut nama Tuhan yang suci.
2. Pendekatan kepada Hyang Widhi Wasa
Untuk mendekatkan diri kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa ada beberapa cara yang dilakukan
Umat Hindu yaitu cara Darana (menetapkan cipta), Dhyana (memusatkan cipta), dan Semadi
(mengheningkan cipta). Dengan melakukan latihan rohani, terutama dengan penyelidikan bathin,
akan dapat menyadari kesatuan dan menikmati sifat Tuhan yang selalu ada dalam diri kita.
Apabila sifat-sifat Tuhan sudah melekat dalam diri kita maka kita sudah dekat dengan Tuhan
Yang Maha Esa sehingga segala permohonan kita akan dikabulkan dan kita selalu dapat
perlindungan dan keselamatan.
3. Kesucian.
Untuk memperoleh pengetahuan suci, dan menghayati Sang Hyang Widhi Wasa dalam
keberagaman dinyatakan dalam doa Upanishad yang termasyur : Asatoma Satgamaya,
Tamasoma Jyothir Gamaya, Mrityorma Amritan Gamaya yang artinya, Tuntunanlah kami dari
yang palsu ke yang sejati, tuntunlah kami dari yang gelap ke yang terang, tuntunlah kami dari
kematian ke kekekalan.
Setiap kita melakukan kegiatan-kegiatan, kita biasakan untuk memohon tuntunan kehadapan
Sang Hyang Widhi Wasa agar kita selamat dan selalu dilindungi. Pekerjaan apapun kita lakukan,
apabila kita bekerja demi Tuhan dan dipersembahkan kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa, maka
pekerjaan tersebut mempunyai nilai yang sangat tinggi. Dengan menghubungkan pekerjaan
tersebut dengan Sang Hyang Widhi Wasa, maka ia menjadi suci dan mempunyai kemampuan dan
nilai yang tinggi.

8

Tujuan dari kehidupan kita adalah agar atman terbebas dari triguna dan menyatu dengan Para
atman. Didalam Weda disebut yaitu Moksartham Jaga Dhitaya Ca Iti Dharmah yang artinya
adalah tujuan agama (Dharma) kita adalah untuk mencapai moksa (moksa artham) dan
kesejahteraan umat manusia (jagadhita).
Ciri-ciri orang yang telah mencapai jiwatman mukti adalah:
1.
Selalu mendapat ketenangan lahir maupun bathin.
2.
Tidak terpengaruh dengan suasana suka maupun duka.
3.
Tidak terikat dengan keduniawian.
4.
Tidak mementingkan diri sendiri, selalu mementingkan orang lain (masyarakat banyak).
Untuk mencapai moksa juga mempunyai tingkatan-tingkatan tergantung dari karma
(perbuatannya) selama hidupnya apakah sudah sesuai dengan ajaran-ajaran agama Hindu.
Tingkatan-tingkatan seseorang yang telah mencapai moksa dapat dikatagorikan sebagai berikut:
1.

Apabila seorang yang sudah mencapai kebebasan rohani dengan meninggalkan mayat
disebut Moksa.
2.
Apabila seorang yang sudah mencapai kebebasan rohani dengan tidak meninggalkan
mayat tetapi meninggalkan bekas-bekas misalnya abu, tulang disebut Adi Moksa.
3.
Apabila seorang yang telah mencapi kebebasan rohani yang tidak meninggalkan mayat
serta tidak membekas disebut Parama Moksa.

9

Faktor yang meghambat pencapaian moksa dengan bhakti marga
2.3

Hambatan – Hambatan Mencapai Moksa

Mencapai moksa sungguh tidaklah mudah, banyak terdapat hambatan dan
rintangan diantaranya :
1.

Masih melekatnya karma wesana dalam jiwatman.

2.

Karena terbelenggu oleh Awidya / kebodohan

3.

Karena ikatan subha dan asubha karma

4.

Karena guna, rajas dan tamas selalu lebih dominan

5.

Citta, Budhi, Manah dan Ahamkara tidak seimbang

6.

Belum dapat melaksanakan ajaran-ajaran Catur Asrama dengan baik dan benar.

Selain itu menjalankan Spiritual dalam kehidupan sehari hari sering mengalami kendala,
banyak pertanyaan yang timbul terutama generasi muda, apakah kita melakukan kegiatan
spiritual harus mengurangi kegiatan untuk mencari harta yaitu bekerja (karma). Ada juga yang
berpendapat bahwa melakukan kegiatan spiritual sebaiknya dilakukan setelah MPP (masa
persiapan pensiun) disamping banyak waktu juga tanggung jawab atau kewajiban sudah
berkurang. Pada saat bekerja aktif dimana ada suatu jabatan tidak memungkinkan untuk
melakukan kegiatan spiritual karena disibukkan dengan pekerjaan yang kadang menyimpang dari
Dharma akibat tugas yang membutuhkan untuk mengambil keputusan sesuai dengan kebutuhan
atasan (manajemen. Pada hal pada saat menjabatlah memanfaatkan kesempatan untuk
menegakkan Dharma yaitu kebenaran, setiap keputusan yang diambil harus menguntungkan
masyarakat banyak. Kadang banyak orang yang tidak sabar dalam mengumpulkan harta dalam
bidang pekerjaannya dengan mengambil jalan pintas yaitu KKN (korupsi, kolusi, nepotisme),

10

pada hal dalam mengumpulkan harta tidak harus ber KKN banyak jalan atau cara yang ditempuh
asal mau sabar dan tetap berlandaskan Dharma.

Upaya yang dilakukan untuk mencapai moksadengan bakti marga

Setiap orang yang menyatakan dirinya sebagai umat hindu berkewajiban untuk
mengamalkan ajaran agamanya. Kewajiban mengamalkan ajaran agama seperti ini
telah dilaksanakan turun-temurun sejak nenek moyang ada. Kebiasaan nenek
moyang diwariskan oleh generasi ke generasi berikutnya. Kebenaran dari
kenyakinanya Bergama seperti itu di pandang memberikan manfaat positif bagi
keselamatan dan kelangsungan hidupnya.
Lima dasar kenyakinan umat hindu disebut dengan istilah panca sraddha. Dalam
uraian ini membahas tentang sraddha yang kelima, yaitu percaya dengan adanya
moksa. Moksa adalah bersatunya atman dengan brahman, tercapainya kesadaran
sat cit ananda, terwujudnya kebahagiaan yang abadi, suka tanpa wali dukha. Moksa
adalah mukti atau kelepasan. Kondisi seperti inilah yang disebut dengan nama
moksa.
Adapun upaya-upaya yang patut dilakukan dalam mengatasi hambatan dan
tangtangan untuk mecapai moksa sampai dengan sekarang ini adalah :
1.

Melaksanakan Meditasi

Memuja kebesaran dan kesucian ide sang hyang widhi wasa berserta prabhawanya
merupakan kewajiban setiap umat beragama hindu. Semakin dekat kita denganNya, maka semakin merasa tenteram hidup kita ini. Ada banyak jalan yang dapat
kita lalui untuk mewujudkan semuanya itu, diantaranya melalui sembahyang sesuai
dengan waktunya, melaksanakan upawasa, merenungkan keberadaaan-Nya.
2.

Mendalami Ilmu Pengetahuan

11
Mendalami berbagi cabang ilmu pengetahuan sesuai dengan perkembangannya
merupakan kewajiban setiap insan yang dilahirkan sebagai manusia. Kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknnologi yang berkembang sampai saat ini dapat dijadikan
media oleh manusia yang dilahirkan dengan kesempurnaan yang terbatas, untuk
menyelesaikan berbagai macam tangtangan dan hambatan yang sedang dan akan
dihadapinya. Oleh kerenanya manusia hendaknya dengan senang hati, enuh
semangat, tekun dan penuh kesabaran mempersiapkan waktunya untuk belajar
sepanjang hayat, sebab tidak ada kata telambat untuk belajar kebaikan.
3.

Melaksanakan/Muwujudkan Dharma.

Dalam ajaran agama Hindu yang terdapat dalam Catur Purusa artha dijelaskan
bahwa tujuan dari kehidupan adalah bagaimana untuk menegakkan Dharma, setiap
tindakan harus berdasarkan kebenaran tidak ada dharma yang lebih tinggi dari
kebenaran. Dalam Bagawad Gita disebutkan bahwa Dharma dan Kebenaran adalah
nafas kehidupan. Krisna dalam wejangannya kepada Arjuna mengatakan bahwa
dimana ada Dharma, disana ada Kebajikan dan Kesucian, dimana Kewajiban dan
Kebenaran dipatuhi disana ada kemenangan. Orang yang melindungi dharma akan
dilindungi oleh dharma maka selalu tempuhlah kehidupan yang suci dan terhormat.
Dalam zaman edan saat ini semua orang mengabaikan kebenaran, orang sudah
menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, krisis moral sudah meraja lela
dimana mana, kebenaran dan keadilan sudah langka, orang sudah tidak mengenal
budaya malu, semua perbuatannya dianggap sudah benar dan normal. Sebenarnya
Dharma tidak pernah berubah, Dharma telah ada pada zaman dahulu, zaman
sekarang dan zaman yang akan datang, ada sepanjang zaman tetapi setiap zaman
mempunyai karateristik lain-lain dalam melakukan latihan kerohanian (spiritual).
Untuk Kerta Yuga latihan kerohanian yang baik adalah melakukan Meditasi, untuk
Treta Yuga latihan kerohanian yang baik adalah dengan melakukan Yadnya atau
kurban, untuk latihan kerohanian yang baik adalah dengan melakukan Yoga yaitu
upacara pemujaan dan untuk Kali Yuga latihan kerohanian yang baik adalah dengan
melakukan Nama Smarana yaitu mengulang ngulang atau menyebut nama Tuhan
yang suci.
4.

Pendekatan Kepada Hyang Widhi Wasa

Untuk mendekatkan diri kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa ada beberapa cara
yang dilakukan Umat Hindu yaitu cara Darana (menetapkan cipta), Dhyana
(memusatkan cipta), dan Semadi (mengheningkan cipta). Dengan melakukan
latihan rohani, terutama dengan penyelidikan bathin, akan dapat menyadari
kesatuan dan menikmati sifat Tuhan yang selalu ada dalam diri kita. Apabila sifatsifat Tuhan sudah melekat dalam diri kita maka kita sudah dekat dengan Tuhan Yang
Maha Esa sehingga segala permohonan kita akan dikabulkan dan kita selalu dapat
perlindungan dan keselamatan.
5.

Menumbuhkembangkan Kesucian ( Jiwa Dan Raga)

Untuk memperoleh pengetahuan suci, dan menghayati Sang Hyang Widhi Wasa
dalam keberagaman dinyatakan dalam doa Upanishad yang termasyur : Asatoma
Satgamaya, Tamasoma Jyothir Gamaya, Mrityorma Amritan Gamaya yang artinya,

12
Tuntunanlah kami dari yang palsu ke yang sejati, tuntunlah kami dari yang gelap ke
yang terang, tuntunlah kami dari kematian ke kekekalan.
Setiap kita melakukan kegiatan-kegiatan, kita biasakan untuk memohon tuntunan
kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa agar kita selamat dan selalu dilindungi.
Pekerjaan apapun kita lakukan, apabila kita bekerja demi Tuhan dan
dipersembahkan kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa, maka pekerjaan tersebut
mempunyai nilai yang sangat tinggi. Dengan menghubungkan pekerjaan tersebut
dengan Sang Hyang Widhi Wasa, maka ia menjadi suci dan mempunyai kemampuan
dan nilai yang tinggi.
Tujuan dari kehidupan kita adalah agar atman terbebas dari triguna dan menyatu
dengan Para atman. Didalam Weda disebut yaitu Moksartham Jaga Dhitaya Ca Iti
Dharmah yang artinya adalah tujuan agama (Dharma) kita adalah untuk mencapai
moksa (moksa artham) dan kesejahteraan umat manusia (jagadhita).
Ciri-ciri orang yang telah mencapai jiwatman mukti adalah:
1.

Selalu mendapat ketenangan lahir maupun bathin.

2.

Tidak terpengaruh dengan suasana suka maupun duka.

3.

Tidak terikat dengan keduniawian.

4.
Tidak mementingkan diri sendiri, selalu mementingkan orang lain (masyarakat
banyak).
Untuk mencapai moksa juga mempunyai tingkatan-tingkatan tergantung dari karma
(perbuatannya) selama hidupnya apakah sudah sesuai dengan ajaran-ajaran agama
Hindu.
Tingkatan-tingkatan seseorang yang telah mencapai moksa dapat dikatagorikan
sebagai berikut:
1.
Apabila seorang yang sudah mencapai kebebasan rohani dengan
meninggalkan mayat disebut Moksa.
2.
Apabila seorang yang sudah mencapai kebebasan rohani dengan tidak
meninggalkan mayat tetapi meninggalkan bekas-bekas misalnya abu, tulang
disebut Adi Moksa.
3.
Apabila seorang yang telah mencapi kebebasan rohani yang tidak
meninggalkan mayat serta tidak membekas disebut Parama Moksa.
6.

Mempedomani Dan Melaksankan Catur Marga

Untuk mencapai Moksa beberapa cara yang dapat ditempuh sesuai dengan bakat
dan bidang yang digeluti saat ini yang disebut dengan Catur Marga ada juga yang
menyebutkan dengan Catur Yoga yaitu empat jalan yang ditempuh untuk mencapai
Moksa